Anda di halaman 1dari 19

METABOLISME

1.1 Definisi Metabolisme


Metabolisme merupakan suatu proses penguraian, pembongkaran, pemindahan
suatu gugus pada senyawa kimia yang digunakan untuk kelngsungan hidup suatu organisme
dan terjadi di dalam tubuh organisme hidup.
1.2 Anabolisme dan Katabolisme
Pada metabolisme terdapat 2 macam metabolisme yang terjadi di dalam sel
organisme hidup, yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme dan katabolisme
merupakan suatu proses yang digunakan untuk menguraikan atau merombak suatu
senyawa yang menghasilkan energi dan membutuhkan energi dalam siklusnya.
1.3 Enzim
Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai
reaksi kimia dalam sistem biologis. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis
oleh enzim. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi
dari sel tanpa merusak fungsinya.
Seluruh reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel memerlukan jasa enzim, enzim
disintesis di dalam sel, namun aktivitasnya tidak selalu di dalam sel. Berbagai reaksi kimia
yang dikendalikan oleh enzim antara lain respiasi, pertumbuhan, perkembangan, kontraksi
otot, fotosintesis, pencernaan, fiksasi nitrogen, pembentukan urin, dan lain-lain.
Seperti molekul protein lainnya, sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor fisika-kimia. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain suhu
Di samping itu, kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun
substratnya.
Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu. Kekhasan inilah
ciri suatu enzim. Ini sangat berbeda dengan katalis lain (bukan enzim) yang dapat bekerja
terhadap berbagai macam reaksi. Enzim urase hanya bekerja terhadap urea sebagai
substratnya namun enzim tersebut mempunyai kekhasan tertentu. Misalnya enzim esterase
dapat menghidrolisis beberapa ester asam lemak, tetapi tidak dapat menghidrolisis substrat
lain yang bukan ester. Kekhasan enzim terhadap suatu reaksi disebut kekhasan reaksi
(Poedjiadi, 1994).

1.4 Energi
Energi dalam tubuh diperlukan untuk proses metabolisme yang terjadi di dalam
tubuh. Dan sumber energi utama bagi seluruh makhluk hidup yang ada di bumi berasal dari
energi matahari. Energi matahari tersebut digunakan oleh produsen, seperti tumbuhan untuk
melangsungkan fotosintesis. Melalui fotosintesis, energi diubah menjadi senyawa berenergi
seperti ATP. ATP digunakan langsung oleh tumbuhan atau disimpan dalam bentuk
karbohidrat. Karbohidrat tersebut selanjutnya dapat diubah dan disimpan dalam bentuk
lemak, protein, dan senyawa organik lainnya.
1.5 Macam-macam Metabolisme
1.5.1

Metabolisme Karbohidrat
Pada proses metabolisme karbohidrat, terdapat 6 tahapan yaitu glikolisis,

glikogenesis, glikogenolisis, glukoneogenesis, siklus krebs dan jalur pentosa fosfat.


a. Glikolisis
Glikolsis suatu proses penguraian molekul glukosa menjadi asam piruvat di dalam
sitosol.Tahap-tahap glikolisi adalah sebagai berikut.

1. Pada tahap pertama ini glukosa mengalami fosforilasi menjadi 6- fosfat dengan
bantuan

enzim heksokinasi atau glukokinase.

2. Glukosa 6 fosfat akan dirubah menjadi 6- fruktosa dengan bantuan enzim


fosfoheksosa isomerase.
3. fruktosa 6 fosfat

diubah menjadi fruktosa 1,6bifosfat dengan bantuan enzim

fosfofruktokinase .
4. fruktosa 1,6 bifosfat dipecah menjadi gliseraldehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton
fosfat dengan bantuan enzim aldolase.
5. gliseraldehid 3-fosfat dapat dirubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan sebaliknya
(reaksi interkonvensi )reaksi ini di bantu oleh enzim fosfotriosa isomerase.
6. gliseraldehid 3-fosfat di oksidasi menjadi 1,3-bifosfogliseratdengan bantuan enzim
gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase.

7. 1,3-bifosfogliserat,fosfat posisi 1 bereaksi dengan ADP menjadi ATP dibantu enzim


fosfogliserat kinase senyawa sisa yang dihasilkan yaitu 3-fosfogliserat.
8. 3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan bantuan enzim fosfogliserat
mutase.
9. 2-fosfogliserat diubah menjadi fosfoenol piruvat (PEP) dengan bantuan enzim
enolase.
10. fosfat pada PEP bereaksi dengan ADP menjadi ATP dengan bantuan enzim piruvat
kinase.Hasil akhir dari proses glikolisis ini adalah 2 asam piruva,2 NADH dan 2 ATP.
b. Glikogenesis
Glikogenesis adalah lintasan metabolisme yang mengkonversi glukosa menjadi
glikogen untuk disimpan di dalam hati.
Lintasan diaktivasi di dalam hati, oleh hormon insulin sebagai respon terhadap rasio
gula darah yang meningkat, misalnya karena kandungan karbohidrat setelah makan; atau
teraktivasi pada akhir siklus Cori.
Penyimpangan atau kelainan metabolisme pada lintasan ini disebut glikogenosis.
Proses glikogenesis adalah sebagai berikut :

1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat Dikatalisir oleh


enzim heksokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dengan bantuan
katalisator enzim fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami
fosforilasi dan gugus fosfot akan mengambil bagian di dalam reaksi
reversible yang intermediatnya adalah glukosa 1,6-bifosfat.

3. Glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk


uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc
pirofosforilase.
4. Hidrolisis pirofosfat inorganik berikutnya oleh enzim pirofosfatase
inorganik akan menarik reaksi kearah kanan persamaan reaksi.
5. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan
glikosidik dengan atom C4 pada residu glukosa terminal glikogen,
sehingga membebaskan uridin difosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim
glikogen sintase. Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya (disebut
glikogen primer) harus ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen primer
selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang dikenal sebagai
glikogenin.
c. Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen
harus dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini
dinamakan glikogenolisis.
1. Penguraian glikogen menjadi glukosa 1-fosfat

dengan bantuan enzim

glikogen fosforilase.
2. Glukosa 1-fosfat diubah menjadi glukosa 6-fosfat oleh enzim
fosfoglukomutase.

Pembentukan glukosa dari glukosa 6-fosfat. glukosa 6-fosfatase


melepaskan gugus fosfat sehigga terbentuk glukosa.

d. Glukoneogenesis
Glukoneogenesis adalah suatu proses pembentukan glukosa dari senyawa lain yang
bukan karbohidrat. Proses ini terjadi jika dalam sel tidak terdapat glukosa yang berasal dari
karbohidrat, maka proses ini dilakukan. Senyawa yang biasanya digunakan dalam siklus ini
adalah asam propionat sebagai substrat pada jalur ini dan jalur yang dipakai merupakan
modifikasi dari jalur glikolisis dan jalur asam sitrat dengan menggunakan enzim tambahan
yaitu piruvat karboksilase, fosfoenolpiruvat karboksilase, fruktosa 1,6-bifosfatase dan
glukosa 6 fosfatase.

Dari gambar diatas, jalur pertama pada glukoneogenesis adalah karboksilasi piruvat
menjadi oksaloasetat yang dibantu oleh enzim piruvat karboksilase yang memerlukan energi
berupa ATP untuk diuraikan menjadi ADP dan fosfat dengan bantuan asam karboksilat. Dan
ciri pada jalur ini adalah enzim yang membedakan jalur lainnya yaitu piruvat karboksilase
dan fosfoenolpirvat karboksikinase yang digunakandalam mengatasi reaksi perubahan
irreversibel pada glikolisis yaitu fosfoenol piruvat (Schumm, 1993).
Setelah itu, oksaloasetat akan meninggalkan mitokondria dengan cara melakukan
transaminasi yaitu pemindahan gugus fosfat, dan oksaloasetat diubah menjadi asam
aspartat. Dan saat asam aspartat masuk kedalam sitoplasma, maka asam aspartat diubah
menjadi oksaloasetat dengan menggunakan reaksi transaminasi yang arahnya berlawanan.

Selanjutnya, oksaloasetat mengalami fosforilasi dan dekarboksilasi menjadi fosfoenol piruvat


yang menggunakan enzim fosfoenolpiruvat karboksikinase dan memerlukan energi yang
tinggi yaitu GTP untuk diuraikan menjadi CO 2 dan GDP. Selanjutnya fofoenolpiruvat diubah
menjadi 2-fosfogliserat yang kemudian diubah menjadi 3-fosfogliserat yang merupakan
kebalikan dari jalur glikolisis. Dan 3-fosfogliserat diubah menjadi 1,3-difosfogliserat dengan
cara memindahkan fosfat pada ATP menjadi ADP. Dan 1,3-difofogliserat diubah menjadi
gliseraldehid-3-fosfat dengan cara pelepasan H+ pada NADH menjadi NAD+ dan Pi.
Selanjutnya,

gliseraldehid-3-fosfat

diubah

dalam

reaksi

kesetimbangan

dengan

dihidroksiaseton fosfat, dan berkondensasi menghasilkan fruktosa 1,6-bifosfat.


Fruktosa 1,6-bifosfat akan mengalami hidrolisis fosfat sehingga akan diubah menjadi
fruktosa 6 bifosfat yang memerlukan enzim fruktosa 1,6-bifosfatase. Lalu fruktosa 6-fosfat
diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang memerlukan enzim fosfoglukose isomerase dan
glukosa 6-fosfat akan diubah menjadi glukosa dengan cara hidrolisis fosfat dan dibantu
dengan enzim glukosa-6-fosfatase.
e. Siklus krebs

Pada proses siklus krebs, reaksi pertama yang terjadi adalah pembentukan asetil koA
pada sitoplasma melalui proses dekarboksilasi. Asam piruvat ditambahkan ke satu karbon
dari tiamin pirofosfat yang terikat pada enzim dan terjadi karboksilasi yang dikatalisis oleh
enzim piruvat dekarboksilase sehingga terbentuk asetil koA, pelepasan CO 2 dan H+.
Selanjutnya asetil koA mengalami kondensasi dengan oksaloasetat untuk membentuk sitrulin

dan dikatalisis oleh enzim sitrat sintetase. Kemudian sitrat sintetase mengalami isomerisasi
secara dehidrasi rehidrasi sehingga terbentuk isositrat dan reaksi ini dikatalisis oleh enzim
akonitase. Setelah isositrat terbentuk, isositrat mengalami dehidrogenasi dan dekarboksilasi
menjadi ketoglutarat yang dikatalisis oleh enzim isositrat dehidrogenase. Selanjutnya
ketoglutarat mengalami dekarboksilasi dan dehidrogenase menjadi suksinil koA dan
dikatalisis oleh ketoglutarat dehidrogenase. Selanjutnya suksinil koA diubah menjadi
suksinat melalui proses fosforilasi GDP menjadi GTP dan dikatalisis oleh enzim suksinil koA
sintetase. Setelah suksinat terbentuk, terjadi dehidrogenasi FAD menjadi FADH 2 dan
terbentuk fumarat yang dikatalisis oleh enzim suksinat dehidrogenase. Fumarat tadi diubah
menjadi malat karena terjadi hidrasi (penambahan air) dan dikatalisis oleh fumarase.
Selanjutnya, malat mengalami dehidrogenasi untuk mengubahnya menjadi oksaloasetat
yang dikatalisis oleh malat dehidrogenase. Dan daur krebs dapat berjalan bila terdapat
oksigen yang tersedia dan rantai transpor elektron berfungsi
f.

Jalur pentosa fosfat

Jalur pentosa fosfat atau pintasan heksosa monofosfat menghasilkan NADPH di luar
mitokondria. NADPH ini diperlukan untuk biosintesis asam lemak, kolesterol dan berbagai
steroid lainnya (Schumm, 1993). Jalur ini terjadi di sitoplasma dengan bantuan enzim yang
berada di dalam sitoplasma. Dan jalur ini menghasilkan ribosa, NADPH dan CO2.
Tahap pertama pada jalur ini yaitu glukosa 6-fosfat mengalami oksidasi oleh enzim
glukosa-6-fosfat dehidrogenase menjadi 6-fosfoglukonolakton dengan NADPH sebagai
penerima hidrogen dari NADP+ dalam reaksi hidrolisis dalam keadaan bebas. Selanjutnya, 6fosfoglukonolakton mengalam hidrolisis oleh NADP+ dan mengalami dekarboksilasi yang
menghasilkan CO2 sehingga menghasilkan ribulosa-5-fosfat. Ribulosa-5-fosfat mengalami
isomerisasi menjadi ribosa-5-fosfat. Dan dalam rekasi yang lain terjadi epimerisasi menjadi
Xilulosa-5-fosfat. Kedua pentosa fosfat ini akan dikatalisis oleh enzim transketolase dan
transaldolase.

1.5.2

Metabolisme Lipida

A. Katabolisme Lemak
a. oksidasi
b. Oksidasi asetil ko-A
c. Sintesis ATP
B. Anabolisme Lemak
a. Biosintesis Asam Lemak
Asam lemak berguna bagi tubuh jika tubuh tidak memiliki glukosa untuk diuraikan dan
menghasilkan energi yang digunakan untuk tubuh. Asam lemak disintesis menjadi senyawa
lain yang dapat digunakan oleh tubuh. Sintesis asam lemak terjadi di sitoplasma sel hati.
Tahapan sintesis asam lemaka adalah sebagai berikut.
1. Produksi asetil koA di Sitoplasma
Urutan pertama dalam reaksi ini adalah asetil koA yang harus dibawa keluar menuju
sitoplasma dengan cara asetil koA bereaksi dengan oksaloasetat sehingga terjadi
kondensasi dan melepaskan koA serta menghasilkan sitrat. Kemudain sitrat meninggalkan
mitokondria dan menuju ke sitoplasma. Di dalam sitoplasma, sitrat mengalami pemecahan

yang dipecah oleh enzim sitrat liase dan menggunakan energi yang berasal dari hidrolisis
ATP sehingga terbentuk asetil koA lagi untuk bahan utama dalam sintesis asam lemak dan
oksaloasetat. Kemudian oksaloasetat diubah menjadi malat dengan adanya reduksi NADH.
Setelah malat terbentuk, maka malat ini akan dipecah menjadi asam piruvat dengan
pelepasan CO2. Setelah itu, asam piruvat masuk kedalam mitokondria untuk diubah menjadi
oksaloasetat melalui proses karboksilasi. Dari siklus ini dibutuhkan 2 ATP untuk dapat
merubaha asetil koA di mitokondria menjadi asetil koA di sitoplasma.
2. Sintesis Malonil koA
Langkah pertama pada reaksi ini adalah pengubahan asetil koA menjadi malonil koA
dengan enzim asetil koA karboksilase dengan cara CO2 diikat secara kovalen dengan enzim
biotin dan dibantu dengan adanya fosforilasi ATP menjadi ADP sehingga terbentuk enzim
karboksi biotin. Dan selanjutnya CO 2 yang diikat, dipindahkan ke asetil koA untuk
membentuk malonil koA.
3. Sintesis rantai asil
Setelah terbentuknya malonil koA, selanjutnya asam lemak disintesis dengan cara
asetil koA dipindahkan dari koA ke ujung SH dari fosfopantetein dan koA yang dilepaskan
dalam keadaan bebas. Sedangkan malonil koA berikatan dengan SH yang lain dan koA pada
malonil koA dilepaskan juga dalam keadaan bebas. Selanjutnya kedua gugus tersebut
mengalami kondensasi dengan membebaskan CO2 dan terbentuk asetoasetat. Selanjutnya,
asetoasetat mengalami reduksi oleh NADPH menjadi gugus OH. Dan senyawa tersebut
mengalami dehidrasi dan direduksi kembali oleh NADPH untuk memutuskan ikatan rangkap
dan membentuk gugus asil dengan 4 atom karbon. Dalam reaksi ini dibutuhkan 2 NADPH
dari hasil produksi asetil koA di sitoplasma. Dan reaksi yang terakhir adalah pemindahan
gugus asil ke gugus SH dari sistein dan pemindahan gugus asil terbentuk malonil koA yang
lain untuk diikatkan lagi ke SH dari pantetein. Reaksi ini terus berlangsung hingga terbentuk
asam lemak dengan 16 C atau terbentuk gugus palmitoil yang dibebaskan secara hidrolisis.
b. Ketogenesis
Ketogenesis terjadi di dalam matriks mitokondria dengan asetil koA sebagai bahan
utamanya yang dibentuk dari asam piruvat, asam lemak dan asam amino lainnya. Pada
proses ketogenesis dibutuhkan 2 mol asetil koA hasil oksidasi untuk bergabung dan
membentuk asetoasetil koA yang dikatalisis oleh enzim tiolase. Setelah asetoasetil koA
terbentuk, senyawa ini berikatan lagi dengan asetil koA lainnya dan membentuk hidroksi
metil glutaril koA (HMG-koA). Dan HMG-koA dipecah menjadi asetoasetat dan HMG-koA
liase melepaskan asetil koA. Asetoasetat ini akan secara spontan mengalami dekarboksilasi

dan membentuk senyawa keton yaitu aseton dan asetoasetat juga dapat tereduksi menjadi
hdroksibutirat.
c. Sintesis Triasilgliserol
Sintesis triasilgliserol, bentuk senyawa yang disimpan didalam tubuh dengan cara
gliserol 3-fosfat yang didapatkan melalui jalur glikolisis dari reduksi dihidroksiaseton fosfat
atau dari fosforilasi gliserol dengan ATP untuk diubah menjadi asam fosfatiodat. Reaksi ini
terjadi didalam retikulum endoplasma dikarenakan tidak adanya enzim gliserol kinase yang
terdapat didalam jaringan lemak. Dan di dalam retikulum endoplasma, asil transferase
mengikat asam lemak untuk memindahkan koA ke posisi 1 dan 2 pada gliserol sehingga
terbentuk asam fosfatiodat. Lalu asam fosfatiodat melepaskan gugus fosfat untuk mementuk
1,2-diasilgliserol. Selanjutnya asam lemak yang lain diikatkan pada OH yang terdapat 1,2diasilgliserol dan terbentuk triasilgliserol atau trigliserida.
d. Biosintesis Kolesterol
Biosintesis kolestrol dibagi dalam tiga tahap deretan reaksi pembentukan antara lain :
1.

Pembentukan senyawa intermediate mevalonat.


Diawali dengan reaksi pengabunggan 2 molekul asetil-SKoA, yang dikatalis oleh
enzim tiolase, dan dihasilkan asetoasetil-SKoA. Selanjutnya, asetoasetil-SKoA
bereaksi dengan 1 molekul asetil-SKoA lagi membentuk senyawa -OH, -CH3SKoA (HMG-SKoA). Reaksi ini dikatalis oleh enzim HMG-SKoA sintesis. Akhirnya
HMG-SKoA direduksi oleh NADPH + H+, yang dikatalis oleh enzim HMG-SKoA
reduktase, dan terbentuklah mavelonat.

2.

Pembentukan kolestrol (sterol)


Perubahan mevalonat menjadi senyawa sterol pertama berupa lenosterol,
berlangsung melelui pembentukan dua senyawa intermediate, berturut-turut
berupa senyawa unit isoprenoid dan skualen. Kolestrol diturunkan dari lenosterol
melalui pembentukan senyawa intermediate berupa senyawa 14-desmetillanosterol, zimosterol, 7, 24 kolestadienol, desmosterol dan pada akhirnya
terbentuklah kolestrol.

3.

Pembentukan kolestrol dari skualin


Pada tahap terakhir proses biosintesis kolestrol, skualin bereaksi dengan oksigen
menghasilkan

skualin-2,3-epoksida.

Reaksi

ini

dikatalis

oleh

skualin

monooksigenase. Selanjutnya skualin-2.3-epoksida mengalami proses suklisasi,


yang dikatalis oleh enzim skualin epoksida lanosterol-siklase, menghasilkan
lenosterol. [erubahan linosterol menjadi kolestrol berlangsung dengan pelepasan
tiga gugus metal (dua atom karbon nomor empat dan satu dari atom karbon
nomor 14), reduksi ikatan rangkap dari rantai samping kolestrol, dan perpindahan

ikatan rangkap dari posisi-8,9 ke posisi-5,6 dalam cincin B. perubahan linosterol


dapat berlangsung melalui salah satu dari dua jalur reaksi, yaitu melalui
pembentukan desmoserol atau melalui 7-dehidroksikolestrol.
1.5.3

Metabolisme Protein
Metabolisme protein merupakan suatu proses pembongkaran protein menjadi

beberapa asam amino yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh tubuh organisme hidup
dan terjadi di dalam sel hati organisme. Metabolisme karbohidrat memiliki 2 proses dalam
pembongkaran protein yaitu katabolisme dan anabolisme. Katabolisme protein memiliki 3
tahap, yaitu transaminasi, deaminasi, dan siklus urea. Sedangkan pada anabolisme protein
dilakukan sintesis protein untuk membongkar DNA yang melibatkan RNA dalam
pembentukan asam amino. Berikut penjelasan dari setiap tahapan pada metabolisme
protein.
a. Transaminasi
Transaminase adalah proses katabolisme asam amino yang melibatkan pemindahan
gugus amino dari satu asam amino kepada asam amino lain. Transaminase ini terjadi di
dalam mitokondria dan di dalam cairan sitoplasma Transaminase sekurang-kurangnya
terjadi jika ada 12 dari 20 asam amino yang melepaskan gugus ammonia nya yang
mengalami katalisasi oleh enzin transaminase atau aminotransferase. . Dalam reaksi
transaminasi ini gugus amino dari suatu asam amino dipindahkan kepada salah satu dari
tiga senyawa keto, yaitu asam piruvat, a ketoglutarat atau oksaloasetat, sehingga senyawa
keto ini diubah menjadi asam amino, sedangkan asam amino semula diubah menjadi asam
keto. Karena asam amino melepas gugus aminonya maka gugus tersebut menghasilkan
asam a keto pada setiap reaksi. Pada reaksi yang berlangsung ada reaksi yang bertindak
sebagai pendonor dan ada juga yang bertindak sebagai penerima (aspektor). Dalam reaksi
ini yang bertindak sebagai aspektor adalah asam keto yang umum nya adalah a ketoglutarat
L-aspatat + a ketoglutarat

oksalasetat + glutamat

L-alanin + a ketoglutarat

piruvat + glutamat

L-leusin + a ketoglutarat

a ketoisokaproat + glutamat

L-tirosin + a ketoglutarat

P-OH-Fenil-Piruvat+glutamate

Enzim yang berperan mengkatalisa reaksi di atas berturut-turur adalah asparat,


tranaminase, alanin transaminase, leusin transaminase, dan tirosin transaminase. Dan dapt
di simpilkan bahwa gugus amino yang ada pada asam tersebut di kumpulkan kedalam asam
amino yaiyu glutamat. Senyawa terakhir ini selanjutnya bertindak sebagai donor amino pada
reksi final dimana gugus amino yang toksik itu di ubah kedalam senyawa monotoksik seperti
urea, keratin, dan asam urat. Semua enzim transaminase aktivitasnya di bantu oleh gugus
prostetin piridoksalat- fosfat, yang erat pada sisa asam amino lisin dari apoenzim.

Reksi transaminase dalam reksi diatas asam amino bereaksi dengan asam piruvat
menghasilkan asam keto dan alanin, dalam reaksi ini enzim yang berperan adalah alanin
transaminase. Sedangkan pada reaksi tahap ke dua asam amino bereaksi dengan asam a
ketoglutarat menghasilkan asam a keto dan asam glutamate yang di abntu oleh glutamate
transaminase. Pada proses keduanya sama-sama menghasilkan asam a ketoglutarat.
b. Deaminasi
Deaminasi merupakan suatu peroses metabolisme untuk memindahkan gugus amina
dengan cara menguraikan asam amino satu dengan asam amino lainnya. Pemindahan
gugus amina ini, membutuhkan asam amino berupa asam glutamat untuk direaksikan
dengan NAD+ sebagai aseptor elektron melalui proses deaminasi oksidatif yang
menggunakan katalis berupa enzim glutamat dehidrogenase untuk melepaskan NH4+, H+ dan
membentuk asam ketoglutarat.
Asam glutamat + NAD+ ketoglutarat + NH4+ + NADH + H+

c. Siklus urea
Urea dalah suatu senyawa yang larut dalam air yang bersifat nontoksik sebagai
bentuk ekskresi nitrogen. Ini terjadi karena pada proses degradasi asam amino protein
menghasilakn limbah yang berupa ammonia yang bersifat racunadar tidak menimbulkan
racun maka gugus amino bereaksi dari tubuh dan menghasilkan urea. Urea di bentuk di hati.
Dalam pembentukan urea ini dinyatakan dalam tahapan siklus urea berikut.

Tahap pertama dalam pembentukan urea dalam tubuh dari reaksi antar gugus amino
dengan karbondiosida reksi ini melibatkan 2 ATP yang di ubah menjadi ADP dan selain
membutuhkan energy juga membutuhkan mg++ dan N-asetil-glutamat menghasilkan
karbamoilfosfat.
Tahap yang ke dua adalah karbamoilfosfat bereaksi dengan ornitin dan menghasilkan
sitrulin. Dalam reaksi inidi katalis oleh enzim ornitin karbamoil transferase.
Tahap yang ke tiga, pembentukan asam arginosuksinat dari reaksi antara sitrulin dan
asam asparat dengan katalisis arginosuksinat sintetase, padareaksi ini membutuhkan ATP
dan selanjutnya arginosuksinat diuraikan menjadi arginin dan asam fumarat dengan katalis
arginosuksinat.
Tahap yang ke empat, arginin yang di peroleh tersebut di uraikan dengan katalis
arginase melalui reaksi hidrolisis menghasilakan urea dan ornitin.Dan selanjutnya urea
tersebut di keluarkan dalam bentuk urine yang sebelumnya dip roses terlebih dahulu di
dalam ginjal.
Pembentukan urea umumnya terjadi pada mamalia dan termasuk manusia dan
organism lain, organism yang membuang amonianya melalui proses siklus urea disebut
ureotik. Dan di khususkan untuk hewan akuatik biasanya mengeluarkan ammonia
kelingkungan nya berupa perairan melalui kulit dan organism ini di sebut dengan amoniotik.
Sedangkan untuk hewan yang tinggal didarat proses pengekuaran nya berbentuk asam sitrat
dan organize ini di golongkan sebagai organisme urikotelik.
d. Sintesis Protein
Sintesis protein merupakan suatu reaksi senyawa kimia kompleks yang melibatkan
DNA dan RNA sebagai senyawa penting. Pada proses sintesis protein ini, DNA digunakan

sebagai bahan cetakan yang akan dicetak dan diterjemahkan oleh molekul RNA untuk
membentuk asam amino baru yang sesuai dengan sifat genetik yang dibawa oleh DNA.
Proses sintesis protein ini dapat terjadi, apabila DNA mengalami replikasi yang
artinya terjadi pembentukan molekul DNA dengan cara pemutusan ikatan hidrogen pada
masing-masing basa nitrogen yang saling berikatan membentuk heliks ganda dengan
bantuan enzim helikase. Setelah terjadi pemutusan ikatan hidrogen, rantai DNA akan
terbuka dan membentuk garpu replikasi dan selanjutnya enzim polimerase memulai proses
polimerisasi nukleotida menjadi untaian DNA. Selanjutnya, terjadi pencetakan kodon DNA
oleh mRNA yang masuk kedalam DNA untuk mencetak kodon DNA yang telah ada.
Selanjutnya mRNA keluar dari untaian DNA menuju ke ribosom untuk dilakukan
penerjemahan kodon yang dibawa oleh mRNA. Proses pencetakan kodon DNA tersebut
dinamakan transkripsi. Setelah kodon DNA telah dicetak, selanjutnya proses translasi
dimulai. Proses ini terjadi saat mRNA telah sampai pada sitoplasme dan menuju ke ribosom,
dan menempel pada sub unit besar pada ribosom dan selanjutnya tRNA bekerja untuk
menerjemahkan kodon yang dibawa oleh mRNA menjadi kodon dari asam amino. Dan
proses ini akan berhenti jika tRNA bertemu kodon UAG, UAA dan UGA.
1.5.4

Metabolisme Asam Nukleat


A. Katabolisme Asam Nukleat
a. Pemecahan Polinukleotida
b. Pemecahan Purin Menjadi asam urat
Apabila pada pemecahan polinukleotida masih terdapat purin pada jumlah berlebih,

purin tersebut akan dipecah. Pada adenosin terjadi deaminasi oleh enzim adenosin
deaminase menjadi inosin. Selanjutnya inosin mengalami residu ribosa yang dikeluarkan
oleh purin nukleotida fosforilase menjadi hipoxantin. Dan hipoxantin mengalami oksidasi
yang dibantu oleh enzimxantin oksidase untuk diubah menjadi xantin dan selanjutnya xantin
akan diubah menjadi asam urat oleh xantin oksidase. Dan ribosa-1-fosfat dari hasil residu
dapat mengalami isomerisasi ribosa-5-fosfat yang dapat digunakan pada jalur pentosa
fosfat.
Sedangkan pada guanosin juga mengalami residu ribosa yang dikeluarkan oleh purin
nukleotida fosforilase menjadi ribosa-1-fosfat yang hasilnya berupa guanin. Lalu, guanin
diubah mengalami deaminasi yang dilakukan oleh enzim guanase untuk diubah menjadi
xantin. Dan pada pengubahan xantin menjadi asam urat melalui proses yang sama pada
adenosin.
c. Pemecahan Pirimidin

Pada pemecahan pirimidin diawali dengan terjadinya deaminasi pada sitosin yang
dikatalisis oleh enzim sitosin deaminase menjadi urasil. Selanjutnya urasil mengalami
hidrolisis sehingga menjadi hidrourasil. Selanjutnya hidrourasil mengalami hidrolisis menjadi
alanin dan cincin pada senyawa ini dibuka dan terbentuk -ureidopropionat. alanin juga
dapat dikeluarkan dalam bentuk semialdehid malonat dan dioksidasi menjadi CO 2 dan NH4+
dan air. Dan tidak hanya sitosin yang dipecah, timidin juga mengalami pemecahan dengan
cara yang sama dengan membentuk -ureidoisobutirat dan membebaskan CO 2 dan NH4+.
Selanjutnya senyawa ini diekskresikan menjadi semialdehid metilmalonat sehingga terbentuk
-aminoisobutirat.
B. Anabolisme Asam Nukleat
a. Sintesis Nukleotida Purin
1. Sintesis PRPP
Langkah pertama dalam proses sintesis ini adalah reaksi antara ribosa-5-fosfat
dengan ATP yang menghasilakn 5-fosforibosil-1-pirofosfat (PRPP). Ribosa-5fosfat yang digunakan berasal dari jalur pentosa fosfat.
2. Sintesis IMP
Setelah terbentuk PRPP, PRPP bereaksi dengan glutamin dan membentuk 5fosforibosilamin dan membebaskan pirofosfat yang dikatalisis oleh PRPP
amidotransferase.selanjutnya 5-fosforibosilamin mengalami hidrolisis ATP karena
terjadinya pengikatan glisin yang bersifat irreversibel dan terbentuk glutamin.
Selanjutnya suatu gugus formil diberikan oleh N5, N10-metilidin tetrahidrofolat yang
diikuti pemindahan gugus amida dari glutamin ke gugus karboksil dari glisin.
Dalam reaksi ini dibutuhkan ATP. Selanjutnya terjadi pengikatan CO2 dan
terbentuk ribosa-5-fosfat. Kemudian diperlukan ATP untuk reaksi selanjutnya yaitu
penutupan cincin dengan membentuk gugus amida dan karboksil yang baru.
Selanjutnya senyawa baru ini dipecah dan membebaskan fumarat. Dan yang
terakhir ditambahkan 10-formil tetrahidrofolat ke cincin tadi dan terjadi proses
dehidrasi yang menyebabkan penutupan cincin dan terbentuk purin yaitu inosin
monofosfat (IMP)
3. Sintesis AMP
Mulai dari IMP, sintesis AMP dan GMP terpisah. Pada sintesis AMP, IMP bereaksi
dengan asam aspartat membentuk adenilsuksinat. Dan pada reaksi ini, GTP
dihidrolisis menjadi GDP. Dan selanjutnya fumarat dibebaskan, sehingga
terbentuk AMP.

4. Sintesis GMP
Pertama, IMP dioksidasi oleh NAD sehingga terbentuk xantin 5-fosfat. Kemudian
glutamin memberikan suatu gugus amino dan terbentuk GMP. Pada reaksi
pembentukan GMP, ATP dipecah menjadi AMP dan bukan menjadi ADP.
b. Sintesis Nukleotida Pirimidin
1. Sintesis Karbomil Fosfat
Karbamoilfosfat digunakan untuk sintesis nukleotida pirimidin berasal dari
glutamin dan bikarbonat, dalam sitosol, yang bertentangan dengan siklus
karbamoil fosfat urea berasal dari amonia dan bikarbonat dalam mitokondria.
Reaksi siklus urea dikatalisis oleh sintetase karbamoilfosfat I (CPS-I) sedangkan
prekursor nukleotida pirimidin disintesis oleh CPS-II. Karbamoilfosfat kemudian
kental dengan aspartat dalam reaksi dikatalisis oleh enzim yang membatasi laju
biosintesis nukleotida pirimidin, transcarbamoylase aspartate (ATCase).
2. Sintesis UMP
Karbomil fosfat dengan asam aspartat mengalami kondensasi yang dikatalisis
oleh aspartat transkarbamoilase dengan melepaskan fosfat. Selanjutnya reaksi ini
mengalami dehidrasi dan terbentuk dihidro-orotat. Kemudian terjadi oksidasi
dihidro-orotat oleh NAD yang menghasilkan orotat. Kemudian orotat bereaksi
dengan PRPP dan menghasilkan nukleotida pirimidin yang pertama, orotidin 5fosfat. Dan selanjutnya terjadi dekarboksilasi yang menghasilkan UMP.
3. Sintesis CTP
Untuk membentuk nukleotida sitidin, maka mula-mula UMP harus mengalami
fosforilasi membentuk UTP. Kemuidan UTP ini bereaksi dengan glutamin dan
terbentuk CTP (Schumm, 1993). Pada reaksi ini terjadi pemindahan gugus amido
dari glutamin yang lain dan diperlukan pemecahan ATP.
c. Sintesis DNA dan RNA
Sintesis DNA dan RNA memiliki kesamaan dengan sintesis protein. Pada sintesis
DNA dan RNA memiliki 3 tahapan yaitu replikasi, transkripsi dan translasi.
1.5.5

Transpor Elektron

Proses transpor elektron terjadi ketika semua siklus dalam metabolisme telah
selesai dan proses transpor elektron merupakan tahapan terkahir dari siklus metabolisme.
Tahap pertama pada siklus ini yaitu adanya fosforilasi oksidatif pada oksidasi NADH menjadi
NAD+ dan FADH2 dari siklus krebs. Pada oksidasi ini, melepaskan 2 e yang digunakan dalam
reduksi CoQH2 dan CoQH2 mengalami oksidasi menjadi CoQ dan melepaskan 2 elektron.
Lalu 2 elektron tersebut digunakan dalam reduksi sitokrom b dan selanjutnya sitokrom
mengalami oksidasi yang disertai pelepasan 2 elektron. Hal ini terus berlanjut sampai pada
oksidasi sitokrom a yang melepaskan 2 elektron yang digunakan dalam pembentukan H 2O.
Dan pada proses ini dihasilkan 3 ATP dari setiap proses oksidasi yang berasal dari NADH
dan 2 ATP dari FADH2. Hal ini dikarenakan 3 ATP dapat mengaktifkan NADH dehidrogenase
untuk terjadinya oksidasi dan 2 ATP digunakan untuk mengaktifkan oksidasi FADH2.

Daftar Pustaka
Poedjiadi, Anna.1994.Dasar-dasar Biokimia.Jakarta:UI Press.
Schumm, Dorothy E.1993.Intisari Biokimia.Jakarta:Binarupa Aksara.