Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KELOMPOK

BLOK XXII GERIATRI


SKENARIO 3

IMOBILISASI PADA LANSIA DAN BERBAGAI KOMPLIKASINYA

Oleh:
Kelompok 13
Anisa Nindiasari G0007038
Ari Revianto G0007040
Ariesia Dewi C. G0007042
Berty G0007044
Billy Joe G0007046
Brigitta Devi A. H. G0007048
Sari Mustikaningrum G0007154
Shabrina Nur Zidny G0007156
Sisilia Fitria Purnaningrum G0007158
Sunarto G0007160
Titisari Khoiria Qodriani G0007162

Nama Tutor: Dra. Endang Sahir, M.Sc., A. And.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak atau tirah baring
selama lebih dari 3 hari, dengan gerak anatomik tubuh menghilang akibat perubahan
fisiologik. Imobilisasi merupakan salah satu masalah yang cukup besar di bidang
geriatri yang timbul sebagai akibat penyakit atau masalah psikososial yang diderita. Di
ruang rawat inap geriatri RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2000
didapatkan prevalensi imobilisasi sebesar 33,6% dan pada tahun 2001 sebesar 31,5%
(Setiati dan Roosheroe, 2007).
Imobilisasi dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperberat kondisi
pasien, memperlambat proses penyembuhan, serta dapat menyebabkan kematian. Oleh
karena itu, penting bagi para mahasiswa kedokteran untuk memahami berbagai hal
mengenai imobilisasi dan komplikasi yang ditimbulkannya. Penulisan laporan ini
diharapkan dapat membantu penulis dan mahasiswa kedokteran pada umumnya untuk
memahami berbagai aspek yang menjadi tujuan pembelajaran dalam blok geriatri
dengan skenario sebagai trigger.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, didapatkan rumusan masalah :
1. Perubahan-perubahan apa saja yang terjadi pada usia lanjut?
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut?
3. Apa saja komplikasi yang timbul pada pasien imobilisasi?
4. Bagaimana mekanisme timbulnya dekubitus pada usia lanjut?
5. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya dekubitus pada usia lanjut?
6. Bagaimana patofisiologi timbulnya gejala dan tanda yang terjadi pada pasien?
7. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, dan rontgen pasien?
8. Apa indikasi diberikannya terapi oksigenasi, antibiotik dan terapi cairan pada
pasien?
9. Bagaimana upaya penatalakanaan dan pencegahan penyakit pasien?
10. Rehabilitasi medik apa yang diberikan pada pasien?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan ini antara lain :
1. Memperoleh informasi yang akurat tentang status kesehatan geriatri.
2. Melakukan pemeriksaan klinis pada geriatri.
3. Menyusun data dari gejala, pemeriksaan fisik prosedur klinis dan pemeriksaan
laboratorium.
4. Melakukan penatalaksanaan kasus penyakit geriatri
5. Merancang manajemen penyakit geriatri.
6. Merancang tindakan pencegahan penyakit geriatri dengan mempertimbangkan
faktor pencetusnya.
D. Skenario
Seorang wanita geriatri usia 80 tahun dibawa anaknya ke IGD RS Moewardi
karena hanya tidur-tiduran saja selama 2 minggu ini. Sejak 5 hari yang lalu, penderita
sulit buang air besar (BAB) dan makan hanya sedikit. Pasien kemudian dirawat di rumah
anaknya, pasien semakin tampak lemas dan tidak mau makan sama sekali. Pasien batuk
3 minggu yang lalu. Batuk berdahak, tidak berdarah, tidak demam, dan tidak didapatkan
nyeri dada. Kemudian sejak satu hari yang lalu, pasien gelisah dan tampak bingung.
Dari hasil pemeriksaan didapatkan GCS 7, E3M2V2, tekanan darah 120/70
mmHg, respiration rate (RR) 30 kali per menit, suhu (T) 36°C, heart rate (HR) 108 kali
per menit. Pada pemeriksaan paru sebelah kanan didapatkan ronkhi basah kasar, suara
dasar bronkial, dan fremitus raba meningkat. Tampak luka pada punggung bawah
berukuran 4 x 5 cm dengan dasar luka kemerahan. Skor Norton 9. Hasil pemeriksaan
laboratorium : Lekosit 7.500. Foto thoraks menunjukkan kesuraman homogen pada paru
sebelah kanan.
Di UGD diberikan oksigenasi, antibiotik dan terapi cairan. Kemudian dirawat di
ruang perawatan geriatri dengan medikasi dan kasur dekubitus. Direncanakan konsul ke
rehabilitasi medik.
E. Hipotesis
Pasien dalam skenario mengalami imobilisasi dengan komplikasi berupa
dekubitus dan pneumonia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Perubahan-Perubahan pada Usia Lanjut


Dengan makin bertambahnya usia seseorang, maka kemungkinan terjadinya
penurunan anatomik dan fungsional atas organ-organ tubuhnya makin besar. Peneliti
Andres dan Tobin, mengintroduksi hukum 1 % yang menyatakan bahwa fungsi organ
akan menurun sebanyak 1 % setiap tahunnya setelah usia 30 tahun. Walaupun
penelitian Svanborg et al. menyatakan bahwa penurunan tersebut tidak sedramatis
seperti diatas, tetapi memang terdapat penurunan fungsional yang nyata setelah usia 70
tahun. Penurunan anatomik dan fungsional dari organ-organ pada lansia akan
mempermudah timbulnya penyakit pada organ tersebut (Martono, 2009).
Berbagai perubahan tersebut antara lain (Martono, 2009):
1. Sistem panca indra
Terdapat perubahan morfologik pada panca indra. Perubahan fungsional
yang bersifat degeneratif ini, memberi manifestasi pada morfologi berbagai organ
panca indra tersebut baik pada fungsi melihat, mendengar, keseimbangan ataupun
perasa dan perabaan. Pada keadaan yang ekstrim dapat bersifat patologik, misalnya
terjadi ekstropion/entropion, ulkus kornea, glaukoma, dan katarak pada mata,
sampai keadaan konfusio akibat penglihatan yang terganggu. Pada telinga, dapat
terjadi tuli konduksi dan sindroma Meniere (keseimbangan).
2. Sistem gastrointestinal
Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik degeneratif,
antara lain perubahan atrofik pada rahang, sehingga gigi lebih mudah tanggal.
Perubahan atrofik juga terjadi pada mukosa, kelenjar, dan otot-otot pencernaan.
Berbagai perubahan morfologik akan meyebabkan perubahan fungsional sampai
perubahan patologik, yang meliputi gangguan mengunyah dan menelan, penurunan
nafsu makan, konstipasi, serta berbagai penyakit seperti disfagia, hiatus hernia,
ulkus peptikum, divertikulosis, pankreatitis, sindroma malabsorbsi, karsinoma
kolon dan rektum, kolitis iskemik dan kolitis ulserativa.
3. Sistem kardiovaskuler
Meskipun tanpa disertai adanya penyakit, pada usia lanjut jantung sudah
menunjukkan penurunan kekuatan kontraksi, kecepatan kontraksi dan isi sekuncup.
Terjadi pula penurunan yang signifikan dari cadangan jantung dan kemampuan
untuk meningkatkan kekuatan curah jantung, misalnya pada keadaan latihan/
exercise. Golongan lansia sering kali kurang merasakan nyeri dibandingkan usia
muda dan gejala awal infark miokard akut seringkali adalah gagal jantung,
embolus, hipotensi atau konfusio.
Pada usia lanjut juga terjadi perubahan pada pembuluh darah. Terjadi
penebalan intima (akibat proses aterosklerosis) atau tunika media (akibat proses
menua) yang pada akhirnya menyebabkan kelenturan pembuluh darah tepi
meningkat. Hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah terutama tekanan
darah sistolik, walaupun tekanan diastolik juga sering meningkat sebagai akibat
banyak faktor lain termasuk genetik.
4. Sistem respirasi
Sistem respirasi sudah mencapai kematangan pertumbuhan pada usia 20-25
tahun, setelah itu mulai menurun fungsinya. Elastisitas paru menurun, kekakuan
dinding dada meningkat, kekuatan otot dada menurun. Semua ini mengakibatkan
turunnya rasio ventilasi-perfusi di bagian paru yang tak bebas dan pelebaran
gradien alveolar arteri untuk oksigen. Disamping itu, pada sistem respirasi juga
terjadi penurunan gerak silia di dinding sistem respirasi, penurunan refleks batuk
dan refleks fisiologik lain, yang menyebabkan peningkatan kemungkinan terjadinya
infeksi akut pada saluran nafas bawah. Berbagai penurunan morfologik dan
fungsional tersebut, akan mempermudah terjadinya berbagai keadaan patologik
diantaranya PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), penyakit infeksi paru akut/
kronis, dan keganasan pada paru-bronkus.
5. Sistem endokrinologik
Pada sekitar 50% lansia menunjukkan intoleransi glukosa, dengan kadar
glukosa puasa normal. Pada lansia juga terjadi penurunan tingkat produksi hormon
tiroid dan tingkat bersihan metabolik tiroid. Pada lansia pria terjadi penurunan
respon RSH terhadap TRH. Pada wanita, terjadi penurunan hormon estrogen pasca
menopause sehingga bisa menimbulkan osteoporosis. Pada usia lebih tua, kejadian
osteoporosis pada pria juga meningkat karena faktor-faktor inaktivitas, asupan
kalsium kurang, pembuatan vitamin D melalui kulit menurun, dan juga faktor
hormonal.
6. Sistem hematologik
Pola pertumbuhan sel darah merah (SDM) dan sel darah putih (SDP) secara
kualitatif tidak berubah pada penuaan, akan tetapi sumsum tulang secara nyata
mengandung lebih sedikit sel hemopoitik dengan respon terhadap stimuli buatan
agak menurun. Respon regeneratif terhadap hilang darah atau terapi anemia
pernisiosa agak kurang dibanding waktu muda. Rentang hidup SDM tidak berubah
akibat proses menua, juga morfologi tidak menunjukkan perubahan penting.
Berbagai jenis anemia yang sering didapatkan pada usia lanjut antara lain anemia
defisiensi besi, anemia megaloblastik, dan anemia akibat penyakit kronis.
7. Sistem persendian
Pada sinovial sendi terjadi perubahan berupa tidak ratanya permukaan sendi,
fibrilasi, dan pembentukan celah dan lekukan di permukaan tulang rawan. Erosi
tulang rawan hialin menyebabkan eburnasi tulang dan pembentukan kista di rongga
subkondra dan sumsum tulang. Semua perubahan ini serupa dengan yang terdapat
pada osteoartrosis. Keadaan tersebut baru bisa dikatakan patologik bila terdapat
stres tambahan, misalnya bila terjadi trauma atau pada sendi penanggung beban.
Diantara penyakit sendi yang sering terdapat pada usia lanjut adalah osteoartritis,
rematoid artritis, gout dan pseudogout, artritis monoartikuler senilis dan rematika
polimialgia.
8. Sistem urogenital
Pada usia lanjut ginjal mengalami perubahan, antara lain penebalan kapsula
bowman dan gangguan permeabilitas terhadap solut yang akan difiltrasi, nefron
mengalami penurunan jumlah dan mulai terlihat atrofi. Akan tetapi, fungsi ginjal
secara keseluruhan dalam keadaan istirahat tidak terlihat menurun. Bila terjadi stres
fisik (latihan berat, infeksi, gagal jantung, dan lain-lain) ginjal tidak dapat
mengatasi peningkatan kebutuhan tesebut dan mudah terjadi gagal ginjal. Pada usia
lanjut, kreatinin juga tidak menggambarkan keadaan fungsi ginjal karena jumlah
protein tubuh dalam massa otot (yang merupakan kontributor kadar kreatinin darah)
sudah menurun.
9. Infeksi dan imunologi
Pada usia lanjut timus mengalami resorbsi. Jumlah sel T dan sel B tidak
berubah, walaupun secara kuantitatif terjadi perubahan berupa tanggapan terhadap
stimuli artifisial. Pada usia lanjut pembentukan autoantibodi pun meningkat
sehingga insidensi penakit autoimun meningkat. Pengenalan dan penyerangan
terhadap sel-sel tumor juga menurun, menyebabkan insidensi penyakit neoplasma
meningkat. Tanggapan makrofag dan imunitas bawaan yang lain, misalnya sel
mukosa, sel kulit, silia di sistem respirasi, serta pembentukan protein fase akut
menurun sehingga meningkatkan faktor predisposisi terhadap terjadinya penyakit
infeksi.
Peningkatan predisposisi pada infeksi tersebut penting pada lansia, karena
pada usia lanjut infeksi cenderung menjadi berat, bahkan menyebabkan kematian.
Infeksi saluran nafas bawah (pneumonia dan bronkhopneumonia) serta infeksi
saluran kemih merupakan infeksi penting pada usia lanjut, yang bisa berlanjut lebih
berat. Faktor-faktor yang memperberat infeksi tersebut diantaranya adalah
imobilisasi, instrumentasi, serta iatrogenik.
10. Sistem saraf pusat dan otonom
Terjadi penurunan berat otak sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30
sampai 70 tahun. Disamping meningen menebal, giri dan sulci otak berkurang
kedalamannya. Akan tetapi kelainan ini tidak menimbulkan kelainan patologik
yang berarti. Pada semua sitoplasma sel juga terjadi deposit lipofusin yang sering
disebut sebagai pigmen wear and tear. Yang bersifat patologis adalah adanya
degenerasi pigmen substansia nigra, kekusutan neurofibriler dan pembentukan
badan-badan Hirano. Keadaan ini sesuai dengan proses terjadinya patologi pada
sindrom Parkinson dan demensia tipe Alzeimer. Pada pembuluh darah terjadi
penebalan tunika intima dan tunika media sehingga sering terjadi gangguan
vaskularisasi otak yang berakibat terjadinya TIA, stroke, dan demensia vaskuler.
Vaskularisasi yang menurun pada daerah hipotalamus menyebabkan terjadinya
gangguan saraf otonom, disamping mungkin sebagai akibat pengaruh berkurangnya
berbagai neurotransmiter. Penyakit metabolik seperti diabetes, hipotiroid, dan
hipertiroid dapat menyebabkan gangguan pada susunan saraf tepi, baik yang
bersifat otonom atau tidak.
11. Sistem kulit dan integumen
Terjadi atrofi epidermis, kelenjar keringat, folikel rambut, serta berubahnya
pigmentasi dengan akibat penipisan kulit, fragil seperti selaput (seperti kulit ari
buah salak). Warna kulit berubah dan terjadi pigmentasi yang tidak merata. Kuku
menipis dan mudah patah, rambut rontok sampai terjadi kebotakan. Lemak
subkutan berkurang menyebabkan berkurangnya bantalan kulit, sehingga daya
tahan terhadap tekanan dan perubahan suhu menjadi berkurang. Akibatnya pada
lansia mudah terjadi dekubitus, hipotermia, atau hipertermia. Penipisan kulit
tersebut menyebabkan kulit mudah terluka dan terjadi infeksi kulit.
12. Otot dan tulang
Otot-otot mengalami atrofi karena berkurangnya aktivitas, gangguan
metabolik, atau denervasi saraf. Dengan bertambahnya usia, proses berpasangan
(coupling) penulangan yaitu perusakan dan pembentukan tulang melambat,
terutama pembentukannya. Hal ini selain akibat menurunnya aktivitas tubuh, juga
akibat penurunan hormon estrogen (pada wanita), vitamin D (terutama orang yang
kurang terkena sinar matahari) dan beberapa hormon lain seperti kalsitonin dan
parathormon. Tulang-tulang terutama trabekulae menjadi lebih berongga-rongga,
mikroarsitektur berubah dan sering berakibat patah tulang baik akibat benturan
ringan maupun spontan.
13. Badan Menyeluruh
Pada lansia terjadi penurunan tinggi badan (postur bungkuk karena kifosis),
berat badan menurun, rasio lemak atau BB bersih meningkat, dan air tubuh total
juga menurun.
B. Imobilisasi
Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan yang tidak bergerak/tirah baring
selama 3 hari atau lebih dengan gerak anatomik tubuh menghilang akibat perubahan
fungsi fisiologik. Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat
menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Penyebab utama imobilisasi adalah adanya
rasa nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis.
Osteoartritis merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi
kogmitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi
juga menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat
menyebabkan orang usia lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di rumah
maupun di rumah sakit (Setiati dan Roosheroe, 2007).
Pengkajian geriatri paripurna diperlukan dalam mengevaluasi pasien usia lanjut
yang mengalami imobilisasi, meliputi (Liza, 2008a):

Evaluasi Keterangan
Anamnesis • Riwayat dan lama disabilitas/imobilisasi
• Kondisi medis yang merupakan faktor risiko dan penyebab
imobilisasi
• Kondisi premorbid
• Nyeri
• Obat – obatan yang dikonsumsi
• Dukungan pramuwedha
• Interaksi sosial
• Faktor psikologis
• Faktor lingkungan
Pemeiksaan Status kardiopolmonal
fisik Kulit
Muskuloskeletal: kekuatan dan tonus otot, lingkup gerak sendi, lesi
dan deformitas kaki
Neurologis: kelemahan fokal, evaluasi persepsi dan sensorik
Gastrointertinal
Genitourinarius
Status Antara lain dengan pemeriksaan indeks aktivitas kehidupan sehari -
fungsional hari (AKS) Barthel
Status Antara lain penapisan dengan pemeriksaan geriatri depression scale
Mental (GDS)
Status Antara lain penapisan dengan pemeriksaan mini-mental state
kognitif examination (MMSE), abbreviated mental test (AMT)
Tingkat Mobilitas di tempat tidur, kemampuan transfer, mobilitas di kursi
Mobilitas roda, keseimbangan saat duduk dan berdiri, cara berjalan (gait), nyeri
saat bergerak
Pemeriksaan Penilaian berat ringannya kondisi medis penyebab imobilisasi (foto
Penunjang lutut, ekokardiografi, dan lain-lain) dan komplikasi akibat imobilsasi
(pemeriksaan albumin, elektrolit, glukosa darah, hemostasis, dan
lain-lain)

Tatalaksana umum pada pasien imobilisasi membutuhkan kerjasama tim medis


interdisiplin dengan partisipasi pasien, keluarga, dan pramuwedha. Edukasi kepada
pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya latihan bertahap
dan ambulasi dini, serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas
kehidupan sehari–hari sendiri, semampu pasien. Dilakukan pengkajian geriatri
paripurna, perumusan target fungsional, dan pembuatan rencana terapi yang mencakup
perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi. Temukenali dan
berikan terapi bila terjadi infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit
yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/kondisi penyetara lainnya.
Evalusi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi. Obat-obatan yang dapat menyebabkan
kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentikan bila
memungkinkan. Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang
mengandung serat, serta suplementasi vitamin dan mineral. Program latihan dan
remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis terjadi meliputi latihan mobilitas
ditempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan bantuan), latihan
penguat otot – otot (isotonik, isometrik, isokinetik) latihan koordinasi/ keseimbangan,
dan ambulasi terbatas. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat
bantu berdiri dan ambulasi. Manajemen miksi dan defekasi. Pada keadaan-keadaan
khusus, konsultasikan kondisi medik kepada dokter spesialis yang kompeten. Lakukan
remobilisasi segera dan bertahap pada pasien-pasien yang menglami sakit atau dirawat
di rumah sakit dan panti werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang
menglami disabilitas permanen (Liza, 2008a).
Komplikasi pada pasien imobilisasi antara lain (Setiati dan Roosheroe, 2007) :
1. Trombosis
Trombosis vena dalam merupakan salah satu gangguan vaskular perifer
yang penyebabnya multifaktorial, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Terdapat
tiga faktor yang meningkatkan risiko trombosis vena dalam yaitu karena adanya
luka di vena dalam karena trauma atau pembedahan, sirkulasi darah yang tidak baik
pada vena dalam, dan berbagai kondisi yang meningkatkan resiko pembekuan
darah. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan sirkulasi darah tidak baik di vena
dalam meliputi gagal jantung kongestif, imobilisasi lama, dan adanya gumpalan
darah yang telah timbul sebelumnya. Gejala trombosis vena bervariasi, dapat
berupa rasa panas, bengkak, kemerahan, dan rasa nyeri pada tungkai.
2. Emboli Paru
Emboli paru dapat menghambat aliran darah ke paru dan memicu refleks
tertentu yang dapat menyebabkan panas yang mengakibatkan nafas berhenti secara
tiba-tiba. Sebagian besar emboli paru disebabkan oleh emboli karena trombosis
vena dalam. Berkaitan dengan trombosis vena dalam, emboli paru disebabkan oleh
lepasnya trombosis yang biasanya berlokasi pada tungkai bawah yang pada
gilirannya akan mencapai pembuluh darah paru dan menimbulkan sumbatan yang
dapat berakibat fatal. Emboli paru sebagai akibat trombosis merupakan penyebab
kesakitan dan kematian pada pasien lanjut usia.
3. Kelemahan Otot
Imobilisasi akan menyebabkan atrofi otot dengan penurunan ukuran dan
kekuatan otot. Penurunan kekuatan otot diperkirakan 1-2% sehari. Kelemahan otot
pada pasien dengan imobilisasi seringkali terjadi dan berkaitan dengan penurunan
fungsional, kelemahan, dan jatuh.

4. Kontraktur otot dan sendi


Pasien yang mengalami tirah baring lama berisiko mengalami kontraktur
karena sendi-sendi tidak digerakkan. Akibatnya timbul nyeri yang menyebabkan
seseorang semakin tidak mau menggerakkan sendi yang kontraktur tersebut.
5. Osteoporosis
Osteoporosis timbul sebagai akibat ketidakseimbangan antara resorpsi
tulang dan pembentukan tulang. Imobilisasi meningkatkan resorpsi tulang,
meningkatkan kalsium serum serum, menghambat sekresi PTH, dan produksi
vitamin D3 aktif. Faktor utama yang menyebabkan kehilangan masa tulang pada
imobilisasi adalah meningkatnya resorpsi tulang.
6. Ulkus dekubitus
Luka akibat tekanan merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada
pasien usia lanjut dengan imobilisasi. Jumlah tekanan yang dapat mempengaruhi
mikrosirkulasi kulit pada usia lanjut berkisar antara 25 mmHg. Tekanan lebih dari
25 mmHg secara terus menerus pada kulit atau jaringan lunak dalam waktu lama
akan menyebabkan kompresi pembuluh kapiler. Kompresi pembuluh dalam waktu
lama akan mengakibatkan trombosis intra arteri dan gumpalan fibrin yang secara
permanen mempertahankan iskemia kulit. Relief bekas tekanan mengakibatkan
pembuluh darah tidak dapat terbuka dan akhirnya terbentuk luka akibat tekanan.
7. Hipotensi postural
Hipotensi postural adalah penurunan tekanan darah sebanyak 20 mmHg dari
posisi berbaring ke duduk dengan salah satu gejala klinik yang sering timbul adalah
iskemia serebral, khusunya sinkop. Pada posisi berdiri, secara normal 600-800 ml
darah dialirkan ke bagian tubuh inferior terutama tungkai. Penyebaran cairan tubuh
tersebut menyebabkan penurunan curah jantung sebanyak 20%, penurunan volume
sekuncup 35% dan akselerasi frekuensi jantung sebanyak 30%. Pada orang normal
sehat, mekanisme kompensasi menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan
denyut jantung yang menyebabkan tekanan darah tidak turun. Pada lansia,
umumnya fungsi baroreseptor menurun. Tirah baring total selama paling sedikit 3
minggu akan mengganggu kemampuan seseorang untuk menyesuaikan posisi
berdiri dari berbaring pada orang sehat, hal ini akan lebih terlihat pada lansia.
8. Pneumonia dan infeksi saluran kemih (ISK)
Akibat imobilisasi retensi sputum dan aspirasi lebih mudah terjadi pada
pasien geriatri. Pada posisi berbaring otot diafragma dan interkostal tidak berfungsi
dengan baik sehingga gerakan dinding dada juga menjadi terbatas yang
menyebabkan sputum sulit keluar dan pasien mudah terkena pneumonia. Aliran
urin juga terganggu akibat tirah baring yang kemudian menyebabkan infeksi
saluran kemih. Inkontinensia urin juga sering terjadi pada usia lanjut yang
mengalami imobilisasi yang disebabkan ketidakmampuan ke toilet, berkemih yang
tidak sempurna, gangguan status mental, dan gangguan sensasi kandung kemih.
9. Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia)
Imobilisasi akan mempengaruhi sistem metabolik dan endokrin yang
akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. Salah satu yang
terjadi adalah perubahan metabolisme protein. Kadar plasma kortisol lebih tinggi
pada usia lanjut yang imobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme menjadi
katabolisme. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi selama 7 hari akan
meningkatkan ekskresi nitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia.
10. Konstipasi dan skibala
Imobilisasi lama akan menurunkan waktu tinggal feses di kolon. Semakin
lama feses tinggal di usus besar, absorpsi cairan akan lebih besar sehingga feses
akan menjadi lebih keras. Asupan cairan yang kurang, dehidrasi, dan penggunaan
obat-obatan juga dapat menyebabkan konstipasi pada pasien imobilisasi
Prognosis pada pasien imobilisasi tergantung pada penyakit yang mendasari
imobilisasi dan komplikasi yang ditimbulkananya. Perlu dipahami, imobilisasi dapat
memperberat penyakit dasarnya bila tidak ditangani sedini mungkin, bahkan dapat
sampai menimbulkan kematian (Liza, 2008a).
C. Dekubitus
Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan di bawah kulit,
bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu
area yang secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah
setempat. Area yang biasa terjadi dekubitus adalah tempat diatas tonjolan tulang dan
tidak dilindungi cukup dengan lemak subkutan, misalnya daerah sacrum, trokanter
mayor, dan spina ischiadica superior anterior, tumit dan siku (Pranarka, 2009).
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya dekubitus meliputi faktor
intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik tersebut yaitu penipisan sel kulit,
elastisitas kulit yang berkurang, penurunan perfusi kulit secara progresif, sejumlah
penyakit yang seperti DM yang menunjukkan insufisiensi kardiovaskuler perifer dan
penurunan fungsi kardiovaskuler seperti pada sistem pernapasan sehingga tingkat
oksigenisasi darah pada kulit menurun, status gizi underweight atau kebalikannya
overweight, anemia, hipoalbuminemia, penyakit-penyakit neurologik, penyakit-
penyakit yang merusak pembuluh darah, keadaan dehidrasi. Sedangkan faktor
ekstrinsik yang menyebabkan dekubitus antara lain kebersihan tempat tidur yang
kurang, posisi yang tidak tepat, perubahan posisi yang kurang, alat-alat tenun yang
kusut dan kotor, atau peralatan medik yang menyebabkan penderita terfiksasi pada
suatu sikap tertentu juga memudahkan terjadinya dekubitus (Kadir, 2007).
Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari suatu ulkus
dekubitus dan perbedaan temperatur dari ulkus dengan kulit sekitarnya, dekubitus
dapat dibagi menjadi tiga (Kadir, 2007; Pranarka, 2009):
1. Tipe Normal

Mempunyai beda temperatur ≤ 2,5oC dibandingkan kulit sekitarnya dan


akan sembuh dalam perawatan sekitar 6 minggu. Terjadi karena iskemia jaringan
setempat akibat tekanan, tetapi aliran darah dan pembuluh-pembuluh darah
sebenarnya baik.

2. Tipe Arteriosklerosis

Mempunyai beda temperatur kurang dari 1oC antara daerah ulkus dengan
kulit sekitarnya. Keadaan ini menunjukkan gangguan aliran darah akibat penyakit
pada pembuluh darah (arterosklerotik) ikut perperan untuk terjadinya dekubitus
disamping faktor tekanan. Dengan perawatan, ulkus ini diharapkan sembuh dalam
16 minggu.

3. Tipe Terminal

Terjadi pada pasien dengan tingkat keparahan tinggi, sulit untuk sembuh.
Pengelolaan dekubitus diawali dengan kewaspadaan untuk mencegah
terjadinya dekubitus dengan mengenal penderita risiko tinggi terjadinya dekubitus,
misalnya pada penderita yang immobil dan konfusio. Usaha untuk meremalkan
terjadinya dekubitus ini antara lain dengan memakai sistem skor Norton (Kadir, 2007).
Skor dibawah 14 menunjukkan adanya risiko tinggi untuk terjadinya dekubitus, skor
12-13 memiliki risiko sedang, skor < 12 berkaitan dengan peningkatan risiko 50 kali
lebih besar untuk mendapatkan ulkus dekubitus, sedangkan skor > 14 memiliki risiko
yang sangat kecil. Skor tersebut meliputi (Pranarka, 2009) :
Item Skor
Kondisi fisik
∼ Baik 4
∼ Sedang 3
∼ Buruk 2
∼ Sangat Buruk 1
Kesadaran
∼ Komposmentis 4
∼ Apatis 3
∼ Konfus/soporus 2
∼ Stupor/koma 1
Aktivitas
∼ Ambulan 4
∼ Ambulan dengan bantuan 3
∼ Hanya bisa duduk 2
∼ Tiduran 1
Mobilitas
∼ Bergerak bebas 4
∼ Sedikit terbatas 3
∼ Sangat terbatas 2
∼ Tak bisa bergerak 1
Inkontinensia
∼ Tidak 4
∼ Kadang-kadang 3
∼ Sering inkontinensia urin 2
∼ Inkontinensia alvi dan urin 1

Tindakan berikutnya adalan menjaga kebersihan penderita khususnya kulit,


dengan memandikan setiap hari. Sesudah keringkan dengan baik lalu digosok dengan
lotion, terutama dibagian kulit yang ada pada tonjolan-tonjolan tulang. Sebaiknya
diberikan massase untuk melancarkan sirkulasi darah, semua ekskret/sekret harus
dibersihkan dengan hati-hati agari tidak menyebabkan lecet pada kulit penderita
(Kadir, 2007).
Tindakan selanjutnya yang berguna baik untuk pencegahan maupun setelah
terjadinya dekubitus meliputi (Kadir, 2007):
1. Meningkatkan status kesehatan penderita, misalnya mengatasi anemia, mengoreksi
hipoalbuminemia, nutirisi dan hidrasi yang cukup, pemberian vitamin (vitamin C) dan
mineral (Zn), serta mencoba mengatasi/mengoabati penyakit-penyakit yang ada pada
penderita, misalnya DM.
2. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran darah, melalui:
a. Alih posisi/alih baring/tidur selang seling, paling lama tiap
dua jam.
b. Kasur khusus untuk lebih membagi rata tekan yang terjadi
pada tubuh penderita, misalnya; kasur dengan gelembung tekan udara yang naik
turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur (kasur dekubitus).
c. Mengurangi regangan kulit dan lipatan kulit yang
menyebabkan sirkulasi darah setempat terganggu.
Bila sudah terjadi dekubitus, tentukan stadium dan berikan tindakan medik
sesuai dengan apa yang dihadapi. Berikut adalah stadium pada dekubitus beserta
penatalaksanaanya (Kadir, 2007; Pranarka, 2009) :
1. Dekubitus derajat I
Merupakan dekubitus dengan reaksi peradangan masih terbatas pada
epidermis. Kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan
sabun, diberi lotion, kemudian dimassase 2 sampai 3 kali/hari.
2. Dekubitus derajat II
Pada dekubitus ini sudah terjadi ulkus yang dangkal. Perawatan luka harus
memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Daerah bersangkutan digesek
dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk meransang
sirkulasi. Dapat diberikan salep topikal, mungkin juga untuk meransang tumbuhnya
jaringan muda/granulasi. Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering
karena malahan dapat merusakkan pertumbuhan jaringan yang diharapkan.
3. Dekubitus derajat III
Dengan ulkus yang sudah dalam, menggaung sampai pada bungkus otot dan
sering sudah ada infeksi. Usahakan luka selalu bersih dan eksudat disusahakan
dapat mengalir keluar. Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan
sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan penguapan. Kelembaban
luka dijaga tetap basah, karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit. Jika
luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis. Antibiotik sistemik
mungkin diperlukan.
4. Dekubitus derajat IV
Ada perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering disertai jaringan
nekrotik. Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik
yang ada harus dibersihkan, sebab akan menghalangi pertumbuhan
jaringan/epitelisasi. Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini,
dengan tujuan mengurangi perdarahan, dibanding tindakan bedah yang juga
merupakan alternatif lain. Setelah jaringan nekrotik dibuang dan luka bersih,
penyembuhan luka secara alami dapat diharapkan. Usaha untuk mempercepat
penyembuhan luka antara lain dengan memberikan oksigenisasi pada daerah luka,
tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatan-sumbatan pembuluh darah
dan sampai pada transplantasi kulit setempat. Angka mortalitas dekubitus derajat
IV ini dapat mencapai 40%.
D. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi parenkim paru yang disebabkan oleh berbagai jenis
bakteri (gram-positif maupun gram-negatif, tipikal maupun atipikal), virus, jamur dan
parasit. Tiga jenis pneumonia sesuai dengan tempat didapatnya infeksi antara lain
pneumonia komunitas (community-acquired pnemonia, CAP), pneumonia yang di
dapat di rumah sakit (hospital-acquired pneumonia, HAP), dan pneumonia yang
didapat di ICU (ventilator-associated pneumonia,VAP) (Liza, 2008b).
Diagnosis pada pneumonia ditegakkan berdasarkan adanya gambaran infiltrat
baru atau perubahan infiltrat progresif pada foto toraks, dengan disertai sekurang-
kurangnya 1 gejala mayor atau 2 gejala minor. Gejala mayor pada pneumonia meliputi
batuk, sputum produktif, demam (suhu>37,80c), sedangkan gejala minornya meliputi
sesak napas, nyeri dada, konsolidasi paru pada pemeriksaan fisik, dan jumlah leukosit
>12.000/µ L. Pneumonia pada usia lanjut seringkali memberikan gejala yang tidak
khas. Selain batuk dan demam pasien tidak jarang datang dengan keluhan gangguan
kesadaran (delirium), tidak mau makan, jatuh, dan inkontinensia akut (Liza, 2008b).
Terapi yang diberikan pada pasien pneumonia terdiri dari terapi suportif, terapi
farmakologis, dan rehabilitasi medik. Terapi suportif meliputi oksigenasi, terapi
cairan, nutrisi, mukolitik-ekspektoran, dan bronkodilator. Sedangkan terapi
farmakologisnya meliputi pemberian antibiotika empiris dan antibiotik spesifik.
Antibiotik empiris segera diberikan sejak awal sesuai jenis pneumonia yang terjadi
(CAP, HAP, atau VAP). Pada CAP diberikan antibiotika golongan b-laktam/ anti b-
laktamase dan sefalosporin generasi III atau IV yang dikombinasikan dengan makrolid
atau doksisiklin, atau fluorokuinolon saluran napas (levofloksasin, gatifloksasin,
moksifloksasin) sebagai obat tunggal. Pada HAP atau VAP dipilih antibiotika yang
bekerja terhadap kuman pseudomonas dan kuman nosokomial lain, seperti
sefalosporin generasi III anti-pseudomonas, sefalosporin generasi IV, piperacillin-
tazobaktam, kuinolon anti-pseudomonas (ciprofloksasin), atau aminoglikosida.
Antibiotika spesifik diberikan setelah didapatkan hasil pemeriksaan biakan kuman dan
uji resistensi. Pemilihan antibiotik harus memperhatikan penurunan fungsi organ yang
mungkin sudah terjadi pada usia lanjut. Rehabilitasi medik yang diberikan berupa
fisioterapi dada dan program lain yang terkait (Liza, 2008b).
Komplikasi yang timbul pada pasien pneumonia berupa empiema, efusi pleura,
gagal napas, spesies sampai syok sepsis (Liza, 2008b).
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien dalam skenario hanya tidur-tiduran saja selama 2 minggu. Berbagai faktor
fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Rasa
nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis yang terjadi
akibat proses menua dapat menyebabkan imobilisasi pada pasien tersebut. Sejak 5 hari
yang lalu, pasien mengalami kesulitan BAB dan makan hanya sedikit. Kesulitan BAB pada
usia lajut dapat disebabkan oleh lamanya transit feses di kolon. Hal ini dipengaruhi oleh
adanya disfungsi pleksus mienterikus yang menginervasi kolon dalam gerak peristaltik.
Selain itu, pada beberapa lansia yang mengalami konstipasi juga ditemukan adanya
peningkatan kadar endorphin yang dapat berikatan dengan reseptor opioid di mukosa kolon
dan menghambat gerah peristaltik. Pada pasien dalam skenario ini, kesulitan BAB
dipengaruhi juga oleh imobilisasi yang akan semakin meningkatkan lama transit feses di
kolon. Akibatnya, penyerapan air akan meningkat dan feses menjadi keras sehingga
semakin sulit dikeluarkan. Sementara itu, kesulitan makan pada pasien lansia dipengaruhi
beberapa faktor seperti:
1. Kondisi traktus digestifus yang mulai menurun baik secara anatomis maupun fisiologis,
misalnya: berkuangnya jumlah gigi sehingga kemampuan mengunyah makanan
berkurang, menurunnya peristaltik usus sehingga lama transit makanan meningkat dan
mengurangi rasa lapar.
2. Depresi yang mengurangi motivasi untuk makan
Penurunan nafsu makan pada pasien juga dapat disebabkan oleh imobilisasi. Hal
tersebut disebabkan adanya penurunan kecepatan metabolik sehingga terjadi penurunan
rangsang lapar. Rangsang lapar yang menurun menyebabkan pasien makan hanya sedikit.
Saat dirawat dirumah anaknya keadaan pasien yang tampak semakin lemas dan tidak mau
makan sama sekali. Keadaan tidak mau makan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh
faktor psikis pasien terhadap perubahan lingkungan tempat tinggalnya. Kurangnya
perhatian dan kasih sayang juga dapat mengakibatkan keadaan tersebut. Selain itu, keadaan
penyakit yang dideritanya juga berperan terhadap kondisi pasien. Dengan penyakit yang
diderita pasien ditambah dengan keadaan tidak mau makan, asupan gizi pasien menjadi
tidak adekuat, menyebabkan pasien tampak semakin lemas.
Sejak 3 minggu yang lalu, pasien juga mengalami batuk berdahak, tidak berdarah,
tidak demam, dan tidak didapatkan nyeri dada. Dan sejak satu hari yang lalu, pasien
gelisah dan tampak bingung. Batuk adalah keluhan paling sering didapatkan pada hampir
semua penyakit yang mengenai saluran napas. Batuk merupakan mekanisme pertahanan
untuk membersihkan dan melindungi saluran napas dari bahan yang tidak diinginkan yang
terdapat di saluran napas. Etiologi batuk dapat dibagi menjadi 4 kategori yaitu infeksi akut
maupun kronik, inflamasi parenkim ataupun saluran napas, tumor, benda asing, dan
gangguan kardiovaskular. Sementara itu, dahak adalah materi yang dikeluarkan dari
saluran napas bawah oleh batuk. Batuk dengan dahak menunjukkan adanya eksudat bebas
dalam saluran pernapasan, seperti pada bronkitis kronik, bronkiektasis, dan kavitas.
Gelisah dan bingung yang terjadi pada pasien dapat merupakan tanda depresi. Pada usia
lanjut gejala depresi seringkali tidak khas. Beberapa karakteristik depresi pada usia lanjut
antara lain sedih/murung biasanya kurang tampak, keluhan hipokondriasis yang dominan,
gangguan memori, apatis dan kehilangan motivasi, ansietas dan agitasi.
Pada pemeriksaan fisik pasien didapatkan GCS 7, E3M2V2, tekanan darah 120/70
mmHg (normal), RR 30 kali per menit (meningkat), suhu (T) 36°C (normal bawah), dan
HR 108 kali per menit (meningkat). E3 (eye opening 3) berarti bahwa pasien membuka
mata dengan rangsang nyeri, M2 (motoric respons 2) berarti bahwa pasien mengalami
extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal
dan kaki extensi) saat diberi rangsang nyeri, sedangkan V2 (verbal respons 2) berarti
bahwa pasien mengeluarkan suara tanpa arti (mengerang). Skor GCS 7 menunjukkan
terjadinya penurunan kesadaran pada pasien. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya
riwayat penyakit batuk pada pasien yang mengakibatkan terjadinya penurunan saturasi O2
yang menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran pada pasien. Penurunan O2 akan
dikompensasi tubuh dengan cara meningkatkan RR dan HR untuk mencukupi kebutuhan
O2 tubuh yang semakin menurun (Parhusip, 2004).
Pada pemeriksaan paru sebelah kanan pasien didapatkan ronkhi basah kasar, suara
dasar bronkhial, dan fremitus raba meningkat. Tampak luka pada punggung bawah
berukuran 4 x 5 cm dengan dasar luka kemerahan. Skor Norton 9, lekosit 7.500 dan dari
pemeriksaan foto thoraks menunjukkan kesuraman homogen pada paru sebelah kanan.
Ronkhi basah kasar, suara dasar bronkhial, dan peningkatan fremitus raba yang
disertai dengan gejala batuk berdahak tidak berdarah tanpa demam, nyeri dada, mialgia,
dan leukositosis yang tidak terlalu tinggi menunjukkan gejala atypical pneumonia. Pada
pneumonia terjadi infeksi pada parenkim paru, asinus terisi cairan eksudat, dan infiltasi sel
radang ke dinding alveoli. Adanya infiltrat sel radang menyebabkan konsolidasi pada paru
sehingga fremitus raba meningkat karena penghantaran getaran oleh infiltrat. Ronkhi basah
adalah suara nafas tambahan berupa vibrasi terputus-putus akibat getaran yang terjadi
karena adanya cairan dalam jalan nafas. Ronkhi basah kasar menunjukkan adanya sekret
yang berlebihan pada saluran nafas. Suara dasar bronkhial adalah ekspirasi lebih panjang
dan jelas, seperti suara dekat trakea. Suara bronkhial terjadi karena adanya konsolidasi
dalam jalan nafas. Kesuraman homogen paru pada pasien pneumonia disebabkan karena
adanya kerusakan jaringan parenkim paru. Fremitus taktil yang meningkat terjadi karena
timbunan sekret yang menggantikan udara yang mengisi sebagian besar jaringan paru
(Faridawati, 1995; Irawaty, 2009). Tidak adanya nyeri dada pada pasien terjadi karena
sedikitnya jumlah reseptor nyeri yang terdapat di paru-paru dan pleura.
Luka pada punggung bawah pasien menunjukkan bahwa pasien telah mengalami
dekubitus. Dekubitus pada usia lanjut sering terjadi karena terjadi perubahan kulit yang
berkaitan dengan bertambahnya usia antara lain berkurangnya jaringan lemak subkutan,
berkurangnya jaringan kolagen dan elastik, serta menurunnya efisiensi kolateral kapiler
pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh (Pranarka, 2009). Dekubitus yang
terjadi pada pasien kemungkinan merupakan komplikasi imobilisasi. Tekanan lebih dari 25
mmHg secara terus menerus pada kulit atau jaringan lunak dalam waktu lama akan
menyebabkan kompresi pembuluh kapiler. Bila kompresi berlangsung lama akan
mengakibatkan trombosis intra arteri dan gumpalan fibrin yang secara permanen
mempertahankan iskemia kulit. Relief bekas tekanan mengakibatkan pembuluh darah tidak
dapat terbuka sehingga terbentuk luka akibat tekanan (Setiati dan Roosheroe, 2007). Skor
Norton 9 pada pasien menunjukkan bahwa pasien memiliki resiko tinggi terkena dekubitus.
Pada pasien tersebut tidak didapatkan demam dan leukositosis. Hal ini terjadi
karena penurunan respon inflamasi (penurunan respon interleukin-1, faktor nekrosis tumor
dan IL-6 terhadap adanya pirogen) pada lansia yang menyebabkan tidak terjadinya reaksi
inflamasi misalnya peningkatan suhu tubuh (demam). Pada lansia juga terjadi penurunan
sistem imunitas tubuh yang disebabkan penurunan produksi immunoglobulin, terjadinya
atrofi thymus sehingga sel T dan limfosit T kehilangan fungsi, antibodi yang dihasilkan
dalam jumlah sedikit dan durasi antibodi dalam darah lebih singkat, terjadi perubahan
sistem proliferasi limfosit karena penurunan interleukin 2. Salah satu penyebab
menurunnya produksi/proliferasi sel T yang berakibat supresi imunitas yaitu peningkatan
antagonis sitokin pada usia lanjut. Tidak adanya panas pada setiap infeksi pada usia lanjut
selain menyulitkan diagnosis, juga menunjukkan prognosis yang jelek, karena panas itu
sendiri menunjukkan adanya kemampuan badan dalam melawan infeksi (Rahayu dan
Bahar, 2007).
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien meliputi terapi preventif, promotif,
kuratif, dan rehabilitatif. Terapi preventif dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi
yang lebih lanjut pada pasien. Untuk mencegah timbulnya dekubitus pada pasien
imobilisasi bisa dilakukan beberapa tindakan antara lain merubah posisi pasien yang tidak
dapat bergerak sendiri (minimal setiap 2 jam sekali) untuk mengurangi tekanan,
melindungi bagian tubuh yang tulangnya menonjol dengan bahan-bahan yang lembut
(misalnya bantal, bantalan busa), mengkonsumsi makanan sehat dengan zat gizi yang
seimbang, menjaga kebersihan kulit dan mengusahakan agar kulit tetap kering, jika pasen
harus menjalani tirah baring dalam waktu yang lama, bisa digunakan kasur khusus (kasur
dekubitus), yaitu kasur yang diisi dengan air atau udara (Nurcahyo, 2010). Selain itu,
pencegahan dekubitus juga dapat dilakukan dengan melatih pergerakan dengan
memiringkan pasien ke kiri dan ke kanan serta mencegah terjadinya gesekan. Pemberian
minyak setelah mandi atau mengompol dapat dilakukan untuk mencegah maserasi (Setiati
dan Laksmi, 2007). Pengontrolan tekanan darah secara teratur dan penggunaan obat-obatan
yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah serta mobilisasi dini perlu dilakukan
untuk mencegah terjadinya hipotensi. Monitor asupan cairan dan makanan yang
mengandung serat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya konstipasi.
Terapi promotif yang dapat diberikan pada pasien berupa edukasi kepada pasien
dan keluarganya mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya latihan bertahap dan
ambulasi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Sementara itu, untuk mencegah
infeksi pada luka perlu dilakukan edukasi mengenai cara merawat luka yang baik dan
benar serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Terapi kuratif diberikan pada pasien untuk mengatasi gejala yang timbul. Pada
pasien telah dilakukan terapi oksigenasi, pemberian antibiotik dan terapi cairan. Terapi
oksigenasi diberikan untuk menjaga asupan oksigen pada pasien sehingga tidak timbul
hipoksia, terapi cairan diberikan untuk mencegah dehidrasi dan hipoglikemi, sedangkan
pemberian antibiotik dilakukan untuk mengobati infeksi bakterial yang terjadi pada pasien.
Pada tahap awal sebaiknya diberikan antibiotik empirik yang sesuai dengan lokasi infeksi,
lokasi penderita dan lokasi terjadinya infeksi (di masyarakat atu dirumah sakit) sambil
menunggu hasil kultur dari dahak. Dalam pemberian dosis dan pemilihan jenis antibiotika
perlu diperhatikan adanya perubahan fungsi organ sebagai akibat proses menua serta
komorbid yang ada pada lansia yang kesemuanya akan berakibat pada terjadinya
perubahan distribusi obat, metabilisme obat, eksresi dan interaksi obat (Rahayu dan Bahar,
2007). Untuk pasien pneumoni yang dirawat dirumah sakit dapat diberikan klindamisin
dan seftazidim. Sementara itu, untuk mengatasi dekubitus yang terjadi pada pasien
disesuaikan derajatnya. Berdasarkan diskusi kelompok kami dengan melihat gambaran
dekubitus yang ada pada skenario tersebut, kemungkinan besar pasien tersebut mengalami
dekubitus derajat II. Oleh karena itu, penatalaksanaannya pun disesuaikan dengan
tatalaksana dekubitus derajat II seperti yang tercantum pada tinjauan pustaka.
Pasien dirujuk ke bagian rehabilitasi medik untuk dilakukan terapi rehabilitasi.
Tujuan terapi rehabilitasi adalah untuk mempertahankan monilitas dan kekuatan otot serta
menurunkan ketergantungan pasien terhadap orang lain. Rehabilitasi medik dilakukan
dengan latihan bertahap dan aman bagi pasien. Indikasi diberikan terapi rehabilitasi medik
berupa kemunduran muskuloskeletal (penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan
otot, keterbatasan rentang gerak sendi serta penurunan kekuatan skeletal), kemunduran
kardiovaskuler, kemunduran respirasi (tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia),
perubahan-perubahan integument (adanya daerah eritema yang tidak teratur), perubahan-
perubahan fungsi urinaria (berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen bagian bawah,
dan batas kandung kemih yang dapat diraba, tekanan atau nyeri pada abdomen bagian
bawah), perubahan-perubahan gastrointestinal (pengosongan rektum yang tidak sempurna,
anoreksia, mual gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala serta
sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah,
rasa penuh, tekanan), faktor-faktor lingkungan (kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang
lepas, penerangan yang tidak adekuat, tangga yang tinggi, lantai licin, dan tempat duduk
toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas pasien) (Juwita, 2009).
Lima tujuan mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau
meniadakan sekuel fisiologis dari imobilitas meliputi (Juwita, 2009):
1. Pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal, yang termasuk
pengkondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik,
aktivitas penguatan aerobik, nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan
pembentukan tulang, dan sikap komitmen terhadap latihan.
a. Kontraksi otot isometrik
Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot
yang menggerakkan sendi. Kontraksi digunakan untuk mempertahankan kekuatan
otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep, abdominal
dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan
dan tanpa penyakit kardiovaskuler. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara
bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot.
b. Kontraksi otot isotonik
Kontraksi otot yang berlawanan atau isotonik berguna untuk mempertahankan
kekuatan otot-otot dan tulang. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa
mengubah tegangan. Karena otot-otot memendek dan memanjang, kerja dapat
dicapai. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur, dengan
tungkai menggantung di sisi tempat tidur, atau pada saat duduk di kursi dengan cara
mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. Ketika tangan atau
kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan.
c. Latihan kekuatan
Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kekuatan otot harus
menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Latihan angkat berat dengan
meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan.
Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan
densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh.
d. Latihan aerobik
Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung
60-90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0,7.
Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus
kontinu, berirama, dan dapat dinikmati. Contohnya termasuk berjalan, berenang,
bersepeda, dan berdansa.
2. Kedua, pemeliharaan fleksibilitas sendi yang terlibat dalam latihan rentang gerak,
posisi yang tepat, dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
a. Latihan rentang gerak baik aktif maupun pasif
Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta
meningkatkan penampilan kognitif. Sebaliknya, gerakan pasif, yaitu menggerakkan
sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain, hanya membantu
mempertahankan fleksibilitas.
b. Mengatur posisi
Mengatur posisi digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balik vena. Jika
seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung, pengumpulan dan penurunan
tekanan darah balik vena akan terjadi. Posisi duduk di kursi secara normal dengan
tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko
mengalami pengembangan trombosis vena. Mengatur posisi tungkai dengan
ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki)
mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah.
3. Ketiga, pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta
menghilangkan sekresi.
4. Keempat, pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung
untuk mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya
dengan gravitasi), stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada tungkai,
dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume darah.
Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik.
5. Terakhir, pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada
dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi
eliminasi. Pembahasan tentang intervensi disajikan di sini.
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Pasien mengalami imobilisasi dengan komplikasi berupa dekubitus derajat II,
pneumonia atipikal, dan gangguan buang air besar.
2. Berbagai faktor, seperti faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan
terjadinya imobilisasi pada lansia.
3. Selain dekubitus, pneumonia, dan gangguan buang air besar, komplikasi yang
ditimbulkan imobilisasi dapat berupa thrombosis, emboli paru, kelemahan otot,
kontaktur otot dan sendi, osteoporosis, hipotensi postural, ISK, serta gangguan
nutrisi (hipoalbuminemia).
B. Saran
1. Pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, pembuatan rencana
terapi yang mencakup perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target
terapi, dan berbagai upaya pencegahan komplikasi lanjutan sebaiknya segera
dilakukan untuk mengatasi kondisi pasien.
2. Edukasi mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya menjaga kebersihan diri
dan lingkungan serta latihan bertahap dan ambulasi dini untuk mencegah
komplikasi lebih lanjut perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya.
3. Terapi rehabilitasi medik sebaiknya diberikan secara rutin pada pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Faridawati, R. 1995. Penatalaksanaan Pneumonia Bakteri pada Usia Lanjut.


http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06penatalaksanaanpneumonia101.pdf/06
penatalaksanaanpneumonia101.html (31 Maret 2010).

Irawaty. 2009. Pulmonary Infection. http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/


files/medhas/copy%20kuliah%20.pdf (31 Maret 2010).

Juwita, P. 2009. Imobilitas dan Toleransi Aktivitas pada Lansia.


http://pusva.wordpress.com/category/health. (31 Maret 2010).

Kadir, S. 2007. Dekubitus. http://subhankadir.wordpress.com/2007/08/20/decubitus/.


(28 Maret 2010).

Liza. 2008a. Imobilisasi. http://www.scribd.com/doc/6240327/IMOBILISASI-


INKONTINENSIA-URIN (31 Maret 2010).

Liza. 2008b. Pneumonia pada Geriatri.


http://www.scribd.com/doc/6240476/Pneumonia-Pada-Geriatri-Infeksi-
Saluran-Kemih (31 Maret 2010).

Martono, H.H. 2009. Aspek Fisiologik dan Patologik Akibat Proses Menua. Dalam :
Martono, H.H. dan Pranarka, K. (eds). Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu
Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-4. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hal : 56-74.

Nurcahyo. 2010. Ulkus Dekubitus. http://www.indonesiaindonesia.com/f/13444-ulkus-


dekubitus/ (3 April 2010).

Parhusip. 2004. Pola Bakteriologi Infeksi Saluran Nafas Bawah.


http://library.usu.ac.id/download/fk/paru-parhusip3.pdf. (31 maret 2010)

Pranarka, K. Dekubitus. 2009. Dalam : Martono, H.H. dan Pranarka, K. (eds). Buku Ajar
Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-4. Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal : 272-83.
Rahayu, R.A. dan Bahar, A. 2007. Penatalaksanaan Infeksi pada Usia Lanjut Secara
Menyeluruh. Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati,
S. (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi IV. Jakarta : Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Hal : 1405-10.

Setiati, S. dan Laksmi P.W. 2007. Gangguan Keseimbangan, Jatuh dan Fraktur. Dalam :
Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S. (eds). Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hal : 1378-9.

Setiati S dan Roosheroe, A G. 2006. Imobilisasi pada Usia Lanjut. Dalam : Sudoyo, A.W.,
Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S. (eds). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal : 1388-90.