Anda di halaman 1dari 12

PENATALAKSANAAN FRAKTUR TERTUTUP

Prinsip tatalaksana untuk fraktur meliputi tindakan manipulasi untuk memperbaiki


posisi fragmen, diikuti pembebatan untuk mempertahankannya bersama sebelum semua
fragmennya menyatu, lalu melakukan tindakan rehabilitasi guna menjaga fungsi

dan

pergerakan sendi. Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebanan fisiologis pada tulang
sehingga dianjurkan melakukan aktivitas otot dan penahanan beban lebih awal. Secara
umum, komponen tatalaksana untuk fraktur tertutup meliputi :
a. Reduce (Reduksi)
b. Hold (Mempertahankan)
c. Exercise (Latihan).
Masalahnya adalah bagaimana cara menahan fraktur secara memadai sambil tetap
menggunakan tungkai secukupnya, hal ini menjadi pertentangan antara penahanan lawan
gerakan yang perlu dicari jalan keluarnya secepatnya oleh tenaga medis (semisal dengan
fiksasi internal), tetapi dia juga ingin menghindari risiko yang tak perlu, hal ini menjadi
pertentangan antara kecepatan dan keamanan. Adanya dua konflik ini menggambarkan
empat faktor utama dalam penanganan fraktur (kuartet fraktur).

Gambar 1. Kuartet Fraktur


Yang perlu digarisbawahi untuk fraktur tertutup adalah hubungan fraktur dengan
jaringan sekitarnya yaitu jaringan lunak di sekitar lokasi fraktur. Tscherne (1984) mencoba
mengklasifikasikan fraktur tertutup menjadi :
a. Grade 0 : fraktur ringan tanpa kerusakan jaringan lunak
b. Grade 1 : fraktur dengan abrasi superfisial atau memar pada kulit dan jaringan subkutan
c. Grade 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio di jaringan lunak bagian dalam dan
terdapat pembengkakan
d. Grade 3 : fraktur tertutup terberat dengan ancaman terdapat sindrom kompartemen.

Semakin berat cedera yang terjadi akan lebih membutuhkan bentuk fiksasi mekanik
tertentu.
A. Reduce (Reduksi)
Meski terapi umum dan resusitasi harus selalu didahulukan, tidak boleh ada
keterlambatan dalam menangani fraktur, pembengkakan jaringan lunak selama 12 jam
pertama akan mempersulit reduksi. Akan tetapi, terdapat beberapa kondisi yang tak
memerlukan reduksi, yaitu :
1. Bila pergeseran tidak banyak atau tidak ada
2. Bila pergeseran tidak berarti (semisal fraktur clavicula)
3. Bila reduksi tampaknya tidak berhasil (semisal fraktur kompresi vertebrae).
Penjajaran (alignment) fragmen lebih penting daripada aposisi, asalkan diperoleh
penjajaran yang normal. Yang menjadi pengecualian adalah fraktur yang melibatkan
permukaan sendi dimana ini harus direduksi sesempurna mungkin agar tidak
menimbulkan arthritis degeneratif.

Gambar 2. Reduksi Tertutup


Sejauh ini sudah diketahui ada dua metode reduksi yaitu :
a) Reduksi Tertutup
Penggunaan anestesi dan relaksasi otot yang tepat, memudahkan proses reduksi
melalui tiga tahap manuver yaitu : (1) bagian distal ditarik ke garis tulang, (2)
sementara fragmen terlepas, fragmen tersebut direposisi (dengan membalikkan arah
kekuatan asal kalau ini dapat diperkirakan), (3) penjajaran disesuaikan di setiap
bidang.
Cara ini efektif bila periosteum dan otot pada satu sisi fraktur tetap utuh, pengikatan
jaringan lunak mencegah reduksi yang berlebihan dan menstabilkan fraktur setelah
direduksi. Beberapa fraktur sulit direduksi dengan manipulasi (seperti fraktur batang

femur) karena tarikan otot sangat kuat dan membutuhkan traksi yang lama. Reduksi
tertutup digunakan untuk semua fraktur dengan pergeseran minimal, pada fraktur
yang terjadi pada anak-anak dan pada fraktur yang stabil setelah reduksi.
b) Reduksi Terbuka
Reduksi bedah pada fraktur dilakukan atas indikasi :
1) Bila reduksi tertutup gagal, baik karena kesukaran mengendalikan fragmen atau
karena terdapat jaringan lunak di antara fragmen-fragmen itu
2) Bila terdapat fragmen artikular yang cukup besar yang perlu ditempatkan secara
tepat
3) Bila terdapat fraktur traksi yang fragmennya terpisah.
Biasanya reduksi terbuka merupakan langkah awal untuk melakukan fiksasi internal.
B. Hold (Mempertahankan Reduksi)
Kata imobilisasi untuk poin jarang digunakan karena sebenarnya tindakan yang
dilakukan merupakan pencegahan pergeseran. Namun pembatasan gerakan tertentu
diperlukan untuk membantu penyembuhan jaringan lunak dan memungkinkan gerakan
bebas pada bagian yang tidak terkena.
Metode yang tersedia untuk mempertahankan reduksi adalah sebagai berikut.
1) Traksi
2) Pembebatan Gips
3) Pemakaian Penahan Fungsional
4) Fiksasi Internal
5) Fiksasi Eksternal
Otot di sekeliling fraktur kalau utuh bertindak sebagai kompartemen cair; traksi atau
kompresi menciptakan efek hidrolik yang dapat membebat fraktur. Karenanya metode
tertutup cocok untuk fraktur dengan jaringan lunak yang masih utuh dan cenderung gagal
bila digunakan untuk fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat.
Kontraindikasi lain untuk metode non-operasi adalah fraktur yang sifatnya tidak stabil,
fraktur ganda, dan fraktur pada pasien yang tidak kooperatif.
1. Traksi
Adalah alat imobilisasi yang menggunakan kekuatan tarikan yang diterapkan pada
suatu bagian distal anggota badan dengan tujuan mengembalikan fragmen tulang ke
tempat semula.
Traksi dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
a) Traksi terus-menerus
Traksi dilakukan pada tungkai di bagian distal femur supaya melakukan tarikan
terus menerus pada poros panjang tulang itu. Cara ini berguna untuk fraktur
batang yang bersifat oblique atau spiral yang mudah tergeser oleh kontraksi otot.
Traksi tidak dapat menahan fraktur tetap diam, traksi dapat menarik tulang
panjang secara lurus dan mempertahankan panjangnya tetapi reduksi yang tepat

kadang susah dipertahankan. Sementara itu pasien dapat menggerakkan sendinya


dan melatih ototnya.
b) Traksi dengan gaya berat
Digunakan pada cedera tungkai atas. Karenanya bila menggunakan kain
penggendong lengan, berat lengan akan memberikan traksi terus-menerus pada
humerus, untuk kenyamanan dan stabilitas, terutama pada fraktur melintang.
c) Traksi kulit
Traksi dibebankan pada kulit dan jaringan lunak. Dilakukan bila daya tarik yang
diperlukan kecil (sekitar 4-5 kg). Penggunaannya dengan ikatan elastoplast
ditempelkan pada kulit yang telah dicukur dan dipertahankan dengan suatu
pembalut. Beberapa macam traksi kulit adalah :
1) Traksi Bucks (digunakan pada fraktur femur, pelvis, dan lutut)
2) Traksi Bryants (untuk dislokasi sendi panggul pada anak)
3) Traksi Russells (untuk fraktur femur)
d) Traksi skeletal
Traksi dibebankan pada tulang pasien dengan menggunakan pin logam dan atau
kawat Kirschner, biasanya di belakang tuberkel tibia untuk cedera pinggul, paha
dan lutut, di sebelah bawah tibia atau pada kalkaneus untuk fraktur tibia. Kalau
digunakan pen, dipasang kait yang dapat berputar dengan bebas, dan tali dipasang
pada kait itu untuk menerapkan traksi. Dilakukan bila daya tarik yang diperlukan
lebih besar (1/5 dari berat badan) dan untuk jangka waktu lama.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah :
a) pada anak-anak, traksi dan pembalut melingkar dapat menghambat sirkulasi
b) pada orang yang lebih tua, traksi dapat menyebabkan cedera saraf peroneus
communis yang menyebabkan drop-foot.
c) Sindroma kompartemen yang terjadi akibat traksi berlebihan melalui pen kalkaneus.

Gambar 3. Jenis-jenis traksi


2. Bebat Gips

Penggunaan gips (plaster of paris) sebagai bebat imobilisasi yang cukup mudah dan
murah untuk dilakukan, dimana pasien juga dapat pulang lebih cepat. Biasanya
digunakan untuk fraktur tungkai distal dan untuk fraktur pada anak. Meskipun
diketahui gips ini membuat pasien kurang nyaman karena kerasnya gips dalam
mengimobilisasi jaringan di bawahnya dan kecepatan penyatuannya tidaklah lebih
baik dibandingkan dengan traksi.
Tehnik pemasangan gips :
Setelah fraktur direduksi, pasang kaus kaki pada tungkai dan tonjolan tulang
dilindungi dengan wol. Gips kemudian dipasang. Sementara gips mengeras, tenaga
medis membentuknya agar tonjolan tulang tidak tertekan. Pembebatan gips ini tidak
boleh dihentikan sebelum fraktur berkonsolidasi, kalaupun diperlukan perubahan
gips, diperlukan pemeriksaan sinar-X.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut.
a) Cetakan gips yang ketat
Pasien akan mengeluh nyeri yang difus kemudian muncul pembengkakan.
Tungkai harus ditinggikan untuk mengurangi keluhan. Kalaupun nyeri tetap ada,
penanganannya adalah melepas gips.
b) Luka akibat tekanan
Gips dapat menekan kulit pada tonjolan tulang (patella, tumit, siku) dan pasien
akan mengeluh nyeri lokal di atas tempat tekanan.
c) Abrasi kulit
Terjadi bila pelepasan gips tidak dilakukan dengan benar

Gambar 4. Pemasangan Gips


3. Pemakaian Penahan Fungsional
Penggunaan alat ini biasanya untuk fraktur femur, tibia, akan tetapi penahan ini
bersifat tidak kaku, sehingga hanya dipakai bila fraktur mulai menyatu, semisal 3-6

minggu setelah traksi atau pemasangan gips. Adapun penggunaan alat ini harus
memenuhi syarat sebagai berikut.
a) Fraktur dapat dipertahankan dengan baik,
b) Sendi dapat digerakkan,
c) Fraktur menyatu dengan kecepatan normal,
d) Memastikan metode yang dipakai itu aman.
Hal ini cukup berisiko bila pemasangan alat ini tidak oleh tenaga berpengalaman
dikarenakan dapat menyebabkan mal-union pada fraktur yang lebih besar.
Tehnik pemasangannya adalah dengan menstabilkan frakturnya terlebih dahulu
(dalam gips atau traksi), lalu dipasang alat ini yang dapat menahan fraktur tapi
memungkinkan gerakan sendi, dan selalu dianjurkan melakukan aktivitas fisik
fungsional termasuk penahanan beban.

Gambar 5. Alat Penahan Fungsional


4. Fiksasi Internal
Fragmen tulang dapat diikat dengan sekrup, pen, paku pengikat, plat logam dengan
sekrup, paku intramedular yang panjang (dengan atau tanpa sekrup pengunci), atau
kombinasinya.
Bila dipasang dengan semestinya, fiksasi internal menahan fraktur dengan aman
sehingga gerakan dapat segera dilakukan. Semakin segera gerakan dapat dilakukan,
semakin rendah pula risiko terjadinya kekakuan dan edema. Dalam hal kecepatan,
pasien dapat meninggalkan rumah sakit segera setelah luka sembuh, dikarenakan
fraktur yang terjadi sudah dipertahankan dengan jembatan logam.
Bahaya yang mungkin terjadi adalah infeksi yang dapat menyebabkan sepsis. Risiko
infeksi ini tergantung pada kebersihan luka yang dibuat pada tubuh pasien,

keterampilan tenaga medis dalam melakukan pembedahan dan jaminan asepsis saat
di ruang operasi.
Tindakan ini baru bisa dilakukan atas indikasi :
a) Fraktur yang terjadi tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi
b) Fraktur yang tidak stabil secara bawaan dan cenderung akan bergeser setelah
direduksi.
c) Fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan, terutama fraktur leher
femur
d) Fraktur patologis dimana penyakit yang mendasarinya mencegah penyembuhan
e) Fraktur multipel
f) Fraktur pada pasien yang sulit perawatannya (pasien lanjut usia, pasien
paraplegia)

Gambar 6. Fiksasi Internal


Komplikasi yang sering terjadi akibat fiksasi internal adalah infeksi, non-union
(dikarenakan terdapat gap yang cukup jauh antar sekrup yang dipasang pada plat
logam yang ditanam), kegagalan implan (dikarenakan buruknya kualitas plat logam
yang keropos) dan fraktur kembali (dikarenakan terlalu cepat melepas plat logam
yang dipasang). Waktu minimal yang dibutuhkan untuk melepas plat logam tersebut
adalah sekitar satu tahun.
Berikut ini merupakan gambaran beberapa jenis tehnik pemasangan fiksasi internal.

Gambar 7. Jenis Fiksasi Internal


(A) Screws interfragmentary compression (B) Interlocking nail & screw
(C) Flexible intramedullary nails (D) Tension-band wiring (E) Kirschner wires
(F) Dynamic compression screw & plate (G) Plate & screw
5. Fiksasi Eksternal
Fiksasi eksternal ini dilakukan atas indikasi :
a) Fraktur disertai kerusakan pembuluh darah atau saraf
b) Fraktur disertai kerusakan jaringan lunak yang hebat
c) Fraktur dengan keadaan sangat kominutif dan sangat tidak stabil
d) Fraktur disertai dengan keadaan infeksi

Gambar 8. Alat Fiksasi Eksternal


C. Exercise
Pengertian Exercise dalam konteks ini adalah suatu tindakan rehabilitatif guna
memperbaiki pergerakan sendi dan kekuatan otot agar bisa kembali menjalankan fungsi
kehidupannya seperti sedia kala.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam poin ini adalah elevasi bagian tubuh yang
mengalami fraktur dan latihan rehabilitatif aktif. Alasan mengapa elevasi ini dilakukan
guna mengurangi edema yang terjadi akibat fraktur, adapun edema yang terjadi ini dapat
menyebabkan kekakuan sendi terutama di tangan. Latihan rehabilitatif pun dilakukan
atas alasan agar membantu memompa cairan edema yang ada, menstimulasi sirkulasi,
mencegah terjadinya adhesi jaringan lunak, dan dapat mempercepat penyembuhan
fraktur. Latihan yang dimaksud disini adalah bukan latihan aktif berat, melainkan latihan
aktivitas normal yang tidak memberatkan. Adapun bila pasien tidak bisa melakukan
tindakan rehabilitatif aktif, bisa digunakan alat rehabilitatif pasif menggunakan mesin
yang dinamakan CPM (Continuous Passive Motions).

Gambar 9. Alat CPM


Seiring waktu berjalan, pasien juga harus diajarkan kembali bagaimana melakukan
kegiatan sehari-hari seperti berjalan, mandi, berpakaian, dan lain-lain. Pasien juga
diajarkan agar tidak takut menggunakan anggota tubuh yang mengalami fraktur. Adapun
dukungan keluarga cukup banyak membantu dalam proses kesembuhan pasien dan
perbaikan kualitas hidup pasien ke depannya.

Anda mungkin juga menyukai