Anda di halaman 1dari 8

ASKARIASIS

Oleh:
FILIANMI DYOSPAMA PATANDIANAN

(C 111 11 116)

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

ASKARIASIS

I.

DEFINISI
Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Nemathelminthes Ascaris
lumbricoides. Askariasis adalah penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh

makhluk parasit. Walaupun infeksi helminth yang melalui transmisi tanah jarang
mengakibatkan kematian langsung namun angka morbiditasnya tinggi. Seperti halnya
pada infeksi cacing tambang, askariasis dapat menyebabkan gangguan pencernaan
yang berujung pada malnutrisi dan kehilangan darah. Penyakit ini diperkirakan
menginfeksi lebih dari 1 miliar orang. Tingginya prevalensi ini terutama karena
banyaknya telur disertai dengan daya tahan telur yang mengandung larva cacing pada
keadaan tanah yang kondusif.
II.

ETIOLOGI
Cacing Ascariasis lumbricoides dewasa tinggal di dalam lumen usus kecil dan
memiliki umur 1-2 bulan. Manusia merupakan hospes definitif cacing ini, cacing
jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan betina 22-35 cm. Cacing betina dapat
menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Telur fertil berbentuk oval dengan panjang 4570 m. Setelah keluar bersama tinja, embrio dalam telur akan berkembang menjadi
infektif dalam 5-21 hari pada kondisi lingkungan yang mendukung.

III.

EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia sendiri, prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Dilaporkan
frekuensinya mencapai 60-90%. Pada penelitian epidemiologi yang telah dilakukan
hampir di seluruh Indonesia, terutama pada anak-anak sekolah dan umumnya
didapatkan angka prevalensi tinggi yang bervariasi. Prevalensi askariasis di propinsi
DKI Jakarta adalah 4-91%, Jabar 20-90%, Yogyakarta 12-85%, Jatim 16-74%, Bali
40-95%, NTT 10-75%, Sumut 46-75%, Sumbar 2-71%, Sumsel 51-78%, Sulut 3072%.

IV.

FAKTOR RESIKO
1. Umur
Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5 10 tahun
sebagai host (penjamu) yang juga menunjukkan beban cacing yang lebih tinggi.
Ada beberapa kejadian yang menyerang orang dewasa namun frekuensinya rendah.
Hal ini disebabkan oleh karena kesadaran anak-anak akan kebersihan dan
kesehatan masih rendah ataupun mereka tidak berpikir sampai ke tahap itu.
Sehinga anak-anak lebih mudah diinfeksi oleh larva cacing Ascaris misalnya
melalui makanan, ataupun infeksi melalui kulit akibat kontak langsung dengan
tanah yang mengandung telur Ascaris lumbricoides.
2. Kelas sosial

Hal ini juga terjadi pada golongan masyarakat yang memiliki tingkat social
ekonomi yang rendah, sehingga memiliki kebiasaan membuang hajat di tanah,
yang kemudian tanah akan terkontaminasi dengan telur cacing yang infektif dan
larva cacing yang seterusnya akan terjadi reinfeksi secara terus menerus pada
3.

daerah endemik.
Pekerjaan
Para pekerja tambang dan pekerja kebun yang menggunakan feses sebagai pupuk
cenderung terpapar langsung dengan tanah yang terkontaminasi telur cacing
infektif. Mereka beresiko terkena penyakit ascariasis karena keadaan lingkungan
kerja yang tidak aman dan tidak sehat serta langsung berhubungan dengan media

tanah.
4. Penghasilan
Seseorang dengan penghasilan rendah biasanya tidak memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada untuk tindakan pencegahan dan peningkatan status kesehatan.
Ini merupakan salah satu penyebab penyakit askariasis, masyarakat dengan
penghasilan rendah tidak mampu untuk menggunakan pelayanan kesehatan dalam
rangka pencegahan dan peningkatan status kesehatan.
5. Pendidikan
Ascariasis banyak diderita oleh anak kecil karena tingkat pengetahuan mereka
yang kurang dan kurangnya kesadaran mereka terhadap kebersihan dirinya. Selain
itu, peran orang tua sangat penting untuk mengajarkan kepada anak bagaimana
cara perawatan diri yang benar dan bagaimana menjaga kesehatan. Jika pendidikan
dan pengetahuan orang tua rendah maka kesadaran mereka untuk memberikan
pendidikan kesehatan dan melakukan pengawasan terhadap anak juga rendah. Hal
ini yang menyebabkan tingginya angka penderita ascariasis pada anak.
V.

DAUR HIDUP DAN PATOMEKANISME


Siklus hidup parasit Ascaris menyerupai Trichuris trichiura, tetapi parasit Ascaris
juga sampai ke paru-paru. Telur Ascaris dikeluarkan bersama dengan tinja penderita.
Didalam lingkungan yang sesuai telur yang telah dibuahi tumbuh menjadi bentuk
infektif dalam waktu kurang lebih tiga minggu. Manusia dapat terinfeksi cacing ini
jika tertelan telur infektif yaitu telur yang keluar bersama tinja penderita yang di tanah
yang sesuai maka telur cacing ini dapat berkembang menjadi telur infektif. Telur akan
masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan
menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem
peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru.

Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea,
kemudian di laring. Ini dapat menimbulkan gejala seperti batuk,bersin, demam,
eosinofilia, dan pneumonitis askaris. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna.
Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa kadang dapat
menyumbat usus buntu, saluran empedu atau saluran pankreas.
Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada
akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila
penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.
VI.

GEJALA KLINIS
Manifestasi klinis tergantung pada intensitas infeksi dan organ yang terlibat. Pada
sebagian besar penderita dengan infeksi rendah sampai sedang gejalanya asimtomatis
atau simtomatis. Gejala klinis paling sering ditemui berkaitan dengan penyakit paru
atau sumbatan pada usus atau saluran empedu. Gejala klinis yang nyata biasanya
berupa nyeri perut, berupa kolik di daerah pusat atau epigastrum, perut buncit (pot
belly), rasa mual dan kadang-kadang muntah, cengeng, anoreksia, susah tidur dan
diare.
Pada awal migrasi larva melalui paru-paru pada umumnya tidak menimbulkan gejala
klinis, namun pada infeksi berat dapat menyebabkan pneumonitis. Larva askaris dapat
menimbulakan reaksi hipersensitif pulmonum, reaksi inflamasi dan pada individu
yang sensitif dapat menyebabakan gejala seperti asma misalnya batuk, demam, dan
sesak nafas. Reaksi jaringan karena migrasi larva yakni inflamasi eosinofilik,
granuloma pada jaringan dan hipersensitifitas local menyebabakan peningkatan
sekresi mucus, inflamasi bronkiolar dan eksudat serosa. Pada kondisi berat karena
larva yang mati, menimbulkan vaskulitis dengan reaksi granuloma perivaskuler. Pada
foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini
disebut sindrom Loeffler.
Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan, dan sangat tergantung
dari banyaknya cacing yang menginfeksi di usus. Kadang-kadang penderita
mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare,
atau konstipasi.
Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorpsi sehingga

memperberat keadaan malnutrisi. Efek yang serius terjadi bila cacing-cacing ini
menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). Pada anak-anak yang
menderita Ascaris lumbricoides perutnya tampak buncit, perut sering sakit, diare dan
nafsu makan kurang. Biasanya anak masih beraktifitas walau sudah mengalami
penurunan kemampuan belajar dan produktifitas.
Gejala alergi lainnya seperti urtikaria kemerahan di kulit (skin rash), nyeri pada mata
dan insomnia karena reaksi alergi terhadap ekskresi dan sekresi metabolik cacing
dewasa dan cacing dewasa yang mati
Pada keadaan tertentu cacing dewasa mengembara ke saluran empedu, apendiks, atau
ke bronkus dan menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang-kadang perlu
tindakan operatif.
VII.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis adalah:
1. Pemeriksaan darah rutin: ditemukan adanya eosinofilia. Anemia dapat ditemukan
pada infeksi yang lama.
2. Pemeriksaan feses: ditemukan adanya telur cacing Ascaris lumbricoides. Ini
menjadi alat diagnosa pilihan.
3. Pemeriksaan radiologi: melihat adanya komplikasi pada saluran GEH dan sindrom
Loeffler pada paru.
4. Penemuan cacing Ascaris secara langsung dari anus atau usus pasien.

VIII.

PENANGANAN
1. Non Medikamentosa
Pasien harus diberikan bed rest untuk memulihkan kondisi tubuhnya sebab pada
anak-anak, umumnya mereka mengalami malas makan dan malnutrisi akibat
askariasis. Diet harus tetap dilanjutkan untuk menjamin intake anak dan menjaga
asupan nutrisi anak tetap terjaga dengan baik. Pemberian suplemen dapat
dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan memberikan tambahan
nutrisi yang kurang pada anak.
2. Medikamentosa
Obat yang diberikan adalah:
- Albendazole dosis tunggal 400 mg
- Mebendazole dosis tunggal 500 mg atau 100 mg b.i.d selama 3 hari.
- Pirantel pamoat 10 mg/kgBB per dosis tunggal
3. Operatif

Pada komplikasi seperti obstruksi usus, pankreas atau saluran empedu karena
infeksi masif, tindakan operatif dapat dilakukan untuk mengeluarkan cacing dari
dalam tubuh penderita.
IX.

KOMPLIKASI
Larva cacing dapat menyebar melalui darah dan dalam beberapa kasus, dapat
mencapai ginjal sehingga menyebabkan nefritis. Jika larva mencapai hepar, abses dan
hepatitis dapat terjadi.
Pada paru, sindroma Loffler dapat terjadi. Sindroma ini adalah adanya infiltrat
eosinofil pada paru yang menyerupai bronkopneumonia. Infiltrat ini dapat muncul dan
menghilang dengan cepat. Ini akibat infeksi larva cacing yang mencapai paru.
Pada saluran cerna, infeksi yang masif akan menyebabkan terjadinya obstruksi usus.
Kasus perforasi dapat saja terjadi pada anak. Ini berbahaya sebab perforasi usus dapat
menyebabkan kasus peritonitis, yang akan memperburuk prognosis pada anak. Cacing
juga dapat mencapai ductus choleodocus dan akan menyebabkan obstruksi saluran
empedu, yang dapat memunculkan ikterus pada anak.
Gangguan absorpsi makanan dapat menyebabkan anak mengalami malnutrisi. Diare
dan muntah pada anak dapat menyebabkan dehidrasi pada anak akibat kehilangan
cairan, terutama jika terjadi diare dan muntah hebat. Dalam beberapa kasus, anemia
dapat muncul pada anak.

X.

PENCEGAHAN
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah askariasis. Cara efektif
pencegahan askariasis adalah:
1. Menerapkan sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene pribadi, antara lain
dengan berperilaku hanya buang air besar di jamban, sebelum melakukan persiapan
makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan
sabun dan air mengalir. Hendaknya anak selalu diajarkan cara menjaga sanitasi diri
dengan benar dalam keluarga dan lingkungan sekolah.
2. Mengajarkan anak agar tidak memakan makanan di sembarang tempat.
3. Bagi yang mengkonsumsi sayuran segar (mentah) sebagai lalapan, hendaklah
dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat.
4. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman terutama untuk produk makanan,
sebab ada kemungkinan telur cacing masih berada dan dapat bertahan serta terikut
ketika tanaman diolah menjadi masakan.

5. Pada daerah endemis, profilaksis dapat dilakukan dengan mengobati penderita


melalui pengobatan massal pada penduduk menggunakan obat cacing berspektrum
lebar di daerah endemis dan memutuskan rantai daur hidup cacing Ascaris
lumbricoides dan nematoda usus lainnya
XI.

PROGNOSIS
Prognosis penyakit ini baik, dengan penanganan yang cepat dan tepat akan sembuh.
Komplikasi akan memperburuk outcome penyakit pada penderita, tergantung dari
tingkat keparahan komplikasi yang ada

DAFTAR PUSTAKA
Hadidjaja, P. & Margono, S.S., 2011. Dasar Parasitologi Klinik. FKUI
Pedoman

Pengendalian

Cacingan,

Keputusan

Menteri

Kesehatan

No.424/Menkes/SK/VI/2006, Depkes RI, 2006


Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2002. Buku
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2.Jakarta :Percetakan Info Medika Jakarta