Anda di halaman 1dari 26

A.

Judul Percobaan
“Pengaruh pH dan Konsentrasi Enzim Terhadap Aktivitas Enzim”

B. Waktu Percobaan
Selasa, 22 Oktober 2013 pukul 13.00 – 15.30 WIB

C. Tujuan Percobaan
Membuktikan bahwa pH dan konsentrasi enzim mempengaruhi aktivitas enzim

D. Dasar Teori
Enzim atau fermen adalah suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator
reaksi-reaksi biokimia pada mahkluk biologi. Zat-zat yang diuraikan oleh reaksi
disebut substrat, dan yang baru terbentuk dari reaksi disebut produk. Spesifisitas
enzim sangat tinggi terhadap substratnya, dan enzim mempercepat reaksi kimia
spesifik tanpa pembentukan produk samping. Hampir semua enzim dalam tubuh
merupakan protein. Enzim sangat penting dan berpengaruh dalam tubuh makhluk
hidup. Karena hampir semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat
berlangsung dengan cepat. Enzim memegang peranan yang sangat penting dalam
reaksi metabolisme dalam tubuh. Reaksi reaksi kimia kompleks dalam tubuh akan
berlangsung sangat sangat lambat jika tanpa enzim. Enzim ini bekerja dalam cairan
larutan encer, suhu, dan pH yang sesuai dengan kondisi fisiologis biologis. Melalui
aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik sehingga menghasilkan
hubungan yang harmonis di antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda,
semuanya mengacu untuk menunjang kehidupan. Enzim merupakan suatu protein,
maka sintesisnya dalam tubuh diatur dan dikendalikan oleh sistem genetik, seperti
halnya dengan sintesis protein pada umumnya.
Pada setiap enzim memiliki pH dan suhu yang berbeda-beda untuk dapat bekerja
secara optimal. Karena apabila suhu dan keasaman tidak sesuai dengan sifat suatu
enzim maka enzim tersebut tidak dapat bekerja secara optimal, tidak aktif, bahkan
mengalami kerusakan yang dalam istilah biologi disebut denaturasi.
Enzim dalam proses metabolisme berperan sebagai biokatalis dalam setiap
reaksi metabolisme yang terjadi pada setiap makhluk hidup. Dalam aktivitas enzim ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti konsentrasi, suhu, maupun pH. Pada kondisi
1

yang sesuai enzim ini dapat bekerja secara optimal dalam reaksi katabolisme maupun
anabolisme. Enzim dalam aktivitasnya bekerja secara spesifik terhadap substrat yang
akan dikatalisisnya, dengan begitu kita akan mengetahui berapa besar aktivitas yang
dilakukan. Seperti contoh adalah enzim yang bekerja untuk mendegradasi amilum
adalah amilase. Enzim ini banyak terdapat pada saliva, sehingga makanan yang
dikunyah lama akan terasa manis, karena senyawa polisakarida akan terurai menjadi
monosakarida.
Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan
hilangnya secara total aktivitas enzim. Pada sel hidup, perubahan pH sangat kecil.
Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. Oleh karena itu media harus benarbenar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). Jika enzim
memiliki lebih dari satu substrat, maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu
substrat. Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang
relatif kecil, dalam banyak kasus, bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim
berbanding pH yang terkandung di dalamnya.
Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek
katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis, kebutuhan kofaktor, pengaruh
konsentrasi substrat dan kofaktor, pH optimal, daerah temperatur, dan penentuan
berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Penentuan ini biasa dilakukan
di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih, menjadikan laju
reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat.
Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Ada dua
teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim, yaitu teori kunci dan anak
kunci (lock and key) dan teori induced fit.
Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan.
Akibatnya daya kerja enzim menurun. Pada suhu 45°C efek predominanya masih
memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Tetapi
lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu
55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington, 1994). Hal ini juga
terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang
dikatalisis maupun tidak. Karena itu pada suhu 40oC, larutan tidak ada gumpalan,
begitu juga pada suhu ruang, sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan –
gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. Pada suhu ruang, enzim masih dapat
bekerja dengan baik walaupun tidak optimum.
2

kofaktor. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia.Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. kencing manis. Pati yang merupakan polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. dan gaya irisan. Pada suhu yang sangat rendah. Misalnya. Pada penyakit radang pankreas. yang terjadi saat perkecambahan serealia. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. kadarnya dalam darah meningkat. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. yaitu suhu tubuh. temperatur. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. dll). Untuk enzim. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda–beda. gondongan. 3 . enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang. Sebaliknya pada penyakit hati. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. aktifitas enzim akan berkurang. pH. produk. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. kadarnya menurun. enzim. maltotriosa atau oligosakarida. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa.

9  Gelas kimia. 3. Makin besar konsentrasi enzim. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. gelas ukur 10 mlL  Larutan pati pH 1. dan  Larutan Iodin 0. dan polisakarida yang lain. dan rak tabung  Air liur  Labu ukur 50 ml. V (Laju Reaksi) [Enzim] Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. Bahan  Tabung reaksi. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. reaksi makin cepat. hewan memiliki hanya α amylase. glikogen. E. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa.Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. Alat 2. 5. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. dan termometer  Spectrometer UV 4 .01N kaki tiga  Akuades  Statif. Dalam air. kasa. dan pipet tetes  Larutan pati 1%  Pembakar spiritus. Alat dan Bahan 1. amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas. 7. klem.

Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim  Preparasi Larutan Enzim 0. dan lima tabung yang lain dengan label U (larutan uji) Tabung B Tabung U  Preparasi Larutan Blanko Tabung B  Dimasukkan 1 mL larutan pati 1%  Dibiarkan ± 6 menit  Ditambah 1 mL larutan I2 0.F. Alur Kerja 1.5 mL Air Liur  Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL  Ditambahkan akuades sampai tanda batas  Dikocok sampai homogen Larutan Enzim  Preparasi Alat 6 Tabung Reaksi  Dibersihkan  Dikeringkan  Diberi label untuk satu tabung dengan label B (larutan blanko).01N  Ditambah 8 mL akuades Larutan Blanko  Diinjekkan ke spectrometer UV pada λ = 680 nm  Dibaca absorbansi yang dihasilkan Nilai A 5 .

Uji 5  Diinjekkan ke spectrometer UV pada λ = 680 nm  Dibaca absorbansi yang dihasilkan Nilai A1 Nilai A2 Nilai A3 Nilai A4 Nilai A5 6 . Uji 1 Lar. Uji 3 Lar.01N  Ditambah 8 mL akuades Lar. Preparasi Larutan Uji 5 Tabung Uji  Dimasukkan 1 mL larutan pati pada masing-masing tabung uji dengan pH yang berbeda pH 1 pH 3 pH 5 pH 7 pH 9  Dibiarkan ± 5 menit  Ditambah 4 tetes larutan enzim  Dicampur dengan baik  Dibiarkan selama 1 menit  Ditambah 1 mL larutan I2 0. Uji 2 Lar. Uji 4 Lar.

5 mL  Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL  Ditambahkan akuades sampai tanda batas  Dikocok sampai homogen Larutan Enzim Encer 200 kali  Diambil 0.2.5 mL  Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL  Ditambahkan akuades sampai tanda batas  Dikocok sampai homogen Larutan Enzim Encer 400 kali  Diambil 0.5 mL  Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL  Ditambahkan akuades sampai tanda batas  Dikocok sampai homogen Larutan Enzim Encer 300 kali  Diambil 0.5 mL  Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL  Ditambahkan akuades sampai tanda batas  Dikocok sampai homogen Larutan Enzim Encer 400 kali 7 .5 mL Air Liur  Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL  Ditambahkan akuades sampai tanda batas  Dikocok sampai homogen Larutan Enzim Encer 100 kali  Diambil 0. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Aktivitas Enzim  Preparasi Larutan Enzim 0.

dan lima tabung yang lain dengan label U (larutan uji) Tabung B Tabung U  Preparasi Larutan Blanko Tabung B  Dimasukkan 1 mL larutan pati 1%  Dibiarkan ± 6 menit  Ditambah 1 mL larutan I2 0. Preparasi Alat 6 Tabung Reaksi  Dibersihkan  Dikeringkan  Diberi label untuk satu tabung dengan label B (larutan blanko).01N (untuk suhu 600C dan 1000C dilakukan diluar penangas air)  Ditambah 8 mL akuades Larutan Blanko  Diinjekkan ke spectrometer UV pada λ = 680 nm  Dibaca absorbansi yang dihasilkan Nilai A 8 .

Uji 3 Lar. Uji 2 Lar.2 mL larutan enzim dengan konsentrasi (pengenceran) yang berbeda 100 kali 200 kali 300 kali 400 kali 500 kali  Dicampur dengan baik  Dibiarkan selama 1 menit  Ditambah 1 mL larutan I2 0. Uji 5  Diinjekkan ke spectrometer UV pada λ = 680 nm  Dibaca absorbansi yang dihasilkan Nilai A1 Nilai A2 Nilai A3 Nilai A4 Nilai A5 9 . Uji 1 Lar. Uji 4 Lar.01N (untuk suhu 600C dan 1000C dilakukan di luar penangas air)  Ditambah 8 mL akuades  Dicampur dengan baik Lar. Preparasi Larutan Uji 5 Tabung Uji  Dimasukkan 1 mL larutan pati 1% pada masingmasing tabung uji secara terpisah  Dibiarkan pada suhu ± 5 menit  Ditambah 0.

Hasil Pengamatan 1.G. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim  Air liur : larutan menyerupai lender yang tidak berwarna  Pati 1% : larutan tidak berwarna  I2 0.01N : larutan kuning kecoklatan  Aquades : Larutan tidak berwarna  Larutan Blanko: Perlakuan Pengamatan 1 mL larutan pati 1% dimasukkan ke dalam tabung reaksi Larutan tidak berwarna Dibiarkan selama 6 menit Larutan tidak berwarna Ditambah 1 mL larutan iodin Larutan ungu (++++) Ditambah 8 mL akuades Larutan ungu (+++) Nilai A 0.231 10 .

131 0.220 0. Larutan Uji: Perlakuan Sebelum Perlakuan Didiamkan 5 menit Ditambah 4 tetes larutan enzim Dibiarkan selama 1 menit Ditambah 1 mL larutan I2 0.01N Ditambah 8 mL akuades Nilai A 1 mL Larutan Pati pH 1 pH 3 pH 5 pH 7 pH 9 Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Larutan kuning Larutan kuning Larutan kuning Larutan merah Larutan merah kecoklatan (+++) kecoklatan (++) kecoklatan (+) kecoklatan kecoklatan (+++) Larutan kuning Larutan kuning Larutan kuning Larutan kuning Larutan kuning kehitaman (++++) kehitaman (+++) kehitaman (+) kehitaman kecoklatan (++) 0.171 11 .026 0.265 0.

Pengaruh Konsentrasi Terhadap Aktivitas Enzim  Air liur : larutan menyerupai lender yang tidak berwarna  Pati 1% : larutan tidak berwarna  I2 0.2.000 12 . di luar penangas) Larutan ungu (++++) Ditambah 8 mL akuades Larutan ungu (+++) Nilai A 0.01N : larutan kuning kecoklatan  Aquades : Larutan tidak berwarna  Larutan Blanko: Perlakuan Pengamatan 1 mL larutan pati 1% dimasukkan ke dalam tabung reaksi Larutan tidak berwarna Dibiarkan selama 6 menit Larutan tidak berwarna Ditambah 1 mL larutan iodine (untuk T=600C dan 1000C.

007 -0. 0.033 Menghasilkan Dibiarkan selama 1 menit Ditambah 8 mL akuades Nilai A 13 . Dicampur dengan baik. Larutan Uji: Hasil Pengamatan Dimasukkan 1 mL larutan pati 1% Dibiarkan selama 5 menit Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Ditambahkan.011 -0.01N Larutan ungu Larutan ungu (+) Larutan ungu (++) Larutan ungu (+++) Larutan ungu (++++) Setelah dipanaskan Larutan ungu Larutan ungu (+) Larutan ungu (++) Larutan ungu (+++) Larutan ungu (++++) Larutan biru (-) Larutan biru Larutan biru (+) Larutan biru (++) Larutan biru (+++) -0.104 0.2 mL Larutan Enzim dalam Pengenceran 100 kali 200 kali 300 kali 400 kali 500 kali Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak Larutan tidak berwarna berwarna berwarna berwarna berwarna Ditambah 1 mL larutan I2 0.076 0.

Pada percobaan ini menggunakan lima variasi pH pada subtract.01N. Secara teori. Hal pertama yang dilakukan di dalam percobaan ini adalah melakukan preparasi larutan enzim. Secara kasat mata. dan pH 9. yaitu dari amilum menjadi glukosa. pengamatan secara kasat mata ini akan di buktikan lagi dengan menggunakan spektofotometer UV dengan panjang gelombang 680 nm. Selanjutnya dibiarkan selama ± 6 menit.5 mL. enzim bekerja pada kisaran pH tertentu dan menunjukkan kerja maksimum pada pH optimum. yang selanjutnya dibersihkan dan dikeringkan. yaitu dengan mengambil air liur sebanyak 0.H. bertujuan untuk membuktikan pengaruh pH terhadap aktivitas kerja enzim. yang berupa larutan seperti lender yang tidak berwarna. Namun. sebagai penghitungan kadar amilum yang terkadung di dalam larutan blanko. di antaranya yaitu pH 1. yang merupakan larutan tak berwarna. yang berupa larutan tidak berwarna. pH 5. Analisis Data dan Pembahasan 1. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim Pada percobaan pertama mengenai pengaruh pH terhadap aktivitas enzim. Salah satu tujuan enzim amylase adalah untuk mendegadrasi karbohidrat polisakarida menjadi karbohidrat monoksida. Setelah itu dilakukan preparasi alat yang digunakan. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. yang merupakan larutan kuning kecoklatan. Pada larutan ungu kehitaman yang terbentuk dari larutan blanko belum bisa diinjekkan ke 14 . Di luar pH optimum aktivitas enzim akan terganggu. satu tabung reaksi untuk larutan blanko dan lima tabung reaksi untuk larutan uji. menghasilkan perubahan yang signifikan yaitu berupa larutan ungu kehitaman. dan selanjutnya ditambahkan akuades. sampai tanda batas. dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL. khususnya pada enzim amylase pada saliva (air liur). Larutan Blanko Untuk membuat suatu larutan blanko di dalam percobaan ini adalah dengan memasukkan larutan pati 1%. hal ini menunjukkan bahwa pada larutan blanko memiliki kadar amilum yang tinggi. Subtract yang dipakai dalam percobaan ini adalah larutan pati. ke dalam tabung reaksi. dibuktikan dengan hasil perubahan warna yang terbentuk. pH 7. yaitu dengan menyiapkan enam tabung reaksi. pH 3. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan iodine 0.

yaitu tetap berupa larutan tidak berwarna. hal ini menunjukkan bahwa kadar amilum yang terdapat pada masingmasing tabung berbeda. yang merupakan larutan tidak berwarna. yang merupakan larutan tidak berwarna. Secara kasat mata. karena larutan masih berwarna sangat pekat. Selanjutnya dibiarkan selama ± 5 menit. selanjutnya masing-masing tabung diberi label sesuai pH subtract yang digunakan.01N. yaitu: Tabung uji pH 1 menghasilkan larutan kuning kecoklatan (+++) Tabung uji pH 3 menghasilkan larutan kuning kecoklatan (++) Tabung uji pH 5 menghasilkan larutan kuning kecoklatan (+) Tabung uji pH 7 menghasilkan larutan merah kecoklatan Tabung uji pH 9 menghasilkan larutan merah kecoklatan (+++) Perubahan warna yang terbentuk begitu signifikan dari earna sebelumnya. Larutan Uji Pada penyiapan larutan uji. sebagai penghitungan kadar amilum yang terkadung di dalam masing-masing larutan uji. Penambahan akuades adalah tanda sebagai pengenceran. yang merupakan larutan kuning kecoklatan.231. Setelah itu ditambahkan 4 tetes larutan enzim. proses pemasukkan larutan pati dengan pH yang berbeda tersebut disesuaikan dengan label yang telah tertera nama pH. hal ini bertujuan agar tidak tertukar. yang merupakan larutan tidak berwarna. Warna larutan pada masing-masing tabung uju yang terbentuk belum bisa diinjekkan ke spektofometer UV. pengamatan secara kasat mata ini akan di buktikan lagi dengan menggunakan spektofotometer UV dengan panjang gelombang 680 nm. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan iodine 0. 1 mL larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah disiapkan. sehingga tidak bisa membaca nilai absorbansi yang diinginkan. Sehingga ditambahkan lagi 8 mL larutan akuades. Nilai absorbansi yang didapatkan dari analisis spektofotometer UV adalah 0. disiapkan terlebih dahulu lima tabung reaksi yang bersih dan kering. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. menghasilkan larutan ungu. Subtract yang digunakan adalah larutan pati. karena larutan masih berwarna sangat pekat. Selanjutnya dibiarkan selama ± 1 menit. sehingga tidak bisa membaca nilai absorbansi yang 15 . menghasilkan perubahan yang signifikan dari masing-masing tabung. Namun. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. penambahan larutan enzim tidak menghasilkan perubahan yang signifikan.spektofometer UV.

06 16 .diinginkan.131 0.220 0.265 Tabung uji pH 5 menghasilkan nilai absorbansi 0.026 Tabung uji pH 9 menghasilkan nilai absorbansi 0. menghasilkan perubahan warna sebagai berikut: Tabung uji pH 1 menghasilkan larutan kuning kehitaman (++++) Tabung uji pH 3 menghasilkan larutan kuning kehitaman (+++) Tabung uji pH 5 menghasilkan larutan kuning kehitaman (+) Tabung uji pH 7 menghasilkan larutan merah kehitaman Tabung uji pH 9 menghasilkan larutan merah kehitaman (++) Penambahan akuades adalah tanda sebagai pengenceran. yang merupakan larutan tidak berwarna.1 7 0. Sehingga ditambahkan lagi 8 mL larutan akuades. selanjutnya dibuat kurva antara nilai absorbansi dengan pH subtract yang digunakan.231 0.231 0. Nilai absorbansi yang didapatkan dari analisis spektofotometer UV adalah: Tabung uji pH 1 menghasilkan nilai absorbansi 0.171 Dari nilai absorbansi yang didapatkan. pH Nilai A Larutan Blanko (AB) Nilai A Larutan Uji (AU) Nilai ∆A (AB – AU) 1 0.026 0.171 0.231 0.011 3 0.231 0.205 9 0.265 -0.220 Tabung uji pH 3 menghasilkan nilai absorbansi 0.231 0.034 5 0.131 Tabung uji pH 7 menghasilkan nilai absorbansi 0.

sehingga menunjukkan pada pH 3 terdapat kadar amilum yang tinggi. Secara teori.15 Nilai ∆A (AB – AU) 0. yaitu dari amilum menjadi glukosa. penambahan enzim dengan konsentrasi bertingkat akan meningkatkan jumlah kompleks ES. enzim amylase bekeja pada rentang pH optimum 5 – 8.05 0 5 pH Subtrat 10 Dari kurva yang dihasilkan. khususnya pada enzim amylase pada saliva (air liur). terdapat kesalahan pada pH 3 yang terbentuk. pada konsentrasi subtract tertentu. Sehingga bisa dinyatakan pH optimum yang terbentuk dari percobaan ini adalah benar. variasi konsentrasi dilakukan dengan cara pengenceran. akibat penetesan larutan enzim) sehingga kadar amilum yang terbentuk menjadi tinggi. bertujuan untuk membuktikan pengaruh konsentrasi terhadap aktivitas kerja enzim. hal ini ditunjukkannya dari kurva nilai absorbansi yang dihasilkan mengalami penurunan. Namun. dimungkinkan penambahan jumlah larutan enzim yang kurang sempurna (masih kurang. Kesalahan yang terjadi karena kesalahan ketika dalam proses penambahan larutan enzim yang kurang tepat. Salah satu tujuan enzim amylase adalah untuk mendegadrasi karbohidrat polisakarida menjadi karbohidrat monoksida.25 0. Pada percobaan ini menggunakan lima variasi konsentrasi pada air liur.1 0. 2. pH optimum ditunjukkan pada pH 7 yang menunjukkan bahwa kadar amilum yang terkandung sangatlah sedikit.05 0 -0.Kurva Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim Nilai Absorbansi 0. sehingga jumlah produk yang terbentuk juga meningkat. 17 . sehingga menyerupai larutan blanko yang dibuat. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Aktivitas Enzim Pada percobaan kedua mengenai pengaruh konsentrasi terhadap aktivitas enzim. Secara teori.2 0.

sebagai penghitungan kadar amilum yang terkadung di dalam larutan blanko. sehingga tidak bisa membaca nilai absorbansi yang diinginkan. pengamatan secara kasat mata ini akan di buktikan lagi dengan menggunakan spektofotometer UV dengan panjang gelombang 680 nm. 400 kali. Selanjutnya dibiarkan selama ± 6 menit. yang selanjutnya dibersihkan dan dikeringkan. yang merupakan larutan kuning kecoklatan. Berbeda dengan proses pembuatan larutan blanko pada perceboaan satu. Subtract yang dipakai dalam percobaan ini adalah larutan pati. untuk pengenceran 200 kali. hal ini menunjukkan bahwa pada larutan blanko memiliki kadar amilum yang tinggi. ke dalam tabung reaksi. menghasilkan perubahan yang signifikan yaitu berupa larutan ungu kehitaman. dan selanjutnya ditambahkan akuades. Pada larutan ungu kehitaman yang terbentuk dari larutan blanko belum bisa diinjekkan ke spektofometer UV. Penambahan akuades adalah tanda sebagai 18 .01N. Secara kasat mata. Namun. 400 kali. yang merupakan larutan tidak berwarna. yang berupa larutan seperti lendir yang tidak berwarna. yaitu dengan mengambil air liur sebanyak 0. yang merupakan larutan tak berwarna. 300 kali. menghasilkan perubahan larutan yang tidak signifikan. Hal pertama yang dilakukan di dalam percobaan ini adalah melakukan preparasi larutan enzim. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna.yaitu pengenceran 100 kali. karena larutan masih berwarna sangat pekat. 200 kali. dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL. di mana pada percobaan kedua yaitu dilakukan pemanasan sampai mencapai suhu 600C. Hasil pengenceran yang dilakukan. menghasilkan larutan ungu. Setelah itu dilakukan preparasi alat yang digunakan.5 mL. yang berupa larutan tidak berwarna. dan 500 kali dilakukan dengan hal yang sama. Sehingga ditambahkan lagi 8 mL larutan akuades. Hal ini bertujuan agar larutan pati semakin terdegadrasi sempurna. dibuktikan dengan hasil perubahan warna yang terbentuk. 300 kali. dan 500 kali. ini merupakan proses pengenceran 100 kali. sampai tanda batas. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan iodine 0. yaitu semuanya berupa larutan tidak berwarna. satu tabung reaksi untuk larutan blanko dan lima tabung reaksi untuk larutan uji. Larutan Blanko Untuk membuat suatu larutan blanko di dalam percobaan ini adalah dengan memasukkan larutan pati 1%. yaitu dengan menyiapkan enam tabung reaksi.

Proses penambahan larutan enzim disesuaikan dengan label yang telah ditempelkan. Hal ini bertujuan agar larutan pati semakin terdegadrasi sempurna. Berbeda dengan proses pembuatan larutan uji pada perceboaan satu. Selanjutnya dibiarkan selama ± 1 menit. yaitu: Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (+) Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (++) Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (+++) Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (++++) Perubahan warna yang terbentuk begitu signifikan dari warna sebelumnya. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan iodine 0. yang merupakan larutan kuning kecoklatan. pengamatan secara kasat mata ini akan di buktikan lagi dengan menggunakan spektofotometer UV dengan panjang gelombang 680 nm. karena larutan masih 19 . Namun. hal ini dilakukan agar tidak tertukar. Nilai absorbansi yang didapatkan dari analisis spektofotometer UV adalah 0. di mana pada percobaan kedua yaitu dilakukan pemanasan sampai mencapai suhu 600C. Setelah itu ditambahkan 0. 1 mL larutan pati 1% dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah disiapkan. Penambahan larutan enzim pada masing-masing tabung tidak menghasilkan perubahan yang signifikan. hal ini menunjukkan bahwa kadar amilum yang terdapat pada masingmasing tabung berbeda. Secara kasat mata. Warna larutan pada masing-masing tabung uji yang terbentuk belum bisa diinjekkan ke spektofometer UV. Subtract yang digunakan adalah larutan pati 1%. menghasilkan perubahan yang signifikan dari masing-masing tabung. yang merupakan larutan tidak berwarna. Selanjutnya dibiarkan selama ± 5 menit.2 tetes larutan enzim dengan pengenceran yang telah dilakukan. sebagai penghitungan kadar amilum yang terkadung di dalam masing-masing larutan uji.pengenceran. selanjutnya masing-masing tabung diberi label sesuai proses pengenceran pada air liur yang digunakan. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna.01N. yang merupakan larutan tidak berwarna. yaitu tetap berupa larutan tidak berwarna.000. disiapkan terlebih dahulu lima tabung reaksi yang bersih dan kering. Larutan Uji Pada penyiapan larutan uji.

Sehingga ditambahkan lagi 8 mL larutan akuades.104 4 0. sehingga tidak bisa membaca nilai absorbansi yang diinginkan.000 0.007 2 0.000 -0.000 0.011 1 0.076 3 0.berwarna sangat pekat. Nilai absorbansi yang didapatkan dari analisis spektofotometer UV adalah: Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan nilai absorbansi -0.011 Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan nilai absorbansi -0.007 Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan nilai absorbansi -0.033 Dari nilai absorbansi yang didapatkan.104 0.000 -0.076 Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan nilai absorbansi 0. Konsentrasi Nilai A Larutan Blanko (AB) Nilai A Larutan Uji (AU) Nilai ∆A (AB – AU) 5 0.033 0. selanjutnya dibuat kurva antara nilai absorbansi dengan pH subtract yang digunakan.033 20 . yang merupakan larutan tidak berwarna.076 -0.011 0.007 -0. menghasilkan perubahan warna sebagai berikut: Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (-) Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (+) Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (++) Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan ungu (+++) Penambahan akuades adalah tanda sebagai pengenceran.104 Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan nilai absorbansi 0.000 -0.

05 Nilai ∆A (AB – AU) 0 0 2 4 6 -0. pH optimum (kadar amilum yang terkandung paling kecil) yang terbentuk adalah pada pH 7. Sehingga kadar amilum kecil yang seharusnya dimiliki oleh enzim yang berkonsentrasi tinggi.Grafik Pengaruh Konsentrasi Enzim terhadap Aktivitas Enzim 0. Secara teori. Semakan kecil konsentrasi enzim. 2.0035 R² = 0. maka kadar amilum yang terkandung semakin meningkat.0055x .05 -0.0. Hal ini dikarenakan ketelitian saat pengenceran air liur. dengan R² = 0. 21 . 300X.1 y = 0. pada percobaan kami yang telah dilakukan tidak sesuai dengan teori. Dari grafik yang dihasilkan. semakan kecil konsentrasi enzim. hal ini menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan teori. maka kadar amilum yang terkandung semakin meningkat. didapatkan persamaan linear y = 0. dapat disimpulkan bahwa: 1. I.0178 0.15 Absorbansi 0. Karena proses pengenceran air liur sangat berperan penting dalam penentuan konsentrasi larutan enzim yang terbentuk. pada konsentrasi (pengenceran) 200X.003. yang seharusnya meningkat. dan 400X mengalami penurunan. tapi tidak terbentuk. Namun.005x + 0.1 Linear (Nilai ∆A (AB – AU)) Konsentrasi Dari grafik yang dihasilkan. Kesimpulan Dari hasil percobaan yang telah dilakukan.017. Nilai regresi yang diperoleh adalah R² = 0.017. sebagai larutan enzim.

Buatlah kurva antara konsentrasi (pengenceran) enzim dengan kecepatan reaksi ∆𝐴 enzimatik (𝑉 = 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡) ! Jawab: V (Laju Reaksi) [Enzim] 22 . Jawaban Pertanyaan 1.J. Buatlah kurva yang menggambarkan hubungan antara kecepatan reaksi enzimatik ∆𝐴 (𝑉 = 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡) dengan pH ! Jawab: 2.

2010. Protein). 17 Oktober 2013. Choi. http://blogger. Lipid. Jakarta: Erlangga. Jayapura : Universitas Cendrawasih. Poedjadi. Maggy Thenawijaya. Jakarta: Penerbit UI – Press.K. Surabaya: Unesa Press. Enzim.com (diakses pada hari Kamis. 2011. Laporan Akhir Praktikum Biokimia “Pengaruh pH dan Inhibitor Terhadap Aktivitas Enzim”. Daftar Pustaka Anna. LAPORAN Praktikum Biokimia II “Percobaan II Enzim”. Anonim B. Pukul11:00 WIB). 23 . Lenny. http://Wikipedia. Yuanita. 2011. 2010.org (diakses pada hari Kamis. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. dkk. Dasar-dasar Biokimia. Ruddin. 1982. Pukul11:10 WIB). penerjemah. Anonim A. 1994. 17 Oktober 2013. Lehninger AL. Perangkat Pembelajaran Biokimia Petunjuk Praktikum (Karbohidrat. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry.

Dokumentasi 1. enzim Lar. sebagai lar. blanko tidak ditambahkan Lar. Pati pada berbagai pH.01N. pati 1% untuk larutan blanko Air liur yang telah diencerkan 100 kali. tetapi pada lar. kuning kecoklatan 24 . yaitu pada pH 1. berupa lar. 9 Dan lar. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim Lar. pati dengan berbagai pH ditambah 4 tetes larutan enzim . 7. 5. I2 0. 3.

300X. 500X). blanko tidak ditambahkan 25 . blanko + 1 mL I2 Semua penambahan akan diencerkan dengan penambahan 8 mL akuades 2. pati + 4 tetes lar. penambahan dilakukan sesuai dengan label yang telah dipasang. Lar. enzim dengan pengenceran yang berbeda (100X. 400X.Lar. enzim + 1 mL I2 Lar. pati 1% dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi label Lar. pati + 0.2 mL lar. 200X. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim Lar.

pati + 0.2 tetes lar. enzim + 1 mL I2 Lar.Lar. maka dilakukan proses pengenceran kembali. dilakukan pengenceran dengan menambahkan 8 mL akuades pada masing-masinng tabung Dilakukan pemanasan sampai suhu 600C di atas penangas Karena warna yang terbentuk masih pekat. dan 4 untuk akuades) 26 . blanko + 1 mL I2 Setelah dipanaskan. dengan perbandingan 1:4 (1 untuk lar.