Anda di halaman 1dari 7

APEKSIFIKASI

Apeksifikasi adalah suatu cara untuk menginduksi perkembangan apeks akar suatu gigi
imatur (belum matang), dimana pulpa gigi sudah nekrosis, dengan pembentukan
osteosementum atau jaringan menyerupai tulang lainnya. Tujuan apeksifikasi adalah
untuk menginduksi penutupan sepertiga apical saluran akar yang terbuka atau
pemebentukan suatu barier kalsifikasi apical yang dengan cara ini obturasi dapat
dilakukan. (grossman)
Apeksifikasi umumnya dilakukan dengan menggunakan kalsium hidroksida (ca(OH) 2).
Namun juga dapat dilakukan dengan Mineral Trioxide Aggregate (MTA), Tricalcium
phosphate (TCP), dan gel kolagen kalsium fosfat.
Apeksifikasi dapat dilakukan baik pada pasien usia muda maupun dewasa. Pada anakanak atau usia muda, gigi anterior paling rentan terhadap kemungkinan trauma.
Sedangkan untuk gigi posterior kematian jaringan pulpa umumnya disebabkan oleh
karies yang berlanjut.
Perawatan gigi non vital dengan apeks terbuka pada prinsipnya tidak berbeda dengan
perawatan endodontik gigi non vital, yaitu meliputi pembersihan dan pembentukan
saluran akar, disinfeksi saluran akar, dan obturasi saluran akar dengan bahan pengisi.
Kelainan yang terjadi pada pulpa maupun jaringan periapeks dapat menyebabkan pulpa
menjadi nekrosis. Bila pulpa gigi tetap muda mengalami nekrosis, fungsi selubung epitel
akar Hertwig untuk membentuk akar gigi menjadi terhenti. Apeks terbuka, saluran akar
lebar dan panjang akar lebih pendek dibandingkan dengan akar yang normal.
Indikasi
Penutupan ujung akar diperlukan agar gigi nekrosis yang belum sempurna pembentukan
akarnya dapat direstorasi
Kontraindikasi
1. Semua fraktur akar baik vertical maupun horizontal
2.

Resopsi penggantian (ankilosis)

3.

Akar yang sangat pendek

4.

Kerusakan pada tepi periodontium

5.

Pulpa vital
Bahan-bahan apeksifikasi
Pada tahun 1964 Kaiser pertama kali melaporkan penggunaan kalsium hidroksida sebagai

bahan apeksifikasi, sedangkan teknik apeksifikasi diperkenalkan oleh Frank. Dalam


penggunaannya kalsium hidroksida telah dicoba untuk dicampur dengan berbagai bahan
seperti CMCP , Cresanol, larutan salin, larutan Ringer, larutan anestetikum dan air
destilata. Semua campuran bahan- bahan tersebut dilaporkan dapat menginduksi
pembentukan jaringan keras di daerah apeks.
Torabinejad memperkenalkan suatu bahan penutup apeks yaitu Mineral Trioxide
Aggregate. MTA merupakan terobosan baru dalam teknik apeksifikasi. Teknik ini tetap
menggunakan kalsium hidroksida untuk disinfeksi saluran akar sebelum penempatan
MTA pada ujung apeks.
Kalsium Hidroksida
Kalsium hidroksida merupakan suatu bahan yang bersifat basa kuat dengan pH antara 1112,8. Dalam bentuk terlarut, kalsium hidroksida akan pecah menjadi ion-ion kalsium dan
hidroksil. Ion hidroksil diketahui dapat memberikan efek antimikroba dan mampu
melarutkan jaringan.
Kalsium hidroksida diaplikasikan ke dalam saluran akar untuk jangka waktu yang lama,
yaitu antara 6-24 bulan, sampai terbentuk barier apikal yang cukup kuat untuk dilakukan
obturasi saluran akar.
Penelitian menunjukkan terjadinya aposisi sementum pada lesi periapeks setelah
penggunaan kalsium hidroksida.
Dalam suasana basa, resorpsi atau aktifitas osteoklas akan terhenti dan osteoblas menjadi
aktif mendeposisi jaringan terkalsifikasi. Asam yang dihasilkan oleh osteoklas akan
dinetralisir oleh kalsium hidroksida dan kemudian terbentuk komplek kalsium fosfat.
Kalsium hidroksida juga dapat mengaktifkan ATP, yang mempercepat mineralisasi tulang
dan dentin, dan TGF- yang berperan penting pada biomineralisasi.
Dalam perawatan apeksifikasi kalsium hidroksida berkontak dengan jaringan periodontal
atau jaringan granulasi. Dalam hal ini, jaringan keras yang terbentuk dapat berbentuk
jaringan yang menyerupai sementum; berupa massa padat yang termineralisasi;
berbentuk massa yang bentuknya tidak beraturan dan kadang-kadang terdapat jaringan
lunak diantaranya.
Gigi dengan apeks masih terbuka umumnya mempunyai bentuk dan lebar saluran akar
yang besar. Preparasi saluran akar yang demikian membutuhkan usaha dan waktu
pembersihan yang lebih lama.
Pada perawatan apeksifikasi, instrumentasi dilakukan hingga 1-2 mm sebelum apeks.
Panjang kerja harus dijaga untuk tidak merusak jaringan di sekitar apeks.
Penggantian kalsium hidroksida perlu dilakukan bila terjadi pengenceran kalsium
hidroksida karena terjadi eksudasi jaringan periapeks maupun bila terjadi kebocoran
korona. Kontrol secara periodik lebih banyak dilakukan pada bulan pertama, yaitu setiap
1-2 minggu sampai tidak terjadi pengenceran kalsium hidroksida. Setelah itu dilakukan

observasi pada bulan ke 3,6 dan 12.


Teknik:
1. Anastesi lokal
2. Isolasi dengan rubber dam atau cotton roll
3. Buatlah akses yang luas untuk membuang semua jaringan nekrosis.
4. Buang seluruh jaringan karies dan pulpa yang terinfeksi dengnajarum ekstirpasi atau
Hedstrom file

6. Panjang kerja 1 mm lebih pendek dari apeks radiografi


Tidak ada gerakan reaming hanya circumferential filling karena tidak ada apeks
hanya membersihkan dinding saluran akar.
6. Kalsium hidroksida dimasukkan dalam bentuk pasta sepanjang panjang kerja. Saat ini
sudah tersedia preparat kalsium hidrosida siap pakai yang mudah dalam
mengaplikasikannya.
7. Kondensasi kalsium hidroksida dengan menggunakan ujung gutta percha atau dengan
plugger. Penggunaan alat dan tekanan pada waktu kondensasi harus hati-hati karena
dinding saluran akar tipis dan mudah untuk mengalami fraktur.
8. Penggantian kalsium hidroksida perlu dilakukan bila terjadi pengenceran kalsium
karena terjadi eksudasiperiapeks maupun bila terjadi kebocoran korona.
9. Kontrol secara periodik lebih banyak dilakukan pada bulan pertama, yaitu setiap 1-2
minggu sampai tidak terjadi pengenceran kalsium hidroksida.

10.Setelah itu dilakukan observasi pada bulan ke 3,6 dan 12


deposit jar keras terlihat 6 bulan secara radiograf.
Barier apikal merupakan massa padat yang relatif lebih porus dibandingkan dengan
dentin atau sementum , maka kebocoran dari arah apikal masih mungkin terjadi.
Evaluasi Keberhasilan
Tingkat keberhasilanapeksifikasi adalah 74-100% dalam jangka waktu 10 tahun atau
lebih. Kegagalan perawatan dapat terjadi beberapa saat setelah perawatan. Penyebabnya
antara lain karena adanya kebocoran korona maupun apeks, apeks belum tertutup dengan
baik atau karena perawatan endodontik yang kurang baik. (apex with mta, 16)
Barier apikal merupakan massa padat yang relatif lebih porus dibandingkan dengan
dentin atau sementum , maka kebocoran dari arah apikal masih mungkin terjadi.

Mineral Trioxide Aggregate (MTA)


Mineral Trioxide Aggregate (MTA) diperkenalkan pertama kali oleh Torabinejad pada
tahun 1993 dan disetujui oleh Food and Drug Association (FDA) pada tahun 1998. (apex
with MTA, 16
Bahan MTA memiliki keunggulan dibandingkan kalsium hidroksida, yaitu dapat
menginduksi terbentuknya penutupan apical yang keras dan rapat dengan waktu yang
cepat sehingga perawatan dapat dilakukan lebih cepat. Waktu pengerasan MTA 3-4 jam,
bahan ini dapat merangsang pembentukan jaringan periapikal dan tetap mengeras bahkan
bila berkontak dengan darah.
Teknik :

1.

Anestesi lokal

2.

Isolasi gigi dengan rubber dam atau cotton roll


3. Buat akses yang lebar agar bisa dilakukan debridement yang baik dan instrumentasi
intrakanal dan sodium hipoklorit
4. Letakkan pasta kalsium hidroksida dalam saluran akar selama 1 minggu guna
mendisinfeksi sistem saluran akar.
5. Setelah pada kunjungan berikutnya kalsium hidroksidanya dibersihkan, masukkan
campuran bubuk MTA dengan air steril ke dalam saluran akar dengan memakai
instrument pembawa amalgam. Campuran itu dikondensasikan kea rah apeks memakai
pemampat atau poin kertas sehingga terbentuk apical plug setebal 3-4 mm.
apical size, panjang kerja. Semen Portland dengan kandungan mineral. Pakai amalgam
pistol.
6. Periksalah penempatan MTA itu dengan radigraf. Jika perluasan idealnya tidak
tercapai, bersihkan MTA dengan air steril, dan ulangi prosedurnya.
7. Untuk menjamin agar MTA mengeras dengan tepat, letakkan kapas pellet basah
diatasnya dan tambal sementara.
8. Setelah mengeras, bongkar tambalan sementara.
9. Sisa saluran akarnya diisi dengan gutaperca dan semen saluran akar atau resin
komposit adhesive, kemudian kavitas ditutup dengan restorasi permanen.

Keberhasilan penutupan ujung akar dengan MTA ditandai dengan tidak ada tanda dan
gejala penyakit periradikuler dan adanya barier kalsifikasi menutupi apeks seperti terlihat
pada radiograf. Shabahang et al. meneliti apeksifikasi pada gigi permanen muda anjing
menggunakan kalsium hidroksida osteogenik protein dan MTA. Hasilnya, MTA
menginduksi pembentukan jaringan keras dalam waktu 12 minggu sampai apeks tertutup.
(apeks)
Tricalcium phospahate (TCP)
Pada gigi manusia dan primate, TCP menginduksi apeksifikasi sama halnya dengan
Ca(OH)2 dalam waktu 6 bulan. Bahan ini juga diaplikasikan ke dalam apical 2 mm dari
ujung apeks (apical stop) untuk bertindak sebagai pertahanan bagi gutaperya yang akan
dikondensasi. Perawatan dengan bahan ini dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan.
Berdasarkan temuan radiograf, dilaporkan bahwa apeksifikasi dengan TCP dalam satu
kali kunjungan sama berhasilnya dengan apeksifikasi dengan Ca(OH)2 dengan beberapa
kali kunjungan.
Gel Kolagen Kalsium Fosfat
Gel kolagen berfungsi sebagai matriks absorbable yang akan mendukung pertumbuhan
jaringan keras pada saluran akar yang sudah didebridement. Sebaliknya, penelitian lain
menunjukkan gel kolagen kalsium fosfat menghambat proses perbaikan, dengan
perluasan destruksi pada jaringan periapeks dan tidak ada bukti dari apeksifikasi.
Kesimpulan

Apeksifikasi adalah suatu cara untuk mencipatakan lingkungan di dalam saluran akar dan
jaringan periapeks setelah pulpa mengalami kematian agar terbentuk barier kalsifik di
daerah apeks yang terbuka.
Apeksifikasi dapat dilakukan dengan berbagai bahan antara lain kalsium hidroksida,
mineral trioxide aggregate, tricalcium phosphate dan gel kolagen kalsium hidroksida.
Keberhasilan apeksifikasi dapat diketahui dari hasil pemeriksaan radiografis. Ada lima
kemungkinan kondisi apikal yang terjadi, yaitu : pertama, secara radiografis tidak tampak
adanya perubahan, tetapi bila instrumen dimasukkan kedalam saluran akar akan terasa
adanya tahanan pada apeks; kedua, terlihat adanya massa terkalsifikasi disekitar atau
pada apeks; ketiga, apeks tampak tertutup tanpa adanya perubahan pada ruangan saluran
akar; keempat, apeks terus terbentuk dengan penyempitan saluran akar; kelima, sama
sekali tidak terlihat perubahan secara radiografis, gejala klinis masih tetap ada, dan terjadi
pembentukan lesi periapeks atau lesi periapeks menjadi lebih besar