Anda di halaman 1dari 7

BAB I

SEL
1.1. BENTUK SEL
Ada dua tipe sel yang membangun semua benda hidup didunia: prokaryotic dan euka
ryotic. Prokaryotic cells, seperti bakteria, tidak mempunyai ‘inti’, sedangkan
eukaryotic cells, seperti tubuh manusia mempunyai ‘inti’.
Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti b
iologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itul
ah, sel dapat berfungsi secara otonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenu
hi.
Makhluk hidup (organisme) tersusun dari satu sel tunggal (uniselular, misalnya b
akteri, Archaea, serta sejumlah fungi dan Protozoa) atau dari banyak sel (multis
elular). Pada organisme multiselular terjadi pembagian tugas terhadap sel-sel pe
nyusunnya, yang menjadi dasar bagi hirarki hidup.
Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua o
rganisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar or
ganisme (Regnum) juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariota be
radaptasi dengan kehidupan uniselular sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi un
tuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang sangat rapi.
Perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan
Sel tumbuhan dan sel hewan mempunyai beberapa perbedaan seperti berikut:
Sel tumbuhan Sel hewan
Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan. Sel hewan lebih kecil daripada s
el tumbuhan.
Mempunyai bentuk yang tetap. Tidak mempunyai bentuk yang tetap.
Mempunyai dinding sel.
Tidak mempunyai dinding sel.
Mempunyai klorofil.
Tidak mempunyai klorofil.
Mempunyai vakuola atau rongga sel yang besar. Tidak mempunyai vakuola, walaupu
n terkadang sel beberapa hewan uniseluler memiliki vakuola (tapi tidak sebesar y
ang dimiliki tumbuhan).
Menyimpan tenaga dalam bentuk biji (granul) kanji.
Menyimpan makanan dalam bentuk biji (granul) glikogen.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_(Biologi)"

Gambar 1. Perbedaan sel Hewan dan Tumbuhan


Secara umum setiap sel memiliki :
• membran sel,
• sitoplasma, dan
• inti sel atau nukleus.
Sitoplasma dan nukleus secara bersama-sama menyusun protoplasma. Di dalam sitopl
asma terdapat berbagai organel. Sel tumbuhan, alga dan prokariota mengembangkan
dinding sel sementara sel hewan tidak. Beberapa organisme memiliki flagella pada
selnya untuk memudahkan pergerakan.
Membran sel
Membran sel membatasi segala kegiatan yang terjadi di dalam sel sehingga tidak m
udah terganggu oleh pengaruh dari luar. Karena fungsi ini, membran sel bersifat
selektif permeabel , dapat menentukan bahan-bahan tertentu saja yang bisa masuk
ke dan keluar dari sel.
Sitoplasma
Fungsi utama kehidupan berlangsung di sitoplasma. Hampir semua kegiatan metaboli
sme berlangsung di dalam ruangan berisi cairan kental ini. Di dalam sitoplasma t
erdapat organel yang melayang-layang dalam cairan kental (merupakan koloid, namu
n tidak homogen) yang disebut matriks. Organellah yang menjalankan banyak fungsi
kehidupan: sintesis bahan, respirasi (perombakan), penyimpanan, serta reaksi te
rhadap rangsang. Sebagian besar proses di dalam sitoplasma diatur secara enzimat
ik.
Selain organel, terdapat pula vakuola, butir-butir tepung, butir silikat dan ber
bagai produk sekunder lain. Vakuola memiliki peran penting sebagai tempat penamp
ungan produk sekunder yang berbentuk cair, sehingga disebut pula cairan sel . C
airan yang mengisi vakuola berbeda-beda, tergantung letak dan fungsi sel.
Nukleus
Nukleus bertugas mengontrol kegiatan yang terjadi di sitoplasma. Di dalam nukleu
s terdapat kromosom yang berisi DNA yang merupakan cetak biru bagi pembentukan b
erbagai protein (terutama enzim). Enzim diperlukan dalam menjalankan berbagai fu
ngsi di sitoplasma. Di dalam nukleus juga ditemui nukleolus.
Organel
Berikut adalah macam-macam benda dalam sel (khususnya sitoplasma) yang digolongk
an sebagai organel:
a. Reticulum endoplasmik
Ada 2 bentuk ER kasar (ada ribosom yang melekat) dan ER halus (tanpa ribosom yan
g melekat). Fungsinya : mechanical support, sintesis (khususnya protein oleh E
R kasar) dan transpor
b. Kompleks Golgi
Organel bermembran dalam cytoplasma. Teridri dari beberapa membran yang rata, t
erkadang berbentuk cangkir, ditimbun secara dekat yang merupakan vesicular yang
tertutup, pada ujung-ujungnya biasanya ditemukan vesicula kecil berbentuk bulat.
) . Fungsi : memelihara keseimbangan air, metabolisme lipid, packaging of mater
ials for transport dan production of lysosomes

Gambar 2. Bentuk sel lengkap


c. Lysosomes
Membungkus suatu akumulasi beberapa enzim-enzim hidrolitik. Fungsi : tempat penc
ernaan interseluler, disamping menyimpan materi yang tidak terlarut.
d. Mitokhondria
Mempunyai 2 membran: bagian dalam terlipat dan disebut cristae atau tubuli yang
mengandung elementary particle,bagian luar permuakaan licin. Tempat untuk berbag
ai reaksi biokimia dan menyimpan energi dalam bentuk Adenosin Tripospat (ATP) y
ang merupakan sumber energi bagi sel.

(link ke animasi mitokondria)


Gambar 3. Mitokondria
e. Ribosom
• mengandung rRNA (ribosomal RNA): mRNA dan tRNA dan protein
• t-RNA membawa asam-asam amino yang telah diaktifkan untuk dipasang menja
di protein
• m-RNA yang membawa code yang menentukan sekuensi
• ribosom sering menggunakan m-RNA yang sama sehingga terjadi hubungan yan
g linier atau sirkuler yang disebut polyribosomes
• fungsi utamanya menproduksi protein
Struktur sel terdiri dari protein (sekitar 60 % dari membran ) dan lipid, atau
lemak (sekitar 40% dari membran). Lipid utama disebut phospholipid, dan beber
apa molekul phospholipid membentuk suatu phospholipid bilayer (dua lapis mol
ekul phospholipid ). Bentuk bilayer karena kedua ‘akhir’ molekul phospholipid m
empunyai sifat-sifat yang berbeda: satu ujung adalah polar ( hydrophil).

Gambar 4. Struktur sel


a. Air.
Air merupakan medium pokok atau utama bagi sel, yang terdapat pada sebagian besa
r sel selain sel-sel lemak dalam konsentrasi antara 70 dan 85 per¬sen. Banyak ba
han kimia sel larut dalam air, sedang¬kan bahan lain ditahan dalam bentuk partik
el atau dalam bentuk membranosa. Reaksi kimia terjadi di antara bahan kimia yang
terlarut tadi atau pada batas permukaan antara partikel atau mem¬bran yang dita
han dengan air.
b. Elektrolit.
Elektrolit yang paling penting didalam sel adalah kalium, magnesium, fosfat, sul
fat, bikarbonat, dan sedikit natrium,-klorida,. dan kalsium. Elektrolit menyedia
kan bahan kimia inorganik untuk menimbulkan reaksi-reaksi dalam sel. Elektro¬lit
juga diperlukan untuk kerja beberapa mekanisme pengaturan sel. Misalnya, elektr
olit yang bekerja pa¬da membran sel akan memungkinkan penjalaran im¬puls elektro
kimia pada saraf dan serat otot, dan konsentrasi elektrolit intraselular tertent
u menentukan dan mengatur aktivitas berbagai reaksi yang dika¬talisis secara enz
imatik, yang diperlukan untuk meta¬bolisme sel.
c. Protein.
Disamping air, bahan yang sangat ber¬limpah pada sebagian besar sel adalah prote
in, yang dalam keadaan normal jumlahnya 10 sampai 20 per¬sen dari massa sel. Pro
tein dapat dibagi dalam dua macam, protein struktural dan protein globular yang
terutama merupakan enzim. .
Untuk dapat mengerti apa sebenarnya protein struktural itu, seseorang cukup memp
erhatikan bah¬wa kulit terutama terdiri atas protein struktural, dan rambut hamp
ir seluruhnya terdiri atas protein struk¬tural. Protein jenis ini terdapat dalam
sel terutama dalam bentuk filamen tipis panjang, di mana filamen itu sendiri me
rupakan polimer dari banyak molekul protein. Manfaat filamen intraselular yang t
erutama ini adalah untuk menyediakan mekanisme kontraktil dalam semua otot. Akan
tetapi, filamen juga tersusun dalam bentuk mikrotubulus yang menyediakan or¬gan
el "sitoskeleton" seperti silia, akson saraf dan benang kumparan mitosis pada se
l yang sedang mitosis. Dalam cairan ekstraselular, protein fibrilar terutama dij
umpai pada serat kolagen dan elastin jaringan ikat padat, pembuluh darah, tendo,
ligamentum, dan sebagainya.
Protein globular merupakan jenis protein yang berbeda seluruhnya dengan protein
di atas, umumnya terdiri dari satu macam molekul protein atau, pada umumnya komb
inasi beberapa molekul dalam ben¬tuk globular daripada bentuk fibrilar. Protein
ini terutama merupakan enzim sel dan, berlawanan dengan protein fibrilar, protei
n globular sering larut dalam cairan sel atau bagian yang menyatu dengan atau me
rupakan bagian yang melekat pada struktur membran di dalam sel. Enzim berhubunga
n langsung dengan bahan lain di dalam sel dan mengkatalisis re¬aksi-reaksi kimia
. Contohnya, reaksi-reaksi kimia yang memecahkan glukosa menjadi komponen-kom¬po
nennya dan kemudian bergabung dengan oksigen untuk membentuk karbon dioksida dan
air sementara pada saat yang sama, untuk menghasilkan energi.yang dipakai untuk
fungsi sel, glukosa dikatalisis oleh se¬rangkaian enzim protein.
d. Lipid.
Lipid merupakan beberapa jenis substansi yang berkelompok bersama karena sifat u
mum lipid yaitu larut dalam pelarut lemak. Lipid paling penting pada kebanyakan
sel adalah fosfolipid dan kolesterol, yang bersama-sama merupakan kira-kira 2 pe
rsen dari jumlah total massa sel. Manfaat khusus dari fos¬folipid dan kolesterol
adalah bahwa keduanya teru¬tama tidak larut dalam air, oleh karena itu digu¬nak
an untuk membentuk membran sel demikian juga untuk membentuk sawar membran intr
asel yang memisahkan berbagai kompartemen sel.
Di samping fosfolipid dan kolesterol, beberapa sel mengandung banyak s
ekali trigliserida, yang juga di¬sebut sebagai lemak netral. Pada sel yang diseb
ut se¬bagai sel lemak, kadar trigliserida ini dapat mencapai 95 persen dari mass
a sel. Lemak yang tersimpan di dalam sel-sel ini berperan sebagai gudang energi
uta¬ma nutrisi penghasil energi dalam tubuh yang nanti¬nya dapat dipadatkan kemb
ali dan dipergunakan untuk energi bila dibutuhkan oleh tubuh.
e. Karbohidrat
Di samping sebagai bagian dari molekul glikoprotein, karbohidrat sedikit sekal
i ber¬peran dalam fungsi struktural di dalam sel, tetapi karbohidrat ini berpera
n utama dalam nutrisi sel. Keba¬nyakan sel manusia tidak mempunyai cadangan kar¬
bohidrat dalam jumlah besar, rata-rata berkisar antara 1 persen dari total mass
a tetapi dapat meningkat sampai 3 persen di dalam sel otot dan, kadang-kadang me
ningkat sampai 6 persen di dalam sel hati. Kar¬bohidrat, dalam bentuk glukosa ya
ng larut selalu dite¬mukan dalam cairan ekstraselular sekitar sel, sehing¬ga sel
alu siap tersedia bagi sel. Sebenarnya sejumlah kecil karbohidrat selalu disimpa
n di dalam sel dalam bentuk glikogen, yang merupakan polimer glukosa yang tidak
larut dan dapat segera diper~ unakan oleh sel untuk mensuplai kebutuhan energi s
el.
1.2. SEL SEBAGAI KESATUAN TUBUH YANG HIDUP
Satuan dasar kehidupan tubuh adalah sel, dan tiap organ merupakan kesatuan dari
berbagai sel yang ber¬beda-beda, yang dihubungkan satu sama lain oleh struktur p
enunjang interselular. Setiap jenis sel ber¬adaptasi secara khusus untuk melakuk
an satu atau be¬berapa fungsi khusus. Misalnya, sel darah merah yang jumlah selu
ruhnya 25 triliun, mengangkut ok¬sigen dari paru-paru ke jaringan- jaringan. Wal
aupun jenis sel ini mungkin sangat berlimpah jumlahnya, mungkin masih ada 75 tri
liun sel yang lain. Jadi jum¬lah seluruh sel tubuh kira-kira 100 triliun sel.
Walaupun banyak sel dalam tubuh sering berbeda secara nyata satu dengan yang lai
n, semua sel ter¬sebut mempunyai karaktersitik dasar tertentu yang mirip satu sa
ma lain. Misalnya, di dalam seluruh sel itu, oksigen bergabung dengan hasil peme
cahan kar¬bohidrat, lemak, atau protein untuk melepaskan ener¬gi yang dibutuhkan
untuk fungsi sel. Lebih lanjut, mekanisme umum yang dipakai untuk mengubah baha
n makanan menjadi energi, pada dasarnya sama di dalam semua sel, dan semua sel t
ersebut juga mem¬bawa hasil akhir dari reaksi-reaksi kimianya ke dalam cairan ya
ng mengelilinginya.
Hampir semua sel juga mempunyai kemampuan untuk bereproduksi. Bila sel-sel tipe
tertentu itu rusak oleh satu penyebab atau sebab lainnya, maka sel yang masih t
ersisa dari jenis yang sama akan membentuk sel-sel baru sampai jumlah persediaan
sel itu dicukupkan kembali.

Gambar 6. Macam sel dan hubungan sel, jaringan dan organ

1.3. CAIRAN EKSTRASELULAR¬ LINGKUNGAN DALAM


Kira-kira 56 – 70 persen tubuh hewan terdiri dari cairan (Panaretto dan Till, 19
69). Walaupun sebagian besar cairan ini terda¬pat di dalam sel dan disebut sebag
ai cairan intra¬selular, kira-kira sepertiganya terdapat di dalam ruang di luar
sel dan disebut cairan ekstraselular. Cairan ekstraselular ini berada dalam perg
erakan yang tetap di seluruh tubuh. Cairan ini dengan cepat ditranspor masuk ke
dalam darah sirkulasi dan selanjutnya ber¬campur dengan darah dan cairan jaringa
n setelah ber¬difusi menembus dinding kapiler.
Dalam cairan ekstraselular terdapat ion-ion dan bahan makanan yang diperlukan ol
eh sel untuk mem¬pertahankan kehidupan dalam sel. Oleh karena itu, pada dasarnya
semua sel hidup dalam lingkungan yang sama, yakni cairan ekstraselular, sehingg
a de¬ngan alasan inilah cairan ekstraselular disebut-sebagai lingkungan dalam da
ri tubuh atau milieu interieur, yang merupakan suatu istilah yang dicetuskan leb
ih dari seratus tahun yang lalu oleh seorang ahli fisiolo¬gi Perancis abad -19 y
ang terkenal, yaitu Claude Ber¬nard. Sel-sel tersebut mampu untuk hidup, tumbuh
dan melakukan fungsi khususnya selama konsen¬trasi oksigen, glukosa, berbagai io
n, asam amino dan bahan-bahan lemak serta unsur pokok yang tersedia di lingkunga
n dalam tersebut jumlahnya tepat.
1.4. PERBEDAAN ANTARA CAIRAN EKSTRASELULAR DAN INTRA¬
SELULAR.
Cairan ekstraselular mengan¬dung sejumlah besar ion natrium, klorida, dan ion bi
karbonat, ditambah bahan makanan untuk sel. se¬perti oksigen, glukosa, asam lema
k. dan asam amino. Cairan ekstraselular juga mengandung karbon diok¬sida yang di
transpor dari set ke paru-paru untuk diekskresikan, ditambah produk sel lain yan
g di¬transpor ke ginjal untuk diekskresikan.
Cairan intraselular berbeda nyata dari cairan eks¬traselular. Cairan intraselula
r mengandung sejumlah besar ion kalium, magnesium, dan ion fosfat daripada ion n
atrium dan klorida yang ditemukan dalam cairan ekstraselular. Mekanisme khusus u
ntuk pengangkutan ion melalui membran sel akan mem-pertahankan perbedaan ini.
Na+ -------------------------------- 142 mEq/L -----------------------------
K+ --------------------------------- 4 mEq/L -------------------------------
-
Ca++ ------------------------------ 2.4 mEq/L ------------------------------
-
Mg++ ------------------------------ 1.2 mEq/L -----------------------------
----
Cl- ---------------------------------- 103 mEq/L ------------------------------
-
HCO3- ----------------------------- 28 mEq/L -------------------------------
--
Fosfat ------------------------------ 4 mEq/L -------------------------------
-
SO4- --------------------------------- 1 mEq/L --------------------------------
-
Glukosa ------------------------------ 90 mg/dl -------------------------------
-
Asam Amino ------------------------ 30 mg/dl -------------------------------
Kolesterol
Fosfolipid ---------------- 0.5 gm/dl ------------------------------
-
Lemak Netral
PO2- ------------------------------- 35 mmHg --------------------------------
PCO2- --------------------------------- 46 mmHg -------------------------------
pH ------------------------------------- 7.4 mmHg -----------------------
----------
Protein ------------------------------ 2 gm/dl --------------------------------
( 5 mEq/L)

Gambar 7. Cairan ekstraseluler dan intraseluler

1. 6. PINOSITOSIS.
Pada sebagian besar sel, pinositosis terjadi secara terus pada membran sel tetap
i secara khusus terjadi lebih cepat pada beberapa sel. Sebagai contoh, pinositos
is terjadi sangat cepat pada makro¬fag sehingga kira-kira 3 persen dari seluruh
membran makrofag akan menggelembung dalam bentuk vesi¬kel setiap menit. Walaupun
demikian, vesikel pino-sitik sangat kecil biasanya hanya berdiameter 100 sampai
200 nanometer-sehingga sebagian besar ve¬sikel pinositik hanya dapat dilihat de
ngan mikroskop elektron.
Pinositosis merupakan satu-satunya cara yang da¬pat dipergunakan oleh sebagian b
esar makromolekul besar untuk dapat memasuki sel, seperti kebanyakan molekul p
rotein. Sesungguhnya, kecepatan pemben¬tukan vesikel pinositik biasanya ditingka
tkan saat makromolekul melekat pada membran sel.

1.7. PROSES KIMIAWI PEMBENTUKAN ATP-PERAN MITOKONDRIA


Setelah memasuki sel, glukosa diha¬dapkan dengan enzim di dalam sitoplasma yang
me¬ngubah. glukosa menjadi asam piruvat (suatu proses yang disebut glikolisis).
Sejumlah kecil ADP diubah menjadi ATP oleh pelepasan energi selama pengu¬bahan i
ni, tetapi jumlah ini hanya meliputi kurang da¬ri 5 persen.dari semua metabolism
e energi di dalam sel.
Sejauh ini bagian utama dari ATP yang dibentuk di dalam sel, dibentuk di dalam m
itokondria. Asam piruvat dihasilkan dari karbohidrat, asam lemak dari lipid, dan
asam amino dari protein. Semua ini akhir¬nya diubah menjadi senyawa asetil-ko-A
di dalam matriks mitokondria. Bahan ini kemudian akan dila¬rutkan lebih lanjut
yang bertujuan untuk menyadap energinya oleh suatu rangkaian enzim lain di dalam
matriks mitokondria, sehingga mengalami pengen¬ceran dalam suatu rangkaian reak
si kimia yang dise¬but siklus asam sitrat, atau siklus Krebs. Dalam siklus asam
sitrat, asetil-ko-A dipecahkan menjadi komponen-komponennya, atom hidrogen dan k
arbon dioksida. Karbon dioksida selanjutnya akan berdifusi keluar dari mitokondr
ia dan akhimya keluar dan sel.
Sebaliknya, atom hidrogen sangatlah reaktif, dan akhirnya akan bergabung dengan
oksigen yang juga telah berdifusi ke dalam mitokondria. Keadaan ini akan melep
askan energi dalam jumlah sangat besar, yang digunakan oleh mitokondria untuk me
ngubah sejumlah besar ADP menjadi ATP. Proses reaksi ini sangat kompleks, membut
uhkan bantuan dari sejum¬lah besar enzim protein yang merupakan bagian in¬tegral
dari rak-rak membranosa mitokondria, yang menonjol ke dalam matriks mitokondria
. Proses awal adalah pemindahan sebuah elektron dari atom hidrogen, sehingga men
gubah atom hidrogen menjadi ion hidrogen. Proses akhir adalah pergerakan ion hid
rogen melalui protein globular besar yang disebut ATP sintetase, yang menonjol
seperti tombol ke dalam membran rak mitokondria. Akhirnya, ATP,sintetase merupak
an suatu enzim yang menggunakan energi dari pergerakan ion hidrogen untuk menimb
ulkan pengubahan ADP menjadi ATP, sementara pada saat yang sama ion hidrogen ber
gabung dengan oksigen untuk membentuk air. ATP yang baru terbentuk ditranspor ke
luar dari mitokondria ke dalam semua sitoplasma sel dan nukleoplasma, di mana e
nergi di gunakan untuk menggerakkan fungsi sel.

Gambar 8. Sintesa pembentukan ATP di Mitochondria


1.8. DIFUSI
Semua molekul dan ion dalam cairan tubuh, ter¬masuk molekul air dan zat-zat terl
arut, berada dalam gerakan yang konstan, masing-masing partikel berge¬rak sesuai
dengan caranya sendiri. Gerakan partikel ini yang oleh para ahli fisika disebut
panas semakin besar pergerakannya, semakin tinggi suhunya dan gerakan ini tidak
pernah berhenti dalam kondisi apapun kecuali pada suhu nol absolut. Gerakan mol
ekul yang terus menerus ini di antara molekul yang satu dengan yang lainnya dala
m cairan, maupun dalam gas, disebut difusi.
1.9. Osmosis yang Secara Selektif Melintasi Membran Permeabel-Difusi
Netto Air
Sejauh ini substansi yang paling hanyak berdifusi melalui memhran sel ialah air.
Perlu diingat kembali di sini hahwa biasanya jumlah air yang berdifusi pada mas
ing-masing arah melalui membran sel darah me¬rah per detik sebanyak kira-kira 10
0 kali volunte sel itu sendiri. Ternyata, secara normal, jumlah yang berdifusi d
alam dua arah begitu tepat berimbang sehingga sedikit pun tidak terjadi gerakan
netto air. Oleh karena itu, volume sel tetap konstan. Akan teta¬pi, pada keadaan
tertentu, dapat terjadi selisih konsen¬trasi air antara sebelah menyebelah memb
ran, demi¬kian. pula selisih konsentrasi untuk substansi lain dapat terjadi. Bil
a hal ini terjadi, timbul pergerakan net air melintasi membran, mengakibatkan se
l mem¬bengkak ataupun mengecil, bergantung pada arah pergerakan net. Proses perg
erakan net air ini disebabkan oleh adanya perbedaan konsentrasi air yang dise¬bu
t osmosis.
Ternyata pada suatu saat dibutuhkan konsentrasi zat yang besar dalam cairan intr
aselular walaupun cairan ekstraselular hanya mengandung konsentrasi zat cair kec
il sekali. Hal ini terjadi, misalnya, untuk ion -kalium. Sebaliknya, adalah pent
ing untuk mem-pertahankan konsentrasi ion-ion lain agar tetap men¬jadi sangat re
ndah di dalam sel walaupun konsentra¬sinya dalam cairan ekstraselular besar. Hal
ini khu¬susnya terjadi untuk ion natrium. Tidak satu pun dari kedua peristiwa i
ni dapat terjadi melalui difusi seder¬hana, karena difusi sederhana mengimbangi
konsen¬trasi pada kedua sisi membran. Malahan, beberapa sumber energi harus meni
mbulkan pergerakan ion kalium "mendaki" ke bagian dalam sel dan menye¬babkan per
gerakan ion natrium juga "mendaki" tetapi dalam hal ini ke luar sel. Pada saat m
embran sel menggerakkan molekul atau ion mendaki melawan gradien konsentrasi (at
au mendaki melawan arus lis¬trik atau gradien tekanan), proses ini disebut trans
por aktif..
Daftar Pustaka
1. Guyton A.c., & J.E. Hold. 1987. Texkbook of Medical Physiology (Fisiol
ogi Kedokteran). Terjemahan Irawati dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta