Anda di halaman 1dari 7

Matematika II

Minggu ke V

INTEGRASI PENDEKATAN

Pada pertemuan sebelumnya telah diperkenalkan berbagai macam kegunaan dan cara
penyelesaian suatu integrasi, tetapi masih ada beberapa integral lain yang terlihat
sederhana tetapi tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara yang baku.

Sebagai contoh, soal berikut ini akan diselesaikan dengan cara integrasi per bagian
atau partial integration :

xe dx x e e dx

xe e

e x 1

e e 1

1 √e (1)

Soal di atas (1) termasuk mudah, karena pada setiap tahapan penyelesaian, pangkat x
berkurang 1, sampai akhirnya hilang dan bentuknya menjadi e dx yang dapat
diselesaikan dengan mudah. Tetapi andaikan soal tersebut diganti dengan bentuk
integral seperti berikut :

x e dx (2)

akan terlihat bahwa soal tersebut (2) tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sama.
Hal ini dikarenakan pengurangan pangkat x dengan 1 pada setiap tahapan tidak akan
pernah mencapai x0, artinya pangkat x tidak pernah hilang dan integral yang muncul
selalu masih dalam bentuk perkalian dan dalam proses ini melompati x0 seperti
persamaan berikut :

x e dx x e e x dx (3)

Dari sini muncul kesulitan, sehingga harus dicari alternatif penyelesaiannya dengan
menggunakan integrasi pendekatan. Hasil penyelesain yang akan diperoleh adalah
harga pendekatan, tetapi hal ini bukan berarti hasil tersebut masih “kasar dan langsung
ada” dan kurang penting. Istilah pendekatan di sini adalah harga numerik yang
dihasilkan adalah tidak dapat ditetapkan secara lengkap, tetapi hanya sampai tingkat

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
1
Matematika II
Minggu ke V

ketelitian berapa desimal tertentu sesuai dengan yang dikehendaki. Sebagai contoh, x
= √3 adalah harga eksak, tetapi x = 1,732 adalah harga pendekatan, karena √3
sebenarnya mempunyai harga 1,7321….. sampai dengan bilangan desimal tak
berhingga banyaknya. Tetapi harga pendekatan ini sudah cukup teliti sampai sejumlah

desimal tertentu, atau angka berarti (significant number), seperti π , π 3,14, π

3,14159, semuanya adalah harga pendekatan. Harga pendekatan ini bisa mendekati
harga sebenarnya dengan cara mengambil jumlah desimal atau angka di belakang
koma yang lebih banyak, tetapi biasanya ini berarti menambah pekerjaan yang tidak
perlu.

Perhitungan integral terbatas seringkali diperlukan dalam permasalahan di bidang


teknik atau rekayasa, yang lebih dikenal dengan pendekatan numerik. Hasil dari
pendekatan numerik ini seringkali sudah dirasa memuaskan dan memenuhi syarat
batas yang ada. Untuk permasalahan seperti soal (2) dapat diselesaikan dengan deret
atau jika diperlukan dengan menggunakan kaidah Simpson.

Cara 1. Dengan deret


Dengan menggunakan contoh soal (2), akan diselesaikan dengan cara deret. Seperti
yang sudah diketahui bahwa,

e 1 x
! ! !

x e x 1 x
! ! !

x e x 1 x
! !

x x (4)
! !

Bentuk ini (4) hanya memuat pangkat x, sehingga dalam baris berikutnya akan
diperoleh :

x e
. .

(5)

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
2
Matematika II
Minggu ke V

Untuk memudahkan perhitungan pada persamaan (5), faktor x dikeluarkan sehingga :

√ . . .


0,3333 0,1000 0,0179 0,0023


0,4535

1,4142 0,2268
0,3207 (6)
(didekati hanya sampai 4 desimal di belakang koma)

Jadi pada Cara 1, penyelesaian dilakukan dengan cara menyatakan fungsinya dalam
bentuk deret dan kemudian mengintegrasikan suku-suku pangkat x-nya satu per satu.
Cara ini akan sangat mudah, jika fungsi tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk deret.
Namun ada hal yang harus diperhatikan bahwa di sini adalah deret tak hingga yang
hanya berlaku untuk harga x yang membuat deret tersebut konvergen. Dalam banyak
persoalan, jika batas integralnya adalah kurang dari 1 seringkali mudah diselesaikan,
tetapi jika batas integralnya lebih dari 1 maka diperlukan kehati-hatian. Sebagai contoh :

dx (7)

Soal (7) tersebut akan menghasilkan deret yang divergen, jika batas integralnya
disubstitusikan. Untuk itu dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan faktor x3 dari
penyebutnya, sehingga :

1 (8)

Bentuk soal (8) ini lebih baik, karena jika batas integralnya disubstitusikan, x3 akan lebih

besar dari 1, sedangkan akan kurang dari 1. Dengan demikian soal (7) dapat

diselesaikan setelah diubah ke bentuk yang lebih sederhana, seperti soal (8).

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
3
Matematika II
Minggu ke V

1 x 1 dx

x x x x dx

. .

0,0313 0,0002 0,0000 0,1250 0,0063 0,0005


0,1257 0,0375
0,0882 (9)
(didekati hanya sampai 4 desimal di belakang koma)

Integrasi dengan cara deret mungkin agak menjemukan dan tidak selalu dapat
diterapkan, untuk itu akan diberikan cara lain untuk memperoleh harga pendekatan bagi
suatu integral berbatas, yaitu dengan kaidah Simpson.

Cara 2. Dengan kaidah Simpson


Seperti yang sudah diketahui bahwa integrasi dapat digunakan untuk menghitung luas
daerah di bawah kurva y = f(x) di antara dua titik tertentu x = a dan x = b.

A ydx f x dx (10)

A y = f(x)

X
0 a b

Gambar 1. Kurva y = f(x)

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
4
Matematika II
Minggu ke V

Untuk mencari luas di bawah kurva tersebut dengan cara kaidah Simpson dapat
dijelaskan sebagai berikut :

Y 3
2 4
1 5
6
7 8 9
y1 y3 y5 y = f(x)

X
0 a b
s

Gambar 2. Kaidah Simpson

1. Bagilah fungsi tersebut (Gambar 2) menjadi sejumlah genap (n) buah pita-pita yang
sama lebar (s).
2. Berilah nomor dan tentukan masing-masing ordinatnya : y1, y2, y3, …, yn+1, banyaknya
ordinat adalah satu lebih banyak daripada jumlah pita (n).
3. Luas A dari bidang fungsi tersebut adalah :
A F L 4E 2R (11)
dengan :
s = lebar masing-masing pita (Strip)
F + L = jumlah ordinat pertama (First) dan terakhir (Last)
4E = 4 kali jumlah ordinat bernomor genap (Even)
2R = 2 kali jumlah ordinat bernomor ganjil sisanya (Remains)

Contoh soal, hitunglah ydx untuk fungsi y = f(x) yang grafiknya seperti ditunjukkan
pada Gambar 2.

Jika diambil 8 pita, maka s .

Misalkan diketahui tinggi ordinatnya adalah :


No. Ordinat (i) 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Tinggi (y) 7,5 8,2 10,3 11,5 12,4 12,8 12,3 11,7 11,5

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
5
Matematika II
Minggu ke V

Maka akan didapatkan :


F + L = 7,5 + 11,5 = 19
4E = 4(8,2 + 11,5 + 12,8 + 11,7) = 4(44,2) = 176,8
2R = 2(10,3 + 12,4 + 12,3) = 2(35) = 70

Dengan menggunakan Pers. (11), sehingga :

A 19 176,8 70

265,8

44,3
f x dx 44,3 satuan (12)

Tingkat ketelitian hasil perhitungan tersebut tergantung dari banyaknya jumlah pita,
makin banyak pita-pita yang dibuat (atau makin kurus), maka makin teliti pula hasil
perhitungannya. Dalam praktek kadang tidak diperlukan penggambaran kurva dari
fungsi untuk memperoleh ordinatnya, tetapi cukup dengan menghitung ordinatnya
dalam selang yang tertentu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut :
Hitunglah fungsi berikut dengan menggunakan enam buah selang (n = 6),

√sin x dx (13)

a. Menentukan nilai s :

s 10 (14)

b. Menghitung nilai ordinat y, yaitu √sin x dengan selang sebesar di antara x = 0


(batas bawah) dan x = (batas atas) dan disajikan dalam bentuk tabel :

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
6
Matematika II
Minggu ke V

x sin x √sin x F+L E R


0  0 0,0000 0,0000 0,0000
π
  10 0,1736 0,4166 0,4166
18
π
  20 0,3420 0,5848 0,5848
9
π
  30 0,5000 0,7071 0,7071
6

  40 0,6428 0,8016 0,8016
9

  50 0,7660 0,8752 0,8752
18
  0,8660 0,9306 0,9306
F + L 0,9306 1,9989 1,3864
4E 7,9956 4 2
2R 2,7728 7,9956 2,7728
(F + L) + 4E + 2R 11,6990

c. Menghitung luas bidang A :


A F L 4E 2R
π
0,9306 7,9956 2,7728
3.18
π
11,6990
54
0,681

√sin x dx 0,681 satuan (15)

Latihan :

Hitunglah 1 x dx

a. Dengan integral langsung.


b. Dengan cara deret.
c. Dengan kaidah Simpson (8 selang).

Selamat mengerjakan!

Prepared by zacoeb_a@yahoo.com
7