Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN ANALISIS KIMA

ANALISIS ANION

Disusun Oleh:
Wulan Ambar Pratiwi (12315244017)
Pend. IPA (I)/2012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

PERCOBAAN IV : ANALISIS ANION

A. TUJUAN

Mahasiswa dapat mengidentifikasi anion klorida (Cl -) , bromide (Br-) , iodide


(I-) , sianida (CN-) , oksalat (C2O42-)

B. DASAR TEORI

Dalam kimia analisis kuantitatif dikenal suatu cara untuk menentukan ion
(kation/anion) tertentu dengan menggunakan pereaksi selektif dan spesifik.
Pereaksi selektif adalah pereaksi yang memberikan reaksi tertentu untuk satu
jenis kation/anion tertentu. Dengan menggunakan pereaksi-pereaksi ini maka
akan terlihat adanya perubahan-perubahan kimia yang terjadi, misalnya
terbentuk endapan, terjadinya perubahan warna, bau dan timbulnya gas (G.
Svehla : 1985).
Reaksi identifikasi yang lebih sederhana dikenal sebagai reaksi spesifik
untuk golongan tertentu. Reaksi golongan untuk anion golongan III adalah
AgNO3 yang hasilnya adalah endapan coklat merah bata (Ismail Besari :
1982). Pada anion, istilah yang perlu dipakai adalah gugus lain yang terikat
pada ion logam, yang dikelompokkan sebagai berikut :
1. Anion sederhana seperti O2, F2, CN2. Anion okso diskret seperti NO3- dan SO423. Anion polimer okso seperti silikat atau fosfat kondensi
Anion kompleks halida seperti anion kompleks berbasa banyak seperti
oksalat misalnya (CO(C2O4)3)3- dan anion oksa dari oksigen (Ismail Besari :
1982).
Klorat, Bromat dan iodat merupakan ion yang bipiramidal yang terutama
dijumpai pada garam lokal alkali. Anion okso logam transisi jarang digunakan,
yang paling dikenal adalah kalium permanganat (KMnO 4) dan kromat (CrO4)
atau dikenal sebagai pengoksida (Ismail Besari : 1982).
Kimia analisis dapat dibagi dalam 2 bidang, yaitu analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas tentang identifikasi zat-zat.
Urusannya adalah unsur atau senyawa apa yang terdapat dalam suatu
sampel. Sedangkan analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan
banyaknya satu zat tertentu yang ada dalam sampel (A.L. Underwood : 1993).
Anion berinti banyak dijumpai pada anion okso yang berinti 2, 3 atau 4
atom oksigen yang terikat pada atom inti dan menghasilkan atom deskret.
Namun demikian, mungkin hanya terdiri dari 2 atom oksigen dan
menghasilkan ion dengan jembatan oksigen seperti ion bikarbonat yang
terbentuk dari CrO4 yang diasamkan (Ismail Besari : 1982).
Metode untuk mendeteksi anion tidaklah sistematik seperti pada metode
untuk mendeteksi kation. Sampai saat ini belum pernah dikemukakan suatu
skema yang benar-benar memuaskan, yang memungkinkan pemisahan anionanion yang umum ke dalam golongan utama, dan dari masing-masing
golongan menjadi anggota golongan tersebut yang berdiri sendiri. Pemisahan
anion-anion ke dalam golongan utama tergantung pada kelarutan garam
pelarutnya. Garam kalsium, garam barium, dan garam zink ini hanya boleh
dianggap berguna untuk memberi indikasi dari keterbatasan-keterbatasan

metode ini. Skema identifikasi anion bukanlah skema yang kaku, karena satu
anion termasuk dalam lebih dari satu sub golongan (G. Svehla : 1985).
Untuk memudahkan menganalisa anion, diusahakan dulu dalam bentuk
senyawa yang mudah larut dalam air. Umumnya garam-garam natrium mudah
larut dalam garam karbonat dari logam-logam berat sukar larut dalam air,
sehingga apabila zat yang akan dianalisa berupa zat yang sukar larut atau
memberi endapan dengan Na2CO3, maka dibuat dahulu berupa ekstrak soda,
kemudian dipisahkan dari endapan yang mengganggu tersebut (Anonim :
2011).
Analisa kualitatif menggunakan dua macam uji, reaksi kering dan reaksi
basah. Reaksi kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah
untuk zat dalam larutan. Reaksi kering ialah sejumlah uji yang berguna dapat
dilakukan dalam keadaan kering, yakni tanpa melarutkan contoh. Petunjuk
untuk operasi semacam ialah pemanasan, uji pipa tiup, uji nyala, uji
spektroskopi dan uji manik. Reaksi basah ialah uji yang dibuat dengan zat-zat
dalam larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung dengan terbentuknya
endapan, dengan pembebasan gas dan dengan perubahan warna. Mayoritas
reaksi analisis kualitatif dilakukan dengan cara basah (G. Svehla : 1985).
Anion merupakan ion yang muatan totalnya negatif akibat adanya
kenaikan jumlah elektron. Misalnya : atom klorin (Cl) dapat memperoleh
tambahan satu elektron untuk mendapat ion klorida (Cl -). Natrium klorida
(NaCl), yang dikenal sebagai garam dapur, disebut senyawa ionik (ionik
compound) karena dibentuk dari kation dan anion. Atom dapat kehilangan
atau memperoleh lebih dari satu elektron. Contoh ion-ion yang terbentuk
dengan kehilangan atau memperoleh lebih dari satu elektron adalah Mg 2+,
Fe3+, S22-, dan N3-, Na+ dan Cl- Ion-ion ini disebut ion monoatomik karena ionion ini mengandung hanya satu atom.
Pengujian anion dilakukan setelah uji kation. Pengujian terhadap anion
relatif lebih sederhana karena gangguan-gangguan dari ion-ion lain yang ada
dalam larutan minimal (dapat diabaikan). Pada umumnya anion-anion dapat
digolongkan sebagai berikut :
1. Golongan sulfat:
SO42-, SO32-, PO43-, Cr2O42-, BO33-, Cr2O42-, AsO43-, AsO33-. Anion-anion ini
mengendap dengan Ba2+ dalam suasana basa.
2. Golongan halida :
Cl-, Br-, I, S2Anion golongan ini mengendap dengan Ag+ dalam larutan asam (HNO3).
3. Golongan nitrat :
NO3-, NO2-,C2H3O2-.
Semua garam dari golongan ini larut. NO 3-, NO2-, CH3OO- .
Analisis anion tidak jauh berbeda dengan analisis kation, hanya saja pada
analisis anion tidak memiliki metode yang sistematis seperti analisis kation.
Uji analisis anion juga berdasarkan pada sifat fisika seperti warna, bau,
terbentuknya gas, dan kelarutannya.

C. ALAT DAN BAHAN

D. PROSEDUR

ALAT
Tabung Reaksi
Pembakar Spirtus
Penjepit Tabung
Rak tabung Reaksi
Pipet Tetes

BAHAN
ClICNCNSC2O42-

1. Reaksi identifikasi anion klorida (Cl-)


a) Menuangkan 1 tetes larutan AgNO3 ke dalam 1 tetes larutan garam
klorida, maka akan terjadi endapan putih. Tes endapan ini dengan 1
tetes asam nitrat encer dan 1 tetes ammonia
b) Menuangkan 1 tetes larutan Pb-asetat ke dalam 1 tetes larutan garam
klorida maka akan terbentuk endapan putih
2. Reaksi identifikasi anion iodida (I-)
a) Menuangkan 1 tetes larutan AgNO3 ke dalam 1 tetes larutan garam
iodide, maka akan terjadi endapan kuning. Tes endapan dengan 1 tetes
ammonia dan tes dengan 1 tetes KCN
b) Menuangkan sedikit (1 tetes) larutan Pb-asetat ke dalam 1 tetes larutan
garam iodide maka akan terbentuk endapan kuning. Memanaskan
endapan dan mengamati perubahan yang terjadi
c) Menambahkan 1 tetes larutan CuSO 4 ke dalam 1 tetes larutan garam
iodide maka akan terjadi endapan berwarna coklat.
3. Reaksi identifikasi anion sianida (CN-)
a) Menuangkan 1 tetes larutan AgNO 3 ke dalam 1 tetes KCN maka akan
terjadi endapan putih. Tes endapan ini dengan larutan KCN berlebih.
b) Menuangkan sedikit (1 tetes) larutan merkuri nitrat ke dalam larutan
KCN maka akan terbentuk endapan abu-abu.
4. Reaksi identifikasi anion tiosianat (CNS-)
a) Menuangkan 1 tetes larutan AgNO3 ke dalam 1 tetes KCNS maka akan
terjadi endapan putih. Tes endapan ini dengan larutan KCN berlebih dan
dengan ammonia.
b) Menambahkan 1 tetes larutan CuSO4 ke dalam 1 tetes larutan KCNS
maka terjadi larutan yang berwarna hijau atau terbentuk endapan
hitam.
c) Menuangkan 1 tetes larutan FeCl 3 ke dalam 1 tetes larutan KCNS maka
akan terbentuk larutan berwarna merah darah.
5. Reaksi identifikasi anion oksalat (C2O42-)
a) Menuangkan 1 tetes larutan AgNO3 ke dalam 1 tetes larutan garam
oksalat, maka akan terjadi endapan putih. Tes endapan dengan
menggunakan air.
b) Menuangkan sedikit (1 tetes) larutan kalsium klorida ke dalam 1 tetes
larutan garam oksalat maka akan terbentuk endapan putih.
c) Menambahkan 1 tetes larutan kalium permanganat dan 1 tetes asam
sulfat ke dalam larutan garam oksalat maka terjadi penghilangan warna
larutan.

E. HASIL
No
.
1.

Perlakuan
a. KCN + AgNO3
KCN + AgNO3 +
5 tetes KCN

2.

Reaksi

AgCN (s) + CN- (aq)


[Ag(CN)3]2+
2

b. 1 tetes KCN +
HgNO3

2CN (aq) + Hg
(s) + Hg (CN)2

Hg

a. CaCl2 + AgNO3

Ag+ (aq) + Cl- (aq) AgCl


(s)

3.

Endapan putih
+ 2 tetes Asam
nitrat
Endapan putih
+ amonia
a. KCNS + AgNO3

Endapan putih
+ 2 tetes KCN
Endapan putih
+ ammonia
b. KCNS +
CuSO4

c.
4.

KCNS + FeCl3

a. Garam Oksalat
+ AgNo3

6Ag + 8 HNO3 6Ag+


+ 2 NO + 6 NO3- + 4
H2O
AgCl (s) + 2 NH3(aq)
[Ag(NH3)2]+ + ClSCN- (aq) + Ag+ (aq)
AgSCN (s)
AgSCN (s) + SCN- (aq)
[Ag(SCN)3]AgSCN (s) + 2 NH3
[Ag(NH3)2]+ + SCN+
2 SCN- (aq) + Cu2+ (aq)
Cu (SCN)2 (s)

3SCN- (aq) + Fe3+ (aq) =


Fe(SCN)3
(COO)2-2 + 2 Ag+
(COOAg)2

Tidak
terdapat
endapan
berwarna
abu-abu
Edapan
putih
Larut

Tidak
Larut
Endapan
Putih
Larut
Larut
Warna
hijau/terb
entuk
endapan
hitam
Warna
merah
darah
Endapan
Putih
Larut

Endapan Putih
+ Air
b. Garam Oksalat
+ Kalsium Klorida

Pengamat
an
Endapan
Putih
Larut

(COO)2-2 + Ca2+
(COO)2Ca

Endapan
Putih

5.

c. Garam Okslat
+ Kalium
Permanganat +
asam sulfat
a. Garam iodide
+ AgNO3
Endapan
Kuning +
ammonia
Endapan
Kuning + KCN
b. Garam iodide +
Pb-asetat
Endapan Kuing
dipansakan
c. Garam iodide +
CuSO4

5(COO)2-2 + 2 MnO-4 +
16 H 10 CO2 + 2
Mn2+ + 8 H2O
I- (aq) + Ag+ (aq) AgI

(s)

AgI (s) + 2 NH3 (aq)


[Ag(NH3)2]+ + IAgI (s) + 2 CN (aq)
[Ag(CN)2] - + I2I- (aq) + Pb2+(aq) PbI2 (s)
2 IO- + Hg2+ Hg(IO3)2
4I-(aq) + 2 Cu2+ (aq)
2CuI (s) + I2

Tidak
terjadi
penghilan
gan warna
Endapan
Kuning
Tidak larut

Tidak
Larut
Endapan
Kuning
Larut
Endapan
Kuning
Kecoklata
n

F. ANALISIS
1. Untuk anion klorida (Cl-)
a. Terbentuk endapan putih AgCl (Perak klorida) dalam larutan
AgNO3
Ag+ (aq) + I- (aq)
AgCl (s)
Endapan putih larut dalam asam nitrat (HNO 3)
Endapan putih tidak larut dalam larutan amonia
AgCl (s) +2NH3 (aq)
[ Ag(NH3)2]+ + Clb. Reaksi antara Pb asetat dengan CaCl 2 (larutan garam klorida)
terbentuk endapan putih PbCl2
2Cl- + Pb2+
PbCl (s)
2. Untuk Anion Iodida (I-)
a. Reaksi antara AgNO3 dengan garam Iodida menghasilkan
endapan berwarna kuning
I-(aq) + Ag+ (aq)
AgI (s)
Endapan kuning tidak larut saat ditambahkan amonia

AgI

(s)

+ 2 NH3 (aq) [Ag(NH3)2]+ + I-

Endapan kuning tidak larut saat ditambahkan KCN

AgI

(s)

+ 2 CN

(aq)

[Ag(CN)2] - + I-

b. Garam Iodida ditambahkan Pb-asetat terjadi endapan kuning dan


terjadi reaksi yaitu 2I- (aq) + Pb2+(aq) PbI2 (s)
c. Garam iodide + CuSO4 terjadi endapan kuning kecoklatan

dan terjadi reaksi yaitu 4I-(aq) + 2 Cu2+ (aq) 2CuI

(s)

+ I2

3. Untuk anion sianida (CN)-

a. Reaksi anion sianida dengan AgNO 3 terjadi endapan putih


yang terjadi persamaan reaksi yaitu CN- + Ag+
AgCN
b. Endapan putih ditetesi KCN maka endapan putih tersebut
larut. Persamaan reaksi yaitu AgCN (s) + CN- (aq) [Ag(CN)3]c. Endapan putih ditetesi dengan merkuri maka tidak terdapat
endapan abu-abu. Maka terjadi persamaan reaksi yaitu 2CN
2+
Hg (s) + Hg (CN)2
(aq) + Hg2
4. Untuk anion tiosianat (KCNS)
a. Reaksi anion tiosianat dengan AgNO3 terjadi endapan putih
dengan persamaan reaksi yaitu SCN- (aq) + Ag+ (aq) AgSCN (s)
b. Endapan putih ditetesi KCNS maka endapan larut dan terjadi
persamaan reaksi yaitu AgSCN (s) + SCN- (aq) [Ag(SCN)3]c. Endapan putih ditetesi amonia maka endapan larut dan terjadi
persamaan reaksi yaitu AgSCN (s) + 2 NH3 [Ag(NH3)2]+ +

SCN+

d. KCNS direaksikan dengan CUSO 4 maka akan terjadi larutan


berwarna hijau dan endapan hitam. Reaksi yang terjadi yaitu 2

SCN- (aq) + Cu2+ (aq) Cu (SCN)2 (s)

e. KCNS direaksikan dengan FeCl 3 maka akan terbentuk warna


merah darah. Reaksi yang terjadi yaitu 3SCN- (aq) + Fe3+ (aq) =

Fe(SCN)3
5. Untuk anion oksalat
a. Garam Oksalat direaksikan dengan AgNo3 maka akan terjadi
endapan putih dengan persamaan reaksi (COO)2-2 + 2 Ag+
(COOAg)2
b. Endapan putih ditetesi air, endapan tersebut akan larut
c. Garam Oksalat direaksikan dengan Kalsium Klorida maka
akan terbentuk endapan putih dan terjadi persamaan reaksi
yaitu (COO)2-2 + Ca2+ (COO)2Ca
d. Garam Okslat direaksikan dengan Kalium Permanganat dan
asam sulfat maka tidak terjadi penghilangan warna dan
terjadi persamaan reaksi yaitu
5(COO)2-2 + 2 MnO-4 + 16 H 10 CO2 + 2 Mn2+ + 8 H2O
G. PEMBAHASAN
Pada praktikum yang dilakukan hari Rabu, tanggal 28 oktober di
laboratorium analisis senyawa kimia Universitas Negeri Yogyakarta dengan
kegiatan Analisis Anion yang memiliki tujuan yaitu mengidentifikasi anion
klorida (Cl-) , bromide (Br-) , iodide (I-) , sianida (CN-) , oksalat (C2O42-).
Dalam praktikum Analisis Anion ini ada 5 kegiatan.
Kegiatan yang pertama yaitu mengidentifikasi anion klorida (Cl-).
Menuangkan 1 tetes larutan AgNO 3 ke dalam 1 tetes larutan garam klorida,
kemudian terjadi endapan putih. Dengan persamaan reaksi Ag+ (aq) + I- (aq)

AgCl (s). Larutan yang awalnya bening direaksikan dengan larutan CaCl2 yang
awalnya bening, setelah direaksikan terjadi endapan putih. Terdapat
kesesuaian hasil antara pengamatan hasil dan persamaan reaksi. Didapatkan
hasil berupa padatan AgCl yang dalam hasil pengamatan ditunjukkan endapan
putih. Selanjutnya, melakukan tes endapan ini dengan 1 tetes asam nitrat
encer dan 1 tetes ammonia. Pada endapan yang tes dengan asam nitrat encer
makan endapannya larut atau mengalami perubahan. Larutan perak nitrat,
endapan perak klorida, AgCl ia tak larut dalam air dan asam nitrat encer
(Vogel, 1985:346). Berdasarkan hasil pengamatan menujukkan kesesuaian
hasil dengan teori yang sudah ada sebelumnya.
Kemudian pada endapan yang di tes dengan amonia endapannya tidak
larut. Larutan perak nitrat, endapan perak klorida, AgCl ia tak larut dalam air
dan asam nitrat encer, tetapi larut dalam amonia encer dan dalam larutan
larutan kalium sianida (vogel, 1985 : 346). Pada percobaan yang telah
dilakukan tidak menunjukkan kesesuaian hasil dengan hasil pengamatan.
Seharusnya reaksi antara endapan AgCl dengan larutan NH 3 melarutkan
endapan dan membentuk ion yang kompleks. Ketidaksesuaian ini
memungkinkan larutan saat direaksikan tidak dilakukan pengocokan terlebih
dahulu.
Selanjutnya menuangkan 1 tetes larutan Pb-asetat ke dalam 1 tetes
larutan garam klorida terbentuk endapan putih. Terjadi persamaan reaksi yaitu
2Cl- + Pb2+
PbCl (s). Berdasarkan teori yang telah ada
sebelumnya dan berdasarkan persamaan reaksi yang terjadi maka percobaan
ini sesuai dengan teori yang ada.
Kemudian pada kegiatan kedua yaitu mengidentifikasi anion iodida (I-).
Langkah yang dilakukan yaitu menuangkan 1 tetes larutan AgNO 3 ke dalam 1
tetes larutan garam iodide, maka terjadi endapan kuning. Reaksi yang terjadi
yaitu I-(aq) + Ag+ (aq)
AgI (s). Berdasarkan hasil persamaan reaksi antara
garam iodida dengan larutan AgNO3 menghasilkan endapan kuning yang
berarti AgI. Selanjutnya tes endapan dengan 1 tetes ammonia dan tes dengan
1 tetes KCN. Pada saat endapan ditetesi dengan amonia maka terjadi
persamaan reaksi yaitu
AgI (s) + 2NH3 (aq)
[Ag (NH3)2]+ + I-. Pada hasil yang diperoleh
yaitu endapan yang terjadi tidak larut. Seharusnya berdasarkan teori yang
ada larut. Larutan perak nitrat, endapan perak klorida, AgCl ia tak larut dalam
air dan asam nitrat encer, tetapi larut dalam amonia encer dan dalam larutan
larutan kalium sianida (vogel, 1985 : 346). Hal ini disebabkan tabung reaksi
yang digunakan sudah tercampur dengan larutan lain dan mencuci tidak
bersih.
Begitu juga endapan kuning tersebut ditetesi dengan larutan KCN tidak
larut. Berdasarkan hasil persamaan reaksi seharusnya endapan kuning yang
ditetesi dengan larutan KCN larut.
AgI (i) + 2CN- (aq)
[Ag (CN)2]- + IHal ini disebabkan dalam pencucian tabung reaksi tidak bersih atau
masih ada larutan yang sebelumnya digunakan.
Selanjutnya menuangkan sedikit (1 tetes) larutan Pb-asetat ke dalam 1
tetes larutan garam iodide maka akan terbentuk endapan kuning. Selanjutnya

memanaskan endapan dan mengamati perubahan yang terjadi yaitu endapan


kuning tersebut menjadi larut. Endapan yang terbentuk dalam hasil
pengamatan yang telah dilakukan merupakan PbI 2 yang dihasilkan melalui
reaksi antara larutan garam iodida dengan larutan Pb-asetat terjadi
persamaan reaksi berikut ini:
2I- (aq) + Pb 2+ (aq)
PbI2 (s)
Berdasarkan dengan teori yang telah ada, menunjukkan kesesuaian hasil
dengan pengamatan yang telah dilakukan bahwa endapan Agl larut pada saat
dipanaskan. Kemudian menambahkan 1 tetes larutan CuSO 4 ke dalam 1 tetes
larutan garam iodide terjadi endapan berwarna kuning kecoklatan. Reaksi
yang terjadi yaitu 4I- (aq) + Cu2+
2CuI (s) + I2. Larutan tembaga sulfat:
endapan coklat yang terdiri dari campuran tembaga I, CuI -. Berdasarkan tes
yang telah dilakukan bahwa reaksi antara larutan CuSO4 dan larutan garam
iodida menghasilkan endapan CuI. Hal ini sesuai dengan percobaan yang telah
dilakukan.
Kemudian pada kegiatan yang ketiga yaitu mengidentifikasi anion
sianida (CN-). Langkah yang dilakukan yaitu menuangkan 1 tetes larutan
AgNO3 ke dalam 1 tetes KCN terjadi endapan putih. Hal tersebut terjadi
persamaan reaksi yaitu CN- (aq) + Ag+
AgCN (s). Berdasarkan hasil
persamaan reaksi tersebut bahwa larutan AgNO 3 dengan KCN menghasilkan
AgCN. Hal ini sesuai dengan teori yang ada sebelumnya.
Tes endapan ini dengan larutan KCN berlebih maka yang terjadi endapan
tersebut larut. Hal ini terjadi persamaan reaksi yaitu AgCN (s) + CN- (aq)
[
Ag (CN)3] . Berdasarkan teori yang ada sebelumnya, bahwa percobaan ini
menujukkan kesesuaian hasil. Setelah endapan dilarutkan dengan KCN
berlebih maka endapan menjadi larut.
Kemudian menuangkan sedikit (1 tetes) larutan merkuri nitrat ke dalam
larutan KCN tidak terbentuk endapan abu-abu. Terjadi persamaan reaksi yaitu
2N (aq) + Hg 2+
Hg (s) + Hg (CN)2
Dalam teori menyatakan bahwa larutan merkuri dengan KCN
menghasilkan endapan abu-abu. Hal ini tidak menunjukkan kesesuaian hasil
dengan hasil pengamatan yang diperoleh disebabkan karena waktu
pengamatan kurang lama.
Kemudian pada kegiatan yang keempat yaitu mengidentifikasi anion
tiosianat (CNS-). Langkah yang dilakukan yaitu menuangkan 1 tetes larutan
AgNO3 ke dalam 1 tetes KCNS dan terjadi endapan putih.
Terjadi persamaan reaksi yaitu SCN- (aq) + Ag+ (aq) AgSCN (s). Terdapat

kesesuaian hasil antara hasil pengamatan dan persamaan reaksi yang


menghasilkan endapan putih. Selanjutnya endapan putih ini dites dengan

larutan KCN berlebih dan dengan ammonia.


Pada saat dites dengan larutan KCN berlebih maka akan larut. Terjadi
persamaan reaksi berikut ini AgSCN (s) + SCN- (aq) [Ag(SCN)3]-. Terdapat

kesesuaian hasil antara persamaan reaksi dan pengamatan yang


diperoleh. Berdasarkan persamaan reaksi, reaksi antara larutan KCN
berlebih dengan endapan putih AgSCN menjadi ion kompleks

[Ag(SCN)3]- yang dalam pengamatan ditunjukkan dengan adanya


endapan.

Selanjutnya saat endapan


tersebut dites dengan amonia maka
endapan putih tersebut juga larut. Terjadi persamaan reaksi yaitu AgSCN (s) +

2 NH3 [Ag(NH3)2]+ + SCN+. Berdasarkan teori yang telah ada dan


berdasarkan dengan amonia menghasilkan ion kompleks [Ag(NH3)2]+
yang berarti endapan tersebut larut dengan penambahan amonia.
Selanjutnya menambahkan 1 tetes larutan CuSO 4 ke dalam 1 tetes
larutan KCNS maka terjadi larutan yang berwarna hijau atau terbentuk
endapan hitam. Terjadi persamaan reaksi berikut ini 2 SCN- (aq) + Cu2+ (aq)

Cu (SCN)2 (s). Larutan tembaga sulfat yang direaksikan dengan larutan


KCNS yang mula-mula berwarna hijau lalu endapan hitam tembaga II
tioksalat. Berdasarkan teori yang ada dan hasil pengamatan terjadi
kesesuaian hasil yaitu terjadi larutan yang berwarna hijau atau
terbentuk endapan hitam.

Kemudian menuangkan 1 tetes larutan FeCl 3 ke dalam 1 tetes larutan


KCNS maka terbentuk larutan berwarna merah darah. Terjadi persamaan
reaksi yaitu 3SCN- (aq) + Fe3+ (aq) = Fe(SCN)3. Larutan besi (III) klorida

dengan larutan KCNS membentuk pewarnaan merah darah yang


ditimbulkan suatu kompleks Fe(SCN)3. Hal ini terjadi kesesuaian antara
teori dan hasil pengamatan.
Kemudian kegiatan yang kelima yaitu mengidentifikasi anion
oksalat.(C2O42-) . Garam Oksalat + AgNo3 Reaksinya (COO)2-2 + 2 Ag+
(COOAg)2
hasil pengamatan setelah kedua larutan direaksikan maka
akan terdapat endapan putih. Berdasarkan teori larutan perak nitrat :
endapan oksalat putih dan seperti dadih susu, yang sangat sedikit larut
dalam air, larut dalam ammonia dan dalam asam nitrat encer.
Endapan Putih + Air Reaksinya
Garam Oksalat + Kalsium Klorida Reaksinya (COO)2-2 + Ca2+
(COO)2Ca
hasil pengamatannya setelah kedua larutan direaksikan
terdapat endapan berwarna putih. Berdasarkan teori kalsium klorida
tidak larut dalam asam asetat encer, asam oksalat dan dalam larutan
ammonium oksalat, tetapi larut dalam asam klorida encer dan dalam
asam nitrat ecer. Garam Okslat + Kalium Permanganat + asam sulfat
Reaksinya 5(COO)2-2 + 2 MnO-4 + 16 H 10 CO2 + 2 Mn2+ + 8 H2O

H. KESIMPULAN

Semua sampel yang diujikan, ada beberapa sampel yang mengalami


perubahan. Jadi hal ini terbukti bahwa sampel-sampel tersebut positif
mengandung anion-anion yang diujikan. Perubahan warna dan endapan
terjadi karena ada reaksi kimia yang terjadi. Adapun sampel yang tidak
mengalami
perubahan
walupun
terdapat
jenis-jenis
anion
yang
digunakan,mungkin disebabkan oleh beberapa faktor,salah satunya dari
kondisi alat dan bahan (sampel maupun reagent/pereaksi) yang digunakan.
1. Untuk anion klorida (Cl-)
c. Terbentuk endapan putih AgCl (Perak klorida) dalam larutan
AgNO3
Ag+ (aq) + I- (aq)
AgCl (s)
Endapan putih larut dalam asam nitrat (HNO 3)
Endapan putih tidak larut dalam larutan amonia
AgCl (s) +2NH3 (aq)
[ Ag(NH3)2]+ + Cld. Reaksi antara Pb asetat dengan CaCl 2 (larutan garam klorida)
terbentuk endapan putih PbCl2
2Cl- + Pb2+
PbCl (s)
2. Untuk Anion Iodida (I-)
d. Reaksi antara AgNO3 dengan garam Iodida menghasilkan
endapan berwarna kuning
I-(aq) + Ag+ (aq)
AgI (s)
Endapan kuning tidak larut saat ditambahkan amonia

AgI

(s)

+ 2 NH3 (aq) [Ag(NH3)2]+ + I-

Endapan kuning tidak larut saat ditambahkan KCN

AgI

(s)

+ 2 CN

(aq)

[Ag(CN)2] - + I-

e. Garam Iodida ditambahkan Pb-asetat terjadi endapan kuning dan


terjadi reaksi yaitu 2I- (aq) + Pb2+(aq) PbI2 (s)
f. Garam iodide + CuSO4 terjadi endapan kuning kecoklatan

dan terjadi reaksi yaitu 4I-(aq) + 2 Cu2+ (aq) 2CuI

(s)

+ I2

3. Untuk anion sianida (CN)-

d. Reaksi anion sianida dengan AgNO 3 terjadi endapan putih


yang terjadi persamaan reaksi yaitu CN- + Ag+
AgCN
e. Endapan putih ditetesi KCN maka endapan putih tersebut
larut. Persamaan reaksi yaitu AgCN (s) + CN- (aq) [Ag(CN)3]f. Endapan putih ditetesi dengan merkuri maka tidak terdapat
endapan abu-abu. Maka terjadi persamaan reaksi yaitu 2CN
2+
Hg (s) + Hg (CN)2
(aq) + Hg2
4. Untuk anion tiosianat (KCNS)
f. Reaksi anion tiosianat dengan AgNO3 terjadi endapan putih
dengan persamaan reaksi yaitu SCN- (aq) + Ag+ (aq) AgSCN (s)
g. Endapan putih ditetesi KCNS maka endapan larut dan terjadi
persamaan reaksi yaitu AgSCN (s) + SCN- (aq) [Ag(SCN)3]h. Endapan putih ditetesi amonia maka endapan larut dan terjadi
persamaan reaksi yaitu AgSCN (s) + 2 NH3 [Ag(NH3)2]+ +

SCN+

i.

KCNS direaksikan dengan CUSO 4 maka akan terjadi larutan


berwarna hijau dan endapan hitam. Reaksi yang terjadi yaitu 2

SCN- (aq) + Cu2+ (aq) Cu (SCN)2 (s)


j.

KCNS direaksikan dengan FeCl 3 maka akan terbentuk warna


merah darah. Reaksi yang terjadi yaitu 3SCN- (aq) + Fe3+ (aq) =

Fe(SCN)3
5. Untuk anion oksalat
e. Garam Oksalat direaksikan dengan AgNo3 maka akan terjadi
endapan putih dengan persamaan reaksi (COO)2-2 + 2 Ag+
(COOAg)2
f. Endapan putih ditetesi air, endapan tersebut akan larut
g. Garam Oksalat direaksikan dengan Kalsium Klorida maka
akan terbentuk endapan putih dan terjadi persamaan reaksi
yaitu (COO)2-2 + Ca2+ (COO)2Ca
h. Garam Okslat direaksikan dengan Kalium Permanganat dan
asam sulfat maka tidak terjadi penghilangan warna dan
terjadi persamaan reaksi yaitu
5(COO)2-2 + 2 MnO-4 + 16 H 10 CO2 + 2 Mn2+ + 8 H2O
I. JAWAB PERTANYAAN

1. Yang terjadi bila larutan garam perak (Ag+) ditambahkan dalam :


a. Anion Klorida
Terbentuk endapan putih perak klorida (AgCl)
Ag+ (aq) + I- (aq)
AgCl (s)
b. Anion Bromida
Terbentuk endapan seperti didih yang berwarna kuning pucat, endapan
perak bromide
c. Ag+ (aq) + Br- (aq)
AgBr (s)
Anion Iodida
Terbentuk endapan perak iodide seperti diodih yang berwarna kuning
2. Caranya ion karbonat dapat ditetesi dengan air barit yaitu ion karbonat
(CO32-) dapat dideteksi dengan air barit. saat ion karbonat bereaksi dengan
asam klorida encer, akan dihasilkan gas CO 2 yang bersifat mengeruhkan
air kapur atau air barit. Uji barit dilakukan dengan peralatan tertentu. Zat
padat tersebut diletakkan dalam tabung uji atau labu suling kecil dengan
segera (disumbatkan). Gas yang dilepaskan (mungkin perlu pemanasan)
dialirkan ke dalam air kapur atau air barit yang ada dalam tabung uji.
Kekeruhan yang dihasilkan menunjukkan adanya karbonat. Pengaliran
karbondioksida yang terlalu lama mengakibatkan kekeruhan itu perlahan
hilang akibat terbentuknya suatu hydrogen yang larut.
Reaksi yang terjadi:
CO32-(aq) + 2 H+ (aq)
CO2 (g) + H2O (l)
CO2 (g) + Ca2+ (aq) + 2 OH-(aq)
CaCo3 (s) H2O (l)
CO2 (g) + Ba+ (aq) + 2 OH-(aq)
BaCO3 (s) + H2O (l)

Uji barit dilakukan dengan peralatan tertentu. Zat padat tersebut


diletakkan dalam tabung uji atau labu suling kecil dengan segera
(disumbatkan). Gas yang dilepaskan (mungkin perlu pemanasan) dialirkan
ke dalam air kapur atau air barit yang ada dalam tabung uji. Kekeruhan
yang dihasilkan menunjukkan adanya karbonat. Pengaliran karbondioksida
yang terlalu lama mengakibatkan kekeruhan itu perlahan hilang akibat
terbentuknya suatu hydrogen yang larut.
CaCO3 (s) + CO2 (g) + H2O (l)
Ca2+ (aq) + 2 HCO3 (aq)
3. Reaksi kation besi (II) dapat membentuk kompleks dengan anion sianida
(CN-) dan tiosianat (CNS-)
a. CN- dengan Fe2+
6 CN- (aq) + Fe2+ (aq)
[Fe (CN)6]2 (s)
b. CNS- dengan Fe3+ (larutan besi (III) klorida
3 SCN- (aq) + Fe2+ (aq)
Fe (SCN)3
Fe (SCN)3 + 6 F- (aq)
[FeF6]3- + 3 SCN2+
4 Fe (SCN)3 + 3 Hg
3 [Hg (SCN)2]2- + 4 Fe2+
2Fe (SCN)3 + 3 (COO)2
[Fe{(COO)2}3]2- + 3 SCN-

J. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2010). Penuntun Praktikum Kimia Analisis. Universitas Muslim.Indonesia. Makassar.
Besari, Ismail, dkk., (1982). Kimia Organik untuk Universitas, Edisi I.Armico Bandung, Bandung.
Svehla, G. (1985). VOGEL : Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro,
Bagian 1 dan 2, Edisi V, PT. Kalma Media Pustaka,