Anda di halaman 1dari 21

PENATALAKSANAAN TORUS PALATINUS

Rini Rahma Wulandari, Denny Satria Utama


Bagian IKTHT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya /
Departemen KTHT-KL RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang
Abstrak
Torus palatinus merupakan eksostosis pada palatum durum yang berlokasi di
sepanjang sutura palatina media yang melibatkan kedua prosesus palatina dan
tulang palatum yang dilapisi oleh mukosa normal yang tipis. Torus palatinus
merupakan lesi yang jarang terjadi, lebih sering pada wanita, dapat terjadi pada
semua umur namun sebagian besar pada usia 30 tahun. Etiologi dari torus
palatinus belum diketahui secara pasti, tetapi pada beberapa orang lesi ini
diturunkan secara autosomal dominan (faktor genetik), selain faktor lingkungan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, penunjang dan
pemeriksaan histopatologi untuk diagnosis pasti. Torus palatinus tidak
memerlukan perawatan bila tidak menimbulkan keluhan. Tindakan bedah
dibutuhkan jika pasien merasa terganggu dengan adanya torus palatinus tersebut
atau pada pasien yang akan menggunakan gigi tiruan.
Dilaporkan satu kasus torus palatinus pada wanita usia 58 tahun yang telah
dilakukan biopsi dan operasi berupa eksisi massa. Follow up satu bulan
pascaoperasi tidak dijumpai adanya keluhan ataupun komplikasi yang timbul
akibat tindakan operasi.
Kata kunci : torus palatinus, biopsi terbuka, eksisi massa.
Abstract
Torus palatinus is defined as an exostosis of the hard palate localized along the
median palatine suture, involving both of the palatine process and the palate bone
covered by a thin normal mucosa. Torus palatinus is a rare lession, more common
in women, can occur at any age, but most occur at the 30 years old. The exact
cause of the torus palatinus still unclear, whenever in some individual there have
an autosomal dominance inheritance (genetic factor), despite environtment.
Diagnosis is based on history, physical and supporting examination, and
histopathological examination for definitive diagnosis. Patient with torus
palatinus no need to manage if its doesnt cause any complain. Surgical approach
is needed when the patient complain with kind of sign and symptoms or who are
using a dental prosthetic.
As we reported one case of torus palatinus in a woman 58 years old who
has managed by open biopsy, operative surgical excision. One month after
surgery there is no complain or complication of surgical management in these
patient.
Keywords: torus palatinus, open biopsy, excision of the mass

PENDAHULUAN
Eksostosis yang juga dikenal sebagai hiperostosis atau hamartoma
digambarkan sebagai tonjolan tulang yang terlokalisir, tidak patologis yang
berasal dari tulang padat (cortical bone) atau kadang-kadang dari lapisan
spongiosa. Eksostosis ini dapat berkembang di berbagai daerah di rahang. Lesi ini
tidak dianggap sebagai suatu neoplasma tetapi suatu lesi eksofitik displastik.
Eksostosis intraoral diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu torus palatinus, torus
mandibula dan eksostosis multipel.1-4 Torus palatinus merupakan eksostosis pada
palatum durum yang berlokasi di sepanjang sutura palatina media yang
melibatkan kedua prosesus palatina dan tulang palatum yang dilapisi oleh mukosa
normal yang tipis. Dalam bentuk jamak kelainan ini disebut tori palatina. 3,5,6 Torus
mandibula merupakan penonjolan tulang yang berlokasi di sisi lingual dari
mandibula, biasanya di daerah kaninus dan premolar.3,5 Eksostosis multipel
berlokasi di sisi bukal dari tulang alveolar maksila dan mandibula dan biasanya
terjadi di daerah posterior. Lesi ini bervariasi dalam ukuran dan bentuk berkisar
dari eksostosis tunggal dengan bentuk yang bervariasi, multiloculated, bosselated,
sampai bentuk yang tidak teratur.1,2
Torus palatinus merupakan lesi yang jarang terjadi dengan angka kejadian
dari seluruh kelompok etnis berkisar 1,4%-66%. Torus palatinus dapat terjadi
pada semua umur, tetapi sebagian besar terjadi pada usia 30 tahun. Torus palatinus
lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.6,7 Etiologi dari torus palatinus belum
diketahui secara pasti, tetapi pada beberapa orang lesi ini diturunkan secara
autosomal dominan (faktor genetik). Faktor lingkungan juga diyakini merupakan
salah satu faktor yang berperan selain respon fungsional dari trauma superfisial,
gangguan temporomandibular, faktor diet, defisiensi vitamin dan obat-obatan
yang meningkatkan homeostasis tulang.3,5,8,9
Diagnosis torus palatinus ditegakkan berdasaran anamnesis, pemeriksaan
fisik, radiografi oral dan tomografi komputer. Diagnosis pasti ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan histopatologi dari spesimen biopsi. Secara klinik torus
palatinus sering didiagnosis secara tidak sengaja karena lesi ini sering timbul
tanpa gejala. Lesi ini tidak berbahaya dan berkembang secara perlahan dengan

bentuk dan ukuran yang bervariasi. Torus palatinus tidak memerlukan terapi
khusus kecuali jika lesi ini mengganggu fonasi sebagai akibat ukuran yang teralu
besar, sering terjadi ulserasi mukosa atau pada pasien-pasien yang memerlukan
pemasangan protesa (gigi palsu) maka pambedahan berupa eksisi torus dapat
dilakukan.1,10,11
KEKERAPAN
Prevalensi torus palatinus dari beberapa penelitian di dunia berkisar antara
1,4%-66%

pada

populasi

yang

berbeda.

Hampir

seluruh

penelitian

mengungkapkan bahwa torus palatinus lebih sering terjadi pada wanita daripada
pria dengan rasio 2:1.6,7,9 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ali Bukhari
dkk12 pada tahun 2006 di Indonesia dijumpai prevalensi torus palatinus sebanyak
22,3% dengan perbandingan wanita dengan laki-laki adalah 54,7% : 45,3%.
Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Sisman dkk6 tahun 2005-2007 di Turki
mengatakan dari 2660 individu yang diteliti terdapat 110 (4,1%) pasien dengan
torus palatinus dan wanita (5,7%) lebih banyak dibanding pria (1,8%). Torus
palatinus dapat terjadi pada semua umur, namun kejadian torus palatinus
meningkat pada usia dekade ke 3, yaitu pada usia berkisar antara 30 50 tahun.
Sebagian dari penderita tidak menyadari bahwa terdapat torus palatinus pada
palatumnya, sebagian besar baru menyadari ketika berusia diatas 50 tahun atau
tidak sengaja diketahui ketika melakukan pemeriksaan gigi.2,6 Distribusi torus
palatinus berdasarkan ukuran dijumpai sebanyak 75,4% berukuran < 2 cm.
Berdasarkan lokasi yang tersering adalah regio premolar-molar (66,4%) diikuti
molar (15,4%) dan regio premolar (13,6%). Lokasi yang paling sedikit adalah
pada insisivus-premolar dan regio insisivus-premolar-molar (4,5%). Distribusi
torus paltinus berdasarkan bentuk yang paling banyak adalah bentuk datar
(62,7%) diikuti bentuk spindel (36,3%), nodular (0,9%) dan lobular (0,0%).6,13
ANATOMI PALATUM
Palatum merupakan dinding bagian atas dari kavum oris dan membentuk
atap mulut yang terbagi menjadi dua yaitu palatum durum (langit-langit keras)

dan palatum mole (langit-langit lunak). Palatum durum merupakan bagian dari
rongga mulut dan palatum mole merupakan bagian dari orofaring. Palatum
memisahkan rongga mulut dengan rongga hidung dan sinus maksilaris. Palatum
durum membentuk dua pertiga anterior palatum yang dibentuk oleh prosesus
palatina os maksila dan lamina horizontal os palatum (gambar 1). Sedangkan
palatum mole yang terletak di bagian posterior sebagian besar dibentuk oleh otot,
aponeurosis palatina dan mukosa. Aponeurosis palatina adalah lapisan fibrosa
yang melekat pada pinggir posterior palatum durum dan merupakan lanjutan dari
tendo muskulus tensor veli palatini.14-16

Gambar 1. Anatomi palatum durum16

Membran mukosa menutup rapat palatum durum dengan rata dan


menyeberang sampai ke gusi bagian anterior dan lateral dan ke palatum mole,
uvula dan arkus palatoglosus dan palatofaringeus bagian posterior. Pada garis
tengah terdapat garis tipis keputihan yang disebut rafe palatina. Pada ujung
anterior rafe dekat dengan bagian medial insisivus terdapat papila insisivus yang
berhubungan dengan kanalis insisivus. Terdapat satu atau beberapa plika palatina
transversa yang berbatas tegas muncul dari rafe. Membran mukosa pada rafe lebih
tipis dibandingkan di bagian perifer. Lapisan tipis dari mukosa glandula palatina
terbentang di antara membran mukosa dengan periosteum. Mereka membentuk
dua rangkaian yang memanjang untuk mengisi lekukan diantara palatum durum
dengan prosesus alveolaris os maksila. Lapisan glandula tipis di bagian depan dan
lebih tebal di bagian belakang yang berlanjut dengan lapisan glandula di palatum
mole. Permukaan palatum dilapisi oleh mukosa yang terdiri dari epitel skuamos

berlapis. Namun demikian, submukosa memiliki banyak sekali kelenjar saliva


minor, terutama pada palatum durum. Palatum mole sebagian besar dibentuk oleh
otot. Otot-otot pada palatum mole terdiri dari muskulus palatoglosus (pilar
anterior), palatofaringeus (pilar posterior), muskulus uvula, levator veli palatini
dan tensor veli palatini (gambar 2). 14-16
Arteri palatina desendens cabang dari arteri maksilaris interna membagi
suplai darah ke palatum durum melalui arteri palatina mayor dan palatum mole
dari arteri palatina minor. Aliran vena dari palatum durum mengalir ke pleksus
pterigoideus dan bermuara ke vena jugularis interna. Sedangkan aliran vena
palatum mole terbagi dua yaitu pleksus faringeus yang mengalir ke vena jugularis
interna dan vena palatina eksterna yang mengalir ke fosa tonsilaris yang berlanjut
ke vena fasialis atau vena faringeal. Aliran limfe palatum adalah nodi limfoidei
servikalis profunda. Palatum dipersarafi oleh nervus palatina mayor dan minor
cabang maksilaris nervus trigeminus sampai ke palatum melalui foramen palatina
mayor dan minor. Nervus nasopalatina yang juga cabang dari nervus maksilaris
sampai ke bagian depan palatum durum melalui foramen incisivus. Palatum mole
juga dipersarafi oleh nervus glossofaringeus.14,15

Gambar 2. Kavitas oral: glandula palatina dan otot-otot palatum


dan fauses (muskulus palatini dan fausium)15

ETIOLOGI
Penyebab torus palatinus belum dapat diketahui secara pasti tetapi pada
beberapa orang lesi ini diturunkan secara autosomal dominan (faktor genetik).
Faktor lingkungan juga diyakini merupakan salah satu faktor yang berperan selain
hiperfungsi mastikator dan pertumbuhan yang terus menerus. Akhir-akhir ini
beberapa peneliti mengemukakan bahwa penyebab tori terdiri dari interaksi
multifaktorial antara faktor genetik dengan lingkungan. Faktor lingkungan juga
diyakini merupakan salah satu faktor yang berperan selain trauma superfisial,
mengunyah yang berlebihan, aberasi gigi, gangguan temporomandibular, faktor
diet, defisiensi vitamin dan obat-obatan yang meningkatkan homeostasis
tulang.3,5,8-10,13
KLASIFIKASI
Klasifikasi torus berdasarkan morfologi bentuk: 1) torus datar, memiliki
dasar yang besar dan sedikit cembung dengan permukaan yang halus, biasanya
simetris pada kedua sisi palatum, 2) torus nodular, tampak sebagai beberapa
tonjolan dengan basis sendiri-sendiri namun dapat bersatu dan membentuk aluralur diantaranya, 3) torus spindel, timbul disepanjang garis tengah daerah rafe
pada palatum 4) torus lobular, tampak sebagai massa lobular bertangkai yang
berasal dari

satu dasar dan dapat terjadi pada kedua sisi (gambar 3).

6,8-10,17

Berdasarkan lokasi torus palatinus dibagi menjadi beberapa kategori: 1) torus


palatinus total dimana torus muncul di sepanjang garis tengah palatum durum, 2)
torus palatinus anterior dimana torus menempati bagian anterior dan tidak
melampaui plika palatina transversa, 3) torus palatinus medial dimana pangkal
torus adalah tepat di belakang plika palatina transversa dan ujungnya tidak
mencapai zona posterior dari garis tengah palatum, 4) anterior-pertengahan, 5)
torus palatinus posterior dimana pangkal torus berada lebih di belakang plika
palatina transversa dan ujungnya mencapai zona posterior dari garis tengah
palatum, 6) pertengahan-posterior.18 Berdasarkan ukuran torus palatinus Belsky
dkk19 dalam penelitiannya tahun 2003 membaginya menjadi tiga kategori:

absen/sedikit (ukuran <1cm), kecil/sedang (ukuran 1-2 cm) dan besar (ukuran
3cm). Klasifikasi lain yang digunakan oleh Reichart dkk20 yaitu ukuran kecil (< 3
mm), sedang (3-6 mm) dan besar (> 6 mm). Sedangkan Agbaje dkk 5 dalam
penelitiannya menggunakan klasifikasi ukuran tori sebagai berikut: 1-2 cm (kecil),
2-3 cm (sedang) dan > 3 cm (besar).

Gambar 3. Morfologi torus palatina (a. datar, b. nodular, c. spindel, d. lobular)6

HISTOPATOLOGI
Tori dan tipe lain dari eksostosis memiliki gambaran histologi yang sama.
Lesi ini digambarkan sebagai gambaran tulang yang hiperplasi, terdiri dari tulang
kortikal dan trabekula yang matur. Permukaan luar tulang menunjukkan kontur
yang bulat dan licin. Potongan melintang pada torus palatinus terlihat tulang yang
padat dengan gambaran lamela (lempeng tulang) yang berlapis-lapis. Jaringan
tulang yang padat dan matur dengan osteosit yang menyebar dan ruang sumsum
tulang yang kecil diisi lemak tulang atau stroma fibrovaskular longgar. Beberapa
lesi dengan tepi tulang kortikal yang tipis melapisi tulang spongiosa yang inaktif
dengan lemak dan jaringan hematopoetik. Aktivitas osteoblas yang minimal selalu
terlihat, tetapi lesi ini sering menunjukan aktivitas periosteal yang banyak.4,8,10,12,21
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang. Anamnesis pada kasus torus palatinus sebagian besar didapatkan
secara tidak sengaja ketika melakukan pemeriksaan mulut, biasanya saat pasien

ingin menggunakan kawat gigi atau pemasangan gigi palsu. Beberapa pasien tidak
menyadari pertumbuhan dari torus palatinus karena lesi ini asimtomatik. Keluhan
muncul ketika pertumbuhan torus palatinus sudah besar, sehingga mengganggu
saat berbicara (gangguan fonasi), mengunyah dan menelan makanan. Torus
palatinus yang besar dapat menyebabkan ulserasi mukosa karena trauma yang
berulang ketika mengunyah dan makan. Pada pemeriksaan fisik torus palatinus
dapat dijumpai dalam berbagai bentuk seperti bentuk yang datar, lobular, nodular
dan bentuk spindel yang berlokasi di garis tengah dari palatum durum yang
dilapisi oleh mukosa tipis yang normal. Pada perabaan dijumpai lesi yang sangat
keras dan tidak nyeri. 2,10,21
Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan sebelum operasi dengan tujuan
untuk mengetahui morfologi torus tersebut. Apabila pada torus terdapat ruang atau
celah udara dalam struktur torus maka pada saat melakukan eksisi dapat terjadi
kerusakan ataupun perforasi sehingga terjadi fistula oronasal yang dapat
menyulitkan tindakan pembedahan. Torus palatinus biasanya dapat terlihat pada
foto periapikal karena tidak menghalangi penempatan film, namun cara yang
terbaik untuk melihat gambaran radiologi torus palatinus adalah dengan
menggunakan foto oklusal. Pada foto oklusal terlihat bayangan yang tebal dan
padat, terlihat gambaran radioopak. Torus palatinus terlihat sangat putih dan dapat
terjadi tumpang tindih pada film apabila torus palatinus sangat besar. Tomografi
komputer dapat digunakan untuk mengetahui letak dan bentuk kesatuan yang
spesifik dan untuk mengevaluasi karakteristik bentuk dan ukuran tonjolan tulang
tersebut. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi dari
biopsi.2,10,21,22
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding dari torus palatinus antara lain osteoma dan displasia
fibrosa pada palatum. Osteoma merupakan lesi jinak osteogenik dengan
pertumbuhan yang sangat lambat, yang mungkin timbul dari proliferasi dari salah
satu tulang kanselus atau kompak. Lesi ini asimtomatik, tumbuh lambat dalam
beberapa tahun dan secara kebetulan ditemukan pada pemeriksaan radiologi.

Pada daerah maksila, osteoma paling sering muncul di prosesus


alveolaris, namun beberapa peneliti juga pernah melaporkan adanya
osteoma pada palatum durum. Gambaran radiografi dari osteoma
memiliki densitas yang sama dengan tulang. Pemeriksaan histopatologi
tampak lesi sebagai tulang yang matur dengan ruang sumsum tulang
terdiri dari jaringan ikat. 21, 23, 2 4
Displasia fibrosa adalah satu jenis lesi fibro-osseus jinak berupa
pembentukan jaringan mesenkim yang abnormal, dimana terjadi penggantian
tulang spongiosa dengan jaringan fibrosa. Lesi ini dimulai sejak usia anak dan
berkembang selama masa pubertas dan masa remaja, kemudian dorman di awal
usia dewasa. Gambaran radiografi dari displasia fibrosa kraniofasial adalah
gambaran ground-glass atau orange pell dengan korteks yang tipis dan tanpa
batas yang jelas. Pemeriksaan histopatologi tampak gambaran lesi yang
menunjukkan stroma matriks kolagen dengan fibroblas yang terjerat di dalam
trabekula tulang dalam bentuk Chinese writing.21,23,24
PENATALAKSANAAN
Tidak ada menajemen aktif yang wajib dilakukan, dokter harus
menjelaskan pada pasien bahwa keadaannya bukan merupakan suatu keganasan.
Bila mukosa yang melapisinya tipis dan cenderung trauma atau jika terdapat
ulkus, pasien mungkin membutuhkan antiseptik pencuci mulut. Bila tidak ada
keluhan, torus palatinus tidak memerlukan perawatan. Tindakan bedah dibutuhkan
pada pasien dengan keadaan antara lain adanya gangguan berbicara, keterbatasan
mekanisme mengunyah, inflamasi dan ulkus akibat trauma, retensi sisa makanan,
alasan estetika, ketidakstabilan prostetik (penggunaan gigi palsu), pasien dengan
fobia kanker, sebagai donor dalam graft tulang kortikal. Sebelum tindakan
pembedahan, dapat dibuat surgical stent untuk melindungi luka bekas operasi baik
dari lidah maupun makanan.10,21
Pengangkatan torus dapat dilakukan dengan metode double Y-shaped
mucosal incision. Insisi dibuat sepanjang garis tengah palatum durum yang
dilanjutkan dengan insisi oblik di kedua ujung insisi. Insisi ditujukan untuk

menghindari trauma dari cabang-cabang arteri palatina, juga untuk memperoleh


visualisasi yang adekuat serta akses ke lapangan operasi tanpa tegangan dan
trauma akibat manipulasi selama operasi. Setelah itu flap ditarik dengan benang
atau elevator periosteum yang lebar. Setelah lesi dapat dipaparkan secara komplit,
lesi dipotong-potong dengan menggunakan bor fisura dan segmen-segmennya
dibuang dengan menggunakan pahat monobevel. Lebih spesifik lagi pahat
diposisikan pada dasar eksostosis dengan bagian yang bersudut kontak dengan
tulang palatum dan kemudian setiap segmen dibuang dengan bantuan pukulan
palu. Permukaan tulang yang sudah rata kemudian dihaluskan dengan bor sampai
licin dan rata dengan permukaan palatum durum sambil diirigasi dengan larutan
salin. Setelah permukaan tulang licin, jaringan lunak yang berlebihan dirapikan.
Flap dikembalikan ke posisi semula dan dijahit dengan jahitan terputus (gambar
4). Jika ukuran torus palatinus kecil, maka insisi tetap dilakukan pada garis
tengah, namun insisi oblik hanya dilakukan pada bagian anterior. Kemudian
dilakukan prosedur yang sama dengan di atas. 1,10,21

Gambar 4. Tehnik operasi: a) Insisi disepanjang garis tengah palatum dengan


insisi anterolateral dan posterolateral, b) lapisan mukoperiosteum disisihkan
ke samping, c) memotong lesi menjadi bagian yang lebih kecil, d) membuang
eksostosis dengan pahat, e) memperhalus permukaan tulang dengan bor,
f) mukosa dijahit dengan jahitan terputus.1

Perawatan pascaoperasi pasien harus dijelaskan mengenai tanda dan


gejala-gejala yang mungkin terjadi. Tanda dan gejala seperti edema, hematom,
nyeri biasanya berhubungan dengan tipe dari prosedur operasi. Terapi yang
diberikan terdiri dari antibiotik, analgesik dan antiinflamasi. Penting juga untuk
menekankan kepada pasien untuk tetap menjaga kebersihan mulut sehingga luka
dapat sembuh dengan cepat.3,10
KOMPLIKASI
Adanya penonjolan tulang di palatum dapat menyebabkan masalah dalam
kebersihan mulut pada beberapa orang. Akumulasi dari sisa makanan sekitar
massa tulang menyebabkan pertumbuhan bakteri. Walaupun kondisi ini tidak
menimbulkan resiko yang besar, adanya benjolan yang lebih besar dapat berubah
menjadi nyeri akibat trauma. Ulserasi yang kemudian timbul pada palatum durum
dapat memperparah kondisi yang menyebabkan nyeri yang berlebihan saat makan
atau mengunyah. Sedikitnya pembuluh darah pada palatum durum dapat
memperlambat penyembuhan luka. Mukosa yang melapisi menjadi sedikit sensitif
dan menimbulkan sejumlah kelainan di mulut. Beberapa pasien bahkan dijumpai
kesulitan membuka mulut dan cenderung timbul nyeri tenggorokan. Hal ini
merupakan alasan utama mengapa pasien menjalani operasi dengan segera.
Komplikasi lain yang didapat akibat tindakan operasi antara lain perforasi dasar
kavum nasi, kerusakan saraf palatum akibat tindakan anestesi lokal, nekrosis
tulang, perdarahan, laserasi mukosa palatum dan fraktur tulang palatum.
Sedangkan komplikasi yang mungkin timbul pascaoperasi adalah hematom,
edema, jahitan yang terbuka, infeksi, neuralgia, nekrosis tulang dan mukosa.10,21
LAPORAN KASUS
Dilaporkan satu kasus wanita usia 58 tahun datang ke poliklinik THT
rumah sakit dr. Mohammad Hoesin Palembang tanggal 29 Mei 2013 dengan
keluhan utama benjolan di langit-langit keras mulut sejak satu tahun yang lalu.
Anamnesis terhadap pasien didapatkan sejak satu tahun yang lalu pasien mulai
mengeluhkan timbul benjolan di langit-langit keras mulut, dengan ukuran sekitar

sebesar butir kacang kedelai yang semakin lama semakin besar dan membentuk
dua benjolan. Benjolan dirasakan keras, dengan permukaan yang rata, tidak nyeri,
warna sama dengan sekitarnya. Sekitar satu bulan ini pasien mengeluhkan sering
timbul luka di permukaan benjolan, nyeri, namun tidak mudah berdarah. Pasien
tidak merasa terganggu dalam mengunyah dan berbicara. Riwayat merokok sejak
38 tahun yang lalu, riwayat penggunaan gigi palsu sejak sepuluh tahun yang lalu.
Riwayat lesi yang sama dalam keluarga disangkal penderita.
Pemeriksaan fisik didapatkan status generalisata dan tanda vital dalam
batas normal. Pemeriksaan THT didapatkan telinga kiri dan kanan dalam batas
normal, kavum nasi kanan dan kiri juga dalam batas normal. Rinoskopi poterior
tidak dijumpai kelainan. Pemeriksaan orofaring didapatkan dua buah benjolan di
daerah garis tengah palatum durum regio premolar-molar berukuran 1x1x1 cm
dan 1x0,5x0,5 cm dengan basis sendiri-sendiri (nodular), permukaan licin,
terdapat ulserasi pada mukosa, batas tegas, warna sama dengan sekitar kecuali
daerah ulserasi tampak lebih hiperemis, tidak nyeri saat ditekan, tidak dapat
digerakkan, konsistensi keras (gambar 5). Pemeriksaan tonsil dan dinding
belakang faring dalam batas normal. Tidak dijumpai adanya pembesaran kelenjar
getah bening leher.

Gambar 5. Massa keras di torus palatinus

Pemeriksaan foto toraks dalam batas normal, pemeriksaan laboratorium


darah didapatkan Hb 14,4 g/dl, leukosit 6.000/mm 3, hitung jenis: basofil 0%,
eosinofil 8%, segmen 50%, limfosit 36%, monosit 7%, LED 41 mm/jam,
trombosit 221.000/mm3, masa perdarahan 2 menit dan masa pembekuan 7 menit,
SGOT 21 /l, SGPT 19 /l, kreatinin 0,64 mg%, ureum 22 mg%, gula sewaktu 92

mg%, natrium 139 mmol/l, kalium 3,8 mmol/l. Pasien ini kemudian direncanakan
untuk dilakukan biopsi terbuka pada tanggal 30 Mei 2013.
Pada tanggal 30 Mei 2013 dilakukan tindakan biopsi terbuka yang
dilanjutkan dengan eksisi massa palatum dalam narkose umum. Setelah pasien
dianestesi, dalam posisi terlentang dengan kepala sedikit ekstensi dipasang mouth
gag untuk memperluas lapangan operasi. Dilakukan infiltrasi lidokain dan
adrenalin pada massa dengan tujuan untuk memisahkan periosteum dari
permukaan tulang dan mengurangi perdarahan saat operasi. Kemudian dilakukan
insisi di sepanjang garis tengah palatum durum melintasi massa yang dilanjtkan
dengan insisi oblik di kedua ujung insisi (metode double Y-shaped mucosal
incision). Mukoperiosteum kemudian dipisahkan dan disisihkan ke lateral dengan
respatorium untuk mendapatkan visualisasi yang adekuat. Setelah penonjolan
tulang dapat divisualisasi, lesi dipahat dengan pahat monobevel dengan bantuan
pukulan palu. Didapatkan massa tulang yang padat dan keras. Setelah rata,
permukaan tulang dihaluskan dengan bor sampai rata dengan permukaan palatum
durum sambil diirigasi dengan larutan salin. Jaringan lunak yang berlebihan
dirapikan dan flap dikembalikan ke posisi semula dan dijahit dengan jahitan
terputus. Jaringan tulang dikirim untuk pemeriksaan histopatologi. Dipasang pipa
nasogastrik untuk saluran makanan. Terapi medikamentosa setelah operasi
diberikan antibiotik seftriakson 2x1 gr intravena, drip ketorolak 2 ampul dalam
infus ringer laktat, diet cair melalui pipa nasogastrik.
Evaluasi hari pertama pascaoperasi didapatkan keluhan sedikit nyeri di
daerah palatum durum. Dari pemeriksaan fisik dijumpai adanya fibrin minimal di
bekas luka, edema minimal, hiperemis, jahitan baik dan tidak terbuka (gambar 6).
Terapi dilanjutkan dan diet masih menggunakan pipa nasogastrik. Pada hari kedua
pascaoperasi dijumpai edema berkurang, mukosa tidak hiperemis, jahitan tampak
baik, fibrin masih minimal (gambar 7). Pasien sudah diperbolehkan pulang
dengan terapi antibiotik sefiksim 2x100 mg, antiinflamasi kalium diklofenak
2x50mg dan edukasi untuk tetap menjaga kebersihan mulut. Pasien dianjurkan
untuk kontrol satu minggu pascaoperasi.

Gambar 6.

Hari

pertama
pascaoperasi

Gambar 7. Hari kedua pascaoperasi

Pada tanggal 8 Juni 2013 dari hasil pemeriksaan histopatologi didapatkan


kesan eksostosis pada palatum kanan dan kiri, tidak dijumpai tanda ganas pada
sediaan ini. Kontrol ulang satu minggu pascaoperasi dijumpai celah pada palatum
yang terisi bekuan darah dan sisa-sisa makanan pada bagian anterior dan jaringan
granulasi di bagian posterior, beberapa jahitan terlepas. Dua minggu pascaoperasi
dijumpai celah telah menutup dan diisi jaringan granulasi. Tidak dijumpai edema
ataupun hiperemis pada bekas insisi. Pasien juga tidak mengeluhkan nyeri pada
luka bekas operasi. Satu bulan pascaoperasi dijumpai luka di bagian posterior
sudah menutup, namun di bagian anterior celah masih terisi jaringan granulasi.
Permukaan palatum durum tampak rata, tidak dijumpai edema ataupun hiperemis
di daerah luka tersebut (gambar 8).

a.
b.

c.

Gambar 8. Pascaoperasi: a. satu minggu. b. dua minggu, c. satu bulan

DISKUSI KASUS
Dilaporkan

satu kasus eksostosis pada palatum durum pada seorang

wanita usia 58 tahun. Penyebab eksostosis pada pasien ini dicurigai karena trauma
superfisial akibat penggunaan gigi palsu, faktor genetik disangkal penderita
karena tidak dijumpai lesi yang sama pada keluarga pasien. Prevalensi torus

palatinus dari beberapa penelitian di dunia berkisar antara 1,4%-66% pada


populasi yang berbeda. Hampir seluruh penelitian mengungkapkan bahwa torus
palatinus lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dengan rasio 2:1. 6,7,9
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ali Bukhari dkk pada tahun 200612 di
Indonesia perbandingan wanita dengan laki-laki adalah 54,7% : 45,3%. Torus
palatinus dapat terjadi pada semua umur, namun kejadian torus palatinus
meningkat pada usia dekade ke-3, yaitu pada usia berkisar antara 30 50 tahun. 2,6
Penyebab torus palatinus belum dapat diketahui secara pasti tetapi pada beberapa
orang lesi ini diturunkan secara autosomal dominan (faktor genetik). Faktor
lingkungan juga diyakini merupakan salah satu faktor yang berperan selain trauma
superfisial.3,5,8-10,13
Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
histopatologi. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama benjolan di langit-langit
keras mulut sejak satu tahun yang lalu. Ukuran membesar secara perlahan, pada
perabaan keras, dengan permukaan yang rata, tidak nyeri, warna sama dengan
sekitarnya. Sekitar satu bulan ini pasien mengeluhkan sering timbul luka di
permukaan benjolan, nyeri, namun tidak mudah berdarah. Torus palatinus
biasanya merupakan lesi yang asimtomatik dan biasanya diketahui secara tidak
sengaja saat pemeriksaan gigi. Keluhan baru muncul ketika pertumbuhan torus
palatinus cukup besar, sehingga mengganggu ketika berbicara (gangguan fonasi),
mengunyah dan menelan. Torus palatinus yang terlalu besar dapat menyebabkan
ulserasi mukosa karena trauma yang berulang ketika mengunyah dan makan. 2,10,21
Pada pemeriksaan orofaring didapatkan dua benjolan di daerah garis
tengah palatum durum regio premolar-molar berukuran 1x1x1 cm dan 1x0,5x0,5
cm dengan basis sendiri-sendiri (nodular), permukaan licin, terdapat ulserasi pada
mukosa, batas tegas, warna sama dengan sekitar kecuali daerah ulserasi tampak
lebih hiperemis, tidak nyeri saat ditekan, tidak dapat digerakkan dan konsistensi
keras. Pada pemeriksaan klinik torus palatinus dapat dijumpai dalam berbagai
bentuk seperti bentuk yang datar, nodular, lobular

dan bentuk spindel yang

berlokasi di garis tengah dari palatum durum yang dilapisi oleh mukosa tipis yang

normal. Pada perabaan dijumpai lesi yang sangat keras dan tidak nyeri. 2,10,21 Torus
palatinus yang paling banyak ditemukan berukuran < 2cm yaitu sebanyak 75,4%
dan lokasi yang tersering adalah regio premolar-molar (66,4%). Distribusi torus
palatinus berdasarkan bentuk yang paling banyak adalah bentuk datar (62,7%)
diikuti bentuk spindel (36,3%), nodular (0,9%) dan lobular (0,0%). 6,13
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi dari
spesimen biopsi. Pada pasien ini dilakukan tindakan biopsi terbuka yang
dilanjutkan dengan eksisi massa palatum. Metode yang digunakan adalah metode
double Y-shaped mucosal incision. Massa tulang dieksisi dengan menggunakan
pahat monobevel dan bor untuk melicinkan permukaan palatum. Dari hasil
pemeriksaan histopatologi tanggal 8 Juni 2013 didapatkan kesan eksostosis pada
palatum kanan dan kiri, tidak dijumpai tanda ganas pada sediaan ini. Menurut
Fragiskos1 pengangkatan torus dapat dilakukan dengan metode double Y-shaped
mucosal incision dengan tujuan untuk menghindari trauma dari cabang-cabang
arteri palatina, juga untuk memperoleh visualisasi yang adekuat serta akses ke
lapangan operasi tanpa tegangan dan trauma akibat manipulasi selama operasi.
Massa tulang dibuang dengan menggunakan pahat monobevel. Permukaan tulang
kemudian dihaluskan dengan bor sampai rata dengan permukaan palatum durum
sambil diirigasi dengan laruta salin. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan histopatologi dari biopsi.1,2,10,21
Terapi medikamentosa pascaoperasi yang diberikan adalah antibiotik
seftriakson 2x1 gr intravena, drip ketorolak 2 ampul dalam infus ringer laktat.
Pasien juga diedukasi untuk tetap menjaga kebersihan mulutnya. Sesuai dengan
literatur perawatan pascaoperasi pasien harus diinformasikan tanda dan gejalagejala yang mungkin terjadi dan biasanya berhubungan dengan tipe dari prosedur
operasi, seperti edema, hematom dan nyeri ringan dan lain-lain. Terapi yang
diberikan terdiri dari antibiotik, analgesik dan antiinflamasi. Penting juga untuk
menekankan kepada pasien untuk tetap menjaga kebersihan mulut sehingga luka
dapat sembuh dengan cepat.7,10
Komplikasi yang timbul akibat lesi pada pasien ini adalah timbulnya
ulserasi pada permukaan torus sehingga menimbulkan nyeri saat makan atau

mengunyah. Komplikasi akibat tindakan operasi tidak dijumpai. Pada follow-up


satu minggu pascaoperasi dijumpai komplikasi berupa terbukanya jahitan
sehingga terjadi penumpukan sisa makanan di celah bekas insisi dan terdapat
bekuan darah. Pada follow-up satu bulan pascaoperasi dijumpai luka operasi yang
sudah menutup, permukaan palatum durum yang sudah rata, mukosa tampak
normal, hanya sedikit jaringan granulasi di bagian anterior. Adanya penonjolan
tulang di palatum dapat menyebabkan masalah dalam kebersihan mulut,
akumulasi dari sisa makanan, ulserasi mukosa dan nyeri. Beberapa pasien bahkan
dijumpai kesulitan membuka mulut dan cenderung timbul nyeri tenggorokan.
Komplikasi lain yang didapat akibat tindakan operasi antara lain perforasi dasar
kavum nasi, kerusakan saraf palatum akibat tindakan anestesi lokal, nekrosis
tulang, perdarahan, laserasi mukosa palatum dan fraktur tulang palatum.
Sedangkan komplikasi yang mungkin timbul pascaoperasi adalah hematoma,
edema, jahitan yang terbuka, infeksi, neuralgia, nekrosis tulang dan mukosa.10,21

DAFTAR PUSTAKA

1. Fragiskos FD. Preprosthetic Surgery. In: Fragiskos FD. Oral Surgery.


Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 2007. p: 253-259.
2. Stewart JCB. Benign nonodontogenic tumors. In: Regezi JA, Sciubba JJ,
Jordan Richard CK. Oral pathology clinical pathologic correlations.
Saunders elsevier. 4th ed. 2003. p: 305-307.
3. Jainkittivong A et al. Buccal and palatal exostoses: Prevalence and
concurrence with tori. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol
Endod. 2000. Vol 90. p: 48-53.
4. Raldi FV et al. Excision of an atypical case of palatal bone exostosis: a
case report. Journal of oral science. 2008. Vol 50. No. 2. p: 229-231.
5. Agbaje JO et al. Torus palatinus and torus mandibularis in a Nigerian
population. African journal of oral health. 2005. Vol 2 (1&2). p: 30-36.
6. Sisman Y et al. Prevalence of Torus Palatinus in Cappadocia Region
Population of Turkey. European Journal of Dentistry. 2008. Vol 2. p: 269275.
7. Al-Sebaie D, Alwrikat M. Prevalence of torus palatinus and torus
mandibularis in Jordanian population. Pakistan Oral & Dental Journal.
2011. Vol 31 (1). p: 214-216.
8. Rocca JP et al. Er: YAG Laser: A New Technical Approach to Remove
Torus Palatinus and Torus Mandibularis. Case Report. Hindawi
Publishing Corporation. 2012. Vol 2012. p: 1-4.
9. Cohen MM Jr. The new bone biology: Pathologic, molecular, and clinical
correlates. American journal of medical genetics. 2006. Part A 140A. p:
2646-2706.
10. Martinez-Gonzalez et al. Current status of the torus palatinus and torus
mandibularis. Med oral patol oral cir buccal. 2010 Mar 1. Vol 15(2).
p:353-60.
11. Luqman M et al. Prevalence of torus palatinus among Saudi population in
Abha. Int. Journal of Clinical Dental Science. 2011. Vol 2(4). p: 101-104.
12. Ali Bukhari et al. Prevalence of torus palatinus among 300 Indonesian
patients. Pakistan oral & dental journal. Vol 27 (1). p: 89-92.
13. Apinhasmit W et al. Torus palatinus and torus mandibularis in a Thai
population. Reasearch article Science Asia. 2002. Vol 28. p: 105-111.

14. Lee KJ. The oral cavity, pharynx, and esophagus. In: Lee KJ. Ed.
Essential otolaryngology head and neck surgery. 9th ed. New York :
McGraw-Hill companies. 1999. pp: 530-551.
15. Sinelnikov RD. The digestive system (the digestive apparatus). In:
Sinelnikov RD. Atlas of human anatomy (The science of the viscera and
vessel). MIR Publisher Moscow. 1989. Volume II (part 1). p: 15-18.
16. Wexler A. Craniofacial Anatomy. In: Thaller SR et al. Craniofacial
Surgery. Informa Healthcare USA, Inc. New York. 2008. p: 8-39.
17. Fernandez RF et al. Torus Palatino y Torus Mandibular.
Int.J.Odontostomat. 2009. Vol 3(2). p: 113-117.
18. Galera V et al. Oral tori in a sample of the Spanish university students:
prevalence and morphology. Antropologia Portuguesa. 2003. p: 281-305.
19. Belsky JL et al. Torus palatinus: A new anatomical correlation with bone
density in postmenopausal women. The journal of clinical endocrinology
& metabolism. 2003. Vol 88(5). p: 2081-2086.
20. Reichart PA et al. Prevalence of torus palatinus and torus mandibularis in
Germans and Thai. Community Dent Oral Epidemiol. 1988. Vol 6. p: 6164.
21. Chung WL et al. Odontogenic cysts, tumors and related jaw lessions. In:
Bailey BJ et al. Head and Neck Surgery Otolaryngology, 4 th Ed.
Philadelphia: JB Lippincott company. 2006. p : 1577-79.
22. Gonsalves WC et al. Common oral lessions: Part II. Masses and
neoplasia. American family physician. 2007. Vol 75 (4). p: 509-512.
23. Shreedhar B, Kamboj M, Kumar N, Shamim Khan S. Fibrous dysplasia of
the palate: Report of a case and review of palatal swellings. Case report.
Hindawi publishing corporation. 2012. p:1-5.
24. Durighetto AF, Moraes Ramos FM, Rocha MA, Cruz Perez DE.
Peripheral osteoma of the maxilla: report of a case. Dentomaxillofacial
radiology. 2007. Vol 36. p: 308-310.

Laporan kasus

PENATALAKSANAAN TORUS PALATINUS

Oleh :
dr. Rini Rahma Wulandari

Pembimbing :
dr. Denny Satria Utama, SpTHT-KL, M.Si, Med

BAGIAN IKTHT-KL FK UNSRI/


DEPARTEMEN KTHT-KL RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
2013