Anda di halaman 1dari 13

Filariasis

FILARIASIS

I. PENDAHULUAN

Filariasis adalah penyakit yang mengenai kelenjar dan saluran limfe yang disebabkan oleh parasit
golongan nematoda yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori yang ditularkan
melalui nyamuk.1-5 Filariasis penting dalam dermatologi karena kulit merupakan salah satu organ
yang sering terkena. Filariasis menyebabkan kulit menjadi sangat gatal, timbul papul dan scratch
marks , hingga menyebabkan seluruh kulit menjadi kering dan tebal. Dapat timbul nodus dan
hiperpigmentasi atau hipopigmentasi. Filariasis menyebabkan limfedema ekstremitas, vulva,
skrotum, lengan dan payudara. Pada ekstremitas bawah biasanya tampak gambaran verukosa
dengan lipatan dan kulit yang pecah-pecah.5

Diperkirakan 120 juta penduduk dunia terinfeksi filariasis.1,3-7 Lebih dari 90% kasus filariasis
disebabkan oleh Wuchereria bancrofti 1,3,7-8 dan penderita terbanyak terdapat di Sub Saharan
Africa, Southeast Asia, dan Western Pacific.1,5,9 Program pencegahan sudah dilakukan di India,
Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan beberapa negara pasifik seperti Fiji dan Tahiti.1,9-10

Filariasis tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan di beberapa daerah tingkat endemisitas
cukup tinggi. Daerah endemis filariasis pada umumnya adalah daerah dataran rendah, terutama
pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa, dan hutan. Secara umum filariasis bancrofti
tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Daerah
endemis Wuchereria bancrofti dibedakan menjadi tipe pedesaan dan tipe perkotaan berdasarkan
vektor yang menularkan. Wuchereria tipe pedesaan ditemukan terutama di Papua dan Nusa
Tenggara dengan vektor Anopheles,Culex dan Aides sedangkan tipe perkotaan ditemukan di Jakarta,
Bekasi, Tangerang, Semarang, Pekalongan dan Lebak pada daerah yang kumuh, padat penduduknya
dan banyak genangan air kotor dengan vektor Culex quinquefasciatus. Brugia malayi tersebar di
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa pulau di Maluku, sedangkan Brugia timore tersebar di
kepulauan Flores, Alor, Rote, Timor dan Sumba. Berdasarkan hasil survey cepat tahun 2000, jumlah
penderita kronis yang dilaporkan sebanyak 6233 orang tersebar di 1553 desa, di 231 kabupaten, 26
propinsi. Berdasarkan survey jari tahun 1999, tingkat endemisitas filariasis di Indonesia masih tinggi
dengan microfilarial rate 3.1%.6 Daerah endemis filariasis adalah daerah dengan microfilarial rate ≥
1%.11

Data statistik divisi Dermatologi umum Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM
terdapat 1 pasien limfedema akibat filariasis sepanjang tahun 2003-2005.
Filariasis selain menyebabkan dampak sosial dan psikologik, juga ditetapkan oleh WHO sebagai
penyebab kecacatan permanen nomor dua.3 Pada makalah ini akan dibahas mengenai
etiopatogenesis, manifestasi klinis, diagnosis serta penatalaksanaan filariasis.

II. ETIOPATOGENESIS

Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori.6 Filaria mempunyai siklus hidup bifasik dimana perkembangan larva terjadi
pada nyamuk (intermediate host) dan perkembangan larva dan cacing dewasa pada manusia
(definive host). 1,2,10

Pada tubuh penderita

Infeksi diawali pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, maka larva L3 akan keluar dari
probosisnya kemudian masuk melalui bekas luka gigitan nyamuk menembus dermis dan bergerak
menuju sistem limfe.1,2,6,10,12 Larva L3 akan berubah menjadi larva L4 pada hari 9-14 setelah
infeksi dan akan mengalami perkembangan menjadi cacing dewasa dalam 6-12 bulan, setelah
inseminasi, zigot berkembang menjadi mikrofilaria.2 Cacing betina dewasa akan melepaskan ribuan
mikrofilaria yang yang mempunyai selubung ke dalam sirkulasi limfe lalu masuk ke sirkulasi darah
perifer. Cacing betina dewasa aktif bereproduksi selama lebih kurang 5 tahun. Cacing dewasa
berdiam di pembuluh limfe dan menyebabkan pembuluh berdilatasi, sehingga memperlambat aliran
cairan limfe. Sejumlah besar cacing dewasa ditemukan pada saluran limfe ekstremitas bawah,
ekstremitas atas dan genitalia pria..1,2

Pada nyamuk

Nyamuk menghisap mikrofilaria bersamaan saat menghisap darah.1,2,4,10 Dalam beberapa jam
mikrofilaria menembus dinding lambung, melepaskan selubung/sarungnya dan bersarang diantara
otot-otot toraks.1,6,10 Mula –mula parasit ini memendek menyerupai sosis dan disebut larva
stadium 1 (L1). Dalam kurang dari 1 minggu berubah menjadi larva stadium 2 (L2), dan antara hari
ke-11 dan 13 L2 berubah menjadi L3 atau larva infektif.1,2,10 Bentuk ini sangat aktif, awalnya
bermigrasi ke rongga abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk.1,2,6,12

Hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus di Indonesia yaitu Mansonia,
Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres yang menjadi vektor filariasis.6
Gambar 1. Siklus hidup Wuchereria bancrofti *

Patogenesis filariasis sudah diperdebatkan sejak lama, terdapat beberapa hal yang menyebabkan
penelitian terhadap terjadinya penyakit ini terhambat. 1,3,13-15 Diduga 4 faktor berperan pada
patogenesis filariasis: cacing dewasa hidup, respon inflamasi akibat matinya cacing dewasa, infeksi
sekunder akibat bakteri, dan mikrofilaria.15 Cacing dewasa hidup akan menyebabkan
limfangiektasia.13-15 Karena pelebaran saluran limfe yang difus dan tidak terbatas pada tempat
dimana cacing dewasa hidup ada, diduga cacing dewasa tersebut mengeluarkan substansi yang
secara langsung atau tidak menyebabkan limfangiektasia. Pelebaran tersebut juga menyebabkan
terjadinya disfungsi limfatik dan terjadinya manifestasi klinis termasuk limfedema dan hidrokel.
Pecahnya saluran limfe yang melebar menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih
sehingga terjadi kiluria dan kilokel. Matinya cacing dewasa menyebabkan respon inflamasi akut yang
akan memberikan gambaran klinis adenitis dan limfangitis.13,15

*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 10

Gambar 2. Patogenesis filariasis*

III. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis filariasis dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, jenis kelamin, lokasi
anatomis cacing dewasa filaria, respon imun, riwayat pajanan sebelumnya, dan infeksi
sekunder.15,16 Berdasarkan pemeriksaan fisik dan parasitologi, manifestasi klinis filariasis dibagi
dalam 4 stadium yaitu:4,8

1.Asimptomatik atau subklinis filariasis

a. Individu asimptomatik dengan mikrofilaremia


Pada daerah endemik dapat ditemukan penduduk dengan mikrofilaria positif tetapi tidak
menunjukkan gejala klinis. Angka kejadian stadium ini meningkat sesuai umur dan biasanya
mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun, dan lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan
wanita.1,3,4,8,7 Banyak bukti menunjukan bahwa walaupun secara klinis asimptomatik tetapi semua
individu yang terinfeksi W. bancrofti dan B.malayi mempunyai gejala subklinis.1,3,8. Hal tersebut
terlihat pada 40% individu mikrofilaremia ini menderita hematuri dan / proteinuria yg menunjukkan
kerusakan ginjal minimal.3,7.8, Kelainan ginjal ini berhubungan dengan adanya mikrofilaria
dibandingkan dengan adanya cacing dewasa, karena hilangnya mikrofilaria dalam darah akan
mengembalikan fungsi ginjal menjadi normal.3,8. Dengan lymphoscintigraphy tampak pelebaran dan
terbelitnya limfatik disertai tidak normalnya aliran limfe. Dengan USG juga terlihat adanya
limfangiektasia.3

*Dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 13

Keadaan ini dapat bertahan selama bertahun-tahun yang kemudian secara perlahan berlanjut ke
stadium akut atau kronik.8

b. Individu asimptomatik dan amikrofilaremia dengan antigen filarial (+)

Pada daerah endemik terdapat populasi yang terpajan dengan larva infektif (L3) yang tidak
menunjukkan adanya gejala klinis atau adanya infeksi, tetapi mempunyai antibodi-antifilaria dalam
tubuhnya. 3,5,7,8

2. Stadium akut

Manifestasi klinis akut dari filariasis ditandai dengan serangan demam berulang yang disertai
pembesaran kelenjar (adenitis) dan saluran limfe (lymphangitis) disebut adenolimfangitis
(ADL).1,8,16 Etiologi serangan akut masih diperdebatkan, apakah akibat adanya infeksi sekunder,
respon imun terhadap antigen filarial, dan dilepaskannya zat-zat dari cacing yang mati atau hidup.15

Terdapat dua mekanisme berbeda dalam terjadinya serangan akut pada daerah endemik:

a) Dermatolimfangioadenitis akut (DLAA), proses di awali di kulit yang kemudian menyebar ke


saluran limfe dan kelenjar limfe. DLAA ditandai dengan adanya plak kutan atau subkutan yang
disertai dengan limfangitis dengan gambaran retikular dan adenitis regional.3,7,15,17 Terdapat pula
gejala konstitusional sistemik maupun lokal yang berat berupa demam, menggigil dan edema pada
tungkai yang terkena.15,17 Terdapat riwayat trauma, gigitan serangga, luka mekanik sebagai porte
d’ entrée. DLAA adalah ADL sekunder yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.3 DLA secara
klinis menyerupai selulitis atau erisipelas.17
b) Limfangitis filarial akut (LFA), merupakan reaksi imunologik dengan matinya cacing dewasa akibat
sistim imun penderita atau terapi.3,8,15 Kelainan ini ditandai dengan adanya Nodus atau cord yang
disertai limfadenitis atau limfangitis retrograde pada ekstremitas bawah atau atas, yang menyebar
secara sentrifugal.3,8,15,17 Keadaan ini dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama.3,8

Filariasis bancrofti sering hanya mengenai sistem limfatik genitalia pria sehingga mengakibatkan
terjadinya funikulitis, epididimitis atau orkitis, sedangkan pada filariasis brugia, kelenjar limfe yang
terkena biasanya daerah inguinal atau aksila yang nantinya berkembang menjadi abses yang pecah
meninggalkan jaringan parut.8,12,16 Keluhan biasanya timbul setelah bekerja berat. Pada filariasis
brugia, sistem limfe alat kelamin tidak pernah terkena.8,16 Pada masa resolusi fase akut, kulit pada
ekstremitas yang terlibat akan mengalami eksfoliatif yang luas. Keadaan akut dapat berulang 6-10
episode per tahun dengan lama setiap episode 3-7 hari.9 Serangan berulang adenolimfangitis (ADL)
merupakan faktor penting dalam perkembangan penyakit. Pani dkk membuktikan bahwa terdapat
hubungan langsung antara jumlah serangan akut dan beratnya limfedema.3,8.17 Makin lama gejala
akut semakin ringan, yang akhirnya menuju pada stadium kronik. DLAA lebih sering ditemukan
dibandingkan LFA.15,17

3. Stadium kronik

Manisfestasi kronis filariasis jarang terlihat sebelum usia lebih dari 15 tahun dan hanya sebagian
kecil dari populasi yang terinfeksi mengalami stadium ini.15 Hidrokel, limfedema, elephantiasis
tungkai bawah, lengan atau skrotum, kiluria adalah manifestasi utama dari filariasis kronik.1,4,5,7,8

Hidrokel merupakan pembesaran testis akibat terkumpulnya cairan limfe dalam tunika vaginalis
testis.8,16,17 Kelainan ini disebabkan oleh W. bancrofti dan merupakan manifestasi kronis yang
paling sering ditemukan pada infeksi filariasis.8 Pada daerah endemik, 40-60% laki-laki dewasa
memiliki hidrokel 7,8 Cairan yang terkumpul biasanya bening. Uji transluminasi dapat membantu
menegakkan diagnosis.8

Limfedema pada ekstremitas atas jarang terjadi dibandingkan dengan limfedema pada ekstremitas
bawah. Pada filariasis bancrofti seluruh tungkai dapat terkena, berbeda dengan filariasis brugia yang
hanya mengenai kaki dibawah lutut dan kadang-kadang lengan dibawah siku.1,8,16,18 Gerusa dkk
(2000) menetapkan 7 stadium limfedema.19 Stadium 1 menggambarkan limfedema yang ringan
atau sedang sedangkan stadium 7 menggambarkan keadaan yang paling berat. Pembagian ini
berkaitan dengan beratnya limfedema, resiko terkenanya serangan akut dan dalam
penatalaksanaan.15 Limfedema pada filariasis biasanya terjadi setelah serangan akut berulang kali.
Kelainan pada kulit dapat terlihat sebagai kulit yang menebal, hiperkeratosis, hipotrikosis atau
hipertrikosis, pigmentasi, ulkus kronik, nodus dermal dan subepidermal.8

Tabel 1. Gambaran stadium Limfedema*


*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 19

Limfedema pada genitalia melibatkan pembengkakan pada skrotum dan / penebalan kulit skrotum
atau kulit penis yang akan memberikan gambaran peau d’ orange yang nantinya berkembang
menjadi lesi verukosa.1,8

Kiluria terjadi akibat bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang menyebabkan
masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.1,8,12,16 Kelainan ini disebabkan oleh W.
bancrofti.16 Pasien dengan kiluria mengeluhkan adanya urine yang berwarna putih seperti susu
(milky urine).1,7,8,16 Diagnosis kiluria ditetapkan dengan ditemukannya limfosit pada urine.8

Limforea sering terjadi pada dinding skrotum dimana cairan limfe meleleh keluar dari saluran limfe
yang pecah.1,8,19

Pada daerah endemik, payudara dapat terkena, baik unilateral ataupun bilateral. Hal ini harus dapat
dibedakan dengan mastitis kronik dan limfedema pasca mastektom.1

4.Occult filariasis

Occult filariasis merupakan infeksi filariasis yang tidak memperlihatkan gejala klasik filariasis serta
tidak ditemukannya mikrofilaria dalam darah, tetapi ditemukan dalam organ dalam.1,4,8 Occult
filariasis terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tubuh penderita terhadap antigen mikrofilaria.4,12
Contoh yang paling jelas adalah Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE). TPE sering ditemukan di
Southeast Asia, India, dan beberapa daerah di Cina dan Afrika 1,3 TPE adalah suatu sindrom yang
terdiri dari gangguan fungsi paru, hipereosinofilia (>3000mm3), peningkatan antibodi antifilaria,
peningkatan IgE antifilaria dan respon terhadap terapi DEC. Manifestasi klinis TPE berupa gejala yang
menyerupai asma bronkhial ( batuk, sesak nafas, dan wheezing),penurunan berat badan, demam,
limfadenopati lokal, hepatosplenomegali.1,3,4,7-9,12 Pada foto torak tampak peningkatan corakan
bronkovaskular terutama didasar paru, dan pemeriksaan fungsi paru tampak defek obstruktif.Jika
pasien dengan TPE tidak diobati, maka penyakit akan berkembang menjadi penyakit paru restriktif
kronik dengan fibrosis interstisial.4,7,8

Pada daerah endemis, perjalanan penyakit filariasis berbeda antara penduduk asli dengan penduduk
yang berasal dari daerah non-endemis dimana gejala dan tanda lebih cepat terjadi berupa
limfadenitis, hepatomegali dan splenomegali,1,7,8 Llimfedema dapat terjadi dalam waktu 6 bulan
dan dapat berlanjut menjadi elefantiasis dalam kurun waktu 1 tahun.20 Hal ini diakibatkan karena
pendatang tidak mempunyai toleransi imunologik terhadap antigen filaria yang biasanya terlihat
pada pajanan lama.1 Resiko terjadinya manifestasi akut dan kronik pada seseorangan yang
berkunjung ke daerah endemis sangat kecil, hal tersebut menunjukkan diperlukannya
kontak/pajanan berulang dengan nyamuk yang terinfeksi.1 Riwayat sensitisasi prenatal dan toleransi
imunologik terhadap antigen filarial mempengaruhi respon patologi infeksi dan tendensi terjadinya
manifestasi subklinis pada masa kanak-kanak.1,3

IV. DIAGNOSIS BANDING

Pembesaran ekstremitas

Limfangitis bakterial akut, limfadenitis kronik,LImfogranuloma inguinale dan limfadenitis


tuberkulosis dapat menyebabkan limfedema ekstremitas bawah.5 Trauma pada saluran limfe akibat
operasi juga dapat menyebabkan limfedema. Pasien dengan limfedema tanpa adanya riwayat
serangat akut berulang dikenal sebagai cold lymphedema merupakan kelainan bawaan.8 Tumor dan
pembentukkan jaringan fibrotik juga dapat menyebabkan tekanan pada saluran limfe dan
menurunkan aliran limfe sehingga terjadi limfedema secara perlahan. Mastektomi dengan
limfedenektomi merupakan salah satu hal penyebab terjadinya limfedema pada ekstremitas atas.19

Lipedema

Pembesaran kronik akibat jaringan lemak yang berlebihan, biasanya pada tungkai atas dan pinggul.
Kelainan simetris, telapak kaki normal. Kelainan ini terjadi pada saat pubertas atau 1-2 tahun
sesudahnya.19

Hernia inguinalis

Kelainan ini dapat menyerupai hidrokel. Pada hernia batas atas masuk kedalam perut,testis teraba,
isi dapat keluar masuk dan pada auskultasi bising usus (+). Pada saat pasien berdiri terlihat dasar
hidrokel menyempit berbeda dengan hernia yang dasarnya melebar.16,19

Knobs

Knobs/lump dengan pertumbuhan cepat dengan atau tanpa perdarahan dapat disebabkan oleh
kanker kulit. Misetoma dan kromoblastosis juga dapat memberikan gambaran benjolan/nodus.
Misetoma merupakan infeksi kronik yang disebabkan oleh jamur yang ditemukan pada tanah dan
tumbuhan. Jamur masuk melalui luka kemudian terbentuk abses, sinus dan fistel yang multiple.
Didalam sinus terdapat butir-butir (granules) yang merupakan kumpulan dari jamur tersebut.
Kromoblastosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur berpigmen yang ditemukan pada
kayu, tumbuhan dan tanah. Perlu dibedakan kromoblastomikosis dengan limfedema stadium 6 yang
memberikan gambaran mossy foot.19

Kiluria

Keadaan ini dapat juga disebabkan oleh trauma, kehamilan, tumor atau diabetes mellitus. Pada
diabetes mellitus, kiluria terjadi akibat pus. Untuk membedakan ke dua keadaan ini, pasien diminta
menampung urin dalam wadah transparan dan membiarkan urin selama 30-40 menit. Jika terjadi
pemisahan antara sedimen dan urin, maka pasien tidak menderita kiluria.15,19

V. PENATALA KSANAAN

A. Diagnosis

Diagnosis yang efisien dan efektif sangatlah penting dan menjadi faktor penentu dalam
penatalaksanaan penyakit. Terdapat beberapa cara :

1. Pemeriksaan klinis : tidak sensitif dan tidak spesifik untuk menentukan adanya infeksi aktif.4

2. Pemeriksaan parasitologi dengan menemukan mikrofilaria dalam sediaan darah, cairan hidrokel
atau cairan kiluria pada pemeriksaan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa, tehnik Knott,
membrane filtrasi dan tes provokasi DEC.12,21,22 Sensitivitas bergantung pada volume darah yang
diperiksa, waktu pengambilan dan keahlian teknisi yang memeriksanya. Pemeriksaan ini tidak
nyaman, karena pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari antara pukul 22.00-02.00
mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya nokturna.12,21 Spesimen yang diperlukan ± 50µl
darah dan untuk menegakan diagnosis diperlukan ≥ 20 mikrofilaria/ml (Mf/ml).21

3. Deteksi antibodi: Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4 pada infeksi aktif filarial membantu
dikembangkannya serodiagnostik berdasarkan antibodi kelas ini. Pemeriksaan ini digunakan untuk
pendatang yang tinggal didaerah endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah endemik.3,21
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan infeksi parasit sebelumnya dan kini, selain itu titer
antibodi tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah cacing dalam tubuh penderita.4,12

4. Deteksi antigen yang beredar dalam sirkulasi.3,21,23 Pemeriksaan ini memberikan hasil yang
sensitif dan spesies spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopis. Terdapat dua cara yaitu
dengan ELISA (enzyme-linked immunosorbent) dan ICT card test
(immunochromatographic).3,4,21,22 Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif dalam tubuh
penderita, selain itu, tes ini dapat digunakan juga untuk monitoring hasil pengobatan.3 Kekurangan
pemeriksaan ini adalah tidak sensitif untuk konfirmasi pasien yang diduga secara klinis menderita
filariasis. Tehnik ini juga hanya dapat digunakan untuk infeksi filariasis bancrofti. Diperlukan keahlian
dan laboratorium khusus untuk tes ELISA sehingga sulit untuk di aplikasikan di lapangan.4 ICT adalah
tehnik imunokromatografik yang menggunakan antibodi monoklonal dan poliklonal. Keuntungan
dari ICT adalah invasif minimal (100 µl), mudah digunakan, tidak memerlukan teknisi khusus, hasil
dapat langsung dibaca dan murah. Sensitivitas ICT dibandingkan dengan pemeriksaan sediaan hapus
darah tebal adalah 100% dengan spesifisitas 96.3%. 3

5. Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tehnik ini digunakan untuk mendeteksi
DNA W. bancrofti dan B. malayi.1,3,21 PCR mempunyai sensitivitas yang tinggi yang dapat
mendeteksi infeksi paten pada semua individu yang terinfeksi, termasuk individu dengan infeksi
tersembunyi (amikrofilaremia atau individu dengan antigen +).21 Kekurangannya adalah diperlukan
penanganan yang sangat hati-hati untuk mencegah kontaminasi spesimen dan hasil positif palsu.
Diperlukan juga tenaga dan laboratorium khusus selain biaya yang mahal.4

6. Radiodiagnostik 1,3,4,21

· Menggunakan USG pada skrotum dan kelenjar inguinal pasien, dan akan tampak gambaran cacing
yang bergerak-gerak (filarial dancing worm). Pemeriksaan ini berguna terutama untuk evaluasi hasil
pengobatan.

· Limfosintigrafi menggunakan dextran atau albumin yang ditandai dengan zat radioaktif yang
menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada pasien dengan asimptomatik
milrofilaremia

B. Terapi

Obat anti-filaria yang digunakan

Diethylcarbamazine citrate (DEC)


Diethylcarbamazine citrate (DEC) telah digunakan sejak ± 40 tahun lamanya dan masih merupakan
terapi anti-filarial yang digunakan secara luas. 3,12,15,24 WHO merekomendasikan pemberian DEC
dengan dosis 6 mg/kgBB untuk 12 hari berturut-turut.3,7,15,20,24 Cara pemberian tersebut tidak
praktis digunakan untuk community-based control programme karena mahal.3,15 Andrade dkk
(1995) membandingkan pemberian dosis tunggal DEC 6 mg/kgBB dan pemberian DEC dosis yang
sama selama 12 hari, didapatkan kadar mikrofilaria yang sama pada ke-2 grup setelah terapi 12
bulan, meskipun pada bulan 1, 3 dan 6 kadar mikrofilaremia tinggi pada grup dosis tunggal.15

Dosis yang disarankan WHO digunakan untuk terapi selektif/perorangan, dimana orang tersebut
yang mencari pertolongan, sedangkan untuk terapi massal digunakan dosis tunggal 6mg/kgBB yang
diberikan setiap tahun selama 4-6 tahun berturut-turut.20Terapi massal adalah terapi yang diberikan
kepada seluruh penduduk di daerah endemis filariasis.11,20 Di Indonesia, dosis 6 mg/kg BB
memberikan efek samping yang berat, sehingga pemberian DEC di lakukan berdasarkan usia dan
dikombinasi dengan albendazol.11

Ivermectin

Ivermectin terbukti sangat efektif dalam menurunkan mikrofilaremia pada filariasis bancrofti di
sejumlah negara.3 Obat ini membunuh 96% mikrofilaremia dan menurunkan produksi
mikrofilaremia sebesar 82%.25.Obat ini merupakan antibiotik semisintetik golongan makrolid yang
berfungsi sebagai agent mikrofilarisidal poten.12,15 Dosis tunggal 200-400µg/kg dapat menurunkan
mikrofilaria dalam darah tepi untuk waktu 6-24 bulan. Dengan dosis tunggal 200 atau 400µl/kg dapat
langsung membunuh mikrofilaremia dan menurunkan produksi mikrofilaremia.25 Obat belum
digunakan di Indonesia.

Albendazol

Obat ini digunakan untuk pengobatan cacing intestine selama bertahun-tahun dan baru baru ini di
coba digunakan sebagai anti-filaria.3 Dosis tunggal albendazol tidak mempunyai efek terhadap
mikrofilaremia.15 Albendazole hanya mempunya sedikit efek untuk mikrofilaremia dan
antigenaemia jika digunakan sendiri.3 ADosis tunggal 400 mg di kombinasi dengan DEC atau
ivermectin efektif menghancurkan mikrofilaria.26

Penatalaksanaan filariasis bergantung kepada keadaan klinis dan beratnya penyakit.8,16,26

Asimptomatik atau subklinis


Pengobatan awal dengan anti-filaria pada pasien asimptomatik sangat disarankan untuk mencegah
kerusakan limfatik lebih lanjut. Efektifitas terapi dapat di evaluasi dengan melakukan tes mikrofilaria
6-12 bulan setelah terapi.1

Stadium akut

Selama serangan akut pemberian DEC tidak di anjurkan, karena diduga akan memperberat keaadaan
akibat matinya cacing dewasa.15 Terapi supportif harus dilakukan termasuk istirahat, kompres,
elevasi ekstremitas yang terkena dan pemberian analgetik dan antipiretik.15,17,19 Pada serangan
akut ADLA pemberian antibiotik oral dapat dilakukan sewaktu menunggu hasil kultur.15

Stadium kronik

Obat anti-filaria jarang digunakan untuk keadaan kronik tetapi diberikan jika pasien terbukti
menderita infeksi aktif, misalnya dengan ditemukannya mikrofilaria, antigen mikrofilaria atau filarial
dancing sign. Kerusakan limfatik akibat filariasis bersifat permanen dan obat anti-filaria tidak
menyembuhkan keadaan limfedema, tetapi limfedema dapat di tatalaksana dengan cara
menghentikan serangan akut dan mencegah keadaan menjadi berat/buruk.19 Terdapat 5 komponen
dasar dalam penatalaksanaan limfedema yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu kebersihan,
pencegahan dan perawatan luka/entry lesion, latihan, elevasi dan penggunaan sepatu yang
sesuai.15,19 Komponen tambahan dalam penatalaksanaan limfedema adalah penggunaan emolien,
verban, stocking, pijat, antibiotik pofilaksis dan tindakan bedah.15,19,27

Pemberian benzopyrenes, termasuk flavonoids dan coumarin dapat menjadi terapi tambahan. Obat
ini mengikat protein yang telah terakumulasi sehingga menginduksi fagositosis makrofag
menyebabkan terpecahnya protein yang kemudian keluar kedalam vena dan dibuang oleh sistem
vascular.15,27

Tabel 2. Penatalaksanaan limfedema sesuai stadium-petunjuk umum*

Tindakan bedah pada limfedema bersifat paliatif, indikasi tindakan bedah adalah jika tidak terdapat
perbaikan dengan terapi konservatif, limfedema sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan
pekerjaan dan menyebabkan tidak berhasilnya terapi konsevatif.27 Berbagai prosedur operasi
digunakan tetapi secara umum tidak memberikan hasil yang memuaskan.15 Yang termasuk dalam
prosedur ini adalah lymphangioplasty, lympho-venous anastomosis dan eksisi (de-bulking) dari
jaringan subkutan yang fibrotik.15,27 Peranan tindakan pembedahan limfedema ekstremitas akibat
filariasis sangat terbatas.15

Penatalaksanaan hidrokel adalah dengan pemberian obat anti-filaria, perawatan dasar seperti
kebersihan, dan tindakan bedah.16 Indikasi operasi pada pasien dengan hidrokel adalah jika
mengganggu pekerjaan, mengganggu aktivitas seksual, mengganggu berkemih, dan memberi efek
sosial terhadap keluarga.Prosedur yang digunakan adalah dengan melakukan eksisi tunika vaginalis
sebanyak mungkin dan membalikkannya (Bergmann Wingklemann) untuk hidrokel besar dan
prosedur Lord untuk hidrokel kecil dimana dilakukan pengecilan tunika vaginalis dengan
merempel.16

*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 19

Penatalaksanaan kiluria adalah istirahat, diet tinggi protein rendah lemak, minum banyak (paling
sedikit 2 gelas/jam selama BAK masih seperti susu). Tindakan bedah masih kontroversi tetapi di
anjurkan untuk kasus yang berat.15,16,28 Prosedure yang digunakan adalah lympho-venous
disconnection, lymphangio-venous anastomosis, lymphnode-saphenous vein anastomosis.28

Tropical Pulmonary Eosinophil

DEC adalah obat pilihan untuk TPE. Gejala pernapasan membaik secara cepat setelah pemberian
DEC. Pemberian DEC 21-28 hari menyebabkan hilangnya microfilaria secara cepat dibandingkan
dengan dosis tunggal 6 mg/kgBB, sehingga pemberian terapi lebih lama lebih disarankan.15

Pencegahan dan kontrol filariasis

Tahun 1997, the World Health Assembly (WHA) mengajak anggota WHO untuk mendukung program
The Global Elimination of Lymphatic Filariasis (GPELF) sebagai masalah kesehatan masyarakat.Tahun
2000 WHO mulai menetapkan GPELF dan merekomendasikan semua penduduk yang tinggal
didaerah beresiko untuk di obati satu kali dalam satu tahun dengan dua kombinasi obat dan
diberikan dalam 4-6 tahun berturut-turut.Tiga obat anti-parasit yang di sarankan adalah DEC,
albendazol, ivermectin.20

Pencegahan melawan infeksi filariasis juga dapat dilakukan secara individu dengan cara menghindari
terkenanya gigitan nyamuk. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memakai kelambu dan
menggunakan repellent, tetapi hal ini tidak bisa diterapkan disemua wilayah.1
VI. PENUTUP

Filariasis merupakan penyakit yang menyebabkan penderitaan baik fisik maupun psikologis.
Walaupun insiden penyakit ini jarang tetapi kita tetap perlu memikirkan filariasis sebagai salah satu
penyebab bila menemukan kasus limfedema. Ketelitian diagnostik diperlukan untuk mencegah
berkembangnya penyakit ini ke stadium yang lebih lanjut. Oleh karena itu diperlukan kerjasama
multi disiplin untuk melakukan pendekatan diagnostik dan penanganan penyakit.