Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PEMBAHASAN
A.

Metode Elektromagnetik
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu
metode pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan
alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan
membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan
oleh bumi. Sedangkan sumber-sumber yang digunakan dalam pengukuran
tersebut diantaranya ada- lah gelombang elektromagnetik, getaran, sifat
kelistrikan, sifat kemagnetan, dan lain-lain.
Metode EM adalah salah satu
metode geofisika untuk mengetahui
anomali di bawah permukaan yang memanfaatkan sifat medan magnet dan
medan listrik (Buttler, 2010).
Survei elektromagnetik (EM) pada dasarnya diterapkan untuk
mengetahui

respons

bawah

permukaan

menggunakan

perambatan

gelombang elektromagnetik yang terbentuk akibat adanya arus bolak-balik


dan medan magnetik. Medan elektromagnetik primer dihasilkan oleh arus
bolak-balik yang melewati sebuah kumparan yang terdiri dari lilitan kawat.
Respons bawah permukaan berupa medan elektromagnetik sekunder dan
resultan medan terdeteksi sebagai arus bolak-balik yang menginduksi arus
listrik pada koil penerima (receiver) sebagai akibat adanya induksi
elektromagnetik.
B.

Jenis-jenis Metode Elektromagnetik


Metode elektromagnetik yang digunakan umumnya terbagi menjadi 2,
yaitu metode aktif dan metode aktif. Metode elektromagnetik aktif,
menggunakan sumber gelombang elektromagnetik yang berasal dari alam,
contoh dari metode elektromagnetik ini antara lain Metode ektromagnetik
VLF (Very Low Frequency) dan Metode Elektromagnetik Magnetotelurik.
Sedangkan metode elektromagnetik aktif, menggunakan sumber gelombang
elektromagnetik buatan yang di pancarkan oleh transmitter. Contoh dari
metode ini antara lain metode elektromagnetik CSAMT (Controlled-Source

Audio-Frequency Magnetotellurics), dan metode elektromagnetik GPR


(Ground Penetrating Radar).
1. Metode Very Low Frequency (VLF)
a. Pengertian
Metode VLF-EM merupakan salah satu metode geofisika yang
digunakan untuk menggambarkan rapat arus induksi yang terdapat di
bawah permukaan bumi. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh
Ronka pada tahun 1971. Metoda ini memanfaatkan gelombang
elektromagnetik

dengan

frekwensi

5-30

kHz.

Metode

ini

memanfaatkan medan elektromagnetik yang dibangkitkan pemancarpemancar gelombang radio VLF berdaya besar yang dioperasikan
untuk kepentingan militer, terutama untuk berkomunikasi dengan
kapal selam.
Medan magnetik dan medan listrik yang dibangkitkannya disebut
sebagai medan primer. Medan primer membangkitkan medan
sekunder sebagai akibat adanya arus induksi yang mengalir pada
benda-benda konduktor di dalam tanah. Medan sekunder yang timbul
bergantung pada sifat-sifat medan primer, sifat listrik benda-benda di
dalam tanah dan medium sekitarnya, serta bentuk dan posisi bendabenda tersebut. Pada daerah pengamatan VLF dilakukan pengukuran
terhadap resultan medan primer dan medan sekunder, dimana
perubahan

resultan

kedua

medan

tersebut

tergantung

pada

perubahanmedan sekunder. Sehingga bentuk, posisi, dan sifat listrik


benda-benda di bawah daerah pengamatan dapat diperkirakan. Metode
VLF ini secara umum digunakan untuk penelitian geologi yang
bersifat dangkal.
Untuk metode VLF ada dua mode yaitu mode tilt angle dengan
parameter yang dipakai adalah sudut tilt dan parameter resistivitas
sedangkan mode resistivitas dengan parameter tahanan jenis medium
dan sudut fase medium. Komponen yang diukur dalam VLF adalah tilt
angle yaitu sudut utama polarisasi ellip dari horizontal (dalam
derajat atau persen), dan eliptisitas adalah perbandingan antara
sumbu kecil terhadap sumbu besarnya (dalam persen). Tilt angle dan
3

eliptisitas , berkaitan dengan komponen mirip dengan bagian


quadrature (komponen imaginer) dari komponen vertikal. Kedua
parameter tersebut diukur dalam prosentase terhadap medan primer
horizontal.
b. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pengambilan data metode VLF
adalah sebagai berikut :
alat VLF-EM;
aki charger 12 V 2,2 A;
GPS;
kompas;
dan peralatan pendukung lainnya.
Peralatan utama yang diperlukan adalah alat untuk menangkap
sinyal VLF Elektromagnetik. Ada berbagai jenis alat untuk
menangkap sinyal VLF-EM ini. Jenis yang sering digunakan dalam
akuisisi adalah VLF-EM ENVI SCINTREX.

Alat Ukur VLF-EM 1

Alat Ukur VLF-EM II

c. Akuisi Data
Hal pertama yang harus dilakukan untuk memperoleh data VLF
adalah me- nyiapkan peralatan dan menentukan lokasi penelitian
yang akan diambil data VLF-nya. Setelah itu proses akuisisi
dilakukan sebagai berikut :

Data lapangan diambil menggunakan T-VLF IRIS instrumen dan


theodolit atau GPS untuk menentukan titik ukur.

Sumber gelombang EM frekuensi sangat rendah dari stasiun


pemancar gelombang. Contohnya andalah VLF NWC Australia,
dimana stasiun ini memiliki daya pancar yang mencakup hampir
seluruh wilayah Indonesia.

Lintasan survei harus memanjang dengan spasi untuk setiap


stasiun. Lintasan yang dibuat diperkirakan memotong daerah
anomali. Arah pengukuran harus tegak lurus dengan pemancar
(Australia) atau menghadap kepemancar.

Pengambilan

data

VLF

menggunakan

alat

penangkap

gelombang.

Akuisisi data dari masing-masing titik pengukuran dilakukan


dalam dua posisi, yaitu duduk dan berdiri.

d. Pengolahan Data dan Interpretasi Data

1) Pengolahan Data VLF


Data yang telah terambil meliputi data elektromagnetik yang
didapatkan dalam pengukuran. Data pengukuran tersebut
merupakan superposisi antara sinyal yang berasal dari anomali
dan gangguan (noise) dari struktur lokal yang tidak diharapkan.
Terdapat empat jenis koreksi dalam pengolahan data VLF-EM,
yaitu :

Koreksi Moving Average Filter


Dengan asumsi gelombang yang diterima oleh VLF-EM
adalah

frekuensi

rendah

dan

noise

eksternal

juga

mempengaruhi pengukuran, maka filter moving average


digunakan untuk menghilangkan noise frekuensi tinggi. Oleh
karena itu, sinyal yang disaring benar- benar merupakan
anomali bahan konduktif di bawah permukaan.

Contoh koreksi Moving Average Filter

Filter Flaser
Dengan menggunakan filter ini, titik potong dari anomali
menjadi optimal (mencapai puncaknya), maka hasil filter ini
akan membuat proses analisis lebih mudah. Filter Fraser

diaplikasikan untuk setiap lintasan dengan menempatkan


lokasi pengukuran pada (x, y) dan anomali di (z), karena itu
kontur dapat dibuat. Kontur menunjukkan anomali tersebar di
suatu daerah.

Contoh hasil filter flaser

Interpretasi menggunakan data sebelum filter Fraser akan


sulit, karena kesulitan untuk menentukan titik perubahan
yang tidak terfokus pada satu titik, selain itu, jika daerah
tersebut memiliki banyak bahan konduktif, titik perubahan
akan lebih sulit untuk ditentukan. Setelah dilakukan filter
Fraser

anomali

menjadi

lebih

jelas.

Namun

untuk

mendapatkan hasil interpretasi yang lebih baik dapat dibantu


menggunakan data lain seperti (quadrature, titlt-angle, atau
total-field).

Filter Karous-Hjelt
Interpretasi kualitatif VLF-EM dapat dilakukan dengan
menggunakan filter Karous- Hjelt. Penerapan hasil filter ini
berupa distribusi kerapatan arus yang dapat member
informasi mengenai daerah konduktif.

Gambar hasil filter Karous-Hjet

2) Interpretasi Data VLF


Setelah dilakukan pengolahan data hingga dilakukan berbagai
filter-filter yang diperlukan makan hasil yang didapatkan berupa
grafik frekuensi pengukuran atau dalam bentuk kontur/citra
2D

untuk

dapat

dilakukan

interpretasisetelah itu. Dalam

melakukan interpretasi data VLF dapat dilakukan dengan


beberapa cara yaitu :

Interpretasi dari Derivatif Fraser


Interpretasi yang dilakukan dari hasil derivative koreksi
Fraser Filter.

Interpretasi Perkiraan Langsung


Interpretasi yang dapat dlakukan dengan memperkirakan
langsung dari hasil pengukuran yang telah didapatkan.
Interpretasi cara ini dapat dikatakan tidak akurat karena
masih banyak noise yang belum dikoreksi pada data yang
telah didapat.

Interpretasi dengan Filter Linier Karous Hjelt


Interpretasi yang dilakukan dengan melihat hasil filter Linier
karous hjelt. Hasil yang didapatkan lebih baik dari
sebelumnya karena telah dilakukan beberapa kali pemfilteran.

Interpretasi terhadap data VLF dapat dilakukan dengan


perangkat lunak

Interpretasi

yang

dlakukan

dengan

perangkat

lunak

biasanya lebih mudah dan lebih akurat


2. Metode Magnetotelurik
a. Pengertian
Metoda magnetotellurik (MT) merupakan salah satu metode
eksplorasi geofisika yang memanfaatkan medan elektromagnetik
alam. Medan EM tersebut ditimbulkan oleh berbagai proses fisik yang
cukup kompleks sehingga spektrum frekuensinya sangat lebar (10-5
Hz 104Hz).
Kebergantungan fenomena listrik - magnet terhadap sifat
kelistrikan terutama konduktivitas medium (bumi) dapat dimanfaatkan
untuk keperluan eksplorasi menggunakan metoda MT. Hal ini
dilakukan dengan mengukur secara simultan variasi medan listrik
(e) dan medan magnet (H) sebagai fungsi waktu. Informasi mengenai
konduktivitas medium yang terkandung dalam data MT dapat
diperoleh dari penyelesaian persamaan Maxwell menggunakan
model-model yang relatif sederhana.
Pada dekade 50-an untuk pertama kali hal tersebut dilakukan dan
dibahas secara terpisah oleh Tikhonov (1950),Rikitake (1946), Price
(1950), Kato dan Kikuchi (1950), Cagniard (1953) dan Wait (1954)
yang kemudian menjadi dasar metoda MT. Dengan demikian metoda
ini masih relatif baru jika dibandingkan dengan metoda geofisika
lainnya.
Metode Magnetotellurik adalah suatu metode yang bersifat pasif
yang memanfaatkan tahanan jenis bawah permukaan. Medan EM
yang digunakan mempunyai frekuensi yang panjang sehingga mampu
menyelidiki keadaan permukaan dari kedalamaan puluhan hingga
ribuan meter. Sumber medan EM yaitu aktivitas petir (>1Hz),
resonansi lapisan iomosfer bumi (<1Hz), dan bintik hitam matahari
(<<1Hz).
b. Prinsip Kerja

Proses induksi elektromagnetik yang terjadi pada anomaly


permukaan bawah. medan EM yang menembus bawah permukaan
akan menginduksi anomaly konduktif bawah permukaan bumi
sehingga menghasilkan E dan magnetic sekunder yang kemudian
direkam oleh alat magnetotellurik. Kontras resistivitas antara atmosfer
dan permukaan bumi menunjukan bahwa gelombang EM merambat
vertical ke bawah permukaan.

Berdasarkan sifat penjalaran,

kedalaman penetrasi bergantung pada frekuensi dan

resistivitas.

Material yang resistivitas lebih kecil mempunyai daya tembus yang


lebih kecil sedangkan medan EM yang mempunyai frekuensi lebih
tinggi mempunyai daya tembus yang tinggi.
c. Peralatan
Dalam penggunaan metode Magnetotellurik (MT) sumber yang
digunakan merupakan sumber alam. Sehingga pada metode ini
peralatan yang digunakan hanyalah alat penangkap gelombang
elektromagnetik alat tersebut. Peralatan tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut :

Alat Ukur AMT (Audio Magnetotelluric) atau Magnetometer


Alat ini untuk merekam komponen orthogonal medan listrik
(Ex dan Ey) dan medan magnetik (Hx dan Hy) pada jangkauan
frekuensi tertentu. Ada beberapa jenis alat ukur AMT yang
sering digunakan, di-antaranya adalah Model JCR-103 (4Channel)

dan

Model

MTU-5a (5-channel system) produksi

Phoenix Geophysics.

Koil Induksi Magnetik


Koil induksi magnetic berfungsi sebagai sensor medan magnetik.
Sen-sor ini dietakkan dipermukaan tanah.

Elektroda Listrik atau Porouspot


Elektroda listrik atau porouspot berfungsi sebagai sensor medan
listrik. Sensor ini ditancapkan dengan kedalaman sekitar 30 cm.

10

GPS
GPS digunakan untuk menentukan koordinat lokasi pengambilan
data.

kabel-kabel
Kabel digunakan untuk menyambungkan bagian-bagian alat
dengan sensor.

Laptop atau komputer


Laptop atau Komputer untuk memonitor data yang direkam alat
ukur AMT.

Peralatan MT type MTU 5A buatan Phoenix Geophysics, Ltd Canada

d. Akuisisi Data
Pada dasarnya pengambilan data di daerah survey (data acquisition)
MT dilakukan untuk mengetahui variasi medan EM terhadap waktu,
yaitu dengan mengukur secara simultan komponen horisontal medan
listrik (Ex , Ey) dan medan magnet (Hx , Hy). Sebagai pelengkap
diukur pula komponen vertikal medan magnet (Hz). Oleh karena itu,
alat ukur MT terdiri dari tiga sensor sinyal magnetik (magnetometer)
dan dua pasang sensor sinyal listrik (elektroda) beserta unit penerima
yang berfungsi sebagai pengolah sinyal dan perekam data.
Setelah mempersiapkan segala peralatan dan mengkalibrasi
peralatan yang diperlukan, langkah-langkah dalam pengambilan data
yaitu sebagai berikut :
1) Pemasangan Sensor Medan Listrik

11

Pemasangan sensor medan listrik yaitu dengan menanam 4 buah


po-rouspot di titik utara, selatan, barat dan timur dari titik
pengukuran. Jarak antar tiap porouspot dari timur ke barat dan dari
utara ke selatan biasanya adalah 80-100 meter tergantung kepada
kondisi topografi daerah setempat. Penanaman porouspot dilakukan
dengan menggali lubang sedalam kurang lebih 30 cm. Porouspot
yang digunakan se-bagai sensor medan listrik ini sebaiknya dari
jenis nonpolarizable porouspot Cu - CuSO4 dengan kestabilan
yang tinggi terutama ter-hadap perubahan temperatur karena
pengukuran data MT memerlu-kan waktu yang relatif lama
dibanding dengan pengukuran potensial pada survey geolistrik
tahanan-jenis. Elektroda jenis Pb - PbCl2 atauCd - CdCl2 jarang
digunakan, disamping mahal juga dapat mencemari lingkungan.
2) Pemasangan Sensor Magnetik
Sensor

medan

magnetik

berupa

koil

induksi

magnetik

ditanam pada kuadran yang berbeda. Susunan letak sensor


magnetik (Hx, Hy, Hz) pada masing-masing kuadran ditunjukan
oleh gambar 2.5. Koil induksi magnetik ini mempunyai panjang
120-150 cm.
Kuadran I terletak pada sumbu garis semu yang berarah timur dan
utara. Kuadran II terletak diantara arah barat dan selatan.
Kuadran III terletak diantara arah selatan dan timur. Pemasangan
koil magnetik harus dilakukan secara hati-hati, karena koil ini
sensitif terhadap cuaca, suhu, tekanan, dan benturan. Penanaman
koil Hx umumnya ditanam pada kuadran II dengan posisi
horizontal

dan

bagian

yang tersambung

dengan

kabel

menghadap ke selatan. Koil ini ditanam sedalam 30-50 cm, dan


posisi koil harus tepat horizontal dengan arah utara-selatan.
Hal yang sama dilakukan pada koil Hy dan Hz tetapi
berbeda kuadrannya. Koil Hy berada pada kuadran IV dengan
bagian yang ter-sambung kabel menghadap ke barat. Sedangkan

12

untuk koil Hz sedikit berbeda dengan koil yang lainnya, karena koil
ini mngukur komponen vertikal. Koil Hz ditanam dengan posisi
vertikal pada kuadran I den-gan posisi bagian yang tersambung
kabel berada di permukaan.
3) Pengaturan Konfigurasi Alat
Setelah instalasi alat selesai, seluruh kabel (sensor magnetik
dan sensor medan listrik) dan GPS disambungkan dengan
magnetometer dan laptop. Pengisian parameter data, konfigurasi
sistem dan monitoring data selama akuisisi dilakukan dengan
menggunakan perangkat lunak yang mendukung, misalnya MTU
Host Software produk Phoenix Geophysics.
e. Pengolahan Data
Data magnetotellurik yang didapatkan dari akuisisi di lapangan
adalah berupa seri waktu (time series). Adapun langkah-langkah
dalam pengolahan data magnetotellurik (MT) adalah sebagai berikut :
1) Pra pengolahan Data
Pada tahap ini, data mentah yang telah direkam mengalami proses
editing dan demultiplexing untuk menggabungkan data dari
setiap kanal yang sama (elektrik atau magnetik) untuk masingmasing jangkah frekuensi (LF, MF dan HF). Data tersebut
adalah keluaran dari sensor elektrik dan magnetik yang masih
berupa harga tegangan listrik terukur. Proses gain recovery
ditujukan untuk mengembalikanfaktor perbesaran atau amplifikasi
yang telah digunakan. Disamping itu, pada proses tersebut harga
tegangan listrik terukur dikonversikan ke dalam

satuan

yang

biasa digunakan (mV/km untuk medan listrik dan nano Tesla


atau gamma untuk medan magnet).
2) Pengolahan Data
Seleksi data dalam domain waktu dapat dilakukan secara manual
(seleksi visual) maupun otomatis dengan menetapkan nilai
minimal korelasi data yang dapat diterima. Korelasi yang dimaksud

13

adalah korelasi silang (cross-correlation) antara medan listrik dan


medan magnet yang saling tegak-lurus. Hasilnya dalam bentuk seri
waktu (time series) disimpan dalam file.
3) Analisa Tensor
Jika medium homogen atau berlapis horizontal (1-D) maka Zxx =
Zyy = 0 dan Zxy = -Zyx = Z, dimana Z adalah impedansi yang
diperoleh dari komponen horisontal medan listrik dan medan
magnet yang saling tegak lurus. Dengan kata lain, hubungan antara
komponen horisontal medan listrik dan medan magnet tidak
lagi dinyatakan oleh suatu tensor melainkan suatu bilangan skalar
kompleks.Untuk medium 2-D dengan sumbu x atau sumbu y searah
dengan jurus (strike) maka Zxx = Zyy = 0, namun Zxy -Zyx.
Secara matematis, kita bisa menghitung tensor impedansi yang
seolah-oleh diperoleh dengan sistem koordinat pengukuran lain
melalui rotasi. Hal ini san-gat berguna karena arah jurus struktur
tidak diketahui saat pengukuran dilakukan. Jika sumbu x dalam
sistem koordimat pengukuran searah dengan jurus maka elemen
tensor hasil rotasi Zxy dan Zyx merupakan im-pedansi yang
berkaitan dengan pengukuran medan listrik sejajar jurus atau TEmode (Transverse Electric) dan tegak lurus jurus atau TMmode (Transverse Magnetic).
f. Pemodelan dan interpretasi Data
1) Pemodelan 1D
Model 1-D merupakan model yang sederhana, dalam hal ini
tahan-an-jenis hanya bervariasi terhadap kedalaman. Parameter
dalam model 1-D adalah tahanan-jenis dan ketebalan tiap lapisan.
Model 1-D direp-resentasikan oleh model berlapis horisontal,
yaitu model yang terdiri dari beberapa lapisan dimana tahananjenis pada setiap lapisannya ada-lah homogen. Pemodelan
menggunakan model 1-D hanya dapat diterapkan pada data yang
memenuhi kriteria data 1-D. Namun demikian, dengan asumsi

14

tertentu pemodelan 1-D dapat pula diterapkan pada data yang


di-anggap mewakili kecenderungan lokal atau struktur secara garis
besar, misalnya impedansi invarian dan impedansi dari TE-mode.
Pemodelan 1-D menggunakan kurva sounding TE-mode didasarkan
atas anggapan bahwa pengukuran medan listrik searah jurus tidak
terlalu dipengaruhi oleh diskontinuitas lateral tegak lurus.
2) Pemodelan 2-D
Parameter model 2-D adalah nilai tahanan jenis dari tiap blok
yang berdimensi lateral (x) dan dimensi vertikal (z). Algoritma
non-linier
memperoleh

conjugate
solusi

gradient
yang

(NLCG)

meminimumkan

digunakan
fungsi

untuk
objektif

,Pemodelan inversi dengan algoritma NLCG yang dijelaskan oleh


Rodi dan Mackie (2001) diaplikasikan pada program WinGlink.
3) Metode Inversi Bostick
Metoda inversi Bostick (Jones, 1983) merupakan cara yang
cepat dan mudah untuk memperkirakan variasi tahanan-jenis
terhadap kedal-aman secara langsung dari kurva sounding tahananjenis semu. Metode ini diturunkan dari hubungan analitik antara
tahanan jenis, frekuensi dan kedalaman investigasi atau skin depth.
Namun perlu diingat bahwa me-toda ini bersifat aproksimatif
sehingga hanya dapat dilakukan sebagai usaha pemodelan dan
interpretasi pada tahap pendahuluan. Dalam me-toda

inversi

kuadrat terkecil (least-square), model awal dimodifikasi secara


iteratif hingga diperoleh model yang responsnya cocok dengan
data. Adanya aproksimasi atau linearisasi fungsi non-linier
antara data dan parameter model menyebabkan metode tersebut
sangat sensitif terhadap pemilihan model awal. Oleh karena itu
model awal biasanya ditentukan dari hasil pemodelan tak langsung
atau hasil inversi Bostick. Kecenderungan terakhir menunjukkan
bahwa metode inversi tidak hanya ditujukan untuk menentukan
satu model saja melainkan sejumlah besar model yang memenuhi

15

kriteria data (misalnya, metode Monte-Carlo). Estimasi statistik


dari model-model yang diperoleh digunakan untuk menentukan
solusi metoda inversi. Kecenderungan baru tersebut terutama
ditunjang dengan tersedianya komputer pribadi (PC) dan
workstations yang dilengkapi dengan processor berkecepatan
tinggi.
3. Metode Controlled-Source Audio-Frequency Magnetotellurics (CSAMT)
a. Pengertian
Metode pendugaan dalam elektromagnetik kawasan frekuensi yang
menggunakan HED (horizontal electrical dipole) atau VMD (vertical
magnetic dipole) sebagai sumber buatan. Kedua sumber tersebut
terletak dipermukaan bumi. Metode CSAMT pada umumnya
digunakan untuk pemetaan kondisi bawah tanah sedalam 2-3 km.
b. Sumber
Sumbernya berupa dipole listrik HED dan VMD dengan panjang 12 km sebagai sumber buatan. Kedua sumber ini terletak dipermukaan
bumi. Lokasi sumber ideal paling sedikit 4x kedalaman kulit t.
kedalaman investigasi kira kira t /2. Yang diukur dalam metode
CSAMT yaitu komponen kuat medan magnet dan kuat medan listrik
yang saling tegak lurus. Set up survey CSMAT tensor diperlihatkan
pada gambar ini.

16

c. Prinsip Kerja
Medan elektromagnetik primer akan dipancarkan seluruh arah oleh
dipole listrik yang digroundkan. Pada saat medan elektromagnetik
sampai dipermukaan bumi, maka medan elektromagnetik akan
menginduksi arus pada lapisan lapisan konduktor. Arus ini disebut
telluric atau teddy. Arus telluric pada permukaan bumi akan
menimbulkan medan elektromagnetik sekunder kemudian dipancakan
kembali keseluruh arah sampai di permukaan bumi. Informasi
pengukuran medan sekunder akan dicatat oleh receiver. Informasi
yang didapat yaitu impedansi gelombang elektromagnetik sekunder
yang dihasilkan rapat arus telluric pada masing-masing lapisan.
d. Peralatan

Satu set Stratagem versi 2671-01 REv.D atau versi 26716 Rev.D.

Sumber daya, baterai atau aki

Multi Channel Receiver

Antena Medan Magnet

Antena Medan Listrik

Kabel

17

Peralatan CSAMT

e. Akusisi Data
Akuisisi data di lapangan menggunakan peralatan CSAMT model
Stratagem 26716 Rev. D atau versi 26716 Rev. D. Alat ini digunakan
untuk mengukur intensitas medan listrik dan medan magnet dalam
frekuensi tertentu. Sistem Stratagem terdiri dari dua komponen dasar
yaitu penerima (receiver) dan pemancar (transmitter). Sumber daya
untuk pemancar dibangkitkan dari baterei 12 volt. Sistem penerima
standar dikonfigurasi untuk menerima data dalam jangkauan frekuensi
dari 10 Hz sampai 92 kHz. Menentukan konfigurasi lintasan yang
digunakan, setelah itu dilakukan pengukuran. Data yang didapat dari
lapangan adalah resistivitas semu, beda fase, dan koherensi sebagai
fungsi frekuensi.
f. Pengolahan Data
Pengolahan data secara garis besar adalah sebagai berikut:
1) Melakukan pengukuran komponen E dan H dalam arah tegak lurus
yang memiliki rentang frekuensi tertentu,
2) Melakukan analisis frekuensi (spektrum),
3) Melakukan pemilihan sinyal-sinyal pengukuran pada spectrum
tertentu (yang kemudian dianggap mewakili kedalaman tertentu)
4) Melakukan perhitungan nilai resistivitas berdasarkan nilai E dan H
bersesuaian,
5) Melakukan perhitungan kedalaman oleh suatu frekuensi melalui
perumusan skin depth dan
6) Hasil akhir dalam nilai resistivitas untuk berbagai frekuensi (atau
kedalaman) diplot sebagai nilai resistivitas terhadap kedalaman.
Langkah-langkah tersebut kemudian diintegrasikan dengan algoritma
inversi Bostic, analisis koherensi, korelasi, dsb untuk mendapatkan
hasil akhir yang lebih baik.
Koreksi dalam metode CSAMT adalah sebagai berikut :
1) Source effect
a) Non-plane-wave.
18

Muncul akibat adanya pemisahan secara terbatas, berdasarkan r,


antara sumber dan titik sounding , yaitu far-field zone yang zona
pengukurannya jauh dari sumber (r > 4), transition zone dekat
dengan sumber (0.56 < r < 4 ) , dan near-field zone yang sangat
dekat dengan sumber (r < 0.5)
b) Source overprint effect.
Terjadi ketika keadaan geologi di bawah sumber berbeda dengan
keadaan geologi di bawah lokasi sounding. Efek ini biasanya
jarang tejadi pada data far field, namun bisa terjadi juga pada
zona transisi dan near-field.
2) Static Effect

Efek statis ini disebabkan oleh adanya body yang berada di dekat
permukaan , terbatas , dan tidak homogen secara elektrik .
Permasalahan ini dapat terlihat sebagai hasil persebaran muatan
statis yang terakumulasi pada permukaan body .
3) Koreksi near-field

Koreksi near-field, sehingga data CSAMT memiliki karakteristik


yang mirip dengan data MT. Teknik relatif sederhana untuk
koreksi near-field effect dengan memotong data CSAMT sehingga
hanya terdapat data far-field. Generalisasi hasil untuk medium
homogen terhadap data CSAMT yang benar. Untuk medium
homogen, resistivitas semu dan data near-field yang
merepresentasikan resistivitas sebenrnya dari medium dapat
dikalkulasi.
e. Interpretasi data
Hasil akhir pengukuran berupa sebaran nilai resistivitas terhadap
kedalaman kemudian ditafsirkan sebagai penampang geofisika yang
berkorelasi dengan struktur geologi bawah permukaan yang
sebenarnya.Penafsiran pada sebuah titik pengukuran merupakan
penafsiran secara 1-D kemudian dicocokkan dengan informasi geologi
yang ada. Untuk dapat menginterpretasikan lithologi batuan di daerah
survai, data diolah dengan menggunakan transformasi Bostic.
19

4. Metode Georadar atau GPR (Ground Penetrating Radar)


a. Pengertian
GPR adalah salah satu Metode Geofisika yang mempelajari kondisi
permukaan bawah permukaan berdasarkan sifat elektromagnetik yang
mempunyai frekuensi 1-1000 MHz dan dapat mendeteksi parameter
permitivitas listrik, konduktivitas, permeabilitas magnetik. sistem
GPR terdiri atas pengirim (trasmitter), antena yang terhubung ke
sumber pulsa, dan penerima (receiver), antena yang terhubung ke unit
pengolahan sinyal dan citra.
b. Prinsip Kerja
Prinsip kerja alat GPR yaitu dengan mentransmisikan gelombang
radar (Radio Detection and Ranging) ke dalam medium target dan
selanjutnya gelombang tersebut dipantulkan kembali ke permukaan
dan diterima oleh alat penerima radar (receiver), dari hasil refleksi
itulah barbagai macam objek dapat terdeteksi dan terekam dalam
radargram.

Mekanisme GPR

Sistem GPR pasti memiliki rangkaian pemancar (transmitter), yaitu


system antena yang terhubung ke sumber pulsa, dan rangkaian

20

penerima (receiver), yaitu sistem antena yang terhubung ke unit


pengolahan sinyal. Pulsa ini akan dipancarkan oleh antena ke dalam
tanah. Pulsa ini akan mengalami atenuasi dan cacat sinyal lainnya
selama perambatannya di tanah. Jika tanah bersifat homogen, maka
sinyal yang dipantulkan akan sangat kecil. Jika pulsa menabrak suatu
inhomogenitas di dalam tanah, maka akan ada sinyal yang dipantulkan
ke antena penerima. Sinyal ini kemudian diproses oleh rangkaian
penerima. Kedalaman objek dapat diketahui dengan mengukur selang
waktu antara pemancaran dan penerimaan pulsa. Untuk mendeteksi
suatu objek diperlukan perbedaan parameter kelistrikan dari medium
yang dilewati gelombang radar. Sifat elektromagnetik suatu material
bergantung pada komposisi dan kandungan air didalamnya. keduanya
merupakan pengaruh utama pada perambatan kecepatan gelombang
radar dan atenuasi gelombang elektromagnetik dalam material.
c. Peralatan

GPR

Perangkat Komputer

Kontrol Unit

Graphic Recorder

d. Akuisisi Data
Ada beberapa metode berbeda untuk memperoleh data GPR, salah
satunya yang paling umum digunakan adalah mendorong suatu unit
GPR sepanjang lintasan atau menyeret suatu GPR unit di belakang
suatu kendaraanKetika unit GPR bergerak di sepanjang garis survey,
pulsa energi dipancarkan dari antena pemancar dan pantulannya
diterima oleh antena penerima. Antena penerima mengirimkan sinyal
ke recorder. Komponen utama untuk di pertimbangkan dalam
memperoleh data GPR adalah jenis transmisi dan antena penerima
yang menggunakan cakupan frekuensi yang tersedia untuk pulsa
elektromagnetik. Sinyal atau gelombang yang dipancarkan akan

21

segera dipantulkan kembali setelah menempuh two-way traval time


tertentu, hasilnya akan terekam pada alat grafik recorder yaitu
radargram yang berbentuk penampang yang menerus, konfigurasi
inilah yang merupakan cerminan perbedaan litologi dari reflektor di
bawah permukaan.
Terdapat tiga model untuk memperoleh data penyelidikan GPR yakni:
1) Reflection Profiling (antena monostatik maupun bistatik),
Cara ini dilakukan dengan membawa antena bergerak secara
simultan di atas permukaan tanah dimana nantinya hasil tampilan
pada radargram akan merupakan kumpulan dari tiap-tiap
pengamatan. Cara ini serupa dengan cara countinous seismik
reflection profiling pada metode seismik. Kedalaman target atau
reflektor dapat diketahui jika cepat rambat gelombang diketahui.
2) Wide Angel Reflection and Refraction (WARR)
Cara WARR sounding ini dilakukan dengan meletakkan sumber pemancar atau transmitter pada suatu posisi yang tetap, sedangkan receiver dipindah-pindah sepanjang lintasan penyelidikan
3) Transilluminasi atau disebut juga Radar Tomografi
Cara ini dilakukan dengan menempatkan transmitter dan receiver
pada posisi yang berlawanan. Sebagai contoh jika transmitter
diletakkan pada lubang bor maka receiver diletakkan pada lubang
bor lainnya. cara ini umumnya digunakan pada kasus nondestructive testing (NDT) dengan menggunakan frekuensi antena
yang tinggi, sekitar 900 Mhz.
e. Pengolahan Data
Pada banyak kasus, survei GPR dengan prosesing yang sangat
minim mungkin saja dapat dipakai hasilnya. Dalam kasus ini,
penyesuaian yang perlu untuk dibuat adalah konversi data ke suatu
penggunaan format digital, melakukan penyesuaian penguatan data,
dan menentukan kedalaman setiap reflektor di bawah permukaan.

22

Berikut adalah langkah yang diperlukan untuk memproses data survei


GPR:
1) Konversi data ke penggunaan format digitala.
Pada kebanyakan unit GPR, data secara otomatis direkam dalam
format digital atau data unit GPR yang diperoleh dimasukan ke
komputer dan diproses dengan perangkat lunak.
2) Penghilangan atau minimalisasi gelombang direct dan gelombang
udara dari data.
Seringkali, ada amplitudo refleksi yang besar pada batas antara
permukaan udara dan tanah seketika di bawah antena GPR. Kontras
yang tinggi antara daya konduktivitas udara dan tanah dapat
menciptakan gelombang direct dan gelombang udara yang dapat
mengaburkan refleksi dari objek penting di bawah permukaan.
Gelombang
direct dan gelombang udara ini dapat dihilangkan dengan
komputasi waktu tempuh dan panjang gelombang, kemudian
dengan mengurangkan gelombangteoritis sepanjang lebar panjang
gelombang dari gelombang aslinya pada setiap trace GPR.
3) Penyesuaian amplitudo pada data.
Dalam banyak kasus baterei unit GPR dapat melemah saat survei
masih berlangsung. Ini menghasilkan trace GPR dengan aplitudo
refleksi yang semakin lemah. Menentukan waktu habisnya baterei
dari waktu ke waktu, kemudian mangalikan masing-masing trace
dengan suatu konstanta untuk memperbaiki pengurangan tadi dapat
mengkoreksi masalah ini.
4) Penyesuaian penguatan pada data .
Selama sinyal transmisi dari unit GPR menembus tanah, terjadi
atenuasi terhadap trace GPR. Atenuasi itu dapat dikoreksi dengan
melakukan penyesuaian penguatan pada setiap trace. Ada beberapa
persamaan untuk komputasi penyesuaian penguatan. Dalam satu

23

model, masing-masing nilai data pada keseluruhan jejak dikalikan


dengan suatu faktor yang berhubungan dengan kedalaman sinyal.
5) Penyesuaian statis .
Penyesuaian ini menghilangkan efek yang disebabkan oleh
perubahan elevasi dan peningkatan antena GPR.
6) Filtering data.
Tujuan dari filtering adalah menghilangkan noise background
yang tidakdiinginkan. Untuk menghilangkan noise yang tidak
diinginkan ini, data trace time-domain dikonversi dalam bentuk
domain frekuensi dengan menggunakan transformasi Fourier.
Frekuensi yang diinginkan disaring, dan trace dikonversi kembali
menjadi domain time dengan menggunakan invers transformasi
Fourier.
7) Velocity analisis.
Velocity analisis melibatkan penentuan kecepatan gelombang pada
material bawah permukaan, kemudian mengubah travel time ke
kedalaman. dengan pengujian konstanta dielektrik relatif,
8) Migrasi.
Migrasi adalah suatu prosedur untuk mengubah permukaan yang
telah terekam dalam data GPR ke data dengan lokasi heterogenetis
bawah permukaan pada posisi yang benar.
f. Interpretasi Data
Pekerjaan akhir

dalam

penyelidikan

geofisika

adalah

menerjemahkan data-data sinyal yang telah diperoleh dari akuisisi


untuk kemudian diplot kedalam suatu bentuk konfigurasi agar dapat
dibaca dan diambil kesimpulan, pekerjaan ini adalah interpretasi.
Beberapa hal yang lazim diperhatikan dalam penginterpretasian
adalah :
1) Interpretasi grafik
Kecepatan gelombang dapat diketahui dengan berasumsi pada
suatu konstanta dielektrik relative yang mendekati atau sesuai
dengan nilai material yang diselidiki, dengan cara demikian two24

way travel time (TWT) dapat diterjemahkan menjadi kedalaman,


dan jika ditambahkan dengan pengidentifikasian sinyal pantulan
dari target (refleksi), maka peta TWT dapat dihasilkan guna
menunjukkan kedalaman, ketebalan, perlapisan, dll. Dari sini dapat
diketahui nilai sebenarnya dari kecepatan gelombang.
2) Analisa kuantitatif.
Dengan menggunakan beberapa analisa, kedalaman interpretasi
sinyal juga kedalaman target atau reflektor dapat dideterminasi
tergantung kepada cukup tidaknya nilai yang diketahui dari analisa
kecepatan juga variasi konstanta dielektrik relatif material yang
dilewati, juga kepada analisa amplitude dan koefisian refleksi.
3) Kegagalan interpretasi
Dua hal yang paling sering ditemui dan dianggap sebagai
kelemahan

dalam

interpretasi

radar

adalah

tidak

mampu

mengindentifikasi permukaan tanah dan misi identifikasi strata


hitam-putih pada radargram. Hal ini dapat disebabkan oleh
perlakuan yang dialami oleh sinyal selama menempuh perjalanan
melewati medium.
g. Aplikasi
Aplikasi GPR dapat digunakan untuk survey benda-benda yang
terpendam di tempat yang dangkal, tempat yang dalam, dan
pemeriksaan beton. GPR ini dapat digunakan untuk pencirian geologi
dangkal, mencari lokasi pipa, tank, drum, pencitraan beton, studi
arkeologi, dan lain-lain.
1) Pencirian Geologi Bawah Permukaan Dangkal.
Dalam penelitiannya Bares, M. Dan Haeni, F.P. (1991)
mempelajari kondisi geologi bawah permukaan dengan
menggunakan antena 80-MHz, mereka memperoleh resolusi dekat
permukaan (resolusi= panjang gelombang / 2) 1-2 feet dengan
suatu antena . Data survey GPR nya memerlukan pengolahan data
yang sangat kecil. Setelah melakukan survey GPR, lalu

25

menggunakan lampiran-1 untuk menginterpretasikan data.


Penafsirannya kemudian dibandingkan dengan penafsiran dari log
borehole bawah permukaan.
2) penentuan Kondisi Geohidrologi.
Dalam studi yang dilakukan oleh Benson, A.K. (1995), ia bisa
menginterpretasikan kedalaman muka air tanah dari pengukuran
GPR. Dalam studi di mana muka air tanah telah ditemukan pada
suatu kedalaman layak, ada suatu refleksi yang jelas di lokasi muka
air tanah tersebut. Dalam kasus ini, kedalaman muka air tanah
mudah untuk ditentukan.
3) Pelacakan Situs Purbakala (Arkeologi).
Situs Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten
Mojokerto, Jawa Timur, mungkin akan terlindungi dari upaya
okupasi peruntukan lain dan penjarahan bila ada upaya pemetaan
kawasan itu dengan menggunakan georadar.Saat ini, dunia
arkeologi di Indonesia masih diguncang oleh perusakan situs
peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Situs ini menarik
perhatian dengan dilaksanakannya pembangunan Pusat Informasi
Trowulan (PIM) di atas lokasi bekas kerajaan tersebut.
4) Penentuan Kedalaman Pondasi Gedung
Radar pada prinsipnya berkaitan dengan metode refleksi seismik.
Sebuah pemancar (TX) memancarkan sinyal di daerah
penyelidikan . Sinyal terpantul dideteksi dan direkam oleh
penerima (Rx). Tidak seperti metode seismik, instrumen radar
menggunakan gelombang elektromagnetik, bukan gelombang
akustik. EM-gelombang tidak menembus sedalam gelombang suara
tetapi akan menghasilkan resolusi yang jauh lebih tinggi. Sasaran
dengan impedansi listrik berbeda dengan media sekitarnya akan
dideteksi dan dicatat. Instrumen radar permukaan sebagian besar
digunakan untuk mendeteksi dan melokalisasi target logam dan
nonlogam untuk perkiraan kedalaman 30m.

26

27