Anda di halaman 1dari 15

I.

Sejarah dan Perkembangan Coklat


Cokelat merupakan makanan yang digemari segala usia mulai dari anak-
anak sampai orang tua. Tidak hanya dalam bentuk cokelat batangan, cokelat juga
banyak diaplikasikan dalam beragam makanan mulai dari cake, biskuit, permen,
ice cream, minuman dll. Selain rasanya yang enak, cokelat juga sering
diasosiasikan dengan produk bernilai tinggi/mahal sehingga sering dijadikan
sebagai hadiah.
Cokelat dihasilkan melalui serangkaian proses dari biji kakao. Biji kakao ini
berasal dari tanaman kakao, Theobroma cacao, yang tumbuh hanya di daerah
tropis. Pantai Gading di Afrika Barat dikenal sebagai penghasil biji kakao terbesar
di dunia. Dalam bahasa Yunani, theobroma berarti makanan para dewa. Dalam
kebudayaan Meso Amerika, biji kakao bernilai sangat tinggi sehingga dijadikan
sebagai mata uang.
Istilah cokelat itu sendiri berasal dari xocolatl (bahasa suku Aztec) yang
berarti minuman pahit. Pada awalnya, cokelat dikonsumsi sebagai minuman yang
dibuat berbuih, kadang-kadang ditaburi lada merah, vanilla, madu atau rempah-
rempah lain. Rasanya pahit, sepat dan berlemak. Konsumsi cokelat masa itu
dianggap sebagai simbol status penting dan juga kemakmuran. Cokelat dalam
bentuk padat pertama kali ditemukan pada abad ke-18 di Eropa. Penggunaan
rempah-rempah dihilangkan dan mulai ditambahkan gula, susu dll.
Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan
mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin
sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec
memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai
teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan
pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido,
Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki
pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak
diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat
pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman
beralkohol.
Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku
Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya
meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami
daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi
sebagai minuman xocolātl yang berarti minuman pahit. Menurut mereka,
minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun,
tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun
tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan
menuangkan ke wadah lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal,
bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya
dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter) namun terkadang ditambahkan juga
busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting
minum dan makan bubur yang mengandung cokelat. Biji dari pohon kakao ini
sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah
dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Diperkirakan
kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM - 500 SM.
Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada
masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi
lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya
sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari
kandungan theobromin didalamnya.
Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan
oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada
masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang
meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling
kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para
dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam
upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.
Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika,
dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao
bean) sering digunakan sebagai mata uang. Sebagai contoh suku Indian Aztec
menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji
kokoa dan satu buah alpukat seharga tiga biji kokoa
Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang
mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.
I.1 Cokelat cair.
Di awal abad ke-17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di
istana Spanyol. Sepanjang abad itu, cokelat menyebar di antara kaum elit Eropa,
kemudian lewat proses yang demokratis harganya menjadi cukup murah, dan pada
akhir abad itu menjadi minuman yang dinikmati oleh kelas pedagang. Kira-kira
100 tahun setelah kedatangannya di Eropa, begitu terkenalnya cokelat di London,
sampai didirikan “rumah cokelat” untuk menyimpan persediaan cokelat, dimulai
di rumah-rumah kopi. Rumah cokelat pertama dibuka pada 1657.
Di tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane,
mengembangkan sejenis minuman susu cokelat di Jamaika dan awalnya diminum
oleh suku apothekari, namun minuman ini kemudian dijual oleh Cadbury
bersaudara.
Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada
1847 ditemukan cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-
rempah yang ditambahkan oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering
mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan
selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat
warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan
lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering
ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak
dibuat manis.
Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang
digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika
kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kokoa masih
sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun,
serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat diemulsikan dengan
karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched,
metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan
membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong
khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu
(milk chocolate).
Rasa cokelat
Rasa cokelat masih sulit didefinisikan. Dalam bukunya Kaisar Cokelat
(Emperors of Chocolate), Joel Glenn Brenner menggambarkan riset terkini
tentang rasanya. Menurutnya rasa cokelat tercipta dari campuran 1.200 macam
zat, tanpa satu rasa yang jelas-jelas dominan. Sebagian dari zat itu rasanya sangat
tidak enak kalau berdiri sendiri. Karenanya, sampai kini belum ada rasa cokelat
tiruan.
Efek psikologis yang terjadi saat menikmati cokelat dikarenakan titik leleh
lemak kokoa ini terletak sedikit di bawah suhu normal tubuh manusia. Sebagai
ilustrasi, bila anda memakan sepotong cokelat, lemak dari cokelat tersebut akan
lumer di dalam mulut. Lumernya lemak kokoa menimbulkan rasa lembut yang
khas dimulut, riset terakhir dari BBC mengindikasikan bahwa lelehnya cokelat
didalam mulut meningkatkan aktivitas otak dan debaran jantung yang lebih kuat
daripada aktivitas yang dihasilkan dari ciuman mulut ke mulut, dan juga akan
terasa empat kali lebih lama bahkan setelah aktivitas ini berhenti.
Pemalsuan rasa
Pemalsuan rasa cokelat sering terjadi karena kokoa adalah bahan yang
relatif mahal dibandingkan dengan gula atau minyak nabati. Kedua bahan ini
sering digunakan untuk menggantikan kokoa.
Lemak kokoa sering digantikan minyak yang lebih murah, seperti lesitin
dari kedelai atau minyak palem. Selain soal harga, dengan kedua bahan ini
pelapisan cokelat menjadi lebih mudah. Perbandingan kokoa padat (komponen
nonlemak pada biji yang digiling) juga cenderung rendah. Dalam cokelat
batangan, misalnya, sekitar 20% gula-gula itu diisi cokelat.
Cokelat premium, di sisi lain, biasanya mengandung sekitar 50 - 70%
cokelat padat. Karena mengandung lebih sedikit gula dan mungkin juga sedikit
minyak nabati, cokelat pekat ini mengandung lebih sedikit kalori dari produk
cokelat pada umumnya. Pantaslah bila para pencinta cokelat sering “protes” gara-
gara cokelat disalahkan untuk masalah yang sebenarnya disebabkan oleh
konsumsi gula berlebihan.
II. Kandungan cokelat dan manfaatnya
Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina,
dan anandamida, yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-
kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak.
Menurut ilmuwan cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat
menurunkan tekanan darah. Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan
promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang,
termasuk kandungan anti oksidannya yang dapat mengurangi pembentukan
radikal bebas dalam tubuh.
2.1 Teobromin Racun bagi hewan tertentu
Adanya kandungan teobromin dalam cokelat bisa menjadi racun untuk
sebagian hewan bila dikonsumsi. Hewan-hewan yang bereaksi keracunan pada
kandungan teobromin diantaranya adalah kuda, anjing, burung kakak tua, tikus-
tikus jenis kecil dan kucing (khususnya anak kucing), ini dikarenakan
metabolisme tubuh mereka tidak dapat mencerna kandungan kimia ini secara
efektif. Bila mereka diberi makan cokelat maka kandungan teobromin akan tetap
berada dalam aliran darah mereka hingga 20 jam, akibatnya hewan-hewan ini
mungkin mengalami epilepsi dan kejang-kejang, serangan jantung, pendarahan
internal, dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Penanggulangannya adalah
dengan merangsang hewan-hewan ini agar memuntahkan cokelat dan secepat
mungkin membawa mereka ke dokter hewan.
2.2 Antioksidan dalam Cokelat
Pengolahan biji kakao menghasilkan cocoa liquor (cocoa mass), cocoa
butter dan cocoa powder. Biji kakao dan turunannya ini merupakan sumber
antioksidan polifenol “senyawa yang dapat mengurangi resiko penyakit jantung
dengan cara mencegah oksidasi Low Density Lipoproteins (LDL) atau yang
sering disebut lemak jahat, sehingga dapat mencegah sumbatan pada dinding-
dinding pembuluh darah arteri. Kandungan antioksidan bervariasi pada setiap
cokelat, tergantung pada berbagai faktor di antaranya kandungan cocoa dan proses
pengolahan. Secara umum, cocoa powder dan dark chocolate mengandung
antioksidan dalam jumlah yang lebih tinggi daripada milk chocolate. Berikut
kandungan antioksidan polifenol dalam beberapa produk:
* Milk chocolate (50g) - 100 mg polifenol
* Dark chocolate (50g) - 300 mg polifenol
* Red wine (140mL) - 170 mg polifenol
* Tea (240mL) - 400 mg polifenol
* Cocoa powder (16g) - 200 mg polifenol
Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu
fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi
ataupun radiasi. Katekin juga dijumpai pada teh meski jumlahnya tidak setinggi
pada coklat. Orang tua jaman dahulu sering mempraktekkan cuci muka dengan air
teh karena dapat membuat kulit muka bercahaya dan awet muda. Seandainya
mereka tahu bahwa coklat mengandung katekin lebih tinggi daripada teh,
mungkin mereka akan menganjurkan mandi lulur dengan coklat.
Coklat juga mengandung theobromine dan kafein. Kedua substansi ini telah
dikenal memberikan efek terjaga bagi yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu
ketika kita terkantuk-kantuk di bandara atau menunggu antrian panjang, makan
coklat cukup manjur untuk membuat kita bergairah kembali.
Produk coklat cukup beraneka ragam. Misalnya, ada coklat susu yang merupakan
adonan coklat manis, cocoa butter, gula dan susu. Selain itu ada pula coklat pahit
yang merupakan coklat alami dan mengandung 43% padatan coklat. Coklat jenis
ini bisa ditemukan pada beberapa produk coklat batangan. Kandungan gizi coklat
bisa dilihat pada tabel.

Zat Gizi Coklat Susu Coklat Pahit


Energi (Kal) 381 504
Protein (g) 9 5,5
Lemak (g) 35,9 52,9
Kalsium (mg) 200 98
Fosfor (mg) 200 446
Vit A (SI) 30 60

2.3 Beberapa Mitos dan Fakta Seputar Cokelat


Fungsi dan pengaruh komponen-komponen aktif yang terkandung dalam
cokelat menjadi bahan penelitian yang menarik dari tahun ke tahun dan sampai
saat ini penelitian tentang cokelat terus berlangsung. Beberapa mitos yang sudah
dapat dibuktikan tidak benar adalah:
1. Cokelat dapat menyebabkan timbulnya jerawat
Para ahli yakin bahwa timbulnya jerawat lebih dipengaruhi oleh stres dan
hormon yang menyebabkan kondisi kulit mengalami berlebihnya aktivitas
jaringan minyak.
2. Cokelat menyebabkan kecanduan
Tidak ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa cokelat termasuk
dalam jenis bahan adiktif. Orang yang sangat menggemari cokelat
kemungkinan disebabkan oleh sifat sensori cokelat yang khas: tekstur
yang mudah mencair di dalam mulut dan rasa/aroma yang enak. Cokelat
mengandung lebih dari 300 jenis flavor yang berbeda, tanpa ada jenis yang
paling dominan. Kegemaran akan cokelat kemungkinan juga disebabkan
karena cokelat menstimulasi pelepasan endorphins senyawa dalam otak
yang dapat mengurangi rasa sakit dan membangkitkan perasaan euforia
(perasaan gembira/bahagia).
3. Cokelat merupakan penyebab sakit kepala (migren)
Penelitian yang dilakukan di Pittsburgh State University terhadap 63
wanita menunjukkan bahwa cokelat bukan merupakan pemicu terjadinya
sakit kepala. Timbulnya migren lebih dihubungkan dengan keadaan
hormon dalam tubuh.
4. Cokelat menyebabkan obesitas
Para ahli gizi berpendapat bahwa tidak ada sesuatu makanan pun yang
dapat menyebabkan kegemukan. Berat badan seseorang bertambah ketika
kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada kalori yang
dibuang/dikeluarkan melalui aktifitas fisik. Penelitian yang dilakukan pada
asupan diet rata-rata di Amerika menunjukkan bahwa cokelat hanya
berkontribusi 0,7 – 1,0% dari total kalori. Oleh karena itu, tetap
dianjurkan untuk mengontrol jumlah asupan kalori dan yang terbuang.
Fakta lain adalah cokelat hanya mengandung sejumlah kecil kafein.
Jumlah ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kandungan kafein di dalam
kopi dan teh. Suatu senyawa yang mirip dengan kafein ditemukan dalam cokelat
yaitu Theobromine. Theobromine juga berfungsi sebagai stimulan, seperti halnya
kafein tetapi pengaruh dan sifat yang diberikan berbeda. Theobromine hanya
ditemukan dalam biji kakao dan produk-produk turunannya.
Beberapa manfaat cokelat dalam dunia pengobatan masih menjadi bahan
penelitian di dunia saat ini. Di antaranya adalah:
1. Mengobati batuk
Theobromine dalam cokelat disinyalir berfungsi menyembuhkan batuk
secara lebih baik dibandingkan obat batuk.
2. Mengurangi resiko stroke
Penelitian dari Universitas California mengungkapkan bahwa cokelat
memiliki pengaruh yang sama dengan aspirin sebagai anti pembekuan
darah. Cokelat membantu mencegah pembekuan darah, sehingga
mengurangi resiko terjadinya stroke.
3. Mencegah tekanan darah tinggi
Senyawa flavanol (antioksidan) dalam cokelat diindikasikan dapat
membantu mencegah tekanan darah tinggi.
III. Coklat dan Kesehatan
3.1 Coklat Tingkatkan Daya Fungsi Otak
Coklat mengandung banyak unsur yang bersifat menjadi stimulan antara
lain theobromine, phenethylamine, dan kaffeine, kata Bryan Raudenbush dari
Universitas Wheeling Jesuit di West Virginia.S
Senyawa-senyawa itu telah ditemukan sebelumnya bersifat meningkatkan
tingkat kesadaran dan kemampuan berkonsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan,
dengan mengonsumsi coklat dapat memperoleh efek stimulasi yang akan
membuat peningkatan performa mental. Raudenbush dan rekan-rekannya
mengatakan penelitian efek kemampuan otak dilakukan terhadap sejumlah
relawan yang mengonsumsi cokelat dalam beberapa jenis. Penelitian ini dalam
empat kejadian terpisah yaitu kelompok pertama mengkonsumsi 85 gram
batangan cokelat susu, 85 gram cokelat hitam, 85 gram carob, dan kelompok
keempat tidak mengonsumsi apapun. Setelah 15 menit berselang para relawan
dalam penelitian ini menjalani beberapa tes neuropsikologis yang didesain untuk
melihat performa kognitif. Termasuk daya ingat, daya konsentrasi, kemampuan
bereaksi dan kemampuan memecahkan masalah.
Nilai bagi daya ingat verbal maupun visual tertinggi bagi mereka yang
masuk kelompok mengonsumsi batangan coklat susu dibandingkan dengan ketiga
kelompok lainnya, kata Raudenbush.
Peningkatan daya ingat baik verbal dan visual juga terjadi di kelompok
yang mengonsumsi jenis cokelat lainnya namun hasilnya berada di bawah
kelompok pertama. Dari penelitian sebelumnya telah diketahui beberapa nutrisi
dalam makanan tambahan melepas glukose yang menambah aliran darah yang
dapat berpengaruh bagi kemampuan kognitif. Hasil penemuan terkini mendukung
pendapat sebelumnya bahkan memperjelas, mengonsumsi cokelat dapat
meningkatkan kinerja daya kerja otak.
3.2 Coklat sebagai pengganti Viagra
Dr. Dora Akunyili, direktur Federal Agency Food and Medicine,
menganjurkan para pria lebih sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan
pada viagra. Dan, memulai mengkonsumsi coklat. Zat yang dikandung Coklat
membantu menaikkan libido. Secara ekonomi mengkonsumsi coklat untuk
meningkatkan kemampuan seks lebih menghemat isi kantong daripada viagra.
Warga Inggris, tampaknya telah mengetahui sejak lama bila coklat memiliki efek
ampuh bagi pria saat bercinta. Di Inggris adalah coklat merupakan makanan
wajib.
Akunyili mengungkapkan coklat adalah produk cinta yang lebih baik
dibanding viagra. Viagra bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Tapi
coklat belum terbukti memiliki efek samping yang merugikan tubuh. Coklat
merupakan antioksidan yang paling baik, dalam membantu mengurangi resiko
serangan jantung, darah tinggi, diabetes. Yang pasti mampu menaikkan libido,
katanya. Coklat juga bagian dari obat penyembuh kanker payudara, batuk kronis
dan meningkatkan kinerja otak. Mengapa coklat bisa seefektif viagra? Dalam
laporannya Akunyili seperti dikutip foodnavigator.com dijelaskan coklat
mengandung 300 zat kimia. Kafein dalam jumlah kecil, teobromin, dan sebuah
stimulan yang disebut phenylethylamine (yang terkait dengan amphetamines) juga
terkandung pada coklat. Zat terakhir adalah kimia alam yang terbukti mampu
menaikkan minat dan fungsi seksual.
Dengan mengontrol aktivitas fisik yang dilakukan, kebiasaan merokok,
dan kebiasaan makan ditemukan bahwa mereka yang suka makan permen/coklat
umurnya lebih lama satu tahun dibandingkan bukan pemakan. Diduga antioksidan
fenol yang terkandung dalam coklat adalah penyebab mengapa mereka bisa
berusia lebih panjang. Fenol ini juga banyak ditemukan pada anggur merah yang
sudah sangat dikenal sebagai minuman yang baik untuk kesehatan jantung. Coklat
mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol
jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko
penyakit jantung koroner dan kanker.
Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan caries pada
gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah
kegemukan. Tak dapat disangkal lagi bahwa kegemukan adalah salah satu faktor
risiko berbagai penyakit degeneratif. Tetapi studi di Universitas Harvard ini
menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan
aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak
negatip permen coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Menurut kepercayaan suku Maya, coklat adalah makanan para dewa. Rasa
asli biji coklat sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui
rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh
siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%.
Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin. Meski
coklat mengandung lemak tinggi namun relatif tidak mudah tengik karena coklat
juga mengandung polifenol (6%) yang berfungsi sebagai antioksidan pencegah
ketengikan.
Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1%
terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food
Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila
dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%).
Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari
lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati
yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Untuk tetap menekan lemak jenuh
agar tidak terlalu tinggi, ada baiknya membatasi memakan cokelat hanya satu
batang saja per hari dan mebatasi mengkonsumsi suplement atau makanan lainnya
yang mengandung catechin seperti apple dan teh.
3.3 Coklat Rendah Kolesterol
Dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia, ditemukan bahwa
konsumsi lemak coklat menghasilkan kolesterol total dan kolesterol LDL yang
lebih rendah dibandingkan konsumsi mentega ataupun lemak sapi. Jadi meski
sama-sama mengandung lemak jenuh tetapi ternyata efek kolesterol yang
dihasilkan berbeda. Kandungan stearat yang tinggi pada coklat disinyalir menjadi
penyebab mengapa lemak coklat tidak sejahat lemak hewan. Telah sejak lama
diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu
kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita
dan juga diabsorpsi lebih sedikit.
Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam
lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun.
Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi
asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan
jantung.
3.4 Konsumsi Coklat dan Dampaknya
Sering timbul pertanyaan seberapa banyak kita boleh mengkonsusmi
coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan
coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat
diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan
secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau
terlalu sedikit.
Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian
orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk
mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat
terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving.
Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga
sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi
mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak
yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine
adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine
juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan
seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di
jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya
yang berbeda setiap malam.
Coklat juga tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama munculnya
plaque gigi karena plaque gigi juga bisa timbul pada orang yang mengkonsumsi
makanan biasa sehari-hari.
Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang
rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi
oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan
adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.

Referensi
1. ^ (en) Tes kimia mengkonfirmasikan penggunaan cokelat yang pertama
adalah untuk memproduksi minuman beralkohol
2. ^ (en) Athena Review Vol.2, no.2 Sejarah Singkat Cokelat, Makanan
para Dewa (terakhir diakses 8 Juni 2007)
3. ^ Catatan Gastronomi: Kejadian Ekstrim Cokelat sebuah Laporan dan
Esai: The New Yorker
4. ^ (en) Tentang Hans Sloan (terakhir diakses pada 8 Juni 2007)
5. ^ (en) Berita BBC untuk Kesehatan: Cokelat Lebih Baik Daripada
Berciuman
6. Keduabelah pihak seri dalam pertikaian tentang cokelat
http://www.ot.co.id
http://tips-sehatku.blogspot.com
http://www.benih.net
http://artikle.wordpress.com
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2008-07-29
Jam 05:16:39