Anda di halaman 1dari 14

ISLAM ATAU PANCASILA; UNTUK SEBUAH IDEOLOGI NEGARA1

Oleh : Candra Lesmana Simamora2

Pendahuluan

Negara Indonesia sebagai Negara kepulauan yang memiliki masyarakat majemuk


dengan agama, budaya dan bahasa menjadikan Indonesia sebagai Negara yang kaya.
Disamping nilai positif yang dibawa oleh kemajemukan masyarakat tersebut juga
terdapat nilai negative yang akan menjadi permasalahan besar kalau tidak difahami
secara arif dan bijaksana.

Setiap agama mempunyai hukum dan aturan yang harus dijalankan oleh
pemeluknya, mulai dari hubugan antara manusia dengan Tuhannya dengan aturan cara
menyembahnya, aturan hubungan dengann sesama manusia dari golongan agamanya dan
lainnya, sampai pada aturan hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

Keinginan setiap anggota masyarakat untuk menjalankan keyakinannya terkadang


tidak cukup hanya pada tatanan pribadi saja, ada keinginan untuk melegalkan aturan-
aturan tersebut menjadi sebuah peraturan resmi sebuah Negara (undang-undang). Dalam
beberapa agama, kewajiban melaksanakan hukum-hukum tersebut sudah diatur dalam
segala aspek, pribadi, masyarakat dan Negara. Sehingga penerapan hukum-hukum agama
dalam tatanan Negara harus dijalankan karna memang sudah perintah dari Tuhannya.

Dalam hal ini, agama Islam sebagai agama terbesar di Indonesia yang
penganutnya mencapai 88 % (sensus 2004) yang berpdeoman kepada Al-Qur’an dan
Sunnah tentunya juga ingin melaksanakan hukum-hukum Islam secara konstitusional,
karna ketentuan ini sudah diperintahkan oleh Allah Swt dalam firmannya Udkhulu fi
silmi Kaffah, Allah memerintahkan agar umat Islam melaksanakan hukum Islam secara
sempurna, tidak setengah-setengah.

Akan tetapi, Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang sudah sah
dan dijalankan lebih dari 60 tahun ini akankah bisa diganti menjadi sistem hukum Islam
(syariat Islam)? Atau Pancasila memang sudah pas menjadi dasar Negara ini? Mudah-
mudahan pembahasan ini bisa menjawabnya.

Pengertian Ideologi, Pancasila dan Islam

Ideologi berasal dari Bahasa Yunani dari kata eidos atau idein dan logia atau
logos. Idien berarti bentuk atau melihat, sedangkan logia berarti kata atau ajaran. Ideologi
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan
azas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup
pribadi atau masyarakat untuk memperjuangkan hidupnya. Dari makna diatas idoelogi

1
Makalah ini dipresentasikan pada Kajian Eksklusif DEBATING CLUB PCI Al-Washliyah Mesir pada
hari Kamis tanggal 1 April tahun 2010
2
Penulis adalah Mahasiswa Pegiat Egyptology dan Sejarah Peradaban Kuno
adalah kumpulan gagasan, cita-cita yang harus dicapai, pandangan atau paham secara
menyeluruh dan sistematis yang dijadikan dasar bagi perubahan suatu institusi
kepentingan golongan atau kelas sosial. Jadi, pandangan tersebut disatukan dalam satu
pandangan.

Pancasila berasal dari Bahasa Sansekerta yang terdiri dari panca yang berarti lima
dan sila yang berarti prinsip, secara bahasa Pancasila berarti lima prinsip dasar. Menurut
Istilah Pancasila adalah dasar Negara serta falsafah bangsa dan Negara Republik
Indonesia yan terdiri atas lima sila yaitu (1) Ketuhanan yang Maha Esa. (2) Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab. (3) Persatuan Indonesia. (4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. (5) Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia.

Kata Islam berasal dari Bahasa Arab, yaitu bentuk masdar dari kata aslama-
yuslimu-islaman yang berarti berserah diri kepada Tuhan. Secara istilah Islam adalah
agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Islam adalah agama samawi yang
merupakan agama terbesar kedua di dunia setelah Kristen. Umat Islam di seluruh dunia
saat ini berjumlah lebih dari seperempat milyar.3

Negara Dalam Pandangan Islam

Negara dalam pandangan Islam merupakan suatu alat untuk menjamin


pelaksanaan Hukum Islam secara utuh baik hubungan manusia dengan manusia maupun
hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Sebagaiamana firman Allah
dalam Surat an-Nisa ayat 58-59: 4
Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hokum diantara manusia hendaknya kamu
menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran
kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat
Wahai orang-oang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemuadian, jika
kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah, (Al-Qur’an)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Salah satu contoh adalah sistem ekonomi, Islam yang sangat menjunjung tinggi
hak kepemilikan setiap rakyat dari lapisan manapun. Setiap rakyat diberi kebebasan
untuk memiliki apa saja dan berapa saja, yang terpenting didapatkan sechara halal, tidak
merugikan orang lain dan taat mengeluarkan zakat dari sebahagian hartanya untuk
membantu orang-orang yang lemah. Dalam hal hubungan sosial tidak ada keistimewaan
derajat manusia satu dengan manusia lainnya, misalnya : Jabatan Presiden bukanlah
ukuran kemuliaan seseorang, ia tidak lebih mulia dari seorang rakyat jelata yang miskin
sekalipun. Jabatan hanyalah amanat yang dipercayakan rakyat kepada dirinya untuk

3
http://id.wikipedia.org/wiki/Islam
4
Muhammad Sholeh al-Usaimin, “Syarh As-Siyasah as-Syar’iyyah” karya Ibnu Taimiyah, Dar Ibnu Hazm,
Cet. 1, Halaman 17
melayani sebaik-baiknya rakyat tersebut, bukan alat untuk menguasai atau menindas.
Inilah persetaraan yang didasarkan pada kecintaan kepada Allah yang memerintahkan
saling tolong menolong diantara sesama manusia.

Hubungan Negara dan Agama dalam Pancasila dan UUD 1945

“Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” [Pasal 29 ayat (1) UUD 1945]
serta penempatan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama dalam Pancasila
mempunyai beberapa makna, yaitu:

Pertama, Pancasila lahir dalam suasana kebatinan untuk melawan kolonialisme


dan imperialisme, sehingga diperlukan persatuan dan persaudaraan di antara komponen
bangsa. Sila pertama dalam Pancasila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi faktor
penting untuk mempererat persatuan dan persaudaraan, karena sejarah bangsa Indonesia
penuh dengan penghormatan terhadap nilai-nilai ”Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Kerelaan tokoh-tokoh Islam untuk menghapus kalimat “dengan kewajiban


menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” setelah “Ketuhanan Yang Maha
Esa” pada saat pengesahan UUD, 18 Agustus 1945, tidak lepas dari cita-cita bahwa
Pancasila harus mampu menjaga dan memelihara persatuan dan persaudaraan antarsemua
komponen bangsa. Ini berarti, tokoh-tokoh Islam yang menjadi founding fathers bangsa
Indonesia telah menjadikan persatuan dan persaudaraan di antara komponen bangsa
sebagai tujuan utama yang harus berada di atas kepentingan primordial lainnya.

Kedua, Seminar Pancasila ke-1 Tahun 1959 di Yogyakarta berkesimpulan bahwa


sila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah sebab yang pertama dan sila ”Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” adalah
kekuasaan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk melaksanakan amanat
negara dari rakyat, negara bagi rakyat, dan negara oleh rakyat.

Ketiga, Seminar Pancasila ke-1 Tahun 1959 di Yogyakarta juga berkesimpulan


bahwa sila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” harus dibaca sebagai satu kesatuan dengan sila-
sila lain dalam Pancasila secara utuh. Hal ini dipertegas dalam kesimpulan nomor 8 dari
seminar tadi bahwa: Pancasila adalah:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang
berpersatuan Indonesia (berkebangsaan) yang berkerakyatan dan yang
berkeadilan sosial
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang
berpersatuan Indonesia (berkebangsaan), yang berkerakyatan dan yang
berkeadilan sosial
3. Persatuan Indonesia (kebangsaan) yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkerakyatan dan berkeadilan sosial
4. Kerakyatan, yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang
adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia (berkebangsaan) dan berkeadilan
sosial
5. Keadilan sosial, yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang
adil dan beradab, yang bepersatuan Indonesia (berkebangsaan) dan berkerakyatan.
Ini berarti bahwa sila-sila lain dalam Pancasila harus bermuatan Ketuhanan Yang
Maha Esa dan sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa harus mampu
mengejewantah dalam soal kebangsaan (persatuan), keadilan, kemanusiaan, dan
kerakyatan.

Keempat, “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” juga harus dimaknai
bahwa negara melarang ajaran atau paham yang secara terang-terangan menolak
Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti komunisme dan atheisme. Karena itu, Ketetapan
MPRS No. XXV Tahun 1966 tentang Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau
Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme Leninisme masih tetap relevan
dan kontekstual. Pasal 29 ayat 2 UUD bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing …” bermakna bahwa negara hanya
menjamin kemerdekaan untuk beragama. Sebaliknya, negara tidak menjamin kebebasan
untuk tidak beragama (atheis). Kata “tidak menjamin” ini sudah sangat dekat dengan
pengertian “tidak membolehkan”, terutama jika atheisme itu hanya tidak dianut secara
personal, melainkan juga didakwahkan kepada orang lain.5

Hukum Islam di Indonesia

Sebelum kedatangan Belanda, hokum Islam sebenarnya sudah mempunyai


kedudukan tersendiri di Indonesia. Hal ini itu terbukti dari beberapa fakta. Misalnya
Sultan Malikul Zahir dari Samudra Pasai adalah seorang ahli agama dan hukum Islam
terkenal pada pertengahan abad ke XIV Masehi Melalui kerajaan ini, hukum Islam
mazhab Syafi’i disebarkan ke kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Kepulauan Nusantara.
Bahkan para ahli hukum dari Kerajaan Malaka (1400-1500) sering datang ke Samudra
Pasai untuk menari kata putus tentang permasalahan-permasalahan hukum yang muncul
di Malaka. Selanjutnya, berbagai ahli hukum Islam di Nusantara menulis buku-buku
panduan tentang hukum Islam untuk masyarakat Naruddin ar-Raniri menulis buku hukum
Islam berjudul as-Shirath al-Mustaqim pada tahun 1628. Buku ini merupakan buku
hukum Islam pertama yang disebarluaskan ke seluruh Nusantara. Syekh Arsyad Banjar
memperluas uraian buku ini dengan judul baru, Sabil al-Muhtadin, untuk dijadikan
sebagai pegangan menyelesaikan sengketa di Kesultanan Banjar.6

Negara Islam dan atau Syariat Islam

A. Negara Islam

Kewajiban menegakkan syariat Islam berdasarkan pada;


1. Berbagai dalil al-Qur’an yang menunjukkan adanya perintah untuk melaksanakan
syariat Islam. Antara lain:

5
Satya Arinanto, ”Proses Perumusan Dasar Negara Pancasila” (Tesis Program Pascasarjana Program Studi
Ilmu Hukum Universitas Indonesia, 1997), Halaman 42-46.
6
Rifyal Ka’bah , “Hukum Islam di Indonesia”, Universitas Yasri Jakarta, 1999, Halaman 69
Surat Al-Maidah ayat 48-49:
Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’ân dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan
batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka
menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka
dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang
diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-
hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari
sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.

Surat Al-Jatsiyah ayat 18:


Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama
itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engaku ikuti keniginan orang-orang yang
tidak mengetahui.

Bgeitu juga adanya ayat-ayat ancaman bagi orang-orang yang tidak mengikuti Allah dan
Rasul-Nya. Antara lain:

Surat Al-Maidah ayat 44:


Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan
oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang kafir.
Surat Al-Maidah ayat 45:
Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan
oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang zalim.

2. Banyaknya hadits Rasulullah SAW yang memperjelas adanya perintah Allah untuk
berpegang kepada Al-Qur’an dan mengikuti langkah beliau. Adapun perintah tersebut
menurut ketentuan asal adalah wajib dan beliau pun dalam langkah dan perjuangannya
juga menegakkan syariat Islam, sehingga ajaran Islam pada zaman risalah telah
ditegakkan dengan baik dan sempurna.7 Diantara hadits tersebut adalah:

Apabila aku melarang kalian terhadap sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku
menyuruh kalian melaksanakan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian.

Akan tetapi dalam prakteknya, hampir tidak ada kesepakatan bulat di kalangan
pemikir politik Muslim modern tentang apa sesungguhnya yang terkandung dalam
konsep negara Islam. Kenyataan ini sangat mudah terlihat dengan begitu beragamnya
sistem negara dan pemerintahan di dunia ini yang mengklaim dirinya sebagai negara
Islam. Namun begitu, secara teoritis, dewasa ini sudah ada berbagai upaya untuk
mencoba merumuskan sebuah konsep formal mengenai apa yang dimaksud dengan
Negara Islam. Paling tidak telah ada kesepakatan minimal bahwa suatu negara disebut
sebagai Negara Islam jika memberlakukan hukum Islam. Dengan lain perkataan,

7
Ahmad Husnan, “Tantangan Penerapan Syariah Islam”, Isy Karima, tanpa tahun, halaman 142
pelaksanaan hukum Islam merupakan prasyarat formal dan utama bagi eksisnya suatu
Negara Islam.

Gamal Al-Banna dalam bukunya mengatakan tidak ada satu pun contoh negara
Islam yang ideal selain pada masa Madinah al-Munawarah, yang berlangsung hanya
dalam waktu 25 tahun. Sepuluh tahun pada masa kenabian, sementara lima belas tahun
setelahnya adalah di bawah khalifah Abu Bakar dan Umar. Setelah itu, yang ada tidak
lebih dari bentuk pemerintahan yang ekspansif dan rakus, sampai berakhirnya masa
kekhalifahan Turki, termasuk pada masa khalifah Othman dan Ali kerana keduanya tidak
mengikuti cara kedua khalifah pendahulunya.8

Rashid Rida seorang ulama terkemuka di awal abad ke-20, yang dianggap paling
bertanggung jawab dalam merumuskan konsep Negara Islam modern, menyatakan bahwa
premis pokok dari konsep Negara Islam adalah bahwa syariat merupakan sumber hukum
tertinggi. Dalam pandangannya, syariat mesti membutuhkan bantuan kekuasaan untuk
tujuan implementasinya, dan adalah mustahil untuk menerapkan hukum Islam tanpa
kehadiran Negara Islam. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan hukum
Islam merupakan satu-satunya kriteria utama yang amat menentukanuntuk membedakan
antara suatu negara Islam dengan negara non-Islam.

Nahdlatul Ulama dalam Mukatamr ke 35 di Banjarmasin taun 1935 memutuskan


untuk tidak mendukung terbentukunya Negara Islam di Indonesia, melainkan mendorong
umat Islam untuk mengamalkan ajaran agamanya demi terbentuknya masyarakat yang
islami dan sekaligus membolehkan pendirian Negara bangsa.9

B. Syariat Islam Tanpa Negara Islam

Banyak kalangan Ulama Indonesia yang beranggapan bahwa Indonesia tidak


harus menjadi sebuah Negara Islam, karna melihat keadaan Negara Indonesia yang
sedemikian kompleks dengan agama dan budayanya. Maka penerapan syariat Islam bisa
saja dilaksanakan tanpa Negara Islam. Pendapat ini diantaranya banyak didengungkan
oleh ulama-ulama organinasi keagamaan dan kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama
dna Muhammadiyah.
Hasyim Muzadi, ketika masih menjabat sebagai ketua umum NU pernah
diwawancarai oleh majalah Tempo mengatakan bahwa NU akan tetap setia dengan
pncasila dan UUD 1945. Ketika ditanya tentang penerapan perda-perda syariat dan
gerakan-gerakan yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam Hashim Muzadi
berkomentar ”Syariat Islam seharusnya ada dalam konteks civil society, bukan nation
state”.10

C. Pancasila Sudah Islami (Pandangan Nurcholish Madjid)

8
Gamal Al-Bana, “Realsi Agama dan Negara”, Mata Air Publishing, 2004, Halaman 114
9
KH. Abdurrahman Wahid, Pengantar Editor pada buku “Ilusi Negara Islam”, LibForAll Foundation,
2009, Halaman 16
10
Tempo, Edisi. 24/XXXV/07 - 13 Agustus 2006
Ada sebagian kecil kaum Muslim, yang memandang bahwa perubahan Pancasila
dari Piagam Jakarta dengan eksklusivitas Islamnya, menjadi seperti yang ada sekarang,
secara khusus, sebagai wujud kekalahan politik wakil-wakil Muslim, dan secara umum,
sebagai simbol kekalahan kaum Muslim di Indonesia.

Akan tetapi, tidaklah demikian dengan pandangan Nurcholish Madjid (Cak Nur).
Ia justru memandang bahwa Pancasila versi yang ada sekarang, adalah wujud
kemenangan politik wakil-wakil Muslim, dan bahkan kemenangan kaum Muslim di
Indonesia. Menurut Cak Nur, dari pandangan bahwa Islam menghendaki para
pengikutnya untuk berjuang bagi kebaikan universal (rahmatan li al-alamin), dan kembali
ke keadaan nyata Indonesia, maka sudah jelas bahwa sistim yang menjamin kebaikan
konstitusional bagi keseluruhan bangsa ialah sistim yang telah kita sepakati bersama,
yakni pokok-pokok yang terkenal dengan Pancasila menurut semangat UUD 1945. Cak
Nur menegaskan bahwa hal stereotipikal ini penting dan terpaksa harus sering
dikemukakan, terutama karena hal itu menyangkut persoalan pokok yang untuk sebagian
masyarakat Muslim dianggap belum selesai benar. Padahal menurut Cak Nur, kaum
Muslim di Indonesia seharusnya tidak perlu menolak Pancasila (dan UUD 1945) karena
ia sudah sangat Islami. Sifat Islami keduanya didasarkan pada 2 pertimbangan yakni:
Pertama, nilai-nilainya dibenarkan oleh ajaran agama Islam, dan Kedua, fungsinya
sebagai noktah-noktah kesepakatan antar berbagai golongan untuk mewujudkan kesatuan
sosial-politik bersama.

Kedudukan serta fungsi Pancasila dan UUD 1945 bagi umat Islam Indonesia
menurut Cak Nur, sekalipun tidak dapat disamakan, sebenarnya dapat dianalogkan
dengan kedudukan serta fungsi dokumen politik pertama dalam sejarah Islam (yang kini
dikenal sebagai Piagam Madinah/ Mitsaq al-Madinah) pada masa-masa awal setelah
hijrah Nabi Muhammad SAW. Jadi, segera setelah Nabi SAW tiba di Yastrib (Madinah)
pada 622, beliau membuat perjanjian antara orang-orang Muhajirin (orang Islam Mekkah
yang ikut hijrah bersama Nabi), Anshar (penduduk Muslim Madinah) dan orang-orang
Yahudi. Perjanjian inilah yang disebut sebagai Piagam Madinah.

Pancasila melalui slogannya Bhineka Tuggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu
jua), mengandung makna bahwa meskipun masyarakat Indonesia sangatlah plural baik
dari segi agama, suku bangsa, bahasa dan sebagainya tetapi mereka diikat dan disatukan
oleh sebuah landasan hidup bersama yakni Pancasila. Secara serupa, Piagam Madinah
juga merupakan rumusan tentang prinsip-prinsip kesepakatan antara kaum Muslim
Madinah dibawah pimpinan Nabi SAW dengan berbagai kelompok non-Muslim di kota
itu untuk membangun tatanan sosial-politik bersama.11

Di dalam Piagam Madinah, salah satunya, dinyatakan tentang hak


kewarganegaraan dan partisipiasi kaum non-Muslim di kota Madinah yang dipimpin
Nabi SAW. Kaum Yahudi yang semula merupakan himpunan suku-suku juga diangkat
statusnya oleh Piagam itu menjadi warga negara yang sah. Jadi, dengan Piagam itu Nabi
ingin memproklamirkan bahwa semua warga negara, baik Muslim maupun non-Muslim,

11
Bachtiar Effendy, “Islam and The State in Indonesia”, Institut of Shouteast Asian Studies, Singapore,
tahun 2003, halaman 109
adalah satu bangsa atau umma wahida dan bahwa mereka semua memiliki hak dan
kewajiban yang sama.12 Memang, setelah terjadinya peristiwa-peristiwa pengkhianatan
Yahudi tersebut, resminya Piagam Madinah itu sudah tidak berlaku lagi, namun prinsip-
prinsipnya sebenarnya tetap sah dan diikuti ditempat lain. Oleh karena itu, menjadi jelas
bahwa ketika orang-oran Arab melakukan gerakan-gerakan pembebasan ke daerah-
daerah luar Arabia, dan mendapatkan masyarakat yang plural/majemuk, maka yang
pertama kali mereka lakukan adalah mengatur hubungan antar kelompok itu dengan
mencontoh praktek dan kebjiaksanaan Nabi sewaktu di Madinah dahulu.

Bunyi dan spirit Piagam Madinah itu, yang menurut Cak Nur merupakan salah
satu sumber etika politik Islam, sangatlah menarik untuk dikaji kembali dalam konteks
pandangan etika politik modern. Ia memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut tinjauan
kenegaraan modernpun mengagumkan. Dalam Piagam itulah dirumuskan ide-ide yang
kini menjadi pandangan hidup modern di dunia, seperti kebebasan beragama, hak setiap
kelompok untuk mengatur hidup sesuai dengan keyakinannya, kemerdekaan hubungan
ekonomi antar golongan dan sebagainya. Akan tetapi, juga ditegaskan suatu kewajiban
umum, yakni partisipasi dalam upaya pertahanan bersama menghadapi musuh dari luar.
Menurut Cak Nur, gagasan pokok eksperimen politik di Madinah ini ialah, adanya suatu
tatanan sosial-politik yang diperintah, bukan oleh kemauan pribadi, melainkan secara
bersama-sama, Jadi, bukan oleh prinsip-prinsip yang dapat berubah-ubah sejalan dengan
kehendak pemimpin, melainkan oleh prinsip-prinsip yang telah dilembagakan didalam
dokumen kesepakatan dari semua anggota masyarakat, yang dalam zaman modern ini
disebut konstitusi kenegaraan seperti Undang-Undang Dasar (UUD).

Sebanding dengan kaum Muslim Indonesia dalam menerima Pancasila dan UUD
1945, menurut Cak Nur, orang-orang Muslim pimpinan Nabi SAW itu menerima
Konstitusi Madinah adalah juga atas pertimbangan nilai-nilainya yang dibenarkan oleh
ajaran Islam dan fungsinya sebagai kesepakatan antar golongan untuk membangun
tatanan kehidupan sosial-politik bersama. Demikian pula, sama halnya dengan umat
Islam Indonesia yang tidak memandang Pancasila dan UUD 1945 itu sebagai alternatif
terhadap agama Islam, Nabi SAW dan pengikut beliau itupun tidak pernah terbetik dalam
pikiran mereka bahwa konstitusi Madinah itu menjadi alternatif bagi agama baru mereka.

Berdasarkan penjelasan di atas, Cak Nur sampai pada kesimpulan bahwa, sikap
umat Islam Indonesia yang menerima dan menyetujui Pancasila dan UUD 1945, dapat
dipertanggung jawabkan sepenuhnya dari segala segi pertimbangan. Dari sudut pandang
itu pula kita harus menilai kesungguhan para founding fathers dan para tokoh Islam yang
selalu menegaskan bahwa antara Islam serta kaum Muslim Indonesia dan Pancasila serta
UUD 1945 tidak ada masalah. Kesulitan-kesulitan sosial-politik yang datang dari
kalangan Muslim, menurut Cak Nur, tidak harus selalu dilihat dalam kerangka
hubungannya dengan Pancasila dan UUD 1945, melainkan sebaiknya juga dilihat kaitan-
kaitan nisbinya saja serta dicarikan pemecahannya secara pragmatis. Misalnya,
dipertimbangkan bahwa kesulitan serius datang dari kalangan Islam karena memang
sebagian besar rakyat beragama Islam, dan kesulitan yang sama atau sebanding juga

12
Suratno, “Kompatibilitas Islam dan Modernitas Dalam Neo-Modernisme Nurcholis Madjid” dalam
Jurnal Universitas Paramadina, Vol 4, No 3, Agustus 2006, halaman 332
datang dari kalangan non-Muslim. Menurut Cak Nur, kecenderungan untuk secara
gampang mencari keterangan atas suatu kesulitan sosial-politik yang datang dari suatu
kelompok dengan stereotipikal mengkaitkannya kepada hal-hal yang prinsipiil seperti
Pancasila dan UUD 1945 adalah satu petunjuk kemampuan berpikir yang sederhana dan
ketidakberanian menghadapi kenyataan persoalan. Atau, mungkin juga hal itu dilakukan
karena mengharap keuntungan sosial-politik dengan mudah, akan tetapi, dengan akibat
bahwa kerusakan negara menjadi semakin parah dan persoalan yang sebenarnya tidak
terselesaikan.

Gerakan-Gerakan Perjuangan Negara Islam di Indonesia

A. NII (Negara Islam Indonesia)/DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia)

Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam
atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang
diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (12 Sjawal 1368) oleh Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong,
Tasikmalaya, Jawa Barat.13

Gerakan ini bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi dengan


agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku
dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-
undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi
adalah Al Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas
menyatakan kewajiban negara untuk memproduk undang-undang yang berlandaskan
syari'at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits
Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-
Maidah, ayat 50.14 Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa
wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah),
Sulawesi Selatan dan Aceh.[1] [2] Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi
pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun
dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.

Pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) terjadi di empat


daerah, yaitu :

1. DI/TII Jawa Barat

Pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan


Kartosuwiryo (S. M. Kartosuwiryo) terjadi terutama di Jawa Barat dan bagian
barat Jawa Tengah. Pada masa pergerakan nasional, Kartosuwiryo merupakan
tokoh pergerakan Islam Indonesia yang cukup disegani. Selama pendudukan
Jepang, Kartosuwiryo menjadi anggota Masyumi. Bahkan, ia terpilih sebagai

13
http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Indonesia
14
Robert Cribb, “Historical Atlas of Indonesia” University Of Hawaii Press, tahun 2000, halaman 162
Komisaris Jawa Barat merangkap Sekretaris I. Dalam kehidupannya,
Kartosuwiryo mempunyai cita - cita untuk mendirikan Negara Islam Indonesia.
Untuk mewujudkan cita - citanya, Kartosuwiryo mendirikan sebuah pesantren di
Malangbong, Garut, yaitu Pesantren Sufah. Pesantren Sufah selain menjadi
tempat menimba ilmu keagamaan juga dijadikan sebagai tempat latihan
kemiliteran Hizbullah dan Sabillah. Dengan pengaruhnya, Kartosuwiryo berhasil
mengumpulkan banyak pengikut yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari
pasukan Tentara Islam Indonesia (TII). Dengan demikian, kedudukan
Kartosuwiryo semakin kuat.

Sejalan dengan hal itu, pada 1948 Pemerintah RI menandatangani


Perjanjian Renville yang mengharuskan pengikut RI mengosongkan wilayah Jawa
Barat dan pindah ke Jawa Tengah. Hal ini dianggap Kartosuwiryo sebagai bentuk
pengkhianatan Pemerintah RI terhadap perjuangan rakyat Jawa Barat. Bersama
kurang lebih 2000 pengikutnya yang terdiri atas laskar Hizbullah dan Sabilillah,
Kartosuwiryo menolak hijrah dan mulai merintis usaha mendirikan Negara Islam
Indonesia (NII). Proklamasi NII sendiri baru dilaksanakan pada 7 Agustus 1949.

Pemerintah RI berusaha menyelesaikan persoalan ini dengan cara damai.


Pemerintah membentuk sebuah komite yang dipimpin oleh Natsir (Ketua
Masyumi). Namun, komite ini tidak berhasil merangkul kembali Kartosuwiryo ke
pangkuan RI. Oleh karena itu, pada 27 Agustus 1949, pemerintah secara resmi
melakukan operasi penumpasan gerombolan DI/TII yang disebut dengan Operasi
Baratayudha.

2. DI/TII Jawa Tengah

Gerakan DI/TII juga menyebar ke Jawa Tengah. Gerakan DI/TII di Jawa


Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah di bagian utara, yang bergerak di daerah
Tegal, Brebes dan Pekalongan. Setelah bergabung dengan Kartosuwiryo, Amir
Fatah kemudian diangkat sebagai Komandan pertemburan Jawa Tengah dengan
pangkat Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia. Untuk menghancurkan gerakan
ini, Januari 1950 dibentuk Komando Gerakan Banteng Negara (GBN) dibawah
Letkol Sarbini. Pemberontakan di Kebumen dilancarkan oleh Angkatan Umat
Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman (Romo
Pusat atau Kiai Sumolanggu) Gerakan ini berhasil dihancurkan pada tahun 1957
dengan operasi militer yang disebut Operasi Gerakan Banteng Nasional dari
Divisi Diponegoro. Gerakan DI/TII itu pernah menjadi kuat karena
pemberontakan Batalion 426 di Kedu dan Magelang/ Divisi Diponegoro.
Didaerah Merapi-Merbabu juga telah terjadi kerusuhan-kerusuhan yang
dilancarkan oleh Gerakan Merapi-Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini juga
dapat dihancurkan. Untuk menumpas gerakan DI/TII di daerah Gerakan Banteng
Nasional dilancarkan operasi Banteng Raiders.

1. DI/TII Aceh
Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud
Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" di bawah
pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953.

Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer


Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan
tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah
Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer.
Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak
sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil mempengaruhi pejabat-
pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu
lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar
daerah Aceh termasuk sejumlah kota.

Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah,


operasi pemulihan keamanan TNI segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota
besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian
terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah
Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima
Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Jassin.

2. DI/TII Sulawesi Selatan

Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan


(KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakar
menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya
dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah
pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak diantara mereka yang tidak
memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan
menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada
saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar
Muzakar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa
persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakar mengubah
nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai
bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3
Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati oleh pasukan TNI.

B. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)

Hizbut Tahrir berdiri pada tahun 1953 di Al-Quds (Baitul Maqdis), Palestina.
Gerakan yang menitik beratkan perjuangan membangkitkan umat di seluruh dunia untuk
mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya kembali Khilafah Islamiyah ini
dipelopori oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama alumni Al-Azhar Mesir,
dan pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah di Palestina.
Hizbut Tahrir kini telah berkembang ke seluruh negara Arab di Timur Tengah,
termasuk di Afrika seperti Mesir, Libya, Sudan dan Aljazair. Juga ke Turki, Inggris,
Perancis, Jerman, Austria, Belanda, dan negara-negara Eropah lainnya hingga ke
Amerika Serikat, Rusia, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Pakistan, Malaysia, Indonesia,
dan Australia.

Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an dengan merintis dakwah di
kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an ide-ide dakwah Hizbut
Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai aktivitas dakwah di masjid,
perkantoran, perusahaan, dan perumahan.

Hizbut Tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah


Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak kaum muslimin kembali
hidup secara Islami dalam Darul Islam dan masyarakat Islam. Di mana seluruh kegiatan
kehidupannya diatur sesuai dengan hukum-hukum syara’. Pandangan hidup yang akan
menjadi pedoman adalah halal dan haram, di bawah naungan Daulah Islamiyah, yaitu
Daulah Khilafah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang diangkat dan dibai’at oleh
kaum muslimin untuk didengar dan ditaati agar menjalankan pemerintahan berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru
dunia dengan dakwah dan jihad. Di samping itu Hizbut Tahrir bertujuan membangkitkan
kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang.
Hizbut Tahrir berusaha untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaan dan
keemasannya seperti dulu, di mana umat akan mengambil alih kendali negara-negara dan
bangsa-bangsa di dunia ini. Dan negara Khilafah akan kembali menjadi negara nomor
satu di dunia—sebagaimana yang terjadi pada masa silam—yakni memimpin dunia
sesuai dengan hukum-hukum Islam.Hizbut Tahrir bertujuan pula untuk menyampaikan
hidayah (petunjuk syari’at) bagi umat manusia, memimpin umat Islam untuk menentang
kekufuran beserta segala ide dan peraturan kufur, sehingga Islam dapat menyelimuti
bumi.15

C. MMI (Majelis Mujahidin Indonesia)

Majelis Mujahidin adalah lembaga yang dilahirkan melalui Kongres Mujahidin I


yang diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H, bertepatan dengan
tanggal 5-7 Agustus 2000. Konggres tersebut bertemakan Penegakan Syari’at Islam,
dihadiri oleh lebih dari 1800 peserta dari 24 Propinsi di Indonesia, dan beberapa utusan
luar-negeri. Konggres Mujahidin I itulah yang kemudian mengamanatkan kepada
sejumlah 32 tokoh Islam Indonesia yang tercatat sebagai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)
untuk meneruskan misi Penegakan Syari’at Islam melalui wadah yang disebut sebagai
Majelis Mujahidin.

Majelis Mujahidin bermaksud menyatukan segenap potensi dan kekuatan kaum


muslimin (mujahidin). Tujuannya adalah, untuk bersama-sama berjuang menegakkan
15
http://hizbut-tahrir.or.id/tentang-kami/
Syari’ah Islam dalam segala aspek kehidupan, sehingga Syari’ah Islam menjadi rujukan
tunggal bagi sistem pemerintahan dan kebijakan kenegaraan secara nasional maupun
internasional. Yang dimaksudkan dengan Syari’at Islam disini adalah, segala aturan
hidup serta tuntunan yang diajarkan oleh agama Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan
Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Majelis Mujahidin bersifat Tansiq atau aliansi gerakan (amal) di antara ummat
Islam (mujahid) berdasarkan ukhuwah, kesamaan aqidah serta manhaj perjuangan,
sehingga majelis ini mampu menjadi panutan ummat dalam hal berjuang menegakkan
Dienullah di muka bumi ini, tanpa dibatasi oleh suku, bangsa ataupun negara.

Allah berfirman: “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari


seorang pria dan seorang wanita. Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (hidup rukun dan damai). Sesungguhnya
orang yang paling mulia di sisi Allah ialah siapa yang paling bertaqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengenal lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Hujurat, 49:13)

Aliansi atau tansiq ini dikembangkan dalam 3 formulasi, yakni: Kebersamaan


dalam misi menegakkan syari’at Islam (tansiqul fardi), Kebersamaan dalam Program
menegakkan syari’at Islam (tansiqul ‘amali), dan Kebersamaan dalam satu institusi
Penegakan Syari’ah Islam (tansiqun nidhami). 16

Penutup

Perdebatan tentang ideologi Negara ini tentunya masih akan panjang. Menurut
penulis, pelaksanaan syariat Islam di Indonesia masih perlu dukungan dan perjuangan
panjang. Setidaknya, tercapainya pelaksanaan syariat Islam tanpa Negara Islam sudah
merupakan hasil yang sangat menggembirakan. Karna jaminan kesejahteraan manusia
dengan menjalankan syariat Islam bukanlah datang dari manusia, tapi sudah menjadi
jaminan dari Allah Swt.

16
http://majelismujahidin.wordpress.com/2008/01/31/profil-majelis-mujahidin/#more-4
Daftar Pustaka

Al-Qur’an dan Terjemahannya (2007), Terbitan Sinar Baru Algensindo Bandung


Al-Bana, Gamal (2004). Relasi Agama dan Negara. Mata Air Publishing
Arinanto, Satya (1997). Proses Perumusan Dasar Negara Pancasila
Cribb, Robert (2000). Historical Atlas of Indonesia, University Of Hawaii Press
Husnan, Ahmad. Tantangan Penerapan Syariah Islam, Isy Karima
Ka’bah, Rifyal (1999). Hukum Islam di Indonesia. Universitas Yasri Jakarta
LibForAllFoundation (2000). Ilusi Negara Islam. LibForAll
Sholeh al-Usaimin, Muhammad (2008). Syarh As-Siyasah as-Syar’iyyah. Dar Ibnu Hazm
Effendy, Bachtiar (2003). Islam and The State in Indonesia. Institut of Shouteast Asian
Studies. Singapore

http://id.wikipedia.org
http://hizbut-tahrir.or.id
http://majelismujahidin.wordpress.com/