Anda di halaman 1dari 11

MODUL III PENGUATAN BJT

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten : Fiqih Tri Fathulah Rusfa (13211060)
Tanggal Percobaan: 2/3/2015
EL2205-Praktikum Elektronika

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Abstrak Pada praktikum Modul III ini telah dilakukan
beberapa percobaan yaitu pertama dilakukan perhitugan nilai
arus pada transistor (Ic, Ib , dan IE) yang selanjutnya nilai
ini akan digunakan untuk menghitung nilai parameterparameter transistor (gm, re, betta, dll). Setelah diperoleh nilai
parameter-parameter transistor, kemudian dilakukan
perhitungan factor penguatan, Resistansi Input serta
Resistansi Output untuk masing-masing konfigurasi penguat
transistor yang kemudian akan dicocokan dengan nilai yang
didapatkan dari hasil pengukuran. Penguat transistor dengan
konfigurasi Common Emitter memiliki sinyal input-output
yang inverting, penguatan tegangan dan resistansi input yang
cukup besar, serta memiliki resistansi output yang cukup
besar. Pada penguatan dengan konfigurasi Common Base
memiliki karakteristik sinyal input output yang tidak
inverting, penguatan tegangan dan resistansi output yang
cukup besar, serta resistansi input yang kecil. Yang terakhir
yaitu penguatan dengan konfigurasi Common Colletor
memiliki karakteristik yaitu sinyal input-output yang tida
inverting, penguatan tegangan dan resistansi output yang kecil,
serta memiliki resistansi input yang besar.

Jika tegangan keluaran turun oleh pertambahan


arus beban maka Vbe (tegangan basis-emitter)
bertambah dan arus beban bertambah besar pula,
sehingga titik kerja bergeser keatas sepanjang garis
beban dan Vce berkurang. Resistansi output pada
Common Emitter adalah resistansi didalam
penguat yang terlihat oleh beban. Resistansi
output diperoleh dengan membuat Vs = 0dan RL =
tak hingga. Dengan menghubungkan pembangkit
Penguat Common Base adalah penguat yang kaki
basis transistornya digroundkan, lalu input
dimasukan ke emitter dan output diambil pada
kaki kolektor. Penguat common base memiliki
karakteristik sebagai penguat tegangan. Common
Base memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.

Adaya isolasi yang tinggi dari output ke


input sehingga meminimalkan efek umpan
balik.

b.

Mempunyai impedansi input yang relative


tinggi sehingga cocok untuk penguat
sinyal kecil (pre amplifier).

Kata kunci: Transistor, Common Emitter, Common


Base, Common Collector.

c.

Sering dipakai pada penguat frekuensi


tinggi.

1.

d. Bias juga dipakai sebagai buffer atau


penyangga.

PENDAHULUAN

Penguat Common Emitter adalah penguat yang


kaki emitor transistornya digroundkan, lalu input
dimasukan ke basis dan output diambil pada kaki
kolektor. Penguat Common Emitter juga
mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.
Penguat Common Emitter memiliki karakteristik
sebagai berikut :
a.

Sinyal outputnya berbalik


terhadap sinyal input.

b.

Sangat mungkin terjadi osilasi karena


adanya umpan balik positif, sehingga
sering dipasang umpan balik negative
untuk mencegahnya.

c.

fasa

1800

Sering dipakai pada penguat frekuensi


rendah (terutama pada sinyal audio).

d. Mempunyai stabilitas penguatan yang


rendah karena bergantung pada kestabilan
suhu dan bias transistor.

Penguat Common Collector adalah penguat yang


kaki transistornya digroundkan, lalu input
dimasukan ke basis dan output diambil pada kaki
emitter. Penguat Common Collector juga memiliki
karakteristik sebagai penguat arus. Penguat
Common Collector memiliki karakteristik sebagai
berikut :
a.

Sinyal outputnya sefasa dengan sinyal


input (tidak membalik fasa seperti
common emitter)

b.

Mempunyai
dengan 1.

c.

Mempunyai penguat arus sama dengan


HFE transistor.

penguat

tegangan

sama

d. Cocok dipakai untuk penguat penyangga


(buffer) karena mempunyai impedansi
input tinggi dan mempunyai impedansi
output yang rendah.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Dari praktikum ini tujuan yang ingin dicapai


yaitu :
a.

Mengetahui dan mempelajari


transistor sebagai penguat

fungsi

b.

Mengetahui
karakteristik
berkonfigurasi Common Emitter

penguat

c.

Mengetahui
karakteristik
berkonfigurasi Common Base

penguat

Konfigurasi Common Emitter


Konfigurasi ini memiliki resistansi input yang
sedan, transkonduktansi yang tinggi, resistansi
output yang tinggi dan memiliki penguatan arus
(Ai) serta penguatan tegangan (Av) yang tinggi.
Secara umum, konfigurasi common emitter
digambarkan oleh gambar rangkaian dibawah ini :
Rangkaian 2

d. Mengetahui
karakteristik
penguat
berkonfigurasi Common Collector
e.

2.

Mengetahui dan mempelajari resistansi

STUDI PUSTAKA

Penguat BJT
Transisitor merupakan komponen dasar untuk
system penguat. Untuk bekerja sebagai penguat,
transistor harus berada dalam kondisi aktif.
Kondsi aktif dihasilkan dengan meberikan bias
pada transistor. Bias dapat dilakukan dengan
memberikan arus yang konstan pada basis atau
pada kolektor.
Pada praktikum kali ini akan digunakan sumber
arus konstan untuk memaksa arus kolektor agar
transistor berada pada kondisi aktif. Jika pada
kondisi aktif transistor diberikan sinyal (input)
yang kecil, maka akan dihasilkan sinyal keluaran
(output) yang lebih besar. Hasil bagi antara sinyal
output dengan sinyal input inilah yang disebut
factor penguat, yang sering diberi notasi A atau C.
Ada 3 macam konfigurasi dari rangkaian penguat
transistor yaitu : Common-Emitter (CE), CommonBase
(CB),
dan
Common-Collector
(CC).
Konfigurasi umum transistor bipolar penguat
ditunjukan oleh gambar berikut :

Untuk menentukan penguatan teoritisnya, terlebih


dahulu akan dihitung resistansi input dan
outputnya. Resistansi Input (Ri) adalah nilai
resistansi yang dilihat dari masukan sumber
tegangan vi. Rs adalah resistansi dalam dari
sumber tegangan. Sedangkan Resistansi output
(Ro) adalah resistansi yang dilihat dari keluaran.
Jika rangkaian diatas dimodelkan dengan model-,
maka rangkaian dapat menjadi seperti gambar
berikut :
Rangkaian 3

Rangkaian 1

Dengan model ini, Ri (resistansi input) adalah :


= //
Jika Rb >> r maka resistansi input akan menjadi :
-
Kemudian untuk menentukan resistansi output
konfigurasi CE, dibuat Vs = 0, sehingga gmV = 0,
maka :
= // ro
Untuk komponen diskrit yang Rc >> ro,
persamaan tersebut menjadi
Untuk membuat penguat CE, CB, dan CC maka
terminal X, Y, dan Z dihubungkan ke sumber
sinyal atau ground tergantung pada konfigurasi
yang digunakan.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Rangkaian 5

Dan untuk factor penguatan tegangan, Av


merupakan perbandingan antara tegangan
keluaran dengan tegangan masukan :

(////)//
+

Jika terdapat resistor e yang terhubung ke emitter,


maka berlaku :
Ri = Rb // r (1 + gmRe)
Ro Rc

/ / /
+

Konfigurasi Common Base


Konfigurasi ini memiliki input yang kecil dan
menghasilkan arus kolektor yang hampir sama
dengan arus input dengan impedansi yang besar.
Konfigurasi ini biasanya digunakan sebagai buffer.
Konfigurasi common base ditunjukan oelh gambar
berikut :
Rangkaian 4

Pada konfigurasi ini berlaku :


Resistansi input : + ( + 1)RL
Resistansi output : =
Factor penguatan : =

2.1

(//)
+1

JUDUL SUB-BAB

Sub-bab pada percobaan ini, yaitu :


a.

Tegangan bias dan parameter penguat

b.

Common Emitter

c.

Faktor Penguat

Resistansi Input

Resistansi Output

Common Base

Faktor Pengutan

Resistansi input untuk konfigurasi ini adalah :

Resistansi Input

Ri re

Resistansi Output

d. Common Collector

Resistansi outputnya adalah : Ro = RC


Factor penguatan keseluruhan adalah :
=

( //RL)

Dengan Rs adalah resistansi sumebr sinyal input


dan Gm adalah transkonduktansi.
Konfigurasi Common Collector
Kofigurasi ini memiliki resistansi output yang kecil
sehingga baik untuk digunakan pada beban
dengan resistansi yang kecil. Oleh karena itu,
konfigurasi ini biasanya digunakan pada tingkat
akhir pada penguat bertingkat. Konfigurasi
common collector ditunjukan oleh gambar berikut
berikut ini.

3.

Faktor Penguatan

Resistansi Input

Resistansi Output

METODOLOGI

Pada percobaan 3 ini, alat dan bahan yang


digunakan yaitu :
1.

Sumber tegangan DC

(1 buah)

2.

Generator sinyal

(1 buah)

3.

Osiloskop

(1 buah)

4.

Multimeter

(3 buah)

5.

Breadboard

(1 buah)

6.

Sumber arus konstan

(1 buah)

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

7.

Transistor 2N3904

8.

Kabel-kabel

9.

Resistor variable

(1 buah)

2.

(1 buah)

Memulai percobaan
Sebelum memulai percobaan, diisi dan ditanda
tangani lembar penggunaan meja yang tertempel
pada masing-masing meja praktikum. Dicatat
juga nomor meja Kit Praktikum yang digunakan
dalam BCL.

Faktor Penguat

Dihubungkan ujung kaki Re ke pin "input" current


source. Dilakukan pengecekan arus Ic tersebut
dengan menggunakan amperemeter dan dipastikan
semua ground terhubung.

Dibuat suatu sinyal sinusoid kecil dari generator


sinyal dengan tegangan Vpp = 40-50 mV dan
frekuensi 10 kHz

Dihubungkan rangkaian sebelumnya dengan sinyal


sinusoid seperti pada gambar rangkaian 7

Dilakukan kalibrasi pada osiloskop


1.

Common Emitter

Tegangan bias dan parameter penguat

Disusun rangkaian seperti pada gambar rangakian 6


dengan nilai-nilai komponen sebagai berikut :
Q = 2N3904, Rb = 27 k, Rc = 1 k, Re = 10 k, C1
= C2 = C3 = 100 F, Vcc = 10 V

Dipasang resistorset pada modul current source


untuk menghasilkan arus Ic yang diinginkan dengan
menggunakan formula
Rset = (67.7 mV)/Ic
*asumsi Ic = Ie

Diukur Ic, Ib, dan Ie dan dicatat pada tabel dibawah


ini. Kemudia dengan nilai tersebut dan nilai
komponen yang digunakan, dihitung parameterparameter transistor serta parameter rangkaian
penguat dan dituliskan pada tabel.

Diamati dan digambar sinyal di titik Z dan X


menggunakan osiloskop

Digunakan mode osiloskop xy untuk mengamati


Vo/Vi, digambar grafik tersebut pada BCL

Dinaikkan amplituda generator sinyal dan diamati Vo


sampai bentuk sinyalnya mulai terdistorsi. Dicatat
tegangan Vi pada saat hal tersebut terjadi.

Diulangi langkah pengamatan pada titik Z dan X


dengan menambahkan resistor pada kaki emitor
dengan capasitor bypass C3 seperti yang ditunjukan
oleh gambar rangkaian 8
Rangkaian 7

Rangkaian 6

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Rangkaian 8

Rangkaian 10

Resistansi Output

Resistansi Input

Diatur kembali fungsi generator. Disambungkan


dengan rangkaian oada gambar rangkaian 11
dibawah ini dan dicatat hasil bacaan Vo di osiloskop
(Re dihubung singkatkan).

Dilepaskan hubungan frekuensi generator dan


osiloskop dari rangkaian.

Diatur kembali fungsi untuk menghasilkan sinyal


sinusoid sebesar Vpp = 40-50 mV dengan frekuensi
10 kHz seperti yang ditunjukan oleh gambar
rangkaian 9. Rs adalah resistansi internal frekuensi
generator.

Dengan tidak merubah nilai-nilai komponen dari


rangkaian penguat dan tidak merubah amplituda
output generator sinyal, disusun ranngkaian seperti
pada gambar rangkaian 10.

Disambungkan rangakaian 11 dengan Rvar kemudian


diatur nilai Rvar yang memberikan Vo di osiloskop
yang bernilai 1/2 dari nilai tegangan sebelum
dipasang Rvar. Maka Ro = Rvar.

Diulangi percobaan ini dengan memasang Re.


Rangkaian 11

Diubah niali Rvar dan dicatat nilainya yang membuat


tegangan vi menjadi 1/2 dari tegangan osiloskop
sebelum terpasang pada rangkaian penguat . Maka Ri
= Rvar + Rs (Rs = 50 ) untuk generator fungsi
berkonektor koaksial)

Diulangi percobaan ini dengan memasang resistor Re


Rangkaian 9

3.

Common Base

Faktor Pengutan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Rangkaian 13

Dilakukan langkah ke-2 sampai langkah ke-5.

Dihubungkan rangkaian seperti pada gambar


rangkaian 12.

Diamati dan digambar gelombang di titik Z dan Y


menggunakan osiloskop.

Digunakan mode osiloskop xy untuk mengamati


Vo/Vi, digambar grafik tersebut di BCL.

Dinaikkan amplituda generator sinyal dan diamati


Vo sampai bentuk sinyalnya mulai terdistorsi.
Dicatat tegangan Vi pada saat hal tersebut terjadi.

Resistansi Output

Dilakukan hal yang sama seperti pada percobaan


Resistansi Output utnuk Common Emitter (kecuali
langkah ke-18) pada rangkaian 14
Rangkaian 14

Rangkaian 12

4.

Resistansi Input

Common Collector

Faktor Penguatan

Dihubungkan rangkaian seperti pada gambar 15


Dilakukan hal yang sama seperti pada percobaan
resistansi input untuk Common Emitter (kecuali
langkah ke-15) pada rangkaian 13.

Diamati dan digambar gelombang di titik X dan Y


menggunakan osiloskop.

Digunakan mode osiloskop xy untuk mengamati


Vo/Vi, digambar grafik tersbut di BCL.

Dinaikkan amplituda frekuensi generator dan diamati


Vo sehingga bentuk sinyal Vo mulai terdistorsi.
Dicatat tegangan Vi.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Rangkaian 15

Mengakhiri Percobaan
Selesai praktikum dirapikan semua kabel dan
dimatikan osiloskop, generator sinyal serta dipastikan
juga multimeter analog, multimeter digital
ditinggalkan dalam keadaan mati (selector
menunjukan ke pilihan off).

Dimatikan MCB dimeja praktikum sebelum


meninggalkan ruangan.

Resistansi Input
Diperiksa lembar penggunaan meja.

Dilakukan hal yang sama seperti pada percobaan


Resistansi Input untuk Common Emitter (kecuali
langkah ke-15) pada gambar rangaian 16 berikut ini
Rangkaian 16

DIpastikan asisten telah menandatangani catatan


percobaan kali ini pada Buku Catatan Laboratorium.

4.

HASIL DAN ANALISIS

4.1

TEGANGAN BIAS DAN PARAMETER


PENGUAT

Pada pengukuran tegangan bias dan parameter


penguat, dibuat rangkaian dengan konfigurasi
mirip seperti Common Emitter. Pertama-tama
dilakukan pengukuran untuk masing-masing arus
pada komponen transistor dengan data sebagai
berikut :

Resistansi Output

Dilakukan hal yang sama seperti pada


percobaan Resistansi Output untuk Common
Emitter pada rangkaian 17
Rangkaian 17

Besaran Ukur

Nilai

Ic

6.76 mA

IB

32 A

IE

6.76 mA

Berdasarkan data hasil pengukuran, didapatkan


beberapa nilai parameter transistor :
Parameter

Formula

Nilai

Model Ekivalen Transistor


Gm

0.2704 A/V

211.25

781.25

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

3.698

Nilai ro diperoleh dari Va/Ic, dengan Va yang


didapatkan dari percobaan sebelumnya yaitu 87.92
V,maka ro = 13005.917
Setelah didapatkan nilai-nilai parameter diatas,
selanjutnya dilakukan percobaan denganketiga
konfigurasi transistor. Lalu akan dicocokan antara
hasil perhitungan yang didapatkan pada tabel
dengan nilai nilai parameter yang didapatkan
dari hasil pengukuran.

4.2

COMMON EMITTER

Faktor Penguat

Telah dibuat rangkaian dengan konfigurasi


Common Emitter seperti pada langkah percobaan.
Sumber tegangan input diperoleh dari generator
sinyal yang tegangan Vppnya dibuat sebesar 40
mVpp dengan frekuensi 10 kHz. Sinyal inputoutput yag didapatkan adalah sebagai berikut :
Gambar 1 Sinyal Input penguatan Common Emitter

Penguat CE (hasil perhitungan)


AV
Rin
Rout

( | | )
+

= ( |)
= ( | )

-235.77
759.28
566.33

Dari sinyal diatas (mode xy) dapat ditentukan


factor penguatan transistor yaitu dengan
menghitung
kemiringan
kurva.
Sehingga
didapatkan faktor penguatan -2.5V/10mV -250..
Lalu dinaikan amplitude dari generator sinyal
hingga teramati distorsi pada sinyal output. Saat
sinyal output mulai terdistorsi, diperoleh nilai Vi
sebesar 0.24 V.
Kemudian dilakukan pengamatan sinyal input
output dengan kondisi menambahkan resistor
pada kaki emitter. Berikut tampilan sinyal output
yang dihasilkan :
Gambar 4 Sinyal Input dan Output untuk penguatan
Common Emitter yang ditambahkan dengan resistor Re

Gambar 2 Sinyal output penguat Common Emitter


Gambar 5 Mode tegangan XY untuk penguatan Common
Emitter yang ditambahkan dengan resistor Re

Gambar 3 Mode XY penguat Common Emitter

Penguat CE dengan RE (hasil perhitungan)


AV
Rin
Rout

|
+

= ( |(1 + ) )
= ( | )

-72.93
1.4769 k
566.33

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Setelah dihitung faktor penguatannya, diperoleh


factor penguatan sebesar faktor penguatan = - 50
V/V. Lalu dinaikan amplitude dari generator
sinyal hingga teramati distorsi pada sinyal output.
Saat sinyal output mulai terdistorsi, diperoleh nilai
Vi sebesar 0.28 V.

Resistansi Input

Dengan mengatur Rvar yang membuat tegangan


vi menjadi dari tegangan osiloskop sebelum
terpasang rangkaian, maka diperoleh Rvar = 2.3
k. Sehingga Ri = Rvar + Rs = 2.3 k + 50 = 2.35
k. Sedangkan saar Re dipasang, diperoleh Rvar =
7.8 k, sehingga Ri = 7.8 k + 50 = 7.85 k

Resistansi Output

Dibuat rangkaian berkonfigurasi Common Emitter


untuk mengukur Resistansi Output seperti pada
gambar di langkah kerja. Lalu diatur nilai Rvar
agar diperoleh Vo sebesar kali dari Vo sebelum
dipasang Rvar. Sehingga diperoleh Rvar = 700 .
Karena Ro = Rvar, maka Ro sekitar 700 .
Sedangan dengan penambahan resistor Re, nilai
Rvar yang didapatkan yaitu sekitar 1 k. Ro
sekitar 1 k.
Dari ketiga parameter yang diukur untuk
percobaan pada transistor berkonfigurasi Common
Emitter, dapat diamati karakteristiknya. Yaitu
pertama bahwa konfigurasi Common Emiiter
memiliki penguatan tegangan yang cukup besar
(diperoleh penguatan -250 dan -50 untuk
rangakain dengan Re). Nilai tersebut lebih kecil
dari nilai penguatan hasil perhitunganm hal
tersebut
kemungkinan
disebabkan
adanya
perubahan temperatur yang mempengaruhi besar
arus yang mengalir pada transistor. Lalu apabila
diamati sinyal input dan output. Dapat terlihat
bahwa sinyal bersifat inverting (berbeda fasa 1800),
yaitu ketika sinyal input naik, sinyal outputnya
menjadi turun, begitu pula saat sinyal input turun,
outputnya menjadi naik sehinga dapat dikatakan
sinyalnya
bersifat
inverting.
Lalu
pada
pengukuran nilai Vi saat outputnya mulai
terdistorsi diperoleh nilai sekitar 0.28 V. Tegangan
output
terdistorsi
disebabkan
gelombang
sinusoidal sudah mulai memasuki daerah saturasi
sehingga transistor tidak dapat lagi berfungsi
sebagai penguatan. Fungsi penambahan Re adalah
untuk menurunkan IE pada Vce sehingga daerah
kerja transistor menjadi semakin besar. Hal
tersebut terbukti dari nilai Vin yang diperoleh
yaitu Vin dengan Re > Vin tanpa Re yang berarti
nilai Vin menjadi lebih besar sehinnga
memperbesar daerah kerja transistor.

Kemudian untuk resistansinya, konfigurasi


Common Emitter memiliki Resistansi input yang
cukup besar (pada percobaan diperoleh Ri = 2.35
k dan Ri = 7.85 k untu rangkaian dengan Re).
Sedangkan untuk Resistansi Output diperoleh nilai
yang sedang (tidak terlalu besar dan tidak terlalu
kecil) yaitu sekitar 700 dan 1 k untuk
rangkaian dengan Re.

4.3

COMMON BASE

Faktor Penguatan

Dengan melakukan perngukuran seperti pada


langkah untuk rangkaian berkonfigurasi Common
Emitter, pada rangkaian Common Base diperoleh
sinyal input output sebagai berikut :
Gambar 6 SInyal Input pada penguaran Common Base

Gambar 7 Sinyal output pada penguatan Common Base

Gambar 8 Sinyal mode XY pada penguatan Common Base

Penguat CB (hasil perhitungan)


AV

(//)
+

253.88

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Ri re

Rin

Ro = Rc

Rout

Gambar 9 Sinyal input pada penguatan Common Collector

3.698
1 k

Dengan mengukur kemiringan kurva pada plot


grafik Vo/Vi, diperoleh factor penguatan sebesar :
Av 166.67
Lalu dinaikkan amplitude generator sinyal hingga
diteramati distorsi pada sinyal output. Tegangan
Vi saat sinyal output mulai terdistorsi adalah
sebesar 1.25 Vpp.

Gambar 10
Collector

Sinyal Output pada penguatan Common

Resistansi Input

Dengan langkah yang sama untuk pengukuran


Resistansi Input pada Common Emitter, diperoleh
Rvar Common Base sebesar 11 . Karena Ri = Rvar
+ Rs, maka Ri = 11 + 50 = 61 .

Resistansi Output

Dengan cara yang sama seperti pada rangkaian


berkonfigurasi Common Emitter, diperoleh Rvar =
0.9 k. Karena Ro = Rvar, maka Ro = 0.9 k.

Setelah didapatkan ketiga parameter (factor


penguat, Resistansi Input, dan Resistasi Output)
dapat diamati beberapa hal. Yang pertama yaitu
jika sinyal input dan output pada penguatan
Common Base dapat diamati bahwa sinyal nonInverting. Yaitu ketika sinyal input naik , sinyal
outputnya juga ikut naik dan ketika sinyal input
turun, outputnya juga turun. Untuk factor
penguatan, konfigurasi Common Base memiliki
penguatan tegangan yang cukup besar yaitu
sekitar 167 kali. Besar penguatan yang diperoleh
ini lebih kecil dari hasil perhitungan, hal ini
kemungkinan disebabkan perubahan temperature
yang mempengaruhi besarnya arus yang mengalir
pada transistor atau karena kekurang kelitian
praktkan pada saat memasag rangkaian pada
breadboard. Kemudian Resistansi Input, rangkaian
konfigurasi Common Base memiliki resistansi
input yang kecil (pada percobaan diperoleh 61 )
dan resistansi output yang cukup besar (yaitu
diperoleh Ro = 0.9 k). Nilai Ro ini telah sesuai
dengan nilai Ro pada peritungan yaitu sekitar 1 k

4.4

COMMON COLLECTOR

Faktor Penguatan

Dibuat rangkaian dengan konfigurasi Common


Colector seperti pada langkah percobaan. Lalu
diamati sinyal input dan output pada rangkaian,
sebagai berikut :

Gambar 11 Sinyal Mode XY pada penguatan Common


Collector

Penguat CC (hasil perhitungan)


AV
Rin
Rout

+ ( + 1)

(Rs // Rb)
+1

1
212.25 M
0.869

Dengan menghitung kemiringan garis hasil mode


xy untuk sinyal input output, diperoleh factor
penguatan untuk Common Collector sebesar 1
kalinya (Av = 1).
Lalu dinaikan amplitude generator sinyal hingga
teramati teganan vo tersidtorsi. Sinyak output (Vo)
mulai terdistorsi yaitu ketika amplitude Vi
dinaikkan menjadi 55 Vpp.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

1
0

Resistansi Input

Pada pengukuran Ri untuk Common Colector,


nilai Rvar diperoleh sebesar 50 k. Sehinnga Ri =
Rvar + Rs = 50.05 k.

Resistansi Output

Pada pengukuran Ro untuk Common Collector,


nilai Rvar diperoleh 11 . Karena Ro = Rvar, maka
Ro = 11 .
Pada konfigurasi Common Collector dapat diamati
sinyal input output yang terbentuk. Sinyal input
dan outputnya tidak bersifat inverting, yaitu
karena ketika sinyal input naik (raising),
outputnya juga menjadi naik dan ketika sinyal
input nya turun (falling), sinyal outputnya juga
turun. Untuk faktor penguatan diperoleh
penguatan tegangan yang cukup kecil yaitu sekitar
1 kalinya. Hal ini seusai dengan nilai pernguatan
hasil perhitungan yaitu 1. Kemudian pada
Resistansi input, diperoleh nilai yang cukup besar
yaitu sekitar 50.05 k. Nilai yang diperoleh dari
hasil pengukuran ini lebih kecil dar nilai resistansi
input yang didapatkan dari hasil perhitungan.
Perbedaan nilai ini kemungkinan disebabkan
perubahan temperatur transistor dan suhu
ruangan. Namun nilai ini masih cukup untuk
membuktikan bahwa Common collector memiliki
high input impedance (resistansi input yang besar).
Sedangkan untuk resistansi input diperoleh niai
yang kecil (yaitu 11 ). Nilai resistansi ini juga
kurang sesuai dengan hasil perhitungan. Namun
nilai ini masih dapat membuktikan bahwa
resistansi output common collector cukup kecil.

5.

Penguatan dengan konfigurasi Common


Collector memiliki karakteristik sinyal
input output tidak bersifat inverting,
memiliki penguatan tegangan yang kecil
(low voltage gain), memiliki resistansi
input yang tinggi (high input impedance)
dan memiliki resistansi output yang kecil
(low output impedance).

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Mervin T Hutabarat, Praktikum Rangkaian
Elektrik, Laboratorium Dasar Teknik Elektro
ITB,Bandung, 2014.
[2]. Adel S. Sedra and Kennet C. Smith,
Microelectronic Circuits, Oxford University Press,
USA, 2004.
[3]. Data percobaan konfigurasi Common Base dan
Common Collectro diperoleh dari praktikan
Adinda Rana Trisanti (13213071) yang
melakukan praktkum shift senin, 2 Maret 2015.
[4]. http://winna10.blogspot.com, 4 Maret 2015,
7:54
[5]. http://abisabrina.wordpress.com, 4 Maret 2015,
7:54

KESIMPULAN

Dari percobaan didapatkan kesimpulan :

Penguatan dengan konfigurasi Common


Emitter memiliki karakteristik sinyal input
outputnya bersifat inverting (berbeda fasa
1800), memiliki penguatan tegangan yang
besar dan bernilai negatif, high input
impedance (Resistansi input besar) dan
moderate output impedance. Lalu pada
common
emitter,
dengan
adanya
penambahan Re maka akan memperbesar
daerah kerja transistor.

Penguatan dengan konfigurasi Common


Base memiliki karakteristik sinyal input
output tidak besifat inverting, memiliki
penguatan tegangan yang cukup besar
(high voltage gain), memiliki resistansi
input yang kecil (low voltage impedance)
dan memiliki resistansi output yang besar
(high voltage impedance).
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

11