Anda di halaman 1dari 11

TAHUN 2009

POTENSI, PRINSIP-PRINSIP POPULASI DAN JENIS SERANGGA

Oleh:
Edi Suriaman dan Juwita

Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri


Malang

Kita menyadari sesungguhnya manusia memperoleh banyak manfaat dari


kehidupan serangga. Rasanya, tanpa layanan penyerbukan serangga seperti lebah,
kita akan sedikit sekali mempunyai sayuran, buah-buahan dan bahan lainnya.
Tanpa ada lebah madu (apis melifera), maka sampai saat ini kita mungkin tidak
pernahmerasakan bagaimana nikmatnya madu. Sejumlah serangga juga berperan
sebagai predator dan parasit beberapa jenis hama tanaman, dan ini sangat
bermanfaat dalam kegiatan pengendalian hama tanaman. Beberapa tahun terakhir,
mungkin kita juga mendengar tentang pemanfaatan serangga untuk
mengendalikan gulma yang merugikan (Jumar, 2000).
Sebaliknya banyak serangga yang menimbulkan kerugian bagi manusia.
Misalnya, serangga hama yang mnyebabkan kerusakan pada tanaman yang
dibudidayakan oleh menusia. Hal ini dapat dimengerti karena hampir 50% dari
serangga adalah pemakan tumbuh-tumbuhan (fitofagus), selebihnya adalah
pemakan serangga serangga lain (entomofagus), binatang lain atau sisa-sisa
tanaman dan binatang. Serangga tertarik pada tanamn, baik untuk makan atau
sebagai tempat berlindung. Bagian-bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh
serangga seperti daun, tangkai, ranting maupun batang; juga nekstar, bunga dan
cairan tanaman. Beberapa bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk membuat
kokon ataupun tempat untuk berlindung (Jumar, 2000).

Potensi serangga sebagai spesies indikator


Serangga menyusun sekitar 64 % (950.000 spesies) dari total spesies flora dan
fauna yang diperkirakan ada dibumi ini (Grombridge, 1992). Dengan jumlah
spesies dan individu yang begitu besar maka serangga memegang peranan yang
sangat penting dalam suatu ekosistem. Diantara peran tersebut adalah : herbivori,
predasi, parasitisme, dekomposisi, penyerbukan, dan sebagainya (Speight et.al.,
1999). Selain peranan tersebut serangga juga telah digunakan sebagai spesies
indikator. Penggunaan bioindikator akhir-akhir ini dirasakan semakin penting
dengan tujuan utama untuk menggambarkan adanya keterkaitan dengan kondisi
faktor biotik dan abiotik lingkungan. Pentingya penentuan dan pemanfaatan
serangga sebagai indikator serta pengujian hipotesis dalam menominasikan suatu
spesies atau kelompok serangga tertentu sebagai sutu bioindikator telah dibahas
oleh McGeoch (1998). Menurutnya, bioindikator atau indikator ekologis adalah
taksa atau kelompok organsime yang sensitif terhadap dan memperlihatkan gejala
terpengaruh terhadap tekanan lingkungan akibat aktifitas manusia atau akibat
kerusakan sistem biotik (oleh gangguan alam).
Penggunaan serangga sebagai bioindikator kondisi lingkungan atau
eksosisitem yang ditempatinya telah lama dilakukan. Jenis serangga ini mulai
banyak diteliti karena bermanfaat untuk mengetahui kondisi kesehatan suatu
ekosistem. Serangga akuatik selama ini paling banyak digunakan untuk
mengetahui kondisi pencemaran air pada suatu daerah, diantaranya adalah
beberapa spesies serangga dari ordo Ephemeroptera, Diptera, Trichoptera dan
Plecoptera yang kelimpahan atau kehadirannya mengindikasikan bahwa
lingkungan tersebut telah tercemar, karena serangga ini tidak dapat hidup pada
habitat yang sudah tercemar (Spellerberg, 1995).
Adapun untuk serangga daratan (‘terrestrial insect’) studi sejenis telah banyak
dilakukan pada berbagai kawasan hutan di berbagai negera termasuk di kawasan
hutan tropis. Mengingat banyaknya jenis serangga yang ada dibumi ini, maka
studi terhadap serangga bioindikator kondisi hutan lebih banyak difokuskan pada
kelompok serangga tertentu. Diantara taksa yang banyak digunakan sebagai
biodindikator tersebut adalah family Scarabidae (Halffer & favilla, 1993),
Cicindeliadae (Pearson, 1994) dan Carabidae (Castillo and Wagner, 2002) dari
ordo Coleoptera, beberapa spesies dari Ordo Hymenoptera dan Lepidoptera
(Peck & Campbell, 1998 dan Samways, 1995), serta serangga dari kelompok
rayap atau Isoptera (Jones and Eggleton, 2000). Alfaro dan Singh (1997)
melaporkan bahwa kelimpahan invertebrata (yang didominasi oleh serangga) pada
kanopi hutan umumnya lebih tinggi pada hutan-hutan yang belum rusak yang
menunjukkan bahwa mereka merupakan bioindikator yang ideal terhadap
kesehatan hutan.
Hilszczanski (1997) menggunakan keanekaragaman kumbang (Coleoptera)
dari kelompok trofik yang berbeda sebagai indikator atas efek jangka panjang
aplikasi insektisida pada ekosistem hutan. Culotta (1996, dalam Alfaro & Singh,
1997) melaporkan bahwa biodiversitas yang tinggi menyebabkan ekosistem lebih
resisten terhadap serangan penyakit dan penyebab kerusakan hutan lainnya yang
menurunkan produktitas primer ekosistem. Sebaliknya, kehilangan biodiversitas
menyebabkan tidak stabilnya ekosistem hutan.

Prinsip-prinsip Populasi Serangga


Populasi adalah sekelompok individu dari satu spesies yang sama berada pada
tempat dan waktu tertentu (Jarvis,2000). Odum (1998) mendefisikan populasi
sebagai kelompok kolektif organisme-organisme dari sepesies yang sama (atau
kelompok-kelompok lain dimana individu-individu dapat bertukar informasi
genetiknya) yang menduduki ruang atau tempat tertentu, memiliki atau sifatyang
merupakan milik kelompok dan bukan merupakan sifat milik indifidu didalam
kelompok itu.
Smith (2006) menyatakan bahwa definisi populasi mempunyai dua ciri yang
spesifik. Pertama,populasi merupakan kumpulan indifidu-indifidu yang sama.
Definisi tersebut menunjukkan kemampuan untuk melakukan perkawinan antara
anggota populasi, kedua, populasi adalah suatu konsep ruang, sehingga
memerlukan batas wilayah. Jarvis (2000) menambahkan bahwa perlu
dipertimabanggkan diipertimbangkan wilayah tersebut, mungkin luas atau sempit
dan jelas atau tidak jelas untuk didefinisikan. Batas populasi lebih mudah
didefinisikan dibandingkan kenyataannya di lapangan dan pada spesies yang
berpindah-oindah, sangat sulit untuk menentukan batas wilayah yang spesifik
(Suheryanto, 2008).
Sekumpulan dari populasi lokal yang berinteraksi dalam wilayah yang luas
akan membentuk metapopulasi (Smith dan Smith, 2006). Menurut Jarvis (2000),
metapopulasi adalah kelompok populasi dari suatu populasi, yang akan terbentuk
pada saat ada banyak atau sedikit. Populasi terpisah, tetapi masih mempunyai
tingkat penyebaran dan perkawinan yang sama. Populais mempunyai karakteristik
biologi dan karakteristik kelompok. Karakteristik biologi merupakan seifat yang
dimiliki oleh individu-individu menyusun populasi tersebut.
Karakteristik biologi yang terdapat di populasi adalah pertahann diri
(kemampuan keturunan yang ditinggalkan untuk bertahan dalam jangka waktu
lama), struktur organisasi (adanya pembagian kerja dan stratifikasi kasta) dan
sejarah hidup (tumbuh dan berkembang). Karakteristik kelompok timbul sebagai
akibat dari aktifitas kelompok, yang termasuk karakteristik kelompok adalah
densitas (kepadatan), natalitas (laju kelahiran), mortalitas (laju kematian) dan
dipersi.
Populasi memliki dua atribut, yaitu atribut biologik dan atribut kelompok.
Yang termasuk atribut biologik ialah sejarah hidup, bertumbuh, berdiferensiasi,
mempertahankan dirinya dan memiliki organisasi tertentu. Atribut-atribut ini juga
dimiliki oleh individu dari populasi itu. Atribut-atribut kelompok adalah
kepadatan, pertumbuhan dan daya dukung, natalitas (angka kelahiran),
mortalitas (angka kematian), sebaran umur, potensi biotik dan dispersi dan
bentuk pertumbuhan, atribut-atribut kelompok ini tidak dimiliki oleh individu-
individunya (Oka, 2005).
Yang lebih penting untuk diketahui dari kepadatn atribut kelompok ialah
apakah suatu populasi bertambah atau berkurang jumlahnya, jadi kepadatannya
berubah, dalam saat- saat tertentu. Perubahan kepadatan suatu populasi dapat
terjadi karena ada angka kelahiran (individu-individunya beranak), angka
kematian (sejumlah individu tua atau sakit, dimangsa musuhnya dan lain-lain),
atau terjadi suatu imigrasi (sejumlah populasi dari lain tempat bergabung dengan
populasi tersebut), atau dan sejumlah individu yang berimigrasi ke lain tempat.
Densitas
Densitas atau kepadatan adalah besarnya populasi dalam suatu unit area
(permeter persegi, per hektar) atau habitat (per induvidu, per rumpun) atau volume
(per liter, per meter kubik) atau berat media tempat hidup (per gram tanah, per
kilo gram beras). Kepadatan populasi tidak harus dinyatakan dalam jumlah
induvidu. Apabila ukuran induvidu dari spesies yang diselidiki bervariasi, tingkat
kepadatan populasi itu dapat dinyatakan sebagai kepadatan biomassa. Kepadatan
dibedakan atas kepadatan absolut dan kepadatan relatif.
a. Kepadatan abolut (absolute density)
Kepadatan absolut adalah jumlah seluruh induvidu dalam suatu unit area atau
permukaan. Dari kepadatan ini dapat diketahui jumlah anggota populasi
sebenarnya. Contoh: 25 ekor semut/m2, 10 ekor belalang/tanaman apel.
b. Kepadatan relatif (relative denssity)
Kepadatan relatif adalah jumlah induvidu yang berhubungan dengan jumlah
lain pada ruang dan waktu. Kepadatan ini sangat berkaitan dengan metode yang
digunakan pada pengambilan sampel, sehingga hanya dapat digunakan untuk
perbandingan. Contoh: 100 ekor wereng coklat/10 ayunan jaring serangga.
Odum (1998) membagi kepadatan menjadi kepadatan kotor (crude density),
yaitu jumlah (biomassa) per satuan areal seluruhnya dan kepadatan ekologi
(ecological density) atau kepadatan ekonomi (economic density) atau kepadatan
jenis (specific density), yaitu jumlah (biomasa) per satuan ruangan habitat (ruang
atau tempat atau volume yang tersedia yang benar-benar dapat diduduki oleh
populasi).
Ada beberapa kemungkinan yang dapat berpotensi menyebabkan kesalahan
dalam menafsirkan kepadatan populasi, yaitu:
1. Pada saat kepadatan jumlah, anggota populasi mengalami peningkatan.
2. Pengamatan berada diluar wilayah populasi.
3. Perubahan perilaku serangga (terutama pergerakan) yang dapat
mengakibatkan perubahan pola penyebaran.
Kepadatan populasi dapat berubah-ubah seiring dengan perubahan waktu, hal
ini disebabkan oleh adanya natlaitas, mortalitas dan migrasi (imigrasi atau
emigrasi).

Identifikasi Serangga
1. Rayap (isoptera)
Rayap merupakan serangga kecil berwarna putih pemakan selulosa yang
sangat berbahaya bagi bangunan yang di bangun dengan bahan-bahan yang
mengandung selulosa seperti kayu dan produk turunan kayu (papan partikel, papan
serat, plywood, blockboard, dan laminated board) (Iswanto, 2005).
Rayap termasuk ke dalam ordo isoptera, mempunyai 7 (tujuh) famili
termitidae yang merupakan kelompok rayap tinggi. Rayap merupakan serangga
pemakan kayu (Xylophagus) atau bahan-bahan yang mengandung selulosa
(Nandika, 2003). Rayap juga hidup berkoloni dan mempunyai sistem kasta dalam
kehidupannya. Kasta dalam rayap terdiri dari 3 (tiga) kasta yaitu :
1. Kasta prajurit, kasta ini mempunyai ciri-ciri kepala yang besar dan penebalan
yang nyata dengan peranan dalam koloni sebagai pelindung koloni terhadap
gangguan dari luar. Kasta ini mempunyai mandible yang sangat besar yang
digunakan sebagai senjata dalam mempertahankan koloni.
2. Kasta pekerja, kasta ini mempunyai warna tubuh yang pucat dengan sedikit
kutikula dan menyerupai nimfa. Kasta pekerja tidak kurang dari 80-90 %
populasi dalam koloni. Peranan kasta ini adalah bekerja sebagai pencari
makan, memberikan makan ratu rayap, membuat sarang dan memindahkan
makanan saat sarang terancam serat melindungi dan memelihara ratu.
3. Kasta reproduktif, merupakan individu-individu seksual yang terdiri dari
betina yang bertugas bertelur dan jantan yang bertugas membuahi betina.
Ukuran tubuh ratu mencapai 5-9 cm atau lebih.
Selain mempunyai kasta dalam koloninya rayap juga mempunyai sifat-sifat
yang sangat berbeda dibanding dengan serangga lainnya. Menurut Nandika (2003)
dan Tambunan et al (1989) sifat rayap terdiri dari :
1. Cryptobiotik, sifat rayap yang tidak tahan terhadap cahaya.
2. Thropalaxis, perilaku rayap yang saling menjilati dan tukar menukar makanan
antar sesama individu.
3. Kanibalistik, perilaku rayap untuk memakan individu lain yang sakit atau
lemas.
4. Neurophagy, perilaku rayap yang memakan bangkai individu lainnya.

2. Collembola
Collembola berasal dari bahasa Yunani baji atau pasak. Serangga ini tidak
bersayap dan ukurannya kurang 6 mm. Tubuh memanjang atau oval dan
umumnya berwarna hitam. Antena terdiri atas 4 ruas. Pada ruas abdomen ke
empat atau ke lima biasanya terdapat struktur menggarpu (furcula) yang berfungsi
sebagai alat peloncat. Pada ruas abdomen pertama terdapat struktur seperti tabung
(collophore) yang berfungsi untuk melekat dan pada ruas ke tiga terdapat struktur
pemegang fucula yang disebut tenaculum. Collembola sering dijumpai di dalam
tanah, di bawah serasah, di bawah kulit kayu yang rapuh, dalam bahan organik
yang membusuk dan pada permukaan air. Kebanyakan Collembola sebagai
pemakan bahan organik (saprofag) dan pemakan cendawan (misetofag) dan jarang
sebagai hama (Jumar, 2000).
Ordo Collembola dibagi menjadi 2 sub ordo, yaitu subordo arthroplona dan
subordo symphypleona (Jumar, 2000).

3. Belalang, Jengkrik Belalang coklat kecil (orthoptera)


Ciri Serangga yang termasuk ke dalam ordo orthoptera adalah memiliki sayap
dua pasang, sayap depan panjang dan menyempit, biasanya mengeras seperti
kertas dan dinamakan tegmina. Sayap belakang lebar dan membraneus. Waktu
istirahat sayap dilipat diatas tubuh. Antena pendek sampai panjang dan beruas
banyak. Sersi pendek dan seperti penjepit. Serangga bentina memiliki ovipositor
atau alat peteluran. Tarsus biasanya beruas 3 sampai 5. alat mulut menggigit
mengunyah. Metamorfosis paurometabola. Sebagian besar serangga dari ordo ini
merupakan pemakan tanaman (phytophagus) (Jumar, 2000).
2. Semut (hymenoptera)
Serangga yang termasuk pada ordo hymenoptera memiliki sayap yang
berselaput. Ukuran tubuh serangga ini sangat kecil sampai besar. Sayap 2 pasang,
seperti selaput dan umumnya banyak vena, sayap depan lebih besar dari pada
belakang. Pada hymenoptera yang berukuran kecil sayapnya hampir tidak
memilki vena (Jumar, 2000).
Antena dapat mencapai 10 ruas atau lebih, alat mulut menggigit dan
menghisap. Pada beberapa spesies ruas abdomenya sempit dan memanjang.
Hymenoptera betina umumnya mempunyai ovipositor yang berkembang baik dan
pada beberapa jenis mengalami modifikasi menjadi alat penyengat. Metamorfisis
sempurna (holometabola). Beberapa spesies sebagai predator, parasid serangga,
membentu penyerbukan bunga, dan pennghasil madu lilin atau lebah (Jumar,
2000).

4. Lalat dan Nyamuk (diptera)


Nyamuka dan lalat termasuk ordo diptera, memiliki du sayap. Serangga ini
memiliki ukuran tubuh dari kecil sampai sedang. Sayap 1 pasang dan
membraneus. Sayap belakang tereduksi menjadi halter yang berfungsi untuk
menjaga keseimbangan pada saat terbang. Tubuh relatif lunak, antena pendek,
mata ajemuk besar dan metamorfosis sempurna (holometabola).
Serangga dewasa hidup di berbagai habitat, biasanya ditemukan dekat larva,
dan sering dijumpai pada bunga-bungan. Larva diptera juga ada yang hidup di air.
Umumnya larva diptera ini tanpa kaki, kepala kecil, tubuh halus dan dinamakan
belatung dan jika hidup didalam jaringan tanaman maka akan membuat liang-
liang gerekan. Serangga ini membentuk pupa didalam tanah, jaringan tanaman,
didalam air atau didekat air, seta didalam tubuh inang. Beberapa spesies dari ordo
diptera dari tanaman, sebagai penghisap darah manusia atau binatang, fektor
penyakit bagi manusia, penyerbuk bunga, predator atau parasit dari hama tanaman
(Jumar, 2000).
5. Capung (Odonata)
Odoata bearti bergigi (bahasa yunani). Serangga ini memiliki tubuh panjang
dan ramping, sayap memanjang dan bervena banyak serta membraneus. Sayap
depan dan belakang hampir sampai dalam bentuk dan ukuranya. Antena pendek
seperti bulu yang keras (setaceus). Saat istirahat sayap di katupkan diatas tubuh
atau dibentangkan bersama-sama di atas tubuh. Tubuh dinamakan naiat dan hidup
di air (akuatik). Sedanga dewasa hidup disekitar nimfa atau di udara bebas sekitar
pertanaman. Serangga ini sering melakukan perkawinan pada saat terbang. Nimfa
maupun serangga dewasa bertindak sebagai predator. Metamorfosis bersifat
hemimetaboala. Capung termasuk pada subordo anisoptera (Jumar, 2000).
DAFTAR PUSTAKA

Alfaro, R.I., & Singh, P. 1997. Forest Health Management : A Changing


Persfective. Procedings of XI Word forestry congress.

Castillo, J.V., & Wagner, M.F., 2002. Ground Beetle (Coleoptera:Carabidae)


Species Assemblage as an Indicator of Forest Condition in Northern
Arizona Panderosa Pine Forests. Eniromental Entomologi.

Davis, A.J., 2000. Does Reduced-Impact Logging Help Preserve Biodiversity in


Tropocal Rainforests ? A Case Study from Borneo Using Dung Beetles
(Coleoptera: Scarabaeoidae) as Indicators. Environmental Entomology

Davis, A.J. & S.L. Sutton. 1989. The effects of rainforest canopy loss on
arborealdung beetles in Borneo: implications for the measurement of
biodiversity in derived tropical ecosystems. Divers. Distrib.

Davis, A.J., Holloway, J.D., Huijbregts, H., Krikken, J., Kirk-Spriggs, A.H. & S.

Halffter, G. & M.E. Favila. 1993. The Scarabaeinae (Coleoptera): an animal group
for analysing, inventorying and monitoring biodiversity in tropical
rainforest and modified landscapes. Biol. Internat.

Hilszczanski, Jacek. 1997. Long-term effect of insecticides used in nun moth


(Lymantrya monacha L.) control treatments on beetles from different
trophic 9 groups. Proceedings, XI World Forestry Congress. Antalya,
Turkey. FAO Report. Also availiable at
www.fao.org/montes/foda/wforcong/PUBLI/VI/T5F/1-2.HTM

Iswanto, Apri Heri. 2005. Rayap Sebagai Serangga Perusak Kayu Dan Metode
Penanggulangannya. e-USU Repository ©2005 Univeristas Sumatera
Utara

Jumar, Ir. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.

McGeoch, M. (1998). The selection, testing and application of terrestrial insects


as bioindicators. Biological Reviews.

McGeoch, M., Van Rensburg, B.J. & A. Botes. 2002. The verification and
application of bioindicators: a case study of dung beetles in a savanna
ecosystem. J. Appl. Ecol.

Nandika, D. Yudi R. dan Farah Diba. 2003. Rayap : Biologi dan Pengendaliannya.
Harun JP, ed. Surakarta : Muhammadiyyah Univ. Press.
Oka, Ida Nyoman. 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya Di
Indonesia. Yogyakarta: UGM Press

Peck SL, McQuaid B & Campbell CL. 1998. Using ant species (Hymenoptera:
Formicidae) as a biological indicator of agroecosystem condition. J.
Entomol. Soci. America.

Pearson, D.L. 1994. Selecting indicator taxa for the quantitative assessment of
biodiversity. Philosophical Transaction of the Royal Society of London,
Series B : Biological Sciences.

Samways MJ. 1995. Insect Conservation Biology. Chapman & Hall, London.

Shahabuddin, Schulze C.H., Tscharntke, T., submitted. Changes of dung beetles


communities from rainforests towards agroforestry systems and annual
cultures.

Speight, M.R., Hunter, M.D., Watt, A.D., 1999. Ecology of Insects, Consepts and
Applications.Blackwell Science,Ltd.

Spellerberg, I.F. 1995. Monitoring ecological change. Cambridge University


Press. Cambridge.

Suin, Muhammad, Nurdin. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta: Bumi Aksara.

Suheriyanto, Dwi. 2008. Ekologi Serangga. Malang: UIN Press.

Tambunan, B dan Nandika, D. 1989. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis.


Bogor : Pusat Antar Universitas.