Anda di halaman 1dari 15
MANAJEMEN A Sb. T Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah Doli D. Siregar Manajemen Aset Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah 7 DAFTAR ISI Daftar Tampilan... vii Daftar Tabel. sok xiii Daftar Singkatan, Ucapan Penghargaan, Prakata.__. Cxeil Pendahuluan.. BAGIAN PERTAMA Strategi Optimalisasi_Pembangunan Nasional Berdasarkan —Prinsip Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development dalam Era Globalisasi_....2..1 BAB 1; PERAN DAN POSISI INDONESIA PADA ERA GLOBALISAST. 1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Globalisasi 12. Pandangan Umum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRD, Permasalahannya pada Era Globalisasi ‘ 1.3. Krisis Multi Dimensi dan Program Reformasi yang Dijalankan 1.4 Repositioning Indonesia pada Fra Globalisasi,.... 1.5 Globalisasi dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan dan Pembangunan Ekonomi... ac 18 25 2 BAB 2: KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE BSN - ?Pengertian dan Rumusan Pembangunan Berkelanjutan. 22 Pengertian Aset dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan 23° Sumber Daya Manusia sebagai Aset Terpenting....... 24 Standarisasi Profesi dan Usaha Jasa Menuja Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Berstandar Internasional . 2.5 Kesulitan Aset Menjadi Modal di Negara Berkembang., 2.6 Hak Publik atas Properti Pribadi BAB 3: PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA... 15 3.1 Program Pembangunan Nasional (Propenas) dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan,..0...... : ae 16 3.2 Program-program Pembangunan Sumber 7 Hidup. 3.3 Kebijakan Pelestarian Kota (Konservasi Kota) dalam Hubungannya dengan Pembangunan Berkelanjutan. 34 Kebijakan Investasi dalam Pembangunan Berkelanjutan, 35 Penilaian Aset sebagai Equity dalam Kaitannya dengan Keuangan Pemda, BAB 4: PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN EKONOMI LINGKUNGAN DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH. 121 41 onomi Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, 121 4.2 Pemanfaatan Kemitraan bagi Pembangunan Berkelanjutan di Daerah dalam Rangka Otonomi Daerah... 157 BAB 5: TRANSFORMASI PENGELOLAAN EKONOMI_ NASIONAL DALAM PERSPEKTIF OPTIMALISASI PENGELOLAAN HARTA. KEKAYAAN NEGARA (HEN). 5.1 Evaluasi Kinerja Pengelolaan 5.2. Pengertian Aset.... 5.3 Pengertian Aset Negara. 5.4 Konsep Hukum Properti.... 5.5 Perspektif Transformasi Pengelolaan Ekonomi Nasional... 5.6 Sistem Pengelolaan Harta Kekayaan Negara dengan Penyusunan ‘Undang-Undang Harta Kekayaan Negara (UU-HKN). 5.7 Pentingnya BMAN dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah untuk Tetap Menjaga Keutuban Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemandirian, serta Pembangunan Berkelanjutan Sesuai dengan UUD 45 Pasal 33 beserta Amandemennya... 175 178 179) 190 BAB 6: LEMBAGA BANK TANAH (LAND BANKING) SEBAGAI SALAH SATU ALAT DALAM MENERAPKAN PRINSIP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN. 6.1 Konsep Dasar Bank Tanah dalam Kaitannya dengan Penyediaan Satu Rumah untuk Satu Keluarga........ 6.2 ‘Tujuan, Fungsi dan Manfaat dari Lembaga Bank Tanah... 63. Landasan Hukum yang Dapat Digunakan untuk Mewujudkan Lembaga Bank Tanah... 64 Pentingnya Lembaga Bank Tanah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah, 203 205 BAB7: PEREMAJAAN PERMUKIMAN KUMUH (URBAN RENEWAL) SEBAGAI BAGIAN DARI MASALAH SOSIAL DALAM PRINSIP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN 7.1 Kemiskinan dan Pembangunan Berkelanjutan, 7.2 Upaya Pencegahan Terjadinya Permukiman Kumuh.. 7.3. Pelaksanaan Peremajaan Permukiman Kumuh (Urhan Renew), 7.4 Program Pembangunan Nasional (Propenas) ‘Tahun 2000-2004 yang Terkait dengan Penyelesaian Permasalahan Permukiman Kumuh (Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2000 Tanggal 20 November 2000). “21 229 233 Manajemen Aset Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional _dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEOs pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah * BAGIAN KEDUA Otonomi Daerah dalam Perspektif Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRD.......... BAB 8: HAKIKAT OTONOMI DAERAH. 8.1 Empat Aspek Pelaksanaan Desentralisasi 8.2 Masalah Fiskal._.. 83 Kewenangan Daerah 84 Pengalaman Republik Korea dalam Pelaksanaan Desentralisasi 8.5 Pembinaan dan Pengawasan Otonomi Daerah x 86 Dewan Pertimbangan Oronomi Daerah (DPOD) dan Badan Pengendalian Otonomi Daerah (BPOD).. BAB 9: ASPEK HUKUM OTONOMI DAERAH. se SITS 9.1 Implikasi Berlakunya Undang-Undang No, 22 ‘Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah terhadap Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. ann 9.2 Penyerahan Tugas Pembantuan kepada Pemerintah Daeral Rangka Berlakunya Undang-Undang No. 22‘Tabun 1999... 279 BAB 10: OTONOMI DAERAH DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN NASIONAL. pe tBT 10.1 Implikasi Pelaksanaan Otonomi, 289 102 Pemberdayaan Pemerintah Daeral 21 BAB tt: JESENTRALISASI_ FISKAL, PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT-DAERAH, DANA ALOKASI UMUM ros DAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK)... 11.1 Dasar Pemikiran Hubungan Keuangan Pusat-Daerah 112 Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Desentralisasi Fiskal ‘Melalui Bagian Daerah, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAR)... 304 BAB 12: INVESTASI LANGSUNG KE DAERAH DALAM KAITANNYA DENGAN PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH 343 12.1 APBN 2004. 345 12.2 Insentif Investasi, “347 12.3 Undang-Undang Penanaman Modal seater ASD 351 BAGIAN KETIGA Fungsi Emrpremership Bupati dan Walikota dalam Mengelola Dacrahnya.. 337 BAB13:OTONOMI DAERAH DAN UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD). Op! 359 13.1. Peranan PAD dalam APBD... 13.2. Strategi Peningkatan PAD. 13.3. Optimalisasi PAD... 362 372 iii Daftar Tsi BAB 14: PENGELOLAAN EKONOMI DAERAH DALAM PERSPEKTIF KEPALA DAERAH SEBAGAI CHIEF EXECUTIVE OFFICERS (CEO's). 14.1 Teori dan Praktik Peivatisasi di Inggris. 14.2. Pentingnya Kejelasan Mengenai Privatisasi Kontra yang Menghambat Program Privatisasi 14.3 Tantangan bagi Seorang CEO yang Memasuki Dunia Birokrasi_. BAB 15: MANAJEMEN BISNIS BAGI BUPATI/WALIKOTA DALAM. MENGELOLA DAERAHNYA 15.1. Memahami Good Govemance... 15.2 Manajemen dan Birokrasi_ , : 15.3 Fungsi-Fungsi Manajemen yang HarusDilaksanakan oleh Bupati/Walikota dalam Mengelola Daerahnya 154 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah. 15.5. Strategi Balanced Scorecard (Penerapan Prinsip-Prinsip Organisasi- yang Berfokus pada Strategi) BAB 16:STRATEGI PEMERINTAH DAERAH UNTUK MENARIK INVESTOR LOKAL/ASING KE DAERAH, eres i 16.1. Proposal Spesifik Daerah sebagai Suatu Strategi Menjemput Bola dalam Menarik Investor... 16.2. Proposal Spesifik Daerah dan Feasibility Study Lingkungan Perusahaan. 469 16.3 Keuntungin dan Risiko sebagai Faktor Utama yang Menjadi Pertimbangan Investor dalam Membuat Keputusan Investasi sone ATB BAB 17: ASPEK HUKUM KERJASAMA PEMERINTAH DAERAH DENGAN, PERUSAHAAN SWASTA______ 495 17.1 Landasan Hukum Pengelolaan dan Pemanfaatan peas Daerah. 495 17.2. Pemanfaatan Aset Dacrah,_ ais 17.3 Bentuk Kerjasama dalam Penggunausahaan Aset Daerah . 174 Landasan Hukum Kerjasama Penggunausahaan Aset Dacral 17.5 Kewenangan, Hak dan Kewajiban Pihak Swasta dalam Kerjasama.__ BAGIAN KEEMPAT Manajemen Aset dan Pemberdayaan Ekonomi Daerah. BAB 18 PEMAHAMAN MANAJEMEN ASET DAN PENGELOLAAN iv INVESTASI_ DAERAH SEBAGAI SARANA PEMBERDAYAAN EKONOMI DAERAH. 18.1 Perubahan Paradigma dalam Pengelolaan Daerah 18.2 Pemahaman Manajemen Aset, 18.3 Peran Manajemen Aset dalam Pemberdayaan Ekonomi Daerah 18.4 Pengelolaan Investasi Daerah Manajemen Aset Strategi Penataan ‘Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah BAB 19: OPTIMALISASI PENGELOLAAN ASET PEMERINTAH DAERAH, 19.1 19.2 19.3 19.4 19.5 19.6 531 ‘Tinjauan Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Kinerja Bisnis Properti Steategi Recovery Bisnis Propert, Strategi Antisipasi Pemda dalam Pengelolaan Propert. Restrukturisasi Sumber-Sumber Penerimaan Dacrah dan Pemberdayaan Perusahaan Daerah....: 543 Optimalisasi Aset Produktif Pemerintah Daerah... 546 Konsep dan Langkah Kegiatan Restrukturisasi Aset "550 BAB 20:SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ASET PEMERINTAH DAERAH (SIMA PEMDA). 20.1. 20.2. 203. 20.4. 205 20.6 Pemekaran Wilayah dan Redistribusi Aset,_. Perlunya Manajemen Aset. Spatial Approach, Pendlekatan Baru dalam Manajemen Aset... Sistem Infomasi Manajemen Aset (SIMA) Berbasis Geografis, Dari Manajemen Aset ke Manajemen Estat Be Langkah Kegiatan Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Asct (SIMA)... i ‘TUJUH STUDI KASUS: DISKRIPSI DAN ANALISIS SUMBER DAYA ALAM, INFRASTRUKTUR, DAN SUMBER DAYA MANUSIA ..__ PENDAHULUAN KASUS 1: Penilaian Sumber Daya Alam sebagai Jalan Keluar Mengatasi Masalah Utang Ekologis Negara Maju pada Negara Berkembang.... KASUS 2: Pengelolaan Sumber Daya Hutan di Malaysia dan Bangladesh KASUS 3: Pengelolaan Sumber Daya Hutan di Indonesia... KASUS 4: Pengembangan Kawasan Pariwisata di Pulau Bali KASUS 5: Penambangan Pasir Laut di Provinsi Riau Ditinjau dari KASUS 6: Strategi Penanggulangan Banjir dan Kekeringan Ditinjau dati Perspektif Pembangunan Berkelanjutan..........-609 Pembangunan Berkelanjutan,.... Berdasarkan Konsep Pembangunan Berkclanjutan. KASUS 7: Contoh Peran CEO untuk Lebih Memberdayakan Pemerintah Daerah di Bangalore, India. ts voce 75 LAMPIRAN-LAMPIRANS....... aie ye ee LAMPIRAN 1. KEPEMIMPINAN BERBASIS NILAI_— SEBAGAI PANDUAN AGI BUPATI/WALIKOTA DALAM MEMIMPIN ORGANISASI PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN POLA PIKIR CHIEF EXECUTIVE OFFICERS (CEO's)... : ee 738) Daftar Isi_ LAMPIRAN 2. LAMPIRAN 3. KONSEP PEMBERDAYAAN BUMN/BUMD MELALUI RESTRUKTURISASI_ DAN OPTIMALISASI FIXED ASSETS MENUJU PRIVATISASI DALAM KAITANNYA. DENGAN PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH. PERHITUNGAN KESENJANGAN FISKAL TINGKAT PROVINSI DAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA. SIMULASI PERHITUNGAN DAU KABUPATEN/KOTA TAHUN 2002, DAN RINCIAN DAU PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA TAHUN 2003, 187 785 Daftar Pustaka.. Indeks Tentang Penulis. vi 819 825, 835 Manajemen Aset Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah PENDAHULUAN Buku Manajemen Aset ini lahir dari kegelisahan penulis melihat kenyataan di Indonesia, di mana negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA) namun rakyatnya tetap miskin, Hal ini disebabkan karena pengelolaan aset termasuk di dalamnya SDA masih belum optimal. Bahkan pengelolaan SDA cenderung merusak SDA ita sendiri dan lingkungan di sekitarnya tanpa suatu pertanggungjawaban yang pasti. Manajemen aset yang merupakan salah satu unsur penting dalam penentuan strategi pembangunan nasional masih belum menempatkan unsur aset yang merupakan modal nasional utama sebagai dasar dalam menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah. Pola pikir yang selalu dipakai oleh penulis yakni “think global, act Incal’, membuatnya mencoba menghubungkan kenyataan yang ada pada dunia internasional yaitu isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan kenyataan yang sedang terjadi di Indonesia yaitu isu desentralisasi dengan otonomi daerah. Menurat pandangan penulis, pembangunan berkelanjutan bila dipandang dari sudut manajemen aset terdiri dari tiga unsur pokok, yaita SDA, sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur. Di sinilah jawaban kenapa rakyat Indonesia sebagian besar masih berada dalam kemiskinan meskipun SDA-nya melimpah, karena melimpahnya SDA terscbut tidak didukung oleh SDM dan infrastruktar yang memadai. Bagaimana mengelola ketiga unsur pokok dalam pembangunan berkelanjutan tersebut agar optimal dan dapat mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia sckaligus dikaitkan dengan otonomi daerah? Di sinilah konsep CEO’s harus diterapkan pada bupati/walikota agar pembangunan di daerahnya memberi fokus yang lebih tegas tehadap masalah manajemen aset schingga mampu mengelola secara optimal SDA, SDM dan infrastruktur di daerah untuk dapat digunakan sebesar- besarnya bagi kemakmuran rakyat di daerah. Otonomi daerah adalah suatu kcharusan mutlak. Ancaman disintegrasi bangsa yang sering kali terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu akibar dari sentralisasi di mana daerah merasa diperlakukan tidak adil. Kekayaan alam daerah yang begitu besar seolah-olah tersedot ke pusat dan tidak mempunyai dampak yang cukup signifikan terhadap kemakmuran takyat di dactah. Hal semacam ini tentunya tidak akan terjadi bila otonomi daerah benar-benar xxxi Pendahuluan diterapkan. Namun ha ini juga tergantung dari pemerintah daerah, apakah pemerintah daerah dengan pelaksanaan otonomi daerah akan mampu memakmurkan rakyat di daerah? Hal inilah yang akan banyak dibahas dalam buku ini, karena menjawab pertanyaan tersebut memerlukan kajian dari berbagai sisi, seperti hakikat otonomi dacrah, pelaksanaan good governance di daerah, manajemen aset di dacrah termasuk di dalamnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan sebagainya. Mengingat sistem kenegaraan di Indonesia dibangun dalam realitas alam dan kultur Indonesia yang beragam, dengan begitu model pemerintahan yang cocok untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah pemerintahan yang terdesentralisasi dengan modus otonomi daerah. Kenyataan ini sudah disadari olch para founding father dan dituangkan dalam UUD 1945. Filosofi yang mendasati pembentukan undang-undang tentang otonomi daerah adalah Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Sementara Pasal 18 menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa, Dari kedua pasal UUD 1945 tersebut terlihat bahwa pembentukan daerah-daerah otonom di Indonesia adalah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara dalam kerangka NKRI. ‘Akan tetapi, dalam perkembangannya, penyemputnaan dati kedua undang-undang tersebut belum berhasil menyelesaikan masalah. Di berbagai dacrah timbul gejolak yang justra mengarah pada ancaman disintegrasi. Di Kalimantan, misalnya, pemerintah setempat berlomba-lomba menarik retribusi kayu, sementara di berbagai daerah lain ada pemikiran untuk mengkapling- kapling laut. Hal ini jelas menyimpang dari tujuan otonomi daerah itu senditi, karena penyelenggaraan otonomi dacrah adalah dalam rangka penekanan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, setta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. ‘Ada sekitar puluhan judul buku baru berkaitan dengan otonomi daerah. ‘Artinya, sudah begitu banyak pakar dan penulis-penulis andal_menyambut sekaligus mengantisipasi pelaksanaan otonomi daerah. Di antaranya berkaitan dengan landasan hukum dan peraturan perundangan otonomi daerah. Ada pula yang menyajikan profil dan karakteristik Kabupaten dan kota di seluruh Indonesia dan lain-lain. Buku ini berusaha menyajikan hal yang berbeda yang sangat berguna bagi bupati dan walikota, Yang dimaksud dengan hal yang berbeda tersebut di atas tentu saja berhubungan dengan —pengelolaan dan pemberdayaan xxxii Manajemen Aset Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional am Konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah (manajemen) daerah. Yaitu, fungsi entreprennership bupati dan walikota dalam * mengelola dacrahnya. Buku ini sengaja mengarahkan kepala pemerintah daerah sebagai entreprewner. Bahkan lebih dati itu, bupati dan walikota diajak untuk berpikir sebagai chief executive officers. (CO's) scbagaimana halnya pada perusahaan-perusahaan swasta. Kungkungan birokrasi pemerintahan dacrah yang selama ini berjalan memang menyulitkan bagi birokrat di daerah untuk mengubah paradigma dan perilakunya menjadi CEO's. Namun, tak ada cara lain, paradigma dan perilaku CEO’s itulah yang diyakini paling mampu mendorong efektifitas dan efisiensi pengelolaan daerah. Sudah tiga tahun pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia tetapi belum ada kajian yang sifamya komprehensif untuk mengevaluasi pelaksanaannya. Namun hasil penelitian pertama Indonesia Rapid Decentralization Appraisal (RDA) yang dilakukan November 2001 sampai dengan Februari 2002 di 13 kabupaten/kota cukup dapat menjadi suata perbandingan yang menarik. Hasil penelitian tersebut dikemukakan olch Ati Dwipayana dalam tulisan berjudul “Desentralisasi Kepartaian Harus Iringi Otda” (Kedaulatan Rakyat, 24 Desember 2003). Penelitian tersebut menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut: 1) Otonomi daerah meningkatkan partisipasi publik dalam mengembangkan transparansi dan akuntabilitas publik. Salah satu bentuknya, menguatnya tuntutan akan akuntabilitas publik dengan munculnya forum-forum warga. Namun di samping itu ditemukan bahwa mentalitas birokeasi belum berubah serta keterbatasan dalam penyampaian pendapat. 2) Otonomi daerah telah memotivasi simplikasi biroksasi dan_peningkatan pelayanan publik. Tetapi juga dijumpai hambatan antara lain tidak adanya standar pelayanan publik, penurunan standar kerja pelayanan publik karena pembiayaan berkurang serta orientasi pada peningkatan PAD daripada pelayanan publik. 3 Terdapat inisiatif dan dinamika dacrah dalam __pengorganisasian kepemerintahan sebagai respon terhadap otonomi daerah. Sedang hambatan yang dihadapi menyangkut sistem karier, sistem insentif, kelangkaan SDM yang berkualitas, ketiadaan standar evaluasi birokrasi dan penataan kelembagaan yang belum transparan. 4) Otonomi dacrah memotivasi partisipasi masyarakat daerah dan transparansi pengelolaan anggaran. Hambatannya menyangkut kemampuan dan pemahaman DPRD, transparansi dan akses tethadap informasi pengelolaan anggaran, tidak adanya peran serta dan partisipasi publik yang rendah dalam xxiii Pendahuluan 5) Otonomi daerah memotivasi inisiatif dan kesadaran daerah untuk melakukan_ kerjasama. Sedang hambatan yang dihadapi berupa kemampuan mengelola konflik. 6) Pemahaman yang positif tentang otonomi daerah, seperti. memotivasi partisipasi. Namun ada juga pemahaman yang kurang positif dan meningkatkan beban daerah. Hasil penelitian tersebut di atas scharusnya memacu penelitian lebih lanjut yang lebih komprehensif, karena ternyata dalam pelaksanaan otonomi dacrah terdapat berbagai permasalahan yang kompleks. Hal ini terjadi karena otonomi daerah adalah masalah pemerintahan yang bukan hanya merupakan permasalahan pemerintah sendiri tetapi juga merupakan _permasalahan masyarakat secara kescluruhan. Hasil penclitian tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat revisi undang-undang otonomi dacrah. Hasil penelitian IRDA menegaskan kembali bahwa daerah memerlukan semacam panduan untuk pelaksanakan otonomi daerah. Seperti, bagaimana membentuk good governance, standar pelayanan masyarakat bagaimana yang harus dibuat dan selalu ditingkatkan. Selain itu, bentuk organisasi bagaimana yang cocok dalam pelaksanaan otonomi daerah, bagaimana meningkatkan PAD secara berkelanjutan schingga tidak terlepas dari kepentingan masyarakat. Selanjutnya bagaimana agar pelaksanaan desentralisasi (otonomi daerah) tidak bertentangan dengan sentralisasi (dalam konteks menjaga NKRI), dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dicoba untuk dicari jawabannya dan diuraikan dari bab ke bab dalam buku ini Dengan demikian, buku ini secara praktis disajikan kepada birokrasi dacrah untuk difungsikan menjadi semacam panduan atau manual, Bahkan, buku ini bisa diartikan scbagai proposal teknis bagi bupati dan walikota untuk menggerakkan perekonomian daerah, antara lain dengan memanfaatkan secara optimal aset yang dimiliki daerah. Selain itu buku ini juga dapat menjadi referensi yang baik bagi: 1) Kalangan akademisi, karena di dalamnya terdapat banyak teori-teori yang langsung dapat diimplementasikan terutama pada studi kasus. 2) Para peneliti dan pemerhati masalah otonomi daerah, karena buku ini mencoba melihat otonomi daerah secara komprehensif baik dari sisi pelaku maupun isu yang dibawakan, Dari sisi pelaku yaita dari sisi pemerintah, non pemerintah (swasta), pelaku bisnis, dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan dari sisi isu yaitu mencoba mengkaitkan pelaksanaan otonomi daerah secara. nasional dengan penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan secara internasional. Selanjutnya ke dua sisi tersebut dibahas XXxiV Manajemen Aset secara Nasional & Otonomi Daerah Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkel dalam Konteks Kepala Daerah sebaga Y's pada Era Globalis secara komprehensif pula dalam berbagai aspek seperti aspek ekonomi, manajemen, politik, administrasi, dan sebagainya. 3) Para birokrat perencana perekonomian nasional dalam _pemulihan pereKonomian nasional benar-benar dituntut untuk dapat menggerakkan sektor riil. Jalan satu-satunya selain menambah utang luar negeri yang justru dapat menciptakan permasalahan baru adalah dengan lebih mengoptimalkan pengelolaan HKN. 4) Para birokrat lainnya yang terkait langsung dengan pengelolaan aset seperti Kimpraswil, BPN, dan sebagainya, di mana penataan ruang harus sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan sehingga di samping bermanfaat bagi masyarakat yang menempati rang tersebut, juga dapat menjadi contoh bagi investor yang masuk baik lokal maupun asing, Hal ini sangat penting karena investor cenderung untuk mengambil keuntungannya saja tanpa mempedulikan kerusakan lingkungan yang terjadi. Tentu saja_kebijakan investasi secara benar yang juga banyak dibahas di buku ini sangat berpengaruh dalam hal tersebut. 5) Dan pihak-pihak lainnya yang terkait dengan upaya optimalisasi pengelolaan aset seperti BUMN/BUMD, investor, dan sebagainya. Hal ini terutama terkait dengan pelaksanaan privatisasi, divestasi, dan sebagainya yang harus dimulai dengan proses restrukturisasi fixed asset. Proses privatisasi secara benar dan tidak harus selalu berujung pada penjualan aset baik untuk BUMN/BUMD seperti pengertian salah kaprah selama ini juga akan dibahas dalam buku ini. Dengan demikian diharapkan pengetahuan manajemen aset sebagai optimalisasi pengelolaan asct ini pada akhirnya diharapkan akan dapat mewujudkan optimalisasi pembangunan jangka panjang dengan melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable developmen). Sesungguhnya buku “Manajemen Aset” ini bersifat komplementer dari buku “Harta Kekayaan Negara” yang penulis luncurkan pada awal tahun 2002 Ialu, Pada bagian pertama, dipaparkan tentang terobosan baru pola pembangunan dalam era otonomi daerah dan globalisasi saat ini. Globalisasi dan pembangunan berkelanjutan (svstainable development) menjadi fokus dalam bagian ini, yang dalam kenyataannya terjadi sikap ambivalen negara maju dalam pelaksanaan konsep pembangunan berkelanjutan. Di satu sisi mereka begitu gencar menyuarakan konsep pembangunan berkelanjutan pada negara berkembang, tetapi di sisi lain banyak tindakan mereka yang tidak sesuai dengan konsep tersebut. Misalnya penerapan’ infellectual property right pada teknik-teknik lingkungan yang sangat mahal dan tidak mampu dibeli oleh negara berkembang. XXXV Pendabuluan Era Orde Baru seting disebut sebagai orde pembangunan. Namun pernahkah kita menghitung berapa sesungguhnya keuntungan ill dati hasil pembangunan tersebut? Terutama pembangunan yang dilaksanakan mulai dati awal era Orde Baru pada tfhun 1967 sampai dengan saat berakhirnya era Orde Baru pada tahun 1998 (masa Pembangunan Jangka Panjang Tahap II/PJPT I). Bila dihitung berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan, hasilnya tidak sebesar yang dibayangkan, tidak semegah gedung-gedung bertingkat, tidak semulus jalan tol, tidak sebesar ekspor migas, dan sebagainya. Mengapa? Karena secara bersamaan kita juga harus melihat jutan hektar hutan menjadi gundul, sistem ekologi yang terganggu, misalnya penambangan Freeport yang kurang memperhitungkan kondisi lingkungan, peningkatan kemiskinan, masalah- masalah sosial yang ditimbulkan dari pembangunan tersebut, dan sebagainya. Untuk itu, konsep pembangunan nasional perlu diformat ulang dengan berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan, agar pembangunan benar- benar dapat dinikmati baik oleh generasi sckarang maupun generasi yang akan datang (berkelanjutan). ‘TTerkait dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah pusat dan pemerintah dacrah harus benar-benar menyadari akan pentingnya prinsip pembangunan berkelanjutan dan menerapkannya di daerah. Dalam pelaksanaan otonomi daerah, sering kali terjadi konflik kepentingan, di satu sisi pendapatan asli daerah (PAD) harus dioptimalkan, di sisi lain harus tetap berpegang pada prinsip pembangunan berkclanjutan yang dalam jangka pendek seolah-olah membuat aset kurang dapat dioptimalkan hasilnya. Pemikiran jangka panjang (berkelanjutan) adalah jawaban dari conflict of interest tersebut, karena dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, dalam jangka panjang aset tersebut justru telah dimanfaatkan secata optimal. Dengan demikian Pemda telah menciptakan nilai (creating salue) pada aset-asetnya dengan cara menerapkan _prinsip pembangunan berkelanjutan. Fungsi bupati/walikota sebagai nakhoda dalam pembangunan yang berkelanjutan dapat berjalan, bila pemerintah pusat secara tegas membuat peraturan dan ketentuan-ketentuan lainnya berlandaskan undang-undang untuk dapat digunakan sebagai landasan perencanaan pembangunan yakni Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) mengenai kebijakan di _bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Konsep pembangunan berkelanjutan hanyalah akan menjadi menara gading dan tidak membumi bila tidak mampu menyentuh petmasalahan nyata yang dihadapi dalam pembangunan di Indonesia umumnya dan di daerah-daerah pada khususnya. Masalah penggusuran tanah yang menyebabkan kerawanan sosial, urbanisasi, sh area yang tidak pernah terselesaikan, penjarahan aset negara, kerusakan lingkungan, banjir dan kekeringan adalah bukti nyata tidak diterapkannya kebijakan pembangunan berkelanjutan. Salah satu hal yang sangat xxxvi dalam Manajemen Aset Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkel nteks Kepala Daerah sebagai © penting agar kebijakan pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan adalah disusunnya undang-undang mengenai harta kekayaan negara (HN), karena dengan undang-undang ini, instansi terkait maupun siake holder mempunyai pegapgan baku dan kekuatan hukum untuk menerapkan —kebijakan pembangunan berkelanjutan. Terdapat tiga unsur pokok dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia dan infrastruktur yang akan dibahas satu persatu. Khusus mengenai sumber daya manusia perlu diluruskan arti profesionalitas yang sangat terkait dengan masalah moral dan ini sangat besar artinya bagi pelaksanaan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pada bab lain dari bagian pertama ini pembaca diajak untuk memahami proses transformasi dan pengelolaan ckonomi nasional melalui perspektif optimalisasi pengelolaan HKN. Topik ini sengaja dibahas untuk mendudukkan pengelolaan HKN berjalan beritingan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang dibahas lebih detail pada bab berikutnya, di mana pada akhitnya disimpulkan mengenai pentingnya pembentukan UU HKN dan Badan Manajemen Aset Negara (BMAN). Dalam pembahasan tentang pembangunan berkelanjutan ini, masalah-masalah krusial seperti lembaga bank tanah (land banking, peremajaan pemukiman kumuh (whan renwal) dan _strategi penanggulangan banjit dan Kekeringan nasional adalah jawaban nyata atas masalah-masalah pembangunan berlandaskan —prinsip__ pembangunan berkelanjutan yang menjadi topik-topik penting dalam bagian ini. Pada bagian kedua disajikan tentang landasan hukum pelaksanaan otonomi daerah dalam perspektif negara kesatuan dan pembangunan nasional. Di sini diuraikan tentang hakikat dan aspek hukum otonomi daerah. Dalam paradigma lama terdapat empat aspek dalam pelaksanaan desentralisasi, yaitu aspek politik, administrasi, ekonomi, dan fiskal. Namun dalam paradigma baru, aspek fiskal ini hanyalah merupakan salah satu bagian dari aspek ckonomi. ‘Masalah fiskal terutama yang terkait dengan sektor perpajakan sclama ini masih berpegang pada paradigma lama seperti konsep daerah taklukan yang harus menyetor upeti kepada kerajaan, Hal ini tidak boleh terjadi lagi dalam era otonomi daerah. Besarnya pajak yang dipungut olch pemerintah pusat hatus benar-benar sesuai dengan kebutuhannya, yakni untuk menyelenggarakan pemerintahan sebagai negara kesatuan. Investasi langsung ke dactah mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah karena investasi tersebut akan mengurangi beban APBN. Bila selama ini investasi ke daerah harus melalui pusat, dengan UU Otonomi Daerah dimungkinkan investasi langsung ke dacrah. Diharapkan investasi Iangsung ke daerah ini akan mampu mendongkrak pendapatan asli dacrah (PAD), sehingga beban APBN untuk anggaran dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) yang disetor ke daerah di masa yang akan datang scmakin berkurang, Jadi kuncinya terletak pada xxxvii Pendahuluan peningkatan investasi baik asing maupun domestik di daerah, meskipun UU Otonomi Dacfah memungkinkan investasi langsung ke dacrah tetapi apabila tidak didukung oleh strategi dan infrastruktur baik berupa peraturan maupun sarana fisik yang meadukung investasi, investasi di daerah tidak akan. banyak berubah. Perubahan besar seperti tersurat dalam kedua undang-undang mengenai otonomi daerah secara prinsip menyiratkan tiga hal pokok. Pertama, menyangkut lingkup kewenangan atau batas kekuasaan yang ditentukan dengan pendekatan bottom-up. Kedua, pilihan dan perencanaan pembangunan daerah dilakukan secara mandiri. Dan, Ae/iga, pengalokasian dana yang dilakukan sendiri oleh daerah. Dari ketiga perubahan mendasar ini tetindikasi bahwa otonomi daerah sebetulnya tidak berorientasi etnis atau kedaerahan, tetapi lebih berorientasi pada wilayah pertumbuhan. Di sisi Jain, pemberlakuan pasangan kedua undang-undang ini, sama seperti mengembalikan konsep dasar yang dilctakkan olch para pendiri negara (founding fathers). Seperti tertuang dalam UUD 1945, yang meletakkan kedaulatan tertinggi negara di tangan rakyat, yang kemudian dikenal sebagai demokrasi Sayangnya, akibat penafsiran penguasa tethadap UUD 1945 yang lebih mementingkan kelanggengan kekuasaan, rakyat menjadi korban kekuasaan dan semakin terpuruk. Pada bab lain dibahas pula masalah desentralisasi_ fiskal, petimbangan keuangan antara pusat dan daerah berupa bagian daerah, DAU dan DAK. Pada bagian ketiga akan dibahas tentang sejumlah upaya Pemerintah Daerah dalam meningkatkan PAD-nya. Di sini akan diketengahkan tentang sikap bupati/walikota scbagaimana mestinya, selain sebagai birokrat dalam fungsi kepala dacrah juga sebagai CEO’s mengelola perusahaan swasta, Fokus utama pengelolaan adalah optimalisasi profit, di samping aspek sosial sebagai public good tetap harus diperhatikan dari sisi yang lain. Pengelolaan aset secara profesional ini mengarah pada privatisasi, karena dengan privatisasi, pengelolaan aset Pemda benar-benar dapat dioptimalkan. Namun tetap harus diingat bahwa strategi optimalisasi pembangunan nasional (daerah) adalah dengan melaksanakan prinsip _ pembangunan berkelanjutan (sustainable developmen). Dalam hal ini, mau tidak mau, pemerintah pusat dan daetah harus benar-benar menyadari akan pentingnya prinsip pembangunan berkelanjutan dan menerapkannya di daerah. Dalam pelaksanaan otonomi daerah, sering kali terjadi konflik kepentingan, di satu sisi PAD harus dioptimalkan, di sisi lain harus tetap berpegang pada prinsip pembangunan berkelanjutan seperti telah diuraikan pada bagian pertama. xxxviii