Anda di halaman 1dari 5

WULAN KARINA

XI.IS.4

Sengketa Perairan Ambalat


Sengketa perairan dengan negeri jiran Malaysia kembali terjadi. Setelah pulau Sipadan dan
Ligitan jatuh ke Malaysia, kini Malaysia mengklaim blok Ambalat sebagai milik mereka.
Ambalat adalah sebuah blok yang kaya akan sumber daya minyak. Ambalat diklaim oleh
pihak Malaysia setelah pengadilan Internasional memberikan pulau Sipadan dan Ligitan
kepada Malaysia. Yang unik adalah pengadilan Internasional membuat keputusan tersebut
karena pihak Malaysia terlihat ’serius’ untuk memiliki Sipadan dan Ligitan. Sedangkan
Indonesia sendiri sudah ’serius’ mengelola blok Ambalat sejak tahun 80-an tanpa ada protes
dari pihak Malaysia.

Indonesia harus belajar dari pengalaman kasus Sipadan dan Ligitan. Pada waktu itu pihak
Malaysia terus membangun fasilitas-fasilitas di Pulau Sipadan tanpa mempedulikan
mahkamah Internasional yang menginstruksikan kedua belah pihak untuk tidak ‘menyentuh’
Sipadan dan Ligitan sampai ada keputusan. Indonesia mengikuti instruksi tersebut, sedangkan
Malaysia tidak menggubrisnya dan bahkan menjadikan Sipadan sebagai daerah tujuan wisata.
Akhirnya Sipadan dan Ligitan jatuh ke tangan Malaysia karena Indonesia dianggap tidak
menunjukkan sikap ketertarikan kepada Sipadan dan Ligitan.

Pada kasus Ambalat, Indonesia berada di atas angin karena sudah mengeksploitasi daerah
tersebut sejak tahun 80-an. Ini tentunya menunjukkan keseriusan Indonesia untuk mengelola
daerah tersebut. Selain itu, Indonesia memiliki keuntungan karena merupakan negara
kepulauan yang memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh negara pantai seperti Malaysia.
Klaim Malaysia sendiri baru diketahui dunia akhir-akhir ini dari perjanjian dari Malaysia
untuk menyerahkan penggalian sumber daya minyak di sektor Ambalat kepada Shell.

Indonesia juga harus belajar dari pengalaman kasus Timor Leste. Pelajaran yang berharga
adalah bahwa negara tetangga akan melakukan apapun untuk memperoleh minyak Indonesia.
Saat itu Australia mendukung kemerdekaan Timor Timur atas nama hak asasi manusia.
Namun belakangan Australia menusuk dari belakang dengan mengambil alih sebagian besar
sumber daya minyak, sumber daya alam satu-satunya milik Timor Leste. Kini Timor Leste
menjadi salah satu negara termiskin di dunia.

Selain dengan Indonesia, Malaysia juga pernah memiliki sengketa wilayah dengan Thailand.
Masalah ini bisa diselesaikan kedua pihak dengan mengelola daerah tersebut bersama-sama.
Selain itu, Malaysia juga memiliki sengketa yang belum selesai dengan Brunei Darussalam,
lagi-lagi juga bertemakan minyak. Belum termasuk sengketa rumit kepulauan Spratly yang
melibatkan tak kurang dari 6 negara.
Sengketa Sipadan dan Ligitan
Sengketa Sipadan dan Ligitan adalah persengketaan Indonesia dan Malaysia atas pemilikan
terhadap kedua pulau yang berada di Selat Makassar yaitu pulau Sipadan (luas: 50.000
meter²) dengan koordinat: 4°6′52.86″N 118°37′43.52″E / 4.1146833°N 118.6287556°E dan
pulau Ligitan (luas: 18.000 meter²) dengan koordinat: 4°9′N 118°53′E / 4.15°N 118.883°E.
Sikap Indonesia semula ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN namun
akhirnya sepakat untuk menyelesaikan sengketa ini melalui jalur hukum Mahkamah
Internasional

Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967 ketika dalam
pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-masing negara ternyata
memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke dalam batas-batas wilayahnya. Kedua
negara lalu sepakat agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo
akan tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor parawisata
baru yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia memahami status quo sebagai
tetap berada di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai, sedangkan pihak Indonesia
mengartikan bahwa dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh
ditempati/diduduki sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969
pihak Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta nasionalnya.

Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau TAC (Treaty
of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali ini
antara lain menyebutkan bahwa akan membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk
menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak
Malaysia menolak beralasan karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim
pulau Batu Puteh, sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan
Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina, dan
Taiwan. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi hutan (setara
Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia serta meminta pihak
Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau.

Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN dan
selalu menolak membawa masalah ini ke ICJ kemudian melunak. Dalam kunjungannya ke
Kuala Lumpur pada tanggal 7 Oktober 1996, Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan
PM Mahathir tersebut yang pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM
Anwar Ibrahim, dibuatkan kesepakatan "Final and Binding," pada tanggal 31 Mei 1997,
kedua negara menandatangani persetujuan tersebut. Indonesia meratifikasi pada tanggal 29
Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49 Tahun 1997 demikian pula Malaysia meratifikasi
pada 19 November 1997., sementara pihak mengkaitkan dengan kesehatan Presiden Soeharto
dengan akan dipergunakan fasilitas kesehatan di Malaysia
Keputusan Mahkamah Internasional

Pada tahun 1998 masalah sengketa Sipadan dan Ligitan dibawa ke ICJ, kemudian pada hari
Selasa 17 Desember 2002 ICJ mengeluarkan keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan
Pulau Sipadan-Ligatan antara Indonesia dengan Malaysia. Hasilnya, dalam voting di lembaga
itu, Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada
Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan hakim tetap dari MI, sementara satu hakim
merupakan pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. Kemenangan Malaysia, oleh
karena berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari
perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia)
telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi
perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun
1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an. Sementara itu, kegiatan pariwisata yang
dilakukan Malaysia tidak menjadi pertimbangan, serta penolakan berdasarkan chain of title
(rangkaian kepemilikan dari Sultan Sulu) akan tetapi gagal dalam menentukan batas di
perbatasan laut antara Malaysia dan Indonesia di selat Makassar.

Babak Baru Sengketa Batas Maritim di Teluk Bengal


Pada tanggal 16 Desember 2009, the International Tribunal for the Law of the Sea-ITLOS
(selanjutnya disebut Tribunal) mengumumkan bahwa baru saja menerima berkas sengketa
batas maritim antar negara untuk diselesaikan. Sengketa tersebut melibatkan dua negara
bertetangga di perairan Teluk Bengal, yaitu Banglades dan Myanmar. Di luar itu, perlu
dicatat bahwa Banglades juga sedang mempersiapkan pengajuan sengketa batas maritimnya
dengan India ke Mahkamah Internasional. Ada beberapa hal menarik yang bisa dicermati dari
sengketa-sengketa ini.

Pertama, kasus antara Banglades dan Myanmar menjadi kasus delimitasi batas maritim
pertama yang ditangani oleh Tribunal. Sebelumnya Tribunal telah menerima dan
menyelesaikan 15 kasus di bidang hukum laut internasional. Sebagai latar belakang, Tribunal
dibentuk sebagai bagian dari tindak lanjut lahirnya Konvensi Hukum Laut Internasional
(UNCLOS 1982) yang mana Tribunal memiliki kompetensi untuk menyelesaikan berbagai
sengketa terkait hukum laut internasional.

Kedua, Myanmar menjadi negara anggota ASEAN pertama yang sepakat dan memilih untuk
menyelesaikan sengketa batas maritimnya melalui jalur mahkamah internasional. Sebagai
catatan, beberapa negara ASEAN pernah bersengketa di mahkamah Internasional terkait
masalah kelautan dan kedaulatan, namun tidak pernah terkait batas maritim. Sebagai contoh
adalah Malaysia dan Singapura yang pernah bersengketa di Tribunal tentang reklamasi pantai
Singapura dan di Mahkamah terkait kedaulatan beberapa karang dan elevasi surut di Selat
Singapura.

Ketiga, sengketa antara Banglades, India dan Myanmar pada dasarnya bermula dari usaha
kedua negara untuk menguasai sebagian perairan di Teluk Bengal yang sangat kaya dengan
cadangan minyak dan gas. Kedua negara telah menetapkan beberapa zona blok konsesi migas
di perairan yang mereka klaim, yang tentunya tidak diakui oleh pihak lainnya.

Lebih jauh lagi, juga dalam rangka mengamankan cadangan gas dan minyak di perairan
tersebut, para pihak juga melakukannya melalui forum internasional. Sebagai contoh adalah
India telah menyampaikan hak berdaulatnya terhadap wilayah dasar laut (landas kontinen) di
luar 200 mil laut dari garis pangkal kepada PBB. Hal ini tentunya menuai keberatan dari
Banglades yang langsung menyampaikan keberatannya kepada PBB. Myanmar juga telah
menyampaikan hal yang sama atas landas kontinen ke PBB yang juga telah menuai keberatan
dari Banglades. Banglades sendiri pada saat ini sedang mempersiapkan pengajuannya kepada
PBB dengan melakukan survey dasar laut di Teluk Bengal dengan dana sampai dengan 11,77
juta dollar Amerika. Banglades berencana menyampaikan pengajuannya ke PBB pada tahun
2011 yang kemungkinan juga akan diprotes oleh India dan Myanmar bila sengketa belum
terselesaikan.

Keempat, dari sisi konfigurasi geografis Teluk Bengal, hal ini mengingatkan para praktisi dan
pengamat masalah batas maritim terhadap sengketa batas yang terjadi pada 1969 antara
Jerman, Belanda dan Denmark. Kasus ini lebih terkenal disebut sebagai North Sea Case.
Dalam kasus tersebut, para pihak meminta mahkamah untuk memutuskan apakah prinsip
penarikan garis batas melalui metode sama jarak mutlak harus dilakukan. Jerman yang posisi
geografisnya terjepit di antara Belanda dan Denmark melihat bahwa prinsip tersebut sangat
tidak menguntungkan baginya. Hal ini karena apabila prinsip tersebut diberlakukan, maka
wilayah perairan Jerman akan sangat sempit dan tertutup tanpa akses ke laut bebas oleh
perairan Belanda dan Denmark. Pada keputusannya, mahkamah merestui pendapat Jerman
dan menyatakan bahwa metode sama jarak tidak mutlak dilakukan. Keputusan ini menjadi
tonggak lahirnya prinsip solusi yang adil atau equitable solution di dalam hukum delimitasi
batas laut internasional.

Terlepas bahwa setiap wilayah maritim memiliki karakteristik yang berbeda, posisi geografis
Banglades yang terjepit diantara India dan Myanmar tentunya hampir sama dengan apa yang
dihadapi Jerman pada 1969. Hal ini pula yang memberi gambaran secara teknis rumitnya
perundingan antara Banglades dengan India dan Myanmar. Mencari solusi yang adil tentunya
jauh lebih sulit daripada menentukan garis tengah sebagai batas karena definisi dan standar
adil tentunya berbeda bagi para pihak yang terlibat. Hal ini yang menjadi tantangan berat bagi
Tribunal. Akan sangat menarik melihat bagaimana Tribunal mengaplikasikan equitable
solution pada kasus ini.

Kelima, Myanmar dan Banglades telah melakukan perundingan bilateral untuk menetapkan
batas diantara mereka selama lebih kurang 35 tahun. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa
perundingan batas maritim antar negara adakalanya dapat memakan waktu yang cukup lama
dan belum tentu menghasilkan garis batas yang diterima para pihak. Sangat mungkin satu-
satunya kesepakatan yang dicapai adalah kesepakatan untuk mencari penyelesaian melalui
pihak ketiga, termasuk melalui Tribunal atau mahkamah internasional lainnya.

Yang perlu digaris bawahi adalah keputusan untuk menyelesaikan sengketa batas maritim
melalui jalur pihak ketiga, seperti apa yang dilakukan Banglades dan Myanmar, seyogyanya
tidak dilihat sebagai rusaknya hubungan persahabatan antara para pihak yang bersengketa.
Hal ini haruslah dilihat sebagai salah satu cara penyelesaian sengketa dengan cara-cara damai
sebagaimana yang diamanatkan oleh Piagam PBB demi menjaga perdamaian antara para
pihak secara khusus dan dunia secara umum.