Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengantar
Aphasia merupakan salah satu bagian dari patologi bahasa. Patologi bahasa
memiliki tiga masalah utama yaitu Dylexia, Aphasia dan bahasa orang Tuna Rungu.
Aphasia merupakan gangguan dalam berbahasa. Untuk pertamakalinya, Aphasia
dikenal sebagai penyakit yang terpisah pada tahun1961, oleh seorang ahli saraf
(neurolog) Prancis bernama Broca. Aphasia menyangkut persoalan dalam berbicara
dan mendengarkan. Kedua persoalan itu biasanya disertai dengan beberapa persoalan
membaca dan menulis, lalu berkembang bagaimana memunculkan maksud dari otak
untuk divisualkan dalam bentuk lisan.
Pada penelitian ini kami meneliti objek yang menderita gangguan Aphasia. Secara
spesifik gangguan Aphasia yang diderita oleh objek merupakan gejala Amnestic
Aphasia. Ciri–ciri Amnestic Aphasia yang utama adalah kesukaran dalam
menemukan kata-kata yang akan disusunnya dalam kalimat. Akibatnya struktur
sintaksisnya terlihat aneh, tetapi kurang di isi dengan kata-kata dan menyebabkan
kalimat yang keluar sulit untuk dimengerti.

1.2 Batasan Masalah


Penelitian ini hanya meneliti gangguan Aphasia secara umum, dan khususnya
pada gangguan Aphasia yang berbentuk Amnestic Aphasia. Pembahasan masalah
tersebut dilatar belakangi oleh gangguan yang dialami objek yang cenderung
mendekati gejala Amnestic Aphasia.

1.3 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Gangguan apa yang sebenarnya diderita oleh objek dalam hubungannya
dengan patologi bahasa?
2. Gejala apa saja yang menjadi kendala oleh objek dalam berbahasa?
1.4 Profil Objek
Berikut ini akan kami tampilkan profil objek yang kami teliti, dengan
menyertakan riwayat medis dan keadaan sosioekonomi dari keluarga objek.
Nama objek : Muthi
Usia objek : 11 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Dalam penyertaan riwayat medis kami tidak mendapatkan banyak sumber dari
orang tua objek yang kami wawancarai. Tetapi ada sebagian yang mereka beritahu
kepada kami, yang menurut anggapan kami tepat sebagai riwayat medis. Diantaranya:
 Ketika genap kandungan si ibu objek berusia sembilan bulan, ibu objek
mengalami sakit, menurut penuturannya, beliau sakit panas yang tinggi, dan
ketika objek dilahirkan si ibu pun masih menderita sakit tersebut.
 Pada usia lima tahun terlihat objek mempunyai sifat pemalu dan pendiam,
sehingga tidak banyak berkata-kata dan lebih banyak diam. Ketika memasuki
bangku sekolah objek mulai sulit untuk bergaul dengan sesamanya, karena
kesulitan untuk bertutur secara wajar. Tetapi kami tidak menanyakan adakah
hubungan gangguan yang dialami objek dengan kondisi ibunya saat
melahirkan.
Keadaan sosio-ekonomi keluarga objek menurut pengamatan kami tergolong
keluarga yang berada. Atau apabila digolongkan masuk pada keluarga menengah.
Ayah objek bekerja sebagai pegawai negeri di departemen agama, sedangkan ibunya
seorang ibu rumah tangga, objek saat ini bersekolah di kelas enam SD. Menurut
penuturan orang tuanya, objek sangat menonjol dan berprestasi dibandingkan dengan
teman-temannya di sekolah.
BAB II
DESKRIPSI DATA

2.1 Deskripsi Data


M. Schaerlaekens (1977) membagi fase-fase perkembangan bahasa anak dalam
empat periode. Perbedaan fase-fase ini berdasarkan pada ciri-ciri tertentu yang khas
pada setiap periode. Adapun periode-periode tersebut adalah sebagai berikut :
• Periode Prelingual (usia 0 – 1 tahun)
Disebut periode Prelingal karena anak belum dapat mengucapkan
bahasa ucapan seperti yang diucapkan orang dewasa, dalam arti belum
mengetahui aturan-aturan bahasa yang berlaku. Pada periode ini, anak
mempunyai bahasa sendiri, misalnya dengan mengoceh sebagai pengganti
komunikasi dengan orang lain.
Pada objek yang kami teliti, sesuai dengan yang dituturkan oleh orang
tuanya, objek mulai berceloteh dengan gaya tuturnya sendiri. Sebagai
contohnya, orang tua objek menuturkan ceritanya, bahwa objek sudah dapat
memanggil mama, walaupun hanya dengan tuturan “MAH”, untuk memanggil
kakaknya objek memanggilnya dengan kata “AH”. Pada periode ini,
perkembangan yang mencolok adalah perkembangan comprehension, artinya
penggunaan bahasa pasif. Objek mulai bereaksi terhadap pembicaraan orang
dengan melihat kepada pembicara.
• Periode Lingal Dini (1 – 2,5 tahun)
Pada periode ini anak mulai mengucapkan perkataannya yang pertama
meskipun belum lengkap. Sesuai dengan yang dituturkan orang tuanya, objek
mulai mengucapkan kata-kata, misalnya seperti mbrem (motor), mpah (apa),
au (mau). Pada usia ini juga, mental anak ditandai oleh kemajuan yang besar
dalam kemampuan anak untuk mengorganisasikan dan mengkondisikan
sensasi melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik. Seperti contoh,
objek mulai bisa menirukan orang menangis, objek akan tertawa apabila
melihat sesuatu atau adegan-adegan di televisi yang menurutnya lucu.
Ingram (1971) : anak relatif telah mempunyai cukup banyak ide – ide
yang dapat dibangkitkan menjadi satu kalimat, tetapi tidak dapat
menuangkanhya dalam bentuk suatu kalimat karena belum mempunya
kemampuan linguistik yang memadai.
• Periode Diferensiasi (2,5 – 5 tahun)
Pada periode ini yang menonjol pada anak adalah keterampilan anak
dalam mengadakan diferensiasi dalam penggunaan kata-kata dan kalimat-
kalimat. Pada periode ini fungsi bahasa untuk komunikasi betul-betul mulai
befungsi, anak sudah dapat mengadakan konversasi dengan cara yang dapat di
mengerti oleh orang dewasa. Pada periode ini, objek mulai dapat
menggungkapkan keinginannya dengan berbicara pada orangtuanya. Seperti
halnya ketika ingin makan, buang air kecil atau besar. Objek sering
mengatakan kata ee ketika ingin buang air besar.
Pada periode ini, anak mulai berpikir, mengingat, hal tersebut
menyebabkan perbendaharaan kata berkembang, baik kuantitatif maupun
kualitif. Beberapa pengertian abstrak seperti pengertian waktu, ruang dan
kuantum muncul. Objek mulai belajar membaca pada usia 3 tahun, dan ada
yang unik dalam proses membaca tersebut (sesuai dengan penuturan
orangtuanya), objek belajar membaca koran walaupun hanya bersifat
membaca saja dan tentunya banyak makna yang tidak diketahui olehnya.
Dalam proses itu, oebjek banyak bertanya pada orangtua-nya tentang kata-
kata yang tidak bisa ia mengerti.
• Perkembangan bahasa setelah usia 5 tahun
Pada periode ini anak mulai memasuki masa pra sekolah (umumnya
antara 2-5 tahun). Pada periode ini pula anak mulai berinteraksi dengan
lingkungannya, terutama lingkungan sekolah. Bahasa dalam periode ini
merupakan alat komunikasi untuk lebih mengenal lingkungannya. Bahasa
merupakan hal yang essensasional untuk awal proses anak disekolah. Pada
usia diatas lima tahun ini, anak sudah dapat menguasai kategori-kategori
linguistik yang lebih kompleks.
Menurut Piaget, perkembangan anak dibidang kognitif masih
berkembang terus sampai usia 14 tahun, sedangkan peran kognisi (fungsi
kognitif) sangat besar dalam penguasaan bahasa. Dengan masih terus
berkembangnya kognisi, dengan sendirinya perkembangan bahasa juga akan
terus berkembang.
Pada periode inilah terlihat gejala-gejala yang menunjukan Aphasia itu
muncul pada objek. Ketika objek mulai bisa mengutarakan pendapatnya,
tuturan yang diucapkannya tidak jelas, dan artikulasi kata yang diucapkannya
sangat cepat. Sangat sulit untuk dapat dimengerti makna apa yang ingin ia
sampaikan. Adapun menurut penuturan orangtua objek, untuk menjelaskan
maksud yang ingin diutarakan oleh objek, orangtuanya sering meminta objek
untuk menuturkan apa yang ingin diucapkannya dengan perlahan dan dieja.
Hal ini bisa membuat percakapan berlangsung lama, meski hanya sedikit kata
yang ingin diungkapkannya. Seharusnya menurut teori anak pada usia diatas
lima tahun tersebut, anak telah menguasai aturan sintaksis khusus untuk
pembentukan kalimat konteks.

2.1.1 Perilaku Kognitif


Dalam aspek kognitifnya, objek tergolong anak yang cerdas. Hal tersebut
terbukti dalam nilai akedemis disekolah, hingga saat ini objek duduk dibangku
sekolah dasar kelas enam, objek selalu menjadi yang tebaik diantara teman-teman
sekelasnya yang lain. Dalam beberapa aspek kognitif, objek tidak mengalami masalah
seperti halnya mengingat, memahami sesuatu, aplikasi, dan judgement (menilai).
Objek tidak mengalami masalah-masalah kognitif seperti disebutkan diatas.
Dalam aspek aplikasi, objek mampu untuk mempraktekan ide-idenya sebagai
bentuk aplikasi dari pemahaman dalam rangka penerapan hasil belajar diluar sekolah.
Hal itu terbukti (Sesuai dengan penuturan oleh orangtuanya), ketika itu objek mampu
menyelesaikan pekerjaan rumah pelajaran IPA yang diberikan oleh gurunya, untuk
membuat bel penanda air bak telah penuh. Dengan demikian, jelas sudah terbukti
bahwa objek tidak mengalami masalah dalam aspek kognitifnya.

2.1.2 Perilaku Afektif.


Perilaku afektif berkaitan dengan aspek emosi dan perasaan seseorang. Objek
yang kami teliti menderita aphasia, kadang objek sering menunjukan reaksi emosinya
ketika maksud yang ingin objek tuturkan tidak dapat diterima oleh lawan bicaranya.
Sesuai dengan yang dituturkan oleh oang tuanya objek kadang malas apabila harus
menuturkan kembali ucapannya secara perlahan, dan kadang objek tidak mau untuk
meneruskan pembicaraannya kembali dengan lawan bicaranya.
Objek dalam penelitian yang kami lakukan, memiliki sifat pendiam dan
pemalu, terkadang objektidak banyak bicara, akan tetapi pabila objek mulai bertutur,
objek mengalami kesulitan untuk menuturkan apa yang ingin dituturkannya.kadang
orang tua objek yang menjelaskan kepada kami tentang maksud yang dituturkan oleh
objek, karena objek enggan untuk mengulang perkataannya kembali.

2.1.3 Perilaku Psikomotorik


Perilaku psikomotorikterdiri dari dua bagian :
• Psikomotorik kasar
Gerakan yang dilakukan dengan memerlukan tenaga, karena dilakukan oleh
otot besar. Objek mampu untuk melakukan duduk, berdiri, berjalan, dan mengangkat
barang yang lainnya.
• Psikomotorik halus
Gerakan yang dilakukan dengan otot kecil, dalam penggunaan psikomotorik
halus ini, objek tidak mengalami gangguan masalah, seperti menulis, membaca
menggambar dan lainnya.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Simpulan
Dalam penelitian ini, secara garis besar objek tidak mengalami gangguan yang
berarti. Hal itu terbukti dalam perilaku kognitif, perilaku afektif, perilaku
psikomotorik. Bahkan objek mampu menjadi yang terbaik dalam sekolahnya di
bandingkan dengan teman-temannya yang normal.
Gangguan bahasa yang terjadi pada objek merupakan bagin dari tiga masalah
utama dalam patologi bahasa. Objek yang kami teliti mengalami gejala aphasia,
menyangkut persoalan dalam mendenganrkan dan bicara. Objek yang kami teliti lebih
pada persoalan atau gangguan dalam berbicara, yang lebih jelasnya gangguan tersebut
sebagai Amnestic Aphasia. Ciri utama dari gangguan ini adalah kesukaran dalam
menemukan kata-kata. Objek selalu terburu-buru dalam bertutur sehingga sukar
mendapatkan kata-kata yang akan disusunya dalam tuturan.

3.2 Saran
Ada beberapa segi yang kami sarankan untuk objek dan keluarga objek, agar
sedikit dapat membantu objek untuk mengatasi dan menyembuhkan gangguan
tersebut. Secara medis mengkin gangguan ini dapat dikonsultasikan kepada pihak
medis untuk dapat memperbaiki atau menyembuhkan gangguan ini. Dalam
lingkungan keluarga, tentunya peran keluarga sangat besar dalam penanganan
gangguan ini. Keluarga (khususnya orang tua) dapat meyakinkan anaknya atau
menumbuhkan rasa percaya dirinya dalam menghadapi gangguan ini, sehingga
dengan keterbatasan yang ada anak dapat bersaing dan berprestasi dengan anak
lainya.
DAFTAR PUSTAKA

Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Refika


Aditama.
B. Hurlock, Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
GEJALA AMNESTIC APHASIA PADA OBJEK SEBAGAI BENTUK
GANGGUAN BAHASA
Laporan

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikolinguistik

Disusun oleh:
1. Agung Gema Nugraha 043919
2. David Setiadi 044392
3. Deski Anggayadi 045682
4. Reza Perdana 043736
5. Vega Antares 044899

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2007