Anda di halaman 1dari 3

0

Karya Ilmiah dan Metode Penelitian Antropologi


(materi antropologi kelas XII)
Di dalam materi ini dijelaskan mengenai karya ilmiah dan metode penelitian antropologi
dimana siswa diajarkan untuk Melakukan kajian literatur, dan diskusi tentang metode dan
teknik penelitian kualitatif sebagai ciri penelitian antropologi yang nantinya siswa dituntut
untuk menyusun karya ilmiah berdasarkan hasil penelitian atau kajian antropologis yang akan
disajikan dalam bentuk laporan. Berbicara mengenai karya ilmiah di sini akan kita ulas
sedikit mengenai pengertiannya. Karya ilmiah merupakan karangan ilmu pengetahuan yang
dapat d bagi menjadi dua golongan yaitu karangan yang ilmiah dan karangan non-ilmiah.
Penggolongan tersebut berdasarkan fakta dan cara yang disajikan dalam karangan.
Fakta umum merupakan fakta yang disajikan dalam karangan ilmiah yang dianggap sesuai
prosedur dan dapat dibuktikan kebenarannya, berbeda fakta-fakta pribadi yang tidak dapat
dibuktikan kebenarannya oleh semua orang. Selain fakta, di dalam karya ilmiah juga
memiliki bahasa ragam ilmiah. Raham ilmiah adalah ragam bahasa Indonesia yang digunakan
dalam penulisan karya ilmiah. Ragam inilahh yang disebut sebagai ragam baku dimana
ragam ini ditandai dengan adanya ketentuan yang diukur dengan Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD).
Dalam hal ini kita juga berbicara mengenai metode ilmiah yang mana metode ilmiah dari
suatu ilmu pengetahuan adalah segala cara yang digunakan dalam ilmu tertentu untuk
mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu pengetahuan
bukanlah suatu ilmu dan tanpa di sadari terdapat hubungan atau kesatuan pengetahuan di
sana.
Kesatuan pengetahuan tersebut dapat di capai melalui tiga tingkatan yaitu, 1) pengumpulan
data, 2) penentuan ciri-ciri umum dan sistem, 3) verifikasi. Untuk antropologi budaya, tingkat
ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian yang ada di dalam masyarakat. Aktivitas
pengumpulan fakta terdiri dari berbagai metode seperti mengobservasi, mencatat, mengolah,
dan mendeskripsikan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup. Secara umum
metode pengumpulan data di bagi menjadi tiga:
a. Penelitian Lapangan
Penelitian ini disebut sebagai field work yang mana peneliti harus menunggu terjadinya gejala
yang menjadi objek observasinya dan peneliti di sana ikut serta dalam aktivitas yang terjadi.
b. Penelitian Laboratorium
Gejala dijadikan sebagai objek penelitian dapat dibuat dan sengaja diadakan oleh peneliti dan
di dalam penelitian ini peneliti tidak ada hubungannya dengan objek yang diteliti.
c. Penelitian dalam kepustakaan
Gejala yang akan menjadi objek penelitian dari kepustakaan, harus dicari beratus-ratus ribu
buku yang beraneka ragam. Dalam penelitian ini juga peneliti tidak ada hubungannya dengan
objek yang diteliti.
Seorang peneliti antropologi kebanyakan menggunakan metode pengumpulan fakta yang
bersifat kualitatif. Metode ini berupa metode wawancara dan catatan hasil (field notes).
Dalam catatan hasil (field notes) sendiri harus diolah menjadi karangan deskripsi yang
nantinya akan menjadi karangan yang dapat dibaca orang lain. Seluruh metode yang

digunakan, mulai dari metode pengumpulan sampai dengan mengolah data menjadi karangan
merupakan bidang deskriptif dari ilmu antropologi yang disebut etnografi dengan kata lain
berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku-suku bangsa yang ditulis oleh seorang
antropolog. Untuk belajar lebih mengenai etnografi Spradley (1997) menganjurkan untuk
malakukan, kerjakan, dan terus kerjakan. Metodenya disebut Deveopmental Research
Sequence atau Alur Penelitian Maju Bertahap yaitu dengan teknik tunggal, identifikasi
tugas, maju bertahap, penelitian orisinal dan problem solving.
Adapun tahapan-tahapan penelitian etnografi menurut Jerome Kerk dan Marc. L Miler
tersebut adalah sebagai berikut:
1.

Tahap pertama : Tahap pertama penelitian etnografi adalah memilih masyarakat


sebagai objek penelitian. Pada tahapan ini seorang penelitian harus pandai-pandai
menentukan masyarakat mana yang memliki kebudayaan yang mengakar dan dalam
Tahap pertama ini disebut sebagai find- ing the field. Hal-hal yang dilakukan adalah
cara-cara untuk masuk ke lapangan dengan baik dan lancar. Peneliti harus dapat
masuk dalam struktur aktivitas dari masyarakat.
2.
Tahap kedua : melakukan investigasi untuk menemukan (Discovery) dan
mengumpulkan (Getting) data, peneliti harus melakukan penyusunan rencana
peneliti yang rapi dan matang serta harus pandai menentukan dimana tempat dan
siapa yang nantinya di jadikan sampel data.
3.
Tahap ketiga : Pada tahapan ini data-data penelitian sudah mulai dipertanggung
jawabkan secara ilmiah dan mulai disusun secara sistematis. Kegiatan yang
dilakukan agar tahapan ini berjalan lancar adalah pengecekan validitas data yaitu
melakukan pengujian data yang didapat melalui evaluasi pengambilan data.
4.
Tahap ke-empat : Tahap ini adalah tahap terakhir dari penelitian etnografi yaitu .
Pada tahapan ini peneliti melakukan penjelasan untuk pamit kelapangan ( leaving,
explanation, getting out, and getting oven ). Kegiatan ini dilakukan karena
penelitian sudah sampai batas waktu yang ditentukan dan juga sudah mendapatkan
data-data primer yang diperlukan secara mendalam.
Teknik Penggalian Data dalam Penelitian Etnografi
1.

Teknik observasi : Teknik observasi biasa disebut sebagai metode pengamatan


lapangan. Ada empat macam metode observasi, yaitu pengamatan biasa
(pengamatan yang dilaksanakan peneliti tanpa terlibat kontak langsung dengan
pelaku (informan)), pengamatan terkendali (pengamatan terkendali peneliti tidak
perlu mengadakan kontak emosional dengan informan), pengamatan terlibat
(keterlibatan peneliti yang mengadakan hubungan emosional dan sosial dengan para
informan), dan pengamatan penuh atau lengkap (jika si peneliti mengidentifikasikan
dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang sedang ditelitinya).
2.
Teknik Wawancara : Teknik wawancara atau interview dipakai untuk
memperoleh data atau keterangan lebih jauh selain data-data yang diperoleh melalui
data observasi. Terdapat wawancara berencana (menyusun sejumlah pertanyaan
sedemikian rupa dalam bentuk questioner atau angket) dan wawancara tanpa
rencana (memperoleh tanggapan yang cukup luas menyangkut aspek-aspek
kejiwaan yang sangat dalam. Misalnya, wawancara untuk memperoleh tanggapan
tentang pandangan hidup atau sistem keyakinan).
Dalam melaksanakan metode wawancara atau interview terdapat tiga hal penting yang perlu
diperhatikan. Ketiga hal tersebut adalah teknik bertanya dalam wawancara, persiapan

wawancara, dan pencatatan data selama wawancara berlangsung. Ketiganya harus


dilaksanakan secara berurutan agar mendapatkan data yang benar-benar valid.
Sumber bacaan :
Lestari,puji.2009. Antropologi Untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta : Pusat Perbukuan
Koentjaraningrat.2009.Pengantar Ilmu Antropologi.Jakarta: PT Rineka Cipta
Doyin, Mukh; Wagiran. 2012. Bahasa Indonesia Pengantar Penulisan Karya
Ilmiah.Semarang:Unnes Press
Brotowidjoyo, Mukhayat D.1993.Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta:Akademika Pressindo
Spradley, James P.1997.Metode Etnografi. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya
http://blog.unnes.ac.id/ignasiaintan/

Anda mungkin juga menyukai