Anda di halaman 1dari 10

KISTA OVARIUM

1.1 Definisi
Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan atau
benda seperti bubur.Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari
pengaruh hormonal dengan siklus menstruasi.
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf
atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium
ovarium, ditemukan terpisah dari uterus dan umumnya diagnosis didasarkan pada
pemeriksaan fisik (Bottemley, 2009).
1.2 Epidemiologi
Berdasarkan data penilitian Jurnal Medscape di Amerika Serikat, umumnya kista
ovarium ditemukan saat pasien melakukan pemeriksaan USG baik abdominal maupun
transvaginal dan transrektal. Kista ovarium terdapat disekitar 18% yang sudah
postmenopause. Sebagian besar kista yang ditemukan merupakan kista jinak, dan 10%
sisanya adalah kista yang mengarah ke keganasan. Kista ovarium fungsional umumnya
terjadi pada usia produktif dan relatif jarang pada wanita postmenopause. Secara umum,
tidak ada persebaran umur yang spesifik mengenai usia terjadinya kista ovarium (Stany
MP, 2008).
1.3 Klasifikasi Kista
Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non
neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak dibagi
dalam tumor kistik dan solid
A. Tumor Non Neoplastik
a. Tumor akibat radang
i.
Abses ovarial
ii.
Abses tubo ovarial
iii.
Kista tubo ovarial
b. Tumor lain
i.
Kista folikel
ii.
Kista korpus lutein
iii.
Kista teka-lutein
iv.
Kista inklusi germinal
v.
Kista endometrium
B. Tumor Neoplastik Jinak
a. Kistik
i.
Kistoma ovarii simpleks
ii.
Kistadenoma ovarii musinosum
iii.
Kistadenoma ovarii serosum
iv.
Kista endometroid
v.
Kista dermoid

b. Solid
i. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma ii.
ii. Tumor Brenner
iii. Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma) (Wiknjosastro H, 1999).
1. Kista Ovarium Non-Neoplastik
a. Tumor Akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada adneksa.
Tumor ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului oleh masuknya
bakteri kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing dan menuju ke adneksa.
Kemudian terjadilah infeksi dan terjadi proses imunologis sehingga terbentuk
abses
b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah
bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang
lazim, melainkan membesar menjadi kista.bisa di dapati satu kista atau beberapa
dan besarnya biasanya berdiameter 1-1 cm. Dalam menangani tumor ovarium
timbul persoalan apakah tumor yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel.
Umumnya jika diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu
karena kista folikel dalam 2 bulan akan hilang sendiri (Mansjoer, 2000).
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak sampai
saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung estrogen sebagai
respon terhadap hipersekresi FSH ( folikel stimulating hormon) dan LH
(luteinizing hormone) normalnya ditemui saat menopause berdiameter 1 -10 cm
(folikel normal berukuran limit 2,5 cm); berasal dari folikel ovarium yang gagal
mengalami involusi atau gagal meresorpsi cairan. Dapat multipel dan bilateral.
Biasanya asimtomatik (Mansjoer, 2000).
c. Kista Korpus Lutein
Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi
korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan mempertahankan diri
(korpus luteum persisten); perdarahan yang terjadi di dalamnya akan
menyebabkan kista, berisi cairan berwarna merah coklat karena darah tua. Pada
pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi gambaran yang khas. Dinding
kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal
dari sel-sel teka. Penanganan kista luteum ini menunggu sampai kista hilang

sendiri. Dalam hal ini dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik
terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium
d. Kista Teka Lutein
Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan mikroskopik
terlihat luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormone
koriogonadrotropin yang berlebihan. Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam
korpus luteum indung telur yang fungsional dan membesar bukan karena tumor,
disebabkan oleh penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari
siklus menstruasi. Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti
jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari growth indung telur, serta
terapi hormon (Mansjoer, 2000).
e. Kista Inklusi Germinal
Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada wanita usia lanjut
dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di bawah permukaan ovarium,
dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah, dan isinya
cairan jernih dan serous
f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat proliferasi dari
sel yang mirip dinding endometrium, umumnya berisi darah yang merupakan hasil
peluruhan dinding saat menstruasi
2. Neoplasti Jinak
a. Kistik
i. Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis
dan cairan di dalam kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada dinding
kista tampak lapisan epitel kubik. Terapi terdiri atas pengangkatan kista
dengan reseksi ovarium, akan tetapi jarinngan yang dikeluarkan harus
segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada keganasan.
ii. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama dengan
kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama.
Kista ini sering ditemukan

bilateral (10-20%) daripada kistadenoma

musinosum. Tumor serosa dapat membesar sehingga memenuhi ruang


abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran kistadenoma
musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi dapat juga lobulated
karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur, meskipun lazimnya
berongga satu. Warna kista putih keabuan. Ciri khas dari kista ini adalah
potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50% dan keluar
pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning dan kadang-kadang
coklat karena bercampur darah. Tidak jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma). Pada
umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran makroskopis
kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang jinak, bahkan
pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan kepastian.
iii. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin
muncul sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia
mucinosum dari mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari teratoid
ditemukan pada penderia yang muda. Paling sering pada wanita berusia
antara 20-50 tahun dan jarang sekali

pada masa prapubertas. Tumor

evarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii


serosum. Kedua tumor ini merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium,
sedang kistadenoma ovarii musinosum nerupakan 40% dari seluruh
kelompok neoplasma ovarium. Kista ini biasanya mempunyai dinding yang
licin, permukaan berbagala (lobulated) dan umumnya multitokular dan
odematosa; lokular yang mengandung niukosa ini kelihatan biru dari
peregangan kapsulnya. Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat
besar dan pada tumor ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi.
Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral
(8-10%).
iv. Kista Endometroid
Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas
sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak
dalam rahim tetapi melekat pada dinding luar ovarium. Akibat peristiwa ini
setiap kali haid, lapisan tersebut menghasilkan darah haid yang akan terus
menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur.

Timbul gejala utama yaitu rasa sakit terutama sewaktu haid/ sexual
intercourse
v. Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang
kistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25%
dari semua kista dermoid

bilateral, lazimnya dijumpai pada masa

reproduksi walaupun dapat ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat
mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya mencapai

beberapa

kilogram. Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat
pembentukan lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa akan
menjadi sel sel folikel rambut, tulang, serta gigi secara tidak sempurna
tumbuh di sekitar ovarium. Kista ini tidak mempunyai ciri yang khas.
Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis. Konsistensi tumor
sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat.
1.4 Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon
pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri. Kista ovarium timbul dari folikel
yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.
a. Riwayat kista ovarium sebelumnya
b. Siklus menstruasi yang tidak teratur
c. Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas
d.

Menstruasi dini

e.

Tingkat kesuburan

f. Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang


g. Terapi tamosifen pada kanker mamma
Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga akibat
abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker yang tercetus oleh
radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.
1.5 Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut
Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari
2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur akan menjadi korpus luteum,
yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila

tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan
secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar
kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan (Mansjoer, 2000).
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan
selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista
theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan
HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau
sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional
(hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple
dengan diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien
dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan
LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi
ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG (Schorge, 2008).
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas
dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling
sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial.
Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan
mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini
adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial.
Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal
embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal. Endometrioma adalah kista berisi
darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya
terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam
sonogram (Schorge, 2008).
1.6 Gejala Klinis
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu
yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa :
a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering

berkemih.

c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri
spontan dan sakit diperut.
d.

Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut:


a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta organ di dalam rongga perut.
c. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan.
d. Gangguan buang air besar dan kecil.
e. Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.
1.7 Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik. Namun
biasanya sangat sulit untuk menemukan kista melalui pemeriksaan fisik. Maka kemudian
dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis kista ovarium. Pemeriksaan yang
umum digunakan adalah :
a. Ultrasonografi (USG)
Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan keberadaan kista,
membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat.
Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut.
Dari gambaran USG dapat terlihat:
1. Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan terlihat
sangat echolucent dengan dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista
nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya.
2. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler (berseptasepta).
3. Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal echoes) di
dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam kista (Schmeler KM,
2009).
b. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan lab dapat berguna sebagai screening maupun diagnosis apakah
tumor tersebut bersifat jinak atau ganas. Berikut pemeriksaan yang umum
dilakukan untuk mendiagnosis kista ovarium.
1. Pemeriksaan Beta-HCG

Pemeriksaan ini digunakan untuk screening awal apakah wanita


tersebut hamil atau tidak. Pemeriksaan ini dapat menyingkirkan
kemungkinan kehamilan ektopik.
2. Pemeriksaan Darah Lengkap
Untuk sebuah penyakit keganasan, dapat diperkirakan melalui LED.
Parameter lain seperti leukosit, HB, HT juga dapat membantu pemeriksa
menilai keadaan pasien.
3. Urinalisis
Urinalisis penting untuk mencari apakah ada kemungkinan lain, baik
batu saluran kemih, atau infeksi dan untuk menyingkirkan diagnosis
banding.
4. Pemeriksaan Tumor Marker
Tumor marker spesifik pada keganasan ovarium adalah CA125. CEA juga
dapat diperiksa, namun CEA kurang spesifik karena marker ini juga mewakili
keganasan kolorektal, uterus dan ovarium(Schmeler KM, 2009).
c. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat keganasan dari tumor
ovarium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama dengan proses operasi,
kemudian sampel difiksasi dan diperiksa dibawah mikroskop (Schmeler KM,
2009).
1.8 Penatalaksanaan
1. Observasi dan Manajemen Gejala
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 12 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau
dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas. Apabila terdapat nyeri,
maka dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti NSAID.
2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan
pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya kista yang
ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami penurunan berat badan yang
signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu bersifat jinak atau ganas jika telah
dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi setelah dilakukan pengangkatan kista itu
sendiri melalui operasi. Biasanya untuk laparoskopi diperbolehkan pulang pada hari

ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau
ke-9.
Kista ovarium simple persistent dengan ukuran 5-10cm, khususnya bila bersifat
simptomatik, dan kista ovarium complex harus dipertimbangkan untuk tindakan
operasi. Teknik operasi meliputi laparotomi (teknik insisi terbuka) dan teknik insisi
minimal (laparoskopi) dengan sayatan yang sangat kecil. Laparoskopi lebih disukai
daripada laparotomi karena memiliki efek samping yang lebih sedikit untuk pasien
dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Bagaimanapun, perlu diketahui bahwa hasil
operasi pada pasien dengan laparotoim tidak kalah dengan hasil operasi dengan
laparoskopi (Medeiros LR, 2009).
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalui screening USG umumnya
dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala maupun tanpa gejala.
Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi anatomi untuk memastikan
keganasan sel dari tumor tersebut (Medeiros LR, 2009).
1.10

Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di
jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Apabila sudah dilakukan operasi,
angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%. Kematian disebabkan karena
karsinoma ovari ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali
dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir
(Giuntoli RL, 2006).
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 86,2%. Tumor sel granuloma
memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang berasal
dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk (Glanc P, 2008).

DAFTAR PUSTAKA
1. Stany MP, Hamilton CA. Benign disorders of the ovary. Obstet Gynecol Clin North
Am. 2008 Jun. 35(2):271-84.

2. Bottomley C, Bourne T. Diagnosis and management of ovarian cyst accidents. Best


Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2009 Oct. 23(5):711-24.
3. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999: 13-14
4. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000..
5. Katz, Vern L., Gretchen M. Lentz, Rogerio A. Lobo, and David M.
Gershenson. Comprehensive Gynecology. Fifth. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2007.
6. Schorge et al. Williams Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic Oncology
Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills.2008.
7. Schmeler KM, Mayo-Smith WW, Peipert JF, Weitzen S, Manuel MD, Gordinier ME.
Adnexal masses in pregnancy: surgery compared with observation. Obstet Gynecol.
2005 May. 105(5 Pt 1):1098-103.
8. Medeiros LR, Rosa DD, Bozzetti MC, Fachel JM, Furness S, Garry R, et al.
Laparoscopy versus laparotomy for benign ovarian tumour. Cochrane Database Syst
Rev. 2009 Apr 15. CD00475
9. Giuntoli RL 2nd, Vang RS, Bristow RE. Evaluation and management of adnexal
masses during pregnancy.Clin Obstet Gynecol. 2006 Sep. 49(3):492-505.
10. Glanc P, Salem S, Farine D. Adnexal masses in the pregnant patient: a diagnostic and
management challenge. Ultrasound Q. 2008 Dec. 24(4):225-40.