Anda di halaman 1dari 4
RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO JL. Diponegoro No. 50 Ponorogo Telp. (0352) 481273 Fax (0352) 486111 E-mail : rsum_Ponorogo@yahoo.com KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO NOMOR : /SK.DIR/RSUMP/…/2015 TENTANG KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH PADAT INFEKSIUS DAN LIMBAH PADAT NON INFEKSIUS RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO Menimbang : a. bahwa dalam upaya pengelolaan limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius yang tidak tepat seringkali beresiko menimbulkan penularan penyakit akibat kerja, infeksi bahkan pencemaran lingkungan; b. bahwa agar resiko yang ditimbulkan dari pengelolaan yang tidak tepat maka perlu dibuat kebijakan pengelolaan limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius di Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Ponorogo; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan b ,perlu d. ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Ponorogo. Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit 2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270/ 2007 tentang Pedoman Managerial tentang Pencegahan Pengendalian Infeksi di RS 3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 382/2007 tenteng pedoman PPI di RS 4. Keputusan menteri kesehatan no 129/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal RS 5. Keputusan Dirjen BUK Nomor : HK.02.04/12790/11 tentang standar akreditasi Rumah Sakit Direktur Jendral Bina Upaya Kesehatan. 6. SE Dirjen Bina Yanmed tahun 2008 tentang Pembentukan komite PPI dan Tim PPI di RS 7. Surat Kementerian Lingkungan Hidup RI no B-6251 /Dep.IV/LH/PDAL/05/2013 terkait klarifikasi limbah botol infus bekas M E M U T U S K AN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO TENTANG KEBIJAKAN PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DAN NON MEDIS. Kedua : Kebijakan pengelolaan limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius di Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Ponorogo sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya Ditetapkan di : Ponorogo Pada tanggal : 19 Oktober 2015 RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO DIREKTUR Dr. IWAN HARTONO, M.Kes. Lampiran Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Ponorogo Nomor : Tanggal : KEBIJAKAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO Nomor : TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH PADAT INFEKSIUS DAN LIMBAH PADAT NON INFEKSIUS. KEBIJAKAN UMUM 1. Mencegah terjadinya penularan penyakit di lingkungan RS baik kepada pasien, pengunjung dan petugas RS . KEBIJAKAN KHUSUS 1. Dilaksanakan oleh petugas IPL di bantu oleh Clening Servis sebagai tugas pokok, petugas menggunakan APD lengkap. 2. Petugas ruangan / Unit penghasil limbah harus membedakan limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius. Dimana limbah padat infeksius di buang ke kantong warna kuning, dan non infeksius ke kantong warna hitam, untuk jarum dan benda tajam ke safety box 3. Menggunakan sarana dan prasarana yang sesuai standar. 4. limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius yang dihasilkan ruang perawatan dan ruang operasi diangkut setiap hari dengan menggunakan wadah yang bersifat kuat, tidak mudah bocor atau berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup. 5. Dalam penampungan sampah infeksius dilakukan perlakuan standarisasi kantong dimana kantong berwarna kuning untuk limbah padat infeksius dengan lambang biohazard. 6. Sampah infeksius dan cairan tubuh yang sudah terkumpul pada plastik kuning diangkut menuju TPS Limbah B3 di Rumah Sakit oleh petugas setiap hari. 7. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ketempat pembuangan atau penampungan sementara setelah pemusnahan dilakukan oleh pihak ketiga. Dalam pengangkutan ini menggunakan kereta dorong yang diberi label dan dibersihkan secara berkala serta petugas dilengkapi dengan APD. 8. Pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ketempat pembuangan luar. Pengangkutan eksternal memerlukan prosedur pelaksaanaan yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat, dalam hal ini bekerjasama dengan pihak ketiga. 9. Khusus untuk botol infuse masih bisa di daur ulang dengan ketentuan sebagai berikut :  Botol infuse yang didaur ulang tidak terpapar darah atau cairan tubuh pasien  Telah dilakukan dekontaminasi/desinfeksi termal/kimiawi sebelum di pindah/didaur ulang dari rumah sakit  Botol infuse harus dalam keadaan tercacah atau tidak utuh sebelum dibawa keluar dari rumah sakit  Pengelola botol infuse harus jelas dan bisa dipertanggung jawabkan proses daur ulang atau kegunaannya. Ditetapkan di : Ponorogo Pada tanggal : 19 Oktober 2015 RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO DIREKTUR Dr. Iwan Hartono, M.Kes