Anda di halaman 1dari 33

Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

an
lik
be
al
rju
M A T E M A T I K A
pe

PROGRAM STUDI IPA


di
k
da
Ti
Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

KATA PENGANTAR

Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003, tanggal 14 Oktober 2003,


tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004, antara lain menetapkan bahwa dalam
pelaksanaan ujian akhir nasional ada mata pelajaran yang naskah soalnya disiapkan oleh pusat
dan ada mata pelajaran yang naskah soalnya disiapkan oleh sekolah. Mata pelajaran yang naskah
soalnya disiapkan oleh pusat untuk SMA dan MA adalah (1) Program IPA mata pelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika; (2) Program IPS mata pelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ekonomi; (3) program Bahasa mata pelajaran

an
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya (Bahasa Arab, Bahasa Jepang,
Bahasa Jerman, Bahasa Prancis atau Bahasa Mandarin).

lik
Berkaitan dengan hal tersebut, Pusat Penilaian Pendidikan menyiapkan buku panduan
materi untuk mata pelajaran-mata pelajaran yang naskah soalnya disiapkan oleh pusat. Buku ini
memuat uraian tentang hal-hal sebagai berikut.

be
1. Gambaran umum.
2. Standar kompetensi lulusan.
3. Ruang lingkup, ringkasan materi, beserta latihan dan pembahasannya.
al
Buku panduan materi ujian ini dimaksudkan untuk memberi arah kepada guru dan siswa
rju
tentang materi yang akan diujikan berkaitan dengan berbagai kompetensi lulusan dalam mata
pelajaran-mata pelajaran tersebut. Dengan adanya buku panduan materi ujian ini, diharapkan
para guru dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang lebih terarah, dan para siswa dapat
belajar lebih terarah pula. Dengan demikian, diharapkan para siswa dapat mencapai hasil ujian
pe

yang sebaik mungkin.

Semoga buku ini bermanfaat bagi berbagai pihak dalam rangka meningkatkan mutu
di

proses dan hasil belajar siswa.


k

Jakarta, Desember 2003


da

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan,


Ti

Bahrul Hayat, Ph.D.


NIP 131602652

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan i


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar ........................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................... ii
Gambaran Umum....................................................................................................... 1
Standar Kompetensi Lulusan ..................................................................................... 2

an
Ruang Lingkup dan Ringkasan Materi ...................................................................... 3
• Kompetensi 1 ................................................................................................. 3

lik
• Kompetensi 2 ................................................................................................. 31

• Kompetensi 3 ................................................................................................. 37

be
• Kompetensi 4 ................................................................................................. 44


al
Kompetensi 5 .................................................................................................

Kompetensi 6 .................................................................................................
50

57
rju
• Kompetensi 7 ................................................................................................. 77
pe
di
k
da
Ti

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan ii


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

GAMBARAN UMUM

• Pada ujian nasional tahun pelajaran 2003/2004, bentuk tes Matematika

an
tingkat SMA/MA berupa tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda,
sebanyak 40 soal dengan alokasi waktu 120 menit.

lik
• Acuan yang digunakan dalam menyusun tes ujian nasional adalah
kurikulum 1994 beserta suplemennya, dan standar kompetensi lulusan.

be
• Materi yang diujikan untuk mengukur kompetensi tersebut meliputi:
persamaan dan fungsi kuadrat; fungsi komposisi dan invers; suku
al
banyak; sistem persamaan linear dan program linear; matriks; notasi
rju
sigma; barisan dan deret bilangan; eksponen dan logaritma; bangun
ruang; ukuran pemusatan; ukuran penyebaran; peluang; fungsi
trigonometri; persamaan dan pertidaksamaan trigonometri; logika
pe

matematika; lingkaran; ellips; parabola; hiperbola; transformasi; vektor;


limit; diferensial, dan integral.
di
k
da
Ti

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 1


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Standar Kompetensi Lulusan

1. Siswa mampu memahami konsep dan operasi hitung pada bentuk aljabar,
persamaan, pertidaksamaan, fungsi, sistem persamaan linear dan program linear,
barisan dan deret bilangan, matriks, dan suku banyak, serta mampu
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Siswa mampu memahami konsep kedudukan titik, garis, bidang, jarak, dan sudut

an
pada bangun ruang, serta mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
3. Siswa mampu mengolah, menyajikan, menafsirkan data, dan mampu menggunakan
kaidah pencacahan untuk menentukan nilai peluang kejadian, serta mampu

lik
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Siswa mampu memahami konsep perbandingan dan fungsi trigonometri, serta
mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.

be
5. Siswa mampu memahami konsep logika matematika untuk penarikan kesimpulan
dan pemecahan masalah.
6. Siswa mampu memahami konsep irisan kerucut, transformasi, dan vektor, serta
mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
al
7. Siswa mampu memahami konsep limit, diferensial, dan hitung integral, serta mampu
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
rju
pe
di
k
da
Ti

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 2


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

RUANG LINGKUP DAN RINGKASAN MATERI

KOMPETENSI 1

an
Siswa mampu memahami konsep dan operasi hitung pada bentuk aljabar,
persamaan, pertidaksamaan, fungsi, sistem persamaan linear dan program linear,
barisan dan deret bilangan, matriks, dan suku banyak, serta mampu
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

lik
Ruang Lingkup

be
I. 1. Logaritma, persamaan eksponen, persamaan logaritma, fungsi eksponen, fungsi
logaritma, dan fungsi rasional.

al
I. 2. Persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat.
I. 3. Fungsi kuadrat, komposisi fungsi dan fungsi invers.
I. 4. Sistem persamaan linear.
rju
I. 5. Program linear.
I. 6. Notasi sigma, barisan bilangan dan deret.
I. 7. Matriks.
I. 8. Suku banyak.
pe

Ringkasan Materi
di

I. 1. Logaritma, persamaan eksponen, persamaan logaritma, fungsi eksponen,


fungsi logaritma dan fungsi rasional.
k

A. Sifat-sifat eksponen
da

p
p q p+q a ap
1. a × a = a 5.   = p
b b
2. a p : a q = a p − q 6. a0 = 1
Ti

q 1
3.  a p  = a p .q 7. a -p =
  ap
p
q p
4. (a.b ) p
= a p .b p 8. a = aq

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 3


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

B. Sifat-sifat logaritma
1. a log b + a log c = a log bc
b
2. a log b − a log c = a log
c
a n a
3. log b = n log b
4. a log b × b log c = a log c
c log b
a
5. log b =

an
c log a

C. Bentuk persamaan eksponen

lik
1. Jika a f ( x ) = 1 maka f (x ) = 0
2. Jika a f ( x ) = a p maka f (x ) = p
3. Jika a f ( x ) = a g ( x ) maka f (x ) = g ( x )

be
4. Persamaan eksponen yang dapat dikembalikan ke persamaan kuadrat.

D. Pertidaksamaan eksponen
1. Untuk 0 < a < 1 al
a. Jika a f ( x ) ≥ a g ( x ) maka f (x ) ≤ g ( x )
rju
b. Jika a f ( x ) ≤ a g ( x ) maka f (x ) ≥ g ( x )
2. Untuk a > 1
a. Jika a f ( x ) ≥ a g ( x ) maka f (x ) ≥ g ( x )
pe

b. Jika a f ( x ) ≤ a g ( x ) maka f (x ) ≤ g ( x )
di

E. Bentuk persamaan logaritma


1. Jika a log f ( x ) = a log p maka f ( x ) = p
2. Jika a log f ( x ) = a log g ( x ) maka f ( x ) = g ( x )
k

dengan syarat : f ( x ) > 0 dan g (x ) > 0


da

3. Persamaan logaritma yang dapat dikembalikan ke persamaan kuadrat.

F. Pertidaksamaan logaritma
Ti

1. Untuk 0 < a < 1


a. Jika a log f ( x ) ≥ a log g ( x ) maka f (x ) ≤ g ( x )
b. Jika a log f ( x ) ≤ a log g ( x ) maka f (x ) ≥ g ( x )
2. Untuk a > 1
a. Jika a log f ( x ) ≥ a log g ( x ) maka f (x ) ≥ g ( x )
b. Jika a log f ( x ) ≤ a log g( x ) maka f (x ) ≤ g ( x )
dengan syarat : f ( x ) > 0 dan g ( x ) > 0

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 4


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Latihan dan Pembahasan

1. Nilai x yang memenuhi persamaan 4 x + 3 =


4 x +5
8 adalah …
9 2 9
a. − c. e.
5 5 5
2 4
b. − d. (Ebtanas 2000)

an
5 5

Pembahasan :
4 x + 3 = 8 x +5
4

lik
x +5
( )
2 2 x+3
= 2 ( )
3 4

be
3x + 15
2x + 6 =
4
5x = −9
x = −
9
5
al
rju
Kunci : A

2. Himpunan penyelesaian 2 log( x 2 − 3 x + 2) < 2 log(10 − x) , x ∈ R , adalah…


pe

a. { x / − 2 < x < 1 atau 2 < x < 4 }


b. { x / x < 1 atau x > 2 }
c. { x / − 2 < x < 4 }
di

d. { x / x > 10 }
e. { } (Ebtanas 2002)
k

Pembahasan : syarat :
2log( x 2 − 3 x + 2 ) < 2log( 10 − x ) ⊗ x 2 − 3x + 2 > 0
da

x 2 − 3 x + 2 < 10 − x (x − 2) (x − 1) > 0
x 2 − 2x − 8 < 0 x < 1 atau x > 2
Ti

(x − 4) (x + 2) < 0 ⊗ 10 − x > 0
−2< x< 4 x < 10

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 5


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

−2< x< 4
x < 1 atau x > 2 -2 4
x < 10
1 2

10
− 2 < x < 1 atau 2 < x < 4

an
Kunci : A

lik
2
3. Nilai x yang memenuhi 3 x − 3x + 4 < 9 x −1 adalah …
a. 1 < x < 2 c. − 3 < x < 2 e. − 1 < x < 2

be
b. 2 < x < 3 d. − 2 < x < 3
(UAN 2003)
Pembahasan :
2
3 x − 3 x + 4 < 9 x −1
2
3 x − 3 x + 4 < 3 2(x − 1)
al
rju
x 2 − 3x + 4 < 2 x − 2
x 2 − 5x + 6 < 0
(x − 2)(x − 3) < 0
pe

2< x<3

Kunci : B
di

2
4. Jika x1 dan x 2 adalah akar-akar persamaan :  3log x  − 3.3 log x + 2 = 0 ,
 
maka x1 . x 2 = ….
k

a. 2 c. 8 e. 27
da

b. 3 d. 24
(UAN 2003)
2
Pembahasan :  3log x  − 3.3 log x + 2 = 0
Ti

 
 3log x − 2  3 log x − 1 = 0
  
3log x = 2 atau 3log x = 1
x = 9 atau x = 3
x1 . x 2 = 9 . 3 = 27

Kunci : E

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 6


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

I. 2. Persamaan dan Pertidaksamaan kuadrat.

A. Persamaan Kuadrat
1. Bentuk Umum : ax 2 + bx + c = 0 , a ,b dan c ∈ R dan a ≠ 0
2. Menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan cara
a. memfaktorkan
b. melengkapi kuadrat sempurna
− b ± b 2 − 4ac
c. menggunakan rumus ABC : x1.2 =

an
2a
3. Jenis-jenis akar persamaan kuadrat :
ax 2 + bx + c = 0 mempunyai : akar real berlainan jika D > 0

lik
akar real sama jika D = 0
akar tidak real jika D < 0
D adalah diskriminan ax 2 + bx + c = 0 , D = b 2 − 4ac

be
4. Rumus jumlah dan hasil kali akar-akar persamaan kuadrat :
Akar-akar persamaan ax 2 + bx + c = 0 adalah x dan x .1 2
b c
x1 + x 2 = −
a al
dan x1 . x 2 =
a
5. Menyusun persamaan kuadrat yang diketahui akar-akarnya dengan cara :
rju
a. perkalian faktor : (x − x1 ) (x − x 2 ) = 0
b. menggunakan rumus jumlah dan hasil kali akar-akar tersebut :
x 2 − (x + x )x + x .x = 0
1 2 1 2
pe

6. Menyusun persamaan kuadrat baru jika akar-akarnya diketahui


mempunyai hubungan dengan akar-akar persamaan kuadrat yang
diketahui.
di

B. Pertidaksamaan Kuadrat
1. Bentuk Umum : ax 2 + bx + c < 0 , bisa juga menggunakan tanda >, ≤
k

atau ≥ , a ,b dan c ∈ R , a ≠ 0
2. Menyelesaikan pertidak samaan kuadrat dengan menggunakan garis
da

bilangan atau grafik fungsi kuadrat.


3. Pemakaian diskriminan persamaan kuadrat .
Menentukan koefisien persamaan kuadrat yang akarnya memenuhi sifat
Ti

tertentu.
misal : akar real, akar tidak real, akar berkebalikan, dsb.

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 7


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Latihan dan Pembahasan

1. Jika x1 dan x 2 akar-akar persamaan x 2 + px + 1 = 0 , maka persamaan kuadrat


2 2
yang akar-akarnya + dan x1 + x 2 adalah ….
x1 x 2
a. x 2 − 2 p 2 x + 3 = 0 d. x 2 − 3 px + p 2 = 0
b. x 2 + 2 px + 3 p 2 = 0 x2 + p2x + p = 0

an
e.
c. x 2 + 3 px + 2 p 2 = 0
(Ebtanas 2001)

lik
Pembahasan :
Misal akar-akar persamaan kuadrat baru adalah α dan β .
2 2 2( x1 + x 2 )
α= + = − 2 p dan β = x1 + x 2 = − p

be
=
x1 x 2 x1 x 2
Jadi persamaan kuadrat baru : (x − α )( x − β) = 0
(x − (− 2 p ))(x − (− p )) = 0
al (x + 2 p )(x + p ) = 0
x 2 + 3 px + 2 p 2 = 0
rju
Kunci : C
pe

2. Jika x1 dan x 2 adalah akar-akar persamaan kuadrat x 2 + x − p = 0 , p konstanta


x x
positif, maka 1 + 2 = ….
di

x 2 x1
1 1 1
a. − 2 − c. 2 − e. 2 +
p p p
k

1 1
b. −2 d.
p p
da

(Ebtanas 2001)
Pembahasan :
x12 + x 2 2 (x1 + x 2 )2 − 2 x1 x 2 1 + 2 p
Ti

x1 x 2
+ = = =
x 2 x1 x1 x 2 x1 x 2 −p
1
= − −2
p

Kunci : A

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 8


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

3. Persamaan kuadrat x 2 + (m − 2 )x + 9 = 0 mempunyai akar-akar nyata. Nilai m


yang memenuhi adalah ….
a. m ≤ −4 atau m ≥ 8 c. m ≤ −4 atau m ≥ 10 e. − 8 ≤ m ≤ 4
b. m ≤ −8 atau m ≥ 4 d. − 4 ≤ m ≤ 8
(Ebtanas 2002)
Pembahasan :
Persamaan kuadrat mempunyai akar-akar nyata D ≥ 0
b 2 − 4ac ≥ 0

an
(m − 2)2 − 4.1.9 ≥ 0
m 2 − 4m + 4 − 36 ≥ 0
-4 8
m 2 − 4m − 32 ≥ 0

lik
(m − 8)(m + 4) ≥ 0
m ≤ −4 atau m ≥ 8

be
Kunci : A

4. Persamaan x 2 (1 − m ) + x(8 − 2m ) + 12 = 0 mempunyai akar kembar, maka nilai


m = ….
a. − 2 c. 0
al e. 2
rju
3 3
b. − d.
2 2
(UAN 2003)
pe

Pembahasan :
Persamaan kuadrat mempunyai akar kembar :
D=0
di

b 2 − 4ac = 0
(8 − 2m )2 − 4(1 − m ) .12 = 0 m 2 + 4m + 4 = 0
64 − 32m + 4m 2 − 48 + 48m = 0 (m + 2)2 = 0
k

4m 2 + 16m + 16 = 0 m = −2
da

Kunci : A
Ti

I. 3. Fungsi kuadrat, Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers.


A. Fungsi Kuadrat
1. Bentuk Umum : f ( x ) = ax 2 + bx + c , a , b dan c ∈ R dan a ≠ 0
2. Grafik fungsi kuadrat disebut parabola, dengan persamaan :
y = ax 2 + bx + c

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 9


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

D
3. Nilai maksimum atau nilai minimum y = ax 2 + bx + c adalah y = −
4a
b
untuk x = −
2a
4. Persamaan fungsi kuadrat yang grafiknya :
a. mempunyai titik balik maksimum/minimum ( p , q )
adalah y = f (x ) = α( x − p )2 + q
b. memotong sumbu x di (x1 ,0) dan (x 2 ,0)

an
adalah y = f (x ) = α( x − x1 )( x − x 2 )

B. Komposisi Fungsi :

lik
1. Komposisi fungsi adalah pemetaan dua fungsi (lebih) secara berturutan.
2. Notasi Komposisi Fungsi :
A B C
f g

be
x ∈ A , y ∈ B , dan z ∈ C
f ( x ) = y , g ( y ) = z dan h( x ) = z
x y z
h( x ) = g ( f ( x )) = ( g o f )( x )
h al
g o f ( x ) = komposisi fungsi f dilanjutkan dengan fungsi g.
rju
3. Sifat Komposisi Fungsi :
f og ≠ go f
f o I = I o f = f , I adalah fungsi identitas
pe

( f o g ) o h = f o (g o h )
C. Fungsi Invers
di

A B
f x ∈ A dan y ∈ B
f ( x ) = y , f −1 ( y ) = x
k

x y
f -1 f −1 adalah fungsi invers dari f.
da

Fungsi f mempunyai fungsi invers jika f korespondensi satu-satu.


Sifat Fungsi Invers :
Ti

1. f o f −1 = f −1 o f = I
2. (g o f )−1 = f −1 o g −1

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 10


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Latihan dan Pembahasan

1. Suatu fungsi kuadrat mempunyai nilai minimum − 2 untuk x = 3 dan untuk


x = 0 nilai fungsi itu 16. Fungsi kuadrat itu adalah ....
a. f ( x ) = x 2 + 6 x + 8 d. f ( x ) = 2 x 2 − 12 x + 16
b. f (x ) = x 2 − 6 x + 8 e. f ( x ) = 2 x 2 − 12 x − 16
c. f ( x ) = 2 x 2 + 12 x + 16

an
(Ebtanas 2002)
Pembahasan :
Fungsi kuadrat dengan nilai minimum − 2 untuk x = 3

lik
adalah f ( x ) = α( x − 3)2 − 2
f (0) = 16 f (0) = α(0 − 3)2 − 2 = 16

be
9α = 18
α=2
∴Fungsi kuadrat f (x ) = 2(x − 3)2 − 2

Kunci : D
al
f ( x ) = 2 x 2 − 12 x + 16
rju
2. Nilai maksimum dari fungsi f ( x ) = −2 x 2 + (k + 5)x + 1 − 2k adalah 5.
Nilai k yang positif adalah…
pe

a. 1 c. 7 e. 9
b. 5 d. 8
(UAN 2003)
di

Pembahasan :
 b 2 − 4ac 
−D
Nilai maksimum adalah y = = − 
k

4a 4a
f ( x ) = −2 x 2 + (k + 5)x + 1 − 2k
da
Ti

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 11


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

 b 2 − 4ac 
Nilai maksimum : y = −   =5
4a
(k + 5)2 − 4(− 2)(1 − 2k )
 
− =5
4(− 2 )
−  k 2 + 10k + 25 + 8 − 16k 
  =5
−8

an
k 2 − 6k + 33 = 40
k 2 − 6k − 7 = 0
(k + 1)(k − 7 ) = 0

lik
k = −1 atau k = 7

be
Kunci : C

3. Diketahui fungsi f ( x ) = 6 x − 3 dan g ( x ) = 5 x + 4


Jika ( f o g )(a ) = 81 maka nilai a = ….
a. –2
b. –1
c. 1
d. 2
al e. 3
rju
(Ebtanas 2001)
Pembahasan :
f ( g (a )) = 81
pe

f (5a + 4 ) = 81
6(5a + 4 ) − 3 = 81
30a = 60
di

a=2

Kunci : D
k

x −1 1
4. Diketahui f ( x − 1) = , x ≠ dan f −1 ( x ) adalah invers dari f ( x ) .
da

2x − 1 2
Rumus f −1 (2 x − 1) = ….
−x−2 1 x −1 1 x +1
Ti

a. , x≠− c. , x≠− e. , x≠2


2x + 1 2 2x + 1 2 2x − 4
− x +1 3 − 2x + 1 3
b. , x≠− d. , x≠−
4x + 3 4 4x + 3 4
(Ebtanas 2002)

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 12


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Pembahasan :
x −1
f ( x − 1) =
2x − 1
f (x ) =
(x + 1) − 1
2( x + 1) − 1
x
f (x ) =
2x + 1
Misal : f ( x ) = y maka f −1 ( y ) = x

an
x −y
y= f −1 ( y ) =
2x + 1 2y −1
−x
2 xy + y = x f −1 ( x ) =

lik
2x − 1
− (2 x − 1)
2 xy − x = − y f −1 (2 x − 1) =
2(2 x − 1) − 1

be
− 2x + 1
x(2 y −1) = − y =
4x − 3
−y
x=
2y −1 al
rju
Kunci : D

5. Ditentukan g ( f ( x )) = f ( g ( x )) .
Jika f ( x ) = 2 x + p dan g ( x ) = 3x + 120 , maka nilai p = ….
pe

a. 30 c. 90 e. 150
b. 60 d. 120
(UAN 2003)
di

Pembahasan :
g ( f ( x )) = f ( g ( x ))
g (2 x + p ) = f (3x + 120 )
k

3(2 x + p ) + 120 = 2(3x + 120 ) + p


da

6 x + 3 p + 120 = 6 x + 240 + p
2 p = 120
p = 60
Ti

Kunci : B

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 13


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

2x − 1 4
6. Fungsi f : R → R didefinisikan sebagai f ( x ) = , x≠− .
3x + 4 3
Invers dari fungsi f adalah f −1 ( x ) = ….
4x − 1 2 4x + 1 2 4x + 1 2
a. , x≠− c. , x≠ e. , x≠−
3x + 2 3 2 − 3x 3 3x + 2 3
4x + 1 2 4x − 1 2
b. , x≠ d. , x≠
3x − 2 3 3x − 2 3
(UAN 2003)

an
Pembahasan :
Misal : f ( x ) = y , maka f −1 ( y = x )
Cara I : Cara II :

lik
2x − 1
f (x ) = Menggunakan rumus :
3x + 4
2x − 1 ax + b
y= f (x ) =

be
3x + 4 cx + d
− dx + b
3 xy + 4 y = 2 x − 1 f −1 ( x ) =
cx − a
3xy − 2 x = −4 y − 1 al f (x ) =
2x − 1
3x + 4
rju
− 4x − 1
x(3 y − 2 ) = −4 y − 1 f −1 ( x ) =
3x − 2
− 4y −1 4x + 1
x= f −1 ( x ) =
pe

3y − 2 2 − 3x
− 4y −1
f −1 ( y ) = Kunci : C
3y − 2
di

4x + 1
f −1 ( x ) =
2 − 3x
k

Kunci : C
da

I. 4. Sistem Persamaan Linear.


Ti

Bentuk Umum :
A. Sistem Persamaan Linear 2 peubah
a1 x + a 2 y = a3

 b1 x + b2 y = b3

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 14


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

B. Sistem Persamaan Linear 3 peubah


a1x + a2 y + a3 z = a4

 b1x + b2 y + b3 z = b4
c x +c y +c z = c
 1 2 3 4

C. Penyelesaian Sistem Persamaan Linear


Dengan cara :

an
1. Substitusi
2. Eliminasi
3. Determinan
4. Matriks

lik
Latihan dan Pembahasan

be
 x + y =1

1. Himpunan penyelesaian :  y + z = 6

adalah {(x , y , z )} .
 al
2 x + y + z = 4
rju
Nilai dari x + z = ….
a. −5 c. 1 e. 3
b. −3 d. 2
pe

(Ebtanas 1999)
Pembahasan :
x + y =1 y+z =6
di

y+z =6 2x + y + z = 4
x − z = −5 − 2x = 2
x = −1
k

x − z = −5
z = −1 + 5 = 4
da

∴ x + z = −1 + 4 = 3
Kunci : E
Ti

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 15


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

5 4
x + y
= 13

2. Himpunan penyelesaian sistem persamaan : 
3 − 2
= 21
 x y
adalah {(x0 , y 0 )}. Nilai x0 − y 0 = ….
8 2
a. 8 c. e.
15 15
6

an
b. 2 d.
15
(Ebtanas 2000)
Pembahasan :

lik
5 4 5 4
+ = 13 ×1 + = 13
x y x y

be
3 2 6 4
− = 21 ×2 − = 42
x y x y
11
al x
= 55

x=
11 1
= → xo =
1
rju
55 5 5
3 2
− = 21
x y
pe

2
= 15 − 21 = −6
y
2 1 1
y= = − → yo =
di

−6 3 5
1 1 3+5 8
Nilai x0 − y 0 = + = =
5 3 15 15
k

Kunci : C
da

I. 5. Program linear
Ti

Program linear adalah suatu metode untuk mencari nilai optimum suatu bentuk linear
(bentuk atau fungsi obyektif atau fungsi tujuan) pada daerah himpunan penyelesaian
suatu sistem pertidaksamaan linear.

Nilai optimum tersebut dapat ditentukan dengan cara :


1. Menggambar daerah himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linear.
2. Menentukan koordinat titik-titik sudut pada daerah tersebut.
3. Menentukan nilai optimum bentuk linear pada titik-titik sudut tersebut.

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 16


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Latihan dan Pembahasan

1. Nilai minimum fungsi objektif (5 x + 10 y ) pada himpunan penyelesaian sistem


pertidaksamaan yang grafik himpunan penyelesaiannya disajikan pada daerah
terasir
y gambar dibawah adalah…

an
a. 400
32
b. 320
c. 240

lik
24

16 d. 200
e 160
x (Ebtanas 2001)

be
0 16 36 48

Pembahasan :

y al
rju
32
pe

24 Hp
A
16

B
di

0
x
16 36 48
g2 g3
g1
k

Persamaan garis yang melalui (16, 0) dan (32, 0)


2 x + y = 32 ……. ( garis g1 )
da

Persamaan garis yang melalui (36, 0) dan (0, 24)


2 x + 3 y = 72 ……( garis g 2 )
Ti

Persamaan garis yang melalui (48, 0) dan (0, 16)


x + 3 y = 48 ……..( garis g 3 )

A adalah titik potong garis g1 dan g 2 B adalah titik potong garis g 2 dan g 3
2x + y = 32 2x + 3 y = 72
2x + 3 y = 72 x + 3 y = 48
−2 y = −40 x = 24
y = 20

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 17


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

2 x + y = 32 x + 3 y = 48
2 x = 12 3 y = 24
x=6 y =8
Koordinat titik A (6, 20) Koordinat titik B (24, 8)

Koordinat titik sudut pada daerah penyelesaian


(0, 32), (6, 20), (24, 8) dan (48, 0)

Nilai optimum :

an
Bentuk obyektif : 5x + 10y

Pada titik (0, 32) 5.0 + 10.32 = 320

lik
(6, 20) 5.6 + 10.20 = 230
(24, 8) 5.24 + 10.8 = 200 Nilai minimum
(48, 0) 5.48 + 10.0 = 240

be
∴ Nilai minimum 200
Kunci : D

al
2. Untuk menambah penghasilan, seorang ibu setiap harinya memproduksi dua
jenis kue untuk dijual. Setiap kue jenis I modalnya Rp 200,0 dengan keuntungan
rju
40%, sedangkan setiap kue jenis II modalnya Rp 300,0 dengan keuntungan
30%. Jika modal yang tersedia setiap harinya adalah Rp 100.000,000 dan paling
banyak hanya dapat memproduksi 400 kue, maka keuntungan terbesar yang
dapat dicapai ibu tersebut dari modalnya adalah…
pe

a. 30% c. 34% e. 40%


b. 32% d. 36%
(Ebtanas 2002)
di

Pembahasan :
Misal banyaknya kue jenis I = x buah dan kue jenis II = y buah
200 x + 300 y ≤ 100000
x + y ≤ 400
k

Sistem pertidaksamaan linear :


x≥0
da

y≥0
40
Laba kue I = 40% = × 200 = 80
100
Ti

30
Laba kue II = 30% = × 300 = 90
100
⊗ Bentuk obyektif : 80 x + 90 y

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 18


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Daerah himpunan penyelesaian :


Garis 2 x + 3 y = 1000
1000
Titik potong dengan sumbu x (500, 0) dan sumbu y (0, )
3
Garis x + y = 400
Titik potong dengan sumbu x (400, 0) dan sumbu y (0, 400)
y Titik potong :
2 x + 3 y = 1000 × 1
400 x + y = 400 × 2

an
1000
3
(200, 200) 2 x + 3 y = 1000
Hp 2 x + 2 y = 800

lik
x y = 200
0 400 500
x = 200 (200, 200)
Bentuk obyektif : 80x + 90y

be
Koordinat titik-titik sudut dan nilai optimum bentuk obyektif
(0, 0) 800.0 + 90.0 = 0
(400, 0) 80.400 + 90.0 = 32000
(200, 200)
(0,
1000
) 80.0 + 90.
al
80. 200 + 90.200 = 34000
1000
= 30000
maksimum
rju
3 3
34000
Laba maksimum Rp 34.000,0 = × 100% = 34%
100000
pe

Kunci : C

3. Nilai maksimum fungsi sasaran z = 6x + 8y dari sistem pertidaksamaan :


di

4 x + 2 y ≤ 60
2 x + 4 y ≤ 48
x ≥ 0 , y ≥ 0 adalah ….
k

a. 120 c. 116 e. 112


b. 118 d. 114
da

(UAN 2003)
Pembahasan :
Daerah himpunan penyelesaian :
Ti

garis 4 x + 2 y = 60
Titik potong dengan sumbu x (15, 0) dan sumbu y (0, 30)
garis 2 x + 4 y = 48
Titik potong dengan sumbu x (24, 0) dan sumbu y (0, 12)

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 19


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

y Titik potong garis


4 x + 2 y = 60 × 1
30
1
2 x + 4 y = 48 ×
2
4 x + 2 y = 60
x + 2 y = 24
3 x = 36
12
x = 12
y=6

an
(12, 6)
0
x
15 24

lik
⊗ Bentuk obyektif : z = 6 x + 8 y
Koordinat titik sudut- titik sudut : (0, 0), (15, 0), (0, 12), (12, 6)
Nilai optimum : z = 6 x + 8 y pada titik :

be
(0, 0) z = 6.0 + 8.0 = 0
(15, 0) z = 6.15 + 8.0 = 90
(0, 12) z = 6.0 + 8.12 = 96
(12, 6)

Kunci : A
al
z = 6.12 + 8.6 = 120 maksimum
rju
I. 6. Notasi Sigma, Barisan Bilangan dan Deret
pe

A. Notasi Sigma
Notasi sigma atau ∑ digunakan untuk menyatakan Operasi penjumlahan
bilangan berurutan.
Sifat-sifat Notasi ∑ :
di

n n
1. ∑ i = ∑ p
i=m p=m
k

n n
2. ∑ k.i = k ∑ i , k = konstanta
da

i=m i=m
a −1 n n
3. ∑ i + ∑ k.i = ∑ k.i
Ti

i=m i=a i=m


n+a n−a
4. ∑ (i − a ) = ∑ (i + a )
i=m+a i=m−a
n n n
5. ∑ ai ± ∑ bi = ∑ (ai ± bi )
i=m i=m i=m

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 20


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

B. Barisan dan Deret Aritmetika


⊗ Barisan Aritmetika
U1 , U 2 , U 3 , … , U n
a , a + b , a + 2b , … , a + (n − 1)b

⊗ Deret Aritmetika
U1 + U2 + U3 + … + U n
a + (a + b) + (a + 2b) + … + (a + (n –1) b)

an
keterangan :
U1 = a = suku pertama
b = U2 – U1 = beda

lik
U n = a + (n − 1)b = suku ke–n
n n
S n = {2a + (n − 1)b} = {a + U n } = Jumlah n suku pertama
2 2

be
U n = Sn − Sn - 1

C. Barisan dan Deret Geometri


⊗ Barisan Geometri
U1 , U 2 , U 3 , … , U n
al
rju
a , ar , ar 2 , … ar n −1

⊗ Deret Geometri
pe

U1 + U2 + U3 + … + U n
a + ar + ar 2 + … + ar n −1
di

keterangan :
U1 = a = suku pertama
U2
r = = rasio
k

U1
da

U n = ar n −1 = suku ke–n
a r n − 1
Sn =   , r >1
Ti

n
r −1
a1 − r n 
Sn =   , 0 < r <1
1− r n
S n = Jumlah n suku pertama

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 21


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

D. Deret Geometri tak hingga


Suatu deret geometri mempunyai jumlah sampai tak hingga jika − 1 < r < 1 ,
r≠0
a
S∞ =
1− r
S ∞ = Jumlah sampai tak hingga
a = suku pertama
r = rasio

an
Latihan dan Pembahasan

lik
100 100
1. Nilai dari ∑ 2k + ∑ (3k + 2 ) = …
k =1 k =1
a. 25450 c. 25700 e. 50750

be
b. 25520 d. 50500
(Ebtanas 1999)
Pembahasan :
100 100
∑ 2k + ∑ (3k + 2 ) =
k =1 k =1
al
rju
100 100
∑ (2k + 3k + 2 ) = ∑ (5k + 2 ) = 7 + 12 + 17 + … + 502
k =1 k =1
selanjutnya penjumlahan di atas dapat di cari dengan menggunakan rumus
pe

jumlah n suku pertama deret aritmetika.


7 + 12 + 17 + … + 502 = …
a=7 b=5 U n = 502
di

a + (n − 1)b = 502
7 + (n − 1)5 = 502
7 + 5n − 5 = 502
k

5n = 500
da

100
n = 100 (n dapat ditentukan dari indeks atas ∑ )
k =1
1
Ti

Sn = n(a + U n )
2
S100 = 50(7 + 502)
= 25450

Kunci : A

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 22


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

16
2. Suku kedua suatu Barisan geometri adalah 2 dan suku kelima adalah . Suku
27
ketujuh adalah ….
34 64 32
a. c. e.
84 243 243
32 34
b. d.
81 243
(Ebtanas 2000)
Pembahasan :

an
U 2 = ar = 2
16
U 5 = ar 4 =
27

lik
U 5 ar 4 8
= =
U2 ar 27

be
8 2
r3 = r=
27 3
2 2 3
ar = 2 a = = . =3
al
2
6
U 7 = ar 6 = 3 ⋅   =
64
r 1 2
rju
3 243

Kunci : C
pe

5
3. Jumlah n suku pertama deret aritmetika adalah S n = n 2 + n . Beda dari deret
2
di

aritmetika tersebut adalah ….


1 1
a. − 5 c. 2 e. 5
2 2
k

1
b. − 2 d. 2
2
da

5
Pembahasan : Sn = n 2 + n
2
Ti

5 1
S1 = 1 + = 3 = a
2 2
S2 = 4 + 5 = 9
U n = S n − S n −1
U 2 = S 2 − S1
1 1
U2 = 9 − 3 = 5
2 2

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 23


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

1 1
beda = b = U 2 - U1 = 5 − 3 = 2
2 2

Kunci : C

4. Empat bilangan positif membentuk barisan aritmetika. Jika perkalian bilangan


pertama dan keempat adalah 46 dan perkalian bilangan kedua dan ketiga adalah
144, maka jumlah keempat bilangan tersebut adalah ….
a. 40 c. 98 e. 190

an
b. 50 d. 100
(Ebtanas 2002)
Pembahasan :
Misal bilangan tersebut a , a + b , a + 2b , a + 3b .

lik
a(a + 3b ) = 46 a 2 + 3ab = 46
(a + b ) (a + 2b ) = 144 a 2 + 3ab + 2b 2 = 144

be
46 + 2b 2 = 144
2b 2 = 98
al b=7
a 2 + 3ab = 46
rju
a 2 + 21a − 46 = 0
(a + 23)(a − 2) = 0
a=2
pe

∴ ke-4 bilangan tersebut 2, 9, 16, 23


Jumlah ke-4 bilangan tersebut = 2+9+16+23 = 50

Kunci : B
di

5. Pertambahan penduduk suatu kota tiap tahun mengikuti aturan barisan geometri.
Pada tahun 1996 pertambahannya sebanyak 6 orang, tahun 1998 sebanyak 54
k

orang. Pertambahan penduduk pada tahun 2001 adalah ….


a. 324 orang c. 648 orang e. 4.374 orang
da

b. 486 orang d. 1.458 orang


(Ebtanas 2002)
Pembahasan :
Ti

U1 = 6
U 3 = 54
U3 ar 2 54
= = r2 = 9 r =3
U1 a 6
U 6 = ar 5 = 6 ⋅ 35 = 1.458 orang

Kunci : D

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 24


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

6. Jumlah deret geometri tak hingga adalah 7, sedangkan jumlah suku-suku yang
bernomor genap adalah 3. Suku pertama deret tersebut adalah ….
7 4 1
a. c. e.
4 7 4
3 1
b. d.
4 2
(UAN 2003)
Pembahasan :
Misal deret tersebut a , ar , ar 2 , ar 3 , ar 4 , ar 5 , … , ar n −1

an
S∞ = 7 ar = 31 − r 2 
 
a
7(1 − r )r = 31 − r 2 

lik
=7
1− r  
a = 7(1 − r ) 7 r − 7 r 2 = 3 − 3r 2

be
S∞genap = 3 4r 2 − 7 r + 3 = 0
ar
=3 (4r − 3)(r − 1) = 0
1− r2
al r=
3
, r =1
rju
4
3
r=
4
 3 1 7
pe

a = 71 −  = 7. =
 4 4 4

Kunci : A
di

I. 7. Matriks
Matriks adalah susunan bilangan berbentuk persegi panjang yang diatur dalam
k

baris dan kolom.


da

a b 
Misal : Matriks A =  
c d 
e f 
Ti

Matriks B =  
g h
a c 
1. Transpose Matriks A = A t =  
b d 
a b   e f   a ± e b ± f 
2. A ± B =   ±   =  
 c d   g h  c ± g d ± h

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 25


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

 a b   ka kb 
3. k ⋅ A = k   =   , k = konstanta
 c d   kc kd 
 a b  e f   ae + bg af + bh 
4. A ⋅ B =    =  
 c d  g h   ce + dg cf + dh 
5. Determinan matriks A = Det. A = A = ad − bc
Matriks A disebut Matriks Singular jika det. A = 0
1  d − b
6. Invers Matriks A = A −1 =  
ad − bc  − c a 

an
1 1
7. A . I = I . A = A, I =   , I adalah matriks identitas
 0 0

lik
8. A . A -1 = A -1 . A = I
9. Jika Ax = B, maka x = A -1 . B

be
Jika xA = B, maka x = B . A -1
x adalah matriks

Latihan dan Pembahasan al


rju
 2 0 1 2
1. Diketahui matriks A =   dan B =   .
 − 1 3 0 2
Matriks C yang memenuhi ABC = I dengan I matriks Identitas adalah ….
pe

1  2 4 1  2 4  2 4
a.   c.   e.  
4  −1 4 6  −1 4  −1 4
di

 1 1 1 1
   − 
b.  6 3 d.  3 3
− 1 1 1 1 
   
 12 3  12 6 
k
da

Pembahasan :

ABC = I
Ti

 2 0 1 2 1 0
    C =  
 − 1 3 0 2 0 1 
2 4 1 0
  C =  
−1 4 0 1 
−1
 2 4 1 0
C =    
 −1 4 0 1

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 26


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

1  4 − 4 1 0
=    
12 1 2  0 1
1 1
 − 
= 3 3
 1 1 
 
 12 6 

Kunci : D

an
4 − 9   5 p − 5  − 10 8 
2. Diketahui matriks A =   , B =   , dan C =   . Jika
3 − 4p  1 3   − 4 6 p

lik
matriks A – B = C −1 , nilai 2p = ….
1
a. –1 c. e. 2
2

be
1
b. – d. 1
2
(Ebtanas 2001)
Pembahasan :
A – B = C −1
al
rju
−1
4 − 9   5 p − 5   − 10 8 
  –   =  
3 − 4p  1 3   − 4 6 p
4 − 5p −4  6 p − 8 
pe

1
  =  
 2 − 4 p − 3 − 60 p + 32  4 − 10 
−8
–4 =
di

− 60 p + 32
–8 = 240p – 128
240p = 120
k

1
p=
2
da

2p = 1

Kunci : D
Ti

 4 3   a b  16 3 
3. Diketahui hasil kali matriks   ×   =   .
1 2  c d   9 7
Nilai a+b+c+d = ….
a. 6 c. 8 e. 10
b. 7 d. 9
(UAN 2003)

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 27


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Pembahasan :

 4 3   a b  16 3 
    =  
1 2  c d   9 7
 a b  1  2 − 3  16 3 
  =    
 c d  5 −1 4   9 7
 a b  1  5 − 15 
  =  
 c d  5  20 25 

an
a = 1, b = -3, c = 4, dan d = 5
a+b+c+d=1–3+4+5=7

lik
Kunci : B

I. 8. Suku banyak

be
Bentuk Umum Suku banyak :
a n x n + a n −1 x n − 1 + a n − 2 x n − 2 +….+ a1 x + a 0
a = konstanta
n = bilangan cacah
al
Suku banyak sering dinyatakan dengan f ( x )
Nilai suku banyak f ( x ) untuk x = k adalah f (k )
rju
Teorema Sisa
⊗ Jika suku banyak f ( x ) dibagi (x − a ) maka sisanya adalah f (a ) .
pe

Suku banyak f ( x ) dapat ditulis dalam bentuk :

f(x) = (x – a) . H(x) + S
di

(x – a) = pembagi
H(x) = hasil bagi
k

S = sisa
S = f(a)
da

⊗ Jika f ( x ) dibagi oleh pembagi berderajat n maka sisanya berderajat n –1.


Misal : pembagi = fungsi kuadrat
Ti

Sisa = fungsi linear

Teorema faktor
⊗ Suku banyak f ( x ) mempunyai faktor (x − a ) jika dan hanya jika f (a ) = 0

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 28


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

Latihan dan Pembahasan

1. Jika suku banyak P(x) = 2x 4 + ax 3 – 3x 2 + 5x + b dibagi oleh  x 2 −1


 
memberi sisa (6 x + 5) maka a . b = ….
a. –6 c. 1 e. 8
b. –3 d. 6
(Ebtanas 2002)

an
Pembahasan :
Sisa = S = f(x) = 6x + 5
Pembagi  x 2 −1 = (x + 1) (x − 1)

lik
 
dibagi (x + 1) , maka sisa f(–1) = –1
dibagi (x − 1) , maka sisa f(1) = 11

be
P(x) dibagi (x + 1) sisanya P(–1) = f(–1) = –1
P(x) = 2x 4 + ax 3 – 3x 2 + 5 + b
P(–1) = 2 – a – 3 – 5 + b = –1
al
– a + b = 5 ……….(1)
P(x) dibagi (x − 1) sisanya P(1) = f(1) = 11
rju
P(1) = 2 + a – 3 + 5 + b = 11
a + b = 7 ……….(2)

Persamaan 1 : – a + b = 5
pe

Persamaan 2 : a + b = 7
2b = 12
b= 6
di

a= 1
a.b= 1.6 = 6

Kunci : D
k

2. Diketahui (x + 1) salah satu faktor dari suku banyak :


da

f ( x ) = 2x 4 – 2x 3 + px 2 – x – 2, salah satu faktor yang lain adalah ….


a. (x − 2) c. (x − 1) e. ( x + 3)
Ti

b. (x + 2) d. ( x − 3)
(UAN 2003)
Pembahasan :
Jika (x + 1) faktor dari f ( x ) , maka f (− 1) = 0
f ( x ) = 2x 4 – 2x 3 + px 2 – x – 2
f (− 1) = 2 + 2 + p + 1 – 2 = 0
p = –3

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 29


Panduan Materi Matematika SMA/MA (IPA)

f ( x ) = 2x 4 – 2x 3 + px 2 – x – 2
–1 2 –2 –3 –1 –2
–2 4 –1 2
2 2 –4 1 –2 0
4 0 2
2 0 1 0

an
∴ (x − 2) adalah faktor yang lain

Kunci : A

lik
be
al
rju
pe
di
k
da
Ti

DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan 30