Anda di halaman 1dari 9

MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO.

2, DESEMBER 2005: 57-65 57

MEMAHAMI METODE KUALITATIF


Gumilar Rusliwa Somantri
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

E-mail: gsomantri@yahoo.com

Abstrak
Metode penelitian kualitatif secara luas telah digunakan dalam berbagai penelitian sosial termasuk sosiologi. Terdapat
beberapa kesimpangsiuran dalam memahami metode kualitatif yang seringkali dianggap sebagai pelengkap dari metode
kuantitatif. Penelitian pustaka ini ingin mendiskusikan beragam isu terkait dengan kelebihan dan kekurangan dalam
metode penelitian kualitatif. Kami menyimpulkan bahwa metode kualitatif secara potensial dapat berguna dalam
menyumbangkan pembangunan teori-teori ilmu sosial serta metodologi dalam konteks ke-Indonesiaan. Lebih dari itu,
penggunaan metode penelitian kualitatif dapat membawa ilmu sosial khususnya sosiologi di Indonesia berada dalam
posisi setara dalam dialog peradaban dengan sesama komunitas akademik di Barat.

Abstract
Qualitative method has been widely be adopted in research practices in Indonesian tradition of social sciences including
sociology. However, it seems there is misunderstanding on the method that is seen as additional to the quantitative one.
This literature study intend to discuss related issues to the strengths and weaknesses of qualitative method. We do
conclude here, that the method has productive potential for fostering the develomment of social theories as well as
methodology in the context of Indonesian world. Hence, it is possible to bring Indonesian social sciences especially
sociology into equal position of future dialog with the counterparts from the Western communities.

Keywords: qualitative method, method in practice, theorizing, contextualization, relevancy

1. Pendahuluan 2. Metode Penelitian


Metodologi secara umum didefinisikan sebagai ”a body Tulisan ini merupakan penelitian pustaka yang
of methods and rules followed in science or discipline”. memusatkan perhatian pada isu-isu penting seputar
Sedangkan metode sendiri adalah ”a regular systematic metode kualitatif. Kajian ini berangkat dari suatu cara
plan for or way of doing something”. Kata metode pandang bahwa metode kualitatif banyak disalahartikan
berasal dari istilah Yunani methodos (meta+bodos) secara aneka ragam, seperti ”gampangan”, rumit,
yang artinya cara.1 Jadi, metode penelitian sosial adalah bahkan dianggap inferior dan marginal dibandingkan
cara sistematik yang digunakan peneliti dalam saudara tirinya, metode kuantitatif. Salah satu penyebab
pengumpulan data yang diperlukan dalam proses mendasar dari hal ini adalah para peneliti kualitatif
identifikasi dan penjelasan fenomena sosial yang tengah gagal memahami dan menerapkan prinsip-prinsip
ditelisiknya. Secara dikotomis, dalam ilmu sosial metode ini secara benar. Pertanyaan penelitian kami
dikenal dua jenis metode penelitian yaitu kuantitatif dan adalah bagaimana kita memahami metode kualitatif agar
kualitatif.2 dapat menghasilkan kajian produktif dan berguna dalam
ilmu sosial, khususnya sosiologi di Indonesia?

Dalam rangka menjawab pertanyaan di atas, kami


1
Lihat Webster’s New Encyclopedic Dictionary , (New York: melakukan penelusuran pustaka yang akan dituangkan
Black Dog and Leventhan Publ. Inc, 1994), hlm. 631. dalam beberapa sub bahasan. Diskusi kritis mengenai
2
Dalam metode penelitian sosial, dimungkinkan seorang kekuatan dan kelemahan metode kualitatif dan
peneliti menggabungkan kedua metode tersebut. Penjelasan kuantitatif akan dibahas pada bagian dua. Bagian ini
yang cukup lengkap mengenai hal tersebut dapat dilihat dalam
penting dikemukakan, agar kita semua melihat secara
Abbas Tashakkori & Charles Teddlie(eds), Handbook of
Mixed Methods in Social & Behavioral Research, (Thousand jelas kesetaraan metodologi. Yaitu, masing-masing
Oaks, California: Sage Publ. Inc, 2003). metode mempunyai paradigma teoritik, gaya, asumsi

57
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65 58

paradimatik, serta kekuatan dan kelemahan sendiri. relatif sedikit. Dengan demikian, hal yang umum
Bagian tiga dari tulisan ini akan menguraikan secara dilakukan ia berkutat dengan analisa tematik. Peneliti
lengkap jenis, orientasi dan prinsip dasar metode kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan
kualitatif. Diskusi mengenai hal ini adalah mendasar, realitas yang ditelitinya.3 Sebagaimana dijelaskan
karena seringkali kita keliru dalam menempatkan sebelumnya, metode penelitian mempunyai pula asumsi
metode dalam konteks penelitian yang bersifat paradigmatik. John W. Cresswell menilik beberapa
idiografis. Sedangkan perdebatan seputar metode dimensi asumsi paradigmatik yang membedakan
kualitatif dalam praktek penelitian sosial dibahas pada penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Dimensi-
bagian keempat. Pada bagian ini akan diskusikan dimensi tersebut mencakup ontologis, epistemologis,
metode sebagai proses “sell” and “trade”, ranah data axiologis, retorik, serta pendekatan metodologis. Secara
kualitatif dan dimensi etika. Bagian kelima akan diisi ontologis, peneliti kuantitatif memandang realitas
oleh uraian mengenai “penteorian” metode kualitatif. sebagai “objektif” dan dalam kacamata “out there”,
Diskusi di bagian ini memperlihatkan keterjalinan serta independen dari dirinya. Sementara itu, peneiliti
antara metode dan teori yang merupakan ciri dari kualitatif memandang realitas merupakan hasil
sosiologi kualitatif. Bagian penutup akan berisi catatan rekonstruksi oleh individu yang terlibat dalam situasi
mengenai kontribusi metode kualitatif pada sosial. Secara epistemologis, peneliti kuantitatif
pengembangan ilmu sosial khususnya sosiologi di bersikap independen dan menjaga jarak (detachment)
Indonesia. dengan realitas yang diteliti. Sementara peneliti
kualitatif, menjalin interaksi secara intens dengan
3. Analisis dan Interpretasi Data realitas yang ditelitinya. Secara retoris atau penggunaan
bahasa, penelitian kuantitatif biasanya menggunakan
3.1. Metode Kuantitatif dan Kualitatif dalam bahasa-bahasa penelitian yang bersifat formal dan
Perbandingan impersonal melalui angka atau data-data statistik.
Metode kuantitatif dan kualitatif berkembang terutama
dari akar filosofis dan teori sosial abad ke-20. Kedua Dengan demikian, terminologi atau konsep-konsep yang
metode penelitian di atas mempunyai paradigma jamak ditemukan dalam penelitian kuantitatif misalnya
teoritik, gaya, dan asumsi paradigmatik penelitian yang “relationship” dan ”comparison”. Sementara, penelitian
berbeda. Masing-masing memuat kekuataan dan kualitatif kerap ditandai penggunaan bahasa informal
keterbatasan, mempunyai topik dan isu penelitian dan personal seperti “understanding”, “discover”, dan
sendiri, serta menggunakan cara pandang berbeda untuk “meaning”. Secara metodologis, penelitian kuantitatif
melihat realitas sosial. lekat dengan penggunaan logika deduktif dimana teori
dan hipotesis diuji dalam logika sebab akibat. Desain
Metode kuantitatif berakar pada paradigma tradisional, yang bersifat statis digunakan melalui penetapan
positivistik, eksperimental atau empiricist. Metode ini konsep-konsep, variabel penelitian serta hipotesis.
berkembang dari tradisi pemikiran empiris Comte, Mill, Sementara itu, penelitian kualitatif lebih mengutamakan
Durkeim, Newton dan John Locke. “Gaya” penelitian penggunaan logika induktif dimana kategorisasi
kuantitatif biasanya mengukur fakta objektif melalui dilahirkan dari perjumpaan peneliti dengan informan di
konsep yang diturunkan pada variabel-variabel dan lapangan atau data-data yang ditemukan. Sehingga
dijabarkan pada indikator-indikator dengan penelitian kualitatif bericirikan informasi yang berupa
memperhatikan aspek reliabilitas. Penelitian kuantitatif ikatan konteks yang akan menggiring pada pola-pola
bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak atau teori yang akan menjelaskan fenomena sosial
“kasus” dan subjek yang diteliti, sehingga dapat (Creswell, 1994: 4-7).
ditampilkan dalam bentuk data statistik yang berarti.
3.2. Jenis, Orientasi dan Prinsip Dasar Metode
Hal penting untuk dicatat di sini adalah, peneliti
Kualitatif
“terpisah” dari subjek yang ditelitinya.
Setidaknya, terdapat lima jenis metode penelitian
kualitatif yang banyak dipergunakan, yaitu: (1)
Sementara metode kualitatif dipengaruhi oleh
observasi terlibat; (2) analisa percakapan; (3) analisa
paradigma naturalistik-interpretatif Weberian,
perspektif post-positivistik kelompok teori kritis serta
3
post-modernisme seperti dikembangkan oleh Keterlibatan dan interaksi peneliti kualitatif dengan realitas
Baudrillard, Lyotard, dan Derrida (Cresswell, 1994). yang diamatinya merupakan salah satu ciri mendasar dari
metode penelitian ini. Jary and Jary mendefinisikan istilah
“Gaya” penelitian kualitatif berusaha mengkonstruksi qualitative research techniques sebagai setiap penelitian di
mana ilmuwan sosial mencurahkan kemampuan sebagai
realitas dan memahami maknanya. Sehingga, penelitian
pewawancara atau pengamat empatis dalam rangka
kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses, mengumpulkan data yang unik mengenai permasalahan yang
peristiwa dan otentisitas. Memang dalam penelitian ia investigasi, lihat David Jary and Julia Jary, Dictionary of
kualitatif kehadiran nilai peneliti bersifat eksplisit dalam Sociology, (Glasgow: HarperCollins Publishers, 1991), hlm.
situasi yang terbatas, melibatkan subjek dengan jumlah 513.
59 MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65

Tabel 1. “Gaya” Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Kuantitatif Kualitatif
Mengukur fakta-fakta objektif Mengkonstruksikan realitas dan makna kultural
Fokus pada variabel-variabel Fokus pada proses dan peristiwa secara interaktif
Reliabilitas adalah kunci Otentisitas adalah kunci
Bebas nilai Hadirnya nilai secara eksplisit
Bebas dari konteks Dibatasi situasi
Banyak kasus dan subjek Sedikit kasus dan subjek
Analisis statistik Analisis tematik
Peneliti terpisah Peneliti terlibat
Sumber: W. Lawrence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches,
(Needham Heights, MA: Allyn& Bacon, 1997), hlm. 14.

Tabel 2. Asumsi Paradigmatik Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Asumsi Pertanyaan Kuantitatif Kualitatif


Asumsi ontologis Apakah sifat dasar Realitas bersifat Realitas bersifat subjektif
realitas? objektif dan singular, dan ganda sebagaimana
terpisah dari peneliti terlihat oleh partisipan
dalam studi
Asumsi Bagaimana Peneliti independen dari Peneliti berinteraksi dengan
epistemologis hubungan antara yang diteliti yang diteliti
peneliti dengan
yang diteliti?
Asumsi aksiologis Bagaimana Bebas nilai dan Sarat nilai dan bias
peranan dari nilai? menghindarkan bias
Asumsi retoris Bagaimana • Formal • Informal
penggunaan bahasa • Berdasar definisi • Mengembangkan
penelitian? • Impersonal keputusan-keputusan
• Menggunakan • Personal
bahasa kuantitatif • Menggunakan bahasa
kualitatif
Asumsi Bagaimana dengan Proses deduktif • Proses induktif
metodologis proses penelitian? Sebab akibat • Faktor-faktor dibentuk
Desain statis-kategori secara simultan
membatasi sebelum • Desain berkembang-
studi kategori diidentifikasi
Bebas konteks selama proses penelitian
Generalisasi mengarah • Ikatan konteks
pada prediksi, • Pola dan teori dibentuk
eksplanasi dan untuk pemahaman
pemahaman • Akurasi dan reliabilitas
Akurasi dan reliabilitas dibentuk melalui
melalui validitas dan verifikasi
reliabilitas
Sumber: John W. Creswell, Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches, (California: Sage
Publications, Inc, 1994), hlm. 5.

wacana; (4) analisa isi; dan (5) pengambilan data memperhatikan analisa dari kompetensi-kompetensi
ethnografis. Observasi terlibat biasanya melibatkan komunikatif yang mendasari aktivitas sosial sehari-hari
seorang peneliti kualitatif langsung dalan setting sosial. (Gubrium et.al.,, 1992: 1577).
Ia mengamati, secara lebih kurang “terbuka”, di dalam
aneka ragam keanggotaan dari peranan-peranan subjek Discourse analysis lebih tertarik pada penggunaan
yang ditelitinya (Gubrium et.al., 1992: 1577). Analisa bahasa. Peneliti, dalam kaitan ini, mempunyai perhatian
percakapan pada umumnya memusatkan perhatian pada yang besar pada praktek dan kontekstualitas (Gubrium
percakapan dalam sebuah interaksi. Peneliti et.al., 1992: 1577).
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65 60

Content analysis (analisa isi) mengkaji dokumen- diorganisir, diformalkan dan disistematisir secara ketat.
dokumen berupa kategori umum dari makna. Peneliti Sementara pada metode kualitatif, penelitian secara
dapat menganalisis aneka ragam dokumen, dari mulai aktual dijalankan secara tidak teratur, lebih ambigu, dan
kertas pribadi (surat, laporan psikiatris) hingga sejarah terikat pada kasus-kasus spesifik. Hal ini tentu saja,
kepentingan manusia (Gubrium et.al., 1992: 1577). mengurangi perangkat aturan dan menggantungkan diri
Pengambilan data ethnografis relatif tidak terstruktur. pada prosedur informal yang dibangun oleh
Peneliti biasanya memfokuskan diri pada penggalian pengalaman-pengalaman di lapangan yang ditemukan si
tekstur dan alir pengalaman-pengalaman selektif dari peneliti (Neuman, 1997: 330).
responden melalui proses interaksi peneliti dan subjek
yang ditelitinya dengan teknik wawancara mendalam Orientasi keempat dari metode kualitatif adalah
secara “bebas” (Gubrium et.al., 1992: 1577). Dalam ditempuhnya langkah-langkah penelitian yang bersifat
sosiologi, penelitian ethnografis mulai berkembang pada akhir non-linear. Dalam metode kuantitatif, seorang peneliti
1960an-1970an ketika metodologi survey dan dasar filosofis biasanya dihadapkan pada langkah-langkah penelitian
pendorongnya menjadi sasaran kritik (Goldthorpe, 2000: 65). yang bersifat pasti dan tetap dengan panduan yang jelas
sehingga disebut sebagai langkah yang linear.
W. Lawrence Neuman mencoba mengidentifikasi 4 Sementara itu, metode penelitian kualitatif lebih
faktor yang terkait dengan orientasi dalam penelitian memberikan ruang bagi penelitinya untuk menempuh
yang menggunakan metode kualitatif. Orientasi langkah non-linear dan siklikal, kadangkala melakukan
pertama terkait dengan pendekatan yang digunakan upaya “kembali” pada langkah-langkah penelitian yang
terhadap data. Metode kualitatif memperlakukan data sudah ditempuhnya dalam menjalani proses penelitian
sebagai sesuatu yang bermakna secara intrinsik. Dengan (Neuman, 1997: 330-331). Hal ini tidak berarti kualitas
demikian, data yang ada dalam penelitian kualitatif riset menjadi rendah, namun lebih pada cara untuk dapat
bersifat “lunak”, tidak sempurna, imaterial, kadangkala menjalankan orientasi dalam mengkonstruksikan
kabur dan seorang peneliti kualitatif tidak akan pernah makna.
mampu mengungkapkan semuanya secara sempurna.
Namun demikian, data yang ada dalam penelitian Sementara itu, Lincoln dan Guba mengajukan empat hal
kualitatif bersifat empiris, terdiri dari dokumentasi penting yang merefleksikan paradigma kualitatif ketika
ragam peristiwa, rekaman setiap ucapan, kata dan seorang peneliti hendak mengajukan proposal penelitian
gestures dari objek kajian, tingkah laku yang spesifik, kualitatifnya. Pertama, kredibilitas yang bertujuan untuk
dokumen-dokumen tertulis, serta berbagai imaji visual mendemonstrasikan bahwa penyelidikan yang dilakukan
yang ada dalam sebuah fenomena sosial (Neuman, telah selaras dengan kaidah-kaidah ilmiah. Hal ini untuk
1997: 328). memastikan identifikasi dan deskripsi masalah
penelitian secara akurat. Penyelidikan dan penelitian
Orientasi kedua adalah penggunaan perspektif yang harus mengikuti aturan main “credible to the
non-positivistik. Penelitian kualitatif secara luas constructors and the original multiple realities”
menggunakan pendekatan interpretatif dan kritis pada (Marshall et.al., 1989: 144-147)
masalah-masalah sosial. Peneliti kualitatif memfokuskan
dirinya pada makna subjektif, pendefinisian, metapora, Kedua, transferability yang menyangkut kemampuan
dan deskripsi pada kasus-kasus yang spesifik (Neuman, untuk demostrasi aplikasi temuan penelitian dalam
1997: 329). Peneliti kualitatif berusaha menjangkau konteks yang berbeda. Triangulasi dapat dijadikan
berbagai aspek dari dunia sosial termasuk atmosfer yang rujukan untuk dapat mencapai transferability dari suatu
membentuk suatu objek amatan yang sulit ditangkap penelitian kualitatif. Ketiga, dependability dimana
melalui pengukuran yang presisif atau diekspresikan peneliti berusaha untuk mencermati perubahan kondisi
dalam angka. Dengan demikian, penelitian kualitatif pada fenomena sosial yang dikajinya sebagaimana ia
lebih bersifat transendental, termasuk di dalamnya menyesuaikan desai studi untuk menyaring pemahaman
memiliki tujuan menghilangkan keyakinan palsu yang pada setting sosial. Yang terakhir adalah confirmability,
terbentuk pada sebuah objek kajian. Penelitian kualitatif yang bisa disepadankan dengan objektivitas. Dalam hal
berusaha memperlakukan objek kajian tidak sebagai ini, peneliti kualitatif dituntut untuk menghasilkan
objek, namun lebih sebagai proses kreatif dan mencerna temuan yang dapat dikonfirmasikan oleh pihak lain
kehidupan sosial sebagai sesuatu yang “dalam” dan (Marshall et.al., 1989: 144-147).
penuh gelegak.

Orientasi ketiga adalah penggunaan logika penelitian 3.3. Metode Kualitatif dalam Praktek
yang bersifat “logic in pratice”. Penelitian sosial Metode kualitatif berkembang mengikuti suatu dalil
mengikuti dua bentuk logika yaitu logika yang sebagai proses yang tidak pernah berhenti (unfinished
direkonstruksi (reconstructed logic) dan logika dalam process). Ia berkembang dari proses pencarian dan
praktek (logic in practice). Metode kuantitatif penangkapan makna yang diberikan oleh suatu realitas
mengikuti logika yang direkonstruksi dimana metode
61 MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65

dan fenomena sosial.4 Seorang peneliti yang peneliti kualitatif tidak saja membutuhkan keahlian
berkecimpung dalam penelitian kualitatif “konvensional” (skill) dan pengalaman penelitian. Namun ia dituntut
sering mengalami proses sell and trade. Proses ini dapat untuk menumbuhkan rasa percaya (trust) dengan subjek
difahami pada dua gejala. Pertama, peneliti terlibat yang ditelitinya. Disamping itu, pada ranah data BSD
secara interaktif dengan subjek, dan berperan dalam seringkali peneliti perlu melakukan triangulasi untuk
membentuk realitas baru. Demikian juga sebaliknya, mendapatkan data yang akurat dan otentik.
realitas secara interaktif memperkaya pengetahuan dan
makna sosial seorang peneliti. Kedua, peneliti dan Pada ranah data FSE, seorang peneliti kualitatif
“subjek” terlibat dalam proses “pertukaran” sehingga seringkali dihadapkan pada permasalahan etika dan
interaksi dapat berjalan. hubungannya dengan informan. Dalam konteks ini,
seringkali muncul data yang berpengaruh pada
Hal yang seringkali terjadi pada peneliti kualitatif penelitian namun bersifat tertutup. Sebagai contoh,
adalah lepasnya kontrol untuk menjaga sikap dan ketika seorang peneliti kualitatif mengkaji masalah
statusnya ketika ia terjun ke lapangan. Positioning pengambilan putusan di dalam keluarga, ia dihadapkan
seorang peneliti kualitatif menjadi salah satu kunci pada fakta bahwa seorang anak si informan hamil di
keberhasilan untuk mendapatkan data-data yang otentik. luar nikah. Tentu saja, hal ini bisa ditanyakan pada si
Kerap terjadi hubungan unequal antara peneliti dengan informan karena secara “objektif” fakta ini dapat
realitas yang ditelitinya. Tentu saja, hal ini dapat dianggap memiliki hubungan dengan bagaimana si
mengakibatkan bias dari data yang digali bahkan proses informan mengambil keputusan di dalam keluarganya.
interaksi berlangsung secara tidak wajar dan memuat
struktur “hiden feodalism”. Sebagai contoh, seorang Masalah muncul ketika si peneliti mencoba melihat
peneliti yang memiliki status sosial sebagai kelas dimensi etis dalam pertanyaannya serta implikasinya
menengah atas, mengenakan pakaian yang sangat bersih terhadap “kedekatan” hubungannya dengan informan.
dan rapi, berbicara dengan bahasa formal dan Jalan tengah yang dapat dilakukan adalah dengan
menunjukkan otoritas pengetahuan yang “berbeda” saat merahasiakan identitas informan melalui pseudonim,
meneliti petani kecil di pedesaan. Ketika “uniformitas” walaupun langkah ini belum tentu akan menghilangkan
sosial, ekonomi, dan budaya yang lekat pada si peneliti gangguan hubungan selanjutnya antara si peneliti
lupa untuk ditanggalkan dalam proses penelitian, maka dengan informan. Ranah data terakhir adalah BSE yang
akan terjadi hubungan timpang yang dilegalisasi oleh merupakan ranah data yang paling sulit untuk
kultur patron-klien petani. didapatkan. Pada ranah data ini, seorang peneliti
kualitatif membutuhkan waktu, keahlian, pengalaman,
Terkait dengan pencarian data di lapangan, seorang kesabaran, ketekunan yang ekstra untuk dapat
peneliti kualitatif dituntut untuk secara jeli mengungkapkan realitas yang ditelitinya. Skandal
mengumpulkan data-data yang ada. Hal ini kerapkali hubungan politik, kolusi, korupsi, “tabu”, adalah
menyulitkan karena tidak setiap permasalahan contoh-contoh realitas sosial pada ranah data ini.
penelitian yang menarik dan signifikan, mudah
dilakukan pencarian datanya. Data di lapangan dapat Metode kualitatif sebagaimana metode-metode
dipetakan ke dalam 4 ranah: front stage-disclosed penelitian lainnya, dipagari dengan etika penelitian.
(FSD), back stage-disclosed (BSD), front stage- Perlu disampaikan bahwa dalam setiap penelitian, baik
enclosed (FSE), serta back stage-enclosed (BSE). Pada dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif
ranah data FSD, data relatif mudah didapatkan dan maupun kualitatif seorang peneliti dihadapkan pada dua
dikumpulkan. Dalam ranah data FSD ini, peneliti sikap profesional yang harus melekat. Sikap pertama
kualitatif pemula yang tidak terlalu berpengalaman adalah pengetahuan yang mencukupi untuk memahami
dapat memperoleh informasi karena yang dibutuhkan teknik-teknik penelitian. Sikap kedua adalah sensitivitas
hanya data-data yang ada di permukaan. Misalnya data- pada aspek etika dalam melakukan penelitian (Neuman,
data informan yang terkait dengan usia dan pekerjaan 1997: 443-444). Etika penelitian memiliki akar tradisi
(kecuali pekerjaan-pekerjaan tertentu yang ilegal/ yang kuat dalam ilmu sosial sebagaimana terungkap
melanggar norma) bisa dengan mudah didapatkan dalam sifat bebas nilai dari eksperimetalisme, netralitas
seorang peneliti kualitatif. Pada ranah data BSD, tingkat dari tradisi Weberian hingga etika utilitarian (Christians,
kesulitan sudah lebih tinggi. Di ranah ini, seorang “Ethics and Politics in Qualitative Research”, dalam Denzin
et.al.,(eds), 2000: 133-152).
4
Metode kualitatif merupakan bagian dari proses pengetahuan
yang dapat dianggap sebagai produk sosial dan juga proses Dalam menjaga sikap kedua ini, seorang peneliti
sosial. Pengetahuan sebagai sebuah proses setidaknya kualitatif sering dihadapkan pada serangkaian dilema.
memiliki tiga prinsip dasar yakni empirisisme yang berpangku Dilema-dilema tersebut antara lain penyamaran identitas
pada fakta dan data, objektivitas dan kontrol. Lihat Royce informan, kerahasiaan, keterlibatan dengan para deviant,
Singleton, Jr, Bruce C. Straits, Margaret M. Straits and Ronald hubungan dengan kekuasaan, serta dalam proses
J. McAllister, Approaches to Social Research, (New York:
Oxford University Press, 1988), hlm. 28-37
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65 62

FRONT STAGE

FSD FSE

DISCLOSED ENCLOSED

BSD BSE

BACK STAGE

Gambar 1. Pemetaan data lapangan: front stage-disclosed (FSD), back stage-disclosed (BSD), front stage-enclosed
(FSE), serta back stage-enclosed (BSE).

diseminasi hasil penelitiannya. Identitas dan kerahasiaan sangat fundamental. Prinsip kesukarelaan juga berarti
informan dapat dilakukan dengan menggunakan anonim seorang peneliti kualitatif dituntut untuk tidak
atau pseudonim. Dalam konteks hubungan kekuasaan, merugikan subjek penelitian, menjaga privasinya, serta
seorang peneliti harus berani menembus elit kekuasaan menghindarkan konflik kepentingan (conflict of
yang berpotensi melakukan blokade atas penelitian interest). Prinsip lain yang tidak kalah pentingnya
terutama yang terkait dengan kelompok-kelompok yang adalah memperhatikan prinsip persetujuan memberi
nir kekuasaan. Masalah yang cukup pelik adalah ketika informasi (informed consent) dari subjek penelitian.
seorang peneliti dihadapkan pada dilema tanggung Dalam prinsip ini, partisipan penelitian diberikan
jawab menjaga privasi informan dengan tanggung jawab informasi yang utuh mengenai berbagai aspek penelitian
bahwa pengetahuan akan sebuah fakta sosial harus yang dapat mempengaruhi terlibat tidaknya subjek
diketahui. Posisi kompromis yang dapat dilakukan tersebut berpartisipasi dalam penelitian tersebut (Ruane,
adalah melakukan publikasi atas material yang tak 2005: 16-29).
mengenakkan tersebut hanya jika dibutuhkan ketika
seorang peneliti hendak membangun argumen yang kuat 3.4. “Penteorian” Metode Kualitatif
dan luas. Perhatian pada masalah etika bergerak ke Konsep “penteorian metode kualitatif” merujuk pada
persoalan penyimpangan yang bisa terjadi dalam keterjalinan antara teori dengan metode. Dalam konteks
penelitian kualitatif, mulai dari penyimpangan ilmiah ini, teori dan metode dilihat sebagai dua hal yang tidak
dalam hal pengumpulan data, metode atau plagiarisme dapat dipisahkan (insparable). Dalam tradisi sosiologi
(Neuman, 1997: 443-473) kualitatif terdapat dua pola dikotomis keterjalinan.
Pertama, metode pengumpulan data seperti wawancara
Dalam hubungan dengan informan atau realitas yang ethnografis, pengamatan dan lain-lain dapat
ditelitinya, seorang peneliti kualitatif dituntut untuk dipergunakan dengan “warna” yang berbeda tergantung
mengedepankan prinsip kesukarelaan informan untuk oleh bagaimana ia secara teoritik diinformasikan.
memberikan data yang dibutuhkan. Kesukarelaan ini Kedua, teori pada saat yang bersamaan juga adalah
harus dibarengi dengan keharusan peneliti menjaga metode. Pada bagian tulisan ini akan dibahas
privasi, identitas serta kerahasiaan informan. Demikian “penteorian” metode mulai dari yang klasik hingga
juga halnya dalam hubungan peneliti dengan pemerintah perkembangan baru.
dan funding yang memiliki otoritas dan kekuasaan
untuk membatasi proses penelitian. Pegangan peneliti Bentuk paling klasik “penteorian” metode dapat
kualitatif pada aspek-aspek etika merupakan hal yang ditemukan dalam tradisi interaksionisme simbolik.
63 MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65

Herbert Blumer membangun suatu landasan teoritis mensfesifikasi metode para subjek untuk
yang pada dasarnya “mensituasikan” makna dalam mengartikulasikan dan memahami realitas dalam
interaksi sosial. Ia berangkat dari tiga premis pokok: (1) domain pengalaman tertentu. Garfinkel memperlihat-
aktor bertindak dalam ruang dan makna yang diberikan kan melalui eksperimennya bagaimana para subjek
objek serta peristiwa; (2) makna biasanya muncul di memproduksi dan melanjutkan “a sense of reality”
luar interaksi sosial, dan aktor mengkonstruksi makna dalam situasi tertentu. Eksperimen, dikenal sebagai
secara masing-masing; (3) makna dirubah dalam proses “breaching experiment”, memperlihatkan bagaimana
interaksi. Landasan teoritik Blumer implisit subjek mengembangkan perilaku anomalis terhadap
memperlihatkan, bahwa interaksionisme simbolik suatu keadaan yang selama ini diterima begitu saja.
tertarik mengkaji makna historis dan organisasi sosial
dari makna yang bersifat “jadi”, berserakan, dan Perbedaan antara interaksionisme simbolis dan
menjadi pembentuk utama realitas sosial. Secara metode ethnomethodologi seperti dibahas di atas menggugah
pengumpulan data, tradisi ini banyak melakukan proses beberapa sosiolog kualitatif untuk melakukan
ethnografis termasuk mengembangkan “life-history”, kombinasi. Tradisi ini dikenal sebagai ethnografi praktis
pengamatan terlibat, bahkan analisa dokumen. (Gubrium et.al., 1992: 1579). Produksi makna
diperlakukan sebagai persoalan praktis terletak dalam,
Salah satu perkembangan penting dari interaksionisme dan dipengaruhi oleh, setting-setting kongkrit.
simbolik pada waktu itu adalah mereka menaruh minat Gambaran aktor adalah sebagai seorang pelaksana dari
yang dalam pada definisi dan pemahaman asli (native kehidupan sehari-hari. Tugas seorang pelaksana adalah
understanding) dari makna dan organisasi sosialnya. mempergunakan perhitungan, ide-ide, dan kategori-
Memang pandangan ini bersifat “naturalistik” dan kategori yang diakui secara luas serta tersedia secara
dianut secara luas dalam interaksionisme simbolis. lokal pada jenis, desain dan pelaksanaan dari rencana
Mereka memegang semboyan “go out there, to where sebuah tindakan bermakna. Melalui proses ini maka
the action is” (Gubrium et.al., 1992: 1579). Dengan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari dengan
menggunakan metode pengumpulan data kesadaran atas realitas. Konsep dan kategori tersedia
“konvensional” (partisipasi terlibat, analisa dokumen secara terus menerus namun berkembang. Hal inilah
pribadi, dan wawancara ethnografis), mereka yang dirujuk sebagai kebudayaan dan memberikan
mengungkap aneka makna dari kehidupan dalam bahasa sumber bagi pemaknaan peristiwa dan objek.
masing-masing makna tersebut melalui pencarian detil
dan deskripsi yang akurat (Babbie, 2001: 281-282). Kebudayaan lokal terdiri dari makna-makna dari benda
Perunutan teoritis dari metode, yang mendasari yang bersifat “mungkin”, dan bukan aktual. Penekanan
“naturalisme” di atas, pada mulanya hanya merupakan ini bukan saja dekat dengan fokus subtantif dari
desain informal dari riset. Ia lebih merupakan “tradisi interaksionisme simbolis dalam mengkaji makna, tetapi
oral” ketimbang metodologi “formal”. Hingga akhirnya juga menekankan kerja komunikatif sehari-hari dalam
Barney Glaser dan Anselm Strauss secara eksplisit memilih, mendisain, dan membentuk makna melalui
mengemukakan strategi penelitian kualitatif, yang praktek interaksional yang membangun realitas sehari-
mereka beri nama grounded theory approach (Gubrium hari. Makna yang “mungkin” dari objek dan peristiwa
et.al., 1992: 1579). Menurut mereka tujuan dari sosiologi tersedia secara lokal amat aneka ragam. Ia secara sosial
kualitatif adalah menemukan teori dari empiri. Jadi, didistribusikan. Keanekaragaman di atas memungkinkan
seorang peneliti bukan memformulasikan teori sebelum pelaksana dan pengelolaan makna dalam kehidupan
ia mengamati secara empiris, namun ia masuk dalam sehari hari penuh keleluasaan. Penekanan ini jelas
kehidupan nyata kemudian menggali, mengidentifikasi, meminjam dari pemikiran ethnometodologis: realitas
serta mengangkat makna-makna dan organisasi kehidupan sehari-hari merupakan sebuah pembentukan
sosialnya ke permukaan. yang penuh seni. Dalam proses pembentukan ini,
kualitas produktif interaksi dihubungkan dengan konsen
Penteorian metode kualitatif dapat pula ditemukan kualitatif tradisional pada struktur dunia sosial.
dalam ethnomedologi Harold Garfinkel yang Orientasi analitis dari ethnografi praktis didasarkan pada
memusatkan perhatian pada mendokumentasikan tehnik ethnografi tradisional dari metodologi kualitatif
proses-proses yang bertalian dengan produksi dan (partisipasi terlibat, wawancara ethnografis, dan analisa
pengelolaan karakter terorganisir dari realitas sehari- isi). Akan tetapi ia mengembangkan suatu pendekatan
hari. Tradisi ini kontras dengan interaksionisme ke arah praktek deskriptif (analisa percakapan biasa dan
simbolik yang menerima bulat-bulat bahwa makna practical reasoning)
adalah “out there” serta dapat ditemukan dalam
sirkumstansi asli para subjek. Ethnometodologi “Penteorian” metode dalam sosiologi kualitatif kini
membongkar “asumsi” tersebut melalui pendokumen- berkembang luas sejalan dengan munculnya tradisi-
tasian proses-proses “by which meaning are assigned to tradisi pemikiran baru dalam sosiologi kualitatif.
experince to produce a sense of reality or social order”. Misalnya kita dapat merujuk pada tradisi feminis.
Aspek kualitatif dari pendekatan ini adalah Mereka mendasari diri pada argumen bahwa berbicara
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65 64

dan mendengarkan dari kaca mata wanita mempunyai jenis dan dimensi dalam metode kualitatif memberikan
implikasi pada metode kualitatif. Marjorie Devault janji kepada ilmuwan sosial di Indonesia, terutama di
mengemukakan bahwa metode kualitatif berguna secara bidang sosiologi, untuk dapat mengembangkan ilmu
khusus untuk membedakan dan menganalisa kualitas sosial dan metode pada format yang lebih otonom.
pengalaman yang bertalian dengan gender. Metode di
atas tampaknya kini tidak mencukupi lagi. Interview Ilmu sosial di tanah air seringkali dihadapkan pada
ethnografis tradisional tidak mampu menyentuh persoalan-persoalan kurangnya orisinalitas, ketidak-
keanekaragaman eksistensial dan kategorikal. Ia sesuaian antara asumsi dan kenyataan, ketidakterapan,
mengatakan observasi terlibat dan wawancara alienasi, terjebak pada kajian yang remeh, dan
ethnografis bukan saja hanya menggali data dari seting kekeliruan yang mewabah dalam berbagai tingkat:
dan subjek, namun mengarahkan pewawancara dan mulai dari tingkat metaanalisis, teori, kajian empiris,
yang diwawancarai mengkonstruksi pengalaman secara dan pada ilmu sosial terapan (Alatas, 2003: 1-23). Hal
berbeda. Wanita mengkonstruksi pengalaman secara ini berakibat pada munculnya ketergantungan akademik
berbeda dengan pria. Ia dikenal dengan ungkapan: dan ”mental tahanan”. Dengan penggunaan metode
“technique itself is gendered” (Gubrium et.al., 1992: 1579) kualitatif yang bersandar pada kaidah-kaidah ilmiah,
diharapkan ilmu sosial dalam hal ini sosiologi,
Penteorian dari metode berkembang pesat di tradisi menemukan jati dirinya dalam menangkap orisinalitas,
dekonstruksionis seperti Jacques Derrida, Jean ketepatan, dan membumi atas semesta permasalahan
Baudrillard, dan Norman Denzin (Baudrillard, 1983, sosial di bumi Indonesia.
Derrida, 1993, Denzin, 1990: 1577-1580). Mereka
memperkenalkan “indeterminancy of meaning”. Denzin Dengan demikian, mencari relevansi dan
berangkat dari dekonstruksi kesusastraan dan kontekstualisasi adalah penting sebagai orientasi ilmu
mengaitkannya secara langsung dengan kehidupan sosial Indonesia ke depan. Dengan strategi seperti ini
sosial. Ia mengatakan bahwa tidak terdapat tata aturan diharapkan ilmu sosial Indonesia terutama sosiologi,
tindakan yang menentukan bagi berlakunya makna dari mampu berdiri sejajar dalam dialog peradaban dengan
objek dan peristiwa (Denzin, 1990: 1577-1580). Kita ilmu serupa yang berkembang di belahan dunia lain
hanya menemukan “continuous play of difference”. termasuk Barat. Kesetaraan tersebut pada dasarnya
Sementara posisi ini menggarisbawahi variasi dan bertalian dengan langkah “lanjutan” pijakan pada
diskresi, ia mengabaikan makna dari organisasi sosial. perspektif pasca-kolonial yang menekankan
Metode tradisional sosiologi kualitatif digantikan kontekstualisasi seiring diskursus ilmu sosial pasca-
analisa inventif-reflesif dari teks: dekat pada tradisi the modern. Pendek kata, kita mulai menancapkan jangkar
new literary criticism. perspektif “the end of post-colonial” yang menuntun
ilmu sosial pada kemampuan membedah dan mengurai
Perkembangan lain terjadi di bidang semiotik: the kenyataan sosial dengan menggunakan teori dan metode
science of sign. Peter Manning menawarkan opsi lain yang relevan dengan konteks kebudayaan dan
dari metode kualitatif. Manning bergerak dari detail data peradaban kita sendiri (Soemardjan, 1981: 16.)
ethnografis menuju taksonomi formal praktek-praktek
yang bertalian dengan kehidupan sehari-hari. Sistem Daftar Acuan
“signs” dan “sign” memberikan sejumlah isi dari makna
dalam kehidupan sosial. Mengambil “bahasa” sebagai Alatas, Syed Farid. 2003. “Pengkajian Ilmu-Ilmu Sosial:
model kehidupan, pendekatan ini tidak memberikan Menuju ke Pembentukkan Konsep Tepat”, dalam Jurnal
tawaran pemahaman yang dicari, yaitu mengidentifikasi Antropologi Indonesia, Tahun XXVII No. 72,
tata aturan dan prinsip yang mengarahkan kita pada September-Desember, halaman 1-23.
pemahaman proses objek mengkomunikasikan makna.
Babbie, Earl.2001. The Practice of Social Research, 9th
4. Kesimpulan Edition. Belmon, CA: Wadsworth.

Penelitian kualitatif berusaha untuk mengangkat secara Baudrillard Jean.1983. Simulations. New York:
ideografis berbagai fenomena dan realitas sosial. Semiotext (e), Inc.
Pembangunan dan pengembangan teori sosial
khususnya sosiologi dapat dibentuk dari empiri melalui Christians, Clifford G. 2000. “Ethics and Politics in
berbagai fenomena atau kasus yang diteliti. Dengan Qualitative Research”, dalam Handbook of Qualitative
demikian teori yang dihasilkan mendapatkan pijakan Research. Second Edition. Thousand Oaks, California:
yang kuat pada realitas, bersifat kontekstual dan Sage.
historis. Metode penelitian kualitatif membuka ruang
yang cukup bagi dialog ilmu dalam konteks yang Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative
berbeda, terutama apabila ia difahami secara mendalam and Quantitative Approaches. California: Sage
dan “tepat”. Dalam kaitan ini, serangkaian karakter, Publications, Inc.
65 MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65

Denzin, Norman K. 1990. “Reading Cultural Texts: Ruane, Janet M. Essentials of Research Methods: A
Comment on Griswold”, dalam American Journal of Guide to Social Science Research. 2005. Malden, MA:
Sociology 95, halaman 1577-1580. Blackwell Publishing.

Derrida, Jacques. 1993. Writing and Difference. Singleton, Jr, Royce Bruce C. Straits, Margaret M.
London: Routledge. Straits and Ronald J. McAllister. 1988. Approaches to
Social Research. New York: Oxford University Press.
Goldthorpe, John H. 2000. On Sociology: Numbers,
Narratives, and Integration of Research and Theory. Soemardjan, Selo, Perubahan Sosial di Yogyakarta.
Oxford: Oxford University Press. 1981. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Gubrium, Jaber F and James A. Holstein, 1992. Tashakkori, Abbas & Charles Teddlie(eds). 2003.
“Qualitative Methods”, dalam Encyclopedia of Handbook of Mixed Methods in Social & Behavioral
Sociology, Vol. 3. New York: Macmillan Publishing Research. Thousand Oaks, California: Sage Publ. Inc.
Company.
Webster’s New Encyclopedic Dictionary. 1994. New
Jary, David and Julia Jary. 1991. Dictionary of York: Black Dog and Leventhan Publ. Inc.
Sociology. Glasgow: HarperCollins Publishers.

Marshall, Catherine and Gretchen B. Rossman. 1989.


Designing Qualitative Research. Newbury Park,
California: Sage.