Anda di halaman 1dari 7

Laporan Percobaan

LARUTAN ELEKTROLIT DAN


NON ELEKTROLIT

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-dasar IPA SD yang Dibina


oleh Ibu Sri Estu Winahyu

Oleh:

Ludia Minda Parnita


C9/PGSD S1
(109151425161)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRA SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FEBRUARI 2010
LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Tujuan:
Menyelediki daya hantar listrik pada beberapa larutan untuk membedakan
larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah, dan non elektrolit.

Dasar Teori:

Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat
yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut,
sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan
disebut pelarut atau solven.
Larutan elektrolit adalah larutan yang bisa menghantarkan listrik. Hal ini
dikarenakan solut banyak yang menghasilkan ion-ion. Svante August Arrhenius
(1859-1927) menemukan bahwa zat-zat elektrolit dalam air
terionisasi(terurai) menjadi partikel-partikel berupa atom yang
bermuatan listrik. Atom yang bermuatan listrik disebut ion-ion. Ion
yang bermuatan positif disebut kation, sedangkan ion yang
bermuatan negatif disebut anion. Ion-ion inilah yang akan
menghantarkan listrik. Sehingga daya hantar listrik pada larutan ditentukan
banyaknya ion-ion yang dihasilkan.
Larutan elektrolit dibagi menjadi dua, yaitu larutan elektrolit kuat dan larutan
elektrolit lemah. Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang bisa menghantarkan
listrik dengan kuat. Dalam proses ionisasi, larutan elektrolit kuat menghasilkan
banyak ion. Sedangkan larutan yang daya hantar listriknya lemah dan menghasilkan
sedikit ion adalah larutan elektrolit lemah.
Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak bisa menghantarkan listrik.
Hal ini dikarenakan larutan tidak dapat menghasilkan ion-ion.

Hipotesa:
Semakin banyak ion yang dihasilkan, semakin kuat daya hantar listrik larutan.
Terjadinya daya hantar listrik pada larutan ditandai dengan banyaknya gelembung
yang dihasilkan. Semakin banyak gelembung yang dihasilkan, semakin banyak ion
yang dihasilkan pula.

Alat:
1. 4 gelas 5. karet
2. sendok 6. kawat gelang
3. spidol 7. 2 baterai besar.
4. kabel

Bahan:
1. Air,
2. gula,
3. garam, dan
4. cuka.

Variabel kontrol:
Air dan jumlah air

Variabel bebas:
Penambahan gula, garam dan cuka pada air.

Variael respon:
Gelembung yang dihasilkan.

Langkah-langkah:
1. Mengisi semua gelas dengan air.
2. Menulis ’air’ pada gelas I.
3. Mencampur air dalam gelas II dengan gula.
4. Menulis ’larutan gula’ pada gelas II.
5. Mencampur air dalam gelas III dengan garam
6. Menulis ’larutan garam’ pada gelas III.
7. Mencampur air dalam gelas IV dengan cuka.
8. Menulis ’larutan cuka’ pada gelas IV.
9. Merangkai kabel baterai dan lampu seperti pada gambar.

10. Meletakkan ujung-ujung kabel pada larutan. Dilakukan pada setiap


gelas.
11. Mengamati jumlah gelembung yang dihasilkan pada tiap larutan, jika
arus listrik disambung.

Hasil Pengamatan:
Tabel Hasil Pengamatan Jumlah Gelembung
Gelas Larutan Banyak Sedikit Tidak ada
I Air - - 
II Gula - - 
III Garam  - -
IV Cuka -  -
Dari tabel hasil pengamatan dapat dilihat bahwa gelas I dan II yang berisi air
dan larutan gula tidak menghasilkan gelembung. Sedangkan gelas III yang berisi
larutan garam menghasilkan banyak gelembung, dan pada gelas IV yang berisi larutan
cuka hanya menghasilkan sedikit gelembung.

Analisis data:
Pada gelas III, larutan menghasilkan banyak gelembung. Gelembung yang
dihasilkan menunjukkan jumlah atom yang terionisasi. Dalam proses ionisasi, garam
menghasilkan banyak ion yang dibuktikan dengan banyaknya gelembung yang
dihasilkan. Oleh karena itu, larutan garam merupakan larutan elektrolit kuat. Dalam
persamaan reaksi kimia garam(NaCl) yang merupakan elektrolit kuat ditandai dengan
tanda panah satu arah ke kanan.
NaCl(s)  Na+(aq) + Cl-(aq)
Dengan ini menunjukkan bahwa garam terionisasi dalam air. Dengan
terionisasinya garam, akan menghasilkan ion-ion muatan yang berbeda dan bergerak
bebas dalam air. Bila arus listrik dihubungkan, maka anion akan bergerak ke elektroda
positif dan kation akan bergerak ke elektroda negatif sehingga arus listrik akan
bergerak pada sistem tersebut. Pergerakan anion dan kation pada larutan NaCl
menghasilkan daya hantar listrik yang kuat dan termasuk dalam larutan elektrolit kuat.

Jika semua ion larutan berubah menjadi partikel netral, artinya tidak ada lagi kation
dan anion yang memberikan dan menerima elektron sehingga tidak dapat lagi
mengalirkan arus listrik.
Larutan elektrolit kuat umumnya berupa larutan garam yang mudah larut
seperti dalam percobaan ini adalah NaCl dan juga garam-garam lain, seperti KCl, KI,
Al2(SO4)3, dan lain-lain. Selain itu, elektrolit kuat juga bisa berupa larutan asam kuat,
contohnya HCl, HClO3, HClO4, dan H2SO4. Larutan basa kuat merupakan elektrolit
kuat, seperti NaOH, KOH, Ca(OH)2, Mg(OH)2, Ba(OH)2, dan lain-lain.
Pada gelas IV, larutan cuka yang dialiri listrik hanya menghasilkan sedikit
gelembung. Larutan cuka(CH3COOH) yang merupakan asam lemah hanya terionisasi
sebagian, tidak semuanya menjadi ion. Sehingga daya hantar listrik pada larutan cuka,
lemah. Karena larutan cuka menghasilkan sedikit gelembung, maka larutan cuka
merupakan larutan elektrolit lemah. Pada persamaan reaksi larutan cuka (CH3COOH)
yang merupakan larutan elektrolit lemah ditandai dengan panah dua arah.
CH3COOH(aq) ↔ CH3COO-(aq) + H+(aq)
Karena hanya sebagian yang terionisasi maka pergerakan kation dan anion
hanya sebentar dan listrik yang dialirkan melalui larutan lemah.
Yang tergolong larutan elektrolit lemah selain larutan cuka adalah:
1. Asam lemah, antara lain HCN, H2CO3, HF, dan lain-lain.
2. Basa lemah, antara lain NH4OH, Ni(OH)2, dan lain-lain.
3. Garam-garam yang sukar larut, seperti AgCl.
Pada gelas I dan II tidak menghasilkan gelembung. Hal ini menunjukkan
bahwa air(H2O) dan larutan gula(C12H22O11) merupakan larutan non elektrolit. Gula
yang dilarutkan dalam air tidak terurai menjadi ion-ion, namun masih berupa
molekul-molekul dalam air yang tidak menghasilkan listrik. Dapat dilihat rumus
kimia gula sangat kompleks dan sulit untuk dipisahkan sehingga sulit menghasilkan
ion-ion. Tidak ada pergerakkan ion pada larutan gula sehingga tidak terjadi aliran
listrik di dalam larutan, maka larutan gula tidak menghantarkan listrik. Selain larutan
gula, larutan non elektrolit lain adalah larutan glukosa(C6H12O6), urea(CO(NH2)2),
dan larutan alkohol(C2H5O).
Sedangkan ion pada air berupa partikel netral sehingga tidak ada pergerakan
kation dan anion. Maka air merupakan larutan non elektrolit.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa air dan larutan gula merupakan larutan non
elektrolit, sedangkan larutan garam merupakan larutan elektrolit kuat dan larutan cuka
merupakan larutan elektrolit lemah. Larutan elektrolit dan non elektrolit dapat
dibedakan dengan jumlah gelembung yang dihasilkan larutan yang dialiri arus listrik.
Daftar Pustaka

Muchtaridi dan Justiana, Sandri. 2007. Kimia 3 SMA/MA Kelas XII.


Bogor:Yudhistira.
Haryanto, Untung Tri. 2009. Kimia untuk SMA/MA Kelas X Semester Genap.
Klaten:Viva Pakarindo Penerbit dan Percetakan.
Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., Nachtrieb, N.H. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern.
Edisi ke-4. Jilid 1. Diterjemahkan oleh S.S. Achmadi. Jakarta: Erlangga.
Ratna dkk. 2009. Jenis-jenis Larutan dan Larutan Elektrolit (online), http://Chem-Is-
Try.Org/Situs Kimia Indonesia/Jenis-jenis Larutan dan Larutan Elektrolit.htm,
diakses 21 Februari 2010.