Anda di halaman 1dari 7

HUKUM DAN MEKANISME INTEGRASI:

Sebuah Analisa Sosiologi Kasus Pelanggaran HAM

Konsep integrasi sebenarnya tidak pernah secara jelas didefinisikan. Sosiologi


melihat konsep ini berbeda dengan yang digunakan dalam teori sosial. Dalam buku
teks Sociology, integrasi terbagi dua: kultural dan fungsional, sedangkan dalam ilmu
sosial konsep integrasi sebagian besar mengacu pada teori Talcott Parsons. The
Structure of Sociological Theory mengutarakan analisa Turner terhadap integrasi
Parsons sebagai integrasi fungsional, dimana keberadaannya tergantung pada ketiga
elemen lainnya.1
Suatu sistem terintegrasi secara fungsional ketika setiap elemen saling
berhubungan. Konflik timbul ketika terjadi ketidak seimbangan elemen. 2 Oleh karena
itu, dibutuhkan Hukum untuk menyelesaikan konflik. Indonesia sebagai negara yang
berdasar atas hukum sudah sepatutnya mampu menciptakan mekanisme integrasi
dalam masyarakat. Namun, melihat hukum yang berlaku saat ini, sangat sulit
menciptakan mekanisme integrasi yang ideal. Kekuatan politik di tanah air masih
sangat berpengaruh terhadap keputusan hukum.
Tulisan ini akan mengambil contoh salah satu kebijakan pemerintah yang
tidak berjalan sesuai fungsinya yaitu pembentukan Pengadilan HAM-Ad hoc dan
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).

Pembentukan Pengadilan HAM Ad-hoc dan KKR


Masih ingat kasus kerusuhan Mei 1998? Akibat dari kerusuhan tersebut, peta
politik di Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dulu, kebebasan
mengeluarkan pendapat yang dilindungi oleh UUD Pasal 28 sepertinya hanya bersifat
retorika semata. Bahkan, Departemen Penerangan disinyalir merupakan perpanjangan
tangan pemerintah untuk membungkam pers yang kebablasan. Kerusuhan Mei 1998
membuka pintu demokrasi yang selama ini tertutup rapat.
Sayangnya, bukan hanya pintu demokrasi saja yang terbuka akibat dari
kejadian tersebut. Banyaknya korban yang berjatuhan atas nama demokrasi
menjadikan kerusuhan Mei 1998 sebagai salah satu kasus pelanggaran HAM yang
sampai saat ini belum terselesaikan. Pembentukan Pengadilan Ham Ad-hoc dan
1
The University of Utah, Journal of Undergraduate Research, Undergraduate Research Opportunities
Program, University of Utah V 7, No 1 pp 1-9.
2
Ibid.
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi diharapkan sesuai dengan amanat rakyat yang
tercantum dalam Tap MPR No. V/MPR/2000.

Pengadilan HAM Ad-hoc


Mekanisme penyelesaian kasus yang menggunakan logika sistem yudisial
adalah tujuan dibentuknya Pengadilan HAM Ad-hoc. Mekanisme ini dibentuk
berdasarkan UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Menurut UU No. 26/2000,
proses terbentuknya pengadilan terdiri dari tiga bagian yang ideal. Pertama, Komnas
HAM melakukan penyelidikan berdasarkan pengaduan dari kelompok korban atau
kelompok masyarakat tentang satu kasus yang terjadi di masa lalu. Kedua, DPR
kemudian membahas hasil penyelidikan dari Komnas HAM dan kemudian membuat
rekomendasi kepada presiden untuk membentuk pengadilan HAM Ad-hoc. Ketiga,
Presiden kemudian mengeluarkan keputusan presiden untuk pembentukan satu
pengadilan HAM Ad-hoc.3
Pada tahap kedua dan ketiga tampak jelas bagaimana kebijakan politik dari
pemerintahan yang berkuasa memegang peranan penting. Hal ini juga akan selaras
dengan teori Parsons-Goal Attainment atau pencapaian tujuan-dimana determinasi
legislatif terhadap kebijakan politik adalah salah satu sumber utamanya.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)


Komisi ini dibentuk berdasarkan UU No. 27 tahun 2004 tentang Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi. Komisi ini bertugas untuk mengungkapkan pelanggaran
HAM yang berat di masa lalu dan melaksanakan proses rekonsiliasi nasional demi
keutuhan bangsa. Penyelesaian melalui jalur ini relatif lebih mudah dan tidak
memerlukan keputusan politik DPR. KKR merupakan sintesa baru dalam format
penyelesaian masalah pelanggaran HAM masa lalu, setidaknya sudah 20 negara
membentuk KKR.4
KKR Indonesia sejatinya bisa langsung menerima pengaduan dari masyarakat,
menerima pernyataan perdamaian untuk memperoleh amnesti karena sifatnya yang
non-yudisial. Kenyataannya, UU KKR belum memuaskan banyak pihak.
Ketidakpuasan tersebut kemudian berakhir pada putusan majelis hakim Mahkamah

3
Syaldi Sahude, Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran HAM Masa Lalu, Sebuah Harapan dan
Kenyataan, http://syaldi.wordpress.com, 2007.
4
Budiman Tanuredjo, Penyelesaian Pelanggaran HAM Era Orde Baru, http://unisosdem.org, 14 Juli
2003.
Konstitusi yaitu membatalkan UU tersebut karena dinilai bertentangan dengan UUD
1945.5 Penulis akan membahas kasus ini melalui konsep hukum dan ketertiban sosial.

Mekanisme Integrasi Talcott Parsons


Dalam teorinya yang mencakup Adaptation, Goal attainment, Integration dan
Latency (AGIL), Parsons mengemukakan bahwa untuk tercapainya integrasi, ketiga
konsep lainnya dibutuhkan sesuai dengan fungsinya. Integrasi tidak akan terjadi tanpa
adanya adaptasi (Adaptation), pencapaian tujuan (Goal Attainment) dan pola
pemeliharaan (Latency). Adaptasi sendiri dihubungkan dengan proses ekonomi,
sedangkan pencapaian tujuan banyak berhubungan dengan proses politik dan pola
pemeliharaan dengan sosialisasi.6
Dihubungkan dengan kasus pelanggaran HAM, adaptasi diperlukan ketika
terjadi benturan kepentingan antara para pihak yang berkonflik. Sayangnya, Parsons
hanya memperkenalkan satu mekanisme saja dalam penyelesaian konflik yaitu
pengadilan. Padahal, konflik semacam pelanggaran HAM tidak melulu harus
diselesaikan melalui pengadilan. Terbukti dua kasus yang telah ditangani oleh
Pengadilan HAM Ad-hoc telah menunjukkan hasil yang mengecewakan banyak
kalangan, khususnya kelompok korban.7
Selain adaptasi, masih diperlukan juga proses politik yang merupakan
perwujudan dari pencapaian tujuan. Inputnya adalah sistem hukum yang sejalan
dengan kekuasaan dalam bentuk legislatif. Hasil akhirnya berupa kebijakan politik
yang berguna untuk menyelesaikan konflik. Agar mekanisme integrasi berjalan
lancar, maka pengadilan dan legislatif harus bekerja berdampingan.8
Dalam prakteknya, yang terjadi adalah kecenderungan kerjasama yang
menyakinkan antara yudikatif dan legislatif yang membuat hukum terkesan tidak
dapat memberikan keadilan alih-alih ketertiban sosial. Implikasi pembatalan UU KKR
membuat prospek penanganan pelanggaran HAM berat menjadi sia-sia. Padahal,
amanat pembentukan KKR tercantum dalam Tap MPR yang seharusnya menjadi
dasar tertinggi dalam sistem perundang-undangan di Indonesia.9

5
Sandy Indra Pratama, UU KKR Dibatalkan, www.tempo.co.id. Kamis 7 Desember 2006.
6
Vilhelm Aubert (ed), Sociology of Law, Penguin Books, 1977.
7
Loc cit.
8
Ibid.
9
Agus Raharjo, Implikasi Pembatalan UU KKR Terhadap Prospek Penanganan Pelanggaran Berat
HAM, Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 19 No. 1, Februari 2007.
Menurut Habermas, krisis legitimasi lahir dari krisis ekonomi. Jurgen
Habermas adalah pengembang teori AGIL dari Parsons. Legitimasi merupakan output
yang lahir dari komunitas sosial meliputi kepercayaan sosial dan solidaritas.
Pengakuan yang lahir dari masyarakat terhadap pemerintah merupakan inputnya.
Dalam konteks ini, krisis ekonomi yang akan terjadi pun akan menjadi krisis politik. 10
Krisis politik pada gilirannya akan memaksa negara untuk menghimpun
berbagai resources dari sistem sosial budaya untuk memulihkan keseimbangan fungsi.
Akan tetapi karena krisis politik itu sekali lagi mencerminkan konflik kepentingan
mendasar dalam masyarakat kelas, maka mustahil menyelesaikan persoalan ini
langsung melalui mekanisme integrasi.11 Dibutuhkan kerjasama antara mekanisme
integrasi sebagai sebuah sistem dan integrasi sosial. Yang dimaksud integrasi sosial
oleh Habermas adalah komunikasi yang terjalin dalam masyarakat.12
Unsur ketiga menurut Parsons yang diperlukan agar mekanisme integrasi
dapat berjalan adalah pola pemeliharaan. Pengadilan dalam hal ini digunakan sebagai
mekanisme penyelesaian masalah. Hasil akhirnya berupa ‘keadilan’. Yang menarik di
sini adalah ketika kita mengartikan ‘keadilan’ karena ternyata ‘keadilan’ yang
dimaksud tidak sama dalam persepsi setiap orang terutama mereka yang berusaha
mendapatkannya dalam pengadilan. Oleh karena itu, Bredemeier dalam konteks ini
membatasi ‘keadilan’ sebagai ‘hak’ yang didapat seseorang.13
Namun, tidak setiap orang berhasil mendapatkan haknya. Kasus pelanggaran
HAM merupakan salah satu bukti nyata betapa eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak
menjalankan fungsinya dalam pelayanan publik. Eksekutif masih sangat bergantung
pada kekuatan politik yang mengusungnya. UU KKR diajukan pada masa
pemerintahan presiden Megawati dan dibatalkan dalam masa pemerintahan presiden
SBY. Legislatif lebih parah lagi dengan memutuskan bahwa tidak ada pelanggaran
HAM yang terjadi pada kasus-kasus kerusuhan Mei 1998. Pintu terakhir yaitu
yudikatif yang seharusnya bebas nilai, juga tidak memberi kepastian hukum. Komnas
HAM dan Kejaksaan Agung sampai tulisan ini dibuat masih menggantung kasus
tersebut.14

10
Ahmad Musthafa, Negara vs Pasar: Antara Krisis Legitimasi dan Peran Intelektual,
www.interseksi.org., 2007.
11
Ibid.
12
Loc cit.
13
Ibid.
14
Loc cit.
Hukum dan Ketertiban Sosial
Bagaimana hubungan hukum dengan ketertiban sosial? Apakah hukum
merupakan budaya universal dan harus ada? Pada umumnya orang berpendapat
demikian bahwa masyarakat modern membutuhkan sistem hukum. Hubungan hukum
dengan ketertiban sosial menurut pandangan Parsons sesuai dengan teori fungsional
sistem sosial. Hukum adalah mekanisme yang bersifat umum dari pengendalian sosial
yang bekerja secara luas dalam berbagai sektor masyarakat. Fungsi utama dari suatu
sistem hukum adalah integratif yaitu melayani dan meredakan unsur-unsur yang
berpotensi konflik dan melumasi mesin hubungan-hubungan sosial.
Bagaimana pandangan Parsons terhadap kasus pelanggaran HAM di
Indonesia? Apakah teori yang dikemukakan Parsons dapat diterapkan? Menurut
Parsons, agar suatu sistem peraturan-peraturan dan lembaga-lembaga khusus dapat
secara efektif menyediakan integrasi, maka empat hal berikut harus diatasi:
1. Legitimasi, merupakan dasar untuk ketaatan terhadap peraturan
2. Penafsiran, menetapkan hak dan kewajiban dengan menentukan penerapan
peraturan tertentu
3. Sanksi, menunjukkan sanksi apa yang akan diterapkan bagi yang mengikuti
dan melanggar dan siapa yang akan menerapkan
4. Yuridiksi, menetapkan batas-batas otoritas tempat norma hukum akan
diterapkan serta mengatur siapa saja yang akan terkena penerapan norma.
Kritik terhadap Parsons datang dari Harold Berman yang mengatakan sistem
hukum mempunyai berbagai kualitas atau kecenderungan yang menghasilkan
ketidaktertiban sosial, disintegrasi dan ketidaksinambungan. Pandangan
fungsionalisme hukum Parsons terlalu melebih-lebihkan peranan hukum sebagai
sarana integrasi. Ketika pengendalian sosial informal sudah cukup, maka penerapan
hukum materiil tidak diperlukan. Hal itu dikarenakan sistem hukum formal rentan
terhadap pengaruh kekuasaan.
Walaupun penulis kurang setuju dengan pendapat Parsons tentang hukum dan
ketertiban sosial seperti yang sudah penulis ungkapkan dalam contoh kasus
pelanggaran HAM, akan tetapi untuk menafikan hukum materiil sama sekali seperti
yang diinginkan Berman, penulis juga tidak melihat hal itu merupakan solusi bagi
permasalahan hukum di negara ini.
Menurut penulis, teori Parsons memang berlebihan jika diterapkan di
Indonesia. Sebagai contoh, dalam kasus pelanggaran HAM, dimana hukum ketika
terjadi konflik? Yang seharusnya meredakan konflik atau pun melumasi hubungan
sosial sepertinya jauh panggang dari api. Korban yang tadinya berharap banyak
terhadap terbentuknya KKR sebagai salah satu mekanisme penyelesaian konflik,
sekarang seperti kehilangan pegangan.
Memang, Parsons tidak serta merta mengatakan hukum bebas dari masalah.
Untuk terciptanya ketertiban sosial, hukum tetap harus mengatasi masalah seperti
legitimasi. Masalah yang satu ini seperti buah simalakama bagi masyarakat. Wakil
rakyat yang duduk di parlemen, dimana mereka dipilih langsung oleh rakyat, ternyata
tidak membawa suara rakyat. Selain itu, masalah terbesar dari pembatalan UU KKR
adalah perbedaan penafsiran sehingga UU tersebut turut menjadi korban.
UU KKR dinilai oleh banyak pihak menyimpang dari konsep dasarnya yaitu
memberikan arti pada suara korban secara individu, pengungkapan sejarah
sebenarnya, pendidikan dan pengetahuan publik, menuju reformasi kelembagaan,
mengembalikan hak korban serta pertanggungjawaban dari pelaku. Yang terjadi
adalah tidak adanya political will dari pemerintahan yang berkuasa, kebijakan yang
memperpanjang rantai impunitas, kendala di sistem peradilan di antara institusi yang
berwenang dan usaha pembungkaman oleh para pelaku.15
Kendala paling sulit dari integrasi yang dikemukakan Parsons menurut penulis
adalah masalah yuridiksi. UU KKR mengatur bahwa pelanggaran HAM yang berat
yang telah diungkapkan dan diselesaikan oleh KKR, perkaranya tidak dapat diajukan
lagi kepada pengadilan HAM Ad-hoc. Selain itu, terdapat yuridiksi yang tumpang
tindik dalam hal penyelidikan antara Komnas HAM, Kejaksaan Agung dan DPR.
Pansus bentukan DPR memutuskan tidak ada pelanggaran HAM, akan tetapi Komnas
HAM menganggap putusan pansus sebagai putusan politik kemudian membentuk
Komisi Penyelidikan terhadap Pelanggaran (KPP) tersendiri. Sayangnya, KPP
bentukan Komnas HAM tidak direspon dengan baik oleh Kejaksaan Agung sehingga
sampai saat ini kasus tersebut belum memenuhi titik temu.
Bagaimana dengan pendapat Berman? Walau pun sistem hukum formal rentan
terhadap pengaruh kekuasaan, penulis masih melihat perlunya hukum materiil.
Sebagai contoh, jika dalam kasus pelanggaran HAM, sudah jelas bahwa UU KKR
dibatalkan sehingga mekanisme yang ada hanya pengadilan HAM Ad-hoc.
Bagaimana jika korban tidak mendapat keadilan dalam mekanisme pengadilan HAM
Ad-hoc tersebut? Menurut penulis, dengan adanya hukum materiil seperi Kitab
15
Loc cit.
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), maka setidaknya ada peluang bagi korban
untuk mendapat keadilan melalui pintu lain.

Penutup
Konsep integrasi sebenarnya tidak pernah secara jelas dinyatakan dalam
literatur ilmiah.16 Seperti Bredemeier, membahas integrasi dengan
menghubungkannya terhadap tiga konsep Parsons lainnya. Bagaimana aplikasinya
dalam negara Indonesia sendiri sepertinya masih jauh dari ideal. Perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk melihat keberhasilan hukum dalam menciptakan
mekanisme integrasi dan ketertiban sosial.
Dari pemaparan kasus pelanggaran HAM di atas, terlihat jelas bahwa harapan
untuk menyelesaikan pelanggaran HAM di masa lalu semakin jauh dari kenyataan.
Mekanisme yang dibuat pemerintah justru terkadang menjadi proses impunitas bagi
para pelaku. Masalah yang menghadang proses tersebut begitu banyak dan sangat
politis sifatnya. Kelompok korban dan masyarakat masih membutuhkan suatu
terobosan untuk merebut keadilan.

16
Loc cit.