Anda di halaman 1dari 13

Complex Regional Pain Syndrome (CRPS)

Complex Regional Pain Syndrome (CRPS) merupakan salah satu sindrom


nyeri yang paling hebat yang pernah diderita oleh manusia. Menurut penelitian
tingkat nyeri dengan memakai McGill Questionare didapatkan skor 45/50 pada
kausalgia, sedangkan nyeri karena amputasi jari hanya 40/50. CRPS sering kali
kurang mendapat perhatian karena kasusnya tidak begitu sering sehingga
diagnosis dan penatalaksanaannya sering terlambat. Patofisiologinya sampai
sekarang belum jelas. Faktor risiko CRPS adalah trauma dan immobilisasi,
keadaan ini seringkali dialami oleh pasien fraktur tulang dan stroke.

Causalgia atau bisa disebut complex regional pain syndrome (CRPS)


adalah suatu kondisi kronis dan tak umum yang biasanya menyerang tangan atau
kaki. Rasa sakit sebagian pada anggota tubuh ini tentunya dapat mempengaruhi
sebagian anggota tubuh lainnya.
CRPS ini kerap ditandai dengan rasa sakit atau ngilu yang teramat sangat.
Pada daerah yang sakit biasanya terjadi pembengkakan, perubahan warna kulit
dan perubahan suhu badan, berkeringat yang tidak normal serta hipersensitif.
Sejauh ini belum diketahui penyebab pasti dari CRPS, tapi seringkali
dampak ikutan setelah sakit atau cedera. Terapi untuk CRPS sangat efektif jika
dilakukan sejak dini.

EPIDEMIOLOGI

Sandroni melaporkan insiden CRPS pada populasi umum di Olmsted,


Amerika Serikat sebesar 5,46/100.000/tahun. Penelitian yang lebih lengkap
dilakukan oleh Mos yang melakukan studi kohort retrospektif pada populasi
umum antara 1996-2005 pada 600.000 orang di Netherland, mendapatkan insiden
CRPS sebesar 26,2/100.000/tahun. Wanita tiga kali lebih sering dari pada pria,

puncak insiden adalah wanita pasca menopause umur 61-70 tahun. Laporan ini 4
kali lebih tinggi dari yang dilaporkan Sandroni, perbedaan ini diduga karena
perbedaan etnik, sosio-ekonomi, insiden fraktur dan kriteria diagnosis.
DEFINISI
CRPS merupakan istilah yang menggambarkan berbagai keadaan nyeri
yang terjadi setelah trauma, biasanya bersifat regional dan terutama mengenai
bagian distal ekstremitas. Reflex Sympathetic Dystrophy (RSD) dipakai untuk
menggambarkan sindrom yang dahulu disebut dengan bermacam-macam nama
antara lain: acute bone atrophy, algo(neuro) dystrophy, chronic traumatic edema,
Leriches post traumatic pain syndrome, major, minor causalgia, Sudecks
atrophy, shoulder hand syndrome, traumatic vasospasm. Di Eropa lebih dikenal
sebagai Algodystrophy. Banyak persamaan antara kausalgia dan RSD sehingga
kausalgia sering digolongkan sebagai salah satu tipe RSD.
The International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan
kausalgia sebagai sindrom nyeri terbakar yang menetap setelah suatu lesi
traumatik pada saraf disertai disfungsi vasomotor dan sudomotor kemudian diikuti
perubahan trofik. Nyeri tersebut dirasakan sesuai dengan dermatom atau distribusi
saraf tepi. Nyeri timbul spontan dan bertambah berat dengan rangsangan pada
kulit serta dapat dipicu oleh faktor psikologik seperti cemas, tertawa, terangsang
atau bahkan pikiran bahwa lengannya diraba. Nyeri seringkali berkurang dengan
merendam lengan yang sakit dengan air dingin atau mengompres dengan handuk
basah.
Pada umumnya ditemukan pada nervus medianus, n. tibialis, cabang dari
pleksus brakhialis dan lumbalis. Seringkali mengenai lebih dari satu saraf dan
biasanya parsial meskipun kadang-kadang dapat diikuti transeksi total.

KLASIFIKASI

Untuk menghilangkan kerancuan terminologi maka IASP (1995) mengusulkan


nama Complex Regional Pain Syndrome. CRPS dibagi menjadi 2 tipe yaitu CRPS
tipe I yang merupakan sinonim dari RSD untuk nyeri yang tidak disertai lesi saraf,
sedangkan CRPS tipe II untuk menggantikan istilah Kausalgia bila didapatkan
kelainan saraf.
CRPS Tipe I : Nyeri difus pada ekstremitas umumnya seperti terbakar,
nyeri dalam spontan (berdenyut, ditekan, menyentak) dan biasanya akibat trauma
atau stimulasi noksius. CRPS I dapat menyebabkan kelainan:
1.

sensorik (hipestesia, alodinia terhadap stimulasi dingin dan mekanik)

2.

motorik (kelemahan, tremor, kaku persendian)

3.

otonomik (perubahan pada aliran darah, hiperhidrosis, edema)

4.

trofik (atrofi otot, osteopenia, artropati, kulit licin, kuku rapuh dan

perubahan pertumbuhan rambut)


5.

bisa disertai psikologik reaktif (ansietas, depresi, putus asa)

6.

seringkali terjadi osteoporosis pada lengan yang sakit.

Nyeri menyebar dan tidak tergantung dari faktor penyebab dan yang khas adalah
intensitas nyeri tidak sebanding dengan beratnya trauma dan tidak sesuai dengan
dermatom atau distribusi saraf. Nyeri biasanya bertambah hebat bila ekstremitas
pada posisi tergantung. Nyeri dapat dipicu oleh gerakan dan penekanan pada sendi
(deep somatic allodynia). Bila tidak diobati CRPS I dapat berlanjut dan setelah
beberapa bulan/tahun akan menimbulkan bentuk intermiten di mana remisi
spontan dapat terjadi.

CRPS Tipe II ( Kausalgia) Istilah yang diperkenalkan oleh Weir Mitchel lebih
dari satu abad yang lalu untuk menggambarkan sindrom nyeri seperti terbakar
yang dialami oleh beberapa tentara yang menderita cedera saraf pada perang Civil
Amerika.
Muncul nyeri biasanya segera setelah terjadinya trauma (timbul beberapa
jam sampai beberapa hari pasca trauma). Timbulnya nyeri lebih cepat dari CRPS I
(pada CRPS tipe II nyeri timbul segera sampai beberapa hari pasca trauma
sedangkan pada CRPS tipe I setelah 10 hari sampai beberapa minggu). Alodinia
menonjol pada CRPS tipe II (suara keras saja dapat menimbulkan rasa nyeri).
Hiperpatia ditemukan pada CRPS tipe II sedangkan pada CRPS tipe I tidak ada.
Pada CRPS tipe II nyeri sesuai dengan dermatom atau distribusi saraf tepi
sedangkan CRPS tipe I tidak sesuai.
ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari CRPS belum jelas, tetapi seringkali menyertai keadaan
trauma dan imobilisasi yang lama. Penyebab tersering dari CRPS I adalah fraktur
lengan, penyebab lokal lain termasuk: trauma jaringan lunak, tendinitis, bursitis
dan dislokasi bahu. Pernah dilaporkan CRPS yang terjadi setelah infeksi variselazoster dan infark jantung.
Hampir seperempat pasien pasca fraktur Colles menderita CRPS. Pada 6
bulan setelah fraktur 20% mengalami kesembuhan dan pada satu tahun 50%
keluhannya menghilang. Pemasangan gip yang terlalu ketat mempunyai hubungan
yang bermakna dengan kejadian CRPS. Lesi viseral atau infark jantung, infark
serebri dan karsinoma paru juga dapat menyebabkan CRPS I.
Peneliti dari Taiwan mendapatkan 43% penderita hemiplegi pasca stroke
menderita CRPS pada ekstremitas atas. Sedangkan 46 penderita hemiplegi dengan
kelainan aktivitas EMG pada ekstremitas atas (diduga lesi subklinik pada saraf
dan akar saraf) dihubungkan dengan 65% CRPS dibandingkan dengan hanya 4%
dari 24 penderita tanpa kelainan EMG dalam waktu 6 bulan setelah awitan
hemiplegi (p < 0.001). Penelitian lain mendapatkan bahwa dengan perawatan rutin
27% dari 132 pasien hemiplegi menderita CRPS, sedangkan dengan perawatan

yang lebih hati-hati pada sendi bahu untuk mencegah trauma maka berkurang
menjadi 8%.
Penyebab CRPS II adalah lesi saraf yang diakibatkan oleh luka tembak,
suntikan, peregangan saraf, kompresi pada akar saraf atau saraf tepi dan kerusakan
iatrogenik. CRPS II paling sering terjadi pada saat perang. Pada sepertiga kasus
penyebabnya tidak diketahui.
PATOFISIOLOGI
Penyebab sindrom ini belum jelas, diduga melalui interaksi mekanisme
saraf pusat dan perifer beserta cabang-cabangnya. Belum ada satupun hipotesis
yang dapat menjelaskan fenomena nyeri spontan seperti terbakar, hiperalgesia,
hiperpatia, gangguan vasomotor, eksaserbasi dengan emosi terjadinya baik
spontan atau setelah trauma minor, seringkali sembuh spontan menyebar ke
bagian sisi satunya dan membaik setelah denervasi simpatik.
DIAGNOSIS
Diagnosis CRPS didasarkan pada kriteria klinik, sampai sekarang belum
ada baku emas atau alat diagnostik yang obyektif.
Gejala utama dari CRPS adalah rasa sakit yang parah pada sebagian
anggota tubuh dan makin lama rasa sakit itu makin parah. Tanda-tanda dan
gejalanya meliputi:

Rasa sakit seperti terbakar di tangan, lengan, kaki atau telapak kaki.

Kulit menjadi sensitif.

Terjadi perubahan suhu badan, warna kulit dan teksturnya. Terkadang

kulit pada area yang sakit berkeringat, tapi ada kalanya dingin. Warna kulit
berubah mulai dari putih, kemerahan atau bahkan kebiruan. Kulit pada daerah
sakit bisa berubah menjadi agak lunak, menipis atau kadang mengkilap.
Terjadi perubahanpertumbuhan pada rambut dan kuku.

Area sakit kadang kaku, bengkak dan mudah terkelupas.

Otot terasa kejang dan badan lesu.

Anggota tubuh yang sakit sulit digerakkan.

Namun, gejala-gejala itu bisa berubah-ubah dan berbeda pada setiap


penderitanya. Yang paling sering terjadi adalah pembengkakan, kulit kemerahan,
suhu tubuh berubah-ubah dan hipersensitif (terutama terhadap dingin dan
sentuhan). Semakin lama, anggota tubuh yang sakit terasa dingin dan pucat.
Selain itu terjadi perubahan pada pertumbuhan rambut dan kuku, sementara otot
kejang dan mengeras.
Kapan ke dokter
Kalau Anda rasa sakit secara tiba-tiba pada sebagian anggota tubuh dan
area yang sakit sulit digerakkan, segera pergi ke dokter untuk mengetahui
penyebabnya. Penting untuk melakukan terapi CRPS sejak dini.
Anamnesis
Nyeri sesuai dengan deskripsi di atas.
Pemeriksaan fisik
1.

Inspeksi. Pembengkakan yang mulai didistal disertai kulit yang merah atau

sianotik dan hipo/hiperhidrosis.


2.

Palpasi. Kulit kering/panas atau dingin/lembab.

3.

Pemeriksaan neurologik. Kelainan sensorik, motorik dan otonomik sesuai

dengan deskripsi diatas yang berkembang mulai dari daerah distal ekstremitas
terutama telapak kaki/tangan.
Pemeriksaan penunjang

1.

Blok simpatik dengan anestetika. Untuk ekstremitas atas mula-mula

disuntikkan 8 ml cairan fisiologis (plasebo) pada ganglion stelatum. Bila nyeri


tidak hilang setelah 10-15 menit disuntikkan 8 ml Procain HCL 1 % yang hanya
akan memblok serabut simpatik ke lengan. Bila nyeri tetap tidak hilang kemudian
disuntikkan 20-30 ml Procain HCL 1% ke dalam bungkus pleksus brakhialis. Bila
nyeri tetap ada maka disimpulkan penyebabnya sentral. Untuk ekstremitas bawah
dapat digunakan blok epidural dengan menyuntikkan bahan-bahan berikut selang
waktu 10 menit: (1) 5ml garam fisiologis - plasebo. (2) 5ml Procain HCL 0,2% konsentrasi kritis simpatis. (3) 5ml Procain HCL 0,5% - konsentrasi kritis
sensorik. (4) 5ml Procain HCL 1% - konsentrasi kritis motorik.
2.

Sken tulang. Dilakukan dengan suntikan intravena 99 technetium

dimethyphosphonate. Dapat dijumpai 3 fase. Fase 1 arterial menggambarkan


aliran darah pada ekstremitas dari 0-30 detik. Fase 2 pengumpulan darah
menggambarkan volume darah pada ekstremitas pada 3-15 menit. Fase 3 tulang
menggambarkan uptake oleh tulang dari 6-24 jam.
3.

Radiologis polos. Foto radiologis polos masih membantu diagnosis, akan

didapatkan gambaran osteoporosis pada CRPS.


4.

Tes

Fungsi

Otonom.

Tes

ini

terdiri

dari:

Infra

red

thermometry/thermography, The Quantitative Sudomotor Axon Reflex Test


(QSART), Thermoregulatory Sweat Test (TST) dan Laser Doppler Flowmetry
Diagnosis banding pada stadium dini CRPS sulit dibedakan dengan lesi akar saraf
servikal, sindrom Pancoast, vaskulitis, artritis rematoid, neuropati perifer,
osteolisis, trombosis vena, fistula arterivenosa, sklerosis sistemik progresif dan
angioedema.
PREVENSI
Faktor risiko terjadinya CRPS adalah trauma dan imobilisasi, CRPS jarang terjadi
pada pasien yang tidak memiliki faktor risiko. CRPS sering terjadi pada keadaan
sbb:

1.

Setelah fraktur yang memerlukan tindakan operasi atau pemasangan

cast/gip.
2.

Setelah stroke dengan kelumpuhan yang berat.

3.

Setelah trauma atau operasi pada ekstremitas pasien yang pernah

menderita CRPS sebelumnya.


Bila terdapat keadaan seperti diatas maka intervensi harus lebih agresif
untuk mencegah terjadinya CRPS. Pemasangan cast yang terlalu ketat setelah
fraktur harus dihindari, pasien harus dipasang cast ulang bila tekanan dalam cast
meningkat akibat pembengkakan jaringan. Cast sebaiknya dibuka secepat
mungkin bila secara ortopedik sudah stabil dan dilakukan mobilisasi secepatnya.
Bila lingkup gerak sendi (range of motion) kurang dari yang diharapkan maka
dilakukan fisioterapi yang lebih agresif.
Pada pasien yang menderita hemiparesis akibat stroke perawatan harus
dilakukan secara hati-hati dan jangan sampai membuat cedera pada persendian
atau kapsul sendi terutama pada sendi bahu. Perawat harus diberi tahu bahwa pada
pasien stroke terjadi gangguan sensibilitas pada sisi lesi. Pada penderita yang
mempunyai riwayat CRPS sebelumnya, maka tindakan pembedahan sebaiknya
dibatasi dan hanya pada indikasi yang mutlak saja dimana tidak ada alternatif
untuk pengobatan konservatif. Bila operasi terpaksa harus dilakukan pada
ekstremitas maka perlu dipertimbangkan untuk dilakukan blokade simpatik pada
ekstremitas durante dan pasca operasi.
TERAPI
Terapi dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan sesuai
dengan algoritma terapi. Tujuan utama terapi adalah restorasi penuh fungsi
ekstremitas. Terapi multidisipin secara komprehensif sangat penting dengan
mengutamakan managemen nyeri dan restorasi fungsional, dengan melibatkan:
ahli saraf, psikolog, ahli anestesi ahli ortopedi dan ahli rehabilitasi.

Pada kasus ringan yang kurang dari 6 bulan lamanya pengobatan jangka
pendek dengan terapi fisik disertai anti depresan dan anti konvulsan sudah
memberikan hasil yang memuaskan. Pada pasien yang kronis sebagian besar
memerlukan trisiklik anti depresan dan penyekat saluran.
Pengurangan nyeri adalah prakondisi dari seluruh pendekatan. Pada fase
akut CRPS dengan gejala nyeri yang hebat pada saat istirahat, imobilisasi dan
terapi fisik pada ekstremitas kontra lateral dengan hati-hati merupakan terapi
pilihan.Jika nyeri saat istirahat sudah berkurang terapi fisik harus segera dimulai
dengan kombinasi dengan program desensitisasi dan terapi nyeri.
Prosedur simpatolitik (blok ganglion simpatik) baru dilakukan bila
komponen nyerinya adalah SMP (Sympathetic Maintain Pain). Pada kasus
refrakter SCS (Spinal Cord Stimulation) dan Klonidin epidural dapat
dipertimbangkan, jika terjadi distonia yang refrakter Baclofen intratekal perlu
dipikirkan.
Farmakologik
1.

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS). Belum banyak diteliti untuk

pengobatan CRPS, tetapi pengalaman klinik menunjukkan bahwa OAINS dapat


mengontrol nyeri ringan sampai sedang.
2.

Antidepresan trisiklik. Digunakan sebagai terapi tambahan nyeri

neuropatik. Mekanismenya dengan menghambat re uptake serotonin dan nor


epineprin pada sinap Anti depresan juga bermanfaat dalam mencegah
kekambuhan. Imipramin dapat di toleransi dengan baik dan memberikan hasil
paling memuaskan dalam menghilangkan gejala nyeri, manifestasi motorik dan
otonomik.
3.

Antikonvulsan. Golongan penyekat saluran sodium dan kalsium secara

bermakna dapat menyembuhkan nyeri tajam dan parastesia pada dosis rendah.
Contohnya : karbamasepin, klonasepam, fenitoin, sodium valproat, lamotrigin dll.

Gabapentin efektif untuk terapi CRPS. Obat golongan ini juga bermanfaat pada
nyeri pasca simpatektomi (simpatalgia).
4.

Opioid oral. Penggunaannya masih kontroversi. Digunakan terutama bila

obat-obatan lain tidak memberikan hasil yang memadai. Biasanya dipakai opiat
long acting seperti : morphin. Oxycodon dan methadon.
5.

Simpatolitik oral: Klonidin, Prazosin, Propanolol, Fenoksibensamin.

Klonidin (alpha 2 agonist) dapat juga diberikan per injeksi pada ruang epidural
atau transdermal. Prazosin (alpha 1 antagonis selektif), Fenoksibensamin (non
spesifik alpha adrenergik antagonis), dan Propanolol (penyekat beta adrenergik).
Seluruh golongan obat-obat ini harus dititrasi pelan-pelan dalam beberapa hari
sampai beberapa minggu sampai pasien mengalami hipotensi ortostatik ringan.
Bila belum terjadi hipotensi ortostatik berarti dosisnya masih kurang cukup.
6.

Transdermal: 1) Clonidine patch (0,1mg tiap 3-7 hari). Cara kerjanya

diduga mengikat reseptor presinaptik sehingga mengurangi pelepasan epinefrin di


sekitar kulit yang patologik. 2) Capsaicin ointment. 3) Capsaicin melepaskan
substansi P dari serabut saraf sensoris yang berukuran kecil, capsaicin hanya
efektif bila telah terjadi eliminasi cadangan substansi P, proses ini memerlukan
waktu 2-3 minggu.
7.

Kortikosteroid dosis tinggi. Pada permulaan penyakit terutama yang

mengenai ekstremitas bawah terapi singkat dengan kortikosteroid (misalnya


prednison dengan dosis tinggi 60mg/hari selama 5-7 hari) dapat memberikan efek
yang dramatis. Steroid harus dihentikan bila setelah 5 hari terapi tidak ada respon,
tetapi diteruskan selama 21 hari bila hasilnya efektif. Disarankan untuk mencoba
steroid dosis tinggi (equivalen prednison 60mg/hari selama 5 hari) paling tidak
sekali pada setiap pasien CRPS.
8.

Pelemas otot. Dipergunakan untuk mengurangi spasme otot. Contoh:

Baclofen dan Tizanidine.

9.

Bone forming agent. Calcitonin intra nasal dan Pamidronate intravena

dilaporkan dapat menghilangkan nyeri pada CRPS. Cara kerjanya belum jelas.
10.

GABA agonist. Baclofen intratekal efektif untuk pengobatan distonia berat

pada CRPS.

Non Farmakologik
1.

Latihan fisik. Pengalaman klinik membuktikan bahwa terapi fisik penting

untuk membantu pasien mencapai pemulihan fungsi dan rehabilitasi. Terapi fisik
berguna untuk mencegah perubahan distrofi pada otot dan sendi serta mengurangi
nyeri dan memperbaiki mobilitas aktif pasien CRPS. Terapi fisik lebih efektif dan
biayanya lebih sedikit daripada terapi okupasi.
2.

TENS (Transcutaneous Electric Nerve Stimulation). Pada bagian

proksimal dari saraf yang cedera efektif dalam mengurangi nyeri kausalgia,
Keuntungannya ialah non invasif, tak ada efek samping sistemik dan mudah
digunakan.
3.

Spinal Cord Stimulation (SCS). Epidural SCS menunjukkan efikasi yang

baik pada CRPS kronik. Diduga mekanismenya melalui disinhibisi sentral.


4.

Modalitas termal. Penyinaran dengan gelombang ultra pendek (UKG)

banyak membantu.
5.

Terapi psikologik. Penelitian menunjukkan bahwa CBT (Cognitive

Behavioral Therapy) jangka panjang dapat mengurangi seluruh gejala nyeri.


Invasif non bedah

1.

Blok regional intravena/intra arterial dengan simpatolitik. Tidak ada

perbedaan yang bermakna antara : Guanetidin, reserpin, bretilium dan prilocaine


dengan placebo.
2.

Blok simpatik dengan anestesi lokal. Blok simpatik dilakukan pada

ganglion stelatum (untuk nyeri pada kepala, badan bagian atas dan ekstremitas
superior) pleksus Celiac (untuk nyeri abdomen) atau ganglia simpatik lumbal
(nyeri pelvis dan ekstremitas inferior). Digunakan anestesi lokal mepivacaine
0,5% atau bupivacaine 0,25% yang masa kerjanya 1,5-3 jam dan 3-4 jam. Jumlah
bahan suntikan untuk blok simpatis Lumbal atau stelatum 1-5ml. Hilangnya nyeri
tergantung dari masa kerja obat anestesi dan saat blok dilakukan. Keberhasilan
pada CRPS tipe I bisa lebih dari 90% dan CRPS tipe II 50-60% tergantung kapan
blok dilakukan ditinjau dari saat awitan nyeri terjadi, ketrampilan dokter yang
menyuntik dan sempurna tidaknya blokade simpatik. Tanda umum berhasilnya
blok simpatik adalah meningkatnya suhu kulit dan sindroma Horner ipsilateral sisi
blok. Berkurangnya nyeri ditandai dengan meningkatnya mobilitas dan fungsi
ektremitas.
Bedah : simpatektomi. Simpatektomi mungkin berguna pada kasus tertentu tetapi
dapat terjadi efek samping adatif supersensitive pada neuron nosiseptif yang
menyebabkan

peningkatan

intensitas

dan

lamanya

nyeri.

komp
Jika complex regional pain syndrome ini tak didiagnosis dan ditangani sejak dini,
penyakit ini akan bertambah parah dan mengarah pada gejala terjadinya
kelumpuhan karena anggota badan yang sakit semakin sulit digerakkan.
Komplikasi ini meliputi:

Atrophia (tak tumbuh). Jika Anda memilih untuk tak menggerakkan bagian

yang sakit akrena terlalu sakit atau memang sulit digerakkan, lama kelamaan kulit
dan otot Anda tak tumbuh.

Kontraksi. Anda bisa mengalami kejang otot atau mengeras. Hal ini akan

memicu terjadinya suatu kondisi di mana tangan, jari tangan dan jari kaki
terkontraksi ke satu posisi yang tetap. Kadang-kadang CRPS dapat menyebar ke
bagian tubuh lainnya. Gejalanya sebagai berikut.

Tipe berkelanjutan. Gejalanya adalah rasa sakit berpindah dari satu daerah

pada tubuh ke bagian lainnya, seperti dari tangan ke bahu, atau ke wajah.

Tipe cermin. Gejalanya adalah rasa sakit pindah dari satu area ke area di

seberangnya, misalnya dari lengan kiri ke lengan kanan.

Tipe mandiri. Kadang-kadang gejalanya rasa sakit itu melompat ke area yang

berjauhan, misalnya dari area telapak kaki ke daerah paha dan sebagainya

PROGNOSIS
Sampai saat ini pengobatan CRPS masih sulit dan sering membuat putus asa,
Angka keberhasilannya kurang dari 50% kasus. Keberhasilan terapi tgergantung
dari:
1.

diagnosis dini

2.

identifikasi dan pengobatan faktor pencetus

3.

keberhasilan blok simpatis

4.

fisioterapi yang agresif