Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak yang masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan
pengalaman traumatik pada anak, yakni ketakutan dan ketegangan atau stress hospitalisasi.
Stres ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya perpisahan dengan orang tua,
kehilangan kontrol dan perlakuan tubuh akibat tindakan invasif yang menimbulkan rasa
nyeri. Akibatnya pada anak akan menimbulkan berbagai reaksi seperti menolak makan,
menangis, teriak, memukul, menyepak, tidak kooperatif terhadap aktifitas sehari-hari serta
menolak tindakan keperawatan yang diberikan.
RSU Kab Tangerang merupakan rumah sakit rujukan yang memfasilitasi pemeriksaan
anak lebih modern dan beragam jenisnya juga merupakan penyebab stress bagi anak, orang
tua atau pengasuh anak yang mendampinginya untuk dilakukan pemeriksaan. Dalam hal ini
rumah sakit juga memfasilitasi dan berupaya ke arah positif sehingga anak merasa nyaman,
dapat beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit, begitu juga orang tua/pengasuh yang
mendampingi anak. Upaya yang dilakukan adalah meminimalkan pengaruh negatif dari
hospitalisasi yaitu melakukan kegiatan "Play Therapy Program". Manfaat Play Therapy
Program dalam penanganan anak yang dirawat di rumah sakit maka akan memudahkan anak
menyatakan rasa kecemasan dan ketakutan lewat permainan, mempercepat proses adaptasi di
rumah sakit, anak dapat berkumpul dengan teman sebayanya di rumah sakit sehingga tidak
merasa terisolir, anak mudah diajak bekerja sama dengan metode pendekatan proses
keperawatan di rumah sakit.
Karena pentingnya manfaat Play Therapy Program dalam penanganan anak sakit dan
perawat harus mampu melaksanakan hal ini maka rencana penerapan terapi bermain terhadap
anak usia sekolah berupa seni melipat kertas origami yang berfungsi untuk meningkatkan
perkembangan anak baik kognitif, afektif, motorik dan sosial anak yang dirawat di ruang
Kemuning atas RSU Kab Tangerang ini perlu segera dilaksanakan.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum:
Setelah mengikuti terapi bermain stress hospitalisasi pada anak berkurang sehingga
dapat mempercepat proses kesembuhan anak selain itu juga untuk mempertahankan
perkembangan anak.
b. Tujuan Khusus:
1. Meningkatkan perkembangan motorik halus anak usia pra sekolah
2. Melatih meningkatkan kognitif anak dalam pemilihan bentuk yang tepat dalam
melipat kertas origami
3. Dapat meningkatkan kemampuan sosial, afektif dan bahasa anak yaitu berinteraksi
sesama teman

BAB II
KONSEP TERAPI BERMAIN
2.1 Pengertian Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap anak, bahkan dikatakan anak
mengisi sebagian besar dari kehidupannya dengan bermain. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia (2003:697) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan bermain adalah berbuat
sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan alat tertentu atau tidak). Bermain adalah kegiatan
yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir,
bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau
kewajiban (Hurlock, 1991).
Para ahli mengatakan bahwa tidak mudah mendefinisikan pengertian bermain secara
tepat, dalam kehidupan sehari-hari anak membutuhkan pelepasan dari kekangan yang timbul
dari lingkungannya. Bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk mengungkapkan
emosinya secara wajar, bermain (play) merupakan istilah yang digunakan secara bebas,
sehingga arti utamanya mungkin hilang, arti yang paling tepat ialah : setiap kegiatan yang
dilakukan untuk kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir menurut Piaget (2010:138)
permainan sebagai suatu media yang meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak.
Permainan memungkinkan anak mempraktikan kompetensi-kompetensi dan keterampilanketerampilan

yang

diperlukan

dengan

cara

yang

santai

dan

menyenangkan.

Vigotsky (2010:138) menyatakan bahwa permainan adalah suatu seting yang sangat bagus
bagi perkembangan kognitif ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan hayalan
suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan
mengendarai tongkat seolah-olah itu seekor kuda.
2.2 Pengertian Origami
Ada beberapa pengertian origami. Menurut kamus websters Third New International
(seperti yang dikutip Isao Honda, 1965) origami merupakan seni melipat kertas dari
Jepang atau sesuatu (menampilkan bentuk dari burung, serangga, dan bunga) yang
dihasilkan dari seni melipat kertas.
Hira Karmachela (2008) berpendapat bahwa kata origami berasal dari bahasa Jepang
yakni dari kata oru yang berarti melipat dan kami berarti kertas. Ketika kedua kata
digabungkan ada sedikit perubahan namun tidak mengubah artinya, yakni dari kata kami
menjadi gami sehingga bukan orikami tetapi origami maksudnya adalah melipat kertas.

Sedangkan menurut Dr Sumanto, (2006) melipat atau origami adalah suatu teknik
berkarya seni/ kerajinan tangan yang umumnya dibuat dari bahan kertas dengan tujuan
untuk menghasilkan aneka bentuk main, hiasan, benda fungsional, alat peraga dan kreasi
lainnya.
2.3 Fungsi Bermain
Menurut Wong (1996), fungsi bermain bagi anak meliputi :
1. Perkembangan sensori motorik
Bermain penting untuk mengembangkan otot dan energi. Komponen yang paling
untuk semua umur terutama bayi. Anak mengekslorasi alam sekitarnya :
a. Bayi melalui stimulasi taktil ( sentuhan ), audio, visual.
b. Toddler dan prasekolah ; gerakan tubuh dan eksplorasi lingkungan
c. Sekolah dan remaja : Memodifikasi gerakan tubuh lebih terkoordinasi dan rumit.
Contoh berlari dan bersepeda.
2. Perkembangan Intelektual/ Kognitif
Anak belajar berhubungan dengan lingkungannya, belajar mengenal objek dan
bagaimana menggunakannya. Anak belajar berpikir abstrak dapat meningkatkan
kemampuan bahasa, dapat mengatasi masalah dan menolong anak membandingkan antara
fantasi dan realita.
3. Sosialisasi
Dengan bermain akan mengembangkan dan memperluas sosialisasi anak sehingga
anak cepat mengatasi persoalan yang akan timbul dalam hubungan sosial. Dengan
sosialisasi akan berkembang nilai-nilai normal dan etik. Anak belajar yang benar dan
salah serta bertanggung jawab atas kehendaknya.
a. Bayi : perhatian dan rasa senangnya akan kehadiran orang lain dimana kontak sosial
pertama anak adalah figur ibu.
b. Sampai usia 1 tahun : bayi memeriksa bayi lain, memeriksa objek di lingkungan.
c. Usia 23 tahun : permainan pura-pura dengan ibu dan anak, dokter dan pasien,
penjual dan pembeli. Kemudian meluas teman sementara dan teman permainannya.
d. Usia prasekolah : sadar akan keberadaan teman sebaya, mengidentifikasi ciri yang ada
pada setiap bermainnya.
e. Usia sekolah : teman 1 atau 2 orang yang disukai, belajar memberi dan menerima,
belajar peran benar atau salah, nilai moral dan etik, mulai memahami tanggung jawab
dari tindakannya.

4. Kreativitas
Melalui bermain anak menjadi kreatif, anak mencoba ide-ide baru dalam bermain.
Kalau anak merasa puas dari kreativitas baru, maka anak akan mencoba pada situasi yang
lain.
5. Nilai terapeutik
Untuk melepaskan stress dan ketegangan.
6. Kesadaran diri
Anak akan sadar akan kemampuan dan kelemahannya serta tingkah lakunya.
7. Nilai Moral
Belajar salah/benar dari kultur, rumah, sekolah dan interaksi. Contoh bila ingin
diterima sebagai anggota kelompok, anak harus mematuhi kode perilaku yang diterima
secara kultur, adil, jujur, kendali diri dan mempertimbangkan kepentingan orang lain.
2.4 Tujuan Bermain
Melalui fungsi yang terurai diatas, pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan sebagai
berikut :
1. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit anak
mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Walaupun demikian,
selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya.
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah sakit.
2.5 Ciri Bermain
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et al; Garvev; Rubin, Fein dan
Vandenberg (Johnson et al, 1999) diungkapkan adanya beberapa ciri bermain yaitu :
1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksud muncul atas keinginan pribadi serta
untuk kepentingan sendiri.
2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi
yang positif.
3. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir.
5. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain

pada anak-anak kecil.


2.6 Klasifikasi Bermain
1. Menurut isi permainan
1) Social Affektif Play, permainan yang membuat anak belajar berhubungan dengan
orang lain. Contoh : orang tua berbicara, memeluk, bersenandung, anak memberi
respon dengan tersenyum, mendengkur, tertawa, beraktivitas, dll.
2) Sense Pleasure Play (bermain untuk bersenang-senang), contoh : Obyek, cahaya,
bau, rasa, benda alam dan gerakan tubuh.
3) Skill Play, bermain yang sifatnya membina keterampilan Misalnya berulangkali
melakukan dan melatih kemampuan yang baru didapat, Contoh naik sepeda.
4) Dramatik Role Play/bermain Dramatik/ Simbolik, dimulai pada akhir masa bayi
11-13 bulan. Contoh : berpura-pura melakukan kegiatan keluarga seperti makan,
minum dan tidur. Usia Toddler kegiatan berupa hal-hal yang lebih dikenalnya.
Usia Prasekolah kegiatan sehari-hari tetapi lebih rumit.
5) Permainan game, contoh Puzzle, komputer games dan video.
2. Menurut Karakteristik Sosial
1) Onlooker Play/mengamati, anak melihat apa yang dilakukan anak lain tetapi tidak
ada usaha untuk ikut bermain. Contoh : menonton televisi
2) Solitary/mandiri, anak bermain sendiri. Menyukai kehadiran orang lain tapi tidak
ada usaha untuk mendekat atau berbicara. Hanya terpusat pada aktivitas/
permainanya sendiri.
3) ParalelPlay, bermain sendiri di tengah anak lain, tidak ada asosiasi kelompok.
Ciri bermain anak Toddler.
4) Asosiasi Play, bermain dan beraktifitas serupa bersama, tetapi tidak ada
pembagian kerja, pemimpin/ tujuan bersama, Anak interaksi dengan saling
meminjam alat permainan. Ciri Anak Prasekolah
5) Cooperatif Play, bermain dalam kelompok, ada perasaan kebersamaan/
sebaliknya, terbentuk hubungan pemimpin dan pengikut. Ada tujuan yang
ditetapkan dan ingin dicapai.
3. Menurut Usia Anak Pra Sekolah
Anak usia sekolah (4 tahun - 6 tahun)
-

Usia 4 Tahun

Motorik Kasar : Berjalan berjinjit, melompat dengan satu kaki, menangkap bola dan
melemparkannya dari atas kepala
Motorik Halus : Sudah bisa menggunakan gunting dengan lancar, sudah bisa
menggambar kotak, menggambar garis vertical maupun horizontal, belajar membuka
dan memasang kancing baju.
-

Usia 5 tahun
Motorik Kasar : Berjalan mundur sambil berjinjit, sudah dapat menangkap dan
melempar bola dengan baik, sudah dapat melompat dengan kaki secara bergantian.
Motorik Halus : Menulis dengan angka angka, menulis dengan huruf, menulis
dengan kata kata, belajar menulis nama, belajar mengikat tali sepatu.
Sosial Emosional

: Bermain sendiri mulai berkurang, sering berkumpul dengan

teman sebaya, interaksi sosial selama bermain meningkat, sudah siap untuk
menggunakan alat alat bermain.
Pertumbumbuhan Fisik :Berat badan meningkat 2,5 kg/ tahun, tinggi badan meningkat
6,75 7,5 cm/ tahun.
Perkembangan Psikososial Anak
Teori mengenai perkembangan psikososial dikemukakan oleh Erick Ericson
(1963). Tahapan perkembangan pada anak prasekolah menurut Erikson adalah :
Inisiatif versus rasa bersalah (Umur 3-6 tahun)
Tahap ini anak mulai belajar untuk mengendalikan diri dan memanipulasi
lingkungan. Rasa inisiatif mulai menguasai anak, anak sudah mulai diikutsertakan
sebagai individu atau membantu orang tua dan lingkungan. Suatu contoh; anak ikut
serta merapikan tempat tidur, bagi anak wanita bisa membantu ibu di dapur. Dalam
hal ini anak sudah mulai memperluas lingkup pergaulannya. Ia menjadi aktif di luar
rumah, kemampuan berbahasa semakin meningkat. Hubungan dengan teman sebaya
dan saudara cenderung untuk selalu menang sendiri.
Disini peran seorang ayah sudah mulai berjalan, harus ada hubungan yang
harmonis antara ayah, ibu dan anak yang tujuan akhirnya adalah untuk memantapkan
identitas diri anak. Orang tua dapat melatih diri anak untuk mengintegrasikan peran
peran sosial dan tanggung jawab sosial. Pada tahap ini pula kadang kadang anak
tidak dapat mencapai tujuan atau kegiatan yang lebih disebabkan karena keterbatasan
kemampuannya. Akan tetapi jika ada tuntutan lingkungan, semisal dari orang tua
sendiri ataupun orang lain yang terlalu tinggi, maka akan dapat mengakibatkan anak

merasa aktivitasnya/ imajinasinya buruk dan tahap berikutnya anak akan merasa
kecewa dan bersalah.
Tahap psikoseksual menurut Sigmund Freud
Fase Phalic ( umur 3-6 tahun)
Fase ini anak akan senang memegang genetalia, kecendrungan anak
akan dekat dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin. Misalnya nak laki laki
lebih dekat dengan ibunya, sedangkan anak perempuan akan lebih dekat dengan
ayahnya. Selai itu juga anak mempunyai rasa persaingan yang ketat dengan orang tua
yang sesama jenis kelamin. Misalnya anak laki laki merasa tersaingi oleh ayahnya
untuk memperebutkan kasih sayang dari ibunya. Demikian pula dengan anak
perempuan, dia akan merasa tersaingi oleh ibunya untuk mendapatkan kasih sayang
dari ayahnya, sehingga jangan heran jika anak perempuan sering bergelanyut di
pangkuan ayahnya daripada digendong ibunya. Sifat egosentris yang tinggi pada anak
dan interaksi sosial sudah mulai tumbuh
2.7 Faktor faktor yang Mempengaruhi Bermain
1. Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Tentunya permainan anak usia bayi tidak lagi
efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Demikian juga
sebaliknya karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Dengan demikian, orang tua dan perawat harus mengetahui dan
memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan
perkembangan anak.
2. Status kesehatan anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi, walaupun demikian, bukan
berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit. Kebutuhan bermain pada
anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa. Yang penting pada
saat kondisi anak sedang menurun atau anak terkena sakit, bahkan dirawat di rumah
sakit, orang tua dan perawat harus jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan
anak sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di rumah sakit.

3. Jenis Kelamin
Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak membedakan jenis kelamin laki-laki
atau perempuan. Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau
perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas dan kemampuan
sosial anak. Akan tetapi, ada pendapat lain yang meyakini bahwa permainan adalah
salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri sehingga sebagian alat
permainan anak perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki. Hal
ini di latarbelakangi oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara lakilaki dan perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan.
4. Lingkungan yang mendukung
Terselenggaranya aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan anak salah
satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya dan lingkungan fisik rumah. Fasilitas
bermain tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi, tetapi lebih
diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak, bahkan sering
kali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari/atau berasal dari benda-benda di
sekitar kehidupan anak akan lebih merangsang anak untuk kreatif, keyakinan keluarga
tentang moral dan budaya juga mempengaruhi bagaimana anak di didik melalui
permainan. Sementara lingkungan fisik sekitar lebih banyak mempengaruhi ruang
gerak anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik. Lingkungan rumah yang
cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang gerak untuk
bermain, berjalan, mondar-mandir, berlari, melompat dan bermain dengan teman
sekelompoknya.
5. Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai bagi anak
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak. Pilih yang
sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Label yang tertera pada mainan harus
dibaca terlebih dahulu sebelum membelinya, apakah mainan tersebut sesuai dengan
usia anak. Alat permainan tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi,
tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak,
bahkan seringkali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari atau berasal dari bendabenda di sekitar kehidupan anak, akan lebih merangsang anak untuk kreatif. Alat
permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi, akan manegajarkan anak
untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat gerak. Permainan
membantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenal norma dan aturan
serta interaksi sosial dengan orang lain.

2.8 Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan Anak


1) Tradisi
a. Setiap generasi meniru permainan generasi sebelumnya
b. Bentuk permainan yang memuaskan akan dilanjutkan
c. Tergantung dari perubahan musim
2) Bermain mengikuti pola perkembangan yang dapat diramalkan. Usia bertambah,
penggunaan material lebih bermakna, misalnya balok.
3) Waktu dan usia
a. Ragam kegiatan bermain berkurang dengan tambahnya usia
b. Waktu berkurang sesuai usia
c. Aktifitas fisik berkurang
d. Waktu untuk aktifitas spesifik meningkat
e. Perhatian menyempit tetapi lebih lama
f. Jumlah dan usia teman ( lebih sedikit dan spesifik )
2.9 Prinsip Permainan pada Anak di Rumah Sakit
1. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada
anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang dapat dilakukan
di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat
bermain khusus yang ada di ruangan rawat.
2. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana
3. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak
4. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
5. Melibatkan orang tua
2.10

Keuntungan Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit

1. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat


2. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas
bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak,
tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut,
sedih tegang dan nyeri.
4. Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk
mempunyai tingkah laku yang positif

BAB III
TERAPI BERMAIN MELIPAT KERTAS (ORIGAMI) UNTUK ANAK USIA
SEKOLAH DASAR (6-10 tahun)

3.1 Deskripsi
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan
tanpa mempertimbangkan hasil akhir, bermain dilakukan secara sukarela dan tidak
ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.
3.2 Manfaat
1. Melalui bermain anak anak menjadi kreatif, anak mencoba ide-ide baru dalam
bermain meilpat kertas (origami) sesuai dengan imajinasinya
2. Dapat digunakan sebagai terapi permainan kreatif yang merupakan metode
penyuluhan kesehatan untuk merubah perilaku anak selama di rawat di rumah
sakit
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah
3.3 Rencana Kegiatan
1. Pengorganisasian
a. Susunan perawat pelaksana terapi bermain sebagai berikut
Leader

: Imam Aditya

Co. Leader

: Intan Puspitasari

Fasilitator

: Ratih Novita Sari


Wulandari

Observer

: Violita Puspitasari

2. Persiapan Klien
a. Proses seleksi
Berdasarkan observasi
Informasi dari perawat ruangan
Hasil diskusi kelompok
b. Kriteria klien
Anak dengan usia sekolah dasar (6-10 tahun)
Anak kooperatif

Anak dengan komunikasi verbal yang baik


Anak yang tidak ada kontra indikasi untuk bermain
3. Persiapan Alat
Kertas Origami
4. Setting tempat

Leader
Co. leader
Fasilitator
Observer
Klien

Pembagian Tugas
1. Leader

Menyiapkan proposal kegiatan terapi bermain


Menyampaikan tujuan dan menjelaskan permainan
Mampu memimpin terapi aktifitas kelompok dengan baik dan tertib
Menetralisis bila ada masalah yang timbul dalam kelompok
Mampu memotivasi anak untuk melipat kertas (origami)
2. Co. leader
Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas
klien
Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
3. Fasilitator
Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung
Memotivasi anak untuk bisa melipat kertas (origami) sesuai keinginannya
Membantu leader memfasilitasi anak untuk berperan aktif dan

memfasilitasi anggota kelompok


Mencegah gangguan/ hambatan terhadap kegiatan baik dari dalam maupun

dari luar
5. Observer
Mengobserver jalannya kegiatan
Mencatat dan mengamati :
Jumlah anak yang berpartisipasi
Anak yang aktif
Anak yang mampu menyelesaikan melipat kertas (origami) sesuai
kemampuannya sendiri tanpa bantuan orang lain
Anak yang dapat menyelesaikan melipat kertas (origami) dengan
tercepat
6. Waktu dan Tempat
Hari/ Tanggal
Jam
Tempat

:Selasa, 22 Desember 2015


:11.00-12.00
: Ruang Kemuning Atas

7. Rencana Kegiatan
No Tahap
1
Pembukaan

Waktu
5 menit

Kegiatan
Media
Memberikan salam
Melakukan
kontrak
kegiatan
Mrenjelaskan

Pelaksanaan

20 menit

tujuan

kegiatan
Menanyakan apakah anak Kertas
pernah bermain melipat origami

kertas

(origami)

sebelumnya?
Menjelaskan

aturan

bermain
Membimbing anak untuk
membuat kreasi melipat
3

Penutup

5 menit

kertas (origami)
Mengevaluasi

respon

klien
Memberikan
reinforcement positif
Member salam penutup

8. Perkiraan Hambatan
Jadwal terapi bermain yang kurang sesuai (lebih lambat/ lebih cepat dari
yang dijadwalkan)
Anak rewel atau ingin keluar dari terapi bermain

9. Antisipasi Hambatan Masalah


Jadwal terapi bermain disesuaikan (tidak pada waktu terapi)
Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak selama
program terapi
BAB IV
PENUTUP

Sekian proposal kegiatan terapi bermain ini dengan harapan mendapat tanggapan
positif dari semua pihak yang bersangkutan. Semoga kegiatan ini dapat bertujuan dengan
baik dan lancer sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Tangerang, 22 Desember 2015

Ketua

Sekretatis

Violita Puspitasari

Ratih Novita Sari

Menyetujui,

CI Akademik Kep. Anak

CI Lahan Kep. Anak

Ns. Ria Setia Sari, S. Kep

Rianti S.Kep. Ners