Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Susunan Anatomi Dan Fisiologi Kulit


Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastis,
menutupi seluruh permukaan tubuh dan terdiri dari 5% berat
tubuh. Kulit juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh,
mendeteksi

adanya

rangsangan

dari

luar

serta

untuk

mengeluarkan (ekresi) kotoran sisa metabolism.


Susunan kulit manusia sangat kompleks dan untuk lebih mudah
memahami efek proses absorbs pada kulit maka dibatasi hanya
menguraikan bagian kulit yang berperan dalam hal tersebut.
Kulit secara umum terdiri dari 3 bagian utama, secara berurutan
dari luar kedalam adalah epidermis, dermis, dan hypodermis.
Kulit juga memiliki bagian lain yaitu kelenjar keringat dan
kelenjar sebum yang berasal dari lapisan hypodermis atau
dermis dan bermuara kepermukaan dan

membentuk daerah

yang tak berkesinambungan pada epidermis.


Fisiologi Kulit
Menurut Anonim, (2011), fisiologi kulit berdasarkan anatominya,
terbagi atas 3 lapisan yaitu :
Kulit Ari (epidermis)
Epidermis melekat erat pada dermis karena secara fungsional
epidermis memperoleh zat-zat makanan dan cairan antar sel dari

plasma yang merembes melalui dinding-dinding kapiler dermis


ke dalam epidermis.
Lapisan tanduk (stratum corneum),
Proses pembaruan lapisan tanduk, terus berlangsung sepanjang
hidup, menjadikan kulit ari memiliki self repairing capacity atau
kemampuan memperbaiki diri.
Lapisan bening (stratum lucidum)
Lapisan bening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih yang kecil
kecil, tipis dan bersifat translusen sehingga dapat dilewati sinar
(tembuscahaya). Lapisan ini sangat tampak jelas pada telapak
tangan dan telapak kaki. Proses keratinisasi bermula dari lapisan
bening.
Lapisan berbutir (stratum granulosum)
tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang
mengandung butir-butir dalam protoplasmanya, berbutir kasa
dan berinti mengkerut. Lapisan ini paling jelas pada kulit telapak
tangan dan kaki.
Lapisan bertaju (stratum spinosum)
Di antara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang berguna
untuk peredaran cairan jaringan ekstraseluler dan pengantaran
butir-butir melanin.
Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Di dalam lapisan ini sel-sel epidermis bertambah banyak melalui
mitosis dan sel-sel tadi bergeser ke lapisan-lapisan lebih atas,
akhirnya menjadi sel tanduk. Di dalam lapisan benih terdapat

pula sel-sel bening (clear cells, melanoblas atau melanosit)


pembuat pigmen melanin kulit.
Kulit Jangat (dermis)
Keberadaan

ujung-ujung

saraf

perasa

dalam

kulit

jangat,

memungkinkan membedakan berbagai rangsangan dari luar.


Masing-masing saraf perasa memiliki fungsi tertentu, seperti
saraf dengan fungsi mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan,
panas, dan dingin.
Kelenjar keringat
Kelenjar

keringat

membuang

mengatur

sisa-sisa

suhu

pencernaan

badan
dari

dan

tubuh.

membantu
Kegiatannya

terutama dirangsang oleh panas, latihan jasmani, emosi dan


obat-obat tertentu.
Kelenjar palit
pada kulit kepala, kelenjar palit menghasilkan minyak untuk
melumasi rambut dan kulit Kepala.
Jaringan penyambung (jaringan ikat) bawah kulit (hipodermis)
Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau
penyangga benturan bagi organorgan tubuh bagian dalam,
membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan.
Pembuluh Darah Yang Melewati Tiap Lapisan Kulit
Menurut Elizabeth J., Corwin, (1975), pembuluh darah yang
berada di tiap lapisan kulit :
Epidermis

Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah.


Dermis
Diseluruh dermis dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan
simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat
dan

palit

(sebasea).

Pembuluh

darah

didermis

menyuplai

makanan dan oksigen dermis dan epidermis, dan membuang


produk sisa.
Pembuluh darah di dermis. Fungsi utama darah adalah untuk
mengangkut nutrisi dan oksigen ke setiap organ dalam tubuh,
termasuk kulit, dan untuk menghilangkan produk-produk limbah
dan karbon dioksida yang dihasilkan dalam berbagai sel tubuh.
Perhatikan bahwa tidak ada pembuluh darah di epidermis.
epidermis menerima nutrisi dan oksigen langsung dari dermis,
yang kaya dengan pembuluh darah (Avi Shai, 2009).
Dalam dermis, pembuluh darah (kelanjutan dari pembuluh darah
yang lebih besar lebih dalam tubuh) cabang yang kecil dan
pembuluh darah yang lebih kecil yang menutupi seluruh area
kulit. Pelebaran dan penyempitan (dilatasi dan penyempitan)
pembuluh darah terjadi sebagai respon terhadap perubahan
suhu,

untuk

membentuk

suatu

mekanisme

penting

untuk

mengendalikan suhu tubuh. Dilatasi hasil pembuluh darah dalam


kulit menjadi merah jambu, atau bahkan merah seperti merona
atau ketika suhu naik (Avi Shai, 2009).
Perkutan
Absorpsi perkutan adalah masuknya molekul obat dari luar kulit
ke dalam jaringan di bawah kulit, kemudian masuk ke dalam
sirkulasi darah dengan mekanisme difusi pasif (Chien, 1987).
Mengacu

pada

Rothaman,

penyerapan

(absorpsi)

perkutan

merupakan gabungan fenomena penembusan suatu senyawa


dari lingkungan luar ke bagian kulit sebelah dalam dan fenomena
penyerapan dari struktur kulit ke dalam peredaran darah dan
getah bening. Istilah perkutan menunjukkan bahwa penembusan
terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi
pada lapisan epidermis yang berbeda (Aiache, 1993).
Fenomena absorpsi perkutan (atau permeasi pada kulit) dapat
digambarkan dalam tiga tahap yaitu penetrasi pada permukaan
stratum corneum, difusi melalui stratum corneum, epidermis dan
dermis,

masuknya

molekul

kedalam

mikrosirkulasi

yang

merupakan bagian dari sirkulasi sistemik.


Penetrasi melintasi stratum corneum dapat terjadi melalui
penetrasi
transepidermal dan penetrasi transappendageal. Pada kulit
normal, jalur penetrasi
obat umumnya melalui epidermis (transepidermal), dibandingkan
penetrasi
melalui folikel rambut maupun melewati kelenjar keringat
(transappendageal).
Jumlah obat yang terpenetrasi melalui jalur transepidermal
berdasarkan luas
permukaan pengolesan dan tebal membran. Kulit merupakan
organ yang bersifat
aktif secara metabolik dan kemungkinan dapat merubah obat
setelah penggunaan

secara topikal. Biotransformasi yang terjadi ini dapat berperan


sebagai factor
penentu kecepatan (rate limiting step) pada proses absorpsi
perkutan (Swarbrick
dan Boylan, 1995).
a. Penetrasi transappendageal
Rute transappendageal merupakan rute yang sedikit digunakan
untuk
transport molekul obat, karena hanya mempunyai daerah yang
kecil (kurang dari
0,1% dari total permukaan kulit). Akan tetapi, rute ini berperan
penting pada
beberapa

senyawa

polar

dan

molekul

ion

hampir

tidak

berpenetrasi melalui
stratum corneum (Moghimi dkk, 1999).
Rute transappendageal ini dapat menghasilkan difusi yang lebih
cepat,
segera setelah penggunaan obat karena dapat menghilangkan
waktu yang
diperlukan oleh obat untuk melintasi stratum corneum. Difusi
melalui
transappendageal

ini

dapat

pemakaian obat (Swarbrick

terjadi

dalam

menit

dari

dan Boylan, 1995).


b. Penetrasi transepidermal
Sebagian besar penetrasi zat adalah melalui kontak dengan
lapisan stratum
corneum. Jalur penetrasi melalui stratum corneum ini dapat
dibedakan menjadi
jalur transelular dan interseluler. Prinsip masuknya penetran
kedalam stratum
corneum adalah adanya koefisien partisi dari penetran. Obatobat yang bersifat
hidrofilik akan berpenetrasi melalui jalur transeluler sedangkan
obat-obat lipofilik
akan masuk kedalam stratum corneum melalui rute interseluler.
Sebagian besar
difusan berpenetrasi kedalam stratum corneum melalui kedua
rute tersebut, hanya
kadang-kadang obat-obat yang bersifat larut lemak berpartisipasi
dalam corneocyt
yang mengandung residu lemak. Jalur interseluler yang berliku
dapat berperan
sebagai rute utama permeasi obat dan penghalang utama dari
sebagian besar obatobatan (Swarbrick dan Boylan, 1995).

Faktor

Yang

Mempengaruhi

Liberasi,

Disolusi,

Serta

Absorbsi Obat
Menurut

M.T

mempengaruhi

Simanjuntak
proses

LDA

(2006),
obat

berbagai
pada

faktor

pemberian

yang
secara

perkutan
a) Penyerapan (Absorbsi)
Sampai saat ini secara keseluruhan dari proses penyerapan
secara perkutan obat, belum diketahui. Kajian yang telah
dilakukan

hanya

terbatas

pada

faktor-faktor

yang

dapat

mengubah ketersediaan hayati zat aktif yang terdapat dalam


sediaan yang dioleskan pada kulit, seperti :

Lokalisasi Sawar (Barrier)

Kulit mengandung sejumlah tumpukan lapisan spesifik yang


dapat mencegah masuknya bahan-bahan kimia dan hal ini
terutama disebabkan oleh adanya lapisan tipis lipida pada
permukaan, lapisan tanduk dan lapisan epidermis malfigi. Pada
daerah ini, ditemukan juga suatu celah yang berhubungan
langsung dengan kulit bagian dalam yang dibentuk oleh kelenjar
sebasea yang membatasi bagian luar dan cairan ekstraselular,
yang juga merupakan sawar tapi kurang efektif, yang terdiri dari
sebum dan deretan sel-sel germinatif.
Peranan lapisan lipids yang tipis dan tidak beraturan pada
permukaan kulit (0,4 - 4 m) terhadap proses penyerapan
(absorpsi) dapat diabaikan. Peniadaan dari lapisan tersebut oleh
eter, alkohol atau sabun-sabun tertentu tidak akan mengubah
secara nyata permeabilitas kulit (Tregear, R, T. thn 1966),

keadaan yang sama juga terjadi setelah pengolesan pada


permukaan kulit yang mempunyai sebum setebal 30 m
(Eligman, A, M. thn 1963).
Lapisan lipida dapat ditembus senyawa-senyawa lipofilik dengan
cara difusi dan adanya kolesterol menyebabkan senyawa yang
larut dalam air dapat teremulsi.
Sawar (barrier) kulit terutama disusun oleh lapisan tanduk
(stratum corneum), namun demikian pada cuplikan lapisan
tanduk

(stratum

corneum)

terpisah,

juga

mempunyai

permeabilitas yang sangat rendah dan kepekaan yang sama


seperti kulit utuh (Sprott W, E,. thn 1965 dan Scheuplein R, J,.
dkk, thn 1669). Lapisan tanduk berperan melindungi kulit
(TregearR, T, thn 1966; Blank I. H, dkk, thn1969). Deretan sel-sel
pada lapisan tanduk saling berikatandengan kohesi yang sangat
kuat dan merupakan pelindung
Sesudahpenghilangan

lapisan

kulit yang paling

tanduk

(stratum

efisien.

corneum),

impermeabilitas kulit dipengaruhi oleh regenerasi sel; dalam 2


(dua) atau 3(tiga) hari meskipun ketebalan lapisan tanduk
(stratum corneum) yang terbentuk masih sangat tipis, namun
lapisan tersebut telah mempunyaikapasitas perlindungan yang
mendekati sempurna (Matoltsy A, G, dkk, thn 1962; Monash
S,dkk, thn 1963).
Dengan demikian epidermis mempunyai 2 (dua) jenis pelindung,
yang pertama adalah pelindung sawar spesifik yang terletak
pada

lapisan

tanduk

(stratum

corneum)

yang

salah

satu

elemennya berasal dari kulit dan bersifat impermeabel, dan


pelindung yang kedua terletak di sub-junction dan kurang efektif,
dibentuk oleh epidermis hidup yang permeabilitasnya dapat
disamakan dengan membran biologis lainnya. Pada sebagian
besar kasus, proses pergantian kulit diatur oleh lapisan tanduk

(stratum corneum) yang impermeabel dan akan membentuk


suatu pelindung terbatas.

Jalur Penembusan (Absorbsi)

Penembusan = penetrasi = absorbsi perkutan, terdiri dari


pemindahan obat dari permukaan kulit ke stratum corneum,
dibawah pengaruh gradien konsentrasi, dan berikutnya difusi
obat melalui stratum corneum yang terletak dibawah epidermis,
melewati dermis dan masuk kedalam mikro sirkulasi.
Jumlah total daya difusi (Rkulit) untuk penembusan melalui kulit
dijelaskan oleh Chen sbb :
R = Rsc + Re + Rpd
Dimana :
R = Daya difusi
sc = stratum corneum
E = epidermis
pd = lapisan papilla dari dermis
Kulit, karena sifat impermeabilitasnya maka hanya dapat dilalui
oleh sejumlah senyawa kimia dalam jumlah yang sedikit.
Penembusan molekul dari luar ke bagian dalam kulit secara
nyata dapat terjadi, baik secara difusi melalui lapisan tanduk
(stratum

corneum)

maupun

secaradifusi

melalui

kelenjar

sudoripori atau organ pilosebasea.

Penahanan Dalam Struktur Permukaan Kulit


dan Penyerapan Perkutan

Surfaktan amonik dan kationik juga tertahan di lapisan tanduk


atau rambut (Scott G. V, dkk, thn 1669), adanya muatan ion
mempakan penyebab terjadinya pembentukan ikatan ionik
dengan protein dari keratin (Idson B, J, thn 1967). Intensitas
penahanan akan berbanding lurus dengan ukuran dan muatan
kation atau anion. Akibat pengikatan ini maka umumnya
surfaktan dengan konsentrasi tinggi akan merusak struktur
lapisan tanduk (Scheuplein R, J, dkk, thn 1970), menyebabkan
peningkatan kehilangan air dan terjadi suatu iritasi yang
bermakna. Pada konsentrasi surfaktan yang rendah terjadi
keadaan sebaliknya, ikatan sediaan kosmetika tertentu dengan
lipida akan mempermudah penyerapan sediaan ini pada lapisan
tanduk dan dengan demikian meningkatkan kerja pelembutan
kulit (Idson B, J, thn 1967).
Penahanan senyawa pada lapisan tanduk akan mengurangi
resiko keracunan karena akan mencegah terjadinya penyerapan
sistemik. Lapisan tanduk (stratum corneum) bukan merupakan
satu

satunya

penyebab

terjadinva

fenomena

penahanan

senyawa pada kulit; dalam hal tertentu dermis berperanan


sebagai depo.
b) Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan
perkutan

Keadaan dan Umur Kulit

Kulit utuh merupakan suatu sawar (barrier) difusi yang efektif


dan

efektivitasnya

berkurang

bila

terjadi

perubahan

dan

kerusakan pada sel-sel lapisan tanduk.Pada keadaan patologis


yang ditunjukkan oleh perubahan sifat lapisan tanduk (stratum
corneum);

dermatosis

dengan

eksim,

psoriasis,

dermatosis

seborheik, maka permiabilitas kulit akan meningkat. Scott, thn

1959, telah membukfkan bahwa kadar hidrokortison yang


melintasi kulit akan berkurang bila lapisan tanduk berjamur dan
akan meningkat, pada kulit dengan eritematosis. Hal yang sama
juga telah dibuktikan bila kulit terbakar atau luka.Bila stratum
corneum rusak sebagai akibat pengikisan oleh plester , maka
kecepatan difusi air, hidrokortison

dan sejumlah senyawa lain

akan meningkat secara nyata

Aliran Darah

Perubahan debit darah ke dalam kulit secara nyata akan


mengubah kecepatan penembusan molekul. Pada sebahagian
besar obat obatan, lapisan tanduk merupakan faktor penentu
pada proses penyerapan dan debit darah selalu cukup untuk
menyebabkan senyawa menyetarakan diri dalam perjalanannya.
Namun, bila kulit luka atau bila dipakai cara iontoforesis untuk
zat aktif, maka jumlah zat aktif yang menembus akan lebih
banyak dan peranan debit darah merupakan faktor yang
menentukan. Demikian pula bila kapasitas penyerapan oleh
darah

sedikit

senyawa

atau

ester

hiperemi

nikotinat,

yang

maka

disebabkan

akan

terjadi

pemakaian
peningkatan

penembusan. Akhimya, penyempitan pembuluih darah sebagai


akibat

pemakaian

mengurangi

setempat

kapasitas

alir

dari
dari

kortikosteroida
darah,

akan

menyebabkan

pembentukan suatu timbunan (efek depo) pada lapisan kulit dan


akan mengganggu penyerapan senyawa yang bersangkutan.

Tempat pengolesan

Jumlah yang diserap untuk suatu molekul yang sama, akan


berbeda dan tergantung pada susunan anatomi dari tempat
pengolesan:
Perbedaan

kulit

dada,

ketebalan

punggung,

terutama

tangan

disebabkan

atau
oleh

lengan.

ketebalan

lapisan tanduk (stratum corneum) yang berbeda pada setiap


bagian tubuh, tebalnya bervariasi antara 9 pm untuk kulit
kantung zakar sampai 600 pin untuk kulit telapak tangan dan
telapak kaki.

Kelembaban dan Temperatur

Pada keadaan normal, kandungan air dalam lapisan tanduk


rendah, yaitu 5-15%, namun dapat ditingkatkan sampai 50%
dengan cara pengolesan pada permukaan kulit suatu bahan
pembawa yang dapat menyumbat: vaselin, minyak atau suatu
pembalut

impermeabel.

Peranan

kelembaban

terhadap

penyerapan perkutan telah dibuktikan oleh Scheuplein R, J,


dkk, thn 1971; stratum corneum yang lembab mempunyai
afinitas

yang

sama terhadap

senyawa-senyawa yang larut

dalam air atau dalam lipida. Sifat ini disebabkan oleh struktur
histologi sel tanduk dan oleh benang-benang keratin yang dapat
mengembang dalam air dan pada media lipida amorf yang
meresap di sekitarnya. Kelembaban dapat mengembangkan
lapisan tanduk dengan cara pengurangan bobot jenisnya atau
tahanan difusi. Air mula-mula meresap di antara janngan
jaringan,

kemudian

menembus

ke

dalam

benang

keratin,

membentuk suatu anyaman rangkap yang stabil pada daerah


polar yang kaya air dan daerah non polar yang kaya lipida.
Menurut Howard C., Ansel (2008), faktor-faktor yang berperan
dalam absorbsi perkutan dari obat adalah sifat dari obat itu
sendiri, sifat dari pembawa, kondisi dari kulit dan adanya uap air.
Walaupun sukar untuk diambil kesimpulan umum, yang dapat
diberlakukan pada kemungkinan yang dihasilkan oleh kombinasi
obat, pembawa dan kondsi kulit, tapi konsensus temuan hasil
penelitian mungkin dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Obat yang dicampurkan dalam pembawa tertentu harus


bersatu pada permukaan kulit dalam konsentrasi yang
cukup.
2. Konsentrasi

obat

umumnya

merupakan

faktor

yang

penting, jumlah obat yang diabsorbsi secara perkutan


perunit luas permukaan setiap periode waktu, bertambah
sebanding dengan bertambahnya kkonsentrasi obat dalam
suatu pembawa.
3. Semakin banyak obat diserap dengan cara absorbsi
perkutan apabila bahan obat dipakai pada permukaan yang
lebih luas.
4. Bahan obat harus mempunyai suatu daya tarik fisiologi
yang lebih besar pada kulit dari pada terhadap pembawa,
supaya obat dapat meninggalkan pembawamenuju kulit.
5. Beberapa derajat kelarutan bahan obat baik dalam minyak
dan air dipandang penting untuk efektivitas absorbsi
perkutan. Pentingnya kelarutan obat dalam air ditunjukan
oleh

adanya

koefisien

konsentrasi

partisi

sangat

pada

daerah

mempengaruhi

absorbsi

dan

jumlah

yang

dipindahkan melalui tempat absorbsi. Zat terlarut bobot


molekul yang dibbawah 800 sampai 100 dengan kelarutan
yang sesuai dalam minyak mineral dan air (>1mg/mL)
dapat meresapkedalam kulit.
6. Absorbsi obat nampaknya ditingkatkan dari pembawa yang
dapat

dengan mudah menyebar dipermukaan kulit,

sesudah dicampur dengan cairan berlemak dan membawa


obat

untuk

absorbsi.

berhubungan

dengan

jaringan

sel

untuk

7. Pembawa yang meningkatkan jumlah uap air yang ditahan


kulit umumnya cenderung baik bagi absorbsi pelarut obat.
Pembawa yang bersifat lemak bekerja sebagai penghalang
uap air sehingga keringat tidak dapat menembus kulit dan
tertahan

pada

kulit

sehingga

umunya

menahasilkan

hidrasi dari kulit dibawah pembawa.


8. Hidrasi dari kulit umunya fakta yang paling penting dalam
absorbsi perkutan. Hidrasi sratum corneum tampaknya
meningkatkan derajat lintasan dari semua obat yang
mempenetrasi

kulit.

Peningkatan

absorbsi

mungkin

disebabkan melunaknya jaringan dan akibat pengaruh


bunga karang dengan penambahan ukuran pori-pori
yang memungkinkan arus bahan lebih besar, besar dan
kecildapat melaluinya.
9. Hidrasi kulit bukan saja dipengaruhi oleh jenis pembawa
(misalnya bersifat lemak) tetapi juga oleh ada tidaknya
pembungkus dan sejenisnya ketika pemakaian obat. Pada
umunya

pemakaian

pembungkusyang

tidak

menutup

seperti pembawa yang bercampur dengan air, akan


mempengaruhi

efek

pelembab

dari

kulit

melaluipenghalang penguapan keringat dan oleh karena itu


mempengaruhi absorbsi. Penutup yang menutup lebih
efektif daripada anyaman jarang dari pembungkus yang
tidak menutup.
10.

Pada umunyan penggosokan atau pengolesan waktu

pemakaian pada kulit akan meningkatkan jumlah obat


yang diabsorbsi dan semakin lama mengoleskan dengan
digosok-gosok, semakin banyak piula obat yang diabsorbsi.

11.

Absorbsi perkutan nampaknya apabila obat dipakai

pada kulit dengan lapisan tanduk yang tipis daripada yang


tebal. Jadi, tempat pemakaian mungkin bersangkut paut
dengan derajat absorbsi, dengan absorbsi dari kulit yang
ada penebalannya atau tempat yang tebal seperti telapak
tangan dan kaki secara komparatif lebih lambat.
Pada umumnya, semakin lama waktu pemakaian obat menempel
pada

kulit,

semakin

Bagaimanapun

juga

banyak

perubahan

kemungkinan
dahidrasi

absorbsi.

kulit

sewaktu

pemakaian atau penjenuhan kulit oleh obat, akan menghambat


tambahan absorbsi.
Keuntungan Penghantaran Obat Secara Transdermal
Penghantaran obat secara transdermal didasarkan pada absorpsi
obat ke
kulit

setelah

aplikasi

topikal.

Rute

transdermal

untuk

penghantaran obat secara


sistemik telah banyak diakui dan dimanfaatkan. Penghantaran
obat secara
transdermal memberikan banyak keuntungan dibanding dengan
bentuk pemberian
obat yang lain. Perbedaan dengan pemberian secara oral,
senyawa masuk ke
dalam tubuh melewati kulit sehingga menghindari terjadinya
first-pass
metabolism di hati dan sering kali menghasilkan bioavailabilitas
yang lebih tinggi.

Penghantaran obat secara transdermal dapat digunakan untuk


pasien dengan
nausea, sedikit dipengaruhi oleh pemasukan makanan dan dapat
dengan mudah
dihilangkan.

Perbedaan

dengan

penghantaran

obat

secara

intravena, pemberian
obat secara transdermal tidak invasif dan resiko terjadinya
infeksi sangat kecil.
Selain itu, penggunaan sediaan transdermal relatif memudahkan
pasien untuk
menggunakan dan melepaskannya. Penghantaran obat secara
transdermal
memberikan penghantaran obat secara kontinyu, frekuensi dosis
obat bolus
dengan t yang pendek dihindari, sehingga sebagai hasilnya
efek samping atau
variabilitas efek terapetik pada puncak dan konsentrasi obat
pada plasma yang
terlihat

pada

pemberian

obat

melewati

bolus

dapat

diminimalisasi (Phipps dkk,


2004).
Penghantaran obat secara transdermal harus mampu mengatasi
hambatan

pada kulit. Kulit melindungi tubuh dari lingkungan secara efektif


dan umumnya
hanya permeabel untuk obat yang kecil dan lipofilik. Sistem
penghantaran
transdermal tidak hanya bertujuan untuk memberikan obat ke
kulit pada kondisi
yang

stabil,

tetapi

juga

harus

memberikan

peningkatan

permiabilitas kulit secara


lokal untuk senyawa obat yang besar, bermuatan dan hidrofilik
dengan
meminimalkan terjadinya iritasi (Phipps dkk, 2004).
Keuntungan bentuk sediaan trandermal adalah:
1. Dapat mengeliminasi ketidakteraturan absorbsi obat dan
saluran cerna karena
pengaruh pH, makanan dan waktu transit usus
2. Obat bypass sirkulasi portal (tidak harus lewat hati)
3. Memungkinkan absorpsi obat secara konstan dan kontinyu
4. Pemakaian obat dapat dengan mudah dihentikan
5. Dapat memberikan input obat secara terkontrol ke dalam
sistem sistemik dan dapat
mengeleminasi lonjakan obat dalam darah.

Disamping keuntungan,

sediaan transdermal

juga

memiliki

keberatan/kerugian
yaitu:
1. Tidak semua obat dapat digunakan, hanya untuk obat dengan
botot molekul kurang
dan 1000
2. Tidak semua bagian tubuh dapat digunakan untuk tempat
aplikasi sediaan
trandermaI (terbatas pada bagian tertentu saja)
3. Dosisnva tertentu (tidak boleh teralu besar) harus obat-obat
yang poten.
Penggolongan Salep

(1)

Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi :

(a)Unguenta

adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak


mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai
tenaga.

(b)Cream

adalah salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit.


Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.

(c)Pasta

adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat
(serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau
pelindung bagian kulit yang diberi.

(d)Cerata

adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase


tinggi lilin (waxes), sehingga konsistensinya lebih keras.

(e)Gelones Spumae : (Jelly)


adalah suatu salep yang lebih halus. Umumnya cair dan
mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada
membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Biasanya terdiri
dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur
yang rendah.

(2)

Menurut Efek Terapinya, salep dibagi atas :

Salep Epidermic (Salep Penutup)

Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk


melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal, karena bahan obat
tidak

diabsorbsi.

Kadang-kadang

ditambahkan

antiseptik,

astringen untuk meredakan rangsangan. Dasar salep yang


terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin).

Salep Endodermic

Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak


melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Untuk melunakkan kulit
atau selaput lendir diberi lokal iritan. Dasar salep yang baik
adalah minyak lemak.

Salep Diadermic (Salep Serap).


Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit
dan

mencapai

efek

yang

diinginkan

karena

diabsorbsi

seluruhnya, misalnya pada salep yang mengandung senyawa


Mercuri, Iodida, Belladonnae. Dasar salep yang baik adalah
adeps lanae dan oleum cacao.

(3)

Menurut Dasar Salepnya, salep dibagi atas :

(a)Salep hydrophobic
yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak, misalnya:
campuran dari lemak-lemak, minyak lemak, malam yang tak
tercuci dengan air.

(b)Salep hydrophillic
yaitu salep yang kuat menarik air, biasanya dasar salep tipe o/w
atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih
lembek, kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol
dan petrolatum.
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu
khasiat yang diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan,
ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan jadi.
Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang
kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan.
Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis, lebih stabil dalam
dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung
air, meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar
salep yang mangandung air.