Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KEKUASAAN DAN SUMBERNYA

2.1.1 Pengertian Kekuasaan


Menurut Max Weber, kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau
sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-
kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-
tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.

2.1.2 Sumber-sumber Kekuasaan


Kekuasaan dapat bersumber pada bermacam-macam factor. Apabila sumber-
sumber kekuasaan tersebut dikaitkan dengan kegunaannya, maka dapat
diperoleh gambarannya sebagai berikut :
Sumber Kegunaan
a. Militer/Polisi/Kriminal a. Pengendalian Kekerasan
b. Mengendalikan tanah, buruh, kekayaan
b. Ekonomi
material, produksi
c. Politik c. Pengambilan Keputusan
d. Mempertahankan, mengubah,
d. Hukum
melancarkan interaksi
e. Tradisi e. Sistem kepercayaan nilai-nilai
f. Ideologi f. Pandangan hidup, integrasi
g. Diversionary power g. Kepentingan rekreatif

2.2 UNSUR-UNSUR DAN SALURAN KEKUASAAN

2.2.1 Unsur-unsur Kekuasaan


Kekuasaan yang dapat dijumpai pada interaksi social antara manusia maupun
antar kelompok mempunyai beberapa unsur pokok, yaitu :

• Rasa Takut

1
Perasaan takut pada seseorang (yang merupakan penguasa, misalnya)
menimbulkan suatu kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan
orang yang ditakuti tadi. Rasa takut merupakan perasaan negative, karena
seseorang tunduk kepada orang lain dalam keadaan terpaksa. Orang yang
mempunyai rasa takut akan berbuat segala sesuatu yang sesuai dengan
keinginan orang yang ditakutinya, agar terhindar dari kesukaran-kesukaran
yang akan menimpa dirinya, seandainya ita tidak patuh. Rasa takut juga
menyebabkan orang yang bersangkutan meniru tindakan-tindakan orang
yang ditakutinya. Gejala ini yang dinamakan matched dependent
behaviour, dimana gejala tersebut tidak mempunyai tujuan konkrit bagi
yang melakukannya. Rasa takut merupakan gejala universal yang terdapat
dimana-mana dan biasanya dipergunakan sebaik-baiknya dalam
masyarakat yang mempunyai pemerintahan otoriter.

• Rasa Cinta
Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang pada umumnya positif.
Orang-orang lain bertindak sesuai dengan kehendak pihak yang berkuasa,
untuk menyenangkan semua pihak. Artinya ada titik pertemuan antara
pihak-pihak yang bersangkutan. Rasa cinta biasanya telah mendarah
daging (internalized) dalam diri seseorang atau sekelompok orang. Rasa
cinta yang efisien seharusnya dimulai dari pihak penguasa. Apabila ada
suatu reaksi positif dari masyarakat yang dikuasai, maka system kekuasaan
akan dapat berjalan dengan baik dan teratur.

• Kepercayaan
Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua
orang atau lebih yang bersifat asosiatif. Misalnya, si B sebagai orang yang
dikuasai mengadakan hubungan langsung dengan si A sebagai pemegang
kekuasaan. B percaya sepenuhnya terhadap A, kalau A akan selalu
bertindak dan berlaku baik. Dengan demikian, maka setiap keinginan A
akan selalu dilaksanakan oleh B. kemungkinan sekali bahwa B sama sekali
tidak mengetahui kegunaan tindakan-tindakannya itu. Akan tetapi, karena
dia telah menaruh kepercayaan kepada A, maka dia akan berbuat hal-hal

2
yang sesuai dengan kemauan A yang merupakan penguasa, agar tambah
mempercayai. Pada contoh tersebut, hubungan yang terjadi bersifat
pribadi, akan tetapi, mungkin saja bahwa hubungan demikian akan
berkembang di dalam suatu organisasi atau masyarakat secara luas. Soal
kepercayaan memang sangat penting demi berjalannya suatu kekuasaan.

• Pemujaan
System kepercayaan mungkin masih dapat disangkal oleh orang lain. Akan
tetapi di dalam system pemujaan, seseorang atau sekelompok orang-orang
yang memegang kekuasaan, mempunyai dasar pemujaan dari orang lain.
Akibatnya adalah segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidak-
tidaknya dianggap benar.

Keempat unsur tersebut merupakan sarana yang biasanya digunakan oleh


penguasa untuk dapat menjalankan kekuasaan yang ada di tangannya. Apabila
seseorang hendak menjalankan kekuasaan, biasanya dilakukan secara
langsung tanpa perantaraan. Keadaan semacam itu pada umumnya dapat
dijumpai pada masyarakat-masyarakat kecil yang bersahaja, dimana para
warganya saling mengenal dan belum dikenalnya diferensiasi. Namun di
dalam masyarakat yang sudah rumit, hubungan antara penguasa dengan yang
dikuasai, mungkin terpaksa dilaksanakan secara tidak langsung. Misalnya di
Indonesia, tak akan mungkin Presiden setiap kali berhubungan langsung
dengan rakyatnya yang berjuta-juta dan tersebar tempat kediamannya.

2.2.2 Saluran Kekuasaan


Apabila dilihat dalam masyarakat, maka kekuasaan di dalam pelaksanaannya
dijalankan melalui saluran-saluran tertentu. Saluran-saluran tersebut banyak
sekali, akan tetapi kita hanya akan membatasi diri pada saluran-saluran
sebagai berikut :

• Saluran Militer

3
Apabila saluran ini yang dipergunakan, maka penguasa akan lebih banyak
mempergunakan paksaan (coercion) serta kekuatan militer (military force)
di dalam melaksanakan kekuasaannya. Tujuan utama adalah untuk
menimbulkan rasa takut dalam diri masyarakat, sehingga mereka tunduk
kepada kemauan penguasa atau sekelompok orang-orang yang dianggap
sebagai penguasa. Untuk keperluan tersebut, seringkali dibentuk organisai-
organisasi atau pasukan-pasukan khusus yang bertindak sebagai dinas
rahasia. Hal ini banyak dijumpai pada negara-negara totaliter.

• Saluran Ekonomi
Dengan menggunakan saluran-saluran di bidang ekonomi, penguasa
berusaha untuk menguasai kehidupan masyarakat. Dengan jalan
menguasai ekonomi serta kehidupan rakyat tersebut, penguasa dapat
melaksanakan peraturan-peraturannya serta akan menyalurkan perintah-
perintahnya dengan dikenakan saksi-saksi yang tertentu.

• Saluran Politik
Melalui saluran politik, penguasa dan pemerintah berusaha untuk membuat
peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat. Caranya adalah
antara lain, dengan meyakinkan atau memaksa masyarakat untuk menaati
peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh badan-badan yang berwenang
dan yang sah.

• Saluran Tradisional
Saluran tradisional biasanya merupakan saluran yang paling dikuasai.
Dengan cara menyesuaikan tradisi pemegang kekuasaan dengan tradisi
yang dikenal di dalam sesuatu masyarakat, maka pelaksanaan kekuasaan
dapat berjalan dengan lebih lancar.
Caranya adalah dengan jalan menguji tradisi pemegang kekuasaan dengan
tradisi yang dikenal di dalam masyarakatnya, yang sudah meresap di
dalam jiwa masyarakat yang bersangkutan. Dengan cara demikian,
diharapkan akan dapat diketemukan suatu titik temu antara tradisi-tradisi

4
tersebut. Sehingga pemerintahan akan dapat berjalan dengan lancer, yang
berarti mencegah atau mengatasi reaksi negatif.

• Saluran Ideologi
Penguasa-penguasa dalam masyarakat, biasanya mengemukakan
serangkaian ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin, yang bertujuan untuk
menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan
kekuasaannya. Hal itu dilakukan supaya kekuasaan dapat menjelma
menjadi wewenang. Setiap penguasa akan berusaha untuk dapat
menerangkan ideologinya tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga
institutionalized dan bahkan internalized dalam diri warga masyarakat.

• Saluran-saluran lainnya
Saluran-saluran lain disamping yang telah disebutkan diatas, ada pula yang
dapat dipergunakan penguasa, misalnya alat-alat komunikasi massa surat
kabar, radio, televise dan lain-lainnya. Kecuali itu dapat pula dipergunakan
saluran rekreasi yang biasa digunakan masyarakat mengisi waktu
senggangnya, seperti sandiwara rakyat. Kemajuan yang sangat pesat di
bidang teknologi alat-alat komunikasi massa, menyebabkan bahwa saluran
tersebut pada akhir-akhir ini mendapatkan tempat yang penting sebagai
saluran pelaksanaan kekuasaan yang dipegang oleh seorang penguasa.
Biasanya penguasa tidak hanya menggunakan salah satu saluran. Akan
tetapi tergantung pada struktur masyarakat yang bersangkutan. Misalnya,
pada masyarakat tradisonal saluran tradisi akan lebih berhasil dalam
meyakinkan masyarakat daripada misalnya saluran militer.

2.3 PENGERTIAN KEPEMIMPINAN


Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk
mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya). Sehingga
orang lain tersebut betingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut.
Kadangkala dibedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan
sebagai suatu proses social. Sebagai kedudukan, kepemimpinan merupakan suatu
kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang

5
atau suatu badan. Sebagai suatu proses social, kepemimpinan meliputi segala tindakan
yang dilakukan seseorang atau sesuatu badan yang menyebabkan gerak dari warga
masyarakat.

2.4 KRITERIA DAN SIFAT PEMIMPIN


2.4.1 Sifat Pemimpin Menurut Asta Brata (dalam seloka Ramayana)
Menurut Asta Brata, pada diri seseorang raja/pemimpin terkumpul sifat-sifat
dari delapan Dewa yang masing-masing mempunyai kepribadian sendiri.
Kedelapan sifat dan kepribadian itulah yang harus dijalankan oleh seseorang
raja/pemimpin yang baik. Asta Brata dalam kakawin Ramayana, terdiri dari
sepuluh seloka, dimana seloka pertama dan kedua, pada pokoknya berisikan
hal-hal sebagai berikut :
a. Bahwa Asta Brata merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan.
b. Asta Brata memberikan kepastian bahwa seorang pemimpin yang
menjalankannya akan mempunyai kekuasaan dan kewibawaan sehingga
akan dapat menggerakkan bawahannya. Keadaan demikian dapat
menghindari terjadinya krisis kepemimpinan. Krisis kepemimpinan akan
terjadi oleh karena pemimpin tidak berani mengambil keputusan, bertindak
dan tidak jujur.
Menurut Asta Brata tersebut, kepemimpinan yang akan berhasil, harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Indra-brata, yang memberi kesenangan dalam jasmani.
b. Yama-brata, yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hokum.
c. Surya-brata, yang menggerakkan bawahan dengan mengajak
mereka untuk bekerja persuasion.
d. Caci-brata, yang memberi kesenangan rohaniah.
e. Bayu-brata, yang menunjukkan keteguhan pendidikan dan rasa
tidak segan untuk turut merasakan kesukaran pengikut-pengikutnya.
f. Dhana-brata, menunjukkan pada suatu sikap yang patut dihormati.
g. Paca-brata, menunjukkan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan,
kepandaian dan keterampilan.
h. Agni-brata, sifat memberikan semangat kepada anak buah.

6
Demikianlah beberapa sifat atau syarat yang harus dimiliki oleh seseorang pemimpin
yang baik menurut mitologi Indonesia. Sifat-sifat tersebut dengan perubahan disana-
sini dapat diterapkan pula dalam kepemimpinan yang modern.

2.4.2 Sifat Pemimpin Menurut Ki Hajar Dewantoro


Menurut Ki Hajar Dewantara, tugas dan sifat seorang pemimpin adalah
sebagai berikut :
Ing ngarsa sung tulada
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani
Apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah sebagai
berikut :
Di muka memberi tauladan
Di tengah-tengah membangun semangat
Dari belakang memberikan pengaruh
Maksudnya adalah seorang pemimpin dimukan, harus memiliki idealisme
kuat, serta kedudukan tersebut. Akan tetapi, menurut watak dan
kecakapannya, seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin di muka,
di tengah dan di belakang (front leader, social leader, dan rear leader).
Seorang pemimpin di muka, harus memiliki idealisme kuat, serta dia harus
dapat menjelaskan cita-citanya kepada masyarakat dengan cara-cara sejelas
mungkin. Karena dia harus mampu menentukan suatu tujuan bagi masyarakat
yang dipimpinnya, serta merintis kearah tujuan tersebut dengan
menghilangkan segala hambatan, antara lain dengan menghapuskan lembaga-
lembaga kemasyarakatan yang telah usang. Bahayanya bagi pemimpin di
muka adalah kemungkinan berjalannya terlalu cepat, sehingga masyarakat
yang dipimpinnya tertinggal jauh.
Seorang pemimpin di tengah-tengah, mengikuti kehendak yang dibentuk
masyarakat. Ia selalu dapat mengamati jalannya masyarakat, serta dapat
merasakan suka dukanya. Dari dia diharapkan dapat merumuskan perasaan-
perasaan serta keinginan-keinginan masyarakat dan juga menimbulkan
keinginan masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang kurang
menguntungkan.

7
Seorang pemimpin di belakang, diharapkan mempunyai kemampuan untuk
mengikuti perkembangan masyarakat. Dia berkewajiban untuk menjaga agar
perkembangan masyarakat tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-
nilai yang pada suatu masa dihargai oleh masyarakat. Sendi-sendi
kepemimpinan adalah keutuhan dan harmoni. Pemimpin yang demikian
berkecenderungan untuk menjadi formalistis, bahkan tradisionalistis.
Kepemimpinan dibelakang masih jelas tergambar dari istilah-istilah seperti
“Pamong Praja”, “Pamong Desa” dan seterusnya, yang menggambarkan
bahwa fungsi pemimpin adalah untuk membimbing masyarakat.
Sifat kepemimpinan dibelakang tersebut dengan jelas tersirat dalam pepatah
adat asal Minangkabau yang diterjemahkan sebagai berikut :
Sebatang kayu yang besar di tengah lapang,
Tempat berlindung di waktu hujan,
Tempat bernaung di waktu panas,
Urat-uratnya tempat bersandar.
Memang kepemimpinan tradisional Indonesia, pada umumnya bersifat sebagai
kepemimpinan dibelakang, yang hingga dewasa ini masih tetap dipertahankan
terutama pada masyarakat-masyarakat tradisional yaitu masyrakat-masyarakat
hukum adat.

2.5 TUGAS DAN METODE PEMIMPIN


2.5.1 Tugas Seorang Pemimpin
Secara sosiologis, tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah :
a. Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan
pegangan bagi pengikut-pengikutnya. Dengan adanya kerangka pokok
tersebut, maka dapat disusun suatu skala prioritas mengenai keputusan-
keputusan yang perlu diambil untuk menaggulangi masalah-masalah yang
dihadapi (yang sifatnya potensial atau nyata). Apabila timbul pertentangan,
maka kerangka pokok tersebut dapat digunakan sebagai pedoman untuk
menyelesaikan sengketa yang terjadi.
b. Mengawasi, mengendalikan serta menyalurkan perilaku warga masyarakat
yang dipimpinnya.
c. Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia diluar kelompok yang
dipimpin.

8
2.5.2 Metode yang Diterapkan Seorang Pemimpin
Suatu kepemimpinan (leadership) dapat dilaksanakan atau diterapkan dengan
berbagai cara (metode). Cara-cara tersebut lazimnya dikelompokkan ke dalam
kategori-kategori, sebagai berikut :
a. Cara-cara otoriter, yang ciri-ciri pokoknya adalah sebagai berikut :
• Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara sepihak.
• Pengikut sama sekali tidak diajak untuk ikut serta merumuskan tujuan
kelompok dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
• Pemimpin terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut dalam
proses interaksi di dalam kelompok tersebut.
b. Cara-cara demokratis dengan ciri-ciri umum sebagai berikut :
• Secara musyawarah dan mufakat pemimpin mengajak warga atau
anggota kelompoknya untuk ikut serta merumuskan tujuan-tujuan yang
harus dicapai kelompok, serta cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.
• Pemimpin secara aktif memberikan saran dan petunjuk-petunjuk.
• Ada kritik positif, baik dari pemimpin maupun pengikut-pengikut.
• Pemimpin secara aktif ikut berpartisipasi di dalam kegiatan-kegiatan
kelompok.
c. Cara-cara bebas (Laizez Faire) dengan ciri-ciri pokok, sebagai berikut :
• Pemimpin menjalankan peranannya secara pasif.
• Penentuan tujuan yang akan dicapai kelompok sepenuhnya diserahkan
kepada kelompok.
• Pemimpin hanya menyediakan sarana yang diperlukan kelompok.
• Pemimpin berada di tengah-tengah kelompok, namun dia hanya
berperan sebagai penonton.
Sebenarnya ketiga kategori cara tersebut di atas dapat berlangsung bersamaan,
karena metode mana yang terbaik senantiasa tergantung pada situasi yang
dihadapinya. Cara-cara demokratis, mungkin hanya dapat diterapkan di dalam
masyarakat yang warganya mempunyai taraf pendidikan cukup. Cara-cara
otoriter mungkin lebih tepat untuk diterapkan di dalam masyarakat yang
sangat heterogen. Cara-cara bebas (Laizez Faire), mungkin lebih cocok bagi
masyarakat yang relative homogen.