Anda di halaman 1dari 11

ASKEP MOLAHIDATIDOSA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA


KLIEN DENGAN MOLAHIDATIDOSA
o
l
e
h
AHMAD YANI
CHRISTY OCTAVIANTA SINAGA
ETIKA SARIYANTI KARO-KARO
IBAR SUFA
JOHAN PRINO SIMANJUNTAK
MEY RUSMI SASTRI SIHOMBING
RIZAL SITUMEANG
ZULFADLI

AKADEMI KEPERAWATAN WIRAHUSADA


MEDAN
ANGKATAN XIV
2010/2011

KATA PENGANTAR
SALAM SEJAHTERA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan berkat dan rahmat-Nya yang melimpah, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah asuhan keperawatan ini dengan judul
ASUHAN KEPERAWATAN PADA MOLA HIDATIDOSA(HAMIL

ANGGUR) yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan nilai


semester IV di Akademi Keperawatan Wirahusada Medan T.A 2010/2011.
Makalah ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan dan
arahan dari semua pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
banyak kepada Ibu Ns.HAPPY NATALIA SEBAYANG, Skep sebagai
pembimbing yang telah banyak membantu menyelesaikan makalah ini berupa
moril dan spiritual.
Penulis menyadari sepenuh nya bahwa dalam penyusunan makalah
ini jauh dari kesempurnaan baik isi dan susunannya, hal ini disebabkan
keterbatasan waktu, wawasan, ataupun kesilafan penulis. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaan hasil
makalah ini.
Semoga segenap bantuan, bimbingan dan arahan yang telah di
berikan kepada penulis mendapat balasan dari Tuhan. Harapan penulis,
makalah ini dapat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan profesi
keperawatan.
Medan, 14 Mei 2011
PENULIS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh
berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan
sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil
anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 23)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus
korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi
villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang
diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 :
339)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi
kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.(Mansjoer, Arif, dkk, 2001 : 265)
Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi
sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi oleh cairan.
B. Etiologi

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor


penyebabnya adalah:
Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati , tetapi terlambat
dikeluarkan.
Imunoselektif dari tropoblast.
Keadaan sosio-ekonomi yang rendah.
Paritas tinggi. Kekurangan protein. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum
jelas (Mochtar, Rustam ,1998 : 23)
C. KLASIFIKASI
Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi :
1. Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin
2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin
Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari
penyakit trofoblast :
Teori missed abortion.
Janin mati pada kehamilan 3 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah
darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya
terbentuklah gelembung-gelembung.
Teori neoplasma dari Park.
Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana
terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.
Studi dari Hertig
Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata
akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio
komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus
menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan
fungsinya selama pembentukan cairan.
(Silvia, Wilson, 2000 : 467)

D. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan mola hidatidosa
adalah:
Amenore dan tanda-tanda kehamilan
Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan
lanjut, kadang keluar gelembung mola.
Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus
sudah membesar setinggi pusat atau lebih.e.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi
sebelum kehamilan 24 minggu.
(Mansjoer, Arif, dkk , 2001 : 266)
E. PATOFISIOLOGI
Ovum yang telah dibuai

Perkembangan sel ovum


Terjadi pragnancy
Gangguan pragnancy
Penyakit trofoblast
Gangguan sel ektodermal
Unsur peliput blastokista (bakteri)
Mual & muntah

Merusak mukosa rahim

Anoreksia

Ganguan peredarn darah

Resti nutrisi (-) kebutuhan

Malaise

Penimbunan cairan masenkim

Intoleransi aktivitas

Terbentuk gelembung-gelembung
Molahidatidosa
Komplet (kalsik)

inkomplet (parsial)

Kematian janin
Tindakan abortus
dikeluarkan
Kuratase
Terjadi perdarahan
Gangguan perfusi jaringan

Gangguan ovum yang patologik


kurangnya pengetahuan

ansietas
Resti infeksi

Ovum (embrio mati) yang tidak

Villus-villus chorialisis membesar


Pembengkakan kistik dan hidropik
Nyeri
Insomnia

F. PENATALAKSANAAN KLINIS
Diagnosis dini akan menguntungkan prognosisPemeriksaan.
USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya
sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid
terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting, pembesaran abnormal
uterus, pelunakan serviks dan korpus uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran

urin. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis
dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson.
Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera.
Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus).
Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Selain dari penanganan di
atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan
mola hidatidosa, yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses
evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL
dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap
perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat).
Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber
vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat
digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Kenali dan
tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan
setelah prosedur evakuasi. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600
mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi. Kadar hCG diatas 100.000 IU/L
praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif),
berikan kemoterapi f. MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan
USG tiap 2 minggu. Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan
kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin
menghentikan fertilisasi.
G. TEST DIAGNOSTIK
Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah
atau urin.
Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam
kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah
ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison).
Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 4
buland.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan
tidak terlihat janine.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli
udaraf.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis
(Arif Mansjoer, dkk, 2001 : 266)

BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan


untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis, menentukan cara pemecahannya,
melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan,
merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu
klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Tindakan
keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan
dan dinamis

1. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi
klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- ,
lamanya perkawinan dan alamat
Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang
Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit
atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid,
pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis
pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami
oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit
endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram
tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang
terdapat dalam keluarga.
Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya,
banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan
menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai
dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluahn yang menyertainya.
Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat
digitalis dan jenis obat lainnya.
Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi
(BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat
sakit.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, ialah:
DIAGNOSA I : Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan
Tujuan
: Klien akan menunjukkan nyeri berkurang/hilang
Kriteria Hasil : - Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang
- Ekspresi wajah tenang
- TTV dalam batas waktu normal
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala Mengetahui tingkat nyeri yang
nyeri yang dirasakan klien.
dirasakan sehingga dapat membantu
menentukan intervensi yang tepat.
Observasi tanda-tanda vital tiap 8 Perubahan tanda-tanda vital terutama
jam.
suhu dan nadi merupakan salah satu
indikasi peningkatan nyeri yang
dialami oleh klien.
Anjurkan klien untuk melakukan
Teknik relaksasi dapat membuat klien
teknik relaksasi.
merasa sedikit nyaman dan distraksi
dapat mengalihkan perhatian klien
terhadap nyeri sehingga dapat
membantu mengurangi nyeri yang
dirasakan.
Beri posisi yang nyaman.
Posisi yang nyaman dapat
menghindarkan penekanan pada area
luka/nyeri.
Kolaborasi pemberian analgetik.
Obat-obat analgetik akan memblok
reseptor nyeri sehingga nyeri tidak
dapat dipersepsikan.
DIAGNOSA II : Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
Tujuan
: Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri
Kriteria Hasil : - Kebutuhan personal higiene terpenuhi
- Klien tampak rapi dan bersih
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji kemampuan klien dalam memenuhi Untuk mengetahui tingkat
rawat diri.
kemampuan/ketergantungan klien dalam
merawat diri sehinnga dapat membantu
klien dalam memenuhi kebutuhan
hygienis.
Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa
sehari-hari.
membuat klien ketergantungan pada
perawat.
Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas Pelaksanaan aktivitas dapat membantu
sesuai kemampuan.
klien untuk mengembalikan kekuatan
secara bertahap dan menambah

Anjurkan keluarga klien untuk selalu


berada di dekat klien dan membantu
memenuhi kebutuhan klien.

kemandirian dalam memenuhi


kebutuhannya.
Membantu memenuhi kebutuhan klien
yang tidak terpenuhi secara mandiri.

DIAGNOSA III
: Gangguan pola tidur b/d adanya nyeri.
Tujuan
: Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak
terganggu.
Kriteria Hasil
: - Klien dapat tidur 7-8 jam pehari
- Konjungtiva tidak anemis
INTERVENSI
Kaji pola tidur

RASIONAL
Dengan mengetahui pola tidur klien, akan
memudahkan dalam menentukan
intervensi selanjutnya.
Ciptakan lingkungan yang nyaman dan Memberikan kesempatan pada klien untuk
tenang
beristirahat.
Anjurkan klien minum susu hangat
Susu mengandung protein yang tinggi
sebelum tidur.
sehingga dapat merangsang untuk tidur.
Batasi jumlah penjaga klien
Dengan jumlah penjaga klien yang
dibatasi maka kebisingan di ruangan
dapat dikurangi sehingga klien dapat
beristirahat.
Memberlakukan jam besuk
Memberikan kesempatan pada klien untuk
beristirahat.
Kolaborasi dengan tim medis pemberian Diazepam berfungsi untuk merelaksasi
obat tidur Diazepam
otot sehingga klien dapat tenang dan
mudah tidur.
DIAGNOSA IV
: Kecemasan b/d perubahan status kesehatan
Tujuan
: Klien akan menunjukkan kecemasan
berkurang/hilang
Kriteria Hasil
:- Ekspresi wajah tenang
- Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya
INTERVENSI
Kaji tingkat kecemasan pasien
Beri kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaannya
Mendengarkan keluhan klien dengan
empati

RASIONAL
Mengetahui sejauh mana kecemasan
tersebut mengganggu klien
Ungkapan perasaan dapat memberikan
rasa lega sehingga mengurangii
kecemasan
Dengan mendengarkan keluhan klien
secara empati maka klien akan merasa
diperhatikan

Jelaskan pada klien tentang proses


penyakit dan terapi yang di berikan
Beri dorongan spiritual/support
DIAGNOSA V
adanya
Tujuan
perifer

Menambah pengetahuan klien sehingga


klien tahu dan mengerti tentang
penyakitnya
Menciptakan ketenangan batin sehingga
kecemasan dapat berkurang

: Resiko terjadinya gangguan perfusi jaringan b/d


perdarahan.
: Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan
tidak terjadi.
:- Hb dalam batas normal (12-14g%)

Kriteria Hasil
- Turgor kulit baik
- Vital Sign dalam batas normal
- Tidak ada mual, muntah
INTERVENSI
Awasi tanda-tanda vital, kaji warna
kulit/membran mukosa, dasar kuku

RASIONAL
Memberikan informasi tentang
derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan
membantu menentukan intervensi
selanjutnya
Selidiki perubahan tingkat kesadaran, Perubahan dapat menunjukkan
keluhan pusing dan sakit kepala
ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai
akibat tekanan darah arterial
Kaji kulit terhadap dingin, pucat,
Vasokontriksi adalah respon simpatis
berkeringat, pengisian kapiler lambat dan terhadap penurunan volume sirkulasi dan
nadi perifer lemah
dapat terjadi sebagai efek samping
vasopressin
Berikan cairan intravena, produk darah Menggantikan kehilangan darah,
mempertahankan volume sirkulasi
Penatalaksanaan pemberian obat
Obat antikoagulan berfungsi mempercepat
antikoagulan tranexid 500 mg 3x1 tablet
terjadinya pembekuan darah/mengurangi
perdarahan
DIAGNOSA VI
: Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual,
muntah
Tujuan
: Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil
: - Nafsu makan berkurang
- Porsi maka di habiskan
INTERVENSI
Kaji status nutrisi klien

RASINAL
Sebagai awal untuk menetapkan rencana
selanjutnya
Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi Makan sedikit demi sedikit tapi sering

sering

mampu membantu untuk meminimalkan


anoreksia
Anjurkan untuk makan makanan dalam Makanan hangat dan bervariasi dapat
keadaan hangat dan bervariasi
meningkatkan nafsu makan klien
Timbang berat badan sesuai indikasi
Mengevaluasi keefiktifan atau kebutuhan
mengubah pemberian nutrisi
Tingkatkan kenyamanan linkungan
Sosialisasi waktu makan dengan orang
termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan terdekat atau teman dapat meningkatkan
orang terdekat untuk membawa makanan pemasukan dan menormalkan fungsi
yang disukai klien
makanan
DIAGNOSA VII
:Resiko tinggi terjadi infeksi b/d tindakan kuratase
Tujuan
: Klien akan terbebas dari infeksi
Kriteria Hasil
: - Tidak tampak tanda-tanda infeksi
- Vital sign dalam batas normal
INTERVENSI
Kaji ada nya tanda-tanda infeksi

RASIONAL
Mengetahui adanya gejala awal dari
proses infeksi
Observasi vital sign
Perubahan vitaal sign merupakan salah
satu indikator dari terjadinya proses
infeksi dari dalam tubuh
Observasi daerah kulit yang mengalami Deteksi dini perkembangan infeksi
kerusakan (luka, garis jahitan), daerah
memungkinkan untuk melakukan
yang terpasang alat invasif (infus, kateter) tindakan dengan segera dan pencegahan
komplikasi selanjutnya
Kolaborasi dengan tim medis untuk
Antibiotik dapat menghambat
pemberian obat antibiotik
pembentukan sel bakteri, sehingga proses
infeksi tidak terjadi. Disamping itu
antibiotik juga dapat langsung membunuh
sel bakteri penyebab infeksi

BAB III
KESIMPULAN
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma
villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal
akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh
terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.
Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi:
Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin.
Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.
Penyebab Mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor
penyebabnya adalah:
Faktor ovum:novum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat
dikeluarkan.
Imunoselektif dari tropoblast.
Keadaan sosio-ekonomi yang rendah.
Paritas tinggie, kekurangan protein. Infeksi virus dan faktor kromosom yang
belum jelas.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku
Kedokteran
EGC, Jakarta
Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC,
Jakarta
Soekojo, Saleh, 1973, Patologi, UI Patologi Anatomik, Jakarta
Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. EGC. Jakarta
Johnson & Taylor, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. EGC. Jakarta
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media
Aesculapius.
Jakarta