Anda di halaman 1dari 42

Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X

Tahun 2005
Materi : Pengadilan HAM

PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA DI


INDONESIA

Zainal Abidin, S.H.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat


Jl Siaga II No 31 Pejatien Barat, Jakarta 12510
Telp (021) 7972662, 79192564 Fax : (021) 79192519
Website : www.elsam.or.id Email : elsam@nusa.or.id
Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

I. PENDAHULUAN
Penegakan dan perlindungan terhadap hak orang yang mewajibkan tiga orang
asasi manusia (HAM) di Indonesia diantaranya adalah hakim ad hoc.
mencapai kemajuan ketika pada tanggal 6
November 2000 disahkannya Undang- Pengaturan yang sifatnya khusus ini
undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang didasarkan atas kerakteristik kejahatan yang
Pengadilan HAM oleh Dewan Perwakilan sifatnya extraordinary sehingga memerlukan
Rakyat Republik Indonesia dan kemudian pengaturan dan mekanisme yang
diundangkan tanggal 23 November 2000. seharusnya juga sifatnya khusus. Harapan
Undang-undang ini merupakan undang- atas adanya pengaturan yang sifatnya
undang yang secara tegas menyatakan khusus ini adalah dapat berjalannya proses
sebagai undang-undang yang mendasari peradilan terhadap kasus-kasus
adanya pengadilan HAM di Indonesia yang pelanggaran HAM yang berat secara
akan berwenang untuk mengadili para kompeten dan fair. Efek yang lebih jauh
pelaku pelanggaran HAM berat. Undang- adalah putusnya rantai impunity atas pelaku
undang ini juga mengatur tentang adanya pelanggaran HAM yang berat dan bagi
pengadilan HAM ad hoc yang akan korban, adanya pengadilan HAM akan
berwenang untuk mengadili pelanggaran mengupayakan adanya keadilan bagi
HAM berat yang terjadi di masa lalu. mereka.

Pengadilan HAM ini merupakan jenis UU No. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan
pengadilan yang khusus untuk mengadili HAM telah dijalankan dengan dibentuknya
kejahatan genosida dan kejahatan terhadap pengadilan HAM ad hoc untuk kasus
kemanusiaan. Pengadilan ini dikatakan pelanggaran HAM yang berat yang terjadi
khusus karena dari segi penamaan bentuk di Timor-timur. Dalam prakteknya,
pengadilannya sudah secara spesifik pengadilan HAM ad hoc ini mengalami
menggunakan istilah pengadilan HAM dan banyak kendala terutama berkaitan dengan
kewenangan pengadilan ini juga mengadili lemahnya atau kurang memadainya
perkara-perkara tertentu. Istilah pengadilan instumen hukum. UU No. 26 Tahun 2000
HAM sering dipertentangkan dengan istilah ternyata belum memberikan aturan yang
peradilan pidana karena memang pada jelas dan lengkap tentang tindak pidana
hakekatnya kejahatan yang merupakan yang diatur dan tidak adanya mekanisme
kewenangan pengadilan HAM juga hukum acara secara khusus. Dari kondisi
merupakan perbuatan pidana. UU No. 26 ini, pemahaman atau penerapan tentang UU
Tahun 2000 yang menjadi landasan No. 26 Tahun 2000 lebih banyak didasarkan
berdirinya pengadilan HAM ini mengatur atas penafsiran hakim ketika melakukan
tentang beberapa kekhususan atau pemeriksaan di pengadilan.
pengaturan yang berbeda dengan
pengaturan dalam hukum acara pidana.
Pengaturan yang berbeda atau khusus ini
mulai sejak tahap penyelidikan dimana
yang berwenang adalah Komnas HAM
sampai pengaturan tentang majelis hakim
dimana komposisinya berbeda denga
pengadilan pidana biasa. Dalam pengadilan
HAM ini komposisi hakim adalah lima

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 1


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

II. PENGADILAN HAM


1. Latar Belakang Pembentukan Pengadilan HAM
Orde baru yang berkuasa selama 33 tahun bertambah. Penyelesaian kasus Tanjung
(1965-1998) telah banyak dicatat melakukan Priok, DOM Aceh, Papua dan kasus
pelanggaran-pelanggaran HAM. Orde baru pelanggaran HAM berat di Timor-timur
yang memerintah secara otoriter selama selama pra dan pasca jajak pendapat belum
lebih dari 30 tahun telah melakukan ada yang terselesaikan. Atas kondisi ini
berbagai tindakan pelanggaran HAM sorotan dunia internasional terhadap
karena perilaku negara dan aparatnya.1 Indonesia sehubungan dengan maraknya
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pelanggaran HAM yang terjadi kian
(Komnas HAM) dalam laporan tahunnya menguat terlebih sorotan atas
menyatakan bahwa pemerintah perlu pertanggungjawaban pelanggaran HAM
menuntaskan segala bentuk pelanggaran yang terjadi di Timor-timur selama proses
HAM yang pernah terjadi di tanah air jajak pendapat.
sebagai akibat dari struktur kekuasaan orde
baru yang otoriter. Kasus pembumihangusan di Timor-timur
telah mendorong dunia internasional agar
Selanjutnya, pasca orde baru pelanggaran dibentuk peradilan internasional
HAM yang berbentuk aksi kekerasan massa, (internasional tribunal) bagi para pelakunya.
konflik antar etnis yang banyak menelan Desakan untuk adanya peradilan
korban jiwa dan pembumihangusan di internasional khususnya bagi pelanggaran
Timor-timur pasca jejak pendapat HAM yang berat yang terjadi di Timor-
menambah panjang sejarah pelanggaran timur semakin menguat bahkan komisi
HAM. Lembaga Studi dan Advokasi Tinggi PBB untuk Hak-hak asasi manusia
Masyarakat (ELSAM) menyebutkan data telah mengeluarkan resolusi untuk
pada triwulan pertama 1998 telah terjadi mengungkapkan kemungkinan terjadinya
1.629 pelanggaran HAM yang fundamental pelanggaran HAM berat di Timor-Timur.
yang tergolong ke dalam hak-hak yang tak Atas resolusi Komisi HAM PBB tersebut
dapat dikurangi di 12 propinsi yang Indonesia secara tegas menolak dan akan
menjadi sumber data. Hak-hak tersebut menyelesaikan kasus pelanggaran HAM
adalah hak atas hidup, hak bebas dari dengan menggunakan ketentuan nasional
penyiksaan, hak bebas dari penangkapan karena konstitusi Indonesia memungkinkan
sewenang-wenang, hak bebas dari untuk menyelenggarakan peradilan hak
pemusnahan seketika, dan hak bebas dari asasi manusia. Atas penolakan tersebut,
penghilangan paksa.2 mempunyai konsekuensi bahwa Indonesia
harus melakukan proses peradilan atas
Berbagai pelanggaran HAM yang terjadi terjadinya pelanggaran HAM di Timor-
belum pernah terselesaikan secara tuntas Timur .
sedangkan gejala pelanggaran kian
Dorongan untuk adanya pembentukan
peradilan internasional ini juga didasarkan
1 Ignatius Haryanto, Kejahatan Negara, atas ketidakpercayaan dunia internasional
Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, 1999, pada sistem peradilan Indonesia jika dilihat
hlm.31. antara keterkaitan antara pelaku kejahatan
yang merupakan alat negara. Pelanggaran
2 Kompas, 15 April 1998.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 2


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

HAM di Timor-timur mempunyai nuansa para pelaku pelanggaran HAM yang berat.
khusus karena adanya penyalahgunaan Disamping itu sesuai dengan prinsip
kekuasaan dalam arti pelaku berbuat dalam International Criminal Court, khususnya
konteks pemerintahan dan difasilitasi oleh prinsip universal yang tidak mungkin
kekuasaan pemerintah sehingga akan sulit memperlakukan pelanggaran HAM berat
untuk diadakan pengadilan bagi pelaku sebagai ordinary crimes dan adanya
kejahatan secara fair dan tidak memihak. kualifikasi universal tentang crimes against
humanity masyarakat mengharuskan
Dalam prakteknya jika melihat bekerjanya didayagunakannya pengadilan HAM yang
sistem peradilan pidana di negara hukum bersifat khusus, yang mengandung pula
Indonesia ini, belum mampu memberikan acara pidana yang bersifat khusus. 4
keadilan yang subtansial. Keterkaitan
dengan kebijakan yang formal/legalistik Pengertian tentang perlunya peradilan yang
seringkali dijadikan alasan. Peradilan secara khusus dengan aturan yang bersifat
seringkali memberikan toleransi terhadap khusus pula inilah yang menjadi landasan
kejahatan-kejahatan tertentu, dengan pemikiran untuk adanya pengadilan khusus
konsekuensi yuridis pelaku kejahatannya yang dikenal dengan pengadilan HAM.
harus dibebaskan. Termasuk terhadap Alasan yuridis lainnya yang bisa menjadi
kejahatan atau pelanggaran HAM berat ini.3 landasan berdirinya pengadilan nasional
adalah bahwa pengadilan nasional
Ketentuan dalam Kitab Undang-undang merupakan “the primary forum” untuk
Hukum Pidana Indonesia yang berkaitan mengadili para pelanggar HAM berat.5
dengan pelanggaran HAM yang berat juga
mengatur tentang jenis kejahatan yang
berupa pembunuhan, perampasan
kemerdekaan, penyiksaan/penganiayaan,
dan perkosaan. Jenis kejahatan yang diatur
dalam KUHP tersebut adalah jenis
kejahatan yang sifatnya biasa (ordinary
crimes) yang jika dibandingkan dengan
pelanggaran HAM yang berat harus
memenuhi beberapa unsur atau
karakteristik tertentu yang sesuai dengan
Statuta Roma 1999 untuk bisa
diklasifikasikan sebagai pelanggaran HAM
yang berat. Pelanggaran HAM berat itu
sendiri merupakan extra-ordinary crimes
yang mempunyai perumusan dan sebab
timbulnya kejahatan yang berbeda dengan
kejahatan atau tindak pidana umum.
Dengan perumusan yang berbeda ini tidak 4 Muladi, Pengadilan Pidana bagi
mungkin menyamakan perlakukan dalam Pelanggar HAM Berat di Era Demokrasi, 2000,
menyelesaikan masalahnya, artinya KUHP Jurnal Demokrasi dan HAM, Jakarta, hlm. 54.
tidak dapat untuk menjerat secara efektif
5 Muladi, Mekanisme Domestik untuk
Mengadili Pelanggaran HAM Berat melalui Sistem
3 Krist L. Kleden, Peradilan Pidana Pengadilan atas Dasar UU No. 26 Tahun 2000,
Sebagai Pendidikan Hukum, Komnas, 11 September Makalah dalam Diskusi Panel 4 bulan
2000. Pengadilan Tanjung Priok, Elsam, 20 Januari 2004.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 3


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

2. Landasan Yuridis Terbentuknya Undang-undang Pengadilan


HAM
Kepentingan untuk mengadakan proses • Kurang mencerminkan rasa
peradilan untuk kejahatan yang termasuk keadilan karena ketentuan dalam
kejahatan terhadap kemanusiaan melalui perpu tersebut tidak berlaku surut
mekanisme nasional mengharuskan (retroaktif), sehingga pelanggaran
dipenuhinya instrumen hukum nasional HAM yang berat yang dilakukan
yang memadai sesuai dengan prinsip- sebelum Perpu ini disahkan menjadi
prinsip dalam hukum internasional. undang-undang tidak tercakup
Meskipun mekanisme/sistem hukum pengaturannya.
nasional yang akan dipilih untuk • Masih terdapat ketentuan yang
menegakkan pertanggungjawaban dinilai menyimpang dari ketentuan
pelanggaran HAM yang terjadi tetapi yang diatur dalam konvensi tentang
penting untuk memenuhi syarat adanya pencegahan dan penghukuman
pengadilan nasional yang efektif. kejahatan genosida tahun 1948 dan
tidak sesuai dengan asas-asas
Berdasarkan kondisi tentang perlunya hukum yang berlaku.
instrumen hukum untuk berdirinya sebuah • Masih menggunakan standar
pengadilan HAM secara cepat maka konvensional, yakni dengan
pemerintah menerbitkan Perpu No. 1 Tahun mendasarkan pada KUHP yang
1999 tentang Pengadilan HAM. Perpu ini hanya membatasi tuntutan pada
telah menjadi landasan yuridis untuk personal sehingga tidak mampu
adanya penyelidikan kasus pelanggaran menjangkau tuntutan secara
HAM berat di Timor-timur oleh Komnas lembaga.
HAM. • Masih terdapat subtansi yang
kontradiktif dan berpotensi untuk
Karena berbagai alasan Perpu No. 1 Tahun berbenturan atau overlapping
1999 ini yang kemudian ditolak oleh DPR dengan hukum positif.
untuk menjadi undang-undang. Alasan
mengenai ditolaknya Perpu tersebut adalah Setelah adanya penolakan Perpu tersebut
sebagai berikut : diatas oleh DPR maka pemerintah
mengajukan rancangan undang-undang
1. Secara konstitusional pembentukan tentang Pengadilan HAM. Dalam
perpu tentang pengadilan HAM dengan penjelasannya, pengajuan RUU tentang
mendasarkan pada Pasal 22 ayat 1 Pengadilan HAM adalah : Pertama,
Undang-undang Dasar 1945 yang merupakan perwujudan tanggung jawab
berbunyi “dalam hal ihwal kegentingan bangsa Indonesia sebagai salah satu anggota
yang memaksa”, yang dijadikan dasar PBB. Dengan demikian merupakan salah
untuk mengkualifikasikan adanya satu misi yang mengembangkan tanggung
kegentingan yang memaksa dianggap jawab moral dan hukum dalam menjunjung
tidak tepat. tinggi dan melaksanakan deklarasi HAM
2. Subtansi yang diatur dalam Perpu yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-
tentang Pengadilan HAM masih bangsa, serta yang terdapat dalam berbagai
terdapat kekurangan atau kelemahan instrumen hukum lainnya yang mengatur
antara lain, sebagai berikut : mengenai HAM yang telah dan atau
diterima oleh negara Indonesia. Kedua,

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 4


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

dalam rangka melaksanakan Tap MPR No.


XVII/MPR/1998 tentang HAM dan sebagai
tindak lanjut dari Pasal 104 ayat 1 Undang-
undang No. 39 Tahun 1999. Ketiga, untuk
mengatasi keadaan yang tidak menentu di
bidang keamanan dan ketertiban umum,
termasuk perekonomian nasional.
Keberadaan pengadilan HAM ini sekaligus
diharapkan dapat mengembalikan
kepercayaan masyarakat dan dunia
internasional terhadap penegakan hukum
dan jaminan kepastian hukum mengenai
penegakan HAM di Indonesia.

Dari ketiga alasan di atas, landasan hukum


bahwa perlu adanya pengadilan HAM
untuk mengadili pelanggaran HAM berat
adalah alasan yang ketiga dimana
terbentuknya pengadilan HAM ini adalah
pelaksanaan dari TAP MPR No.
XVII/MPR/1998 tentang HAM dan sebagai
tindak lanjut dari Pasal 104 ayat 1 Undang-
undang No. 39 Tahun 1999. Pasal 104 ayat 1
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia dan Komnas HAM menyatakan
bahwa untuk mengadili pelanggaran HAM
yang berat dibentuk pengadilan HAM di
lingkungan peradilan umum. Ayat 2
menyatakan pengadilan sebagaimana
dimaksud ayat dalam ayat 1 dibentuk
dengan udang-undang dalam jangka waktu
paling lama 4 tahun. Tidak sampai 4 tahun,
undang-undang yang khusus mengatur
tentang Pengadilan HAM adalah Undang-
undang Nomor 26 Tahun 2000.6

6 UU No. 26 Tahun 2000 ini disyahkan

pada tanggal 6 November 2000.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 5


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

3. Pengaturan tentang Pengadilan HAM : UU No. 26 Tahun 2000


Konsideran dari UU No. 26 Tahun 2000 ini rekonsiliasi untuk penyelesaian pelanggaran
menyatakan bahwa untuk ikut serta HAM yang berat.7
memelihara perdamaian dunia dan
menjamin pelaksanaan hak asasi manusia Pembentukan pengadilan HAM yang
serta memberi perlindungan, kepastian, mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan
keadilan, dan perasaan aman kepada dan kejahatan genosida ini dianggap tidak
perorangan ataupun masyarakat, perlu tepat dan banyak dikritik sebagai
segera dibentuk suatu Pengadilan Hak pengaturan yang kurang tepat. Kesalahan
Asasi Manusia untuk menyelesaikan ini yang terutama adalah memasukkan
pelanggaran hak asasi manusia yang berat kejahatan terhadap kemanusiaan dan
sesuai dengan ketentuan Pasal 104 ayat (1) kejahatan genosida dalam istilah pengadilan
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 HAM. Pelanggaran HAM yang berat
tentang Hak Asasi Manusia. dengan dua jenis kejahatan tersebut adalah
kejahatan yang merupakan bagian dari
Bahwa pembentukan Pengadilan Hak Asasi hukum pidana karena merupakan bagian
Manusia untuk menyelesaikan pelanggaran dari international crimes sehingga yang
hak asasi manusia yang berat telah digunakan adalah seharusnya terminologi
diupayakan oleh Pemerintah berdasarkan “peradilan pidana.” Secara yuridis
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- seharusnya pengklasifikasian kejahatan
undang Nomor 1 Tahun 1999 tentang terhadap kemanusiaan dan kejahatan
Pengadilan Hak Asasi Manusia yang dinilai genosida diintegrasikan ke dalam kitab
tidak memadai, sehingga tidak disetujui undang-undang hukum pidana melalui
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik amandemen. Dengan memasukkan jenis
Indonesia menjadi undang-undang, dan kejahatan ini kedalam kitab undang-undang
oleh karena itu Peraturan Pemerintah hukum pidana maka tidak akan melampaui
Pengganti Undang-undang tersebut perlu asas legalitas. Sedangkan pelanggaran HAM
dicabut. Berdasarkan pertimbangan diatas yang dilakukan sebelum adanya
maka Pengadilan HAM perlu dibentuk. amandemen tersebut seharusnya dibentuk
mahkamah peradilan pidana ad hoc untuk
Undang-undang No. 26 tahun 2000 tentang kasus tertentu. Pandangan ini sejalan
pengadilan ini memberikan 3 mekanisme dengan pemahaman bahwa pelanggaran
untuk penyelesaian kasus-kasus HAM yang berat termasuk kejahatan
pelanggaran HAM yang berat. Pertama terhadap kemanusiaan dan kejahatan
adalah mekanisme pengadilan HAM ad hoc genosida secara yuridis seharusnya
untuk pelanggaran HAM masa lalu sebelum mengalami transformasi menjadi tindak
adanya undang-undang ini, artinya untuk pidana dan peradilan yang berwenang
kasus-kasus yang terjadi sebelum tahun adalah peradilan pidana.
2000 maka akan dibentuk pengadilan HAM
ad hoc. Kedua adalah pengadilan HAM yang Dari argumen tentang “ketidaktepatan” ini
sifatnya permanen terhadap kasus setelah menjadikan ada 2 lembaga yang
terbentuknya UU No. 26 Tahun 2000 dan mempunyai yurisdiksi untuk memeriksa
yang ketika adalah dibukanya jalan dan mengadili perkara pidana yaitu
mekanisme komisi kebenaran dan peradilan pidana perkara pidana biasa dan
pengadilan HAM untuk mengadili

7 Pasal 47 UU No. 26 Tahun 2000.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 6


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

kejahatan yang tergolong pelanggaran pengadopsian dari norma-norma hukum


HAM yang berat menurut UU No. 26 Tahun internasional terutama norma-norma dalam
2000. Atas “ketidaktepatan” ini maka UU Rome Statute of International Criminal Court.
No. 26 Tahun 2000 dianggap sebagai Kelemahan-kelemahan ini karena proses
undang-undang yang sifatnya transisional pengadopsian dari instrumen internasional
sehingga untuk masa yang akan datang yang tidak lengkap dan mengalami banyak
harus dirubah dan diintegrasikan ke dalam kesalahan. Pengadopsian atas konsep
ketentuan pidana atau masuk peradilan kejahatan terhadap kemanusiaan dan
pidana. Kritik atas keadaan ini adalah tentang delik tanggung jawab komando
bahwa UU No. 26 Tahun 2000 dianggap tidak memadai sehingga banyak
sebagai upaya praktis dari pemerintah menimbulkan interpretasi dalam
untuk secara cepat mengakomodir dan aplikasinya. Kelemahan lainnya adalah
menghentikan upaya-upaya ke arah tidak ada hukum acara dan pembuktian
peradilan internasional dan melupakan secara khusus dan masih banyak
aspek-aspek yuridis. menggunakan ketentuan yang berdasarkan
Kitab Undang-undang Hukum Acara
UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Pidana (KUHAP).
HAM ini juga dianggap mempunyai banyak
kelemahan yang mendasar dalam Pengaturan tentang Pengadilan HAM sesuai
pengaturannya. UU No. 26 Tahun 2000 dengan UU No. 26 Tahun 2000 adalah
secara substansi banyak melakukan sebagai berikut :

a. Kedudukan dan Tempat Kedudukan


Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus Kedudukan dalam pengadilan HAM
yang berada di lingkungan peradilan mengikuti Pengadilan Umum atau
umum. Kedudukannya di daerah Pengadilan Negeri termasuk dukungan
kabupaten atau daerah kota yang daerah administrasinya. Hal ini membawa
hukumnya meliputi daerah hukum konsekuensi bahwa pengadilan HAM ini
Pengadilan Negeri yang bersangkutan, akan sangat tergantung dengan dukungan
sedangkan daerah khusus ibukota dari pengadilan negeri tersebut. Dukungan
pengadilan HAM berkedudukan di setiap administratif itu adalah :
wilayah Pengadilan Negeri yang
bersangkutan. pada saat undang-undang ini 1. Ruangan pengadilan yang juga
berlaku pertama kali maka pengadilan merupakan ruangan pengadilan untuk
HAM dibentuk di Jakarta Pusat, Surabaya, kasus lainnya dan tidak ada ruangan
Medan, dan Makassar.8 yang khusus untuk pengadilan HAM.
Hal ini membawa konsekuensi bahwa
8 Ketentuan mengenai pembagian jadwal persidangan akan sangat
wilayah untuk adanya pengadilan HAM pertama bergantung dengan jadwal persidangan
kali ini ada Pasal 45 UU No. 26 Tahun 2000
dalam aturan peralihan Pasal 45 UU No. 26
Tahun 2000. Pada ayat 2 bahwa wilayah Jakarta Kalimantan timur, Nusa Tenggara Barat, dan
Pusat meliputi daerah khusus ibukota Jakarta, Nusa Tenggara Timur. Makassar meliputi
provinsi Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
Lampung, Bengkulu, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku,
Kalimantan Tengah. Surabaya meliputi Provinsi Maluku Utara dan Irian Jaya. Medan meliputi
Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa provinsi Sumatera Utara, Daerah Istimewa Aceh,
Yogyakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi dan Sumatera Barat.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 7


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

kasus-kasus lainnya yang juga ditangani


oleh Pengadilan Negeri tempat
Pengadilan HAM ini digelar.
2. Dukungan staf administrasi : staf
administrasi adalah staf yang
menangani perkara pengadilan HAM
selain panitera yang juga bertugas
untuk membantu para hakim yang
mengadili perkara pelanggaran HAM
yang berat.
3. Dukungan panitera yang juga
diambilkan dari Pengadilan Negeri
setempat. Panitera ini adalah panitera
biasa dan bukan panitera yang dibentuk
khusus untuk menangani kasus
pelanggaran HAM yang berat. Panitera
ini juga menangani kasus lainnya.
4. Ruangan hakim : ruangan hakim untuk
hakim ad hoc adalah ruangan tersendiri,
namun untuk hakim karir yang
merupakan hakim pengadilan setempat
maka mereka mempunyai ruangan
tersendiri.9

9 Tentang dukungan adminsitratif ini

didasarkan pada pengalaman pengadilan HAM


ad hoc kasus pelanggaran HAM yang berat di
Timor-Timur.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 8


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

b. Lingkup Kewenangan Pengadilan HAM


Kewenangan memeriksa dan mengadili
UU No. 26 Tahun 2000 memberikan
Perkara pelanggaran HAM yang berat yang larangan atau membatasi kewenangan
berwenang memutus dan memeriksa adalah untuk memeriksa dan memutus perkara
pengadilan HAM. Kewenangan untuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat
memutus dan memeriksa juga termasuk yang dilakukan oleh seseorang yang
menyelesaikan perkara yang menyengkut berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun
perkara tentang kompensasi, restitusi dan pada saat kejahatan dilakukan. Disini
rehabilitasi bagi korban pelanggaran HAM diartikan bahwa seseorang yang berumur
berat sesuai dengan peraturan perundang- dibawah 18 tahun yang melakukan
undangan yang berlaku. Kewenangan pelanggaran HAM yang berat diperiksa dan
untuk memutus tentang kompensasi, diputus dalam Pengadilan Negeri.
restitusi dan rehabilitasi ini sesuai dengan Ketentuan tentang pembatasan perkecualian
Pasal 35 UU No. 26 Tahun 2000 yang yurisdiksi terhadap mereka yang berumur
menyatakan bahwa kompensasi, restitusi dibawah 18 tahun pada saat tindak pidana
dan rehabilitasi dicantumkan dalam amar dilakukan (exclusion of jurisdiction over person
putusan pengadilan HAM. under eighteen) sesuai dengan norma yang
diatur dalam Statuta Roma 1998.
Pengadilan HAM berwenang untuk
memeriksa dan memutus perkara Jenis kejahatan yang dapat diadili
pelanggaran HAM yang berat yang
dilakukan di luar batas teritorial wilayah Jenis kejahatan yang dikategorikan sebagai
negara Republik Indonesia oleh warga pelanggaran HAM berat yang dapat
negara Indonesia. Dalam penjelasannya diperiksa atau diputus dan merupakan
ketentuan ini dimaksudkan untuk yurisdiksi pengadilan HAM adalah :
melindungi warga negara Indonesia yang
melakukan pelanggaran HAM yang berat 1. Kejahatan genosida yaitu setiap
yang dilakukan di luar batas teritorial, perbuatan yang dilakukan dengan
dalam arti tetap dihukum sesuai dengan maksud untuk menghancurkan atau
undang-undang tentang pengadilan hak memusnahkan seluruh atau sebagian
asasi manusia. 10 kelompok bangsa, ras, kelompok etnis,
kelompok agama, dengan cara :

10 a. Membunuh anggota kelompok;


Ketentuan tentang asas ini sebetulnya
sudah diatur dalam Kitab undang-undang
b. Mengakibatkan penderitaan fisik
hukum pidana (KUHP) yaitu Pasal 5 yang atau mental yang berat terhadap
berasaskan nasional pasif.10 Namun ketentuan ini anggota-anggota kelompok;
perlu ditegaskan lagi mengingat bahwa c. Menciptakan kondisi kehidupan
pelanggaran HAM yang berat merupakan kelompok yang akan
kejahatan internasional yang merupakan musuh mengakibatkan kemusnahan secara
umat manusia yang mengenal yurisdiksi fisik baik seluruh atau sebagian;
internasional dan menjadi kewajiban setiap
negara untuk melakukan penghukuman
terhadap kejahatan seperti ini. Penegasan tentang
asas nasional aktif ini juga bertujuan untuk indonesia dimanapun akan diadili menurut
menyatakan bahwa setiap pelanggaran HAM hukum Indonesia.
yang berat yang dilakukan oleh warga negara

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 9


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

d. Memaksakan tindakan-tindakan paksa dengan cara pengusiran atau


yang bertujuan mencegah kelahiran tindakan pemaksaan yang lain dari
di dalam kelompok atau; daerah dimana mereka bertempat
e. memindahkan secara paksa anak- tinggal secara sah, tanpa disadari
anak dari kelompok tertentu ke alasan yang diijinkan oleh hukum
kelompok lain. internasional.
e. Perampasan kemerdekaan atau
2. Kejahatan terhadap kemanusiaan yaitu perampasan kebebasan fisik lain
salah satu perbuatan yang dilakukan secara sewenang-wenang yang
sebagai bagian dari serangan yang melanggar (asas-asas) ketentuan
meluas atau sistematik yang pokok hukum internasional.
diketahuinya bahwa serangan itu f. Penyiksaan, yaitu sengaja melawan
ditujukan secara langsung kepada hukum menimbulkan kesakitan
penduduk sipil yang berupa : atau penderitaan yang berat baik
fisik maupun mental, terhadap
a. Pembunuhan, dengan rumusan seorang tahanan atau seorang yang
delik sebagaimana Pasal 340 berada di bawah pengawasan.
KUHP.11 g. Perkosaan, perbudakan seksual,
b. Pemusnahan, yaitu meliputi pelacuran secara paksa, pemaksaan
perbuatan yang menimbulkan kehamilan, pemandulan atau
penderitaan yang dilakukan dengan sterilisasi secara paksa atau bentuk-
sengaja, antara lain berupa bentuk kekerasan seksual lain yang
perbuatan menghambat pemasokan setara.
barang makanan dan obat-obatan h. Penganiayaan terhadap suatu
yang dapat menimbulkan kelompok tertentu atau
pemusnahan pada sebagian perkumpulan yang didasari
penduduk. persamaan paHAM politik, ras,
c. Perbudakan, dalam ketentuan ini kebangsaan, etnis, budaya, agama,
termasuk perdagangan manusia, jenis kelamin atau alasan lain yang
khususnya perdagangan wanita dan telah diakui secara universal
anak-anak. sebagai hal yang dilarang menurut
d. Pengusiran dan pemindahan hukum internasional.
penduduk secara paksa, yaitu i. Penghilangan orang secara paksa,
pemindahan orang-orang secara yaitu penangkapan, penahanan,
atau penculikan seseorang oleh atau
dengan kuasa, dukungan atau
11 Pasal 340 KUHP menyatakan bahwa :
persetujuan dari negara atau
Barang siapa dengan sengaja dan dengan kebijakan organisasi, diikuti oleh
direncanakan terlebih dahulu menghilangkan penolakan untuk mengakui
nyawa orang lain, karena salah telah melakukan
perampasan kemerdekaan tersebut,
pembunuhan dengan direncanakan terlebih
dahulu, dihukum dengan hukuman mati atau
dengan maksud untuk melepaskan
dengan hukuman penjara seumur hidup atau dari perlindungan hukum dalam
dengan hukuman penjara sementara selama- jangka waktu yang panjang.
lamanya 20 tahun. Ketentuan yang digunakan j. Kejahatan apartheid, yaitu
sebagai acuan adalah ketentuan deliknya dan perbuatan tidak manusiawi dengan
bukan termasuk ancaman hukumannya karena sifat yang sama dengan sifat-sifat
ancaman hukuman dalam kejahatan terhadap yang disebutkan dalam Pasal 8 yang
kemanusiaan dalan UU No. 26 Tahun 2000 dilakukan dalam konteks suatu
diatur tersendiri.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 10


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

rezim kelembagaan berupa tentang kejahatan terhadap kemanusiaan


penindasan dan dominasi oleh yaitu :
suatu kelompok rasial atas suatu
kelompok atau kelompok-kelompok 1. Tidak ada kejelasan mengenai unsur
ras lain dan dilakukan dengan meluas (widespread), sistematik
maksud untuk mempertahankan (systematic) dan diketahui (intension), hal
rezim itu. ini akan berakibat adanya berbagai
macam interpretasi atas pengertian di
Pengaturan tentang kejahatan genosida dan atas. Hal ini berbeda dengan ketentuan
kejahatan terhadap kemanusiaan dalam UU dalam Statuta Roma yang menjelaskan
No. 26 Tahun 2000 dalam penjelasannya secara tegas mengenai intension.12
dinyatakan sebagai ketentuan yang sesuai
dengan Rome Statute of International Criminal 2. Penerjemahan directed against any
Court 1998. Penjelasan tersebut mempunyai civillian population menjadi ditujukan
konsekuensi bahwa kejahatan genosida dan secara langsung kepada penduduk sipil,
kejahatan terhadap kemanusiaan seperti yang seharusnya ditujukan kepada
yang tercantum dalam Pasal 7 UU No. 26 populasi sipil. Kata “langsung” ini bisa
Tahun 2000 sama maksudnya dengan Pasal berimplikasi pada seolah-olah hanya
6 dan 7 dalam Statuta Roma 1998 termasuk pelaku di lapangan saja yang dapat
terhadap penyesuaian unsur-unsur tindak dikenakan pasal ini sedangkan pelaku
pidananya (element of crimes). diatasnya yang membuat kebijakan
tidak tercakup dalam pasal ini. istilah
Definisi tentang kejahatan genosida dalam “penduduk” untuk menterjemahkan
Pasal 8 UU No. 26 Tahun 2000 secara umum kata “population” telah menyempitkan
tidak ada persoalan dalam artian sudah subyek hukum dengan menggunakan
sesuai dengan beberapa norma yang batasan-batasan wilayah yang akan
berkaitan dengan pengaturan genosida menyempitkan target-target potensial
dalam ketentuan hukum internasional. korban kejahatan terhadap
Ketentuan tersebut adalah Pasal 6 dari kemanusiaan hanya kepada warga
Statuta Roma tentang ICC dan Article II negara dimana kejahatan tersebut
Genocide Convention 1948 yang berlangsung.13
mendefinisikan genosida sebagai 5 (lima)
perbuatan tertentu atau khusus yang
dilakukan dengan maksud untuk 12 Lihat Progress Report pemantauan

memusnahkan (intent to destroy) suatu pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28


kelompok etnis, rasial atau agama. Januari 2003.

13 Majelis hakim pada ICTY dan ICTR


Berbeda dengan pengertian tentang
kejahatan genosida, definisi tentang mengadopsi pengertian yang luas mengenai
populasi sipil. Untuk melindungi mereka yang
kejahatan terhadap kemanusiaan dianggap
potensial menjadi korban kejahatan terhadap
banyak mengalami distorsi terutama dalam kemanusiaan, pengertian populasi sipil juga
beberapa pengertian kunci tentang delik diartikan sebagai siapa saja yang dalam batasan
kejahatan ini. Dari proses adopsi tentang waktu tertentu secara aktif terlibat dalam
kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejadian dimana ia berada dalam posisi
kejahatan genosida dari Statuta Roma ke mempertahankan diri dalam kondisi tertentu
dalam UU No. 26 Tahun 2000 ini terdapat dapat dianggap sebagai korban kejahatan
distorsi yang secara teoritis melemahkan terhadap kemanusiaan. Lihat Progress Report
konsep kejahatan tersebut terutama konsep pemantauan Pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X.
Tanggal 28 Januari 2003.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 11


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

3. Penerjemahan istilah “prosecution” yang termasuk kejahatan terhadap


menjadi penganiayaan. Prosecution kemanusiaan ini akan melemahkan konsep
mempunyai arti yang lebih luas kejahatan terhadap kemanusiaan karena
merujuk pada perlakuan diskriminatif dapat ditafsirkan sendiri-sendiri.16
yang menghasilkan kerugian mental
maupun fisik atau ekonomis. Dengan
digunakan istilah penganiayaan ini
maka tindakan teror dan intimidasi atas
seseorang atau kelompok sipil tertentu
berdasarkan kepercayaan politik
menjadi tidak termasuk dalam kategori
tersebut.14

4. UU No. 26 Tahun 2000 tidak


memasukkan tentang kejahatan yang
termasuk rumusan kejahatan terhadap
kemanusiaan seperti dalam huruf k
Pasal 7 Statuta Roma yaitu perbuatan
tidak manusiawi lain dengan sifat yang
sama secara sengaja menyebabkan
penderitaan berat, atau luka serius
terhadap badan atau mental atau
kesehatan fisik. Alasan tidak
dimasukkan rumusan ketentuan ini
dalam UU No. 26 Tahun 2000 adalah
adanya pengertian bahwa ketentuan ini
tidak memberikan kepastian hukum
dan memiliki penafsiran yang luas.15

Adanya distorsi karena proses


pengadopsian dan penerjemahan yang tidak
memadai ini menjadikan pengertian tentang
kejahatan terhadap kemanusiaan tidak sama
atau berbeda rumusannya dengan dengan
pengertian yang ada dalam hukum
internasional dalam hal ini dengan
ketentuan Statuta Roma sebagai dasar
rujukannya. Disamping itu tidak adanya
element of crimes secara jelas untuk
16 Beberapa putusan pengadilan HAM
mendefinisikan bentuk-bentuk kejahatan
ad hoc untuk kasus pelanggaran HAM yang berat
di Timor-timur menunjukkan bahwa
14 Lihat Progress Report pemantauan pembahasan tentang elemen-elemen dalam
Pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28 kejahatan terhadap kemanusiaan terdapat
Januari 2003. perbedaan antara majelis hakim. Perbedaan
tersebut terutama berkaitan dalam menguraikan
15 Lihat pandangan akhir fraksi-fraksi di elemen meluas atau sistematik yang antara
DPR tentang pembentukan pengadilan HAM, majelis hakim berbeda karena perbedaan
Jakarta, 2000. referensi atau acuan dalam mendefinisikan
unsur-unsur tersebut.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 12


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

c. Hukum Acara Pengadilan HAM


Pasal 10 UU No. 26 Tahun 2000 Penangkapan
menyatakan bahwa hukum acara yang
digunakan adalah hukum acara yang Kewenangan untuk melakukan
berdasarkan hukum acara pidana kecuali penangkapan di tingkat penyidikan dalam
ditentukan lain dalam undang-undang ini. pengadilan HAM ini adalah Jaksa Agung
Hal ini berarti hukum acara yang akan terhadap seseorang yang diduga keras
digunakan untuk proses pemeriksaan di melakukan pelanggaran HAM berat
pengadilan menggunakan hukum acara berdasarkan bukti permulaan yang cukup17.
dengan mekanisme sesuai dengan Kitab Prosedur untuk pelaksanaan penangkapan
Undang-undang Hukum Acara Pidana dilakukan oleh penyidik dengan
(KUHAP). memperlihatkan surat tugas dan
menunjukkan surat perintah penangkapan
UU No. 26 Tahun 2000 mengatur yang mencantumkan identitas tersangka
Kekhususan pengadilan HAM di luar dengan menyebutkan alasan penangkapan,
ketentuan KUHAP untuk pelanggaran tempat dilakukan pemeriksaan serta uraian
HAM yang berat. Kekhususan dalam singkat perkara pelanggaran HAM yang
penanganan pelanggaran HAM yang berat berat yang dipersangkakan. Keluarga harus
dalam UU No. 26 Tahun 2000 adalah : mendapatkan tembusan untuk adanya
penangkapan tersebut segera setelah
1. Diperlukan penyelidik dengan penangkapan dilakukan.
membentuk tim ad hoc, penyidik ad hoc,
penuntut ad hoc, dan hakim ad hoc. Pelaku pelanggaran HAM berat yang
2. Diperlukan penegasan bahwa tertangkap tangan, penangkapannya
penyelidik hanya dilakukan oleh komisi dilakukan tanpa surat perintah tetapi
nasional hak asasi manusia sedangkan dengan segera bahwa orang yang
penyidik tidak berwenang menerima menangkap harus segera menyerahkannya
laporan atau pengaduan sebagaimana kepada penyidik. Lama penangkapan
diatur dalam KUHAP. paling lama 1 hari dan masa penangkapan
3. Diperlukan ketentuan mengenai ini dapat dikurangkan dari pidana yang
tenggang waktu tertentu untuk dijatuhkan.
melakukan penyidikan, penuntutan,
dan pemeriksaan di pengadilan. Ketentuan khusus mengenai penangkapan
4. Diperlukan ketentuan mengenai ini jika dikomparasikan dengan KUHAP
perlindungan korban dan saksi. tidak jauh berbeda. Yang membedakan
5. Diperlukan ketentuan mengenai tidak adalah yang melakukan/pelaksanaan tugas
ada kadaluarsa pelanggaran HAM yang penangkapan adalah Jaksa Agung
berat. sedangkan dalam KUHAP yang melakukan

Kekhususan ini kemudian dijabarkan dalam


17 Penjelasan tentang bukti permulaan
pasa demi pasal dalam UU No. 26/2000
yang merupakan pengecualian dari yang cukup adalah bukti permulaan untuk
menduga adanya tindak pidana bahwa
pengaturan dalam KUHAP yaitu :
seseorang yang karena perbuatannya atau
keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut
diduga sebagai pelaku pelanggaran HAM yang
berat.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 13


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

penangkapan adalah petugas kepolisian pengadilan HAM yang bersangkutan.


Republik Indonesia.18 Jangka waktu penahanan untuk penuntutan
paling lama 30 hari dan dapat diperpanjang
Penahanan 20 hari, tetapi jika belum selesai maka dapat
diperpanjang selama 20 hari lagi oleh ketua
Selama proses penyidikan dan penuntutan, pengadilan sesuai dengan daerah
penahanan atau penahan lanjutan dapat hukumnya.
dilakukan oleh Jaksa Agung, sedangkan
untuk kepentingan pemeriksaan di sidang Ketentuan mengenai lamanya penahanan
pengadilan yang berwenang melakukan ini tidak disertai dengan konsekuensi
penahanan adalah hakim dengan mengenai hak tersangka untuk dikeluarkan
mengeluarkan penetapan. Perintah dari tahanan jika selama waktu penahanan
penahanan ini harus didasarkan pada itu proses penyidikan dan penuntutan
alasan-alasan yang disyaratkan yaitu belum dapat diselesaikan. KUHAP
adanya dugaan keras melakukan disamping mengatur tentang lamanya
pelanggaran HAM berat dengan bukti yang panahanan juga mengatur tentang hak
cukup, adanya kekhawatiran tersangka atau tersangka untuk dikeluarkan dari tahanan
terdakwa akan melarikan diri, merusak atau jika tidak telah selesai masa penahanannya
menghilangkan barang bukti, atau tetapi proses penyidikan dan penuntutan
mengulangi pelanggaran HAM berat. belum selesai. 20
Alasan penahanan ini adalah alasan yang
berdasarkan atas alasan subyektif dari Penahanan untuk kepentingan pemeriksaan
penyidik atau majelis hakim atas kondisi disidang pengadilan dapat dilakukan
yang disyaratkan tersebut, artinya selama 90 hari dan dapat diperpanjang oleh
pertimbangan atas adanya bukti yang ketua pengadilan HAM selama 30 hari.
cukup, kekhawatiran akan menghilangkan Dalam pemeriksaan tingkat banding di
barang bukti atau akan melakukan pengadilan tinggi dapat dilakukan paling
pelanggaran HAM yang berat adalah alasan lama 60 hari dan dapat diperpanjang paling
atas penilaian dari pihak yang berwenang lama 30 hari oleh ketua pengadilan tinggi.
untuk melakukan penyidikan atau hakim Sedangkan untuk tingkat kasasi di
yang memeriksa terdakwa. Hal ini berbeda Mahkamah Agung penahanan dapat
dengan ketentuan dalam KUHAP yang juga dilakukan selama 60 hari dan dapat
mensyaratkan adanya unsur obyektif untuk diperpanjang selama 30 hari oleh ketua MA.
dapat dilakukan penahanan kepada
tersangka maupun terdakwa. 19 20Lihat Pasal 24 dan 25 KUHAP. Pasal
24 menyatakan bahwa lama penahanan untuk
Jangka waktu penahanan untuk penyidikan proses penyidikan adalah paling lama 20 hari
dapat dilakukan paling lama 90 hari dan dan dapat diperpanjang paling lama 40 hari, jika
dapat diperpanjang selama 90 hari oleh dalam waktu 60 hari sudah terpenuhi penyidik
harus sudah mengeluarkan tersangka dari
ketua pengadilan HAM dan jika waktu
tahanan demi hukum.
penahanan telah selesai tapi penyidikan
belum dapat diselesaikan makan dapat Pasal 25 menyatakan bahwa lama penahanan 20
diperpanjang selama 60 hari oleh ketua hari dan dapat diperpanjang paling lama 30 hari,
jika dalam wakti 50 hari telah terpenuhi maka
tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi
18 Lihat Pasal 18 KUHAP. hukum. Kedua pasal diatas juga menyatakan
bahwa tersangka dapat dilepaskan dari tahanan
19 Lihat Pasal 21 KUHAP tentang alasan jika pemeriksaan sudah selesai meskipun waktu
dapat ditahannya tersangka maupun terdakwa. penahanan belum berakhir.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 14


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

Dalam KUHAP perpanjangan penahanan


untuk kepentingan pemeriksaan dapat
dilakukan berdasarkan alasan yang patut
dan tidak dapat dihindari yaitu bahwa
tersangka atau terdakwa menderita
gangguan fisik atau mental yang berat, yang
dibuktikan dengan surat keterangan dokter
dan perkara yang sedang diperiksa diancam
dengan pidana penjara selama sembilan
tahun atau lebih. Perpanjangan penahanan
ini dapat dilakukan untuk paling lama 30
hari dan dapat diperpanjang selama 30 hari
berikutnya. Selama total 60 hari tersebut,
tersangka atau terdakwa harus sudah
dikeluarkan demi hukum meskipun
perkaranya belum selesai diperiksa maupun
belum diputus.21

21 Lihat Pasal 29 KUHAP.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 15


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

Penahanan berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000

No Proses Kewenangan Lama Perpanjangan Perpanjangan Total


Penahanan Pertama Kedua (hari)
(hari) (hari) (hari)
1 Penyidikan Jaksa Agung 90 90 60 240

2 Penuntutan Jaksa Agung 30 20 20 70


3 Pemeriksaan Hakim 90 30
Pengadilan (Negeri) Pengadilan HAM
4 Tingkat Banding Hakim 60 30 - 90
Pengadilan tinggi
5 Tingkat Kasasi Hakim HAM 60 30 - 90
Tingkat Kasasi

Penyelidikan yang berbeda dengan pengaturan dalam


KUHAP inilah yang dianggap sebagai
Huruf 5 ketentuan umum UU No. 26 Tahun kekhususan mengenai penyelidikan dalam
2000 menyatakan bahwa penyelidikan kasus pelanggaran HAM yang berat.23
diartikan sebagai serangkaian tindakan
penyelidik untuk mencari dan menemukan Penyelidikan untuk pelanggaran HAM yang
ada tidaknya suatu peristiwa yang diduga berat merupakan kewenangan dari Komnas
merupakan pelanggaran hak asasi manusia HAM dan penyelidikan yang dilakukan
yang berat guna ditindaklanjuti dengan oleh Komnas HAM ini merupakan
penyidikan sesuai dengan ketentuan yang penyelidikan yang sifatnya pro justitia.24
diatur dalam Undang-undang ini.22 Kewenangan penyelidikan ini dimaksudkan
untuk menjaga objektivitas hasil
UU No. 26 Tahun 2000 mengatur secara penyelidikan karena lembaga Komnas
berbeda dengan KUHAP tentang siapa yang HAM adalah lembaga yang bersifat
berhak melakukan penyelidikan. Dalam independen baik dari segi institusi maupun
penjelasan umumnya undang-undang ini anggotanya. Secara kelembagaan Komnas
menegaskan bahwa diperlukan langkah- HAM dianggap tidak memiliki kepantingan
langkah yang bersifat khusus, diantaranya kecuali terhadap perlindungan dan
penyelidikan yang bersifat khusus, dimana penegakan HAM di Indonesia sedangkan
diperlukan penyelidik dengan membentuk anggota Komnas HAM dianggap juga
tim ad hoc. Penyelidikan hanya dilakukan memiliki integrasi yang tinggi dan
oleh Komnas HAM sedangkan penyidik kemampuan teknis untuk melakukan
tidak berwenang menerima laporan atau penyelidikan. Dalam melakukan
pengaduan. Kewenangan penyelidikan penyelidikan Komnas HAM membentuk

22 Bandingkan dengan definisi


penyelidikan seperti ketentuan dalam KUHAP. 23 Dalam KUHAP penyelidik adalah

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan pejabat polisi negara Republik Indonesia yang
penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk
peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana melakukan penyelidikan.
guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan menurut cara yang diatur dalam 24 Penjelasan Pasal 19 UU No. 26 Tahun
undang-undang ini. 2000 .

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 16


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

tim ad hoc yang terdiri dari Komnas HAM terhadap rumah, pekarangan, bangunan,
dan unsur masyarakat.25 dan tempat-tempat lainnya yang diduduki
atau dimiliki pihak tertentu, dan 4)
Komnas HAM mempunyai kewenangan mendatangkan ahli dalam hubungan
untuk melakukan tindakan-tindakan dalam dengan penyelidikan.
rangka melaksanakan penyelidikan yaitu
memeriksa peristiwa yang berdasarkan sifat Komnas HAM dalam melakukan
atau lingkupnya patut diduga terdapat penyelidikan terhadap dugaan adanya
pelanggaran HAM berat, menerima pelanggaran HAM yang berat maka harus
laporan26 atau pengaduan dari seseorang memberitahukan aktivitas ini kepada
atau kelompok orang tentang terjadinya penyidik. Setelah penyelidik menyimpulkan
pelanggaran hak asasi manusia yang berat, bahwa telah ada bukti permulaan yang
serta mencari keterangan dan barang bukti, cukup maka atas adanya pelanggaran HAM
memanggil pihak pengadu, korban atau yang berat maka hasil kesimpulan
pihak yang diadukan untuk diminta dan diserahkan ke penyidik. Paling lambat 7
didengar keterangannya, memanggil saksi hari kerja diserahkan selanjutnya Komnas
untuk didengar kesaksiannya, meninjau dan HAM menyerahkan seluruh hasil
mengumpulkan keterangan ditempat penyelidikan. Jika penyidik menganggap
kejadian dan tempat lainnya yang dianggap bahwa penyelidikan kurang lengkap29
perlu, memanggil pihak terkait untuk maka penyidik mengembalikan hasil
memberikan keterangan secara tertulis atau penyelidikan disertai petunjuk untuk
menyerahkan dokumen yang diperlukan dilengkapi dan dalam waktu 30 hari
sesuai dengan aslinya. Disamping tindakan- penyelidik wajib melengkapi.
tindakan di atas, atas perintah penyidik27
dapat melakukan tindakan berupa : 1) Disamping mempunyai kewenangan untuk
pemeriksaan surat, 2) penggeledahan28 dan melakukan penyelidikan dalam kasus
penyitaan, 3) pemeriksaan setempat pelanggaran HAM yang berat, Komnas
HAM juga mempunyai kewenangan untuk
meminta keterangan secara tertulis kepada
25 Unsur masyarakat disini adalah tokoh
Jaksa Agung mengenai perkembangan
dan anggota masyarakat yang profesional,
penyidikan dan penuntutan perkara
berdedikasi, berintegrasi tinggi, dan menghayati
bidang hak asasi manusia.
pelanggaran HAM yang berat.30

26 Arti “menerima” adalah menerima, Penyidikan


mendaftar, dan mencatat laporan atau
pengaduan tentang terjadinya pelanggaran HAM Definisi tentang penyidikan tidak diatur
yang berat, dan dapat dilengkapi dengan barang dalam UU No. 26 Tahun 2000.31 Pihak yang
bukti.

27 Penjelasan mengenai perintah


penyidik adalah perintah tertulis yang 29 Arti dari “kurang lengkap” adalah

dikeluarkan penyidik atas permintaan penyelidik belum cukup memenuhi unsur pelanggaran
dan penyidik segera mengeluarkan surat HAM yang berat untuk dilanjutkan ke tahap
perintah setelah menerima permintaan dari penyidikan.
penyidik.
30 Lihat Pasal 25 UU No. 26 Tahun 2000.
28 Penggeledehan dalam ketentuan ini
meliputi penggeledahan badan atau rumah. Hal 31 Definisi penyidikan dapat dilihat

ini sama dengan ketentuan Pasal 32 KUHAP. dalam huruf 2 ketentuan umum KUHAP yang
menjelaskan bahwa penyidikan adalah

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 17


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

berwenang melakukan penyidikan terhadap dan keluarganya, maka ada hak untuk
kasus pelanggaran HAM yang berat adalah mengajukan pra peradilan bagi korban dan
Jaksa Agung. Penyidikan ini tidak termasuk keluarganya atas penghentian penyidikan
untuk menerima pengaduan dan laporan oleh Jaksa Agung kepada ketua pengadilan
karena pengaduan dan laporan tersebut HAM sesuai dengan peraturan perundang-
merupakan kewenangan Komnas HAM. undangan yang berlaku dalam hal ini sesuai
Dalam upaya penyidikan ini Jaksa Agung dengan KUHAP.
dapat32 mengangkat penyelidik ad hoc dari
unsur masyarakat33 dan pemerintah. Penuntutan

Penyidikan yang dilakukan wajib UU No. 26 Tahun 2000 mengatur tentang


diselesaikan paling lambat 90 hari terhitung ketentuan penuntutan dalam Pasal 23 dan
sejak tanggal hasil penyelidikan diterima 24. Pasal 23 menyatakan penuntutan
dan dinyatakan lengkap oleh penyidik. mengenai pelanggaran HAM yang berat
Perpanjangan dapat dilakukuan selama 90 dilakukan oleh Jaksa Agung dan dalam
hari berikutnya jika selama 90 hari pertama melakukan penuntutan. Jaksa Agung dapat
penyidikan belum dapat diselesaikan. mengangkat jaksa penuntut umum ad hoc.34
Perpanjangan yang kedua selama 60 hari, Untuk dapat diangkat menjadi penuntut
baik perpanjangan yang pertama maupun umum ad hoc harus memenuhi syarat
kedua dilakukan oleh ketua pengadilan tertentu.35
HAM sesuai dengan daerah hukumnya
masing-masing. Pasal 24 mengatur tentang jangka waktu
penuntuan yaitu selama 70 hari terhitung
Jaksa Agung wajib mengeluarkan Surat sejak tanggal hasil penyelidikan diterima.
Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) jika Ketentuan mengenai jangka waktu ini
dalam waktu yang telah ditentukan tidak berbeda dengan ketentuan dalam KUHAP
diperoleh bukti yang cukup. Adanya SP3 dimana tidak diatur mengenai adanya
ini, penyidikan atas kasus dapat dibuka jangka waktu penuntutan.
kembali dan dilanjutkan jika terdapat alasan
dan bukti lain yang melengkapi hasil Pengalaman berberapa pengadilan HAM
penyidikan. Atas penghentian penyidikan diantaranya pengadilan Ham ad hoc Timor-
ini, jika tidak dapat diterima oleh korban timur maupun pengadilan HAM ad hoc
Tanjung Priok menunjukkan bahwa proses
serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang
ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti 34 Dalam penjelasannya penuntut umum
dengan bukti itu membuat terang tentang tindak ad hoc dari unsur masyarakat diutamakan
pidana yang terjadi dan guna menemukan diambil dari mantan penuntut umum di
tersangkanya. peradilan umum atau oditur di peradilan militer.

32 Penjelasan mengenai kata “dapat” 35 Pasal 23 ayat 4 mengatur tentang

adalah bahwa dimaksudkan agar Jaksa Agung syarat untuk menjadi penuntut umum ad hoc
dalam mengangkat penyidik ad hoc dilakukan yaitu warga negara Republik Indonesia, berumur
sesuai dengan kebutuhan. sekurang-kurangnya 40 tahun dan paling tinggi
65 tahun, berpendidikan sarjana hukum dan
33 Penjelasan tentang unsur masyarakat berpengalaman sebagai penuntut umum, sehat
adalah dari organisasi politik, organisasi jasmani dan rohani, berwibawa, jujur, adil, dan
kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, berkelakuan tidak tercela, setia kepada Pancasila
atau lembaga kemasyarakatan yang lain seperti dan UUD 1945 dan memiliki pengetahuan dan
perguruan tinggi. kepedulian di bidang hak asasi manusia.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 18


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

penyidikan dan penuntutan dalam beberapa mengingat bahwa dalam hukum acara
kasus tersebut mengalami keterlambatan pidana menyatakan bahwa peninjuan
dan tidak sesuai dengan ketentuan limitasi kembali atas suatu perkara pidana juga
waktu sesuai dengan UU No. 26 Tahun dimungkinkan dan itu merupakan hak
2000. Jaksa ad hoc dalam menyikapi terdakwa atau ahli warisnya tetapi
keterlambatan ini mengajukan surat kepada dalam ketentuan UU No. 26 Tahun 2000
pengadilan untuk persetujuan atas ini tidak diatur tentang hakim ad hoc
perpanjangan proses penyelidikan dan untuk pemeriksaan upaya hukum luar
penuntutan. Pembatasan atau limitasi biasa dengan cara peninjauan kembali.
waktu dalam proses penyelidikan dan Ketentuan mengenai hakim yang akan
penuntutan ini berdasarkan pengalaman mengadili di tingkat peninjauan
pengadilan HAM ad hoc yang telah terjadi kembali ini tidak diatur dalam UU No.
menjadi alasan penasehat hukum terdakwa 26 Tahun 2000 ini.37
dalam eksepsinya untuk menyatakan bahwa
proses penyidikan dan penuntutan Pengertian hakim ad hoc adalah hakim
melampaui ketentuan UU No. 26 Tahun yang diangkat di luar hakim karir yang
2000. 36 memenuhi persyaratan profesional,
berdedikasi dan berintegrasi tinggi,
Pemeriksaan di sidang pengadilan menghayati cita-cita negara hukum dan
negara kesejahteraan yang berintikan
1. Komposisi hakim dan hakim ad hoc keadilan, memahami dan menghormati
hak asasi manusia dan kewajiban dasar
Pasal 27 UU No. 26 Tahun 2000 manusia.
menyatakan bahwa kasus pelanggaran
HAM yang berat diperiksa oleh majelis Jumlah hakim ad hoc di pengadilan
hakim yang jumlahnya 5 orang yang HAM yang harus diangkat adalah
terdiri dari 2 orang hakim pengadilan sekurang-kurangnya 12 orang dan masa
HAM yang bersangkutan dan 3 orang jabatannya adalah 5 tahun yang dapat
hakim HAM ad hoc. Majelis hakim diangkat untuk 1 kali masa jabatan lagi.
tersebut diketuai oleh hakim dari Hakim ad hoc ini diangkat dan
pengadilan HAM yang bersangkutan. diberhentikan oleh presiden selaku
Pada tingkat banding majelis hakimnya Kepala Negara atas usul Ketua
berjumlah 5 orang yang terdiri dari 2 Mahkamah Agung. Ketentuan ini sama
orang hakim dari pengadilan setempat untuk hakim ad hoc pada pengadilan
dan 3 orang hakim ad hoc. Demikian tinggi, sedangkan untuk hakim ad hoc
juga komposisi mengenai majelis hakim tingkat kasasi di Mahkamah Agung
dalam tingkat kasasi. diangkat oleh Presiden selaku kepala
negara atas usulan Dewan Perwakilan
Dari ketentuan diatas, pengaturan Rakyat RI dan lama jabatan hanya satu
tentang hakim ad hoc hanya sampai periode yaitu selama 5 tahun.
pada tingkat kasasi. Tidak ada kejelasan
mengenai hakim yang dapat mengadili
di tingkat peninjauan kembali (PK), 37 Mengingat hakim yang mengadili

pelanggaran HAM yang berat ini selalu


mensyaratkan adanya hakim ad hoc maka tidak
36 Lihat eksepsi Penasehat hukum para adanya pengaturan mengenai hakim ad hoc di
terdakwa kasus pelanggaran HAM yang berat di tingkat peninjauan kembali tidak bisa diserahkan
Timor-timur dalam pengadilan HAM ad hoc. mekanismenya dengan menggunakan ketentuan
KUHAP.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 19


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

Hakim ad hoc ini dalam pemilihannya


memerlukan syarat-syarat tertentu yang
tertuang dalam Pasal 29.38 Hakim ad
hoc juga wajib mengucapkan sumpah.
Syarat untuk menjadi hakim ad hoc ini
berlaku untuk hakim tingkat banding
dan hakim ad hoc tingkat kasasi.
Perkecualian khusus untuk hakim ad hoc
tingkat kasasi berumur sekurang-
kurangnya 50 tahun dan tidak ada
batasan maksimal umurnya.

38 Untuk dapat diangkat menjadi Hakim


ad hoc harus memenuhi syarat : warga negara
Republik Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berumur sekurang-kurangnya
45 (empat puluh lima) tahun dan paling tinggi 65
(enam puluh lima) tahun, berpendidikan sarjana
hukum atau sarjana lain yang mempunyai
keahlian di bidang hukum (sarjana syariah atau
sarjana lulusan perguruan tinggi ilmu
kepolisian), sehat jasmani dan rohani,
berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak
tercela, setia kepada Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945, dan memiliki pengetahuan
dan kepedulian di bidang hak asasi manusia.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 20


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

Hakim ad hoc

Hakim ad hoc Diangkat oleh Jumlah mininal yang Lama jabatan


diangkat
Pengadilan HAM Presiden atas usul ketua 12 orang 5 tahun dan diangkat 1
Mahkamah Agung periode lagi
Tingkat Presiden atas usul 12 orang 5 tahun dan dapat
banding/Pengadilan Tinggi Mahkamah Agung diangkat 1 periode lagi
Tingkat kasasi/MA Presiden atas usul DPR 3 orang 5 tahun
Peninjauan Kembali Tidak diatur Tidak diatur Tidak diatur

Perkara pelanggaran HAM berat diperiksa Ketentuan yang perlu diperhatikan adalah
dan diputuskan oleh pengadilan dalam mengenai proses pelimpahan berkas
jangka waktu paling lama 180 hari terhitung perkara dalam tingkat pertama ke tingkat
sejak perkara dilimpahkan ke pengadilan banding dan dari tingkat pertama ke kasasi
HAM. Pada tingkat banding maka perkara ketika jaksa mengajukan kasasi saat
diperiksa dan diputus paling lama 90 hari. terdakwa dinyatakan bebas. Ketentuan
Jika perkara dimintakan kasasi maka mengenai mekanisme pelimpahan berkas
perkara pelanggaran HAM berat ini dalam ke tingkat banding dan kasasi
diperiksa dan diputus paling lama 90 hari menggunakan mekanisme KUHAP.
atau selama 3 bulan.

Tabel : Jangka waktu proses penyelidikan – kasasi

No Proses Jangka waktu Perpanjangan I Perpanjangan II

1 Penyelidikan Tidak ada ketentuan lama Jika penyelidikan -


penyelidikan kurang lengkap wajib
dilengkapi dalam
jangka waktu 30 hari
2 Penyidikan 90 90 60
3 Penuntutan 70 Tidak ada Tidak ada
4 Pemeriksaan 180 Tidak ada Tidak ada
pengadilan
5 Banding 90 Tidak ada Tidak ada
6 Kasasi 90 Tidak ada Tidak ada
7 Peninjauan Kembali Tidak ada (Sesuai KUHAP) - -

2. Prosedur Pembuktian mekanisme KUHAP untuk prosedur


pembuktian adalah mengenai proses
Prosedur pembuktian dalam pengadilan kesaksian di pengadilan. Dalam rangka
HAM tidak diatur tersendiri yang melindungi saksi dan korban
berarti bahwa mekanisme pembuktian pelanggaran HAM yang berat proses
di sidang pengadilan HAM pemeriksaan saksi dapat dilakukan
menggunakan mekanisme yang diatur
dalam KUHAP. Pengecualian terhadap

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 21


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

dengan tanpa hadirnya terdakwa.39 Prosedur pembuktian dalam pengadilan


Ketentuan ini terdapat dalam PP No. 2 HAM ini sama dengan pengadilan
Tahun 2002 tentang perlindungan HAM ad hoc. Pengalaman pengadilan
terhadap korban dan saksi pelanggaran Ham ad hoc Timor-timur menunjukkan
HAM yang berat. bahwa prosedur dengan menggunakan
mekanisme KUHAP ini banyak menjadi
Berkenaan dengan alat bukti yang dapat kendala dalam proses pembuktian
diterima juga mengacu pada alat bukti kejahatan kemanusiaan yang
yang sesuai dengan KUHAP yaitu Pasal seharusnya mempunyai prosedur
184.40 Hal-hal yang dapat dijadikan alat pembuktian yang khusus pula. (lihat
bukti dalam KUHAP ini dianggap tidak bagian dalam tulisan ini dalam
memadai jika dikomparasikan dengan prosedur pembuktian pengadilan HAM
praktek peradilan internasional. ad hoc).
Pengalaman-pengalaman internasional
yang menyidangkan kasus pelanggaran Ketentuan Pemidanaan
HAM berat justru lebih banyak
menggunakan alat-alat bukti di luar Ketentuan pidana diatur dalam Bab VII dari
yang diatur oleh KUHAP. Misalnya Pasal 36 sampai dengan Pasal 40 UU No. 26
rekaman, baik itu yang berbentuk film Tahun 2000. Ketentuan pidana dalam UU
atau kaset yang berisi pidato, siaran No. 26 Tahun 2000 ini menggunakan
pers, wawancara korban, wawancara ketentuan pidana minimal yang dianggap
pelaku, kondisi keadaan tempat sebagai ketentuan yang sangat progresif
kejadian dan sebagainya. Kemudian alat untuk menjamin bahwa pelaku pelanggaran
bukti yang dipakai juga diperbolehkan HAM yang berat ini tidak akan
berbentuk dokumen-dokumen salinan, mendapatkan hukuman yang ringan.42
kliping koran, artikel lepas, sampai
suatu opini yang terkait dengan kasus Pasal 36 mengatur tentang ketentuan pidana
yang disidangkan.41 untuk kejahatan genosida yakni dengan
ancaman hukuman mati atau pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara
39 Proses kesaksian tanpa hadirya
paling lama 25 tahun dan pidana paling
terdakwa ini sebenarnya sudah diatur dalam
Pasal 173 KUHAP yang menyatakan bahwa
singkat 10 tahun. Ketentuan pidana ini sama
hakim ketua sidang dapat mendengar dengan kejahatan yang diatur dalam Pasal 9
keterangan saksi mengenai hal tertentu tanpa (tentang kejahatan terhadap kemanusiaan)
hadirnya terdakwa, untuk itu ia minta terdakwa huruf a (pembunuhan), b (pemusnahan), d
ke luar dari ruang sidang akan tetapi sesudah itu
pemeriksaan perkara tidak boleh diteruskan
sebelum kepada terdakwa diberitahukan semua
hal pada waktu tidak hadir. Hal ini berbeda 42 Mengenai hukuman minimal ini

dengan PP No. 2 Tahun 2002 yang tidak ternyata dalam prakteknya di pengadilan HAM
mengatur tentang tata cara tanpa hadirnya ad hoc untuk kasus pelanggaran HAM yang berat
terdakwa untuk pemeriksaan kesaksian. di Tim-tim tidak dapat diaplikasikan. Hal ini
terbukti dengan lama hukuman yang dijatuhkan
40 Alat bukti menurut Pasal 184 KUHAP untuk terdakwa yang dibawah hukuman 10
adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, tahun (terdakwa Soejarwo 5 tahun, M. Noer Muis
petunjuk dan keterangan terdakwa. 5 tahun, Hulman Gultom 3 Tahun dan Abilio
Soares selama 3 tahun) kecuali terhadap
41 Lihat Progress Report pemantauan terdakwa Eurico Guterres yang dijatuhi
pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28 hukuman 10 tahun. Hakim dalam hal ini
Januari 2003. melakukan terobosan hukum.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 22


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

(pengusiran atau pemindahan penduduk berat berupa percobaan dan ikut serta
secara paksa), atau j (kejahatan apartheid). berupa permufakatan jahat atau
pembantuan terhadap terlaksanya
Bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan pelanggaran HAM berat, ancaman
lainnya yaitu perbudakan diancam dengan hukumannya dipersamakan dengan
pidana selama-lamanya 15 tahun dan paling ketentuan Pasal 36, 37, 38, 39 dan 40.
singkat 5 tahun (Pasal 38). Demikian pula ketentuan ini mengindikasikan bahwa
dengan kejahatan kemanusiaan yang berupa apapun peranan pelaku baik karena
dengan kejahatan terhadap kemanusiaan percobaan pelanggaran HAM berat, ikut
yang berupa penyiksaan diancan hukuman serta dalam permufakatan jahat untuk
paling lama 15 tahun dan peling rendah 5 melakukan pelanggaran HAM berat
tahun (Pasal 39). Kejahatan terhadap maupun pembantuan terhadap
kemanusiaan yang berupa perkosaan, terlaksananya pelanggaran HAM berat
perbudakan seksual, pelacuran paksa, tidak ada pengaturan pengecualian
pemaksaan keHAMilan, kemandulan atau terhadap mereka karena ancamannya
sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk dipersamakan. Ketentuan pemidaan yang
kekerasan seksual lainnya yang setara dipersamakan dengan ketentuan Pasal 36,
diancam pidana selama-lamanya 20 tahun 37, 38, 39 dan 40 adalah untuk tindak pidana
dan serendah-rendahnya selama 10 tahun yang dilakukan oleh seorang komandan
(Pasal 40). dari militer, polisi maupun sipil seperti
yang diatur dalam Pasal 42 ayat 3 UU No.
Pasal 41 mengatur khusus mengenai pihak- 26 Tahun 2000.
pihak yang melakukan pelanggaran HAM

Ketentuan Pemidanaan

Kejahatan Hukuman minimal Hukuman maksimal

Genosida 10 tahun Mati atau seumur


hidup atau penjara
paling lama 25 tahun
Kejahatan terhadap kemanusiaan, berupa :
a. Pembunuhan 10 tahun Mati atau seumur
hidup atau penjara
paling lama 25 tahun
b. Pemusnahan 10 tahun Mati atau seumur
hidup atau penjara
paling lama 25 tahun
c. Perbudakan 5 tahun 15 tahun
d. Pengusiran atau pemindahan penduduk 10 tahun Mati atau seumur
secara paksa hidup atau penjara
paling lama 25 tahun
e. Perampasan kemerdekaan atau perampasan 10 tahun Mati atau seumur
kebebasan fisik secara sewenang-wenang yang hidup atau penjara
melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum paling lama 25 tahun
internasional
f. Penyiksaan 5 tahun 15 tahun

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 23


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

g. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara 10 tahun 20 tahun


paksa, pemaksaan keHAMilan, pemandulan atau
sterilisasi, secara paksa atau bentuk-bentuk
kekerasan seksual lainnya yang setara
h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu 10 tahun 20 tahun
atau perkumpulan yang didasari persamaan
paHAM politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya,
agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah
diakui secara universal sebagai hal yang dilarang
menurut hukum internasional
i. Penghilangan orang secara paksa 10 tahun 20 tahun
j. Kejahatan apartheid 10 tahun Mati atau seumur
hidup atau penjara
paling lama 25 tahun

Percobaan, permufakatan jahat, atau pembantuan Dipersamakan Dipersamakan dengan


untuk melakukan pelanggaran HAM berupa dengan ketentuan di ketentuan di atas
kejahatan genosida dan kejahatan terhadap atas sesuai dengan sesuai dengan bentuk
kemanusiaan bentuk kejahatannya kejahatannya
Komandan militer, polisi dan atasan sipil yang Dipersamakan Dipersamakan dengan
melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan dengan ketentuan di ketentuan di atas
kejahatan genosida (dengan delik by omission) atas sesuai dengan sesuai dengan bentuk
bentuk kejahatannya kejahatannya

Delik tanggung jawab komandan dan dipertanggungjawabkan terhadap


atasan polisi dan sipil tindak pidana yang berada di dalam
yurisdiksi Pengadilan HAM, yang
Delik tanggung jawab komandan dan dilakukan oleh pasukan yang berada di
atasan polisi atau sipil (responsibility of bawah komando dan pengendaliannya
commanders and others superiors) ini diatur yang efektif, atau di bawah kekuasaan
dalam Pasal 42 UU No. 26 Tahun 2000 yang dan pengendaliannya yang efektif dan
membagi dalam 2 kategori pihak yitu unsur tindak pidana tersebut merupakan
militer dalam ayat (1) dan unsur atasan akibat dari tidak dilakukan
polisi atau sipil dalam ayat (2). Ketentuan pengendalian pasukan secara patut,
ini mengadopsi perumusan Pasal 28 Statuta yaitu :
Roma 1998 dimana tanggung jawab ini a. Komandan militer atau seseorang
adalah dalam kerangka individual criminal tersebut mengetahui atau atas dasar
responsibility. keadaan saat itu seharusnya
mengetahui bahwa pasukan
Ketentuan Pasal 42 ayat (1) dan (2) UU No. tersebut sedang melakukan atau
26 Tahun 2000 mengatur sebagai berikut : baru saja melakukan pelanggaran
hak asasi manusia yang berat; dan
1. Unsur komandan militer. b. Komandan militer atau seseorang
tersebut tidak melakukan tindakan
Komandan militer atau seseorang yang yang layak dan diperlukan dalam
secara efektif bertindak sebagai ruang lingkup kekuasaannya untuk
komandan militer dapat mencegah atau menghentikan

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 24


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

perbuatan tersebut atau dalam yurisdiksi Pengadilan HAM, yang


menyerahkan pelakunya kepada dilakukan oleh pasukan yang berada di
pejabat yang berwenang untuk bawah komando dan pengendaliannya yang
dilakukan penyelidikan, efektif…”
penyidikan, dan penuntutan.
Pengertian yang menggunakan kata “dapat”
2. Unsur atasan polisi atau sipil. (should) dan bukannya “akan” atau “harus”
(shall), secara implisit menegaskan bahwa
Seorang atasan, baik polisi maupun sipil tanggung jawab komando dalam kasus
lainnya, bertanggung jawab secara pelanggaran berat HAM yang diatur
pidana terhadap pelanggaran hak asasi melalui UU No. 26 Tahun 2000 ini bukanlah
manusia yang berat yang dilakukan sebuah hal yang bersifat otomatis dan wajib.
oleh bawahannya yang berada di bawah Pasal ini secara tegas menguatkan
kekuasaan dan pengendaliannya yang pengertian kejahatan terhadap kemanusiaan
efektif, karena atasan tersebut tidak dalam Pasal 9 UU No. 26 Tahun 2000 yang
melakukan pengendalian terhadap cenderung ditujukan kepada pelaku
bawahannya secara patut dan benar, langsung di lapangan. 43
yakni :
a. Atasan tersebut mengetahui atau Pasal 42 ayat 1 (a) juga mensyaratkan
secara sadar mengabaikan informasi penanggung jawab komando untuk
yang secara jelas menunjukkan “seharusnya mengetahui bahwa pasukan
bahwa bawahan sedang melakukan tersebut sedang melakukan atau baru saja
atau baru saja melakukan melakukan pelanggaran hak asasi manusia
pelanggaran hak asasi manusia yang berat.” Padahal sumber dari pasal
yang berat; dan spesifik tersebut, yaitu Pasal 28 ayat 1 (a)
b. Atasan tersebut tidak mengambil Statuta Roma secara tegas menyatakan
tindakan yang layak dan diperlukan bahwa komandan militer seharusnya
dalam ruang lingkup “mengetahui bahwa pasukan tersebut melakukan
kewenangannya untuk mencegah atau hendak melakukan kajahatan…”
atau menghentikan perbuatan
tersebut atau menyerahkan Distorsi ini mengabaikan adanya kewajiban
pelakunya kepada pejabat yang dari pemegang tanggung jawab komando
berwenang untuk dilakukan untuk mencegah terjadinya kejahatan.
penyelidikan, penyidikan, dan Meskipun dalam Pasal 42 ayat 1 (b)
penuntutan. pengabaian ini dikoreksi dengan kalimat
“komando militer tersebut tidak melakukan
Konsep tentang tanggung jawab komando tindakan yang layak dan diperlukan dalam
ini, seperti halnya konsep tentang kejahatan ruang lingkup kekuasaannya untuk mencegah
terhadap kemanusiaan juga mengalami dan menghentikan perbuatan tersebut, …”
distorsi dalam perumusan di UU No. 26 namun tidak ada definisi dan batasan yang
Tahun 2000 ini. Pengertian tanggung jawab tegas tentang apa yang “layak” dan “perlu”
komando dalam Pasal 42 ayat 1 dilakukan oleh penanggung jawab
menyatakan : komando.44

“Komandan militer atau seseorang yang 43 Lihat Progress Report pemantauan

secara efektif bertindak sebagai komandan pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28
militer dapat dipertanggungjawabkan Januari 2003.
44 Batasan definitif tanggung jawab
terhadap tindak pidana yang berada di
komando yang kabur ini juga diulangi pada

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 25


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

dengan melihat juga orang/pejabat lain


Selain itu, pasal ini berimplikasi pada yang setara dengan tertuduh.
pengadilan terpaksa menekankan fokus
perhatiannya pada proses, yaitu apakah Pasal 7 (3) Statuta ICTY juga secara
tindakan yang dilakukan sudah layak atau interpretatif mencerminkan standar
tidak, apakah perlu atau tidak (obligation of kebiasaan internasional tersebut. Pasal
conduct), dan secara otomatis mengabaikan tersebut mengakui adanya
pada kenyataan apakah tindakan yang pertanggungjawaban pidana jika seseorang
diambil oleh penanggung jawab komando “mengetahui atau mempunyai alasan untuk
berhasil mencegah dan menghentikan tahu” (knew or had reason to know) kelakuan
kejahatan atau tidak (obligation of result). bawahannya. Kalimat ini berkaitan dengan
Padahal, selain harus bertanggung jawab adanya kegagalan untuk mencegah suatu
jika menjadi pelaku langsung, penganjur, kejahatan atau menghalangi tindakan yang
atau penyerta, seorang atasan seharusnya melanggar hukum yang dilakukan oleh
juga bertanggung jawab secara pidana atas bawahannya atau menghukum mereka
kelalaian melaksanakan tugas (dereliction of yang telah melakukan tindak pidana.
duty) dan kealpaan (negligence). Standar Meskipun pasal ini memfokuskan pada
hukum kebiasaan internasional untuk keadaan dimana seorang bawahan akan
“kealpaan” dan “kelalaian” dalam arti yang melakukan suatu tindak pidana atau telah
luas menyatakan bahwa seorang atasan melakukannya, tidak ada indikasi bahwa
bertanggung jawab secara pidana jika : (1) ia tanggung jawab pidana tersebut akan
seharusnya mengetahui (should have had dihilangkan jika ada tindakan yang telah
knowledge) bahwa pelanggaran hukum telah dilakukan oleh si atasan namun
dan atau sedang terjadi, atau akan terjadi pelanggaran/kejahatan oleh bawahan tetap
dan dilakukan oleh bawahannya; (2) ia terjadi.46
mempunyai kesempatan untuk mengambil
tindakan; dan (3) ia gagal mengambil Perlindungan korban dan saksi
tindakan korektif yang seharusnya
dilakukan sesuai keadaan yang ada atau Pasal 34 UU No. 26 Tahun 2000 adalah pasal
terjadi saat itu.45 Tentang apakah seseorang yang secara tegas menyatakan adanya
tersebut “seharusnya mengetahui” harus perlindungan korban dan saksi. Setiap
diuji sesuai keadaan yang terjadi dan korban dan saksi dalam pelanggaran HAM
yang berat berhak atas perlindungan fisik
Pasal 42 ayat 2 yang mengatur tentang tanggung dan mental dari ancaman, gangguan, teror,
jawab atasan (polisi dan pejabat sipil). dan kekerasan dari pihak manapun.
45 Lihat artikel Jordan J. Paust “Superior
Perlindungan ini wajib dilaksanakan oleh
Orders and Command Responsibility” dalam M aparat penegak hukum dan aparat
Cherif Bassiouni (ed.), International Criminal Law, keamanan secara cuma-cuma. Pasal ini
Volume I, Kluwer International, 1999, hal 236- mengamanatkan adanya peraturan
237; Lihat juga artikel Anthony D’Amato, pemeritah tentang perlindungan saksi dan
Superior Orders vs Command Responsibility, korban.
American Journal of International Law, edisi 80
(1986), hal. 604, 607-608; Penjelasan yang lebih
panjang lebar dapat dilihat pada tulisan William 46 Seperti yang ditegaskan kembali

Eckhardt, Command Criminal Responsibility: A Plea dalam Laporan Sekjen PBB tentang Resolusi
for a Workable Standard, Military Law Review, Konflik Keamanan 808, UN Doc. S/25704 (1993)
edisi 97 (1982). Lihat progress report pemantauan paragraf 56. Lihat progress report pemantauan
pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28 pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28
Januari 2003. Januari 2003.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 26


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

Peraturan pemerintah No. 2 tahun 2002 (PP) identitas bagi saksi ataupun korban yang
tentang tata cara perlindungan saksi dan akan ikut program perlindungan saksi.
korban Pelanggaran HAM yang berat
mengatur tentang mekanisme pemberian Jika dibandingkan dengan perlindungan
perlindungan. PP ini menegaskan kembali saksi dan korban seperti yang tertuang
bahwa setiap korban dan saksi dalam kasus dalam Statuta Roma 1998, maka pengaturan
pelanggaran HAM berat berhak tentang perlindungan saksi dan korban
mendapatkan perlindungan dari aparat dalam UU No. 26 Tahun 2000 dan PP No. 2
penegak hukum dan aparat keamanan dan Tahun 2000 belum memadai. Dalam Statuta
perlindungan ini diberikan sejak tahap Roma pengaturan tentang perlindungan
penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan saksi dan korban meliputi :
atau pemeriksaan di sidang pengadilan
yang meliputi sidang Pengadilan Negeri, 1. Adanya tindakan dari mahkamah untuk
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. mengambil tindakan secukupnya untuk
melindungi keselamatan, kesejahteraan
Bentuk-bentuk perlindungan yang dapat fisik dan psikologis martabat dan
diberikan adalah perlindungan keamanan privasi para korban.47
pribadi korban atau saksi dari ancaman fisik 2. Adanya metode persidangan in camera
dan mental, perahasiaan identitas korban atau memperbolehkan pengajuan bukti
atau saksi dan pemberian keterangan pada dengan sarana elektronika atau sarana
saat pemeriksaan di sidang pengadilan khusus lainnya. Tindakan-tindakan ini
tanpa bertatap muka dengan tersangka. Tata secara khusus harus dilaksanakan
cara pemberian perlindungan dapat dalam hal seorang korban kekerasan
dilakukan atas permohonan dari korban seksual atau seorang anak yang menjadi
atau saksi maupun oleh inisiatif aparat korban atau saksi.48
penegak hukum. Permohonan untuk 3. Adanya unit korban dan saksi khusus
mendapatkan perlindungan sesuai dengan dalam kepaniteraan dimana adanya staf
tahapan perkara, artinya saksi atau korban yang mempunyai keahlian mengatasi
dapat mengajukan permohonan kepada trauma termasuk staf dengan keahlian
pihak-pihak pada saat pihak tersebt mengatasi trauma yang terkait dengan
mempunyai kewenangan terhadap saksi kejahatan seksual. Unit khusus ini
dan korban. pada tahap penyelidikan mempunyai tugas untuk :
permohonan dapat diajukan ke Komnas
HAM, pada tahap penyidikan dan a. Menyediakan langkah-langkah
penuntutan permohonan kepada jaksa perlindungan dan pengaturan
penuntut umum demikian juga pada saat keamanan.
pemeriksaan pengadilan permohonan dapat b. Menyedikan jasa nasehat dan
diajukan ke pengadilan. Para instansi yang bantuan yang perlu bagi saksi,
diminta permohonannya tersebut kemudian korban yang menghadap di depan
menindaklanjuti dengan menyampaikan ke mahkamah dan orang-orang lain
aparat keamanan. yang mungkin terkena resiko
karena kesaksian yang diberikan
Kelemahan yang mendasar dari oleh saksi tersebut.
perlindungan korban dan saksi ini adalah
tidak ada standar atau prosedur yang baku
mengenai pelaksanaan perlindungannya.
Sampai saat ini tidak ada petunjuk
47 Pasal 68 huruf 1 Statuta Roma 1998.
pelaksanaan untuk proses perahasiaan
48 Pasal 68 huruf 2 Statuta Roma 1998.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 27


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

c. Memberi nesehat kepada jaksa jawabnya. Restitusi adalah ganti kerugian


penuntut umum dan mahkamah yang diberikan kepada korban atau
mengenai hal-hal pada point a dan keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga
b.49 dimana restitusi dapat berupa penggantian
harta milik, pembayaran ganti kerugian
4. Adanya tindakan untuk menahan bukti untuk kehilangan atau penderitaan dan
dan informasi tertentu dan digantikan penggantian biaya untuk tidakan-tindakan
dengan suatu ikhtisar yang dilakukan tertentu. Rehabilitasi adalah pemulihan pada
oleh jaksa penuntut sebelum kedudukan semula, misalnya kehormatan,
dimulainya persidangan karena adanya nama baik, jabatan, atau hak-hak lain.
kekhawatiran bahwa informasi tersebut
akan menimbulkan bahaya yang gawat Pemerintah kemudian mengeluarkan
bagi korban dan saksi.50 peraturan pemerintah tentang kompensasi,
5. Adanya mekanisme kesaksian viva voce restitusi dan rehabilitasi bagi korban
(lisan) atau kesaksian terekam dari pelanggaran HAM yang berat dengan PP
seorang saksi dengan sarana teknologi No. 3 Tahun 2002. PP ini lebih banyak
video atau audio, maupun diajukannya mengatur tentang mekanisme pemberian
dokmen atau transkrip tertulis.51 kompensasi, restitusi dan rehabilitasi.
Pemberian kompensasi, restitusi dan
Kompensasi, restitusi dan rehabilitasi rehabilitasi ini harus dilaksanakan secara
tepat, cepat dan layak dimana pemberian
Kompensasi, restitusi dan rehabilitasi kompensasi dan rehabilitasi dilakukan oleh
terhadap korban pelanggaran HAM yang instansi terkait berdasarkan keputusan yang
berat juga diatur oleh UU No. 26 Tahun telah mempunyai kekuatan hukum yang
2000 dalam Pasal 35. Dalam ketentuan ini tetap. Pemberian restitusi dilakukan oleh
yang juga berhak memperoleh kompensasi, pelaku atau pihak ketiga berdasarkan
restitusi dan rehabilitasi adalah korban dan perintah yang tercantum dalam amar
ahli waris dari korban pelanggaran HAM putusan.
yang berat tersebut. Kompensasi, restitusi
dan rehabilitasi dalam Pasal 35 Ketentuan mengenai dicantumkannya
mensyaratkan harus dicantumkan dalam masalah kompensasi, restitusi dan
amar putusan pengadilan HAM, hal ini rehabilitasi dalam amar putusan ini sesuai
berarti bahwa putusan tentang adanya dengan kewenangan memeriksa dan
kompensasi, restitusi dan rehabilitasi memutus pengadilan HAM. Persoalannya
bersamaan dengan putusan tentang adalah jika keputusan mengenai
pelanggaran HAM berat yang menjadi kompensasi, restitusi dan rehabilitasi ini
pokok perkaranya. harus dicantumkan dalam amar putusan
pengadilan HAM maka dalam tuntutan juga
Kompensasi adalah ganti kerugian yang seharusnya dicantumkan tentang
diberikan oleh negara, karena pelaku tidak permohonan kompensasi, restitusi dan
mampu memberikan ganti kerugian rehabilitasi bagi korban. Mekanisme ini
sepenuhnya yang menjadi tanggung tidak diatur secara khusus dan jika landasan
yuridis yang digunakan adalah KUHAP
maka tidak dapat digunakan karena
49 Pasal 43 huruf 6 Statuta Roma 1998 pengaturan yang berbeda kecuali terhadap
50 Pasal 68 huruf 5 Statuta Roma 1998.

51 Pasal 69 huruf 2 Statuta Roma 1998.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 28


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

permintaan restitusi.52 Ketentuan mengenai undang-undang ini tidak berlaku ketentuan


kompensasi, restitusi dan rehabilitasi dalam mengenai daluarsa. Ketentuan ini
UU No. 26 Tahun 2000 dan dijabarkan menyatakan bahwa asas daluwarsa tidak
dalam PP No. 3 Tahun 2002 ini seolah-olah berlaku bagi tindak pidana dalam yurisdiksi
memberikan pemulihan bagi korban tetapi pengadilan HAM (non aplicability of statute of
secara yuridis sangat susah untuk limitations). Ketentuan ini berbeda dengan
diaplikasikan. ketentuan tindak pidana biasa seperti yang
diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum
Hambatan yuridis yang berkenaan dengan Pidana (KUHP). Pasal 78 KUHP mengatur
hak atas kompensasi, restitusi dan tentang kadaluarsa yang bisa
rehabilitasi bagi para korban ini terletak menggugurkan tindak pidana.
pada prosedur pengajuan atas kompensasi,
restitusi dan rehabilitasi. Pengalaman Tidak berlakunya asas daluarsa dalam UU
pengadilan HAM ad hoc Tanjung Priok No. 26 Tahun 2000 ini berarti bahwa segala
menunjukkan bahwa kompensasi, restitusi tindak pidana yang masuk dalam yurisdiksi
dan rehabilitasi bisa diberikan kepada pengadilan HAM akan selalu bisa dilakukan
korban tetapi karena tidak ada pengajuan penuntutan. Negara, dalam hal ini pihak
tentang berapa kompensasi, restitusi dan penyelidik dan penyidik tidak dapat
rehabilitasi yang diminta oleh korban, menyatakan bahwa suatu tindak pidana
dalam amar putusan hanya dijelaskan yang masuk yurisdiksi pengadilan ham
bahwa kompensasi, restitusi dan rehabilitasi gugur dan tidak dapat dituntut karena
untuk korban dan dilaksanakan sesuai melampaui jangka waktu yang ditentukan.
ketentuan perundang-undang yang Sampai kapanpun, sepanjang dapat
berlaku. Keputusan ini adalah keputusan
53 diperoleh bukti-bukti kuat, penuntutan
pertama kali tentang kompensasi, restitusi terhadap terjadinya pelanggaran HAM yang
dan rehabilitasi kepada korban pelanggaran berat dapat dilakukan.
HAM.

Ketentuan mengenai tidak berlakunya asas


daluwarsa

Pasal 46 UU No. 26 Tahun 2000


menyatakan bahwa pelanggaran HAM
yang berat sebagaimana diatur dalam

52 KUHAP tidak mengatur tentang


adanya kompensasi dan rehabilitasi bagi korban.
Rehabilitasi dalam KUHAP ditujukan kepada
seorang tersangka atau terdakwa yang
dibebaskan. Sedangkan ketentuan KUHAP yang
bisa digunakan adalah ketentuan mengenai
restitusi karena korban juga berhak
mendapatkan restitusi.

53
Lihat putusan pengadilan HAM ad hoc
atas nama Mayjend (Purn) R.A. Butar-butar
yang divonis 10 tahun penjara dan ada putusan
mengenai kompensasi, restitusi dan rehabilitasi
kepada korban. Putusan dibacakan pada tanggal
26 Maret 2004.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 29


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

III. PENGADILAN HAM AD HOC


Pengadilan HAM ad hoc adalah pengadilan
yang dibentuk khusus untuk memeriksa
dan memutus perkara pelanggaran HAM
yang berat yang dilakukan sebelum adanya
UU No. 26 Tahun 2000.

Hal inilah yang membedakan dengan


pengadilan HAM permanen yang dapat
memutus dan mengadili perkara
pelanggaran HAM yang berat yang terjadi
setelah diundangkannya UU No. 26 Tahun
2000.

Kasus pelanggaran HAM yang berat yang


terjadi di Indonesia misalnya untuk kasus
pelanggaran HAM di Tanjung Priok dan
Timur-timur dapat diselesaikan melalui
pengadilan HAM ad hoc ini. Sampai saat ini
sudah berdiri pengadilan HAM ad hoc untuk
kasus pelanggaran HAM yang berat yang
terjadi di Timor-timur dan Tanjung Priok.54

Pengalaman pengadilan HAM ad hoc


menunjukkan bahwa penerapan ketentuan
dalam UU No. 26 Tahun 2000 tidak dapat
diaplikasikan secara konsekuen karena
pengaturan yang lemah. Di samping itu
terobosan hukum juga banyak dilakukan
oleh majelis hakim yang menangani perkara
pelanggaran HAM di Timor-timur ini.

54 Selain dua pengadilan HAM ad hoc

tersebut, saat ini juga telah dilakukan pengadilan


HAM untuk kasus pelanggaran HAM yang
terjadi di Abepura, Papua. Sidang pertama
dilakukan pada tanggal 7 Mei 2004.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 30


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

1. Legitimasi Berdirinya
Legitimasi atas adanya pengadilan HAM ad 2. Adanya dugaan pelanggaran HAM
hoc didasarkan pada Pasal 43 UU No. 26 yang berat atas hasil penyelidikan
tahun 2000. Ayat (1) menyatakan bahwa Komnas HAM.
pelanggaran HAM berat yang terjadi 3. Adanya hasil penyidikan dari Kejaksaan
sebelum diundangkannya undang-undang Agung.
ini, diperiksa dan diputus oleh pengadilan 4. Adanya rekomendasi DPR kepada
HAM ad hoc. Ayat (2) menyatakan bahwa pemerintah untuk mengusulkan
pengadilan HAM ad hoc sebagaimana pengadilan HAM ad hoc dengan tempos
dimaksud dalam ayat 1 dibentuk atas usul dan locus delicti tertentu.
Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan 5. Adanya keputusan presiden (Keppres)
peristiwa tertentu dengan keputusan untuk berdirinya pengadilan HAM ad
presiden. Ayat (3) menyatakan bahwa hoc.
pengadilan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) berada dalam pengadilan umum. Ketentuan Pasal 43 UU No. 26 Tahun 2000
Dalam penjelasannya, Dewan Perwakilan tidak mengatur secara jelas mengenai alur
Rakyat yang juga sebagai pihak yang atau mekanisme bagaimana sebetulnya
mengusulkan dibentuknya pengadilan proses perjalanan pembentukan pengadilan
HAM ad hoc mendasarkan usulannya pada HAM ad hoc setelah adanya penyelidikan
dugaan terjadinya pelanggaran HAM yang dari Komnas HAM tentang adanya
berat yang dibatasi pada locus delicti dan pelanggaran HAM yang berat. Pengalaman
tempos delicti tertentu yang terjadi sebelum pengadilan HAM ad hoc untuk kasus
diundangkannya undang-undang ini. pelanggaran HAM berat di Timor-timor
menjelaskan bahwa mekanismenya adalah
Ketentuan tentang adanya bebarapa tahap Komnas HAM melakukan penyelidikan lalu
untuk diadakannya pengadilan HAM ad hasilnya diserahkan ke kejaksaan agung,
hoc terhadap kasus pelanggaran HAM yang Kejaksaan agung melakukan penyidikan.
berat yang berbeda dengan pengadilan Hasil penyidikan diserahkan ke Presiden.
HAM biasa. Hal-hal yang merupakan syarat Presiden mengirimkan surat ke DPR lalu
adanya pengadilan HAM ad hoc yaitu : DPR mengeluarkan rekomendasi.
Kemudian Presiden mengeluarkan keppres
1. Dugaan adanya pelanggaran HAM ad yang melandasi dibentuknya pengadilan
hoc yang terjadi sebelum Tahun 2000 HAM ad hoc.
atau sebelum disyahkannya UU No. 26
Tahun 2000.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 31


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

Skema alur pengadilan HAM ad hoc

Surat ke DPR
Komnas HAM 1 1 2
Jaksa Agung 2 3
Presiden DPR
penyelidikan penyidikan

4
Penuntutan
Rekomendasi /usulan
6 5

Pengadilan HAM ad hoc Keppres Pengadilan HAM ad hoc

Dari proses menuju pengadilan HAM ad hoc Dalam pengadilan HAM ad hoc untuk kasus
ini, sorotan yang paling tajam adalah pelanggaran HAM yang berat yang terjadi
adanya kewenangan DPR untuk dapat di Timor-timur juga melalui mekanisme
mengusulkan adanya pengadilan HAM ad dalam Pasal 43 UU No. 26 Tahun 2000.
hoc. DPR sebagai lembaga politik dianggap Langkah pertama adalah adanya
sebagai pihak yang dapat menentukan penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas
untuk mengusulkan adanya pengadilan HAM sesuai dengan ketentuan dalam Perpu
HAM ad hoc untuk pelanggaran HAM yang No. 1 Tahun 1999 mengenai pengadilan
berat di masa lalu karena pelanggaran HAM HAM. Dalam perpu ini dinyatakan pihak
yang berat tersebut lebih banyak bernuansa yang berwenang melakukan penyelidikan
politik sehingga lembaga politik yang adalah Komnas HAM, terutama dalam hal
paling cocok adalah DPR. Adanya kejahatan terhadap kemanusian. Komnas
ketentuan ini oleh sebagian kalangan HAM kemudian untuk penyelidikan
dianggap sebagai kontrol atas adanya membentuk KPP-HAM yang memiliki
pengadilan HAM ad hoc sehingga adanya ruang lingkup tugas yaitu mengumpulkan
pengadilan HAM ad hoc untuk kasus fakta dan mencari berbagai data, informasi
pelanggaran HAM berat di masa lalu tidak tentang pelanggaran HAM di Tim-tim yang
akan dapat dilaksanakan tanpa adanya terjadi sejak Januari 1999 sampai
usulan atau rekomendasi dari DPR. Hal ini dikeluarkannya TAP MPR yang
secara implisit sama halnya dengan mengesahkan hasil jejak pendapat. Dengan
memberikan kewenangan kepada DPR memberikan perhatian khsusus kepada
memandang pelanggaran HAM berat ini pelanggaran berat hak asasi manusia antara
dalam konteks politik dan dapat lain genocida, massacre, torture, enforced
menyatakan ada tidaknya pelanggaran displacement, crime against woman and children
HAM yang berat.55 dan politik bumi hangus. Menyelidiki

55 Adanya kewenangan DPR untuk

mengusulkan adanya pengadilan HAM ad hoc dari hasil penyelidikan komnas HAM.
inilah yang banyak menghambat proses ke arah Contohnya adalah kasus trisaksi dan semanggi
adanya pengadilan HAM ad hoc karena DPR yang sampai sekarang tidak dapat dibawa ke
menganggap tidak ada pelanggaran HAM berat pengadilan HAM ad hoc.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 32


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

tingkat keterlibatan aparatur negara dan


atau badan lain nasional dan internasional
dalam pelanggaran hak asasi manusia yang
terjadi sejak Januri 1999 di Timor-Timur.

Proses selanjutnya adalah dilakukannya


penyidikan oleh Kejaksaan Agung dari hasil
penyelidikan oleh komnas HAM. Setelah
melalui proses persetujuan DPR dari hasil
usulan sidang pleno DPR melalui keputusan
DPR-RI No 44/DPR-RI/III/2001 tanggal 21
Maret 2001 akhirnya Presiden
mengeluarkan dua buah Keppres yaitu
Keppres No. 53 Tahun 2001 dan Keppres
No. 96 Tahun 2001. Keluarnya dua buah
Keppres ini karena Keppres Nomor 53
tahun 2001, oleh pemerintah dianggap
mempunyai wilayah yurisdiksi yang terlalu
luas (tidak membatasi secara spesifik baik
wilayah maupun waktunya). Kemudian
wilayah dan waktu ini dipersempit dengan
Keppres No. 96 tahun 2001 dan yuridiksi
menjadi tiga wilayah yaitu wilayah Liquica,
Dili, dan Suai dengan batasan waktu antara
bulan April dan September 1999.56

56 Penyempitan yurisdiksi ini


menimbulkan konsekuensi serius yaitu kasus-
kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Timor
Timur dalam rentang pasca jajak pendapat tidak
semuanya dapat diungkap, termasuk para
pelakunya sehingga kesempatan untuk
membuktikan adanya unsur sistematik dan meluas
dalam kasus-kasus pelanggaran HAM yang
terjadi di Timor Timur dalam rentang antara pra
dan pasca jajak pendapat pun sedikit-banyak
terhalang. Lihat Progress Report pemantauan
pengadilan HAM ad hoc Elsam ke X. Tanggal 28
Januari 2003

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 33


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

2. Asas Retroaktif
Ketentuan yang sangat erat hubungannya Tahun 2000 ini unsur-unsurnya adalah
dengan adanya pengadilan HAM ad hoc adanya unsur sistematik atau meluas dan
adalah ketentutan mengenai berlakunya adanya kebijakan. Delik kejahatan terhadap
asas retroaktif atau asas berlaku surut. kemanusiaan dengan rumusan yang seperti
Betuk pengadilan HAM ad hoc yang dalam inilah yang dianggap sebagai delik baru
Pasal 43 UU No. 26 Tahun 2000 yang dalam hukum pidana sehingga kalau delik
berlaku untuk locus dan tempus delicti ini akan diberlakukan kepada para pelaku
tertentu mengacu pada bentuk pengadilan kejahatan terhadap kemanusiaan sebelum
internasional ad hoc, yang antara lain diundangkannya UU No. 26 Tahun 2000
memungkinkan berlakunya prinsip maka akan berlaku prinsip retroaktif.
retroaktivitas. Prinsip retroaktif ini menjadi
ketentuan yang paling banyak Kontroversi mengenai adanya prinsip
diperdebatkan karena dianggap retroaktif ini karena dalam hukum pidana
bertentangan dengan asas legalitas dalam asas kardinal yang dipegang teguh adalah
hukum pidana. asas legalitas dimana tidak ada
penghukuman tanpa adanya pemidanaan
a. Dasar pengaturan terlebih dahulu. 57 Diluar ketentuan KUHP,
larangan untuk pemberlakuan pengaturan
Asas berlaku surut ini menjadi sebuah asas yang berlaku surat juga terdapat dalam
yang paling kontroversial dalam aturan Pasal 28 I undang-undang 1945. Dalam
mengenai pengadilan HAM ad hoc ini. Pasal konvensi internasional untuk hak sipil dan
43 ayat 1 yang menyatakan bahwa politik juga dilarang digunakannya
pelanggaran HAM yang berat yang yang peraturan yang bersifat surut.
terjadi sebelum diundangkannya undang-
undang ini diperiksa dan diputus oleh Dalam UU No. 26 Tahun 2000 disinggung
pengadilan HAM ad hoc. Dalam pengaturan mengenai dasar yuridis digunakannya
mengenai kasus-kasus masa lalu sebelum prinsip retroaktif ini. Landasan yang
diundangkannya undang-undang ini tidak digunakan adalah Pasal 28 huruf j ayat (2)
memberikan batasan secara limitatif sampai yang berbunyi bahwa dalam menjalankan
tahun berapa kasus-kasus masa lalu dapat hak dan kebebasannya setiap orang wajib
diperiksa. tunduk kepada pembatasan yang
ditetapkan dengan undang-undang dengan
Seperti diketahui bahwa kejahatan terhadap maksud semata-mata untuk menjamin
kemanusiaan dan kejahatan genosida pengakuan serta penghormatan atas hak
sebelumnya memang belum dijadikan delik dan kebebasan orang lain dan untuk
tersendiri dalam hukum pidana kita. Dalam memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan
kitab undang-undang hukum pidana pertimbangan moral, nilai-nilai agama,
(KUHP) yang ada adalah kejahatan yang keamanan, ketertiban umum dalam suatu
berupa pembunuhan (murder), perampasan masyarakat demokratis. Dengan ungkapan
kemerdekaan (imprisonment), lain bahwa asas retroaktif dapat
penyiksaan/penganiayaan (torture), dan diberlakukan dalam rangka melindungi hak
perkosaan (rape) yang sifatnya biasa. asasi manusia itu sendiri. 58
Bentuk-bentuk kejahatan diatas menjadi
elemen spesifik untuk adanya kejahatan 57 Lihat Pasal 1 ayat 1 KUHP.
terhadap kemanusiaan yang membutuhkan 58 Landasan dapat diterapkannya asas
elemen umum yang dalam UU No. 26 retroaktif karena sesuai dengan Pasal 28 J ayat (2)

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 34


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

b. Argumen dapat diterapkannya asas berpihak pada kepentingan positivistik


retroaktif saja.59

Landasan legitimasi untuk dapat Dalam ketentuan Undang-undang No. 14


digunakannya asas retroaktif adalah bahwa tahun 1970 Pasal 27 membuka peluang
asas legalitas (nullum crimen sine lege) adanya rechtsvinding dengan menyatakan
mempunyai landasan fundamen moral bahwa hakim sebagai penegak hukum dan
yaitu hendak melindungi rakyat dari keadilan wajib menggali, mengikuti dan
kezaliman penguasa. Salah satu bentuk memahami nilai-nilai yang hukum yang
kezaliman itu adalah penguasa secara sadar hidup dalam masyarakat. Dalam
tidak pernah mau membuat perundang- masyarakat internasional sejak 52 tahun
undangan yang bisa mengadili dirinya yang lalu terdapat peradilan Nurenberg dan
sendiri. Dalam konteks Indonesia, telah Tokyo yang menggunakan prinsip retroaktif
begitu banyak korban kejahatan yang untuk mengadili kejahatan terhadap
kejahatan terhadap kemanusiaan yang kemanusiaan. Dengan rechtsvinding ini
dilakukan kekuasaan selama puluhan indonesia bisa merujuk nilai-nilai hukum
tahun. Tidak ada ketentuan yang masyarakat internasional, dalam hal ini
melindungi martabat kemanusiaan rakyat terdapat landasan untuk menerapkan
dan tidak ada kasus yang bisa dibawa prinsip retroaktif. 60
keperadilan. Itulah sebabnya penerapan
prinsip legalitas perlu dipertanyakan Dalam praktek peradilan internasional,
landasan moralitasnya, siapa yang perlu pada awalnya peradilan terhadap para
dilindungi, rakyat yang terus menerus pelaku kajahatan internasional (pelanggaran
menjadi korban atau penguasa yang diduga HAM yang berat) ditempuh oleh
melakukan kejahatan. masyarakat internasional dengan
membentuk ad hoc extra judicial tribunal.
Asas nullum delictum ini tidak harus berlaku Telah menjadi kesepakatan universal bahwa
secara mutlak seperti dikemukakan oleh sejak berakhirnya perang dunia ke II
penganut utilitarianisme. Dengan adanya kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan
asas ini pada hakekatnya banyak kejahatan harus diperangi dan diadili. Para pelakunya
yang perbuatannya patut dipidana tapi sedapat mungkin diadili, dan jika terbukti
tidak dapat dipidana. Pendapat Utrech yang bersalah harus dihukum, untuk
menyatakan bahwa asas nullum delictum menunjukkan bahwa jenis kejahatan ini
lebih berperspektif melindungi individu sama sekali tidak bisa ditolerir dan harus
ketimbang melindungi kepantingan kolektif dicegah dari kemungkinan berulang dimasa
dan juga asas legalitas dianggap terlalu yang akan datang. Pikiran inilah yang
mendasari dan menjadi alasan dari
pembentukan ad hoc extra judicial tribunal.
dipandang tidak sepenuhnya tepat karena Peradilan ini bersifat extra legal atau extra
perkecualian yang nampaknya didasarkan pada
judicial, karena dibentuk dengan sangat
Pasal 29 Piagam HAM PBB hanya berlaku untuk
terpaksa untuk mensiasati kekosongan
“derogable rights” dimana hak untuk tidak diadili
dengan peraturan yang berlaku surut adalan norma-norma internasional dan adanya
“non derogable rights”. Lihat Muladi, Mekanisme pertentangan antara norma internasional
Domestik untuk Mengadili Pelanggaran HAM Berat
melalui sistem Pengadilan atas Dasar UU No. 26
Tahun 2000, Makalah dalam Diskusi Panel 4 59 Bambang Wijoyanto, Problem RUU

Bulan Pengadilan HAM Kasus Tanjung Priok, Pengadilan HAM, Kompas, 2 Maret 2000.
Jakarta, 20 Januari 2004.
60 Ibid.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 35


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

dan norma nasional. Peradilan yang Setelah peradilan Nurenbeg, tidak ada ad
dibentuk adalah peradilan untuk kasus hoc tribunals yang bisa dikatakan melanggar
Nurenberg dan Tokyo. asas legalitas. Peradilan untuk eks
Yugoslavia melalui ICTY dan untuk
Dalam kasus Nurenberg Tribunal Rwanda melalui ICTR dianggap tidak
menerapkan dan mempraktekkan sifat extra melanggar asas legalitas karena semata-
legal dengan menerapkan definisi yang mata belum adanya suatu pengadilan
sangat longgar terhadap prinsip legalitas kejahatan internasional yang bersifat
dan melanggarnya. Para penjahat perang permanen sedangkan norma-norma
yang dihadapkan ke peradilan tersebut kejahatan tersebut sudah tersedia sejak
telah diadili dengan norma-norma yang adanya peradilan Nurenberg dan Tokyo.
dibuat untuk kepentingan pengadilan itu Sifat ad hoc untuk kedua peradilan baik
sendiri. Dalam hal ini berarti, norma-norma Yugoslavia maupun rwanda tidak mengatur
itu dibuat untuk melarang, dan kemudian ketentuan yang belum diatur dan
mengadili dan menghukum, terhadap diterapkan hukumnya (ex post facto law) bagi
perbuatan-perbuatan yang sudah terjadi, pelaku kejahatan tetapi karena badan
yang sebelumnya tidak dilarang (ex post peradilan yang permanen yang berpegang
facto law). Dari sini pertama kalinya pada asas legalitas belum terbentuk.62
dilakukan penyimpangan terhadap asas
legalitas dengan menerapkan prinsip Pandangan yang berbeda terdapat dalam
retroaktif.61 penerapan terhadap kejahatan kemanusiaan
sebagai salah satu bentuk kejahatan HAM
Penyimpangan terhadap asas legalitas ini yang berat. Apabila diterapkan secara
bukannnya tanpa disadari oleh para retroaktif dianggap tidak melanggar standar
pembentuknya tetapi adanya kesadaran asas legalitas dalam hukum pidana
bahwa pelanggaran terhadap asas legalitas internasional, sebab kejahatan tersebut
ini dipilih secara sadar karena suatu semata-mata merupakan perluasan
keadaan yang tidak terelakkan, dan adanya yurisdiksi (jursidiction extention) dari
komitmen yang sungguh untuk membatasi kejahatan perang (an outgrowth of war crimes)
akibatnya, komitmen untuk membatasi dan diterima sebagai hukum kebiasaan
dampak dari pelanggaran asas legalitas ini internasional (international customary law)
memberikan sifat ad hoc bagi peradilan serta telah diputuskan oleh pengadilan
tersebut. Sifat ad hoc ini mempunyai internasional yang bersifat ad hoc.
pengertian bahwa harus berakhir ketika
kasus yang ditanganinya selesai dan tidak Praktek peradilan-peradilan di atas
dapat digunakan untuk mengadili kasus- memberikan paradigma dalam
kasus lainnya. Jadi sifat ad hoc ini berfungsi perkembangan hukum yang bergeser yakni
untuk limiting the damage yang bisa adanya pandangan yang semula berpegang
diakibatkan oleh sifat extra judicial dari teguh pada nullum crimen sine lege menjadi
peradilan tersebut. nullum crimen sine iure (tiada kejahatan
tanpa penghukuman), dan yang terakhirlah
yang menjadi dasar legalitas dari hukum
pidana internasional. Prinsip ini menjadikan

61 PBHI, Pengadilan Permanen dan Prinsip

Non Retroactivity, Catatan Ke Arah Amandemen 62 PBHI, Ad Hoc Extra Judicial National

KUHP Nasional. Tribunal adalah Alternatif Paling baik, Executive


Pointers, Februari 2000.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 36


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

setiap perbuatan yang merupakan bentuk Argumen majelis hakim dalam menentukan
kejahatan internasional akan dihukum berlakunya asas retroaktif adalah apabila
walaupun belum ada hukum yang ditinjau lebih jauh lagi UU No. 26 Tahun
mengaturnya. Argumen lainnya yaitu 2000 dalam bentuk atau formatnya sejalan
bahwa nullum crimen sine lege sebenarnya dengan penyimpangan atas asas non
bukan batasan kedaulatan tetapi merupakan retroaktif berdasarkan pada preseden proses
prinsip keadilan (principle of justice) peradilan Nuremberg tahun 1946 yang
sehingga menjadi tidak adil ketika yang mengawali pengecualian atas asas legalitas.
bersalah tidak dalap dihukum dan Sementara substansi atau norma hukum
dibiarkan bebas (unpunished).63 yang diterapkan terutama yang berkaitan
dengan kejahatan genosida dan kejahatan
c. Argumen penerapannya dalam kasus terhadap kemanusiaan.
Timor-Timur
Bahwa proses peradilan Nuremberg
Dalam peradilan HAM ad hoc kasus Timor- tersebut yang menerapkan asas retroaktif
timor, keberatan terhadap diberlakukannya telah dianggap sebagai norma kebiasaan
asas retroaktif adalah karena bertentangan Internasional dan telah memiliki ciri-ciri ius
dengan UUD 1945 amandemen ke 2 (Pasal cogen yaitu norma tertinggi yang harus
28 I), bertentangan dengan Universal dipatuhi dan tidak boleh dikurangi
Declaration of Human Rights, bertentangan sehingga semua negara anggota PBB
dengan asas Legalitas dalam KUHP, dan termasuk Indonesia secara hukum terkait
bertentangan denga rasa keadilan dan untuk melaksankannya tanpa harus
kepastian hukum.64 meratifikasinya. Bahwa kemudian putusan
peradilan Nuremberg tersebut dikuatkan
melalui Resolusi PBB tanggal 11 Desember
63 Atas dasar International Customary 1946 sebagai suatu aplikasi prinsip-prinsip
Law, alasan dapat digunakan asas retroaktif hukum internasional, seterusnya diikuti
adalah 1) atas dasar principle of justice yang pula oleh Peradilan Tokyo 1948, Peradilan
artinya bahwa impunity terhadap pelaku Bekas Yugoslavia/International Criminal
pelanggaran HAM yang berat akan dirasakan Tribunal for former Yugoslavia (ICTY) 1993,
lebih tidak adil dibandingkan dengan tidak
Peradilan Rwanda/International Criminal
menerapkan asas legalitas, yang juga ditujukan
Tribunal for Rwanda (ICTR) 1995, RUU
untuk menciptakan kepastian hukum dan
keadilan, dan b) dalam hal ini tidak ada Peradilan ad hoc Khmer Merah 1999
persoalan asas legalitas, sebab tidak ada khususnya terhadap pelanggaran HAM
perundang-undangan yang baru. Yang terjadi yang berat (gross violation of human rights),
adalah penerapan hukum kebiasaan sekalipun untuk kurun waktu tertentu saja.
internasional dalam peradilan ad hoc dengan Bahwa Pemberlakuan asas retroaktif pada
locus dan tempos delicti tertentu yang sudah peradilan Nuremberg memberikan
dikenal dalam praktek hukum internasional justifikasi terhadap pengecualian asas
(Nurenberg, Tokyo, Rwanda dan Yugoslavia)
legalitas. Kemudian tentunya setelah diikuti
dalam hal ini berlaku asas nullum delictum nulla
dan diterapkan pada negara-negara
poena sine iure. Lihat Muladi, Mekanisme Domestik
untuk Mengadili Pelanggaran HAM Berat melalui sesudahnya asas retroaktif ini menjadi asas
sistem Pengadilan atas Dasar UU No. 26 Tahun legalitas untuk pengadilan-pengadilan
2000, Makalah dalam Diskusi Panel 4 Bulan sesudahnya, karena menjadi dasar hukum
Pengadilan HAM Kasus Tanjung Priok, Jakarta,
20 Januari 2004
penasehat hukum terdakwa dalam Pengadilan
64Argumen-argumen ini merupakan HAM ad hoc Timor-timur.
argumen yang dikemukakan dalam eksepsi tim

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 37


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

terhadap peristiwa pelanggaran HAM yang dalam rangka melindungi HAM itu sendiri
berat yang terjadi kemudian khususnya berdasarkan Pasal 28 J ayat (2) UUD 1945.66
kejahatan perang, kejahatan terhadap
kemanusiaan dan genosida.65 Terlepas dari pemberlakuan asas retroaktif
yang berdasarkan praktek internasional
Majelis hakim menyatakan bahwa dapat tersebut, majelis hakim juga menyatakan
diberlakukannya asas retroaktif adalah bahwa nilai keadilan lebih tinggi daripada
berdasarkan pengkajian terhadap praktek kepastian hukum terlebih-lebih perwujudan
pengadilan pidana internasional dari keadilan universal seperti dalam kasus-
praktek negara-negara sejak pengadilan kasus pelanggaran HAM yang berat tidak
penjahat perang di Nurenberg dan Tokyo mengenal ruang dan waktu. Oleh karena itu
dan pengadilan pidana internasional ad hoc dalam hal ini non retroaktif dapat
untuk Yugoslavia (ICTY) dan Rwanda dikesampingkan dan masalah ini sebagai
(ICTR), dan Kasus Adolf Eichman di aturan khusus. Argumen tentang masalah
pengadilan distrik Yerusalem ternyata asas apakah ada pertentangan antara kepastian
non retroaktif disimpangi demi tegaknya hukum dengan keadilan majelis hakim
keadilan. menyatakan bahwa apabila terjadi
pertentangan antara dua prinsip maka yang
Kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, didahulukan adalah prinsip yang dapat
dan genosida merupakan hostis human mewujudkan keadilan yang lebih nyata.67
generis (musuh bersama seluruh umat
manusia) yang termasuk dalam kejahatan
internasional sehingga di bawah yurisdiksi
universal. Berdasarkan prinsip yurisdiksi
universal ini setiap negara berhak untuk
mengadili pelaku kejahatan ini atau untuk
mengekstradisikannya ke negara atau pihak
lain yang memiliki yurisdiksi tanpa melihat
kejadian, kewarganegaraan pelaku maupun
kewarganegaraan korban.

Kejahatan terhadap kemanusiaan telah


diakui sebagai kejahatan yang
mengguncang nurani umat manusia 66 Lihat putusan sela dengan terdakwa

sehingga penghukuman terhadap pelaku Abilio Jose Osorio Soares (Mantan Gubernur
mutlak diperlukan tanpa dibatasi waktu Timor-timur) tanggal 4 April 2002.
dan tempat maka praktek internasional
telah menghapuskan batas daluwarsa
67 Argumen ini didasarkan pada
pemeriksaan sebagaimana disebutkan komparasi mengenai ukuran untuk menetukan
ada tidaknya kepastian hokum dan keadilan
dalam penjelasan UU No. 26 Tahun 2000
khusus dalam penegakan HAM yaitu nilai
menyatakan bahwa pelanggaran HAM yang keadilan tidak diperoleh melalui tingginya nilai
berat merupakan extra ordinary crime dan kepastian hukum melainkan dari keseimbangan
berdampak secara luas. Dengan ungkapan perlindungan hukum atas korban, dan pelaku
lain asas retroaktif dapat diperlakukan kejahatan dan semakin serius suatu kejahatan
maka semakin besar nilai keadilan yang harus di
pertahankan lebih dari nilai kepastian hukum.
65 Lihat Putusan sela dengan terdakwa Lihat Putusan sela dengan terdakwa M. Noer
M. Noer Muis (Mantan Komandan Korem) 164, Muis (Mantan Komandan Korem) 164, Timor-
Timor-timur. Tanggal 20 AUSTUS 2002. timur. Tanggal 20 Agustus 2002.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 38


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

3. Hukum Acara
Pasal 44 UU No. 26 Tahun 2000 melampaui ketentuan undang-undang.68
menyatakan bahwa pemeriksaan di Ketentuan tentang jangka waktu ini
pengadilan HAM ad hoc dan upaya terdapat ketidakjelasan mengenai jangka
hukumnya dilakukan sesuai dengan waktu antara penyidikan dinyatakan selesai
ketentuan dalam undang-undang ini. Hal dan kapan hasil penyidikan itu harus
ini berarti bahwa hukum acara yang diserahkan untuk dilakukan penuntutan.
digunakan dalam pengadilan HAM ad hoc Dalam UU No. 26 Tahun 2000 hanya
sama dengan ketentuan yang digunakan dinyatakan bahwa penuntutan harus
dalam pengadilan HAM yaitu diselesaikan dalam jangka waktu 70 hari
menggunakan ketentuan dalam UU No. 26 terhitung sejak tanggal hasil penyelidikan
Tahun 2000. Seperti halnya dengan diterima. Jadi UU No. 26 Tahun 2000 hanya
Pengadilan HAM, ketentuan mengenai mengatur tentang lama penyidikan dan
hukum acara yang digunakan juga mengacu lama penuntutan tetapi tidak diatur
pada Pasal 10 UU No. 26 Tahun 2000 yang mengenai kewajiban atau batasan waktu
mensyaratkan digunakannya ketentuan diserahkannya hasil penyelidikan ke
dalam KUHAP kecuali yang ditentukan penuntutan.
secara khusus dalam UU No. 26 Tahun 2000.

Hukum acara yang digunakan dalam


pengadilan HAM ad hoc dalam prakteknya 68 Lihat misalnya eksepsi dari tim
ternyata juga mengalami beberapa penasehat hukum terdakwa Leonito Martins
hambatan. Pengalaman pengadilan HAM ad (mantan Bupati Liquica) yang menyatakan
hoc untuk kasus pelanggaran HAM berat di dakwaan harus batal demi hukum karena jangka
waktu penyidikan dan penuntutan melanggar
Timor-timur bisa menjadi referensi yang
undang-undang. Argumentasi yang dibangun
dapat digunakan untuk menganalisa
adalah bahwa Pasal 22 menyatakan lama
efektivitas berlakunya. Beberapa contoh penyidikan adalah 240 hari (selama 90 hari,
penerapan hukum acara dalam proses dapat diperpanjang 90 hari dan dapat
peradilan HAM ad hoc kasus pelanggaran diperpanjang lagi selama 90 hari). Penyidikan
HAM berat di Timor–timur mengenai hal- terhadap terdakwa sudah dilakukan sejak
hal sebagai berikut : tanggal 18 April 2000 (vide surat perintah Jaksa
Agung RI No. Print-43/E/04/2000 tertanggal 18
a. Jangka waktu penyidikan dan April 2000 untuk memulai/melaksanakan
penuntutan pemeriksaan di sidang penyidikan atas pelanggaran HAM yang berat di
Timor-timur baik pra maupun pasca jajak
pengadilan
pendapat), dan dari keterangan ini penyidikan
harus sudah diselesaikan tanggal 18 Desember
Adanya limitasi jangka waktu untuk proses 2000 (240 hari). Surat dakwaan untuk penuntutan
penyelidikan dan penuntutan menjadi disusun tertanggal 19 Juni 2002, artinya ada
batasan bagi pihak penyidik dan penuntut jangka waktu yang melampai ketetuan Pasal 24
umum untuk melakukan proses penyidikan UU No. 26 Tahun 2000 tentang jangka waktu
dan penuntutan. Dalam berbagai kasus penuntutan yang lamanya 70 hari. Penasehat
yang disidangkan untuk pelanggaran HAM hukum menyatakan bahwa surat dakwaan harus
yang berat di Timor-timur ini nota dinyatakan batal demi hukum karena melebihi
jangka waktu sesuai yang ditentukan oleh
keberatan/eksepsi dari terdakwa terhadap
undang-undang dan seharusnya penyidikan
proses pemeriksaan dan penuntutan yang harus dihentikan sesuai dengan Pasal 24 ayat 4
dianggap tidak sesuai atau sudah UU No. 26 Tahun 2000 .

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 39


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

b. Jangka waktu pemeriksaan di sidang pemeriksaan saksi.71 Proses pemeriksaan


pengadilan melalui videoconference ini adalah sebetulnya
belum diatur dalam hukum acara kita
Ketentuan Pasal 31 yang menyatakan (KUHAP) tetapi majelis hakim yang
pengadilan mempunyai jangka waktu mengijinkan adanya video conference ini
selama 180 hari untuk memeriksa dan mengacu pada praktek peradilan
memutus perkara pelanggaran HAM yang internasional.72
berat ternyata juga tidak dapat diterapkan
sepenunya dalam proses peradilan HAM ad Prosedur pembuktian dan alat bukti yang
hoc ini. Beberapa majelis hakim membuat digunakan selama proses peradilan tidak
ketetapan-ketetapan untuk adanya cukup memadai. Dilihat dari alat bukti yang
perpanjangan masa persidangan ketika ditampilkan di muka persidangan tidak bisa
melewati masa 180 hari. Alasan dilihat atau menunjukkan secara pasti dan
perpanjangan ini adalah dikarenakan detail tentang terjadinya perkara. Demikian
kurangnya waktu yang diperlukan oleh pula dengan para saksi terutama saksi
majelis hakim untuk mencari kebenaran korban yang sulit menggambarkan secara
materiil.69 detail, jelas dan konkret tentang unit militer,
polisi atau sipil bersenjata, seragam dan
c. Proses pembuktian siapa yang melakukan langsung. Hal ini
pada gilirannya akan sangat sulit untuk
Selama proses pemeriksaan kesaksian mendapatkan bukti tentang adanya
terutama terhadap saksi korban “command responsibility”.
mekanismenya menggunakan pemeriksaan
biasa dalam artian saksi menghadiri
persidangan untuk memberikan
keterangannya sesuai dengan ketentuan
KUHAP. Mekanisme tentang dapat
digunkannya pemeriksaan kesaksian tanpa 71 Pemeriksaan saksi dengan
hadirnya terdakwa juga tidak pernah menggunakan videoconference ini hanya untuk
dipakai selama proses pemeriksaan terdakwa Adam Damiri, Noer Muis, Hulman
kesaksian, demikian juga dengan hak saksi Gultom, dan Soejarwo. Videocoference
dilaksanakan pada tanggal 16, 17 dan 18
dan korban untuk dirahasiakan
Desember 2002.
identitasnya.70 Proses pemeriksaan saksi
yang termasuk progresif adalah 72 Argumen yang digunakan hakim
diijinkannya videoconference untuk adalah bahwa adanya adagium bahwa hukum
itu berkembang dan cenderung tertinggal.
Hakim sebagai penegak hukum mempunyai
kewajiban untuk menggali hukumnya.
Pelanggaran HAM berat merupakan kejahatan
69 Lihat surat penentapan tentang internasional dan merupakan yurisdiksi
perpanjangan masa sidang dari majelis hakim internasional. Dimana dalam hukum
yang mengadili perkara pelanggaran HAM yang internasional media teleconference telah lazim
berat di Tim-tim untuk terdakwa Adam Damiri, digunakan. Hal ini juga sejalan dengan PP No. 2
Noer Muis, Tono Suratman, Soejarwo dan tahun 2002 tentang tata cara perlindungan
Hulman Gultom. terhadap korban dan saksi dalam pelanggaran
HAM berat yang menyatakan bahwa pemberian
70 Hal ini sesuai dengan hak-hak untuk keterangan pada saat pemeriksaan di sidang
perlindungan korban dan saksi sesuai dengan PP pengadilan tanpa bertatap muka dengan
No. 2 Tahun 2002. tersangka. Maka majelis berpendapat bahwa
media teleconference dapat digunakan.

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 40


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan bacaan
Materi : Pengadilan HAM

IV. PENUTUP
Pengaturan tentang pengadilan HAM dan dengan penjelasan mengenai unsur-unsur
pengadilan HAM ad hoc berdasarkan UU tindak pidananya (elements of crimes). UU
No. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilah
HAM. Yurisdiksi dari pengadilan HAM HAM ini juga tidak mengatur tentang
adalah untuk memeriksa dan memutus prosedur pembuktian secara khusus untuk
perkara pelanggaran HAM yang berat yaitu mengadili kejahatan yang sifatnya “extra-
kejahatan terhadap kemanusiaan dan ordinary crimes”.
kejahatan genosida. Pengadilan HAM juga
mempunyai kewenangan untuk Kelemahan-kelemahan UU No. 26 Tahun
memutuskan tentang kompensasi, restitusi 2000 dalam prakteknya menyulitkan proses
dan rehabilitasi kepada para korban peradilan HAM yang mengakibatkan
pelanggaran HAM yang berat. majelis hakim melakukan terobosan-
terobosan hukum untuk menafsirkan atau
UU No. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan menerjemahkan peraturan sesuai dengan
HAM masih banyak mengandung pertimbangan majelis hakim. Kedepan,
kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan untuk memperkuat jaminan kepastian
hambatan-hambatan yuridis dalam hukum dan pencapaian keadilan kepada
penerapan UU No. 26 Tahun 2000 tersebut. korban maka UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain Pengadilan HAM ini perlu diamandemen
tidak secara lengkap menyesuaikan tindak sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman
pidana yang diatur yaitu kajahatan pelaksanaan peradilan-peradilan HAM
terhadap kemanusiaan dan kejahatan sebelumnya.
genosida yang seharusnya juga disertai

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat, (ELSAM) 41