Anda di halaman 1dari 9

Perkembangan Sosial Dan Kebudayaan

Indonesia

Setiap kehidupan di dunia ini tergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap

lingkungannya dalam arti luas. Akan tetapi berbeda dengan kehidupan lainnya, manusia

membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif. Manusia tidak sekedar mengandalkan

hidup mereka pada kemurahan lingkungan hidupnya seperti ketika Adam dan Hawa hidup di

Taman Firdaus. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengelola lingkungan dan

mengolah sumberdaya secara aktif sesuai dengan seleranya. Karena itulah manusia

mengembangkan kebiasaan yang melembaga dalam struktur sosial dan kebudayaan mereka.

Karena kemampuannya beradaptasi secara aktif itu pula, manusia berhasil menempatkan diri

sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di muka bumi dan paling luas persebarannya

memenuhi dunia.

Di lain pihak, kemampuan manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara

aktif itu telah membuka peluang bagi pengembangan berbagai bentuk organisasi dan

kebudayaan menuju peradaban. Dinamika sosial itu telah mewujudkan aneka ragam

masyarakat dan kebudayaan dunia, baik sebagai perwujudan adaptasi kelompok sosial

terhadap lingkungan setempat maupun karena kecepatan perkembangannya.

1. Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan

Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat

ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat

itu adalah Cultural-Determinism.

1
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke

generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink,

kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan

serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala

pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di

dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan

kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya,

rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah

sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan

yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu

bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh

manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat

nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan

lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan

kehidupan bermasyarakat.

2. Unsur-Unsur

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur

kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

o alat-alat teknologi

o sistem ekonomi

2
o keluarga

o kekuasaan politik

2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

o sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota

masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya

o organisasi ekonomi

o alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga

adalah lembaga pendidikan utama)

o organisasi kekuatan (politik)

3. Wujud dan komponen

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan

artefak.

• Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide,

gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak;

tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala

atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan

gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada

dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

• Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam

masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini

terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak,

serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat

3
tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati

dan didokumentasikan.

• Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan

karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat

diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud

kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa

dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal

mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

 Komponen

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

• Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.

Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari

suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.

Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,

stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

• Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi

ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

4
4. MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Dinamika sosial dan kebudayaan itu, tidak terkecuali melanda masyarakat Indonesia,

walaupun luas spektrum dan kecepatannya berbeda-beda. Demikian pula masyarakat dan

kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun

perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di

negeri maju lainnya. Betapapun, masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam

itu tidak pernah mengalami kemandegan sebagai perwujudan tanggapan aktif masyarakat

terhadap tantangan yang timbul akibat perubahan lingkungan dalam arti luas maupun

pergantian generasi.

Ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya

masyarakat Indonesia. Secara kategorikal ada 2 kekuatan yang memicu perubahan sosial,

Pertama, adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian

generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Kedua, adalah kekuatan dari luar

masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact)

secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup

yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang

harus menata kembali kehidupan mereka .

Betapapun cepat atau lambatnya perkembangan sosial budaya yang melanda, dan factor

apapun penyebabnya, setiap perubahan yang terjadi akan menimbulkan reaksi pro dan kontra

terhadap masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Besar kecilnya reaksi pro dan kontra itu

dapat mengancam kemapanan dan bahkan dapat pula menimbulkan disintegrasi sosial terutama

dalam masyarakat majemuk dengan multi kultur seperti Indonesia.

5. PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN DEWASA INI

Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang mengalami masa pancaroba yang amat

dahsyat sebagai akibat tuntutan reformasi secara menyeluruh. Sedang tuntutan reformasi itu

5
berpangkal pada kegiatan pembangunan nasional yang menerapkan teknologi maju untuk

mempercepat pelaksanaannya. Di lain pihak, tanpa disadari, penerapan teknologi maju itu

menuntut acuan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan orientasi baru. Tidaklah

mengherankan apabila masyarakat Indonesia yang majemuk dengan multi kulturalnya itu

seolah-olah mengalami kelimbungan dalam menata kembali tatanan sosial, politik dan

kebudayaan dewasa ini.

Penerapan teknologi maju

Penerapan teknologi maju untuk mempercepat pebangunan nasional selama 64 tahun

yang lalu telah menuntut pengembangan perangkat nilai budaya, norma sosial disamping

ketrampilan dan keahlian tenagakerja dengn sikap mental yang mendukungnya. Penerapan

teknologi maju yang mahal biayanya itu memerlukan penanaman modal yang besar (intensive

capital investment); Modal yang besar itu harus dikelola secara professional (management)

agar dapat mendatangkan keuntungan materi seoptimal mungkin; Karena itu juga memerlukan

tenagakerja yang berketrampilan dan professional dengan orientasi senantiasa mengejar

keberhasilan (achievement orientation).

Tanpa disadari, kenyataan tersebut, telah memacu perkembangan tatanan sosial di

segenap sector kehidupan yang pada gilirannya telah menimbulkan berbagai reaksi pro dan

kontra di kalangan masyarakat. Dalam proses perkembangan sosial budaya itu, biasanya hanya

mereka yang mempunyai berbagai keunggulan sosial-politik, ekonomi dan teknologi yang

akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan bebas. Akibatnya mereka yang tidak siap

akan tergusur dan semakin terpuruk hidupnya, dan memperlebar serta memperdalam

kesenjangan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang

memperbesar potensi konflik sosial.dalam masyarakat majemuk dengan multi kulturnya.

6
Keterbatasan lingkungan (environment scarcity)

Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya cenderung bersifat exploitative dan

expansif dalam pelaksanaannya. Untuk mengejar keuntungan materi seoptimal mungkin,

mesin-mesin berat yang mahal harganya dan beaya perawatannya, mendorong pengusaha

untuk menggunakannya secara intensif tanpa mengenal waktu. Pembabatan dhutan secara

besar-besaran tanpa mengenal waktu siang dan malam, demikian juga mesin pabrik harus

bekerja terus menerus dan mengoah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap di lempar ke

pasar. Pemenuhan bahan mentah yang diperlukan telah menimbulkan tekanan pada lingkungan

yang pada gilirannya mengancam kehidupan penduduk yang dilahirkan, dibesarkan dan

mengembangkan kehidupan di lingkungan yang di explotasi secara besar-besaran.

Di samping itu penerapan teknologi maju juga cenderung tidak mengenal batas

lingkungan geografik, sosial dan kebudayaan maupun politik. Di mana ada sumber daya alam

yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan industri yang ditopang dengan peralatan

modern, kesana pula mesin-mesin modern didatangkan dan digunakan tanpa memperhatikan

kearifan lingkungan (ecological wisdom) penduduk setempat.

Ketimpangan sosial-budaya antar penduduk pedesaan dan perkotaan ini pada gilirannya

juga menjadi salah satu pemicu perkembangan norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya yang

befungsi sebagai pedoman dan kerangka acuan penduduk perdesaan yang harus nmampu

memperluas jaringan sosial secara menguntungkan. Apa yang seringkali dilupakan orang

adalah lumpuhnya pranata sosial lama sehingga penduduk seolah-olahkehilangan pedoman

dalam melakukan kegiatan. Kalaupun pranata sosial itu masih ada, namun tidak berfungsi lagi

dalam menata kehidupan pendudduk sehari-hari. Seolah-olah terah terjadi kelumpuhan sosial

seperti kasus lumpur panas Sidoarjo, pembalakan liar oleh orang kota, penyitaan kayu

tebangan tanpa alas an hokum yang jelas, penguasaan lahan oleh mereka yang tidak berhak.

Kelumpuhan sosial itu telah menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan dan

berlanjut dengan pertikaian yang disertai kekerasan ataupun amuk.

7
6. PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN

Sejumlah peraturan dan perundang-undangan diterbitkan pemerintah untuk melindungi

hak dan kewajiban segenap warganegara, seperti UU Perkawinan monogamous, pengakuan

HAM dan pengakuan kesetaraan gender serta pengukuhan “personal, individual ownership”

atas kekayaan keluarga mulai berlaku dan mempengaruhi sikap mental penduduk dengan

segala akibatnya.

 PENDIDIKAN

Kekuatan perubahan yang sangat kuat, akan tetapi tidak disadari oleh kebanyakan

orang adalah pendidikan. Walaupun pendidikan di manapun merupakan lembaga ssosial yang

terutama berfungsi untuk mempersiapkan anggotanya menjadi warga yang trampil dan

bertanggung jawab dengan penanaman dan pengukuhan norma sosial dan nilai-nilai budaya

yang berlaku, namun akibat sampingannya adalah membuka cakrawala dan keinginan tahu

peserta didik. Oleh karena itulah pendidikan dapat menjadi kekuatan perubahan sosial yang

amat besar karena menumbuhkan kreativitas peserta didik untuk mengembangkan

pembaharuan (innovation).

Di samping kreativitas inovatif yang membekali peserta didik, keberhasilan pendidikan

menghantar seseorang untuk meniti jenjang kerja membuka peluang bagi mobilitas sosial yang

bersangkutan. Pada gilirannya mobilitas sosial untuk mempengaruhi pola-pola interaksi sosial

atau struktur sosial yang berlaku. Prinsip senioritas tidak terbatas pada usia, melainkan juga

senioritas pendidikan dan jabatan yang diberlakukan dalam menata hubungan sosial dalam

masyarakat.

Dengan demikian pendidikan sekolah sebagai unsur kekuatan perubahan yang

diperkenalkan dari luar, pada gilirannya menjadi kekuatan perubahan dari dalam masyarakat

8
yang amat potensial. Bahkan dalam masyarakat majemuk Indonesia dengan multi kulturnya,

pendidikan mempunyai fungsi ganda sebagai sarana integrasi bangsa yang menanamkan saling

pengertian dan penghormatan terhadap sesama warganegara tanpa membedakan asal-usul dan

latar belakang sosial-budaya, kesukubangsaan, keagamaan, kedaerahan dan rasial. Pendidikan

sekolah juga dapat berfungsi sebagai peredam potensi konflik dalam masyarakat majemuk

dengan multi kulurnya, apabila diselenggarakan dengan benar dan secara berkesinambungan.

Di samping pendidikan, penegakan hukum diperlukan untuk menjain keadilan sosial

dan demokratisasi kehidupan berbangsa dalam era reformasi yang memicu perlembangan

sosial-budaya dewasa ini. Kebanyakan orang tidak menyadari dampak sosial reformasi,

walaupun mereka dengan lantangnya menuntut penataan kembali kehidupan bermasyarakat

dan bernegara. Sesungguhnya reformasi mengandung muatan perubahan sosial-budaya yang

harus diantisipasi dengan kesiapan masyarakat untuk menerima pembaharuan yang seringkali

menimbulkan ketidak pastian dalam prosesnya.

Tanpa penegakan hukum secara transparan dan akuntabel, perkembangan sosial-

budaya di Indonesia akan menghasilkan bencana sosial yang lebih parah, karena hilangnya

kepercayaan masyarakat akan mendorong mereka untuk bertindak sendiri sebagaimana

nampak gejala awalnya dewasa ini. Lebih berbahayalagi kalau gerakan sosial itu diwarnai

kepercayaan keagamaan, seperti penatian datangnya ratu adil dan gerakan pensucian

(purification) yang mengharamkan segala pembaharuan yang dianggap sebagai “biang”

kekacauan.

Betapaun masyarakat harus siap menghadapi perubahan sosial budaya yang diniati dan

mulai dilaksanakan dengan reformasi yang mengandung makna perkembangan ke arah

perbaikan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.