Anda di halaman 1dari 13

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertaniannya.

Dalam dunia modern saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia.
Pada zaman dahulu jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan
sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mangalirkan air tersebut ke
lahan pertanian. Namun demikian irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air
dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu-persatu. Untuk
irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram.
Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat
dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak Mesir Kuno.

Sejarah Irigasi di Indonesia


[sunting] Irigasi Mesir Kuno dan Tradisional Nusantara

Sejak Mesir Kuno telah dikenal dengan memanfaatkan Sungai Nil. Di Indonesia irigasi
tradisional telah juga berlangsung sejak nenek moyang kita. Hal ini dapat dilihat juga
cara bercocok tanam pada masa kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Dengan
membendung kali secara bergantian untuk dialirkan ke sawah. Cara lain adalah mencari
sumber air pegunungan dan dialirkan dengan bambu yang bersambung. Ada juga dengan
membawa dengan ember yang terbuat dari daun pinang atau menimba dari kali yang
dilemparkan ke sawah dengan ember daun pinang juga.

[sunting] Sistem Irigasi Zaman Hindia Belanda

Sistem irigasi adalah salah satu upaya Belanda dalam melaksanakan Tanam Paksa
(Cultuurstelsel) pada tahun 1830. Pemerintah Hindia Belanda dalam Tanam Paksa
tersebut mengupayakan agar semua lahan yang dicetak untuk persawahan maupun
perkebunan harus menghasilkan panen yang optimal dalam mengeksplotasi tanah
jajahannya.

Sistem irigasi yang dulu telah mengenal saluran primer, sekunder, ataupun tersier.
Tetapi sumber air belum memakai sistem Waduk Serbaguna seperti TVA di Amerika
Serikat. Air dalam irigasi lama disalurkan dari sumber kali yang disusun dalam sistem
irigasi terpadu, untuk memenuhi pengairan persawahan, di mana para petani diharuskan
membayar uang iuran sewa pemakaian air untuk sawahnya.

[sunting] Waduk Jatiluhur 1955 di Jawa Barat dan Pengalaman TVA


1933 di Amerika Serikat

Tennessee Valley Authority (TVA) [1] yang diprakasai oleh Presiden AS Franklin D.
Roosevelt pada tahun 1933 merupakan salah satu Waduk Serba Guna yang pertama
dibangun di dunia [2]. Resesi ekonomi (inflasi) tahun 1930 melanda seluruh dunia,
sehingga TVA adalah salah satu model dalam membangun kembali ekonomi Amerika
Serikat.
Isu TVA adalah mengenai: produksi tenaga listrik, navigasi, pengendalian banjir,
pencegahan malaria, reboisasi, dan kontrol erosi. Sehinga di kemudian hari Proyek TVA
menjadi salah satu model dalam menangani hal yang mirip. Oleh sebab itu Proyek
Waduk Jatiluhur merupakan tiruan yang hampir mirip dengan TVA di AS tersebut.

Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta (±9 km dari


pusat Kota Purwakarta). Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah Waduk Ir. H. Juanda,
dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun sejak
tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9
milyar m3/tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

[sunting] Jenis Irigasi


[sunting] Irigasi Permukaan

Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di sungai
melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan pengambilan bebas (free intake)
kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian.
Di sini dikenal saluran primer, sekunder dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan
pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih dulu.

[sunting] Irigasi Lokal

Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi. Di sini juga berlaku gravitasi, di mana
lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disebar hanya terbatas
sekali atau secara lokal.

[sunting] Irigasi dengan Penyemprotan

Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle. Air yang disemprot akan
seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas, daun akan basah lebih dahulu,
kemudian menetes ke akar.

[sunting] Irigasi Tradisional dengan Ember

Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang banyak sekali. Di samping itu
juga pemborosan tenaga kerja yang harus menenteng ember.

[sunting] Irigasi Pompa Air

Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudia dialirkan
dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada musim kemarau irigasi ini
dapat terus mengairi sawah.

[sunting] Irigasi Tanah Kering dengan Terasisasi


Di Afrika yang kering dipakai sustem ini, terasisasi dipakai untuk distribusi air.

[sunting] Pengalaman Penerapan Jenis Irigasi Khusus


[sunting] Irigasi Pasang-Surut di Sumatera, Kalimantan, dan Papua

Dengan memanfaatkan pasang-surut air di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua


dikenal apa yang dinamakan Irigasi Pasang-Surat (Tidal Irrigation). Teknologi yang
diterapkan di sini adalah: pemanfaatan lahan pertanian di dataran rendah dan daerah
rawa-rawa, di mana air diperoleh dari sungai pasang-surut di mana pada waktu pasang air
dimanfaatkan. Di sini dalam dua minggu diperoleh 4 sampai 5 waktu pada air pasang.
Teknologi ini telah dikenal sejak Abad XIX. Pada waktu itu pendatang di Pulau Sumatera
memanfaatkan rawa sebagai kebun kelapa. Di Indonesia terdapat 5,6 juta Ha dari 34 Ha
yang ada cocok untuk dikembangkan. Hal ini bisa dihubungkan dengan pengalaman
Jepang di Wilayah Sungai Chikugo untuk wilayah Kyushu, di mana di sana dikenal
dengan sistem irigasi Ao-Shunsui yang mirip.

[sunting] Irigasi Tanah Kering atau Irigasi Tetes

Di lahan kering, air sangat langka dan pemanfaatannya harus efisien. Jumlah air irigasi
yang diberikan ditetapkan berdasarkan kebutuhan tanaman, kemampuan tanah memegang
air, serta sarana irigasi yang tersedia.

Ada beberapa sistem irigasi untuk tanah kering, yaitu:

• (1) irigasi tetes (drip irrigation),


• (2) irigasi curah (sprinkler irrigation),
• (3) irigasi saluran terbuka (open ditch irrigation), dan
• (4) irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation).

Untuk penggunaan air yang efisien, irigasi tetes [3] merupakan salah satu alternatif. Misal
sistem irigasi tetes adalah pada tanaman cabai.

Ketersediaan sumber air irigasi sangat penting. Salah satu upaya mencari potensi sumber
air irigasi adalah dengan melakukan deteksi air bawah permukaan (groundwater) melalui
pemetaan karakteristik air bawah tanah. Cara ini dapat memberikan informasi mengenai
sebaran, volume dan kedalaman sumber air untuk mengembangkan irigasi suplemen.

Deteksi air bawah permukaan dapat dilakukan dengan menggunakan Terameter.

[sunting] Pengalaman Sistem Irigasi Pertanian di Niigata Jepang

Sistem Irigasi Pertanian milik Mr. Nobutoshi Ikezu di Niigata Prefecture. Di sini terlihat
adanya manajemen persediaan air yang cukup pada pengelolaan pertaniannya. Sekitar 3
km dari tempat tersebut tedapat sungai besar yang debit airnya cukup dan tidak berlebih.
Air sungai dinaikan ke tempat penampungan air menggunakan pompa berkekuatan besar.
Air dari tempat penampungan dialirkan menggunakan pipa-pipa air bawah tanah
berdiameter 30 cm ke pertanian di sekitarnya. Pada setiap pemilik sawah terdapat tempat
pembukaan air irigasi tersebut. Pembagian air ini bergilir berselang sehari, yang berarti
sehari keluar, sehari tutup. Penggunaannya sesuai dengan kebutuhan sawah setempat
yang dapat diatur menggunakan tuas yang dapat dibuka tutup secara manual. Dari pintu
pengeluaran air tersebut dialirkan ke sawahnya melalui pipa yang berada di bawah
permukaan sawahnya. Kalau di tanah air kita pada umumnya air dialirkan melalui
permukaan sawah. Sedangkan untuk mengatur ketinggian air dilakukan dengan cara
menaikan dan menurunkan penutup pintu pembuangan air secara manual. Pembuangan
air dari sawah masuk saluran irigasi yang terbuat dari beton sehingga air dengan mudah
kembali ke sungai kecil, tanpa merembes terbuang ke bawah tanah. Pencegahan
perembesan air dilakukan dengan sangat efisien.

[sunting] Pengalaman Irigasi Perkebunan Kelapa Sawit

Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit.
Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat terganggu,
berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase generatif.
Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun
tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang
lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan
oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan
menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan
bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda,
bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah.

Manajemen irigasi perkebunan kelapa sawit, yaitu: membuat bak pembagi, pembangunan
alat pengukur debit manual di jalur sungai, membuat jaringan irigasi di lapang untuk
meningkatkan daerah layanan irigasi suplementer bagi tanaman kelapa sawit seluas
kurang lebih 1 ha, percobaan lapang untuk mengkaji pengaruh irigasi suplementer
(volume dan waktu pemberian) terhadap pertumbuhan vegetatif kelapa sawit dan dampak
peningkatan aliran dasar (base flow) terhadap performance kelapa sawit pada musim
kemarau, identifikasi lokasi pengembangan dan membuat untuk 4 buah Dam Parit dan
upscalling pengembangan dam parit di daerah aliran sungai.

Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah
yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali, Indonesia. Subak ini biasanya memiliki
pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh
para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan dewi Sri. Sistem
pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.

Revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi ini, dengan adanya
varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering
mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Ini sangatlah berbeda dengan
sistem Subak, di mana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru
pada revolusi hijau menghasilkan pada awalnya hasil yang melimpah, tetapi kemudian
diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida
baik di tanah maupun di air. (en) [1] Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah
secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.

Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan J. Stephen Lansing telah menarik
perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi tradisional. Ia mempelajari pura-pura
di Bali, terutama yang diperuntukkan bagi pertanian, yang biasa dilupakan oleh orang
asing. Pada tahun 1987 Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk
mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan
keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini.

SISTEM IRIGASI 1
Sistem Irigasi sudah berada sejak abad 5 di Indonesia. Banyak kerajaan kuno di Indonesia
menjadi besar karena memerhatikan produk pertanian. Salah satunya adalah Majapahit
yang dianggap sebagai kerajaan bercorak agraris terbesar di Indonesia. Pertanian atau
peternakan membutuhkan teknologi sederhana dibandingkan kemaritiman atau kelautan,
misalnya. Di Indonesia diperkirakan kegiatan pertanian sudah muncul pada zaman
neolitik, yaitu suatu babakan dalam periode prasejarah.
Indonesia yang beriklim tropis basah dalam kenyataannya juga masih membutuhkan
irigasi. Dengan adanya sistem irigasi yang baik, maka hasil-hasil dari pertanian di
Indonesia yang beriklim tropis basah inipun akan menjadi semakin maksimal.

a. PENGERTIAN IRIGASI
Beberapa pengertian irigasi yaitu:
? Irigasi merupakan suatu proses pengaliran air dari sumber air ke sistem pertanian.
? Irigasi adalah proses penambahan air untuk memenuhi kebutuhan lengas tanah bagi
pertumbuhan tanaman (Israelsen & Hansen, 1980)
? Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air untuk menunjang
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah,
irigasi pompa, dan tambak (PP 20/2006)
? Tindakan intervensi manusia untuk mengubah agihan air dari sumbernya menurut ruang
dan waktu serta mengelola sebagian atau seluruh jumlah tersebut untuk menaikkan
produksi tanaman. (Small & Svendsen, 1992)
Sedangkan menurut PP RI No. 77 tahun 2001 mengenai irigasi, mendefinisikan:
? Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang
dimanfaatkan di darat;
? Sumber air adalah wadah atau tempat air baik yang terdapat pada, di atas maupun di
bawah permukaan tanah;
? Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian, yang
jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi
tambak;
? Daerah irigasi adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan irigasi;
? Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang merupakan
satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan,
pengambilan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangannya;
? Jaringan utama adalah jaringan irigasi yang berada dalam satu sistem irigasi, mulai dari
bangunan utama, saluran induk atau primer, saluran sekunder, dan bangunan sadap serta
bangunan pelengkapnya;
? Jaringan tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air
di dalam petak tersier yang terdiri dari saluran pembawa yang disebut saluran tersier,
saluran pembagi yang disebut saluran kuarter dan saluran pembuang berikut saluran
bangunan turutan serta pelengkapnya, termasuk jaringan irigasi pompa yang luas areal
pelayanannya disamakan dengan areal tersier;
? Petak irigasi adalah petak lahan yang memperoleh air irigasi;
? Petak tersier adalah kumpulan petak irigasi yang merupakan kesatuan dan mendapatkan
air irigasi melalui saluran tersier yang sama;
? Penyediaan air irigasi adalah penentuan banyaknya air per satuan waktu dan saat
pemberian air yang dapat dipergunakan untuk menunjang pertanian;
? Pembagian air irigasi adalah penyaluran air dalam jaringan utama;
? Pemberian air irigasi adalah alokasi air dari jaringan utama ke petak tersier dan
kuaerter;
? Penggunaan air irigasi adalah pemanfaatan air di lahan pertanian;
? Pembuangan/drainase adalah pengaliran kelebihan air irigasi yang sudah tidak
dipergunakan lagi pada suatu daerah irigasi tertentu;
? P3A adalah kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air
dalam suatu daerah pelayanan irigasi yang dibentuk oleh petani secara demokratis,
termasuk kelembagaan lokal pengelola air irigasi;
? Komisi irigasi adalah lembaga kooordinasi dan komunikasi antara Pemerintah
Kabupaten/Kota, P3A tingkat derah irigasi, pemakai air irigasi untuk keperluan lainnya,
dan unsur masyarakatyang berkepentingan dalam pengelolaan irigasi yaitu lembaga
swadaya masyarakat, wakil perguruan tinggi, dan wakil pemerhati irigasi lainnya, pada
wilayah kerja Kabupaten/Kotayang bersangkutan;
? Forum koordinasi adalah wadah konsultasi dan komunikasi dari dan antar P3A, petugas
Pemerintah Daerah, serta pemakai air irigasi untuk keperluan lainnya dalam rangka
pengelolaan irigasi pada satu atau sebagian daerah irigasi yang jaringan utamanya
berfungsi multiguna, serta dibentuk atas dasar kebutuhan dan kepentingan bersama;
? Waduk adalah tempat atau wadah penampungan air di sungai agar dapat digunakan
untuk irigasi maupun keperluan lainnya;
? Waduk lapangan atau embung adalah tempat atau wadah penampungan air irigasi pada
waktu terjadi surplus air di sungai atau air hujan;
? Pembangunan jaringan irigasi adalah seluruh kegiatan penyediaan jaringan irigasi di
wilayah tertentu yang belum ada jaringan irigasinya atau penyediaan jaringan irigasi
untuk menambah areal pelayanan;
? Pengelolaan irigasi adalah segala usaha pendayagunaan air irigasi yang meliputi operasi
dan pemeliharaan, pengamanan, rehabilitasi, dan peningkatan jaringan irigasi;
? Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi adalah kegiatan pengaturan air dan jaringan
irigasi yang meliputi penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan
pembuangannya, termasuk usaha mempertahankan kondisi jaringan irigasi agar tetap
berfungsi dengan baik;
? Pengamanan jaringan irigasi adalah adalah upaya untuk mencegah dan menanggulani
terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh daya rusak air, hewan, atau
oleh manusia guna mempertahankan fungsi jaringan irigasi;
? Rehabilitasi jaringan irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan irigasi guna
mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula;
? Peningkatan jaringan irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan irigasi dengan
mempertimbangkan perubahan kondisi lingkungan daerah irigasi guna meningkatkan
fungsi dan pelayanan irigasi;
? Manajemen aset irigasi adalah kegiatan inventrisasi, audit, perencanaan, pemanfaatan,
pengamanan asset irigasi, dan evaluasi;
? Audit pengelolaan irigasi adalah kegiatan pemeriksaan kinerja pengelolaan irigasi yang
meliputi aspek organisasi, teknis, dan keuangan, sebagai bahan evaluasi manajemen aset
irigasi;
? Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah dan ataua pejabat pemerintah
daerah yang berwenang mengatur, mengendalikan, dan mengawasi penyelenggaraan di
bidang irigasi berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku;
? Penyerahan kewenangan pengelolaan irigasi adalah pelimpahan hak wewenang dan
tanggung jawab dari pemerintah daerah kepada P3A untuk mengatur pengelolaan irigasi
dan pembiayaan di wilayah kerjanya;
? Hak guna air irigasi adalah hak yang diberikan oleh pejabat yang berwenang kepada
P3A, badan hukum, badan sosial, perorangan, dan pemakai air irigasi untuk keperluan
lainnya untuk memakai air irigasi guna menunjang usaha pokoknya;
? Izin pengambilan air irigasi adalah izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang
kepada pemegang hak guna air irigasi;
? Kebijakan daerah adalah atura, arahan, acuan, ketentuan, dan pedoman dalam
penyelenggaraan pemerintah daerah yang dituangkan dalam Peraturan daerah, Keputusan
Kepala Daerah, Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Keputusan Pimpinan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
? Daerah Pengaliran Sungai (DPS) adalah kawasan yang dibatasi oleh pemisah
topografis, yang menampung, meyimpan, dan mengalirkan air ke anak sungai dan sungai
utama yang bermuara ke danau atau laut, termasuk di bawah cekungan air tanah;
? Pemerintah pusat, selanjutnya pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang terdiri dari presiden dan para menteri;
? Menteri adalah menteri yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang sumber
daya air;
? Gubernur adalah Kepala Daerah Propinsi sebagai penyelenggara tugas eksekutif di
Propinsi;
? Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota sebagai penyelenggara tugas
eksekutif di Kabupaten/Kota;
? Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas daerah tertentu, berwenang mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam
ikatan NKRI.
? Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain
sebagai Badan Eksekutif Daerah.
Sedangkan fungsi irigasi secara umum antara lain:
• memasok kebutuhan air tanaman menjamin ketersediaan air apabila terjadi betatan
• menurunkan suhu tanah
• mengurangi kerusakan akibat frost
• melunakkan lapis keras pada saat pengolahan tanah

Abstraksi Sistem Irigasi Sebagai Sistem Pengaliran

b. PENGELOLAAN IRIGASI
? Prinsip-Prinsip Pengelolaan Irigasi
a. Irigasi diselenggarakan dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan air yang menyeluruh,
terpadu, dan berwawasan lingkungan, serta untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, khususnya petani;
b. Irigasi berfungsi mempertahankan dan meningkatkan produkrivitas lahan untuk
mencapai hasil pertanian yang optimal tanpa mengabaikan kepentingan lainnya;
c. Pengelolaan irigasi diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat
petani dan dengan menempatkan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sebagai
pengambil keputusan dan pelaku utama dalam pengelolaan irigasi yang menjadi tanggung
jawabnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan P3A secara berkesinambungan
dan bekelanjutan.
d. Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan irigasi yang efisien dan efektif serta
dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat petani,
pengelolaan irigasi dilaksanakan dengan mengoptimalkan pemanfaatan air permukaan
dan air bawah tanah secara terpadu;
e. Pengelolaan irigasi dilaksanakan dengan prinsip satu sistem irigasi satu kesatuan
pengelolaan, dengan memperhatikan kepentingan pengguna di bagian hulu, tengah, dan
hilir secara seimbang serta melibatkan semua pihak yang berkepentingan agar dapat
dicapai pemanfaatan jaringan irigasi yang optimal;
f. Keberlanjutan sistem irigasi dilaksanakan dengan dukungan keandalan air irigasi dan
prasarana irigasi yang baik, guna menunjan peningkatan pendapatan petani dengan
mengantisipasi modernisasi pertanian dan diversifikasi usaha tani dengan dukungan
penyediaan infrastruktur sesuai kebutuhan;
g. Wujud dukungan keandalan air irigasi yaitu pembangunan waduk dan atau waduk
lapangan, pengendalian kualitas air, jaringan drainase yang sepadan, dan pemanfaatan
kembali drainase/air pembuangan.
Terdapat beberapa cara pemberian air irigasi, antara lain:
a) Kondisi debit lebih besar dari 70% debit rencana air irigasi dari saluran primer dan
sekunder dialirkan secara terus menerus (continous flow) ke petak-petak tersier melalui
pintu sadap tersier.
b) Kondisi debit 50-70% dari debit rencana air irigasi dialirkan ke petak-petak tersier
dilakukan dengan rotasi. Pelaksanaan rotasi dapat diatur antar saluran sekunder misalnya
jaringan irigasi mempunyai 2 (dua) saluran sekunder A dan sekunder B maka rotasi
dilakukan selama 3 (tiga) hari air irigasi dialirkan ke sekunder A dan 3 (tiga) berikutnya
ke sekunder B demikian seterusnya setiap 3 (tiga) hari dilakukan penggantian sampai
suatu saat debitnya kembali normal.
c) Cara pemberian air terputus-putus (intermitten) dilaksanakan dalam rangka efisiensi
penggunaan air pada jaringan irigasi yang mempunyai sumber air dari waduk atau dari
sistem irigasi pompa, misalnya 1 (satu) minggu air waduk dialirkan ke jaringan irigasi
dan 1 (satu) minggu kemudian waduknya ditutup demikian seterusnya sehingga setiap
minggu mendapat air dan satu minggu kemudian tidak mendapat air.

Gambar Contoh Sistem Pompa Air

Gambar Contoh Sistem Irigasi


? Kelembagaan Pengelolaan Irigasi
Kelembagaan pengelolaan irigasi memiliki unsur-unsur antara lain pemerintah, Pemda,
P3A, dan beberapa pihak lain yang kegiatannya berkaitan dengan pengelolaan irigasi baik
secara langsung maupun tidak langsung. Untuk menjalin suatu koordinasi yang baik antar
lembaga di daerah irigasi dengan jaringan yang bersifat multiguna, maka dapat dibentuk
forum koordinasi daerah irigasi. Pembagian wewenang dan tanggung jawab serta
mekanisme kerja antar lembaga pengelola irigasi dilakukan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.

Sumber: http://air.bappenas.go.id

? Penyerahan Kewenangan Pengelolaan Irigasi


Penyerahan kewenangan pengelolaan irigasi dari pemda kepada P3A yang berbadan
hukum dilakukan secara demokratis dengan prinsip satu sistem irigasi satu kesatuan
pengelolaan sesuai dengan wilayah kerja P3A dilakukan pada tingkat daerah irigasi atau
sebagian daerah irigasi dan ditetapkan melalui kesepakatan tertulis tanpa penyerahan
kepemilikan aset jaringan irigasi.
Untuk daerah irigasi yang jaringan irigasinya berfungsi multiguna, penyerahan
kewenangan dilaksanakan melalui kesepakatan bersama antara Pemda, P3A, dan pemakai
air irigasi untuk keperluan lainnya. Apabila berdasarkan audit pengelolaan irigasi P3A
dinyatakan gagal dalam pengelolaan irigasi yang telah diserahkan, maka pengelolaan
irigasi diambil kembali oleh Pemda, yang dituangkan dalam berita acara.

? Pemberdayaan P3A
Dilakukan oleh Pemda melalui penguatan dan peningkatan kemampuan P3A. Pemda atau
pihak lain dapat memberikan bantuan dan fasilitas kepada P3A, yang dituangkan dalam
kesepakatan tertulis. Apabila terjadi hambatan dalam kepengurusan P3A sebagai
pengelola irigasi, maka Pemda dapat memfasilitasi penyelesaian permasalahan P3A
tersebut. Pemda menetapkan Kebijakan Daerah berdasarkan kebijakan nasional sebagai
pengaturan lebih lanjut tentang pemberdayaan P3A.

c. Peran serta P3A dalam operasi jaringan irigasi


Dinas yang membidangi irigasi menyusun rencana operasi jaringan irigasi di suatu daerah
irigasi, setelah mendapat masukan dari dinas yang membidangi pertanian.
Dalam kegiatan operasi jaringan irigasi dilakukan dengan melibatkan peran serta
P3A/GP3A/IP3A diwujudkan mulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan, dan
pelaksanaan kegiatan dalam operasi jaringan. Dalam rangka mengikutsertakan
masyarakat petani pemakai air, P3A/GP3A/IP3A kegiatan perencanaan dan pelaksanaan
operasi didapat melalui usulan dari P3A/GP3A/IP3A, dengan proses sebagai berikut.
a) P3A/GP3A/IP3A mengusulkan rencana tanam dan luas areal kepada Dinas yang
membidangi irigasi.
b) Dinas yang membidangi irigasi bersamasama Dinas yang membidangi Pertanian
menyusun rencana tanam dan luas areal tersebut.
c) Komisi irigasi yang beranggotakan instansi terkait dan wakil perkumpulan petani
pemakai air membahas pola dan rencana tata tanam, rencana tahunan penyediaan air
irigasi, rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi dan merekomendasikan
kepada Bupati/Walikota atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya.
d) Dinas yang membidangi irigasi, melaksanakan operasi jaringan irigasi atau dapat
dilakukan dengan melibatkan peran P3A/GP3A/IP3A untukmelaksanakannya.

c. POLA PENGATURAN AIR IRIGASI


? Hak Guna Air Irigasi
- Diberikan oleh Bupati/Walikota, Gubernur, dan Menteri sesuai dengan kewenangannya
pada P3A tingkat daerah air irigasi, badan hukum, badan sosial, perorangan, dan pemakai
air irigasi untuk keperluan lainnya pada setiap sumber air yang dimanfaatkan.
- Diberikan terutama untuk kepentingan pertanian dengan tetap memperhatikan
kepentingan usaha lainnya.
- Diberikan berdasarkan ketersediaan dan kebutuhan air pada daerah pelayanan tertentu
sekurang-kurangnya 5 tahun dan dapat diperpanjang.
- Diberikan dalam bentuk izin pengambilan air kepada P3A, badan hukum, badan sosial,
perorangan, dan pemakai air irigasi untuk keperluan lainnya. Pemegang izin pengambilan
air dapat menggunakan jaringan irigasi yang telah ada.
- Pengaturan dan penetapan izin pengambilan air irigasi dilakukan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.

? Penyediaan Air Irigasi


Dalam penyediaan air sebagai sumber untuk irigasi, maka dapat digunakan sumber-
sumber air seperti sungai, sumur, dan lain-lain. Namun, apabila terjadi kekurangan air
dalam kegiatan pemberian air irigasi dapat diupayakan pemanfaatan sumber-sumber air
lainnya seperti pemanfaatan air tanah dan pemanfaatan kembali air drainase.
? Pemanfaatan Air Tanah (Conjunctive use)
Air tanah dapat merupakan sumber air utama atau secara terpadu bersama-sama dengan
air permukaan memenuhi kebutuhan air irigasi (Conjunctive use). Pengelolaan terpadu
dalam penggunaan air permukaan dan air tanah diperlukan terutama pada pemanfaatan
air tanah sebagai pengganti air irigasi permukaan pada musim kemarau dan atau sebagai
tambahan (suplesi) bagi irigasi air permukaan.
? Pemanfaatan Kembali Air Drainase
Pada daerah-daerah irigasi yang tanahnya sangat porous (berpori) dimana air merembes
ke saluran drainase maka air tersebut dapat dimanfaatkan di lahan itu kembali seperti
dengan pompanisasi dan gravitasi.
Selain itu, proses penyediaan air irigasi dapat dilakukan dengan cara:
- Diarahkan untuk mencapai hasil produksi pertanian yang optimal dengan tetap
memperhatikan keperluan lainnya.
- Pemda mengusahakan optimalisasi penyediaan air dalam satu daerah irigasi maupun
antar daerah irigasi.
- Pemerintah dan Pemda mengupayakan ketersediaan, pengendalian, dan perbaikan mutu
air irigasi.
- Perencanaan Tahunan penyediaan air irigasi disusun oleh Komisi Irigasi dan ditetapkan
oleh Gubernur/Bupati/Walikota sesuai kewenangannya berdasarkan usulan P3A dan
pemakai air irigasi dan keperluan lainnya sesuai dengan hak guna air irigasi yang telah
ditentukan dan kebutuhan air irigasi yang diperlukan.
- Penyediaan air irigasi berdasarkan Perencanaan Tahunan ditetapkan oleh P3A, dan
khusus untuk penyediaan air irigasi yang jaringan irigasinya berfungsi multiguna
ditetapkan oleh Pemda.
- Penyediaan air untuk mengatasi kekurangan air pada lahan pertanian tertentu dapat
diupayakan dengan pompanisasi sesuai hak guna air yang berlaku serta kebutuhan dan
kemampuan masyarakat yang bersangkutan dengan memperhatikan kelestarian
lingkungan. Pompanisasi sebagaimana dilakukan dari air permukaan atau air bawah tanah
setelah mendapat izin dari pihak yang berwenang sesuai peraturan perundangan yang
berlaku.
- Pada kondisi ketersediaan air terbatas, Bupati/Walikota atau Gubernur menetapkan
penyesuaian alokasi air bagi para pemegang hak guna air sesuai asas keadilan dan
keseimbangan.
? Pembagian dan Pemberian Air Irigasi
- Rencana pembagian air pada suatu daerah irigasi ditetapkan setiap tahun oleh P3A.
- Rencana pembagian air untuk jaringan irigasi yang berfungsi multiguna ditetapkan
setiap tahun atas dasar musyawarah antara P3A dan pemakai air irigasi untuk keperluan
lainnya melalui forum koordinasi daerah irigasi.
- Pemberian air irigasi ditetapkan oleh P3A tingkat daerah irigasi sesuai dengan rencana
pembagian air berdasarkan prinsip keadilan, keseimbangan, dan musyawarah di antara
pihak yang berkepentingan.
- Kelebihan air irigasi di suatu daerah irigasi dapat dimanfaatkan untuk keperluan
tanaman di luar lahan yang telah ditetapkan dan atau untuk keperluan lainnya setelah
mendapat izin dari pejabat yang berwenang.
- Dalam rangka pembagian dan pemberian air secara tepat guna untuk setiap daerah
irigasi, P3A menyusun jadwal pemakaian air irigasi dan menginformasikan kepada
pemakai air dan pihak terkait lainnya sebelum musim tanam dimulai.
- Apabila diperkirakan debit air irigasi tidak mencukupi kebutuhan, P3A menetapkan
prioritas pembagian air irigasi sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
- Pembagian dan pemberian air tidak mengurangi kewajiban P3A untuk memberikan air
irigasi guna keperluan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
- P3A bersama Pemda dapat menetapkan waktu dan bagian jaringan irigasi yang harus
dikeringkan untuk keperluan pemeriksaan dan atau perbaikan.
- Waktu pengeringan dari bagian jaringan irigasi yang akan dikeringkan harus ditentukan
secara tepat dan diberitahukan kepada pemakai selambat-lambatnya 2 minggu sebelum
pelaksanaan pengeringan. Pengeringan yang lebih lama dari 2 minggu setiap musim
hanya dapat dilaksanakan dala keadaan darurat dengan persetujuan P3A.
- Pemberian air irigasi ke petak tersier harus dilakukan melalui bangunan sadap yang
telah ditentukan oleh Pemda.
- Untuk pencatatan pembagian dan pemberiang air, bangunan bagi dan bangunan sadap
dilengkapi dengan alat pengukur debit dan papan operasi.
? Penggunaan Air Irigasi
- Hanya diperkenankan dengan mengambil air dari saluran tersier atau saluran kuarter
pada tempat pengambilan yang telah ditetapkan oleh P3A. untuk melaksanakan
penyelenggarannya dalam satu daerah irigasi, P3A menunjuk petugas pembagi air.
- Penggunaan air irigasi dalam daerah irigasi untuk tanaman industri harus mendapat
persetujuan dari P3A.
? Drainase
- Untuk mengatur air irigasi secara baik, yang memenuhi syarat-syarat teknik irigasi dan
pertanian maka pada setiap pembangunan jaringan irigasi disertai dengan pembangunan
jaringan drainase yang merupakan satu kesatuan dengan jaringan irigasi yang
bersangkutan.
- Air irigasi yang disalurkan kembali ke suatu sumber air melalui jaringan drainase harus
dilakukan upaya pengendalian atau pencegahan pencemaran agar memenuhi syarat-syarat
kualitas tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
- P3A dan masyarakat wajib ikut serta menjaga kelangsungan fungsi jaringan drainase
dan dilarang mendirikan bangunan ataupun melakukan tindakan lain yang dapat
mengganggu fungsi drainase.

? Penggunaan langsung Air Irigasi dari Sumber Air


Setiap pemakai air yang menggunakan langsung air irigasi dari sumber air permukaan
dan ataupun sumber air bawah tanah untuk kepentingannya harus mendapat izin dari
Pemda sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

d. PEMBANGUNAN JARINGAN IRIGASI


- Rencana Induk pengembangan irigasi Propinsi/Kabupaten/Kota disusun berdasar atas
rencana pengembangan sumber daya air dan rencana tata ruang wilayah serta
memperhatikan kelestarian sumber daya air dan ditetapkan dengan Perda dan juga
didasarkan pada kesepakatan bersama antar sector, antar wilayah, antara Pemda,
masyarakat, dan petani, serta pihak lain yang berkepentingan.
- Pembangunan jaringan irigasi dilaksanakan berdasarkan rencana induk pengembangan
irigasi.
- Pemerintah dan Pemda memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam pembangunan
baru jaringan irigasi utama berdasarkan kesepakatan dengan masyarakat setempat.
- Pembangunan jaringan irigasi menjadi wewenang, tugas, dan tanggung jawab P3A di
wilayah kerjanya.
- Pemerintah dan Pemda memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam pembangunan
jaringan irigasi untuk perluasan areal irigasi di luar wilayah kerja P3A, berdasarkan
kesepakatan dengan P3A dan masyarakat setempat.
- P3A memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam pembangunan jaringan irigasi
untuk perluasan areal irigasi di wilayah kerjanya berdasarkan kesepakatan dengan
masyarakat setempat.
- Pemerintah dan Pemda memfasilitasi pembangunan pengembangan jaringan perluasan
areal irigasi berdasarkan kesepakatan dengan P3A dan tetap memperhatikan prinsip
kemandirian.
- Badan hukum, badan sosial, perorangan, dan pemakai air irigasi untuk keperluan
lainnya yang memanfaatkan sumber air dan atau jaringan irigasi dapat membangun
jaringannya sendiri berdasarkan berdasarkan rencana induk pengembangan irigasi.
- P3A, badan hukum, badan sosial, perorangan, dan pemakai air irigasi untuk keperluan
lainnya dapat melaksanakan pembangunan jaringan irigasi untuk keperluannya setelah
memperoleh izin pengambilan air dari Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri.