Anda di halaman 1dari 15

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang
Sekarang ini media transportasi dan prasarananya telah sangat
berkembang.Untuk menuju suatu daerah, sekarang ini bukanlah hal yang sulit
bagi kita. Kita cukup mengakses jalan yang telah tersedia. Untuk mewujudkan
keamanan saat perjalanan, dibuatlah suatu peraturan hukum dan suatu tanda
yang harus dipatuhi yang sering disebut rambu-rambu lalu lintas. Akan tetapi,
walaupun telah dibuat suatu hukum kendaraan dan aturan sedemikian rupa
masih banyak saja terjadi kecelakaan di jalan raya. Mulai kecelakaan
antarkendaraan sampai kecelakaan antara dengan para pejalan kaki. Tidak
tanggung-tanggung, bahkan banyak di antara kecelakaan ini sampai
merenggut korban jiwa.
Banyak faktor yang melatarbelakangi kecelakaan di jalan raya. Mulai
kondisi jalan yang tidak baik, kurangnya pengadaan rambu-rambu lalu lintas,
kelalaian pengendara, kelelahan, sampai karena pelanggaran hukum dan
rambu-rambu lalu lintas. Dari sedemikian banyak faktor tersebut kecelakaan
berlalu lintas sering dipicu karena pelanggaran hukum dan peraturan berlalu
lintas.

B. Perumusan Masalah

Kecelakaan di jalan raya sudah menjadi bumbu penyedap dalam berlalu


lintas di jalan. Bahkan setiap harinya selalu saja ada kecelakaan berlalu lintas.
Tidak sedikit kecelakaan yang terjadi sampai memakan korban jiwa.
Pemerintah telah membuat suatu kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut
dalam bentuk peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Akan tetapi, masih
banyak saja kecelakaan yang terjadi. Sebenarnya apa yang sering menjadi
pemicu terjadinya kecelakaan berlalu lintas ? kenapa peraturan yang telah ada
dan rambu-rambu yang telah tersedia seolah-olah tidak bisa mengurangi
kecelakaan berlalu lintas ?

1
C. Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah :


1. Memahami faktor pemicu terjadinya kecelakaan berlalu lintas.
2. Mendorong pembaca untuk ikut mengambil tindakan dalm mengurangi
terjadinya kecelakaan berlalu lintas.
3. Mengetahui pentingnya tertib berlalu lintas dan mematuhi hukum serta
rambu-rambu yang ada.
4. Menumbuhkan kesadaran hukum dalam berlalu lintas sehingga dapat
mengurangi angka kecelakaan berlalu lintas

D. Manfaat

Adapun manfaat yang dapat dipetik dalam penyusunan makalah ini adalah :
1.Para pembaca memahami faktor pemicu terjadinya kecelakaan di jalan
raya, sehingga mereka dapat menghindari terjadinya kecelakaan saat
berkendara.
2. Secara tidak langsung mengurangi terjadinya kecelakaan di jalan raya.
3.Secara teoritis dapat menumbuhkan kesadaran hukum sehingga para
pembaca mematuhi peraturan & rambu-rambu dalam rangka menciptakan
kondisi berlalu lintas yang aman.

E. Ruang Lingkup

Hal-hal yang akan diangkat dalam penyusunan makalah ini di antaranya:


1. Angka kecelakaan berlalu lintas.
2. Hal-hal yang memicu kecelakaan jalan raya.
3. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya kecelakaan
berlalu lintas.
4. Pentingnya peraturan dan rambu-rambu lalu lintas.

2
BAB II METODE PENULISAN

A. Objek Penulisan

Obyek penulisan dalam makalah ini mencakup factor utama pemicu


kecelakaan lalu lintas, upaya yang telah diambil, dan juga mengenai tindakan
yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan
raya. Selain itu juga akan dibahas mengenai kesadaran hukum yang menjadi
faktor utama terjadinya kecelakaan.

B. Dasar Pemilihan Objek

Setiap tahun, kasus kecelakaan lalu lintas di jalan raya mengalami


peningkatan. Kebanyakan yang menjadi faktor utama pemicunya adalah
kurang arifnya para pengguna kendaraan dalam memacu kendaraannya dan
kepatuhan hukum. Sekarang ini pengguna jalan raya kerap melakukan
pelanggaran peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Mereka beranggapan
kalau peraturan yang telah dibuat oleh para otoriter tidaklah penting. Padahal
peraturan itu dibuat dibuat begitu saja tanpa pertimbangan dan tujuan
pembuatannya. Sehingga kesadaran hukum dalam lalu lintas perlu dibahas
karena kita semua juga merupakan para pengguna kendaraan.

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data yang


digunakan adalah kaji pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai
dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu dengan tema
Kesadaran Hukum. Sebagai referensi juga diperoleh dari situs web internet
yang membahas mengenai kesadaran hukum terutama yang mengkaji faktor
utama maraknya kecelakaan lalu lintas.

D. Metode Analisis

Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu


mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yang ada,
menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya,
serta mencari alternatif pemecahan masalah.

3
BAB III ANALISIS PERMASALAHAN

A.Pembahasan
Sejak zaman dahulu manusia senantiasa melakukan perjalanan jauh untuk
menuju ke suatu daerah baru yang ideal. Pada awalnya manusia melakukan
perjalanan dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan alat transportasi
sederhana yang di tarik dengan bantuan tenaga hewan, seperti sapi, kerbau,
ataupun kuda.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi manusia
menciptakan suatu alat transportasi yang lebih canggih dan cepat. Mereka juga
telah membuat suatu jalan khusus yang telah diaspal, jalan raya, dan membuat
serangkaian aturan untuk menciptakan suatu perjalanan yang aman dan nyaman.
Walaupun telah dibuat suatu jalan yang bagus, peraturan, dan rambu-
rambu yang sesuai, sekarang ini masih saja marak terjadi kecelakaan di jalan raya.
Banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya kecelakaan jalan raya. Akan
tetapi, faktor yang paling sering memicu terjadinya kecelakaan yaitu pelanggaran
peraturan dan rambu-rambu lalu lintas akibat kurangnya kesadaran hukum para
pengguna jalan.

A. Angka kecelakaan lalu lintas

Kecelakaan jalan raya sekarang ini semakin marak. Pada hakkikatnya


hanya ada 2 macam kecelakaan jalan raya, yaitu kecelakaan tunggal dan
kecelakaan beruntun. Berdasarkan data, kecelakaan meningkat setiap tahun, 2007
misalnya kasus kecelakaan mencapai 389 kasus, dengan 319 korban meninggal.
Di 2008 kecelakaan menanjak, 588 kasus dan meninggal 218 orang. Terbanyak
menggunakan sepeda motor, tanpa SIM 125 kasus dan dengan SIM C 181 kasus.
Usia produktif mendominasi, dengan 250 kasus. Sementara, beda dengan tahun-
tahun sebelumnya jumlah lakalantas di 2009 turun dibanding 2008 yakni dari 99
kasus jadi 43 atau menurun mencapai 55,56 persen. Di 2008 yang meninggal
dunia akibat kecelakaan lalulintas sebanyak 47 orang sedang 2008 turun jadi 21
orang (turun 55,31 persen), luka berat pada 2008 sebanyak 71 orang dan 2009

4
hanya 40 orang (turun 43,66 persen), luka ringan di 2008 mencapai 89 orang
sedang pada 2009 64 orang (turun 28,08 persen). Sedang pada arus mudik lebaran
tahun 2009 ini kasus kecelakaan jalan raya menurun. Tercatat ada 1437 kasus
kecelakaan lalu lintas, 1372 diantaranya merupakan kecelakaan motor, dan
tercatat ada 592 korban jiwa.

B. Faktor utama pemicu kecelakaan lalu lintas

Pada tahun 1975, Pusat Penelitian Perhubungan Darat (salah satu


Direktorat Penelitian dari Direktorat Jendral Perhubungan Darat pada waktu itu,
mengadakan suatu penelitian Keselamatan Jalan Raya yang pertama dengan kasus
Pulau Jawa, yang diketuai oleh Soedjadi sebagai Kapuslitbang dan dilaksanakan
di lapangan oleh dua orang staf peneliti, yaitu Ir. Sunaryo Joyopuspito dan Ir.
Djohan Effendi Batubara (almarhum). Dalam penelitian ini dibantu di lapangan
oleh jajaran Kepolisian Lalu Lintas dengan konterpart dari Ditlantas Polri adalah
Kapten Hilman SH.
Dalam pelaksanaan surve ini pihak Puslitbang membuat formulir survei
untuk mencatat sample data kecelakaan yang ada catatannya di setiap Polres di
Kota dan Kabupaten seluruh P. Jawa, kemudian diolah dengan komputer (pada
waktu itu kerjasama dengan ITB dengan komputer Mini S-36, masih dengan
kartu).
Ada 6 faktor utama penyebab kecelakaan, yaitu:
1.Prasana Jalan (Road)
Jalan adalah faktor yang pertama karena kejadian kecelakaan adalah di
jalan raya. Kondisi jalan yang tidak rata dan berlubang dapat memicu terjadinya
kecelakaan jalan raya.
2. Sarana kendaraan (Vehicle)
Kendaraan adalah faktor yang kedua, karena merupakan penyebab
kecelakaan yang utama. Misalnya, kendaraan yang tidak layak operasi bisa
membahayakan. Oleh karena itu, untuk kendaraan pribadi dan umum, harus
dilakukan pengujian kendaraan apa layak atau tidak beroperasi.

5
3. Manusia pengendara dan pejalan kaki (Men)
Manusia sebagai pengemudi dan pejalan kaki adalah faktor ketiga, karena
merupakan subyek kecelakaan. Faktor manusia juga sangat menentukan, misalnya
dalam keadaan mabuk, kelelahan setelah lebih dari empat jam mengemudi, cacat
fisik, rabun malam pada waktu berkendara malam, minum obat influenza hingga
menyebabkan kantuk, tidak memiliki SIM, menyeberang jalan tidak pada
tempatnya, dsb.
4. Faktor sekeliling atau cuaca (Physical Environment and Weather)
Berkendara di jalan raya dipengaruhi faktor sekelilingnya, antara lain
adalah komdisi sekeliling dan faktor cuaca. Sehingga apapun jalan yang baik dan
kendaraan yang sempurna akan sangat dipengaruhi kondiri sekeliling, misalnya
pohon yang rindang atau panas tanpa ada pohon, musim hujan yang menyebabkan
jalan menjadi basah dan licin.
5. Rambu dan Peraturan (Sign - Marking and Regulation)
Telah diupayakan agar rambu-rambu dipasang untuk dapat memperingati
pengendara agar hati-hati, misalnya jalan menikung tajam, pendangan terhalang,
jangan mendahului pada tikungan tajam, dlsb. Semua ini, rambu dan marka jalan,
dapat membantu para pengendara agar hati-hati. Di lain pihak, peraturan juga
memberi tahu bahwa jalan ini tidak cocok untuk kendaraan berat misalnya, karena
ada jurang sekitarnya.
6. Pelanggaran hukum
Dari semua faktor itu yang menjadi pemicu kecelakaan yang paling besar
adalah masalah kepatuhan hukum. Rambu dan peraturan yang seyoganya dipatuhi
malah dianggap suatu hal yang sepele dan selalu dilanggar.

C Tindakan pencegahan

Sekarang ini pemerintah melalui aparatur negara marak memberikan


informasi kecelakaan dan kampanye keselamatan jalan raya. Tidak ada perjanjian
global yang merumuskan panduan tentang keselamatan jalan raya, namun
berbagai patokan umum telah dirumuskan untuk mendapatkan kanpanye
pendidikan berlalu-lintas di jalan raya yang baik.

6
Menurut AKBP Gunawan SIK, Kasubid Gakum Ditlantas Polda Sulut,
dalam suatu dialog mengatakan bahwa tokoh masyarakat dan agama harus
mampu memberikan pencerahan dalam menanggulangi masalah ini. Mengingat,
luasnya wilayah yang harus ditangani polisi. Dengan kekuatan 639 personil lantas,
maka luas wilayah yang harus ditangani mencapai seribu kilometer per personil.
“Polisi tetap hadir mengambil tindakan represif, operasi simpatik, rekayasa lantas,
untuk membina kesadaran hukum,” jelas Gunawan, sembari berharap masyarakat
juga bisa ikut membangun Polri dengan kritik membangun.
Ady Pracoyo, Kasie Angkutan Dishub Sulut menyatakan dalam
mewujudkan keamanan dalam dunia transportasi, maka Dishub intensif
melakukan uji kelayakan kendaraan tiap enam bulan sekali, serta keselamatan
pengguna transportasi jadi tanggungjawab pengusaha, terutama membayar
asuransi.
Akhir-akhir ini pihak Ditjen Perhubungan Darat melalui Proyek
Peningkatan Keselamatan Perhubungan Darat juga telah melakukan Kampanye
Keselamatan Jalan Raya misalnya membagikan stiker dan selebaran serta
pemasangan baliho di tempat-tempat yang strategis mengenai cara pemakaian
helm yang benar, di mana dijelaskan bentuk helm standar yang aman dalam
melindungi kepala kita dan pemakaian helm yang benar, serta santun berkendara
sepeda motor. Kampanye ini disiarkan melalui media TV dan radio khususnya
bagi para pengendara sepeda motor.
Dalam perkembangan selanjutnya diharapkan agar Kampanye ini diperluas
untuk para pejalan kaki, khusus bagi anak-anak muda. Mereka perlu dijelaskan
bagaimana berjalan yang santun guna menghindari kecelakaan. Misalnya para
anak didik di sekolah taman anak-anak dijelaskan dan dibagikan video untuk
memberi penjelasan tentang berjalan di jalan raya yang aman dan santun agar
terhindar dari berbagai kecelakaan yang sewaktu-waktu dapat terjadi pada
mereka.
Berikut ini adalah kempanye keselamatan jalan raya yang sering dipakai.
1. Kampanye keselamatan jalan raya selalu mengikuti konteks strategis:
Pemasangan iklan kampanye harus dilakukan dengan koordinasi program
keselamatan jalan raya. Kampanye melalui iklan atau publikasi yang tidak saling

7
berhubungan akan memboroskan keuangan dan tidak mengenai target perbaikan
yang akan dicapai.
2. Analisa keadaan keselamatan jalan raya yang ada sekarang: keputusan bagaimana
iklan menghasilkan yang tepat berdasarkan analisa ilmiah atas keadaan lalu-lintas
dan transport jalan yang dapat diperoleh sekarang, misalnya: statistik kecelakaan,
surve pengamatan, riset terhadap kelakuan berlalu-lintas, sumber riset tentang
keselamatan jalan raya.
3. Identifikasi peranan iklan media massa: peranan media massa secara strategis
harus diidentifikasi, kemungkinan peranan informasi seperti hukum yang baru
atau penindakan kepolisian melalui kegiatan engineering/IT, agenda pelaksanaan,
perubahan kelakuan masyarakat.
4. Menunjang kampanye penindakan kepolisian: Pemasangan iklan yang telah
dievaluasi dan memperlihatkan perubahan berlalu-lintas dari masyarakat dalam
mendukung penindakan kepoliasian. Target pertama dari kepolisian, termasuk
kelakuan yang tidak aman merupakan hal penting dari kampanye. Iklan juga harus
menuturkan pesan khusus tentang target dari pihak kepolisian. Sebagai contoh
misalnya inisiatif 'three in one' merupakan dari bagian penindakan kepolisian.
5. Dasar penelitian: pengembangan materi iklan harus berdasarkan penelitian ilmiah,
termasuk terhadap kelompok target dari pada pemikiran yang baik. Meskipun
demikian penelitian haruslah berorientasi pada: bagaimana kempanye dilakukan,
pesan khusus dari kampanye, pilihan media yang tepat, monitoring kampanye,
dan evaluasi kanpanye.
6. Mempromosikan kelakuan khusus: Promosi yang baik adalah antara lain pada
kecepatam yang tepat, pemakaian sabuk pengaman, pemakaian helm yang benar.
Iklan umum tentang berkendara yang baik sebenarnya tidak tepat karena semua
pengendara merasa sudah baik dalam berkendara.
7. Mempromosikan kelakuan yang positif: Iklan kampanye harus yakin target
kelakuannya benar dan kampanye itu memberikan pesan yang jelas tentang
berkendara yang baik.
8. Memakai azas marketing yang profesional: kampanye yang efektif menggunakan
azas marketing yang profesional dan penggunaan organisasi yang tepat.

8
9.Evaluasi diperlukan untuk menilai apakah iklan tersebut sudah tepat
sasarannya. Perlu dilakukan mengujian hasil yang tepat, dan harus diketahui
secara luas oleh masyarakat dari program keselamatan berlalu-lintas dan hal lain
yang berkaitan.
Selain itu berbagai kecelakaan yang terjadi telah dicatat tahun demi
tahun, untuk melihat pertumbuhannya apakah meningkat terus, dan terus dipantau
karena masyarakat perlu mendapat informasi keadaannya agar waspada akan
malapetaka ini. Hal ini perlu dipublikasi secara terbuka dan disebarluaskan agar
masyarakat dapat mengetahui keparahan kecelakaan selama ini, termasuk pesan
khusus tentang inisiatif penanggulangan kecelakaan jalan raya.

Sekarang ini telah disediakan berbagai peralatan bantu keselamatan


jalan raya, misalnya:
1. Pemasangan Rambu khusus pada lokasi yang sering terjadi kecelakaan.
Pemasangan rambu ini dimaksudkan agar para pengemudi lebih berhati-hati,
selain juga merubah desain jalan yang bersangkutan.
2. Pemakaian helm yang benar dengan helm standar. Hal ini telah diterapkan ke
beberapa daerah dengan penegakan hukum yang berlaku, dengan hasil beberapa
daerah ada kemajuan tentang penggunaan helm.
3. Pemakaian sabuk pengaman untuk semua kendaraan bermotor dengan 4 roda
atau lebih, di sini juga diberlakukan di beberapa daerah, dan diambil tindakan
hukum.
4.Menyalakan lampu sepeda motor pada waktu siang hari, ternyata cukup efektif,
di mana kendaraan menjadi terlihat menyolok pada siang hari.

D Pentingnya hukum

Bicara tentang kesadaran hukum pada hakekatnya adalah bicara


tentang manusia secara umum, bukan bicara tentang manusia dalam lingkungan
tertentu atau manusia dalam profesi tertentu seperti hakim, jaksa, polisi dan
sebagainya. Kesadaran hukum ialah sebagai kesadaran atau nilai-nilai yang
terdapat di dalam diri manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang

9
diharapkan.
Manusia sejak dilahirkan sampai meninggal dari dulu sampai
sekarang, dimana-mana, selalu mempunyai kepentingan. Kepentingan adalah
suatu tuntutan yang diharapkan untuk dipenuhi. Semua itu merupakan
kepentingan-kepentingan manusia yang diharapkan dipenuhi. Akan tetapi, pada
kenyataannya sepanjang sejarah, dimana-mana kepentingan manusia itu selalu
diancam atau diganggu oleh bahaya yang ada disekelilingnya. Oleh karena itu,
manusia menginginkan adanya perlindungan kepentingan-kepentingannya
terhadap ancaman-ancaman bahaya sepanjang masa. Perlindungan kepentingan
terhadap bahaya-bahaya disekelilingnya itu terpenuhi dengan terciptanya antara
lain kaedah (peraturan) hukum. Dengan terciptanya kaedah hukum itu manusia
merasa lebih telindungi terhadap ancaman bahaya di dekelilingnya. Jadi fungsi
kaedah hukum itu adalah melindungi kepentingan manusia dan sesamanya
(masyarakat). Meskipun demikian, bahaya akan selalu mengancam
kepentingannya.
Manusia sadar dan yakin bahwa kaedah hukum itu untuk melindungi
kepentingan manusia dan sesamanya terhadap ancaman bahaya di sekelilingnya.
Oleh karena itu setiap manusia mengharapkan agar hukum dilaksanakan dan
dihayati oleh semua manusia agar kepentingannya dan kepentingan masyarakat
terlindungi terhadap bahaya yang ada di sekelilingnya.
Dengan demikian, kesadaran hukum adalah kesadaran bahwa hukum
itu melindungi kepentingan manusia dan sehingga harus dilaksanakan serta
pelanggarnya akan terkena sanksi. Pada hakekatnya kesadaran hukum adalah
kesadaran akan adanya atau terjadinya “kebatilan” atau “onrecht”, tentang apa
hukum itu atau apa seharusnya hukum itu. Kesadaran hukum adalah sumber
segala hukum.
Dengan perkataan lain kesadaran hukum itu ada pada setiap manusia,
karena setiap manusia berkepentingan kalau hukum itu dilaksanakan, dan dihayati
karena dengan demikian kepentingannya akan terlindungi. Kalau hukum itu
dilaksanakan atau dihayati, tidak dilanggar, maka kepentingan saya, kepentingan
orang lain, kepentingan masyarakat terlindingi. Dengan demikian kesadaran
hukum bukan monopoli dari sarjana hukum saja, bukan hanya harus dimiliki oleh

10
hakim, jaksa dan polisi saja, tetapi pada dasarnya ada pada diri setiap manusia
baik ia terpelajar maupun tidak.
Asas hukum yang berbunyi “setiap orang dianggap tahu akan undang-
undang” menunjukkan bahwa kesadaran hukum itu pada dasarnya ada pada diri
setiap manusia. Asas hukum merupakan persangkaan, merupakan sebagian dari
cita-cita manusia, sebagai sesuatu yang tidak nyata, suatu asumsi yang banyak
terdapat didunia hukum. Setiap orang dianggap tahu akan undang-undang agar
melaksanakan dan menghayatinya, agar kepentingan kita atau masyarakat
terlindungi terhadap gangguan atau bahaya dari sekitarnya, meskipun
kenyataannya tidak tahu. Bahkan asas hukum tersebut mengasumsikan asas
hukum lain yang berbunyi “ketidak tahuan akan undang-undang tidak merupakan
alasan pemaaf” (“ignorantia leges excusat neminem”). Dipelosok desa yang
terpencil seorang pencuri ayam diajukan dimuka pengadilan. Ia tidak dapat
membela diri untuk tidak dihukum, dengan mengatakan bahwa ia buta huruf dan
tidak tahu kalau ada Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang mengancam
pencuri ayam dengan hukuman penjara. Seorang suami terpelajar melaporkan
isterinya meninggal hanya agar supaya dapat nikah lagi. Dalam hati kecilnya,
kalau ia mau jujur, ia akan menilai perbuatannya itu tidak terpuji dan melanggar
hukum. Seharusnya ia sadar (hukum) bahwa hal itu tidak baik, melanggar hukum,
meskipun ia tidak pernah tahu akan adanya Kitab Undang-undang Hukum Pidana
dan PP no.45 tahun 1990.
Walaupun kesadaran hukum itu ada pada setiap manusia, kesadaran
hukum itu tidak selalu disertai dengan perbuatan positif yang sesuai dengan
kesadaran hukum manusia pada umumnya. Akan tetapi, justru disertai dengan
perbuatan yang tidak terpuji. Sadar bahwa mencuri itu tidak baik tetapi masih juga
mencuri, sadar bahwa korupsi itu tidak baik tetapi masih juga korupsi, sadar
bahwa membunuh itu tidak baik tetapi masih juga mau membunuh,sadar kalau
ngebut itu tidak baik tetapi tetap saja dilakukan. Ini dapat dimaklumi karena
manusia itu pada umumnya mencari benarnya sendiri, tidak mau disalahkan,
kepentingan pribadi atau kelompok lebih menonjol.
Disamping pelanggaran hukum atau undang-undang, terjadi juga
penyalahgunaan hak atau wewenang. Menggunakan hak atau wewenangnya

11
secara berlebihan itu akan merugikan orang lain. Pelanggaran hukum dan
penyalahgunaan hak dan wewenang menunjukkan tidak adanya kesadaran hukum.
Adanya gerakan reformasi hukum menunjukkan bahwa kesadaran hukum kita
sudah menurun.
Kesadaran hukum telah menurun secara memrihatinkan yang mau
tidak mau mengakibatkan merosotnya kewibawaan pemerintah. Kesadaran hukum
itu berhubungan dengan manusianya bukan dengan hukum. Bukan hukumnyalah
yang harus direformasi. Oleh karena itu, yang harus diperbaiki atau ditingkatkan
adalah manusianya atau sumber daya manusianya. Moral, mental, dan
intelektualitasnya harus ditingkatkan.
Keselamatan di jalan merupakan tanggungjawab bersama, termasuk
para sopir dan pengguna jalan lainnya. Masyarakat jangan hanya taat berlalu lintas
jika melihat polisi, tapi sikap disiplin dan mentaati aturan rambu lalulintas harus
dijadikan suatu budaya. Sikap disiplin dan taat hukum, harus selalu dikedepankan
untuk menanggulangi banyaknya kasus kecelakaan. Maka dari itu, keamanan,
kenyamanan dan kelancaran berlalu lintas harus diprioritaskan. Akan tetapi,
selama ini masyarakat hanya patuh jika ada polisi di jalan.
Salah satu pihak yang berperan penting dalam menyumbang terjadinya
lakalantas adalah Organda. Seharusnya organda tidak sekadar mencari untung tapi
lebih mengutamakan kualitas, sebagai penyedia jasa transportasi guna menjamin
keselamatan pengguna jasa, mengingat 90 persen kecelakaan disebabkan karena
human error. Kendaraan yang disediakan harus layak, sopir yang mengawaki juga
harus profesional tidak mabuk dan ugal-ugalan di jalan. Sopir juga harus
mengerti aturan, dan mampu mendidik atau memberikan pemahaman yang benar
kepada masyarakat tentang lalu lintas. Tidak sembarang berhenti atau
menurunkan penumpang di tengah jalan.
Kapolda Sulut, Brigjen Pol Bekto Suprapto mengatakan, dalam
menanggulangi banyaknya kasus kecelakaan, maka semua harus bersama-sama
terlibat. “Jangan parsial (suka menang sendiri),” jelas Jenderal Bintang Satu ini,
sembari menambahkan, kecelakaan yang terjadi akibat produk masyarakat itu
sendiri yang tidak disiplin.

12
Kecelakaan lalu lintas yang terjadi akhir- akhir ini tidak terlepas
dengan maraknya pelanggaran hukum dan rambu-rambu oleh para pengguna
jalan. Para pengguna jalan lebih cenderung seenaknya dalam memacu
kendaraannya. Mereka tidak menghiraukan peraturan yang ada dan menyepelekan
rambu-rambu dan himbauan yang ada. Padahal hal itu dapat memicu terjadinya
kecelakaan. Oleh karena itu, kepatuhan hukum dan kedisiplinan masyarakat
dalam mengendarai kendaraannya harus ditingkatkan agar kasus kecelakaan lalu
lintas dapat ditekan.

B.Kesimpulan dan Saran

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam penyusunan makalah ini :


 Setiap tahunnya kasus kecelakaan lalu lintas meningkat kecuali pada tahun
2009.
 Setidaknya ada enam faktor utama terjadinya lakalantas, yaitu faktor
jalan, kendaraan, pengendara dan pejalan kaki, faktor sekeliling, rambu-
rambu dan peraturan,serta kesadaran hukum di jalan raya.
 Kecelakaan lalu lintas yang marak terjadi sekarang ini kebanyakan dipicu
oleh perilaku para pengendara yang tidak disiplin dan melanggar peraturan
yang ada.
 Banyak tindakan yang telah dilakukan untuk mengurangi kecelakaan.
Pemerintah telah gencar mengkampanyekan aman berlalu lintas, dan
sekarang ini telah tersedia berbagai macam alat bantu keamanan.
 Disiplin dan kepatuhan hukum dalam mengendarai jalan raya sangatlah
penting dalam rangka mengurangi lakalantas.

Saran yang dapat penulis berikan kepeda pembaca:


• Berlaku sabar dan berdisiplin dalam berkendara di jalan raya.
• Patuhi peraturan dan rambu-rambu ketika berkendara.
• Memakai peralatan bantu keselamatan jalan raya dalam
berkendara.
• Mengendara dengan tertib dan jangan ugal-ugalan

13
DAFTAR PUSTAKA

Adjisoedarmo, Soedito dkk. 2007. Jatidiri Unsoed. Purwokerto: Depdiknas


Unsoed
KOMPAS .Senin, 25 Februari 2008. Pelanggaran Lalu Lintas Naik Tajam.
Jakarta
http://mdopost.com/news/index.php?
option=com_content&task=view&id=10015&Itemid=9
http://id.wikipedia.org/wiki/Keselamatan_Jalan_Raya#Faktor_Penyebab_Kecelak
aan_Jalan_Raya
http://mbahsuro99.blogspot.com/2009/.../pelanggaran-lalu-lintas.html
http://www.komisikepolisianindonesia.com/main.php?page=artikl

14
TEMA
Kesadaran Hukum
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
matakuliah JATIDIRI unsoed

Disusun Oleh:

Nurul Chasani

HIF009077

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2009

15