Anda di halaman 1dari 6

Menentukan Panjang Gelombang Laser dengan Metode

Difraksi Celah Tunggal


Aisyah Rosalia Rosyadi, Fenia, M. Aljabbar Kanie, Nelumbo Nucifera, Yudi Meidiansyah
Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir, Jurusan Fisika
Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro
Jalan Prof. Soedarto, S. H., Tembalang, Semarang 50275

Abstrak
Abstrak. Difraksi adalah penyebaran gelombang karena adanya celah. Semakin kecil celah, penyebaran
gelombang semakin besar. Penghalang itu dapat berupa layar dengan celah kecil yang mengizinkan sebagian
kecil muka gelombang datang untuk lewat. Hasil dari peristiwa difraksi adalah garis-garis terang dan garis garis
gelap seperti pada peristiwa interferensi. Praktikum ini menggunakan dua laser yaitu laser hijau yang telah
diketahui panjang gelombangnya dan laser LED yang belum diketahui panjang gelombangnya. Lebar celah
dapat diketahui dari penggunaan laser hijau, dan panjang gelombang laser merah LED dapat diketahui dengan
menggunakan 7 variasi jarak celah ke layar. Nilai panjang gelombang yang didapat adalah (603,3 33,0) nm
sedangkan nilai panjang gelombang dari ralat bobot adalah (1,307 0,1104) x 10 -7 m. Jika dibandingkan dengan
hasil percobaan, maka nilai 603,3 nm hampir mendekati nilai panjang gelombang dari nilai referensi, yaitu 608,
21 nm.

I.

PENDAHULUAN
Di akhir tahun 1940-an dan sekali lagi
di awal tahun 1960-an, fisika kuantum
membuat dua konstribusi yang sangat besar
kepada teknologi, yakni transistor dan laser.
Laser memimpin jalan ke arah bidang baru
yang kadang-kadang dinamakan fotonik
(photonics) yang membahas interaksi (pada
tingkat kuantum) antara foton dan bahan yang
besar.
Foton adalah sebuah partikel dasar
(yang artinya sebuah partikel yang tidak bisa
diuraikan lagi). Foton dikenal juga sebagai unit
terkecil dalam bidang elektromagnetik, yang
menarik dari foton adalah ia mempunyai ciri
gelombang dan juga mempunyai ciri partikel.
Artinya, foton bisa dibiaskan oleh lensa, bisa
berinterferensi dengan gelombang lain, dan dia
juga bisa diteksi ketika dianalisis sebagai
sebuah partikel. Dengan demikian, foton juga
memiliki sifat dualisme seperti halnya cahaya.

Gambar 1.1 Difraksi Celah Tunggal

Apabila berkas sinar laser dengan


panjang gelombang yang dilewatkan pada
sebuah celah sempit dengan lebar f akan
mengalami difraksi. Pola difraksi ini dapat
dilihat pada layar atau diukur dengan sensor
cahaya. Jika antara c dengan layar jauh lebih
besar dari pada lebar celah maka berkas yang
sampai di layar dapat dianggap paralel.

II.

DASAR TEORI
II.1. Difraksi
Difraksi adalah penyebaran gelombang
karena adanya halangan. Semakin kecil
halangan, penyebaran gelombang semakin
besar. Penghalang itu dapat berupa layar dengan
celah kecil yang mengizinkan sebagian kecil
muka gelombang datang untuk lewat. Selain itu
juga dapat berupa benda kecil, contohnya kawat
atau cakram. Difraksi cahaya dapat terjadi
ketika cahaya melewati suatu celah sempit
(lebar celah lebih kecil dari panjang

gelombang), sehingga gelombang cahaya


tampak melebar pada tepi celah. Efek yang
sama terjadi ketika gelombang cahaya berjalan
melalui medium dengan indeks bias bervariasi.
Difraksi terjadi pada semua gelombang,
termasuk gelombang suara, gelombang air, dan
gelombang elektromagnetik seperti cahaya
tampak, sinar-X dan gelombang radio. Sebagai
objek fisik yang memiliki sifat seperti
gelombang (pada tingkat atom), difraksi juga
terjadi dengan materi dan dapat dipelajari sesuai
dengan prinsip-prinsip mekanika kuantum.

menyinggung gelombang kecil sekunder, atau


yang dinamakan pembungkus dari gelombang
itu.

.
Gambar 1.3 Prinsip Huygens menjelaskan
pemancaran gelombang cahaya

Gambar 1.2. Proses terjadinya difraksi pada


gelombang
Hasil dari peristiwa difraksi adalah
garis-garis terang dan garis garis gelap seperti
pada peristiwa interferensi. Difraksi cahaya
sulit untuk diamati karena biasanya sumber
cahaya polikromatik, sehingga pola difraksi yang
ditimbulkan setiap gelombang cahaya saling
tumpang tindih dan sumber cahaya terlalu lebar
sehingga pola difraksi yang ditiimbulkan masing
masing bagian akan saling tumpang tindih dan
cahaya tidak selalu koheren yang menyebabkan
polanya berubah-ubah sesuai beda fasenya[1].
II.2. Prinsip Huygens
Prinsip
Huygens
menerangkan
bahwa tiap-tiap titik dari sebuah muka
gelombang dapat ditinjau dari sebuah muka
gelobang dapat ditinjau sebagai sumber
gelombang-gelombang kecil sekunder yang
menyebar keluar ke segala arah dengan laju
yang sama degnan laju perambatan gelombang
itu. Muka gelombang yang baru pada suatu
waktu kemudian akan didapatkan dengan
membangun
sebuah
permukaan
yang

Dari gambar 1.3 dapat dilihat


bagaimana prinsip Huygens menjelaskan
perpindahan posisi dari AB ke posisi CD. Setiap
titik pada muka gelombang AB berperan
sebagai sumber gelombang titik yang sangat
kecil yang memancar ke arah CD. Muka
gelombang CD merupakan pembungkus atau
permukaan gelombang AB. Prinsip Huygens
bisa dipakai untuk menerangkan terjadinya
difraksi cahaya pada celah kecil. Pada saat
melewati celah kecil, muka gelombang akan
menimbulkan wavelet baru yang jumlahnya tak
terhingga sehingga gelombang tidak mengalir
lurus saja, tetapi menyebar [2].

II.3. Difraksi Celah Tunggal


Pada difraksi celah tunggal, apabila
celah lebih lebar daripada gelombang tunggal
cahaya, maka akan terjadi efek seperti
interferensi pada celah. Hal ini dapat dijelaskan
dengan menganggap bahwa celah bertindak
sebagai sumber dari banyak titik yang terpisah
secara merata. Difraksi mengacu pada
penyimpangan (deviasi) dari perambatan garis
lurus yang terjadi ketika suatu gelombang
bergerak melewati suatu penghalang parsial. Ini
biasanya sesuai dengan pembengkokan atau
penyebaran gelombang pada tepi-tepi lubang
dan penghalang. Bentuk paling sederhana dari
difraksi cahaya adalah difraksi Fraunhofer atau
far-field. Difraksi ini diamati pada sebuah layar
yang sangat jauh dar lubang atau penghalang
yang mengganggu arus gelombang-gelombang

datar yang datang.

gelombang sehingga cahaya dari bagian celah


dapat mengalami superposisi pada suatu titik y
pada layar dengan gelombang cahaya yang
lainnya. [1]

II.4. Interferensi Gelombang

Gambar 1.4. Proses difraksi pada celah tunggal


Syarat terjadinya garis gelap ke m
adalah :
d.sin = m(1.1)
dengan m = 1, 2, 3
Untuk sudut yang kecil berlaku :

pd
=m ...
l
(1.2)
Syarat terjadinya garis terang ke m adalah :

d sin = ( m +

1
2

Salah satu dari sifat cahaya adalah


interferensi. Interferensi merupakan perpaduan
dua gelombang atau lebih yang memiliki beda
fase konstan dan amplitudo yang hampir sama.
Interferensi dapat bersifat membangun dan
merusak. Bersifat membangun jika beda fase
kedua gelombang sama sehingga gelombang
baru yang terbentuk adalah penjumlahan dari
kedua gelombang tersebut. Bersifat merusak
jika beda fasenya adalah 180 derajat, sehingga
kedua gelombang saling menghilangkan.
Prinsip Huygens menerangkan bahwa setiap
wave front (muka gelombang) dapat dianggap
memproduksi wavelet atau gelombanggelombang baru dengan panjang gelombang
yang sama dengan panjang gelombang
sebelumnya. Wavelet bisa diumpamakan
gelombang yang ditimbulkan oleh batu yang
dijatuhkan ke dalam air. [1]

) .

(1.3)
dengan m= 0, 1, 2,.

Gambar 1.6. Pembentukan pita terang dan pita


gelap pada layar

untuk sudut yang kecil berlaku :

pd
1
=( m+ ) ...
l
2
(1.4)

Gambar 1.5. Proses difraksi celah tunggal


ditinjau secara matematis
Berkas-berkas cahaya yang melewati
celah tunggal, akan dibelokkan dengan sudut
tertentu (). Cahaya yang memasuki suatu
celah terdiri dari berkas-berkas cahaya. Setiap
bagian celah berfungsi sebagai sumber

Interferensi cahaya menghasilkan


suatu pola interferensi (terang-gelap). Pada
inteferensi, berlaku prinsip superposisi, yaitu
Bila dua atau lebih gelombang tumpang tindih,
maka pergeseran resultan di sembarang titik dan
pada sembarang saat, dapat dicari dengan
menambahkan pergeseran sesaat yang akan
dihasilkan di titik itu oleh gelombang-

gelombang itu seandainya setiap gelombang itu


hadir sendirian.
II.5. Laser
Kata laser adalah singkatan dari Light
Amplification by Stimulated Emission of
Radiation, yang artinya perbesaran intensitas
cahaya oleh pancaran. Laser merupakan sumber
cahaya koheren yang monokromatik dan amat
lurus. Cara kerjanya mencakup optika dan
elektronika.
Para
ilmuwan
biasa
menggolongkannya dalam bidang elektronika
kuantum. Laser yang memancarkan sinar
tampak disebut laser optic [3].
Pada tahun 1917, Albert Einstein
mempostulatkan pancaran imbas pada peristiwa
radiasi agar dapat menjelaskan kesetimbangan
termal suatu gas yangsedang menyerap dan
memancarkan radiasi. Terdapat 3 proses yang
terlibat dalam kesetimbangan itu, yaitu :
serapan, pancarn spontan (disebut fluorensi)
dan pancaran terangsang ( atau lasing dalam
bahasa Inggrisnya, artinya memancarkan laser).
Proses yang terakhir biasanya diabaikan
terhadap yang lain karena pada keadaan normal
serapan dan pancaran spontan sangat dominan.
Sebuah atom pada keadaan dasar dapat
dieksitasi ke keadaan tingkat energi yang lebih
tinggi dengan cara menumbukinya dengan
elektron atau foton. Setelah beberapa saat
berada di tingkat tereksitasi ia secara acak akan
segera kembali ke tingkat energi yang lebih
rendah, tidak harus ke keadaan dasar semula.
Proses acak ini dikenalsebagai fluoresensi
terjadi dalam selang waktu rerata yang disebut
umur rerata, lamanya tergantung pada keadaan
dan jenis atom tersebut [3].

III. METODE PENELITIAN


3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Sumber cahaya (Laser He-Ne).
3.1.2.
Celah tunggal dengan
skala micrometer.
3.1.3. Meteran.
3.1.4. Layar
3.2. Set Up-Eksperimen

3.3. Diagram Alir/Flowchart

Gambar 3.2. Diagram Alir Percobaan Difraksi


Pada Celah Tunggal

IV.2.

3.4. Diagram Fisis

Gambar 3.3. Diagram Fisis Percobaan Difraksi


Pada Celah Tunggal

IV. Hasil dan Pembahasan


IV.1.
Grafik Perhitungan
0.02
0.01

f(x) = 0.02x - 0
R = 0.98

0.01
0
0.30.40.50.60.70.80.9 1 1.1
Gambar 4.1. Grafik Pengolahan Data Difraksi
Celah Tunggal

Pembahasan
Pada praktikum Difraksi Celah
Tunggal ini bertujuan untuk memahami efek
radiasi dan menentukan panjang gelombang
sebuah sumber cahaya. Praktikum ini
menggunakan dua laser yaitu laser hijau yang
telah diketahui panjang gelombangnya dan laser
LED
yang
belum
diketahui
panjang
gelombangnya. Alat dan bahan yang digunakan
pada praktikum ini antara lain adalah laser yang
berfungsi sebagai sumber cahaya, meteran yang
berfungsi untuk mengukur lebar jarak celah ke
layar, layar yang berfungsi sebagai penangkap
cahaya, dan celah tunggal.
Proses fisis yang terjadi pada laser
yaitu ketika tegangan diberikan oleh baterai
pada laser menyebabkan electron bahan
bergerak dari pita konduksi ke pita valensi,
yang disertai dengan penyerapan energi. Namun
pada pita valensi, electron tersebut kurang stabil
sehingga electron tersebut mengalami deeksitasi
yaitu perpindahan electron ke keadaan dasar
yang disertai dengan pelepasan energi. Energi
yang terlepas berupa foton dengan energi
tertentu, yang mana kemudian foton tersebut
akan masuk ke resonator. Di dalam resonator,
foton-foton saling berosilasi dan menumbuk
satu sama lain sehingga energi yang
terakumulasi cukup dan terjadi pemancaran
cahaya terang (energi) yang akhirnya terbentuk
berkas sinar.
Berkas sinar dari laser kemudian
dilewatkan pada celah sempit, pancaran ini
berupa muka gelombang elektromagnetik
primer yang menjadi muka gelombang
sekunder setelah melewati celah sempit, yang
mana peristiwa ini disebut dengan difraksi.
Muka gelombang sekunder akan bertemu satu
sama lain atau terjadi interferensi yang
kemudian membentuk pola destruktif dan
yang apabila ditangkap layar akan
Linearkonstruktif,
()
berbentuk pola gelap dan terang. Pola terang
terbentuk apabila interferensi yang terjadi
adalah interferensi konstruktif, atau gelombang
yang bertemu sefase. Sedangkan pola gelap
terbentuk apabila interferensi yang terjadi
adalaj interferensi destruktif atau gelombang
yang bertemu tidak sefase.
Saat menggunakan laser hijau yang
telah diketahui panjang gelombangnya, maka

akan didapat nilai celah (d) yaitu sebesar


0,00013 m. Nilai d ini selanjutnya digunakan
untuk mencari nilai panjang gelombang dari
laser merah LED denganbeberapa variasi jarak
(l) yaitu 40, 50, 60, 70, 80, 90, dan 100 cm.
Maka didapatkan panjang gelombang rataratanya yaitu sebesar (6,033 0,330) x 10 -7 m
atau (603,3 33,0) nm dan jika dihitung
menggunakan ralat bobot, nilai panjang
gelombang yang didapat adalah (1,307
0,1104) x 10-7 m. Berdasarkan referensi,
panjang gelombang laser diode merah adalah
608,21 nm. Jika dibandingkan dengan hasil
percobaan, maka nilai 603,3 nm hampir
mendekati nilai panjang gelombang dari nilai
referensi, namun jika menggunakan nilai ralat
bobot, maka hasilnya sangatlah jauh.
Hal ini dapat disebabkan beberapa hal,
yaitu sebagai berikut.
Peletakan laser pada celah yang tidak pas
Kesejajaran jarak ke celah tidak sesuai
Faktor lebar celah
Jenis laser yang digunakan
V.

KESIMPULAN DAN SARAN


V.1. Kesimpulan
V.1.1. Difraksi
adalah
penyebaran
gelombang
karena
adanya
halangan. Semakin kecil halangan,
penyebaran gelombang semakin
besar. Penghalang itu dapat berupa
layar dengan celah kecil yang
mengizinkan sebagian kecil muka
gelombang datang untuk lewat.

V.1.2.

Nilai panjang gelombang yang


didapat adalah (603,3 33,0) nm
sedangkan nilai panjang gelombang
dari ralat bobot adalah (1,307
0,1104) x 10-7 m. Jika dibandingkan
dengan hasil percobaan, maka nilai
603,3 nm hampir mendekati nilai
panjang gelombang dari nilai
referensi, yaitu 608, 21 nm, namun
jika menggunakan nilai ralat bobot,
maka hasilnya sangatlah jauh.

V.2. Saran
V.2.1. Praktikan harus teliti dalam
menentukan pola gelap dan terang
yang terbentuk, mengukur jarak
celah ke layar, dan nilai y yang
didapatkan.
V.2.2. Pengambilan
data
sebaiknya
dilakukan pada ruang yang
cahanyanya redup agar pola
interferensi yang terbentuk terlihat
jelas dan mudah terbaca.

REFERENSI
[1] Krane, Kenneth S. 1992. Fisika Modern.
Jakarta: UI Press
[2] Tipler, Paul A. 2001. Fisika Untuk Sains dan
Teknik. Jakarta: Erlangga
[3] Alfred. 1987. Fisika Modern dan Optika.
Jakarta: Erlangga