Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

DISLOKASI TEMPOROMANDIBULAR JOINT

Oleh :
Putri Rara Imas Balerna Pratiwi
FAA 110 030

Pembimbing :
dr. Sutopo Marsudi Widodo, Sp.RM
dr. Tagor Sibarani
dr. Tharina Lawei

Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik pada bagian


Ilmu Rehabilitasi Medik dan Emergency Medicine

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU REHABILITASI MEDIK DAN


EMERGENCY MEDICINE
RSUD dr. DORIS SYLVANUS/FK UNPAR
PALANGKA RAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Dislokasi TMJ atau dislokasi mandibula adalah pergeseran condylus dari
lokasinya yang normal di fossa mandibularis. Terdapat berbagai jenis dislokasi
yang dapat terjadi melalui mekanisme traumatik atau nontraumatik.
Dislokasi mandibular merupakan keluhan yang jarang pada bagian gawat
darurat. Sebuah penelitian melaporkan dislokasi TMJ terjadi sebanyak 37 kasus
pada periode 7 tahun, pada sebuah rumah sakit dengan 100.000 kasus emergensi
per tahun. Dislokasi mandibula anterior merupakan yang paling sering terjadi dan
biasanya akibat penyebab nontraumatik.
Pada sebuah penelitian terhadap 96 kasus dislokasi TMJ, didapatkan bahwa
dislokasi akut merupakan yang paling sering terjadi (47,9%), diikuti oleh dislokasi
kronik (30,2%), dan dislokasi kronik rekuren (21,9%). Penyebab dislokasi yang
tersering ialah menguap terlalu lebar (45,8%), diikuti oleh kecelakaan lalu lintas
(13,5%). Jenis dislokasi yang paling sering terjadi adalah dislokasi anterior
bilateral (89,6%).

BAB II

LAPORAN KASUS
I. Primary Survey
Ny. M, perempuan
Vital sign

Tekanan Darah

: 170/110 mmHg

Nadi

Pernapasan

: 22 x/menit

Suhu

: 37

80 x/menit

Airway

: tidak terdapat sumbatan jalan nafas

Breathing

Spontan,

22x/menit

dengan

jenis

pernapasan

torakoabdominal, pergerakan thoraks simetris dan


tidak ditemukan ketinggalan gerak pada salah satu
thoraks.
Circulation

: TD 170/110 mmHg. Nadi 80 kali/menit, reguler, isi


cukup, kuat angkat.CRT < 2 detik.

Dissability

: tidak bisa menutup rahang

Evaluasi masalah :Kasus ini merupakan kasus yang termasuk dalam


priority yaitu tidak bisa menutup rahang. Pasien
pada kasus ini diberi label pewarnaan triase dengan
warna kuning
Tatalaksana awal : Pasien ditempatkan di ruangan bedah.
II. Identitas Penderita
Nama

: Ny. M

Usia

: 59 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan : IRT
Alamat

: Jln. Akatsia

III.Anamnesis
Autoanamnesis dengan penderita pada tanggal 29 Desember 2015 pukul
08.00 WIB.
1. Keluhan Utama : tidak bisa menutup rahang
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien diantar keluarganya dirumah sakit dengan keluhan rahang tidak
bisa menutup setelah menguap terlalu lebar sejak 10 jam SMRS dan
terasa semakin nyeri. Anak pasien mengatakan pasien menguap tadi
malam sebelum hendak beristirahat tetapi mulut tidak bisa menutup
kembali. Pasien mengalami kejadian serupa hampir setiap minggu dan
dalam bulan ini sudah 3x terjadi hal yang sama.
Anak pasien mengatakan 1 tahun yang lalu pasien menderita serangan
stroke bukan perdarahan, kemudian cara berjalan pasien menjadi tertatihtatih seperti robot, tangan kiri pasien menjadi lemah, dan rahang sering
tidak mau menutup sehabis menguap terlalu lebar. Pasien memiliki
riwayat tekanan darah tinggi, tidak rutin meminum obat sebelum
kejadian stroke. Setelah stroke 1 tahun yang lalu, pasien menjadi rutin
meminum obat amlodipin 10 mg setiap hari.
Riwayat kejang (-), penurunan kesadaran (-), demam (-).
BAB dan BAK tidak ada keluhan
IV. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum: Tampak sakit sedang
Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: Eye (4), Motorik (6), Verbal (5).

2. Tanda vital

Tensi

: 170/110 mmHg

Nadi

: 80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat

Suhu

: 37C, aksila

Respirasi

: 22 x/menit, torakoabdominal.

3. Kepala

: normocepal, CA -/- , SI -/- , pupil isokor, rahang

bawah terbuka, kaku, nyeri saat digerakan, bunyi (-)


4. Leher

: peningkatan JVP (-). KGB membesar (-)


5. Thoraks

a. Paru
Inspeksi

: Simetris, tidak ada ketinggalan gerak, frekuensi napas


22 kali/menit, jenis pernapasan torakoabdominal.

Palpasi

: Fremitusvocal +/+, NT -

Perkusi

: Sonor +/+ pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara napas vesikuler pada kedua lapang paru, ronki


(-/-), wheezing (-/-).

b. Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Teraba pada SIC V 1 jari lateral midklavikula


sinistra

Auskultasi

: S1-S2 tunggal, tidak ada murmur dan gallop


6. Abdomen

datar, supel bising usus (+)

normal , perkusi timpani , hepar dan lien tidak


membesar.
7. Ekstremitas

: Akral hangat, CRT < 2 detik. Kekuatan motorik

5 /3 ,
5 /5
V. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
VI. Diagnosis Banding
-

Sindroma disfungsi sendi Temporomandibular

VII. Diagnosis Kerja


Dislokasi Temporomandibular joint + Hipertensi gr II

VIII.
-

Penatalaksanaan
Oksigenasi 2 lpm NK
Reposisi TMJ
PO : Amlodipine 10 mg,
o I
: pengobatan hipertensi, angina stabil kronik, angina
vasospastik.
o KI
: reaksi hipersensitif
PO : Natrium Diklofenac 2 x 50 mg
o I
: pengobatan akut dan kronik gejala rheumatoid artritis dan
OA dan ankilosing spondilitis
o KI
: reaksi hipersensitif, penderita asma, urtika, alergi, alergi

terhadap aspirin, penderita tukak lambung.


Diet lunak

Foto pasien setelah dilakukan reposisi manual

IX. Usulan

X ray intra oral

Rontgen Panoramik

CT scan

BAB III
PEMBAHASAN
Seorang perempuan Ny. M datang dengan keluhan tidak bisa menutup
mulut seusai menguap terlalu lebar. Riwayat kejadian serupa sering terjadi
dalam 1 tahun lagi serangan stroke.
Temporomandibular joint menghubungkan rahang bawah (mandibula) ke
tulang pada sisi kepala (tulang temporal). Karena sendi-sendi ini bersifat fleksibel,
rahang dapat bergerak naik, turun, dan ke samping secara halus. Sendi ini juga
memungkinkan kita untuk bicara, mengunyah, dan menguap. Otot-otot menempel
dan mengelilingi sendi rahang, mempertahankan posisi dan pergerakannya.
Ketika kita membuka mulut, ujung yang bulat dari rahang bawah
(kondilus), bergerak meluncur sepanjang fossa sendi pada tulang temporal.
Kondilus akan kembali ke posisi semula ketika kita mengatupkan mulut. Agar
gerakan tetap halus, terdapat diskus yang lunak di antara kondilus dan tulang
temporal. Diskus ini meredam kejutan (shockbreaker) sendi rahang akibat
mengunyah dan pergerakan lain.
Temporomandibular joint berbeda dengan sendi-sendi lain dalam tubuh
manusia. Kombinasi gerakan meluncur ke satu arah (hinge and sliding motions)
membuat sendi ini merupakan sendi yang paling rumit di dalam tubuh. Selain itu,
jaringan yang membentuk TMJ juga berbeda dengan sendi-sendi lain yang
menahan bebean tubuh, seperi sendi lutut atau pinggul. Karena pergerakannya
yang kompleks dan unik, sendi rahang dan otot-otot yang mengendalikannya
dapat menyulitkan baik untuk pasien maupun dokter ketika bermasalah.

Mekanika Pergerakan Mandibula


Pergerakan mandibula merupakan hal yang kompleks. Hal ini merupakan
gabungan dari rotasi dan translasi yang terjadi secara tiga dimensi. Untuk dapat
mengerti dengan baik kompleksitas pergerakan ini, perlu kiranya mempelajari
pergerakan yang terjadi pada sendi temporomandibular secara tersendiri.

Tipe Pergerakan
Terjadi dua jenis pergerakan dalam sendi temporomandibular (TMJ). Dua jenis
pergerakan ini adalah rotasi dan translasi.
a. Pergerakan rotasi
Dalam sistem mastikasi rotasi terjadi ketika mulut membuka dan menutup pada
titik atau sumbu yang tetap dalam kondilus. Dengan kata lain gigi terpisah dan
dapat teroklusi kembali tanpa adanya perubahan posisi dari kondilus.
Pada sendi temporomandibular, rotasi terjadi sebagai pergerakan dalam kavitas
inferior sendi. Dengan demikian rotasi adalah pergerakan anatara permukaan
superior kondilus dengan permukaan inferior dari diskus artikularis. Pergerakan
rotasi dari mandibula dapat terjadi pada tiga bidang yaitu horizontal, frontal, dan
sagital. Pada setiap bidang hal ini terjadi pada sebuah sumbu yang akan dijelaskan
pada masing-masing pembahasan.
Aksis horizontal dari rotasi
Pergerakan mandibula di sekitar aksis horizontal adalah pergerakan membuka dan
menutup mulut. Pergerakan ini disebut sebagai hinge movement dan merupakan
satu-satunya yang masih dianggap sebagai pergerakan rotasi murni.

Aksis vertikal dari rotasi


Pergerakan mandibula di sekitar aksis frontal terjadi ketika satu kondilus bergerak
ke anterior

Aksis sagital dari rotasi


Pergerakan mandibula dalam aksis sagital terjadi ketika satu kondilus bergerak
kea rah inferior.

b. Pergerakan Translasi
Translasi dapat didefinisikan sebagai pergerakan dimana setiap titik dari objek
yang bergerak secara simultan mempunyai kecepatan dan arah yang sama. Pada
sistem mastikasi, translasi terjadi ketika mandibula bergerak maju seperti pada
protrusi. Baik gigi, kondiulus dan ramus semuanya bergerak pada arah yang sama
ke derajat yang sama.
Translasi terjadi pada kavitas superior dari sendi, di antara permukaan superior
diskus artikularis dan permukaan inferior dari fosa artikularis. (antara kompleks
diskus kondilus dan fosa artikularis)

Selama pergerakan normal dari mandibula, baik rotasi dan translasi terjadi secara
simultan. Dengan kata lain, ketika mandibula berotasi pada satu atau lebih aksis,
setiap aksis bertranslasi (berubah orientasinya)

Pergerakan Tiga Dimensi


Ketika otot mulai berkontraksi dan menggerakkan mandibula ke arah kanan,
kondilus kiri terdorong ke luar dari posisi relasi sentralnya. Ketika kondilus kiri
mengelilingi di anterior dari aksis frontal kondilus kanan, ia berhadapan dengan
lengkung posterior dari eminensia artikularis yang menyebabkan pergerakan
inferior dari kondilus di sekeliling aksis sagital dengan resultan kemiringan pada
aksis frontal. Sebagai tambahan kontak dengan gigi anterior menimbulkan
pergerakan inferior yang sedikit lebih besar di bagian anterior dari mandibula dari
bagian posterior, yang akan menghasilkan pergerakan membuka pada aksis
horizontal. Karena kondilus kiri bergerak ke anterior dan inferior, aksis horizontal
juga berpindah anterior dan inferior.
Contoh ini menggambarkan selama pergerakan lateral yang sederhana, gerak
terjadi pada setiap aksis, (sagital, horizontal, vertical) dan secara simultan setiat
aksis mengubah kemiringan untuk mengakomodasi pergerakan aksis lainnya.
Semua ini terjadi dalam envelope of motion dan dikontrol oleh sistem
neuromuskulatur untuk mencegah perlukaan pada struktur oral.
Klasifikasi dan Etiologi
Terdapat berbagai jenis dislokasi yang dapat terjadi melalui mekanisme traumatik
atau nontraumatik.

Jenis dislokasi dibedakan berdasarkan letak condylus relatif terhadap fossa


articularis tulang temporal:
- Dislokasi anterior
Pada dislokasi tipe ini terjadi perubahan posisi condylus menjadi anterior
terhadap fossa articularis tulang temporal. Dislokasi anterior biasanya terjadi
akibat interupsi pada sekuens normal kontraksi otot saat mulut tertutup setelah
membuka dengan ekstrim. Muskulus masseter dan temporalis mengangkat
mandibula sebelum muskulus pterygoid lateral berelaksasi, mengakibatkan
condylus mandibularis tertarik ke anterior ke tonjolan tulang dan keluar dari
fossa temporalis. Spasme muskulus masseter, temporalis, dan pterygoid
menyebabkan trismus dan menahan condylus tidak dapat kembali ke fossa
temporalis. Dislokasi jenis ini dapat unilateral atau bilateral. Dislokasi tersebut
dibedakan menjadi akut, kronik rekuren, atau kronik.
- Dislokasi akut terjadi akibat trauma atau reaksi distonik, namun biasanya
disebabkan oleh pembukaan mulut yang berlebihan seperti menguap,
anestesi umum, ekstraksi gigi, muntah, atau kejang. Dislokasi anterior juga
dapat terjadi setelah prosedur endoskopik.
- Dislokasi kronik akut disebabkan oleh mekanisme yang sama pada pasien
dengan faktor risiko seperti fossa mandibularis yang dangkal (kongenital),
kehilangan kapsul sendi akibat riwayat disloasi sebelumnya, atau sindrom
hipermobilitas.
- Dislokasi kronik terjadi akibat dislokasi TMJ yang tidak ditangani sehingga
condylus tetap berada dalam posisinya yang salah dalam waktu lama.
Biasanya dibutuhkan reduksi terbuka.
- Dislokasi posterior biasanya terjadi akibat trauma fisik langsung pada dagu.
Condylus mandibularis tertekan ke posterior ke arah mastoid. Jejas pada
meatus acusticus externum akibat condylus dapat terjadi pada dislokasi tipe ini.
- Dislokasi superior terjadi akibat trauma fisik langsung pada mulut yang sedang
berada dalam posisi terbuka. Sudut mandibula pada posisi ini menjadi
predisposisi pergeseran condylus ke arah superior dan dapat mengakibatkan
kelumpuhan nervus fasialis, kontusio serebri, atau gangguan pendengaran.
- Dislokasi lateral biasanya terkait dengan fraktur mandibula. Condylus bergeser
ke arah lateral dan superior serta sering dapat dipalpasi pada permukaan
temporal kepala.
Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor risiko dislokasi TMJ, antara lain:


- Fossa mandibularis yang dangkal
- Condylus yang kurang berkembang sempurna
- Ligamen TMJ yang longgar
- Penyakit jaringan ikat, misalnya sindrom Marfan, sindrom Ehlers-Danlos

Anamnesis kronologis dan komprehensif dan pemeriksaan fisik


pasien, meliputi anamnesis dan pemeriksaan gigi, penting untuk
mendiagnosis kondisi kondisi spesifik untuk menentukan
pemeriksaan lebih lanjut, jika ada, dan untuk memberikan terapi
spesifik.
a. Satu pertiga pasien memiliki riwayat masalah psikiatri
b. Pasien mungkin memiliki riwayat trauma fasial, perawatan
gigi yang buruk, dan atau stress emosional.
c. Pasien dengan gangguan makan kronik menyebabkan
prevalensi tinggi gangguan TMJ.
d. Banyak pasien dengan gangguan TMJ juga mengalami
nyeri leher dan bahu.
e. Dokter sebaiknya menanyakan tentang clenching di siang
hari atau malam hari. Clenching di siang hari memiliki
asosiasi yang kuat dengan dislokasi TMJ dibandingkan
dengan bruksisme malam hari.
f. Pasien akan mengeluhkan gejala berikut:
Nyeri: nyeri biasanya periaurikuler, dihubungkan dengan
mengunyah, dan menyebar ke kepala tetapi tidak
seperti sakit kepala. Mungkin unilateral pada sisi
dislokasi TMJ, kecuali pada rheumatoid arthritis. Nyeri:
biasanya sering dideskripsikan sebagai nyeri yang
dalam disertai dengan nyeri tajam yang intermiten

seiring dengan gerakan rahang


Klik, pop dan snap: Suara ini biasanya dihubungkan
dengan nyeri pada dislokasi TMJ. Klik dengan nyeri
pada dislokasi disk anterior disebabkan oleh reduksi
mendadak dari pita posterior ke posisi normal. Klik
terisolasi sangat umum pada populasi umum dan bukan
faktor risiko terjadinya kelainan TMJ.

Episode terkunci dan pembukaan rahang yang


terbatas; Keadaan terkunci dapat terbuka atau
tertutup, open lock adalah ketidakmampuan untuk
menutup mulut dan terlihat saat dislokasi anterior
kondilus mandibular di depan tonjolan artikuler. Jika
tidak dikurangi segera maka sangat menyakitkan.
Closed lock adalah ketidakmampuan untuk membuka

mulut karena nyeri atau perubahan lokasi sendi.


Nyeri kepala: Nyeri dislokasi tidak seperti nyeri kepala
biasa. Dislokasi TMJ mungkin menjadi pencetus pada
pasien untuk mengalami sakit kepala, dan saat
berkaitan dengan dislokasi TMJ akan cenderung untuk
menjadi berat secara alamiah. Beberapa pasien
mungkin memiliki riwayat nyeri kepala yang tidak
berrespon terhadap pengobatan. Pencetus dari kelainan
TMJ tidak boleh disingkirkan pada pasien tersebut
karena diagnosis penting dalam pengobatan nyeri
kepala ini.

Pemeriksaan Fisik
a. Observasi
Postur kepala saat menghadap ke depan (dapat menunjukkan dislokasi

kondilus posterior)
Maloklusi rahang, gigi abnormal, dan gigi yang copot
Ketegangan otot atau spasme otot leher ipsilateral

b. Pemeriksaan
Rentang gerakan sendi. Pemeriksa memeriksa
pembukaan dan penutupan rahang serta deviasi lateral
bilateral. Rentang normal gerakan untuk pembukaan
mulut adalah 5 cm dan gerakan lateral mandibula
adalah 1 cm. Pasien sering mengurangi pembukaan
mulut.

Palpasi: Palpasi terbaik TMJ adalah lateral sebagai lekukan tepat di


bawah sudut zigomatikum, 1-2 cm di depan tragus. Aspek posterior
sendi dipalpasi melalui kanal auditori eksternal. Sendi sebaiknya
dipalpasi baik pada posisi terbuka maupun tertutup dan baik lateral
maupun posterior. Saat palpasi, pemeriksa sebaiknya merasakan
spasme otot, konsistensi otot atau sendi, dan bunti sendi. Otot yang
dipalpasi sebagai bagian dari pemeriksaan TMJ lengkap yaitu
masseter, temporalis, pterygoid medial, pterygoid lateral, dan
sternokleidomastoid. Pada disfungsi dan nyeri miofasial terisolasi,
klik dan kelembutan sendi bisanya tidak ditemukan.

Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar X
Secara umum, sinar x pada daerah gigi dan mulut dapat dibagi menjadi
dua golongan:
a. Sinar X intraoral
Sinar X intraoral merupakan sinar X dental yang paling umum
digunakan. Alat ini memberikan detail dan gambaran kavitas,
memeriksa kesehatan akar gigi dan tulang di sekitar gigi, memeriksa
status perkembangan gigi dan memantau kesehatan umum dari tulang
dan rahang.
i. Bitewing
Pada pemeriksaan ini pasien menggigit suatu paper tab dan
menunjukkan bagian mahkota pada gigi atas dan gigi bawah
bersama
ii. Periapikal
Periapikal menunjukkan satu atau dua gigi yang lengkap mulai dari
mahkota hingga akar.
iii. Palatal (disebut juga oklusal)
Sinar x palatal atau oklusal menangkap keseluruhan gigi atas dan
bawah pada satu tembakan sementara film diletakkan pada
permukaan gigitan dari gigi.
b. Sinar X ekstraoral
Sinar X ekstraoral menunjukkan gigi, tetapi fokus utamanya adalah
rahang dan tengkorak. Alat yang termasuk golongan ini tidak

menyediakan detail yang ditemukan pada sinar X intraoral sehingga


tidak digunakan untuk mendeteksi kavitas atau mengidentifikasi
masalah gigi per gigi. Alat ini digunakan untuk melihat gigi impaksi,
memantau tumbuh-kembang rahang dalam hubungannya dengan gigigeligi dan mengidentifikasi masalah potensial antara gigi dan rahang
beserta TMJ.
i. Panoramik
Sinar x panoramik membutuhkan suatu alat khusus untuk berotasi
mengelilingi kepala. Sinar x menangkap keseluruhan rahang dan
gigi-geligi dalam satu tembakan. Alat ini digunakan untuk
merencanakan terapi bagi implan gigi, memeriksa gigi geraham
bungsu, dan mendeteksi masalah rahang. Panoramik tidak bagus
dalam mendeteksi kavitas, kecuali kerusakannya sangat parah dan
dalam.
ii. Tomogram
Tomogram menunjukkan lapisan khusus atau potongan dari mulut
sementara yang lain dibuat buram. Jenis sinar X ini bermanfaat
untuk memeriksa struktur yang sulit dilihat secara jelas, misalnya
karena struktur lainnya sangat dengan dengan struktur yang akan
dilihat.
iii. Proyeksi Sefalometri
Menunjukkan keseluruhan sisi kepala. Jenis sinar X ini bermanfaat
untuk memeriksa gigi-geligi dengan hubungan terhadap rahang dan
profil individu. Ahli ortodonti menggunakan jenis sinar X ini untuk
mengembangkan rencana terapi ini.
iv. Sialografi
Sialografi melibatkan visualisasi kelenjar saliva setelah injeksi
pewarnaan. Pewarnaannya disebut agen kontras radioopak yang
diinjeksikan menuju kelenjar saliva sehingga organ tersebut dapat
dilihat melalui film sinar X.
2. Computed Tomography
Disebut juga CT-scan. menunjukkan struktur interior tubuh sebagai
gambaran tiga dimensi. Jenis sinar x ini digunakan untuk mengidentifikasi
masalah pada tulang wajah, seperti tumor atau fraktur.
3. MRI (Magnetic Ressonance Image)

MRI baik untuk menunjukkan delineasi dari posisi diskus dan jaringan
lunak dari TMJ. Perforasi diskus dan adhesi sendi tidak dapat ditunjukkan
oleh MRI
Obat yang dapat diberikan antara lain:
Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs), seperti aspirin atau
ibuprofen untuk meredakan nyeri otot dan pembengkakan. Pemberiannya
untuk jangka pendek dan berdasarkan basis regular, bukan pada saat

diperlukan selama 2-4 minggu dan kemudian dilakukan tapering off


Narkotik diberikan pada pasien dengan nyeri akut berat dan tidak boleh

diberikan lebih dari 10-14 hari.


Bila NSAID tidak efektif meredakan nyeri, dapat diberikan dosis rendah
antidepresan trisiklik dengan anti muskarinik. Obat obatan ini
menghambat transmisi nyeri dan mengurangi bruxisme malam hari. Jenis
yang biasa digunakan adalah Amitriptyline and nortriptyline dalam dosis

kecil.
Relaxan otot untuk melemaskan otot rahang seperti

diazepam,

methocarbamol, and cyclobenzaprine diberikan dalam dosis efektif


terendah.
Splint Splint yang dipakai didesain untuk seluruh gigi dan ditujukan untuk
mencegah gigi atas dan bawah menyatu sehingga menyulitkan pasien
mengatupkan rahangnya. Kerja splint adalah dengan mengambil tekanan sendi
dan otot rahang sehingga memberikan kesempatan untuk beristirahat dan
menyembuhkan diri. Pemakaian splint harus sesuai anjuran dokter dan tidak boleh
dipakai terlalu lama karena akan mengubah gigitan. Jenis splint yang dapat
dipakai adalah anterior repositioning splint dan autorepositional splints. Faktor
factor yang mempengaruhi penyembuhan dengan penggunaan splint diperkirakan
adalah perubahan hubungan oklusal, redistribusi gaya oklusi pada gigitan dan
perubahan hubungan structural dan gaya pada TMJ.
Terapi
Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan pada tata laksana dislokasi temporomandibular merupakan
cara terakhir yang dipilih setelah terapi non pembedahan lainnya. Terapi

pembedahan bersifat ireversibel dan terkadang menimbulkan rasa sakit bahkan


kerusakan rahang. Tujuan utama dari terapi pembedahan adalah:

Menghilangkan nyeri dan membatasi progresivitas penyakit degeneratif

Memperbaiki range of motion dari rahang

Restorasi oklusi fungsional dan anatomi

Terdapat dua tipe pembedahan pada kelainan temporomandibular:


1. Artosentesis
Artrosentesis meliputi pencucian sendi dengan cairan yang diinjeksikan ke
dalam ruang sendi dengan spuit. Tindakan ini dapat dilakukan dengan anestesi
lokal secara intravena.
2. Artroskopi
Artroskopi membutuhkan anestesi umum. Ketika pasien sudah dalam kondisi
tidak sadar, dokter bedah akan melakukan insisi kecil pada depan telinga.
Setelah itu, dimasukkan alat melalui lubang ini sehingga bisa terlihat area
sekitar temporomandibular.
3. Pembedahan sendi terbuka
Pembedahan ini baru dilakukan jika ada indikasi seperti:
a. Degenerasi sendi temporomandibular
b. Tumor
Sebelum terapi pembedahan dilakukan, terapi dental splint atau terapi non bedah
lain dapat dilakukan agar otot lebih relaksasi.
Ekuilibrasi
Terapi ekuilibrasi oklusi merupakan salah satu terapi yang sering dilakukan oleh
dokter gigi untuk memperbaiki kondisi dislokasi temporomandibular. Ekuilibrasi
oklusi dapat meningkatkan stabilitas dan ortopedik. Hal ini kemudian dapat
meningkatkan fungsi mastikasi. Pada ekuilibrasi, dilakukan penyesuaian sendi
rahang, otot rahang dan giig agar ototnya berada dalam keadaan rileks, sendi
rahang stabil, gigi geligi rahang atas dan bawah dapat berkontak.
Langkah-langkah ekuilibrasi:

1. Memposisikan sendi rahang dalam posisi stabil(centric relation position).


Otot rahang harus diistirahatkan saat melakukan manuver ini. Pada
umumnya, dokter gigi menggunakan teknik manipulasi bimanual.
2. Penyesuaian gigi dan melakukan plaster gigi.
Komplikasi
Komplikasi pada TMJ merupakan kondisi sekunder, simptom, atau gangguan lain
yang disebabkan oleh TMJ sindrom.
Komplikasi dari TMJ dapat berupa:

sakit kepala
sakit pada rahang
bunyi clik-clik pada rahang.
arthritis
facial pain

Komplikasi pada TMJ merupakan kondisi sekunder, simptom, atau gangguan lain
yang disebabkan oleh TMJ sindrom.
Arthritis TMJ
Infectious arthritis, traumatic arthritis, osteoarthritis, RA, dan
secondary degenerative arthritis dapat menyebabkan TMJ.
Infectious arthritis
Infeksi pada TMJ dapat disebabkan dari ekstensi langsung dari
infeksi yang berdekatan atau melalui sistem hematogen. Area ini akan
inflamasi dan gerakan dari rahang akan terbatas. X-ray dapat negatif pada
stage awal tetapi lama-kelamaan dapat menggambarkan gambaran
destruksi tulang. Jika dicurigai arthritis supuratif, maka dapat dilakukan
aspirasi pada sendi untuk konfirmasi diagnosis dan untuk mengidentifikasi
organisme penyebab. Diagnosis harus cepat untuk mencegah kerusakan
sendi permanent.
Terapi berupa antibiotik, perbaiki status hidrasi, anti nyeri, dan
batasi pergerakan sendi. Penicilin parenteral merupakan obat pilihan utama
sampai spesifik bakteri ditemukan. Jika infeksi sudah teratasi, jawopening exercises dapat membantu mencegah scarring dan keterbatasan
gerak.
Traumatic arthritis

Jarang.

acute injury

(contoh:

intubasi

endotrakeal) dapat

menyebabkan arthritis pada TMJ. Dapat terjadi nyeri, tenderness,dan


keterbatasan gerak. Diagnosis berdasarkan anamnesis. Hasil x-ray negatif,
kecuali ketika terjadi intra-articular edema atauhemoragik yang meluas
pada ruang sendi. Terapi berupa NSAIDs, diet makan lunak dan restriksi
dari pergerakan sendi.
Osteoarthritis
TMJ dapat terkena, terutama pada usia > 50 tahun. Biasanya pasien
mengeluh kaku,grating, dan mild pain.pada pemeriksaan fisik dapat
ditemukan krepitasi. Sendi yang terkena pada umumnya bilateral. X-rays
dan CT scan dapat menunjukkan flattening and lipping pada condyle.
Terapi berupa simptomatik.
Rheumatoid arthritis
Dapat mengenai TMJ > 17% pada dewasa dan pada anak dengan
RA, tetapi biasanya TMJ merupakan sendi terakhir yang terkena. Nyeri,
bengkak, dan keterbatasan gerak merupakan yang paling serig ditemkan.
Pada anak, destruksi condyle mengakibatkan gangguan pertumbuhan
mandibular dan deformitas wajah. Dapat juga terjadi ankilosis. X-rays
biasanya negatif pada stage awal, tetapi lama kelamaan menunjukkan
destruksi tulang., yang mengakibatkan anterior open-bite deformity.
Terapi sama dengan RA pada sendi lain. Pada keadaan akut, dapat
diberikan NSAIDs membatasi gerakan sendi. Night guard atau splint
terkadang menbantu. Bedah diperlukan apabila terjadi ankilosis.
Secondary degenerative arthritis
Arthritis tipe ini mengenai usia 20-40 setelah trauma atau dengan
persistent myofascial pain syndrome. Gejala biasanya terbatas saat
membuka mulut, unilateral pain, dan krepitus. Diagnosis berdasarkan xrays, yang biasanya menunjukkan condylar flattening, lipping, spurring,
or erosion.
Pada pasien ini dilakukan reposisi manual oleh dokter spesialis bedah
mulut, dibalut dengan verban elastic menetap. Pasien juga diberikan terapi
NSAID untuk mengurangi rasa nyeri yang terjadi akibat dislokasi TMJ. Pasien
juga diberikan obat antihipertensi untuk mencegah komplikasi atau risiko lain
akibat peningkatan tekanan darah.

BAB IV
KESIMPULAN
Demikian telah dilaporkan suatu kasus dislokasi TMJ dan hipertensi gr II
dari seorang pasien, Ny. M usia 59 tahun dengan keluhan tidak bisa menutup
rahang 10 jam SMRS.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. Pada
pasien dilakukan tindakan reposisi untuk memperbaiki posisi rahang. Pada pasien
juga diberikan obat antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah.

DAFTAR PUSTAKA

1. National Institute of Dental and Craniofacial Research. TMJ disorders. June


2010.

2. Okeson JP.Management of temporomandibular disorders and occlusion.5 th


ed.2003.St.Louis:Mosby p.93-107

3. Mandible dislocation. Diunduh dari:


http://emedicine.medscape.com/article/823775