Anda di halaman 1dari 990

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Karya: Wo Lung-shen
Saduran: Tjan ID
Di upload di http://ecersildejavu.wordpress.com/
Ebook by Dewi KZ
http://kangzusi.com/

Jilid 1

Angin Utara bertiup menderu deru … salju melayang


memenuhi permukaan tanah laksana bulu angsa.
Pepohonan pada layu dan berdiri terpekur di empat
penjuru.

Di atas jalan raya Han Tan terdengar suara putaran


roda kereta yang amat ramai diikuti munculnya
serombongan kereta-kereta berkuda melakukan
perjalanan.

Kuda-kuda yang menarik kereta-kereta itu merupakan


kuda kuda luar perbatasan yang kekar kosen, kendati
berada di tengah tiupan angin yang kencang serta
curahan hujan salju yang lebat. Mereka tetap
melanjutkan perjalanan dengan gagah.

Rombongan kereta kereta berkuda itu semuanya


berjumlah lima buah, kereta yang pertama berwarna

1
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kuning dengan sebuah bendera biru sepanjang tiga depa


empat coen berkibar tiada hentinya tertiup angin.

Di atas bendera tersebut terukirlah seekor Naga Sakti


yang sedang mementangkan cakarnya dengan
bersulamkan benang emas serta di sisinya terukir kata-
kata “Liong Wie Piauw-kiok” dari benang perak.

Sedang kereta yang kedua hingga kereta yang kelima


berwarna hitam, ruangan-ruangan kereta tertutup rapat
sekali sehingga tak ada sedikit anginpun yang bertiup
masuk ke dalam ruangan.

Sang Kusir yang berada di depan kereta mengenakan


mantel tebal yang terbuat dari Kulit binatang dengan
sebuah topi berbulu yang menutupi hampir seluruh
wajahnya.

Dua orang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan,


masing-masing dengan menunggang seekor kuda
jempolan mengiringi di depan rombongan kereta, pada
punggung masing-masing tersoren sebilah golok yang
amat besar.

Di tengah tiupan angin yang amat santar kedua orang


itu hanya memakai pakaian kasar yang amat tipis dengan
celana yang terbuat dari kain biasa, tampak kedua orang
itu tiada hentinya mengebut-ngebutkan salju yang
mengotori pakaiannya.

Cukup ditinjau dari keadaan mereka, jelas tenaga


dalam yang dilatihnya sudah berhasil mencapai pada
taraf kesempurnaan.

2
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di belakan rombongan kereta-kereta berkuda itu


tampak pula dua orang penunggang kuda berjalan
mengiring. Orang yang ada di sebelah kiri mempunyai
perawakan tubuh yang tinggi kekar dengan wajah
berwarna hitam pekat, di atas pelananya bergantungkan
sebuah senjata rantai berbandul palu pengejar angin.

Kudanya yang tinggi besar di tambah pula


perawakannya yang besar laksana pagoda, hal ini
menambah keseraman serta kegagahannya.

Sedang orang yang ada di sebelah kanan mempunyai


tubuh yang kurus kering kecil, pada punggungnya
tersoren sepasang senjata poan koan pit yang khusus
untuk menotok jalan darah, kepalanya kecil dengan
anggota badan yang kurus kering bagaikan monyet, jika
ditinjau dari seluruh badannya mungkin boleh dikata
cuma bisa mendapatkan daging seberat setengah kati
saja.

Cuma saja sepasang matanya memancarkan cahaya


yang berkilat dan menggidikan setiap orang yang
melihat.

Kecuali kedua orang penunggang kuda yang berbadan


besar serta berbadan kurus kering itu, terdapat pula
delapan orang pembantu yang menyoren golok pada
pinggang-nya serta menggembol busur dan anak panah
pada punggungnya, mereka bersama sama memakai topi
pelindung telinga yang terbuat dari kulit, bercelana
singsat serta sepatu yang tipis.

3
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun saat ini adalah bulan dingin yang


menggidikkan setiap orang, tetapi mereka yang baru saja
melakukan perjalanan jauh tampak keringat mengucur
membasahi badannya.

Angin Utara meniup semakin kencang, hujan saljupun


beterbangan dan menari semakin menghebat.

Di atas kereta-kereta kuda itu tumpukan salju mulai


menebal, jika dipandang dari tempat kejauhan hanya
tampaklah beberapa titik hitam yang bergerak lambat-
lambat di tengah permukaan salju yang memantulkan
sinar keperak-perakan.

Mendadak ………………………………………..

Sebatang anak panah bersuara dengan menembusi


udara serta menimbulkan suara desiran yang tajam jatuh
menancap di depan kereta pertama kurang lebih dua kaki
jauhnya.

Sang kusir kereta tersebut agaknya merupakan


seorang kusir kawakan yang sudah berpengalaman, tidak
menanti sang majikan memberi perintah ia sudah
menghentikan kereta tersebut.

Sembari mengebutkan cambuk di tangannya ke


tengah udara, ia berteriak keras, “Heey ……. saudara-
saudara sekalian! Cepat hentikan kereta kalian …….!”

Terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang,


keempat buah kereta berkuda lainnyapun segera
menghentikan perjalanannya.

4
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari dalam kereta berkuda pertama yang berwarna


kuning itu, perlahan-lahan muncullah sebuah batok
kepala yang sudah memakai handuk dengan rambut
yang sudah beruban melongok keluar.

“Giok Liong! Coba kau lihat kawan dari aliran mana


yang sudah melepaskan anak panah bersuara itu!”
serunya setelah mendehem beberapa kali. “Kita dari
perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok tidak takut
menghadapi segala urusan, tetapi tidak ingin pula
menyalahi kawan-kawan lain sehingga melenyapkan adat
istiadat yang berlaku di dalam dunia kang-ouw!”

Si lelaki kekar yang berada di sebelah kiri segera


menyahut dan meloncat turun dari punggung kudanya.

Setelah memungut anak panah tersebut diperiksanya


beberapa waktu ia baru memberi jawaban, “Lapor paman
Jie Sio. Tecu tidak kenal dengan tanda yang tertera di
atas anak panah ini!”

“Hmm! Ada peristiwa semacam ini?” kata orang yang


berada di dalam kereta itu. “Coba bawalah kemari!”

Si lelaki kekar yang bernama Giok Liong tadi dengan


sikap yang sangat menghormat segera berjalan ke sisi
kereta tersebut.

“Jie Siok, silahkan periksa,” ujarnya sambil


mengangsurkan anak panah tersebut ke arah depan.

5
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari balik kereta segera muncullah sebuah lengan


yang segera menyambut angsuran anak panah tersebut.

Agaknya si orang tua yang berada di dalam kereta


itupun tidak berhasil mengetahui asal usul dari si
pengirim anak panah itu, setelah suasana kembali
menjadi hening beberapa saat lamanya, mendadak orang
tua itu munculkan dirinya dari balik kereta.

Tampaklah seorang kakek tua yang memakai jubah


berwarna hijau, dengan sepatu terbuat dari kuli
menjangan, wajah merah bersinar, sepasang alis yang
tebal dengan sepasang mata yang tajam serta memiliki
perawakan yang sedang, dengan wajah penuh kegusaran
munculkan dirinya dari kereta tersebut.

Dengan tangan kiri mencekal sang anak panah,


tangan kanan memegang sebuah Huncwee, ia menyapu
sekejap ke sekeliling tempat itu.

“Giok Liong!” serunya kembali, “Coba kau pergilah ke


dalam hutan di depan sana dan tanya siapakah pemimpin
mereka!”

“Tecu terima perintah!” sahut lelaki kekar yang ada di


sebelah kiri sambil menjura.

Dengan cepat ia meloncat naik ke atas punggung


kudanya, menyentak sang tali les dan melarikan
tunggangannya ke arah depan.

Jarak antara hutan pohon siong tersebut dengan


tempat pemberhentian rombongan kereta itu kurang

6
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lebih ada setengah li jauhnya, di tengah tiupan angin


kencang serta curahan hujan salju yang deras, boleh
dikata pada saat ini, disekitar tempat tersebut hanya
tinggal ranting-ranting pohon yang sudah kering dan
salju saja.

Waktu itu dari atas permukaan salju dihadapannya


pada saat yang bersamaan muncul pula seekor kuda
yang berlari mendatang dengan kecepatan tinggi.

Kedua ekor kuda tersebut yang satu berlari


mendatang dan yang lain berlari menyongsong, agaknya
masing-masing penunggang di atas pelana itu ada
maksud untuk berjual lagak. Menanti kedua ekor
kudanya hampir bertumbukan satu dengan yang lain
masing-masing pihak baru bersama-sama menahan tali
les kudanya.

Di tengah suara ringkikan kuda yang memanjang,


kedua ekor kuda itu bersama-sama meloncat bangun
kemudian mengitari satu lingkaran di atas permukaan
salju.

Kepandaian menunggang kuda dari si lelaki kekar ini


jauh lebih tinggi setingkat dari pihak lawannya, dengan
cepat ia berhasil menenangkan badannya kembali.

“Cayhe adalah Lie Giok Liong dari perusahaan


ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok. Harap kawan suka
menerima penghormatanku!” ujarnya sambil merangkap
tangannya menjura.

7
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pihak lawan adalah seorang pemuda yang baru


berusia dua puluh enam, tujuh tahunan, pakaian
singsatnya terbuat dari kulit srigala. Dengan wajah yang
amat cerah tampan sekali.

“Ouuw….kiranya murid tertua dari Liong Wie Piauw-


kiok, Cong Piauw terbang seratus langkah Lie Giok Liong
adanya, selamat bertemu, selamat bertemu ….!” serunya
keras.

“Akh …. mana, mana ……. kesemuanya ini cuma


didasarkan atas pujian dari kawan kawan kang-ouw
saja…..”

Perlahan lahan ia menghela napas, kemudian


sambungnya, “Tolong tanya siapakah nama besar dari
Heng-thay??”

Orang itu segera menengadah ke atas dan tertawa


terbahak bahak.

“Haaa… haaa….. kalau memangnya kami sudah berani


turun tangan terhadap barang kawalan perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauk Kiok, sudah tentu berani pula
meninggalkan nama,” katanya keras.

Walaupun usia dari Lie Giok Liong tidak begitu besar,


tetapi berhubung sejak kecil ia sudah sering mengikuti
suhunya berkelana di dalam dunia kang-ouw, maka
pengetahuannya sangat luas sekali, sehingga boleh
dikata dia adalah seorang jago kawakan.

8
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaakh… entah siapakah nama besar dari Heng-thay?


Siauwtee tentu akan pentang telinga lebar-lebar untuk
mendengar”, ujarnya cepat sambil tertawa paksa.

“hee. heee. Cayje she Shaw bernama Kiat, disebut


orang sebagai “Leng Cian” atau si Panah Gelap Shaw Kiat
adanya!…” sahut orang itu dingin.

“Ooow…. kiranya Shaw heng, maaf….. maaf…….!”

Selesai berkata buru-buru Lie Giok Liong menjura ke


arahnya.

“Heee… heee… terima kasih terima kasih. Cayhe tidak


terbiasa dengan kata-kata yang halus. Lebih baik kali ini
kita berbicara secara blak-blakan saja. Kami tidak suka
mengikat sengketa dengan pihak perusahaan ekspedisi
Liong Wie Piauw-kiok kalian, asalkan barang-barang yang
kalian kawal di dalam kereta itu ditinggalkan, kami
segera akan lepas kami semua untuk melanjutkan
perjalanan!”

“Haa… haaa… Shaw heng! Tentunya kau sedang


bergurau dengan kami!” seru Lie Giok Liong tertawa
tawar, “Ada pepatah mengatakan: Membegal harta orang
lain, musnah mengikuti tanggung jawabnya. Kami orang-
orang yang mencari sesuap nasi dengan membuka
perusahaan piauw-kiok, bagaimana mungkin boleh
meninggalkan keselamatan orang lain untuk
menyelamatkan diri sendiri? Kami perusahaan expedisi
Liong Wie Piau Kiok sudah melakukan tugasnya selama
dua puluh tahun, tetapi selama ini belum pernah
meninggalkan barang kawalannya untuk melarikan diri!”

9
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hm……..! Nama besar dari perusahaan expedisi Liong


Wie Piauw-kiok memang sudah lama kami dengar,
sedang permainan piauw terbang berantai dari Lie-heng
yang amat tepat di dalam seratus tindakpun sudah lama
kami kagumi, cuma he…..he…. kalian harus tahu!
Bilamana kami tidak mempunyai beberapa bagian
pegangan, mana berani bermaksud mencabut gigi di
mulut harimau?” ujar si panah gelap Shaw Kiat dingin.

Mendengar perkataan tersebut, dalam hati Lie Giok


Liong segera berpikir.

“Bilamana cuma mengandalkan kepandaian silatnya


yang tidak seberapa ini, pasti tidak mungkin berani
mengganggu dan cari gara-gara dengan perusahaan
expedisi Liong Wie Piauw-kiok kami, di belakang
punggung-nya tentu ada otak dari seluruh perbuatannya
ini……”

Berpikir akan hal tersebut, terpaksa ia tertawa


perlahan.

“Shaw-heng!” katanya perlahan. “Di dalam


pengawalan barang-barang kali ini, cayhe tidak lebih
cuma seorang serdadu tak bernama yang ada di depan
barisan, orang yang melindungi barang barang tersebut
adalah majikan kedua dari perusahaan Liong Wie Piauw-
kiok kami…..”

“Sekalipun Cong Piauw-tauw kalian sendiri yang


mengawal barang-barang tersebut sama saja, kami akan

10
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

turun tangan merampoknya” potong Shaw Kiat tidak


menanti ia menyelesaikan kata-katanya.

“Hmm! Aku rasa bilamana cuma mengandalkan


kepandaian kau seorang, tidak mungkin bakal berani
mempunyai pikiran demikian.”

“Heee….heee….. Lie-heng apakah sedang


menanyakan pemimpin kami?”

“Sedikitpun tidak salah, harap Shaw-heng suka


memberitahukan hal ini kepada-ku, dengan demikian
cayhe-pun bisa melaporkan hal tersebut kepada
majikanku yang kedua sehingga dia orang tua bisa
mengambil keputusan”.

“Tentang soal ini……..aach…….! Maaf…… maaf


sekali…..”

Air muka Lie Giok Liong segera berubah hebat.

“Kalau memang Shaw-heng tidak suka memberi


penjelasan, maka terpaksa cayhe harus menerjang
masuk ke dalam hutan untuk mengadakan pemeriksaan
sendiri” teriaknya gusar.

Shaw Kiat dengan cepat menjerat tali les kudanya


menghalangi perjalanan dari Lie Giok Liong kemudian
dari dalam sakunya ia mengambil keluar sepucuk sampul
putih.

“Kalau memang majikan kedua dari perusahaan


kalianpun sudah datang, mungkin Lie-heng sendiri tidak

11
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bisa mengambil keputusan bukan!” katanya. “Di dalam


sampul surat unu terdapat tulisan tangan dari pemimpin
kami, harap Lie-heng suka membawanya untuk
ditunjukkan kepada majikan kedua kalian. Cayhe menanti
jawaban dari kalian semua!”

Lie Giok Liong segera menyambut sampul surat


tersebut dan dibaca tulisan yang ada di depannya yang
kira-kira berbunyi.

“Ditujukan kepada majikan kedua perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok, Si Thian Ciang Kim Huan, Phoa Ceng
Yan!”

Lie Giok Liong yang selesai membaca tulisan tersebut,


hatinya kontan jadi melengak dibuatnya.

“Sungguh aneh sekali!” pikirnya di hati.


“Keberangkatan kali ini yang dikawal langsung oleh Jie
Siok sama sekali tidak diketahui oleh orang lain kecuali
beberapa orang Piauwsu penting yang ada di dalam
perusahaan Piauw-kiok, tetapi bagaimana mungkin
manusia ini bisa mengetahui dengan begitu jelasnya?”

Pikiran tersebut bagaikan putaran roda dengan


cepatnya berkelebat di dalam benak, buru-buru ia
merangkap tangannya menjura.

“Harap Shaw-heng tunggu sebentar!” ujarnya


kemudian.

12
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tali les kudanya segera diletakkan dan melarikan


kembali kudanya menuju ke arah rombongan kereta-
kereta berkuda tersebut.

Majikan kedua dari perusahaan expedisi “Lion Wie


Piauw-kiok”, Itu si “Thiat Ciang Kiem Huan” atau telapak
besi gelang emas Phoa Ceng Yan sedang duduk di dalam
kereta sambil menikmati huncwenya.

Perasaan hati si orang tua itu membara bagaikan


dibakar, wajahnya yang amat keren dan serius sedang si
lelaki kekar yang berada di sebelah kananpun pada saat
ini sudah turun dari kudanya dan berdiri di sisi sang
kereta.

Lie Giok Liong dengan cepatnya telah tiba di depan


rombongan kereta tersebut, sambil meloncat turun dari
kudanya ia lantas menjura.

“Lapor Jie siok!” serunya, “Teecu sudah bertemu muka


dengan mereka, pemimpin pihak lawan ada sepucuk
surat yang disampaikan buat Jie Siok!”

“Hm!coba kau buka surat itu dan bacakan keras-keras”


dengus Phoa Ceng Yan dingin. “Aku mau lihat di atas
jalan raya Han Tan ini ada siapa yang sudah begitu
bernyali sehingga berani mengganggu barang kawalan
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok. Hm! Manusia dari
mana yang sudah makan hati beruang jantung macan
sehingga begitu berani mencari setori dengan kita!”

13
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan amat serius Lie Giok Liong berdiri tegak di


hadapan kereta tersebut kemudian membuka sampul
surat dan mulai membaca isinya:

Ditujukan untuk Phoa Ceng…….

Mendadak ia menutup mulutnya kembali.

“Giok Liong! Lanjutkan membaca isi surat itu.


Mengapa kau harus merasa takut? surat tersebut kan
bukan kau yang menulis?” tegur Phoa Ceng Yan sewaktu
dilihatnya sang lelaki kekar itu rada ragu-ragu.

Lie Giok Liong buru-buru mengiakan dan melanjutkan


kembali pembacaan isi surat tersebut.

“Ditujukan kepada Phoa Ceng Yan, Hu Piauw-tauw:

Sudah lama kami dengar kemajuan serta kemakmuran


dari perusahaan ekspedisi kalian di mana dalam sehari
ada pemasukan sebanyak beribu-ribu kati emas sehingga
mengalahkan perusahaan-perusahaan yang lain.

Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berhasil menguasai


seluruh daerah Tionggoan, di mana bendera perusahaan
kalian lewat kawan-kawan kalangan Liok-lim pada
mengalah tiga bagian, sehingga kini sudah ada puluhan
tahun lamanya ……”

“Ehmm…..! Isi surat itu masih kedengarannya


memakai sopan santun!” timbrung Phoa Ceng Yan sambil
mengelus elus jenggotnya yang sudah memutih.

14
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lie Giok Liong mengebutkan terlebih dulu bunga-


bunga salju yang mengotori bajunya kemudian
sambungnya kembali.

“Siaw te sekalian tidak becus, kini dengan


memberanikan diri memberi waktu kepada kalian agar di
dalam waktu sepertanak nasi kemudian Phoa-heng serta
seluruh anak buah perusahaan anda segera meletakkan
senjata dan meninggalkan tempat ini dengan tangan
kosong.

Bilamana diantara kalian ada yang berani melanggar


dan pergi dengan membawa senjata, maka suatu
bencana yang mengerikan segera akan melanda diri
kalian.

Harta kekayaan perusahaan selama puluhan tahun


lamanya masih cukup untuk mengganti kerugian kali ini,
maka dari itu harap kalian suka memikirkan masak-
masak!”

Sejak semula Phoa Ceng Yan yang mendengar isi


surat tersebut paras mukanya sudah berubah sangat
hebat, tetapi ia bersabar terus dan dengan tenangnya
mendengar hingga habis.

“Heei.. sungguh besar sekali omongannya! Coba lihat


siapakah yang menanda tangani surat ini”.

Lie Giok Liong menggeleng.

“Di atas surat ini tak ada tanda tangan sebaliknya


cuma meninggalkan sebuah tanda lukisan” katanya.

15
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Oouw….. coba bawa kemari!”

Lie Giok Liong mengiakan, dengan cepat ia angsurkan


surat tersebut ke tangan sang orang tua tersebut dengan
sikap yang sangat menghormat.

Phoa Ceng Yan setelah menerima surat tersebut dan


diperiksa sebentar, di atas paras mukanya yang
mengandung rasa gusar mendadak terlintaslah suatu
perasaan keheranan yang segera mencekam seluruh
benaknya.

Si lelaki kekar yang ada di sebelah kanan dan pada


waktu itu berdiri di sisi kereta, perlahan-lahan ia berjalan
mengitari sang kereta dan berhenti di sisi tubuh Lie Giok
Liong.

“Lie Suheng!” bisiknya dengan suara yang pelan. “Di


atas surat tersebut terdapat tanda lukisan macam apa??”

“Sebuah lukisan Pat Kwa, sebuah kipas serta sebuah


benda yang mirip tali tapi bukan tali.

Mendengar disebutkannya benda-benda tersebut, si


lelaki kekar tersebut segera mengerutkan alisnya rapat-
rapat.

“Agaknya lukisan tersebut menandakan sebutan


mereka serta senjata yang mereka gunakan” katanya, “Di
daerah Liok-lim di lima keresidenan sebelah utara, orang
yang menggunakan kipas sebagai senjata agaknya tidak
begitu banyak jumlahnya, di samping itu tak ada pula

16
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pentolan bajingan yang menggunakan tameng Pat Kwa


sebagai senjatanya. Sedang mengenai senjata yang
menyerupai tali itu semakin tidak pernah dengar orang
membicarakannya. Beberapa orang ini kemungkinan
besar berasal dari tempat kejauhan.”

“Ih Sute! Aku rasa peristiwa ini tidak akan segampang


yang kau pikirkan.” bantah Lie Giok Liong sambil
menggeleng. “Paman Jie Siok adalah manusia macam
bagaimana? Bilamana cuma menghadapi beberapa orang
perampok cilik yang tak bernama bagaimana mungkin
dia orang tua suka memandang sebelah mata terhadap
diri mereka itu?”

Kiranya perasaan gusar yang semula menghiasi muka


Phoa Ceng Yan pada saat ini sudah lenyap tak berbekas,
tetapi matanya masih memandang ke atas surat tersebut
dengan terpesona.

Waktu itu dari balik kereta berwarna hitam yang


kedua mendadak meloncat keluar seorang kacung buku
yang baru berusia tiga belas, empat belas tahunan,
dengan cepat ia berlari menuju ke depan kereta kuda
yang pertama sambil berseru, “Eee…. Majika kedua, Loo
ya kami bertanya kenapa kereta tidak segera
berangkat?!”

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan menyimpan surat


tersebut ke dalam sakunya lalu meloncat turun dari
dalam kereta.

“Laporkan saja kepada Liauw Thayjien bila kita sudah


menemui kesulitan, ada beberapa orang kawanan

17
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perampok dari kalangan Liok-lim sedang menghadang


perjalanan kita,” ujarnya.

Si Kacung buku itu menjerit tertahan, buru-buru ia


memutar badannya dan siap berlari balik ke dalam
keretanya.

“Beritahukan pula pada Liauw Thayjien agar dia suka


berlega hati,” sambung Phoa Ceng Yan kembali. “Merek
emas dari perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok
selama dua puluh tahun tidak akan hancur berantakan di
tangan orang lain dengan begitu gampang, harap Siauw
Ko suka beritahukan pada Liauw Thayjien, sebelum
urusan ini diselesaikan lebih baik dia orang jangan turun
dari keretanya, orang-orang yang loohu bawa untuk
melindungi kawalan pada kali ini tidak banyak jumlahnya,
sehingga sulit untuk melindungi setiap orang yang turun
dari dalam kereta.”

“Baik…. baik……. hamba segera akan laporkan urusan


ini kepada Looya kami!” seru si kacung buku itu.

Dengan cepat ia melanjutkan larinya menuju ke dalam


kereta yang kedua.

Paras muka Phoa Ceng Yan kelihatan sangat serius


sekali, dengan suara yang keren ujarnya kemudian
kepada si lelaki kekar yang satunya lagi, “Cun Jie! Cepat
undang Thi serta Nyoo Piauw-su untuk datang kemari.”

Waktu itu kelima kusir kereta sudah pada


menghentikan keretanya dan meloncat turun. Mereka
bersama-sama menyimpan kembali cambuknya untuk

18
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian mencabut keluar sebuah golok baja yang tebal


masing-masing berdiri menjaga di depan keretanya
sendiri sendiri.

Kiranya para kusir kereta tersebut semuanya adalah


penyamaran dari anak buah perusahaan ekspedisi Liong
Wie Piauw-kiok.

Bebertapa orang ini sudah terbiasa melakukan


perjalanan jauh untuk mengawal barang kawalan, karena
ia begitu menemui kejadian tanpa disuruh lagi mereka
sudah pada meloloskan senjata tajamnya masing-masing
dan berdiri pada posisi yang menguntungkan.

Perlahan lahan Lie Giok Liong menyapu sekejap ke


sekeliling tempat itu lalu bisiknya kepada si orang tua itu,
“Paman Jie Siok, orang-orang itu apakah sangat lihay
sekali?”

“Ehmm …..! Kepandaiannya sangat hebat sekali” sahut


Phoa Ceng Yan menggangguk, “Kita harus menghadapi
dengan sangat berhati-hati, agaknya halangan kita ini
rada sulit untuk ditembusi”.

Lie Giok Liong tahu bila paman keduanya ini


mempunyai sifat yang tinggi hati dan tidak pandang
sebelah matapun terhadap orang lain, sudah ada
puluhan tahun lamanya ia melakukan pekerjaan
mengawal barang tetapi selama ini belum pernah
menemui kejadian yang membingungkan dirinya.

19
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Para penjahat kalangan Liok-lim yang binasa di bawah


serangan gelang emasnya ini entah sudah seberapa
banyaknya.

Kini secara mendadak paras mukanya berubah jadi


begitu tegang dab serius, di dalam ingatan Lie Giok Liong
agaknya peristiwa ini belum pernah terjadi barang
sekalipun, karena itu iapun merasakan akan keseriusan
dari peristiwa ini.

Ketika itulah si lelaki kekar yang bernama Cun Jie


sudah berjalan balik sambil memimpin kedua orang tinggi
serta kurus yang bukan lain adalah Thio dan Nyoo dua
orang Piauw-tauw.

Si lelaki kekar berwajah hitam pekat di mana di atas


pinggang sebelah kirinya menggembol sebuah senjata
rantai yang berkepala palu mengejar bintang, dengan
langkah lebar lantas merebut maju dua langkah ke
depan.

“Majikan kedua, siapakah sebenarnya orang yang


berani mengganggu kepala Thay Swie ya? Biarlah
pertempuran yang pertama kali ini serahkan pada aku
Thio Toa Hauw” serunya sambil menjura.

“Jangan gegabah!” tolak Phoa Ceng Yan sambil


menggeleng, air mukanya berubah semakin serius.
“orang-orang yang mencari gara gara kali ini bukanlah
kawanan Liok-lim biasa…”

20
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sinar matanya segera dialihkan ke atas tubuh Nyoo


Piauw-tauw yang kurus kering seperti monyet itu,
sambungnya kembali.

“Su Jan, sewaktu kau orang berkelana di daerah Kang


Lam tempo hari, apakah kau banyak mengetahui jagoan-
jagoan Bu-lim?”

Kiranya si Thio Toa Hauw yang mempunyai perawakan


tinggi besar itu walaupun kekar dan kosen tetapi ada tiga
bagian rada bebal, sebaliknya Nyoo Su jan yang
berbadan kurus kering, sebenarnya adalah seorang
manusia yang cerdik dan mempunyai banyak akal.

“Lapor Jie Siok!” seru si Piauw-tauw she Nyoo ini


sambil menjura.”Aku orang she Nyoo cuma mengetahui
sedikit sekali tentang soal-soal dunia kangouw, tetapi
entah tanda lukisan apakah yang sudah ditinggalkan oleh
orang-orang itu?”

“Ehmm! Ada sepucuk surat, nih! Kau lihatlah sendiri.”

Nyoo Su Jan segera mengeluarkan sepasang


tangannya yang kurus kering untuk menerima surat
tersebut, agaknya ia sama sekali tak tertarik oleh isi
suratnya, sepasang matanya yang tajam dengan
terpesona memperhatikan ketiga buah tanda lukisan
tersebut, kemudian termenung berpikir keras.

Lama sekali ia baru menjawab dengan suara yang


perlahan, “Menurut apa yang hamba ketahui agaknya
tanda-tanda ini berasal dari Lam Thian Sam Sah atau tiga
orang pengacau dari Lam Thian!”

21
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sambil mulutnya berbicara, sedang tangannya dengan


sangat hormat mengembalikan sampul surat tersebut ke
arah majikannya.

“Ehmm…….! Sedikitpun tidak salah …. sedikitpun tidak


salah,” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk. “Memang
benar perbuatan dari Lam Thian Sam Sah! Selama ini
mereka hidup di daerah Kang Lam bahkan selama
beberapa tahun mendekat ini tiada kabar beritanya lagi
di dalam dunia kangouw, tidak disangka ternyata secara
mendadak mereka bisa munculkan dirinya di atas jalan
raya Han Tan bahkan bermaksud hendak membegal
barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita
…..”

“Majikan kedua! Ada pepatah yang mengatakan air


bah dapat kita bendung dengan tanah, tentara datang
kita tahan dengan panglima, Aku tidak percaya bila Lam
Thian Sam Sah mempunyai tiga kepala enam lengan,
mari …… biarlah aku orang she Thio yang pergi menemui
diri mereka terlebih dulu,” sambung Thio Toa Hauw
dengan suara yang keras.

Orang ini rada berangasan selesai berbicara dengan


langkah lebar ia lantas melangkah maju ke depan.

“Eeei … tunggu sebentar!” teriak Phoa Ceng Yan


sambil menggeleng.

Sifatnya yang keren dan serius apalagi jarang


berbicara serta bergurau membuat semua orang yang
berada di dalam perusahaan ekspedisi “Liong Wie

22
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Piauw-kiok” kebanyakan menaruh tiga bagian rasa jeri


terhadap dirinya.

Mendengar suara panggilan tadi, Thio Toa Hauw


benar-benar tidak berani bergerak secara gegabah lagi,
ia menghentikan langkahnya.

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan mendehem beberapa


kali.

“Menurut apa yang loolap ketahui” ujarnya kemudian.


“Di dalam kalangan Liok-lim Lam Thian Sam Sah
mempunyai nama besar yang mengerikan bagi semua
orang, tetapi mereka bukanlah manusia-manusia yang
suka bertindak secara gegabah, kini secara terang-
terangan mereka berani melakukan tantangan terhadap
kita untuk membegal barang kawalan dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kita, menurut Loolap tentulah
mereka sudah mempunyai suatu rencana persiapan yang
matang, hee…..heee….. nama kosong Loolap sebagai si
pukulan besi gelang emas boleh hancur di tangan orang
lain, tetapi tidak akan menghancurkan merek perusahaan
“Liong Wie Piauw-kiok” yang sudah terkenal puluhan
tahun lamanya ini”.

Perkataan ini diucapkan dengan nada berat dan


meluncur keluar dari dasar hatinya sehingga membuat
Thio Toa Hauw yang rada bebal itupun segera berubah
wajah dan berdiri dengan sikap serius.

Dengan tangan kiri mengelus-elus jenggotnya Phoa


Ceng Yan menengadah ke atas memandang awan yang
berlalu di tengah udara.

23
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Su Jan, kau pernah bertemu dengan Lam Thian Sam


Sah??” sambungnya.

“Hamba sudah lama mendengar nama meraka, tetapi


belum pernah bertemu muka barang sekalipun.”

Kembali Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras,


akhirnya ia berseru, “ Baiklah! Mari kita pergi menemui
diri mereka.”

Sinar matanya perlahan lahan menyapu sekejap ke


sekelilingnya, kemudian tambahnya, “Su Jan, Giok Liong!
Kalian ikut aku, Coen Jie serta Thio Piauw-tauw kalian
bertugas mengawasi keselamatan dari kereta-kereta
berkuda ini, suruh tukang panah menyiapkan anak
panahnya siap-siap menghadapi serangan musuh.
Barang kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai
kedudukan yang sangat tinggi di dalam pemerintahan
bahkan membawa pula kaum perempuan. Orang-orang
lain sudah mempercayakan dirinya pada perusahaan
“Liong Wie Piauw-kiok” kita, seharusnya kitapun jangan
terlalu memandang rendah mereka apalagi orang-orang
itu sudah serahkan keselamatan jiwa serta hartanya
kepada kita, asalkan kita orang-orang masih hidup maka
siapapun di antara kita harus berusaha untuk melindungi
mereka dari gangguan!”

“Majikan kedua jangan kuatir, hamba tentu akan


bertugas sangat berhati-hati” sahit Thio Toa Hauw sambil
menjura.

24
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk. “Yang


penting dan harus kalian ingat adalah sebelum
memperoleh perintahku, maka janganlah sekali-kali
meninggalkan kereta kawalan ini…,” katanya.

Ia segera mengulapkan tangan kanannya dan


menyambung, “Giok Liong! Bawa jalan.”

Lie Giok Liong mengiakan, tubuhnya segera berputar


dan melangkah maju ke depan.

Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan mengikuti dari


belakangnya dengan kencang.

Menanti ketiga orang itu sudah berangkat, Thio Toa


Hauw baru memerintahkan ke delapan orang
anakbuahnya untuk mempersiapkan anak panah dan
memilih posisi yang baik untuk menghadapi musuh dan
melindungi kelima buah kereta tersebut.

Walaupun Thio Toa Hauw rada bebal, tetapi


berhubung sudah da puluhan tahun lamanya melakukan
pekerjaan mengawal barang maka pengalamannya pada
saat ini boleh dikata sangat luas sekali.

Beberapa orang anak buah itupun merupakan jago-


jago kawakan pilihan dari perusahaan ekspedisi “Liong
Wie Piauw-kiok”, hanya di dalam sekejap saja mereka
sudah menyebarkan diri untuk berjaga pada posisi-posisi
yang menguntungkan terhadap datangnya serangan
musuh.

25
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kita balik pada Lie Giok Liong yang memimpin kedua


orang itu mendekati diri Shaw Kiat.

“Shaw-heng!” serunya kemudia sembari menjura.


“Katakan saja pada pemimpinmu bahwa majikan kedua
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita sedang
menantikan kedatangan mereka, bilamana ada urusan
biarlah mereka berdua selesaikan sesudah berhadap-
hadapan.

Dengan pandangan tajam si pemanah gelap Shaw Kiat


memperhatikan sekejap ke arah si telapak besi gelang
emas yang berdiri kurang lebih beberapa kaki dari
dirinya.

Ketika dilihatnya si orang tua itu berdiri dengan wajah


serius di atas permukaan salju sehingga kelihatan sangat
angker sekali, dalam hati lantas berpikir, “Sudah lama
aku mendengar nama besar dari si telapak besi gelang
emas, agaknya dia orang benar-benar luar biasa sekali.”

Sebenarnya ia hendak mengutarakan beberapa patah


kata yang mengejek diri Lie Giok Liong, tetapi melihat
sikap si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan yang
begitu angker tak terasa hatinya dibuat bergidik juga,
akhirnya ia mendehem keras.

“Perkataan dari Lie-heng sudan tentu akan cayhe


sampaikan kepada pemimpin kami” sahutnya. “Majikan
kedua dari Piauw-kiok kalian, cayhe merasa tidak punya
pegangan.”

26
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ooow…. asalkan Shaw-heng suka menyampaikan


kata-kata tersebut, hal ini sudah tiada sangkut pautnya
dengan diri Shaw-heng.”

“Ehmm…..! Bertemu atau tidak, cayhe tentu akan


memberi kabar kepada kalian.”

Selesai berkata ia meloncat naik ke atas punggung


kudanya, menyenyak tali les dan kaburkan
tunggangannnya ke arah hutan.

“Paman Jie Siok! Apakah kita orang perlu mengikuti


jejaknya dari belakan guna melihat-lihat keadaan mereka
di sana?” seru Lie Giok Liong kemudian sambil menoleh.

“Tidak perlu!” jawab Phoa Ceng Yan menggeleng.


“Lam Thian Sam Sah bukanlah manusia baik-baik, kita
tidak boleh terpelosok kembali ke dalam jebakan yang
sengaja telah mereka pasang.”

Lie Giok Liong segera mengiakan berulang kali,


padahal dalam hati pikirnya, “Jahe semakin tua semakin
pedas, paman Jie Siok selamanya tinggi hati, tetapi
melakukan pekerjaan mengapa bisa begitu teliti dan
berhati-hati? sungguh luar biasa sekali.”

Tampaklah Shaw Kiat dengan cepatnya sudah masuk


ke dalam hutan pohon siong itu, hanya di dalam
beberapa kali tikungan ia telah lenyap tak berbekas.

Sepeminum teh kemudian, dari balik hutan pohon


siong muncullah empat sosok bayangan manusia yang
berlari mendatang dengan kecepatan bagaikan kilat.

27
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keempat orang itu sama sekali tidak menunggang


kuda, tetapi kecepatan geraknya tidak di bawah
kecepatan dari larinya seekor kuda.

Hanya di dalam sekejap saja keempat orang itu sudah


berada empat kaki di hadapan mereka bertiga.

Orang yang berada di paling depan adalah si panah


gelap Shaw Kiat, sambil menjura.

Lie Siauw Piauw-tauw! Pemimpin kami sudah tiba,


bilamana kalia ada perkataan silahkan maju untuk
berbicara!”

Lie Giok Liong segera mendongakkan kepalanya


menyapu sekejap ke arah orang-orang itu.

Tampaklah kurang lebih empat kaki di hadapannya


berdirilah tiga orang yang pertama memakai pakaian
singsat berwarna hitam dengan secarik kain pengikat
kepala, mantelnya terbuat dari kulit harimau sedang
pada lengannya mencekal sebuah senjata aneh yang
bentuknya mirip lengan manusia.

Orang yang ada disebelah kirinya memakai jubah


berwarna biru dengan dandanan seorang sastrawan,
wajahnya putih tak berkumis sedang di atas tangan
kanannya mencekal sebuah kipas.

Orang yang ada disebelah kanannya adalah seorang


gadis berbaju merah, dengan ikat kepala yang berwarna
merah pula, boleh dikata dari ujung kepala sampai ujung

28
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kakinya berwarna merah darah semua sedikitpun tidak


nampak warna lain.

Jaraknya yang terpaut empat kaki ditambah pula salju


yang turun dengan derasnya membuat Lie Giok Liong
tidak sanggup untuk melihat jelas bagaimanakah
wajahnya tetapi cukup dilihat dari pinggangnya yang
ramping, lekukan-lekukan badannya yang menggiurkan
serta wajahnya yang bulat seperti telur itik tentulah dia
orang adalah seorang gadis yang sangat cantik.

Ketiga orang itu berhenti pada jarak empat kaki dan


tidak maju lagi, jelas pihak sana ada maksud hendak
memyembunyikan asal usulnya, dan hal ini kemungkinan
sekali akan membuat Jie sioknya merasa amat gusar.

Siapa sangka ternya urusan terjadi di luar dugaannya,


belum sempat Lie Giok Liong putar badan memberi
laporan, dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan sudah
maju ke depan.

“Ayo jalan, kita temui diri mereka!” serunya.

Lie Giok Liong mengiakan, dengan cepat ia mengikuti


dari belakang tubuh Phoa Ceng Yan.

Pada saat ini di sebelah kiri dari Phoa Ceng Yan ada
Nyoo Su Jan, disebelah kanannya ada Lie Giok Liong,
setelah berjalan sejauh delapan depa mereka baru
berhenti.

“Sudah lama aku orang she Phoa mendengar nama


besar dari Lam Thian Sam Sah, ini hari bisa bertemu

29
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

boleh dikata sangat beruntung sekali” serunya sambil


menjura.

Si orang berbaju hitam yang mempunyai jenggot


panjang, bersenjatakan aneh dan berada diantara dua
orang lainnya segera mendengus dingin.

“Hm! Kami tiga orang kaka beradik selamanya disebut


oleh kawan-kawan kangouw sebagai Lam Thian Sam
Sah, Ih mu itu kami tidak berani menerimanya”.

Mendengar perkataan tersebut, air muka Phoa Ceng


Yan berubah sangat hebat, tetapi ia masih berusaha
untuk bersadar diri.

“Menurut apa yang cayhe ketahui” ujarnya. “Saudara


bertiga dengan pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie
Piauw-kiok kita sama sekali belum pernah mengikat
permusuhan. Sedang dari pihak perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kamipun belum pernah menyalahi kalian
bertiga.

Bilamana kalian bertiga ada membutuhkan sesuatu,


cayhe suka menyampaikan hal ini kepada Cong Piauw-
tauw kami, cayhe percaya dia orang tentu bisa
memberikan suatu tanggung jawab yang memuaskan
hati bagi kalian bertiga….”

Dengan amat serius Lam Thian Sam Sah berdiri di


tempat semula, tak seorangpun diantara mereka yang
mengucapkan kata-kata.

30
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mendehem, kemudian


sambungnya kembali, “Apalagi barang kawalan yang aku
orang she Phoa kawal kali ini sama sekali tidak terdapat
intan permata yang mahal harganya……”

Si Sastrawan berwajah putih yang berdiri disebelah kiri


agaknya sudah tidak sabaran lagi, mendadak ia
membentangkan kipasnya lebar-lebar lalu mengebutkan
bunga-bunga salju yang mengotori pakaiannya.

“Kami tiga bersaudara sudah mencari kabar dengan


sangat jelas sekali,” katanya cepat. “Barang berharga
apa saja yang mereka bawa tidak usah kau orang Phoa
Hu Piauw-tauw yang banyak urusi, Kita dengan pihak
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian tidak pernah
terjadi sengketa, maka dari itu kita menggunakan tata
cara yang selayaknya untuk memberi kabar kepada
kalian kemudian baru mengirim tentara. Bukankah di
dalam surat tersebut sudah diterangkan sejelas jelasnya?
Asalkan orang-orang dari perusahaan Piauw-kiok kalian
suka melepaskan senjata, maka kita orang tidak akan
turun tangan mencelakai kalian.”

Di atas wajah Phoa Ceng Yan yang berwarna merah


padam mulai terlintaslah hawa gusar yang sukar ditahan.

“Jadi kalian bertiga ada maksud hendak


menghancurkan merek perusahaan ekspedisi Liong Wie
Piauw-kiok kami?” serunya dingin.

Mendadak terdengar si gadis berbaju merah yang


disisi lelaki berbaju hitam itu tertawa cekikikan dengan
merdunya.

31
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Haaaa……..! Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Bukankah


kami tidak pernah mengatakan bila kami ada maksud
hendak menghancurkan merek perusahan ekspedisi
Liong Wie Piauw-kiok kalian?” teriaknya keras. “Tetapi
bilamana kalian betul-betul ada maksud menghalangi
usaha kita dengan menggunakan kekerasan, maka hal ini
adalah suatu peristiwa yang ak bisa dipikirkan lagi.”

Didalam hati Phoa Ceng Yan sudah mengerti bila


menghadapi situasi semacam ini hari tidak mungkin bisa
diselesaikan dengan bersilat lidah saja! Mendadak ia
menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaa…..haaa….. bilamana kalian bertiga tidak suka


menghargai diriku dan melepaskan aku orang she Phoa,
maka seperti apa yang dikatakan oleh nona itu, hal ini
adalah suatu peristiwa yang tidak bisa dipikirkan lagi.
Kami dari pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-
kiok selamanya tidak suka mencari gara-gara tanpa
alasan, tetapi kamipun tidak takut menghadapi peristiwa
yang sengaja mencari kami……..”

“hee……..he… kalau begitu sangat bagus sekali,”


sambung si orang berbaju hitam yang ada di tengah
dengan suaranya yang amat dingin.”Bilaman kau Phoa
Hu Cong Piauw-tauw merasa punya kekuatan untuk
menghadapi kami Lam Thian Sam Sah, kitapun tidak
usah banyak cingcong yang tak ada gunanya lagi.”

Si dara berbaju merah itu mendadak menekuk


pinggangnya dan mencelat ke tengah udara dengan gaya
yang amat gesit, tubuhnya dengan sangat ringan

32
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melayang turun kurang lebih delapan depa di atas


permukaan salju, ujarnya sambil tertawa, “Kami
bersaudara masih mempunyai janji dengan orang lain
sehingga tak dapat membuang banyak waktu lagi, jikalau
memang urusan sudah diputuskan demikian maka siauw
moay ada maksud hendak minta beberapa petunjuk dari
kepandaian silat Phoa Hu Cong Piauw-tauw…..!”

Phoa Ceng Yan segera mengalihkan pandangannya


memandang ke arah dara berbaju merah itu dengan
tajam.

Tampaklah wajahnya sangat cantik dengan satu


senyuman menghiasi bibirnya, jika ditinjau dari sikapnya
sama sekali tiada maksud hendak bergebrak melawan
orang lain apalagi tangannya kosong sama sekali tidak
membawa senjata tajam.

Sudah lama si telapak besi gelang emas berkelana di


dalam dunia persilatan, pengalamannyapun sangat luas
sekali di dalam menghadapi perubahan-perubahan yang
sering terjadi di dalam Bu-lim. Kini bukannya segera
turun tangan menghadapi gadis tersebut sebaliknya
malah memberi pesan wanti-wanti kepada Nyoo Su Jan
serta Lie Giok Liong untuk jangan bertindak secara
gegabah.

“Nona! Kenapa kau tidak mencabut keluar senjata


tajammu?” tanyanya kemudian sambil mendehem.

Senyuman yang semula menghiasi di atas bibir dara


berbaju merah itu mendadak lenyap tak berbekas.

33
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Senjata tajam nonaku ada di dalam badan, bilamana


kau tidak dapat menemukannya hal ini mengerti kau bila
matamu sudah buta” serunya dingin.

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan segera


memperoleh sekejap ke arah Lie Giok Liong, lalu ujarnya,
“Giok Liong! Kau pergilah menemui diri nya tetapi harus
berhati-hati, senjata yang digunakan tentulah semacam
senjata tajam yang berbentuk sangat aneh, lebih baik
setelah melihat dia orang mencabut keluar senjatanya
kau baru turun tangan.”

Lie Giok Liong mengangguk, dengan cepat ia


mencabut keluar goloknya dari dalam sarung.

Hawa murninya ditarik panjang-panjang dari pusar


mengelilinginya seluruh tubuh kemudian dengan langkah
yang lambat berjalan kehadapan si dara berbaju merah
itu.

“Cayhe Lie Giok Liong, mari biarlah aku orang


menemani nona untuk bergebrak beberapa jurus,
silahkan nona untuk mencabut keluar senjatamu”
katanya.

Agaknya si dara berbaju merah itu bersifat sangat


aneh sekali, wajah yang semula dingin kaku mendadak
tersungging kembali satu senyuman.

“Ayoh @ Mulailah turun tangan.” ujarnya. “Sudah


tentu aku bisa memperlihatkan senjata tajamku! Hati-
hatilah…..!”

34
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru saja perkataannya selesai diucapkan tubuhnya


sudah menerjang maju kedepan melancarkan satu
pukulan dashyat ke depan.

Ternyata ia sama sekali tidak memandang sebelah


matapun terhadap golo baja yang berada di tangan Lie
Giok Liong.

Dengan wajah serius Lie Giok LIong segera berkelit ke


samping.

“Bilamana nona tidak mencabut keluar senjatamu,


cayhe….”

“Bilamana nonamu merasa perlu menggunakan


senjata tajam, aku bisa mencabutnya sendiri!” potong
dara berbaju merah itu dengan cepat.

Sepasang telapak tangannya bersama-sama ditepuk


kedepan dengan menggunakan jurus Siang Hong Cian Ei”
atau sepasang angin menembus telinga.

Lie Giok Liong mengerutkan alisnya rapat-rapat,


goloknya mendadak di babat sejajar dada.

Tampaklah cahaya golok berkilauan menyilaukan


mata, dengan gaya mendatar ia membabat pinggang
lawan.

Si dara berbaju merah itu segera tertawa cekikikan,


sepasang telapak tangannya yang didorong kedepan
mendadak menekan ke arah bawah, pinggangnuya yang
menekuk tahu-tahu seluruh badannya sudah mencelat ke

35
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tengah udara menghindarkan diri dari datangnya


babatan golok tersebut.

Kemudian tubuhnya yang ada ditengah udara


berkelebat lewat dari atas batok kepala Lie Giok Liong,
sepasang kakinya dengan meminjam gerakan tesebut
melancarkan tendangan kilat menghajar batok kepala
dari lelaki tersebut.

Bilamana tendangan in sampai mengenai sasarannya,


sekalipun tidak mati sedikit-dikitnya Lie Giok Liong akan
menderita luka yang amat parah.

Pada saat yang amat kritis itulah…… mendadak


tampak Lie Giok Liong menjatuhkan dirinya ke depan,
golok di tangan kanannya dengan menggunakan jurus
“Hwee So Wang Gwat” atau menoleh ke belakang
memandang rembulan menggulung dari bawah ke atas
mengancam sepasang kaki sang dara berbaju merah
yang mengancam dirinya tadi.

Melihat datangnya babatan golok tersebut si dara


berbaju merah itu segera berjumpalitan di tengah udara,
tubuhnya gesit laksana sehelai daun kering, tahu-tahu ia
sudah melayang ke atas permukaan salju beberapa kaki
jauh dari tempat semula.

Lie Giok Liong segera menarik kembali goloknya dan


disilangkan di depan dada, ia tidak melakukan
pengejaran, sebaliknya tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee….heee…… bilamana nona tidak mencabut


keluar senjatamu, kemungkinan sekali …….”

36
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau tidak usah menyombongkan diri” bentak dara


berbaju merah itu dengan nyaring.

Tangan kanannya diayunkan ke depan, serentetan


cahaya merah dengan cepatnya meluncur ke arah lelaki
kekar tersebut.

Jarak antara mereka berdua cuma delapan depa saja,


cahaya merah itupun dengan cepatnya sudah meluncur
mendatang.

Lie Giok Liong sendiri dapat melihat pula datangnya


cahaya merah tang berbentuk tidak mirip seperti senjata
rahasia, diam-diam pikiran dalam hati.

“Senjata aneh macam apakah ini? Bagaimana mungkin


bisa disembunyikan di balik ujung baju dan diayun ditarik
semaunya sendiri??”

Di dalam hal ilmu silat, kebanyakan kelihayan dari


suatu ilmu kepandaian terletak didalam gerakan yang
cepat, siapa cepat dia yang berhasil menguasai pihak
lawannya.

Karena itu walaupun di dalam hati Lie Giok Liong


berpikir keras, tetapi gerakan tangannya sama sekali
tidak berhenti.

Goloknya dengan menggunakan jurus “Siauw Cu Si


Lie” atau membabat kaki menyambar sepatu menghajar
cahaya merah yang menyambar datang kearahnya itu.

37
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si dara berbaju merah itu segera menggetarkan


tangan kanannya, cahaya merah yang semula melayang
datang laksana seekor ular berbisa itu mendadak
berbelok lalu menyambar ke arah pergelangan tangan
kanan Lie Giok Liong yang mencekal golok.

Pada saat ini Lie Giok Liong sudah dapat melihat jelas
bila cahaya merah tadi bukan lain adalah sebuah angkin
warna merah yang amat lemas, tetapi di bawah gerakan
perubahan yang sangat lihay dari gadis tersebut ternyata
benda yang lemas itu bisa bergerak dan menyambar
semau hatinya.

Tak terasa lagi dalam hati ia merasa amat terperanjat


sekali, buru-buru pergelangan tangannnya ditekan ke
arah bawah kuda kudanya bergeser dan menyingkir
sejauh lima depa dari tempat semula.

“Kena!” bentak dara berbaju merah itu keras.

Angkin merahnya ditekan ke bawah lalu menyambar


dan menggulung ke atas.

Buru-buru Lie Giok Liong menarik napas panjang-


panjang, dengan menggunakan jurus “Han Tee Pah
COng” atau tanah tandus mencabut bawang tubuhnya
mencelat ke tengah udara setinggi sembilan depa lebih.

Maksud hati dari si dara berbaju merah itu justru


hendak memaksa pihak musuhnya mencelat
meninggalkan permukaan tanah, terdengar ia tertawa
cekikikan angkin merahnya dengan cepat mengikuti

38
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gerakan tubuh pihak lawannya meluncur ke atas dan


melibat sepasang kaki Lie Giok Liong.

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan yang


melihat kejadiaan ini segera mengerutkan alisnya rapat-
rapat, baru saja tubuhnya siap-siap bergerak maju untuk
memberi pertolongan, si dara berbaju merah itu sudah
mengerahkan tenaga dalamnya menyentak angkin
tersebut keatas.

Tubuh Lie Giok Liong tidak dapat mempertahankan


dirinya lagi, bersama-sama dengan goloknya ia mencelat
sejauh tiga empat kaki dari tempat semula.

Lie Giok Liong cuma merasakan segulung tenaga


dalam yang maha dashyat membawa tubuhnya ke
tengah udara, belum sempat ia mengambul suatu
tindakan mendadak telinganya terasa sambaran angin
yang kencang menyambar lewat diikuti kepalanya terasa
pening, matanya berkunang-kunang, dengan
menimbulkan suara yang amat keras tubuhnya sudah
terbanting keras ke atas permukaan salju.

Si panah gelap Shaw Kiat dengan cepat meloncat


maju ke depan, ditengah berkelebatnya sang jari tangan
tahu-tahu ia sudah menotok jalan darah dari Lie Giok
Liong.

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yang adalah


seorang yang berpikiran panjang, melihat kesempatan
untuk menolong anak buahnya sudah tidak sempat lagi
dengan cepat pikirannya berubah, ia tidak lagi berusaha

39
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk turun tangan menolong anak buahnya sebaiknya


malah berbisik kepada Nyoo Su Jan yang ada disisinya.

“Permainan angkin dari perempuan ini sangat aneh


dan lihay sekali, sebentar lagi biarlah loohu turun tangan
sendiri.”

Lie Siauw Piauw-tauw sudah tertawan musuh, apakah


majikan kedua tidak ada maksud untuk menolong
orang?” tanya Nyoo Su Jan cepat.

“Melindungi barang kawalan lebih penting asalkan


mereka tidak turun tangan membinasakan Giok Liong
pada saat ini juga, aku rasa dirinya tidak bakal terjadi
suatu peristiwa yang mengerikan, cepat kau kembali ke
kereta untuk melindungi barang kawalan kita itu.”

Diam-diam Nyoo Su Jan mulai mempertimbangkan


berat-entengnya urusan ini, akhirnya ia merasa bila
perkataan dari Phoa Ceng Yan sedikitpun tidak salah.

Tujuan dari Lam Thian Sam Sah adalah hendak


membegal barang kawalan, asalkan barang-barang
tersebut tidak sampai lenyap maka merek perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok-pun akan berhasil dilindungi.

Setelah di dalam hatinya mengambil keputusan, iapun


segera berbisik ke arah si orang tua itu, “Jie Tang
Kia!(majikan kedua) walaupun kepandaian silat yang kau
miliki sangat tinggi, tetapi lebih baik jangan bergebrak
terlalu lama, melindungi barang kawalan jauh lebih
penting….”

40
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku sudah tahu!” potong si orang tua itu dengan


cepat, “cepat kau mengundurkan diri dari sini dan balik
ke kereta. Toa Hauw rada bebal sedang Cun Jia masih
muda dan tidak banyak mengetahui urusan, mengatur
siasat di dalam musuh masih harus menunggu
kedatanganmu.”

Nyoo Su Jan tidak dapat berpikir lebih panjang lagi, ia


mengiakan lalu mengundurkan diri dari tempat itu.

Waktu itu si dara berbaju merah tersebut sudah


menarik kembali angkin merahnya dan dengan genit
berjalan mendekat.

“Aaach…. orang muda jaman sekarang semakin


bergebrak semakin tua tidak bersemangat” serunya
sambil tertawa. “Kelihatannya kau Phoa Hu Cong Piauw-
tauw harus turun tangan sendiri”.

“heee…..heee…. Nona! Kau jangan sombong dulu!”


kata Phoa Ceng Yan sambil mendehem perlahan. “Aku
orang she Phoa sudah ada puluhan tahun lamanya
melakukan pekerjaan mengawal barang dan mengalami
pula berbagai badai hujan yang besar maupun kecil,
tetapi ….. loohu ada beberapa patah kata yang hendak
diucapkan terlebih dahulu sebelum kita mulai bergebrak.”

“Hii…. hii…… bagus sekalu siauw-moay akan pentang


lebar telinga untuk mendengarkan perkataanmu”

“Hmm! Orang-orang kangouw memberi julukan si


telapak besi gelang emas kepada aku orang she Phoa,
gunakan senjata rahasia gelang emas akan memberi

41
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanda terlebih dulu tetapi nama besar Lam Thian Sam


Sah sangat cemerlang, kepandaian silatnyapun tinggi,
maka dari itu di sini aku tidak akan memberi tanda
sewaktu hendak melancarkan senjata rahasia”.

“Heee…..heee…… kawan kawan kangouw yang sering


menggunakan senjata rahasiapun sedikit jumlahnya, hal
ini aku rasa tidak patut diherankan” kata si dara berbaju
merah itu tawar.”Kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw ada
berapa banyak gelang emas yang kau bawa boleh
dikeluarkan semua, bilamana semisalnya aku menderita
luka, maka hal ini cuma bisa salahkan kepandaian silatku
kurang becus. Kau masih ada perkataan apa lagi yang
hendak diucapkan? Kalau sudah bergebrak tak ada waktu
untuk berbicara lagi lhoo!”

Phoa Ceng Yan sengaja memberi keterangan soal


senjata rahasia gelang emasnya, hal ini sebenarnya tidak
lebih hanya merupakan jebakan yang sedang menjirat
pihak lawannya saja.

Walaupun si dara berbaju merah itu binal dan nakal


tetapi ia kena terjirat juga oleh perkataan dari Phoa Ceng
Yan si jago kawakan dari Bulim ini.

Menanti gadis itu telah selesai mengucapkan kata-kata


tersebut, Phoa Ceng Yan baru mengutarakan isi hati
yang sebenarnya.

“Bilamana nona berbicara demikian, aku orang she


Phoa malah ingin menanyakan kembali akan satu
persoalan”.

42
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Urusan apa?”

Tadi cayhe sudah pernah terangkan barang kawalan


dari perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kami kali
ini tidak bisa dikatakan barang kawalan sebaliknya
merupakan keselamatan dari satu keluarga rakyat biasa,
ada tua ada muda ada lelaki ada perempuan, aku orang
she Phoa benar-benar merasa tidak paham, dengan
nama besar Lam Thian Sam Sah, kenapa mendadak bisa
mengincar nyawa beberapa orang tua yang lemah tak
bertenaga itu”.

Kendati mereka lemah, tetapi perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok tidak lemah, barang kawalan yang ditangani
sendiri oleh kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw tentu
bukannya suatu barang kawalan yang murah
harganya……” kata si dara berbaju merah itu.

“Justeru yang tidak aku orang pahami adalah dalam


soal ini, sebenarnya kalian tiga bersaudara sengaja
mencari Liauw yang lemah gemulai tak bertenaga itu??
Ataukah sengaja hendak mencari gara-gara dengan kami
pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok?
Bilamana kalian sengaja mencari gara-gara dengan
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami maka urusan
mudah sekali diselesaikan, hari selanjutnya masih
panjang, kita bisa teruskan suatu hari dan bulan untuk
menyelesaikan persoalan ini baik secara damai maupun
diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian silat
masing-masing, dengan begitu hal ini tidak sampai
mengikut sertakan keluarga lain yang sama sekali tidak
tahu menahu urusan apalagi bisa melemahkan nama

43
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

besar kalian Lam Thian Sam Sah di dalam dunia


kangouw!”

Jilid 2

“Heey…… kau orang benar-benar tidak malu disebut


sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman,
perkataan-mu benar-benar sangat tajam sekali!” seru si
dara berbaju merah itu keras. “Bilamana kedatangan
kami justeru bertujuan pada keluarga Liuw itu, lalu kau
mau apa?”

“Membuka perusahaan ekspedisi, yang dipentingkan


adalah perdagangan, pemilik barang serta langganan
membayar uang, kita lantas melindungi keselamatan
mereka sekeluarga, hal ini boleh dikata sama dengan
menjual nyawa buat mereka, “Sekalipun tidak melihat di
atas wajah emas pandanglah wajah sang Budha. “Kita
sama-sama adalah orang Bu-lim, bilamana saudara
bertiga suka melepaskan diri kami hari ini, bukan saja
cayhe merasa sangat berterima kasih atas kebaikan budi
kalian tiga bersaudara, yang lain lolap tidak berani bicara
sombong. Cong Piauw-tauw kami paling gemar berkawan
dengan jago-jago kangouw, enam karesidenan di daerah
utara tak seorangpun yang tidak tahu bilamana
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami belum pernah
mengalami pembegalan, yang penting dari kesemuanya
ini sebetulnya tidak lain dikarenakan kawan-kawan
kangouw suka memberi muka kepada kami.”

44
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ehmm…! Soal ini sejak semula kami sudah berhasil


memperoleh kabar yang sangatt jelas sekali, jangan
dikata Cong Piauw-tauw kalian, cukup kau si telapak besi
gelang emas Pho Hu Cong Piauw-tauw-pun sudah
dipandang tinggi oleh orang-orang yang ada di dalam
enam karesidenan di daerah utara, yang jatuh
kecundang di bawah tanganpun paling sedikit ada tiga
empat puluh orang banyaknya, kalau memangnya kita
berani turun tangan untuk membegal barang kawalan
kalian pada kali ini, terus terang saja sejak semula kami
sudah memperhitungkan pula atas kelihayan-nya,
berhasil atau gagal pokoknya tidak akan merugikan
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian….”

“Baiklah!” seru Phoa Ceng Yan kemudian sambil


mengulapkan tangannya. “Bilamana kalian bertiga benar-
benar ada maksud untuk turun tangan menahan barang
kawalan kami, aku orang she Phoa pun tidak ingin
menebalkan muka untuk memohon lagi pada kalian Lam
Thian Sam Sah pun merupakan orang yang mempunyai
muka di dalam dunia kangouw, aku harap kau suka
bergebrak sesuai dengan peraturan Bu-lim.”

“Ooouw…. membegal barang kawalanpun masih ada


peraturannya juga? waah…waah… soal ini terpaksa
siauw-moay harus minta petunjuk dari dirimu” goda si
dara berbaju merah itu sambil tertawa cekikikan.

Selama ini si lelaku kasar bersenjata aneh serta si


sastrawan berjubah biru itu tetap berdiri di tempat
semula tanpa bergerak maupun ikut berbicara barang
sepatah katapun, agaknya segala urusan sudah

45
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diserahkan kepada si dara berbaju merah yang paling


kecil ini untuk mengambil keputusan.

Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai menghitung waktu,


ketika dirasanya waktu sudah cukup bagi Nyoo Su Jan
untuk mengatur siasat penjagaan ia baru tertawa tawar.

“Harap kalian jangan melukai langganan kami, yang


mengawal benda tersebut adalah perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok, maka dari itu kalian boleh langsung mencari
aku orang she Phoa untuk bikin beres urusan ini, hutang
ada pemiliknya, dendam ada penyebabnya, kalian
janganlah sekali-kali mencelakai langganan kami.”

“Hiii…..hiii… jika demikian adanya, kau Pho Hu Cong


Piauw-tauw agak sudah tidak mempunyai kepercayaan
lagi untuk mempertahankan barang kawalanmu kali ini
bukan?” goda si dara berbaju merah itu kembali sambil
tertawa cekikikan.

“Untuk sementara lebih baik nona jangan


menyombongkan diri terlebih dulu, siapakah yang bakal
menang dan siapa yang bakal angsor siapapun diantara
kita tak bisa menentukan mulai sekarang!”

“Heee….heee…. kalau begitu kau boleh mulai turun


tangan!”

Walaupun di dalam kalangan dunia kangouw nama


Lam Thian Sam Sah sudah terkenal akan telengasnya,
tetapi bilamana membicarakan soal pengalaman di dalam
dunia persilatan sulit untuk menangkan diri si telapak
besi gelang emas.

46
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan sama sekali tidak dibuat gusar oleh


perbuatan dari si dara berbaju merah itu, sembari diam-
diam melakukan persiapan ujarnya dingin, “Perkataan
dari aku orang she Phoa belum selesai…..” Tubuh si dara
berbaju merah pada saat itu sudah berada sangat dekat
dengan diri Phoa Ceng Yan, agaknya ia ada maksud
untuk segera turun tangan.

Tetapi sewaktu dilihatnya Phoa Ceng Yan belum ada


maksud untuk turun tangan bahkan berbicara kembali,
terpaksa ia menahan sabar.

“Kalau begitu cepatlah kau katakan!” teriaknya keras.

“Menurut peraturan dunia kangouw, dengan


kecemerlangan nama Lam Thian Sam Sah kalian hendak
membegal barang kawalan orang lain maka perbuatan
kalian tidak lebih seperti pencuri itik, pembegal anjing
yang paling rendah derajatnya, sekalipun ini hari aku
orang she Phoa harus jatuh kecundang di tangan kalian
tiga bersaudara dan rubuh bermandikan darah, hal ini
anggap saja kepandaian ilmu silat aku orang she Phoa
tidak becus dan memang sepatutnya mati, melakukan
perjalanan, di rumahpun ada peraturan rumah, sekalipun
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita tidak akan
melaporkan peristiwa ini kepada pengadilan, harap kalian
bertiga suka mempertahankan barang-barang kawalan
kami selama tiga bulan, kemudian menyurati Cong
Piauw-tauw kami untuk meminta kembali barang-barang
tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.”

“Bila tiga bulan sudah penuh?”

47
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bilamana demikian adanya maka terserah kalian


hendak berbuat apa terhadap barang-barang itu, karena
dengan demikian kematian dari aku orang she Phoa
sama sekali tidak sampai merusak merek perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kamu, bilamana nona berani
menyanggupi usul ini, maka sekalipun aku orang she
Phoa harus matipun dengan puas, sedang nama dari
kalian tiga bersaudara pun tidak sampai tercemar di mata
kawan-kawan Bu-lim lainnya.

“Tetapi apakah kebaikannya dari syarat tersebut


terhadap kami tiga bersaudara?”

“Membegal ada peraturannya, bilamana kalian Lam


Thian Sam Sah tidak suka mengikuti peraturan ini, maka
kawan-kawan dari golongan Hek-to maupun Pek-to tidak
akan memandang kalian lagi…”

Mendadak ia mendongakkan kepalanya tertawa


terbahak bahak……… lalu sambungnya kembali,
“Bilamana semisalnya kalian bertiga benar-benar sekali
lagi mengalahkan Cong Piauw-tauw kami dan
mempertahankan barang-barang tersebut tidak sampai
diminta kembali, maka enam kerisidenan di daerah Kiang
Pak serta dua belas perusahaan piauw-kiok beserta
lainnya akan secara rela mendekati kalian, sampai waktu
itu bukan saja nama Lam Thian Sam Sah akan
cemerlang, hidup kalian-pun boleh dikata terjamin
penuh!”

“Baiklah! Kita tentukan demikian saja,” sahut si dara


berbaju merah itu kemudian setelah termenung

48
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebentar. “Biarlah nonamu mempertanggung jawabkan


soal ini”

“Apakah nona sungguh-sungguh bisa mengambil


keputusan di dalam persoalan ini?”

“Hmm! Walaupun aku Ang Nio Cu adalah kaum


perempuan, tetapi perkataan yang sudah diucapkan
keluar selamanya tidak pernah ditarik kembali.”

“Baik! Berdasarkan perkataan dari nona itu, loolap


memuji dirimu sebagai seorang pendekar perempuan
yang gagah perkasa.”

“Heeee……heeee…… sudah habis perkataanmu?”


tanya Ang Nio Cu kemudian dengan nada yang amat
dingin.

“Perkataan dari loolap sudah selesai!”

“Hiii…. hiii…. kalau begitu terimalah seranganku ini!”


tiba-tiba teriak Ang Nio Cu sambil tertawa cekikikan.

Tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan, telapak


tangannya dengan menimbulkan segulung hawa pukulan
yang maha dashyat menghajar ke atas tubuh pihak
lawannya.

“Serangan yang bagus” puji Phoa Ceng Yan keras,


kaki kirinya segera melesat setengah langkah ke
samping, huncwee di tangan kanannya dengan
menggunakan jurus “Hua Liong Thian Cing” atau melukis

49
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Naga menutul mata melancarkan totokan ke arah telapak


tangan Ang Nio CU yang sedang melancarkan serangan.

“Nona! Ayoh gerakkan senjatamu” teriaknya.

Di luar ia berkata demikian, padahal dalam hati diam-


diam pikirnya, “Bagus sekali! Ternyata budak amat licik,
karenaya sewaktu hendak melancarkan serangan tadi
sengaja ia memperlihatkan satu senyuman sehingga
pihak lawan merasa datangnya serangan tersebut berada
di luar dugaan.”

Ang Nio Cu sewaktu melihat ayunan huncwee dari


Phoa Ceng Yan dengan amat tepat sekali berhasil
menemukan jalan darah pada pergelangan tangan
kanannya dalam hati diam-diam merasa amat
terperanjat.

“Si tua bangka ini benar-benar merupakan seorang


jagoan lihay” pikirnya dalam hati. “Di dalam sekali
serangan, arah yang dituju serta sangat tepat sekali, aku
tidak boleh bersikap gegabah terhadap dirinya….”.

Tergopoh-gopoh tubuhnya berputar mengikuti


gerakkan tangan dan melayang sejauh delapan depa ke
samping.

Jagoan lihay bergebrak cukup dengan serangan


pertama sudah tau pihak musuhnya berisi atau tidak,
sewaktu Ang Nio Cu memutar badan berkelebat
menyingkir ke samping tadi dalam hati Phoa Ceng Yan
sudah mempunyai perhitungan yang sangat masak.

50
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia mengetahui senjata angkin merah dari Ang Nio Cu


yang disembunyikan di balik ujung baju merupakan suatu
serangan yang aneh dan dashyat, apalagi ilmu
meringankan tubuhnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari
dirinya. Gerakan tubuhnya yang berkelebat ke samping
ini pasti akan disusul dengan suatu serangan balasan
yang amat lihay.

Phoa Ceng Yan, si jago kawakan yang banyak


pengalaman, menghadapi musuh yang sangat tangguh
ini ia bersikap sangat berhati-hati, melihat musuhnya
mundur dia orang sama sekali tidak mengadakan
pengejaran.

Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, begitu


ujung kaki Ang Nipo Cu menginjak permukaan tanah
tanpa menoleh lagi ia melancarkan satu serangan
balasan yang sangat hebat.

Serentetan cahaya merah laksana pelangi yang


terbentang di tengah angkasa langsung menyapu datang
dengan gerakan mendatar.

Phoa Ceng Yang dengan tenang berdiri tegak di


tempat semula, menanti serangan angkin merah itu
hampir mengenai tubuhnya ia baru mencelat ke tengah
udara, huncwee di tangannya dengan menggunakan
jurus “Koay Coa Jut Hiat” atau Ular aneh keluar dari
sarang menoton ke arah tubuh musuhnya.

Di dalam hal ilmu silat, yang penting adalah


kecermatan pandangan serta kecepatan gerak, siapa
cepat dia yang berhasil merebut posisi menguntungkan.

51
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tubuh Phoa Ceng Yan yang mencelat ke tengah udara


ini dengan tepat berhasil mengisi kekosongan ruangan di
antara kelebatan angkin merah dari Ang Nio Cu tersebut.

Tidak malu Ang Nio Cu disebut jagoan lihay, melihat


posisinya tidak menguntungkan dan serangan musuh
melanda sangat dashyat, angkin merahnya yang sedang
melancarkan serangan tadi dengan mengikuti gerakan
tubuh berputar satu lingkaran besar, sedang tubuhnya
mengambil kesempatan tersebut mencelat dan bersalto
beberapa kali di tengah udara sejauh satu kaki sehingga
berhasil menghindarkan diri datangnya serangan
tersebut.

“Hmmm! Ilmu meringankan tubuh nona sungguh


hebat sekali!” dengus Phoa Ceng Yan dingin.

Ang Nio Cu yang beberapa kali kehilangan posisi yang


menguntungkan, dari perasaan malu ia jadi gusar.
Angkin merahnya kembali disentakkan lalu menggulung
ke depan dengan gerakan mendatar.

Di dalam hati Phoa Ceng Yan sudah punya


perhitungan, bilamana di dalam tiga lima gebrakan lagi
dirinya berdasarkan pengalaman yang banyak di dalam
menghadapi beratus-ratus kali pertempuran berhasil
menangkap Ang Nio Cu untuk dijadikan sandaran bukan
saja keselamatan Giok Liong akan terjamin, bahkan
dengan mengandalkan keselamatan perempuan ini ada
kemungkinan sekali barang kawalannya berhasil
melewati rintangan ini dengan selamat.

52
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tetapi di dalam hati iapun merasa sangat paham, si


orang berbaju hitam serta sang pemuda berjubah biru itu
tidak akan membiarkan Ang Nio Cu kena dia tawan tanpa
turun tangan memberi pertolongan, oleh karena itu satu-
satunya harapan yang bisa ia pegang untuk memperoleh
kemenangan ini adalah mengandalkan gerakan yang
“Cepat”.

Cepat sehingga kedua orang itu tidak sempat turun


tangan memberi bantuan, bilamana semisalnya kekuatan
musuh terlalu kuat dan sulit untuk mencapai sesuatu
keadaan sesuai keinginannya maka terpaksa ia harus
mengundurkan diri ke tempat perhentian kereta-kereta
kawalannya kemudia dengan menggunakan tenaga
gabungan dari Nyoo Su Jan serta Thio Toa Hauw
bersama-sama mengandalkan perlawanan sekuat tenaga.

Setelah si orang tua ini merencanakan siasat maju


mundurnya dalam hati, hawa murninya dengan cepat
disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh tubuh.

Kuda-kudanya diperkuat, huncwee ditangannya


diangkat menyambut datangnya serangan tersebut.

Melihat gerakan dari pihak lawannya, diam-diam Ang


Nio Cu memaki.

“Si tua bangka ini benar-benar amat sombong!”

Angkinnya diputar, dengan kecepatan laksana kilat


mengurung huncwee tersebut.

53
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakannya ini dilakukan sangat cepat sekali, tahu-


tahu angkin sudah mengikat sang huncwee erat-erat dan
ditarik, dengan sekuat tenaga ke arah belakang.

Segulung tenaga yang amat besar segera membetot


tubuh si orang tua itu maju ke depan.

Walaupun sejak semula Phoa Ceng Yan sudah


mengadakan persiapan, tidak urung badannya kena
ditarik juga sehingga meninggalkan permukaan tanah
oleh betotan angkin dari Ang Nio Cu itu.

Diam-diam hatinya merasa amat terperanjat pikirnya.


“Aaakh …..! Sungguh tidak kusangka budak ini
mempunyai tenaga dalam yang demikian dashyatnya.”

Dengan cepat kaki kirinya maju selangkah ke depan,


sedang tangan kirinya diayun sambil membentak. “Nona!
Lihat serangan.”

Tiga titik cahaya emas yang menyilaukan mata dengan


cepat laksana kilat menyambar tubuh Ang Nio Cu.

Phoa Ceng Yan terkenal sebagai si telapak besi gelang


emas, kecuali memiliki ilmu pukulan Thiat Sah Ciang
yang amat lihay, senjata rahasia gelang emasnya boleh
dikata merupakan suatu ilmu tunggal yang tiaada
tandingannya.

Jarang sekali ada jagoan Bu-lim yang berhasil


meloloskan diri dari serangan senjata rahasia gelang
emasnya ini dan jarang pula ada yang berani melihat di
manakah gelang-gelang emas itu disembunyikan.

54
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampaklah di antara ayunan tangannya gelang-gelang


emas beterbangan laksana kilat bahkan gelang-gelang itu
disambit sesuai dengan jurus serangan yang digunakan
sehingga boleh dikata kedashyatannya sulit untuk
dicarikan tandingannya.

Dengan mengandalkan angkin merahnya yang lemas


Ang Nio CU dapat menahan serangan golok serta pedang
tajam, kesemuanya ini dikarenakan ia sudah
mengandalkan jurus serangan yang aneh serta
pengerahan tenaga dalam yang tepat pada waktunya.

Tetapi Phoa Ceng Yan sudah mengadakan persiapan


sejak semula, ia mengerahkan ilmu bobot seribu katinya
untuk memantek sepasang kaki di atas tanah, kedua
buah kakinya ini seperti tiang kayu yang tertanam di
tanah saja sedikitpun tak dapat tergeser.

Sewaktu Ang Nio Cu melihat datangnya serangan


Huncwee tadi, ia sudah merasa dirinya bertemu musuh
tangguh sehingga angkinnya buru-buru ditarik kembali,
siapa sangka ketika itulah gelang emas dari Phoa Ceng
Yan dengan menimbulkjan suara desiran tajam sudah
mengancam datang.

Jarak antara mereka berdua sangat dekat sekali,


datangnya serangan gelang emas itupun cepatnya luar
biasa memaksa Ang Nio Cu dalam keadaan kepepet
harus mengeluarkan ilmu “Thian Pan Kiauw” atau
jembatan gantung yang merupakan ilmu pantangan bagi
kaum wanita.

55
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tubuhnya menjatuhkan diri ke arah belakang dengan


punggung menempel di atas permukaan salju.

Kendati perubahan geraknya dilakukan sangat cepat,


tidak urung pundaknya kena tersambar juga oleh
sebatang gelang emas sehingga pakaian merahnya robek
dan melukai tubuhnya.

Bilamana misalnya pada waktu itu Phoa Ceng Yan


menambahi lagi beberapa batang gelang emas maka Ang
Nio Cu tak dapat terhindar lagi pasti akan menderita luka
yang amat parah.

Tetapi hatinya welas kasih dan tidak ingin turun


tangan jahat terhadap gadis itu, ia hanya mengharapkan
bisa menawan Ang Nio Cu hidup-hidup untuk digunakan
sebagai sandera.

Tubuhnya dengan cepat menubruk maju ke depan,


Huncwee di tangannya menekan ke arah bawah menotok
tubuh Ang Nio Cu.

Di dalam keadaan yang amat kritis ini, gadis berbaju


merah itu sama sekali tidak jadi gugup. Ilmu
meringankan tubuhnya yang sangat sempurna dengan
cepat disalurkan keluar.

Tampak tubuhnya berputar menghindar diri dari


totokan huncwee di tangan Phoa Ceng Yan kemudian
mencelat bangun dari atas tanah.

Bayangan merah berkelabat secepat angin berlalu,


tahu-tahu tubuhnya sudah berada satu kaki di tengah

56
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

udara, di mana tangannya berkelabat angkin merahnya


laksana seekor ular melibat tangan kiri dari si orang tua
itu.

Diam-diam Phoa Ceng Yan berteriak sayang, tangan


kirinya dibalik lima jarinya dipentangkan mencengkeram
angkin tersebut dengan sebatnya.

Tetapi gerakan dari Ang Nio Cu jauh lebih cepat dari


dirinyam mengambil kesempatan itu tangannya
menyerok ke depan dengan sepenuh tenaga.

Phoa Ceng Yan kontan merasakan tubuhnya tak dapat


berdiri tegak lagi dan terlempar empat lima depa ke
depan kemudian jatuh terlentang di atas tanah.

Melihat musuhnya jatuh, Ang Nio Cu tidak kasih


banyak kesempatan lagi buat lawannya untuk banyak
berkutik, angkinnya kembali digetarkan mengancam
sepasang kaki si orang tua itu.

Phoa Ceng Yan sejak terjunkan dirinya ke dalam dunia


kangouw pada dua puluh tahun yang lalu, belum pernah
dia orang jatuh kecundang seperti ini hari, dalam hati
sedihnya bukan alang kepalang.

Tetapi pertempuran ini bukanlah suatu pertandingan


pi-bu yang dianggap selesai setelah kena ditutul,
walaupun dalam hati ia merasa amat sedih iapun harus
bangkitkan semangat kembali untuk melawan musuh.

Melihat Angkin merah dari Ang Nio CU kembali


menyambar datang, hatinya merasa berdesir. Ia tahu

57
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bilamana kali ini sepasang kakinya kena tergulung


kembali maka geguyon ini tidak akan kecil.

Tubuhnya bukan saja terlempar sejauh satu kaki saja,


kemungkinana sekali ia akan terpental dan jatuh
terjengkang seperti monyet menubruk katak.

Karena itu buru-buru tangannya diayun ke depan,


empat batang gelang emas dengan menimbulkan suara
desiran tajam menyambar ke arah depan.

Tidak lama berselang Ang Nio Cu sudah merasakan


pahit getir di bawah serangan gelang emas itu karenanya
ia tahu lihay dan tak berani melanjutkan serangannya
kembali.

Tubuhnya buru-buru berkelit ke samping


menghindarkan diri dari datangnya serangan senjata
rahasia, kemudian mencelat ke tengah udara sejauh
enam tujuh depa dari tempat semula.

Sewaktu Ang Nio Cu berkelebat untuk menghindarkan


diri itulah, ditengah permukaan salju kembali terlihat
berkelebatnya sesosok bayangan manusia dengan amat
cepatnya.

Dengan kebutan kipas yang membuka menutup, tahu-


tahu keempat batang gelang emas dari Phoa Ceng Yan
sudah kena tersapu lenyap tak berbekas.

Waktu itu Phoa Ceng Yang sudah berhasil bangun


berdiri, ketika ia mengalihkan pandangannya maka
tampaklah di posisi tubuh Ang Nio Cu pada saat itu telah

58
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdirilah si siaucay berwajah putih berjubah biru itu


dengan amat tenang.

Si siucay berbaju biru itu mendadak membentangkan


kipasnya lebar-lebar sehingga keempat gelang emas
yang kena tersapu tadi jatuh ke atas permukaan salju,
kemudian tertawa terbahak-bahak dengan keras.

“Haaa….haaa……. walaupun sam moay berhasil kau


babat pundaknya sehingga terluka tetapi kau sudah seri
dengan menjatuhkan dirinya sehingga tertelentang.
Walaupun tidak bisa dikata memperoleh kemenangan
besar, tetapi kaupun tidak dikalahkan, coba kau
berdirilah di samping untuk menjagakan Jie komu, aku
ingin mencoba=coba dia orang sudah membawa
seberapa banyak gelang emas,”katanya.

Phoa Ceng Yan yang melihat dia orang dapat


menyapu keempat batang gelang emasnya di dalam
sekali sambaran tanpa menimbulkan suara sedikitpun,
dalam hati merasa amat terperanjat, pikirnya.

“Orang ini dapat menyapu keempat batang gelang


emasku tanpa menimbulkan sedikit suarapun, hanya
mengandalkan kepandaian ini saja aku sudah merasa tak
berhasil memadahinya.”

Dia orang mana tahu bila kipas yang ada ditangan


Loojie dari Lam Thian Sam Sah ini terbuat dari serat
emas, serat perak, serta serat rambut dan merupakan
sebuah senjata yang sangat aneh khusus untuk
menghadapi berbagai senjata rahasia.

59
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Permukaan kipas yang keras tapi halus itu mempunyai


daya pental yang amat besar, sekalipun senjata rahasia
tajamnya bagaimanapun sulit untuk merusak permukaan
kipas tersebut apalagi mengeluarkan suara.

Walaupun dalam hati Phoa Ceng Yan merasa sangat


kaget, tetapi urusan sudah ada di depan mata sudah
tentu ia tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali secara
diam-diam menyalurkan hawa murninya mengelilingi
seluruh tubuh.

“Haa……haa…..kawan!” serunya sambil tertawa


terbahak-bahak. “Kepandaianmu di dalam menyikat
senjata rahasia sangat lihay sekali, aku orang she Phoa
sudah hidup setengah abad lamanya tetapi baru kali ini
dapat melihat kepandaian tersebut untuk pertama
kalinya.”

“Haaa…..haaa….. bilamana kami Lam Thian Sam Sah


tidak memiliki sedikit andalan, bagaimana mungkin
berani mengganggu barang kawalan dari piauw-kiok
nomor satu pada saat ini??” seru si siucay berbaju biru
itu pula sambil tertawa terbahak-bahak. “Kau si telapak
besi gelang emas saat ini sudah membawa berapa
banyak gelang emas haaaaaa?? Ayo keluarkan semua!
Jika kau belum pernah melihat kepandaian semacam ini,
maka ini hari aku akan pamerkan kepandaian tersebut di
hadapanmu”.

“Hmm!” dengus Phoa Ceng Yan dingin. “CUkup


berdasarkan perkataan yang baru saja kawan ucapkan ini
seharusnya aku orang she Phoa minta beberapa petunjuk
darimu, cuma …. kali ini aku orang she Phoa sedang

60
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempertanggung jawabkan nyawa puluhan orang,


biarlah kemangkelan kali ini cayhe tahan sampai lain
waktu, bilamana di kemudian hari kita bertemu muka lagi
maka ganjelan kita kali ini sekalian kita selesaikan”.

“Heee……heee…… bagus sekali ,” ujar si siucay


berbaju biru itu sambil tertawa dingin. “Bilamana kita
lewatkan kesempatan yang amat bagus ini kali,
kemungkinan sekali di kemudian hari sudah tak ada
waktu lagi untuk bertemu ……”

Mendadak air mukanya berubah hebat, dengan nada


yang amat dingin sambungnya,”Kau sudah melanggar
pantangan dari Loo toa kami, hal ini berarti pula kau
mencari penyakit dan kemusnahan buat diri sendiri….”.

Dengan paksakan diri menahan rasa gusar di dalam


hatinya, Phoa Ceng Yan segera merangkap tangannya
menjura.”Tadi aku sudah membicarakan persoalan ini
dengan Sam ku Nio, harap kalian suka menggunakan
peraturan Bu-lim untuk melakukan pekerjaan ini. Lam
Thian Sam Sah bukanlah manusia tak bernama di dalam
dunia kangouw dan kemudian hari masih ingin tancapkan
kaki terus di dalam Bu-lim, maka dari itu bilamana kalian
hendak membegal barang kawalanku maka Loolap
berharap jangan membunuh orang-orang yang tak
bertenaga untuk memotong seekor ayampun, sedang
mengenai nyawa dari piauw-su piauw-su piauw-kiok,
bilamana kalian mau bunuh bunuhlah, paling-paling kami
harus kehilangan selembar nyawa!”

Tidak menanti jawaban dari si siucay berbaju biru itu


lagi, tubuhnya segera meloncat keluar dari kalangan dan

61
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengundurkan diri ke arah pemberhentian kereta-kerata


tersebut.

Tindakan dari Hu Cong Piauw-tauw perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok ini benar-benar di luar dugaan si siucay
berbaju biru serta Ang Nio CU, tak terasa lagi mereka
jadi terkesima dibuatnya.

Beberapa saat kemudian dengan langkah yang lambat


Ang Nio Cu berjalan ke sisi si siucay berjubah biru itu
sambil bisiknya, “Jie-ko! Phoa Ceng Yan bukan saja
memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat lihay bahkan
mempunyai kecerdikan yang melebihi orang lain,
pengetahuannya di dalam menghadapi musuh-pun
sangat luas, kita tidak boleh terlalu pandang enteng
dirinya. Kini dia orang telah mengundurkan diri ke
tempat pemberhentian kereta-kereta kawalannya, hal ini
jelas memperlihatkan bila ia sedang mengumpulkan
seluruh tenaganya untuk melakukan suatu pertempuran
mati-matian melawan diri kita ……!”

“Ilmu menyambit senjata rahasia gelang emas yang


diandalkan oleh Phoa Ceng Yan memang lain daripada
yang lain dan ilmu tersebut benar-benar merupakan
sebuah ilmu yang maha sakti,” kata si siucay berbaju biru
itu sambil tertawa. “Tetapi, setelah bertemu dengan aku
orang dikata hari sial baginya sudah tiba. Kipas tulang
bajaku ini memang khusus digunakan untuk menghadapi
serangan-serangan senjata rahasia, di dalam ilmu
kepandaian ini saja Jie-komu sudah ada empat lima belas
tahun latihan, aku rasa senjata rahasia yang ada di
dalam kolong langit pada saat ini dapat siau heng hadapi
semua, ayoh jalan! Kita kejar mereka dan lihat keadaan

62
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

situasi yang ada, jauh lebih baik bilamana jangan


membiarkan Toa-ko turun tangan sendiri.

Mereka berdua sembari berbicara sembari melanjutkan


perjalanannya dengan langkah lebar menuju ke tempat
pemberhentian kereta-kereta kawalan itu.

Lam Thian Sam Sah walaupun belum mempunyai


pengalaman yang sangat banyak di dalam menghadapi
pertempuran, tetapi setelah melihat bentuk posisi dari
kereta-kereta kawalan itu diam-diam dalam hati merasa
terperanjat juga sehingga kedua orang itu sudah
menghentikan langkahnya pada jarak kurang lebih empat
lima kaki dari kereta-kereta itu.

Kiranya, kelima buah kereta tersebut dengan


mengikuti kedudukan Ngo Heng kini sudah diatur sangat
rapi sekali, kuda-kuda jempolan penghela kereta-pun
telah dilepaskan semua.

Salju turun dengan derasnya, barisan kereta yang ada


di depan mata serasa semakin menyeramkan bahkan
secara samar-samar tersembunyi hawa membunuh yang
sangat tebal.

Terdengar si siucay berbaju biru itu mendehem


perlahan.

“Sam-moay, barisan kereta-kereta itu agaknya


mempunyai perubahan yang sangat banyak sekali”
katanya.

63
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ehmm…” begini saja, biarlah siauw-moay pergi


mencoba terlebih dulu sedang Ji-ko mengawasi dari
samping, bilamana sudah menemukan titik kelemahan
kau baru turun tangan” sahut Ang Nio Cu kemudian.

Ia merasa ilmu meringankan tubuhnya sangat


sempurna, maka dari itu dalam hati ada maksud hendak
memancing bergeraknya barisan-barisan itu sehingga
memberi kesempatan buat si siucay berbaju biru itu
untuk memeriksa titik-titik kelemahannya.

“Tidak bisa jadi” seru sastrawan berbaju biru itu


menggeleng tiada hentinya. “Lebih baik aku saja yang
pergi memeriksa kekuatan dari pihak musuh. Menurut
pikiranku bila kita berjalan mendekat ke arah sana maka
orang-orang di balik barisan kereta-kereta ini tentu akan
mengandal ilmu menyambit senjata rahasia untuk
mengacaukan pikiran musuh, aku percaya kipasku ini
masih merupakan tandingan dari senjata-senjata rahasia
mereka. Sam-moay! Kau awasi saja dari samping
kalangan.”

Dengan cepat ia bentangkan kipasnya kemudian


dengan lambat-lambat berjalan ke arah barisan kereta
itu.

Ang Nio Cu yang mendengar perkataan Jie-konya


sangat cengli, iapun segera mengangguk.

“Jie-k0, kau harus berhati-hati” pesannya.

“Tidak bakal konyol!” sahut si sastrawan berbaju biru


itu sambil tertawa.

64
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun begitu, dalam ati ia tidak berani pula terlalu


memandang enteng pihak musuh, diam-diam hawa
murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.

Kurang lebih setelah ia tiba dua kaki dari barisan


kereta, anak panah mulai berdesiran dan menyambar
datang cepat laksana sambaran kilat.

Si sastrawan berbaju biru itu segera menggerakkan


kipasnya untuk menangkis, kedua batang anak panah
tersebut kontan saja kena tertahan.

Walaupun sastrawan tersebut berhasil memukul jatuh


senjata rahasia yang datang menyambar tidak urung
iapun merasa bila kekuatan dari sambaran anak panah
tersebut benar-benar luar biasa hebatnya, bahkan lain
keadaannya dengan penyambitan senjata rahasia biasa.
Tak terasa ia sudah menghentikan langkahnya.

“Eeeeei……… kenapa kau berhenti?” seru Ang Nio Cu


sambil mengejar datang.

“Di balik kereta-kereta itu sudah menyembunyikan


jaga-jago memanah yang sangat lihay disamping si
telapak besi serta kedua orang piauwsunya, bilamana
kita menerjang lebih dekat ke arah kereta-kereta itu, di
bawah serangan anak panah serta senjata rahasia yang
gencar, tidak urung pikiran kita akan bercabang pula, bila
demikian adanya maka keadaan kita pada waktu itu
sangat berbahaya, kita tidak bakal sanggup untuk
menahan serangan gabungan dari si telapak besi gelang

65
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

emas beserta kedua orang Piauw-tauw-nya.

“Perkataan Jie ko sedikitpun tidak salah,” kata Ang Nio


Cu sambil mengerutkan alisnya. “Bilamana kita tidak
berhasil menghadapi mereka dengan saling berhadap-
hadapan, maka terpaksa Toako harus ikut campur.”

“Nanti dulu ….. jangan gugup!”

“Kenapa?” tanya sang dara berbaju merah itu sambil


tertawa. “di dalam cuaca yang sedemikian dinginnya ini,
Siauw moay tidak ingin merasa kedinginan terlalu lama di
atas permukaan salju.

“Aku sedang memikirkan suatu cara untuk mendekati


kereta-kereta tersebut, atau paling sedikit harus memberi
sedikit pukulan kepada mereka…”

Sewaktu mereka berdua lagi berbicara itulah,


mendadak terasa sambaran angin tajam memenuhi
angkasa, empat batang anak panah dengan
menimbulkan suara desiran yang santer bersama sama
menerjang datang.

Ang Nio CU kerahkan hawa murninya, mendadak sang


tubuh mencelat setinggi beberapa kaki, kedua batang
anak panah itu dengan membawa cahaya keemas-
emasan yang bergemerlapan kontan menyambar lewat
dari bawah kakinya.

Sedang si sastrawan berbaju biru itu dengan


menggunakan cara yang lama menyampok jatuh kedua

66
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

batang anak panah yang datang dengan dengan


menggunakan sang kipas di tangannya.

Ang Nio Cu setelah berhasil menghindarkan diri dari


datangnya serangan anak panah itu, ia sama sekali tidak
mengundurkan dirinya ke belakang.

Tubuhnya dengan cepat bersalto beberapa kali di


tengah udara kemudian langsung menubruk ke arah
kereta berkuda itu.

Melihat kejadian itu si sastrawan berbaju biru jadi


sangat kaget.

“Celaka!” teriaknya keras.

Dengan menggunakan senjata kipasnya melindungi


dada, tubuhnya segera bergerak pula menerjang ke arah
barisan kereta tersebut.

Pada saat itulah terdengar suara desiran tajam


memekikkan telinga, berpuluh-puluh batang anak panah
dengan cepatnya menyambar datang mengancam
seluruh tubuhnya.

Si sastrawan berbaju biru itu dengan cepat


menggerakkan kipasnya membentuk selapis bayangan
rapat melindungi seluruh tubuh, sedang badannya
melanjutkan terjangan mendekati kereta-kereta itu.

Terdengar suara bentakan yang keras serasa halilintar


yang membelah bumi, sebuah senjata rantai berkepala
martil dengan dahsyatnya menggulung ke depan.

67
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sang sastrawan berbaju biru yang merasa datangnya


serangan martil tersebut sangat dahsyat dan aneh, ia
tidak berani terlalu memandang enteng musuhnya.

Sambil menarik napas panjang-panjang, tubuhnya


mencelat ke atas dan melayang turun ke atas kereta
yang lain.

Thio Toa Hauw yang melihat serangannya tidak


mencapai pada sasaran, tubuhnya segera munculkan diri
dari balik kereta, tangan kanannya disentak menarik
kembali martilnya.

Senjata rantai berkepala martil ini sebenarnya


merupakan suatu senjata aneh yang luar biasa
dahsyatnya, apalagi bila dibentangkan di sebuah
lapangan yang luas, tetapi di dalam situasi yang begitu
rapat dan sempit, senjata tersebut malah terasa sangat
merepotkan sekali.

Si sastrawan berbaju biru itu setelah berhasil


menghindarkan diri dari datangnya serangan martil,
kipasnya mendadak dibentangkan lebar-lebar. Dua
rentetan cahaya yang gemerlapan segera melesat keluar
menembusi angkasa.

Kiranya senjata kipasnya ini bukan saja khusus


digunakan untuk menggagalkan serangan senjata
rahasia, bahkan dibalik tabung besi tersembunyi pula alat
rahasia yang dapat melancarkan serangan senjata
rahasia.

68
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perawakan tubuh Thio Toa Hauw tinggi besar,


sehingga membuat serangannya sudah tidak begitu
gesit, apalagi serangan senjata rahasia dari si sastrawan
berbaju biru itu amat kecil dan sama sekali tak bersuara.

Ia Cuma merasakan sepasang lengannya jadi kaku,


masing-masing bagiannya sudah kena terhajar sebatang
jarum halus.

Walaupun dia adalah seorang yang rada bebal, tetapi


pengalamannya selama berpuluh tahun membuat
pengetahuannya-pun sangat luas, setelah terkena
hajaran senjata rahasia jarum halus itu, ia lantas merasa
bila jarum itu sudah dipolesi dengan racun, tak terasa
lagi segera teriaknya keras, “Eeeei…… hati-hati! Jarum
Bwe Hoa Tin dari bangsat cilik ini sudah dipolesi dengan
racun.”

Sembari berteriak ia tidak berpeluk tangan begitu saja


rantai berkepala martil-nya kembali disapu ke atas tubuh
sastrawan berbaju biru itu dengan gerakan sangat
dashyat.

Thio Toa Hauw memang dilahirkan mempunyai tenaga


dalam yang sangat mengejutkan, tetapi penggunaan
tenaga dalamnya sangat terbatas sekali dan tidak
mengerti cara menutup jalan darah, ditambah pula racun
dari sastrawan berbaju biru itu sangat dashyat, daya
bekerjanya amat cepat sekali.

Belum sempat senjata rantai berkepala martilnya


mencapai pada sasaran, tubuhnya sudah tidak ada

69
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tenaga lagi. Dengan menimbulkan suara yang amat keras


ia rubuh ke atas tanah.

Tindakan dari si sastrawan berbaju biru itu ternyata


cukup telengas, berkali-kali ia memencet alat rahasianya
melancarkan serangan jarum beracun secara berantai.

Para jagoan yang sedang bersembunyi di balik kereta


dengan cepatnya berhasil ia lukai sebanyak lima-enam
orang.

Seluruh kejadian ini berlangsung hanya dalam sekejap


mata, Nyoo Su Jan waktu itu sudah berhasil meloncat
naik ke atas wuwungan kereta, dengan mengandalkan
senjata sepasang Poan-Koan-pit-nya ia menyerang si
sastrawan berbaju biru itu dengan kejarannya sehingga
terdesak turun dari kereta dan melangsungkan suatu
pertempuran yang amat sengit di atas permukaan salju.

Sebaliknya Ang Nio Cu yang mengandalkan ilmu


meringankan tubuh yang amat sempurna berjumpalitan
beberapa kali di tengah udara menghindari datangnya
serangan anak panah, tangan kanannya segera diajukan
ke depan mengeluarkan sang angkin merahnya mengikat
kencang di atas kereta, kemudian dengan meminjam
kekuatan tersebut tubuhnya melayang ke depan pintu
kereta membuka horden dan mencengkeram keluar
seorang wanita yang berusia empat puluh tiga-empat
tahunan.

Hujien itu memakai baju berwarna biru dengan celana


biri, sepatunya berwarna merah menyolok dengan tusuk
konde pualam menghiasi rambutnya, tubuhnya yang

70
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kena dicengkeram Ang Nio CU kelihatan gemetar sangat


keras, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat.

Pada saat Ang Nio Cu berhasil mencengkeram keluar


wanita perlente itulah, dua batang gelang emas dengan
santar dan dashyat-nya sudah menyambar datang
mengancam pelipis kanan dari perempuan tersebut.

Buru-buru Ang Nio CU miringkan kepalanya ke


samping, gelang-gelang emas tadi dengan dashyatnya
menyambar lewat.

Walaupun tidak berhasil menghajar pelipisnya, tidak


utung kain pengikat kepalanya kena terhajar putus
sehingga rambutnya yang panjang terurai ke bawah.

Phoa Ceng Yan dengan cepat meloncat datang, di atas


punggungnya terikat sebuah buntalan putih yang sangat
besar.

“Ang Nio Cu!” terdengar ia membentak keras,”Liauw


Hujien tidak paham ilmu silat, bukankah kalian sudah
menyanggupi untuk tidak melukai langganan kami
heem! Ayo cepat lepas tangan!”

Ang Nio Cu sudah pernah merasakan kelihayan dari


gelang-gelang emas tersebut, karenanya ia merasa rada
jeri juga terhadap si orang tua itu. Dengan cepat tangan
kirinya menyambar melintangkan tubuh Liauw Hujien ke
depan tubuhnya sendiri.

“He….he …. sedikitpun tidak salah, Liauw Hujien


memang tidak bisa ilmu silat” serunya dingin. “Jikalau

71
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau berani melancarkan sebatang gelang emas lagi maka


benda tersebut akan berubah menjadi benda pencabut
nyawa bagi Liauw Hujien!”

Pada jarak yang sedemikian dekatnya ini bilamana


semisalnya Phoa Ceng Yan benar-benar melancarkan
serangan gelang emas dengan menggunakan gerakan
yang aneh, sekalipun ilmu meringankan tubuh dari Ang
Nio Cu lebih lihaypun jangan harap bisa meloloskan
dengan selamat.

Tetapi setelah melihat tindakan dara berbaju merah


itu, karena takut sampai melukai Liauw Hujien maka si
orang tua itu jadi ragu-ragu untuk turun tangan.

Pada saat itulah dari balik kereta sebelah timur


berkumandang keluar suara seseorang yang sangat berat
dan keren, “Phoa Piauw-tauw! Kau tidak usah mengurusi
keselamatan dari istriku lagi, cepat bawa barang itu
untuk berusaha lolos dari sini!”

“Bila Thayjien sudah putuskan demikian cayhe


terpaksa akan mengikuti perintah saja.” jawab Phoa
Ceng Yan kemudian sambil mendepakkan kakinya ke
atas tanah.

Tubuhnya dengan ringan segera mencelat ke tengah


udara dan melarikan diri ke arah sebelah timur.

Sewaktu tubuhnya sedang melayang ke arah depan


itulah, mendadak kembali tampak sesosok bayangan
manusia menyambut kedatangannya dengan cepat.

72
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam hati si orang tua itu merasa sangat kaget,


dengan cepat ia menggerakkan tangannya melancarkan
satu pukulan ke depan.

Orang itupun tidak mau memperhatikan


kelemahannya, melihat datangnya serangan tersebut
dengan cepat iapun balas mengirim satu pukulan
menerima datangnya serangan musuh dengan keras
lawan keras.

“Braaaaaak…..!” dengan menimbulkan suara


bentrokan yang amat keras, tubuh mereka sama-sama
tergetar mundur ke belakang sejauh beberapa langkah.

Bentrokan kali ini ternyata menghasilkan seri, sedang


kedua sosok bayangan manusia itupun bersama-sama
melayang turun ke atas permukaan tanah.

Ketika Phoa Ceng Yan mendongakkan kepalanya,


maka tampaklah si orang berbaju hitam yang tangan
kanannya menggembol senjata aneh seperti lengan
bocah itu sudah berdiri di hadapannya dengan angker,
dia bukan lain adalah Loo-toa dari Lam Thian Sam Sah.

Diam-diam hatinya merasa berdesir juga setelah


menghadapi situasi seperti ini, pikirnya, “Senjata aneh
tersebut masih tergembol di tangan kanan, hal ini
mengartikan juga bila pukulanku tadi sudah diterima
dengan tangan kirinya, walaupun bentrokan barusan
belum dapat menentukan siapa yang menang siapa yang
kalah, tetapi orang lain menggunakan tangan kanan,
jelas tenaga dalamnya jauh melebihi Ang Nio CU serta si

73
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sastrawan berbaju biru dan jauh lebih tinggi setingkat


dari tenaga dalamku……”

Belum habis ia berpikir si orang berbaju hitam itu


sudah menegur kembali dengan suaranya yang sangat
dingin.

“Heee…….he…… Phoa Ceng Yan, kau tidak bakal lolos


dari tanganku, kau tidak mau mendengarkan peringatan
cayhe dan sengaja berbuat sesuka hatimu, hal ini
menandakan bila kalian memang sengaja mencari
penyakit sendiri. Hmm! Terus terang saja aku
beritahukan, yang aku mau sebenarnya cuma barang itu
saja, tetapi sekarang! Akupun hendan menahan kalian
orang-orang dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan menarik napas panjang-


panjang, ketika sinar matanya berputar menyapu sekejap
ke sekeliling tempat itu, maka tampaklah Ang Nio Cu
sembari mencengkeram tubuh Liauw Hujien, angkin
merah di tangan kirinya berkelebat tiada hentinya ke
sana kemari.

Setiap orang yang mendekati dirinya tentu terhajar


pental sehingga jungkir balik halnya di dalam sekejap
mata sudah ada dua tiga orang yang jatuh tidak
sadarkan diri, hal ini membuat si orang tua itu diam-diam
menghela napas panjang.

“Heee….. kali ini aku sudah pasti akan jatuh


kecundang ditangan orang lain” pikirnya diam-diam.
“Beberapa orang anak buahku walaupun lihay, tetapi
setelah bertemu dengan beberapa jagoan lihay ini tidak

74
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lain hanya menghantar nyawa sendiri saja, lebih baik aku


suruh mereka berhenti.”

Karena itu dengan cepat ia membentak keras,


“Heeeei…. kalian bukan tandingan dari Ang Nio Cu, tidak
usah majukan diri untuk menghantar nyawa lagi.”

Beberapa orang jagoan dari perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok yang sedang mengurung Ang Nio Cu pun di
dalam hatinya mengerti sangat jelas, jangan dikata
bergebrak dengan orang lain, sekalipun untuk
mendekatipun sudah susah.

Tetapi peraturan perusahaan yang keras membuat


mereka tidak berani mundur, sekalipun jelas mengerti
bila mereka ngotot maju juga maka yang didapat tak
ada, tetapi sebelum menerima perintah dari Piauw-tauw-
nya mereka terpaksa harus mengadu jiwa bergebrak
juga.

Kini sesudah Phoa Ceng Yan membentak keras,


beberapa orang itupun segera menghentikan
serangannya.

Kini di tengah kalangan tinggal Nyoo Su Jan seorang


saja yang masih bergebrak dengan sengitnya melawan si
sastrawan berbaju biru itu.

“Heee…heee… Phoa Hu Cong Piauw-tauw ternyata


benar-banar merupakan seorang jago kawakan, dengan
cepatnya bisa mengetahui keadaan sendiri” ejek si orang
berbaju hitam itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

75
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar ejekan tersebut, air muka Phoa Ceng Yan


segera berubah hebat.

“Hmmm! Cayhe masih hendak melangsungkan satu


pertempuran sengit dengan dirimu!” serunya.

“Soal ini sudah tentu akan Cayhe layani… cuma aku


hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, orang yang
kau perintahkan untuk melaporkan peristiwa ini kepada
perusahaan cabang sudah berhasil Cayhe tawan
kembali.”

Kiranya setelah Phoa Ceng Yan mengundurkan diri ke


tempat pemberhentian kereta kawalannya tadi, ia segera
mengirim Ih Coen untuk segera berangkat minta bala
bantuan dari perusahaan-perusahaan cabang yang ada
disekeliling tempat itu sekalian memberi laporan kepada
Cong Piauw-tauw.

Walaupun perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bukan


sebuah partai atau perkumpulan di dalam dunia
kangouw, tetapi dikarenakan kedudukan Cong Piauw-
tauw mereka yang sangat tinggi, cabang yang sangat
banyak dan kekuatan yang amat besar, maka di sekitar
daerah utara mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Dalam hati Phoa Ceng Yan mengerti, asalkan berita ini


bisa disampaikan ke tangan perusahaan cabang maka
pihak cabang segera akan mengirim laporan ini ke
tangan Cong Piauw-tauw mereka dengan menggunakan
burung merpati.

76
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sedang dirinya dengan Thio Toa Hauw dan Nyoo Su


Jan ditambah dengan delapan orang pemanah-pemanah
jagoan bilamana bertahan dengan sekuat tenaga
sekalipun tidak berhasil menangkan musuh, sedikit-
dikitnya masih bisa bertahan beberapa saat lamanya.

Siapa sangka Liauw Thayjien ternyata sudah


mengundang ia masuk ke dalam kereta sambil berkata,
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Aku dengar selama puluhan
tahun ini perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian belum
pernah menemui suatu peristiwa-pun di dalam
pengiriman barang, karena itu aku menolak pengawalan
tentara kerajaan sebaliknya minta perusahaan kalian…..”

“Peristiwa ini terjadi di luar dugaan” sambung Phoa


Ceng Yan buru-buru. “Orang ini selamanya belum pernah
bergerak di sekeliling daerah utara terutama di dalam
keenam keresiden di sekitar sini, tetapi Liauw Thayjien
jangan kuatir, kami akan mengerahkan seluruh tenaga
yang ada untuk melindungi keselamatan Thayjien
sekeluarga.”

Liauw Thayjien tertawa tawar.

“Urusan sudah berdiri di depan mata, aku-pun tidak


ingin menyalahkan kalian, walaupun aku sudah menjabat
sebagai pembesar selama setengah abad lamanya, tetapi
percaya belum pernah melakukan suatu pekerjaan yang
memalukan…..”

“Jika didengar dari nada pembicaraan mereka,


agaknya kedatangan mereka sama sekali bukan

77
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikarenakan hendak mencari balas” sambung Phoa Ceng


Yan kembali.

“Aku tahu apa tujuan mereka datang kemari….”

Dari bawah selimut ia mengambil keluar sebuah


buntalan berwarna putih, lalu sambungnya kembali.

“Kemungkinan sekali kedatangan mereka dikarenakan


benda ini, semisalnya kekuatan perusahaan kalian tidak
sanggup untuk menahan serbuan mereka nanti, aku pikir
harap Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka meloloskan diri
dengan membawa barang ini dan serahkan benda
tersebut kepada pembesar Hoo-Lam di bangunan istana
“Tok Ci Hu”.

Phoa Ceng Yan segera bangun berdiri menerima


buntalan tersebut, ia merasa benda itu sama sekali tidak
berat dan tidak mirip dengan barang-barang berupa
emas, intan maupun permata, tak terasa lagi ia
mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Thayjien! Maaf loohu hendak banyak bertanya,


sebenarnya benda apakah yang terdapat di dalam
buntalan ini? Agaknya sejak semula Thayjien sudah
menduga maksud kedatangan mereka??” serunya.

“Barang yang berada di dalam buntalan ini paling


sedikit bukanlah barang terlarang yang melanggar
peraturan negara.” jawab Liauw Thayjien dengan air
muka keren. “Kalau tidak akupun tidak akn berani
menyuruh kau menghantarkan barang ini ke istana Tok
Ci Hu”.

78
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selagi Phoa Ceng Yan hendak bertanya kembali, di


luar kereta sudah terjadi perubahan disusul suara jeritan
ngeri berkumandang saling susul menyusul.

Terpaksa ia mengikat kencang buntalan tersebut ke


punggungnya dan meloncat keluar dari kereta, mula-
mula ia melancarkan serangan gelang emasnya memukul
mundur Ang Nio CU kemudian membentak anak buahnya
supaya jangan menghantar nyawa dengan sia-sia belaka,
menanti ia hendak meloloskan diri ternyata
perjalanannya berhasil dihadang oleh Lo-toa dari Lam
Thian Sam Sah.

Kini setelah dia orang menndengar bila Ih Cun kena


tertawan, dalam hati merasa semakin paham bila ini hari
pihaknya bakal menderita kekalahan yang benar-benar
sangat memalukan.

Setelah melakukan perjalanan selama puluhan tahun


lamanya, kini untuk pertama kalinya harus menemui
kesulitan tak terasa lagi hatinya terasa sangat sedih, dari
dasar hatinya pun segera timbul maksuda untuk
mengadu jiwa.

Dengan cepat ia mengayunkan Huncwee di depan


dada, serunya dengan serius.

“Di antara saudara-saudara kalian Ang Nio Cu sudah


menyanggupi dua persoalan yang cayhe ajukan.
Pertama, tidak melukai langgananku, Kedua,
mempertahankan barang tersebut dalam tiga bulan.

79
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cayhe harap kalian Lam Thian Sam Sah bisa dipercaya


perkataan yang sudah diucapkan.”

“Asalkan salah satu dari Lam Thian Sam Sah sudah


menyanggupi syarat-syaraymu, sudah tentu kami akan
pegang teguh perkataan tersebut,” kata si orang berbaju
hitam itu dengan dingin. “Tetapi cayhe-pun ada dua
buah syarat yang mengharapkan kau Phoa Hu Cong
Piauw-tauw suka mengabulkan.”

“Aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar-lebar


mendengarkan perkataanmu.”

“Serahkan buntalan putih di badanmu kepadaku dan


kita buka bersama-sama pada saat ini juga, kami akan
menahan barang tersebut selama tiga bulan untuk
menunggu kedatangan Cong Piauw-tauw kalian dengan
membawa orang untuk minta kembali barang tersebut.”

Ia merandek sejenak lalu menengadah ke atas dan


tertawa terbahak-bahak, sambungnya.

“Asalkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka


mengaku kalah, melepaskan senjata, membuang senjata
rahasia, maka kami bersaudara akan melepaskan kalian
juga tanpa membikin susah padamu.”

“Hmm! Kawan, sungguh enak sekali perkataanmu…..”


dengus Phoa Ceng Yan dingin.

“heee……..he……. bilamana Phoa Hu Cong Piauw-tauw


benar-benar tidak akan puas sebelum melihat sungai
Huang Hoo dan pasti akan memaksa cayhe untuk turun

80
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan sendiri maka akupun merasa keberatan untuk


menahan barang tersebut selama tiga bulan dan
mempertahankan keselamatan dari langgananmu,” seru
si orang berbaju hitam itu pula dengan dingin.

Mendengar perkataan tersebut, diam-diam Phoa Ceng


Yan lantas berpikir.

“Kawanan perampok dari kalangan Liok-lim memang


paling sulit dipercayai perkataannya. Bilamana aku
berhasil menerjang keluar dari kepungan mereka sambil
membawa barang ini, ada kemungkinan sekali hal ini bisa
memaksa hati mereka bergidik sehingga membatalkan
niatnya untuk membunuh setiap orang yang ada.”

Berpikir akan hal itu, Huncwee di tangan-nya segera


dibentangkan ke depan.

“Perkataan seorang lelaki sejati berat selaksa gunung,


aku orang she Phoa belum pernah menyanggupi untuk
meninggalkan barang ini secara sukarela, bilamana
kawan menginginkan barang ini maka terpaksa kalian
harus meninggalkan dulu selembar nyawa dari aku orang
she Phoa,” serunya.

Sembari berkata tubuhnya meloncat ke depan.

Si orang berbaju hitam itu tertawa dingin tiada


hentinya, senjata “Thiat Kui Su” yang ada di tangan
kanannya dengan menggunakan jurus “Yauw Cie Lam”
atau jauh menuding langit selatan, tubuh bersama-sama
senjatanya serentak mencelat ke depan melakukan
pengejaran.

81
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan segera membalikkan badannya,


huncwee ditangannya dengan menggunakan jurus “Heng
Sauw Cian Kiem” atau menyapu ludas ribuan tentara
mengadakan pertahanan rapat.

“Braaaaaak………….” di tengah suara bentrokan keras


serta percikan bunga api, tubuh mereka berdua bersama-
sama tergetar mundur ke belakang.

Walaupun kedua orang itu memiliki tenaga dalam


yang amat sempurna tetapi berhubung tubuhnya
bersama-sama ada ditengah udara maka sulit bagi
mereka untuk mengunakan seluruh tenaganya.

Begitu terjadi bentrokan tubuhnya mereka bersama-


sama tergetar dan jatuh kembali ke atas tanah.

“Lihat serangan,” bentak Phoa Ceng Yan kemudian


sambil mengayunkan tangan kanannya ke depan.

Tiga batang gelang emas dengan menggunakan


gerakan “Sam Yen Lian Tie” secara berbareng melesat ke
tengah udara.

Sewaktu Phoa Ceng Yan melancarkan serangan gelang


emas itulah, pada saat bersamaan si orang berbaju hitam
itupun mengayunkan senjata ‘Thiat Kui So”nya ke depan
menyambitkan dua batang jarum yang memancarkan
cahaya keperak-perakan ke arah depan.

Kiranya di balik senjata “Thiat Kui So”nya itu


tersembunyi pula jarum-jarum beracun yang amat

82
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lembut dan kecil sewaktu alat rahasia yang terdapat


pada gagang senjata itu dipencet ketika bergebrak
melawan orang maka jarum-jarum beracun itu segera
akan melesat keluar dengan gencarnya.

Mereka berdua pada saat yang bersamaan sama-sama


ada maksud hendak menggunakan senjata rahasia
mengalahkan pihak musuhnya, sehingga hampir-hampir
boleh dikata di dalam waktu yang berbareng mereka
sama-sama menyambitkan senjatanya ke depan.

Jarak antara mereka berdua terasa sulit untuk


menghindarkan diri dari datangnya gelang emas serta
jarum beracun tersebut.

Baru saja si orang berbaju hitam itu sudah merasa


senjata rahasia gelang emas itu berada di depan
dadanya.

Dalam keadaan gugup serta cemas, tubuhnya buru-


buru menyingkir ke samping untuk berkelit.

Kedua batang gelang emas itu segera menyambar


lewat dari depan dadanya dan merobek pakaiannya
sepanjang beberapa cun, sedang sebatang gelang emas
lainnya dengan cepat berhasil menghajar di atas pundak
kirinya sehingga melesat masuk setengah cun dalamnya
ke dalam kulit tubuh.

Sebaliknya pada saat yang bersamaan pula lengan kiri


Phoa Ceng Yan berhasil kena terhajar oleh kedua batang
jarum beracun yang dilancarkan si orang berbaju hitam
itu.

83
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si telapak besi gelang emas sewaktu merasakan mulut


lukanya menjadi kaku, ia lantas sadar bila senjata rahasia
tersebut sudah dipolesi racun, hatinya jadi amat gusar
sekali.

“Hem! Tidak kusangka Lam Thian Sam Sah yang


mempunyai nama besar ternyata suka bekerja sama
dengan manusia-manusia rendah dari kalangan Liok-lim
yang rendah martabatnya. bukan saja sudah
menggunakan senjata rahasia Bwee Hoa Tin bahkan
dipolesi juga dengan racun ganas sungguh tidak tahu
malu!”

Jilid 3

“Heee……heee…… sedikitpun tidak salah, di atas jarum


tersebut sudah aku polesi dengan racun ganas,
“sambung si orang berbaju hitam itu dengan nada yang
amat dingin. “Siang tidak melihat sore, sore tidak melihat
malam, di dalam dua belas jam kemudian racun itu akan
mulai bekerja dan setiap orang yang terkena tentu akan
mati.”

“Perbuatan kalian yang sangat rendah ini apakah tidak


takut ditertawakan oleh kaum enghiong di bawah kolong
langit?”

“Hee…..he…. cuma sayang kau sudah tak dapat


menyiarkan berita ini kepada orang lain. Walaupun kau
bisa mempertahankan diri selama dua belas jam lamanya

84
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi pada saat ini kau sudah tak dapat bergebrak


dengan orang lagi, kaupun tidak dapat mengerahkan
tenaga untuk lari, bilamana cayhe hendak turun tangan
membinasakan dirimu, gampang sekali seperti membalik
tangan sendiri!”

Diam-diam Phoa Ceng Yan coba mengerahkan tenaga


dalamnya, sedikitpun tidak salah lengan kirinya sudah
terasa sangat kaku dan tak dapat diangkat lagi. Di
samping itu iapun merasa racun tersebut dengan tiada
hentinya mulai menyebar luas di dalam tubuh.

Tak terasa lagi diam-diam ia menghela napas panjang,


pikirnya, “Bilamana cuma aku Phoa Ceng Yan seorang
yang harus terkubur di sini masih tidak mengapa, bila
sampai mengandeng erat sepuluh lembar nyawa
keluarga Liauw, hal ini benar-benar merupakan suatu
peristiwa yang patut disesali….. “

Waktu itu Nyoo Su Jan-pun telah berhasil kena


dirubuhkan oleh jarum beracun yang dilancarkan dari
kipas si sastrawan berbaju biru itu sehingga menggeletak
di atas permukaan salju tak dapat berkutik lagi.

Di antara delapan orang pembantu perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok serta kelima orang pembantu yang
menyaru sebagai kusir sebagian besar sudah kena
terbunuh, sisanya empat orang yang belum matipun
kebanyakan telah menderita luka dan menggeletak di
atas permukaan salju tak berkutik.

Si orang berbaju hitam itu sambil mengertak gigi


segera mencabut keluar gelang emas yang berhasil

85
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menancap pada lengan kirinya, darah segar lantas


memancar keluar dengan derasnya.

Ang Nio Cu yang melihat kejadian itu sambil masih


mencengkeram tangan Liauw Hujien buru-buru berjalan
mendekat.

“Toako! Lukamu sangat berat, biarlah siauw moay


bantu membalutkan mulut lukamu itu” serunya.

“Tidak perlu” sahut si orang berbaju hitam itu sambil


menggeleng, “Cuma sedikit luka kulit yang tak
berarti…..”.

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah


Phoa Ceng Yan, kemudian sambungnya, “Phoa Ceng
Yan! Kau hendak melepaskan sendiri buntalan di
punggungmu itu ataukah menunggu cayhe yang turun
tangan sendiri?”

Waktu itu Phoa Ceng Yan sedang mengerahkan


tenaga dalamnya berusaha hendak menggunakan ilmu
lweekang hasil latihan selama puluhan tahunnya ini
untuk menahan daya bekerja dari racun di badannya,
kemudian berusaha melarikan diri dan menyerahkan
barang tersebut ke tangan pembesar Hoo Lam di istana
Tok Ci Hu.

Karenanya walaupun ia mendengar perkataan


tersebut, mulutnya tetap membungkam dalam seribu
bahasa.

86
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat si orang tua itu tidak menjawab, Ang Nio Cu


segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Sungguh besar sekali


lagakmu, kau berani tidak menjawab pertanyaan Toako-
ku?” bentaknya keras.

Di mana tangannya digetarkan, angkin merahnya


dengan cepat menyambar lewat.

Phoa Ceng Yan mendengus dingin, tubuhnya mencelat


ke samping untuk menghindar.

Siapa tahu gerakan badannya pada saat ini sudah


tidak selincah semula, sekalipun tubuhnya sudah
berkelebat ke samping, tidak urung lengan kanannya
terlibat juga oleh angkin merah dari Ang Nio Cu itu
sehingga jatuh terjengkang di atas tanah.

Ang Nio Cu segera melepas cekalannya pada tubuh


Liauw Hujien, tubuhnya melompat ke samping tangan
kanannya menekan ke bawah menotok dua buah jalan
darah di tubuh si orang tua itu, kemudian ia baru
melepaskan buntalan putih dari punggung Phoa Ceng
Yan.

Kendati Phoa Ceng Yan dapat melihat Ang Nio Cu


melepaskan buntalan tersebut dari punggungnya, tetapi
berhubung jalan darahnya kena tertotok maka ia tak
bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan, dalam
hati ia merasa sangat sedih sekali seperti diiris-iris
dengan beribu-ribu batang golok.

87
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ang Nio CU!” ujarnya sedih. “Genting akan hancur


terbentur tanah, panglima akan binasa di medan perang!
Ini hari aku orang she Phoa mengaku kalah dan
sekalipun mati tidak akan menyesal, tetapi aku berharap
kalian suka memberi keputusan kepada diriku, bilamana
kalian berani menghina aku orang, maka jangan
salahkan aku orang she Phoa akan memaki kalian
dengan kata-kata yang tidak sopan.

“Hmm…..! Berani memaki dengan kata-kata tidak


sopan?? jangan kau kira kami tak dapat mengetuk
hancur seluruh gigimu ….” jengek Ang Nio Cu dingin.

Saat itulah mendadak Liauw Hujien menerjangkan


kepalanya ke atas sebuah pohin di dekat sisi tubuhnya.

Melihat kejadian itu si orang berbaju hitam tersebut


mendengus dingin, tubuhnya maju selangkah ke depan
memerseni sebuah tendangan kilat membuat tubuh
Liauw Hujien jatuh terjengkang ke atas tanah dengan
kerasnya.

Perlahan-lahan Ang Nio Cu membalikkan tubuhnya


mencengkeram kembali tubuh perempuan tua itu.

“Hm! Waktu di kemudian hari masih panjang, buat apa


kau begitu kepingin cepat-cepat mati” serunya tawar.

Ketika itulah, mendadak …….

“Tahan.” bentak Liauw Thayjien yang memakai jubah


hijau serta topi dari kulit binatang perlahan-lahan
berjalan keluar dari balik ruangan kereta berkuda itu,

88
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ang Nio Cu segera menoleh, ketika melihat wajah yang


angker dan serius dari Liauw Thayjien ia tertawa dingin
tiada hentinya.

“Heee……he…. tempat ini bukan pengadilan maupun


istana negara, kau buat apa membentak sesuka
hatimu??” teriaknya.

Air muka Liauw Thayjien tetap keren dan serius,


sambil bergendong tangan perlahan-lahan ia berjalan
mendekat.

“Aku orang she Liauw sudah setengah abad lamanya


menjabat sebagai pembesar, tetapi selama ini tindakanku
adalah berdasarkan keadilan dan kejujuran, sekarang
kalian sengaja mencari gara-gara dengan diriku, aku ada
di sini! Sesuka kalian hendak menghukum dengan
menggunakan tindakan apapun. Bilaman kalian
menginginkan harta kekayaan maka seluruh simpananku
yang ada di dalam kereta boleh kalian ambil semua!”

“Hiii……..hiii….. harta kekayaanmu sudah tentu bisa


kami ambil sendiri, sedang hendak membinasakan
dirimupun bukan merupakan suatu pekerjaan yang sulit,
kau tidak usah mencaari muka di hadapanku……” jenguk
Ang Nio Cu tertawa terkekeh kekeh.

Waktu itu orang-orang dari perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok bukan menggeletak karena terluka, maka
jalan darahnya sudah tertotok, tak seorangpun di antara
mereka yang sanggup untuk melanjutkan pertempuran
kembali.

89
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan melihat Liauw Thayjien walaupun tak


dapat bermain pedang untuk bergebrak untuk melawan
orang lain tetapi air mukanya sangat tenang dan sama
sekali tidak memperlihatkan perasaan jeri, dalam hati
benar-benar merasa amat kagum.

Tetapi karena ia takut badannya yang lemah tak


bertenaga itu sukar untuk menahan siksaan badan, maka
buru-buru teriaknya, “Liauw Thayjien, aku orang she
Phoa tidak becus sehingga sekali-kali menyusahkan
Thayjien, dalam hati merasa sangat menyesal sekali,
Thayjien adalah seorang terpelajar yang sama sekali
tidak mengetahui urusan di dalam dunia kangouw, kau
tidak perlu beribut lagi dengan mereka. Perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kami asalkan berhasil mendapatkan
berita ini segera akan berusaha untuk menolong.

Liauw Thayjien silahkan meloloskan diri dari sini,


urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu, harap
Thayjien menyingkir ke samping.”

Perkataan yang diucapkan olehnya ini amat sederhana


sekali, tetapi Liauw Thayjien berhasil mengetahui maksud
hatinya yang sebenarnya, ia segera tertawa tawar.

“Soal inipun tidak bisa menyalahkan pada diri kalian,”


katanya perlahan. “Kalian sudah berusaha dengan
sepenuh tenaga sehingga ada nyawa yang harus
dikorbankan, walaupun aku orang she Liauw tidak
mengeri ilmu silat tetapi soal mati hiduppun di dalam
pandanganku bukan suatu peristiwa yang berat.”

90
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun lengan si orang berbaju hitam itupun


terluka, tetapi lukanya sangat ringan sekali.

Kini tanpa memperduli lagi luka di lengannya, ia lantas


berbisik kepada Ang Nio CU.

“Sam-moay, totok saja jalan darah perempuan itu


kemudian membuka buntalan tersebut.

Ang Nio Cu mengiakan setelah menotok jalan darah


Liauw Hujie ia lantas membuka buntalan tersebut.

Kendati Phoa Ceng Yan-pun kepingin sekali


mengetahui isi dari buntalan tersebut, tetapi disebabkan
jalan darahnya tertotok maka tubuhnya merasa tidak
leluasa untuk bergebrak, sehingga iapun tidak dapat
melihat jelas barang apakah yang ada dalam buntalan
tersebut.

Tetapi dengan pengalamannya yang amat luas serta


pengetahuan yang melebihi orang lain, dari perubahan
air muka si orang berbaju hitam itu ia dapat menduga
jika benda itu tentunya merupakan sebuah benda yang
sangat berharga.

Terdengar si orang berbaju hitam itu bergumam


seorang diri, “Tidak salah, tidak salah, masih ada sebuah
lagi, mari kita periksa dengan teliti.”

Buru-buru Ang Nio Cu mengikat kembali buntalan


tersebut lalu dengan suara rendah ujarnya sambil
tertawa.

91
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Toako, barang ini sudah ada di tangan kita, kaupun


tidak usah murung lagi. Lukamu sangat parah, mari
biarlah Siauw moay balutkan mulat lukamu itu.”

Si orang berbaju hitam itu tersenyum.

“Baiklah! Merepotkan Sam-moay harus turun tangan”


katanya.

Dari dalam sakunya Ang Nio Cu segera mengeluarkan


obat luka kemudian dengan sangat teliti membalutkan
luka pada pundak si orang berbaju hitam itu.

“Sam-moay! Urusan sudah jadi begini dan kitapun tak


bisa hidup berdampingan secara damai lagi dengan
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok” katanya si orang
berbaju hitam itu sambil mengangguk.
“Heeeei……..bilamana bukannya Phoa Ceng Yan salah
hitung, kemungkinan sekali pertempuran kita ini hari
masih sulit untuk menentukan siapa menang siapa
kalah!”

“Maksud dari toako, aku mengerti jelas!”

Phoa Ceng Yan sebagai seorang jago kawakan,


setelah mendengar perkataan dari si orang berbaju hitam
itu sudah tentu iapun mengetahui jelas apa maksudnya.

Ia tahu orang itu sudah siap-siap setelah berhasil


mendapatkan barang yang dicari segera akan turun
tangan membinasakan setiap orang yang ada di sana
tanpa meninggalkan seorangpun yang hidup.

92
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun di dalam hati ia mengerti maksud dari


perkataan itu, tetapi diapun merasa kurang leluasa untuk
menerangkan maksuda perkataan tersebut secara
terbuka.

Walaupun Liauw Thayjien selama setengah abad


lamanya menjabat kedudukan sebagai pembesar, tetapi
selamanya ia tidak mengetahui urusan dunia kangouw,
sudah tentu iapun tidak akan mengerti maksud dari
perkataan tersebut.

Saat ini orang tua itu masih berdiri di atas permukaan


salju sambil bergendong tangan.

Pada waktu itulah secara mendadak si sastrawan


berbaju biru itu berlari mendatang dan membisikkan
sesuatu ke telinga si orang berbaju hitam serta Ang Nio
Cu dengan suara rendah.

Beberapa patah kata itu sangat rendah sekali, saking


perlahannya sehingga Phoa Ceng Yan sama sekali tidak
mendengar sedikit suarapun.

Tampak air muka si orang berbaju hitam serta Ang Nio


Cu berubah hebat, lama sekali mereka termangu-mangu.

Akhirnya si orang berbaju hitam itu menghembuskan


napas panjang panjang.

“Ada urusan begitu? Jie-te, kau tidak salah meliha


bukan…..!” serunya.

93
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siauw-te melihat dengan sangat jelas sekali” jawab si


sastrawan berbaju biru itu dengan serius. “Bilamana
Toako serta Sam-moay mempunyai perasaan curiga,
tidak ada halangannya kita sama-sama pergi menengok.”

“Ehmmm……!” si orang berbaju hitam itu


menggangguk. “Mari kita sama-sama pergi melihat”.

Perubahan yang terjadi secara mendadak dan berada


di luar dugaan ini kendati Phoa Ceng Yan yang memiliki
pengalaman sangat luaspun merasa tidak paham apa
yang telah terjadi, tetapi ia dapat melihat bila perasaan
hati Lam Thian Sam Sah tergetar amat keras sekali.

Dengan menggunakan seluruh tenaga yang


dimilikinya, Phoa Ceng Yan mengalihkan pandangannya
ke arah di mana Lam Thian Sam Sah menuju.

Tampaklah mereka berjalan menuju kearah kereta


yang terakhir.

Hal ini seketika itu juga membuat si telapak besi


gelang emas merasa sangat terperanjat, pikirnya,
“Kereta itu adalah kereta dari nona Liauw, apakah Lam
Thian Sam Sah adalah seorang manusia yang gemar
perempuan ….”

Tetapi dengan cepat pikirannya kembali berputar, ia


merasa urusan rada sedikit tidak beres.

Semisalnya si sastrawan berbaju biru itu menemukan


kecantikan dari nona Liauw dan hendak diberikan untuk
Loo-toanya, agaknya tidak perlu sekalian

94
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberitahukan hal ini kepada Ang Nio CU dan air muka


mereka-pun tidak perlu berubah sebegitu kagetnya.

Karena itu dalam hati ia merasa rada lega.

Liauw Thayjien yang melihat Lam Thian Sam Sah


berjalan menuju ke arah kereta yang ditunggangi putri
kesayangannya, dalam hati merasa amat cemas.

“Usia Siauw-li masih kecil terhadap semua perbuatan


kita, ia sama sekali tidak tahu. Kalian jangan mencelakai
seorang gadis yang tidak tahu apa-apa” bentaknya keras.

Sudah tentu Lam Thian Sam Sah tidak akan mengubris


atas bentaknya itu, si sastrawan berbaju biru itu dengan
cepat membuka pintu kereta.

Mendadak……….”

Baik si orang berbaju hitam maupun Ang Nio Cu


seperti kena setrom bertegangan tinggi, mereka berdiri
terkesima di luar kereta.

Ketika itu Liauw Thayjien-pun dengan langkah cepat


sudah berlari mendatang, ia bersiap-siap hendak
mengadu jiwa tuanya untuk mencegah ketiga orang itu
mencelakai gadisnya.

Tetapi sewaktu melihat beberapa orang itu sama


sekali tidak masuk ke dalam kereta iapun segera
menghentikan langkahnya.

95
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampak si orang berbaju hitam itu dengan amat


hormat menuju ke arah kereta tersebut.

“Maaf………maaf………..!” berulang kali

Dengan cepat ia meloncat turun dari kereta sambil


berbisik.

“Loo Jie! Cepat suruh Shaw Kiat hantarkan kemari Lie


Siauw Piauw-tauw!”

Si sastawan berbaju biru itu menyahut kemudian putar


badan dan berlalu tergopoh-gopoh.

Sembari melangkah ke depan si orang berbaju hitam


itu kembali memberi perintah kepada Ang Nio CU.

“Sam-moay, cepat bebaskan jalan darah dari Liauw


Hujien yang tertotok, kemudian hantar masuk ke dalam
kereta, setelah itu bantu obati beberapa orang jagoan
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang terluka.”

Ang Nio Cu dengan cepat berlari menuju ke arah


Liauw Hujien, sedang si orang berbaju hitampun itupun
dengan langkah yang amat cepat berlari menghampiri
Phoa Ceng Yan, melepaskan senjatanya kemudian
membebaskan jalan darah si orang tua yang kena
tertotok.

“Phoa-heng….!” serunya setengah berbisik. “Maaf


kami bersaudara tidak tahu siapakah kalian sehingga
melakukan perbuatan salah, harap Phoa-heng suka
memaafkan!”

96
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa patah kata yang sama sekali tidak diketahui


ujung pangkalnya ini kontan saja membuat Phoa Ceng
Yan jadi kebingungan setengah mati, pikirannya seperti
di awang-awang tingkat ketiga belas.

Tetapi bagaimana juga dia adalah seorang jago


kawakan yang sudah sering berkelana di dalam dunia
kangouw, peristiwa berita kejadian yang bagaimana
anehpun sudah sering ditemuinya.

Dalam hati ia paham, bilamana di dalam peristiwa ini


hari dia orang tidak mengaku dan mengiakan dengan
tebalkan muka, ada kemungkinan sekali Lam Thian Sam
Sah akan berubah pikiran dan membinasakan mereka
semua.

Otaknya bagaikan putaran roda karena dengan


cepatnya berkelebat dan berputar akhirnya ia mendehem
perlahan.

“Seharusnya saudara menerangkan terlebih dulu……”

“Soal ini cayhe tahu” sambung si orang berbaju hitam


itu tidak menanti Phoa Ceng Yan menyelesaikan kata-
katanya. “Sifat Pho-heng selamanya tinggi hati, bilamana
dibicarakan kemungkinan sekali malah akan melemahkan
nama besar dari Liong Wie Piauw-kiok, tetapi justru
dikarenakan sifat Phoa-heng yang gagah perkasa inilah
membuat kami bersaudara merasa sangat menyesal.
Heeei…….! Boleh dikata saat ini kita masih belum berada
dalam keadaan yang tak bisa diselesaikan.”

97
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perkataan saudara sedikitpun tidak salah” kata Phoa


Ceng Yan membenarkan, “Sebelum kejadian ini Siauw-te
pun belum sempat memberi penjelasan, hal ini tak dapat
menyalahkan kalian tiga bersaudara.”

“Phoa-heng bisa menjelaskan persoalan dengan


bijaksana, hal ini membuat Siauw-te benar-benar merasa
kagum………….”

Sehabis berkata dari sakunya orang berbaju hitam itu


mengambil keluar sebuah botol pualam dan
mengeluarkan sebutir pil untuk kemudian diserahkan ke
tangan Phoa Ceng Yan, sambungnya, “Inilah obat
pemunah tunggal dari jarum beracun yang tersembunyi
di dalam senjata “Thiat Kui So” tersebut, harap Phoa-
heng suka menelannya kemudian siauw-te akan bantu
mengeluarkan jarum beracun tersebut dari dalam luka.”

Tanpa ragu-ragu lagi Phoa Ceng Yan menerima


pemberian obat pemunah itu lantas ditelannya ke dalam
perut.

Dari dalam sakunya si orang berbaju hitam itu kembali


mengeluarkan sebuah besi sembrani dan didekatkan ke
mulut luka di atas tubuh Phoa Ceng Yan, setelah
mengurut beberapa saat di atas jalan darahnya, ia baru
mengangkat kembali besi sembrani tersebut.

“Heeeei………. masih untung sekali!” serunya sambil


menghembuskan napas panjang.

“Pertama, tenaga dalam Phoa-heng sempurna dan


buru-buru menutup seluruh jalan darah sehingga jarum

98
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beracun tersebut masih tertinggal di tempat semula.


Kedua, waktupun belum lama, sehingga jarum itu kena
Siauw-te tarik keluar dari dalam badan.”

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan segera


menoleh, sedikitpun tidak salah, di atas besi sembrani
tersebut benar-benar sudah tertempel dua batang jarum
beracun yang halus bagaikan bulu sapi.

Tak terasa lagi sambil goyangkan kepala ia menghela


napas. “Heeeei….. sekalipun senjata rahasia ini tidak
dipolesi dengan racunpun, sudah jauh lebih ganas
daripada jarum Bwee Hoa Tin…….” katanya.

Lelaki berbaju hitam itu tertawa rikuh.

“Senjata rahasia ini memang benar-benar sangat


ganas,” sahutnya. “Barang siapa yang terkena senjata
rahasia ini maka jarum tersebut akan segera mengalir
masuk ke jantung melalui peredaran darah, di dalam dua
belas jam kemudian jarum tersebut akan menembusi
jantung dan siapapun yang terkena pasti akan binasa,
ditambah pula daya bekerja racun ini sangat ganas maka
setiap orang yang terhajar oleh jarum ini dengan cepat
akan kehilangan daya kekuatannya untuk melakukan
perlawanan….”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali.

“Tetapi cayhe sangat berhati-hati di dalam


menggunakan jarum beracun ini, bilamana bukan
dikarenakan keadaan yang kepepet cayhe belum pernah
menggunakan secara serampangan.”

99
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan mengangguk tidak berbicara, sedang


dalam hati diam-diam pikirnya.

“Lam Thian Sam Sah sudah hampir berhasil mencapai


pada sasarannya bahkan siap-siap hendak
membinasakan kami semua untuk melenyapkan bibit
bencana di kemudian hari, tetapi mengapa kini secara
mendadak ia berubah maksud? Bahkan membantu aku
untuk membalutkan luka dan berulang kali minta maaf.
Dari pihak Liong Wie Piauw-kiok aku rasa tiada suatu
kekuatan yang bisa memaksa mereka untuk bersikap
demikian. Kejadian ini tentu timbul dari pihak keluarga
Liauw!”

Sewaktu ia berpikir keras itulah, di sebelah sana Ang


Nio CU telah membalut luka-luka yang diderita oleh
kelima anak buah Piauw-kiok tersebut.

Nyoo Su Jan pun sudah dibebaskan kembali jalan


darahnya yang tertotok oleh Ang Nio CU.

Beberapa orang anak buah Liong Wie Piauw-kiok yang


dibebaskan totokan jalan darahnya oleh Ang Nio Cu
bahkan dibantu pula membalutnya luka-luka yang
mereka derita, benar-benar dibuat tertegun dan berdiri
melongo-longo oleh kejadian tersebut.

Dengan terpesona mereka memandang ke arah dara


berbaju merah itu, sekalipun dalam hati merasa sangat
heran tetapi tak seorangpun diantara mereka yang
mengajukan pertanyaan kepada Ang Nio CU maupun
kepada Liauw Thayjien.

100
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nyoo Su Jan setelah menggerak-gerakan otot-ototnya


yang kaku dan melancarkan peredaran darah di dalam
badannya, segera melangkah mendekati diri Phoa Ceng
Yan.

“Hu Cong Piauw-tauw, apa yang sudah terjadi?”


tanyanya setengah berbisik.

“Sebenarnya peristiwa ini hanya suatu kesalah


pahaman saja”. Belum menanti Phoa Ceng Yan
menjawab, si lelaki berbaju hitam itu sudah menimbrung
dari samping. “Kami merasa sangat menyesal sekali akan
kejadian-kejadian ini. Baru saja Cayhe sudah
menerangkan kepada diri Phoa-heng, sangat
mengharapkan kelapangan dada dari Phoa-heng untuk
menyudahi peristiwa ini dan kita saling bergandengan
tangan sebagai kawan kembali.”

“Aaakh…..!” seru Nyoo Su Jan agak tertahan, buru-


buru ia mundur ke belakang.

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan bangun berdiri dan


dengan langkah yang ringan mendekati tubuh Liauw
Thayjien.

“Thayjien! Di tempat luar angin bertiup kencang


saljupun turun dengan amat deras, silahkan Thayjien
untuk naik kembali ke dalam kereta,” sapanya setengah
berbisik.

101
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan termangu-mangu Liauw Thayjien memandang


sekejap ke arah Phoa Ceng Yan, akhirnya ia menurut dan
naik ke dalam keretanya.

Walaupun di dalam hati penuh diliputi berbagai


persoalan yang mencurigakan hatinya, tetapi sebagai
seorang manusia yang pernah menjabat sebagai
pembesar hampir separuh hidupnya maka sifatnya sudah
tertlalu tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Aaaah….bagus, bagus…!” serunya sambil mendehem


perlahan.

Kakinya segera melangkah naik ke dalam kereta.

Menanti Liauw Thayjien sudah berada di dalam kereta,


si orang berbaju hitam itu baru melepaskan buntalan
putih pada pundaknya kemudian dengan sangat hormat
diserahkan kembali ke tangan Phoa Ceng Yan.

“Phoa-heng, kau terimalah!”

Phoa Ceng Yan tidak mengucapkan kata-kata lagi, ia


lantas menerima angsuran buntalan putih tersebut.

Ketika itulah dari tempat kejauhan berkumandang


datang suara derapan kaki kuda yang memecahkan
kesunyian di sekitar tempat itu.

Ketika ia menengok, terlihatlah si siucay berbaju biru


itu dengan menuntun tiga ekor kuda sedang berlari
mendekat.

102
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di atas punggung kuda sebelah kiri kanannya masing-


masing terduduklah Lie Giok Liong serta Ih Coen, senjata
tajam andalan merekapun sudah tersoren di atas
pinggangnya.

Menanti kedua ekor kuda itu hampir mendekati depan


kereta, Lie Giok Liong serta Ih Coen segera melayang
turun ke ats tanah.

“Paman Jie Siok…..” sapanya sambil menjura.

“Ehmmmmm! Kalian minggirlah.”

Kedua orang itu tidak berani banyak berbicara lagi,


dengan sangat hormat mereka mengundurkan diri ke
samping.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” seru Ang Nio Cu


kemudian sambil berjalan mendekat. “Jalan darah dari
keenam orang Piauw-tauw kalian sampai kini siauw-moay
tidak berani membebaskan, takut mereka mencari gara-
gara lagi. Untung saja di atas tubuh mereka sama sekali
tak terluka sehingga walaupun jalan darah masih tertotok
tak akan mengganggu kesehatan mereka. Setelah kami
tiga bersaudara pergi dari sini, merepotkan Hu Cong
Piauw-tauw suka turun tangan sendiri untuk
membebaskan jalan darah mereka.”

“Pendapat dari nona sedikitpun tidak salah, Thio Toa


Hauw itu memang rada goblok dan angseran!” kata Phoa
Ceng Yan mengangguk.

103
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa-heng!” ujar si orang berbaju hitam itu kemudian


sambil menjura. “Yang terluka sudah kami balut sehingga
tidak mengganggu kesehatannya lagi, sedang enam
orang yang meninggal, cayhe tiga bersaudara tak
sanggup untuk menghidupkan mereka kembali, harap
Phoa-heng suka merahasiakan kejadian ini sehingga
jangan sempat diketahui orang lain, bilamana kau suka
berbuat demikian di kemudian hari kami pasti akan
mengucapkan terima kasih dan membalas budi tersebut.
Harap kalian suka baik-baik berjaga diri, kami tiga
bersaudara mohon diri terlebih dulu!”

Selesai berkata ia lantas meloncat naik ke atas pelana,


di antara sentakan tali les kudanya segera berputar dfan
lari ke depan dengan sangat cepat.

Si siucay berbaju biru serta Ang Nio Cu-pun bersama-


sama meloncat naik ke atas pelana.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Maaf atas kejadian ini


hari” seru dara berbaju merah itu sambil tertawa dan
menggapei tangannya. “Bilamana di kemudian hari kita
bertemu muka kembali, Siauw-moay pasti akan
mengundang dirimu untuk dijamu dengan satu cawan
arak!”

Phoa Ceng Yan selamanya bersikap keren dan jarang


bergurau, perkataan dua tiga patah dari Ang Nio Cu ini
kontan saja membuat si orang tua itu jadi gelagaoan dan
merasa bingung perkataan apa yang harus diucapkan.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh dan


bayangan punggungnya lenyap di balik permukaan salju,

104
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan baru menghembuskan napas panjang.


Sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke arah
Nyoo Su Jan, Ih Coen serta Lie Giok Liong bertiga.

“Kalian bertiga apakah terluka?” tanyanya kemudian.

“Tidak!” jawab mereka bertiga hampir berbareng.

“Phoa-ya, sebenarnya apa yang sudah terjadi?” tanya


Nyoo Su Jan keheranan.

“Saat ini aku sendiripun tidak begitu paham,” sahut


Phoa Ceng Yan sambil gelengkan kepala dan menghela
napas panjang. “Coba kalian periksalah beberapa orang
anak buah kita yang terluka apakah masih bisa
melanjutkan perjalanan, yang mati untuk sementara
waktu kita kubur dulu di sini dan dikasih tanda, menanti
tugas kita sudah selesai kita orang barulah berusaha
untuk mengangkut jenasah mereka.

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali,


“Su Jan! Coba kau periksalah bagaimana keadaan dari
Toa Hauew, bebaskan sekalian jalan darahnya yang
tertotok. Suruh dia jangan banyak meronta lalu pesan
pula kepada semua orang agar jangan bocorkan
peristiwa ini di tempat luaran, roda kereta sesudah
dibetulkan kita segera melanjutkan perjalanan.”

Nyoo Su Jan mengiakan, ia lantas putar badan dan


berlalu.

Walaupun Lie Giok Liong serta Ih Coen tidak


mendapat perintah dari Phoa Ceng Yan, secara sukarela

105
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merekapaun segera turun tangan membantu Nyoo Su


Jan untuk memeriksa keadaan luka dari anak buah
mereka, melancarkan peredaran darah dan membalut
kembali luka-luka tersebut dengan obat luka.

Orang-orang piauw-kiok yang setiap harinya


melakukan pekerjaan di atas ujung golok, selamanya
menggembol obat luka di setiap saku masing-masing
setelah beribut beberapa saat lamanya, luka-luka di
badanpun telah dibalut dan mereka-mereka yang terluka
segera dinaikkan ke dalam kereta.

Untung saja kuda-kuda jempolan yang menarik


kereta-kereta mereka cuma dua ekor saja yang terluka,
Lie Giok Liong serta Ih Coen lantas mengalah dan
memberikan kuda tunggangannya untuk menarik kereta.

Thio Toa Hauw serta Nyoo Su Jan-pun segera


menggali beberapa buah liang di tepi jalan untuk
menggubur beberapa sosok jenasah itu, kemudian
menebang sebuah pohon kecil yang dibuat menjadi
papan nama dan ditancapkan di atas kuburan-kuburan
tersebut.

Walaupun Phoa Ceng Yan tidak turun tangan bekerja,


tetapi selama ini ia selalu berdiri di atas permukaan salju
mengontrol jalannya seluruh pekerjaan.

Menanti kudapun sudah dipasang kembali di depan


kereta, ia baru berseru, “Mari kita melanjutkan
perjalanan!”

106
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thio Toa Hauw serta Nyoo Su Jan lantas memberikan


kuda tunggangannya untuk kedua orang anak buah
mereka yang terluka ringan.

Ketika Phoa Ceng Yan melihat semuanya sudah beres,


keretapun mulai melanjutkan perjalanan, ia baru berjalan
ke depan kereta yang ditumpangi Liauw Thayjien.

“Liauw Thayjien …..” sapanya sambil mendehem


perlahan.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, mari naiklah kita


berbicara di dalam kereta saja” sahut Liauw Thayjien
sambil menyingkapkan horden.

Di dalam hati Phoa Ceng Yan memang lagi dipenuhi


dengan beberapa persoalan yang membingungkan
hatinya dan sangat mengharapakan bisa ditanyakan
kepada sang bekas pembesar negeri ini.

Kini mendengar Liauw Thayjien mempersilahkan ia


untuk naik, mengikuti gerakan tongkat sang ular
merambat, dengan cepat ia melangkah naik ke dalam
kereta.

Kiranya di dalam kereta tersebut hanya ditumpangi


Liauw Thayjien beserta seorang kacung bukunya.

Saat ini si kacung buku itu sudah berpindah ke dalam


kereta yang keempat, jadi dalam kereta tinggal Liauw
Thayjien seorang diri.

107
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“heeeei….!” terdengar Phoa Ceng Yan menghela napas


panjang dan menyerahkan buntalan kain putih itu ke
tangan Liauw Thayjien. “Kali ini aku orang she Phoa
benar-benar sudah jatuh kecundang di tangan orang lain
sehingga menyusahkan dan mengejutkan Liauw
Thayjien, hal ini benar-benar membuat hati aku orang
she Phoa merasa sangat menyesal.”

Sambil menerima angsuran buntalan tersebut, Liauw


Thayjien tertawa tawar.

“Kalian sudah menggunakan seluruh tenaga yang ada


untuk mempertahankan diri, harta serta keselamatan kita
sama sekali tidak menderita rugi kecuali sedikit terkejut
saja, hal ini tidak terhitung apa-apa. Sebaliknya korban
terluka dan binasa yang diderita perusahaan saudara
tidak kecil. Untuk membuktikan sedikit perhatian kami,
aku rasa keluarga yang lagi dirundung kematian baiknya
diberi hadiah sebesar seratus tahil perak sedang yang
hanya terluka lima puluh tahil peral, menanti setelah tiba
di kota Kay Hong, akan kubayar kontan,” katanya.

Phoa Ceng Yan kontan saja merasakan wajahnya jadi


panas, ia tertawa rikuh.

“Thayjien terlalu merendah, perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok kami tidak becus sehingga membuat Thayjien
serta Hujien jadi terkejut karena hal ini saja sudah cukup
membuat kami merasa sangat tidak tentram, mana
mungkin kami berani menerima penghargaan dari
Thayjien lagi? Mengenai anak buah kami yang mati atau
terluka dari perusahaan kami sudah ada cara-cara
terbiasa untuk mengaturnya, kami adalah orang-orang

108
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang mencari makan dengan menjual nyawa, mati atau


terluka merupakan suatu peristiwa yang sangat terbiasa,
tentang soal ini perusahaan kami tak berani minta
sumbangan lagi dari Liauw Thayjien…”

Perlahan-lahan ia menghela napas panjang,


sambungnya kembali, “Heeei…..! Apalagi ini hari aku
orang she Phoa beserta beberapa orang Piauw-su bisa
lolos dari kematian, kesemuanya karena perlindungan
dari Thayjien…..”

“berkat perlindunganku……” seru Liauw Thauyjien


melengak.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-


bahak.

“Haaaa……..haaaa…….. saudara terlalu memuji, terlalu


memuji. Untuk memotong seekor ayam pun tak
bertenaga bagaimana mungkin bisa mengundurkan
musuh tangguh? setelah mereka berhasil mendapatkan
apa yang dicapai tetapi mendadak berubah hati dan
menyerahkan kembali barang rampasannya di dalam hal
ini tentu ada sebab-sebabnya, walaupun aku bukan
seorang jagoan kang-ouw, tetapi rasanya sebab-sebab
ini tidak sulit untuk ditebak!”

“Apa sebabnya?”

Liauw Thayjien tertawa.

“Sudah lama aku dengar piauw-su piauw-su dari


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berjumlah banyak dan

109
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

semuanya berbakat, bahkan cara kalian mencari balas


untuk menuntut kembali barang-barang yang dibegalpun
jauh lebih kejam dan ganas dari tindakan petugas-
petugas pengadilan. Aku rasa tentunya mereka merasa
jeri sehingga di tengah jalan sudah berubah pikiran dan
menyerahkan kembali barang tersebut kepada
pemiliknya.

Selesai mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan


jadi tertegun, pikirnya, “Liauw Thayjien ini benar-benar
pandai membawa diri, terang-terangan Lam Thian Sam
Sah berubah hati setelah menemui suatu peristiwa yang
mengejutkan di dalam kereta nona Liauw, kemudian
menyerahkan kembali benda itu, sekarang ternyata
malah menjatuhkan jasa tersebut ke tangan perusahaan
piauw-kiok kami……”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia bertanya,


“Thayjien, apakah kau orang benar-benar tidak mengerti
akan ilmu silat?”

“Bagaimana dengan putrimu?”

Air muka Liauw Thayjien segera berubah jadi keren.

“Walaupun Siauw-li selalu mengikuti aku berpindah-


pindah tempat selaku pembesar dan pergi entah
seberapa banyak tempat, tetapi selama ini bukannya naik
kereta ia tentu digotong dengan tandu. Peraturan
keluarga pembesar sangat ketat sekali, pada hari-hari
biasa sangat sukar untuk meninggalkan ruangan bagian
dalam bareng selangkahpun, jangan dikata belajar ilmu
silat, sekalipun membaca sedikit buku syairpun aku yang

110
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

turun tangan sendiri memberi pelajaran, urusan ini tak


mungkin bisa terjadi,” katanya.

Phoa Ceng Yan yang melihat paras mukanya sangat


serius, sedikitpun tidak kelihatan sedang berbohong,
dalam hati kembali berpikir.

“Perkataannya sedikitpun tidak salah, teringat nona itu


tak lebih hanyalah seorang budak yang baru berusia
belasan tahun, sekalipun ia pernah belajar ilmu silat
belum tentu pernah berkelana di dalam dunia kangouw,
sedangkan Lam Thian Sam Sah pun cuma menyingkap
horden sejenak saja dan nona Liauw semisalnya benar-
benar memiliki kepandaian yang sangat tinggi tetapi ia
belum pernah angkat nama di depan dunia kangouw
bagaimana mungkin Lam Thian Sam Sah setelah
menemuinya lantas melarikan diri terbirit-birit dan
mengembalikan barang rampokannya? Di dalam hal ini
pasti ada hal-hal yang aneh, tetapi apakah sebabnya?
heee….Hal ini benar-benar susah ditebak!”

Tetapi bagaimana juga, ia adalah seorang jago


kawakan. Setelah termenung sejenak ujarnya lagi.

“Lalu apakah Thayjien pernah berhubungan dengan


orang-orang Bu-lim?….”

“Tidak! Aku belum pernah mengadakan hubungan,”


sahut Liauw Thayjien sambil menggeleng. “Tetapi tempo
dulu sewaktu aku masih menjabat sebagai pembesar
pernah menghukum mati dua orang perampok besar,
orang-orang yang mencegat kita ini hari kemungkinan

111
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali ada hubungan dan sangkut pautnya dengan


peristiwa tersebut.”

“Kapan itu terjadinya??”

“Sudah puluhan tahun yang lalu!”

Phoa Ceng Yan sewaktu melihat dia orang tidak


berhasil mendapatkan sedikit keterangan yang
menyangkut persoalan ini, dalam hati merasa sangat
tidak puas, pikirnya.

“Aku tidak percaya dengan pengalamanku selama


puluhan tahun berkelana di dalam dunia kangouw tidak
berhasil memperoleh sedikit keterangan dari mulutnya.”

Dengan cepat ia menggubah bahan pembicaraan.

“Thayjien!” serunya perlahan. “Aku orang she Phoa


ada beberapa patah kata yang tidak senonoh hendak
minta petunjuk, bilamana ada hal-hal yang tidak pada
tempatnya, masih mengharapkan Thayjien suka
memaafkan.”

“Baik! Kau bicaralah!”

“Benda apa yang terdapat di dalam buntalan putih


yang ada di sisi Liauw Thayjien?”

“Sewaktu mereka membuka untuk dilihat tadi apakah


Phoa Hu Cong Piauw-tauw tidak ikut melihat?” tanya
Liauw Thayjien dengan kening yang dikerutkan.

112
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bilamana cayhe sudah melihat, saat ini buat apa


mengajukan pertanyaan kembali? tetapi cayhe berani
memastikan kalau benda yang berada di dalam buntalan
tersebut pastilah bukan benda-benda berharga seperti
intan permata dan sebangsanya. Thayjien adalah
seorang pembesar jujur, harta yang kau milikipun tidak
berlimpah-limpah, tetapi untuk memancing niat Lam
Thian Sam Sah untuk turun tangan membegal hal ini
cukup menunjukan di dalam peristiwa ini ada hal-hal
yang tidak beres.”

Liauw Thayjien tersenyum.

“Jadi Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah menaruh


curiga terhadap barang yang disimpan dalam buntalan
ini?” tanyanya.

“Curiga sih tidak! Aku orang she Phoa hanya ingin


melihat keadaan yang sebenarnya, kemungkinan sekali
benda yang berada di dalam buntalan ini ada sangkut
pautnya dengan orang-orang dunia kangouw!”

Ternyata Laiuw Thayjien adalah seorang yang


berlapang dada, setelah termenung sejenak lalu katanya,
“Kalau begitu kau bukalah sendiri untuk diperiksa!”

“Apakah leluasa?” Phoa Ceng Yan melengak, agaknya


ia tidak menyangka kalau urusan bisa berjalan dengan
sangat lancar.

“Akupun tak dapat menduga apakah benda yang


berada di dalam buntalan tersebut mempunyai sangkut
paut yang erat dengan orang-orang kalangan Bu-lim

113
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kalian. Bilamana aku tidak mengijinkan kau membuka


untuk diperiksa, rasanya dalam hatimu tentu bakal
semakin menaruh curiga lagi.”

“peristiwa yang terjadi pada ini hari di mana secara


tiba-tiba pihak musuh mengubah niatnya di tengah jalan,
aku rasa pasti terkandung suatu sebab-sebab yang tidak
mudah dipecahkan.” pikir Phoa Ceng Yan dalam hati.

“Kalau memangnya dia orang meminta aku melihat


benda tersebut, kesempatan yang sangat baik ini tidak
boleh aku lewatkan dengan begitu saja.”

“Kalau memang Thayjien menginginkan aku berbuat


demikian, aku orang she Phoa akan mengikuti perintah
saja.”

Selesai berkata, ia memungut buntalan tersebut lalu


perlahan-lahan dibuka.

Ternyata di dalam buntalan itu hanya terdapat


segulung lukisan yang terbuat dari kain putih.

“Sungguh aneh sekali!” kembali Phoa Ceng Yan


berpikir. “Jauh dari daerah Kang-Lam, Lam Thian Sam
Sah datang ke jalan Han Tan, tidak lain hanya ingin
merebut sebuah lukisan….. tentang lukisan ini
mengandung suatu rahasia yang maha besar biarlah aku
buka untu dipreiksa isinya.”

Tidak menunggu perintah dari Liauw Thayjien lagi, ia


lantas membentangkan lukisan itu.

114
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata lukisan tersebut adalah sebuah lukisan


pengembala kambing, kecuali seorang bocah cilik yang
mencekal sebuah cambuk panjang yang lain adalah
lukisan kambing-kambing yang berbeda jenis maupun
gerakan-nya, sebagai latar belakang lukisan itu adalah
serentetan puncak gunung yang jauh menjulang ke
angkasa beserta sebuah sungai kecil di depan kelompok
kambing-kambing itu.

Kendati si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan


sudah sering melakukan perjalanan di dalam dunia
kangouw dan mempunyai pengetahuan yang sangat
luas, tetapi terhadap maksud dari lukisan tersebut bukan
saja tidak paham bahkan mengertipun tidak.

Ia cuma merasakan bahwa kambing-kambing yang


ada di dalam lukisan tersebut baik kambing tua maupun
kambing kecil, kambing gunung serta domba itu mirip
sekali keadaannya satu sama lain.

Selain tanda tersebut ia tidak berhasil menemukan


suatu apapun yang mencurigakan, tak terasa lagi dalam
hati merasa sangat mangkel dan murung pikirannya,
“Sekalipun lukisan tersebut hasil karya dari seorang
pelukis terkenal dan harganya sangat tinggi tetapi buat
apa Lam Thian Sam Sah membegalnya? dengan nama
besar dari Lam Thian Sam Sah di dalam dunia kangouw
tidaklah mungkin mereka dengan membawa lukisan itu
untuk diperjual-belikan, apalagi orang-orang yang
mengerti akan lukisan ini, dan dapat membelinya kecuali
orang-orang yang punya duit hanyalah orang-orang yang
terpelajar, terhadap lukisan yang tidak diketahui asal
usulnya mereka tidak mungkin akan mau membeli.”

115
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Otaknya berputar dengan sangat keras, setelah dipikir-


pikir kembali berulang kali tetapi tidak berhasil juga
menemukan letak nilai berharganya lukisan pengangon
kambing itu.

Tetapi iapun tahu bila Lam Thian Sam Sah bukanlah


orang-orang Liok-Lim biasa, bilamana dikatakan mereka
datang hanya bertujuan membegal lukisan pengangon
kambing yang sama sekali tak ada harganya, sudah tentu
hal ini sukar untuk membuat orang jadi percaya.

Inilah sebuah teka-teki yang membingungkan, Phoa


Ceng Yan merasa dengan kecerdikannya tidak gampang
untuk memecahkan rahasia tersebut. Akhirnya perlahan-
lahan ia menggulung kembali lukisan itu.

“Ehmmm……! Lukisan ini tidak jelek!” serunya.

“Sungguh luar biasa!” Liauw Thayjien menanggapi


sambil tersenyum, “Tidak kusangka Phoa Hu Cong
Piauw-tauw kecuali memiliki ilmu silat yang tinggi, masih
dapat mengagumi pula lukisan-lukisan indah…..”

“Aaach! Thayjien terlalu memuji, cayhe cuma penjual


silat kasaran, bagaimana mungkin bisa mengagumi
lukisan-lukisan indah?? cuma di dalam hati Cayhe ada
suatu urusan yang merasa tidak paham dan ingin
meminta petunjuk dari Thayjien, harap Thayjien suka
memberi penjelasan secara terus terang.”

“Urusan apa??” tanya Liauw Thayjien sembari


menggulung kembali lukisan tadi.

116
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sewaktu Lam Thian Sam Sah datang membegal


lukisan tersebut, Thayjien pernah memberi pesan kepada
cayhe agar suka menghantarkan lukisan ini ke istana Tok
Ci Hu, agaknya di dalam hati Thayjien sudah mengerti
bila kedatangan dari Lam Thian Sam Sah adalah
bertujuan pada lukisan itu.

“Heeei….! Sebetulnya lukisan ini buka milikku,” ujar


Liauw Thayjien setelah termenung sebentar. “Aku tidak
lebih hanya mendapat titipan dari orang lain untuk
menghantarkan lukisan tadi ke kota Kay Hong.”

Mendengar perkataan tersebut, semangat Phoa Ceng


Yan berkobar kembali.

“Siapakah orang itu? Dapatkah Thayjien memberitahu


….” serunya buru-buru.

Ia rada merandek sejenak, kemudian sambungnya


kembali, “Bilamana orang itupun merupakan orang-orang
Bu-lim, maka urusan ini tidak sulit untuk diduga!”

“Orang itu sama sekali bukan orang-orang dari


kalangan Bu-lim, urusan ini walaupun kecil, tetapi
sebelum cayhe mendapatkan ijin dari dirinya, aku tidak
berani menyebutkan namanya secara sembarangan.”

“Ehmmm……! Kelihatannya ia pandai sekali pegang


rahasia,” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan di dalam
hatinya. “Aku merasa rada tidak percaya dengan
pengalamanku di dalam dunia kangouw selama puluhan

117
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tahun tidak berhasil menangkan dirinya sebagai seorang


bekas pembesar negeri.”

Dengan cepat ia menggubah bahan pembicaraan,


katanya kembali, “Walaupun cayhe pernah menemui
beberapa orang pelukis kenamaan, tetapi tak berhasil
aku ketahui berasal dari pelukis manakah lukisan
pengangon kambing ini?”

“Hal ini tidak bisa disalahkan Phoa-suhu tidak


mengetahui” kata Liauw Thayjien sambil tertawa.
“Karena pelukis dari lukisan ini bukanlah seorang pelukis
kenamaan!”

“Kalau memang lukisan ini bukanlah hasil karya dari


seorang pelukis kenamaan, mengapa Thayjien
memperhatikannya dengan demikian serius?”

“Karena lukisan ini bukan milikku, bilamana sampai


lenyap, aku harus pergi ke mana untuk mencarinya
kembali dan mempertanggung-jawabkan peristiwa ini di
hadapan orang yang menitipi lukisan itu kepadaku?”

“Sungguh aneh sekali!” kembali Phoa Ceng Yan


berpikir di dalam hatinya. “Bilamana dilihat lukisan ini
memang benar-benar sama sekali tak berharga, tetapi
mengapa Liauw Thayjien bisa menaruh perhatian yang
amat sangat?”

Tetapi ia-pun menyadari sekalipun ditanyakan lebih


lanjutpun tiada gunanya, terpaksa ia merangkap
tangannya menjura.

118
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Disebabkan peristiwa pembegalan yang terjada pada


ini hari, aku orang she Phoa merasa sangat menyesal
sekali, kendati cuma ada rasa terkejut dan tidak sampai
menimbulkan bahaya tetapi hal ini hanya bisa salahkan
aku orang she Phoa tidak becus ….”

“Sudah…….sudahlah! Urusan sudah lewat, Phoa-suhu


pun tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri” potong
Liauw Thayjien dengan cepat.”Ini hari kita berhasil
melewatkan keadaan bahaya ini dengan cuma
mengandalkan rasa terkejut saja, bukankah kesemuanya
ini mengandalkan kegagahan dari Liong Wie Piauw-kiok
kalian?”

Phoa Ceng Yan tertpaksa tertawa pahit, kembali


pikirnya di hati, “Kelihatannya orang-orang terpelajar
yang pernah menjabat sebagai pembesar mempunyai
pikiran yang jauh lebih teliti daripada kami orang-orang
yang melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw ….”

Karena keadaan apa boleh buat dan tak berhasil


mengorek sesuatu keterangan dari mulut pembesar itu,
terpaksa ia menjura.

“Thayjien silahkan beristirahat, aku orang she Phoa


mohon diri terlebih dahulu.”

“Kuda tunggangan tidak cukup, sekeliling tempat


inipun merupakan hutan-hutan yang sunyi sekalipun ada
uang juga sukar untuk memperoleh kuda tunggangan,
bilamana Phoa-Loosuhu berada di dalam satu kereta
dengan cayhe, akupun masih ingin mendengarkan sedikit

119
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kisah yang menyangkut pengalaman Loosuhu sewaktu


ada di dalam dunia persilatan”.

“Aaakh ……! Soal itu sih tidak perlu! Sepasang kaki


dari ornag she Phoa masih cukup keras untuk
melanjutkan perjalanan, apalagi urusan di tempat luaran
masih membutuhkan tenagaku untuk mengurusinya.
Semoga saja sejak kini tak ada urusan lain lagi yang
terjadi sehingga tidak sampai mengejutkan diri Thayjien.”

“Bilamana demikian adanya, silahkan Phoa-Loosuhu


untuk berlalu.”

Phoa Ceng Yan lantas mohon diri dan meloncat turun


dari dalam kereta tersebut, ia mengitari dulu kelima buah
kereta tersebut terutama memperhatikan kereta terakhir
yang ditunggangi oleh nona Liauw.

Perputaran roda kereta berdetak membisingkan


telinga dan meninggalkan bekas yang memanjang di atas
permukaan salju, bagaimanapun Phoa Ceng Yan meneliti
dan memeriksa tak berhasil juga dia menemukan sesuatu
tanda-tanda yang mencurigakan di luar kereta tersebut.

Mendadak …… dari balik kereta yang tertutup rapat-


rapat itu muncullah sebuah tangan halus putih disusul
seorang gadis muda menampakkan diri di tengah tiupan
angin utara yang sangat dingin.

“Berhenti ……. berhenti!” teriaknya berulangkali.

120
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kusir kereta tersebut dengan cepat menyentak tali les


kudanya dan menghentikan lajunya sang kereta yang
sedang melanjutkan perjalanan.

“Nona, ada urusan apa?” tanya Phoa Ceng Yan


dengan cepat sambil meloncat ke depan.

“Nona ketakutan dan sekarang sakit panas!” sahut


gadis tersebut dengan wajah penuh kekuatiran.

Sebenarnya Phoa Ceng Yan hendak menggunakan


kesempatan ini loncat masuk ke dalam kereta dan
membongkar rahasia yang meliputi kereta tersebut untuk
melihat benda apakah sebenarnya yang sudah membuat
Lam Thian Sam Sah berubah niat mengundurkan dirinya.

Tetapi dayang yang berbicara tadi kecuali


melongokkan kepalanya ke depan, tangan kanannya
dengan erat-erat memegangi horden di depan kereta, hal
ini membuat Phoa Ceng Yan tak berhasil melihat jelas
pemandangan di dalam kereta tersebut.

Ketika itulah, kereta-kereta yang berada di depan


sudah pada berhenti semua, dari kereta ketiga muncullha
Liauw Hujien yang berjalan mendekati mereka dengan
langkah tergesa-gesa.

“Cun Lan! Kau berkata siapa yang sudah sakit??”


tanyanya.

“Nona telah menderita sakit, bahkan sakitnya sangat


keras, panasnya luar biasa sekali sedang ia sendiri sudah
jatuh tak sadarkan diri.”

121
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar perkataan tersebut, Liauw Hujien semakin


mempercepat langkahnya.

“Cepat bimbing aku naik ke dalam kereta,” serunya


cepat.

Karena langkahnya yang amat cepat dan tergesa-


gesa, terpaksa Phoa Ceng Yan menyingkir ke arah
samping.

Cun Lan segera menarik tangan Liauw Hujien yang


dengan setengah merangkak naik ke dalam kereta.

Saat ini Phoa Ceng Yan masih belum suka matikan


niatnya, ia mengharapkan bisa berhasil menyelidiki sebab
yang telah memaksa Lam Thian Sam Sah mengundurkan
diri.

Tubuhnya tetap berdiri di depan kereta setelah


mendehem sejenak lantas ujarnya.

“Hujien, penyakit putri kesayanganmu apakah sangat


parah sekali?”

“Benar parah sekali! Saking panasnya ia sudah jatuh


tidak sadarkan diri,” sahut Liauw Hujien sambil
menengok keluar. “Sejak kecil ia sudah terbiasa dimanja
dan disayang, kapan ia pernah menemui kejadian yang
sangat mengejutkan ini?”

Phoa Ceng Yan segera merasa pipinya jadi sangat


panas.

122
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cayhe tidak becus sehingga nona jadi terkejut …..”


serunya.

“Urusan sudah lewat tak usah kita bicarakan lagi, yang


penting pada saat ini adalah mencari cara untuk
menyembuhkan penyakit dari Siauw-li, aku lihat …..”

Ketika itulah Liauw Thayjien sudah menerima laporan


dan berlari mendatang.

“Ada urusan apa?” sambungnya.

“Wan-jie sakit keras, ia tentu terkejut karena kejadian


tadi sehingga saking takutnya berubah menjadi penyakit”
kata Liauw hujien sambil mengucurkan air mata.

Bagaimanapun Liauw Thayjien adalah seorang bekas


pembesar, menghadapi kejadian apapun tetap berdiri
tenang.

“Sudah…. sudahlah jangan ribut dahulu” hiburnya.


“Suruh Coen Lan berikan sebungkus Cap Biauw San
kepadanya agar ia bisa tidur sebentar, setelah tiba di
kota sebelah depan kita baru undang tabib untuk
memeriksa sakitnya….”

Berbicara sampai di sini ia merandek sejenak,


kemudian sambil menoleh ke arah Phoa Ceng Yan
sambungnya kembali.

“Phoa-suhu, tempat ini dengan dusun yang terdekat


masih seberapa jauh?”

123
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lama sekali Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras.

“Ingatan loolap sudah rada buram” sahutnya perlahan,


perlahan-lahan ia menoleh ke arah kusir kereta tersebut,
“Kau orang sering melakukan perjalanan lewat tempat
ini?”

“Lapor Jia-ya, hamba pernah melakukan perjalanan


lewat jalan raya Han Tan ini,” sahut kusir tersebut
dengan sangat hormat.

“Di depan sana adalah sebuah hutan pohon siong


yang lewat, setelah melakukan perjalanan sejauh
sepuluh lie, kita baru sampai pada dusun kecil yang
terdekat.”

“Di dalam dusun itu ada kedai obat?” tanya Phoa Ceng
Yan kembali.

“Dusun tersebut cuma ditinggali kurang lebih seratus


keluarga saja, kedai obat mungkin ada, tetapi apakah
tabib yang memeriksa penyakit hamba kurang paham,
jikalau kita bisa melakukan perjalanan rada cepat,
mungkin sebelum hari menjadi gelap nanti dapat
mengejar tiba di kota Si Jan Sian, tempat itu sangat
besar dan banyak penduduknya, kemungkinan sekali di
kota tersebut kita berhasil mencari seorang tabib.”

“Jikalau penyakit nona Liauw sangat hebat bagaimana


mungkin bisa menunggu sampai nanti malam?”

124
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sejak kecil Wan jie berbadan lemah dan selalu


banyak sakit,” ujar Liauw Hujien dengan wajah
merengek. “Bagaimana mungkin ia tidak dibuat terkejut
oleh kejadian tadi di mana cahaya golok serta bayangan
pedang berkelebat tiada hentinya. Aku melihat panas
badannya seperti api, kemungkinan sekali tak dapat
menunggu sampai nanti malam.”

Jilid 4

“Hujien!” seru Liauw Thayjien dengan alis yang


dikerutkan rapat rapat. “Peristiwa ini adalah kejadian
yang menyangkut mati hidup seseorang, siapapun tidak
kuasa untuk menghindarinya. Tadi Wan jie berhasil lolos
tanpa terluka, hal ini sudah merupakan suatu
keuntungan.”

Kedua orang itu saling bantah membantah, hal ini


membuat Phoa Ceng Yan merasa sangat sedih dan serba
salah, tetapi ketika ini iapun tidak enak untuk ikut banyak
berbicara.

Pada saat itulah, mendadak tampak Nyoo Su Jan


dengan terburu-buru berlari mendekat.

“Jie-ya, ada mata-mata……”

“Mata-mata… kau tidak salah melihat?” seru Phoa


Ceng Yan dengan air muka berubah hebat.

125
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak bakal salah, hamba percaya penglihantanku


tadi tidak bakal salah!”

Agaknya secara mendadak itulah Phoa Ceng Yan


sudah memikul suatu beban yang seberat ribuan kati, air
mukanya berubah sangat serius, keren dan tegang.

“Kau pergilah beritahu Giok Liong, suruh dia bersiap


sedia dengan penuh kewaspadaan. Kali ini kita tak boleh
jatuh kecundang lagi di tangan orang lain,” katanya
perlahan.

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah” sahut


Nyoo Su Jan sambil mengangguk. “Peduli aliran manakah
yang datang kali ini, kita harus mempertahankan diri
mati-matian, bilamana perlu harus mengadu jiwa dan
jangan sampai jatuh kecundang lagi di tangan orang
lain.”

Setelah menjura buru-buru ia putar badan berlalu.

“Phoa-suhu!” menanti Nyoo Su Jan sudah berlalu,


Liauw Thayjien sambil mendehem datang menyapa.
“Apakah yang disebut sebagai mata-mata itu?”

Paras muka Phoa Ceng Yan pada saat ini sudah


berubah sangat dingin dan serius.

“Ooow……. mata-mata? itulah orang-orang yang


dikirim pihak lawan untuk melakukan pengintaian…..”

126
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku paham sudah, mari kita berbicara di depan saja,”


kata Liauw Thayjien mengangguk, ia lantas putar badan
berlalu.

Agaknya Liauw Hujien-pun sudah mendengar apa


yang sudah terjadi, dengan paras muka berubah buru-
buru ia menyusup masuk ke dalam kereta.

Phoa Ceng Yan dengan cepata lari mengejar diri Liauw


Thayjien.

“Thayjien!” ujarnya dengan cepat. “Aku orang she


Phoa ada beberapa pertanyaan yang hendak ditanyakan
kepadamu, harap Thayjien jangan menyalahkan diriku.”

“Phoa-suhu silahkan berbicara!”

“Biasanya cukup mengandalkan merek perusahaan


Liong Wie Piauw-kiok kebanyakan orang-orang Liok-lim
pada memberi muka kepada kami, kecuali barang
kawalan agaknya kali ini orang-orang Liok-lim pada
mengandung suatu maksud hendak turun tangan!”

“Maksud Phoa-suhu,” ujar Liauw Thayjien


kebingungan.

“Maksudku sudah amat jelas sekali, bilamana Thayjien


mempunyai sesuatu rahasia, aku mengharapkan kau
orang suka berterus terang dengan diri cayhe.”

“Aku tak habis pikir sebenarnya diriku mempunyai


rahasia apakah yang ada sangkut paut dengan kalian

127
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang-orang kangouw?” kata Liauw Thayjien


menggeleng.

“Cayhe ingin menanyakan satu persoalan kepada diri


Thayjien” ujar Phoa Ceng Yan dengan dingin. “Kecuali
lukisan tersebut, Thayjien sudah membawa barang apa
lagi?”

“Phoa-suhu, aku cuma membawa beberapa macam


barang antik beserta beberapa lembar lukisan saja, tetapi
aku rasa barang-barang tersebut agaknya tiada sangkut
pautnya dengan orang-orang dunia kangouw. Walaupun
aku belum pernah berkelana di dalam dunia kangouw
tetapi diriku bukanlah seorang manusia yang gemar akan
harta. Jikalau kali ini ada orang yang menghadang
perjalanan kita kembali, tolong Phoa-suhu suka
menanyakan maksud tujuannya! Asalkan mereka tidak
melukai orang maka barang-barang tersebut boleh
mereka ambil pergi”.

“Termasuk lukisan pengembala kambing itu?”

“Tadi aku sudah mengatakan bila lukisan itu adalah


milik orang lain” kata Liauw Thayjien dengan serius,”
Lebih baik kita jangan berikan benda itu kepada mereka,
tetapi semisalnya mereka ngotot juga menginginkan
lukisan pengembala kambing itu, berikan saja kepada
mereka! Bagaimana nyawa manusia jauh lebih penting
daripada lukisan. Perkataanku sampai di sini dulu,
bagaimana seharusnya bertindak aku serahkan saja pada
Phoa-suhu untuk memutusi sendiri!”

128
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai berkata dengan langkah lebar ia lantas kembali


ke dalam keretanya sendiri.

Dengan kejadian ini kontan saja membuat Phoa Ceng


Yan sebagai seorang jago kawakan dunia kangouw yang
banyak pengalaman dan sering melakukan perjalanan di
dalam Bu-lim jadi kebingungan seperti di tengah awang-
awang.

“Perkataan yang diucapkan oleh Liauw Thayjien


barusan ini bukan saja sesuai dengan keadaan bahkan
sangat cengli, sikapnya-pun bersungguh-sungguh, sama
sekali tidak kelihatan pura-pura.”

Tetapi apa sebabnya Lam Thian Sam Sah setelah


berhasil memperoleh lukisan itu secara mendadak dari
sikap bermusuhan berubah jadi berkawan?? Bahkan
mengembalikan barang yang telah berhasil dirampas?”

Mendadak satu ingatan bagus berkelebat di dalam


benaknya.

“Apa mungkin kelihayan dari nona Liauw tidak sampai


diketahui oleh kedua orang tuanya?” setelah kejadian ini
sengaja dia orang memperlihatkan sikapnya semacam
orang terkejut sehingga jatuh sakit untuk menutupi
semua perbuatannya??” pikir Phoa Ceng Yan di dalam
hati.

Kesimpulan ini meskipun rada kuat, tetapi kecuali


alasan itu Phoa Ceng Yan benar-benar tidak berhasil
memperoleh alasan-alasan yang lain untuk membuktikan
mengapakah Lam Thian Sam Sah yang terkenal

129
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keganasannya itu sesudah berhasil mendapatkan barang


yang dicari secara mendadak mengembalikan lagi barang
itu bahkan minta maaf berulang kali.

Sesudah berpikir sampai di sini, Phoa Ceng Yan dapat


memastikan bila nona Liauw tentu memiliki ilmu silat
yang luar biasa lihaynya dan tidak suka menonjolkan diri
disebabkan suatu alasan yang tertentu.

Ketika itulan Nyoo Su Jan dengan langkah yang cepat


sudah berjalan mendatangi.

Phoa Ceng Yan setelah memeras otak dan


menemukan keadaan sesungguhnya yang telah terjadi,
hatinya rada merasa lega.

Dengan ada Nona Liauw tidak bakal menemui bencana


atau semisalnya benar-benar ada orang yang hendak
membegal maka ia akan turun tangan mengadu jiwa.

Kini melihat Nyoo Su Jan berjalan mendekat dengan


langkah yang cepat, ia segera saja menyongsong
kedatangannya.

“Su Jan, adakah perubahan??”

Nyoo Su Jan gelengkan kepalanya berulang kali.

“Jie-ya, urusan rada tidak beres……”

“Apa yang sudah terjadi??” tanya Phoa Ceng Yan


dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat.

130
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mata-mata itu mendadak melepaskan mangsanya


dengan meninggalkan tulisan menanyakan keselamatan
di atas pohon di pinggir jalan, menurut peraturan Bu-lim
hal ini berarti bila mereka sudah melepaskan niatnya
untuk membegal barang kawalan kita!”

“Lalu apakah di bagian bawah dari tulisan tersebut


ditinggalkan nama atau tanda gambar?…..” tanya Phoa
Ceng Yan setelah termenung sejenak.

“Peristiwa ini justru keanehannya terletak di sini, di


atas tulisan itu tak ada nama di bawahnya-pun tidak ada
nama, orang lain sudah memberi muka kepada kita,
sebaliknya kita malah tidak tahu siapakah orang itu”

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Kemungkinan sekali orang lain memang bukan


memberi muka kepada kita dari pihak perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok!” sahutnya perlahan.

“Jie-ya! Kau jangan membuat aku jadi kebingungan


setengah mati” seru Nyoo Su Jan sambil tertawa
kebingunngan. “Bilamana mereka bukannya memandang
merek dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita serta
melihat nama besar dari Jie-ya, lalu apakah disebabkan
memandang muka keluarga Liauw itu???”

“Kemungkinan sekali……”

Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa tawar


sambungnya kembali dengan bicara lirih, “Su Jan, kau

131
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merasa orang-orang dari keluarga Liauw sangat


mengherankan tidak?”

Nyoo Su Jan adalah seorang jago kawakan di dalam


dunia kangouw, walaupun tidak mengerti keadaan yang
sesungguhnya, tetapi ia dapat menduga di antara ucapan
Phoa Ceng Yan tersebut tentu ada sebab-sebabnya.

“Lalu apakah Jie-ya sudah menemukan sesuatu??”


balik katanya.

Phoa Ceng Yan segera mempercepat langkahnya


menjauhi kereta yang ditumpangi nona Liauw.

“Sebelum turun tangan membegal barang kawalan


kita, Lam Thian Sam Sah tentu sudah mengadakan
perencanaan yang teliti, mereka tidak mungkin berubah
niat di tengah jalan disebabkan nama besar perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kita sehingga barang yang sudah
didapatkan dikembalikan lagi bahkan berlalu sambil
mengucapkan minta maaf berulang kali” katanya.

“Hamba cuma merasa sangat heran saja terhadap


peristiwa ini tetapi tidak mengerti keadaan sesungguhnya
yang telah terjadi. Jika didengar darimana ucapan Jie-ya
agaknya Lam Thian Sam Sah menaruh rasa jeri terhadap
Liauw Thayjien sehingga di tengah jalan membatalkan
niatnya.

“Bukan……..bukan Liauw Thayjien!” sahut Phoa Ceng


Yan sambil menggeleng. “Nona Liauw yang usianya
masih sangat muda itu?” teriak Nyoo Su Jan tak tertahan
lagi ia benar-benar merasa sangat terperanjat.

132
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sssst…….! Perlahan sedikit.”

Cepat-cepat Nyoo Su Jan menutup mulutnya rapat-


rapat, lalu dengan ragu-ragu ia melirik sekejap ke arah
kereta yang ditumpangi ole nona Liauw.

“Sedikitpun tidak salah, memang benar nona Liauw


itu” sambung Phoa Ceng Yan lebih lanjut.”Sewaktu Lam
Thian Sam Sah membuka hordennya dan melihat ke
dalam sekejap mendadak niatnya sudah dibatalkan
bahkan mengembalikan barang rampasannya dan
mengaku salah.”

“Apakah Nona Liauw tidak turun tangan”

“Ketika itu walaupun jalan darahku tertotok, tetapi aku


dapat melihat seluruh kejadian dengan sangat jelas.
Nona Liauw tidak turun tangan, Lam Thian Sam Sah-pun
tidak turun tangan, sewaktu mereka membuka horden
kereta agaknya sudah menemukan sesuatu! Begitu
keluar dari kereta langsung niatnya dibatalkan.”

Nyoo Su Jan termenung, lama sekali ia berpikir keras.


Akhirnya setelah lewat sejenak ujarnya lagi.

“Tak terpikir oleh hamba benda apakah yang sudah


ditemui oleh Lam Thian Sam Sah sehingga membuat
mereka ketakutan setengah mati dan buru-buru
mengembalikan barang rampasannya?”

“Soal ini akupun sudah berpikir sangat lama sekali,


tetapi sampai kini tak terpegang olehku barang suatu titik

133
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terangpun ….” kata Phoa Ceng Yan sambil tertawa


jengah.

Ia menghembuskan napas panjang-panjang,


sambungnya kembali.

“Tetapi, bagaimananpun kita sudah berhasil


mengetahui bila nona Liauw sebenarnya adalah seorang
manusia aneh yang memiliki kepandaian silat sangat
tinggi!”

“Perkataan semacam ini dapat diucapkan oleh Jie-ya,


hal ini benar-benar membuat orang lain yang mendengar
merasa rada tidak percaya!”

“Untuk sementara waktu kita belum berhasil


menemukan sesuatu titik terang, karena itu janganlah
menyiarkan berita ini terlebih dulu, juga tidak usah
dikasih tahu pada diri Toa Hauw serta Giok Liong
sekalian.”

“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati!”

Phoa Ceng Yan lantas mengangguk.

“Selama ini kau paling cermat di dalam melakukan


pekerjaan dan boleh dikata paling jujur dan rajin. Coba
secara diam-diam awasilah keadaan di dalam kereta
nona Liauw tersebut, tetapi jangan ceritakan tugas ini
kepada siapapun.”

“Hamba mengerti ….”

134
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Aku dengar


nona Liauw itu jadi sakit saking kagetnya dengan
peristiwa tadi?”

“Inilah yang dinamakan saking pintarnya sampai


keblinger, melukis ular ditambah kaki,” kata Phoa Ceng
Yan sambil tertawa perlahan. “Peduli nona Liauw
sebagaimana cerdiknya, tidak lebih dia cuma seorang
bocah!”

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah,” sahut


Nyoo Su Jan sambil tertawa pula. “Garam uang kita
makan jauh lebih banyak dari gandum yang ia makan,
nanti malam sewaktu menginap di rumah penginapan
kemungkinan sekali dari sepuluh bagian, ada sembilan
bagian kita berhasil menemukan sesuatu.”

“Jangan terlalu menempuh bahaya sehingga


menggusarkan nona Liauw!”

“Jie-ya boleh berlega hati, hamba di dalam


melaksanakan tugas.”

Walaupun di atas pohon di pinggir jalan hanya


meninggalkan kata kata salam saja, tetapi Phoa Ceng
Yan tidak berani berbuat gegabah, selama ini selalu
bersiap sedia.

Jika dibicarakan dari pihak perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok, pekerjaan pengawalan barang kali ini boleh
dikata tidak memadahi dengan biayanya, karena kali ini
mereka harus mengirim Hu Cong Piauw-tauw serta

135
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

empat orang Piauw su utama, kesemuanya ini tidak lain


disebabkan permintaan dari langganan.

Orang lain sudah mengeluarkan uang banyak agar


Cong Piauw-tauw sendiri suka turun tangan, tetapi
dagangan dari Liong Wie piauw-kiok terlalu bagus, Cong
Piauw-tauw tak dapat meninggalkan kantornya, sebab
setiap hari masih mengalir datang kesempatan yang
sangat banyak.

Walaupun Piauw-tauw di dalam perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok banyak jumlahnya dan setiap orang pada
pandai serta berbakat, tetapi dagangan mereka terlalu
besar, kaum perampok yang menemui ajalnya di tangan
merekapun terlalu banyak, sekalipun bukan datang
mencari balas, sering-seringpun masih terjadi peristiwa
pencegatan serta pembegalan.

Karena itu di setiap cabang-cabang di daerah yang


tersebar sudah terpeliharalah burung-burung merpati
yang sangat terlatih, setiap kali menemui peristiwa
pembegalan, mereka segera melepaskan burung-burung
merpati untuk memberi laporan ke kantor pusat.

Cong Piauw-tauw yang menerima laporan dengan


cepat akan mengadakan persiapan-persiapan menyusun
rencana mencari anak buah untuk menghadapi
perubahan selanjutnya setelah itu dengan dipimpin
sendiri oleh COng Piauw-tauw pergi menuntut kembali
barang yang kena dibegal.

Sebaliknya barang kawalan dari keluarga Liauw kali ini


boleh dikata tidak begitu berharga, tetapi orang berani

136
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membayar tinggi untuk perjalanan ini. Perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok sebagai suatu usaha dagang sudah tentu
tidak dapat menolak permintaan ini.

Setelah berunding setengah harian lamanya, terakhir


keluarga Liauw baru menyetujui pengawalan kali ini
dilakukan oleh Phoa Hu Cong Piauw-tauw.

Pada mulanya Cong Piauw-tauw memandang enteng


barang kawalannya ini, tetapi sesudah pihak langganan
menginginkan ia sendiri yang turun tangan, maka
semakin dipikir ia merasa kejadian ini semakin tidak
beres, kemungkinan sekali keluarga Liauw telah
membawa suatu benda yang sangat berharga dan tak
ingin diperlihatkan orang lain secara sembarangan.

Oleh sebab itu ia mengirim pula Nyoo Su Jan yang


terkenal akan kecerdikan serta banyak akal beserta
jagoan bertenaga paling besar Thia Toa Hauw, muridnya
paling tua Lie Giok Liong, murid nomor dua Ih Coen
untuk bersama-sama berangkat mengawal barang
kawalan ini menuju ke arah selatan, kota Kay Hong Hu.

Di dalam perhitungan Cong Piauw-tauw, sekalipun


terjadi sesuatu peristiwa setelah ada empat orang Piauw
su kenamaan beserta Hu Cong Piauw-tauw sendiri
rasanya masih cukup untuk menghadapinya.

Di dalam hati Phoa Ceng Yan sendiripun pada mulanya


merasa sangat mantap, ia mengira dengan gelarnya si
telapak besi bergelang emas untuk melindungi barang-

137
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

barang kawalannya kali ini maka semua urusan bisa


dibereskan dengan sangat mudah.

Siapa sangka perhitungannya ini ternyata sama sekali


meleset, ia tidak mengira bila Lam Thuan Sam Sah yang
biasanya munculkan diri disekitar lima keresidenan di
sebelah utara ternyata kali ini sudah munculkan diri di
jalan raya Han Tan bahkan bukan saja keempat orang
Piauw-sunya kena tertangkap bahkan sendiripun kena
dilukai oleh jarum beracun.

Oleh karena itu sewaktu menemukan kembali mata-


mata pihak lawan, sikapnya tadi amat tegang dan cepat-
cepat turunkan perintah untuk melakukan penjagaan
ketat.

Walaupun ia dapat melihat kata-kata yang


menyampaikan salam di atas pohon, dalam hati orang
sama sekali tidak berani berlaku gegabah apalagi ayal-
ayalan.

Tetapi selama di tengah perjalana kali ini ternyata


mereka tidak menemui sesuatu peristiwapun, sewaktu
hari hampir malam sampailah mereka di kota Si Jan Sian.

Selama di tengah perjalanan ini walaupun Phoa Ceng


Yan selalu waspada tetapi iapun tak dapat melupakan
rahasia yang menyelimuti sekitar kereta yang
ditunggangi nona Liauw.

Oleh karena itu kecuali selama diperjalanan selain


bersikap waspada, iapun mengawasi terus semua gerak-
gerik dari kereta yang ditumpangi nona Liauw.

138
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mungkin disebabkan Liauw Hujien mendengar bakal


terjadi kesulitan lagi, saking takutnya ia bersembunyi
terus di dalam kereta dan tidak kedengaran suaranya
lagi.

Hal ini semakin mempertebal perasaan curiga di dalam


hati Phoa Ceng Yan, diam-diam pikirnya.

“Bilamana semisalnya nona Liauw benar-benar sakit


keras, mungkin secara mendadak ia berhasil mengurangi
penderitaan tersebut. Hmmm………! Jelas sekali kalau
mereka sengaja berpura-pura berbuat demikian untuk
mengelabuhi diriku.”

Rombongan kereta setelah masuk ke dalam kota Si


Jan Sian mereka langsung menuju ke rumah penginapan
Sam Thay di jalan besar sebelah barat.

Inilah rumah penginapan yang terbesar di dalam kota


Si Jan Sian dan merupakan tempat yang sering
digunakan oleh orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.

Baru saja rombongan kereta tiba di depan pintu rumah


penginapan tersebut, tampaklah empat orang pejalan
sudah menyambut kedatangan mereka, mereka yang
bertugas mengawal kuda lantas mengerjakan tugasnya
yang menarik kereta mulai melaksanakan pekerjaannya,
suasana diliputi kesibukan.

Seorang kakek tua berjubah panjang yang mencekal


sebuah Huncwee dan agaknya merupakan Ciang kwee

139
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari rumah penginapan itu munculkan dirinya


menyambut kedatangan mereka.

“Cepat bereskan kereta dan buru-buru sediakan air


panas untuk cuci muka beberapa orang yaya!”
perintahnya.

Sang pelayan dengan penuh rasa hormat


mempersilahkan para tetamunya masuk ke dalam rumah
penginapan, tetapi beberapa orang kusir kereta itu malah
berkumpul di depan kereta pertama tanpa bergerak.

Agaknya sang Ciang kwee yang memakai jubah


panjang dan membawa huncwee itupun dapat melihat
keadaan kurang beres, ia buru-buru berjalan keluar
menyongsong diri Nyoo Su Jan.

“Nyoo-ya, agaknya keadaannya kurang beres!”


tanyanya setengah berbisik.

Jelas sang Ciang kwee itu merupakan kawan lama dari


Nyoo Su Jan.

“Ehmmmmm…….! Sewaktu ada ditengah jalan sudah


menemui sedikit kesulitan sehingga melukai beberapa
orang kita, cepat kau suruh pelayanmu membawa kuda-
kuda itu ke dalam kandang kemudian siapkan sebuah
ruangan bersih dan sunyi untuk kita!”

Si orang tua berjubah panjang itu mengangguk.

140
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Asalkan permintaan dari Nyoo-ya, sekalipun tidak


adapun aku harus carikan akal buat kalian, coba
tunggulah sebentar, aku pergi mengatur dulu,” ujarnya.

“Eeeeei Ciang kwee! Kau lebih apal keaada di sekitar


tempat ini daripada diriku, siauw-te masih menginginkan
bantuanmu akan dua hal!” ujar Nyoo Su Jan lagi
setengah berbisik.

“Nyoo-ya, silahkan kau orang memberi perintah.


Asalkan aku bisa melakukannya tentu akan kulaksanakan
sebagaimana mestinya.”

“Harap ciang-kwee suka memerintahkan seorang


pelayan yang pandai untuk carikan tabib kenamaan buat
kami sekalian membeli beberapa ekor kuda jempolan,
harus membayar lebih banyakpun tidak mengapa.”

“Baik! Apa yang Nyoo-ya perintahkan akan aku


lakukan semua, aku mau pergi periksa dulu ke halaman
belakan apakah mungkin bisa dipakai atau tidak.”

Selesai berkata ia lantas berlalu.

Beberapa saat kemudia ia telah muncul kembali.

“Nyoo-ya,” katanya sambil tersenyum. “Beruntung


sekali beberapa orang tamu yang semula mendiami di
ruangan belakang suka mengalah dan pindah keluar!
Silahkan kalian semua masuk ke dalam!”

141
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaaaakh…..! Kalau begitu persahabatan di antara kita


semakin lama semakin bertambah erat!” seru Nyoo Su
Jan tertawa.

“Nyoo-ya! Kalau terlalu memuji, bagaiman mungkin


aku orang berani menerimanya!”

Nyoo Su Jan segera memerintahkan para anak


buahnya untuk menggotong masuk para anak buahnya
yang terluka parah dan tak dapat berjalan sendiri.

Di atas tubuh mereka-mereka itu ia perintahkan untuk


menutupi dengan kain putih,dengan begitu maka
terhindarlah mereka dari pandangan para tetamu
sehingga tidak diketahui kalau mereka adalah orang-
orang yang sedang terluka parah.

Anak buah dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok


ternyata merupakan orang-orang yang cekatan,
ditambah Nyoo Su Jan pandai mengatur pekerjaan,
sesudah beberapa orang yang terluka parah digotong
masuk maka menyusullah barang barang mulai diangkuti.

Selama ini Phoa Ceng Yan hanya berdiri di bawah


anak tangga penginapan tersebut sambil mengawasi
semua pekerjaan terutama sekali perhatiannya ditujukan
pada nona Liauw yang dibimbing turun dari dalam kereta
oleh Cun Lam sang dayang serta Liauw Hujin.

Di depan rumah penginapan tergantung dua buah


lentera besar, meminjam cahaya yang menyoroti
sekeliling tempat itu Phoa Ceng Yan memandang nona
Liauw tajam-tajam.

142
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampaklajh sepasang matanya terkatup rapat-rapat,


wajahnya pucat pasi sehingga kelihatan bila ia sedang
menderita sakit keras, hal ini membuat si orang tua itu
diam-diam mulai berpikir.

“Budak ini sungguh luar biasa sekali, menyaru sebagai


naga mirip naga, menyaru sebagai burung hong mirip
burung hong, sampai berpura-pura sakitpun ditirukan
sangat persis sekali.”

“Phoa-suhu!” tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara sapaan


dari Liauw Thayjien yang tahu-tahu sudah berada di
sisinya.”Penyakit yang diderita Siauw-li agaknya tidak
enteng. Kelihatannya kita harus berdiam selama dua hari
di tempat ini! Sejak kecil memang badannya sangat
lemah apalagi saat ini ia sedang menderita sakit, aku
rasa sulit baginya untuk menahan penderitaan di dalam
melakukan perjalanan jauh?”

Mendengar perkataan tersebut, diam-diam Phoa Ceng


Yan merasa geli, tetapi di luaran ia menyahuti pula.

“Thayjien boleh berlega hati, aku sudah menyuruh


orang untuk mengundang datang tabib guna
memeriksakan penyakit dari nona Liauw, bilamana
semisalnya penyakit nona Liauw pada esok pagi belum
sembuh juga, tiada halangannya kita berdiam dua hari
lebih lama di sini untuk beristirahat!”

Selesai berkata ia lantas mengirim kerdipan mata ke


arah Nyoo Su Jan, kemudian dengan membawa Liauw

143
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thayjien bersama-sama masuk ke dalam rumah


penginapan.

Seorang pelayan dengan membawa lampu lentera


memimpin didepan membawa jalan dan menghantar
mereka ke dalam sebuah rumah penginapan Sam Thay.

Di tengah halaman tumbuh berpuluh-puluh pepohonan


bunga Bwee yang sangat lebat, salju nan putih
memenuhi permukaan tanah menambahkan semaraknya
suasana di sekitar sana bahkan samar-samar menyiarkan
bau harum yang menusuk hidung.

Liauw Thayjien dengan membawa kacung buku serta


dua orang tua bersama-sama menempati kamar di
depan, Liauw Hujien, nona Liauw serta Cun Lan
menempati ruangan sebelah selatan, sedang ruangan
sebelah utara serta sebelah belakang diberikan untuk
para anak buah perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
beserta beberapa orang Piauw-tauwnya.

Menanti semua kereta dan kuda sudah diatur rapi,


Nyoo Su Jan-pun akhirnya ikut masuk ke dalam ruangan.

“Su Jan, Kau berhasil menemukan sesuatu?” tanya


Phoa Ceng Yan setelah berbisik sambil maju
menyongsong kedatangannya.

Perlahan-lahan Nyoo Su Jan menggeleng dan tertawa


pahit.

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, nona


Liauw ini bukan saja pandai menyembunyikan diri bahkan

144
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pikirannya sangat pinter dan teliti sehalus sutera, baru


saja aku pergi memeriksa keadaan di dalam kereta yang
ditumpanginya, tetapi sedikit jejakpun tak berhasil aku
temukan!”

“Aaaakh…..! Kalau begitu nona Liauw sudah menaruh


perasaan waspada dan berhati-hati terhadap diri kita
sehingga ia sudah membersihkan keadaan di
sekelilingnya tanpa meninggalkan sedikit bekaspun,” ujar
Phoa Ceng Yan setelah berseru tertahan. Keadaan sudah
menjadi begini, kita tidak boleh melakukan pengusutan
lebih lanuut sehingga memancing rasa benci serta gusar
dari gadis tersebut, hal ini semisalnya sampai terjadi buat
kita benar-benar bukan suatu kejadian yang
menyenangkan. Tentang peristiwa ini lebih baik mulai
sekarang kau simpan di hati saja, sekalipun berada di
hadapan keluarga Liauw-pun jangan sekali-kali kau orang
memperlihatkan gerak-gerikmu itu”.

“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati, aku bisa berjaga diri
baik-baik!” sahut Su Jan mengangguk.

Sang pelayan lantas menghidangkan arak dan sayur,


tidak lama kemudian beberapa orang itu selesai
bersantap, Jie Ciang kwee dengan membawa sang tabib
kenamaan dari kota Si Jan Sian pun sudah datang ke
dalam kamar.

Dengan dihantar Liauw Thayjien sendiri tabib itu


segera berangkat menuju ruang kamar di sebelah selatan
untuk memeriksakan denyutan nadi nona Liauw,
kemudian membuka selembar resep obat.

145
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liauw Thayjien jadi orang ternyata murah upah,


sebagai imbalan jasa buat tabib tersebut ia sudah
menghadiahkan lima tahil perak.

Sebelum tabib itu mohon diri, Phoa Ceng Yan turun


tangan sendiri menghantar dia orang keluar pintu besar,
menanti dirasakan di sekeliling tempat itu tiada orang
lain mendadak bisiknya, “Toa-hu (tabib), bagaimana
dengan penyakit nona Liauw??”

“Peredaran darahnya sangat lemah, denyut jantung


tidak menentu, agaknya ia baru saja menemui sesuatu
kejadian yang mengejutkan hatinya” sahut tabib tersebut
setelah termenung sejenak.

Mendengar jawaban itu Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Tidak kusangka di tempat semacam inipun terdapat


seorang tabib yang demikian luar biasa……”pikirnya
dalam hati.

Tetapi sebentar kemudian pikirannya sudah berubah


kembali, sambungnya, “Aaaaaakh …..! Kemungkinan
sekali Liauw Thayjien yang memberitahukan soal ini
kepadanya, aku harus bertanya sampai jelas.”

Karena itu ia berkata kembali, “Tentunya Liauw Hujien


yang beritahu kepada Toa-hu bila nona Liauw baru saja
mengalami sesuatu kejadian yang mengejutkan dirinta
bukan?”

“Tidak! Liauw Hujie tidak pernah memberitahukan soal


ini kepadaku” bantah tabib itu sambil menggeleng

146
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berulang kali. “Akupun tidak bertanya pada diri nona


Liauw, sebab-sebab penyakit ini adalah berhasil aku
temukan dari denyutan nadinya. Aku menemukan
denyutan nadi nona Liauw tidak tetap bahkan sangat
kacau, agaknya baru saja dia orang menemui suatu
kejadian yang sangat mengejutkan hatinya, aku sudah
buatkan resep, asalkan nona suka minum obat sesuai
dengan resepku itu, paling banyak tiga kali atau paling
sedikit penyakit sudah dapat sembuh kembali seperti
sedia kala.”

Dalam hati Phoa Ceng Yan mengerti, sekalipun ia


bertanya lebih banyakpun tiada gunanya karena itu ia
berhenti bertanya. Setelah menghantar tabib itu keluar
dari halaman seorang diri ia duduk termenung di bawah
sorotan lampu lentera.

Jika ditinjau dari sikap serta paras muka sang tabib


sewaktu berbicara tadi, sedikitpun tidak kelihatan bila ia
lagi berbohong, jika dibicarakan dari keadaannya itu
seharusnya nona Liauw tidak mengerti soal ilmu silat.

Tetapi mengapa Lam Thian Sam Sah suka lepas


tangan dan mengundurkan diri setelah barang yang
dicari berhasil didapatkan?? di dalam persoalan ini tentu
terletak suatu kejadian yang sulit untuk diduga oleh
siapapun.”

Mendadak terdengar suara langkah manusia


memecahkan kesunyian, dari pintu luar berkumandang
datang suara dari Lie Giok Liong.

147
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Paman Jie-siok, Giok Liong ada persoalan ingin


bertemu muka” serunya.

“Ehm….! Pintu tidak kututup, kau masuklah sendiri”.

Pintu kayu perlahan-lahan terbuka dan muncullah Lie


Giok Liong dengan pakaian ringkas serta menggembol
golok pada pinggangnya.

“Mengapa kau bawa senjata?” melihat itu Phoa Ceng


Yan segera mengajukan pertanyaannya dengan alis yang
dikerutkan kencang-kencang.

Dari dalam sakunya Lie Giok Liong mengambil keluar


sepucuk sampul surat berwarna putih kemudian dengan
sangat hormat-nya diserahkan ke tangan Phoa Ceng Yan.

“Paman Jie-siok, coba kau orang tua lihatlah tulisan


ini!” katanya.

Phoa Ceng Yan segera menerima surat tersebut dan


dibaca isinya dengan teliti,

“Dipersembahkan kepada Phoa Hu Cong Piauw tau


dari perusahaan Liong Wie Piauw-tauw, Phoa Ceng Yan:

Menurut berita yang siauw-tee terima, aku dengar


banyak sekali kawan-kawan Liok-lim yang bermaksud
turun tangan membegal barang kawalan dari Phoa-heng
kali ini.

Nama besar perusahaan Liong Wie piauw-kiok sudah


amat cemerlang laksana sang surya di tengah awang-

148
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

awang, apalagi si pukulan besi serta gelang emas Phoa-


heng amat dashyat sekali. Tetapi haruslah kau ketahui
orang yang bermaksud hendak turun tangan membegal
barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kali ini
kebanyakan merupakan pentolan-pentolan kaum Liok-lim
yang berkuasa dan mempunyai pengaruh sangat luas di
dalam Bu-lim. Bahkan beberapa orang iblis sakti yang
telah mengundurkan diri dari dunia kangouw-pun sudah
pada bermunculan kembali di dalam Bu-lim karena
persoalan ini.

Karena pada sepuluh tahun yang lalu siauw-tee


pernah mendapatkan budi tidak terbalas dari Phoa-heng,
selama ini aku ingat-ingat terus budi tersebut.
Sebenarnya di dalam surat ini akan kututurkan sekalian
keadaan yang sejelas-jelasnya, tetapi berhubung siauw-
tee harus melakukan penyelidikan kembali, maaf kali ini
siaw-tee tak dapat memberi keterangan yang lebih jelas.

Menulis sampai di sini mendadak kata-kata itu


terputus di tengah, kata selanjutnya ternyata tidak
disambung.

Hal ini jelas menunjukkan bila orang tak ada waktu


lagi untuk menyelesaikan surat tersebut.

Selesai membaca surat itu, saking khekinya seluruh


tubuh Phoa Ceng Yan gemetar sangat keras.

“Mengapa??” bentaknya sambil menghajar keras meja


kayu di hadapannya.

149
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia mempunyai julukan sebagai si telapak besi,


hantamannya yang sangat dashyat di atas meja barusan
seketika itu juga menggetarkan lampu lilin di atas meja
sehingga mencelat sanat tinggi ke angkasa, sedang di
atas permukaan meja itupun tertera sebuah bekas
telapak yang sangat dalam.

Lie Giok Liong yang ada di pinggirnya cuma berdiri


melongo-longo saja.

“Soal ini siauw-tit sendiripun tidak paham!” katanya.

Dengan cepat Phoa Ceng Yan berhasil menyadari


sikapnya yang kelewat batas, ia menarik napas panjang-
panjang.

“Aku sudah melindungi berpuluh-puluh laksa tahil


perak dan belum pernah menemui kesulitan, tidak
disangka di dalam perjalanan kali ini ternyata sudah
memancing datang berpuluh-puluh macam kesulitan…..!”
serunya.

Perlahan-lahan ia mendongak ke atas memandang


sekejap ke arah Lie Giok Liong, kemudian sambungnya
kembali.

“Kau dapatkan surat ini dari mana?”

“Tadi sewaktu siauw-tit melakukan pemeriksaan di


sekeliling rumah penginapan ini, mendadak ada datang
seorang pengemis cilik yang angsurkan surat ini
kepadaku!”

150
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau tidak bertanya siapakah orangnya yang suruh dia


datang menghantar surat tersebut?” tanya Phoa Ceng
Yan kembali setelah termenung sejenak.

“Pengemis cilik itu setelah menyerahkan surat tersebut


kepada siauw-tit segera putar badan dan berlalu,” sahut
Lie Giok Liong sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
“Sewaktu siauw-tit ingin bertanya kepadanya kembali, ia
sudah pergi tak berbekas!”

“Ehmmm…….! Lalu masih ingatkah dirimu


bagaimanakah bentuk wajah si pengemis cilik itu?”

Sebelum memberi jawaban Lie GIok Liong termenung


beberapa saat lamanya, kemudian baru ujarnya.

“Ia memakai baju hitam yang sudah banyak tambalan,


sepasang sepatunya terbuat dari kain yang sudah kumal,
rambut kacau awut-awutan, wajahnya penuh berminyak
dan penuh tanah. Ketika itu siauw-tit memandang
sekejap ke arahnya dengan tergesa-gesa, sehingga
bagaimanakah raut muka yang sebenarnya aku sudah
tidak ingat lagi.”

“Giok Liong! Kau sudah membaca surat ini?” tanya


Phoa Ceng Yan kembali dengan wajah serius.

“Siauw-tit sudah membacanya, karena merasa


peristiwa ini sangat luar biasa sekali maka sengaja aku
datang melaporkan hal ini kepada paman Jie-siok!”

“Ehmmm…..! Surat ini tak ada tanda tangannya ……”

151
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bahkan isi suratnyapun belum selesai ditulis”


sambung Lie GIok Liong tidak menanti Phoa Ceng Yan
menjelaskan kata-katanya. “Kemungkinan sekali sewaktu
ia menulis surat tersebut mendadak sudah terjadi suatu
perubahan yang sangat besar maka sewaktu tulisan itu
baru diselesaikan sampai di tengah jalan ia sudah tak
sempat menyelesaikan kata-katanya lagi.

Sambil memandang kearah surat tersebut Phoa Ceng


Yan mengangguk berulang kali, agaknya ia sedang
memusatkan seluruh perhatiannya untuk berpikir dan
berharap dari gaya tulisannya berhasil menemukan
siapakah orang yang telah menulis surat tersebut.

Lie Giok Liong tidak berani mengganggu dengan amat


tenang ia berdiri di samping.

“Giok Liong, coba kau panggil Nyoo piauw-tauw suruh


datang kemari.” ujarnya.

Lie Giok Liong mengiakan, perlahan-lahan ia


mengundurkan diri dari dalam kamar.

Sejenak kemudian, ia sudah balik kembali dengan


disertai Nyoo Su Jan sambil bungkukkan badannya
menjura.

“Ehmmm!” Phoa Ceng Yan mengangguk. “Coba kau


orang bacalah dulu isi surat ini.”

Selesai membaca isi surat tersebut, Nyoo Su Jan


segera mengerutkan keningnya.

152
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jie-ya! Bilamana ditinjau dari keadaan tersebut,


agaknya peristiwa ini rada tidak benar??” katanya.

“Benar, akaupun mempunyai perasaan demikian,


dalam hatiku merasa tidak percaya kalau orang-orang itu
sengaja datang untuk membegal barang-barang kawalan
kita.”

“Mungkinkah di dalam persoalan ini masih terselip


dendam sakit hati dari dunia kangouw? Kedatangan
mereka justru hendak membinasakan diri nona Liauw?”

“Bagaimana semisalnya nona Liauw benar-benar


adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian
sangat lihay, rasanya pendapatmu itu tidak salah” sahut
Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Tetapi semisalnya dikatakan ia sama sekali tak


mengeri ilmu silat, bagaimana mungkin bisa
mengejutkan Lam Thian Sam Sah sehingga melarikan diri
terbirit-birit?”

“Kecuali peristiwa larinya Lam Thian Sam Sah dalam


keadaan ketakutan sehingga sulit untuk diterangkan,
persoalan-persoalan lain yang telah terjadi membuktikan
bila nona Liauw agaknya adalah seorang gadis yang tidak
mengerti akan ilmu silat”.

Lama sekali Nyoo Su Jan termenung berpikir keras,


akhitnya ia tertawa pahit.

153
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hamba sudah ada puluhan tahun lamanya berkelana


di dalam dunia kangouw, boleh dikata kali aku kena
terkurung di dalam cupu-cupu orang lain…”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali,


“Jie-ya! Apakah kau sudah teringat dengan orang yang
menulis surat ini?”

“Pada sepuluh tahun yang lalu ketika aku melakukan


perjalanan mengawal barang memang pernah menolong
seseorang……,” ujar Phoa Ceng Yan perlahan.

“Kalau begitu sangat bagus sekali, coba kau


katakanlah siapakah orang itu?” potong Nyoo Su Jan
dengan cepat.

“Orang itu agaknya bernama Shen Cie San dengan


gelar Miauw So Gong-Gong atau pencopet sakti!”

“Tidak salah, di dalam dunia kangouw memang ada


seseorang yang mempunyai julukan demikian, ia bukan
lain adalah seorang pencuri sakti yang setiap hari baik
siang maupun malam kerjanya hanya mencuri belaka,
tetapi iapun mempunyai tiga buah pantangan bagi
pekerjaan mencurinya ini”.

“ooouw…… si pencuripun mempunyai pantangan??”

“Benar! Shen Cie Sin sama sekali berbeda dengan


keadaan pencuri yang lain, ia berjiwa pendekar dan
besemangat jantan, ketiga buah pantangan dalam
pekerjaannya antara lain, pertama, tidak mencuri
pembesar jujur, putra yang berbakti, kedua, tidak

154
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencuri anak yatim piatu serta wanita janda, ketiga,


tidak mencuri rumah kaum dermawan yang berbaik hati.”

“Tidak salah, memang dia orang adanya” seru Phoa


Ceng Yan dengan cepat. “Pada sepuluh tahun yang lalu
justru dikarenakan ketiga buah pantangan di dalam
pekerjaan mencurinya inilah aku baru turun tangan
menolong dia dan mengobati luka-luka yang diderita
olehnya.”

“Bilamana kita berhasil menemukan She Cia Sin, ada


kemungkinan berhasil pula mendapatkan sedikit
keterangan yang berharga bagi kita di dalam peristiwa
ini.” usul Nyoo Su Jan secara tiba-tiba.

“Untuk menyampaikan surat itu saja, ia suruh orang


kirim kemari, kita harus pergi ke mana menemukan
jejaknya??”

“Perkataan Jie-ya memang benar,kalau begitu satu-


satu jalan pada saat ini adalah teliti dengan Liauw
Thayjien, kita orang yang mencari makan dengan bekerja
sebagai pengawal barang, walaupun tidak takut mati,
tetapi kitapun mengharapkan bisa mati dengan sejelas-
jelasnya sedang mengenai rasa curiga kita terhadap nona
Liauw, Jie-ya secara langsung boleh tanyakan kepada
Liauw Thayjien, disamping kita memperkuat pertahanan
di tempat ini, kitapun harus berusaha melaporkan
peristiwa ini kepada Cong Piauw-tauw.”

“Jika ditinjau dari situasi pada saat ini agaknya beban


ini tak sanggup aku pikul kembali, kalianpun sudah
terlalu kepayahan. Beritahu pada anak-anak semua,

155
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

disamping melakukan penjagaan yang ketat, kita harus


mencari akal untuk melaporkan peristiwa ke kantor
pusat. Besok kita sehari di sini untuk lihat-lihat keadaan,
bagaimana nona Liauw harus beristirahat dulu…..” kata
Phoa Ceng Yan kembali.

Nyoo Su Jan lantas bungkukkan badannya menjura.

“Baiklah hamba akan lakukan semua perintah Jie-ya!


Aku mohon diri dulu.” ujarnya.

“Jie-siok! Siauw-tit-pun ingin melakukan perondaan di


sekeliling ruangan, sekalian mencari tempat-tempat yang
menguntungkan sebagai pos penjagaan” ujar Lie Giok
Liong pula sambil ikut bangun berdiri.

“Baiklah …….” sahut Phoa Ceng Yan sambil


mengangguk. “Kalian harus berusaha keras untuk hal
ini!”

Setelah Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong pergi. Phoa


Ceng Yan lantas tutup pintu, memadamkan lampu dan
naik ke atas pembaringan untuk beristirahat.

Ia ingin berpikir seorang diri secara teliti, si telapak


besi bergelang emas sudah ada dua puluh tahun
lamanya melakukan pekerjaan mengawal barang dan
selama ini belum pernah menemui peristiwa semacam
ini.

Sampai saat ini belum dipahami olehnya benda


berharga apakah yang telah dibawa langganan-nya ini

156
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sehingga memancing datangnya niat oran-orang Liok-lim


untuk melakukan pencurian serta perampokan.

Di samping itu diapun tidak paham siapa-siapa saja


yang berniat untuk melakukan pembegalan tersebut??

Tetapi dengan pengalamannya selama puluhan tahun


di dalam dunia kangouw, ia dapat merasa bila Liauw
Thayjien tidak mirip dengan seorang manusia licik yang
berhati kejam, sikap maupun paras mukanya sewaktu
berbicara menunjukkan bila dia adalah seorang terpelajar
yang mengerti akan sopan santun.

Liauw Hujien pun menunjukkan gerak-gerik seorang


wanita dari kalangan tinggi, ia tidak mirip dengan
perempuan-perempuan biasa yang sering dijumpai.

Sedang beberapa orang pelajar yang mengikuti Liauw


Thayjien, kecuali dua orang pelayan tua, satu-satunya
orang yang masih muda adalah si kacung buku itu.

Beberapa orang ini Phoa Ceng Yan pernah menemui


semua, mereka tidak mirip dengan seorang penjahat
yang berkedok orang alim.

Di antara rombongan keluarga Liauw satu-satunya


orang yang paling patut dicurigai hanya nona Liauw
pernah terkait di dalam soal membalas yang sering
terjadi di dalam Bu-lim, maka tentu ia sudah membawa
sebuah benda pusaka Bu-lim yang sangat berharga tanpa
sepengetahuan orang tuanya, sehingga hal ini
memancing datangnya jago-jago lihay Bu-lim untuk
mencari gara-gara serta kerepotan.

157
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah mengawal


ratusan laksa tahil perak dan menjelajahi lima
keresidenan, selama ini jarang sekali mereka menemui
rintangan-rintangan.

Siapa sangka pekerjaan kali ini ternyata sudah


memancing datangnya begitu banyak kerepotan,
semisalnya Liauw Thayjien sewaktu menjabat sebagai
pembesar pernah menyalahi seseorang dan kini orang-
orang Liok-lim datang mencari balas dengan dirinya,
tidak sepatutnya pihak lawan harus terburu-buru di
dalam beberapa hari ini dan suka menempuh bahaya
untuk bentrok muka dengan pihak perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok.

Karena di dalam perjanjian semua perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok hanya mengawal orang-orang itu sampai
di kota Kay Hong Hu saja, setelah tiba tanggung jawab
Liong Wie Piauw-kiok sudah selesai. Bilamana orang-
orang itu hendak membalas dendam maka pihak Piauw-
kiok tiada berhak untuk ikut campur lagi.

Di antara alasan-alasan dan pikiran-pikiran yang


memenuhi benaknya selama ini, ia merasa alasan yang
paling kuat adalah secara diam-diam nona Liauw telah
membawa semacam barang yang sangat berharga tanpa
sepengetahuan orang-tuanya.

Phoa Ceng Yan tidak mengerti apa yang telah dibawa


olehnya?? tetapi ia menyadari bila barang berharga
tersebut tentu bernilai jauh di atas seratus laksa tahil
perak, masih ada lagi lukisan itu, agaknya lukisan

158
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersebut-pun bukan sebuah lukisan biasa, cuma sayang


ia tak mengerti akan barang-barang lukisan semacam itu
sehingga tidak mengerti pula di manakah letak
keberhargaan dari barang itu.

Setelah berpikir keras beberapa saat lamanya dan


terakhir berhasil menemui sedikit gambaran, Phoa Hu
Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
inipun mulai merasakan hatinya tenang.

Setelah hatinya tenang rasa mengantuk serta lelahpun


mulai menyerang badan, tanpa terasa lagi ia sudah
tertidur nyenyak.

Ketika ia membuka mata untuk kedua kalinya, hari


sudah terang tanah, buru-buru ia bangun lalu memeriksa
keadaan di luar kamar.

Sewaktu ditemuinya suasana di sekeliling sana amat


tenang dan mengerti bila semalam tidak terjadi sesuatu
peristiwa, hatinya baru merasa lega.

Saat itu Liauw Thayjien pun sudah bangun dari


tidurnya dan berdiri di depan pintu.

“Thayjien, selamat pagi!” sapa Phoa Ceng Yan sambil


menjura.

“Ooooooow…. Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” kata Liauw


Tahyjien sambil tersenyum. “Kapan kita mau berangkat?”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan berjalan mendekat.

159
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cayhe ingin beristirahan satu-dua hari terlebih dulu di


sini, menanti sakit puteri kesayangannya Thayjien sudah
betul-betul sembuh, kita baru melanjutkan perjalanan
lagi,” sahutnya.

“Siauw-li sudah minum obat dan sakitnyapun sudah


rada sembuh seperti sedia kala.” ujar Liauw Thayjien
setelah termenung sebentar. “Urusan di dalam
perusahaan kalian tentunya sangat sibuk, aku rasa tak
perlu buang waktu lagi di sini, bilamana ini hari bisa
berangkat, kita berangkat sekarang juga.”

Mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan jadi


melengak, ia merasa peristiwa ini ada di luar dugaannya,
kontan saja ia mulai berpikir.

“Terima kasih buat perhatiaan Thayjien terhadap


kesibukan perusahaan kami, tetapi cayhe rasa kuda-kuda
kita terlalu lelah, lagi kesehatan puterimu-pun kurang
leluasa, aku rasa kita tidak perlu terlalu bercemas hati,
lihat dulu bagaimana keadaan sakit dari puterimu pada
ini hari! Bilamana sakitnya sudah sembuh benar-benar
besok pagi kita segera melanjutkan perjalanan.”

Liauw Thayjien segera mengangguk dan tersenyum.


“Selama ini Siauw-li terus-terusan sakit, aku sebagai ayah
tertalu biasa dengan kejadian itu,” katanya.

Waktu itulah mendadak tampak Ih Coen dengan


langkah tergesa-gesa berjalan mendekat, sewaktu
dilihatnya Phoa Ceng Yan sedang bercakap-cakap
dengan Liauw Thayjien, ia lantas berdiri di samping
dengan sepasang tangan diluruskan ke bawah.

160
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Coen jie, ada urusan apa?” tanya Phoa Ceng Yan


dengan alis yang dikerutkan.

“Paman Jie-siok mendapat sebuah undangan.”

“Undangan? undangan dari siapa?” tanya Phoa Ceng


Yan melengak.

Dari dalam sakunya Ih Coen mengambil keluar sebuah


undangan besar berwarna merah kemudian dengan
sangat hormat diangsurkan ke depan.

“Ada orang mengundang paman Jie-siok untuk


bersantap!” jawabnya.

Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya tergetar


sangat keras, tetapi berhubung Liauw Thayjien ada
dihadapannya, mau tak mau terpaksa ia harus
mempertahankan ketenangannya.

“Bagus sekali!” serunya sambil tertawa setelah


menerima surat undangan tersebut.

“Tidak kusangka di tempat inipun ada teman-teman


yang aku kenal!”

Setelah menerima surat undangan tersebut, ia lantas


membuka dan membaca isinya.

“Menanti kunjungan saudara untuk menghadiri


perjamuan yang telah kami sediakan.”

161
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di bawahnya hanya tercantum beberapa kata: Salam


dari lima orang kawan karibmu!.

Phoa Ceng Yan membuka undangan tesebut maksud


hatinya justeru hendak melihat nama-nama orang yang
mengundang, tetapi setelah melihat kata-kata yang
dibicarakan di sana hanya tulisan lima orang kawan
karibmu saja ia merasa hatinya rada kecewa karena ini
menunjukkan kalau pihak lawan tidak ingin
memberitahukan siapakah mereka-mereka itu.

Ketika ia melanjutkan membaca, maka di belakangnya


hanya tercantum tempat perjamuan yaitu di sebuah
rumah makan di jalan sebelah timur pada tanggal lima
bulan dua jam duabelas siang hari ini juga.

“Phoa-suhu, kenalkah kau orang dengan nama-nama


itu? tanya Liauw Thayjien mendadak setelah mendehem
perlahan.

Phoa Ceng Yan segera menyimpan surat undangan itu


ke dalam saku kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaa……haaaaa……haaaaa…… kawan lama, kawan


karib ……..” serunya keras.

“Aaakh ….! Bilamana Phoa-suhu ada janji dengan


kawan karib, hal ini malah kebetulan sekali, Siauw-li bisa
meminjam kesempatan ini untuk beristirahat sehari,
tetapi hari ini sudah hampir tutupan tahun, Cayhe ingin
cepat-cepat bisa tiba di kota Kay Hong” ujar Liauw
Thayjien cepat.

162
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar perkataan tersebut, senyuman yang


semula menghiasi wajah Phoa Ceng Yan dengan
terpaksa itu kontan lenyap tak berbekas dan berubah
hebat, ia mengerti bila Liauw Thayjien sudah
menjatuhkan alasan tidak berangkatnya ini hari ke atas
kepala Phoa Ceng Yan, dirinya.

Sebetulnya ia ingin memberi penjelasan lebih lanjut,


tetapi saai itu Liauw Thayjien sudah putar badan dan
masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lebar.

Terpaksa Phoa Ceng Yan menoleh dan memandang


sekejap ke arah Ih Coen lalu tertawa pahit.

“Kau pergilah mencari suko-mu serta Nyoo Piauw-


tauw untuk datang sebentar ke dalam kamarku” katanya.

Ih Coen mengia lantas putar badan berlalu.

“Kaupun ikut datang” sambung Phoa Ceng Yan lebih


lanjut.”Suruh Nyoo Piauw-tauw membawa serta du orang
anak buah, mulai saat ini suruh mereka baik-baik berjaga
di sekeliling ruangan ini, untuk sementara waktu
melarang orang-orang asing untuk berjalan masuk
kemari!”

“Jika pelayan dari rumah penginapan ini?”

“Suruh saja mereka serahkan barang yang dibawa


kepada anak buah kita agar mereka yang membawa
masuk” ujar Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar.

“Siauw-tit akan mengingatnya!”

163
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti Ih Coen sudah berlalu, dengan tergesa-gesa


Phoa Ceng Yan-pun kembali ke dalam kamarnya, dari
dalam sakunya kembali ia mengambil keluar surat
undangan tersebut kemudian dipandangnya dengan
termangu-mangu.

Ia sudah berpikir seantero jago-jago Liok-lim yang


terkenal dan mempunyai nama besar di dalam dunia
kangouw, tetapi tak teringat olehnya siapakah kelima
orang yang mengundang dia untuk bersantap itu, ada
pepatah mengatakan: Ada pertemuan bukanlah
pertemuan bermaksud baik, ada jamuan bukanlah
jamuan berniat baik, kemungkinan sekali perjamuan ini
sukar untuk ditelan.

Selagi ia berpikir keras itulah Nyoo Su Jan dengan


membawa Lie Giok Liong serta Ih Coen bersama-sama
masuk ke dalam kamar.

“Jie-ya, kau sudah mendapatkan sedikit gambaran


siapakah mereka-mereka itu?” tanya Nyoo Su Jan sambil
menjura.

“Kau lihatlah sendiri!” sahut Phoa Ceng Yan sambil


menyerahkan surat undangan yang ada di atas meja ke
tangan Nyoo Su Jan. Di dalam kalangan Bu-lim di daerah
utara adakah orang yang menamakan dirinya lima
bersaudara?”

Isi surat undangan tersebut sangat sederhana, sekali


pandang sudah bisa dimengerti maksudnya, justru

164
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

persoalannya pada surat itu terletak pada kata-kata lima


orang kawan lama itu.

Setelah melihat beberapa saat lamanya Nyoo Su Jan


lantas mengembalikan surat undangan tersebut ke
tangan Phoa Ceng Yan.

“Jie-ya! Sebenarnya nama-nama yang tercantum


dalam surat undangan ini tidak begitu penting. benarkah
mereka menyebut dirinya sebagai lima bersaudara atau
bukan, hal ini terlalu menyangkut persoalan yang kita
hadapi, yang harus kita pikirkan sekarang ini adalah
santapan ini adalah suatu santapan yang lezat atau
santapan yang keras seatos batu!” ujarnya.

“Tidak salah!” Phoa Ceng Yan mengangguk. “Su Jan!


Kita memang sudah membuang banyak tenaga dengan
sia-sia untuk mengetahui asal usul mereka.”

“Ada pepatah mengatakan siapa yang tahu keadaan


lawan seratus kali bertempur, seratus kali akan menang,
bilamana Jie Siok dapat mengetahui siapakah pihak
mereka, sudah tentu dengan mudah sekali kita dapat
mencari akal yang sesuai untuk menghadapi mereka,”
sela Lie Giok Liong.

Jilid 5

Bilamana bisa mengetahui siapakah mereka hal ini


memang semakin bagus lagi!” Kata Nyoo Su Jan pula.
“Tetapi jikalau tak terpikir siapakah mereka itu, kitapun
tidak usah terlalu terpengaruh oleh kata-kata kelima

165
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang karibnya itu, yang seharusnya kita pikirkan adalah


apakah maksud tujuan mereka dengan mengantarkan
kartu undangan tersebut kepada kita! Mengundang Jie-
ya bersantap merupakan sebuah siasat memancing
harimau turun gunung atau bukan! Mungkin juga mereka
memancing kita untuk bersama-sama pergi bersantap di
rumah makan tersebut, lalu mengambil kesempatan ini
turun tangan.”

“Aaakh….! Cengli….. cengli …..” teriak Phoa Ce3ng


Yan sambil menghantam meja sesudah mendengar
perkataan tersebut.

“Tetapi, memandang situasi pada saat ini, Jie-yapun


mau tak mau harus pergi,” sambung Nyoo Su Jan lebih
lanjut sambil tersenyum.

“Ehmmmmm….! Perkataanmu memang tidak salah,”


Phoa Ceng Yan mendehem. “Perjamuan makan ini
sekalipun harus naik ke atas gunung golok lembah
minyak mendidih aku harus menghadirinya, aku harus
mengenali siapakah sebenarnya kelima orang kawan
karib kita itu.”

“Betul! Betul! Pendapat Jie-ya memang betul,


perjamuan makan ini harus dihadiri walaupun apa yang
bakal terjadi, kemungkinan sekali di dalam pertemuan
kali ini kita berhadil mengetahui maksud hati mereka
yang sebetulnya! Bilamana kita tinjau dari peristiwa yang
terjadi berulang kali, aku merasa agaknya keluarga Liauw
memang terselimut oleh suatu teka-teki yang misterius.

166
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan nama besar perusahaan Liong Wie Piaw-kiok kita


di daerah utara, tidak seharusnya kawan-kawan Liok-lim
begitu ngotot untuk mencari gara-gara dengan kita.
Sewaktu Jie-ya menemui kelima orang kawan karib di
rumah makan Yu It Cun nanti, lebih baik berusahalah
bersabar diri dan mencari tahu dulu apa maksud tujuan
mereka.”

Perlahan-lah Phoa Ceng Yan mengangguk, “Tidak


salah. Sampai saat ini kita masih belum mengerti apakah
sebabnya peristiwa aneh.” ujarnya perlahan. “Nah, jika
aku sudah pergi ke rumah makan Yu It Cun, maka
urusan di sini aku serahkan kepada Nyoo piauw-tauw
untuk menjaganya, jangan lupa selalu berwaspada
terhadap siasat musuh!”

“Hamba akan berusaha dengan sekuat tenaga! Tetapi,


kemungkinan sekali kepergian Jie-ya ke rumah makan Yu
It Coen tak dapat terhindar dari bentrokan-bentrokan
kekerasan di dalam soal ini hamba akan mengucap dua
persoakan untuk Jie-ya dengar!”

“Ehmmm! Kau bicaralah.”

“Jie-ya harus berusaha keras untuk bersabar diri,


kecuali pihak lawan mengerakkan senjata sehingga
memaksa Jie-ya mau tak mau harus turun tangan.
Bilamana bisa kembali ke rumah penginapan hal ini jauh
lebih bagus lagi, kita bisa bersama-sama mengatur siasat
untuk menghadapi serangan-serangan musuh tangguh.”

“Baik, aku akan berusaha keras untuk bersabar diri.”

167
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku akan menyuruh Giok Liong pergi dulu ke dusun


Yu It Coen dengan menyaru.” tiba-tiba Nyoo Su Jan
berbisik lirih.”Semisalnya terjadi peristiwa yang ada di
luar dugaan, Giok Liong bisa buru-buru pulang kemari
memberi kabar dan semisalnya Jie-ya terpaksa harus
turun tangan, Giok Liong-pun bisa membantu Jie-ya di
dalam perlawanannya menggundurkan pihak musuh.”

“Baik sih baik!” sahut Phoa Ceng Yan setelah


termenung sebentar. “Cuma, pengalaman dari Giok Liong
belum banyak, aku takut belum apa-apa dia sudah
diketahui jejaknya oleh orang lain.”

“Oouuw…….. soal ini Jie-ya boleh berlega hati, asal


aku sudah turun tangan menyarukan wajah Giok Liong,
tanggung pihak musuh tak bakal mengetahui
rahasianya.”

“Aku rasa sejak kita tiba di sini, sekeliling rumah


penginapan telah disebari mata-mata pihak lawan yang
secara diam-diam mengawasi seluruh gerak-gerik kita.”

“Tidak! Saat ini disekeliling rumah penginapan ini


memang kemungkinan sekali ada mata-mata yang lagi
mengawasi gerak-gerik kita, tetapi maksud tujuan
mereka adalah kau Phoa Jie-ya. Asalkan Jie-ya sudah
berangkat setindak terlebih dahulu, perhatian mereka
terhadap kamipun akan jauh berkurang, dengan
meminjam kesempatan inilah Giok Liong akan berjalan
keluar dan langsung menuju ke rumah makan Yu It Coen
terlebih dulu, untuk suksesnya rencana ini setelah keluar
dari rumah penginapan Jie-ya tiada halangan untuk

168
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ngeloyor dan pesiar dulu keliling kota setelah itu baru


berangkat menuju rumah makan Yu It Coen.”

“Bagus! Kita kerjakan demikian saja.”

Menanti siang hari menjelang datang, Phoa Ceng Yan


dengan mengenakan jubah panjang dan ditangannya
mencekal sebuah Huncwee perlahan-lahan berjalan
keluar dari rumah penginapan.

Sikapnya luwes, paras mukanya tenang ketika


tubuhnya telah tiba di luar rumah penginapan, sinar
matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke sekeliling
tempat itu.

Sedikitpun tidak salah, ia menemukan dua orang


pemuda yang memakai pakaian ringkas buru-buru
ngeloyor pergi.

Diam-diam si orang tua ini tertawa dingin, lambat-


lambat ia mulai melanjutkan perjalanannya ke depan.

Saat setelah Phoa Ceng Yan meninggalkan rumah


penginapan itu, seorang lelaki kasar yang memakai topi
terbuat dari kulit dengan di bawah janggutnya
memelihara kumis pendek berjalan keluar dari rumah
penginapan itu dengan langkah lebar.

Lama sekali Phoa Ceng Yan berpesiar keliling kota,


setelah dirasanya waktu sudah cukup panjang ia baru
putar halua berangkat menuju ke rumah makan Yu It
Coen.

169
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yu It Coen adalah sebuah rumah makan yang terbesar


di kota Si Sian Jan, suasana sangat ramai dan setiap hari
banyak pengunjung yang bersantap di sana.

Pada beberapa tahun yang lalu pernah satu kali Phoa


Ceng Yan bersantao siang di rumah makan Yu It Coen
ini, seingatnya ruangan yang besar penuh dengan para
tamu-tamu, suasana sangat ramai sekali.

Tetapi keadaan dari rumah makan Yu It Coen pada


hari ini sama sekali berbeda dengan ingatannya tempo
dulu.

Tampaklah sebuah ruangan rumah makan yang besar


dan luas, saat ini sunyi senyap, berpuluh-puluh buah
meja semuanya kosong melompong tak kelihatan
seorang tamupun.

Tujuh orang pelayan rumah makan dengan kepala


memakai topi putih sera pinggang terikat kain putih
dengan sangat rapih berdiri di samping.

Hal ini membuat Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok mengerutkan alisnya
rapat-rapat.

Baru saja ia berjalan masuk ke dalam pintu, tampaklah


seorang pelayan dengan langkah tergesa-gesa datang
menyambut dan menghalangi perjalanan selanjutnya.

“Toa-ya!” serunya sambil menjura, “ini hari rumah


penginapan kami sudah diborong orang, maafkanlah
orang lebih baik cari tempat lain saja.”

170
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum sempat Phoa Ceng Yang memberi jawaban


mendadak terdengarlah suara seseorang yang besar dan
nyaring sudah berkumandang datang.

“Pelayan busuk, matamu sudah buta! Ayoh cepat


menyingkir ke samping!”

Seorang lelaki kasar yang memakai baju singsat


dengan kancing yang sangat banyak dan ikat pinggang
berwarna putih, dengan langkah besar berjalan
mendekat dan mendorong pelayan itu ke samping.

Kau orang tua apakah Phoa Jie-ya!” sapanya sambil


menjura, Phoa Ceng Yan mengangguk, dari dalam
sakunya ia mengambil keluar kartu undangan berwarna
merah itu.

“Bilamana Loohu tidak salah melihat, seharusnya


rumah makan ini bukan?” katanya.

“Aaakh…….! Benar, benar! Tidak salah” seru lelaki


tersebut sambil memandang sekejap ke arah kartu
undangan berwarna merah itu, “Pelayan ini ada mata
tidak mengenal gunung Thay san, harap kau orang tua
jangan merasa tersinggung dengan kejadian ini. Mari,
mari silahkan masuk”.

“Heeee…….heeee….. kawan adalah….”

“Hamba tidak lebih cuma seorang pesuruh saja,


majikan kami serta beberapa orang kawan sejak semula

171
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah menanti di atas loteng” sambung lelaki itu dengan


cepat.

Sinar mata Phoa Ceng Yan perlahan-lahan menyapu


sekejap ke sekeliling tempat itu sewaktu tidak melihat Lie
Giok Liong ada di sana, dalam hati diam-diam pikirnya.

“Mungkin sekali bocah itu sudah menggabungkan diri


di sekeliling tempat ini…….” Ujarnya kemudian. “Harap
saudara membawa jalan buat diriku!”

Lelaki kasar itu mengia, kemudian putar badan dan


berjalan masuk ke ruangan.

Phoa Ceng Yan perlahan-lahan membuntuti dari


belakang, sembari berjalan matanya mengawasi keadaan
di sekeliling ruangan-ruangan rumah makan itu dengan
teliti. Hal ini memaksa lelaki tersebut tak data berjalan
terlalu cepat.

Setelah naik ke loteng tingkat kedua, tampaklah


ruangan tersebutpun kosong, kursi meja sebagian besar
sudah disingkirkan sehingga ruangan loteng seluas lima-
enam kaki tertinggal sebuah meja perjamuan saja.

Lima orang lelaki kasar masing-masing duduk di


sekeliling meja itu meninggalkan sebuah tempat kosong
di tempat yang teratas.

Phoa Ceng Yan setelah berada di loteng tingkat kedua,


dengan sangat berhati-hati sekali mengawasi keadaan di
sekeliling ruangan setelah dirasanya tiada pihak musuh

172
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang bersembunyi di sana ia baru melangkah maju ke


depan.

Melihat munculnya si orang tua tersebut, kelima orang


tersebut bersama-sama bangun berdiri.

“Phoa Jie-ya selamat bertemu, kami berlima sudah


menanti!” ujarnya hampir berbareng.

Dengan pandangan yang sangat tajam Phoa Ceng Yan


memperhatikan kelima orang itu sekejap kecuali
dirasanya dua orang di antara mereka terasa agak
dikenal, sisanya tiga orang ia sama sekali merasa asing.

Perlahan-lahan ia berjalan mendekati meja perjamuan.

“Aku orang she Phoa lebih baik ikut perintah saja!”


ujarnya sambil menjura.

Tanpa sungkan-sungkan ia menempati tempat duduk


yang masih kosong itu.

Sekalian matanya menyapu sekejap ke arah beberapa


orang tersebut.

“Phoa Jie-ya! Kau adalah seorang gagah yang cepat


mengambil keputusan, cayhe merasa sangat kagum,
mari…….mari! Aku hormati dulu Jie-ya dengan satu
cawan arak.” ujar lelaki bercambang yang ada disebelah
kiri.

Selesai berkata ia mengangkat cawan araknya dan


meneguk isinya sampai habis.

173
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiranya di atas meja perjamuan sudah tersedia empat


mangkok sayur serta cawan arak yang telah dipenuhi.

“Aku orang she Phoa tidak terbiasa minum arak,


terima kasih atas maksud baik saudara-saudar sekalian.”
ujar Phoa Ceng Yan sambil tertawa dan memandang
sekejap ke arah cawan arak itu.

“Haaa…………haaaa……………haaa……….. Jie-ya terlalu


banyak curiga” seru lelaku bercambang itu sambil
tertawa terbahak-bahak.

Ia lantas mengambil cawan arak di hadapan Phoa


Ceng Yan dan meneguknya hingga habis.

Meminjam kesempatan inilah Phoa Ceng Yan


memperhatikan dengan teliti wajah ke lima orang itu.

Walaupun mereka bellima punya raut muka yang


berbeda tetapi kecuali si kakek tua yang memelihara
jenggot kambing gunung duduk di hadapannya serta
pejamkan matanya itu, sisanya berempat adalah orang
kasar.

Sekalipun di dalam hal ilmu silat boleh dikata ada ia


masih punya sedikit simpanan tetapi tidak lebih itupun
cuma ilmu gwaa-kang saja yang mengutamakan
kekerasan.

Dalam hati ia mulai merasa lega, sambil tertawa tawar


ujarnya kemudian.

174
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Maaf aku orang she Phoa tidak ingat dengan kalian


berlima!” serunya.

“Heee…..heee…..heee….. Phoa Ji-ya adalah seorang


Toa Piauw su, sudah tentu tidak akan mengingat-ingat
kami si prajurit tidak bernama di dalam dunia kangouw”
jengek si orang laki-laki dengan alis yang tebal di sebelah
kanan sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Haaa…..haaa…..haaa,,,,, saudara terlalu memuji,


saudara terlalu memuji” dengan alis yang dikerutkan
Phoa Ceng Yan tertawa terbahak bahak. “Aku orang she
Phoa bisa jadi begini, kesemuanya tidak lain disebabkan
saudara-saudara sekalian suka memberi muka kepada
diriku, bilamana aku orang pernah berbuat salah, harap
saudara-saudara suka memaafkan.”

Selesai berkata, ia bangun berdiri dan menjura di


sekeliling meja perjamuan.

Setelah itu ia duduk lagi dan sambungnya lebih lanjut.

“Dikarenakan aku orang she Phoa masih ada tugas


untuk mengawasi barang, maaf tidak dapat terlalu lama
menemani saudara-saudara sekalian, tetapi maksud baik
dari kalian itu akan aku orang she Phoa ingat terus di
hati, apabila saudara-saudara masih ada urusan silahkan
ucapkan secara terus terang, asalkan aku dapat
melaksanakan tentu tak akan kutolak, bila semisalnya tak
ada urusan lagi, aku orang she Phoa ada maksud untuk
mohon diri.”

175
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Heee……heee…..he……. Phoa Jie-Ya!” seru lelaki


beralis tebal itu lagi sambil tertawa dingin. “Bangkupun
belum panas kau duduki bagaimana mungkin boleh buru-
buru pergi.”

“Maaf…..maaf aku orang she Phoa harus mencari


sesuap nasi dengan bekerja sebagai pengawal barang,
karena itu kedudukanku tidak sebebas orang biasa,
harap saudara sekalian suka memakluminya.”

Si kakek tua berjenggot kambing yang berada


dihadapannya mendadak membuka matanya lebar-lebar,
lalu tertawa dingin.

“Heee……heee……. Phoa Hu COng Piauw-tauw!


Kaupun seorang jago kangouw yang sudah mengalami
berbagai angin topan dan pernah menemui pula beratus-
ratus orang terkemuka, setelah datang dengan tergesa-
gesa mengapa hendak pergi dengan tergesa-gesa pula??
Apakah kau tidak merasa tindakanmu itu terlalu
gampang??……” tegurnya.

Melihat sinar mata yang sangat tajam berkelebat


keluar dari sepasang matanya yang terpentang lebar-
lebar itu, diam-diam Phoa Ceng Yan merasa amat
terperanjat.

“Ooouw……… tenaga dalam orang ini tidak lemah, aku


harus menaruh kewaspadaan penuh terhadap dirinya,”
Pikir orang tua itu dalam hati.

Sembari berpikir keras, tangannya mengambil keluar


korek api untuk menyulut huncwee di tangan kanannya,

176
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah menghembuskan asap panjang ujarnya sambil


tertawa, “Baru saja aku orang she Phoa sudah berkata,
bilamana saudara-saudara ada urusan maka silahkan
katakanlah secara terus terang, bilamana aku orang she
Phoa bisa melakukannya tentu tak bakal kutolak,
bilamana aku orang she Phoa memang tidak sanggup,
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok masih ada COng
Piauw-tauw kami yang dapat mengambil keputusan, jika
saudara-saudara ada urusan katakanlah secara terbuka!”

“Tiada air kencing yang tidak menimbulkan lubang,


kini Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah memberikan
kesempatan, kami bersaudarapun terpaksa harus
berbicara secara blak-blakan,” ujar si kakek tua
berjenggot kambing itu sambil tertawa tawar.”Pihak
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian tiada dendam
sakit hati dengan kami, tetapi langganan kalian kali ini
ada sedikit ikatan permusuhan dengan kami bersaudara,
justru maksud dari kami mengundang Phoa Jie-Ya untuk
bersantap tidak lain mengharapkan dari pihak
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok suka memberi muka
kepada kami bersaudara untuk kali ini saja.”

“Aaaah……….. bagus sekali!” pikir Phoa Ceng Yan


secara diam-diam dalam hati.”Sekarang kalian sudah tiba
pada puncaknya.”

Karena dalam hati sudah ada persiapan maka


menghadapi perkataan tersebut dia sama sekali tidak
menjadi gugup.

177
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saudara-saudara sekalian sebetulnya menginginkan


aku orang Phoa secara bagaimana memberi muka pada
kalian?” tanyanya sambil tertawa.

“Haaa……..haaa……haaa………… tidak sulit, tidak sulit!”


Si kakek tua berjenggot kambing itu tertawa terbahak-
bahak. “Asalkan Phoa Jie-ya suka memejamkan mata dan
kasih waktu sepenanak nasi untuk kami itu sudah lebih
dari cukup!”

Mendengar perkataan tersebut Phoa Ceng Yan segera


merasakan hatinya tersentak.

“Apakah mereka benar-benar sedang menjalankan


siasat memancing harimau turun gunung? dan sudah ada
orang yang turun tangan sewaktu aku masih berada di
sini?” pikirnya di dalam hati.

Sembari berpikir keras ia mendehem berulang kali.

“Jika saudara-saudara sekalian sudah kasih


keterangan, aku harap dapat menerangkan lebih jelas
lagi.” ujarnya. “Sebenarnya kalian ingin membunuh
orang atau cuma mendapatkan barang-barang saja.”

Agaknya si kakek tua yang berjenggot kambing


gunung itu merupakan pentolan dari antara kelima orang
itu, asal apa yang diucapkan merupakan keputusan yang
mutlak.

Terlihatlah ia mengangkat cawan araknya perlahan-


lahan, kemudian sambil tertawa jawabnya, “Setelah

178
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berjanji dengan kau Phoa Jie-ya kami bersaudara sudah


tentu tidak akan melukai orang.”

“Ehmmmm…………..! Kalau begitu kalian cuma


menginginkan barangnya saja bukan? tetapu menurut
apa yang aku orang she Phoa ketahui Liauw Thayjien
tidak membawa intan permata terlalu banyak,
kemungkinan sekali gerakan dari saudara-saudara kali ini
akan memperoleh kekecewaan saja.”

Air muka si kakek tua berjenggot kambing itu kontan


saja berubah hebat.

“Soal ini kau Phoa Jie-ya tidak perlu repot-repot ikut


merasa kuatir, siauw-te sudah berkata tidak akan
melukai orang bilamana perkataanku tidak sesuai dengan
perbuatan, maka cawan itu adalah suatu contoh yang
paling baik.” ujarnya.

Terlihat cawan arak yang ada di tangannya mendadak


remuk berkeping-keping.

Phoa Ceng Yan memandang sekejap ke arah


hancurnya cawan arak tersebut, kemudian tertawa
terbahak-bahak.

“Haaaaa…………haaaaa……….haaaaa……kawan,
sungguh dahsyat tenaga dalammu, kita sudah berbicara
selama setengah harian lamanya, tapi aku orang she
Phoa masih belum mengetahui nama besarmu.”

“ooouww siauw-te!” seru kakek berjenggot kambing


itu sembari tertawa dingin.”Cayhe adalah Miauw It Tong,

179
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang prajurit tak bernama dari dunia kangouw,


mungkin Phoa-heng belum pernah mendengar namaku
bukan.”

“Aaach……! Yen San Ngo Ih….” seru Phoa Ceng Yan


tak tertahan lagi. hatinya benar-benar terasa bergetar
sangat keras.

“Heee……heee……heee….. Phoa Jie-ya tidak usah


terlalu memuji lagi, kami lima bersaudara disebut orang
dengan sebutan Yen San Ngo Kui atau lima setan dari
gunung Yen San, sebutan “Ngo Ih”-mu tersebut kami
bersaudara tidak berani menerimanya.

Miauw It Tong merandek sejenak, lalu sambungnya


kembali, “Pada lima tahun berselang, sewaktu
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok mengadakan
perjamuan untuk menjamu para enghiong hoohan baik
dari darat maupun dari laut di daerah sebelah utara,
kami lima bersaudara-pun pada waktu itu menerima
surat undangan dari piauw-kiok kalian dan pernah
bertemu satu kali dengan Phoa Jie-ya. Karena itu di atas
surat undangan kami berlima tadi sudah kami cantumkan
lima orang kawan lama, tetapi Phoa Jie-ya orang
budiman suka lupaan, ternyata kau sudah tidak teringat
lagi dengan kami berlima.”

Phoa Ceng Yan menyedot huncwee-nya dalam-dalam


kemudian menyemburkan segulung asap biru yang
sangat tebal.

“Saudara-saudara sekalian sudah lama mengasingkan


diri dari keramaian dunia, tidak kusangka ternyata kali ini

180
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kalian dapat munculkan diri kembali!” ujarnya sambil


tertawa.

“Phoa Jie-ya! Kami Yen San Ngo Kui biasanya suka


pergi kesana pergi kemari sesuka hati, setelah menjadi
budak orang lainpun rasanya tidak berhasil mengelabui
pendengaran kawan-kawan Bu-lim lainnya, apalagi mata-
mata perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tersebar luas di
mana-mana, terhadap urusan kami lima bersaudara
tentunya kau orang sudah mendengar jelas bukan?” kata
Miauw It Tong.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk-angguk.

“Aku orang she Phoa memang pernah mendengar


berita ini, katanya saudara-saudara sekalian sudah
menggabungkan diri di bawah perintah si Kongcu tukang
foya-foya? “Im Yan Pan” Ke Giok Lang!” katanya.

“Sedikitpun tidak salah, kami lima bersaudara memang


sudah menjadi pembantu-pembantu dari Ke-Kongcu!”

Walaupun Phoa Ceng Yan berusaha untuk


mempertahankan ketenangan hatinya, tak urung paras
mukanya rada berubah juga.

“Lalu apakah Ke Kong juga sudah datang di kota Si


Sian Jan ini??…” tanyanya lebih lanjut sambil menghisap
huncweenya dalam-dalam.

“Majikan kami mungkin sekali sudah tiba di rumah


penginapan Phoa Jie-ya!”

181
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak Phoa Ceng Yan meloncat bangun dari


tempat duduknya.

“Siasat memancing harimau turun gunung yang


saudara sekalian gunakan, aku rela untuk
menggantikannya” kata si orang tua itu dengan dingin.

“Phoa Jie-ya! Mungkin sudah terlambat!” seru Miauw


It Tong sambil bangun berdiri pula.

Selagi Phoa Ceng Yan bermaksud mengumbar hawa


amarah, mendadak dari bawah loteng berkumandang
datang suara bentakan yang amat keras dan nyaring.

“Khek-ya! Di dalam kota Si Sian Jan bukan cuma ada


satu rumah makan saja, bersantap dimana saja
bukankah sama…….”

“Kau cucu kura-kura jangan bicara seenakmu sendiri!”


teriak seseorang dengan nada yang berat dan logat Su
Tzuan. “Kalian buka rumah makan untuk cari uang, kini
aku orang punya uang untuk membayar, mengapa kalian
tidak mengijinkan aku untuk bersantap….”

Diikuti suara bentakan keras dari seseorang mendadak


di mulut tangga muncul seseorang.

Phoa Ceng Yan segera mendongakkan kepala terlihat


olehnya seseorang lelaki yang memakai jubah warna
hijau dengan celana warna putih, sepatu terbuat dari
serabut dan pada punggungnya menggembol sebuah
buntalan berbentuk persegi panjang, sikapnya amat
gagah sekali.

182
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wajahnya sederhana, tiada bagian-bagian yang


memancing daya tarik seseorang, tetapi di dalam musim
dingin seperti ini ternyata dia orang hanya memakai
pakaian tipis dan sama sekali tidak kelihatan kedinginan,
hal ini jelas menunjukkan bila ia memiliki dasar tenaga
lweekang yang sangat sempurna.

Setelah naik ke atas loteng sewaktu dilihatnya meja


kursi di sana pada disingkirkan semua ke samping, dan
tinggal sebuah meja perjamuan saja yang masih ada di
tengah-tengah ruangan, tak terasa lagi keningnya sudah
dikerutkan erat-erat.

“Maknya….. termasuk rumah makan macam apa ini….”


teriaknya tak kuasa lagi.

Belum habis ia berteriak mendadak terlihatlah sesosok


bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki kasar
dengan tergesa-gesa menyusup naik ke atas loteng.

“Eeeeei….. apa yang sedang kau gembar gemborkan?”


bentaknya keras.

Tangan kanannya lantas menyambar mencengkeram


pundak lelaki berjubah hijau itu./

“Ooooouw……. mau berkelahi?” teriak lelaki tersebut.

Tubuhnya dengan sangat ringan berkelebat


menghindarkan diri dari sambaran tangan kanan lelaki
tersebut.

183
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan sewaktu melihat orang yang baru saja


melancarkan serangan itu bukan lain adalah lelaki yang
menyambut kedatangannya tadi, diam-diam pikirnya
dalam hati, “Entah siapakah lelaki berjubah hijau itu?
Mengapa pada saat ini ia paksakan diri untuk naik loteng,
bukannya bersantai sebaliknya mencari gara-gara
dengan orang itu…..”

Lelaki tersebut sewaktu melihat cengkeramannya


segera dibabat ke samping berubah menjadi suatu
serangan pukulan.

“Aduuuuh……aduh…. celaka.,celaka, di siang hari


bolong kau berani turun tangan pukul orang, apa aku
kira si orang tua takut dengan peraturan hukum?” teriak
si orang berbaju hijau itu dengan suara berat.

Sembari berteriak dengan sangat lincah ia berkelit ke


samping.

Lelaki tersebut sewaktu melihat kedua buah serangan


beruntunnya kena dihindari oleh lelaki berbaju hijau
tersebut, dalam hati merasa amat gusar, sepasang
telapaknya diperkencang dan melancarkan serangan
semakin gencar.

Terlihatlah sepasang kepalannya laksana curahan


hujan dengan gencar mendesak pihak lawannya.

Tetapi gerakan tubuh lelaki berbaju hijau itu ternyata


amat lincah, setiap serangan lelaki tersebut dengan indah
dan seenaknya berhasil dihindari semua.

184
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya di dalam sekejap mata lelaki itu sudah


melancarkan dua-tiga puluh jurus serangan, sebagian
besar pukulannya hanya menyambar lewat setengah
coen dari ujung jubah lelaki berbaju hijau itu.

Agaknya setiap kepalan yang dilancarkan bakal


mengenai pada sasarannya, tetapi begitu kepalan
mendekati sang tubuh, pihak musuh tahu-tahu
serangannya telah mencapai pada sasaran yang kosong.

Sejak pertama kali tadi Phoa Ceng Yan sudah dapat


melihat bila lelaki berbaju hijau itu sebenarnya memiliki
ilmu silat yang sangat tinggi, asal ia melancarkan
serangan balas mungkin hanya di dalam satu jurus saja
sudah cukup untuk menguasai lelaki tersebut. “Tahan!”
mendadak terdengar Miauw It Tong membentak keras.
“Jangan pamerkan kejelekanmu lagi.”

Lelaki itu beruntun melancarkan sepuluh jurus


serangan tetapi tak satupun yang berhasil mengenai
lawannya dalam hati ia mulai menyadari bila ini hari dia
orang sudah menemui musuh tangguh, kini setelah
mendengar suara bentakan dari Miauw It Tong buru-
buru lelaki tersebut menarik kembali serangannya dan
mengundurkan diri ke belakang.

“Ooouw……kawan! Kau sudah bosan bergebrak?”


jengek lelaki berjubah hijau itu kemudian sambil
memandang sekejap ke arah lelaki tersebut.

Kala itu sebetulnya Phoa Ceng Yan sudah bersiap-siap


hendak menerjang keluar dari kurungan Yen San Ngo
Kui, tetapi setelah melihat si lelaki berlogat Su Tzuan ini

185
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ada maksud mencari gara-gara, segera iapun bersabar


diri dan menekan rasa kuatir di hatinya untuk duduk
kembali di tempat semula.

Kiranya, secara mendadak teringat olehnya walaupun


Lie Giok Liong tidak berhasil menyelundup masuk ke
dalam rumah makan tersebut tetapi paling sedikit sudah
berada di depan rumah makan Yu It Coen tersebut,
asalkan ia berhasil memperoleh sedikit kabar berita saja
kemungkinan sekali ia bisa kembali ke rumah penginapan
untuk melaporkan berita tersebut kepada diri Nyoo Su
Jan.

Ketika itulah mendadak Miauw It Tong mengulapkan


tangannya, dua orang lelaki kasar yang duduk di sisinya
tiba-tiba meloncat bangun dan secara berbareng
menghadang jalan pergi dari lelaki berbaju hijau itu.

Dari Yen San Ngo Kui, kecuali Loo-toa Miauw It Tong


mempunyai perawakan kurus kering, sisanya berempat
adalah lelaki-lelaki kasar berperawakan tinggi besar
dengan wajah bengis.

Dua orang lelaki bengis yang menghadang perjalanan


lelaki berjubah hijau pada saat ini bukan lain adalah Loo-
ji si “Cioe Koe” atau setan arak Thio Hauw serta Loo Sam
“Si Koei” atau setan perempuan Ong Peng dari antara
Yen San Ngo Koei.

Si lelaki berbaju hijau itu dengan cepat menghentikan


langkahnya dan memandang sekejap ke arah dua orang
setan tersebut.

186
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana? Kau orang juga kepingin berkelahi?”


tegurnya sambil tertawa.

“Kawan! Lebih baik kau orang jangan berpura-pura


gila dan menyaru seperti orang bodoh, di dalam
sepasang mata aku Thio Jie-ya masih belum kemasukan
pasir!” seru Si setan arak Thio Hauw dengan suara yang
sangat dingin.

“Kau bangsat tua! Kepandaianmu tidak cetek juga, aku


rasa tentunya kau adalah seorang jagoan yang
mempunyai sedikir nama di dalam dunia kangouw”
sambung Si setan perempuan Ong Peng melanjutkan
kata-kata saudara angkatnya. “Manusia punya nama,
pohon punya bayangan, kawan kalau betul-betul berani
mencari gara-gara dengan kami Yen San Ngo Koei ada
seharusnya melaporkan dulu siapakah namamu.”

Mendengar perkataan tersebut, si orang berbaju hihau


itu segera menengadah ke atas tertawa terbahak-bahak.

Mendadak dengan menggunakan logat ibukota yang


sangat cepat, ujarnya, “Kalian berdua lagi menanyakan
nama besar cayhe?”

Mendengar nada ucapannya berubah bahkan sama


sekali tidak kedengaran logat Su Tzuan-nya lagi tak
terasa lagi Phoa Ceng Yan merasa hatinya rada bergerak,
di dalam benaknya teringat akan seseorang.

“Telingamu tidak tuli, matamu tidak buta, kalau tidak


bertanya padamu, apakah aku sedang bertanya dengan

187
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cucu kura-kura?” maki si setan arak Thio Hauw dengan


murka.

“Ooouw……. ooouw……. kau berani memaki dengan


kata-kata kotor…. bagus! Ingat saja dengan empat buah
gaplokanku nanti.”

“Kawan! Sungguh besar sekali bacotmu!” seru si setan


perempuan Ong Peng pula dengan kasar. “Apakah kau
tidak takut ada angin utara yang menyambar putus
lidahmu? Kami lima bersaudara dari gunung Yen San
selamanya paling tidak takut cari gara-gara, tetapi
selamanya paling pantang pula bergebrak melawan
manusia-manusia yang tidak punya nama!”

“Ooouw….. nama cayhe? Ada sih ada, cuma saja


kurang sedap jika didengar, kalau aku ucapkan keluar,
harap kalian jangan marah-marah dan salahkan diriku
yaaahhhh……”

“Sungai besar, samudra luas kami sudah melihatnya


semua, dengan mengandalkan ilmumu yang tidak
seberapa aku tidak percaya bila kaupun bisa memiliki
sebuah nama yang mirip manusia…..” ejek si setan arak
dengan dingin.

“Waah……. kau benar-benar sangat pandai kawan,


sedikitpun tidak salah! Gelarku memang tidak akan
ditakuti manusia tetapi bagi kaum setan, siluman, iblis
atau manusia-manusia aneh yang mendengar tentu akan
murung dibuatnya.”

188
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Air muka si setan perempuan Ong Peng segera


berubah hebat.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Kui Kian Chu (setan ketemu murung).

Untuk sementara waktu si setan arak Thio Hauw


masih belum merasakan apa-apa, terdengar ia
bergumam berulang kali.

“Kui Kian Cu……Kui Kian Cu…… Setan ketemu


murung…….Haaa?”

Mendadak ia menggembor keras.

“Bajingan! Bangsat, kau sudah bosan hidup?”

Dengan jurus “Hwie Cu Cong Tiong” atau tongkat


terbang menumbuk genta ia melancarkan sebuah
hantaman dashyat menghajar dada lelaki berjubah hijau
itu.

Kepalannya besar lagi kasar sudah tentu kekuatannya


luar biasa mengejutkan, pukulannya ini segera
menyambar kedepan disertai dengan deruan angin
pukulan yang memekakkan telinga.

Si lelaki berbaju hijau itu segera maju satu langkah ke


depan, kakinya berputar menghindarkan diri dari
datangnya serangan tersebut.

189
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thio Hauw mengangkat tangan kirinya ke atas,


pukulan kedua menyusul datang, sedang mulutnya
berteriak keras.

“Coba kau rasakanlah bagaimana kedashyatan dari


pukulan Thio Jie-yamu!”

Baru saja si orang berbaju hijau itu menyingkir ke


samping, angin pukulan dari Thio Hauw yang maha
dashyat sudah menyambar lewat dari sisinya.

Thio Hauw yang melihat pukulan tersebut akan


mengenai tubuh orang berbaju hijau itu, menanti
kepalannya hampir dekat dengan tubuh musuhnya
mendadak ia menambahi dengan beberapa bagian
tenaga lagi.

Oleh karena itu, sewaktu pukulannya mencapai pada


sasaran yang kosong, Thio Hauw tak dapat
mempertahankan tubuhnya lagi, sang badan jatuh
terjengkang ke depan dan menumbuk tubuh orang
berbaju hijau itu.

Sedang si orang berbaju hijau itupun sedang


menyingkir ke sampind menghindarkan diri dari
datangnya serangan tersebut, tak terhindar lagi pundak
kirinya dengan tepat menyongsong kedatangan dada
Thio Hauw sehingga tak bisa tercegah lagi terjadilah
bentrokan yang amat keras.

Si baju hijau itu berteriak tertahan, tubuhnya


menyingkir dua langkah ke samping, sebaliknya si setan
arak Thio Hauw sudah mencekal dadanya berturut-turut

190
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mundur lima enam langkah ke depan dan tepat


menubruk di atas Phoa Ceng Yan.

Phoa Ceng Yan segera menggerakkan tangan


kanannya menerima jatuhnya tubuh Thio Hauw.

“Eeei, Thio Jie-ya, kau sudah kena kuhantam?”


jengeknya dingin.

Waktu itu saking sakitnya Thio Hauw sudah tak bisa


bicara lagi, tak kuasa lagi ia muntahkan darah segar.

Sewaktu Phoa Ceng Yan melihat Thio Hauw sudah


menderita luka yang parah, ia tidak mengeluarkan kata-
kata ejekan lagi, dengan cepat dibimbingnya tubuh Thio
Hauw untuk dipersilahkan duduk di atas kursi.

“Phoa-heng! Kau orangkah yang sudah turun tangan


menghajar dirinya?” Mendadak Miauw It Tong bangun
berdiri sambil mendengus dingin.

Phoa Ceng Yang menggeleng dan mendengarkan


suara tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee…..heee……heee…….menurut pandangan
Miauw-heng, apakah aku orang she Phoa mirip dengan
manusia rendah ahli membokong orang lain??”
jengkelnya.

Harus diketahui Phoa Ceng Yan memiliki julukan si


pukulan besi yang menggetarkan seluruh dunia
persilatan, di dalam permainan telapak tangannya sudah
tentu memiliki kesempurnaan yang luar biasa.

191
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Miauw It Tong yang melihat dia orang membimbing


tubuh Thio Hauw, lantas saudaranya muntah darah segar
di dalam anggapan-nya Phoa Ceng Yan lah yang secara
diam-diam sudah kerahkan hawa murni menghajar muka
Thio Hauw.

Terdengar si setan arak Thio Hauw menghembuskan


napas panjang dua kali, lalu dengan nada terputus-putus
serunya, “Luka….lukaku aaada diii….didepan dada…..!”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, kembali ia


muntahkan darah segar.

Ketika itulah Miauw It Tong baru mengerti bila dirinya


sudah menganggap kucing sebagai anjing, tak terasa lagi
dengan wajah merah padam ia menoleh dan
memandang sekejap ke arah lelaki berjubah hijau itu.

“Kawan! Sungguh bagus sekali perbuatanmu “


tegurnya ketus.”Aku orang she Miauw hampir-hampir
saja salah melihat.”

Tangan kanan si lelaki berjubah hijau itu tetap


diletakkan di atas pundak kirinya, ia tertawa.

“Bila punya cengli maka mengembara ke seluruh


kolong langitpun bisa, tetapi jika tidak punya cengli untuk
melangkah setengah coenpun susah, sejak siauw-te naik
ke atas loteng belum pernah turun tangan terhadap
siapa-pun,” katanya perlahan. “Adalah saudaramu sendiri
yang menerjang pundakku secara kasar, hal ini
bagaimana bisa salahkan cayhe?”

192
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sembari berkata iapun melangkah maju menuju ke


arah meja persegi tersebut.

Walau si setan perempuan Ong Peng dapat melihat si


setan arak Thio Hauw menderita luka parah, tetapi ia
mempunyai pandangan yang sama seperti Miauw It
Tong, di dalam perasaannya saudara mereka adalah
terluka di tangan si telapak besi gelang emas Phoa Ceng
Yan, tetapi sama sekali tak terduga olehnya bila
saudaranya itu terluka karena tubrukan dengan pundak
lelaki berbaju hijau itu.

Kiranya si setan arak Thio Hauw memiliki kepandaian


ilmu kebal, walaupun belum sampai taraf tidak mempan
terhadap segala tusukan senjata tajam, tetapi bilamana
cuma ada tenaga pukulan seberat tiga-lima ratus kati
saja jangan harap bisa melukai dirinya hanya di dalam
sekali pukulan.

Si lelaki berbaju hijau ini sama sekali tidak menarik


perhatian, bagaimana mungkin dia orang bisa berhasil
memukul luka diri Thio Hauw?

Selesai mendengar penjelasan dari peristiwa bariuan


ini, mendadak dari sebuah tabung bambu Ong Peng
mencabut keluar sebuah senjata tri sula, tanpa
menimbulkan sedikit suarapun ia segera bertindak
mendekati diri lelaki berbaju hijau itu.

Si setan perempuan Ong Peng bukan saja sangat


gemar dengan perempuan, bahkan diantara Yen San Ngo
Koei dialah yang paling licik dan paling kejam.

193
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini dengan senjata tri sula diangkat tinggi-tinggi dan


sedikitpun tidak menimnulkan suara perlahan-lahan ia
berjalan mendekat tubuh lelaki berbaju hijau itu
kemudian melancarkan tusukan ke atas punggung
musuhnya.

Dengan menimbulkan suara desiran tajam trisula di


atas tangannya segera melesat ke atas ujung baju lelaki
berbaju hijau itu.

Di dalam anggapannya serangan tersebut pasti akan


menemui sasarannya atau paling sedikit musuhnya pasti
akan menderita luka.

Siapa sangka tenaga yang digunakan terlalu besar,


apalagi lelaki berbaju hijau itupun dengan sebat dan
gesit sekali menghindarkan diri ke samping.

Kiranya sewaktu senjata trisula itu hampir mengenai


badan si lelaki berbaju hijau itulah, mendadak orang itu
sambil memegang perutnya menjerit kesakitan dan
menjatuhkan diri ke arah depan.

Si setan perempuan Ong Peng tak dapat menahan diri


lagi. Senjata trisulanya dengan menimbulkan suara
berisik menghajar tepat di atas piring sayur sehingga
membuat benda tersebut hancur lebur, kuah berminyak
muncrat ke empat penjuru membasahi seluruh wajahnya.

Phoa Ceng Yan serta Miauw It Tong pada saat yang


bersamaan dengan menggunakan gerakan yang tercepat

194
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencelat ke samping, hindarkan diri dari cipratan kuah


minyak tadi.

Si setan arak Thio Hauw yang sedang menderita luka


berat tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, tak
terhindar lagi seluruh tubuhnya dibasahi dengan
berminyak tersebut.

Walaupun Phoa Ceng Yan mencelat ke belakang


sejauh lima depa, tetapi selama ini sepasang matanya
dengan memancarkan cahaya tajam memperhatikan
terus diri si lelaki berbaju hijau itu.

Terlihat tubuh si lelaki berbaju hijau hampir jatuh


mengenai tanhah itu, mendadak busungkan dada, angkat
kepala, tangan tidak menempel tanah, badan tidak
pinjam tenaga dengan menggunakan kekuatan sewaktu
mendongakkan kepalanya itulah ia berhasil menegakkan
badannya kembali.

Ong Peng yang melihat serangan senjata trisulanya


tidak mencapai pada sasaran, dengan tangan kiri
mengusap kering kuah pada minyak yang mengotori
wajah dan senjata trisula di tangan kanan berputar,
sekali lagi ia melancarkan tusukan ke arah dada lelaki
berbaju hijau itu.

“Heee……heeee…..heee…… agaknya kau orang


sebelum melihat peti mati tak akan mengucurkan air
mata, sebelum tiba di sungai Huang Hoo belum puas!”
seru lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa dingin tiada
hentinya.

195
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di tengah suara peembicaraan, tangan kirinya


mendadak diangkat ke atas mencengkeram pergelangan
tangan kanan Ong Peng.

Di mana hawa murninya disalurkan melalui sang


telapak, Ong Peng kontan merasakan separuh badannya
jadi kaku, kelima jari tangannya mengendor dan senjata
trisula dalam cekalannya tak tertahan lagi jatuh ke atas
tanah.

Si setan harta Lie Tan serta si setan nafsu Cau San


sewaktu melihat si setan arak serta si setan perempuan
yang satu terluka parah dan yang lain kena ditawan oleh
pihak musuh, dalam hati benar-benar merasa terperanjat
bercampur gusar, diam-diam pikirnya di dalam hati.

“Bangsat cilik yang tidak diketahui nama serta asal-


usulnya ini, tidak disangka sedemikian lihaynya?”

Agaknya di dalam hati mereka berdua mempunyai


maksud yang sama, mendadak diiringi suara bentakan
yang keras kedua orang itu secara berbareng menubruk
ke arah lelaki berbaju hijau itu.

Lelaki berbaju hijau itu mendengus dingin, dengan


sekuat tenaga ia menarik badan setan perempuan Ong
Peng ke arah depan menghadang datangnya tubrukan
dari si setan harta Lie Tan.

Gerakan dari Lie Tan dilakukan sangat cepat dan


ganas, penarikan tubuh Ong Peng yang dilakukan lelaki
berbaju hijau itupun tepat pada saatnya, si setan

196
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perempua tak bisa menahan dirinya lagi tanpa terasa lagi


tubuhnya menubruk ke arah Lie Tan.

Si setan harta Lie Tan sewaktu melihat berkelebatnya


bayangan tubuh Ong Peng menyambut tubrukannya,
dalam hati merasa sangat terperanjat sekali, cuma
sayang untuk mengerem tindakannya sudah tidak
sempat lagi.

“Braaak…..!” tak terhindar lagi mereka berdua saling


bertubrukan dengan kerasnya.

Lie Tan mendengus berat, tubuhnya kena terpukul


mundur tiga langkah ke belakang sebaliknya persendian
serta tulang iga Ong Peng kena ketubruk patah sehingga
ia harus menyekal pinggangnya sambil mengerang-
ngerang kesakitan.

Seluruh peristiwa ini terjadi hanya di dalam sekejap


mata saja, sewaktu lelaki berbaju hijau itu menggunakan
badan Ong Peng untuk menahan tubrukan dari Lie Tan,
telapak tangan kanannya pada saat yang bersamaan
mengirim pula satu pukulan ke depan.

Serangan telapak ini kelihatannya sama sekali tidak


aneh, justru kelihayannya terletak pada ketepatan waktu.

Cau San ingin menghindarkan diri dari serangan


tersebut agaknya tidak sempat lagi melihat angin
pukulan sudah menyambar datang, terpaksa dengan
keraskan kepala ia menubruk ke atas telapak musuh
dengan keras.

197
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Plaaak……! Dengan menimbulkan suara keras, tubuh


Cau San yang semula bergerak maju dengan sangat
tepat menubruk di atas telapak tangan lelaki berbaju
hijau itu.

Lelaki itu tidak bodoh, begitu tubuh si setan nafsu


menubruk datang, hawa murninya segera dikerahkan
keluar, terasalah segulung daya pental yang amat keras
dengan cepat melemparkan badannya ke belakang.

Sebetulnya ketika itu si setan nafsu Cau San sedang


berlari menerjang ke depan, setelaj termakan daya
pental tadi, tak kuasa lagi badannya mencelat ke
belakang sehingga tubuhnya berjumpalitan.

Melihat saudaranya kembali dipukul sehingga mencelat


ke belakang, Miauw It Tong segera maju ke depan
menerima jatuhnya tubuh Cau San.

“Heee……heee……heee……kawan, sungguh dashyat


tanaga dalammu” jengeknya perlahan.

Kiranya, kendati Miauw It Tong berhasil menerima


jatuhnya badan Cau San, tetapi badannya tidak utung
kena terpukul mundur juga sehingga melangkah ke arah
belakang sebanyak tiga tindak dengan sempoyongan.

“Hmmmmm…..! Kalian beberapa orang budak buta


yang tak tahu diri, memang sepatutnya aku kasih sedikit
hajaran kepada kalian agar kamu semua tahu jika jago-
jago lihay di dalam dunia kangouw sangat banyak
jumlahnya, lain kali janganlah coba-coba main gertak dan
cari menang sendiri!” seru lelaki berbaju hijau itu dingin.

198
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Miauw It Tog bukan saja namanya tercantum sebagai


loo-toa di dalam deretan Yen San Ngo Koei bahkan ilmu
silatnya-pun jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dari
empat setan lainnya, sesudah melihat kejadian tadi, ia
lantas mengerti bila kepandaian silat yang dimiliki lelaki
berbaju hijau ini telah berhasil mencapai pada taraf
kesempurnaan, sekalipun ia sendiri majupun hanya sia-
sia belaka.

Dasar sifatnya memang licik, pintar dan banyak akal.


Sesudah merasa bila posisinya tidak menguntungkan
dengan paksakan diri menahan rasa murka di dalam
dadanya ia berkata, “Salah aku sendiri punya mata tak
berbiji sehingga tidak mengenal kau sebagai seorang
jagoan lihay, hal ini tak bisa salahkan kawan telah
memberi sedikit hajaran kepada mereka.”

“Haaa……haaa……haaa….. Khek loo ci, begitulah baru


mirip perkataan seorang manusia!” teriak lelaki berbaju
hijau itu sambil tertawa terbahak-bahak, sedang
lagaknyapun telah kembali dengan menggunakan logat
daerah Su TZuan.

Perlahan-lahan Miauw It Tong menghembuskan napas


panjang.

“Manusia meninggalkan nama, burung meninggalkan


suara, kawan! Mengapa kau orang tidak tinggalkan dulu
nama besarmu!” ujarnya.

Lelaki berbaju hijau itu sama sekali tidak mengubris


terhadap perkataan tersebut, ia segera duduk kembali

199
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengangkat cawan arak dan dan berturut-turut meneguk


sebanyak tiga cawan besar.

Pada mulanya si setan arak, perempuan, harta serta


nafsi berempat tak dapat menahan rasa gusar di hatinya
melihat kecongkakan orang itu, tetapi setelah kejadian
barusan mereka baru merasa bila mereka berempat telah
menemui jagoan lihay yang selama ini belum pernah
ditemuinya. Akhirnya dengan menahan rasa sakit mereka
pada bungkam diam dalam seribu bahasa.

Kembali Miauw It TOng mendehem perlahan, “Kawan,


siaw-tee ingin minta petunjuk nama besar dari
saudara…” katanya.

Lelaki berbaju hijau itu tetap tidak mengubris dan


pura-pura tidak mendengar bahkan kepalanya tidak
menoleh, matanya tidak berputar, ia hanya repot dengan
araknya saja.

“Ehmmm…..! Kedatangan lelaki berbaju hijau ini


sungguh aneh sekali,” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan di
dalam hati.”Agaknya ia sengaja ada maksud hendak
mencari gara-gara dengan mereka, sebetulnya apa
maksud yang sebetulnya?”

Berpikir akan hal itu, perlahan-lahan ia-pun sambil


duduk ditempatnya semula.

“Heee……heee…..heee…… ada pepatah mengatakan


tiada perjamuan merupakan suatu perjamuan baik.
Kawan! Kau orang tidak takut bila di dalam arak tersebut

200
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah kami campur dengan racun?” teriak Miauw It Tong


sambil tertawa seram.

“Apa kau kata?” mendadak lelaki berbaju hijau itu


meletakkan poci araknya ke atas meja.

“Cayhe berkata kalau arak tersebut dicampuri dengan


racun!”

“Racun apa?”

“Racun apa? oouuw…… sungguh maaf sekali! Cayhe


sendiripun tidak paham racun apakah itu, yang jelas di
dalam arak tersebut sudah dicampuri racun.”

“Heee……heee…..heee…… tentu kau sendirilah yang


bertindak sebagai pentolan Yen San Ngo Koei?” jengek
lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah, cayhe she Miauw bernama It


Tong, entah kawan mempunyai petunjuk apa?”

“Badan setan ekor-ekor setan! Semuanya pentang


cakar unjuk gigi, kelihatannya kau sebagai kepala setan
masih bisa menahan sabar.”

“Maksud kawan…….?” air muka Miauw It Tong kontan


berubah hebat.

“Kau kira aku tidak paham dengan siasat setan dari


kepala setan otak setan kalian?”

“Apa maksud perkataanmu itu?”

201
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku dengar orang berkata bahwa si kepala setan


memiliki kepandaian silat yang jauh hebat dari beberapa
orang setan-setan yang menjadi ekornyam tidak
kusangka kaupun memiliki kelicikan yang jauh melebihi
setan-setan ekor lainnya….”

Mendadak ia putar batok kepalanya, dengan dua


rentetan cahaya mata yang dingin dan tajam ia melototi
wajah Miauw It Tong dalam-dalam, sambungnya dengan
nada sangat dingin.

“Kau adalah seekor kadak buduk yang ingin


bersembunyi dari sinar matahari, bisa meloloskan diri
satu detik, berusaha keras untuk mendapatkan satu
detik, heee……heee……cuma saja kau jangan kuatir!”

Begitu perkataan tersebut selesai diucapkan, Miauw It


Tong segera merasakan ghatinya tergetar sangat keras,
tetapi di atas paras mukanya masih mempertahankan
ketenangan.

“Cayhe mempunyai urusan apa yang patut


dikuatirkan,” katanya perlahan.

“Kau sedang mengulur waktu untuk menanti


kedatangan majikan kalian si kongcu tukan foya-foya Ke
Giok Lang!”

Sekali lagi Miauw It Tong merasakan hatinya tergetar


sangat keras.

“Saudara adalah ………”

202
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perkataan dari Khek Loo-ci tidak salah bukan!”


potong lelaki berbaju hijau itu dengan cepat. “Kau
bangsat cilik diam-diam punya maksud tidak baik,
heee…..heee……sebetulnya jika aku kepingin
membereskan kalian Yen San Ngo Koei sangat gampang
sekali seperti membalik tangan sendiri, cuma ……..”

Belum habis ia menyelesaikan perkataannya,


mendadak terdengarlah suara tertawa terbahak-bahak
yang amat keras memotong pembicaraan lelaki berbaju
hijau yang belum selesai diucapkan itu.

Ketika semua orang menoleh ke arah mana berasalnya


suara tertawa itu, terlihatlah di depan mulut loteng
muncullah seorang pemuda tampan yang memakai topi
model siangkong, memakai jubah berwarna biru,
tangannya mencekal sebuah kipas, wajah putih halus dan
berbibir merah seperti memakai gincu.

Melihat munculnya pemuda itu si lelaki berbaju hijau


itu segera mengebrakkan tangannya ke atas meja
sehingga membuat teko arak, cawan, mangkok serta
piring-piring sayur tergetar keras dan beterbangan di
tengah udara.

“Ke Giok Lang, loohu sudah mengejar dirimu selama


setengah tahun lamanya….”

“Ooouw…. aku kira siapa, tidak nyana adalah Tui Hong


Hiap atau si pendekar pengejar anging yang memiliki
nama besar di dalam dunia kangouw,” potong Ke Giok
Lang sambil mengulapkan tangannya.

203
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar disebutnya nama tersebut, Miauw It Tong


kontan merasakan hatinya tergetar sangat keras.

“Tidak nyana si bangsat cilik yang berwajah biasa dan


sama sekali tidak menarik ini adalah si pendekar
pengejar angin yang amat terkenal itu.” pikirnya diam-
diam dalam hati. “Masih beruntung aku bisa menahan
sabar, kalau sampai aku orang turun tangan mungkin
dirikupun tak akan terhindar dan bakal menderita rasa
malu pula.”

Terdengarlah pada waktu itu si pendekar pengejar


angin dengan nada dingin sedang berseru, “Ke Giok
Lang! Kau sudah menculik pergi keponakan
perempuanku kemana?”

“Aduuh……..aduuh…… sungguh tidak enak sekali


perkataanmu itu jika didengar, selama ini cayhe belum
pernah menculik atau membawa lari perempuan orang-
orang baik…..” seru si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok
Lang sambil melangkah maju ke depan dan tertawa
menyengir.

Ia merandek sejenak, setelah membentangkan


kipasnya lebar-lebar kembali sambungnya lagi.

“Heeei…! Bilamana bukannya mereka yang memohon-


mohon dengan begitu mengenaskan akupun tidak ingin
membawa mereka pergi.”

204
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Eeei…. Kau jangan coba melamuri aku sedang


menanyakan keponakan perempuan cayhe, ia masih
hidup atau sudah mati?? sekarang ada di mana?”

“Haaaa……haaa……….haaa………….siapakah nama dari


keponakan perempuan itu? Apakah kaupun tahu?” ejek
Ke Giok Lang lagi sambil tertawa geli.

Saking khekinya air muka si pendekar pengejar angin


berubah hebat.

“Ke Giok Lang! Kau cucu kura-kura jangan membuat


aku si orang tua jadi gusar haaa! Kalau tidak
….heee…..heee….. jangan salahkan aku orang hendak
memaki dirimu dengan menggunakan logat tiga belas
daerah!”

Bab 6

Meskipun dalam hati Siang-Koan Kie penuh rasa


curiga, tetapi dengan tanpa menyadari ia sudah menurut
perintah orang tua itu. Ia duduk bersila dan mulai
mengatur pernapasannya.

Sementara itu di telinganya mendengar suara orang


tua itu yang berkata kepadanya, “Pejamkan matamu,
bersihkanlah pikiranmu, tujukan perhatianmu kedalam,
hati, lima pusar menghadap keluar.”

Siang-Koan Kie menurut apa yang dikatakan tetapi


ketika mendengar perkataan terakhir, mendadak

205
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membuka matanya, dan bertanya, “Apa artinya lima


pusar?”

Orang tua itu menjawab sambil tersenyurn, “Lima


pusar artinya……..”

Mendadak ia tutup mulut dan membuka telinganya.

Siang-Koan Kie yang menyaksikan kelakuan orang tua


itu, juga segera memasang telinga, tetapi kecuali suara
meniupnya angin dari gunung, tidak terdengar suara
apalagi.

Ketika hendak bertanya, tiba-tiba orang tua itu berkata


pu1a, “Sudah tidak bisa belajar…….. lekas tutup semua
jendela.”

Menyaksikan sikap orang tua yang sangat serius, ia


terpaksa bangkit dan menutup semua daun jendela.

Orang tua itu berkata pula sambil menujuk dalam


sebelah kirinya, “Kau boleh menyembunyikan diri
dibawah jendela itu untuk menyaksikan keramaian, tidak
perduli melihat kejadian apa saja yang menakutkan atau
mengejutkan, kau tidak boleh mengeluarkan suara.”

Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu sejenak, baru


melongok keluar sedang dalam hatinya berpikir entah
apa yang dilakukan oleh orang tua itu.

Belum lenyap pikirannya kembali terdengar suaranya


orang tua itu, “Orang yang datang itu adalah seorang

206
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kuat dari golongan Bit-cong-pai di Tibet, kau harus


perhatikan kepandaian ilmu silatnya, apa bedanya
dengan ilmu silat dari daerah Tiong-goan……..?”

Belum lagi menutup mulutnya, dari jauh tampak suatu


titik bayangan merah yang lari menuju kemari.

Siang-Koan Kie mengawasi dengan seksama orang


yang datang itu berperawakan tinggi sekali
menggunakan serupa benda mas untuk mengikat
rambutnya, badannya mengenakan jubah padri warna
merah, diatas batok kepalanya ada bekas cacat sebesar
telur bebek, orang itu berdiri diatas atap, melongok
kebawa memandang keadaan sekitarnya. Mendadak ia
melayang melesat tinggi tiga tombak, ditengah udara ia
jungkir balik dengan kepala dibawah dan kaki diatas,
bagaikan peluru yang meluncur kebawah.

Ilmu meringankan tubuh yang jarang tertampak dalam


dunia ini, membuat terpesona Siang-Koan Kie.

Didalam tempat yang sunyi seperti itu, dengan tiba-


tiba kedatangan seorang tokoh kuat dari daerah barat,
benar-benar merupakan suatu hal yang sangat aneh,
meski Siang-Koan Kie dapat menduga akan terjadinya
hal-hal yang luar biasa tetapi ia tidak dapat menduga
sebab musababnya. Namun demikian ia juga tidak berani
menanyakan kepada orang tua itu, semua pertanyaan
cuma disimpan dalam hatinya sendiri.

Tiba-tiba dari bawah menara terdergar satu suara


tiupan aneh, kemudian disusul oleh suara tindakan kaki
yang berat, lalu terdengar pula suara orang bicara, entah

207
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan menggunakan bahasa apa, segera datang


seseorang lagi tetapi apa yang dibicarakan oleh dua
orang itu ia tidak dapat mengerti samasekali.

Ia berpaling dan mengawasi siorang tua, nampaknya


sedang pasang telinga memperhatikan pembicaraan
kedua orang itu, hal itu mengherankannya karena dua
orang yang bercakap-cakap itu, kalau bukan
menggunakan bahasa Utgul tentunya bahasa Tibet. Buat
orang2 daerah Tiong-goan yang mengerti bahasa itu
jumlahnya sedikit sekali, tepi orang tua itu
mendengarkan dengan seksamna, mungkinkah dia
memahami bahasa itu?

Kedua orang itu setelah bercakap-cakap sebentar


kembali terdengar suara tindakan kakinya yang berat
agaknya sedang berjalan menuruni tangga.

Dalam hati Siang-Koan Kie meski ada banyak hal yang


ingin ditanyakan kepada orang tua itu, tapi ketika ia ingat
sikap bangga sewaktu ia menanyakan tentang lima
pusar, terpaksa ia urungkan maskudnya.

Nampak hening cukup lama, orang tua itu tiba-tiba


menanya Siang-Roan Kie sambil ketawa, “Apakah kau
mengerti apa yang dibicarakan oleh dua padri dari tibet
itu tadi?”

“Boan-pwee tidak paham bahasa Tibet.”

“Meski mereka padri Tibet tetapi dalam


pembicaraannya tadi mereka menggunakan bahasa
Utgul.”

208
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Benarkah Locian-pwee paham bahasa Utgul?”

“Apakah aku perlu membohongi kau?”

“Locianpwee mengerti petnbicaraan mereka, apakah


yang mereka bicarakan?”

“Apakah kau meninggalkan sesuatu bekas diatas


menara?”

Siang-Kuan Kie meng-angguk2kan kepala, sebelum


yang dijawab orang tua itu sudah mendahuluinya,
“Seorang Padri menemukan bekas yang kau tinggalkan,
ia berkata bahwa dalam menara pasti ada orang yang
bersembunyi, sehingga mengusulkan supaya diadakan
penyelidikan. Satunya lagi mengatakan bahwa bekas itu
belum tentu orang yang meninggalkan, andaikata benar
ada orang bersembunyi dalam menara ini, juga tidak
perlu ditakuti. Dua orang itu setelah saling tukar pikiran
sekian lama lalu berlalu……..”

Setelah berkata sekian banyak, orang tua itu


mendadak teringat hal yang penting sehingga
sekonyong2 berhenti dan melesat kesatu sudut, ia
membuka kotak warna hitam itu dan mengambil sebutir
pel warna merah, setelah menutup kembali kotak itu, ia
melesat balik dan berkata, “Kau telan dulu pel ini.”

Orang tua itu segera melakukan apa yang telah dipikir,


belum pernah menceritakan alasannya.

209
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-Kuan Kie sangsi sejenak lalu menyambuti pel itu


ditelannya demikian ia bertanya, “Dua padre dari Tibet
itu jauh2 datang kedaerah Tiong-goan, entah apa
maksudnya mencari kekuil tua ini?”

Orang tua itu mendadak membuka lebar matanya,


dengan sinar mata tajam menatap wajah Siang-Kuan Kie
dan berkata, “Ini adalah suatu pertandingan ilmu silat
yang menggemparkan dunia rimba persilatan, kedua
pihak mengelurkan turunannya yang tidak dapat dinilai,
ah! sayang sekali bahwa kejadian besar yang sangat
menggemparkan ini, sedikit sekali jumlahnya orang yang
tahu……..”

Perkataan itu diucapkan dengan suara agak nyaring


sehingga Siang-Koan Kie yang mendengarkan sampai
berdiri termangu, lama baru bertanya, “Dalam dunia
Kang-ouw soal pertandingan ilmu silat memang sering
terjadi tetapi paling2 yuga hanyalah seorang atau
beberapa orang yang bersangkutan, yang terluka, atau
binasa, dengan bertarungan yang tidak ternilai, benar-
benar membuat Boanpwee tidak mengerti.”

Orang tua itu membuka daun jendela disampingnya


seraya berkata, “Sebelum sepasang kakiku terpotong,
aku pernah menjelajahi seluruh Negeri, banyak sudah
pertandingan2 ilmu silat yang aku pernah saksikan, hal
serupa itu memang tidak mengherankan, tetapi kali ini
yang mengherankan adalah pertaruhan dari kedua pihak
yang sangat luar biasa itu, ah! jikalau mereka benar-
benar segan memenuhi janji mereka, sesungguhnya
akan menimbulkan akibat yang tidak dapat diduga oleh
semua orang.”

210
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Entah apa yang digunakan untuk pertarungan bagi


orang kedua belah pihak?”

“Pihak yang satu mempertaruhkan dirinya sebagai


budak untuk seumur hidupnya berikut semua orang2 dari
daerah barat. Pihak yang lain mempertaruhkan hendak
membunuh semua tokoh-tokoh kuat rimba persilatan
daerah Tiong-goan, kemudian musnahkan
kepandaiannya sendiri, mengundurkan diri dari dunia
Kang-ouw dan menyerahkan seluruh daerah
kekuasaannya kepada yang menang.”

“Apa? adakah kedua pihak yang bertanding itu raja


pada dewasa ini?”

“Bukan.”

“Kalau bukan raja, ia hendak menyerahkan daerah


kekuasaannya kepada yang menang, ini bukankah
merupakan suatu kejadian yang lucu, sekalipun ia berani
mengucapkan demikian, apakah padri Tibet itu mau
percaya?”

“Apa yang aku dengar hanya itu saja, soal ini dimulai
lima tahun berselang, mereka telah mengadakan
perjanjian pertaruhan itu didalam menara penyimpan
kitab, aku waktu itu belum dapat melihat bagaimana
mukanya orang2 yang mengadakan pertaruhan itu……….
di antara daerah-daerah barat. Dua orang dari suku
Hwee dan Tibet banyak yang mempunyai kepandaian
tinggi, tidak mustahil ada yang timbul keinginan untuk
membentangkan sayapnya kedaerah Tiong-goan.”

211
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlahan-lahan matanya menatap Siang-Koan Kie


kemudian berkata pula, “Tetapi orang-orang kuat yang
benar-benar dari golongan Bit-cong, jarang sekali mau
diperalat oleh orang lain, maka bagaimana keadaan yang
sebenarnya, aku juga tidak mengerti, kini masih ada
waktu beberapa hari, setelah mereka datang tidak susah
bagi kita untuk mengetahui…….. ya, walaupun
mengetahui rahasia mereka, tetapi aku juga sudah tidak
bisa campur tangan, untuk mengeluarkan tenaga bagi
nasib sesama manusia yang tidak berdosa itu.”

Tatkala mengucapkan perkataan yang terakhir ini,


orang tua itu menunjukkan sikapnya yang sangat sedih.

Siang-Koan Kie merasakan bahwa orang tua ini tidak


begitu jahat sebagai apa yang dibayangkan, bahkan
sebaliknya merupakan seorang tua yang berjiwa kesatria,
dan mengingat kepentingan sesama manusia, maka
timbullah perasaan simpatih dalam kalbunya, ia berkata,
“Kepandaian ilmu silat Locianpwee sudah mencapai
kesuatu taraf yang tidak ada taranya, hal ini sudah
Boanpwee saksikan dengan mata kepala sendiri,
walaupun kehilangan dua kaki juga tidak menjadi
halangan besar, jikalau salah satu dari orang2 itu benar-
benar bermaksud hendak mencelakakan nasib rakyat dan
Negara, Boanpwee menyediakan tenaga membantu
Locianpwee……..”

Tiba-tiba ia ingat kepandaiannya sendiri yang masih


belum berarti jika dibandingkan dengan orang2 kuat itu,
bagaimana dapat membantu, maka untuk sesaat ia
terdiam, kemudian berkata pula, “Boanpwee tahu

212
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaian sendiri masih terlalu rendah, sehingga tidak


dapat membantu Locianpwee, tetapi Boanpwee rela
sekali mengikuti jejak Locianpwee, sekalipun akan hancur
lebur badanku juga tidak kupikirkan lagi.”

Orang tua itu mendongakkan kepala dan berpikir,


barulah berkata, “Kalau sudah tiba saatnya nanti kita
bicarakan lagi, jikalau keadaan dan kekuatan kita
mengijinkan, sudah tentu kita harus mengeluarkan
tenaga untuk menolong nasib sesama manusia……..”

Setelah berpikir agak lama tiba-tiba ia herkata lagi


dengan nada suara dingin, “Tidak perduli kau melihat
kejadian apa saja, sebelum aku bertindak kau jangan
sembarangan bergerak.”

Siang-Koan Kie baru saja menyaksikan sikap orang tua


itu yang sangat ramah, tetapi dengan tiba-tiba telah
berobah dingin, dalam hati ia merasa tidak enak.

Pikirnya, “Orang tua ini meski bukan orang jahat,


tetapi sikapnya sebentar hangat sehentar dingin, benar-
benar sulit sekali diikuti.”

Ketika sedang berpikir tiba-tiba terdengar suara orang


tua itu yang berkata dengan nada rendah, “Lekas tutup
daun jendela yang terbuka itu, ada orang datang lagi.”

Karena sudah ada pengalaman yang pertama, Siang-


Koan Kie tahu bahwa daya pendengaran orang tua itu
tajam sekali sudah tentu tidak bisa salah dengar, maka ia
cepat2 menutup jendela, lalu menyembunyikan dirinya
dibawahnya.

213
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tidak lama kemudian, benar saja terdapat dua


bayangan orang muncul diatas atap rumah.

Dua orang itu berpakaian ringkas semuanya,


dibelakang punggung mereka masing2 membawa
senjata. Begitu melihat, ia sudah dapat mengenali bahwa
mereka itu bukanlah orang2 dari daerah perbatasan.

Kedatangan kedua orang itu jauh berbeda dengan


kedatangan dua padri dari Tibet itu tadi, kedatangan
mereka agaknya memakai benda untuk menyembunyikan
dirinya, maka setelah berada diatas atap rumah baru
kelihatan.

Dalam hati Siang-Koan Kie lalu berpikir; “Orang2 dari


daerah Tiong-goan, memang sifatnya lebih licik dari
orang2 daerah luar perbatasan……..”

Belum lagi lenyap pikirannya, dua orang yang berada


diatas rumah itu mendadak memencarkan diri menuju
kemenara dengan mengambil jalan masing2.

Jalan yang diambil oleh dua orang itu sudah berlainan


dengan jalan yang ditempuh oleh padri Tibet tadi,
mereka berjalan secara sembunyi tidak berani terus
terang menunjukkan dirinya.

Siang-Koan Kie sedang mencurahkan seluruh


perhatiannya kepada dua orang itu, tiba-tiba diatas atap
sebelah kirinya mendadak tampak berkelebatnya
bayangan orang, ketika ia berpaling disana ternyata juga
ada berdiri dua orang lagi.

214
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia terkejut dan cepat2 menyembunyikan dirinya


dibawah jendela.

Ia merayap perlahan-lahan kejendela sebelah kiri,


benar saja segera dapat lihat dua orang berpakaian
ringkas dengan membawa senjata dipunggungnya berdiri
diatas atap sebelah kanan.

Satu di antaranya berkata sambil menunjuk kemenara,


“Diatas atap rumah ini, ada sebuah renggon kecil yang
menonjol baik untuk tempat menyembunyikan diri, dari
situ dapat melihat pemandangan keseluruhan sekitar kuil
apalagi tempatnya sangat tersembunyi, kalau kita tidak
berada diatas atap rumah tidak akan dapat melihatnya.”

Siang-Koan Kie terperanjat, dalatn hatinya berpikir,


“Jikalau mereka hendak mengadakan penyelidikan
didalam menara ini, sesungguhnya sangat berbahaya.”

Terdengar suara seorang lagi berkata, “Dalam hal ini


bagaimana kita dapat bertindak sendiri, tunggu setelah
pemimpin kita datang biar beliau yang mengambil
keputusan sendiri.”

Orang yang pertama bicara tadi berkata pula, “Kalau


begitu kita periksa dulu keadaan dalam menara, toch
tidak ada halangan.”

Setelah itu ia menggerakkan tangannya, barangkali


memanggil kawan2nya supaya datang berkumpul.

215
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hati Siang-Koan Kie mulai cemas, pikirnya, “Celaka


menara ini tidak seberapa, jikalau mereka hendak
memeriksa dimana ada tempat lagi untuk
menyembunyikan diri?”

Tetapi ketika ia menoleh ke arah orang tua, ternyata


sikapnya masih tenang-tenang saja seperti tidak terjadi
apa-apa.

Genting atap diluar jendela tiba-tiba terdengar suara


tindakan kaki sangat perlahan.

Siang-Koan Kie tahu bahwa sudah ada orang diluar


jendela maka ia menarik kepalanya dan ia cepat
menyembunyikan badannya dibawah jendela.

Ia diam-diam siap siaga untuk menghadapi segala


kemungkinan.

Diluar jendela tiba-tiba terdengar suara orang berkata


sambil tertawa besar, “Saudara2 harus jaga diluar, aku
hendak masuk untuk periksa keadaan dalam menara ini.”

Siang-Koan Kie cepat2 berdiri bersembunyi dibelakang


jendela, ia sudah siap apabila ada orang mendorong
pintu jendela, ia segera menyerang dengan kecepatan
bagaikan kilat.

Pada saat itu jalan darah Ciok-tie-hiat, seperti disentuh


oleh sebuah benda, meskipun tidak sakit tetapi
tangannya tiba-tiba merasa kesemutan.

216
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tatkala ia menengok, segara tampak olehnya bahwa


wajah orang tua itu sudah berobah dengan tiba-tiba,
seluruh muka orang tua itu nampak kuning seperti mas,
duduk dekat tembok disatu sudut, jikalau orang tua itu
tidak menggerakkan tangan kepadanya sesungguhnya
sulit untuk mengenalnya.

Bukan kepalang terkejut Siang-Koan Kie tetapi ia


segera tersadar, karena melihat orang tua itu memakai
kedok, ia mengetahui bahwa orang tua itu mempunyai
siasat untuk menghadapi musuhnya, cepat2 ia lari
menghampiri dan sembunyi dibelakang dirinya.

Orang tua itu bentangkan kedua tangannya, baju


panjangnya yang kerowongan tiba-tiba melembung
untuk menutupi diri Siang-Koan Kie, sekitar pinggir baju,
kecuali bagian lobangnya, semua nampak rapat bagaikan
dinding.

Siang-Koan Kie yang berlindung didalam baju itu,


sedikitpun tidak merasakan sempit, ia dapat bergerak
dengan leluasa.

Tiba-tiba telinganya dapat mendengar suara


terbukanya daun jendela, Siang-Koan Kie mengintip dari
celah2 lobang baju, ia dapat melihat seorang lelaki kira-
kira berumur empat puluhan, badannya tegap romannya
galak.

Orang itu agaknya dikejutkan oleh orang tua yang


mukanya bagaikan patung, sejenak nampak terperanjat,
baru perlahan-lahan menghampiri.

217
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian, disusul oleh munculnya tiga orang


kawannya, yang semuanya maju menghampiri orang itu.

Terdengar suara laki2 yang pertama datang tadi


berkata, “Saudara Thio, lihatlah, ini patung apa? Budha
tidak mirip dengan budha, agak mirip dengan patungnya
satu dewa, yang menjadi pengawalnya Tuhan Allah,
tetapi dibawah kaki ini tidak terdapat patung harimau,
tangannya tidak membawa pecut, sudah banyak aku
melihat bentuknya patung2, tetapi belum pernah
menyaksikan patung serupa ini.”

Sementara itu semua kawannya sudah berada


disekitar orang tua karena jaraknya dekat sekali, ia
malah tidak dapat melihat tegas muka tiga orang itu,
hanya terdengar suara jawabannya saja, “Patung ini
memang aneh bentuknya, bukan terbuat dari kayu
ukiran, juga bukan dari tanah liat.”

Siang-Koan Kie yang mendengarkan pembicaraan itu


belum juga terkejut sebab ia khawatir penyamaran orang
tua itu nanti akan diketahui oleh orang itu, sekalipun
orang tua itu sudah sempurna kekuatan tenaga
dalamnya, tetapi untuk menghadapi empat orang yang
menyerang secara tiba-tiba mungkin jupa berat.

Tetapi secara tidak disengaja tangannya menyentuh


badan orang tua itu, tangan itu dirasakan seperti
menyentuh barang keras sehingga diam-diam ia
terperanjat, orang yang mempunyai kekuatan tenaga
dalam demikian sempurna sebetulnya jarang terdapat.

218
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang bicara,


“Patung ini mungkin terbuat dari kayu garu……..”

Terdengar suara orang lain, “Tidak mirip, kayu garu


pasti ada bau harumnya……..”

Terdengar pula suara orang yang pertarna, “Kalau


bukan dari kayu garu, apakah dia terdiri dari daging
manusia yang telah membeku, coba kau raba lengannya,
kecuali kayu garu, tidak mungkin dari tanah liat atau
batu.

Siang-Koan Kie merasa tertarik hatinya ia


mengulurkan tangan meraba tangan si orang tua, benar
saja tangan itu keras seperti batu.

Terdengar pula suara seorang berkata:

“Kalian jangan rebut, baik terbikin dari kayu maupun


dari tanah liat atau daging manusia yang membeku, biar
bagaimana toch sebuah patung……..”

Seorang lain berkata, “Saudara Go terkenal sebagai


seorang cerdik, biasanya kau sangat mengagumkan,
tetapi kali ini aku tidak dapat menyetujui pendapatmu.”

Terdengar suara orang itu tadi, “Saudara Lo pasti


dapat melihat bahwa debu tanah dalam menara ini sudah
dibersihkan, juga ada bekas2 peninggalan orang yang
makan buah apel, kau lalu menganggap bahwa didalam
menara ini pasti ada orangnya, betul tidak?”

219
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang yang dipanggil Lo, itu berkata, “Benar,


bagaimana pendapatmu tentang ini?”

Siang-Koan Kie terkejut, pikirnya, “Celaka jikalau


mereka dapat menebak jejak kita karena biji buah apel
itu benar-benar aku patut disesalkan.

Terdengar suara orang yang dipanggil saudara Go itu,


“Setitik pelita, juga berani mengadu penerangan dengan
sinarnya rembulan dan matahari, apakah kau kira kau
sendiri yang cukup pintar, ketahuilah olehmu, didalam
menara ini bukan saja memang ada orangnya, bahkan
bukan hanya seorang saja……..”

Siang-Koan Kie sangat khawatir, diam-diam


menyiapkan tenaganya.

Terdengar pula suara orang itu, “Cuma orang yang


berada didalam menara ini, sudah lama pergi, aku baru
saja memperhatikan keadaan diatas rumah dan ruangan
kuil, semua ada tanda2 banyak bekas jejak kaki manusia,
ini berarti sebelum kita tiba, sudah ada orang lain yang
datang lebih dulu, bekas kaki itu ada yang besar dan
kecil, ini suatu bukti bahwa orang yang datang bukan
cuma satu, jikalau dugaanku tidak keliru, mungkin sudah
ada berapa padri Tibet, yang sudah datang lebih dulu
memeriksa keadaan disini, masih ada lagi seorang dari
golongan rimba hijau di daerah Tiong-goan yang bawa
mereka kemari, padri Tibet itu berperawakan tinggi
besar, maka bekas kakinya lebih besar, nampaknya
mereka berdiam didalam menera ini dalam waktu yang
cukup lama, biji apel itu sudah tentu mereka yang
meninggalkannya.”

220
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-Koan Kie yang mendengar keterangan orang itu


diam-diam juga memuji kecerdikan orang tersebut,
sayang karena menganggap dirirya sendiri terlalu pintar
sehingga akhirnya menjadi tergelincir.

Orang she-Lou itu terdengar pula suaranya,


“Keterangan saudara Go ini benar-benar sudah membuka
pikiranku, kau mendapat julukan sebagai seorang cerdik
pandai benar-benar tidak sia2, kita sudah didahului oleh
orang lain, besar kemungkinan bahwa musuh kita sudah
mempunyai siasat lain, sebaiknya kita lekas pulang
memberitahukan kepada pemimpin kita supaya selekas
mungkin mengadakan persiapan.”

Seorang yang bicaranya agak kasar, saat itu tiba-tiba


mengeluarkan suaranya, “Tidak disangka padri dari Tibet
yang kelihatannya tolol dan bodoh, ternyata juga banyak
akalnya.”

Setelah itu suara empat orang itu perlahan-lahan


kedengarannya sangat jauh dan akhirnya lenyap sama
sekali.

Siang-Koan Kie menunggu sekian lama lagi, setelah


menduga orang2 itu sudah pergi jauh, baru mengulur
tangannya untuk menyingkap baju orang tua tetapi
ternyata tidak bergerak sama sekali.

Perasaan ingin tahu telah membangkitkan


keberaniannya untuk mencoba mendorong dengan
tenaga sekuatnya.

221
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tetapi segera merasakan ada kekuatan tenaga yang


membentur balik dirinya sehingga ia hampir terjatuh.

Dalam pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang


tua itu berkata, “Pusar dua telapak tangan, pusar dua
telapak kaki, dan pusar diatas kepala, itulah yang
dinamakan lima pusar. Lima pusar itu menghadap keatas
untuk menampung semua kekuatan tenaga murni ini
adalah cara melatih kekuatan dalam yang tertinggi.”

Siang-Koan Kie berpikir cukup lama lalu berkata,


“Boan-pwee adalah seorang dungu sehingga hanya
mengerti satu dua bagian saja.”

Orang tua itu berkata, “Inilah salah satu rahasia


terbesar dalam kepandaian ilmu silat, kalau kau sudah
dapat memahami satu dua bahagian saja, sudah cukup
kau gunakan untuk seumur hidupmu sekarang duduklah
bersila dan pejamkan matamu.”

Siang-Koan Kie menurut, ia berbuat seperti apa yang


dikatakan oleh si orang tua itu.

Ia merasa bahwa tenaga murni dalam tubuhnya yang


biasa mengalir dengan leluasa, kali ini mendadak seperti
terhalang oleh semacam kekuatan hebat sehingga
kecepatan mengalirnya darah dalam tubuhnya banyak
berkurang, diatas dadanya seperti tertindih oleh barang
berat, semua isi perutnya seperti hendak terlepas dari
tempatnya. Dalam waktu sangat singkat saja keringat
sudah membasahi sekujur badannya, menimbulkan
semacam perasaan yang tidak enak.

222
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tetapi ia adalah seorang keras kepala, semakin hebat


penderitaannya, semakin tidak mau menyerah, dengan
sekuat tenaga ia mencoba menahan semua penderitaan
itu.

Entah berapa lama sudah berlalu, mendadak ia


merasakan kekuatan tenaga murni dalam tubuhnya
perlahan-lahan mengalir kebahagiaan yang belum pernah
dilalui, tindasan diatas dadanya mulai berkurang,
mengalirnya darah mulai teratur, tetapi ia merasakan
sangat letih, dengan tanpa dirasa telah tertidur.

Ketika ia sadar dan membuka matanya, hari sudah


hampir gelap.

Orang tua itu sedang duduk dipinggir jendela,


matanya mengawasi dirinya setelah nampak ia telah
sadar, orang tua itu tersenyum dan berkata, “Didalam
daerah pegunungan yang sunyi ini, kecuali buah-buahan,
hanya daging burung dan binatang terbang yang dapat
digunakan untuk pengisi perut, sudah lama kau makan
nasi, barangkali tidak biasa dengan hidangan semacam
ini.”

“Boan-pwee sering mengikuti Suhu melakukan


perjalanan kedaerah pegunungan yang jarang didatangi
oleh manusia, tidur dibawah langit terbuka dan makan
buah-buahan sudahlah biasa. Locianpwee tidak perlu
memikirkan diri Boan-pwee.”

“Itu bagus, aku juga tidak perlu bersusah hati.”

223
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba ia mengambil serulingnya dan mulai meniup


lagi.

Siang-Koan Kie yang berada disampingnya, dapat


mendengar suara seruling itu sangat lemah, tetapi
samar-samar seperti memanggil-manggil seorang.

Tidak berapa lama, orang tua itu berhenti meniup, dan


berkata kepadanya sambil tertawa, “Hati manusia banyak
yang palsu, bersahabat dengan manusia adalah lebih
baik bersahabat dengan binatang.”

Siang-Koan Kie tiba-tiba teringat bahwa orang tua itu


pernah menggunakan serulingnya untuk memanggil ular
raksasa, maka ia lalu berkata, “Apakah Locian-pwee
hendak memanggil ular raksasa itu lagi?”

“Semua binatang buas atau burung terbang disekitar


gunung ini, ada kenal baik dengan aku tetapi yang suka
bersahabat dengan aku jumlahnya tidak banyak. Dulu
kalau aku yang tinggal seorang diri dalam menara ini
merasa kesepian, aku sering menggunakan seruling ini
memanggil mereka datang kemari sebagai kawan
mengobrol.”

Siang-Koan Kie heran. Ia bertanya, “Apa? apakah


Locian-pwee dapat memanggil mereka?”

“Benar.”

“Di antara manusia dengan hinatang, bahasanya


sangat berlainan apakah Locian-pwee paham bahasa
binatang?”

224
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu mendongakkan kepala melihat cuaca


kemudian berkata, “Malam ini rembulan terang, kalau
bukan karena mereka sedang bertaruh aku boleh
memanggil semua sahabat2ku yang terdiri dari harimau,
ular raksasa, lutung dan burung garuda untuk
kuperlihatkan kepadamu. Meski bentuk mereka buruk
dan buas tetapi jujur, tidak banyak akal, kalau mereka
sedang marah cukup dengan membuka mulutnya
menunjukkan giginya atau mementang kukunya, begitu
kita melihat sudah tahu, mereka itu dalam keadaan
senang atau marah, jauh lebih baik kalau dibanding
dengan itu manusia-manusia yang diluarnya kelihatan
ramah dan sopan tetapi hatinya lebih kejam dari pada
binatang.”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara geraman


harimau.

Orang tua itu nampak gembira, ia berkata, “Ah! Si


kuning itu sudah kembali, setengah tahun berselang
entah apa sebab ia pergi dari sini, berkali-kali kupanggil
dengan seruling belum pernah lihat ia datang.”

“Si kuning itu bukankah seekor harimau besar?”

Orang tua itu mengawasi Siang-Koan Kie sejenak


selagi hendak menjawab, seekor burung besar mendadak
melayang turun dan hinggap diatap rumah didepan
jendela.

Burung itu besar sekali bentuknya sehingga diatap


rumah tingginya dua kaki lebih.

225
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu mendadak mengulurkan tangannya dan


berkata sambil tertawa, “Oh, burung elang sudah lama
kita tidak ketemu.”

Burung besar itu menonjolkan kepalanya, paruhnya


tajam bagaikan pedang, matanya bersinar tajam dengan
sikapnya yang ramah sekali, menonjolkan kepalanya
kedepan dada orang tua itu.

Menyaksikan bentuknya yang besar dan gekar Siang-


Koan Kie lalu bertanya, “Burung ini begini cerdik, didalam
dunia jarang ada, apakah ini bukan burung elang rajawali
raksasa?”

“Benar, ia sebetulnya bukan penghuni didalam gunung


ini, pada tiga tahun berselang kebetulan liwat disini dan
bersahabat dengan aku, tidak disangka tiga tahun
kemudian ia masih datang menengok aku, nampaknya
rasa persahabatan dari binatang dan burung, rasanya
jauh lebih baik dari pada manusia.”

Siang-Koan Kie tertarik oleh perasaan heran, ia


mengusap-usap badan burung besar itu. Bulunya
ternyata sangat licin dan lemas.

Pada saat itu dihadapannya kembali tampak seekor


harimau besar yang lompat masuk dari jendela.

Siang-Koan Kie dikejutkan oleh bentuk badan harimau


itu yang besar sekali itu.

226
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu burung rajawali itu tiba-tiba


membentangkan sayapnya, dengan kecepatan bagaikan
kilat menerkam harimau.

Terdengar suaranya orang tua itu berkata, “Rayawali,


si kuning ini juga sahabatku.”

Tetapi burung itu ternyata belum paham bahasa


manusia, mereka bertempur diatas atap rumah.

Pertempuran antara burung dan harimau ini


tampaknya ramai sekali.

Orang tua itu berulang kali berteriak-teriak


memanggilnya tetapi tiada satupun yang mau
mendengarkan perkataannya.

Setelah kedua pihak masing2 terdapat luka, orang tua


itu agaknya baru ingat bahwa burung dan harimau itu
tidak mengerti perkataannya, maka cepat2 ia meniup
serulingnya untuk menghentikan pertempuran tersebut.

Benar saja, pertempuran dahsyat itu lalu berhenti.


Burung rajawali itu lebih dulu terbang kembali kemudian
disusul oleh harimau si kuning, ke-dua2nya berada
dihadapan si orang tua.

Orang tua itu berhenti meniup lalu mengulurkan kedua


tangannya untuk meng-elus2 kedua binatang itu.

Orang tua itu lalu berpaling dan berkata kepada Siang-


Koan Kie, “Kau lihat kedua sahabatku bagaimana kalau
dibanding dengan rnanusia?”

227
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-Koan Kie nampak sangsi sejenak lalu menjawab,


“Belum tentu semua begitu,, sekalipun binatang yang
sangat sempit juga tidak sempat membedakan yang baik
dengan yang jahat……..”

Pada saat itu burung rajawali itu mendadak


menonjolkan kepalanya keluar jendela dan harimau itu
juga menunjukkan sikap hendak menerkam.

Orang tua itu agaknya terpengaruh oleh perasaan


yang sangat girang sehingga daya pendengarannya yang
tajam telah hilang, setelah menyaksikan gerakan kadua
binatang itu, baru tersadar, ia lalu memasang telinganya
kemudian berkata kepada Siang-Koan Kie, “Ada orang
datang!”

Baru saja ia mengeluarkan ucapannya mendadak


tampak satu bayangan merah diatas atap rumah didepan
jendela, berdiri seorang wanita muda berbaju merah.

Hebat sekali kepandaian meringankan tubuh wanita


muda itu. Kedatangannya itu tidak menimbulkan suara
sedikitpun juga, tahu-tahu sudah muncul diatas atap
rumah.

Mata burung rajawali dan harimau itu semua ditujukan


kepada diri wanita muda itu, agaknya sedang mengawasi
segala gerak-geriknya, juga seperti menantikan perintah
si orang tua.

Siang-Koan Kie kini baru dapat kenyataan bahwa


wanita muda itu cantik sekali tetapi dandanannya agak

228
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aneh, rambutnya diikat dengan selendang sutera warna


merah terurai kebelakang pundaknya, lengan bajunya
cuma sampai dibahagian sikut, sehingga tampak tegas
kedua lengan tangannya yang putih, sepuluh jari
tangannya, kecuali dua jari kepala, semua mengenakan
cincin mas, sedang dilehernya ada serenceng kalung
mutiara yang mengeluarkan sinar gemerlapan, gaun
pendeknya cuma sampai dibagian lutut, sehingga
tertampak nyata paha kecilnya yang putih, sepasang
kakinya mengenakan sepatu sok yang terbuat dari kulit
binatang rusa.

Dari dandanannya itu sudah dapat diketahui bahwa


perempuan muda itu bukanlah orang dari daerah Tiong-
goan, namun romannya cantik sekali.

Perempuan cantik itu agaknya dikejutkan olen kedua


binatang yang luar biasa besarnya itu, tetapi sejenak
kemudian ia tenang kembali, dengan tindakan perlahan
ia berjalan menuju kedalam menara.

Orang tua itu, dengan sinar matanya yang tajam


mengawasi diri perempuan muda itu agaknya sedang
memikirkan sesuatu, mulutnya diam dalam seribu
bahasa.

Perempuan muda berbaju merah itu ketika berjalan


ketepi atap rumah, dengan tanpa ragu-ragu lompat
melesat ke arah daun jendela.

Siang-Koan Kie sangat kagum menyaksikan kelincahan


perempuan itu, sementara kedua binatang raksasa itu
hendak menerjang!

229
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perempuan muda itu agaknya sudah siap, maka


tatkala diserbu oleh kedua binatang itu, ia sudah lompat
tinggi dua tombak, setelah berputaran ditengah udara ia
melayang turun kelain jendela.

Harimau agaknya penasaran, dia berbalik dan


menyerbu lagi.

Tetapi gerakan perempuan itu lebih gesit, sebentar


saja sudah menyerobot masuk dari lobang jendela.

Siang-Koan Kie mendadak berdiri dan melompat maju


merintang didepan perempuan itu sambil berseru,
“Diam.”

Perempuan muda itu menggeser kesamping kakinya,


ia berdiri dengan membelakangi daun jendela, biji
matanya berputaran mengawasi Siang-Koan Kie, tiada
sepatah kata keluar dari mulutnya, parasnya juga tiada
menunjukkan perobahan sikap apa-apa, ketenangannya
itu sesungguhnya diluar dugaan Siang-Koan Kie,
sehingga untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana harus
bertindak, tetapi akhirnya ia bertanya juga, “Apakah kau
tidak paham bahasa Han?”

Perempuan muda itu mengawasi keadaan didalam


ruangan itu sejenak baru menjawab, ternyata
menyimpang dari pertanyaan Siang-Koan Kie, “Apakah
didalam menara ini cuma kalian berdua saja?”

230
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata perempuan muda ini bukan saja fasih


berbahasa Han, tetapi juga suaranya sangat tegas dan
enak sekali kedengarannya.

Jilid 7

Badannya lantas meloncat naik ke atas punggung


kuda dan melarikan kudanya menuju ke arah timur laut.

Ia pergi dengan cepat, pulangpun dengan cepat,


hanya di dalam sekejap pemuda tersebut telah berlari
kembali.

“Paman Jie-siok!” serunya sembari menjura. “Tempat


itu adalah sebuah kuil bobrok yang tidak digunakan lagi,
secara garis besarnya siauw-tit sudah melakukan
pemeriksaan dan menurut perasaanku masih bisa
digunakan untuk menghindarkan diri dari tiupan angin
serta sampokan salju, cuma saja jalan kecil menuju ke
sana terlalu sempit, mungkin kereta kereta kita sulit
untuk mendekati kuil tersebut”.

“Di dalam kuil tersebut apa ada orang yang menjaga?”


tanya Nyoo Su Jan mendadak berebut tanya.

“Aku telah mengelilingi kuil tersebut satu kali, tetapi


sama sekali tidak menemukan penjaganya, bahkan
tempat-tempat luang disekitar pojokan tembok serta
pintu kuil sudah penuh ditumbuhi alang-alang, kelihatan-
nya kuil tersebut tidak pernah dihuni atau dikunjungi
orang lain!”

231
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Pada musim dingin seperti ini, asalkan tanah disekitar


sana rada keras sedikit saja, kereta-kereta berkuda kita
kemungkinan sekali masih bisa lewat melalui permukaan
salju.” ujar Phoa Ceng Yan perlahan.

“Terima kasih atas petunjuk paman Jie Siok, biarlah


siauw-tit pergi mencobanya terlebih dahulu.

Ia mendongakkan kepalanya memandang ke arah


sang lelaki yang bertindak sebagai kusir, katanya.

“Mari kita gunakan kereta ini sebagai percobaan


terlebih dulu.”

Lelaki itu menyahut, pecut lantas diayunkan menghela


kudanya mengikuti petunjuk Lie Giok Liong menuju ke
arah kuil bobrok.

Perkataan dari Phoa Ceng Yan sedikitpun tidak salah,


di musim dingin yang sangat dingin ditambah pula
membekunya salju di sekeliling sawah, tanah disekitar
sana amat keras dan kuat, kereta-kereta itu dengan
sangat mudahnya berhasil mendekati ke samping kuil
tersebut.

Empat buah kereta lainnya berturut-turut bergerak


menuju ke arah kuil dan berkumpul menjadi satu.

Pertama-tama Phoa Ceng Yan melakukan pemeriksaan


terlebih dahulu atas keadaan disekeliling kuil setelah itu
baru berjalan ke sisi kereta yang ditunggangi Liauw
Thayjien.

232
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Thayjien!” sapanya halus. “Kita sudah melewatkan


rumah-rumah penginapan, terpaksa malam ini harus
beristirahat dulu di dalam kuil ini.

Di rumah seribu hari baik, keluar rumah sesaat


kesusahan, harap Thayjien suka memaafkan!”

Liauw Thayjie yang mendengar sapaan tersebut lantas


menyingkap horden memandang sekejap ke arah kuil
tersebut, lama sekali ia berdiam diri.

“Phoa-ya, apakah kita tak bisa melanjutkan perjalanan


malam ini juga?” tanyanya kemudian.

“Manusia mungkin bisa bertahan, tetapi kuda-kuda


kita harus diberi makan, paling sedikit kita harus
beristirahat dua kentongan baru dapat melanjutkan
perjalanan kembali.”

“Kalau memang begitu, aku pikir menunggu di dalam


keretapun sama saja,” kata Liauw Thayjien mengangguk.

“Selama di dalam perjalanan hawa dingin menusuk


tulang, di dalam kuil kita dapat membuat api unggun
untuk menghangatkan badan.”

Liauw Thayjien tampak termenung.

“Cayhe ada membawa beberapa stel pakaian luar yang


terbuat dari kulit dan dapat digunakan untuk melawan
rasa dingin,” katanya kemudian. “Asalkan Hu Cong
Piauw-tauw suka mengirim dua orang untuk menjaga

233
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kereta-kereta ini sehingga tidak sampai diserang orang


rasanya sudah cukup.”

“Hujien serta nona juga tetap tinggal di dalam


kereta?” tanya Phoa Ceng Yan.

“Di dalam kereta Hujien terdapat pula beberapa stel


pakaian luar kulit binatang yang bisa digunakan untuk
menahan hawa dingin, sekalipun berada di dalam kereta
rasanya merekapun tidak bakal menderita karena
kedinginan ….”

Mendadak ia memperendah suaranya dengan nada


setengah berbisik sambungnya, “Ada satu persoalan
yang sampai kini belum berhasil aku pahami, harap Phoa
Hu Cong Piauw-tauw suka memberi petunjuk!”

“Urusan apa?”

“Tubuh Siauw-li selamanya amat lemah, aku pernah


beberapa kali periksakan denyut jantungnya, setiap kali
aku menemukan bila denyutan jantungnya amat lemah
tak berkekuatan, tetapi entah mengapa denyutan
jantungnya pada ini hari bisa begitu bertenaga, bahkan
secara mendadak lebih kuat beberapa kali lipat, hal ini
benar-benar membuat aku merasa kebingungan.”

“Thayjien pernah tanyakan persoalan ini dengan


Hujien?” tanya Phoa Ceng Yan perlahan.

“Pernah, menurut jawaban Hujien, selama ini siauw-li


selalu bersembunyi di dalam kamar dan belum pernah
meninggalkan tempat itu barang sekalipun, bahkan

234
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa bulan mendekat inipun belum pernah


menunjukkan gejala-gejala yang mengherankan”.

“Aaach….!” Phoa Ceng Yan menjerit perlahan lalu


kerutkan keningnya. “Kalau begitu thayjien sedang
menuduh aku orang she Phoa lagi mengibul?”

“Soal ini sih bukan” Liauw Thayjien menggeleng.


“Bahkan setelah aku selidiki dengan cermat selama
beberapa hari ini, aku merasa bahwa setiap perkataan
dari kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw memang ada dasar
serta buktinya.”

“Liauw Thayjien dapat berbicara demikian hal ini


membuat cayhe merasa berlega hati.”

“Hujien tidak bakal menipu diriku, perkataan Phoa-ya


uacapkan tentu ada alasan-alasannya, aku rasa di dalam
persoalan ini sudah jelas masih ada pengaruh-pengaruh
lainnya.”

“Apakah Thayjien berhasil menemukan sesuatu titik


terang?”

Kiranya setelah beberapa kali dia orang mengadakan


pembicaraan dengan Liauw Thayjien di samping secara
diam-diam melakukan pemgamatan secara cermat,
selama ini tak berhasil ia temukan tindak tanduk yang
aneh dari nona Liauw, hal ini membuat si orang tua
tersebut merasa kebingungan setengah mati dan merasa
bila di dalam persoalan ini tentu masih terkandung
sesuatu sebab-sebab yang sangat misterius.

235
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semakin misterius sifatnya semakin menarik perhatian


ingin tahu dalam hatinya, tetapi selama ini agaknya
Liauw Thayjien suami istri tidak suka terlalu banyak
membicarakan soal putrinya, maka dari itu terpaksa Phoa
Ceng Yan pun harus menekan perasaan heran dan ingin
tahu di dalam hatinya.

Kini secara mendadak dengan sendirinya Liauw


Thayjien mengungkap persoalan ini, kontan saja Phoa
Ceng Yan merasakan semangatnya berkobar kembali.

“Heeei……….. setelah aku pikirkan beberapa waktu


lamanya belum berhasil juga mengetahui alasan-
alasannya, maka aku ada maksud hendak minta
beberapa petunjuk dari kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw,”
terdengar Liauw Thayjien membuka pembicaraannya
sambil mengurut hidungnya dengan jari tengah serta jari
telunjuk tangan kanannya.

Saat itulah dari dalam ruangan di dalam kuil


tampaklah api unggun telah sulut, api berkobar-kobar
memberikan kehangatan disekitar sana.

“Thayjien!” seru Phoa Ceng Yan. “Kita orang-orang


dari kalangan dunia kangouw tidak begitu mengerti
tentang soal adat istiadat serta kesopanan, bilamana ada
perkataan perkataan atau tindakan-tindakan yang
menyalahi dirimu, harap kau orang suka menerimanya
dengan hati sabar…………..”.

Tangannya lantas menyambut mencengkeram tangan


Liauw Thayjien dan diajaknya berlalu dari kereta
tersebut.

236
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ayoh jalan! Kita masuk ke dalamn kuil minum dua


cawan arak dulu kemudian baru mengadakan
penyelidikan dengan teliti terhadap persoalan putrimu.”

Begitu tangannya mencengkeram pergelangan Liauw


Thayjien, sang bekas pembesar negeri ini kontan saja
merasakan tulang-tulangnya amat sakit seperti hendak
pecah.

Tetapi ia sebagai seorang bekas pembesar tingkat dua


yang terlatih akan daya tahan serta kesabarannya,
walaupun merasa sakit dengan gertakan giginya
kencang-kencang ia mengangguk dan mengikuti Phoa
Ceng Yan berjalan menuju ke arah kamar sebelah
selatan di dalam ruangan kuil tersebut.

Sejak semula dua orang anak buah perusahaan itu


telah memaku jendela di sana sehingga angin dingin
tidak sampai bertiup masuk ke dalam.

Di tengah berkobarnya api unggun terasa hawa


hangat yang amat nyaman menyebar di sekeliling tempat
itu.

Setelah Phoa Ceng Yan serta Liauw Thayjien berjalan


masuk ke dalam kamar tersebut, segera terlihatlah
seorang lelaki membawakan sebatang kayu sebagai alat
tempat duduk.

Setelah meletakkan kayu itu di atas tanah, orang itu


menjura kemudian mengundurkan diri dari sana.

237
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Liauw Thayjien!” tegur Phoa Ceng Yan setelah


mendehem perlahan. “Di tempat sesunyi dan sekotor ini
tak ada kursi yang bisa dicari, maaf terpaksa harus
menyuruh Thayjien duduk di atas kayu.”

Sembari berkata ia melepaskan cengkeramannya di


atas tangan kiri Liauw Thayjien.

Perlahan lahan Liauw Thayjien duduk di atas batang


kayu tersebut.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw adalah orang Bu lim,


menurut penglihatanmu, soal-soal apa yang patut
dicurigai mengenai putriku itu?” tanyanya.

“Terus terang saja aku beritahukan kepada Liauw


Thayjien,” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung
sejenak. “Sejak nona Liauw berhasil memukul mundur
Lam Thian Sam Sah, terhadap diri nona Liauw cayhe
sudah menaruh perasaan curiga…..”.

“Apa yang kau curigai mengenai putriku itu?”

“Aku curigai kalau dia adalah seorang jago lihay yang


memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, cuma saja
ketika itu didalam anggapan cayhe, Liauw Thayjien suami
isteri tentunya sudah mengetahui akan persoalan ini”.

“Setelah periksakan denyutan jantung dari siauw-li


tadi, aku mulai merasa heran, Walaupun aku bukan
seorang tabib yang pandai di dalam hal pengobatan
tetapi sedikit banyak aku mengerti, jika dibicarakan dari
kesehatan badannya pada hari-hari biasa, sekalipun ia

238
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berada dalam keadaan sehatpun aku rasa denyutan


jantungnya tidak bakal sekuat itu”.

“Apakah Thayjien sudah tanyakan soal ini kepada


Hujien?”

“Tanya soal apa?”

“Sewaktu si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang


memasuki kamar putrimu, bukankah Hujienpun berada di
dalam kamar?”

“Tidak salah lagi tentang soal ini cayhe sudah tanya


dirinya.”

“Kalau begitu bagus sekali jikalau thayjien bisa


menceritakan seluruh kejadian itu dengan lebih teliti lagi,
kemungkinan sekali hal ini banyak memberi bantuan
untuk menjelaskan persoalan yang menyangkut
putrimu”.

Perlahan-lahan Liauw Thayjien mendehem ringan.

“Menurut perkataan isteriku, pada mulanya pemuda


she Ke itu menerjang masuk ke dalam kamar yang
didiami siaw-li dengan gerakan yang kasar serta ganas,
tetapi sesaat berada di dalam kamar itulah agaknya
pemuda tersebut telah memperoleh suatu daya pengaruh
yang sangat misterius sekali, paras mukanya mendadak
berubah, air muka yang semula dingin dan kaku secara
mendadak berubah menjadi lunak, setelah itu ia bantu
memeriksakan urat nadi siauw-li, pemuda tersebut lantas
hadiahkan sebutir pil kepadanya kemudian berlalu.”

239
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun diluaran Phoa Ceng Yan masih dapat


mempertahankan ketenangannya tetapi di dalam hati ia
merasa jantungnya berdebar sangat keras, setelah
termenung lama sekali ia baru berkata.

“Thayjien, mengesampingkan hubungan antara kalian


ayah beranak, jikalau kau berdiri di tengah tengah tanpa
memberatkan yang lain, bagaimanakah menurut
pendapat thayjien mengenai persoalan ini?”

“Aku percaya isteriku tidak akn menipu diriku” Liauw


Thayjien menggeleng. “Tetapi aku sendiripun tak
terpikirkan kekuatan misterius dari manakah yang telah
muncul pada waktu itu. Terhadap persoalan ini aku
sudah berpikir sagat lama sekali, tetapi selama ini tak
terpikirkan olehku sebab-sebab yang rasanya sesuai?”

“Daya pengaruh yang misteriys tersebut jelas bukan


suatu gambaran dari lamunan seseorang,” kata Phoa
Ceng Yan dengan serius. “Bilamana ditinjau dari kejadian
ini maka aku percaya bila daya pengaruh tersebut jika
bukannya muncul dari tubuh putri kesayanganmu, tentu
timbul dari suatu benda yang ada di sana.”

“Denyutan jantung siauw-li secara mendadak dapat


berubah menjadi kuat, hal ini sudah merupakan suatu
kejadian yang ada diluar dugaanku, peduli kekuatan
tersebut dikarenakan daya bekerja dari pil pemberian si
Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang kepadanya atau bukan,
yang jelas pada saat ini aku tak dapat mempertahankan
pendapatku bahwa siauw-li sama sekali tidak mengerti
akan ilmu silat, cuma saja ….”

240
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kita harus saling terbuka, saling membantu dan


saling percaya baru bisa membuat jelas persoalan ini,
bilamana thayjien merasa ada perkataan yang hendak
diucapkan silahkanlah untuk menjelaskan!” sambung si
telapak besi bergelang emas dengan cepat.

“Bilamana ditinjau dari dua buah perubahan yang


terjadi saat ini, siauw-li memang patut dikatakan sangat
misterius dan mungkin memiliki suatu daya pengaruh
yang aneh sedangkan mengenai dari manakah
munculnya daya pengaruh tersebut terpaksa cayhe harus
menanti pemikiran dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw,
karena bagaimanapun pengetahuan cayhe tentang
persoalan dunia kangouw memang terbatas sekali.”

Mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan


tertawa rikuh.

“Aku orang she Phoa sudah berkelana di dalam dunia


kangouw selama puluhan tahun lamanya, jika
dibicarakan berita-berita aneh yang aku dengar serta
persoalan aneh yang pernah kutemui, aku orang she
Phoa memang sudah menjumpai tidak sedikit jumlahnya.
Tetapi peristiwa yang aku temui pada kali ini benar-benar
sangat luar biasa. Setelah mendengar penjelasan dari
thayjien barusan ini, aku orang she Phoa mulai merasa
bila nona Liauw belum tentu betul-betul memiliki
kepandaian ilmu silat, sekalipun secara diam-diam
mungkin ada orang yang menurunkan pelajaran ilmu silat
kepadanya, tetapi belum tentu di dalam soal kepandaian
ilmu silat ia berhasil menangkan diri si Kongcu tukang
foya-foya Ke Giok Lang.”

241
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mengapa Ke Giok Lang disebut orang sebagai si Hoa


Hoa Kongcu atau si Kongcu tukang foya-foya?” tanya
Liauw Thayjien keheranan.

“Dia adalah seorang iblis perempuan yang sangat


dikenal di dunia kangouw, bukan saja wajahnya tampan
dan badanpun menarik bahkan kepandaian
silatnyapunsangat luar biasa, peduli perempuan cabul
yang ada di dalam dunia kangouw ataukah perempuan-
perempuan dari kalangan atas, asalkan dia sudah
tertarik, tanggung saja perempuan-perempuan itu
dengan rela hati akan menyerahkan keperawanannya
kepada dia….”

Mendadak teringat olehnya bila nona Liauw termasuk


perempuan dari kalangan atas, terburu-buru ia menutup
mulutnya kembali.

“Kau teruskan!” Liauw Thayjien mendehem perlahan.

“Cayhe pun termasuk orang dunia kangouw, berbicara


kasar dan sembrono sudah terbiasa, harap thayjien
jangan memasukkan persoalan ini di hati.” Phoa Ceng
Yan tertawa.

“Nama julukan Hoa Hoa Kongcu apakah didapatkan Ke


Giok Lang karena persoalan ini?”

“Padahal Ke Giok Lang inipun termasuk jagoan yang


berbakat alam, kendati ia begitu gemar main perempuan,
tetapi kepandaian silatnya amat luar biasa, jika tinjau
dari perbuatannya, makan minum, main perempuan

242
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berjudi serta tingkah laku lainnya yang tak senonoh


sekalipun berhasil memiliki kepandaian yang dashyat
seharusnya tak bakal bertahan lama. Tetapi nama
besarnya di dalam dunia kangouw bukannya merosot
turun ke bawah, sebaliknya semakin nyaring dan
semakin cemerlang.”

“Sungguh sayang sekali di dalam soal ilmu silat, aku


sama sekali tidak mengerti!”

“Aaaaakh…..!” belum sempat si telapak besi bergelang


emas lanjutkan kata-katanya, mendadak tampak Nyoo Su
Jan dengan langkah tergesa-gesa sudah berjalan masuk.

Liauw Thayjien lantas putar badan menoleh ke


arahnya, tetapi sewaktu melihat sikap Nyoo Su Jan yang
terburu-buru, ditambah pula paras mukanya berubah
sangat serius, sekali pandang ia mengerti sesuatu
peristiwa kembali terjadi.

“Su Jan, ada urusan?” tanya Phoa Ceng Yan sambil


meloncat bangun.

“Jie-ya, ada orang yang berjalan mendekati kuil ini!”


kata Nyoo Su Jan mengangguk.

“Siapa?”

“Hamba belum melihat jelas tetapi Lie Piauw-tauw


serta Ih Piauw-tauw telah berjaga di sekeliling kereta!”

“Kenapa?? Kembali ada urusan?” teriak Liauw Thayjien


sambil meloncat bangun.

243
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maksud dari perkataannya mirip pepatah yang


mengatakan berbicara tentang harimau air muka lantas
berubah.

“Jikalau dirasakan leluasa, lebih baik undang sekalian


Hujien serta nona Liauw untuk turun dari kereta dan
masuk ke dalam kuil ini sehingga misalnya terjadi
peristiwa, mudah untuk dilindungi,” kata Nyoo Su Jan
serius.

“Phoa Hu COng Piauw-tauw!” seru Liauw Thayjien


kemudian sambil menoleh sekejap ke arah Phoa Ceng
Yan. “Aku mendengar nama besar perusahaan kalian
amat cemerlang, tetapi setelah melihat kejadian ini hari,
aku rasa berita tersebut sebenarnya tidak bisa
dipercaya.”

Kontan saja air muka Phoa Ceng Yan berubah hijau


membesi, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Nyoo
Su Jan keburu mendahului.

“Liauw Thayjien, kau jangan berkata begitu, peristiwa


yang sering terjadi di dalam dunia kangouw amat aneh
dan sukar untuk diduga sebelumnya, jikalau kami dari
pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tak dapat
menerima pengawalan tersebut maka di dalam kolong
langit saat ini aku rasa jarang sekali ada orang lain yang
suka menerima pekerjaan itu, cuma saja perubahan yang
telah terjadi kali ini jangan dikata Liauw Thayjien merasa
keheranan, sekalipun kamu sebagai piauw su yang telah
melakukan pekerjaan seperti ini selama puluhan tahun
lamanya ikut merasa kebingungan setengah mati.”

244
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaakh….! Sebetulnya apa yang telah terjadi lagi?”


seru Liauw Thayjien tak tertahan lagi.

“Ooouw….. soal ini? sukar…..sukar untuk ditebak


maupun diduga, tetapi di dalam pekerjaan mengawal
barang dari perusahaan kami ada satu peraturan yang
tidak termasuk dalam daftar, entah thayjien
mengetahuinya atau tidak??”

“Peraturan apa?”

“Di antara langganan dan perusahaan piauw-kiok


seharusnya tidak ada perkataan yang tidak diucapkan,
diantara kita tidak boleh saling membohongi pihak yang
lain”.

Maksud dari perkataanmu………..”

“Kita umpamakan saja, semisalnya kau membawa


semacam barang berharga yang pada mulanya belum
dilaporkan kepada piauw-kiok, sudah tentu kamipun tidak
dapat mengambil langkah-langkah persiapan, semisalnya
sampai terjadi suatu peristiwa maka pihak Piauw-kiok
kendati memikul juga pertanggungan jawab ini tetapi
tanggung jawabnya tidak besar.”

“Nyoo Piauw-tauw, yang termasuk barang-barang


berharga seharusnya benda yang bagaimana?”

“Demikian saja! Aku hendak memberikan satu misal


kepadamu.Ada seorang langganan yang datang ke
perusahaan Piauw-kiok kami minta melindungi uangnya

245
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebesar dua puluh laksa tahil, tetapi secara diam-diam ia


membawa pula sejumlah intan permata yang harganya
melebihi dua puluh laksa tahil perak dan urusan ini
sebelumnya tidak dilaporkan kepada perusahaan Piauw-
kiok kami, tetapi dari kalangan Liok-lim dimana mereka
mempunyai mata-mata yang sangat tajam. Di tengah
perjalanan akhirnya terjadi peristiwa. Jikalau orang-orang
yang membegal kita memberi muka kepada perusahaan
kami dan tidak mengganggu uang sebesar dua puluh
laksa itu sebaliknya merampas mutiara-mutiara serta
intan permata yang mereka bawa. Thayjien sebagai
seorang yang pernah menjabat sebagai pembesar, coba
pikirlah, tanggung jawab ini harus dipikul oleh siapa?”

“Nyoo Piauw-tauw! Keadaan kita rada tidak sama”


bantah Liauw Tahjien dengan cepat. “Sewaktu aku
hendak menggunakan tenaga perusahaan kalian untuk
menghantar kami suami isteri, beserta putriku dan
barang-barang lainnya ke kota Kay Hong, aku orang
belum pernah menaksir harganya dan adalah dari
perusahaan Piauw-kiok kalian yang membuka harga,
agaknya di dalam perjanjian tersebut tidak pernah
menjelaskan bahwa kami dilarang membawa sesuatu
barang”.

Agaknya Nyoo Su Jan kena terpukul sampai ke


pejokan sehingga tak dapat membantah.

“Su Jan!” Phoa Ceng Yan yang ada di samping sambil


mengulapkan tangannya.

“Aku larang kau banyak berbicara lagi dengan diri


Liauw Thayjien”.

246
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liauw Thayjien tersenyum.

“Pada saat ini kedudukanku-pun sama seperti kalian


merupakan rakyat-rakyat biasa, sekalipun di antara kita
sudah saling mendebat hal inipun merupakan suatu
kejadian yang sangat terbiasa, apalagi hal ini-pun tidak
termasuk suatu perdebatan melainkan aku cuma ingin
minta petunjuk dari Nyoo Piauw-tauw saja.”

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Phoa Ceng


Yan dapat berhasil memulihkan kembali ketenangannya,
ia mengangguk dan tersenyum.

“Thayjien silahkan masuk ke dalam kuil dan duduk


sebentar.

Ia merandek, sejenak setelah itu sambungnya


kembali.

“Su Jan! Mari kita keluar untuk periksa sebentar. Di


dalam peristiwa ini banyak terdapat perubahan-
perubahan yang sangat membingungkan sehingga aku
sendiripun sama sekali tidak mengerti, mari kita periksa
dulu siapa telah datang kemudian baru berunding dan
mengambil keputusan.”

Selesai berkata ia lantas melangkah keluar.

Nyoo Su Jan dengan kencang mengikuti di belakang


tubuh si telapak besi bergelang emas.

247
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak Liauw Thayjien bertindak dua langkah ke


depan.

“Phoa Piauw-tauw!” tegurnya. “Bagaimana kalau He-


koan pun ikut keluar.”

“Baik!” sahut Phoa Ceng Yan sesudah termenung


sejenak. “Tetapi kau harus hati-hati lebih baik berdiri di
belakang tubuhku saja sehingga semisalnya secara
mendadak terjadi sesuatu oerubahan yang tidak
diinginkan cayhepun tidak sampai jadi gelagapan.”

“He-koan sudah tentu akan berhati-hati”

Dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan segera berjalan


keluar dari ruangan kuil.

Setibanya di depan halaman ia mendongakkan


kepalanya memeriksa sejenak sekeliling tempat itu,
tampaklah Lie Giok Liong serta Ih Coen telah mencabut
keluar goloknya dan berdiri kurang lebih empat-lima
depa di depan kereta di atas permukaan salju.

Saat itu di atas dua buah kereta sudah dipasang orang


dua buah lentera yang bergantung tinggi-tinggi, dengan
demikian semua benda yang terdapat beberapa kaki di
sekeliling kereta tersebut dapat terlihat jelas.

Liauw Hujien serta nona Liauw yang berada di dalam


kereta agaknya masih belum tahu jika situasi di luar
kereta sudah berubah amat tegang dan berbahaya sekali.

248
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Thayjien!” bisik Phoa Ceng Yan setelah tiba di


belakang kereta tersebut. “Kau tinggal dulu di pinggir
kereta, biar Loolap pergi memeriksa sebentar!”

Liauw Thayjien menurut, ia berhenti di pinggir kereta


tersebut sambil menengok ke depan.

Tampaklah kurang lebih tiga kaki di atas permukaan


salju nan putih berdirilah dua ekor kuda jempolan yang di
atasnya duduk dua orang lelaki memakai mantel tebal.

Mereka berdiri tak bergerak bagaikan patung di


tengah tiupan angin keras, sedang jauh di sebelah lain
tampaklah Lie Giok Liong serta Ih Coen berdiri
mengawasi.

Yang aneh selama ini tak seorangpun di antara


masing-masing pihak angkat bicara, sebaliknya hanya
berdiri saling berhadapan di tengah tiupan angin serta
curahan salju yang deras.

Diam-diam Liauw Thayjien mulai berpikir di dalam


hatinya.

“Peristiwa yang terjadi di dalam dunia kangouw benar-


benar sangat luar biasa, setelah saling berhadap-
hadapan mengapa tak seorang pun di antara mereka
yang angkat bicara?”

Dengan langkah yang cepat Phoa Ceng Yan


melampaui Lie Giok Liong serta Ih Coen kemudian sambil
menjura tegurnya.

249
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Loohu adalah Phoa Ceng Yan dari perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok, entah apa maksud kedatangan kalian
berdua di tengah malam buta? siapakah nama besar
kalian berdua?”

“Ooouw………….. kiranya si telapak besi bergelang


emas Phoa Sie-ya, maaf, maaf!” seru si lelaki kasar yang
berada di sebelah kiri.

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali,


“Karena melakukan perjalanan cepat kami berdua sudah
kemalaman di tengah jalan, sebenarnya aku hendak
mencari tempat untuk meneduh dari hawa dingin serta
salju yang deras, tidak disangka perusahaan kalian telah
menempati kuil ini terlebih dulum setelah kami lihat
lampu lentera bertandakan perusahaan kalian, rasanya
lebih baiklah kita orang tidak usah terlalu ngotot lagi.”

“Aku hanya berharap apa yang kalian ucapkan keluar


benar-benar muncul dari dasar lubuk hati yang
sebenarnya!” seru Phoa Ceng Yan tertawa tawar.

“Kami cuma bisa berkata demikian saja, tetapi akupun


tudak mengharuskan Phoa Jie-ya harus percaya.”

“Haaaa…………haaa……..haaa………. kawan! Sungguh


tepat sekali perkataanmu! Dan kalian masih belum
kehilangan sifat seorang jago Bu lim……….” puji Phoa
Ceng Yan sambil tertawa terbahak-bahak. “Mari, mari! Di
dalam kuil ada api unggun serta arak wangi jikalau kalian
berdua ada maksud untuk mengikat tali persahabatan
dengan aku orang she Phoa mari masuk ke dalam kuil,

250
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sembari menghangatkan badan kita minum satu-dua


cawan arak.”

Lelaki yang ada di sebelah kiri kelihatan ragu-ragu


sejenak, setelah termenung akhitnya ia menjawab,
“Nama Phoa-ya di dalam dunia kangouw sudah amat
cemerlang, kami dua bersaudara rasanya tidak berani
menerima penghargaan yang demikian tingginya, tetapi
cukup dengan perkataan yang diucapkan oleh Phoa-ya
barusan kami dua bersaudara suka merasa sangat
berterima kasih, lebih baik kita berpisah sampai di sini
saja.”

Di mana tali lesnya disentakkan, dengan meninggalkan


butiran salju yang beterbangan memenuhi angkasa ia
berlalu dari tempat tersebut.

Si lelaki kasar yang berada di sebelah kanan pun


segera menyentakan pula tali les kuda tunggangannya
untuk mengejar dari arah belakang.

Menanti kedua sosok bayangan manusia itu telah


lenyap di tengah kegelapan, Phoa Ceng Yan baru putar
badan.

“Giok Liong, kalian coba-cobalah apakah kereta-kereta


itu dapat dimasukkan semua ke dalam kuil!” katanya
sembari melangkah ke depan.

“Jie-ya! Kau sudah berhasil menemukan asal usul


mereka?” tanya Nyoo Su Jan setengah berbisik.

251
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Belum, aku belum berhasil menemukan asal usul


mereka,” Phoa Ceng Yan menggeleng. “Tetapi yang jelas
maksud tujuan mereka tidak lebih hanya maksa aku agar
supaya suka unjukkan diri menemui mereka, dan
dugaanku ini tak bakal salah lagi”.

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali.

“Su Jan, coba kau bawalah orang melakukan


pemeriksaan sejenak di sekeliling kuil ini, coba lihatlah
adakah jebakan-jebakan yang dipasang oleh musuh
terhadap kita, sekalian periksa dengan teliti semua jalan
masuk serta jalan keluar menuju ke dalam kuil yang
terdapat di sekitar sini, mereka boleh tidak datang, tetapi
kita mau tak mau harus melakukan persiapan terlebih
dahulu.”

Nyoo Su Jan menyahut, dengan membawa sorang


lelaki ia lantas berlalu dari sana dengan tergesa-gesa.

Setelah melihat bayangan tubuh dari Nyoo Su Jan


serta seorang anak buahnya lenyap dari pandangan,
Phoa Ceng Yan baru menoleh ke arah belakang.

Ketika itulah Liauw Thayjien dengan langkah lambat-


lambat sudah berjalan mendekat, tak terasa lagi dengan
sengaja memperlihatkan suatu senyuman ringan
katanya.

“Thayjien, sekali lagi kita menemui kerepotan!”

“Darimanakah asal usul orang-orang ini? Apa maksud


tujuan mereka berbuat semalam demikian?”

252
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sekarang, kami masih belum tahu jelas asal usul


mereka yang sebenarnyam, sedang mengenai apa
maksud tujuannya? selama ini Loolap masih belum
mengerti sejak dari Lam Thian Sam Sah hingga si Kongcu
tukang foya-foya Ke Giok Lang, aku belum mengerti juga
akan maksud tujuan mereka.”

“Phoa-ya! Lalu apakah kau kira aku tahu!” Liauw


Thayjien tertawa pahit.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Kemungkinan sekali kau Liauw Thayjien benar-benar


sudah tahu, tetapi aku yakin bila diantara kita semua
pasti ada seorang yang mengetahui jelas akan seluruh
duduknya persoalan ini dan orang itu pasti bukan
anggota perusahaan Liong Wie Piauw-kiok!” katanya.

“Kalau begitu kau sedang maksudkan Siauw-li?”

“Loolap mengira agak tidak leluasa bagiku untuk


sembarangan melancarkan tuduhan………..”

Ia mendehem sebentar, tambahnya.

“Thayjien, jika ditinjau dari keadaan yang kita hadapi


sekarang ini, Loolap rasa kita tak bakal berhasil
menghindarkan diri lagi dari kerepotan ini, sekalipun
malam ini kita berhasil meloloskan diri tetapi kita tak
bakal berhasil meloloskan diri pada esok hari.”

“Maksud Phoa Hu Cong Piauw-tauw.”

253
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku sudah bersiap sedia hendak mengadu jiwa


dengan mereka” sambung Phoa Ceng yan tidak menanti
bekas pembesar itu menyelesaikan kata-katanya. “Jika
dibicarakan menurut peraturan pengawalan barang kami,
kecuali menghadapi keadaan situasi yang terlalu
memaksa kami tak akan suka bergebrak melawan orang
lain, semakin dilarang kalau turun tangan terlelbih
dahulu. Tetapi situasi pada beberapa hari ini sangat
aneh, Loolap tidak ingin terbelenggu oleh peraturan itu
lagi. Cuma, didalam hal ini aku harus merepotkan
thayjien akan satu hal.”

“urusan apa?”

“Tolong Thayjien suka memberitahukan kepada Hujien


sewaktu kami bergebrak nanti lebih baik dia orang sedikit
bersabar, kami akan menggunakan seluruh tenaga yang
ada untuk melindungi kalian. Sudah tentu golok pedang
tidak bermata, Loolap-pun tidak dapat memastikan bila
kami pasti dapat melindungi kalian sehingga tidak sampai
menemui cedera, tetapi Loolap-pun dapat mengucaokan
sepatah kata-kata sumpah di hadapan Liauw Thayjien,
asalkan di antara kalian baik Liauw Thayjien sendiri
maupun Hujien atau nona Liauw bilamana ada salah
seorang saja yang menderita luka, aku orang she Phoa
pasti akan melayaninya.”

“Pasti akan melayani?” seru Liauw thayjien keheranan.


“Perkataanmu ini betul-betul membuat He-koan merasa
tidak paham.”

254
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Semisalnya saja nona Liauw kena dilukai lengan


kirinya, Loolap tentu akan memotong lengan kiriku
sebagai ganti, jika Liauw Hujien terluka kakinya, mka
Loolap-pun akan mengikuti bekas luka tersebut
membacok kakiku sendiri, Jika Liauw Thayjien terkena
serangan senjata rahasia, Loolap-pun seperti halnya
dirimu akan melukai diriku sendiri.”

“Ehmmm….. tentang soal ini, aku rasa kurang pantas!”


kata Liauw thayjien rada keberatan.

“Inilah suatu sumpah yang terberat bagi seorang yang


bekerja sebagai pengawal barangm aku orang she Phoa
setelah berjanji tak akan mungkiri kembali…..”

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara keras,


sampai Lie Giok Liong serta Ih Coen-pun dapat
mendengar sangat jelas.

Liauw Thayjien mendehem perlahan.

“Phoa-ya!” serunya ringan. “Peristiwa ini bukanlah


suatu kejadian balas membalas, membunuh orang bayar
nyawa, jikalau kami suami isteri serta Siauw-li sungguh-
sungguh telah menemui suatu peristiwa yang berada di
luar dugaan, kamipun tidak ingin Phoa-ya sungguh-
sungguh melakukan potong lengan babat kaki
sendiri……….”

Begitu perkataan tersebut diucapkan, Phoa Ceng Yan


kontan tertawa terbahak-bahak memotong
pembicaraannya yang belum selesai.

255
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Haaa…..haaa……haaaa………haaa…… Liauw Thayjien,


kami orang-orang Bu-Lim selamanya kata satu tetap
satu, kata dua tetap dua, perkataan yang sudah aku
ucapkan keluar selamanya tidak akan berubah lagi, cuma
saja cayhepun ingin minta bantuan dari Liauw Thayjien
akan suatu urusan.”

“Urusan apa?” kau boleh ucapkan terus terang”.

Bila ditinjau dari keadaan situasi pada saat ini, rencana


perjalanan kita agaknya mau tak mau harus diubah, demi
menjaga segala kemungkinan dari penyergapan di
tengah malam buta, Loolap rasa terpaksa kita harus
menunggu sampai terang tanah baru bisa berangkat.”

“Yaaa…… hal ini memang merupakan suatu kejadian


yang tidak bisa dipaksakan” Liauw Thayjien
mengangguk.

“Masih ada satu urusan lagi yang sangat


mengharapkan Liauw Thayjien suka bantu berbicara,
kami sudah membersihkan sebuah kamar di sebelah
barat sana, harap Hujien serta nona suka masuk ke
dalam kamar tersebut untuk beristirahat”.

“Baik! Aku segera akan beritahukan hal ini kepada


mereka”.

“Liauw Thayjien!” mendadak Phoa Ceng Yan


memperendah suaranya. “Kecuali lukisan pengangon
kambing itu, apakah Liauw Thayjien membawa sesuatu
barang istimewa?”

256
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Barang yang He-koan bawa tidak banyak, tetapi tidak


dapat dikatakan pula sedikit, tetapi aku yakin di antara
barang-barangku itu tak sepotongpun yang ada sangkut
pautnya dengan orang-orang dunia kangouw……..”

Ia merandek sejenak, sesaat kemudian tambahnya.

“Demikian saja! Jikalay Phoa Hu Cong Piauw-tauw


tidak percaya, besok setelah ada waktu luang kau boleh
ajak aku pergu melakukan pemeriksaan.”

“Liauw Thayjien adalah seorang yang pernah


menjabat pembesar negeri, ternyata kau bisa berubah
pikiran menurut keadaan ini apapun sudah cukup.”

“Kalau begitu aku pergi memanggil hujien serta siauw-


li dulu.”

Liauw Hujien serta nona Liauw yang mendengar bakal


terjadi peristiwa lagi, saking kaget dan takutnya rasa
mengantuk yang semula mulai menyerang mereka
berdua kontan lenyap tak berbekas, terburu-buru mereka
meninggalkan kereta menuju ke dalam kamar sebelah
barat.

Kamar sebelah barat itu sejak semula sudah


dibersihkan atas perintah Phoa Ceng Yan, kini
mengharuskan mereka menginap di tengah kuil bobrok
walaupun nona Liauw adalah seorang gadis perawan
orang kenamaan mau tak mau harus memojok pula
dengan menggunakan sebelah selimut menutupi sekitar
sana sebagai kamarnya.

257
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liauw Hujien mana pernah mengalami penderitaan


semacam ini sambil memandang Liauw Thayjien ia
menggerutu tiada hentinya.

“Bilamana kita menggunakan tentara kerajaan untuk


menghantar, di setiap keresidenan tentu disambut
pembesar keresidenana, setiap kota akan disambut
pembesar kota, kita pun tidak usah menderita semacam
ini, bukan saja selama di dalam perjalanan harus
menemui kekagetan serta ketakutan, di tengah malam
butapun harus pindah ke sana pindah ke sini. Wan Jie
adalah seorang gadis kenamaan, suruh dia tidur di atas
tanah di tengah kuil bobrok semacam ini coba kau pikir
apakah ini pantas?”

“Eheee…..Eeeee….. Hujien! Setiap orang setelah tiba


di bawah pintu tentu akan menunduk, urusan sudah jadi
begini buat apa kau orang mengomel terus?” kata Liauw
Thayjien mendehem tiada hentinya.

Nona Liauw yang mendengar ayah ibunya saling


mengomel, terburu-buru menimbrung, “Tia, Ma……..
kalian tidak usah beribut, selamanya aku belum pernah
merasakan penghidupan semacam ini, sekali
mencobapun rasanya amat menarik sekali.”

Mengambil kesempatan inilah Liauw Thayjien buru-


buru turun dari panggung dan tersenyum.

“Kalian beristirahatlah sebentar, aku akan pergi


bercakap-cakap dengan Phoa Hu Cong Piauw-tauw,”
katanya.

258
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di luaran Ih COen dengan golok terhunus berdiri di


depan pintu kuil.

Perlahan-lahan Liauw Thayjien berjalan menuju ke


belakang si telapak besi bergelang emas, sesudah
mendehem sapanya. “Phoa-ya!”

“Thayjien! Aku orang she Phoa merasa rada


menyesal,” seru Phoa Ceng Yan sambil menoleh dan
memandang sekejap ke arah Liauw Thayjien.

“Urusan sudah berubah jadi begini, kau Phoa-ya pun


tak perlu terlalu menyesali diri sendiri.” Liauw Thayjien
menggeleng. “Tetapi sampai kini cayhe masih belum
tahu keadaan situasi yang sebenarnya, entah sukakah
Phoa-ya memberi keterangan?”

Kembali Phoa Ceng Yan tertawa pahit.

“Liauw Thayjien!” serunya. “Aku berharap kau suka


mempercayai perkataan Loolap, hingga saat ini aku
sendiripun masih belum paham peristiwa apakah
sebetulnya yang telah terjadi?”

“Phoa-ya! He-koan merasa keadaan situasi pada saat


ini amat mengherankan, di dalam hal ini tentu sudah
tersembunyi suatu rahasia.”

“Sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng Yan mengangguk.


“Apa pendapat Thayjien tentang soal ini?”

“Aku berkeinginan mmeriksa sekali lagi lukisan


pengangon kambing tersebut, mengapa Lam Thian Sam

259
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sah bukannya hendak mau merampas harta kekayaan


emas intan permata sebaliknya hanya berkeinginan
mendapatkan sebuah lukisan? cuma saja? cuma saja…..”

“Cuma saja apa?” dalam hati Phoa Ceng Yan benar-


benar merasa sangat tegang.

“He-koan tidak paham ilmu silatpun tidak memahami


peristiwa-peristiwa di dalam dunia kangouw, maka aku
berkeinginan hendak mengajak Phoa-ya untuk bersama-
sama dengan He-koan meneliti lukisan tersebut sekali
lagi.”

Mendengar ajakan tersebut, si telapak besi bergelang


emas segera merasakan hatinya amat girang, pikirnya,
“Aaaaakh……. Inilah yang dinamakan pucuk dicinta ulam
tiba…..haaa…..haaa…. aku tak boleh lewatkan
kesempatan yang amat bagus ini!”

Kendati begitu, paras mukanya sama sekali tidak


menunjukkan perubahan apapun.

“Kalau memang Thayjien berkeinginan demikian sudah


tentu cayhe rela mengiringnya.”

“Phoa-ya sering berkelana di dalam dunia kangouw,


pernahkah kau orang mendengar kisah mengenai lukisan
pengangon kambing ini?”

“Terus terang saja cayhe belum pernah mendengar


kisah tentang persoalan tersebut.” jawab Phoa Ceng Yan
menggeleng.

260
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Heeeii…..! Lukisan ini tidak jelek, cuma saja bukan


hasil karya dari seorang kenamaan.”

Ketika itulah dengan langkah terburu-buru Nyoo Su


Jan muncul kembali ke tempat itu.

“Jie-ya!” serunya sembari menjura. “Hamba sudah


mengadakan pemeriksaan dengan sangat teliti di sekitar
ini, sepuluh kaki di sekeliling kuil sama sekali tidak
kedapatan jebakan-jebakan musuh.”

“Kalau begitu sangat bagus sekali.” Phoa Ceng Yan


mengangguk perlahan. “Su Jan! Setelah kau mengawasi
mereka-mereka memasukkan kereta-kereta tersebut ke
dalam kuil, coba kau wakili diriku untuk membagi mereka
jadi du rombongan, satu rombongan jaga malam dan
rombongan lain beristirahat, aku hendak bercakap-cakap
dengan Liauw Thayjien.”

“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati,” sahut Nyoo Su Jan


sambil menjura.

“Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie


Piauw-kiok lantas mengangguk, lalu sambil mengandeng
tangan Liauw Thayjien melangkah masuk ke dalam
kamar ujarnya.

“Thayjien, mari kita pergi mengambil lukisan


tersebut!”

“Maksudmu lukisan pengangon kambing? sejak tadi


sudah ada di dalam sakuku.”

261
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ooouw…. begitu?” seru Phoa Ceng Yan rada


tertahan, ia lantas menyapa seorang lelaki yang berdiri di
depan pintu, katanya.

“Aku dengan Liauw Thayjien hendak merundingkan


sesuatu urusan, siapapun dilarang datang mengganggu,
bila ada urusan kau boleh laporkan pada Nyoo Piauw-
tauw.”

Tidak menanti jawaban dari si lelaki itu lagi, ia segera


merapatkan pintu kamar.

Di dalam kamar tersebut kecuali terdapat seonggokan


api unggun serta sebuah lentera bercapkan tanda
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang menerangi
seluruh ruangan tak kelihatan benda lainnya lagi.

Dari dalam saku Liauw Thayjien segera mengambil


keluar lukisan pengangon kambing tersebut, kemudian
perlahan-lahan dibentangkan lebar-lebar.

Lukisan itu panjangnya ada delapan depa dengan


diatasnya terlukiskan berpuluh-puluh ekor kambing
berlainan jenisnya.

Kecuali kawanan kambing masih terdapat pula lukisan


dua orang bocah pengangon kambing.

Dengan menggunakan seluruh ketajaman matanya


Phoa Ceng Yan meneliti setiap lukisan tersebut, ia
merasa kecuali setiap ekor kambing dilukis amat persis
satu sama lain agaknya tidak ada hal-hal yang dirasakan
berharga atau patut dicurigai?

262
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebaliknya Liauw Thaujien jauh lebih bersemangat


daripada Phoa Ceng Yan sendiri, tiada hentinya ia
mengangguk sambil memuji.

“Ehmmm….! Walaupun bukan hasil karya seorang


pelukis kenamaan, menurut taksiran Liauw Thayjien
lukisan ini dapat laku berapa tahil??”

“tentang hal ini harus tergantung pada pembelinya,


jikalau menemui seseorang yang suka dengan lukisan ini
kemungkinan sekali bisa laku ribuan tahil ke atas.”

“Ribuan tahil perak bila berada di dalam pandangan


orang biasa mungkin merupakan suatu jumlah yang tidak
kecil, tetapi di dalam pandangan Lam Thian Sam Sah
ribuan tahil tidak lebih hanya suatu jumlah yang amat
kecil, bagaimana mungkin mereka bisa tertarik dengan
benda semacam ini?”

“Sedikitpun tidak salah, maka cayhe menaruh rasa


curiga bila di dalam hal ini tentu ada sebab-sebab
lainnya!”

“Sungguh patut disayangkan, ternyata kita tak berhasil


menemukan rahasia yang menyelimuti lukisan tersebut.”

Lama sekali Liauw Thayjien termenung berpikir keras,


mendadak sambil mengangkat lukisan pengangon
kambing itu serunya, “Mari kita periksa di bawah sinar
lampu!”

263
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tangan kanan Phoa Ceng Yan dengan kecepatan


penuh segera menyambar lukisan tersebut dihadapkan
kearah lampu lentera.

Terlihatlah bayangan lukisan simpang siur saling


numpuk menumpuk, lukisan yang semula amat bagus
kini jadi kacau balau sukar dipandang.

Kontan saja si orang tua itu kerutkan alisnya kencang


kencang.

“Apa yang sudah terjadi?” tanyanya.

“Agaknya lukisan ini sudah mengalami suatu


pembuatan yang sangat teliti, di tengah-tengah lukisan
tersebut terdapat lukisan yang lain.”

“Thayjien! Kau tidak salah melihat??” Phoa Ceng Yan


rada tertegun dibuatnya.

Perlahan-lahan Liauw Thayjien menggeleng.

“Tak bakal salah, gaya coretan dari kedua lukisan ini


sama sekali berbeda.”

“Thayjien! Apakah kau dapat melihat sebetulnya


lukisan apa yang terdapat di sana?”

“Untuk beberapa saat aku tak dapat menduga lukisan


apakah itu” sahut Liauw Thayjien sambil meletakkan
kembali lukisan tersebut. “Tetapi jika diperiksa di bawah
sinar lampu yang kuat dan dipandang agak lama,

264
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemungkinan sekali akan berhasil menemukan sedikit


titik terang.”

“Aaaakh…….. kalau begitu, dia memang benar-benar


tidak mengetahui rahasia di dalam soal ini” pikir Phoa
Ceng Yan di hatinya.

Sebaliknya diluaran katanya, “Thayjien! Apakah


sebelum adanya pendapat ini kau orang sama sekali
tidak tahu?”

“Tidak tahu! Aku cuma merasa bahan kertas yang


digunakan untuk melukis sangat tebal, tetapi sama sekali
tak terduga olehku bila di dalam lukisan ini sebenarnya
tersembunyi pula suatu lukisan yang lain.”

“Thayjien!” ujar si telapak besi bergelang emas


setengah berbisik.”Aku berharap untuk sementara waktu
kau suka rahasiakan urusan ini di hati, lebih baik lagi bila
Hujien pun jangan sampai tahu.”

Liauw Thayjien tampak termenung berpikir sebentar,


sesaat kemudian ia mengangguk.

“Jikalau Phoa Hu Cong Piauw-tauw merasa hal ini


perlu, He-koan tentu akan menurut.”

“Thayjien suka bekerja sama dengan cayhe, hal ini


lebih bagus lagi……….”

Mendadak dengan suara yang direndahkan


tambahnya.”Thayjien, dapatkah lukisan ini dibelah untujk
kemudian diperiksa lukisan yang ada didalamnya??”

265
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dapat! Cuma saja kau maupun aku tak dapat


melakukan hal ini sendiri, untuk membuka lukisan
tersebut harus diserahkan kepada seorang suhu yang
ahli di dalam lukisan baru kita dapat melaksanakannya.”

“Di dalam lukisan tersembunyi lukisan, hal ini tentu


ada gunanya, kita tak boleh memandang terlalu enteng.

“Aku paham……” Liauw Thayjien mengangguk.

Perlahan-lahan ia menyerahkan lukisan tersebut ke


atas tangan Phoa Ceng Yan, sambungnya.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, untuk sementara waktu


simpanlah terlebih dulu lukisan itu, setelah tiba di kota
Kay Hong barulah kau serahkan kembali kepadaku”.

Phoa Ceng Yan tampak rada ragu-ragu, setelah


termenung sebentar akhirnya ia menerima juga lukisan
tersebut.

“Baiklah!” ujarnya kemudian. “Untuk sementara akan


kusimpankan dulu lukisan ini setelah tiba di kota Kay
Hong Hu, tentu akan aku serahkan kembali kepada
Thayjien.”

Selesai berkata ia menyimpan lukisan tersebut ke


dalam sakunya.

“Phoa-ya, bila kau masih ada hal-hal yang


mencurigakan boleh terus terang dikatakan!” ujar Liauw
Thayjien sambil bangun berdiri. “Asalkan aku dapat

266
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melakukannya, pasti akan aku bantu dengan sekuat


tenaga.”

“Ehmmm………. aku rasa tak ada urusan lain lagi.”

“Perkataan apa saja tiada halangannya, boleh kau


ucapkan secara terus terang.”Kata Liauw Thayjien
tertawa. “Selama beberapa hari ini aku telah memikirkan
banyak sekali urusan dan akupun mulai merasa bahwa
siauw-li memang terdapat banyak hal yang patut
dicurigai, asalkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka
memberikan sedikit titik terang, He-koan tentu akan
melaksanakannya dengan sepenuh tenaga.”

Di atas ujung bibir Phoa Ceng Yan tersungginglah satu


senyuman ringan.

“Thayjien! Setelah mengalami pemikiran serta


penyelidikanku sangat teliti selama beberapa hari ini, aku
malah mempunyai pandangan yang kebalikan dari
pandangan Thayjien.”

“Apa maksudmu?”

“Aku lihat putri kesayanganmu dalam sepuluh bagian


ada delapan-sembilan bagian sungguh tak mengerti akan
ilmu silat……”

Belum habis ia menyelesaikan kata-katanya,


terdengarlah suara Nyoo Su Jan ada di luar kamar sudah
berkumandang masuk ke dalam.

“Jie-ya, ada orang mencari kau!”

267
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapa??” tanya Phoa Ceng Yan sembari menyedot


Huncweenya dalam-dalam kemudian menyemburkan
segulung asap.

“Shen Cie San”

“Aaaaaach…………! Dia ada di mana??”

“Sekarang ada di depan pintu kuil!”

“Baik! Suruh dia masuk”

Nyoo Su Jan mengiakan lalu putar badan berlalu.

“Kau pergilah menemui kawan, He-koan hendak


beristirahat dulu sebentar.” ujar Liauw thayjien sewaktu
mendengar ada orang datang mencari Phoa Ceng Yan.

“Tahyjien dapat beristirahat sebentarpun memang


baik, cayhe pergi berbicara sebentar dengan orang ini.”

Liauw Thayjien mengulapkan tangannya kemudian


mengundurkan diri dari sana.

Menanti bayangan punggung dari Liauw Thayjien telah


lenyap tak berbekas, Phoa Ceng Yan baru bisa
menghembuskan napas panjang, ia duduk kembali.

Sejenak kemudian tampaklah Nyoo Su Jan dengan


membawa Shen Cie San berjalan masuk.

268
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum masuk ke dalam kamar, selagi berada di depan


pintu Shen Cie San sudah merangkap tangannya
menjura.

“Phoa Jie-ya, selama perpisahan apakah baik-baik


saja?”

Phoa Ceng Yan pun buru-buru bangun berdiri.

“Shen Loo-te, di sini ada arak,mari minum secawan


dulu untuk menghangatkan badanmu.”

“Jie-ya, beruntung sekali tempo dulu Jie-ya suka turun


tangan menolong diriku, kalau tidak aku orang She Shen
tak bakal bisa hidup hingga ini hari …..” kata Shen Cie
San sambil melangkah masuk ke dalam kamar.

“Lebih baik kita tidak usah membicarakan peristiwa


tempo dulu, di tengah malam buta begini Loo-te datang
berkunjung kemari, tentunya ada urusan penting,
bukan?” potong Phoa Ceng Yan.

“Jika tak ada urusan, cayhe mana berani datang


menganggu diri Jie-ya.”

“Loo-te, kau terlalu sungkan, ada perkataan silahkan


dibicarakan….”

“Sebetulnya aku hendak memberitahukan satu kabar


penting kepada Phoa Jie-ya! Haruslah kau ketahui
beberapa orang iblis tua yang sudah mengundurkan diri
dari keramaian dunia kangouw, kini pada sama

269
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bermunculan kembali dan ada maksud hendak membegal


barang kawalan Jie-ya…”

“Loo-te! Kau tak usah keburu hati” seru Phoa Ceng


Yan menggeleng. “Mari duduklah dulu, di sini ada arak
serta daging goreng, setelah kita minum secawan arak
kau baru boleh bercerita dengan perlahan-lahan.”

“Maksud baik dari Jie-ya aku terima di hati saja.” buru-


buru Shen Cie San menjura. “Aku tak dapat berhenti
terlalu lama di sini. terus terang saja aku katakan
hambapun termasuk di dalam gerombolan mereka dan
mendapat tugas untuk menguntit kereta-kereta
kalian…..”

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya.

“Heeeeei…… tetapi berhubung hamba pernah


mendapat budi pertolongan dari Jie-ya dan selama ini tak
pernah terlupakan dari dalam hatiku, sekalipun
kepandaian silat yang hamba miliki sangat terbatas
sehingga tak dapat membantu Jie-ya meloloskan diri dari
kesusahan, terpaksa yang dapat hamba lakukan
hanyalah mengirim kabar buat kau orang tua.”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk.


“Oooouw….kiranya begitu, hal ini aku harus
mengucapkan terima kasih kepadamu…..”

Setelah mendehem perlahan, sambungnya.

“Loo-te, siapakah sebenarnya iblis-iblis tua yang telah


munculkan dirinya kembali itu? Kalau memang kau sudah

270
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengabungkan diri dengan gerombolan mereka,


tentunya mengetahui pula mereka merencanakan kapan
hendak turun tangan?”

“Heeeei……… bila dibicarakan, sungguh


mengecewakan sekali, sampai saat ini aku masih belum
mengetahui jelas asal usul mereka……”

“Lalu secara bagaimana kau bisa ditarik untuk


menggabungkan diri dengan gerombolan mereka?”

“Hal ini kemungkinan sekali disebabkan nama besar


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok terlalu cemerlang di
dalam dunia kangouw dan ia ingin mendapatkan ikan
tetapi takut terkena bau amisnya ikan maka semua
pekerjaan dilakukan secara rahasia sekali, sedangkan
mengenai hamba bisa masuk ke dalam gerombolan
mereka adalah dikarenakan ajakan seorang kawan
karibku yang bernama Bhe Poo, semua tugas yang
hamba terima selama ini selalu lewat mulut Bhe Poo
yang menyampaikan kepadaku.”

Jilid 8
“Loo-te!” ujar si telapak besi bergelang emas. “Kalau
memang kau tak pernah menemui mereka, bagaimana
mungkin kau tahu bila orang-orang yang ada rencana
hendak membegal barang kawalan kami dilakukan oleh
beberapa orang iblis tua yang telah mengundurkan diri
dari keramaian dunia persilatan?”

“Ada satu kali Bhee Poo terlanjur berbicara dan


membocorkan sedikit rahasia, tetapi dengan cepat ia

271
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersadar kembali dan tidak melanjutkan kembali kata-


katanya.”
“Kalau begitu Shen-heng cuma tahu kalau orang yang
bermaksud membegal barang kawalan perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok dan perbuatan tersebut diselenggarakan
oleh beberapa orang iblis tua yang telah mengundurkan
diri dari dunia kangouw, siapakah orang itu dan secara
bagaimana mereka hendak turun tangan, Shen-heng
sama sekali tidak tahu……” ujar Nyoo Su Jan
menimbrung.
Shen Cie San segera menggelengkan kepalanya.
“Bhee Poo telah membocorkan nama dari salah
seorang di antara mereka” katanya.
Mendadak ia memperendah suaranya, dan
menyambung kembali.
“Orang itu bernama “Hwee Sin” atau si Dewa Api Ban
Cau!”
Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan mendengar
disebutkannya nama orang itu kontan saja dibuat
melengak, setengah harian lamanya tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun.
Lama sekali, Phoa Ceng Yan baru menghembuskan
napas panjang.
“Si dewa api Ban Cau masih hidup di kolong langit?”
tanyanya.
“Benar! Menurut apa yang telah dibocorkan oleh Bhee
Poo, sewaktu si dewa api Ban Cau mengasingkan diri dari
keramaian dunia kangouw, bukan saja ilmu silatnya tidak
ditinggalkan bahkan dilatih semakin giat lagi. Bukan saja
kepandaian silatnya pada saai ini telah mencapai
kesempurnaan bahkan di dalam hal senjata berapi-pun
mempunyai kemampuan yang jauh lebih hebat.”

272
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ehmmm….! Atas beritamu ini seharusnya aku


mengucapkan banyak terima kasih untuk Loo-te!” kata
Phoa Ceng Yan dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat.
“Orang-orang yang dapat berkumpul menjadi satu
dengan si dewa api Ban Cau sudah tentu merupakan
kaum penjahat serta iblis-iblis yang terkenal di dalam
kalangan Liok-Lim” ujar Shec Cie San lebih lanjut
memberi keterangan. “Kini apa yang hamba ketahui
sudah aku utarakan semua, cuma sayang aku tak
sanggup memberi apapun untuk Phoa Jie-ya, lain kali
asalkan hamba memperoleh kabar berita lagi, tentu akan
aku usahakan untuk mengabarkan kepada kalian.”
Sambil merangkap tangannya menjura, tambahnya.
“Jie-ya! Lebih baik kau jangan menghantar aku,
kemungkinan sekali secara diam-diam ada orang yang
menguntit diriku, aku hendak molor pergi secara diam-
diam.”
“Baik! Kau pergilah, kami tidak menghantar lagi.” Phoa
Ceng Yan mengangguk.
Tubuh Shen Cie San dengan cepat berkelebat keluar
dari kamar tersebut kemudian lenyap ditengah
kegelapan.
Menanti si pencuri sakti itu telah pergi, dengan kening
yang dikerutkan Phoa Ceng Yan berjalan hilir mudik,
bolak-balik tiada hentinya di dalam kamar.
“Jie-ya!” bisik Nyoo Su Jan dengan suara yang lirih.
“Jikalau si dewa api Ban Cau benar-benar ada maksud
hendak membegal barang kawalan perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kita, hal ini merupakan suatu peristiwa
yang tidak dapat dihindarkan lagi. Untung saja kita telah
mengirim berita ke markas kemungkinan sekali Cong
Piauw taue akan berangkat sendiri atau paling sedikit
dari perusahaan akan mengirim bala bantuan, pada saat

273
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini kekuatan kita boleh dihitung tidak lemah, sedang


jumnlah orangpun tidak sedikit, asalkan bisa dibagi dan
diatur dengan susuai rasanya cukup untuk melindungi
keselamatan dari seluruh kawalan kita.”
“Su Jan!” Ujar Phoa Ceng Yan tertawa pahit. “Selama
ini Cong Piauw-tauw sangat mempercayai diriku,
bilamana karena kawalanku kali ini sehingga
mengakibatkan hancurnya merek dagang kita kali ini
selalu akan membuat aku merasa sangat menyesal dan
tidak tenang, selama hidup akan terasa menderita.”
Ia merandek dan menghela napas panjang, kemudian
sambungnya kembali, “Jika didengar dari nada
pembicaraan Shen Cie San agaknya kecuali si dewa api
Ban Cau sendiri masih ada beberapa orang iblis tua yang
sangat lihay ikut serta di dalam gerakan kali ini.
Perkataan dari Shen Cie San sedikitpun tidak salah, orang
yang bisa jalan bersama-sama dengan si dewa api Ban
Cau tentu merupakan jago-jago lihay.”
“Jie-ya! Walaupun perkataan dari Shen Cie San sama
sekali tidak salah, tetapi kitapun belum menemuinya
sendiri, apakah tidak mungkin hal ini merupakan suatu
siasat tipuan dari si dewa api Ban Cau sendiri.”
“Aaakh…. kita jangan terlalu memandang enteng
pihak musuh”.
“Sebaliknya kitapun tidak boleh memandang musuh
terlalu berat,” sambung Nyoo Su Jan dengan cepat.
“Jikalau semua hal persis seperti apa yang diucapkan
oleh Shen Cie San seharusnya si dewa api Ban Cau sejak
semula sudah turun tangan terhadap kita, di dalam hati
tentu merasa rada jeri dan ragu-ragu terhadap kita.”
“Ehmmm….perkataanmu ini memang tidak salah”
Phoa Ceng Yan mengangguk.

274
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun nama besar si dewa api Ban Cau sudah


terkenal di seluruh dunia kangouw dan ia merupakan
seorang pentolan iblis dari kalangan Liok-lim, tetapi
jikalau dibandingkan dengan si Kongcu tukang foya-foya
Ke Giok Lang rasanya masih jauh ketinggalan.
“Bagaimanapun kita orang jangan terlalu memandang
enteng diri si dewa api Ban Cau, walaupun nama
besarnya pada saat ini tak dapat menandingi nama besar
si Kongcu tukang Foya-foya Ke Giok Lang, tetapi hal
inipun disebabkan ia sudah terlalu lamam mengasingkan
diri dari pergaulan….”.
Ia merandek sejenak, lalau tambahnya.
“Su Jan! Kau pernah bertemu muka dengan si dewa
api Ban Cau ….?”
“Hamba belum pernah bertemu muka” Nyoo Su Jan
menggeleng, “kedengarannya ia sangat lihay di dalam
hal peralatan senjata berapi….”
“Aku pernah melihat dia orang menggunakan senjata
berapinya itu, hanya di dalam sekejap mata ia berhasil
membakar habis dua belas orang jagoan lihay,
penguasaan ilmu berapinya betul-betul telah mencapai
taraf kesempurnaan.”
“Tapi rasanya ilmu permainan gelang emas dari Jie-ya
pun belum tentu berada di bawah kepandaian si dewa
api Ban Cau” Ujar Nyoo Su Jan coba memberi semangat.
“Kau sudah salah menduga” kata si telapak besi
bergelang emas tersenyum pahit.
“Senjata berapi dari si dewa api Ban Cau memiliki
perubahan luas yang amat banyak, kedashyatannya tak
dapat dibandingkan dengan permainan gelang emasku”.
“Jie-ya! Kecuali kita, masih ada seseorang dapat
mengundurkan musuh tangguh ….”
“Siapa?” tanya Phoa Ceng Yan melengak.

275
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nona Liauw!”
“Aaakh…..! Sedikitpun tidak salah!” teriak Hu Cong
Piauw-tauw sambil menghantam pahanya sendiri.
“Kenapa aku bisa melupakan jago lihay semacam dia
itu??”
“Jie-ya!” Bisik Nyoo Su Jan lagi. “Bilamana kita
mengharapkan nona Liauw bisa melakukan persiapan
sejak sekarang, lebih baik kita buru-buru kasih kabar
kepadanya.”
“Tetapi kau hendak menggunakan cara apa untuk
mengabarkan hal ini kepadanya?”
“Kau boleh beritahukan soal ini kepada Liauw
Thayjien.”
“Betul….”
Mendadak alisnya dikerutkan, sambungnya.
“Jikalau kita dapat melihat perubahan paras muka
nona Liauw sewaktu menyampaikan kabar tersebut
kepadanya, barulah kita dapat mengetahui kejadian yang
sebenarnya dan memahami apakah nona Liauw benar-
benar merupakan seorang jagoan yang memiliki
kepandaian lihay atau bukan, tetapi antara lelaki serta
perempuan ada batas-batsnya, lagipula di adalah
seorang gadis pembesar, bagaimana mungkin aku bisa
pergi menemuinya?? Bagaimanapun aku tak dapat
memeriksakan penyakit kedua kalinya!”
“Ssst… hamba punya satu akal!” tiba-tiba Nyoo Su Jan
berbisik.
“Bagaimana akalmu itu??”
“Kita mencari kesempatan untuk melepaskan seorang
musuh masuk ke dalam kamarnya, kemudian kita intip
dengan cara bagaimana nona Liauw turun tangan
menghadapi dirinya??” ujar Nyoo Su Jan dengan
menggunakan suara yang paling lirih.

276
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku rasa cara ini kurang sesuai!” sahut Phoa Ceng


Yan setelah termenung sebentar.
“Semisalnya nona Liauw benar-benar tidak mengerti
akan ilmu silat bukankah kita akan menciptakan suatu
peristiwa yang tidak diinginkan”.
“Kalau begitu bagaimana kalau hamba yang menyaru
seperti kaum penjahat kemudian menerjang masuk ke
dalam kamar nona Liauw guna melihat keadaan yang
sebenarnya.”
“Cara inipun aku rasa tidak sesuai, semisalnya nona
Liauw benar-benar merupakan seorang jago lihay yang
memiliki kepandaian silat sangat tinggi, sampai si kongcu
tukang foya-foya pun kena di tawan apalagi Nyoo Piauw-
tauw”.
“Tetapi tidak memasuki sarang macan bagaimana
mungkin bisa berhasil memperoleh anak macan? jikalau
ingin membuktikan nona Liauw benar-benar memiliki
kepandaian ilmu silat atau tidak, kecuali menggunakan
cara ini rasanya tak ada cara lainnya lagi yang sesuai!”
“Saat ini mempersiapkan diri untuk menghadapi
serangan musuh jauh lebih penting dari segala-galanya,
kau pergi mengadakan persiapan terlebih dahulu dan
sekalian peringatkan kepada semua orang agar mulai
saat ini bertindak waspada, kepada Toa Hauw serta Giok
Liong sampaikan pula pesan agar mereka jangan
bergerak secara sembarangan, aku hendak pergi
membicarakan persoalan ini dengan Liauw Thayjien!”
“Hamba turut perintah.”
Setelah menjura ia lantas mengundurkan diri dalam
kamar.
Menanti Nyoo Su Jan telah pergi jauh, Phoa Ceng Yan
baru menutup pintu dan berjalan bolak balik di dalam
ruangannya.

277
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam hati ia merasa amat cemas dan kuatir sekali,


secara samar-samar ia mulai merasa bahwa tugasnya
kali ini terasa tidak gampang, dibalik semuanya ini tentu
terselip suatu rahasia yang sangat misterius dan
membingungkan, kemungkinan sekali Liauw Thayjien
memang benar-benar tidak mengetahui akan urusan ini,
kemungkinan juga ia sedang membohongi dirinya…..”
Berpikir sampai disitu, iapun mulai teringan akan
kejadian-kejadian tempo dulu, ia merasa sejak
permulaan, kejadian ini memang terasa rada tidak beres
hanya minta dikawal menuju ke daerah selatan dengan
membawa sedikit barang saja ternyata mereka tidak
sayang-sayangnya membayar ongkos besar bahkan
minta Cong Piauw-tauw mereka turun tangan sendiri,
dirinya sebagai Hu Cong Piauw-tauw yang bertindak pun
akhirnya hanya memperoleh perasaan ragu-ragu dari
sang langganan.
Kejadian yang sangat tidak biasa ini seharusnya cukup
memberikan suatu gambaran yang mencurigakan hati
setiap orang, hanya sayang ternyata pada waktu itu tak
seorangpun yang berpikir sampai di sana.
Setengah malamam bagi setiap orang terasa amat
pendek, tetapi di dalam perasaan Phoa Ceng Yan, ia
merasa seperti sedang melewati suatu masa yang amat
panjang.
Dengan susah payah akhirnya haripun mulai terang,
Phoa Ceng Yan sambil menghembuskan napas panjang-
panjang membuka pintu dan berjalan keluar.
Tampaklah Nyoo Su Jan, Lie Giok Liong sekalian
dengan mengembol senjara tajam berdiri di tengah
tiupan angin kencang serta permukaan salju yang amat
dingin, di atas paras muka setiap orang kelihatan amat
letih.

278
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jelas, kemarin malam beberapa orang itu terus


menerus melakukan perondaan disekeliling kuil dan sama
sekali tiada waktu bagi mereka untuk beristirahat.
“Heeeei….!” tak terasa lagi Phoa Ceng Yan menghela
napas panjang. “Su Jan! Suruh mereka mempersiapkan
diri melanjutkan perjalanan, nanti kalian boleh
beristirahat di dalam kereta!”
“Jie-ya! Beruntung kemarin semalaman suasana tetap
tenang……” kata Nyoo Su Jan tertawa paksa.
“Aku tahu, kalian semua terlalu menderita, suruh
mereka mempersiapkan kereta untuk melanjutkan
perjalanan, kalian beristirahatlah di dalam kereta…..”
Mendadak dari dalam ruangan tengah kuil tersebut
berkumandang datang suara sampokan angin yang amat
nyaring.
Suara tersebut tidak begitu keras, tetapi sewaktu
terdengar oleh Nyoo Su Jan serta Phoa Ceng Yan, terasa
bagaikan meledakkan bom di sisi mereka, dalam hati
terasa sangat terperanjat.
Buru-buru mereka menoleh ke arah mana berasalnya
suara tersebut, tampaklah di atas undak-undakan di
depan kuil berdirilah seorang pengemis yang memakai
pakaian sangat dekil dengan rambut yang awut-awutan,
kakinya memakai sepatu dari rumput dan wajahnya
penuh berminyak serta lumpur.
Walaupun wajahnya kotor sekali, tetapi dengan
ketajaman mata si telapak besi bergelang emas, sekali
pandang saja ia dapat mengetahui bila si pengemis
tersebut ternyata berusia sangat muda, dan paling
banyak tidak lebih dari dua puluh tahun.
Tak terasa lagi ia mengerutkan keningnya.
“Jie-ya!” bisik Nyoo Su Jan dengan cepat. “Di tengah
tiupan angin kencang serta hujan salju yang sangat

279
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dingin, si pengemis cilik itu hanya memakai pakaian yang


sudah kumal lagi robek, kakinya hanya memakai sepatu
terbuat dari rumput dan sama sekali luar biasa.
Kemungkinan sekali merupakan jagoan lihay dari
perkumpulan Kay Pang.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk, dengan
menggunakan suara yang paling lirih ia menjawab.
“Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya
yang sangat lihay sehingga kedatangannya sama sekali
tidak menimbulkan sedikit suara, sudah cukup
membuktikan bila ia punya kepandaian yang sangat luar
biasa. Jikalau bukannya ia sengaja mengeluarkan suara
kemungkinan sekali kita tak bakal tahu akan
kedatangannya”.
“Hamba sangat menyesal sekali dengan kejadian ini,
Jie-ya boleh beristirahat, biarlah hamba yang pergi
menanyai dirinya.”
Ia lantas melangkah mendekati pengemis itu.
“Kawan!” sapanya sambil menjura. “Jika dilihat dari
potonganmu agaknya mirip dengan seorang jagoan lihay
dari pihak Kay Pang, entah dugaan cayhe ini benar atau
tidak?”
Pengemis itu tersenyum, sehingga memperlihatkan
sebaris giginya yang putih bersih.
“Jikalau aku katakan aku bukanberasal dari Kay Pang,
tentunya kalian tak bakal percaya bukan” jawabnya.
“Ilmu meringankan tubuh dari kawan amat sempurna,
hitung-hitung telinga aku memang sudah tuli semua!
Anak murid perkumpulan Kay Pang mempunyai julukan
sebagai kaum pendekar di dalam dunia kangouw dan
selamanya melakukan pekerjaan secara terus terang dan
blak-blakan, entah kedatangan kawan kecil ini ada
maksud tujuan apa?”

280
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Haaa…..haaa…..haaa……. Nyoo Piauw-tauw!


Perkataanmu yang meluncur keluar terus bagaikan air
pancuran benar-benar membuat aku si pengemis cilik
jadi sukar untuk membantah!” seru si pengemis tersebut
sambil tertawa terbahak-bahak. “Sejak kemarin pagi-pagi
aku si pengemis cilik sudah tertidur di dalam kuil ini,
jikalau dikatakan siapa yang datang terlebih dahulu maka
boleh dikata kedatanganku jauh lebih pagi beberapa jam
dari kalian, maka dari itu aku harus jelaskan kepada
kalian bahwa kedatanganku bukannya masuk secara
sembunyi-sembunyi.”
Mendengar perkataan tersebut, Nyoo Su Jan jadi
melengak.
“Kemarin malam Siauw-te sudah melakukan
pemeriksaan dengan sangat teliti disekeliling tempat ini,
mengapa waktu itu aku tak berhasil menemui saudara?”
tanyanya.
Kembali si pengemis cilik itu tertawa.
“Aku tertidur di atas bangunan kuil ini, Apakah Nyoo
Piauw-tauw telah memeriksa di atas ruangan kuil ini?”
“Oooouw kiranya begitu “ tak kuasa lagi Nyoo Su Jan
menghembuskan napas panjang.
Ketika itulah Phoa Ceng Yan dengan langkah ke
depan, “Loohu Phoa Ceng Yan!” ujarnya
memperkenalkan diri sambil menjura.
“Oooouw…..si telapak besi bergelang emas Phoo Loo-
enghiong!”
“Tidak berani……..tidak berani…..”
Sekali lagi si pengemis itu tersenyum.
“Di dalam hati tentunya Phoo Loo-enghiong menaruh
perasaan curiga terhadap kedatanganku ini bukan?”
Kiranya si pengemis cilik ini pandai bergurau, pikir
Phoa Ceng Yan dalam hati.

281
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun begitu diluaran sahutnya.


“Menaruh curiga aku tak akan berani, hanya ingin
sekali loolap mengetahui maksud kedatanganmu.”
“Kita bisa bertemu muka di dalam kuil ini, boleh dikata
di antara kita memang ada jodoh…..”
“Oooouw…….ada jodoh?” sambung Nyoo Su Jan
dengan cepat.
“Sudah tentu bukan karena itu saja, maka aku si
pengemis cilik bisa berbicara demikian disebabkan
sewaktu aku si pengemis tiba di dalam kuil ini benar
tidak tahu bila perusahaan kalian bakal beristirahat di sini
pula.”
“Atau paling sedikit kemarin malam kawan telah
mengetahui bila kami dari perusahaan Liong Wie Piauw-
kiok sudah tiba di dalam kuil ini bukan,” kata Nyoo Su
Jan kembali.
“Soal ini memang sedikitpun tidak salah, sewaktu
saudara-saudara sekalian memasuki kuil ini, aku si
pengemis memang sudah tahu, hanya saja saudara-
saudara pada waktu itu sama sekali tidak mengetahui
bila di dalam kuil masih ada aku si pengemis yang
berdiam di sini.”
“Maaf, Loolap akan memanggil kau dengan sebutan
saudara cilik saja” tiba-tiba Phoa Ceng Yan menimbrung
sambil menjura.
“Phoa Loo-enghiong suka menyebut aku si pengemis
sebagai saudara, hal ini benar-benar membuat aku
merasa amat bangga.”
“Orang-orang Kay Pang kebanyakan merupakan jago-
jago lihay yang memiliki nama besar di dalam dunia
kangouw, tolong tanya siapakah sebutan dari saudara
cilik?”
Pengemis tersebut tersenyum.

282
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku si pengemis cilik she Pauw bernama Cing!”


“Aku dengar di dalam perkumpulan Kay Pang sudah
muncul dua orang jagoan muda yang disebut Thian Tee
Siang Liong atau sepasang naga langit dan bumi, di
dalam sepasang naga tersebut agaknya ada seorang
kawan she Pauw…..” nyeletuk Nyoo Su Jan dari samping.
Kembali si pengemis itu tertawa.
“Ooouw…..apakah orang itu tidak becus? Si naga
langit Pauw Cing yang disebut tadi memang bukan lain
adalah aku si Siauw-Pauw….”
“Ooouw…..kalau begitu cayhe sudah kurang hormat
terhadap dirimu.”
“Tidak berani, tidak berani. Sebenarnya aku si
pengemis cilik tidak ingin menganggu kalian dan secara
diam-diam akan ngeloyor pergi, tetapi dalam hati aku
kepingin sekali berbicara beberapa patah kata dengan
kalian maka akhirnya aku telah munculkan diri.”

“Entah Pauw Siauw-hiap ada urusan apa?” tanya Phoa


Ceng Yan.
“Aaaakh….. Loo Enghiong terlalu memuji” si Naga
Langit Pauw Cing tertawa, “Siauw-hiap dua kata cayhe
tidak berani menerimanya jikalau Phoa Loo Eng-hiong
suka memandan diriku, panggil saja aku dengan sebutan
siauw Pauw!”
“Haaa……haaa……haaa…… tidak nyana Si Naga Langit
Pauw Cing benar-benar mengagumkan sekali, inilah yang
dinamakan ombak belakang sungai Tiang-kang
mendorong ombak yang ada didepannya, orang-orang
baru mulai menggantikan orang-orang yang telah lama!
Dengan usiamu yang masih kecil ternyata berhasil
memiliki kepandaian yang sangat sempurnanya hal ini

283
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

benar-benar membikin semua orang merasa sangat


kagum”.
“Haaa……haaa……haaa…… Agaknya Loo Eng-hiong
sedang mencekoki diriku dengan kuah pujian,
maaf……maaf, aku si pengemis tidak doyan dengan kuah
semacam ini.”
Mendengar perkataan tersebut paras muka Phoa Ceng
Yan kontan saja berubah menjadi merah padam.
“Apa yang Loolap katakan adalah kata-kata yang
sungguh!” serunya.
“Kalau begitu aku si pengemis pun ada beberapa
patah kata yang hendak disampaikan kepada Phoa Loo
Piauw-tauw!”
Agaknya Phoa Ceng Yan merasakan bahwa beberapa
patah kata yang hendak disampaikan ini merupakan
suatu persoalan yang sangat penting, wajahnya kembali
berubah amat serius.
“Loolap tentu pentang telinga lebar-lebar untuk
mendengarkan perkataanmu!”
“Aku takut barang-barang kawalan dari perusahaan
kalian bakal sukar tiba di kota Kay Hong Hu dengan
selamat!” ujar Pauw Cing dengan serius. “Sekalipun bisa
tiba di sana dengan aman inipun harus membayar dulu
dengan suatu harga yang sangat mahal sekali, jikalau
dibicarakan dari pihak kalian perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian, kerugian ini benar-benar merupakan
suatu kerugian yang tiada taranya….”
“Maksud saudara……” seru Phoa Ceng Yan yang dibuat
melengak oleh perkataan tersebut.
“Bilamana dapat melepaskan barang kawalan ini, lebih
baik cepat-cepat dilepaskan, hanya saja…..”
“Setiap pekerjaan ada peraturannya sendiri sendiri,
kami yang bekerja dengan membuka perusahaan Piauw-

284
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kiok boleh menolak tawaran orang, tetapi setelah


menerima terpaksa dengan keraskan kepala harus
dilaksanakan hingga selesai, melepaskan tanggung jawab
di tengah jalan bukanlah sifat kami.” potong si telapak
besi bergelang emas dengan cepat.
“Kalau begitu berusahalah mencari suatu tempat yang
baik untuk mempertahankan diri dan menunggu bala
bantuan dari markas pusat……”
Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang.
“Hingga kini Loolap masih tidak paham, sebenarnya
dimanakah letak berharganya kawalan kami kali ini,
mengapa ada begitu banyak orang yang melakukan
pengejaran dengan demikian ngotot sehingga tidak
takutnya mengikat permusuhan dengan orang lain.”
“Aku si pengemis cilik ada beberapa patah kata yang
hendak diucapkan keluar,” ujar Pauw Cing setelah
termenung beberapa saat lamanya. “Tetapi setelah aku
ucapkan keluar, harap Phoa Hu Cong Piauw-tauw jangan
marah.”
“Haaaa……haaa……haaa….. tadi aku sudah katakan
hendak menyebut dirimu dengan kata kata Pauw Loo-te,
sudah tentu apa yang hendak kau ucapkan silahkan
diutarakan dengang terus terang, Loolap percaya masih
bisa menerimanya!” seru Phoa Ceng Yan tertawa
terbahak-bahak.
“Di dalam perkumpulan Kay Pang kami, ada sebuah
peraturan yang tak tertulis di dalam daftar, ada dua
macam orang yang tak boleh diajak berkawan.”
“Dua macam orang yang bagaimana?”
“Orang macam pertama adalah alap-alap serta kuku
garuda perguruan Lak San Bun dan orang macam kedua
adalah kawan-kawan kangouw yang mencari uang

285
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan membuka perusahaan Piauw-kiok seperti


kalian………”
Ia menengadah ke atas lalu tertawa terbahak-bahak,
tambahnya, “Haaaa……haaa…….haaa….. kami orang-
orang dari Kay Pang selamanya tidak berhubungan
dengan orang-orang pihak Piauw-kiok, dan selamanya
pun belum pernah turun tangan membegal barang-
barang kawalan kalian.”
“Tentang soal ini Loolap paham!” Phoa Ceng Yan
mengangguk. “Kebanyakan kawan-kawan Bu Lim
memang pada tidak memandang sebelah mata kepada
kami orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan
bekerja sebagai pengawal barang. Tetapi keadaan dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita rada berbeda…..”
“Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lebih
mengutamakan keluhuran budi daripada harta kekayaan,
asalkan kawan-kawan Bu Lim kita mencari mereka
selamanya tidak pernah dibuat kecewa dan kembali
dengan tangan kosong,” potong Pauw Cing di tengah
jalan. “Kepandaian silat yang dimiliki oleh Cong Piauw-
tauw serta Hu Cong Piauw-tauw pun sangat tinggi,
memandang hormat kepada setiap orang, keadaannya
memang rada berbeda dengan keadaan perusahaan
piauw-kiok lainnya. Tetapi kau harus tahu sembilan
sembilan delapan satu, bagaimananpun Liong WIe
Piauw-kiok kalian tetap merupakan sebuah perusahaan
Piauw-kiok!”
“Perkataan dari Pauw Loo-te memang tidak salah,
bagaimanapun Liong Wie Piauw-kiok kamu tetap
merupakan sebuah perusahaan Piauw-kiok, sekalipun
dibicarakan sampai dilangitpun tak akan bisa
dibandingkan dengan para enghiong hoohan lainnya di
dalam dunia kangouw, yang kita makan adalah nasi kerja

286
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keras, yang didapat adalah uang jual nyawa, hal ini tidak
bisa dikatakan suatu keuntungan yang menonjol….”
“Phoa Loo Eng-hiong! Lebih baik kalau bicara jangan
menyindir’ potong Pauw Cing sambil tersenyum. “Orang
yang membuka perusahaan Piauw-kiok adalah
bersungguh-sungguh hendak mencari untung, tidak
mencuri tidak merampas dan pokoknya bukan
merupakan suatu pekerjaan yang sangat memalukan.
Cuma, kalian tak dapat membangkang lagi bahwa orang
lain keluar uang maka kalian harus menjual nyawa.
peduli pihak lawan punya kedudukan apapun baik itu
seorang jagoan yang kerjanya tukang peras atau
pembesar korup atau penguasa penghianat…….”
“Maaf Loolap hendak memotong perkataan dari Pauw
Loo-te, perlu kau ketahui bahwa perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kamu sudah menolak banyak sekali tawaran
untuk mengawal barang. Jikalau orang yang mengajukan
tawaran itu menurut kita kurang sesuai, maka peduli ia
berani membayar seberapa besar biayanya pun kita tetap
akan menolak.”
“Hhmmmm……..! Soal ini aku si pengemis cilik pun
pernah mendengar orang berkata, perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok memang terdapat banyak hal yang
keadaannya tidak sama dengan perusahaan-perusahaan
lain, tetapi kendati bagaimana rapatnya kerja kalian tak
urung sesekali akan tertembus juga.”
Mendadak ia memperendah suara dan tambahnya,
“Cukup kita ambil contoh dengan kawalan kalian ini!
Sebetulnya kalian sudah kena tertipu karena sebelum
urusan ini diterima kalian tak mau melakukan
penyelidikan terlebih dulu dengan teliti maka akibatnya
terciptalah keadaan seperti ini hari.”

287
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Loolap kepingin sekali minta petunjuk akan satu hal


terhadap diri Pauw Loo-tee, sampai saat ini Loolap masih
merasa tidak paham dengan kawalanku ini, sebenarnya
dimana-dimanakah terletak kesalahannya? Loolap sudah
beberapa kali mengadakan pembicaraan dengan
langgananku itu, tetapi aku rasa Liauw Thayjien bukanlah
mirip seorang bersifat jahat.”
“Phoa Loo Eng-hion! Tahukah kau orang tua tempo
dulu Liauw Thayjien pernah menjabat apa?”
“Tempo dulu dia adalah seorang pembesar tingkat
dua.”
“Tidak salah!” seru Pauw CIng mengangguk.
“Jabatannya memang pembesar tingkat kedua. Tetapi
bagaimana keadaannya sewaktu menjabat sebagai
pembesar? Apakah kau tahu?”
“Tentang soal ini ………., tentang soal ini cayhe rada
kurang jelas.”
“Barang-barang apa saja yang mereka bawa? Phoa Hu
Cong Piauw-tauw, tahukah??
“Benda-benda tak berharga keperluan sehari hari?”
“Kalau cuma benda-benda tak berharga keperluan
sehari-hari, dapat memancing daya tarik bagi para jago-
jago Bu Lim untuk turun tangan membegalnya?”
“Perkataan dari Pauw Loo-te sedikitpun tidak salah”
sahut Phoa Ceng Yan membenarkan. “Tetapi Loolap
sudah beberapa kali mengadakan pembicaraan dengan
Liauw Thayjien selama ini aku belum pernah melihat
mereka membawa suatu benda yang nilainya sangat
berharga sekali.”
“Yang menghadapi bingung, yang menonton jelas!
Kita yang sedang menonton jelas! Kita yang sedang
menghadapi urusan ini kemungkinan sekali kurang jelas,
kawan! Kau yang berada di luar garis persoalan ini,

288
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentunya berita yang kau dengar sudah sangat banyak


bukan?” nyeletuk Nyoo Su Jan dari samping.
“Bilamana saudara suka memberi tahu, cayhe tentu
akan pentang lebar-lebar telinga untuk mendengar,”
sambung Phoa Ceng Yan pula.
Pauw Cing tersenyum.
“Kerja sama kalian berdua memang sangat bagus”
katanya. “Cuma aku si pengemis cilik merasa rada
herang, barang-barang apa yang mereka bawa
seharusnya Liauw Thayjien mengetahui jelas, aku si
pengemis merasa rada tidak percaya bila mereka bisa
memandang barang-barang itu jauh lebih penting
daripada nyawa sendiri.”
“Walaupun Loolap tidak benar-benar tahu barang apa
saja yang mereka bawa, tetapi ada satu hal yang Loolap
ketahui dengan sangat jelas sekali!”
“Soal apa?”
“Seluruh keluarga Liauw tidak mengerti akan ilmu
silat!”
“Maka dari itu mereka baru mencari perusahaan
Piauw-kiok kalian untuk menghantar?” sambung Pauw
Cing sesudah termenung sebentar.
“Pauw Loo-tee!” ujar Phoa Ceng Yan tertawa pahit.
“Bilamana kau telah mendengar sesuatu berita harap
dibicarakanlah secara terus terang, aku orang she Phoa
tentu akan merasa sangat berterima kasih sekali.”
Selesai berkata ia merangkap tangannya menjura.
“Tidak berani……tidak berani…… aku tidak berani
menerima penghormatan yang demikian besarnya dari
Phoa Loo Eng-hiong” buru-buru Pauw Cing membalas
hormat.
Dengan suara yang sengaja dilirihkan sambungnya
kembali.

289
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Menurut apa yang aku si pengemis dengar, agaknya


keluarga Liauw mereka sudah membawa sebuah benda
yang ada sangkut pautnya dengan Bu lim?”
“Apakah sebuah lukisan dengan pengagon kambing??”
Pauw Cing termenung beberapa saat lamanya,
kemudian baru jawabnya.
“Apa yang aku dengar agaknya bukan cuma sebuah
lukisan saja, tetapi lukisan apakah satunya, ini cayhe
merasa kurang jelas.”
“Lalu Pauw Loo-te mendapatkan berita ini dari
mana??”
“Aku si pengemis mendengar berita ini dari beberapa
orang jagoan Liok-lim yang siap-siap hendak turun
tangan membegal barang kawalan kalian, aku rasa
sekalipun berbeda pun tidak akan terlalu jauh. Kalian
berdua baik-baiklah berjaga diri, aku si pengemis mohon
diri dulu…..”
Tubuhnya segera mencelat ke atas dan melayang ke
atas genting kemudian hanya di dalam sekejap saja telah
lenyap di tengah tiupan angin kencang yang berhawa
sangat dingin itu.
Dengan termangu-mangu Phoa Ceng Yan memandang
ke arah lenyapnya bayangan tubuh Pauw Cing, akhirnya
menghela napas panjang.
“Heeei… sungguh cepat benar gerakan tubuhnya.”
“Thian Tee Siang Liong dari perkumpulan Kay Pang
disebut orang sebagai jago-jago muda yang sangat
cemerlang pada saat ini, sudah tentu kelihayan mereka
sangat luar biasa. Ilmu meringankan tubuh dari Thian
Liong boleh dikata sudah mencapai pada taraf
kesempurnaan,” kata Nyoo Su Jan perlahan.

290
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Heeei….! Kalau begitu aku memang sudah rada tua!”


seru Phoa Ceng Yan sembari mengelus jenggotnya yang
terurai sepanjang dada.
“Akh…..! Tidak, Jie-ya masih gagah……” sambung
Nyoo Su Jan dengan cepat.
Setelah merandek sejenak, ia menyambung kembali
dengan pembicaraan yang lain.
“Orang-orang Kay Pang selamanya tidak pernah turun
tangan membegal barang, jikalau tidak berbohong maka
beberapa patah perkataannya itu boleh dipercaya
beberapa bagian.”
“Bila kita pikirkan peristiwa ini secara lebih teliti maka
dalam hati kita akan menemukan kalau persoalan ini
bukan semudah dan segampang seperti pikiran kita
semua, oleh karena itu kita tak boleh seratus persen
percaya, pun tidak boleh tidak percaya, yang aneh lagi,
selama ini secara diam-diam Loolap selalu
memperhatikan gerak-gerik dari Liauw Thayjien dan aku
merasa dia tidak mirip seperti seorang bersifat jahat,
dengan mengandalkan pengalamanku selama puluhan
tahun lamanya, tidak bisa dikatakan bila sedikit titik
terangpun tak berhasil aku dapatkan.”
“Jie-ya!” Nyoo Su Jan mendehem perlahan. “Aku rasa
ada seharusnya kau pergi membicarakan persoalan ini
dengan Liauw Thayjien, kita harus mengetahui dulu
dengan jelas persoalan ini kemudia baru mengambil
keputusan.”
“Menurut penelitianku selama beberapa hari ini,
agaknya Liauw Thayjien tidak punya rahasia yang
disimpan lagi, kecuali dia sebagai seorang pembesar
negeri berhasil mengelabui sepasang mataku.”

291
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jadi maksud Jie-ya Liauw Thayjien sudah


menceritakan seluruh persoalan yang dipahami serta
dimengerti olehnya kepadamu?”
“Sedikitpun tidak salah! Loolap rasa ia sudah tidak ada
persoalan lagi yang dirahasiakan, jikalau dari pihak
keluarga Liauw benar-benar masih memiliki sesuatu
rahasia maka Loolap berani memastikan bila Liauw
Thayjien tentu tidak tahu menahu ….”
Mendadak ia memperendah suara ujarnya.
“Saat ini kita sudah mengetahui bila di balik lukisan
pengangon kambing masih terdapat lukisan lain, dan apa
yang sebetulnya tersimpan di dalam rahasia ini kita
masih belum mengetahui semua, urusan inipun Liauw
Thayjien yang beritahukan kepadaku. Kini satu-satunya
harapan kita adalah semoga saja Cong Piauw-tauw bisa
cepat-cepat datang kemari, mengandalkan kecerdikannya
kemungkinan sekali dengan sangat mudah ia akan
berhasil memecahkan rahasia ini.”
“Jie-ya! Agaknya rasa curigamu terhadap nona Liauw
sudah lenyap tak berbekas?” tegur Nyoo Su Jan.
“Walaupun nona Liauw memang patut dicurigai, tetapi
menurut penglihatanku sudah mengalami perubahan
yang amat banyak.”
“Mengalami perubahan apa saja?”
“Kemungkinan nona Liauw memiliki kepandaian ilmu
silat yang sangat tinggi semakin lama semakin kecil, kini
peristiwa yang paling sukar untuk dipecahkan adalah
mengenai terpukul mundurnya Lam Thian Sam Sah serta
si Hoa Hoa Kongcu sehingga melarikan diri terbirit-birit!”
“Peristiwa ini memang sangat mengherankan sekali,
mengapa Lam Thian Sam Sah serta Ke Giok Lang dapat
menemukan tanda-tanda tersebut sebaliknya kita orang
tak berhasil menemuinya?”

292
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Justru disinilah terletak bagian yang tak kupahami!”


“Jie-ya!” seru Nyoo Piauw-tauw kembali. “Kini urusan
sudah mirip dengan anak panah di atas busur,
bagaimanapun harus dilepaskan juga. Lebih baik secara
terus terang dan terbuka kau orang langsung
menanyakan persoalan ini kepada Liauw Thayjien, jikalau
Liauw Thayjien tidak dapat memberi keterangan maka
kita langsung pergi mencari nona Liauw, jikalau inipun
akhirnya tak berhasil mendapatkan sesuatu, agaknya
jauh lebih baik daripada kita berpeluk tangan saja. Entah
bagaimana kalau menurut pendapat Jie-ya?”
“Perkataanmu memang benar” Phoa Ceng Yan
mengangguk. “Baiklah, biar aku pergi membicarakan
persoalan ini sekali lagi dengan Liauw Thayjien.”
Perlahan-lahan Nyoo Su Jan mendehem ringan.
“Jie-ya, kapan kita hendak berangkat??” tanyanya.
“Menurut Jie-ya lebih baik kita melanjutkan perjalanan
ataukah tinggal di sini saja sambil menanti kedatangan
dari Cong Piauw-tauw.”
“Bagaimana dengan keadaan tempat ini? rasanya
bagus atau jelek??”
“Menurut penglihatan hamba, orang-orang Kay Pang
tak akan membohong terutama sekali Thian Tee Siang
Liong yang sudah memiliki nama sangat cemerlang di
dunia kangouw, sudah tentu mereka tak bakal bicara
sembarangan, hamba sudah melakukan suatu
pemeriksaan yang amat teliti di sekeliling tempat ini,
empat penjuru merupakan tanah kosong hal ini lebih
mempermudah penjagaan, bahkan seluas beberapa lie
tak kelihatan sebuah rumah penduduk, tempatnya pun
cukup tenang dan bersih, bilamana kita sudah
mengambil keputusan untuk menunggu kedatangan
Cong Piauw-tauw, aku rasa lebih baik nunggu di sini saja

293
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karena rasanya jauh lebih aman daripada kita


melanjutkan perjalanan.”
“Hhmmm…….! Perkataanmu memang sangat cengli!”
“Jie-ya! Kau pergilah membicarakan persoalan ini
sekali lagi dengan Liauw Thayjien, jikalau mereka setuju
untuk menunggu di sini maka hamba harus melakukan
suatu penjagaan yang lebih teliti, dan akupun harus
meninggalkan tanda-tanda rahasia sekeliling tempat ini.”
Phoa Ceng Yan segera termenung berpikir keras,
akhirnya ia menganggap hanya cara inilah yang paling
aman, karena itu sahutnya kemudian.
“Baiklah! Biar aku pergi membicarakan persoalan ini
dengan Liauw Thayjien, cuma saat ini hampir mendekati
tutupan tahun, pekerjaan COng Piauw-tauw sangat
repot, dapatkah dia orang datang kemari hal ini masih
merupakan suatu tanda tanya?”
“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati, jikalau pengawalan
barang kali ini bukan ditangani oleh Jie-ya sendiri,
dapatkah COng Piauw-tauw datang kemari sukar untuk
dibicarakan, kini kecuali COng Piauw-tauw berangkat
sendiri rasanya di dalam piauw-kiok sudah tak ada orang
yang bisa dikirim lagi….”
Phoa Ceng Yan mendehem ringan.
“Tapi sekalipun COng Piauw-tauw datang sendiripun
paling tidak dua tiga hari kemudian baru bisa tiba di sini,
ia memliki seekor kuda jempolan.”
“Jie-ya!” seru Nyoo Su Jan dengan serius. “Asalkan
kau sudah mengambil keputusan hendak tinggal di sini
maka Liauw Thayjien bagaimanapun bisa dipaksakan
untuk menurut. Sekalipun hendak melewati tahun baru di
kota Kay Hong merupakan suatu kejadian yang penting
tetapi aku rasa nyawa mereka jauh lebih penting
daripada hal ini, asalkan Jie-ya bisa mengambil

294
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keputusan yang kukuh dan tegas rasanya Liauw Thayjien


pun tak akan bisa berbuat apa-apa.”
“Tetapi…. soal ini rasanya kurang baik!”
“Kita kukuh hendak tetap tinggal di sini kesemuanya
demi kebaikan keluarga Liauw, hamba telah melakukan
pemeriksaan di sekeliling tempat ini, kurang lebih
beberapa lie di sekitar kuil ini tidak kelihatan rumah
penduduk, jikalau kita bisa mengatur penjagaan yang
tepat, maka peduli siapapun akan sulit untuk
menyelundup masuk kemari. Baiklah! Biar aku pergi
melakukan pemeriksaan sekali lagi.”
Agaknya secara mendadak Phoa Ceng Yan teringat
akan suatu persoalan yang sangat penting, tiba-tiba
bisiknya.
“Su Jan! Kalian membawa kotak alat rahasia anak-
anak panah tidak.?”
“Kita membawa dua buah!” Nyoo Su Jan tertawa.
“Sesudah memiliki dua buah kotak anak-anak panah
berantai maka berarti pula kita mempunyai kekuatan
seperti dua puluh orang ahli ahli panah, jumlah kita tidak
banyak, benda tersebut sangat membantu kita di dalam
menghadapi serangan musuh.”
“Mungkin sekali pada saat ini Liauw Thayjien masih
beristirahat,” ujar Nyoo Su Jan kembali sambil
memandang cuaca. “Jie-ya! Kaupun semalaman tidak
tidur, aku rasa di tengah siang hari bolong mereka tak
bakal memperlihatkan gerakan apa-apa, apalagi mereka
pun tidak bakal menduga bila secara mendadak kita
berhenti di dalam kuil ini. Kau orang tua boleh
beristirahat sebentar di dalam kamar, aku mau pergi
mengatur mereka sekalian mempersiapkan makanan,
paling sedikit kita harus mempersiapkan diri untuk tinggal
di sini selama empat-lima hari lamanya.”

295
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Baiklah! Untuk sementara kita mempersiapkan diri


seperti itu, tetapi jikalau dapat melanjutkan perjalanan
sudah tentu jauh lebih baik kita buru-buru berangkat.”
Nyoo Su Jan tidak berbicara lagi, segera ia putar
badan berlalu.
Para anak buah perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
pada saat ini mulai ribut bekerja kembali untuk
menurunkan barang-barang yang ada di kereta,
membereskan kuda-kuda dan mengadakan persiapan-
persiapan seperlunya guna menghadapi serbuan musuh.
Nyoo Su Jan sesudah memberi pesan kepada anak
buahnya, dengan membawa Thio Toa Hauw serta Lie
Giok Liong masing-masing menunggang seekor kuda
perlahan-lahan berangkat menuju keluar kuil.
Ketika itu Phoa Ceng Yan telah kembali ke dalam
kamar, dari jendela ia dapat melihat Nyoo Su Jan dengan
membawa Lie Giok Liong serta Thio Toa Hauw berangkat
meninggalkan tempat itu, walaupun di dalam hati
kepingin sekali ia berteriak tetapi akhirnya ia paksakan
diri untuk tutup mulutnya.
Terlihatlah ketiga orang itu bagaikan kilat cepatnya
melarikan kudanya ke depan, hanya di dalam sekejap
saja telah lenyap tak berbekas di balik permukaan salju
nan putih.
Sebenarnya dengan meminjam kesempatan ini Phoa
Ceng Yan hendak beristirahat sebentar, tetapi teringat
mereka bertiga sudah pergi dan di dalam kuil pada saat
ini tinggal Ih Coen beserta beberapa orang pembantu
saja, hatinya mana mungkin bisa lega?. Akhirnya ia
berjalan keluar meninggalkan ruangan dan meloncat naik
ke atas kuil.
Pada waktu itu salju sudah berhenti, tetapi awan
hitam masih menutupi seluruh angkasa dengan begitu

296
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tebal, bila ditinjau keadaannya mungkin tak bakal


menjadi terang dalam beberapa saat.
Perasaan hati Phoa Ceng Yan pun seperti halnya awan
hitam tersebut, terasa amat gundah berat penuh dengan
kemurungan dan kesedihan.
Ia sudah bekerja sebagai Piauw-tauw selama dua
puluh tahun lamanya, telah menjelajahi hampir seluruh
daerah utara maupun daerah selatan, pernah menemui
berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus macam peristiwa
semacam ini.
“Berpuluh-puluh orang jago-jago Liok-lim secara diam-
diam mengincar mereka dan menanti saat yang bagus
untuk turun tangan, tetapi sungguh aneh sekali jagoan
lihay semacam Hoa Hoa Kongcu yang begitu terkenal,
setelah hampir berhasil mencapai tujuannya lepas tangan
di tengah jalan?
Kejadian yang aneh benar-benar terlalu banyak,
perubahan-perubahan yang ada diluar dugaan dan sukar
ditebak.
Dengan paksakan diri menekan perasaan murung
tersebut perlahan Phoa Ceng Yan menyapu sekejap ke
sekeliling tempat itu.
Terlihatlah di atas permukaan tanah yang dilapisi salju
nan putih kelihatan begitu sunyi hening dan kosong sama
sekali tidak kelihatan tanda-tanda yang mencurigakan.
Setelah dirasanya tiada hal-hal yang patut dicurigai, si
orang tua itu baru melayang kembali ke atas permukaan
tanah.
Pada saat itu Ih Coen sedang memberi petunjuk
kepada pembantu-pembantu perusahaan untuk
menghela kereta-kereta serta kuda-kuda masuk ke dalam
ruangan kuil.

297
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan pandangan tawar Phoa Ceng Yan


memperhatikan mereka bekerja, kecuali sebagai bekerja
memindahkan barang-barang kereta serta kuda ternyata
Ih Coen cukup pandai juga, ia membagi dua kelompok
rombongan tersebut satu bagian bekerja bagian yang
lain beristirahat.
Menanti semua pekerjaan telah selesai, si telapak besi
bergelang emas baru kembali ke dalam kamarnya untuk
beristirahat sejenak.
Ia hendak berpikir secara tenang tindakan apa yang
harus diambil untuk menghadapi kejadian yang amat
kacau ini.
Mendadak………
Suara deheman ringan bergema datang diikuti
terbukanya pintu kamar.
“Phoa-ya!” tegur orang itu yang kiranya bukan lain
adalah Liauw Thayjien. “He-koan melihat kuda maupun
kereta belum dipersiapkan, agaknya kalian tidak ada
maksud untuk melanjutkan perjalanan.”
“Thayjien, mari duduklah, kita bicarakan persoalan ini
perlagan-lahan,” kata Phoa Ceng Yan sambil menepuk
sebatang kayi di sisinya.
Liauw Thayjien segera mengerutkan alisnya, tetapi ia
menurut dan duduk juga ditempat yang diberikan
kepadanya.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, kau ada persoalan apa
lagi yang hendak dibicarakan denganku?”
“Setelah Loolap pertimbangkan secara masak-masak,
maka aku rasa tetap tinggal di sini jauh lebih aman dari
pada harus berangkat melanjutkan perjalanan.”
Selesai mendengar perkataan tersebut, kontas saja
Liauw Thayjien dibuat melengak.

298
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jadi Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah mengambil


keputusan untuk tetap tinggal di kuil ini dan
membatalkan perjalanan??….” serunya
Menutut perasaan Loolap jikalau paksakan diri untuk
melanjutkan perjalanan, kemungkinan besar kita semua
bakal terjatuh ke dalam perangkap orang lain.”
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Aku ingin minta
keterangan tentang satu hal?” seru Liauw Thayjien
kemudian dengan air muka berubah sangat hebat.
“Tidak berani……tidak berani, jikalau Thayjien ada
perkataan silahkan diutarakan secara terus terang.
Loolap tentu akan pentang telinga lebar-lebar untuk
mendengarkan.”
“Aku pernah mendengar di dalam pekerjaan mengawal
barang terdapat satu peraturan! Sekarang aku mau
bertanya, di dalam perjalanan kali ini hendak menginap
atau melanjutkan perjalanan sebetulnya ditentukan oleh
sang langganan ataukah oleh Piauw-tauw sendiri?”
“Sudah tentu ditentukan oleh sang langganan.” ujar
Phoa Ceng Yan.
“Kalau begitu maka sekarang He-koan hendak
menegur kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw untuk segera
melanjutkan perjalanan.”
“Thayjien!” perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mendongak
ke atas dan memandang sekejap ke arah Liauw Thayjien.
“Sampai sekarang Loolap masih tidak paham sebenarnya
kau ada urusan apakah sehingga begitu tergesa-gesa
ingin melanjutkan perjalanan dan memastikan diri
sebelum Tahun baru harus tiba di kota Kay Hong? Hal ini
menyangkut mati hidup kalian sekeluarga, apakah kalian
hendak menempuh bahaya hanya dikarenakan ingin
cepat-cepat tiba di tempat tujuan?”

299
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Heeei…..! Sebaliknya bilamana betul-betul ada orang


yang hendak turun tangan membegal barang kawalan
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, sekalipun
kita bertahan di dalam kuil inipun apakah mereka tak
bisa datang kemari?” bantah Liauw Thayjien sembari
menghela napas panjang.
“Tentang soal ini Loolap sudah mengadakan
persiapan-persiapan yang teliti, sekeliling kuil ini
merupakan sebuah tanah kaoang yang luas dan mudah
dijaga apalagi berhentinya kita di tempat inipun akan
membuat mereka kebingungan dan merasa ada di luar
dugaan. Menantu mereka sadar akan persoalan ini dan
datang kemari untuk mencari gara-gara, maka kita sudah
cukup waktu untuk mengatur persiapan menghadapi
mereka.”
“He-koan masih tidak memahami akan satu persoalan,
sebetulnya kalian hendak mengatur persiapan apa lagi?
jika benar-benar hendak mengatur persiapan bukankah
menjaga di sini atau melanjutkan perjalanan adalah sama
saja?”
“Thayjien! Lebih baik Loolap memberi penjelasan yang
lebih terang lagi kepadamu, di depan sana pihak musuh
telah memasang jebakan yang menanti kita orang untuk
masuk perangkap, karena kita tak boleh pergi ke sana.
Yang dimaksudkan dengan mengadakan persiapan-
persiapan lain adalah menanti kedatangan dari Cong
Piauw-tauw kami datang kemari, karena aku merasa
bahwa peristiwa yang terjadi kali ini sangat aneh sekali
dan terdapat banyak perubahan bahkan sangat
menyimpang dari keadaan biasanya maka Loolap sudah
merasakan bahwa beban seberat ini tak mungkin dapat
dipikul lagi oleh diriku seorang diri, karena itu peristiwa
ini sudah aku laporkan kepada Cong Piauw-tauw kami.”

300
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perjalanan kesana lalu kembali lagi ke sini paling


sedikit membutuhkan waktu dua puluh hari lamanya, kita
tak bisa tinggal terus di dalam kuil ini.”
“Kita mengirim kabar tersebut dengan menggunakan
burung merpati…………”
“Tetapi Cong Piauw-tauw kalian tak mungkin bisa
tumbuh sayap untuk terbang kemari,” sambung Liauw
Thayjien dengan cepat.
“Walaupun Cong Piauw-tauw kami tak dapat terbang
kemari seperti burung tetapi ia memiliki seekor kuda
jempolan yang dalam satu hari bisa melakukan
perjalanan sejauh ribuan lie, jika melakukan perjalanan di
malam hari bisa mencapai delapan ratus lie, semisalnya
ia berangkat kemari maka hanya di dalam dua-tiga hari
saja akan tiba disini.”
“Sekali-pun perhitungan kalian memang cengli tetapi
karena kalian maka urusanku jadi terbengkalai.”
“Thayjien, saat ini merupakan saat-saat kritis yang
menyangkut mati hidup kita semua, bilamana Thayjien
mempunyai rahasia lain-nya aku rasa tak usah
disembunyikan di dalam hati lagi.”
“Rahasia ini merupakan persoalan pribadi dari
keluarga Liauw kami, hal ini sama sekali tiada sangkut
pautnya dengan kalian orang-orang kangouw.”
“Aaackh!bagus sekali” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan
di dalam hatinya. “Kendati kau orang licik bagaimanapun
akhirnya kena aku desak juga.”
Walaupun di dalam hati ia berpikir demikian tetapi
diluaran ia tetap menjawab dengan keren.
“Thayjien! Kemungkinan sekali kau merasa bahwa
persoalan pribadimu itu tiada sangkut pautnya dengan
kami orang-orang dunia kangouw, tetapi secara tidak kau
sadari, persoalan tersebut sudah menyeret kalain ke

301
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam pertikaian yang terjadi di dalam Bu-lim.”

“Kau tidak usah berpikir yang bukan-bukan, urusan ini


sama sekali tiada sangkut pautnya dengan orang-orang
dunia kangouw bahkan terseret sedikitpun tidak.”
“Kalau memang demikian adanya, mengapa Thayjien
tidak suka menjelaskan kepada kami.”
“Harus diberitahukan?”
“Cayhe rasa urusan ini paling sedikit ada keuntungan
dan tiada ruginya.”
“Baiklah! He-koan akan menjelaskan persoalan ini
kepadamu, cuma saja….heeeei….kalian orang-orang Bu-
lim benar-benar terlalu banyak menaruh curiga.”
“Kelicikan serta bahayanya dunian kangouw sangat
besar sekali, Thayjien harap suka memaafkan
kelancanganku ini”.
“Siauw-li sejak kecil sudah dijodohkan dengan orang
lain, tidak beruntung calon suaminya telah menderita
penyakit yang sangat berat, menurut perkataan dari para
tabib-tabib lihay umurnya tak mungkin bisa melewati
akhir tahun ini, He-koan yang sudah mengabulkan
pinangan mereka tempo dulu sudah tentu harus buru-
buru berangkat ke kota Kay Hong sebelum akhir tahun
ini, bilamana terlambat aku takut perkawinan putriku
akan menemui kegagalan.”
Phoa Ceng Yan yang mendengar kisah tersebut hanya
bisa berdiri mendelong, untuk beberapa saat lamanya ia
tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, peristiwa ini
memang benar-benar tiada sangkut pautnya dengan
kejadian di dalam dunia kangouw apalagi terkait di dalam
hubungannya dengan orang-orang kangouw.
‘Phoa Hu Cong Piauw-tauw, kau ingin bertanya lagi?”
Liauw Thayjien mendehem perlahan.

302
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Soal ini…..soal ini……cayhe rasa tiada pentingnya


untuk ditanyakan lagi.”
Perlahan-lahan Liauw Thayjien mendongakkan
kepalanya memandang keadaan cuaca di luar ruangan,
ujarnya kemudian.
“Walaupun salju sudah berhenti, tetapi awan masih
menyelimuti seluruh angkasa. Jika dilihat dari keadaan ini
aku takut ini hari tak mungkin bisa menjadi terang
kembali.”
“Musim dingin tiba, salju sudah tentu bakal turun
sepanjang bulan, kereta serta kuda-kuda kami
merupakan kuda-kuda pilihan yang kuat dan dapat
bertahan terhadap hawa dingin yang menyerang.
Sekalipun hujan salju turun secara bagaimana derasnya
tak bakal mempengaruhi perjalanan kita. Tetapi tujuan
kita berhenti di dalam kuil ini sama sekali bukan sedang
meneduh terhadap curahan hujan salju, melainkan
keadaan kita sangat berbahaya, sedikit kurang berhati-
hati saja, kita bakal terjatuh ke dalam jebakan orang
lain.”

Jilid 9

“Hmmmm! Sungguh tidak kusangka perusahaan Liong


Wie Piauw-kiok yang namanya terkenal di seluruh dunia
kangouw ternyata bisa dipermainkan orang lain,
heee…heee…. kelihatannya berita yang tersiar di dalam
dunia kangouw tak boleh dipercaya penuh,” jengek
Liauw Thayjien dingin.

303
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Thayjien! Bila kau putuskan pasti hendak berangkat


sekarang juga cayhe sekalipun bukannya tidak berani
melanjutkan perjalanan, kita adalah orang-orang yang
mencari sesuap nasi dengan menjual nyawa, boleh dikata
nyawa kami sebenarnya sama sekali tak berharga. Justru
maksud cayhe ngotot hendak tetap tinggal di dalam kuil
ini tujuannya tidak lain karena takut keluarga Liauw
kalian kena dicelakai orang, coba Thayjien pikirlah secara
teliti! Semisalnya kau memang berkeinginan keras untuk
melanjutkan perjalanan, cayhe segera akan perintahkan
mereka untuk mempersiapkan kereta.”

“Heeeei…. kita akan berdiam berapa lama di sini??.”

“Menunggu setelah Cong Piauw-tauw kami tiba!”

Jelas ia sudah kena dibuat jera oleh perkataan Phoa


Ceng Yan yang amat tajam serta lihay itu.

“Tadi cayhe sudah katakan, Cong Piauw-tauw kami


memiliki seekor kuda jempolan, di dalam tiga-lima hari
kemudian tentu sudah tiba di sini!” sambung Phoa Ceng
Yan lebih lanjut.

“Setelah Cong Piauw-tauw kalian tiba maka tak usah


takuti mereka lagi?”

“Boleh dibilang demikian! Maka dari itu dia bisa


menduduki jabatan sebagai Cong Piauw-tauw sedang
cayhe cuma mendapat bagian Hu Cong Piauw-tauw
saja.”

304
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jadi maksudmu setelah berdiam tiga hari kita dapat


berangkat kembali?” tanya Liauw Thayjien kembali.

“Sedikitpun tidak salah! Jika memang terlambat maka


tidak akan melewati lima hari.”

Akhirnya Liauw Thayjien menghembuskan napas


panjang.

“Kecuali He-koan suami isteri ngambek dan tidak


perduli orang-orang perusahaan Piauw-kiok kalian lagi
untuk melakukan perjalanan sendiri, rasanya pasti sulit
juga untuk menundukkan kau Phoa Hu Cong Piauw-
tauw” katanya.

“Thayjien! Aku orang she Phoa cuma seorang yang


kasar, tidak terlalu banyak bersekolah, tetapi aku masih
tahu bila menjadi seorang manusia tak boleh terlalu
mementingkan diri sendiri. Demi keselamatan dari kalian
keluarga Liauw serta untuk menjaga merek emas dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok selama dua puluh
tahun ini, terpaksa aku orang she Phoa tak dapat
menempuh bahaya…”

“Heee…..heee….heee…. kami membayar ongkos


mahal agar perusahaan kalian suka mengawal kami,
tidak disangka semua gerak gerik serta perbuatan kami
harus mendengar keputusan dari kalian, hal ini benar-
benar menjengkelkan sekali,” sindir Liauw Thayjien
tertawa dingin tiada hentinya.

Buru-buru Phoa Ceng Yan merangkap tangannya


menjura, “Thayjien! Harap kau orang suka memaafkan

305
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelancangan kami ini” ujarnya sambil tertawa.


“Menghadapi situasi seperti ini sekalipun thayjien harus
memaki dan menyalahkan aku orang she Phoa, biarlah
aku terima di hati saja. Cuma saja bilamana thayjien
suka menjelaskan alamat dari calon Besanmu itu, kami
dapat mencarikan akal untuk menghantar surat tersebut
ke kota Kay Hong. Di kota Kay Hong sana perusahaan
kamipun punya sebuah kantor cabang, biarlah mereka
yanga hantarkan surat tersebut kepadanya.”

“Kalian hendak kirim dengan apa?”

“Burung merpati! Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok


kami punya sejumlah burung-burung merpati yang
sangat terlatih dan sering digunakan untuk mengirim
berita antara markas dengan kantor cabang, jika thayjien
hendak menyampaikan surat kepada calon besanmu kita
dapat menggunakan burung merpati untuk mengirimnya
ke kantor cabang kami, kemudian dari sana akan
memerintahkan seseorang untuk menyampaikan surat
tersebut ke tempat tujuan.”

“Sekarang kalian masih ada burung merpati itu?”

“Masih ada seekor burung yang terbaik.”

“Baiklah, biar aku pergi membuat sepucuk surat


kemudian biar burung merpati dari perusahaan kalian
mengirimnya ke kota Kay Hong.”

“Thayjien! Ditengah cuaca yang demikian dingin serta


berangin kencang, lebih baik kau orang menggunakan
kertas surat yang tipis dan ringan.”

306
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ehm! Memang jangan sampai burung tersebut


merasa terlalu berat!” Liauw Thayjien mengangguk.

Ia lantas bangun berdiri dan meninggalkan ruangan


tersebut.

Phoa Ceng Yan pun dengan mengikuti Liauw Thayjien


berjalan keluar dari ruangan itu.

Pada waktu itu terlihatlah beberapa orang pembantu


sedang membersihkan halaman dari tumpukan salju,
dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat naik ke
atas atap rumah kemudian dari sana memandang ke
empat penjuru.

Dari sana ia melayang keluar dari kuil untuk


melakukan pemeriksaan sekali lagi dengan teliti, setelah
itu dengan langkah lambat-lambat baru berjalan kembali
ke dalam ruangan.

Pada saat ia hendak memasuki pintu kuil itulah,


mendadak terdengar suara derapan kaki kuda
berkumandang datang memecahkan kesunyian yang
mencekam sekeliling tempat itu.

Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya tergetar


keras, tubuhnya dengan cepat berputar memandang ke
arah luar.

Tampaklah seekor kuda warna putih bagaikan anak


panah yang terlepas dari busurnya dengan cepat

307
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berlarimendekat, di atas punggung kuda tersebut


terdapatlah sesosok tubuh manusia.

Warna putih kuda itu amat mulus dan tiada bedanya


dengan permukaan salju, dari atas hingga ke bawah
sama sekali tidak kelihatan sedikit titik hitampun.

Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang,


setelah berdiri tegak mendadak bentaknya keras,
“Berhenti! Jika kau orang tidak menghentikan lagi larinya
kudamu itu, jangan salahkan aku orang she Phoa akan
turun tangan terhadap dirimu.”

Di tengah suara bentakan yang amat keras itulah,


mendadak kuda putih tersebut berhenti berlari, sedang
orang yang tertelungkup di atas punggung kuda tersebut
mendadak dongakkan kepalanya, mengayunkan tangan
kirinya dan berkemak kemik.

Belum sempat sepatah kata meluncur keluar,


tubuhnya tahu-tahu sudah terjatuh ke atas tanah dengan
menimbulkan suara yang amat gaduh.

Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan melengak, selagi


ia hendak berjalan mendekati orang itu untuk memeriksa
keadaan yang sebetulnya, mendadak terdengarlah kuda
putih itu meringkik panjang lututnya tahu tahu ditekuk
dan berlutut di hadapan tubuh orang tersebut.

“Aaaakh….! Kiranya seekor kuda jempolan yang


sangat menarik hati.”

308
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jika dilihat dari sikap kuda tadi, kelihatan sekali bila ia


menaruh rasa sangat hormat terhadap majikannya.

Dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan segera berjalan


ke depan tubuh orang itu dan membopong tubuh dari
atas tanah.

Tampaklah paras muka orang itu sudah berubah jadi


hijau membesi, jelas ia sudah kena terbokong oleh
senjata rahasia.

Kendati Phoa Ceng Yan sendiripun sedang berada di


dalam keadaan berbahaya, tetapi teringat bahwa
menolong orang merupakan suatu kejadian yang sangat
penting tanpa berpikir panjang lagi ia segera
membopong tubuh orang itu dan dengan langkah
terburu-buru kembali kedalam kuil.

Beberapa orang lelaki yang ada di tengah halaman


sejak tadi sudah mendengar suara jeritan tertahan dari
Phoa Ceng Yan, melihat dia orang membopong orang itu
sambil berlari masuk ke dalam kamar, mereka lantas
tahu jika si orang tua itu sedang menolong orang
tersebut.

Tanpa berpikir panjang lagi orang yang berada di


sebelah kiri lari keluar kuil dengan mulut membungkam,
secara sadar ia bertindak sendiri sebagai pengawas
keadaan, yang mengawasi apakah dari belakang ada
orang yang melakukan pengejaran atau tidak.

309
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sedangkan orang yang ada di sebelah kanan bersama-


sama dengan Phoa Ceng Yan lari masuk ke dalam
ruangan.

Membuka perusahaan mengawal barang paling mudah


mendapat keuntungan, tapi peraturanpun paling ketat,
sang pembantu tersebut setibanya di depan pintu
ruangan ternyata tidak berani melanjutkan kembali
langkahnya.

Yang paling aneh adalah kuda putih yang tinggi besar


itu, ia mengikuti dari belakang Phoa Ceng Yan dan
berjalan masuk ke dalam ruangan kuil, kemudian sambil
tundukkan kepala menanti di samping.

Melihat kebagusan serta kegagahan kuda putih


tersebut, rata-rat para pembantu piauw-kiok pada
dongakkan kepalanya seraya memuji.

“Kuda bagus! Kuda bagus! Sekalipun kuda jempolan


Hwee Liong Ci dari Cong Piauw-tauw yang bisa
melakukan perjalanan seribu lie dalam seharipun susah
untuk menandinginya.”

Haruslah diketahui kebanyakan orang Bu Lim setelah


melihat pedang bagus atau kuda bagus rata-rata
menunjukkan rasa suka, para pembantu piauw-kiok ini
walaupun bukan termasuk jago-jago kangouw tetapi
karena sudah banyak tahun berkelana di dalam Bu-lim
sambil mengawal barang. Pengetahuan mereka
bertambah luas, ketajaman mata melebihi siapapun,
sebab itu mereka mengetahui jika kuda tersebut kuda
jempolan.

310
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kita balik pada Phoa Ceng Yan, di mana orang setelah


tiba di dalam kamar segera meletakkan orang itu di
samping api unggun yang belum padam, hawa hangat
menyamankan suasana, kemudian diperiksa badan orang
tadi dengan teliti.

Dilihatnya orang itu adalah seorang pemuda tampan


yang baru berusia delapan sembilan belasan tahun, ia
memakai celana warna hitam dengan jubah biru berikat
kepala warna biru dengan sepasang alis yang tebal,
berbadan kekar. Walaupun air mukanya pada saat ini
sudah berubah jadi hijau membesi tapi tak sampai
menutupi ketampanan wajahnya.

Phoa Ceng Yan yang melakukan pemeriksaan teliti di


tubuhnya tak berhasil menemukan tanda luka apapun, ia
segera balikkan badannya.

Terlihatlah di atas jalan darah “Hong Hu” di belakang


pundaknya masih tersisa sedikit darah kering, hal ini
membuat si orang tua itu kerutkan kening.

“Sungguh suatu tindakan yang kejam!” pikirnya.


“Bukan saja senjata rahasia yang digunakan sangat
beracun bahkan menghajar pula tepat di atas jalan
darah, sekalipun badannya terbuat dari baja murnipun
tak akan bisa kuat menahan serangan tersebut.”

Walaupun pengetahuannya sangat luas, tapi iapun


hanya bisa membedakan bila pemuda tersebut kena
dilukai oleh sebangsa senjata rahasia yang amat kecil
dan sangat beracun, jari-jari tangannya segera

311
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikerahkan tenaga untuk merobek pakaian di atas


pundak.

Sedikitpun tidak salah, terlihatlah sebatang jarum ekor


walet yang amat lembut dan kecil masih kelihatan
tersundul diluar kulit.

jarum ekor walet yang tersundul keluar dari kulit


pundak itu memancarkan sinar kebiru-biruan, sekali
pandang sudah bisa ditentukan bila racun yang
dipoleskan di atas senjata rahasia tersebut benar-benar
sangat ganas.

Setelah melihat jelas bentuk senjata rahasia itu, Phoa


Ceng Yan baru kelihatan tertegun.

“Aaakh..! Senjata rahasia Yan Wie Tui Hun Ciam.”

“Apa itu senjata rahasia ekow walet pengejar sukma?”


mendadak terdengar suara Liauw thayjien menyambung.

Phoa Ceng Yan berpaling, tampak Liauw Thayjien


dengan langkah lambat sedang bertindak masuk ke
dalam ruangan.

Ia lantas tertawa getir.

“Senjata rahasia ekor walet pengejar sukma adalah


semacam senjata rahasia yang amat beracun, asalkan
menembusi badan pasti akan membinasakan, racunnya
sangat luar biasa.”

312
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu Liauw Thayjien barusan dapat melihat jelas


bila diatas tanah menggeletak seseorang.

“Maksudmu orang ini sudah terkena hajaran senjata


rahasia Yen Wie Tui Hun Ciam tersebut?”

“Tidak salah.” Phoa Ceng Yan manggut.

“Phoa-ya! Cepat cabut keluar senjata beracun tersebut


dari atas pundaknya!” seru Liauw Thayjien sambil
melangkah mendekat dan menengok sekejap ke arah
pemuda tersebut.

Kembali Phoa Ceng Yan tertawa getir dan


menggeleng.

“Racun ganas yang terpoles di atas jarum pencabut


nyawa ini sangat luar biasa, kecuali menggunakan obat
pemunah manungal dari si penyambit senjata rahasia,
orang lain tak bakal bisa bantu memunahkannya, bila
aku cabut keluar jarum beracun itu dari pundaknya maka
kemungkinan besar pemuda ini bakal lebih cepat
menemui ajalnya.”

“Tapi kitapun tak bisa berpeluk tangan melihat orang


lain menjelang sekarat!”

“Bilamana aku orang tiada bermaksud untuk menolong


dirinya, akupun tak akan membopong dirinya msuk ke
dalam kuil.”

Liauw Thay jien menghela napas panjang.

313
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika kita tidak bantu dirinya mencabut keluar senjata


beracun itu, bukankah sebentar lagi ia bakal mati?”

“Dugaan Thayjien salah besar, menurut apa yang


orang she Phoa ketahui, asalkan jarum beracun itu tidak
sampai tercabut maka kemungkinan besar nyawanya
bisa diperpanjang beberapa saat.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Sewaktu kau turun


tangan menolong dirinya apakah kau tidak tahu jika
pemuda ini sudah terhajar oleh senjata rahasia yang
sangat beracun?”

“Ehm! Akupun tidak tahu jika senjata rahasia yang


menghajar dirinya adalah jarum ekor walet pengejar
sukma.”

“Nyawa manusia sangat berharga, Phoa Hu Cong


Piauw-tauw, apa yang hendak kau lakukan saat ini?”

Mendengar pertanyaan itu, Phoa Ceng Yan jadi


melengak, tapi mengingat Liauw Thayjien adalah seorang
yang pernah menjabat sebagai pembesar maka tidak
aneh kalau nada ucapannya tidak terlepas dari nada
seorang pembesar walaupun sudah menghadapi
peristiwa macam begini.

Pikirannya segera berputar, beberapa saat kemudian


ia baru menyahut.

“Thayjie! Aku sendiripun tidak tahu semisalnya aku


tidak berhasil menolong hidup orang ini apakah hal
tersebut merupakan suatu perbuatan melanggar hukum

314
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atau tidak, tapi menurut peraturan dari dunia kangouw,


setiap kali kami menemui persoalan yang sangat
merepotkan, jikalau semisalnya aku tidak berhasil
menolong hidup dirinya maka akupun tidak usah ganti
nyawa sendiri, tapi kejadian yang sebenarnya kami harus
jelaskan kepada sanak keluarganya dan kepada
perguruannya pun aku harus memberikan suatu
pertanggungan jawab.”

“Setelah orang itu mati, kenapa tidak kalian laporkan


saja kepada kaum pembesar negeri?” kata Liauw
Thayjien.

“Dalam dunia kangouw terdapat peraturan dunia


kangouw yang harus kami taati, peristiwa ini sudah tentu
tidak perlu kami laporkan kepada kaum pembesar.”

“Tidak salah!” Liauw Thayjien mengangguk. “Kalian


sebagai orang kangouw memang memiliki cara
penyelesaian kalian sendiri.”

Ia menghela napas panjang.

“Hee-koan sudah selesai membuat surat!” tambahnya.

“Bagus! Kau serahkan saja kepadaku, akan kubantu


kirimkan surat ini sampai kealamatnya.”

Dari dalam sakunya Liauw Thayjien mengambil keluar


selembar kertas putih dan diangsurkan kepada si orang
tua itu.

315
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“He-koan sudah menurut nasehatmu, surat yang aku


tulis amat singkat sekali.”

“Thayjien boleh berlega hati, dalam satu dua hari ini


Besan dari thayjien tentu sudah menerima surat ini,” kata
Phoa Ceng Yan seraya menerima angsuran surat itu.

Perlahan lahan Liauw Thayjien mengalihkan sinar


matanya ke arah dada pemuda berbaju biru itu, ia
berbatuk batuk kering.

“Phoa-ya! He-koan menyimpan berbagai macam obat


mujarab yang dapat digunakan untuk memunahkan
racun-racun ganas tersebut, entah dapatkah obat-obat
itu digunakan buat ini?”

“Obat apa?”

“Sewaktu He-koan masih menjabat sebagai pembesar


di kota Tok-Hu pernah mendapat hadiah dari seorang
tabib kenamaan…”

Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu menggerakkan jari


tangannya dan menuding dada sendiri.

“Sungguh hebat lweekang yang dimiliki orang ini.”


diam-diam pikir Phoa Ceng Yan ketika melihat pemuda
tersebut menunjukkan suatu gerakan.”setelah terhajar
senjata rahasia beracun Yen Wie Tui Hun Ciam nyatanya
dalam waktu singkat ia bisa menggerakkan jari-jari
tangannya, sungguh suatu kejadian yang luar biasa!”

316
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berpikir akan persoalan itu, mendadak suatu ingatan


bagus berkelebat di dalam benaknya, dengan cepat ia
meraba dada pemuda berbaju biru itu.

Di mana jari-jari tangannya bergerak, si orang tua ini


dengan cepat meraba sebuah botol kumala di balik
sakunya.

Buru-buru Phoa Ceng Yan merogoh ke dalam saku


orang itu dan diambilnya keluar sebuah botol porselen.

Botol porselen itu panjangnya ada dua coen


danberwarna hijau bening, setelah membuka gabus
penutupnya mengelinding keluarlah dua butir pil.

Di dalam botol tersebut hanya terdapat dua butir pil,


satu warna hijau kemerah-merahan dan yang lain
berwarna putih keperak-perakan.

Phoa Ceng Yan letakkan kedua butir pil tersebut ke


telapak tangannya dan memandang benda itu dengan
terpesona, warna kedua butir pil itu tidak sama rasanya
penggunaannya sama sekali berbeda.

Ia mengetahui jelas maksud pemuda berbaju biru itu


menuding dada sendiri adalah minta ia mengambil keluar
botol porselen yang ada di dalam sakunya, tapi ia tidak
mengerti pil warna yang manakah merupakan obat
pemunah dari racun tersebut.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Apakah pil obat itu cukup


memberitahukan kepadamu maksud tujuannya menuding

317
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

botol porselen tersebut??” tanya Liauw Thayjien sembari


terbatuk-batuk.

“Dalam keadaan luka parah ia masih tidak melupakan


botol porselen yang disimpan dalam saku, sudah tentu
jelas sekali membuktikan bila isi dari botol porselen itu
adalah obat pemunah racun yang mujarab!”

“Dan kini di dalam botol tersebut semuanya terdapat


dua butir pil yang berlainan warnanya, salah sebutir
diantaranya tentu bukan merupakan obat pemunah
bukan?”

“Benar! Di antara kedua butir pil tersebut yang satu


adalah pil pemunah sedang yang lain bukan pil pemunah,
saat ini aku sendiripun susah untuk membedakan mana
yang pil pemunah dan mana yang bukan pil pemunah!”

“Perlahan-lahan Liauw Thayjien menghela napas


panjang.

“Heeei…! Jikalau kita tak berhasil membedakan butiran


pil yang mana adalah pil pemunah racun, sekalipun saat
ini kita miliki obat pemunah juga sama saja tak dapat
digunakan untuk menyelematkan jiwanya.

“Cara lain sih masih ada!” kata Phoa Ceng Yan setelah
termenung sebentar. “Tapi berhasil atau tidak masih
susah dibicarakan.”

“Apa caramu itu???”

318
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cabut dulu jarum Yen Wie Ciam yang menghajar


pada punggungnya, salurkan tenaga dalam akan kubantu
menyadarkan dirinya dari pingsan, kemudian biar ia
sendiri yang menunjukkan butiran pil mana adalah pil
pemunah racun!”

“Obat tersebut ia yang membawa sendiri, sudah tentu


pemuda tersebut dapat menentukan sendiri mana yang
merupakan pil pemunah racun!”

“Cuma cara inipun merupakan suatu tindakan sangat


berbahaya,” kata Phoa Ceng Yan kembali berat.

“Bagian mana yang kau maksud bahaya.”

“Jikalau aku tidak berhasil menyadarkan dirinya, maka


kita tak akan berhasil menyelamatkan jiwanya lagi.”

“Kecuali bertindak demikian, masih adakah cara-cara


yang kiranya dapat digunakan?.”

“Bilaman dibicarakan dalam situasi seperti ini, kecuali


cara tersebut rasanya tak ada cara lain lagi….”

Selagi mereka bercakap-cakap, Nyoo Su Jan dengan


membawa baki berisi makanan sudah berjalan masuk.

“Jie-ya, siapakah orang ini?” tanya Nyoo Su Jan sambil


meletakkan baku berisi makanan itu ke atas tanah.

“Aku sendiripun tidak tahu.” perlahan-lahan Phoa Ceng


Yan menggeleng. “Ia menunggang kuda dan kesasar

319
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sampai ke sini, sedang pemuda itu sendiri jatuh pingsan


karena terhajar senjata rahasia.”

Sinar mata Nyoo Su Jan dialihkan ke atas jarum


beracun Yen Wie Tui Hun Ciam yang masih melekat pada
punggungnya.

“Aaaakh! Ia sudah terhajar oleh jarum beracun Yen


Wie Tui Hun Ciam…..” serunya tiba-tiba dengan rasa
kaget.

“Tidak salah, bahkan kalau sudah tak ditolong lagi,


maka jiwanya bakal melayang.”

“Kuda putih yang berada di luar ruangan apakah kuda


tunggangannya??….“ kembali Nyoo Su Jan bertanya.

“Ehmmm! Jikalau kuda tunggangannya bukan seekor


kuda jempolan yang cerdik, mungkin ini hari jiwanya
sudah melayang.”

“Jadi Jie-ya mau menolong dirinya?”

“Benar, urusan sudah menjumpai diriku sudah tentu


aku harus berusaha keras…..”

“Jika ditinjau dari perubahan air mukanya, jelas ia


sudah keracunan hebat, bila tidak berhasil kita tolong
dirinya, maka kesulitan bakal menimpa diri kita.”

“Soal ini aku sendiripun tahu, jika kita tidak berhasil


menyelamatkan jiwa maka kerepotan bakal saling
berdatangan, dan bila kita berhasil menolong dirinya

320
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kerepotan tetap bakal datang. Sekarang urusan ini sudah


menjumpai kita, kalau memang apapun terjadi kita tetap
merasakn kerepotan, bukankah jauh lebih baik kita coba
dulu tolong orang itu. Kedatanganmu sungguh amat
bagus, coba perintahkan mereka perketat penjagaan,
mungkin satu dua jam ini aku tak bisa lepaskan diri
dalam ruangan, sebentar lagi aku mau turun tangan
menolong dirinya.”

Dirobeknya pakaian kulit kambing pada pundak


pemuda itu, lalu jari-jari tangan kanan mulai bekerja
mencabut keluar jarum beracun yang menghajar di atas
jalan darah “Hong Hu Hiat” pada pundak pemuda
berbaju biru itu, sedangkan tangan kirinya angsurkan pil
pemunah tadi ke tangan Liauw Thayjien.

Liauw Thayjien terima obat pemunah itu, Phoa Ceng


Yan lantas gunakan tangan kirinya membimbing bangun
pundak pemuda tersebut, telapak tangan ditempelkan ke
atas jalan darah “Ming Bun Hiat” pada punggung diam-
diam hawa murni disalurkan menerjang masuk ke isi
perutnya.

Liauw Thayjien yang belum pernah mencampurkan diri


dalam urusan dunia kangouw, ketika melihat Phoa Ceng
Yan tempelkan telapak kanannya ke atas punggung
pemuda berbaju biru itu dalam hati jadi keheranan.

“Eeei…. terhitung cara apakah ini? masa


menyembuhkan luka keracunan hanya dengan tempelkan
tangan ke atas punggung?”

321
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampaklah beberapa saat kemudian batok kepala


Phoa Ceng Yan mulai dibasahi oleh keringat yang makin
lama semakin deras bagaikan curahan hujan, dari ujung
kepala sampai bawah basah kuyup semua.

Melihat kejadian itu, Liauw Thayjien jadi semakin


terkejut bercampur keheranan.

“Phoa-ya, kau lelah?” tak tertahan lagi tanyanya.

Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang pusatkan seluruh


perhatian untuk paksa keluar racun dari dalam tubuh si
lelaku berbaju biru itu dengan kerahkan tenaga
lweekang, sudah tentu tak ada waktu baginya untuk
menjawab pertanyaan dari Liaw Thayjien.

Ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Liauw Thayjien yang melihat Phoa Ceng Yan tetap


duduk bersila sambil pejamkan mata, agaknya sama
sekali tidak mendengar pertanyaan, iapun tidak
mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Kembali lewat beberapa waktu, mendadak si orang


berbaju biru itu menghembuskan napas panjang,
perlahan-lahan ia membuka matanya.

Agaknya ketika itu Phoa Ceng Yan sudah kecapaian,


sesudah menghembuskan naoas ringan buru-buru
katanya.

“Liauw Thayjien, cepat tunjukkan pil itu kepadanya


dan suruh ia tunuk pil mana yang pemunah racun.”

322
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liauw Thayjien menurut, ia keluarkan telapak


tangannya dan menunjukkan kedua butir pil kepada sang
pemuda.

“Dia antara kedua butir ini mana yang merupakan pil


pemunah racun?”

“Pil berwarna putih keperak-perakan adalah pemunah


racun.”

Liauw Thayjien segera mengambil pil yang dimaksud


dan diserahkan ke mulut pemuda tersebut.

“Phoa-ya, apakah pil ini diberikan saja kepadanya.”

“Tanyakan saja kepadanya.”

Si orang berbaju biru itu tidak menjawab tapi


pentangkan mulut lebar-lebar.

Liauw Thayjien pun lantas hantar pil warna putih ke


dalam mulut si orang berbaju biru.

Setelah itu dimasukkannya pula pil berwarna merah


tadi ke botol kumala, lalu menutup gabusnya dan
diletakkan di depan tubuh sang pemuda.

Setelah semuanya beres ia baru bangun berdiri dan


bertindak keluar dari ruangan.

323
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si lelaki berbaju biru itu setelah menelan pil pemunah


racun segera pejamkan matanya pula untuk mengatur
pernapasan.

Phoa Ceng Yan dengan kerahkan sisa tenaganya


mengirim hawa lweekang ke dalam isi perut sang
pemuda dan bantu ia perlancar jalannya peredaran darah
di badan.

Sepeminum teh kemudia, mendadak si orang berbaju


biru itu buka suara, katanya.

“Terima kasih atas bantuan dari Locianpwee,


boanpwee sudah bisa atur pernapasan sendiri, cianpwee
tidak usah repot repot lagi.”

Cara menyembuhkan luka dengan menggunakan


tenaga dalam merupakan suatu pekerjaan yang sangat
berat dan banyak mengeluarkan tenaga murni, Phoa
Ceng Yan yang ada maksud menolong orang telah
kerahkan seluruh hawa murni yang dimilikinya.

Sesudah lewat beberapa saat hawa murni di dalam


badan hampir boleh dikata sudah tinggal sedikit, keringat
ngucur keluar menembusi mantel bulunya, sekalipun si
orang berbaju biru itu tidak menyuruh ia beristirahat pun
ia tak akan meneruskan pekerjaannya.

Si orang berbaju biru itu melirik sekejap ke atas wajah


Phoa Ceng Yan yang penuh diliputi keletihan, setelah itu
ia baru pejamkan mata atur pernapasan.

324
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang,


tubuhnya langsung dijatuhkan ke belakang dan rebah ke
atas tanah, kelelahan yang dialami saat ini bagaikan
kelelahan yang dialami setelah mengalami suatu
pertarungan yang maha sengit.

Waktu itu Nyoo Su Jan dengan jalan merindik-rindik


masuk ke dalam ruangan, sebagai seorang jago kawakan
yang sering melakukan perjalanan setelah melihat
sekejap keadaan ruangan perlahan-lahan ia menutup
pintu kembali dan mengundurkan diri untuk berjaga-jaga
di luar.

Kiranya ia takut keadaan Phoa Ceng Yan yang sangat


mengenaskan itu dapat diketahui oleh pihak lawan, maka
dari itu untuk amannya sengaja ia berjaga-jaga di depan
pintu untuk menghalangi setiap orang yang bermaksud
untuk masuk ke sana.

Setelah berbaring beberapa saat, perlahan-lahan Phoa


Ceng Yan bangun duduk dan mulai atur pernapasan.

Menanti ia selesai salurkan hawa murninya


mengelilingi seluruh badan satu lingkaran dan rasa lelah
lenyap dari dalam tubuh pada waktu itu si orang berbaju
birupun sudah selesai bersemedi dan sedang duduk di
sudut ruangan.

Ketika Phoa Ceng Yan buka mata untuk kedua kalinya,


keadaan dari si orang berbaju biru itu sudah berubah dari
keadaan semula, wajah sembab hijau yang semula
menghiasi wajahnya kini sudah tersapu lenyap berganti
dengan selembar wajah tampan dan gagah perkasa.

325
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Loo-Cianpwee sudah selesai bersemedi, boanpwee


pun seharusnya mohon diri” kata si orang berbaju biru
itu hambar.

Ia bangun berdiri, membuka pintu dan berjalan keluar


dengan langkah lebar.

Ia tidak menanyakan kisahnya sehingga ditolong, juga


tidak mengucapkan sepatah kata terima kasih bahkan
tidak menanyakan pula nama Phoa Ceng Yan maupun
meninggalkan nama sendiri, begitu keluar dari ruangan
segera meloncat naik ke atas kuda, menarik tali les dan
diiringi suara ringkikan kuda putihnya laksana sambaran
petir meleset sejauh delapan depa untuk kemudian
lenyap di balik hutan sana.

Menanti Phoa Ceng Yan tiba di depan pintu kuil


bayangan manusia sudah lenyap tak berbekas.

Nyoo Su Jan yang melihat kejadian itu tak bisa


menahan golakan dihatinya lagi, kontan ia bentang bacot
memuji.

“Sungguh seekor kuda yang bagus……..”

Ia bepaling, sewaktu melihat Phoa Ceng Yan pun


sudah keluar, buru-buru sambungnya dengan berganti
nada.

“Jie-ya, siapakah orang itu? Agaknya di dalam


kalangan Bu Lim sebelah utara belum pernah menemui
jejak orang ini.”

326
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ia tidak tinggalkan nama” Phoa Ceng Yan


menggeleng.

“Ehmmm! Apakah Jie-ya tidak menanyakan hal


tersebut kepadanya?”

“Kepergiannya teramat cepat, sang manusia amat


gesit kudanya lincah, sama sekali tidak memberi suatu
kesempatan bagiku untuk mengajukan pertanyaan.

Thio Toa Hauw yang berdiri di samping pintu kuil


sehabis mendengar perkataan itu hawa gusarnya kontan
bergelora.

“Hmmm! Bangsat cilik itu benar-benar tidak tahu


kesopanan, bikin dongkol. Jie-ya! Kau sudah sia-sia
menolong selembar nyawanya, kurang ajar benar, masa
sepatah kata terima kasihpun tidak diucapkan, jika di
kemudian hari aku si Loo Thio menemui dirinya lagi,
tentu akan kukasih sedikit hajaran kepadanya.”

“Toa-Hauw, lain kali aku larang kau ungkap kembali


persoalan ini “ cegah Phoa Ceng Yan sembari ulapkan
tangannya. “Kita sebagai orang kangouw yang sering
melakukan perjalanan sudah sepatutnya sering tolong
menolong dan membantu, urusan telah lewat biarkanlah
berlalu, apalagi kitapun menolong bukan mengharapkan
upah orang lain.

Walaupun di dalam hati tidak puas, Thio Toa Hauw


tidak berani membantah perkataan Hu Piauw-tauw-nya,
dengan hati mendongkol segera putar badan berlalu.

327
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jie-ya, jika ditinjau dari kudanya kemungkinan besar


orang ini mempunyai asal-usul yang luar biasa.” bisik
Nyoo Su Jan dengan suara lirih. “Budi tidak mengenal
terima kasih, inilah baru dinamakan wajah seorang
pendekar sejati!”

“Su Jan, jangan bicarakan urusan ini lagi “ potong


Phoa Ceng Yan sambil terbatuk batuk kering. “Tadi kau
keluar sebentar dan apa yang sudah kau temui di sana?”

“Hamba serta Giok Liong sekalian bekerja untuk


kumpulkan sedikit bahan makanan yang kira-kira bisa
digunakan untuk penuhi ransum selama empat-lima hari
buat manusia maupun kuda, selain itu secara teliti dan
cermat kamipun sudah periksa keadaan di empat
penjuru, tapi tak sebuah tanda yang mencurigakan pun
berhasil kita temukan. Hamba merasa keadaan sekeliling
kuil ini sangat tenang bahkan ketenangan yang
membawa rasa keheranan.”

“Semakin hening, suasana semakin menakutkan! Kita


jangan terlalu bertindak gegabah……” kata Phoa Ceng
Yan seraya tertawa getir.

Ia dongakkan kepala memandang cuaca.

“Waktu masih pagi, sekalipun bakal terjadi urusan


juga tak akan berlangsung pada saat ini. Menggunakan
kesempatan ini ada baiknya suruh mereka makan yang
kenyang lalu beristirahat sebentar. Semisalnya si Dewa
Api Ban Cau betul-betul sudah pasang jebakan di sebelah
sana dan ini hari tidak berhasil menjumpai kita, maka

328
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nanti malam pihak mereka pasti akan adakan suatu


gerakan.”

Agaknya Nyoo Su Jan secara tiba-tiba teringat akan


suatu persoalan yang penting, buru-buru ujarnya.

“Eeeeii……….Piauw-tauw, pemuda tadi sudah kena


terhajar senjata rahasia macam apa?”

“Jarum beracun Yen Wei Tui Hun Ciam” seru Phoa


Ceng Yan rada melengak.

“Jarum Yen Wie Tui Hun Ciam adalah sebangsa


senjata rahasia tunggal yang sangat istimewa, jarang
sekali orang-orang Bu-lim yang menggunakan senjata
tersebut.”

“Tentang hal ini aku sih tahu” Phoa Hu Cong Piauw-


tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini tertawa
getir. “Dan didalam dunia kangouw saat ini hanya
seorang saja yang menggunakan senjata rahasia ini
sebagai senjata andalan.”

“Si “Kui Siu” atau Tangan Setan Mo Cing.”

“Tidak salah, memang si tangan setan Mo Cing.”

“Menurut apa yang hamba ketahui, selamanya antara


Kui Siu serta Shia Kiam atau si pedang sesat belum
pernah berpisah.”

“Tentang hal ini akupun tahu,” kembali si orang tua


mengangguk. “Di mana si tangan Setan Mo Cing

329
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

munculkan diri maka “Shia Kiam” atau si pedang Sesat


pasti menguntil datang.”

“Jie-ya” Nyoo Su Jan berbisik rendah.

“Sudah ada banyak tahun si Tangan Setan serta si


Pedang Sesat tidak pernah munculkan dirinya di dalam
dunia kangouw, kemunculan mereka di tempat ini ada
kemungkinan disebabkan karena suatu maksud tertentu.”

“Maksudmu, kedatangan mereka-pun disebabkan oleh


barang kawalan kita kali ini?” teriak Phoa Ceng Yan
tertegun.

“Soal ini hamba tidak berani terlalu memastikan,


hanya saja peristiwa ini terjadi sangat kebetulan, dalam
musim dingin yang menggigilkan badan serta jalan raya
yang tertutup lapisan salju tebal apalagi menjelang tutup
tahun, kebanyakan jago-jago Liok-Lim kenamaan sudah
masanya beristirahat menyambut kedatangan Tahun
Baru, seharusnya Kui So serta Shia Kiam tidak akan
dikarenakan jual beli ini lantas cari sangu untuk melewati
Tahun Baru bukan?”

“Tidak salah, si Dewa Api Ban Cau ditambah tangan


dan pedang sesat, urusan memang sedikit rada
kebetulan.”

“Bahkan mereka masih tinggalkan suatu bukti kepada


kita bahwa si tangan setan Mo Cing pun telah unjukkan
diri.”

330
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tapi diantara perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita


dengan pihak mereka belum pernah terlibat sengketa!”
seru Phoa Ceng Yan.

“Kita sudah menolong orang yang pernah dilukai si


Tangan Setan Mo Cing, bukankah hal ini berarti sudah
memberikan suatu kesempatan yang baik buat mereka
untuk mencari gara-gara?”

“Su Jan!” kata si Orang tua seraya tertawa getir.


“Jikalau kedatangan mereka adalah membawa maksud
tujuan, sekalipun kita tidak menolong orang itupun
mereka sama saja tak akan melepaskan kita orang.”

“Perkataan dari Jie-ya memang tidak salah, agaknya


urusan makin lama berubah semakin merepotkan, hamba
segera akan perintahkan mereka untuk banyak bikin
persiapan.”

Ia merandek sejenak.

“Walaupun keadaan pihak musuh jauh lebih kuat,


paling banterpun kita harus bertempur sampai mati,
justru persoalannya sekarang terletak pada diri keluarga
Liauw. Heee……! Sekarang, hamba malah sebaliknya
sangat mengharapkan nona Liauw benar-benar seorang
gadis yang memiliki rangkaian ilmu silat lihay.”

“Kalau rejeki bukan bencana, kalau bencana tak akan


terhindar, sampai waktunya aku kepingin sekali agar
mereka suka memberi sedikit keterangan tentang
maksud kedatangannya, setelah itu kita lakukan suatu
pertarungan sepuas-puasnya, daripada harus merasakan

331
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemasgulan, kemurungan serta kesumpekan sebanyak


ini, jauh lebih baik semuanya berlalu dengan blak-
blakan.”

“Jie-ya, maafkan hamba akan bicara terus terang.


Kemungkinan sekali Cong Piaut tauw sudah mulai
melakukan perjalanan, dengan kecepatan lari kudanya,
mungkin dalam beberapa hari ini akan tiba di sini,
sekarang kita harus berusaha keras menahan siksaan
serta kepahitan getir untuk mengesampingkan semua
persoalan yang tak berguna, kita harus mencari akal
untuk bertahan hingga kedatangan Cong Piauw-tauw
kita.”

“Perkataanmu tidak salah, pergilah melakukan


persiapan.” Phoa Hu Cong Piauw-tauw mengangguk.

Agaknya secara tiba-tiba ia sudah teringat akan suatu


persoalan yang penting, sembari mengelus jenggot
sambungnya lagi.

“Su Jan, aku sudah teringat akan suatu persoalan!.”

Nyoo Su Jan yang sudah putar badan dan melangkah


keluar mendengar perkataan itu lantas berhenti dan
berpaling.

“Jie-ya, kau masih ada urusan apa yang hendak


diperintahkan??”

“Toa-hauw memiliki kekuatan alam luar biasa, hanya


jurus-jurus ilmu silatnya kurang sempurna, setelah
menemui jago lihay kadangkala hanya dalam tiga lima

332
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jurus kena didesak bergebrak jarak dekat kemudian


tertotok jalan darahnya. Bila kita hendak bertahan
seharusnya kau aturkan penjagaan sedemikian rupa
sehingga Toa Hauw bisa unjukkan sedikit
kegagahannya.”

Ia tarik napas panjang panjang dan beristirahat


sebentar.

“Jikalau kita bisa lewatkan hadangan ini akan


memohonkan kepada COng Piauw-tauw untuk carikan
satu akal menyempurnakan diri Toa Hauw, menambah
kecerdikannya dan wariskan beberapa rangkaian ilmu
silat yang sesuai bagi dirinya.”

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, soal ini


sudah lama kita rundingkan, dan akhirnya berhasil kami
dapatkan satu cara, cuma cara ini harus bekerja sama
pula dengan Jie-ya kau orang tua.”

“Harus bekerja sama dengan diriku?”

“Tidak salah. Gelang terbang dari Jie-ya beserta du


alat bandring otomatis dan empat busur panjang yang
keras bisa kita gunakan berbareng, sekalipun kita jumpai
seorang jago lihay kelas wahidpun hamba percaya masih
bisa menghadapinya, cuma………..”

“Su Jan, teruskan kata katamu, tidak mengapa!” seru


Phoa Ceng Yan tertawa.

333
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jie-ya harus bisa menahan hina, makian serta


hasutan musuh, kita jangan gubris makian serta
tantangan mereka”.

“Baik! Akan kudengarkan siasatmu itu.”

“Hamba sudah periksa situasi di sekitar sini, jikalau


kita akan bertahan di dalam kuil ini maka ruang tengah
harus kita jadikan titik pusat, soal keluarga Liauw sana
terpaksa hamba harus merepotkan Jie-ya untuk bikin
takluk dulu Liauw Thayjien.”

“Heeeei…..! Jikalau kau suruh aku bicarakan lagi


tentang sesuatu dengan mereka sebenarnya Loohu
sudah malu untuk buka suara, bagaimana kalau titik
pusat penjagaan dari ruang tengah kita pindahkan ke
ruang yang mereka tempati saja?”

“Hamba serta Giok Liong sudah bikin perhitungan


yang cermat, kami merasa bahwa ruangan itu tidak
kuat……”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Hamba sudah gunakan papan serta kulit pohon untuk


membangun sebuah ruang kecil di dalam ruangan
tengah, rasanya ruangan tersebut cukup digunakan
sebagai tempat persembunyian beberapa orang keluarga
Liauw! Apalagi tempat itupun jauh lebih aman daripada
ruangan sekarang.”

Beberapa patah perkataan ini sengaja diucapkan


dengan suara keras, sehingga para pembantu Piauw-kiok

334
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang meronda di luar pintu besar pun dapat mendengar


perkataan itu jelas.

Selagi Phoa Ceng Yan bersiap hendak memberi


jawaban, tiba-tiba Liauw Thayjien munculkan dirinya dari
balik ruangan.

“Phoa-ya, kau tidak perlu bersedih hati!” serunya


seraya ulapkan tangannya. “Urusan sudah jadi begini,
terpaksa kau harus berbuat sesuai dengan perintah dari
Nyoo Su Jan Piauw-tauw.”

“Thay-jien, kau terlalu sungkan” buru-buru Nyoo Su


Jan menjura. “Di dalam keadaan dan situasi macam
begini terpaksa kita harus saling percaya mempercayai
dan saling bantu membantu, dengan demikian hadangan
bahaya ini baru bisa kita lalui.”

“Aku paham, entah kapan kami harus pindah!” potong


Liauw Thayjien tertawa hambar.

“Lebih baik sekarang juga pindah kemari! Bilamana


kedatangan mereka adalah benar-benar dikarenakan kita
orang, rasanya sebentar lagi orang-orang itu pasti sudah
tiba di sini, bahkan ada kemungkinan besar malam nanti
bakal terjadi suatu perubahan besar…..”

“Baiklah, sekarang juga cayhe akan suruh merekap


pindah masuk ke ruang tengah.”

“Su Jan! Tidak bisa salahkan orang lain merasa tidak


senang” sela Phoa Ceng Yan seraya tertawa hambar

335
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menanti Liauw Thayjien telah berlalu. “Orang lain adalah


buang uang meminta kita jadi pengawalnya, bukannya
kami yang menurut perintah sekarang merekalah yang
setiap langkah harus mendengar petunjuk kita orang.”

“Keadaan kritis dan tidak mengijinkan kita banyak


berpikir panjang, rasanya kejadian inipun merupakan
suatu peristiwa yang tidak terhindarkan.”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.

“Jie-ya, kau harus baik-baik beristirahat sebelum Cong


Piauw-tauw tiba di sini maka semua urusan masih harus
andalkan kepandaian Jie-ya.

Selesai berkata, Nyoo Su Jan lantas berlalu untuk


adakan persiapan persiapan seperlunya.

Liauw Thayjien dengan membimbing Liauw Hujien


serta nona Liauw pindah masuk ruang tengah kuil.

Sedikitpun tidak salah, Nyoo Su Jan sekalian sejak


semula sudah persiapkan sebuah rumah kecil yang
sangat kuat dan tertutup di tengah ruang kecil itu ditutup
oleh papan serta kulit pohon yang tebal dan kokohnya
luar biasa di bawah jendela bertumpukan batu batu
cadas dalam jumlah yang sangat banyak.

Jelas membuktikan bila Phoa Ceng Yan sekalian sudah


bulatkan tekad untuk bertahan mati-matian di dalam kuil
tersebut dengan titik pusat di dalam ruang tengah tadi.

336
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cuaca makin lama semakin gelap, suasana di sekeliling


tempat itupun mulai kelihatan samar-samar, rasa tegang
mulai mencekam hati setiap orang semua.

Ketika itu salju sudah berhenti, awan gelap mulai


buyar dan muncullah langit nan biri dengan separuh
bagian rembulan memancarkan cahayanya menyinari
permukaan jagat yang putih menyilaukan mata.

Dalam kuil sudah disulut lampu, suasana empat


penjuru sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun
kecuali ringkikan-ringkikan kuda yang menambah
keseraman di tengah malam yang bening itu.

Kurang lebih mendekati kentongan kedua di luar kuil


tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia, suara
berdetaknya kaku kuda berlari di atas permukaan salju
kedengaran sangat jelas.

Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di tempat


kegelapan di balik pintu besar kuil dengan meminjam
cahaya rembulan dapat melihat pemandangan di luar kuil
dengan sangat jelas.

Di lihatnya empat sosok bayangan manusia


menghentikan larinya kuda pada kurang lebih sepuluh
kaki di luar kuil dan sama-sama meloncar turun ke ats
permukaan tanah.

Agaknya keempat orang itu sama sekali tiada


mengandung maksud hendak melancarkan serangan
bokongan, setelah menyerahkan keempat ekor kuda itu

337
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pada seorang, sisanya tiga orang dengan langkah lebar


berjalan ke arah kuil.

Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan lantas berpaling


dan memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan.

“Agaknya mereka siap-siap menantang kita untuk


bergerak “ bisiknya lirih.

“Jika memang begitu, pasti mereka adalah jago-jago


kenamaan.”

Gerakan tubuh ketiga orang itu sangat cepat, di dalam


sekejap mata sudah berada kurang lebih tiga kaki di luar
kuil.

Pihak lawan tidak buka suara untuk menantang


perang, sedang dari pihak Phoa Ceng Yan pun tidak
kedengaran suara bentakan maupun teguran, mereka
hanya memandang orang-orang itu dengan pandangan
dingin.

Menanti ketiga orang itu sudah mencapai tiga kaki dari


kuil mendadak bersama-sama menghentikan langkahnya,
salah seorang diantaranya seorang kakek tua berjubah
panjang warna hijau dengan jenggot melambai
sepanjang dada maju ke depan seraya menjura, katanya.

“Siapakah yang sedang bertugas? Harap suka laporkan


kepada si telapak besi gelang emas Phoa Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan kalian, katakan saja si Dewa
Api Ban Cau malam-malam datang berkunjung.”

338
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selagi Phoa Ceng Yan siap-siap hendak memberi


jawaban, Nyoo Su Jan yang ada disisinya sudah keburu
menyahut.

“Oooooouw……..! Kiranya Ban Loo-yacu yang


namanya sangat terkenal di dalam Bu Lim, cayhe aturkan
selamat datang! Maaf kami menyambut kurang hormat.”

Sembari menjawab, lambat-lambat ia berjalan keluar


dari tempat persembunyian.

Ban Cau dongakkan kepala memandang sekejap ke


arah Nyoo Su Jan.

“Maaf, Loohu punya mata tak berbiji, tidak berhasil


kukenali sebutan dari kawan.”

“Cayhe Nyoo Su Jan! Ban Loo-yacu adalah cianpwee


loojien, sudah tentu tak akan mengenali aku orang she
Nyoo yang sama sekali tak bernama di dalam dunia
persilatan,” kata Nyoo Su Jan seraya menjura.

Ban Cau mendengus dingin.

“Kau tidak usah meluncurkan sindiran dalam kata-


katamu, sana beritahu kepada Phoa Ceng Yan, coba lihat
maukah dia orang menemui aku sebagai si tetamu.”

Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di belakang pintu


dapat mendengar jelas semua perkataan dari kedua
orang itu, tapi berhubung belum mendapat tanda dari
Nyoo Su Jan maka ia merasa kurang leluasa untuk
unjukkan diri.

339
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terdengar Nyoo Su Jan kembali berkata, “Bilamana


dibicarakan dari nama serta kedudukan Ban Loo-yacu
saat ini sudah tentu seharusnya Phoa Hu Cong Piauw-
tauw dari perusahaan kami munculkan diri untuk
menemui tamu, cuma saja…..”

Ban Cau ulapkan tangannya memotong pembicaraan


selanjutnya dari Nyoo Su Jan, sahutnya.

“Kau tidak usah bukakan pintu buat aku orang, Loohu


malam-malam datang berkunjung bukannya dikarenakan
ingin mengikat persahabatan, jika kau tidak ingin
sampaikan berita ini jangan salahkan Loohu segera akan
terjang masuk ke dalam.”

Melihat Nyoo Su Jan terdesak dan sulit untuk memberi


jawaban lagi, Phoa Ceng Yan batuk0batuk kering sambil
melangkah keluar dari tempat persembunyian.

“Siapa yang datang mencari aku orang she Phoa.”

Seraya menyahut lambat-lambat ia munculkan dirinya


dan berjalan keluar ke pintu kuil, melihat munculnya
Phoa Hu Cong Piauw-tauw ini, Ban Cau segera
merangkap tangannya menjura, “Si telapak besi gelang
emas Phoa Jie-ya, di sini Ban Cau menghunjuk hormat.”

Buru-buru Phoa Ceng Yan balas menjura.

“Tidak berani…..tidak berani, cayhe tidak berani


menerima penghormatan besar dari Ban Toa-ya.”

340
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si Dewa Api Ban Cau tertawa hambar.

“Selama beberapa tahun ini siauw-tee bersembunyi


terus di gunung dan jarang berkelana di dalam dunia
persilatan, tapi aku dengar nama besar dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kalian beserta kedashyatan dari
gelang terbang pencabut nyawa dari Phoa Jie-ya,
katanya kau sudah berhasil mkendesak kawan-kawan
Liok-lim di daerah utara sampai tak bisa berkutik.”

Phoa Ceng Yan mendengus dingin sahutnya.

“Jikalau kedatangan Ban Heng pada malam ini


dikarenakan soal kawan-kawan di sekitar daerah Utara,
maka aku orang she Phoa dengan suka hati akan
menyampaikan pendapat dari Ban heng ini kepada Cong
Piauw-tauw kami, aku rassa Cong Piauw-tauw tentu akan
memberikan satu jawaban yang memuaskan hati Ban
Heng, aku orang she Phoa hanya menjabat kedudukan
kecil, di atas masih ada COng Piauw-tauw dan maaf aku
orang tak bisa ambil keputusan sendiri…..”

“Haaaa……….haaa…………..haaaa……..kalau begitu
Phoa heng hanya bisa berbuat apa saja?” potong Ban
Cau sembari dongakkan kepalanya tertawa tergelak.

Melihat kejadian itu, diam-diam di dalam hati Phoa


Ceng Yan berpikir.

“Bila aku ulur sedikit waktu lagi berarti memberi


kesempatan pada mereka untuk mengadakan persiapan
lebih teliti, jikalau ia tidak suka memberi muka kepadaku,

341
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akupun tidak usah menggunakan kata-kata untuk


menyanjung dirinya lagi.”

Berpikir akan hal tersebut, ia lantas menyahut.

“Pertanyaan dari Ban-heng betul-betul membuat


Siauw-te jadi tidak paham, di bawah kolong langit tak
ada orang kedua. Di dalam rumah tak ada dua majikan,
di dalam perusahaan pengawal barang-barang kita punya
peraturan kami sendiri aku orang she Phoa tidak ingin
bicara terlalu besar……”

“Heee…..heee……heee…… di dalam persoalan barang


walaupun kali ini, apakah kau Phoa Jie-ya bisa ambil
keputusan,” kembali potong Ban Cau diiringi suara
tertawa dingin.

Phoa Ceng Yan segera tertawa terbahak-bahak.

“Ooouw.. jika demikian adanya, tujuan Ban-heng pun


terletak pada barang-barang kawalan kami?”

“Barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-


kiok selamanya tak ada yang berani mengutak-ngatik,
dalam hati siauw-tee merasa tidak puas, kami ingin coba-
coba menahan barang kawalan dari perusahaan kalian
kali ini.”

“Mau merampok katakan saja terus terang mau


merampok, seorang lelaki sejati selamanya bicara blak-
blakan, cara Ban-heng belak-belok tak menentu apakah
tidak berarti membuang tenaga terlalu banyak?”

342
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disindir oleh Phoa Ceng Yan, air muka Ban Cau kontan
berubah jadi merah padam, serunya gusar.

“Kalau begitu anggap saja aku orang she ban ada


maksud merampok barang kawalan kalian, kau Phoa-
heng bersiap-siap hendak berbuat apa?”

“Siauw-tee berani mengawal barang sudah tentu tidak


bakal takut menghadapi mereka-mereka yang ada
maksud merampok barang kawalan kami, jikalau Ban-
heng punya kesadaran tunggulah sebentar, setelah kami
bereskan dulu orang-orang piauw-kiok kami, rasanya
turun tangan kemudian pun belum terlambat…..”

“Ban-heng, kau baik-baik jaga diri, maaf siauw-tee tak


bisa menemui lebih lanjut,” sambungnya kemudian
sambil ulapkan tangannya.

Dengan sinar mata tetap melototi diri Ban Cau, si


orang tua ini lambat-lambat mengundurkan diri ke dalam
ruangan kuil.

Ban Cau adalah seorang manusia yang licik dan


banyak akal, sebenarnya maksud kedatangannya di sini
adalah ingin mencari tahu beberapa persoalan dari mulut
Phoa Ceng Yan.

Siapa sangka Phoa Ceng Yan jauh lebih lihay


daripadanya, hanya di dalam beberapa patah kata saja ia
berhasil menyelamuri diri Ban Cau sehingga lupa dengan
maksud kedatangannya.

343
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti Phoa Ceng Yan sudah balik ke dalam ruangan


kuil, Ban Cau baru teringat kembali akan maksud
kedatangannya adalah ingin mencari sedikit keterangan,
tapi kini tak sedikit keteranganpun yang berhasil ia
dapatkan.

Senjata rahasia gelang emas dari Phoa Ceng Yan


sudah amat terkenal di dalam dunia kangouw. Si Dewa
api Ban Cau tidak berani bersikap terlalu gegabah,
melihat Phoa Ceng Yan mundur ke belakang.

Selama ini Nyoo Su Jan terus menerus bersembunyi di


tempat kegelapan di balik pintu, ketika dilihatnya Ban
Cau dengan membawa anak buahnya mengundurkan
diri, dalam hati jadi keheranan.

Jilid 10

Si Dewa Api merupakan seorang iblis kenamaan di


dalam kalangan Liok-lim, kenapa mereka mengundurkan
diri sebelum berhasil mencapai pada sasarannya??”

Phoa Ceng Yan yang melihat kejadian inipun rada


keheranan dibuatnya.

“Su Jan, mereka mengundurkan diri??” bisiknya lirih.

“Mungkin waktu yang mereka janjikan untuk turun


tangan belum tiba, dan sekarang mereka mengundurkan
diri terlebih dulu sambil menunggu waktu.”

344
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dengan watak si Dewa Api Ban Cau yang licik dan


banyak pengalaman sebelum punya pegangan kuat, ia
tak akan berani datang kemari untuk menempuh
bahaya,” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung
sejenak. “Kini mereka sudah datang bahkan ajak aku
bicara secara berhadapan muka, tak mungkin ia suka
mengundurkan diri sedemikian mudah, paling tidak ia
akan tunjukkan dulu dua-tiga macam senjata apinya
sebagai tameng dalam pengunduran diri tersebut.”

“Perkataan Jie-ya tidak salah,” Nyoo Su Jan


mengangguk. “Di antara persoalan ini pasti sudah ada
perubahan, tetapi perubahan apakah tang telah terjadi
sehingga bisa membuat si iblis tua itu berubah pendapat
menjelang saat-saat kritis dan mengundurkan diri??”

“Mungkinkah mereka sedang gunakan siasat licik


untuk menipu kita?” seru Phoa Ceng Yan tiba-tiba.
“Sengaja mereka munculkan diri kemudian
mengundurkan diri, setelah itu mengambil kesempatan
sewaktu penjagaan kita sedikit mengendor, secara diam-
diam mereka menyelundup masuk ke dalam kuil…..”

Belum sempat Nyoo Su Jan memberikan jawabannya,


mendadak nampaklah Lie Giok Liong berlari masuk
dengan langkah cepat.

“Giok Liong, bukannya berjaga-jaga di posmu, buat


apa lari kemari dengan gugup dan gelagapan?” tegur
Phoa Ceng Yan sang Hu Cing Piauw-tauw dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok dengan alis berkerut.

345
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jie-siok! Siauw-tit telah menemui suatu kejadian yang


mengherankan, karena itu sengaja datang minta
pendapat dari paman Jie-siok!” lapor Lie Giok Liong
seraya menjura.

“Ada Urusan apa??”

“Sewaktu Siauw-tit berjaga-jaga di pos penjagaan


mendadak menemukan empat sosok bayangan manusia
dengan gerakan menyelinap mendekati kuil kita…..”

“Kalian sudah tahu ada orang hendak menyelinap


masuk ke dalam kuil, kenapa kau orang malah
meninggalkan pos penjagaan, jangan bergurau!”

“Paman Jie-siok, Siauw-tit belum selesai menceritakan


keadaan selanjutnya.”

“Baiklah! Kau teruskan lebih lanjut.”

“Keempat sosok bayangan manusia itu sewaktu tiba


kurang lebih tiga kaki di luar tembok kuil, mendadak
salah satu di antaranya tanpa sebab mendadak jatuh
tertelungkup seperti menubruk katak.”

“Aaaakh! Kemudian??” Phoa Ceng Yan berseru


tertahan.

“Justeru keistemewaannya terletak di sini, baru saja


orang yang jatuh itu bangun berdiri, orang yang berada
di sampingnya mendadak jatuh rubuh ke atas tanah,
empat orang itu jatuh ke atas tanah saling bergilir, ketika
orang terakhir berhasil meronta bangun dari tanah, maka

346
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka berlalu terbirit-birit tanpa menoleh lagi, karena


siauw-tit tidak paham di manakah letak keistemewaan
dari persoalan ini, maka sengaja datang kemari untuk
laporkan urusan ini pada paman Jie-siok.”

Sembari mengelus jenggotnya Phoa Ceng Yan


termenung berpikir keras, beberapa saat kemudia ia baru
berkata, “Soal ini…..soal ini….. benar-benar membuat
orang merasa sedikit tidak paham.”

“Jie-ya, mungkinkah ada jagoan lihay yang membantu


kita secara diam-diam?” timbrung Nyoo Su Jan dari
samping.

“Nona Liauw………”

“Apa yang berhasil Giok Liong lihat serta


mengundurkan diri si Dewa Api Ban Cau secara
mendadak, tidak mungkin kalau tak ada sebab-
sebabnya……”

“Kalau begitu, biarlah aku pergi tengok diri Liauw


Thayjien.”

Habis berkata orang tua she Phoa ini bangun dan


melangkah menuju ruangan tengah.

“Cepat kembali dan berjaga-jaga di tempat semula.”


bisik Nyoo Su Jan kemudian kepada diri Lie Giok Liong
sepeninggal Phoa Ceng Yan. “Peristiwa yang terjadi pada
malam ini rada sedikit kabur, sungguh membuat orang
jadi kebingungan, sekalipun jelas ada jago lihay yang
secara diam-diam membantu kita dengan gunakan

347
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaian lihaynya mengundurkan musuh tangguh, tapi


kitapun jangan terlalu bersikap gegabah,”

Perlahan-lahan Lie Giok Liong menghela napas


panjang.

“Cahaya rembulan menyinari permukaan salju dengan


terangnya, pemandangan di sekitar beberapa kaki dari
pos penjagaanku dapat dilihat dengan jelas, tapi ……….
kecuali keempat orang itu jatuh bangun dipermainkan
orang belum pernah kutemukan lagi bayangan manusia
yang lain, jika benar-benar ada orang yang membantu
kita secara diam-diam maka kepandaian silat dari orang
itu betul-betul luar biasa lihaynya.”

“Bila kepandaian silat dari orang itu biasa saja,


rasanya iapun tak bakal bisa kejutkan musuh tangguh
sehingga melarikan diri terbirit-birit.”

“Heee……….. apalagi jika jago lihay itu adalah nona


Liauw, kita seharusnya merasa sangat malu.”

“Sedikitpun tidak salah! Orang lain hamburkan uang


minta kita mengawal keselamatan mereka sepanjang
jalan, tidak disangka sewaktu kita hadapi persoalan yang
kritis sebaliknya orang lain yang melindungi keselamatan
kita.”

“Aku mau pergi” kata Lie Giok Liong kemudian seraya


menjura. “Jikalau paman Jie-siok menemukan sesuatu
harap dia orang suka cepat-cepat beri kabar kepadaku.”

348
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kenapa? Agaknya terhadap persoalan ini kaupun


sudah timbul perasaan ingin tahu?”

“Kepandaian silat seseorang ternyata bisa dilatih


hingga tahap mengundurkan musuh tangguh tanpa
perlihatkan sedikit jejak, kejadian ini benar-benar susah
dipercaya dengan pikiran manusia, cayhe kepingin sekali
bisa bertemu dengan manusia macam begini.”

Ia merandek sejenak, setelah tukar napas


sambungnya.

“Terus terang saja aku beritahu pada Nyoo-heng,


sejak Lam Thian Sam Sah mengundurkan diri secara
misterius, selama ini siauw-te terus menerus
memperhatikan segala gerak-gerik dari kereta yang
ditumpangi nona Liauw”.

“Lalu apakah Lie-heng sudah pernah menemukan


sesuatu tanda yang mencurigakan ataupun istimewa?”

“Belum, selama ini cayhe belum berhasil menemukan


suatu tanda-tanda yang aneh ataupun mencurigakan.”

“Jie-ya sudah pergi tanyakan persoalan ini pada Liauw


Thayjien, jikalau jago lihay yang barusan saja bantu kita
mengundurkan musuh tangguh ini adalah hasil
perbuatan nona Liauw, rasanya kali ini ia pasti berhasil
menemukan tanda-tanda tersebut.”

“Mengapa?”

349
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Di dalam ruang tengah cuma terdapat sebuah jalan


keluar saja, peduli nona Liauw memiliki kepandaian silat
seberapa lihaypun tidak mungkin dia orang bisa masuk
keluar dengan menembusi dinding……”

Ia rada merandek sejenak, lantas tambahnya.

“Musuh tangguh telah mengundurkan diri, untuk


beberapa saat tak mungkin bisa balik kemari, bagaimana
kalau kitapun pergi ke ruang tengah untuk melihat-lihat
keadaan?”

“Meninggalkan tugas pos penjagaan, aku takut paman


jie-siok akan menegur?”

“Sekalipun kita pergi menengok sejenak rasanya tak


akan buang banyak waktu………”

“Baiklah!” akhirnya Lie Giok Liong setuju. “Nyoo


Piauw-tauw selama ini mendapat penghargaan dari
paman Jie-siok, asalkan kau berjalan di depan rasanya
paman Jie-siok tak akan menegur.”

Nyoo Su Jan tersenyum, setelah ia serahkan tugas pos


penjagaan mereka kepada dua orang pembantu piauw-
kiok, katanya.

“Kalian baik-baiklah berjaga di pintu besar, bilamana


menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan
berusahalah secepat mungkin sampaikan berita itu ke
dalam ruangan tengah.”

350
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nyoo-ya harap berlega hati” sahut kedua orang


pembantu piauw-kiok itu seraya menjura.

Kemudian Nyoo Su Jan baru berpaling dan


memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong.

“Mari kita pergi”

Dengan langkah lambat ia berjalan ke depan.

Lie Giok Liong dengan cepat menguntil dari belakang


Piauw-tauw she Nyoo ini menuju ke dalam ruangan.

Ketika kedua orang itu mendekati ruangan, pada


waktu itu Phoa Ceng Yan sedang bercakap-cakap dengan
Liauw Thayjien.

Terdengar Phoa Ceng Yan dengan suara lirih sedang


berkata.

“Putri kasayanganmu apakah masih ada di dalam


ruangan?”

“Sejak Siauw-li masuk ke dalam ruangan tengah,


hingga kini belum pernah meninggalkan tempat ini
barang selangkahpun,” sahut Liauw Thayjien perlahan.

“Apakah Thayjien yakin tidak salah melihat?”

“Tidak salah. He-koan tahu siauw-li belum pernah


meninggalkan ruang kecil ini barang selangkahpun.”

351
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dapatkah Thayjien masuk sejenak untuk memeriksa


sendiri???”

Liauw Thayjien tampak termenung, akhirnya ia


manggut.

“Baiklah! He-koan akan periksa sebentar ke dalam!”

Ia lantas bangun berdiri dan melangkah masuk ke


dalam ruang kecil di tengah ruang besar kuil tersebut.

Sesaat kemudian ia sudah melangkah ke luar.

“Siauw-li sudah tidur pulas!”

“Apa? putrimu sudah tertidur nyenyak?” Phoa Ceng


Yan jadi tertegun dibuatnya.

“He-koan melihat hal tersebut dengan mata kepala


sendiri dan siauw-li betul-betul sudah tertidur pulas,
apakah aku masih bisa menipu kalian?”

“Oouw…….oouw…… sudah tentu Thayjien tak bakal


berbicara bohong.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! He-koan ada beberapa


patah kata bila tak kuucapkan keluar rasanya mengganjel
di tenggorokan.”

“Silahkan Thayjien mengutarakan keluar.”

“Aku sudah banyak menuruti kemauan kalian semua,


tapi lebih baik kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw sedikit tau

352
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keadaan, masa di tengah malam buta kau paksa aku


yang jadi ayah pergi tengok putriku sendiri, walaupun
keadaan tidak sama dengan waktu waktu biasa, tapi
kejadian ini telah melanggar tata kesopanan……..”

Phoa Ceng Yan terbatuk batuk kering, buru-buru ia


rangkap tangannya menjura.

“Teguran dari Thayjien memang tepat!” sahutnya


perlahan. “Kebanyakan keluarga pembesar paling ketat
menjaga peraturan rumah tangga, tapi keadaan kita
hadapi saat ini jauh berbeda dengan keadaan biasa,
sedikit teledor kemungkinan besar kita akan kehilangan
nyawa bersama-sama, oleh karena itu di banyak tempat
terpaksa aku orang she Phoa harus mendapatkan bukti
dengan sangat berhati-hati.”

Setelah mendengar perkataan itu hawa gusar dalam


dada Liauw Thayjien pun rada reda.

“Agaknya suatu peristiwa besar kembali terjadi pada


malam ini?”

“Tidak salah, walaupun Thayjien harus tidur di pojokan


kuil yang sempit dan banyak menderita siksaan lahir
maupun bathin, tapi orang-orang perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok dari kedudukan teratas aku orang she Phoa
hingga bagian bawah para pembantu piauw-kiok yang
terluka semuanya berjaga di atas tanah lapang bersalju
yang sangat dingin, kita sudah salurkan seluruh kekuatan
yang kita miliki untuk melindungi keselamatan dari
Thayjien sekeluarga.”

353
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Sebenarnya kalianpun sudah cukup


menderita…….cuma, apa sangkut pautnya urusan itu
dengan diri Siauw-li??”

“Liauw Thayjien! Terus terang saja kukatakan barusan


ada beberapa kelompok jago-jago Liok-lim dengan
mengambil arah yang berlainan sama-sama menyerang
kuil kita, tapi sewaktu mereka mendekati kuil secara
mendadak mengundurkan diri kembali dengan terbirit
birit?”

“Ooouw………….. ada urusan demikian?”

“Tidak salah, justeru disinilah letak rasa curiga di hati


cayhe, setelah aku pikir bolak balik akhirnya berhasil
kamu dapatkan dua kesimpulan.”

“Dan apa hubungannya dengan Siauw-li”

“Pertama ada seorang jago lihay yang memiliki


kepandaian silat dashyat bersembunyi di sekitar tempat
ini dan bantu kita mengundurkan para penjahat. Kedua,
mereka sengaja menjalankan siasat licik untuk mencoba-
coba kekuatan kita apa benar-benar mengandalkan
persiapan. Kita jangan bicarakan kesimpulan yang kedua,
jikalau semisalnya benar-benar ada seorang jago lihay
yang membantu kita, lalu siapakah orang itu? Inilah yang
membuat kami harus berpikir dan menduga-duga .”

“Maka dari itu kalian lantas mencurigai Siauw-li?”


sambung Liauw Thayjien cepat.

354
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lam Thian Sam Sah setelah membuka horden kereta


putrimu buru-buru mengundurkan diri terbirit-birit, Hoa-
Hoa Kongcu menerjang masuk ke dalam ruang tidur
putrimu dan akhirnya mengundurkan diri serta
menghadiahkan obat mujarab, sebegitu banyak hal-hal
yang mencurigakan benar-benar membuat orang merasa
tidak paham di manakah letaknya alasan-alasan tersebut!
Bila kau Liauw Thayjien berkedudukan seperti aku Phoa
Ceng Yan sekarang ini, maka apa yang hendak kau
lakukan?”

Sekali lagi Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Perkataanmu memang betul, kejadian ini memang tak


bisa salahkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw.”

“Thayjien bisa memahami kesusahan aku orang she


Phoa, dengan demikian aku orang she Phoa pun bisa
berlega hati. “ segera Phoa Ceng Yan merangkap
tangannya menjura.

“Baiklah!” kembali Liauw Thayjien berbatuk-batuk


kering. “Besok pagi, setelah semangat Siauw-li sedikit
baikan, kau Phoa Hu COng Piauw-tauw boleh bercakap-
cakap dengan dirinya, aku rasa di balik kesemuanya ini
memang benar-benar masih tersembunyi suatu rahasia..”

“Tia! Aku sudah bangun ……” tiba-tiba terdengar suara


seseorang yang lemah lembut memotong pembicaraan.

355
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika Phoa Ceng Yan berpaling, dilihatnya nona Liauw


dengan rambut panjang terurai di pundak melangkah
keluar dari balik ruang kecil itu lambat-lambat.

“Malam sudah kelam, hawa diluarpun dingin, cepat


pergi beristirahat, ada perkataan kita bicarakan besok
hari saja” buru-buru Liauw Thayjien menegur seraya
mendehem.

Liauw Wan Jie tersenyum manis.

“Selama dua hari ini secara mendadak aku merasa


badanku jauh lebih baikan, bahkan semangatpun sudah
pulih kembali. Tia! Kau tidak usah kuatir buat diriku lagi.”

“Apakah setelah menelan pil mujarab pemberian Hoa


Hoa Kongcu…….” sela Phoa Ceng Yan dari samping.

“Ehm! Tidak salah, sejak menelan pil pemberiannya,


aku merasa penyakitku rada baikan……..”

Gadis she Liauw ini merandek sejenak, lantas


tambahnya.

“Bukankah kalian sangat mencurigai diriku?”

“Berhubung banyak urusan berlangsung sangat


bertepatan waktu, mau tak mau terpaksa kami harus
mencurigai diri nona” Phoa Ceng Yan membenarkan.

“Sekarang aku berdiri di sini, ada persoalan apa


silahkan ditanyakan semua.”

356
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, akhirnya ia


rangkap tangannya menjura.

“Nona memiliki kepandaian silat yang lihay bahkan


berulang kali membantu kami mengundurkan musuh-
musuh tangguh, bukan saja cayhe merasa sangat
berterima kasih, sekalipun Cong Piauw-tauw kamipun
ikut merasa kagum bercampur girang.”

“Apa maksud perkataanmu itu?” Liauw Wan Jie segera


menggeleng. “Badanku lemah tak bertenaga, untuk turun
tangan menyembelih seekor ayam pun tak becus, mana
mungkin bisa memiliki kepandaian silat.”

“Walaupun manusia pandai tidak suka unjukkan muka,


tapi jejak dari nona sudah bocor dan diketahui banyak
orang, agaknya tiada berguna kau orang berbohong
lagi.”

“Setiap perkataan yang kuucapkan adalah kata-kata


sejujurnya, jika kau tak percaya itupun merupakan suatu
kejadian yang tidak bisa dibuktikan lagi.”

Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Cayhe sama sekali tidak bermaksud untuk


menciptakan kesalah-pahaman dengan diri nona…..”

“Perduli kau ada maksud menganggap soal ini


kesalah-pahaman atau tidak, yang jelas apa yang aku
ucapkan adalah kata-kata sejujurnya.” potong Liauw Wan
Jie cepat. “Aku tidak bisa ilmu silat, jangan dikata orang

357
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang bisa ilmu silat sekalipun orang biasapun cukup


sekali tinju bisa membinasakan diriku.”

“Ada kalanya cayhepun merasa bahwa nona tidak


mirip dengan seorang yang pandai bersilat.”

“Kalau memang sudah melihat betul, kenapa kau ubah


kembali pendapatmu itu?”

“Karena cayhe tidak berhasil menjelaskan persoalan-


persoalan yang terjadi secara beruntun dan kebetulan itu
secara tepat! Oleh sebab itu cayhe merasa di balik
kesemuanya ini tentu masih ada sebab-sebab lain.”

Nona Liauw menghela napas panjang.

“Aku berharap kalian bisa mempercayai perkataanku.”

“Mana berani kami tidak mempercayai perkataan


nona, cuma cayhe sangat berharap nona suka
menceritakan semua rahasia di balik kesemuanya ini,
semisalnya nona merasa jalan inipun susah ditempuh,
maka kami berharap nona suka membuka suatu jalan
yang rasanya bisa kita lampaui.”

“Heeeeeiii! Tindakan kalian ini bukankah sama dengan


bertanya jalan dengan orang buta? Kau suruh aku
berbuat apa, bagaimana aku bisa tahu??”

Dalam hati Phoa Ceng Yan tahu sekalipun ditanyakan


lebih lanjut tak berguna, karena itu ia lantas alihkan
bahan pembicaraan.

358
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nona, silahkan kau kembali untuk beristirahat.”

“Pada malam ini semangatku luar biasa segar, lebih


baik kau tumpahkan keluar seluruh kecurigaan yang
mencekam di dalam dadamu.”

“Baiklah,” kata Phoa Ceng Yan kemudian setelah ragu-


ragu sejenak. “Kenapa sewaktu Hoa Hoa Kongcu
menerjang masuk ke dalam ruangan tidur nona bukan
saja ia tidak melukai dirimu bahkan menghadiahkan obat
yang sangat mujarab?”

“Liauw Wan Jie termenung tidak bicara, agaknya ia


sedang berpikir cermat sebelum menjawab.

“Bocah, kau harus bicara terus terang,” sela Liauw


Thayjien dari samping.

“Bicara sejujurnya, aku sendiripun kurang begitu


paham mengapa ia hadiahkan sebutir obat mujarab
kepadaku,” kata Liauw Wan Jie seraya mengangguk.
“Tapi aku jelas mengetahui bahwa diapun tidak punya
alasan yang kuat untuk mencelakai diriku.”

“Jikalau perkataan yang nona ucapkan adalah


sejujurnya, maka rasanya baik Hoa Hoa Kongcu maupun
Lam Thian Sam Sah tiada alasan untuk datang kemari.”

“Tidak salah, tapi mereka pada berdatangan lalu


dikarenakan apa ….”

Phoa Ceng Yan tertegun, kemudian tertawa getir.

359
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Karena apa? Pertanyaan dari nona sangat bagus!


Hingga sekarang aku orang she Phoa pun masih belum
paham, apa sebabnya?”

“Jadi maksudmu, kedatangan mereka dikarenakan


aku??” kata Liauw Wan Jie sambil membereskan
rambutnya yang panjang terurai.

“Soal ini si bukan” Phoa Hu Cong Piauw-tauw


menggeleng. “Jikalau kedatangan mereka disebabkan
nona, agaknya tindakan yang diambil tidak perlu
sedemikian buas dan keji, mereka bisa mohon bertemu
secara blak-blak kan……”

“Aaakh! Lalu karena apa mereka datang kesini?”

“Jikalau nona betul-betul tidak tahu, maka persoalan


ini harus ditanyakan ayahmu.”

Sinar mata Liauw Wan Jie perlahan-lahan dialihkan ke


atas wajah Liauw Thayjien, perasaan curiga mulai
melintasi alisnya.

“Tia, sebenarnya barang berharga apakah yang kita


bawa sehingga menimbulkan inceran sebegitu banyak
orang-orang?”

“Menurut perkataan dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw,


kedatangan orang-orang ini bukannya dikarenakan untuk
merampok emas, perak ataupun barang-barang mustika
lainnya…..” kata Liauw Thayjien menggeleng.

360
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak salah!” sambung Phoa Ceng Yan pula.


“Sekalipun Thayjien sudah kumpulkan banyak emas,
perak maupun barang antik, tapi barang-barang tersebut
masih tidak termasuk suatu barang kawalan yang besar.
Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami sudah pernah
mengawal beberapa ratus laksa tahil perak di daratan
Tionggoan sebelah Utara tetapi belum pernah ada orang
yang berani menempuh bahaya mengikat tali
permusuhan dengan kami ataupun menghadang barang-
barang kawalan kami, sekalipun beberapa orang
pentolan Liok-lim yang tak dapat diajak kompromipun tak
akan berani banyak ribut, tapi kali ini…. beberapa orang
iblis kenamaan dari kalangan Liok-lim sudah pada
munculkan diri.”

“Jadi maksudmu barang yang kami bawa sudah


melampaui nilai beberapa ratus laksa tahil sehingga
memancing perhatian mereka?”

“Tidak salah,” jawab Phoa Ceng Yan dengan air muka


serius. “Kemungkinan sekali barang-barang itu sama
sekali tidak bernilai di mata kalian dan tiada berharga
beberapa ratus laksa tahil, tapi bagi mereka benda itu
betul-betul bernilai.”

“Tia! Sebenarnya apa yang sudah kita bawa?? Harta


adalah benda sampingan yang tidak berguna…….”

“Aku sendiripun tidak paham tentang soal ini,” Liauw


Thayjien menggeleng dan memotong perkataan putrinya
yang belum selesai.

361
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Menurut apa yang cayhe ketahui, lukisan peta


pengangon kambing itu termasuk salah satu di
antaranya,” sela orang tua she Phoa dari samping.

Liauw Thayjien nampak termenung berpikir keras,


sesaat kemudian ia baru mengambil keputusan.

“He-koan akan bertanggung jawab, asalkan yang


mereka minta adalah lukisan peta pengangon kambing
itu maka kalian boleh serahkan peta tersebut kepada
mereka asalkan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan
selamat!”

Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali tidak menduga


kalau Liauw Thayjien bisa berkata demikian, ia
mendehem.

“Sungguh?”

“Sudah tentu sungguh, kemungkinan sekali lukisan


peta itu benar-benar bernilai, tapi di tanganku tak
kumengerti dimanakah letak berharganya benda
tersebut.”

“Walaupun perkataan bisa diucapkan demikian,” sela


Phoa Ceng Yan sambil menghela napas panjang. “Tapi
asalkan aku orang she Phoa masih ada napas tiga cun
yang bergetar, maka aku tak akan membiarkan orang
lain mengganggu barang seujung rambutpun terhadap
kalian sekeluarga Liauw?”

Liauw Thayjien pun menghela napas panjang seraya


menggeleng.

362
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa-ya, uang dan harta adalah barang sampingan,


aku menjabat sebagai pembesar kelas dua walaupun
pernah tenggelam di dalam kemakmuran serta
kelimpahan harta, tapi dalam pandanganku pribadi benda
tersebut tak berguna bagai awan di langit, perkataan dari
Siauw-li kemungkinan besar tak bakal salah, sesudah He-
koan pikir tiga kali rasanya pikiranku tak berhasil
menyimpulkan kapankah Siauw-li mendapat kesempatan
untuk belajar ilmu silat……..”

Ia merandek sejenak, lalu dengan air muka serius


sambungnya lebih lanjut.

“Hingga detik ini agaknya kau Phoa Hu Cong Piauw-


tauw masih belum berhasil mengetahui jelas apa yang
sebenarnya mereka inginkan dari kami?”

Phoa Ceng Yan tertegun, pikirnya.

“Perkataan ini sedikitpun tidak salah, hingga detik ini


aku masih belum berhasil memahami apa sebabnya
mereka gerakan masa untuk atur jebakan dengan
menghadang barang kawalanku ini …..”

Kedengaran Liauw Thayjien melanjutkan lagi


ucapannya.

Kemungkinan sekali orang lain sudah mengetahui jelas


tentang soal ini!”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, lain kali jikalau kau


bertemu lagi dengan pihak musuh maka jangan lupa

363
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanya pada mereka sebenarnya apa yang mereka


kehendaki? Asalkan benda tersebut ada di dalam
tumpukan barang-barang kami, cayhe pasti akan
menyerahkan keluar.”

Phoa Ceng Yan merasa sangat malu sekali, tapi untuk


beberapa saat iapun tak mengerti jawaban apa yang
harus diutarakan.

“Bocah, kau kembalilah ke bilik untuk beristirahat!”


ujar Liauw Thayjien kemudian kepada Liauw Wan Jie
seraya berpaling.

Liauw Wan-jie mengiakan, perlahan-lahan ia putar


badan bertindak masuk ke dalam ruangan.

Liauw Thayjien pun mengikuti dari belakang tubuh


Liauw Wan Jie melangkah masuk ke dalam ruangan.

Lama sekali Phoa Ceng Yan memandang bayangan


punggung kedua orang itu hingga lenyap dari
pandangan, akhirnya dengan hati murung ia putar badan
berjalan keluar dari ruangan.

Ketika Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong sudah


menanti di atas permukaan salju di luar ruangan.

Menemui kedua orang itu Phoa Ceng Yan langsung


tertawa getir.

“Sudah kalian dengar semua?”

364
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Semua telah kami dengar.” Nyoo Su Jan


membungkuk dan menjura.

“Perkataan dari Liawu Thayjien sedikitpun tidak salah,”


kata Phoa Ceng Yan setelah mendehem. “Kita hanya
tahu keadaan disekeliling kita penuh terkurung oleh
keadaan bahaya, tapi apa yang mereka kehendaki kita
orang masih belum jelas.”

Nyoo Su Jan termenung, lalu manggut.

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, barang


kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai banyak
perubahan bahkan masih terbungkus pula oleh suatu
rahasia yang sangat misterius dan susah diketahui,
jikalau dikatakan si Dewa Api Ban Cau sekalian sama
sekali tidak mendapatkan kabar berita, rasanya
merekapun tak bakal munculkan dirinya kembali di dalam
Bu lim setelah lama cuci tangan mengasingkan diri.”

“Yang menggelikan lagi adalah pihak bajingan sudah


tahu benda apa yang akan diincer, sebaliknya kita orang
yang melindungi barang tersebut masih tidak tahu
barang apa yang sedang kita kawali!”

“Kemungkinan sekali Liauw Thayjien hanya


dipergunakan orang? dengan demikian sudah tentu ia
sendirianpun tak bakal tahu rahasia di balik semuanya
ini…..”

Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya, lama sekali ia


termenung, akhirnya mengangguk.

365
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perkataanmu ini memang rada ceng li!”

“Jie-ya, bilamana dikemudian hari kau bisa berjumpa


lagi dengan mereka, baiknya gunakan sedikit siasat
untuk jebak mereka dalam perkataan.” bisik Nyoo Su Jan
lagi sambil dongakkan kepalanya memandang rembulan.

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Kelihatannya hanya satu-satunya jalan yang bisa kita


tempuh!”

Ia lantas ulapkan tangannya.

“Giok Liong, coba kau pergi meronda sebentar,


bilamana menemukan jejak musuh laporkan padaku
secepatnya.”

Lie Giok Liong menjura lalu putar badan berlalu.

Menanti Lie Giok Liong sudah lenyap dari pandangan,


Phoa Ceng Yan baru berpaling, bisiknya, “Su Jan, mari
kita kongkouw!”

Ia melangkah keluar dari ruangan kuil.

Dengan kencang Nyoo Su Jan membuntuti dari


belakang, sekeluarganya dari kuil ia baru menegur.

“Jie-ya, kita akan kemana?”

“Walaupun si Dewa api Ban Cau sudah mengundurkan


diri, tapi aku percaya mereka pasti sudah tinggalkan

366
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mata-mata di sekitar tempat ini untuk mengawasi segala


gerak-gerik kita.”

“Apakah Jie-ya akan menangkap dan cari keterangan


dari mulut mereka…….”

“Soal itu sih bukan!” potong Phoa Ceng Yan. “Aku


ingin agar supaya mereka suka membawakan sepucuk
suratku buat si Dewa Api Ban Cau.”

“Jie-ya, bila besok malam Cong Piauw-tauw belum


datang, maka lusa sebelum menjelang siang hari ia pasti
sudah tiba di sini, rasanya kalau mau bicara saat itulah
merupakan waktu yang paling tepat.”

“Su Jan! Coba kau bayangkan, jikalau Cong Piauw-


tauw sudah tiba di sini dan ia bertanya apa sebabnya
mereka ada maksud untuk mengganggu barang kawalan
kita jikalau aku tak dapat menjawab pertanyaan ini
bukankah peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian
yang sangat memalukan?”

Nyoo Su Jan tersenyum.

“Maka dari itu Jie-ya ingin menemui si Dewa Api dan


menanyakan keadaan sejelasnya sebelum Cong Piauw-
tauw tiba di sini?”

“Tidak salah, aku ingin menanyakan urusan ini sampai


jelas, dengan demikian bila Cong Piauw-tauw
mengajukan pertanyaan aku bisa menjawab dengan
lancar.”

367
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu itu kedua orang itu sudah berjalan


meninggalkan kuil sejauh enam-tujuh kaki di bawah
sorotan sinar rembulan dilihatnya permukaan tanah
hanya tertutup oleh selapis salju nan putih, seluruh jalan
raya telah diselimuti dengan salju.

“Situasi di sekeliling tempat ini tidak begitu kita


pahami, berjalan di malam hari rasanya kurang leluasa”
bisik Nyoo Su Jan lirih. “Jika Jie-ya memang ada maksud
hendak bertanya, Rasanya besok pagi cari merekapun
masih belum terlambat.”

“Baiklah! Kalau begitu kita tinjau dulu di sana dan


selidiki apa sebabnya mereka mengundurkan diri,
kemungkinan sekali di atas permukaan salju kita bakal
berhasil menemukan sesuatu jejak yang banyak
membantu kita di dalam pengungkapan rahasia ini.”

“Benar!” Nyoo Su Jan memperdengarkan tanda


setujunya. “Kecuali orang itu sudah berhasil melatih
kepandaian silatnya hingga mencapai taraf tidak
menempel tanah kalau tidak sepatunya di atas
permukaan salju tertinggal telapak kaki atau sedikitnya
tanda-tanda yang bisa diselidiki.”

“Heiii………! Marilah kita pergi adu untung! Selama


separuh hidupku aku berkelana di dalam dunia kangouw
dan banyak menemui manusia aneh maupun peristiwa
aneh tapi belum pernah berjumpa dengan situasi yang
sulit dan membingungkan semacam kali ini …….”

Ia merandek sejenak, lantas sembari memandang


sekejap ke arah Nyoo Su Jan tampaknya.

368
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Giok Liong berjaga di pos sebelah utara.”

“Tidak salah, biar hamba bawa jalan.”

Nyoo Su Jan berebut jalan terlebih dahulu di depan


Phoa Ceng Yan, lalu sambungnya, “Jie-ya, situasi yang
kita hadapi pada saat ini walaupun penuh diliputi awan
gelap ini masih berada dalam keadaan ada kekejutan
tanpa mara bahaya….. kita tidak tahu mengapa mereka
bermaksud mengganggu barang kawalan kita, jago-jago
Liok-lim serta iblis-iblis tua yang telah mengasingkan diri
satu demi satu saling susul menyusul munculkan dirinya
di dalam Bu-lim tapi kemudian seorang demi seorang
mengundurkan diri dalam keadaan sangat
mengherankan, suasana sekeliling kita rasanya penuh
diliputi oleh kemisteriusan, jikalau bukan dikarenakan
beban yang kita pikul untuk melindungi seluruh keluarga
Liauw terlalu berat, kepingin sekali hamba melakukan
suatu penyelidikan secara teliti.”

“Keadaan kita saat ini sama halnya dengan minum


arak di bawah pohon pare, mencari kesenangan di
tengah kepahitan.”

Sewaktu bercakap-cakap, mereka sudah tiba di kuil


bagian Utara.

Mereka berdua tidak bicara lagi, seluruh perhatian


dipusatkan jadi satu dan menyapu seluruh permukaan
salju dengan sinar mata tajam.

369
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sedikitpun tidak salah, di atas permukaan salju nan


putih mereka temukan sebaris bekas tapak kaki yang
kacau balau tidak karuan tapi seluruh bekas kaki tersebut
hanya terdapat di dalam lingkungan tiga kaki di luar
tembok kuil. Tiga kaki di balik lingkungan tersebut salju
tetap putih, jelas tidak pernah dijamah orang.

Jika ditinjau dari bekas telapak kaki yang tertera di


atas permukaan salju, agaknya orang-orang itu sudah
menemui suatu kejadian yang sangat mengejutkan
sewaktu tiba di tempat kurang lebih tiga kaki dari kuil
sehingga mereka terburu-buru putar tubuh dan lari
ngacrit, dengan demikian bekas kaki yang tertera di atas
permukaan salju pun jadi kacau balau tidak karuan.

“Di bawah sorotan sinar rembulan serta pantulan


cahaya dari permukaan salju, seharusnya dengan
ketajaman mata Giok Liong, benda dalam jarak tiga kaki
bisa ia lihat dengan sangat jelas sekali” kata Phoa Ceng
Yan.

“Benar, orang-orang itu pasti sudah menemui sesuatu


kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba kurang
lebih tiga kaki dari tembok kuil, sehingga mereka ngacrit
pergi dengan ketakutan,” sambung Nyoo Su Jan.

“Saat itu keadaan apa yang sudah mereka temukan di


tempat ini?”

Sinar mata Nyoo Su Jan dengan tajam menyapu


sekeliling kalangan, dan akhirnya sinar mata berhentu du
atas sebuah pohon kayu besi yang tumbuh pada suatu
tempat pemberhentian, hatinya jadi sedikit bergetar.

370
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jie-ya, jika ada orang bersembunyi di balik pohon


sambil melancarkan serangan mengundurkan para
penjahat, rasanya ia tidak perlu undurkan diri”.

“Sedikitpun tidak salah,” Phoa Ceng Yan menengok ke


sana.

Hawa murnipun disalurkan mengelilingi seluruh badan,


dalam dua tiga loncatan ia sudah tiba di sisi pohon
tersebut.

Sinar mata dengan tajam melakukan pemeriksaan,


tampak di sekeliling pohon tersebut sama sekali tidak
terdapat bekas-bekas telapak kaki yang menandakan
pernah dilalui orang, permukaan salju nan putih halus
bersih dan rata bagaikan kaca.

“Jie-ya, apakah berhasil menemukan sesuatu?” tanya


Nyoo Su Jan yang mengejar dari belakang.

Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Tidak, sedikitpun tidak terdapat bekas kaki.”

“Aku lihat lebih baik kita tak usah buang tenaga


dengan percuma lagi, semua urusan tunggu saja setelah
Cong Piauw-tauw kita datang!” kata Nyoo Su Jan sambil
menghembuskan napas panjang.

“Dalam keadaan seperti ini rasanya kita hanya dapat


berbuat demikian, kecerdikan serta kepandaian silat dari
Cong Piauw-tauw jauh melebihi kita orang semua,

371
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemungkinan sekali ia bisa berhasil menemukan sedikit


titik terang dalam keadaan aneh yang beruntun kita
temui ini.”

“Siapa, cepat berhenti!” tiba-tiba terdengar Lie Giok


Liong membentak keras.

“Giok Liong, aku! Seru Phoa Ceng Yan dengan air


muka berkerut.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah jago yang


berpengalaman sangat luas baru saja ucapan meluncur
keluar ia sudah merasa keadaan sedikit tidak beres,
dengan cepat badannya berputar ke belakang.

Nyoo Su Jan pun mengikuti gerakan Piauw-tauwnya


ikut putar badan ke belakang.

“Dalam waktu mereka berdua sama-sama putar


badan, hawa murnipun secara diam-diam disalurkan
mengelilingi tubuh siap melakukan penjagaan terhadap
segala kemungkinan.

Kurang lebih tiga kaki dari mereka muncul seorang


lelaki kasar berpakaian ringkas berwarna hitam gelap.

“Kawan! Setelah datang kemari seharusnya sebutkan


nama besarmu!” seru Phoa Ceng Yan sembari menjura.
“Cayhe adalah Phoa Ceng Yan, terimalah hormatku.”

Sehabis berkata ia rangkap tangan memberi hormat.

372
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sudah lama aku mendengar nama besar Phoa Jie-


ya!” sahut si orang berbaju hitam itu singkat.

Selangkah demi selangkah Phoa Ceng Yan maju ke


depan.

“Kawan, siapa namamu? maaf aku orang she Phoa


punya mata tak berbiji sehingga tidak tahu kapan kita
pernah berjumpa”

Orang berbaju hitam itu tetap berdiri tak bergerak di


tempat semula, hanya suara tertawa dingin bergema
tiada hentinya.

“Phoa Jie-ya! Ada baiknya jika kau jangan mendesak


terlalu maju ke depan di tengah malam buta begini cayhe
sama sekali tidak bernapsu untuk turun tangan terhadap
kalian.”

“Asalkan saudara tiada berniat untuk mengganggu


barang kawalan kami, itu berarti kawan karib dari aku
she Phoa, kawan, kenapa tidak masuk ke dalam kuil
untuk duduk-duduk sebentar? di tengah malam buta
dalam kuil kami walaupun tak ada hidangan lezat yang
bisa dihidangkan untuk menyambut tamu, tapi aku orang
she Phoa masih membawa sedikit arak bagus,
bagaimana kalau kita minum secawan untuk
menghangatkan badan…”

“Sungguh patut disayangkan cayhe masih ada urusan


di badan, tidak berani menerima tawaran baik dari Phoa
Jie-ya” potong si orang berbaju hitam itu cepat.

373
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar jawaban tersebut, Phoa Ceng Yan jadi


melengak.

“Kawan! Jikalau kau tidak ingin memberi tahu nama


besarmu, entah bolehkah cayhe ketahui apa maksud
kunjunganmu pada malam begini?”

“Jikalau urusan ini tiada sangkut paut dengan kau


Phoa Jie-ya, cayhepun tak akan datang berkunjung di
tengah malam buta yang dingin dengan menempuh
perjalanan di atas permukaan salju yang tebal ini.”

“Jika demikian adanya, kawan! Tentu kau sedang


menjalankan tugas penting.”

“Tidak salah! Cayhe memang sedang menjalankan


tugas perintah.”

“Entah perintah dari siapa?”

“Ke Kongcu”.

“si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”

“Tidak salah! Majikan kami memerintahkan cayhe


untuk memberitahu kepada Phoa Jie-ya kalian bahwa
keadaan kalian sudah terkepung rapat-rapat, si Dewa Api
Ban Cau dengan beberapa orang iblis sakti yang telah
mengundurkan diri dari kalangan dunia persilatan kini
sudah menunjukkan gerakan-gerakannya berjaga-jaga
untuk mengawasi daerah sekitar tempat ini.”

374
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Maksud baik dari Ke Kongcu akan kami terima


dengan senang hati, cayhe ucapkan banyak terima
kasih!” sahut Phoa Ceng Yan segera.

Si Orang berbaju hitam itu tertawa hambar.

“Majikan kami masih menitipkan pula sepatah kata.”

“Apa yang ia katakan?”

“Menurut majikan kami, jikalau Phoa Jie-ya


membutuhkan tenaga bantuannya, majikannya kami rela
turun tangan membantu kalian.”

Beberapa patah kata itu benar-benar berada di luar


dugaan Phoa Ceng Yan, maka setelah termenung
beberapa saat katanya.

“Antara Ke Kongcu dengan perusahaan expedisi Liong


Wie Piauw-kiok selama ini tiada ikatan dendam maupun
hubungan erat, aku rasa dibalik kesemuanya ini tentu
ada maksud tertentu bukan?”

“Phoa Jie-ya tidak malu disebut orang jago kangouw


kawakan, didalam mata tidak dapat dikotori dengan batu
kerikil, Majikan kami tidak sayang-sayangnya rela
mengikat dendam dengan banyak pentolan iblis sudah
tentu tak mungkin bekerja tanpa suatu balas jasa yang
besar pula.”

“Dapatkah kau orang jelaskan dulu berapa besar balas


jasa yang ia inginkan?”

375
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Liauw Si-cu tersebut memiliki sebuah lukisan, tolong


kau Phoa Piauw-tauw suka mengajak ia berunding, bila ia
suka hadiahkan barang itu kepada kami maka majikan
kamipun akan kerahkan semua tenaga yang dipunyai
untuk melindungi seluruh anak buah perusahaan piauw-
kiok kalian beserta keselamatan mereka sekeluarga…..”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

“Jika Phoa Piauw-tauw bisa menyampaikan maksud


hati majikan kami ini sudah tentu jauh lebih bagus lagi,
tapi bila Phoa Piauw-tauw tidak suka menyampaikan
pesan ini, maka cayhe mohon bisa bertemu dengan
Liauw Sicu dan menerangkan sendiri urusan ini
kepadanya.”

Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Tolong sampaikan kepada Ke Kongcu, katakan saja


maksud baiknya akan kami terima di hati, sedang
mengenai kau ingin membicarakan persoalan ini dengan
Liauw Thayjien sendiri, cayhe rasa itu tidak perlu.”

“Jadi kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka mewakili


kami untuk sampaikan urusan tersebut kepadanya?”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Kami perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok


sudah ada puluhan tahun melakukan pekerjaan ini, tapi
belum pernah berbuat begitu bodoh dengan menasehati
si pemilik barang untuk menyerahkan harta bendanya,
peraturan ini tak boleh rusak di tanganku.”

376
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa Jie-ya, kau pikirlah dengan lebih cermat,


majikan kami punya maksud baik.”

“Tadi aku orang she Phoa sudah katakan bahwa


maksud baiknya akan kuterima di hati saja, kawan!
Silahkan kau tinggalkan tempat ini!”

“Jika dilihat dari keadaan, agaknya Phoa Jie-ya tidak


suka minum arak kehormatan sebaliknya malah memilih
arak hukuman!”

“Kawan! Kalau bicara ada baiknya sedikit tahu aturan”


seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berubah
membeku. “Selama ini aku orang she Phoa selalu
pandang kau sebagai seorang utusan, sekembalinya dari
sini kau boleh utarakan seluruh perkataanku ini kepada
majikan kalian, jikalau Ke Kongcu ingin mencari diriku,
setiap saat aku orang she Phoa menunggu
kedatangannya di kuil ini.”

Si orang berbaju hitam itu tidak banyak bicara lagi, ia


tertawa dingin lalu putar badan berlalu dari sana.

Menanti si orang berbaju hitam itu sudah pergi sangat


jauh, Nyoo Su Jan baru menghela napas panjang.

“Jie-ya! Ke Giok Lang terang-terangan menginginkan


lukisan tersebut, aku lihat pandangan kita pasti tak bakal
salah lagi, bencana yang kita temui terus menerus dalam
melakukan perjalanan kali ini justeru penyakitnya pasti
terletak di atas gambar lukisan!”

377
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Setelah berhasil temukan sebab dari bencana yang


terjadi beruntun ini hatipun bisa lega, setelah Cong
Piauw-tauw tiba di sini, kitapun bisa memberikan
pertanggung jawaban!” kata Phoa Ceng Yan seraya
mengangguk.

“Jie-ya, jikalau Ke Giok Lang sungguh akan datang


mengunjungi kuil ini, maka Jie-ya siap menggunakan
cara apa untuk menghadapi dirinya?”

“Jika ia sungguh datang kemari terpaksa kita harus


melakukan suatu pertarungan melawan dirinya, cuma
setelah kupikir dua tiga kali rasanya ia tidak bakal datang
jika ia serius menginginkan gambar lukisan tersebut,
sekalipun kita halangi juga percuma saja. Sudah tentu
iapun tidak perlu menggunakan cara putar kalangan
macam begini lagi.”

“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak salah, kita tidak


takut serangan terang, justeru yang membuat kita jeri
adalah kemungkinan serangan gelap. jika semisalnya Ke
Giok Lang benar-benar mencari satroni ke dalam kuil ini
ada baiknya Jie-ya jangan terlalu banyak berbicara
dengan dirinya maupun menggubris dirinya.”

“Maksudmu ……….”

“Pertama bisa dihindari pertarungan satu lawan satu


dengan dia orang dan kedua memaksa ia mempunyai
pikiran yang tak menentu dan rasa curiga yang besar.”

Phoa Ceng Yan mengangguk.

378
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku harus berpikir lebih cermat dahulu baru bisa


mengambil keputusan….”

Sejurus kemudian ……. kurang lebih dua kaki dari


tembok pekarangan tiba-tiba tampak bayangan manusia
berkelebat lewat. Lie Giok Liong dengan meloncat
tembok pekarangan melayang datang.

“Menghunjuk hormat buat paman Jie-siok!” katanya


sembari menjura.

“Tidak perlu banyak adat……..”

Nyoo Su Jan buru-buru melangkah ke depan dan


mendekati ke sisi Lie Giok Liong, katanya lirih.

“Giok Liong, keadaan musuh sewaktu datang dan


pergi apakah ada menunjukkan sikap yang aneh?”

Lie Giok Liong termenung sejenak, akhirnya ia


menggeleng.

“Aku tidak berhasil menemukan hal yang aneh!”

“Kau tidak usah terburu-buru, coba dipikirkan lebih


teliti lagi, walaupun hanya urusan yang kecilpun jangan
kau lepas begitu saja.”

“Ada suatu titik yang rasanya sangat istimewa,


kedatangan orang itu sangat bernafsu dan ganas tetapi
sewaktu tiba dekat dengan kuil mendadak seperti telah
berjumpa dengan suatu peristiwa yang sangat

379
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengejutkan sekali kemudian buru-buru putar badannya


melarikan diri. Pada waktu itu mereka berada sangat
dekat dengan kuil sehingga secara lapat-lapat bisa
kelihatan sikapnya gugup dan cemas.”

“Jie-ya, saat ini paling sedikit satu soal yang berhasil


kita buktikan kebenarannya!” seru Nyoo Su Jan
kemudian.

“Ehmmm……. urusan apa?”

“Ada seorang jago berkepandaian tinggi yang secara


diam-diam membantu diri kita, orang lihay itu berhasil
mengejutkan para penjahat sehingga melarikan diri
terbirit-birit, sedang kita sama sekali tidak berhasil
temukan tempat persembunyiannya.”

“Orang lihay yang secara diam-diam membantu tidak


ingin kita mengetahui siapakah dirinya, aku rasa kitapun
tidak perlu terlalu paksakan diri cari akal untuk menemui
dirinya.”

Ia percepat langkahnya berjalan masuk ke dalam kuil


seraya tambahnya.

“Suruh mereka berjaga-jaga di sekitar tempat ini


menurut giliran, malam ini cahaya rembulan
memancarkan cahaya yang tajam di seluruh permukaan
salju, kecuali seorang jago lihay yang telah berhasil
melatih ilmu silatnya hingga mencapai taraf terbang, aku
rasa tak bakal lolos dari pengawasan maupun
pengintaian kita, setelah menemui tanda bahaya
cepatlah kirim kabar kepadaku.”

380
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Paman Jie-siok boleh berlega hati.” Lie Giok Liong


bungkukkan badan menjura.

Setibanya di dalam ruang kamar dalam kuil, Phoa


Ceng Yan jatuhkan diri berbaring ke atas tanah,
pejamkan mata dan beristirahat.

Walaupun begitu otaknya masih berputar terus


memikirkan segala peristiwa aneh yang baru ditemuinya
selama beberapa hari ini. Ia merasa setiap peristiwa yang
telah terjadi merupakan kejadian aneh yang belum
pernah ditemuinya selama dua puluh tahun bekerja
sebagai pengawal barang.

Semalaman berlalu dengan cepat tanpa menimbulkan


suatu peristiwa apapun.

Hari kedua seharian penuh juga aman tenteram tidak


terjadi segala kerepotan, suasana di sekitar kuil sunyi
sehingga seperti orang yang mengepung di sekeliling
sana sudah pada bubaran semua.

Liauw Thayjien yang harus menganggur seharian


menanti sang surya lenyap di balik gunung tak sabaran
lagi, tegurnya.

“Phoa-ya, ini hari seharian penuh tidak kelihatan


gerakan apapun, jika ada orang yang mau datang
rasanya sejak semula sudah datang.”

381
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kita tunggu satu malam lagi, besok siang mungkin


Cong Piauw-tauw kami sudah bisa tiba di sini, begitu ia
tiba kita segera melanjutkan perjalanan kembali.”

“Antara keluarga besanku serta He-koan mempunyai


hubungan yang sangat erat, ia sudah meminta
kedatanganku sebelum tutupan tahun, seharusnya He-
koanpun tidak boleh bikin kecewa harapannya, tolong
kau Phoa-ya suka memberitahu kepada anak buahmu
sekalian, katakan saja apabila kita bisa tiba di kota Kay
Hong Hu sebelum tutupan tahun maka setiap orang yang
ikut mengawal He-koan kali ini mendapat upah tambahan
sebesar tiga puluh tahil perak.”

“Tiga puluh tahil perak bukan suatu jumlah yang kecil,


Thayjien bisa timbul maksud semua ini tentu akan
disambut mereka dengan rasa terima kasih yang bukan
kepalang cuma Cong Piauw-tauw kami sudah peroleh
kabar melalui burung merpati, ia pasti berhasil temukan
tempat ini dan bila dihitung lamanya perjalanan, besok
siang tentu sudah akan tiba disini. Bilamana di tengah
jalan tidak terjadi peristiwa lagi, perjalanan bisa kita
lakukan lebih cepat sehingga memenuhi harapan Liauw
Thayjien untuk melewati akhir tahun di kota Kay Hong.”

“Semoga saja begitu” kata Liauw Thayjien perlahan. Ia


merandek sejenak lalu tambahnya.

“Phoa-ya! He-koan ada suatu urusan yang merasa


kurang paham, entah dapatkah kau memberi sedikit
keterangan?”

382
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tiada halangan, silahkan Thayjien ajukan


pertanyaan.”

“Kau adalah Hu Cong Piauw-tauw, dalam perusahaan


expedisi kalian kecuali Cong Piauw-tauw, apakah
kepandaian silatmu boleh disebut paling tinggi?”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, kemudian baru


menyahut.

“Kecuali Cong Piauw-tauw, kedudukan cayhe di dalam


perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok memang
dapat dihitung yang tertinggi, tapi dalam hal kepandaian
silat tak bisa dikatakan nomor dua lagi.”

“Akh! Phoa-ya terlalu merendah ……..”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Jikalau sampai besok siang Cong Piauw-tauw dari


perusahaan kalian masih belum kelihatan juga, apa yang
hendak kalian lakukan?”

Justeru karena persoalan ini Phoa Ceng Yan merasa


serba sulit apa lagi sekarang ditanyai secara langsung.

Setelah termenung beberapa saat baru jawabnya.

“Soal ini aku rasa tidak mungkin terjadi! Menurut


perhitungan kami sampai waktunya Cong Piauw-tauw
tentu bisa tiba di sini atau paling banter akan terlambat
satu dua keuntungan belaka.”

383
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa-ya! Bukannya He-koan tidak mempercayai


dirimu. He-koan hanya ingin tahu waktu yang benar bagi
pemberangkatan kita.”

“Baiklah! Jikalau Cong Piauw-tauw kami tidak bisa tiba


pada sore hari, kita segera berangkat besok.”

“Baiklah! Kita tetapkan demikian saja.” Liauw Thayjien


mengangguk. “He-koan percaya atas perkataan dari
Phoa-ya.”

“Liauw Thayjiem!” kata Phoa Ceng Yan sambil tertawa


getir. “Aku orang she Phoa berulang kali membatalkan
perjalanan kesemuanya adalah dikarenakan keselamatan
kalian sekeluarga, terus terang aku beritahu kepada
Liauw Thayjien, di balik kesunyian di sekeliling kuil ini
telah penuh tersebar jago-jago yang siap merampok
barang kawalan kita kali ini.”

“Apa yang mereka inginkan? Phoa-ya, tahukah kau


soal ini dengan jelas?”

“Cayhe berhasil mengetahui sebagian kecil saja……”

“Barang apa yang mereka inginkan?”

“Gambar lukisan pengangon kambing termasuk salah


sebuah barang yang diincar.”

“Kecuali lukisan pengangon kambing itu masih ada


barang apa lagi yang diinginkan?”

384
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika ditinjau dari keadaan mereka agaknya bukan


lukisan pengangon kambing saja yang diinginkan.”

“Jadi berarti masih ada yang lain? Apakah barang itu?”

“Hingga saat ini cayhe masih belum paham cuma


seharusnya dalam hati Liauw Thayjien sudah punya
perhitungan sendiri, bukan?”

“Aku benar tidak tahu barang apa yang diinginkan,”


kata Liauw Thayjien sembari menggeleng.

“Kalau begitu urusan jadi sulit, sewaktu kami terima


permintaan kalian dari pihak perusahaan benar-benar
tidak tahu barang apa saja yang dibawa Liauw Thayjien?
Tapi di pihak orang yang punya maksud untuk membegal
ternyata sejak lama sudah pusatkan pikiran cari berita
hingga sangat jelas sekali.”

“Hingga sampai saat ini aku lihat agaknya kau Phoa


Hu Cong Piauw-tauw masih tidak percaya terhadap He-
koan” seru Liauw Thayjien kembali sembari tertawa getir.

“Thayjien terlalu curiga, aku orang she Phoa bukannya


tidak percaya terhadap Liauw Thayjien cuma situasi yang
kita hadapi saat ini sangat aneh, dan aku orang she Phoa
sendiri masih merasa kurang paham terhadap urusan di
balik kesemuanya ini, mau tak mau harus kami selidiki
urusan ini sampai jelas.”

Jilid 11

385
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Demikian Saja!” kata Liauw Thayjien kemudian


setelah mendehem perlahan. “Jikalau Phoa-ya berjumpa
lagi dengan mereka katakan saja kepada orang itu, coba
lihat apa yang mereka inginkan? Asalkan barang yang
diminta ada di tanganku, He-koan rela menyerahkan
kepadanya, perkataan Siauw-li sedikitpun tidak salah,
harta kekayaan merupakan barang sampingan, apalagi
barang yang dimintapun tidak akan lebih merupakan
uang atau emas, barang-barang ini walaupun merupakan
benda berharga tapi sama sekali tidak berguna bagi
kami.”

“Sekalipun Thayjien siap serahkan barang yang


mereka inginkan, tapi cayhe tak akan menyanggupi…..”

“Phoa-ya, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan


perusahaan expedisi kalian, urusan ini adalah aku sendiri
yang rela serahkan padanya.”

“Sekalipun Thayjien ada maksud berbuat demikian,


aku berharap bisa melakukan hal ini dalam waktu yang
tepat.”

“Baiklah! Kita putuskan besok siang melanjutkan


kembali perjalanan, jika ada musuh mencegat lagi maka
He-koan akan serahkan barang yang mereka inginkan.”

“Dapatkah besok siang COng Piauw-tauw tiba di sini,


dalam hati Phoa Ceng Yan pada saat ini masih belum
punya pegangan yang kuat, karena itu iapun tidak
banyak bicara lagi.

386
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liauw Thayjien sendiripun tidak banyak bicara lagi, ia


putar badan meninggalkan tempat itu.

Semalaman lewat dengan cepat, hari keduapun telah


tiba. Tapi hingga mendekati siang hari masih belum
kelihatan munculnya Cong Piauw-tauw mereka di kuil
tesebut.

Liauw Thayjien tidak sungkan-sungkan lagi sambil


mengerutkan alisnya ia menegur diri Phoa Ceng Yan.

“Phoa-ya, menurut apa yang He-koan ketahui,


kebanyakan jago kangouw mengutamakan janjinya yang
telah diucapkan, kemarin malam kau sudah menyanggupi
untuk melanjutkan perjalan setelah menjelang siang
hari……”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan dongakkan kepala


memeriksa keadaan cuaca sedikitpun tidak salah kiranya
siang hari sudah lewat karena itu ia mengangguk.

“Baiklah! Jikalau Thayjien ngotot ingin melanjutkan


perjalanan kitapun segera berangkat.”

Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah Lie Giok


Liong, kemudian ujarnya, “Giok Liong, suruh mereka
siapkan diri kita akan segera berangkat.”

Lie Giok Liong bongkokkan badan terima perintah, ia


segera perintahkan beberapa orang anak buahnya untuk
persiapkan kereta.

387
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerak-gerik beberapa orang itu ternyata cukup


terlatih, tidak selang beberapa waktu keretapun telah
disiapkan.

Phoa Ceng Yan mendehem ringan, ujarnya kemudian,


“Silahkan nyonya dan putrimu naik ke dalam kereta, kita
segera berangkat……….”

Liauw Thayjien tidak banyak bicara ia panggil kacung


bukunya, dayang sang nyonya serta Siao-cia naik ke
dalam kereta, setelah itu baru ujarnya, “Phoa-ya! Jika
ditengah jalan kita berjumpa lagi dengan para penjahat,
apa yang mereka minta katakanlah kepadaku.”

“Baiklah, cuma cayhe ada beberapa patah perkataan


harus diutarakan dulu sebelumnya.”

“Urusan apa?”

“Thayjien serahkan barang yang akan mereka minta


adalah untuk mengganti nyawa kalian suami istri serta
putrimu, kami orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-
kiok tidak pernah makan macam begini……..”

“Phoa-ya, jika orang-orang itu memiliki kepandaian


silat yang sangat lihay?” potong Liauw Thayjien.

“Itu urusan kami sendiri, kau Liauw Thayjien tidak


perlu kuatir.”

Liauw Thayjien yang ketanggor batunya tidak banyak


bicara lagi, ia turunkan horden dan berdiam diri tak
berbicara lagi.

388
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Giok Liong” teriak Phoa Ceng Yan kemudian dengan


suara keras. “Kau dengan Toa Hauw berjalan di depan
kereta.”

“Siauw-tit menerima perintah!”

Dengan Thio Toa Hauw ia melangkah ke depan cepat.

“Jie-ya, kau sungguh-sungguh hendak berangkat?”


bisik Nyoo Su Jan lirih.

“Disekitar kuil yang terasa agak menyolok letaknya


tinggali tanda rahasia perusahaan katakan saja kita
berangkat siang ini dan suruh ia mengejar datang cepat-
cepat.”

“Hamba terima perintah!”

Ia lantas meninggalkan tanda di depan pintu besar kuil


tersebut.

Setelah keluar dari kuil melakukan perjalanan di atas


jalan raya tidak ada berapa lagi lama mendadak muncul
tiga orang lelaku kekar yang menggembol senjata
menghadang jalan pergi mereka.

Lie Giok Liong ulapkan tangannya, rombongan


keretapun pada berhenti.

Tidak sampai menanti laporan dari Lie Giok Liong, si


kakek tua she Phoa ini sudah menerjang maju ke depan
kereta.

389
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Giok Liong, kembali jaga keretamu.”

Kiranya sejak semula Phoa Ceng Yan sudah


persiapkan perubahan dalam menghadapi musuh, oleh
karena itu begitu melihat jejak lawan masing-masing pun
segera berdiri pada posisi-posisinya sendiri.

Terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang,


lima buah kereta kuda dengan cepat menggabungkan diri
membentuk lingkaran bulat.

Phoa Ceng Yan selangkah demi selangkah berjalan


mendekati ketiga orang itu, setelah menjura ujarnya.

“Cayhe Phoa Ceng Yan, kawan bertiga setelah


menghadang kereta barang kami aku rasa tentu ada
urusan hendak bicarakan bukan?”

Dalam hati ia mengerti yang baik tidak akan datang,


yang datang pasti tidak mengandung maksud baik, tapi
urusan sudah berada di depan mata memberi
penjelasanpun tak berguna, jauh lebih baik bila
memperlihatkan keangkeran dari seorang Hu Cong
Piauw-tauw.

Usia ketiga orang lelaki itu rata-rata berada di antara


empat puluh tahunan, orang yang berada di sebelah kiri
menyoren sepasang kaitan Hauw Tauw Siang Kouw,
orang yang ditengah menggembol golok Yen Ling To
sedang orang yang ada disebelah kanan menggembol
sebuah cambuk lemas tiga belas ruas yang dilibatkan
pada pinggang.

390
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si orang yang berada di paling tengah berjalan dua


langkah ke muka, katanya.

“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Thiat


Ciang Kiem Huan, Phoa Jie-ya, ini hari bisa bertemu
sungguh merupakan suatu keuntungan seumur hidup.”

Phoa Ceng Yan tetap bertangan kosong, ia rangkap


tangannya menjura dan tertawa hambar.

“Tidak berani….tidak berani, maaf cayhe bermata tak


berbiji susah mengenal siapakah kawan bertiga?”

“Phoa-ya adalah seorang jago kenamaan dalam dunia


persilatan, sudah tentu saja tak bakal kenal kami tiga
orang prajurit tak ternama dalam Bu-lim.”

“Hmmm!” Phoa Ceng Yan mendengus dingin. “Kawan!


Di tengah hawa dingin yang membekukan badan,
rasanya kalian bertiga mencari aku bukan untuk
mengajak aku orang she Phoa kongkouw bukan!”

“Kedatangan kami memang sedang membawa


tugas……….” lelaku yang berada di tengah itu tertawa
seraya mengangguk.

“Mendapat perintah dari siapa kalian bertiga?”

“Si Dewa Api Ban Cau, menurut Ban-ya katanya ia


pernah berjumpa dengan Phoa-ya.”

391
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sedikitpun tidak salah, urusan apa yang


diperintahkan Ban Cau agar kalian bertiga suka
menyampaikan kepada aku orang she Phoa?”

Lelaki kasar yang berdiri di tengah kalangan itu


tertawa terbahak-bahak.

“Haaa……haaa…..haaa….. kata Ban-Toaya ia dengan


pihak perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok tidak
pernah terikat dendam sakit hati apapun, ia tidak ingin
dikarenakan persoalan kecil telah menyesetkan kulit
muka, karena peristiwa ini lantas terikat dendam sedalam
lautan……”

“Haaa…… haa…..haaa….. kalau begitu bagus sekali”


Phoa Ceng Yan pun tertawa terbahak-bahak memotong
pembicaraannya yang belum selesai itu. “Si Dewa Api
Ban Cau bisa timbul maksud hati yang begitu baik aku
orang she Phoa merasa sangat berterima kasih sekali,
harap Cu-wi beberapa orang suka menyampaikan rasa
terima kasihku yang sedalam-dalamnya, katakan saja,
setelah aku orang she Phoa selesai menghantar barang
kawalan kami ini, tentu akan naik ke gunung akan
menyambangi dirinya dan mengucapkan terima kasih
atas maksud baiknya kali ini.”

“Phoa-ya, siauwte masih ada beberapa urusan belum


disampaikan.”

“Baik! Katakanlah, aku orang she Phoa akan pentang


telinga lebar untuk mendengarkan perkataanmu itu.”

392
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Walaupun Ban-ya punya maksud untuk berpikir


demikian, tapi di dalam hatinya pun punya kepahitan
sendiri dan berharap Phoa-ya suka memaafkan.”

“Soal apa yang perlu dimaafkan?”

“Majikan yang Phoa-ya lindungi kali ini, Liauw Thayjien


katanya memiliki gambar lukisan..”

“Lukisan pengangon kambing!” sambung Phoa Ceng


Yan dingin.

“Tidak salah, Phoa-ya! Kau sudah mengetahui jelas


bukan?”

“Hee….hee….hee… lukisan pengangon kambing yak


kau maksudkan? sungguh sayang cuma sebuah.”

Ternyata si lelaki kasar yang berdiri di tengah itu


mempunyai mulut tajam dan pandai berbicara, ia tertawa
hambar.

“Phoa-ya! Jika di kolong langit terdapat sepuluh atau


delapan buah lukisan pengangon kambing, si Dewa Api
Ban Toaya pun tak akan memohon bantuan dari Phoa-
ya.”

Mendengar perkataan tersebut tiba-tiba Phoa Ceng


Yan merasakan hatinya rada tergerak, pikirnya, “Apa
yang dibawa oleh Liauw Thayjien agaknya sudah
diketahui jelas oleh orang luar, mengapa aku tidak
pinjam kesempatan yang sangat baik ini untuk
melakukan penyelidikan?”

393
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teringat akan persoalan itu, segera ujarnya, “Lukisan


pengangon kambing itu? sungguh sayang dia sudah
dipesan terlebih dahulu oleh orang lain, jikalau kecuali
lukisan pengangon kambing itu, masih ada barang lain
yang bisa menggantikan benda tersebut mungkin cayhe
bisa bantu-bantu diri Ban Cau untuk membujuk sang
pemilik barang dan suka memberikan kepada kalian.”

“Siapa yang sudah pesan lukisan pengangon kambing


itu terlebih dahulu…..?” seru si lelaki tadi dengan nada
tertegun.

“Sekalipun aku beritahu kepadamu kawan belum tentu


cuwi bernyali untuk pergi menanyakan persoalan ini
kepadanya!”

“Kami bertiga mungkin tidak bernyali, tapi Ban Toaya


serta beberapa orang kawan mungkin bisa bertindak
tolong silahkan Phoa Jie-ya mengutarakan secara terus
terang!”

“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang rasanya kalian bertiga


sudah pernah mendengar namanya bukan!”

Mendengar disebutkannya nama orang itu, ketiga


orang lelaki tadi segera berubah muka, setelah
termenung beberapa saat lamanya si lelaki yang berdiri
di tengah berkata kembali.

“Perkataan dari Phoa-ya berat bagaikan sembilan


Hioloo, kami percaya kau Phoa Jie-ya tidak sedang
berbohong.”

394
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ke Giok Lang sudah mengirim orang datang untuk


memesan lukisan pengangon kambing itu, tapi aku orang
she Phoa belum setuju untuk berikan barang itu
kepadanya.” jawab Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok ini dingin.

“Ooouw……. kiranya begitu.”

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan menoleh dan


memandang sekejap ke arah formasi kereta kawalannya,
setelah melihat barisan telah siap iapun berkata kembali.

“Ban Cau mengirim kalian bertiga datang kemari,


rasanya ia sendiripun sudah berada di dekat sini bukan?”

“Bila Phoa Jie-ya ada perkataan, utarakan saja


kepadaku!”

“Begitupun baik, tolong saudara suka memberi laporan


kepada Ban Cau, katakan saja aku orang she Phoa dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak senang membeli
hubungan persahabatan ini, Cong Piauw-tauw kami
sebentar lagi bakal tiba, jika Ban Cau ada urusan hendak
dibicarakan dengan aku orang she Phoa maka suruh ia
muncul sendiri, bila terlambat terpaksa aku akan
persilahkan dia orang membicarakan sendiri persoalan ini
dengan Cong Piauw-tauw kami.”

“Cong Piauw-tauw kalian apakah benar “Thian Tan


Kim Leng Ceng Pat Fang” atau si Lempengen Besi Genta
Emas yang menggetarkan delapan penjuru Kwan Tiong
Gak, Kwan Toaya?” seru si lelaki itu rada tertegun.

395
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Di kolong langit saat ini baik dari kalangan Pek to


sama pada tahu bila COng Piauw-tauw dari perusahaan
Liong Wie piauw-kiok adalah Kwan Tiong Gak, Kwan
Toaya, Kawan! Agaknya kau rada kurang percaya?”

Kwan Tiong Gak punya gelar manusia yang


menggetarkan delapan penjuru, ia benar-benar punya
kemampuan untuk mengusir dan menumpas gangguan
iblis, begitu menyebutkan nama besarnya seketika itu
juga membuat ketiga orang itu merasa terperanjat dan
bergidik.

“Phoa-ya!” ujar si lelaki yang berdiri di tengah itu


seraya menjura.”Kami datang kemari karena sedang
menjalankan tugas, apa yang Phoa Jie-ya katakan tadi
pasti akan kami sampaikan seadanya tanpa ditambahi
dengan sepatah katapun.”

“Heee…..heee…..heee…… sekalipun kalian bertiga ada


maksud menambahi perkataanku pun boleh saja,”
sambung Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.

“Phoa Jie-ya terlalu banyak curiga!”

Ia mendehem perlahan, kemudian tambahnya.

“Kami telah mengganggu perjalanan Phoa Jie-ya


dengan beberapa perkataan yang tak berguna, dalam
hati merasa sangat tidak enak kesalahan yang telah kami
perbuat masih mengharapkan Phoa Jie-ya suka
memaafkan, kami mohon diri terlebih dahulu.”

396
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia putar badan lantas berlalu dengan langkah lebar.

“Saudara bertiga harap tunggu sebentar” tiba tiba


Phoa Ceng Yan berseru setelah termenung beberapa
saat.

Ketiga orang itu sama-sama menghentikan langkahnya


dan putar badan.

“Phoa Jie-ya, masih ada pesan apa lagi?”

Sinar mata Phoa Ceng Yan perlahan-lahan menyapu


sekejap ke atas wajah ketiga orang itu, lalu sambil
tertawa katanya.

“Sewaktu kalian bertiga berjumpa dengan si Dewa Api


Ban Toaya, tolong sampaikan salam dari aku orang she
Phoa.”

“Pesan Phoa Jie-ya pasti akan kami sampaikan,” sahut


si lelaki itu mengiakan.

“Kalau begitu bagus sekali, aku orang she Phoa


mengucapkan terima kasih dahulu kepada kalian
bertiga…”

Ia mendehem berat, setelah merandek sejenak


sambungnya, “Burung belibis lewat meninggalkan suara,
manusia lewat meninggalkan nama, kalian bertiga
bersemangat jantan, mengapa tidak suka meninggalkan
nama?”

397
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika Phoa Jie-ya masih ingin bertanya cayhe pun tidak


bisa tidak harus memberitahu juga, kami bersaudara
adalah Lam Thian Sam Yen atau Tiga Belibis dari Lam
Thian.”

“Selamat berjumpa!” seru Phoa Ceng Yan sambil


ulapkan tangannya.

Si lelaki itu menjura setelah itu bersama-sama putar


badan berlalu.

Gerakan tubuh ketiga orang itu cepat bagaikan kilat,


tidak selang beberapa saat lamanya jejak mereka sudah
lenyap tak berbekas.

Beberapa buah kereta kuda itu masih tetap berada


dalam posisi bulat siap menghadapi serbuan musuh.

Perlahan-lahan Lie Giok Liong melangkah maju ke


depan.

“Paman Jie-siok!” bisiknya lirih. “Kita akan melanjutkan


perjalanan ataukah tetap berada dalam posisi begini
sambil menanti perubahan situasi?”

“Lam Thian Sam Yen tidak lebih cuma kaki tangan


pembantu belaka, saat ini mereka kembali untuk
menyampaikan laporan. Si Dewa Api Ban Cau selama ini
bergerak di sekitar daerah utara sedangkan Lam Thian
San Yen muncul di daerah sekitar Kang Lam, kali ini jago
Liok-lim dari kalangan Kang Lam serta kang Pok bisa
bersekongkol sudah tentu urusan tidak sedemikian

398
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gampang, sekarang kita masih belum bisa melanjutkan


perjalanan, tunggu sebentar lagi baru ambil keputusan.”

“Perkataan dari paman Jie-siok sedikitpun tidak salah,”


kata Lie Giok Liong seraya menjura. “Aku akan pergi
memberi kabar kepada mereka dahulu.”

Pada wajtu itu, tiba-tiba Liauw Thayjien muncul dari


balik kereta seraya berjalan mendekat.

“Phoa Jie-ya!” sapanya.

“Thayjien ada pesan?” tanya Phoa Ceng Yan dengan


alis berkerut.

“Bagaimana pembicaraan Phoa Jie-ya dengan


mereka?”

“Bicarakan soal apa?”

“He-koan telah berunding dengan hujien dan siauw-li,


selain lukisan pengangon kambing, kamipun rela untuk
memberikan semua yang ada pada kami asal bisa
selamat tiba di tempat tujuan.”

“Thayjien terlalu royal…..”

Sewaktu mereka sedang berbicara, mendadak muncul


dua butir benda hitam sebesar telor itik menggelundung
datang di atas permukaan salju.

Melihat benda itu Phoa Ceng Yan jadi sangat


terperanjat.

399
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Thayjien cepat menyingkir!” teriaknya keras.

Sebaliknya Liauw Thayjien malah tercengang


dibuatnya.

“Aaaaakh! Dua ekor tikus tanah!” serunya.

Dalam pada itu, kedua gulung bayangan hitam tadi


telah tiba kurang lebih enam-tujuh langkah di depan
kedua orang itu.

“Bluuum…….! Bluuum…..!” diikuti dua kali ledakan


keras, kedua gulung bayangan hitam tadi telah meledak
di atas permukaan salju.

Bila dibicarakan sungguh aneh sekali, kedua benda


bayangan hitam tadi ternyata memercikan bunga-bunga
api yang amat besar di atas permukaan salju kemudian
berkobar menjadi suatu kebakaran yang sangat besar.

Selama hidup Liauw Thayjien belum pernah menemui


kejadian macam begini, ia jadi amat terperanjat.

“Apa yang telah terjadi?” tanyanya lirih.

“Suatu permainan dari si Dewa Api Ban Cau!”

Tampak dua gulung bunga api yang menimbulkan


kebakaran di atas permukaan salju itu makin lama
berkobar makin besar dalam sekejap mata percikan api
sudah meluap hingga mencapai ketinggian tiga depa
dengan luas enam depa lebih, separuh bagian jalan raya

400
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah dijilati oleh kobaran api, salju mencair dan


mengalir kemana mana tapi sama sekali tidak
mempengaruhi kobaran api tersebut.

Melihat jilatan api yang makin lama meninggi itu Liauw


Thayjien berdiri termangu mangu, jelas dihatinya merasa
amat terperanjat oleh kejadian tersebut.

Lain halnya dengan Phoa Ceng Yan, ia sama sekali


tidak terpengaruh oleh oleh kobaran api yang membakar
permukaan salju itu, sepasang matanya dengan tajam
memperhatikan perubahan situasi di empat penjuru.

“Bluum…..! Bluum………..!” kembali terjadi dua kali


ledakan keras yang memekakkan telinga, dua gumpalan
api yang sedang berkobar memenuhi angkasa itu kembali
menyalakan cahaya biru yang menyilaukan mata
membumbung jauh tinggi ke angkasa mencapai
ketinggian tiga tombak lalu punah dalam bentuk asap
biru yang tebal.

Ketika itu sang surya tepat di atas kepala, sinar


matahari sangat tajam……..semisalnya ketika itu malam
hari maka bunga api yang terpercikkan dari asap biru
tersebut tentu sangat menarik untuk dilihat.

Perhatian Phoa Ceng Yan tanpa terasa ikut tersedot


oleh kobaran cahaya biru yang membumbung tinggi ke
angkasa itu.

Menanti ia tersadar kembali si Dewa Api Ban Cau


sudah muncul dari balik dua gumpalan asap biru itu.

401
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keadaan dari si Dewa Api Ban Cau pada saat ini


sangat aneh, ia memakai baju warna merah padam yang
menyolok, bahkan sampai kepalapun memakai topi
warna merah darah, tangan memakai kaos tangan warna
merah pula.

“Thayjien, silahkan mengundurkan diri ke belakang,


jangan sampai terluka badanmu!” seru Phoa Ceng Yan
dengan nada berat.

Liauw Thayjien menurut dan berturut-turut mundur


lima langkah ke belakang, tapi ia tetap tidak suka
mengundurkan diri ke dalam kereta.

Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya, tetapi ia tetap tidak


menegur lebih lanjut.

Terdengar Ban Cau mendehem berat.

“Phoa-heng! Siauw-te sama sekali tiada minat untuk


mencari keonaran dengan dirimu tapi Phoa-heng tidak
suka mengalah satu tindak untuk orang lain, maka
Siauw-te terpaksa harus mengenakan kembali pakaian
yang sudah ada dua puluh tahun lamanya belum pernah
dikenakan.”

“Saudara telah berganti dengan mengenakan pakaian


ini, aku pikir tentu kau sudah bulatkan tekad untuk
membegal barang kawalanku kali ini bukan??”

“Saat ini rasanya kita masih bisa saling merundingkan


persoalan ini secara damai.”

402
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Heee……heee…..heee…..heee…… tempo dulu Ban-


heng dengan mengenakan pakaian merahmu ini telah
main bakar sesukanya sehingga membuat kawan-kawan
Bu-lim di sekitar daerah Kiang Pak pada jeri dibuatnya
setiap kali mendengar namamu….” seru Phoa Ceng Yan
sambil tertawa dingin.

“Haaa……haaa…..haaa….. Phoa heng terlalu memuji..”

“Kalau begitu silahkan Ban-heng suka membakar,


bakar dulu diri aku she Phoa.”

“Maksud Phoa Jie-ya kau anggap siauw-te takut untuk


membakar dirimu?” seru Ban Cau dengan air muka
berubah hebat.

“Sudah tentu Ban-heng berani melaksanakan


pekerjaan tersebut, tapi siauw-te merasa bahwa api dari
Ban-heng tersebut belum tentu bisa membakar habis
semua orang yang aku bawa ini, bersamaan itu pula
kemungkinan sekali perbuatan itu bakal memancing
serangan balasan dari kami.”

“Haa….haaa……haaa….soal itu sih aku tahu” Ban Cau


tetawa tergelak. “Maksud Phoa heng bukankah sedang
memperingatkan kepada siauw-te agar jangan lupa
terhadap serangan balasan dari gelang emas pencabut
nyawamu itu bukan?”

“Hee….heee……heee…. sedikitpun tidak salah” Phoa


Ceng Yan tertawa dingin. “Jikalau kau Ban Cau main api,
terpaksa aku pun harus mengandalkan anak panah serta
gelang emas untuk balas melancarkan seranganmu.”

403
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam pada waktu Lie Giok Liong serta Ih Coen


masing-masing dengan golok tersoren di punggung dan
tangan mencekal anak panah berdiri di kedua belah sisi
jalan raya.

Agaknya kedua orang itupun merasa rada jeri


terhadap permainan api dari Ban Cau, kurang lebih satu
tombak dari Ban Cau berada mereka berdua sama pada
berhenti.

“Kalian berhati-hatilah memperhatikan” teriak Phoa


Ceng Yan dengan suara keras-keras. “Begitu aku turun
tangan, kalian umpan anak panah kepadanya.”

“Turut perintah!” sahut Lie Giok Liong serta Ih Coen


berbareng.

Sikap Ban Cau tetap sinis, serius, dan sepasang


matanya dengan memancarkan cahaya tajam
memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling empat
penjuru.

“Dua buah kotak anak panah ditambah permainan


gelang emas dari kau Phoa Jie-ya belum tentu bisa
melukai aku Ban Cau” ejeknya.

“Asal Ban heng tidak main api kamipun tak akan


umpan anak panah serta senjata rahasia untuk balas
melancarkan serangan.”

“Maksud Phoa Jie-ya…”

404
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jikalau kau Ban Cau bisa mengalahkan aku orang she


Phoa barang satu atau setengah juruspun dengan tidak
menggunakan senjata api, maka aku akan segera putar
badan berlalu dan sejak ini hari tak akan melakukan
pekerjaan mengawal barang lagi dalam dunia
kangouw….”

“Heee………heee……..heee……. sumpah Phoa-ya terlalu


berat………” jengek Ban Cau sambil tertawa dingin.

“Kau Ban-ya berani terima tantanganku…”

Sekonyong konyong terdengar suara tertawa panjang


bergema datang memecahkan kesunyian seraya
memotong pembicaraan Hu Cong Piauw-tauw dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang belum selesai itu.

“Sekalipun Ban Cau setuju, cayhe tak akan


menyetujui!.”

Bersamaan dengan munculnya suara, bayangan


manusiapun muncul di tengah kalangan.

Orang itu bukan lain adalah si Hoa Hoa Kongcu “Im


Yang Pan” atau si penguasa Im Yang Ke Giok Lang
adanya.

Orang itu memakai jubah warna biru, walupun dalam


udara sangat dingin tangannya tetap juga mencekal
sebuah kipas.

Dengan gaya seorang pelajar ia simpan kipasnya lalu


dengan hormat menjura ke arah Liauw Thay jien,

405
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke


arah Phoa Ceng Yan, sambungnya lebih lanjut.

“Phoa-ya! Sejak semula cayhe sudah kirim orang


untuk memesan barang tersebut rasanya Phoa Jie-ya
masih ingat bukan??”

Diam-diam Phoa Ceng Yan menjerit pahit, seorang


Dewa Api Ban Cau saja sudah cukup merepotkan, apalagi
saat ini bertambah lagi dengan seorang Hoa Hoa Kongcu
Ke Giok Lang, bukankah hal ini sama halnya di tengah
hujan salju tertutup pula oleh badai kabut.

Tetapi justru dengan munculnya si Hoa Hoa Kongcu


Ke Giok Lang membuat situasipun terjadi suatu
perubahan yang sangat menguntungkan.

Setelah berpikir beberapa saat, ia lantas menyahut.

“Sedikitpun tidak salah, orang yang Ke Kongcu kirim


sudah tiba, cuma aku orang she Phoa belum ambil
keputusan.”

“Ooouw…….soal itu sih tidak penting,” kata Ke Giok


Lang sambil goyang goyangkan kipas dan tertawa.
“Asalkan aku orang she Ke berjalan setindak lebih
didepan dengan menduduki posisi “Ceng li”, maka Siauw-
te tidak percaya ada manusia yang bernyali cari gara-
gara dengan aku orang she Ke!”

Beberapa patah perkataan ini diucapkan dengan


sangat jelas sekali, agaknya ia sengaja mencari urusan
dengan si Dewa Api Ban Cau.

406
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ke Kongcu, cayhe adalah si Dewa Api Ban Cau,” kata


orang itu dengan alis berkerut.

“Ban Toa-ya, sewaktu aku orang she Ke berkelana


dalam dunia persilatan, agaknya Ban-heng telah lama
meninggalkan dunia kangowu bukan?” seru Ke Giok Lang
sambil goyang goyangkan kipasnya.

“Benar, sewaktu Ke Kongcu angkat nama dalam dunia


persilatan, cayhe memang telah mengundurkan diri.”

“Setelah Ban-heng mengundurkan diri dari keramaian


Bu Lim, mengapa saat ini harus munculkan diri kembali?
Haruslah kau ketahui Ombak-ombak belakang sungai
Tiang Kang mendorong ombak yang ada di depannya,
manusiapun generasi baru mulai menghentikan generasi
lama, saat ini waktu masih belum terlambat, apabila Ban
heng suka jauh meninggalkan tempat ini mungkin masih
bisa meninggalkan akhir yang baik.”

Air muka si Dewa Api Ban Cau langsung saja berubah


hebat.

“Menurut apa yang Ke Kongcu katakan, jikalau aku


orang she Ban tidak pergi ada kemungkinan besar bisa
memperoleh akhir yang tidak baik.”

“Pertarungan tak bermata, siapa orang yang bisa


menyakinkan suatu kemenangan dalam pertarungan
sengit.?” seru Ke Giok Lang tertawa.

407
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Heee……heee……heee….. tapi aku lihat agaknya Ke


Kongcu merasa begitu yakin bisa menekan para jago
lainnya…….”

Ke Giok Lang ulapkan kipasnya memotong perkataan


Ban Cau ujarnya.

“Siauw-te hanya bermaksud baik belaka, tapi jikalau


Ban-heng tidak suka mengikuti nasehat tersebut, maka
terpaksa kita harus selesaikan persoalan ini dengan
mengandalkan kepandaian kita.”

Phoa Ceng Yan yang menonton kejadian tersebut dari


samping, begitu melihat pembicaraan kedua orang itu
makin lama diucapkan semakin ketus dan kaku, agaknya
sebentar lagi bakal terjadi suatu pertarungan, diam-diam
dalam hati berpikir.

“Anjing menggigit anjing, bilamana mereka berdua


bisa bertarung terlebih dahulu maka aku bisa menjadi
nelayan yang tinggal pungut hasilnya…… inilah suatu
saat yang sangat menguntungkan.”

Karena sudah ada perhitungan maka dari itu mulutnya


tetap membungkam, siapa nyana tiba-tiba Ke Giok Lang
menoleh, sambil memandang wajah Phoa Ceng Yan
katanya.

“Phoa-heng, rasanya kau sudah mendengar seluruh


pembicaraan di antara kami bukan.”

“Hmm…..! Sudah aku dengar semua.”

408
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika ditinjau dari persoalan itu, rasanya orang yang


menginginkan lukisan pengangon kambing itu bukanlah
siauw-te seorang?”

“Perduli siapapun bila ingin memperoleh lukisan


pengangon kambing itu, maka ia harus menerobos
dahulu barikade dari perusahaan Liong Wie piauw-kiok.”

Ke Giok Lang dongakkan kepala tertawa terbahak


bahak.

“Haaa……..haaa…….haaa…….. Phoa-heng manusia


budiman cepat bicara, perkataan yang telah diucapkan
selalu teguh bagaikan karang, justru aku orang she Ke
punya satu persoalan ingin minta petunjuk.”

“Aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar untuk


mendengar perkataanmu itu.”

“Lukisan pengangon kambing itu adalah Cayhe yang


pesan terlebih dahulu, bila semisalnya Phoa heng hendak
mengalah, bukankah siauw-te orang pertama yang bakal
memperoleh benda pusaka tersebut.?”

“Cuma sayang aku orang she Phoa sama sekali tidak


berniat untuk mengalah kepada siapapun.”

“Aku orang she Ke cuma ingin menjelaskan terlebih


dahulu persoalan ini, tentang Phoa heng suka mengalah
atau tidak, rasanya itu merupakan persoalan lain.”

Liauw Thayjien yang selama ini berdiri di samping


kalangan, tiba-tiba menimbrung.

409
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jikalau He-koan rela menghadiahkan lukisan


pengangon kambing itu kepadamu, maka apa yang
hendak kau lakukan?”

“Soal ini tergantung barang tersebut hendak kau


serahkan kepada siapa!” sahut Ke Giok Lang.

Phoa Ceng Yan hendak mengutarakan pendapatnya,


tapi kena dicegah oleh goyangan tangan Liauw Thayjien.

“Barang itu milikku, sudah tentu akulah yang berhak


untuk mengambil keputusan, Hu Cong Piauw-tauw tidak
perlu ikut campuri dalam persoalan ini.”

“Bisa menyelesaikan persoalan tanpa melakukan


hubungan di antara kita semua itulah yang paling bagus,
sekarang kau boleh membuka harga,” kata Ban Cau.

“Syaratku sederhana, asalkan kami sekeluarga bisa


tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun maka
barang itu akan kuserahkan kepada kalian.”

Ke Giok Lang tertawa dingin, dengan mulutnya tetap


membungkam.

Phoa Ceng Yan sendiripun bungkam sambil


memandang ke arah Liauw Thayjien.

Sebaliknya Ban Cau alihkan sinar matanya menyapu


sekejap ke arah para jago di sisinya.

410
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saudara bermaksud hendak serahkan lukisan


pengangon kambing itu kepada siapa?”

“Aku sama sekali tidak mengenal cuwi, siapa saja


sanggup menghantar aku sampai ke kota Kay Hong
maka lukisan pengangon kambing itu akan aku serahkan
kepadanya.”

“Setiap orang munculkan diri di tempat ini sama


berharap bisa mendapatkan lukisan pengangon kambing
itu, dan saudara harus memilih salah satu di antara kami
semua,” ujar Ban Cau lagi.

Liauw Thayjien mendehem perlahan.

“Siapakah di antara cuwi sekalian yang berkepandaian


silat paling tinggi cayhe sama sekali tidak tahu, secara
bagaimana aku bisa jatuhkan pilihan?”

“Jikalau demikian adanya, maka saudara harus


mengadu untung,” seru si Dewa api seraya menggeleng.

“Phoa-ya!” kata Liauw Thayjien kemudian sambil


alihkan sinar matanya ke arah Phoa Ceng Yan. “Kau
sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, rasanya tentu sudah lama mengenal kedua
orang ini bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, orang yang memakai jubah


warna biru itu adalah Ke Kongcu sedang orang yang
memakai jubah serba merah itu adalah si Dewa Api Ban
Cau.”

411
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lalu lukisan pengangon kambing itu aku harus


serahkan kepada siapa?”

“Menurut jalan pikiranku, siapapun jangan diserahkan


lukisan tersebut karena siapapun diantara mereka tak
ada yang bertenaga untuk melindungi kalian tiba di kota
Kay Hong sebelum tutupan tahun.”

Ke Giok Lang tertawa dingin serunya.

“Sekarang kecuali si Dewa Api Ban Cau boleh dikata


cayhepun terhitung salah satu jikalau kau Liauw Thayjien
suka menyerahkan lukisan pengangon kambing itu
kepadanya, itu berarti telah menyalahi orang baik, harap
kau suka berpikir tiga kali sebelum mengambil
keputusan!”

“Inilah syaratku, asalkan cuwi bisa melindungi aku


sekeluarga tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun,
lukisan pengangon kambing ini pasti cayhe serahkan
kepada kalian.”

“Menurut apa yang cayhe ketahui” ujar Ke Giok Lang


kembali sambil tertawa. “Kecuali kami masih banyak para
jago Bu Lim yang berusaha turun tangan membegal
barang kawalan kalian.”

“Siapa mereka itu?” sela Liauw Thayjien.

“Pokoknya banyak orang, kau tak pernah berkelana


dalam dunia kangouw, sekalipun kusebut nama mereka
juga percuma saja.”

412
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa-ya, sebetulnya apa yang telah terjadi…..”


akhirnya saking bo-hoatnya Liauw Thayjien bertanya
kepada Phoa Ceng Yan.

“Dunia kangouw sangat berbahaya dengan segala tipu


muslihat licik. Thayjien adalah keluarga berasal dari
kaum terpelajar, sudah tentu tak mungkin bisa hadapi
mereka!”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian


tambahnya.

“Thayjien, bila kau ingin kembali ke dalam kereta,


silahkan untuk beristirahat!”

“Tapi Phoa-ya, urusan belum ada


penyelesaiannya………”

Ia perendah suaranya, lalu sambungnya lebih lanjut,


“Jikalau mereka berdua pada ngotot untuk sama-sama
bisa peroleh barang itu, lalu baiknya diselesaikan dengan
apa?”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, kemudian


jawabnya, “Serahkan kepada siapapun sama saja, tapi di
antara mereka tentu akan terjadi suatu pertarungan yang
amat sengit.”

Suara jawabannya ini diutarakan sangat rendah,


sehingga Liauw Thayjien yang berdiri di sisinya pun
dengan paksa baru berhasil menangkap apa yang
dimaksudkan.

413
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ban-heng! Aku lihat kalian boleh segera berlalu!”


terdengar Ke Giok Lang berseru kembali.

“Lalu kenapa Ke Kongcu sendiri tidak pergi?”

“Ooouw Cayhe masih ada urusan.”

“Siauw-te sih kalau tak ada urusan juga tak bakal


datang kemari di tengah hawa dingin yang menggigilkan
dengan tiupan angin utara yang amat dingin,” balas si
Dewa api Ban Cau sambil tertawa kering.

“Ban heng!” seru Ke Giok Lang kembali seraya tertawa


hambar. “Tempat ini bukan tempat yang bagus untukmu,
kau tetap berdiam di sini bukannya bakal memperoleh
kebaikan sebaliknya malah akan mendapatkan
kejelekan.”

“Lalu Ke Kongcu sendiri apakah tidak takut?”

“Siauw-te ada maksud baik menasehati dirimu, jikalau


Ban-heng tidak mau percaya itupun merupakan suatu
persoalan yang tak bisa dipaksakan …!”

Melihat situasi yang dihadapi saat ini dalam hati Phoa


Ceng Yan lantas berpikir.

“Jika ditinjau dari tindak tanduk Ke Giok Lang,


agaknya ia ada maksud mencari gara-gara dengan Ban
Cau, sekalipun Ban Cau sendiri ada maksud untuk
mengalah tapi sebaliknya Ke Giok Lang selangkah demi
selangkah mendesak maju ke depan, demi muka dan
nama baik rasanya Ban Cau tak akan mengalah terus

414
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menerus…. jika mereka berdua sampai saling bentrok


dan terjadi pertarungan, maka aku bisa menonton suatu
pertunjukan bagus.”

Tiba tiba Ke Giok Lang menarik kembali kipasnya


sepasang mata dengan memancarkan cahaya tajam
melototi wajah Liauw Thayjien tak kejap, ujarnya.

“Ada pepatah yang mengatakan berani berderma


lenyapkan bencana. Saudara suka serahkan lukisan
pengangon kambing itu kepada kami hal ini
menunjukkan suatu tindakan yang cerdik, cuma situasi
yang kita hadapi pada saat ini sangat kacau, orang yang
menginginkan lukisan pengangon kambing pun sangat
banyak, di antara banyak orang ini kau harus memilih
salah satu diantaranya.”

“Aku suka menyerahkan lukisan pengangon kambing


itu lantaran ingin melindungi keselamatan kami
sekeluarga,” kata Liauw Thayjien sambil ulapkan
tangannya. “Bila aku sudah serahkan lukisan pengangon
kambing itu tapi tidak berhasil juga melindungi kami
sekeluarga, bukankah sama halnya tindakan cayhe
menyerahkan lukisan pengangon kambing itu hanya nihil
belaka dan sama sekali tak bernilai?”

“Maksudku bukan begitu, “ kata Ke Giok Lang


mendehem, “Asalkan pilihanmu tepat, sudah tentu
keselamatanmu ditanggung beres.”

Ketika itu, kedua gulung bola api yang berkobar di


tengah angkasa sudah punah sama sekali hingga udara
kembali pada keadaan semula.

415
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” kata Liauw Thayjien


sambil melirik sekejap ke arah si orang tua itu. “Menurut
pandanganmu lukisan pengangon kambing ini harus
diserahkan kepada siapa?”

“Menurut pendapat cayhe, lukisan pengangon


kambing itu tak boleh diserahkan kepada siapapun, tapi
lukisan itu adalah milik Thayjien, jika kau paksa juga
hendak menyerahkan lukisan itu kepada mereka,
cayhepun tak akan terlalu paksa mencegah.”

Perlahan lahan Liauw Thayjien menghela napas


panjang.

“Bilamana setelah aku serahkan lukisan pengangon


kambing itu tidak juga berhasil mendapatkan
keselamatan kami sekeluarga, ada lebih baik ini tidak
kuserahkan,” ujarnya.

“Menyimpan pusaka mencelakai diri sendiri, jikalau


saudara tidak suka serahkan lukisan pengangon kambing
itu kepada kami, walaupun kami kini suka lepas tangan
belum tentu orang lain berpendirian demikian,” kata Ke
Giok Lang sambil mendehem perlahan.

“Bila aku berikan kepada kalian apa untungnya


terhadap kami……?” tanya Liauw Thayjien kembali.

“Jika kau serahkan lukisan pengangon kambing itu


kepada cayhe, maka cayhe suka memikul beban
melidungi kalian sekeluarga tiba di kota Kay Hong dalam
keadaan selamat bahkan sebelum tutup tahun.”

416
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sungguh?” teriak bekas pembesar she Liauw ini


dengan mata berkilat.

“Selamanya apa yang aku orang she Ke ucapkan


belum pernah diingkari kembali, kau boleh berlega hati.”

“Heee……heee……heee….. aku lihat tidak bisa


dipertahankan kejujurannya.” tiba-tiba si Dewa Api Ban
Cau menimbrung sambil tertawa dingin.

Air muka Ke Giok Lang berubah hebat setelah


mendengar perkataan tersebut.

“Ban heng “ serunya keras. “Kau ada maksud mencari


satroni dengan diri siauw-te?”

“Hmmm! Delapan dewa menyeberangi lautan dengan


andalkan kepandaian masing-masing!” seru Ban Cau
dengan nada yang dingin. “Jikalau Ke Kongcu ingin
mengambil lukisan pengangon kambing itu seorang diri,
seharusnya perlihatkan dulu warnamu, agar kamipun
bisa tinjau apakah kau benar-benar becus atau tidak.”

“Agaknya sebelum Ban heng melihat peti mati tak


akan mengucurkan air mata, tidak tiba di tepi sungai
Huang hoo tidak akan puas hati, jikalau kau betul betul
paksa siauw-te tunjukan atosnya baja, sekarang juga kita
bisa buktikan secara terbuka, hanya saja…. berkelahi
tanpa alasan sama sekali tidak menarik hati.”

“Jadi maksud Ke Kongcu?”

417
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika Ban heng paksa juga ingin melihat kepandaian


siauw-te, ada baiknya kita beri sedikit variasi dalam
pertarungan kita kali ini.”

“Turut petunjukmu.”

Ke Giok Lang tertawa dingin, sinar matanya lantas


dialihkan ke arah wajah Liauw Thayjien.

“Ada baiknya Liauw Thayjien pun ikut serta dalam


pertarungan kita kali ini.”

“Tapi He-koan tak mengerti ilmu silat.”

“Sampai detik ini walaupun jumlah orang yang


menginginkan lukisan pengangon kambing itu tidak
sedikit, tapi menurut peninjauan kekuatan masing-
masing orang seharusnya siauw-te serta Ban heng inilah
termasuk dua golongan manusia yan paling kuat.”

“Dan apa sangkut pautnya urusan ini dengan He-


koan?”

“Saudara sedang kebingungan tak menentu,


sebaliknya dua golongan kekuatan yang kuat sudah siap
akan melangsungkan suatu pertarungan yang sengit.”

“Secara bagaimana aku ikut serta dalam soal ini?”

“Kami harus bertempur mati-matian, ada seharusnya


kaupun memberi sedikit variasi sehingga pertarungan
tersebut semakin syahdu lagi, sebelum tercipta salah

418
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

satu luka atau sama sama terluka pertarungan ini belum


termasuk ramai.”

“Entah apa yang harus aku lakukan dalam


memberikan variasi ini?”

“Lukisan pengangon kambing.”

“Untuk serahkan lukisan pengangon kambing, mudah


cuma urusan ini tiada sangkut paut dengan
keberangkatan kami sekeluarga ke kota Kay Hong.”

“Sudah tentu ada sangkut pautnya”.

“Silahkan menerangkan pendapatmu yang tinggi itu.”

Ke Giok Lang dongakkan kepalanya tertawa terbahak


bahak.

“Kau Liauw Thayjien adalah seorang terpelajar,


rasanya pernah mendengar pepatah yang mengatakan
dua ekor harimau berkelahi salah satu tentu ada yang
terluka bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, soal ini memang pernah


kudengar.”

“Dalam pertarungan sengitku melawan si Dewa Api


Ban Cau tentu ada salah seorang yang bakal kalah dan
salah satu yang menang, yang menang memperoleh
hadiah dan bertanggung jawab dalam melindungi kalian
keluarga Liauw tiba di kota Kay Hong dalam keadaan
selamat.”

419
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ooouw…….kiranya begitu, cuma ……”

“Cuma apa?”

“Untuk mengambil keluar lukisan pengangon kambing


buat He-koan sih tak ada persoalan, tapi lukisan itu cuma
ada sebuah saja, jikalau He koan tetapkan lukisan
tersebut sebagai hadiah pemenang dan didapatkan salah
seorang di antara kalian, jikalau di tengah jalan kembali
berjumpa dengan orang yang menginginkan lukisan ini,
kau suruh He-koan menghadapi dengan cara apa?”

“Tepat sekali pertanyaan yang kau ajukan, bilamana di


tengah jalan kau berjumpa lagi dengan orang yang ingin
merebut lukisan itu, maka ia harus menghadapi dahulu
diri aku orang she Ke…….”

“Hmmmm! Agaknya Ke heng sudah menganggap


kemenangan pasti terjatuh di tanganmu” jengek si Dewa
Api Ban Cau dingin.

“Jika Ban heng tidak percaya, sekarang juga kita boleh


buktikan kebenaran ini.”

Dalam soal gertakan Ke Giok Lang sudah menang satu


tingkat terlebih dahulu, sehingga semangat si Dewa Api
Ban Cau sedikit banyak tertindas dahulu oleh kegagahan
jago muda dari dunia kangouw ini.

Kembali terdengar Ke Giok Lang mendehem ringan


dan tambahnya.

420
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sekalipun misalnya bisa melewati rintangan siauw-te,


masih ada penjagaan dari kawan kawan perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai meninjau situasi


yang dihadapinya saat ini, bilamana semisalnya ia
biarkan antara Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang dengan si
Dewa Api Ban Cau melakukan dulu suatu pertarungan
sengit antara mati hidup, walaupun di luaran kelihatan ia
yang bakal menjadi nelayan mujur yang tinggal
memungut hasilnya saja, tapi keadaan sesungguhnya
dikarenakan antara Ke Giok Lang dengan Ban Cau selalu
menjaga segala dengan cermat, bilamana dalam
pertarungan sengit itu salah satu berhasil merebut
kemenangan maka ia pasti akan segera turun tangan
pula untuk merebut lukisan pengangon kambing
tersebut.

Tapi jikalau dalam pertarungan ini Liauw Thayjien ikut


campur dan setiap urusan pegang peranan sendiri, maka
hal ini akan mengganggu rencana dirinya yang hendak
memanfaatkan keuntungan tersebut.

Walaupun begitu ia tetap duduk tenang sambil


menanti perubahan situasi selanjutnya dengan mulut
membungkam.

Sinar mata Liaw Thayjien perlahan dialihkan ke atas


wajah Phoa Ceng Yan, katanya, “Phoa Hu Cong Piauw-
tauw, tolong kau suka bantu He-koan pikirkan bolehkah
aku cantumkan lukisan pengangon kambing itu sebagai
hadiah bagi pemenang pertarungan ini?”

421
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Jikalau Thayjien suka percaya terhadap omongan aku


orang she Phoa maka serahkan saja seluruh urusan ini
biar aku yang membereskan sendiri menurut jalan pikiran
aku orang she Phoa, apa yang hendak aku lakukan lebih
baik jangan Thayjien potong atau mencegah di tengah
jalan. Bilamana Thayjien merasa kekuatan orang she
Phoa tidak memadai untuk melindungi keselamatan
kalian sekeluarga serta thayjien ingin mencampuri sendiri
urusan dunia kangouw maka ada baiknya ambil
keputusan sendiri tanpa perlu berunding lagi dengan
cayhe.”

“Baiklah!” kata Liauw Thayjien kemudian dengan alis


berkerut. “He-koan tetapkan lukisan pengangon kambing
ini sebagai hadiah pemenang, jikalau salah satu di antara
kalian berhasil menangkan pertandingan ini maka lukisan
pengangon kambing ini menjadi milik si pemenang, cuma
He-koan harus terangkan dahulu……”

“Liauw Thayjien ada persoalan apalagi?” seru Ke Giok


Lang cepat.

“Lukisan pengangon kambing itu tak dapat aku


serahkan pada saat ini ….”

“Lalu kapan hendak kau serahkan?”

“Setelah tiba di kota Kay Hong baru kuserahkan


lukisan pengangon kambing itu kepadamu.”

422
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bicara sesungguhnya, perkataan kalian orang yang


memangku jabatan pemerintahan susah dipercaya
omongannya.”

“He-koan akan tulis tanda terima dengan diserta tanda


tanganku, setelah tiba di kota Kay Hong dengan
andalkan surat keterangan itu kau bisa menerima lukisan
pengangon kambing.”

“Ehmmm………, perkataanmu ini memang cengli, cuma


kami harus lihat dulu gambar lukisan tersebut.”

“Lukisan pengangon kambing yang He-koan bawa


cuma sebuah saja, jikalau kalian maksudkan dan
semisalnya cuwi sampai salah mencari, bukankah hal ini
merupakan suatu lelucon yang sangat menggelikan
sekali.”

“Maka dari itu, cayhe ingin melihat dahulu keaslian


lukisan tersebut.”

“Tidak bisa jadi, urusan ini tidak mungkin bisa


dilakukan.”

Liauw Thayjien menggeleng berulang kali.

“Kenapa?”

“Cuwi semua memiliki kepandaian silat yang amat


tinggi, jikalau cayhe keluarkan lukisan pengangon
kambing itu, perduli siapa saja di antara kalian yang
berhasil rebut lukisan tersebut, bukankah He-koan hanya
bisa membelalakkan mata dengan mulut melongo?”

423
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Soal ini, cayhe rasa tidak mungkin terjadi.”

“Maksud mencelakai orang tidak boleh ada, maksud


berjaga-jaga tidak boleh tak ada, He-koan tak bisa tidak
harus bikin persiapan terlebih dahulu…….”

Phoa Ceng Yan yang mendengar perkataan tersebut,


diam-diam lantas berpikir dalam hatinya, “Hanya
beberapa hari saja ternyata iapun berhasil mempelajari
cara untuk menghadapi kaum Bu Lim.”

Ke Giok Lang sebaliknya malah dongakkan kepalanya


tertawa terbahak bahak.

“Haaa………haaa……..haaa……… Bagus sekali, bagus


sekali, maksud menjaga diri tidak boleh tidak ada,
silahkan kau buat surat tanda terima tersebut.”

Liauw Thayjien menyahut, ia suruh kacung bukunya


persiapkan pit, bak dan kertas lalu membuatnya sepucuk
surat tanda terima yang kira-kira berbunyi “

“Dengan berdasarkan surat ini dapat menerima


sebuah lukisan pengangon kambing.” dibawahnya ia
cantumkan sekalian namanya.

Ke Giok Lang memandang sekejap ke arah kertas


tersebut, lalu tertawa.

“Liauw Thayjien! Jikalau di atas bukti itu dicantumkan


pula nama besar dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw, maka
surat tanda bukti itu bertambah laku lagi.”

424
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hmmm! Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami, juga tiada
sangkut paut dengan aku orang she Phoa, mengapa aku
orang she Phoa harus ikut mencantumkan pula namaku
di atas surat tanda bukti itu?”

“Mohon Phoa heng suka mencantumkan pula namamu


di atas tanda bukti itu, aku rasa inipun tak akan
merugikan diri Phoa heng,” kata Ke Giok Lang sambil
tertawa.

“Hmmm! Silahkan kau mengajukan pendapatmu.”

“Di atas nama Phoa heng kau boleh terangkan pula


jika barang tersebut sengaja diserahkan Liauw Thayjien
secara sukarela dan disetujui pula oleh Phoa-heng, dan
barang tersebut bukan direbut dengan kekerasan.”

“Cuma itu saja?” tanya Phoa Ceng Yan setelah


termenung sejenak.

“Di lain waktu jikalau siauw-te menemui Liauw


Thayjien untuk minta lukisan tersebut dengan andalkan
surat bukti tadi, Phoa heng-pun bisa bertindak pula
sebagai saksi.”

Tiba-tiba Phoa Ceng Yan dongakkan kepalanya


tertawa terbahak-bahak, “Haaa…..haaa…..haaaa……. Ke
Kongcu, bukankah sudah berulang kali aku katakan
bahwa urusan ini sama sekali tiada sangkut pautnya
dengan aku orang she Phoa, jikalau kau paksa juga ingin
minta persetujuan dari aku orang she Phoa, maka cayhe

425
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bisa terangkan bahwa aku sama sekali tidak setuju untuk


serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada
siapapun.”

“Bilamana Siauw-te datang tidak tepat pada waktunya,


kemungkinan sekali kalian sudah dibakar hancur
berantakan oleh serangan senjata berapi dari si Dewa Api
Ban Cau.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” mendadak Liauw


Thayjien berseru.

“Ada urusan apa?” sahut Phoa Ceng Yan dengan alis


berkerut.

“Perkataan dari Ke Kongcu sedikitpun tidak salah,


rasanya Phoa Hu Cong Piauw-tauw hanya cantumkan
namamu di atas surat bukti itupun bukan merupakan
suatu persoalan yang merugikan dirimu.”

“Jadi maksud Thayjien. kau ingin cayhe pun


cantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”

“Mencantumkan nama untuk membuktikan bahwa


barang itu adalah cayhe yang rela serahkan kepadanya,
aku rasa persoalan ini tidak merugikan nama baik
perusahaanmu bukan?”

“Ke heng!” seru Phoa Ceng Yan kemudian sambil


menoleh kearah Ke Giok Lang.

426
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nama besar Hoa Hoa Kongcu ternyata luar biasa


sekali, dengan dua tiga patah kata ternyata kau bisa
bikin tunduk si pemilik barang dari perusahaan kami.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Pil mujarab tersebut merupakan obat kuat yang


susah didapatkan, cayhe pun berhasil memperoleh
barang tersebut dengan kerahkan seluruh tenaga yang
dipunyai, aku rasa penyakit yang diderita nona Liauw
sudah banyak berkurang bukan!”

Phoa Ceng Yan tak bisa berbuat apa-apa lagi,


diterimanya surat tanda bukti itu seraya angkat pit siap
mencantumkan namanya.

“Ke Kongcu!” ujarnya kembali. “Minta aku orang she


Phoa ikut mencantumkan namaku di atas surat tersebut
bukan suatu pekerjaan yang sukar, tapi aku orang she
Phoa pun ingin menanyakan dulu satu persoalan
kepadamu, asalkan Ke Kongcu suka memberikan
jawaban yang memuaskan hatiku, maka aku orang she
Phoa akan segera cantumkan pula namaku di atas kertas
tersebut.”

Jilid 12

“Apa yang ingin Phoa heng tanyakan?”

“Ke Kongcu sejak semula sudah punya maksud untuk


membegal barang ini sehingga tidak kenal susah payah
melakukan perjalanan beribu-ribu li dengan menempug

427
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di tengah badai dan hujan salju datang kemari, walaupun


telah berjumpa dengan Chin Tayhiap sehingga timbulkan
sedikit percekcokan, tapi terhadap persoalan Ke Kongcu
untuk membegal barang pusaka itu sama sekali tidak
mendapatkan gangguan yang besar….”

Mendadak ia perendah suaranya dengan kata yang


lirih sehingga cuma Ke Giok Lang seorang yang bisa
menangkap, katanya.

“Sewaktu Ke Kongcu menggunakan siasat memancing


harimau meninggalkan gunung, memancing aku orang
she Phoa berlalu dan kau menerjang masuk ke dalam
kamar penginapan, ditinjau dari keadaan pada waktu itu
dengan mudah rasanya Ke Kongcu bisa mendapatkan
lukisan pengangon kambing itu, tapi mengapa kau tidak
melakukan hal tersebut sebaliknya pergi dan kini balik
lagi dengan segala tipu muslihat, apakah hal ini tidak
terlalu banyak membuang waktu dan tenaga?”

“Dalam sepasang mata Phoa heng yang jeli dan tajam


rasanya tak bakal kemasukan pasir bukan? tapi siauw-te
tidak paham apakah Phoa heng sungguh-sungguh tidak
tahu? Ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya?”

“Sudah tentu aku sungguh tidak tahu, bila aku sudah


tahu apa gunanya ditanyakan kembali?”

“Mengapa Phoa heng tidak tanyakan urusan ini


langsung dengan nona Liauw sendiri?”

428
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika semisalnya nona Liauw suka langsung


memberitahukan persoalan itu kepada cayhe, rasanya
aku orang she Phoa pun tidak perlu banyak mulut
menanyakan persoalan ini kepada Ke Heng.”

Di atas selembar wajah Ke Giok Lang secara samar


terlintas suatu perasaan bimbang ragu-ragu,
kebingungan kurang percaya, jelas ia tidak percaya
terhadap apa yang diucapkan Phoa Ceng Yan barusan
ini. Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang gerakan pitnya siap
mencantumkan namanua di atas kertas tersebut, tapi
melihat air muka Ke Giok Lang kelihatan ragu-ragu dan
bimbang tak menentu, sepertinya ada satu persoalan
besar yang sukar diucapkan keluar, dalam hati semakin
heran lagi. Tak kuasa lagi katanya.

“Ke heng, ada urusan apa membuat Ke heng kelihatan


begitu bimbang, serba salah dan ragu-raguu?”

Air muka Ke Giok Lang berubah semakin serius lagi,


dengan menggunakan nada suara yang palin perlahan
katanya.

“Siauw-te telah melakukan pemeriksaan terhadap urat


nadi serta denyutan jantung dari nona Liauw itu, ia
benar-benar seorang gadis yang tidak mengerti akan
ilmu silat, jikalau Phoa heng sendiripun tidak tahu
terhadap persoalan ini tentu masih ada rahasia yang
lebih mendalam lagi artinya.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan pun menghembuskan


napasnya panjang-panjang, pikirnya.

429
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ternyata nona Liauw yang bersembunyi di dalam


kereta benar-benar menyembunyikan suatu rahasia yang
maha besar, bahkan rahasia ini menimbulkan tenaga
pengaruh yang membuat hati setiap orang merasa
bergidik dan ketakutan, Lam Thian Sam Sah serta Hoa
Hoa Kongcu sama-sama dipukul mundur dengan
ketakutan setelah melihat rahasia tersebut, tapi sungguh
aneh sekali setiap kali aku sendiri yang masuk ke dalam
kereta atau kamar tidurnya mengapa tidak berhasil
kujumpai sedikit tanda yang mencurigakan pun?

Terdengar Ke Giok Lang dengan suara lirih


menyambung, “Apakah antara kalian perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok dengan Lambang Naga
Sakti “Wan Liong Piauw Kie” yang pernah menggetarkan
seluruh daratan Tionggoan pada tiga puluh tahun
berselang serta ditakuti tiga bagian oleh seluruh kawan
kawan Bu-lim dari seluruh kolong langit betul-betul tiada
sangkut paut dengan kalian?”

“Lambang Naga Sakti?” seru Phoa Ceng Yan agak


tertegun.

“Sedikitpun tidak salah, aku dilahirkan di dunia rada


terlambat sehingga tidak kualami sendiri bagaimanakah
kedashyatan dari Lambang Naga Sakti tersebut, tapi
peristiwa ini telah diketahui setiap jago yang pernah
berkelana dalam Bu Lim bahkan seluruh partai, seluruh
perguruan telah turunkan perintah di mana lambang
naga sakti muncul maka siapapun tidak diperkenankan
mengganggu barang seujung rambut atau seujung
rantingpun, barang siapa yang melanggar maka
perguruan-nya ada kemungkinan ikut mengalami

430
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemusnahan, bila dia adalah seorang perampok maka


tiga keturunan akan menemui bencana.”

“Di tempat manakah Ke heng telah berjumpa dengan


Lambang Naga Sakti tersebut?”

“Phoa heng, kau lagi pura-pura bodoh? Ataulah tidak


ingin rahasiamu diketahui orang?” seru Ke Giok Lang
dengan alis berkerut.

Phoa Ceng Yan menggerakkan pitnya bagaikan


terbang menanda tangani tanda terima yang ditulis
Liauw Thay jien tadi, kemudian seraya menyerahkan
tanda terima tadi ketangan Ke Giok Lang ujarnya.

“Ke Kongcu, inilah tanda yang membuktikan aku orang


she Phoa benar bewnar bukan sedang berpura pura!”

Ke Giok Lang menerima tanda terima tersebut


kemudian tertawa tergelak.

“Ha….ha…..ha….. peristiwa ini sungguh membuat


orang engkau terselimut di balik kabut yang tebal, biarlah
aku singkirkan dulu hadangan dari si dewa api Ban Cau
kemudian baru kita bicarakan lagi persoalan ini dengan
lebih seksama.”

Ia berpaling memandang sekejap ke arah Ban Cau,


lalu seraya membentangkan kipasnya ujarnya kembali.

“Ban-heng, tanda terima ini ditulis pribadi oleh Liauw


Thayjien dan ditanda tangani oleh Phoa Hu Cong Piauw-
tauw, ini berarti lukisan pengangon kambin sudah

431
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi milik Ke Giok Lang, bilamana Ban heng masih


ada maksud hendak merampas barang tersebut, nah!
Terjanglah aku orang she Ke, setiap terjangan Ban heng
akan kuterima dengan senang hati”.

Air muka Ban Cau berubah sangat dingin, ia melirik


sekejap ke arah Liauw Thayjien kemudian Phoa Ceng
Yan.

“Kalian berdua rela serahkan lukisan pengangon


kambing itu buat Ke Giok Lang. Ini berarti kalian tidak
pandang sebelah matapun terhadap aku orang she
Ban…”

Tidak menanti orang itu menyelesaikan kata-katanya,


Ke Giok Lang sudah memotong diiringi gelak tertawa
yang keras.

“Haaa…..haaa….haaa…..sekarang, nasi sudah menjadi


bubur, kayu sudah menjadi perahu, sekalipun Ban heng
bicara keras juga percuma, perlu kau ketahui, jikalau
hatimu mengandung maksud tidak baik maka kita berdua
terpaksa harus bereskan urusan ini dengan bergebrak,
mau tentukan waktu di kemudian hari atau sekarang
juga kita selesaikan urusan ini terserah pada Ban heng
sendiri, siauw-te selalu menanti petunjuk!”

“Ke Kongcu, kau terlalu menghina orang.” teriak Ban


Cau sambil tertawa dingin.

Tangan kanan diangkat lantas mengirim satu


hantaman ke muka.

432
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ke Giok Lang meloncat berkelit, kipas di tangan


kanannya menyambar keluar dalam gerakan mendatar
membabat lengan kanan Ban Cau.

Si Dewa Api yang melihat serangannya mencapai


sasaran kosong segera melejit ke atas, telapak tangan
diputar kemudian menyambar lewat dari sisi Ke Giok
Lang.

Mendadak si Hoa Hoa Kongcu mengempos tenaga sin


kang, kemudia meloncat setinggi delapan sembilan depa
ke tengah udara laksana seekor kuda sembrani, ia
melayang sejauh satu tombak lebih.

Pada saat yang bersamaan sewaktu Hoa Hoa Kongcu


Ke Giok Lang berkelit ke samping, pada tempat semula ia
berdiri secara tiba-tiba terjadi suatu ledakan yang keras,
dalam sekejap mata asap biru itu membumbung tinggi ke
angkasa disertai jilatan api yang berkobar.

Phoa Ceng Yan yang melihat kejadian ini hanya bisa


berdiri terperanjat, sedang dalam hati pikirnya.

“Sungguh dahsyat, sungguh dahsyat, kepandaian Ban


Cau dalam penggunaan senjata berapi sungguh berhasil
mencapai taraf kesempurnaan.”

Liauw Thayjien semakin terperanjat lagi melihat


peristiwa tersebut, badannya tak kuasa mundur dua
langkah ke belakang.

Dalam sekejap mata itulah di tengah kalangan telah


terjadi suatu perubahan yang maha besar, sekonyong

433
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

konyong terdengar Ban Cau berteriak keras lalu putar


badan dan ngeloyor pergi.

Sedangkan si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang tetap


berdiri di atas permukaan salju dengan wajah serius, ia
memandang bayangan punggung Ban Cau yang makin
menjauh dengan wajah yang penuh senyuman dingin.

“Ke heng, apakah Ban Cau telah terluka?” tegur Phoa


Ceng Yan beberapa saat kemudian.

Perlahan lahan Ke Giok Lang berbalik memandang


sekejap wajah Phoa Ceng Yan lalu tersenyum.

“Ban heng telah terkena sebatang jarum beracun dari


siauw-te……”

“Kalau begitu luka dari Ban Cau sangat parah?”

“Bila dibicarakan berat memang berat, kalau


diucapkan ringan sebenarnya memang ringan, bila ia
tidak tahu bagaimana caranya mencegah menjalarnya
daya kerja racun yang mengeram di badannya, paling
tidak badan harus melakukan satu kali operasi!”

“Kepandaian silat yang Ke heng miliki sungguh luar


biasa dahsyatnya, hanya dalam sejurus dua jurus sudah
berhasil mengalahkan si dewa api Ban Cau, peristiwa ini
sangat jarang ditemui dalam Bu Lim.”

Ke Giok Lang tersenyum.

434
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dalam pertempuran ini siauw-te lebih banyak


menggunakan kegesitan, cuma saja untuk menghadapi
manusia macam Ban Cau yang pandai menggunakan
senjata berapi, bila tidak berhasil merubuhkan dirinya
dalam dua tiga jurus yang rugi bakalnya adalah siauw-te
sendiri……”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya lebih


lanjut.

“Liauw Thayjien, kita berjumpa kembali di istana Kay


Hong.”

Ia putar badan lantas berlalu.

“Ke heng, tunggu sebentar.” tiba-tiba Phoa Ceng Yan


berteriak.

Ke Giok Lang berhenti, berpaling dan tertawa.

“Phoa heng, masih ada urusan apa?”

“Apakah Ke Kongcu hendak berlalu begitu saja?”

“Haaa……..haaa……….haaa……. kami kaum penjahat


punya peraturan bagi penjahat sendiri, setelah siauw-te
peroleh tanda terima ini tidaklah mungkin bagiku untuk
berpeluk tangan belaka, aku dengan membawa anak
buahku akan berjalan terlebih dahulu di muka, di
samping sebagai pembuka jalan sekalian singkirkan
beberapa kesulitan bagi Phoa heng serta Liauw Thayjien,
menurut penglihatanku aku orang she Ke, setelah
gerombolan Ban Cau yang merupakan rombongan

435
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terkuat kena dibikin hancur maka sepanjang jalan raya


ini seharusnya tak ada yang berani turun tangan
merampas benda itu lagi.”

“Ehmm………agaknya Ke Kongcu begitu yakin.”

“Kecuali terjadi suatu peristiwa istimewa yang ada


diluar dugaan, atau munculnya jago lihay tanpa
sepengetahuan siauw-te, rasanya tak ada seorangpun
yang berani turun tangan mngganggu barang kawalan
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian lagi.”

“Semoga saja begitu.”

“Kalau begitu siauw-te berangkat selangkah terlebih


dahulu!” seru Ke Giok Lang kemudian sembari ulapkan
tangannya. “Bila di tengah perjalanan tidak terjadi
peristiwa lagi, kita berjumpa di kota Kay Hong.”

“Silahkan Ke Kongcu berangkat terlebih dahulu.”

Ke Giok Lang tersenyum, ia meloncat pergi dan dalam


sekejap mata telah lenyap dari pandangan.

Liauw Thayjien dengan termangu mangu memandang


bayangan punggung Ke Giok Lang berlalu telah lenyap
dari pandangan sembari ia mengelus jenggotnya ia
mengangguk.

“Ehmmm……..sedikitpun tidak salah, kaum penjahat


seharusnya mempunyai peraturan sendiri.”

436
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan yang mendengar perkataan tersebut


hanya bisa menghela napas panjang.

Agaknya Thayjien merasa begitu cocok dengan orang


she Ke ini?”

“Dugaan Hu Cong Piauw-tauw sedikitpun tidak salah,


walaupun ia berasal dari kalangan Liok-lim, tapi apa yang
diucapkan memang cengli semua dan ia pegang teguh
tata kesopanan.”

“Aaai….! Kelicikan serta kecurangan dalam dunia


kangouw tak bisa dibandingkan dengan kejujuran kaum
pembesar, Thayjien! Kau tak boleh hanya menilai
mukanya saja.”

Liauw Thayjien tidak ingin berdebat dengan Phoa


Ceng Yan hanya karena soal kecil ini, segera ia alihkan
bahan pembicaraan ke soal yang lain.

“Phoa ya, bagaimana kalau kita segera berangkat?”

“Ehmm…. silahkan Thayjien naik ke dalam kereta, aku


segera perintah untuk melakukan perjalanan.”

Liauw Thayjien putar badan, baru perjalanan beberapa


langkah mendadak seperti teringat akan satu persoalan
yang penting, ia berpaling kembali.

“Phoa ya, apakah Cong Piauw-tauw kalian sudah ada


kabarnya?”

437
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kecuali ia tidak menerima berita kami, kalau tidak


malam ini juga ia pasti telah berhasil mengejar kita?”

“Semoga begitu!” perlahan lahan ia naik ke dalam


kereta.

Phoa Ceng Yan pun mendekati kereta sendiri.

“Giok Liong, kita segera berangkat.”

Lie Giok Liong mengiakan, ia bergerak terlebih dahulu


di paling depan.

Kereta melanjutkan perjalanan beiring-iringan, putaran


roda terdengar bergerak membelah permukaan salju.

“Jie-ya!” seru Nyoo Su Jan tiba-tiba sambil mengejar


datang. “Apakah Ke Giok Lang betul betul hendak
bukakan jalan kita?”

“Dalam hatinya punya maksud tertentu, aku kira ia tak


akan menunjukkan permainan setan lari kepada kita.”

“Tapi orang ini berakal licik banyak siasat busuk,


hatinya keji dan telengas, seharusnya kita berhati-hati
menghadapi manusia semacam begini.”

“Aaaaai! Jika ditinjau situasi ini hari seharusnya kita


menunggu di antara Ke Giok Lang serta Ban Cau
melangsungkan suatu pertarungan mati-matian
kemudian kita yang jadi nelayan untuk tinggal ambil
hasilnya, perduli siapapun yang berhasil memperoleh

438
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemenangan tentu tidak mendatangkan kebaikan bagi


mereka….”

“Jie-ya, bila dalam sekali hantam kita berhasil


taklukkan Ban Cau serta Ke Giok Lang, maka wajah kita
semakin cemerlang lagi,” sambung Nyoo Su Jan.

“Semisalnya Liauw Thayjien tidak ikut campur,


sekalipun kita tidak mungkin berhasil menangkap mereka
berdua sekaligus, paling sedikit kita juga singkirkan
mereka dari sini.”

“Jie-ya.” tiba-tiba Nyoo Su Jan memperendah


suaranya. “Apakah Liauw Thayjien betul-betul tidak tahu
rahasia dari lukisan pengangon kambing itu?”

“Kelihatannya ia bukan sedang berpura-pura jika ia


berani mencle-mencle dengan manusia macam Ke Giok
Lang, apakah kau kira si Hoa Hoa Kongcu suka
melepaskan dirinya dengan begitu saja?”

“Seharusnya kita beri penjelasan dulu kepadanya,


daripada nantinya tanpa ia sadari sudah kena dicelakai
orang,” usul Nyoo Su Jan.

“Terhadap situasi yang berada di depan mata


sebetulnya banyak sudah rencana kudapatkan, tapi Liuw
Thayjien ngotot ingin mencampuri diri dalam persoalan
ini dan menghadapi sendiri Ke Giok Lang, menghadapi
perubahan tersebut aku tidak bertenaga untuk
menahannya, dan kini kayu sudah menjadi perahu,
rasanya susuah bagi kita untuk tarik kembali persoalan
tersebut.”

439
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hamba punya satu cara untuk membuat Ke Giok Lang


repot dengan sia sia,” tiba-tiba Nyoo Su Jan mengajukan
usulnya kembali.

“Apa usulmu?”

“Kita berusaha untuk dapatkan lukisan pengangon


kambing itu terlebih dahulu.”

“Apakah Ke Giok Lang suka lepas tangan dengan


begitu saja?”

“Setelah Cong Piauw-tauw tiba di sini, apa yang perlu


kita takutkan lagi?”

“Su Jan” ujar Phoa Ceng Yan setelah termenung


sejenak, “Berapa banyak yang kau ketahui tentang
lukisan pengangon kambing itu?”

“Jie-ya, kau jangan salah paham” Buru-buru Nyoo Su


Jan menggeleng. “Terhadap lukisan pengangon kambing
hamba kurang tahu, tapi dengan ikut campurnya si Dewa
Api Ban Cau serta Ke Giok Lang dalam perebutan ini,
bukankah hal ini memberi tahu kepada kita seberapa
berharganya lukisan tersebut.”

“Sekalipun lukisan pengangon kambing berharga


melebihi satu kota, kitapun tak bisa turun tangan untuk
merebutnya….”

440
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa ya, kita bukan merebut, tapi kita berusaha


untuk mencegah lukisan pengangon kambing itu jangan
sampai terhjatuh ke tangan Ke Giok Lang.

“Phoa Ceng Yan sebagai seorang jago kawakan sudah


tentu bisa meraba apa maksud yang sebenarnya dari
pembantunya ini, ia mendehem perlahan.

“Su Jan!” ujarnya lirih. “Untuk menghadapi persoalan


ini kita harus berunding secara seksama dan bertindak
berhati-hati, untuk melakukan pekerjaan pengawal
barang macam begitu justru yang paling ditakuti adalah
tersangkut dalam kancah pergolakan Bu Lim, jika bisa
menghindar itu lebih bagus lagi dan kini lukisan
pengangon kambing telah diserahkan Liuw Thayjien
secara sukarela menurut peraturan hal ini tak bisa
dimaksudkan orang lain merampas barang itu dengan
kekerasan, dan kini si Hoa Hoa Kongcu membawa surat
tanda terima yang ditulis Liuw Thayjien sendiri dan
tercantum pula tanda tanganku untuk menerima lukisan
pengangon kambing itu, hal ini makin sulit bagi kita
untuk mungkir.”

“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak salah bila kita


mengganggu lukisan pengangon kambing dan urusan ini
dibicarakan di atas meja perundingan, yang rugi adalah
kita, tapi lukisan tersebut dapat membuat Ke Giok Lang
jadi mabok, bahkan tidak sayang sayangnya bermusuhan
dengan Ban Cau, ini mengartikan seberapa berharganya
lukisan tersebut.”

“Maksudmu lukisan pengangon kambing ini


menyangkut soal mati hidupnya seluruh umat Bu Lim,

441
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bukankah hal ini merupakan suatu peristiwa yang maha


berat dan maha penting?” sambung Nyoo Su Jan dengan
cepat.

“Soal ini…… soal ini……… kita memang harus berpikir


panjang….”

Ia mendongak dan menghembuskan napas panjang


panjang sambungnya, “Aku hanya berharap Cong Piauw-
tauw bisa pagian tiba di sini.”

Selagi Nyoo Su Jan ada maksud menjawab, mendadak


terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang
datang.

Ketika mereka berpaling, dilihatnya seekor kuda


laksana sambaran kilat berlari mendekat.

“Aaakh! Cong Piauw-tauw!” teriak Nyoo Su Jan tiba


tiba dengan kegirangan.

Waktu itu kuda tersebut dengan cepatnya sudah


melewati iring-iringan kereta dan tiba di hadapan kedua
orang itu.

Kuda tadi dengan cepatnya berhenti berlari.

Di atas kuda duduk seorang lelaki berusia empat puluh


tujuh, delapan tahunan, jenggot hitamnya terurai
sepanjang dada.

Orang itu mempunyai wajah persegi empat dengan


telinga yang besar, sepasang mata bulat besar dengan

442
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wajah keren, membuat setiap orang yang menemuinya


tanpa terasa menunjukkan sikap hormat kepadanya.

“Menghunjuk hormat buat Cong Piauw-tauw” buru-


buru Nyoo Su Jan menjura.

Orang itu bukan lain adalah Cong Piauw-tauw dari


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok Kwan Tiong Gak
adanya.

“Su Jan, tidak usah banyak adat” seru Kwan Tiong Gak
seraya ulapkan tangannya.

Sinar matanya segera dialihkan ke arah Phoa Ceng


Yan, lalu sambil tersenyum serunya.

“Saudara, sungguh melelahkan dirimu.”

“Siauw-te tidak becus, hanya persoalan yang kecil saja


harus menganggu ketenangan Cong Piauw-tauw….”

“Secara garis besarnya aku sudah tahu sedikit tentang


situasi yang kita hadapi, perubahan ini merupakan satu-
satunya perubahan terberat bagi kita perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok sejak didirikan.”

“Ooooouw…….., kiranya Cong Piauw-tauw sudah


dengar orang berkata tentang hal ini!” seru Nyoo Su Jan
seraya menjura.

“Aku hanya mendengar sedikit kabar saja, keadaan


yang sebetulnya masih belum begitu tahu.”

443
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hamba serta Phoa-ya sudah berapa kali menghantar


barang kawalan, selama ini belum pernah pula menemui
peristiwa seaneh ini, perubahan yangh terjadi di balik
peristiwa ini sungguh amat susah diduga.”

Ketika itulah sembari keprak kudanya untuk bergerak


maju ujar Kwan Tiong Gak lagi, “Mari, sembari berjalan
kita berbicara.”

Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan mengiringi dari


kedua belah samping dengan berjalan kaki.

Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan menyapu


sekejap permukaan salju yang terbentang di depan mata,
setelah ditemuinya tak sesosok bayangan manusiapun
ada di sana, ia mendehem perlahan.

“Saudara Phoa, apakah tadi sudah terjadi sesuatu


peristiwa?”

Iapun meloncat turun dari punggung kuda untuk


berjalan seiring kedua orang lainnya.

“Cong Piauw-tauw” jawab Phoa Ceng Yan perlahan.


“Jika kedatanganmu lebih pagi selangkah, maka kau bisa
berjumpa dengan si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang
serta si Dewa Api Ban Cau.”

“Ooooouw…. Ke Giok Lang pun sudah tiba?”

“Sebelumnya hamba mohon ampun dulu dari Cong


Piauw-tauw” seru orang she Phoa seraya menjura.

444
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat tindak tanduk Hu COng Piauw-tauwnya, Kwan


Tiong Gak kelihatan agak tertegun.

“Apa yang telah terjadi?”

“Baru saja hamba melakukan suatu perbuatan, entah


benar atau tidak tindakanku ini?”

“Apakah tindakanmu itu?”

Phoa Ceng Yan menghela napas panjang dan perlahan


lahan mulai menceritakan kisah yang baru saja terjadi
dengan penuh ketelitian.

“Menurut pemikiran kita pada umumnya” ujar Kwan


Tiong Gak setelah termenung sejenak, “tindakanmu ini
boleh dikata tidak jelek, tetapi ….”

Ia melirik sejenak ke arah Phoa Ceng Yan lalu


sambungnya,

“Urusan sudah lewat, kita anggap saja sudah selesai,


saudara Phoa pun tak usah memikirkannya kembali.

“Tentang lukisan pengangon kambing itu sendiri,


entah dimanakah letak keberhargaannya?” ujar Nyoo Su
Jan tiba-tiba. “Ke Giok Lang tidak sayang sayangnya
bermusuhan karena urusan ini, bahkan mereka rela pula
untuk mengikat permusuhan dengan perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kita, tentu barang tersebut luar biasa
sekali.”

445
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nyoo Piauw-tauw tadipun pernah mengusulkan bila


lukisan pengangon kambing mempengaruhi peristiwa
yang sangat besar, kita bisa berusaha untuk
menahannya,” sambung Phoa Ceng Yan pula.

Kwan Tiong Gak menggeleng berulang kali.

“Saudara, kaupun sudah menanda tangani surat tanda


terima tersebut, mana boleh kau pungkiri kembali
pernyataanmu sendiri? rasanya gelar Thiat Ciang Kiem
Huan pun tidak seharusnya mendapat cemoohan dari
kawan kawan Bu lim bukan?”

“Hamba merasa sangat menyesal!”

Kwan Tiong Gak tersenyum.

Demi kepercayaan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok


kita, lukisan pengangon kambing boleh kita serahkan
kepada Ke Giok Lang, tapi kitapun bisa merebutnya
kembali dari tangannya.”

“Merebutnya kembali? Apakah tindakan ini tidak terlalu


banyak buang waktu dan tenaga?”

“Sedikit membuang tenagapun tak mengapa, serahkan


lukisan tersebut kepada Ke Giok Lang adalah untuk
membuktikan kepegang janjian kita, sedang merebut
kembali adalah demi menjaga nama baik perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok.”

446
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cong Piauw-tauw!” seru Nyoo Su Jan dari samping.


“Di dalam dua jurus saja Ke Giok Lang berhasil melukai si
Dewa Api Ban Cau …”

“Akh …!” Kwan Tiong Gak merasa kaget setelah


mendengar laporan ini. “Menggunakan kepandaian ilmu
silat apakah ia berhasil melukai si Dewa Api Ban Cau
hanya dalam dua jurus saja?”

“Agaknya menggunakan senjata rahasia.” jawab Phoa


Ceng Yan. “Kepandaian silat si Dewa Api Ban Cau justru
kelihayan-nya terletak pada alat-alat berapinya yang
ganas, Ke Giok Lang telah berusaha merebut posisi
terlebih dahulu dengan lepaskan senjata rahasia untuk
melukai diri Ban Cau.”

“Ooooouw….. kiranya begitu.”

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah Phoa Ceng


Yan, tambahnya.

“Tentang diri pribadi si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok


Lang sudah banyak dengar dari orang, kecuali ia gemar
sekali mempermainkan kaum wanita, dalam urusan lain
ia masih suka mengalah satu tindak buat orang.”

“Di antara berjuta-juta kejahatan, memperkosa adalah


kejahatan nomor wahid, cukup mengandalkan hal ini
sudah bisa kita tentukan dia bukanlah seorang jagoan
dari kalangan Pek-to” seru Nyoo Su Jan.

“Sebetulnya ia memang bukan seorang jago dari


kalangan Pek-to! Aku dengar orang berkata kecuali

447
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa


dahsyatnya ia masih memiliki satu kepandaian yang
sangat istimewa yaitu mendatangkan rasa simpatik dari
setiap orang yang dijumpainya.”

“Sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng Yan


membenarkan. “Dia benar-benar memiliki kepandaian
tersebut, sewaktu ia berhasil menerjang masuk ke dalam
kamar Liuw Thayjien tentu membencinya sampai
merasup ke tulang sumsum, tapi bukan saja Liuw
Thayjien setuju untuk serahkan lukisan pengangon
kambing itu kepadanya, bahkan masih mengagumi dan
puji tiada hentinya terhadap setiap ucapan maupun
tindak tanduk Hoa Hoa Kongcu.”

Kwan Tiong Gak kembali termenung lalu ujarnya, “Aku


dengar orang ini mempunyai kemampuan yang hebat di
berbagai bidang, baik kecerdasan maupun kepandaian
silat terhitung jago nomor wahid di kolong langit, di
antara jago-jago muda ia merupakan jago yang paling
menonjol, hanya sayang jalan yang ditempuh adalah
jalan serong.”

“Cong Piauw-tauw! Agaknya terhadap watak Ke Giok


Lang kau sudah mengetahui sangat banyak,” kata Phoa
Ceng Yan lambat.

“Ia pernah mengunjungi Peking bahkan suruh orang


menyampaikan surat kepadaku dan berharap bisa
berjumpa satu kali dengan diriku, cuma sayang aku
banyak urusan tidak bisa penuhi undangannya untuk
berjumpa.”

448
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sewaktu ada di Peking apakah ia tidak timbulkan


keonaran?”

“Justru inilah letak kecerdikan dari si “Hoa Hoa


Kongcu” Ke Giok Lang, setelah ia tiba di ibukota, gerak
gerik maupun tindak tanduknya sangat misterius, kecuali
dia ingin menjumpai orang yang hendak dijumpai
rasanya orang lain susah untuk menemukan dirinya.”

“Aaakh….! Tentu urusan ini sudah terjadi banyak


tahun berselang bukan?”

“Tidak, peristiwa ini terjadi tahun yang lalu, waktu itu


nama besarnya barusan menanjak di dunia persilatan,
kudengar kabar kecuali aku, ia masih menjumpai dua
orang lainnya.”

“Siapakah mereka?”

“Siapakah kedua orang yang ia jumpai, aku tidak


begitu jelas, cuma bila kuselidiki dengan seksama,
rasanya tidak susah untuk mengetahui siapa siapakah
mereka, tapi justru waktu itu tidak kupandang di dalam
hati peristiwa ini. Aaaa…….! Bila kuingat sekarang
tindakanku tersebut memang sedikit teledor.”

“Cong Piauw-tauw! Apakah kau merasa adanya


hubungan antara persoalan itu dengan lukisan
pengangon kambing?” tiba-tiba Phoa Ceng Yan bertanya
setelah termenung sejenak.

“Kemungkinan besar memang benar, selama


belakangan ini Ke Giok Lang telah memperluas

449
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hubungannya dengan berkenalan dengan banyak kawan,


agaknya di balik kesemuanya ini ia telah menyusun suatu
rencana besar.

“Lukisan pengangon kambing termasuk salah satu


tujuannya?” sela Nyoo Su Jan.

“Dalam keadaaan seperti ini kita masih belum dapat


mengambil suatu kesimpulan, tapi terhadap lukisan
pengangon kambing aku telah melakukan suatu
penyelidikan untuk mengetahui latar belakangnya!”

Semangat Phoa Ceng Yan kontan berkobar kembali.

“Dapatkah Cong Piauw-tauw memberi keterangan?”


serunya.

Kwan Tiong Gak tidak langsung menjawab pertanyaan


dari Phoa Ceng Yan, sebaliknya malah bertanya.

“Apakah kau pernah melihat lukisan pengangon


kambing itu?”

“Pernah, cuma sayang pengetahuan serta kecerdikan


siauw-te tidak memadahi, susah bagiku untuk
mengetahui rahasia di balik peta lukisan pengangon
kambing tersebut.”

“Peta lukisan itu dinamakan lukisan pengangon


kambing, sesuai dengan namanya tentulah di atas
lukisan tersebut telah terlukis banyak sekali binatang
kambing, bukan begitu.”

450
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Benar, bermacam macam kambing dengan gaya yang


berlainan, di samping itu terlukis seorang bocah gembala
yang mencekal cambuk panjang.”

“Saudara, coba kau pikirlah dengan teliti, di bagian


manakah letak kecurigaanmu terhadap lukisan tersebut?”

“Siauw-te sudah memeriksa dengan teliti tapi tidak


kuketahui di manakah letak hal hal yang patut dicurigai.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak kemudian


ujarnya.

“Menurut berita yang kudapat, di atas lukisan tersebut


katanya tersembunyi suatu maksud yang sangat
mendalam, lukisan ini adalah hasil karya dari seorang
cianpwee, di dalam lukisan tersebut terkandunglah
seluruh jerih payah serta kepandaiannya.”

“Ooouw…….jadi maksudnya ia sudah terangkan


seluruh kepandaian silatnya di atas lukisan pengangon
kambing tersebut?”

“Artinya tidak akan segampang itu, aku dengar orang


kata lukisan itu mengandung rahasia yang mendalam,
bila tidak berhasil memahami rahasia yang meliputi
lukisan tersebut sekalipun dapatkan lukisan pengangon
kambing juga percuma.”

“Siauw-te sudah memeriksanya dengan teliti” ujar


Phoa Ceng Yan memberi tanggapan. “Bila di atas lukisan
pengangon kambing benar-benar terkandung rahasia
yang mendalam, maka rahasia itu pasti bisa dipecahkan

451
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan suatu kecerdikan yang benar-benar amat tinggi,


siauwte sudah periksa amat teliti tapi tak sesuatupun
yang berhasil kudapatkan.”

“Bila kalian bisa mendapat persetujuan dari Liuw


Thayjien untuk memeriksa kembali lukisan pengangon
kambing itu, ada kemungkinan kita berhasil memperoleh
sedikit gambaran.”

“Urusan ini tidak sukar, biarlah aku temui Liuw


Thayjien, mungkin ucapanku berhasil mendapat
persetujuannya.”

“Kau harus ingat, urusan ini tak boleh dilakukan


dengan kekerasan atau menghardik dan menakut-nakuti
orang, asalkan diungkap secara sambil lalu cukuplah
sudah, disetujui atau tidak itu urusan orang lain….”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Yang


membuat orang menjadi tidak paham adalah lukisan
pengangon kambing itu secara bagaimana bisa terjatuh
ke tangan Liuw Thayjien?”

“Tentang hal ini siauwte pun pernah bertanya


kepadanya tapi ia sendiripun tidak berhasil memberikan
suatu jawaban yang pasti, agaknya lukisan tersebut ia
bawa ke kota Kay Hong karena mendapat titipan dari
orang lain.”

“Siapa yang titipkan barang itu kepadanya? Asalkan


orang itu punya hubungan dengan orang-orang bu lim
maka dengan cepat kita berhasil menemukan asal
mulanya seluruh persoalan ini.”

452
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah Cong Piauw-tauw merasa urusan ini sangat


penting?” tanya Nyoo Su Jan.

“Jika lukisan pengangon kambing itu punya sangkut


paut dengan peristiwa Bu Lim, aku nilai dari lukisan ini
tak dapat dibandingkan dengan nilai uang lagi.”

“Menurut apa yang Cong Piauw-tauw katakan tadi,


jelas lukisan tersebut terbukti ada sangkut pautnya
dengan orang-orang Bu Lim apakah seharusnya kita
melakukan penyelidikan?” kembali Piauw su she Nyoo ini
bertanya.

Kwan Tiong Gak termenung sejenak, kemudian


jawabnya.

“Bila dugaanku tidak salah, bukan saja Ban Cau serta


Ke Giok Lang bermaksud hendak merampas barang
kawalan kita, sekalipun jago jago dari kalangan luruspun
kemungkinan besar akan melibatkan diri dalam peristiwa
ini.”

“Maksud Cong Piauw-tauw, dari antara jago-jago


kalangan luruspun bisa turun tangan membegal barang
kawalan kita?”

“Hal ini susah ditentukan, sekalipun mereka tidak


sampai turun tangan membegal, rasanya bisa jadi
mereka akan bertanya dan selidiki persoalan ini sampai
jadi terang.”

453
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali tidak menduga


barang kawalannya kali ini bisa menimbulkan kekacauan
di dalam dunia persilatan, segera ujarnya.

“Jika demikian adanya, barang kawalan kita kali ini


tentu menggemparkan seluruh kolong langit.”

“Sedikitpun tidak salah” Kwan Tiong Gak tersenyum.


“Ke Giok Lang. si Dewa Api Ban Cau sekalian masih
belum terhitung menggemparkan jika merekalah yang
turun tangan membegal barang kawalan kita, tapi lain
halnya bila sampai murid-murid dari perguruan kalangan
luruspun menghadang perjalanan kita, ini barulah suatu
peristiwa maha aneh yang belum pernah terjadi dalam
Bu lim.”

Phoa Ceng Yan rada tidak percaya atas perkataan


tersebut, tanyanya secara tiba-tiba.

“Semisalnya anak murid dari perguruan kaum luruslah


yang turun tangan membegal barang kawalan kita, hal
ini pasti timbulkan cemoohan dari orang banyak,
bukankah tindakan mereka ini akan menodai nama baik
perguruan-perguruan mereka?”

“Semisalnya peristiwa ini mempunyai sangkut paut


yang maha besar terhadap keutuhan Bu lim, keadaan
jauh berbeda lagi, tindakan mereka ini justru bermaksud
hendak mencegah lukisan pengangon kambing ini jangan
sampai terjatuh ke tangan jago-jago kalangan Liok-lim.”

Ia menghembuskan napas panjang, kemudian


sambungnya.

454
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tapi hal ini hanya menurut pikiranku sendiri,


bagaimanakah akhirnya detik ini tak dapat kuduga?”

“Bila demikian adanya, kerepotan yang kita alami


dalam mengawal barang hantaran kali ini boleh dihitung
belum pernah ditemui sejak jaman kuno,” kata Nyoo Su
Jan.

“Memang suatu peristiwa yang sangat merepotkan,


tapi bila dipandang dari pihak kita sebagai suatu
perusahaan Piauw-kiok, kita harus mencari akal untuk
melindungi lukisan pengangon kambing itu jangan
sampai terjatuh ke tangan kawanan Liok-lim, juga jangan
sampai membiarkan barang itu terjatuh ke tangan kaum
lurus, kita harus antar sekeluarga pembesar Liuw tiba di
kota Kay Hong dalam keadaan selamat.”

Ke Giok Lang telah menyanggupi untuk bukakan jalan


buat kita, sekalipun diperjalanan ada kerepotan-
kerepotan rasanya kini sudah disapu oleh Ke Giok Lang.

Kwan Tiong Gak berpikir sejenak kemudian ujarnya,


“Ke Giok Lang jadi orang sangat cerdik, di hadapan kita
ia berkata hendak membantu kita, tapi di dalam
pandangan orang mereka akan mengira kita sedang
bersekongkolan dengan Ke Giok Lang.”

“Aaakh benar, kita sudah digunakan oleh si Hoa Hoa


Kongcu.” teriak Phoa Ceng Yan tak tertahan lagi.

Air muka Kwan Tiong Gak berubah semakin serius.

455
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Urusan belum berubah sampai seburuk itu, walaupun


Ke Giok Lang sangat cerdik, tapi terhadap persoalan ini ia
sudah salah langkah.”

“Di dalam anggapannya orang yang mengetahui


rahasia lukisan pengangon kambing tidak banyak,
semakin tidak menduga lagi bila orang-orang dari
kalangan luruspun ikut serta terjun dalam kancah
pergolakan ini ….”

Phoa Ceng Yan mengangguk tiada henti memuji


kecerdikan Cong Piauw-tauw-nya.

“Sejak jaman kuno hingga sekarang kebanyakan orang


yang mau membegal barang kawalan perusahaan Piauw-
kiok hanyalah jago-jago kalangan Liok-lim belaka,
selamanya belum pernah jago dari kalangan lurus-pun
ikut campur dalam persoalan ini, sudah tentu Ke Giok
Lang tidak pernah berpikir sampai kesitu.”

Kwan Tiong Gak menghela napas panjang, setelah


suasana sunyi beberapa saat lamanya, ia baru berkata
kembali.

“Aku akan berangkat terlebih dulu ke muka, kalian


susullah perlahan-lahan.”

“Cong Piauw-tauw silahkan berangkat.”

“Akan kutunggu kalian di sebelah depan!” seru Cong


Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lagi
seraya meloncat naik ke atas punggung kudanya dan

456
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melarikan binatang tunggangan tersebut cepat-cepat ke


depan.

Dalam sekejap mata bayangan punggungnya sudah


lenyap di ujung langit.

Sembari memandang bayangan punggung Kwan Tiong


Gak yang menghilang, bisik Phoa Ceng Yan lirih.

“Su Jan, kau telah berhasil melihat belum?”

“Melihat apa?”

“Walaupun selama berada di hadapan kita Cong


Piauw-tauw berusaha untuk menjaga ketenangan
wajahnya, padahal aku tahu hatinya sangat tertekan, aku
pikir di hatinya pasti masih tersembunyi banyak
persoalan yang belum diutarakan kepada kita.”

“Soal ini, hamba kurang ambil perhatian, cuma …”

“Cuma apa?”

“Secara mendadak Cong Piauw-tauw hendak berjalan


dulu seorang diri di paling depan, hal ini membuat
hamba menaruh curiga.”

“Apa yang kau curigai?”

“Soal ini tak mungkin tiada alasan.”

“Mari kita percepat perjalanan kita, coba kita lihat apa


yang terjadi di depan sana.”

457
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jie-ya! Kuda tunggangan Cong Piauw-tauw adalah


seekor kuda mustika yang bisa lari ribuan li dalam suatu
hari mana mungkin kita berhasil menyandaknya?” bisik
Nyoo Su Jan lirih. “Apalagi, apakah Ban Cau bersungguh
sungguh ingin mengundurkan diri masih susah diyakini
pada saat ini, jika kita pergi menyusul dengan kekuatan
Giok Liong beberapa orang rasanya terlalu lemah.”

“Perkataanmu tidak salah, kita tak boleh bertindak


ceroboh. “ Phoa Ceng Yan ternyata seorang lelaki yang
mau menerima nasehat, tampak ia tersenyum.

Mereka berdua dengan mengiringi iring-iringan kereta


bergerak maju ke muka.

Kurang lebih sepuluh lie kemudian, tampaklah Kwan


Tiong Gak berdiri di bawah sebuah pohon tua di sisi jalan
raya sedang menanti kedatangan mereka.

Kwan Tiong Gak menuntun kuda melanjutkan


perjalanan, sedang Lie Giok Liong serta Ih Coen maju
menyongsong untuk menghunjuk hormat.

Kwan Tiong Gak buru-buru ulapkan tangannya.

“Kalian baik-baiklah menjaga kereta.”

Kedua orang itu mengiakan dan segera mengundurkan


diri.

“Toako, apa yang telah kau temukan?” bisik Phoa


Ceng Yan kemudian dengan suara yang lirih.

458
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Baru saja aku berjumpa dengan si Hoa Hoa Kongcu


Ke Giok Lang.”

“Toako telah bergebrak melawan dirinya?” seru Phoa


Hu Cong Piauw-tauw sangat terkejut.

“Tidak!” Kwan Tiong Gak menggeleng. “Kita bercakap-


cakap sangat baik sekali, ia telah bantu kita melenyapkan
dua pos pengintaian dari Ban Cau dan melukai tujuh
orang anak buahnya.”

“Aaaakh! Jadi apa yang diucapkan Liuw Thayjien


sedikitpun tidak salah. Bajingan-pun mempunyai
peraturan kaum bajingan.”

“Agaknya ia bukan lagi berbohong, anak buahnya Yen


San Ngo Koei ada dua orang terluka.”

“Kalau begitu urusan ini sudah pasti dan tak bisa


diubah lagi.”

“Ehm! Ke Giok Lang beritahu kepadaku tak usah


merasa berterima kasih kepadanya, ia tiada sayang-
sayangnya mengikat tali permusuhan dengan orang
justru maksudnya ingin melindungi lukisan pengangon
kambing itu.”

“Aaaakh! Kelihatannya ia tidak mirip seorang keparat


berhati keji seperti yang tersiar dalam Bu lim.” Phoa
Ceng Yan dan Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok berpekik tertahan.

459
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saudara!” kata Kwan Tiong Gak lagi setelah


termenung sejenak. “Bila Ke Giok Lang tidak menipu
diriku, mungkin selama perjalanan selanjutnya menuju
kota Kay Hong, kita tak akan temui kesulitan lagi.”

“Yang jadi persoalan sekarang justeru adalah apakah


ucapan dari Ke Giok Lang bisa dipercaya atau tidak.”

“Maka dari itu, kita sendiripun harus bikin sedikit


persiapan.”

“Kita hendak bikin persiapan apa?”

“Aku berangkat dulu di paling depan, bila menemukan


sesuatu yang mencurigakan akan kuperiksa sendiri
terlebih dulu, kemudian menggunakan tanda hubungan
rahasia dari perusahaan kita memberi petunjuk kepada
kalian.”

“Bagus sekali, kami akan mengikuti petunjuk dari Cong


Piauw-tauw.”

Kwan Tion Gak menghela napas panjang.

“Setelah aku tiba di sini, tidak seharusnya Liuw


Thayjien serta keluarganya merasa terkejut lagi, juga aku
berharap mereka bisa tiba di kota Kay Hong tepat pada
saatnya.” ujarnya lambat lambat.

“Cong Piauw-tauw, ada satu persoalan belum siauwte


laporkan kepada dirimu?”

“Urusan apa?”

460
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lambang Naga sakti yang pernah menggemparkan


dunia persilatan pada puluhan tahun berselang kini
muncul lagi di dalam Bu lim, bahkan berada di dalam
kereta yang ditumpangi nona Liuw.”

“Sungguhkah peristiwa ini telah terjadi?” seru Kwan


Tiong Gak tertegun.

“Siauw-te tidak melihatnya dengan mata kepala


sendiri, ucapan ini diutarakan dari mulut Ke Giok Lang,
tapi bila kupikir dengan teliti rasanya perkataan ini
sedikitpun tidak salah, Ke Giok Lang telah menggunakan
siasat memancing harimau turun gunung untuk pancing
aku meninggalkan rumah penginapan kemudian
mengambil kesempatan itu ia mendatangi rumah
penginapan dan merobohkan dulu seluruh piauw su yang
berjaga-jaga di sana kemudian terobos masuk ke dalam
kamar Liuw siocia, menurut keadaan seharusnya waktu
itu ia bisa curi pergi lukisan pengangon kambing, tapi
detik itu pula ia telah berubah niat bahkan
menghadiahkan sebutir pil buat nona Liuw.”

“Ke Giok Lang suka melepaskan cara merampas


dengan jalan membokong dan rela mengadakan
perjalanan dengan kita undurkan lawan, aku rasa di balik
kesemuanya ini masih tercantum alasan-alasan lain!”
seru Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak.

“Masih ada satu persoalan lagi hingga kini siauwte


belum mengerti di manakah letak sebab-sebabnya!”

“Ehmm! Coba katakan.”

461
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sewaktu kami bertahan di dalam sebuah kuil, Ban


Cau dengan membawa orang-orangnya telah mendekati
kuil di mnana kami bertahan dan agaknya hendak turun
tangan terhadap kami dari berbagai jurusan, tapi entah
apa sebabnya mendadak mereka bersama-sama bubar
dan ngeloyor pergi, peristiwa terjadi sangat mendadak,
walaupun sudah siauwte pikir sangat lama belum berhasil
juga mengetahui sebab-sebabnya.”

“Ooouw…. pernah terjadi peristiwa macam ini?” Kwan


Tiong Gak sendiripun agaknya dibikin tertegun.

“Terhadap peristiwa ini siauwte merasa keheranan, tak


kupahami apakah sebab-sebabnya sehingga terjadi
begitu?”

“Si Dewa Api serta anak buahnya belum pernah


berjumpa dengan Lambang Naga Sakti, agaknya
peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan Lambang
tersebut.”

“Justeru karena itulah, hamba merasa bingung apa


sebabnya?”

“Menurut peristiwa yang berlangsung di depan mata,


jelas ada seseorang yang bantu kita mengundurkan Ban
Cau sekalian dari suatu tempat yang tersembunyi.”

“Siauwte pun pernah berpikir demikian, kemungkinan


sekali kesemuanya ini adalah hasil permainan setan dari
Ke Giok Lang, tapi setelah kupikir lebih teliti lagi, rasanya
keadaan tersebut salah besar, bila Ke Giok Lang tahu

462
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

peristiwa ini, seharusnya ia ungkap kembali persoalan


tersebut setelah berhadapan muka dengan kami, tapi tak
sepatah katapun yang ia utarakan.”

“Waktu itu apakah kau berhasil temukan kunci dari


peristiwa ini?”

“Tidak, hanya aku merasa bila sungguh sungguh ada


orang membantu kita secara diam-diam, maka
kepandaian silat yang dimiliki orang itu tentu luar biasa
dahsyatnya.”

Agaknya terhadap peristiwa ini Kwan Tiong Gak tidak


dapat menjawab, ia termenung dan membungkam.

“Toako!” sambung Phoa Ceng Yan lebih jauh.


“Mengungkap soal ikut campurnya jago-jago kalangan
lurus dalam peristiwa ini mungkinkah ada seorang jago
lihay dari perguruan Pek-to yang secara diam-diam
memberi bantuan kepada kita ………..”

“Empat penjuru hanya salju nan putih, tempat macam


begini merupakan, perduli siapakah orang itu, ia bisa
merahasiakan jejaknya di depan mata jago lainnya
bahkan mengundurkan diri Ban Cau sekalian, jelas dia
bukan seorang jagoan biasa saja.”

“Siauw-te pun telah berpikir sampai di sana, tapi yang


masih belum kupahami adalah siapakah orang itu dan
apa sebabnya ia suka memberi bantuan kepada kita”

Kembali Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat.

463
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mungkin sekali maksud hatinya sama pula dengan


maksud Ke Giok Lang, yaitu melindungi peta lukisan
pengangon kambing tersebut.”

Tali les disentak derap kuda bergerak laksana terbang


berangkat ke arah depan.

Menanti bayangan punggung dari Kwan Tiong Gak


telah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan si Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok baru
berpaling ke arah Nyoo Su Jan.

“Su Jan, suruh mereka percepat perjalanan, kita harus


cepat cepat tiba ditempat tujuan.”

“Apakah Jie Ya tidak naik ke dalam kereta?” kata Nyoo


Su Jan seraya menjura.

“Tidak usah, aku akan berjalan di depan, bila terjadi


angin taupan yang meniup roboh rerumputan, akupun
bisa hadapi dengan lebih seksama.”

“Jie-ya terlalu menyikda diri.”

Phoa Ceng Yan hanya tersenyum dan mengangguk, ia


melanjutkan langkahnya ke depan.

Ternyata selama di perjalanan Kwan Tiong Gak tidak


munculkan diri kembali, Phoa Ceng Yan pun tidak
menemui peristiwa yang diluar dugaan lagi selama dalam
perjalanan kali ini.

464
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hari ini mereka menyeberangi sungai Huang Hoo dan


melanjutkan perjalanannya ke kota Kay Hong.

Siang melanjutkan perjalanan malam beristirahat,


selama perjalanan aman tentram tidak menjumpai hal-
hal yang aneh lagi.

Bulan dua belas tanggal dua puluh sembilan iring-


iringan kereta perusahaan Liong Wie Piauw-kiok akhirnya
tiba juga di kota Kay Hong dengan selamat.

Setelah masuk kota, Phoa Ceng Yan menghembuskan


napas panjang, kepada Liuw Thayjien katanya.

“Thayjien, beruntung nyawa kita tidak melayang,


akhirnya sebelum penutupan tahun sampai juga kita di
kota Kay Hong.”

“Sungguh bagus sekali, cepat hantar aku ke istana


Jendral, sesuai dengan janji aku akan perseni kalian
seperti telah kusetujui tempo dulu.”

“Upah tambahan sih kami tidak berani terima, hanya


Cayhe ingin menjelaskan satu persoalan kepada Liuw
Thayjien.”

“Urusan apa?”

“Lukisan pengangon kambing hendak Thayjien


selesaikan secara bagaimana? Apakah kau sungguh
sungguh hendak serahkannya ke tangan Ke Giok Lang,
atau tidak, soal ini kami tak berani ikut campur dan boleh
Thayjien selesaikan sendiri, tetapi semisalnya Thayjien

465
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak ingin lagi berhubungan dengan orang-orang


kangouw, lukisan pengangon kambing bolehlah serahkan
kepada cayhe biar kami yang serahkan barang tersebut
buat Ke Giok Lang.”

“Soal lukisan pengangon kambing bisa aku serahkan


sendiri kepadanya” ujar Liuw Thayjien setelah termenung
sejenak. “Aku tidak ingin menyusahkan lagi kau Phoa Hu
Cong Piauw-tauw, bila kau berjumpa dengan Ke Giok
Lang boleh suruh ia mendatangi istana Jendral dan ambil
sendiri lukisan itu.”

“Cayhe sama sekali tidak mengusulkan agar Liuw


Thayjien suka keluarkan lukisan tersebut untuk
diserahkan kepadaku.” Phoa Ceng Yan tertawa hambar.
“Cuma saya surat tanda terima kita sudah berada di
tangannya, secara terang terangan Ke Giok Lang bisa
menuntut barang tersebut dari tangan kami.”

Kembali Liuw Thayjien tersenyum.

“Tentang soal ini Phoa Hu Cong Piauw-tauw boleh


berlega hati, walaupun Ke Giok Lang membawa surat
tanda terima tersebut, tapi ia harus berjumpa dulu
dengan diriku sebelum bisa terima lukisan tadi.”

Pada mulanya Phoa Ceng Yan kelihatan rada tertegun


kemudian disusul tertawa hambar.

“Apakah Liuw Thayjien bermaksud hendak


mengingkari janji ini?”

466
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Phoa heng, He kOan bukanlah bermaksud demikian”


Liuw Tahyjien menggeleng dan tertawa.”Aku rasa jikalau
Ke Kongcu bisa berjumpa dengan diriku, sudah tentu
lukisan pengangon kambing itu akan kuserahkan
kepadanya, bila tidak berhasil menjumpai aku sekalipun
aku punya maksud untuk serahkan lukisan tadi
kepadanya pun tidak tahu harus serahkan barang ini
kepada siapa!”

“Liuw Thayjien! Cayhe ingin menasehati sepatah kata


kepadamu.”

“Phoa ya silahkan berbicara.”

“Mengandalkan tentara kerajaan tak bakal bisa


menahan kekuatannya kecuali kau sendiri memiliki
kemampuan untuk melindungi lukisan pengangon
kambing tersebut.”

“Soal ini He Koan sudah punya rencana tersendiri dan


tak perlu Phoa-ya ikut merasa kuatir.”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, akhirnya dengan


perasaan apa boleh buat katanya.

“Ucapan cayhe akhiri sampai disini saja, Liuw Thayjien


siap berbuat bagaimana tentukanlah menurut pikiran
dirimu sendiri.”

Liuw Thayjien tertawa hambar.

“Phoa-ya, hantar aku ke istana jendral terlebih dahulu


kemudian kita berbicara lagi.”

467
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan mengiakan, ia perintahkan anak


buahnya untuk melanjutkan perjalanan ke muka.

Istana Tok Hu Kong Koan di kota Kay Hong sangat


terkenal, tak seorangpun yang tak tahu.

Phoa Ceng Yan dengan memimpin iring-iringan kereta


memasuki istana jendral.

Kurang lebih satu tombak dari pintu gerbang istana,


dua orang tentara penjaga pintu menghadang jalan pergi
iring-iringan kereta tersebut.

Phoa Ceng Yan agaknya sudah dapat meraba maksud


Liuw Thayjien yang ingin mengingkari janji, ia tidak ingin
membuang banyak waktu lagi, setelah kereta iring-
iringan terhadang, ujarnya cepat.

“Thayjien, kereta sudah tiba di depan istana jendral,


kami tak bisa melanjutkan kembali perjalanan ke depan.”

Mendengar seruan tersebut, Liuw Thayjien


menyingkap horden dan melirik sekejap ke arah kedua
orang tentara penjaga pintu itu.

“Si Thayjien adakah dalam istana?” tanyanya.

“Siapakah kau?” tanya salah seorang tentara penjaga


pintu yang menyoren golok itu dengan wajah dingin.

“He koan she Liuw, datang dari Peking.”

468
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid 13

Mendengar orang itu datang dari Peking, air muka


kedua orang tentara penjaga pintu itupun agak berubah
melunak.

“Apakah thayjien punya kartu nama untuk


disampaikan?”

“Tidak perlu kartu nama lagi, katakan saja orang she


Liuw dari Peking ingin berjumpa.”

Melihat tamunya tidak suka mengeluarkan kartu nama,


kedua orang tentara itu jadi kerutkan keningnya.

“Kalau begitu thayjien harap tunggu sejenak di sini,


biarlah hamba laporkan hal ini ke dalam.”

Ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Sejurus kemudian, tentara tadi baik lagi dengan


membawa seorang lelaki berusia pertengahan, berjubah
hitam dengan topi terbuat dari kulit binatang serta tujuh-
delapan orang bersenjata lengkap.

“Thayjien, agaknya istana jendral tak bisa ditembusi


secara mudah, iring-iringan kereta kitapun rasanya tak
dapat langsung masuk ke dalam,” kata Phoa Ceng Yan
setelah melihat munculnya beberapa orang itu.

469
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu tentara penjaga tadi telah berjalan


mendekat.

“Tok Say telah menanti di pintu, sengaja beliau


mengirim Ho Su Ya dengan membawa sepuluh orang
tentara menyambut kedatangan tamu terhormat, harap
Thayjien segera mengikuti kami.”

“Istri dan Siauw li ………”

“Hamba telah menyediakan dua buah tandu” buru-


buru Ho Su Ya yang memakai topi kulit menyambuti.

Ketika itulah dua buah tandu kecil telah berjalan


mendekat.

Setelah semuanya diatur Ho Su Ya baru berpaling ke


arah Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan, tanyanya.

“Tentunya, cuwi dari perusahaan Piauw-kiok bukan?”

“Benar, kami mendapat pesanan untuk menghantar


Thayjien kemari” buru-buru Phoa Ceng Yan menjura.

Ho Su Ya tersenyum seraya balas memberi hormat.

“Istana jendral melarang sembarangan orang berjalan


masuk, aku lihat bagaimana kalau cuwi bongkar muatan
Liuw Tahyjien di sini saja?”

Phoa Ceng Yan mengangguk, ia perintahkan anak


buahnya untuk bongkar dan turunkan barang barang
milik Liuw Thayjien.

470
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua buah tandu kecil bergerak mendekati kereta dan


membawa Liuw Hujien serta nona Liuw meninggalkan
tempat itu.

Setelah semua barang dibongkar, Phoa Ceng Yan pun


memberi perintah kepada Nyoo Su Jan.

“Su Jan, putar kereta dan kembali ke Piauw-kiok.”

Nyoo Su Jan mengiakan, ia membawa beberapa


kereta kosong itu bergerak ke kantor cabang perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok yang berada di kota Kay Hong.

Mendadak Liuw Thayjien berjalan dua langkah ke


depan seraya berseru.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, bila He koan ada urusan


ingin berjumpa entah kemanakah aku harus mencari
Phoa ya?”

Phoa Ceng Yan yang mendengar pertanyaan itu


segera tertawa hambar.

“Aku tinggal di jalan besar sebelah timur, kantor


cabang perusahaan Liong WIe Piauw-kiok.”

“Lalu Phoa-ya bermaksud hendak tinggal di kota Kay


Hong berapa lama…?”

“Soal ini sulit ditentukan, bila tak ada urusan yang


sangat istimewa, mungkin setelah lewati tahun baru
segera berangkat.”

471
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“He-koan pikir dalam sehari dua hari ini ingin


mendatangi kantor Piauw-kiok kalian untuk
menyambangi Phoa-ya.”

“Tidak berani, tidak berani, sampai waktunya cayhe


akan menyambut kedatangan Thayjien.” buru-buru Phoa
Ceng Yan menjura.

Liuw Thayjien tertawa hambar, dengan di bawah


pengawalan beberapa orang tentara kerajaan ia
melangkah memasuki bangunan yang besar dari istana
jendral tersebut.

Phoa Ceng Yan dengan membawa Nyoo Su Jan serta


sepuluh anak buah perusahaan Liog Wie Piauw-kiok pun
meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor cabang.

Baru saja kereta berhenti di pintu depan Kwan Tiong


Gak dengan memimpin empat orang piauw tau dari
kantor cabang kota Kay Hong telah menyambut
kedatangannya di pintu.

Ketika waktu itu menunjukkan akhir tahun kantor


perusahaan piauw-kiok pun telajh berhenti bekerja,
seluruh anggotanya pada beristirahat dan kembali ke
kampung halamannya masing-masing.

Buru-buru Phoa Ceng Yan melangkah maju ke depan


seraya menjura.

“Menyusahkan toako harus menyambut dari jauh.”

472
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Selama dalam perjalanan kau tentu sangat letih,


siauw heng telah perintahkan mereka untuk persiapkan
sebuah meja perjamuan untuk menyambut
kedatanganmu, silahkan saudara masuk ke dalam untuk
minum secangkir arak.”

Phoa Ceng Yan tertawa getir.

“Siauwte merasa sangat menyesal harus mengejutkan


toako…”

“Saudara, peristiwa ini bukan suatu kejadian yang


kecil dan merupakan suatu peristiwa yang terbesar sejak
perusahaan Lionw Wie piauw-kiok didirikan, sekalipun
hitung-hitung aku sendiri yang mengambil barang itupun
belum tentu bisa aman tentram.”

Keempat orang Piauw-tauw lainnya pun bersama-


sama menjura hormat.

“Menghunjuk hormat buat Hu Cong Piauw-tauw.”

“Tak usah banyak adat,” buru-buru Phoa Ceng Yan


berseru seraya tersenyum.

Segera mengandeng tangan kanan Phoa Ceng Yan,


Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam.

“Ayoh, kita semua masuk dan duduk di dalam, selama


melakukan perjalanan kalian sudah menderita terhembus

473
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

angin dan salju, seharusnya sekarang mereguk secawan


arak dan beristirahat.”

“Terima kasih, toako,” Phoa Ceng Yan tertawa


hambar.

Dengan mengikuti dari belakang Kwan Tiong Gak


mereka melangkah masuk ke dalam ruangan.

Setibanya di ruangan belakang, meja perjamuan telah


dipersiapkan Kwan Tiong Gak dengan mengandeng
tangan Phoa Ceng Yan duduk di kursi pertama sedang
Nyoo Su Jan, Lie Giok Lang, Thio Toa Hauw serta Ih
Coen ditambah keempat Piauw-tauw penting dari kantor
cabang kota Kay Hong menempati di kursi-kursi kosong
lainnya.

“Toako” ujar Phoa Ceng Yan sambil angkat cawan arak


di hadapannya. “Siauwte tidak becus dan hanya
persoalan kecil saja mengharuskan Toako turun tangan
sendiri, secawan arak ini biarlah anggap sebagai arak
hukuman buat siauwte.”

Kwan Tiong Gak pun tidak turun tangan mencegah, ia


hanya duduk sambil tersenyum.

Phoa Ceng Yan setelah meneguk cawan pertama ia


penuhi cawannya kembali dengan arak.

“Berkat kasih sayang dan perhatian dari Cong Piauw-


tauw yang anggap aku melebihi sendiri, siauw-te merasa
sangat berterima kasih, tapi ternyata aku tidak
berkemampuan untuk membantu mereka menghilangkan

474
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kesal dan murung dari Cong Piauw-tauw, bila diingat


sungguh membuat hatiku merasa amat kecewa sekali,
secawan arak ini biarlah aku hormati cuwi sekalian
sebagai hukuman atas ketidak mampuanku dalam
membantu kalian.”

“Nyoo Su Jan beberapa orang Piauw-tauw buru-buru


bangun berdiri.

“Hu Cong Piauw-tauw terlalu merendah!” serunya


hampir berbareng.

“Mari kita sama sama bersantap sembari minum,“ ajak


Kwan Tiong Kag kemudian sambil pimpin menyumpit
sekerat daging. “Setelah kalian selesai minum dan
bersantap, aku masih ada dua urusan penting hendak
dirundingkan dengan kalian.”

Pada hari hari biasa, ia selalu bersikap penuh wibawa,


cukup sepatah kata ucapan ini telah mempengaruhi hati
semua orang.

Suasana seketika berubah jadi sunyi, saking heningnya


sampai tak kedengaran sedikit suarapun, yang terdengar
hanyalah suara tegukan arak serta kecapan mulut.

Sepertanak nasi kemudian, perjamuan itupun telah


selesai.

Dua orang pelayan membersihkan meja dan


menghidangkan teh wangi.

475
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sembari meneguk secawan teh ujar Kwan Tiong Gak


penuh keseriusan.

“Seharusnya aku tidak patut membicarakan persoalan


ini setelah kalian bersantap tapi berhubung waktu yang
sangat mendesak terpaksa pembicaraan ini kulakukan
juga dalam keadaan tergesa-gesa dengan kalian.”

Walaupun ucapan dari Kwan Tiong Gak ini diutarakan


sangat halus, tapi dengan keseriusan serta kewibawaan
pada hari-hari biasa seluruh piaut tauw yang ada di
dalam piauw-kiok kebanyakan jeri dan menghormatinya,
karena itu pada saat ini tak seorangpun yang berani
memotong.

“Toako, kau ingin membicarakan soal apa?” tanya


Phoa Ceng Yan.

“Aku sudah berjanji dengan seseorang untuk


mengadakan pertemuan, sebelum sore nanti harus sudah
tiba di tempat yang telah ditentukan.”

“Toako kau telah berjanji hendak mengadajan


pertemuan dengan siapa …?” Phoa Ceng Yan
kelihatannya agak tertegun.

“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang lalu si Dewa Api Ban


Cau serta tiga orang Liok-lim lainnya yang tidak
kuketahui namanya.”

“Bagaimana mungkin si Dewa Api Ban Cau bisa


berjalan searah dengan Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”

476
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Di antara mereka berdua pada dasarnya memang


tiada terikat dendam yang sangat mendalam, mereka
bisa-bisa saja karena satu urusan bentrok dan bergebrak
kemudian setelah urusan lewat bersatu kembali.”

“Ke Giok Lang sudah mendapat tanda terima yang


ditulis oleh Liuw Thayjien sendiri, setiap saat ia boleh
minta lukisan pengangon kambing itu dari tangan Liuw
Thayjien sedang Ban Cau di dalam kalangan pertarungan
sudah kena dipaksa berada di bawah angin secara
bagaimana kedua orang itu bisa bersatu kembali?”
agaknya Phoa Ceng Yan masih keheranan dibuatnya.

“Walaupun Ban Cau kena dilukai Ke Giok Lang dengan


jarum beracun, tapi sama sekali tidak menderita
kekalahan total di bawah pimpinannya masih terdapat
banyak jago-jago lihay, bilamana ia ada maksud
menerjang ke Giok Lang dengan sepenuh tenaga,
rasanya kitapun tak dapat tiba di kota Kay Hong dengan
selamat.”

“Aaaaai………. lalu toako hendak pergi menghadiri


pertemuan tersebut dengan membawa berapa orang?”

“Di dalam pertemuan ini aku rasa mereka tidak berniat


untuk turun tangan terhadap kita semua, tapi kitapun tak
boleh tidak harus melakukan persiapan, aku ingin
merepotkan saudara serta Su Jan ikut aku pergi
menghadiri pertemuan itu.”

“Toako, kapan kau hendak berangkat?”

“Kita segera berangkat.”

477
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar keputusan Cong Piauw-tauw-nya, Phoa


Ceng Yan lantas menarik sekejap dari Nyoo Su Jan.

“Su Jan, kaupun harus bersiap-siap.”

“Setiap saat hamba bisa berangkat.” jawab Nyoo Su


Jan dengan cepat.

“Bagus sekali” Phoa Ceng Yan segera berangkat


bangun. “Toako berjanji hendak berjumpa dengan
mereka di mana?”

“Kuil Thian Ong Bio tujuh li di kota sebelah Timur.”

Tampak seorang lelaki kekar berusia lima puluh


tahunan bangun berdiri.

“Cong Piauw-tauw” ujarnya lantang. “Kuil Thian Ong


Bio sudah lama tidak digunakan sebagai tempat
sembahyang keadaan-nya sunyi dan liar, aku rasa
mereka tidak bermaksud baik mengundang Cong Piauw-
tauw ke sana entah bagaimana kalau hamba dengan
membawa orang melakukan penjagaan dab penyelidikan
terlebih dahulu?”

Orang yang barusan bicara bukan lain adalah ketua


Piauw-tauw dari kantor cabang perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok di kota Kay Hong, si “Hwee Huang Si” atau si
Batu Terbang Liem Toa Lek.

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

478
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ini hari adalah tanggal dua sembilan bulan dua belas,


besok sudah ganti tahun, setelah para anggota repot
selama setahun, seharusnya sekarang beristirahat
nyenyak, kau tak usah mengganggu ketenangan mereka
lagi, apalagi pihak lawanpun rata-rata merupakan jago
lihay dari kalangan Liok-lim, kepergian mereka hanya
mendatangkan kerepotan belaka.”

“Hamba sudah lama berdiam di kota Kay Hong,


terhadap situasi di sekitar sini sangat hapal, mohon Cong
Piauw-tauw suka memberi ijin kepada cayhe serta ketiga
orang Piauw-tauw lainnya boleh ikut menghadiri
pertemuan itu.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak kemudian


menggeleng.

“Kalian tidak usah pergi, kebanyakan orang malah


mendatangkan kerepotan. Apalagi di dalam kantor
kitapun membutuhkan orang untuk menjaganya, baiklah
kau seorang saja yang ikut.”

Liem Toa Lek mengiakan, ia pesan beberapa patah


kata kepada ketiga orang Piauw-tauw-nya kemudian
bangkit berdiri seraya menyambar senjata andalannya.

Kwan Tiong Gak pun ikut bangun berdiri.

“Mari kita berangkat?”

Pertama tama ia melangkah dahulu ke muka.

479
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek pun
dengan iring-iringan mengikuti dari belakang Kwan Tiong
Gak berjalan meninggalkan kantor cabang perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok.

Kedua orang petugas kantor telah mempersiapkan


kuda jempolan dari Kwan Tiong Gak serta tiga ekor kuda
lainnya menanti di depan halaman.

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak telah


mengulapkan tangannya.

“Tidak usah, kita tak usah naik kuda, lebih baik jalan
kaki semua.”

Mendengar perintah Cong Piauw-tauw-nya, Liem Toa


Lek segera berpaling kepada beberapa orang anak
buahnya.

“Tuntun kuda ke dalam istal dan beri rumput yang


banyak, kuda jempolan Cong Piauw-tauw tak ternilai
harganya, kalian harus menjaganya baik baik.” bisiknya
lirih.

Beberapa orang anggota perusahaan Liong Wie Piauw-


kiok itu mengiakan dan berlalu.

Setelah memberi pesan kepada anak buahnya, Liem


Toa Lek segera berebur jalan di muka Kwan Tiong Gak.

“Biarlah hamba yang bawa jalan di depan!” serunya


cepat.

480
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikianlah dengan beriring-iringan Kwan Tiong Gak


sekalian meninggalkan kantor cabang perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok menuju ke kuil Thian Ong Bio di luar kota
sebelah timur.

Perkataan Liem Toa Lek sedikitpun tidak salah, kuil


Thian Ong Bio adalah sebuah kuil kecil yang telah tak
terpakai lagi, pintu jendela sudah pada roboh, rumput liar
serta alang-alang tumbuh subur setinggi lutut, empat
penjuru tak ada penduduk yang tinggal di sana.

“Sungguh sunyi tempat ini,” tak tertahan lagi Kwan


Tiong Gak berseru dengan kening berkerut.

“Setahun yang lalu,” ujar Liem Toa Lek beri


keterangan. “Kuil Thian Ong Bio masih digunakan
beberapa orang Toojin untuk bersembahyang, tapi
setahun kemudian ketika hamba datang kemari lagi,
ternyata suasana sudah sunyi, entah mengapa mereka
telah meninggalkan kuil ini?”

“Mari kita berjalan masuk!” ajak sang Cong Piauw-


tauw.

Pertama tama ia melangkah terlebih dulu ke depan.

Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek yang melihat Cong
Piauw-tauwnya menerjang terlebih dahulu, buru-buru
berebut maju ke muka.

“Cong Piauw-tauw, ada baiknya kita bukakan jalan


untukmu!” serunya hampis berbareng.

481
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi Kwan Tiong Gak sudah menggeleng dan


mencegah dengan suara lirih.

“Tidak usah, kalian berjalan ke belakang saja dan


jaraknya harus ada di antara enam depa.”

Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek mengiakan, buru-


buru mereka mengundurkan diri ke belakang.

Kwan Tiong Gak percepat langkahnya langsung masuk


ke dalam ruangan besar.

Phoa Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyoo Su Jan pun
seraya kerahkan hawa sinkang untuk bersiap sedia
mengikuti dari belakang Cong Piauw-tauwnya Kwan
Tiong Gak.

Beberapa orang dengan jalan beriring memasuki


ruangan besar.

Tampaklah si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang sambil


goyang goyangkan kipasnya menyambut kedatangan
beberapa orang itu dari balik ruangan besar.

“Kwan Tiong Gak Piauw-tauw, ternyata kau seorang


yang patut dipercayai!” serunya memuji.

Kwan Tiong Gak berhenti dan tertawa hambar.

“Hanya saudara seorang?” balik tanyanya.

“Si Dewa Api Ban Cau serta beberapa orang kawannya


sedang menanti di ruangan dalam.

482
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagus sekali! Mari kita bicara di dalam ruangan


tengah saja.”

“Tunggu, tunggu sebentar, dengarkan dulu sepatah


dua patah kata dari aku orang she Ke.”

“Ke heng, silahkan bicara.”

“Aaaaai………suatu peristiwa pembegalan barang


kawalan biasa yang sering terjadi dalam dunia kangouw,
karena ikut campurnya siauw-te tidak disangka telah
membuat urusan ini jadi begitu kacau.”

“Silahkan saudara menjelaskan maksud ucapanmu


itu.”

“Sebelum Kwan Cong Piauw-tauw dari perusahaan


kalian dan mendatangkan banyak kerepotan buat
perusahaanmu.”

“Soal ini, aku orang she Kwan sudha mendengar


laporan mereka.” perlahan lahan Kwan Tiong Gak
mengangguk.

“Pada saat ini ada beberapa orang kawan kawan kang


ouw sudah datang mencari aku orang she Ke untuk
diajak bicara,” kata Ke Giok Lang. “Terus terang saja
kuberitahukan kepada kau Cong Piauw-tauw, sebelum
kedatanganmu kemari, di dalam kuil Thian Ong Bio
sudah terjadi dua kali pertempuran sengit, siauw-tepun
beruntun telah melukai tiga orang….”

483
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapa yang telah kau lukai?”

“Ketiga orang itu sangat jarang berkelana di dalam


dunia kangouw terutama di daerah utara, karena mereka
terlalu andalkan ilmu silatnya dan tidak pandang sebelah
mata terhadap siauw-te, maka barusan saja kuberi
sedikit pelajaran kepada mereka agar mereka pun tahu
seberapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi.”

Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Ke Kongcu sudah bicara setengah harian lamanya


belum juga menyebutkan siapakah nama ketiga orang
itu” tegurnya.

“Oooow… hee…heee….sekalipun kuutarakan, belum


tentu Kwan Piauw-tauw mengenalnya.”

“Coba siapakah mereka!”

“Lam Thian Sam Sah.!”

“Apakah mereka bukan terdiri dari dua lelaki dan satu


wanita” tiba tiba si telapak besi gelang emas Phoa Ceng
Yan menimbrung dari samping. “Salah satu diantaranya
adalah seorang lelaki berbaju hitam bersenjatakan
sebatang Thian Kui So yang di dalam disembunyikan
jarum beracun persis seperti kegunaan kipas Ke Kongcu
.?”

“Aaaakh! Jika demikian adanya tentu Phoa Hu Cong


Piauw-tauw pun pernah berjumpa dengan mereka,” kata
Ke Giok Lang diiringi senyuman hambar.

484
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cayhe tidak pernah bicara takabur, terus terang saja


siauw-te pernah merasakan bagaimana hebatnya
sebatang jarum beracun yang dilepaskan dari senjata
Thian Kui So tersebut.”

“Bagaimana daya kerja jarum beracun it?” sambung si


Hoa Hoa Kongcu lagi sambil tersenyum.

“Daya kerja racunnya sangat keras dan dahsyat,


seseorang setelah terkena jarum tersebut seketika itu
juga akan kehilangan daya tempurnya.”

“Lalu secara bagaimana Phoa Hu Cong Piauw-tauw


menyembuhkan luka racun itu?”

“Untuk melepaskan bel harus mencari si pemasang bel


itu sendiri, yang melukai diriku adalah orang itu dan yang
menolong aku pun juga dia.”

Sampai di situ Ke Giok Lang tidak ingin berbicara


terlalu panjang lagi, ia menyingkir ke samping membuka
jalan.

“Dalam ruangan tengah masih banyak orang


menantikan kedatanganmu, silahkan cuwi masuk ke
dalam.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Ke Kongcu! Agaknya perkataanmu belum selesai


bukan?”

485
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cayhe sudah selesai berbicara, apa yang harus


kutanyakan lagi? seharusnya Kwan heng-lah yang cepat
ambil keputusan.”

“Bagus sekali, cayhe pasti akan memberikan suatu


jawaban yang memuaskan untuk Ke Kongcu.”

“Dan cayhe berharap jawaban itu adalah suatu


jawaban yang sangat bersahabat,” sambung Ke Giok
Lang pula diiringi senyuman hambarnya yang menghiasi
bibir.

Kwan Tiong Gak tersenyum dan mengangguk, ia tidak


bicara lagi dan langsung masuk ke ruangan tengah.

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek


dengan salurkan tenaga sinkang-nya mempersiapkan diri
mengikuti dibelakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong
Gak masuk ke dalam ruangan tengah.

Ketika sinar mata mereka bersama-sama menyapu


keadaan di dalam ruangan itu, tampaklah dalam ruangan
yang sunyi dan terpencil berdiri dua puluh orang lelaki
kekar tinggi pendek tak menentu.

Si Dewa Api Ban Cau dengan memakai seperangkat


jubah warna hijau berdiri di tengah ruangan dengan
wajah penuh keseriusan.

Sedangkan Lam Thian Sam Sah duduk bersila di


pojokan ruangan sedang menyembuhkan luka yang
diderita.

486
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perkataan dari Ke Giok Lang tadi sedikitpun tidak


salah, Lam Thian Sam Sah telah menderita luka yang
sangat parah.

Sepasang mata Kwan Tiong Gak bagaikan pelita di


tengah kegelapan menyapu sekejap seluruh wajah jago-
jago yang hadi di ruangan tengah tersebut, lalu seraya
menjura kepada Ban Cau serunya.

“Tentunya saudaralah yang disebut orang-orang


kangouw sebagai Si Dewa Api Ban Heng?”

Ban Cau tertawa hambar.

“Kwan Piauw-tauw! Sungguh tajam pandanganmu,


walaupun kita berdua pernah berhubungan satu sama
lain tapi rasanya hanya melalui surat menyurat belaka
bukan? menurut ingatan cayhe di antara kita berdua
belum pernah berjumpa barang sekalipun.”

“Terhadap Ban-heng yang merupakan seorang jago


kenamaan, kegagahan, gerak-gerik serta ketajaman
mata yang jauh berbeda dengan orang lain sudah tentu
tidak sukar bagiku untuk mengenalinya sekalipun di
antara kita berdua belum pernah berjumpa.”

“Terima kasih, terima kasih, Kwan Cong Piauw-tauw


terlalu memuji.”

Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan lahan dialihkan


ke atas wajah para jago yang hadir dalam ruangan
tengah, ia temukan diantara mereka ada delapan sampai

487
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sembilan puluh persen adalah anak buah Ke Giok Lang


serta Ban Cau yang pada menyoren senjata.

“Kwan-heng!” terdengar Ke Giok Lang berkata seraya


menggerak-gerakkan kipasnya.

“Perusahaan piauw-kiok kalian sudah berhasil


menghantar pembesar she Liuw sekeluarga serta seluruh
harta kekayaan tiba di kota Kay Hong dengan selamat,
terhadap nama besar Liong Wie Piauw-kiok pun boleh
dihitung tidak menderita suatu kerugian apapun, dengan
demikian bukankah tanggung jawab selanjutnya
terhadap keselamatan anggota keluarga she Liuw bukan
menjadi tanggung jawab kalian lagi?.”

“Ada satu persoalan yang membuat aku orang she


Kwan merasa patut disayangkan!” kata Kwan Tiong Gak
dengan nada berat.

“Urusan apa?” tanya Ke Giok Lang dengan sepasang


biji mata berputar-putar.

“Ke-heng, buat apa kau bikin jaring untuk menjerat


diri sendiri? tidak seharusnya kau paksa Phoa Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok demi
ikut menanda tangani surata tanda terima tersebut.”

“Hitam di atas putih tertera sangat jelas sekali,


semisalnya Liuw Thayjien dengan berdasarkan bukti
tersebut melaporkan hal ini kepada pihak pengadilan dan
menuduh kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
bersekongkol dengan jago kalangan Liok-lim untuk jebak

488
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia masuk perangkap, bukankah hal ini membuat kami


ada perkataanpun susah untuk membantah.”

Beberapa patah ucapan ini sangat cengli sekali,


kendati Ke Giok Lang adalah seorang yang licik dan
banyak akal, untuk sesaat pun tak berhasil memperoleh
jawaban yang pantas.

Lama sekali ia termenung, otaknya berputar keras dan


akhirnya ia bertanya, “Lalu menuruti pandangan Kwan
heng bagaimana baiknya?”

“Seharusnya kita utarakan dengan pepatah kuno yang


mengatakan, yang cerdik belum tentu cerdik dan yang
bodoh belum tentu bodoh, kesemuanya ini hanya salah
kau Ke heng dari pintar jadi keblinger, salah satunya cara
yang bagus pada saat ini adalah persilahkan Ke Kong cu
serahkan kembali tanda terima itu untuk kemudian
dimusnahkan di depan mata kita semua, setelah itu aku
orang she Kwan segera akan putar badan berangkat
balik ke utara dan tidak mencampuri urusan ini lagi.”

“Kwan heng, sungguh amat ringan ucapanmu itu!”


seru Ke Giok Lang sambil tersenyum. “Apa kau lupa
bahwa kita orang-orang Bu lim paling mengucapkan apa
yang pernah diucapkan selamanya tak akan disesali?
Karena barang kawalan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian aku orang Ke Giok Lang tidak sayang
sayangnya telah bentrok dengan beberapa orang kawan
Liok-lim sehingga di dalam pertarungan tersebut banyak
anak buahku yang terluka, tahukah kalian apa tujuanku
berbuat demikian, walaupun aku orang she Ke merasa
amat kagum terhadap nama besar kau Kwan Cong

489
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Piauw-tauw, tapi seharusnya di antara pihak aku dengan


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian sama sekali tak
ada hubungan apapun, tujuanku melindungi kalian
selama ini semata-mata hanyalah ingin melindungi peta
lukisan pengangon kambing tersebut, jangan terjatuh ke
tangan orang lain karena benda itu sudah menjadi milik
aku orang she Ke dan aku tidak ingin benda milikku itu
kembali kena dirampas orang di tengah jalan, justru
karena tidak ingin merusak nama besar perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kalian, selama nanti setelah kalian
menghantarkan keluarganya pembesar Liuw itu tiba di
kota Kayhong dan perusahaan kalian telah melepaskan
tanggung jawab kita baru bekerja kembali, coba kau pikir
apa salahku berbuat demikian?”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Aku orang she Kwan percaya kau Ke Kongcu masih


punya cara yang lain untuk mendapatkan lukisan peta
pengangon kambing itu tanpa menggunakan tanda
terima yang ada.”

“Aku Ke Giok Lang selama bekerja selalu berharap


setiap urusan bisa dibuat beres dengan tepat dan tidak
banyak buang tenaga, setelah Liuw Thayjien menulis
sendiri tanda terimanya, aku tidak takut ia pungkiri janji.”

“Ke Kongcu, rasanya kaupun terlalu pandang enteng


pembesar she Liuw itu, jika ia benar-benar ada maksud
hendak serahkan lukisan tersebut kepadamu, seharusnya
sebelum ia masuk ke dalam istana Jendral paling sedikit
menyapa dulu diriku, ternyata tak sepatah katapun yang
disampaikan kepada kami.”

490
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ke Giok Lang tersenyum.

“Apakah Liuw Thayjien bersungguh sungguh hendak


seahkan peta lukisan pengangon kambing itu kepadaku
atau tidak, tunggulah sebentar jawaban segera akan
kaliabn ketahui.”

Mendengar ucapan tersebut air muka Kwan Tiong Gak


kontan berubah hebat, tapi sebentar kemudian sudah
pulih kembali seperti sedia kala.

“Jika demikian adanya, Ke Kongcu sudah kirim orang


untuk menagih lukisan pengangon kambing itu?”
tanyanya.

“Sedikitpun tidak salah…..”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.

“Tapi saudara boleh berlega hati, orang yang cayhe


kirim untuk menagih lukisan tersebut sama sekali bukan
orang dari kalangan Liok-lim, dia adalah seorang
kenamaan di dalam kota Kay Hong, sekalipun Liuw
Thayjien ada maksud menghindarkan diri dari kenyataan
pun tidak akan menyangka aku bisa minta orang yang
mintakan lukisan pengangon kambing tersebut.”

“Jikalau demikian adanya, pengaruh Ke Kongcu bukan


saja sudah tersebar di kalangan Liok-lim bahkan sudah
menerobos pula ke dalam kalangan kaum pembesar,
orang kenamaan?”

491
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaaaaach….. haaa….haaa….. seseorang yang sering


melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw,
seharusnya mencari kawan lebih baik, mereka suka
membantu aku orang she Ke sudah tentu bantuan ini tak
akan kutolak mentah mentah.”

“Generasi muda menggantikan generasi tua, Ke


Kongcu belum lama terjunkan diri ke dalam dunia
persilatan tapi pengaruhmu berhasil kau sebar di segala
pelosok Bu Lim, keberhasilanmu ini sungguh membuat
orang merasa kagum,” puji Kwan Tiong Gak.

Walaupun dimulut ia sedang berbicara dengan Ke Giok


Lang, tapi sepasang matanya melototi wajah si Dewa Api
Ban Cau tajam tajam di samping memperhatikan
perubahan wajahnya.

Tetapi air muka Ban Cau masih tetap dingin, kaku dan
serius, terhadap ucapan dari Kwan Tiong Gak sama sekali
tidak menunjukkan reaksi apapun.

Ke Giok Lang tertawa hambar.

“Kwan heng, watak siauwte, selamanya adalah tidak


dapat menahan perkataan di dalam hati, saudara Ban
heng ini sejak semula sudah menyetujui untuk bekerja
sama dengan siauw-te, sekarang kita merupakan satu
rombongan.”

“Haaa…. haaa….. haaa….. Ke Kongcu!” seru Kwan


Tiong Gak sambil mendongak dan tertawa terbahak
bahak. “Tempo dulu waktu berada di Peking siauwte
sama sekali tidak memenuhi undanganmu untuk

492
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berjumpa, bila dipikir sekarang, hal tersebut sungguh


merupakan suatu tindakan yang terlalu ceroboh.”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya.

“Bila kita bicarakan dari situasi yang kita hadapi saat


ini, urusan semakin jelas lagi tertera, dan aku rasa apa
maksud Ke Kongcu mengundang aku orang she Kwan
datang kemaripun seharusnya boleh segera
diterangkan.”

Sekalipun berada di musim salju yang dingin, Ke Giok


Lang masih menggoyang goyang kipasnya juga untuk
menyejukkan badan.

“Kwan heng” ujarnya. “Perkataan dari orang she Ke


sudah dijelaskan…”

“Sungguh sayang pikiranku tumpul sehingga tidak


dapat menduga apa maksud yang sebenarnya dari Ke
Kongcu.”

“Ke Kongcu” tiba tiba Phoa Ceng Yan menimbrung dari


samping. “Urusan kantor dari Cong Piauw-tauw kami
terlalu banyak dan tak bisa berdiam terlalu lama di sini,
bilamana Ke Kongcu ada perkataan lebih baik diutarakan
saja secara terus terang, jikalau maksudmu mengundang
kami datang hanya ingin berjumpa saja, sekarang kita
semua telah bertemu.”

Wajah Ke Giok Lang masih penuh dihiasi oleh


senyuman.

493
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Setelah meneguk secawan arak, seribu cawanpun


dikatakan kurang. Pembicaraan tidak cocok separuh
katapun dikatakan terlalu banyak. Kelihatan Phoa heng
tidak ingin terlalu lama berkumpul dengan aku orang she
Ke”

Selagi Phoa Ceng Yan siap memberikan


tanggapannya, mendadak tampak seorang lelaki kekar
berusia tiga puluh tahunan dengan memakai separangkat
baju singsat buru-buru lari masuk ke dalam ruangan
kemudian mendekati Ke Giok Lang dan membisikkan
sesuatu ke telinga si Hoa Hoa Kongcu ini.

Ke Giok Lang kebutkan kipasnya, lelaki kekar itu


segera putar badan dan mengundurkan diri dari ruangan.

Suasana seketika itu juga berubah jadi sunyi senyap


tak kedengaran sedikit suarapun, di tengah kesunyian
suasana terasa semakin menegang…..

“Kwan heng!” ujar Ke Giok Lang kemudian sembari


menutup kipas di tangannya. “Menurut pengetahuan di
dalam kota Kay Hong, kecuali Piauw su dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok masih ada jago jago lihay siapa
lagi…?”

“Di dalam kota Kay Hong, naga harimau hilir mudik


tiada hentinya, jago lihay banyak jumlahnya, entah Ke
Heng ingin tanyakan yang mana?”

“Benar, di kota Kay Hong memang banyak terdapat


jago lihay, tetapi yang berani bermusuhan dengan aku
orang she Ke rasanya tidak seberapa banyak.”

494
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Cayhe percaya Ke Kongcu bukan seorang yang


pandai pentang mulut besar, apa yang bisa kau utarakan
tentu punya pegangan yang kuat, tentunya sejak semula
kau sudah tanam pengaruh di kota Kay Hong ini.”

Entah karena urusan apa mendadak Ke Giok Lang


telah kehilangan kepandaiannya untuk menguasai diri
sendiri, senyuman yang semula menghiasi wajahnya
berubah menjadi suatu mimik yang dingin dan kaku
terbentang di depan mata.

“Kwan Cong Piauw-tauw terlalu memuji, di kota Kay


Hong aku orang she Ke tidak lebih banyak berhasil
berkawan dengan beberapa orang.”

“Jika kudengar dari nada ucapan Ke Kongcu, agaknya


terhadap aku orang she Kwan hatimu punya rasa tidak
puas.”

“Hmmmm! Apabila di kota Kay Hong ini ada orang


yang berniat membawa maksud buruk terhadap aku
orang she Ke, maka paling sedikit perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok termasuk salah satu diantaranya…”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

“Dengan orang-orang yang punya kedudukan serta


nama di kota Kay Hong kebanyakan aku Ke Giok Lang
pernah berhubungan sebagai kawan, tapi terhadap
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian selamanya tidak

495
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pernah mengganggu, hal ini dikarenakan kau orang she


Kwan.”

Walaupun ucapan ini kedengarannya tidak


mengandung sesuatu maksud tertentu, padahal maksud
sebenarnya terkandung suatu penyerangan yang tajam.

Tidak salah lagi ia sedang mengatakan apabila kawan


kawan Bu lim yang ada di kota Kay Hong ini kecuali
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah kena
ditaklukkan semua oleh Ke Giok Lang, Kwan Tiong Gak
adalah seorang jagoan yang berpengetahuan sangat
luas, sudah tentu iapun dapat menangkap nada ucapan
tersebut, setelah termenung beberapa saat katanya.

“Bila di kota Kay Hong ini hanya kami orang-orang


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok saja yang berani
merusak pekerjaan Ke Kongcu, maka orang-orang
perusahaan kami memang patut kalian curigai terus, tapi
jika didengar dari nada ucapan Ke Kongcu agaknya
kecuali kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok paling
sedikit masih ada seorang yang patut dicurigai, entah
siapakah orang itu?”

“Seorang toosu tua dari kuil “Ting To Sia Yen”. Cuma


menurut apa yang aku orang she Ke ketahui Thian Peng
Totiang ini hanya menerjunkan diri dalam soal agama, ia
tidak ingin bergaul dengan akui orang she Ke ini bukan
berarti ia memusuhi aku orang.”

“Ke Kongcu, kau mengupasi orang persoalan ini satu


demi satu, dan akhirnya kau merasa begitu yakin bila

496
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kami orang-orag dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok


lah yang memusuhi dirimu.”

“Tentang soal ini seharusnya dalam hati kecil Kwan


Cong Piauw-tauw sudah punya perhitungan sendiri,
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bisa berdiri di dalam
dunia persilatan sebagai perusahaan piauw-kiok nomor
wahid di kolong langit, ini mengartikan baik dalam
kecerdasan maupun dalam soal kepandaian silat. Kwan
Cong Piauw-tauw benar benar luar biasa.”

Air muka Kwan Tiong Gak perlahan lahan berubah


semakin serius.

“Ke Kongcu, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami


bisa mendapat kemajuan seperti ini hari sudah tentu
sebagian besar harus berdasarkan bantuan dari kawan
kawan kangouw, tetapi kami pun selama ini menjaga-
jaga peraturan perusahaan piauw-kiok ketat-ketat dan
selamanya belum pernah dilanggar, kedatangan aku
orang she Kwan kali ini untuk memenuhi undangan pun
tidak lebih hanya ingin menarik kembali tanda terima
tersebut, kecuali itu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
kami sama sekali tidak mempersiapkan tindakan apa-
apa, kedatangan aku orang she Kwan ke sini juga
dilakukan terang terangan dan hingga kini belum pernah
tiba saat saat penggunaan senjata, apa perlunya aku
orang she Kwan menggunakan akal licik? Ke Kongcu,
ucapak aku orang she Kwan pun hanya sampai di sini
saja.”

497
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada dasarnya wajah Kwan Tiong Gak memang keren


berwibawa, apalagi ucapan tersebut diutarakan lancang,
hal ini membangkitkan rasa percaya di hati semua orang.

Ke Giok Lang kerutkan keningnya sehabis mendengar


ucapan tersebut.

“Kecuali dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian


yang secara diam-diam main setan, hanya tinggal toosu-
toosu dari kuil “Ting To Sia Yen” saja. Hmmm! Toosu-
toosu hidung kerbau ini sungguh bernyali besar.”

“Ke Kongcu,” sambung Phoa Ceng Yan dari samping.


“Kota Kay Hong adalah sebuah kota kenamaan, orang
yang berlalu lalang dan hilir mudik bagaikan aliran air di
sungai, setiap hari berganti wajah mengapa kau begitu
ngotot mengatakan tentu orang-orang penduduk Kay
Hong lah yang memusuhi dirimu?”

“Jika orang itu datang dari luar kota, aku rasa tak
akan sedemikian kebetulannya, memusuhi diriku apalagi
mereka-pun tidak tahu kejadian yang sesungguhnya di
balik kesemuanya ini.”

“Ke Kongcu, kau sudah bicara setengah harian,


sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Walaupun Liuw Thayjien sudah lama bergulungan di


dalam pemerintahan, tetapi dia masih merupakan
seorang yang bisa pegang janji, setelah melihat surat
tanda terima tersebut, ia telah menyerahkan peta lukisan
pengangon kambing itu kepada orang yang kukirim.”

498
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dan kini peta lukisan pengangon kambing itu kembali


dirampas orang?” sambung Kwan Tiong Gak dengan
wajah serius.

“Sedikitpun tidak salah, Kwan Cong Piauw-tauw,


bagaimana pendapatmu mengenai peristiwa ini?”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya


kemudian tertawa hambar.

“Peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan berada di


luar dugaanku, aku orang she Kwan tak dapat
memberikan pendapat mengenai peristiwa ini.”

“Kalau begitu apakah Kwan Cong Piauw-tauw sudah


mempercayai ucapan siauwte?”

“Cayhe mau percaya atau tidak entah apa


hubungannya dengan diri Ke Kongcu?”

Mendadak Ke Giok Lang mendongak dan menggapai


seorang lelaki berusia tiga puluhan melangkah maju ke
muka.

Si Hoa Hoa Kongcu segera membisikkan sesuatu ke


samping telinganya, lelaki itu manggut tiada hentinya lalu
memggapai pula ke arah kawannya.

Empat orang lelaki menyahut dan maju ke muka,


kemudian lima sosok bayangan manusia laksana
sambaran petir lari keluar dari ruangan.

499
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti kelima orang anak buahnya sudah berlalu Ke


Giok Lang baru berpaling kembali ke arah Kwan Tiong
Gak.

“Kwan heng, tanda terima tersebut sudah kami


serahkan ke tangan Liuw Thayjien, peta lukisan
pengangon kambing-pun kena dirampas orang, bilamana
Kwan heng ingin minta kembali tanda terima tersebut
rasanya amat sulit sekali.”

“Apakah Ke Kongcu menaruh curiga terhadap aku


orang she Kwan?”

“Soal ini sih siauwte tidak berani memastikan, selama


hidup siauwte hanya bekerja setelah ada bukti yang
nyata, tetapi bilamana dikatakan siauwte sama sekali
tidak menaruh curiga, tentunya kau orang she Kwan pun
tak akan percaya.”

“terus terang aku hendak beritahu kepada Ke Kongcu,


siauwte sendiripun rada menaruh curiga terhadap diri Ke
Kongcu.”

Mendengar ucapan tersebut Ke Giok Lang segera


tertawa terbahak bahak.

“Haaa……haaa…..haaa….. hal ini sudah kuduga


sebelumnya.”

“Ke Kongcu, setelah kau kehilangan peta lukisan


pengangon kambing agaknya sama sekali tidak
menunjukkan rasa gelisah ataupun cemas.”

500
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Urusan sudah jadi begini, cemaspun tak ada


gunanya.”

“Kalalu begitu bagaimana kalau siauwte mohon diri


terlebih dahulu ….?”

Perlahan lahan Ke Giok Lang menghela napas


panjang.

“Kwan heng, lebih baik kau jangan pergi dahulu.”

“Mengapa?”

“Siauwte menaruh curiga terhadap Kwan heng, dan


Kwan heng pun menaruh curiga terhadap siauwte, lebih
baik kita sama sama berkumpul jadi satu menanti hingga
urusan ini menjadi beres dan terang.”

“Jikalau siauw-te tidak ingin berdiam di sini?”

“Lebih baik Kwan heng jangan ngotot hendak


menggunakan kekerasan, daripada harus terjadi
bentrokan kekerasan di antara kita.”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya,


akhirnya ia berkata.

“Untuk minta siauw-te berada di sini tidak sukar


tetapi kita harus bicarakan dulu satu syarat.”

“Bagus! Ada syarat bisa dibicarakan, Kwan Cong


Piauw-tauw silahkan berbicara.”

501
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Untuk berdiam di sini bagi cayhe tidak sukar, tapi aku


berharap bisa menarik kembali tanda terima tersebut…..”

Ia termenung sejenak lalu tambahnya.

“Mungkin dalam pandangan cuwi menuduh aku orang


she Kwan terlalu takut menghadapi urusan,
kenyataannya memang tidak salah, aku orang she Kwan
adalah seorang rakyat biasa, tidak dapat dibandingkan
dengan keadaancuwi sekalian.”

“Haaa……haaa….haaa….. Kwan heng adalah rakyat


baik baik kalau begitu kami adalah kaum penyamun
bukan?”

“Perkataanku bukan mengartikan demikian, kami


orang-orang yang membuka perusahaan piauw-kiok
boleh dihitung sebagai kaum pedagang, kita kita harus
membuka kantor cabang di setiap tempat secara baik
baik untuk mencari keuntungan material, ada pepatah
mengatakan bila rakyat janganlah cari gara-gara dengan
pembesar. Cayhe tidak berharap ada surat tanda bukti
yang terjatuh ke tangan kaum pembesar pemerintahan.”

“Jikalau Kwan Cong Piauw-tauw hanya merisaukan


tanda terima saja, urusan semakin mudah diselesaikan,
malam ini juga cayhe bisa pergi mengambilnya.

Walaupun Liuw Thayjien sendiri adalah seorang yang


lemah tak bertenaga, tetapi keketatan serta kerapatan
penjagaan dalam istana jendral seharusnya kaupun tahu,
beberapa orang Bu su melindungi istana pun bukan
manusia sembarangan, jikalau Ke Kongcu bermaksud

502
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak mencuri tanda terima itu, takut urusan malah


akhirnya berubah makin besar, ini namanya melukis
harimau tidak jadi yang muncul adalah sejenis anjing.”

“Tidak mudah, tidak mudah, kiranya bukan saja Kwan


Cong Piauw-tauw begitu paham terhadap seluk beluk Bu
Lim, ternyata terhadap keadaan istana jendral pun
mengetahui begitu jelas.” puji Ke Giok Lang sambil
tersenyum.

“Aaah! Ke Kongcu terlalu memuji.”

Ke Giok Lang mendongak dan tertawa terbahak


bahak.

“Haaa……haaa…. haaaa….. seorang yang punya nama


besarpun ternyata bisa begitu merendah…..”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Menurut pendapat Kwan Cong Piauw-tauw, tanda


bukti itu tak boleh dicuri, tetapi benda tersebut sudah
berada di tangan Liuw Thayjien, entah apa yang harus
kami lakukan sekarang?”

“Cara gelap ada beribu ribu cuma yang terang


terangan hanya sebuah saja.”

“Silahkan Kwan Cong Piauw-tauw memberi


penjelasan.”

“Menggunakan peta lukisan pengangon kambing untuk


ditukar dengan tanda terima tersebut.”

503
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaakh! Suatu cara yang amat bagus, cuma lukisan


pengangon kambing itu sudah tidak berada di tanganku
lagi!” Ke Giok Lang tertawa hambar.

“Cayhe percaya Ke Kongcu pasti dapat mencari


kembali lukisan pengangon kambing yang hilang.”

“Kwan heng terlalu memandang tinggi diri siauw-te!”

Si Hoa Hoa Kongcu tertawa tergelak, kemudian


tambahnya.

“Memandang di atas nama Kwan Tiong Gak mu ini


biarlah untuk kali ini siauwte jual muka untukmu, asalkan
siauwte berhasil mencari kembali lukisan pengangon
kambing itu, aku orang she Ke rela bersama-sama Kwan-
heng pergi minta kembali tanda terima tersebut.”

“Perkataan Ke Kongcu berat bagaikan sembilan Hioloo,


sebelumnya siauwte mengucapkan terima kasih dahulu.”

“Semisalnya siauwte tak berhasil mencari kembali


lukisan pengangon kambing itu?” tiba tiba si Hoa Hoa
Kongcu bertanya kembali.

“Tentang soal ini, tentang soal ini…..”

“Jikalau lukisan pengangon kambing tak berhasil


kudapatkan kembali, siauwtepun akan berusaha keras
untuk mencarinya kembali.”

504
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ucapan dua macam, semisalnya Ke Kongcu tidak


berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu,
mka aku orang she Kwan pun terpaksa akan ikut
mengadu untung.”

“Entah dapatkah Kwan heng menyanggupi siauwte


semisalnya kau yang berhasil mendapatkan kembali
lukisan pengangon kambing itu suka mengabarkan
siauwte untuk kemudian bersama-sama pergi
menghadapi Liuw Thayjien dan minta kembali surat
tanda terima tersebut?”

“Boleh, boleh, asalkan siauwte berhasil menemukan


kembali lukisan pengangon kambing itu, bagaimana juga
Ke Kongcu pasti akan kami kabari, kecuali cayhe tidak
berhasil temukan dirimu.”

“Aaaakh! Ucapan ini terlalu samar, entah dalam


keadaan bagaimana Kwan heng anggap tidak berhasil
menemukan siauwte?”

“Aku orang she Kwan selamanya bicara satu tetap


satu, bicara dua tetap dua, apakah Ke Kongcu hendak
memaksa aku untuk angkat sumpah.”

“Siauwte tidak berani berbuat demikian.” dengan


buru-buru Ke Giok Lang berkelit. “Cuma setelah Kwan
heng berhasil menemukan kembali lukisan pengangon
kambing itu, aku harap kaupun mempunyai suatu
pernyataan yang jelas.”

505
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perduli bagaimanakah cara mengutarakan pernyataan


tersebut, asalkan tidak menyukarkan diriku, pasti akan
cayhe penuhi.”

Ke Giok Lang agak termangu mangu sejenak, setelah


itu katanya.

“Bila ditinjau situasi yang dihadapi saat ini, agaknya


sebelum Kwan Cong Piauw-tauw berhasil dapatkan
kembali surat tanda terima tersebut untuk sementara tak
akan meninggalkan tempat ini?”

“Siauwte berharap sebelum Cap Go Meh bisa kembali


ke Peking, soal mendapatkan kembali lukisan pengangon
kambing itu bisa lebih cepat sudah tentu lebih baik.”

Ke Giok Lang menunggu kembali lalu mengangguk.

“Baiklah, jikalau Kwan heng berhasil menemukan


kembali lukisan pengangon kambing itu, harap kau
pasang sebuah lentera merah di depan pintu kantor
cabang Piauw kok kalian selama dua malam, jikalau
siauwte belum juga tiba maka ini berari siauwte telah
meninggalkan kota Kay Hong.”

“Ke Kongcu bisa mencari aku, tetapi bagaimana


caranya pula apabila cayhe ingin mencari Ke Kongcu?”

“Tiga hari sebagai batas waktu, bilamana cayhe


berhasil mendapatkan kembali lukisan pengangon
kambing itu sudah tentu bisa kuhantar sendiri ke
perusahaan Piauw-kiok kalian untuk berjumpa dengan
Kwan heng, bilamana yang aku dapat hanya berita saja

506
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentang lukisan pengangon kambing itu, maka siauwte


akan kirim orang untuk melaporkan berita tersebut
kepada Kwan heng.”

“Baik! Kita tentukan demikian saja, jikalau Ke Kongcu


membutuhkan bantuan siauwte, kirim saja orang untuk
memberitahu, siauwte pasti akan segera berangkat.”

“Terimakasih atas kesudian Kwan heng.” buru-buru Ke


Giok Lang menjura. “Asalkan siauwte berjumpa dengan
musuh yang sangat tangguh tentu akan kukirim orang
untuk minta bantuan Kwan heng, dan semisalnya Kwan
heng yang membutuhkan bantuan siauwte silahkan
pasang pula lentera merah di depan pintu kantor cabang
piauw-kiok, siauw-te segera akan datang memberi
bantuan.”

Kwan Tiong Gak segera mendongak dan tertawa


terbahak bahak.

“Semoga Ke Kongcu bisa memperoleh hasil, siauwte


menanti kabar baikmu di dalam kantor piauw-kiok.”

Setelah menjura ia menoleh kepada Phoa Ceng Yan


sekalian.

“Mari kita pergi.”

Dengan langkah lebar ia berlalu terlebih dulu dari


ruangan.

Ke Giok Lang mengikuti dari belakang dan menghantar


rombongan tersebut hingga keluar ruangan.

507
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kwan-heng, dapatkah kau berhenti sebentar.” tiba


tiba serunya.

Dengan cepat Kwan Tiong Gak putar badan, sepasang


matanya berkilat.

“Apakah Ke kongcu masih ada urusan?”

“Barusan saja siauwte teringat akan satu hal


semisalnya Kwan heng ingin mempertahankan diri
sebagai penduduk baik-baik lebih baik untuk sementara
waktu bersembunyi dahulu.”

“Aku orang she Kwan adalah seorang lelaki sejati,


kenapa harus menyembunyikan diri.”

“Siauwte tidak memiliki kepandaian untuk meramal


kejadian yang akan datang, tapi aku akan ingat ingat
terus persoalan ini mau mendengarkan atau tidak itu
terserah pada Kwan heng sendiri.”

“Tentang soal ini Ke Kongcu tak usah kuatir.”

“Kalau begitu anggap saja siauwte terlalu banyak


bicara” seru si Hoa Hoa Kongcu kemudian sambil
tempelkan tangan kanannya di tepian kipas sendiri.

“Ke Kongcu terlalu merendah.”

“Cuwi silahkan berangkat!”

508
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya dengan


membawa Phoa Ceng Yan sekalian berlalu dari kuil Thian
Ong Bio.

Setelah jauh meninggalkan kuil tersebut, Phoa Ceng


Yan berpaling dan setelah dirasakan tak ada yang
menguntit bisiknya kepada sang Cong Piauw-tauw-nya.

“Agaknya Ke Giok Lang bukan seorang jago yang


gampang diusir.”

Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Entah siapakah yang telah memberi gelar “Hoa Hoa


Kongcu” kepadanya, bukan saja tidak sesuai dengan
wataknya, bahkan pandai sekali dia memancing orang
untuk terperosok ke dalam langkah-langkah yang salah.”

Ia merandek, sejenak kemudian tambahnya.

“Dia adalah seorang yang berpengetahuan luas,


pikirannya tajam dan akalnya banyak seharusnya
terhadap manusia macam begini tak boleh diberi julukan
sebagai si Hoa Hoa Kongcu.”

“Toako, agaknya kau masih mempercayai


perkataannya.?”

“Dalam soal sekecil ini, aku percaya ia tak bakal bicara


bohong,” kata Kwan Tiong Gak seraya mengangguk.
“Justru yang menjadi persoalan pada saat ini adalah
terjatuh ke tangan siapakah lukisan pengangon kambing
itu?”

509
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia menghembuskan napas panjang.

“Sayang aku belum pernah membicarakan persoalan


ini dengan diri Liuw Thayjien pribadi.”

“Cong Piauw-tauw, apakah kau merasa peristiwa ini


ada kemungkinan adalah permainan setan dari Liuw
Thayjien?” sela Nyoo Su Jan.

“Liuw Thayjien sudah ada puluhan tahun lamanya


berkecimpungan di dalam pemerintahan, ia benar-benar
bukan seorang yang patut dipandang enteng, tetapi aku
belum pernah memperhatikan dirinya dengan cermat dan
tak kuketahui bagaimanakah wataknya?”

“Dia adalah seorang yang penuh dengan


pengetahuan, penuh dengan pengalaman…” timbrung
Phoa Ceng Yan.

“Orang she Liuw ada banyak bagian yang sangat


berbeda dengan orang lain, sebagai seorang pembesar
kelas dua pada waktu ini ternyata ia berkecimpung pula
dalam soal Bu Lim, sungguh merupakan suatu peristiwa
yang sangat aneh,” sambung Kwan Tiong Gak kembali.

“Siauwtepun berpendapat demikian, aku lihat agaknya


terhadap lukisan pengangon kambing itu ia sama sekali
tidak menaruh rasa sayang, oleh karena itu siauwte-pun
merasa yakin jelas terhadap rahasia lukisan pengangon
kambing itu pembesar she Liuw ini sama sekali tidak
mengerti.”

510
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Emmmm, urusan ini memang ada sedikit


mengherankan, cuma sampai detik ini kita masih belum
dapat memahami keseluruhannya.”

“Ke Giok Lang bisa menaklukkan si Dewa Api Ban Cau


untuk bergabung ke dalam pihaknya ini cukup
membuktikan kecerdikan Ke Kongcu luar biasa sekali,”
kata Nyoo Su Jan.

“Persoalan tentang rahasia lukisan pengangon


kambing tidak banyak yang tahu, rasanya peristiwa
lenyapnya lukisan pengangon kambing tersebut apabila
bukan permainan setan dari pihak Ke Kongcu sendiri, ada
kemungkinan merupakan siasat dari Liuw Thayjien.”

“Sebelum kita berhasil mendapatkan bukti yang nyata,


janganlah sembarangan ambil kesimpulan sendiri.”
akhirnya Kwan Tiong Gak mencegah anak buahnya
bicara lebih lanjut.

Gerakan tubuhnya dipercepat untuk kembali ke kantor


cabang Piauw-kiok-nya.

Ketika beberapa orang itu tiba di depan pintu kantor,


beberapa orang anggota piauw-kiok sudah menyambut
kedatangan mereka.

Tahun baru sudah tiba, untuk sementara perusahaan


Liong Wie Piauw-kiok berhenti bekerja, pintu besar
tertutup rapat, bendera perusahaan yang sepanjang
jalan selalu berkibarpun telah diturunkan.

511
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwan Tiong Gak sekalian bersama sama masuk ke


dalam ruangan belakang, setelah ambil duduk Liem Toa
Lek memerintahkan kokinya persiapkan makanan.

Sejurus kemudian perjamuan telah dipersiapkan.

Tapi belum sampai seteguk arak masuk mulut


mendadak tampak seorang lelaki lari masuk ke dalam
dengan terburu-buru.

“Ada urusan apa?” tegur Kwan Tiong Gak seraya


meletakkan kembali cawan araknya ke meja.

“Tangan kanan dari Tok Say mohon bertemu dengan


Cong Piauw-tauw” lapor lelaki itu seraya menjura.

Walaupun Kwan Tiong Gak adalah seorang jago gagah


perkasa yang berjiwa jantan tetapi dia adalah seorang
pedagang yang mencari sesuap nasi dengan membuka
perusahaan piauw-kiok, mendengar tangan kanan dari
sang Tok Say datang mencari dirinya ia agak sedikit
melengak.

Jilid 14

Setelah termenung beberapa saatnya, akhirnya ia


ulapkan tangannya.

“Undang ia ke ruang tengah.”

Pelayan itu menjura kemudian mengundurkan diri.

512
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwan Tiong Gak segera singkirkan cawan awak dan


bangun berdiri.

“Bila orang-orang Bu-lim terpaksa harus berurusan


dengan orang-orang dari pemerintahan, ini berarti
kerepotan sudah menjelang datang, kalian tunggulah
sebentar di sini, aku akan pergi menemui mereka
sendiri….”

“Hamba dengan kedua orang Bu su istana Jendral


pernah saling mengenal, bagaimana kalau aku menemani
Cong Piauw-tauw pergi menemui mereka?”

“Baiklah!” Kwan Tiong Gak mengangguk.

Ia lantas melangkah keluar.

Sebelum berlalu Liem Toa Lek membisik sesuatu ke


sisi telinga Phoa Ceng Yan, ujarnya.

“Tangan kanan dari Tok Say ini mempunyai asal usul


yang tidak kecil, jikalau tidak ada urusan penting ia tak
akan datang kemari, Hu Cong Piauw-tauw serta Nyoo-ya
harap tunggu sebentar di sini, bila ada urusan akan
kukirim orang untuk memberi kabar.”

“Ehmm… kalau ada urusan cepat-cepat beritahu


kepadaku,” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk, wajhnya
kelihatan sangat keren.

“Soal ini hamba tahu.”

513
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia putar badan dan cepat-cepat mengejar Kwan Tiong


Gak menuju ke ruang tengah.

Belum sempat kedua orang itu ambil duduk, seorang


lelaki anggota perusahaan telah mengiringi seorang lelaki
berusia pertengahan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Cukup ditinjau dari pakaian yang dikenakan sudah bisa


diketahui dia adalah seorang pembesar, bahkan
wajahnya sangat asing belum pernah dijumpai.

Tetapi ada satu hal Liem Toa Lek merasa yakin yaitu
orang yang datang adalah seorang ahli tenaga lweekang,
terbukti kedua keningnya menonjol tinggi.

Dengan cepat ia berebut maju ke depan seraya


menjura.

“Siauw-te adalah Liem Toa Lek, ketua piauw su dari


Liem Wie Piauw-kiok cabang kota Kay Hong.”

Lelaki berusia pertengahan itupun merangkap


tangannya membalas hormat.

“Telah lama siauwte mengagumi nama saudara, hanya


saja karena urusan tugas terlalu banyak tak ada waktu
datang berkunjung.”

Sinar matanya segera dialihkan ke atas wajah Kwan


Tiong Gak, sambungnya.

“Tentunya saudara ini adalah Kwan Cong Piauw-tauw


bukan?”

514
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Caye benar adalah Kwan Tiong Gak, tolong tanya


siapakah nama besar kawan?”

“Siauwte she Jen bernama Pek To, selama ini


mengikuti terus di sisi Tok Say dan jarang berkelana
dalam dunia kangouw, aku rasa belum tentu Kwan Cong
Piauw-tauw pernah mendengar namaku,” kata si lelaki
berusia pertengahan itu sambil tertawa.

Dalam hatinya Kwan Tiong Gak menggulangi nama itu


berulang kali, Jen Pek To, Jen Pek To, nama ini benar-
benar terasa sangat asing sekali dalam pendengarannya.

Walaupun di hati ia heran, diluaran jawabnya.

“Jen-heng dapat mengikuti di sisi Tok Say, memakai


jubah kebesaran yang cemerlang tentu seorang jago silat
yang maha lihay, siauwte merasa sangat kagum.”

Jen Pek To tersenyum.

“Nama besar Kwan Piauw-tauw-pun telah


menggemparkan seluruh kolong langit, aku sebagai
seorang petugas yang makan gaji pemerintahan dapat
berkawan diri dengan diri Kwan-heng, hal ini merupakan
keuntungan bagi orang she Jen selama tiga generasi.
Kata-kata kagum dari Kwan heng tak berani siauwte
terima….”

Ia tertawa terbahak-bahak, sambungnya, “Tak ada


urusan tak akan menaiki kuil Sam Poo Tien, kedatangan

515
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

siauwte kali ini karena ada satu urusan yang hendak


disampaikan kepada diri Kwan-heng.”

“Jen heng silahkan mengutarakan,” kata Kwan Tiong


Gak dengan air muka serius.

“Siauw-te berharap Kwan-heng suka mengikuti kami


untuk mengunjungi istana Jendral.”

“Jen-heng! Sebelum aku orang she Kwan


menyanggupi undanganmu, dapatkah aku bertanya dulu
akan satu persoalan?” perlahan lahan Kwan Tiong Gak
menghembuskan napas panjang.

“Asal siauwte tahu tentu akan kujawab.”

“Kalau begitu bagus sekali, siauwte ingin bertanya


kepada Jen heng, undangan untuk aku orang she Kwan
dalam kunjungannya ke istana Jendral ini merupakan
undangan pribadimu sendiri ataukah perintah dari Tok
Say?”

“Urusan ini adalah atas perintah Tok Say, tetapi


karena siauwte sudah lama mengagumi nama besar
Kwan heng, aku rasa apabila hanya mengirim seorang
tentara kroco untuk datang menyampaikan undangan
tersebut takut-takut hal ini akan melukai nama besar
Kwan-heng, aku oleh sebab itu siauwte datang sendiri
untuk mengundang Kwan-heng suka menghadap
sebentar.”

516
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih


atas maksud baik dari Jen heng…..” Kwan Tiong Gak
tertawa hambar.

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya.

“Sekarang juga kita hendak berangkat?”

“Tidak salah. Sekarang Tok Say sedang menanti dalam


istana.”

“Bagus sekali, aku orang she Kwan akan meninggalkan


pesan dahulu kepada mereka kemudian segera
berangkat.”

Jen Pek To tersenyum.

“Siauwte akan menanti di ruangan.”

Habis berkata ia putar badan dan berlalu dari ruangan


tengah.

Kwan Tiong Gak segera berpaling dan memandang


sekejap ke atas wajah Phoa Ceng Yan, sikapnya
kelihatan amat serius.

“Saudara Phoa, agaknya urusan makin lama berubah


semakin rumit. Tok Say adalah seorang pembesar yang
pegang pimpinan tertinggi dari ketentaraan asalkan ia
hadiahkan nama jelek dan berdosa buat kita, maka
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok segera akan tutup
pintu, undangan sang pembesar yang disampaikan Jen
Pek To ini bagaimanapun juga harus aku hadiri…..”

517
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana kala siauwte mengiringi kepergian


Toako?”

Dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng.

“Sekalipun mereka ingin tangkap aku seketika itu juga,


kitapun tak bisa turun tangan melawan, bahkan jika
didengar dari nada ucapan Jen Pek To, agaknya mereka
hanya menggundang aku seorang, kalian lebih baik di
rumah saja.”

Ia tersenyum sejenak, kemudian tambahnya.

“Kepergianku ini akan mendatangkan rejeki atau


celaka saat ini susah ditentukan, tetapi perduli sudah
terjadi peristiwa apapun kalian tidak boleh bergerak
secara gegabah.”

“Aaaaai…… siauwte tidak becus tak dapat melindungi


barang kawalan ini, sehingga mendatangkan banyak
kesulitan buat toako.” perlahan lahan Phoa Ceng Yan
menghela napas panjang.

“Soal ini tak akan kusalahkan dirimu.”

Dengan langkah lebar Cong Piauw-tauw dari


perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini melangkah keluar.

Melihat munculnya Kwan Tiong Gak, sambil tersenyum


Jen Pek To segera menyambut.

518
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bila Kwan heng masih ada urusan, berangkat rada


terlambat pun tidak mengapa.”

“Haaa……..haaa…….haaa…… siauwte hanya


meninggalkan beberapa pesan saja, kita segera boleh
berangkat.” Kwan Tiong Gak mendongak dan tertawa
tergelak.

Ia merebut jalan dulu ke muka memimpin keluar dari


kantor Piauw-kiok.

Selama di tengah perjalanan Kwan Tiong Gak tidak


banyak bicara lagi, sedangkan Jen Pek To sendiripun
tidak memberi penjelasan.

Menanti mereka tiba di depan pintu istana Jendral, Jen


Pek To baru berhenti seraya bisiknya lirih.

“Kwan-heng, ada pepatah mengatakan si miskin tak


ingin bergaul dengan si kaya, rakyat tidak ingin bergaul
dengan kaum pembesar, sewaktu berjumpa dengan Tok
Say nanti, harap Kwan heng bisa sedikit menahan sabar.

“Tok Say adalah pembesar kelas satu dalam


pemerintahan, kekuasaan-nya meliputi hampir satu
keresidenan, siauwte sebagau seorang rakyat jelata
mana berani bersikap kurang ajar.”

“Siauwte percaya Tok Say sudah mengundang Kwan-


heng berjumpa di dalam istananya, tentu beliau tidak
mengandung maksud jahat, asalkan Kwan-heng bisa
bertindak sopan aku rasa tak bakal mendatangkan
banyak kerepotan.”

519
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar petunjuk itu Kwan Tiong Gak tersenyum


dan merangkap tangannya menjura.

“Terima kasih atas petunjuk-petunjuk dari Jen-heng!”

Buru-buru Jen Pek To bongkokkan badannya balas


memberi hormat.

“Nama besar Kwan-heng sudah terkenal di seluruh Bu-


lim, siauw-te percaya tak akan memadahinya, harap
Kwan-heng suka menanti sejenak di luar istana agar
siauwte dapat masuk untuk memberi laporan terlebih
dahulu, sekalipun penjagaan dalam istana Jendral sangat
ketat, akupun tak akan membiarkan mereka melukai
kehormatan Kwan-heng.”

Selesai berkata ia melangkah masuk ke dalam istana.

Tidak selang beberapa saat kemudian pintu istana


terbuka lebar-lebar, disusul Jen Pek To dengan cepat
menyongsong datang.

“Tok Sat menanti kedatangan Kwan-heng di ruang


kedua, silahkan mengikuti siauwte” bisiknya.

Demikianlah dengan mengikuti dari belakanag Jen Pek


To, Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam istana
dan mengambil kesempatan itu ia memperhatikan
keadaan di sekeliling tempat itu.

Tampak ruangan istana sangat luas, atap hijau dengan


lantai yang mengkilap, setiap pintu masuk berdirilah

520
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang tentara berseragam lengkap serta seorang lelaki


berpakaian preman.

Agaknya tentara-tentara penjaga pintu itu sudah


memperoleh pendidikan yang keras, perawakannya rata-
rata kekar berotat, kepalanya memakai topi perak
dengan pakaian perang bersisik, pinggangnya tergantung
sebilah golok dan tangannya mencekal sebuah tombak
panjang, sikapnya penuh kewibawaan.

Sedangkan si lelaki berpakaian preman tadi


menggembol golok atau pedang, pakaiannya ringkas
dengan sebuah kantong piauw tergantung di atas
pinggangnya.

Jikalau ditinjau dari kegagahannya maka tentara itu


jauh lebih keren, tapi dalam pandangan Kwan Tiong Gak
ia mengerti si lelaki berpakaian ringkas itulah baru
seorang jago benar-benar.

Agaknya kedudukan Jen Pek To dalam istana tidak


rendah, setiap kali ia melewati pintu tentara serta lelaki
berpakaian ringkas itu tentu memberi hormat kepadanya.

Setelah melewati tiga buah halaman serta ruangan,


sampailah mereka di depan sebuah ruangan yang
beralaskan batu giok.

Ketika mereka baru saja tiba di depan pintu dua orang


lelaki kekar berpakaian ringkas warna hitam dan
menggembol senjata di pinggang telah menyongsong
kedatangannya seraya berseru.

521
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Harap saudara suka tinggalkan senjata tajam serta


senjata rahasia di luar ruangan.”

Kwan Tiong Gak adalah seorang jago kawakan yang


pernah menggetarkan enam karesidenan di daerah utara,
pengalaman di dalam Bu Lim sangat luas dan badai
seberapa besarpun pernah ia alami.

Walaupun suasana di dalam istana Tok Say ini amat


ketat, sikap Kwan Tiong Gak tetap tenang saja, ia hanya
tersenyum dan melepaskan pisau belati serta kedua
belas batang Kiem Leng Piauw-nya.”

“Ini adalah peraturan istana, harap Kwan-heng jangan


tersinggung.” buru-buru Jen Pek To berbisik memberi
penjelasan.

“Ehmm…… memang seharusnya begini”.

Kedua orang lelaki yang menghadang di tengah jalan


tadi setelah menerima pisau belati serta Kiem Leng Piauw
segera menyingkir ke samping.

Jen Pek To pun melangkah maju ke muka seraya


bisiknya.

“Tok Say menanti di dalam ruangan, silahkan Kwan-


heng masuk!”

“Terima kasih atas perhatianmu.”

Ia melangkah naik keatas tangga batu dan masuk ke


dalam ruangan.

522
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan sepasang mata yang tajam Kwan Tiong Gak


mendongak dan memandang sejenak kemudian
menunduk kembali.

Tetapi dalam sekali pandangan itulah secara garis


besarnya ia dapat melihat jelas situasi di dalam ruangan
tersebut.

Seorang kakek tua berusia lima puluh tahunan dengan


memelihara jenggot hitam dan memakai jubah kulit
bercelana hitam duduk di sebelah kiri meja berukiran
bunga, di samping kanannya duduk seorang lelaki
berusia pertengahan yang memakai jubah warna hijau.

Sewaktu masih berada di Peking, Kwan Tiong Gak


pernah berjumpa dengan lelaki berjubah hijau itu, karena
dia bukan lain adalah Liuw Thayjien yang merupakan
langganannya yang minta perlindungan dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok.

Tampak Jen Pek To maju dua langkah ke muka dan


menjura ke arah si lelaki berjenggo hitam itu kemudian
lapornya.

“Lapor Tok Say, Kwan Tiong Gak telah datang


menghadap.”

Si Kakek tua itu mendehem sejenak lalu meletakkan


kantong tembakaunya dan ulapkan tangan kiri.

Jen Pek To segera mengundurkan diri dari sana.

523
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti si orang she Jen mengundurkan diri, Kwan


Tiong Gak baru maju ke depan seraya jatuhkan diri
berlutut.

“Rakyat jelata Kwan Tiong Gak menghunjuk hormat


buar Tok Say Thayjien….!”

“Cepat bangun, pertemuan ini adalah pertemuan


pribadi, tak perlu menjalankan penghormatan
berlebihan.”

“Terima kasih atas kebaikan Thayjien!”

Perlahan-lahan Kwan Tiong Gak bangun dan berdiri di


samping dengan kepala tertunduk, tangan lurus ke
bawah.

Si kakek tua itu memperhatikan sekejap diri Kwan


Tiong Gak setelah itu sinar matanya dialihkan ke arah
Liuw Thayjien.

“Liuw Nian-heng, apakah kau pernah berjumpa


dengan Kwan Cong Piauw-tauw ini?”

“Sewaktu berada di ibukota Siauwte pernah berjumpa


sekali ketika siauwte datang berkunjung ke kantor
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok-nya.”

Si kakek berjenggot hitam itu tersenyum, ia berpaling


kembali ke arah Kwan Cong Piauw-tauw.

524
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kwan Tiong Gak!” serunya. “Aku dengar daganganmu


luar biasa besarnya, di dalam enam karesidenan daerah
utara semuanya tersebar kantor-kantor cabangmu??”

“Hal ini hanya memperoleh bantuan dari kawan belaka


sehingga pekerjaan hamba membuka perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok memperoleh kemajuan,
Thayjien terlalu memuji.”

“Ehm…..! Namamu sungguh terkenal dalam kolong


langit” kembali si kakek berjenggot hitam itu tertawa.
“Teringat sewaktu tahun yang lalu Ciu Thay Lang menteri
urusan ketentaraan dari ibukota datang berkunjung
kemari iapun pernah mengungkap soal namamu.”

“Ciu Thayjien mengatakan soal apa?” seru Kwan Tiong


Gak agak terperanjat.

“Ia mengatakan hubunganmu sangat luas sekali, nama


besarmu cemerlang dan tersohor, enama karesidenan di
daerah utara tak ada yang tidak kenal nama besarmu.”

“Aaaah! Thayjien terlalu memuji.”

“Setelah kau memiliki nama besar sedemikian


tersohor, sebagian besar jago-jago kangouw di daerah
utara tentu kau kenali semua bukan…..?”

“Lapor Tok Say Thayjien, hamba tidak bisa dikatakan


kenal dengan mereka semua, aliran yang berbeda sukar
untuk bergaul bersama, hamba adalah seorang
pedagang jarang sekali berhubungan dengan orang-
orang kangouw.”

525
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Baiklah! Kalau begitu kita bicarakan dalam soal


perdagangan saja……..”

Kalau didengar dari nada ucapan tersebut kurang


beres, Kwan Tiong Gak mendongak, dilihat selembar
wajah Tok Say Thayjien yang semula penuh dihiasi
senyuman saat ini, telah berubah jadi penuh
kewibawaan, hatinya kontan jadi tergetar keras.

Tetapi, bagaimanapun juga dia adalah seorang yang


sering menjumpai peristiwa-peristiwa tegang, badai
sebagaimana dahsyatpun pernah dijumpainya, sekalipun
sangat jarang dia berhubungan dengan orang-orang dari
kalangan pembesar pemerintahan, tapi dalam kegugupan
ia tidak sampai jadi kacau, buru bur ia menjura.

“Tok Say Thayjien terlalu memuji, hamba bernyali kecil


mana berani melampaui kewibawaan serta kekuatan Tok
Say? jikalau Tok Say membutuhkan tenaga hamba,
silahkan diutarakan saja, sekalipun terjun ke lautan api
tak akan kutolak.”

Agaknya si pembesar urusan tentara ini paling suka


mendengar kata-kata sanjungan dari Kwan Tiong Gak,
senyuman kembali menghiasi wajahnya.

“Kalau begitu sangat bagus sekali, jikalau demikian


adanya aku masih ingin minta bantuanmu tentang satu
hal.”

Kwan Tiong Gak buru-buru jatuhkan diri berlutut.

526
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tok Say terlalu memuji, hamba tidak berani


menerimanya.”

“Haaa…….haaa……..haaa……….. memang rada cengli


semisalnya kau bisa memperoleh nama besar di dalam
dunia persilatan, watakmu sangat mengembirakan sekali,
tetapi kaisar tak akan membiarkan tentaranya kelaparan,
di dalam permulaan tahun rasanya orang-orang dalam
piauw-kiok kalianpun kebanyakan mulai beristirahat
untuk melewati tahun baru.”

Ia merandek sejenak, lalu serunya.

“Sediakan tiga ratus tahil perak sebagai uang jasa.”

Seorang tentara mengiakan, dengan membawa


sebuah nampan kumala diatasnya tersusun tiga puluh
batang emas murni berjalan mendekat. Kwan Tiong Gak
melirik sekejap ke arah tumpukan emas murni itu,
sedang dalam hati pikirnya.

“Ehm…..suatu balas jasa yang sangat besar, sekali


persen tiga ratus tahil emas, gayanya sebagai pembesar
susah ditandingkan dengan orang lain.”

Buru-buru serunya, “Hadiah dari Tok Say tak berani


hamba terima, bilamana ada urusan silahkan
diperintahkan saja, asalkan hamba bisa melakukan tentu
tak akan kutolak.”

“Kwan-heng, lebih baik kau terima saja,” mendadak


Jen Pek To menimbrung dari samping. “Sewaktu Tok Say
berperang ke utara, berperang ke selatan, banyak orang

527
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pandai yang merupakan tulang punggung beliauw


selama itu, karenanya terhadap orang-orang pintar,
beliau merasa sangat sayang dan kagum.”

Sekalipun terang-terangan Kwan Tiong Gak mengerti


setelah ia terima tiga ratus tahil emas murni itu berarti
pundaknya bertambah lagi dengan sebuah beban seberat
seribu kati, tetapi ucapan Jen Pek To sudah sangat jelas
sekali, mau ditolakpun sungkan, terpaksa dengan
keraskan kepala ia sambut kepingan emas tersebut.

“Pemberian Tok-Say akan hamba terima dengan hati


syukur!” katanya lambat-lambat.

Si Kakek berjenggot hitam itu tersenyum dan


mengangguk.

“Kalian orang-orang yang belajar ilmu silat lebih


mengutamakan kejadian serta keberanian, soal ini aku
sering dapat dengar dari Pek to…..!”

Mendengar ucapan tersebut Kwan Tiong Gak segera


merasakan hatinya agak tergerak, pikirnya.

“Dengan kedudukannya yang tinggi sebagai Tok Say,


ternyata memanggil Jen Pek To langsung dengan
namanya, jelas hubungan mereka berdua melebihi antara
majikan dengan bawahannya.”

Terdengar si pembesar berjenggot hitam ini


mendehem perlahan kemudian sambungnya lebih lanjut.

528
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Padahal urusan inipun mempunyai sangkut paut


dengan perusahaan Liong Wie Piauw mkiok kalian.”

Di hati Kwan Tiong Gak masih bikin perhitungan,


pikirnya.

“Topi ini sudah kukenakan di kepala sungkan


berdiripun tak dapat, terpaksa aku harus menerimanya.”

Setelah mengambil keputusan iapun berkata.

“BIla Thayjien ada perintah silahkan dijelaskan, sudah


seharusnya hamba mengerjakan sebaik-baiknya.”

“Pek to!” si pembesar berjenggot hitam itu berpaling


dan memandang sekejap Jen Pek To yang ada
dibelakangnya/ “Aku lihat lebih baik kau saja yang
membicarakan persoalan ini dengan Kwan Cong Piauw-
tauw, bagaimana akhirnya kau segera beri laporan
kepadaku.”

“Hamba terima perintah,” dengan hormat Jen Pek To


menjura.

Ia lantas berjalan ke sisi Kwan Tiong Gak seraya


berkata, “Kwan-heng, mari kita bercakap-cakap di kamar
samping!”

Kwan Tiong Gak bangun berdiri untuk memberi


hormat lalu dengan mengikuti dari belakang Jen Pek To
mengundurkan diri ke kamar sebelah.

529
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kwan-heng, silahkan duduk” seru Jen Pek To


kemudian sambil tertawa setelah tiba di dalam ruangan
samping. “Walaupun Siauwte sudah lama mengikuti Tok
Say, rasanya masih belum kehilangan sifat dan semangat
seorang Bu lim.”

Kwan Tiong Gak mengerling sekejap keadaan dalam


ruangan itu perlahan-lahan ia melepaskan nampan
kumala tadi ke atas meja.

“Jen-heng, ketiga ratus tahil emas ini siauwte terima


karena menuruti perkataan Jen-heng saja.

Mendengar ucapan itu Jen Pek To tersenyum.

“Soal emas adalah suatu persoalan kecil cuma benda


ini adalah hadiah Tok Say buat Kwan-heng, walaupun
Kwan-heng tidak membutuhkannya, ada seharusnya
dibawa pulang untuk dihadiahkan buat anak buah
perusahaanmu.”

“Tentang persoalan ini untuk sementara waktu tak


usah kita bicarakan dulu, maksud Tok Say mengundang
kehadiran aku orang she Kwan kali ini tentunya ada
persoalan yang sangat berat bukan?” potong Kwan Tiong
Gak kemudian dengan nada berat.

“Secara lapat-lapat agaknya Tok Say sudah pernah


mengungkap persoalan ini, ia ingin memohon bantuan
dari Kwan-heng, cukup berdasarkan hal ini bisa kita
ketahui seberapa tingginya Tok Sat memandang diri
Kwan-heng.”

530
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaakh….! Kesemuanya ini adalah mengandalkan budi


kebaikan Jen-heng yang terlalu memuji diriku, disini
siaute mengucapkan terima kasih terlebih dahulu” seru
Kwan Tiong Gak tertawa getir.

“Nama besar Kwan-heng sudah menggemparkan


seluruh kolong langit, semua jago di dalam Bu Lim
memandang kagum terhadap dirimu, bilamana siauwte
mohon bantuan sudahlah sepatutnya.”

Diam-diam Kwan Tiong Gak berpikir keras setelah


mendengar ucapan tersebut.

“Orang mengatakan keadaan Bu Lim bahaya, penuh


kelicikan dan susah dihadapi, tidak nyana orang yang
bekerja dalam pemerintahan-pun ternyata licik, susah
diduga.”

Di hati berpikir demikian, di luar ia berkata.’

“Di bawah pimpinan Tok Say Thayjien ternyata


mempunyai jago semacam Jen-heng, siauwte benar-
benar dibikin tidak paham bantuan apakah sebetulnya
yang ingin kalian minta?”

“Apabila urusan ini tiada sangkut pautnya dengan


Kwan-heng, sudah pasti Tok Say tak akan mencari Kwan-
heng.”

“Jadi maksudmu urusan ini ada sangkut paut dengan


hilangnya peta lukisan pengangon kambing milik Liuw
Thayjien….”

531
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah ucapan ini meluncur keluar, Kwan Tiong Gak


baru merasa kata-kata ini diutarakan terlalu cepat, tetapi
untuk diubahpun sudah tak gampang lagi.

Tampak sepasang mata Jen Pek To memancarkan


cahaya berkilat.

“Agaknya Kwan-heng pun telah mengetahui soal


lenyapnya lukisan pengangon kambing itu.”

“Siauwte hanya mendengar sedikit kabar angin, tetapi


tidak berani begitu memastikan dan semakin tak tahu
apa sebenarnya yang telah terjadi,” sahut Kwan Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
setelah termenung sejenak.

“Jen Pek To tertawa hambar.

“Urusan ini justru salahnya terletak pada selembar


surat tanda terima yang terjatuh ke tangan Tok-Say,
walaupun tanda terima itu ditulis oleh Liuw Thayjien,
tetapi tercantum pula nama dari Phoa Hu Cong Piauw-
tauw dari perusahaan kalian.”

“Ooouw…….lalu apa yang dikatakan oleh Tok Say?”

“Sebagai seorang pembesar pemerintahan, ia tidak


mengetahui bagaimana urusan yang menyangkut dunia
persilatan, ketika melihat tercantumnya nama besar Phoa
Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-
kiok, beliau jadi gusar dan memerintahkan cayhe untuk
menyegel perusahaan kalian serta tangkap seluruh
piauw-su yang ada untuk diperiksa.”

532
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tok Say Thayjien sebagai seorang pembesar tingkat


satu sudah tentu mempunyai kekuasaan sebesar ini, tapi
rasanya perusahaan kami sudah ternoda dengan nama
yang berdosa bukan.”

“Untuk mengecap siapa berdoa harus diperiksa


darimana bencana itu berasal, apalagi tanda terima
tersebut pada saat ini sudah berada di tangan Tok Say,
ia menuduh kalian bersekongkol dengan kaum penjahat
untuk memeras dan memaksa sang majikan
menyerahkan barangnya.”

Sepasang mata Kwan Tiong Gak berputar dan


memandang wajah Jen Pek To tajam tajam, dirasakan
sepasang mata busu ini tajam, wajahnya gagah dan
merupakan seorang jago yang susah dihadapi, ia segera
tertawa tergelak.

“Dan bagaimana menurut pandangannya Jen-heng


sendiri?”

“Pandangan aku orang she Jen sudah tentu berbeda


dengan pandangan Tok-Say, menurut sistim Bu-lim
urusan ini sebenarnya sangat biasa, mencantumkan
nama di atas surat pernyataan hanya bermaksud sebagai
saksi belaka, tetapi lain menurut pandangan orang-orang
pemerintahan, walaupun Tok-Say hanya seorang
panglima perang yang menguasai tentara, tetapi sewaktu
peperangannya ke daerah selatan ia memperoleh pujian
dari sang kaisar dan kini memperoleh kekuasaan untuk
memerintah di sekitar karesidenan Lu, Shia, Kan dan
sekitarnya, Kwan heng sebagai seorang penduduk yang

533
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah lama berdiam di ibukota tentu mengerti bukan


apabila ucapan siauwte bukan omong kosong belaka.”

“Sekalipun kekuasaan Tok Say mencakup daerah yang


luas, tapi kita dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok pun
merupakan rakyat baik-baik, rasanya Tok Sat tak akan
turunkan perintah untuk menjatuhkan hukuman pancung
kepala kepada kami.”

Jen Pek To sekali lagi tersenyum.

“Tok Say adalah seorang yang pandai dan mengerti


dalam membereskan satu persoalan, setelah mendapat
penjelasan dari Siauwte akhirnya ia bisa berubah niat
dan mengirim siauwte untuk mengundang datang Kwan-
heng agar suka menghadap bahkan menghadiahkan pula
tiga ratus tahil emas murni untukmu, walaupun dengan
suksesnya Kwan-heng dalam perdagangan tidak
memandang sebelah matapun terhadap ketiga ratus tahil
emas murni ini, tapi hadiah yang tidak kecil jumlahnya
tersebut boleh membuktikan apabila Tok Say kami masih
pandang tinggi diri Kwan-heng.”

“Budi Jen-heng akan aku orang she Kwan catat di hati,


entah urusan apakah yang diperintahkan Tok Say kepada
aku orang she Kwan? harap Jen-heng suka memberikan
penjelasan.”

“Sudah tentu tentang lukisan pengangon kambing


itu…..”

“Kini dimanakah lukisan pengangon kambing itu?”

534
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika kamipun tahu dimanakah lukisan pengangon


kambing itu sekarang berada, aku rasa pada saat ini
kami tidak perlu mencari diri Kwan Cong Piauw-tauw
lagi.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak, lalu ujarnya.

“Jen-heng, dapatkah kau menceritakan kisah


seluruhnya dengan jelas?”

“Baik! Tentang tercantumnya nama besar Phoa Hu


Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian di atas tanda
terima rasanya Kwan heng sudah mengetahui bukan?”

“Aku tahu”

“Liuw Thayjien sebagai sahabat karib dari Tok Say


memang seorang lelaki yang sangat pegang janji, setelah
surat tanda terima itu ia tulis sendiri sebagaimana
janjinya ia serahkan pula lukisan pengangon kambing
itu.”

“Sebelum terjadinya peristiwa ini apakah Jen-heng


sama sekali tidak tahu?”

“Tidak tahu” Jen Pek To menggeleng berulang kali.


“Mungkin Liuw Thayjien tidak ingin mengganggu
ketenangan Tok Say, menanti setelah terjadi kekacauan
Liuw Thayjien baru menceritakan kisah sebenarnya…..”

“Siauwte ingin tahu kisah terjadinya peristiwa


tersebut,” sela Kwan Tiong Gak tiba-tiba.

535
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Yang paling mengagumkan adalah orang yang datang


membawa tanda terima tersebut untuk minta lukisan
pengangon kambing ternyata adalah Thoa Ci Jien
seorang kenamaan dalam kota Kay Hong, orang ini
sendiri pernah menjadi sahabat Tok Say selama banyak
tahun bahkan merupakan salah seorang kawan main
catur beliau, tidak disangka sesungguhnya ia punya
persekongkolan dengan kaum penjahat untuk dapat
menerima peta lukisan tersebut.”

“Dimanakah Thio Ci Jien saat ini?”

“Thio Ci Jien sering mengunjungi istana bahkan


merupakan sahabat karib Liuw Thayjien pula,
kedatangannya bertamu merupakan suatu kejadian yang
sangat biasa, setelah ia menerima peta lukisan
pengangon kambing tersebut orang itu pamit dan
pulang.”

“Siapa sangka ketika tiba di luar istana, ia mendapat


bokongan orang dan menderita luka parah, sedang
lukisan pengangon kambing itu sendiri kena dicuri pergi,
bukan begitu saja bahkan kedua orang tukang tandunya
serta seorang pelayan-nya kena dirobohkan juga.”

“Apakah beberapa orang itu sudah mati semua?”

“Sang pelayan serta kedua orang tukang tandu itu


kena ditotok jalan darahnya oleh semacam ilmu menotok
batu, sedangkan Thio Ci Jien sendiri dilukai dengan suatu
ilmu yang maha aneh.”

536
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah Jen-heng turun tangan memberi


pertolongan.?”

Merah padam selebar wajah Jen PekTo sewaktu


mendapat pertanyaan tersebut.

“Si tukang tandu serta si pelayan berhasil cayhe tolong


sehingga tersadar kembali, lain halnya denga luka yang
diderita Thio Cie Jien, siauwte sama sekali tidak mengerti
pukulan apakah yang bersarang di tubuhnya, karena itu
tak berhasil kutolong, Tok Say sendiri walaupun
merupakan seorang jendral yang menguasai beratus-
ratus laksa tertera tetapi wataknya sangat mulia dan
ramah, sekalipun dalam hal peristiwa ini Thio Cie Jien tak
dapat lolos dari tuduhan persekongkolan dengan
penjahat tetapi dikarenakan ia jatuh tidak sadar diri
maka terpaksa ia perintah orang untuk hantar orang she
Thio itu pulang, di samping itu memanggilkan seorang
tabib untuk memeriksakan penyakitnya.”

“Thio Ci Jien tak bisa berbicara, tentu persoalan yang


lebih jelas kalian dengar dari mulut Liuw Thayjien.”

“Tidak salah, setelah peristiwa ini terjadi kekacauan,


maka Liuw Thayjien pun tak dapat merahasiakan
persoalan ini, terpaksa ia ceritakan seluruh peristiwa ini
di samping serahkan tanda terima tadi kepada Tok Say.”

“Peristiwa ini pulang pergi sangat jelas dan tidak


membingungkan, Jen-heng siap memerintahkan siauwte
untuk membuat apa? Silahkan sekarang juga
diutarakan.”

537
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Maksud Tok Say adalah minta Kwan-heng untuk


bantu mencari balik lukisan gembala kambing itu.”

“Kecuali Thio Cie Jien yang jatuh tidak sadarkan diri


serta dua orang tukang tandu dan seorang pelayan,
apakah kau dapat memberi sedikit keterangan lainnya?”

“Soal ini sudah siauwte tanyakan kepada mereka-


mereka ini, tetapi jawaban yang didapat adalah sama,
sebelum mereka melihat sesuatu jalan darahnya sudah
ditotok.”

“Jen-heng! Urusan ini kelihatannya agak mudah


diselesaikan,” setelah Kwan Tiong Gak setelah
termenung sejenak. “Setelah Phoa Hu Cong Piauw-tauw
dari perusahaan kami ikut menanda tangani surat tanda
terima itu sudah tentu kamipun tahu surat itu tadinya
diberikan kepada siapa, sedangkan Liuw Thayjien sendiri
rela menulis tanda terima tersebut jelas bukan tak ada
alasan, mungkin tentang hal ini ia sudah beritahu kepada
Tok Say….”

“Tok Say sendiri juga pernah berpikir sampai soal itu,


tetapi dia dengar Liue Thayjien bercerita sendiri siapakah
orang itu sudah tentu Tok Say tidak enak mendesak lebih
jauh. dengan demikian urusanpun berlarut.”

“Orang itu adalah si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang,


entah pernahkah Jen-heng mendengar nama orang ini?”

“Hoa Hoa Kongcu, Ke Giok Lang? Bukankah dia


seorang penjahat cabul?”

538
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaaah…….. hal ini disebabkan kawan kawan Bu Lim


telah kena dipengaruhi oleh gelarnya…..”

Mendadak Kwan Tiong Gak merasa ia terlanjur bicara,


buru-buru ucapannya dipotong di tengah jalan.

Jen Pek To tersenyum.

“Kwan-heng, kau pernah berjumpa dengan Ke Giok


Lang?”

“Pernah!” Cong Piauw-tauw she Kwan dari perusahaan


Liong Wie Piauw-kiok ini mengangguk.

“Bagaimana menurut pandangan Kwan-heng terhadap


manusia yang bernama Ke Giok Lang ini?”

“Dia adalah seorang jago yang sangat berbakat!”

“Saat ini cayhe mempunyai suatu cara yang bagus


untuk dilakukan. asalkan Kwan heng berhasil mencari
balik peta pengangon kambing tersebut dan minta Ke
Giok Lang menyembuhkan luka yang diderita Thio Cie
Jien, cayhe rela memikul tugas tanggung jawab ini di
hadapan Tok Sat untuk tidak mencari tahu lagi persoalan
di balik kejadian ini, akan kuhitung persoalan ini telah
selesai!”

Air muka Kwan Tiong Gak segera berubah serius,


ujarnya, “Kalau peta pengangon kambing itu terjatuh
kembali ke tangan Ke Giok Lang sedang Thio Ci Jian
sebagai anak buahnya terluka pula di tangan Hoa Hoa
Kongcu ini, urusan jauh lebih mudah diselesaikan, justeru

539
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menurut pendapat cayhe urusan mungkin tidak


segampang ini.”

“Maksud Kwan-heng ada orang ketiga yang mencuri


peta ini?”

Sepasang mata Kwan Tiong Gak berkilat balik


tanyanya.

“Sebenarnya berapa banyak yang Jen heng ketahui


tentang peta mustika pengan kambing ini.”

“Cayhe hanya merasa sedikit heran saja,” kata Jen Pek


To buru-buru menggeleng. “Peta lukisan pengangon
kambing bukan termasuk lukisan kenamaan, mengapa
begitu banyak jago Bu-Lim yang memperebutkannya?”

“Justru disinilah letak kunci utama dari semua


persoalan!” seru Kwan Tiong Gak sambil mendehem.
“Tok Say memerintahkan siauwte untuk menerima tugas
pencarian peta lukisan pengangon kambing itu, bila
kutinjau keadaan yang tertera di depan mata, rasanya
kendati kutolak-pun tak bisa jadi, tapi hingga detik ini
persoalan mengambang bagai awan di angkasa, siauwte
rasa batas waktu yand disediakan seharusnya
diperpanjang lagi…….”

Jen Pek To tidak memberi jawaban atas pertanyaan


dari Kwan Tiong Gak, sebaliknya dia malah bertanya.

“Kwan-heng bersiap hendak berbuat apa?”

540
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tengok dulu bagaimana keadaan dari Thio Ci Jien,


karena menurut pendapatku kalau dia bukan terluka oleh
semacam ilmu totok, pasti terluka oleh semacam ilmu
silat yang istimewa, kalau kita bisa sadarkan dirinya agar
dia memberi keterangan hal ini jauh lebih bagus kalau
tidak bisa ditolong aku berharap dari keadaan lukanya
berhasil mendapatkan sedikit tanda-tanda yang bisa
dipakai sebagai pegangan!”

“Baik” dengan cepat Jen Pek To mengangguk. “Aku


akan memberi laporan dulu kepada Tok Say, asal Kwan-
heng suka bekerja sama dengan kami, di hadapan Tok
Say tentu siauwte akan berusaha memikul tanggung
jawab ini.”

“Jen-heng! Lebih baik dalam melaksanakan tugas ini


kaupun ikut serta sehingga kau-pun dapat mengetahui
bagaimanakah perkembangannya dan bisa setiap saat
memberi laporan kepada Tok Say.”

“Kalau memang keikutan siauwte tidak menganggu,


siauwte rela membantu sepenuh tenaga.”

“Kalau begitu kebetulan sekali, Jen-heng tak usah


terlalu merendah lagi.!”

“Yang kumaksudkan mengganggu adalah


kedudukanku sebagai petugas hukum, kalau akupun
membantu Kwan-heng dalam pencarian sang pembunuh,
aku takut kawan-kawan Bu-lim akan mengecap Kwan-
heng bekerja dengan minta bantuan orang-orang
pemerintahan.

541
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tok Say memerintahkan aku ikut campur dalam


persoalan ini bukankah tanpa sadar aku telah
mengandalkan kekuatan pemerintahan?” seru Kwan
Tiong Gak sambil tertawa hambar.

Jen Pek To jadi jengah dan dalam keadaan serba salah


ia tertawa.

“Jika Kwan-heng merasa siauwte boleh ikut serta


dalam pekerjaan ini, Siauwte rela membantu dengan
senang hati.”

“Jen Thayjien terlalu merendah!”

Setelah merandek sejenak, sambungnya, “Sekarang


kita harus pergi memeriksa keadaan luka Thio Ci Jien,
bila siauwte pergi seorang diri, aku takut susah
menjumpai dirinya.”

“Baik! Cayhe akan melapor sebentar pada Tok Say


kemudian kita bersama-sama pergi menengok Thio Ci
Jien.”

“Siauwte akan menanti disini!”

“Baik, sebentar lagi siauwte pasti datang!” Jen Pek To


bangkit dan melangkah keluar.

Beberapa saat kemudian ia sudah balik lagi ke dalam


ruangan itu.

“Kwan-heng, mari kita berangkat!”

542
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan membawa Kwan Tiong Gak, dia berjalan


meninggalkan istana Jendral berangkat menuju ke rumah
kediaman Thio Ci Jien.

Lantaran Jen Pek To membawa kartu nama Tok Say,


dengan mudah mereka dapat berhasil menemui si
pengurus rumah keluarga Thio.

Jen Pek To adalah pengawal Tok Say yang jarang


keluar. Si pengurus rumah ini tidak kenal dengan dia,
tapi lantaran dia membawa kartu nama sang Jendral,
sudah tentu saja penguasa keluarga Thio itu tidak berani
berlaku ayal, dengan penghormatan besar disambutnya
kedua orang tamu tak diundang ini.

Gerak-gerik Jen Pek To benar benar keren penuh


wibawa mencerminkan kedudukan sebagai tangan kanan
Tok Say, sambil melirik sekejap wajah pengurus rumah
keluarga Thio itu tanyanya, “Bagaimana keadaan Thio Ci
Jien?”

“Majikan kami tetap dalam keadaan tak sadarkan diri.”

“Cayhe mendapat perintah Tok Say untuk menjenguk


keadaan luka Thio Thayjien!”

“Cayhe segera membawa jalan buat kalian berdua.”

Di dalam kota Kay Hong, sebenarnya keluarga Thio Ci


Jien pun termasuk seorang pembesar terkemuka, hanya
saja disebabkan yang hadir saat ini dari istana jenderal,
si pengurus rumah itu tidak berani banyak bicara.

543
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia langsung membawa kedua orang itu memasuki


kamar Thio Ci Jien.

Lambat lambat Kwan Tiong Gak mendekati


pembaringan orang she Thio itu pucat pasi bagai mayat,
sepasang matanya terpejam rapat-rapat.

“Jen-heng!” ujar Kwan Tiong Gak sambil berpaling ke


Jen Pek To. “Lukanya terletak di sebelah mana?”

“Agaknya terletak di pundak sebelah kirinya.”

Kwan Tiong Gak kali ini mengalihkan sinar matanya ke


arah si pengurus rumah keluarga Thio itu perintahnya,
“Eeeei…. coba kau lepaskan pakaian yang dikenakan
majikanmu itu.”

“Soal ini….soal ini ………..”

Agaknya pengurus rumah keluarga Thio dibikin


tertegun.

“Kami mendapat perintah Tok Say untuk datang


kemari memeriksa keadaan luka majikanmu,” sela Jen
Pek To dari samping.

Mendengar ucapan ini si pengurus rumah keluarga


Thio itu tak berani banyak berkutik lagi, buru-buru ia
mendekati pembaringan dan melepaskan pakaian yang
dikenakan Thio Ci Jien.

544
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada pundak sebelah kiri orang she Thio itu,


tampaklah selapis warna merah darah membekas dengan
nyata di sana.

“Kwan heng, sungguh aneh, bekas luka ini, “ bisik Jen


Pek To lirih, “Agaknya luka ini bukan bekas telapak, juga
tidak membengkak, entah ia terluka oleh pukulan apa?”

Air muka Kwan Tiong Gak amat serius, ia tidak


menjawab pertanyaan Jen Pek To, agaknya semua
perhatiannya telah dipusatkan pada keadaan luka Thio Ci
Jien.

Kurang lebih seperminum teh lamanya baru berpaling


dan memandang sekejap wajah si pengusaha keluarga
Thio, tanyanya, “Majikan kalian sudah minum obat?”

“Tiga orang tabib kenamaan sudah datang memeriksa


keadaan lukanya tapi mereka tidak berhasil menemukan
sebab-sebab penyakit itu, setelah tiga orang tabib itu
merunding sejenak mereka masing-masing membuka
sebuah resep, tapi walaupun obat itu sudah diberikan
majikan kami masih juga tidak sadarkan diri.”

“Ia tidak pernah bangun satu kalipun?”

“Benar, ia tidak pernah sadar barang satu kalipun.”

“Keadaannya juga tidak bertambah buruk.”

Si pengurus rumah keluarga Thio itu mengangguk.

“Sejak semula gingga kini keadaannya tak berubah!”

545
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bantu dia kenakan bajunya,” perintah Kwan Tiong


Gak kemudian setelah termenung sejenak. Lalu ia
berpaling kepada Jen Pek To dan tambahnya, “Mari kita
pergi!”

Kedua ornag itu dengan mulut membungkam


menggundurkan diri dari istana pembesar she Thio itu, di
tengah jalan Jen Pek To tak dapat menahan sabar lagi
dan berkata, “Kwan-heng, apakah berhasil menemukan
sesuatu?”

“Kita kembali dulu ke kantor cabang kami, bagaimana


kalau kita bicarakan lagi persoalan itu di sana?”

“Cayhe menurut saja kemauan Kwan heng.”

Kwan Tiong Gak tersenyum dan mengangguk, dengan


membawa serta pengawal pribadi Tok Say ini, ia kembali
ke kantor cabang perusahaan ekspedisinya.

Waktu itu Phoa Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyoo Su
Jan sekalian lagi menunggu di ruang tengah dengan hati
gelisah, wajah mereka murung dan kesal.

Menanti ditemuinya Kwan Tiong Gak muncul kembali


tanpa kekurangan sesuatu apapun mereka baru hilang
kesalnya dan menyambut kedatangan Cong Piauw-tauw
mereka dengan muka berseri-seri sekali.

“Sudahlah, tak perlu banyak adat, “ Kwan Tiong Gak


ulapkan tangannya mencegah orang-orang itu memberi
hormat kepadanya.

546
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan,


sambil memandang Jen Pek To ia berkata, “Jen-heng,
boleh kau hitung termasuk juga orang-orang Bu-lim,
sewaktu berada di hadapan Tok Say sudah banyak
membantu diriku.”

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek buru-
buru merangkapkan tangannya menjura mengucapkan
terima kasih.

“Terima kasih banyak atas bantuan Jen-heng!”


serunya hampir saja berbareng.

“Siauwte hanya berusaha sedapat mungkin saja, tidak


berani menerima penghormatan dari Cuwi bertiga!” Jen
Pek To dengan membalas menjura.

Phoa Ceng Yan mendehem, katanya serius.

“Toako, apa yang dikatakan Tok Say kepadamu?”

“Jen-heng sudah menyampaikan isi perinta Tok-say


kepadaku, ia minta siauw-heng cari kembali peta
pengangon kambing tersebut.”

Mengambil kesempatan itu Jen Pek To mengeluarkan


ketiga ratus tahil emas murni itu diangsurkan ke depan.

“Karena harus merepotkan Cuwi sekalian, Tok Say


merasa tidak tenteram, oleh karena itu sedikit
penghargaan harap cuwi sudi menerimanya.”

547
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tok Say memberi hadiah terlalu banyak” ujar Kwan


Tiong Gak sambil tertawa getir.

“Sebetulnya peristiwa ini merupakan peristiwa Bu-lim


belaka, tidak nyana kini sudah terseret masuk dalam soal
pemerintahan.”

“Persoalan ini disebabkan siauw-te mau potong kepala


masuk penjara sudah sebetulnya siauwte tanggung
seorang diri,” kata Phoa Ceng Yan cepat.

Mendengar ucapan saudaranya Kwan Tiong Gak


segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaa…..haaa…… yang Tok-Say perintah kita cari


adalah peta pengangon kambing dan atas tanggungan
Jen-hen ini, Tok Say pun sudah berjanji untuk tidak
menyelidiki persoalan yang lebih mendalam.”

“Kalau begitu, asal kita berhasil menemukan kembali


peta pengangon kambing maka urusan selesai?” tanya
Nyoo Su Jan agak ragu-ragu.

“Tentang soal ini siauwte berani tanggung.!” sambung


Jen Pek To dengan cepat.

“Asal peta pengangon kambing dapat ditemukan, Tok


Say pasti takkan menyelidiki urusan ini lagi bahkan surat
pernyataan yang berisikan tanda tangan Phoa-heng pun
akan diserahkan kembali kepada kalian.”

Mendengar ucapan yang demikian tegas, Phoa Ceng


Yan berpaling ke arah Kwan Tiong Gak.

548
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Toako, apa yang hendak kau lakukan?” tanyanya.

“Sampai kini aku masih belum mendapatkan suatu


cara yang baugs, aku rasa persoalan ini agak
merepotkan…..”

Bicara sampai di situ, sinar matanya dialihkan ke atas


wajah Jen Pek To dan tanyanya.

“Apa pendapat Jen heng mengenai persoalan ini?”

“Selama beberapa tahun ini siauwte sangat jarang


berhubungan dengan orang-orang Bu Lim, terus terang
saja dalam urusan ini aku benar-benar buta, sebaliknya
Kwan-heng tersohor dalam kolong langit, aku rasa tentu
ada cara yang bagus bukan untuk mengatasi persoalan
ini? menurut pendapat siauwte untuk membongkar teka-
teki tak berujung pangkal ini kita boleh selesaikan
mengikuti cara-cara Bu Lim.”

“Aku orang she Kwan sudah banyak berkelana dalam


dunia persilatan, banyak sahabat kangouw yang telah
terkenal tapi mereka adalah manusia-manusia yang kasar
paling tidak suka berhubungan dengan petugas hamba
negara semisalnya Jen-heng ikut serta dalam
penyelidikan kasus ini aku berharap agar jangan
memperkenalkan diri sebagai pengawal pribadi Tok Say?”

“Ehmmm………..ucapan ini sedikitpun tidak salah” Jen


Pek To mengangguk. “Terutama sekali tidak banyak
orang kangouw yang kukenal, asal Kwan-heng suka
memberi siauwte sebuah jabatan itu sudah cukup apalagi

549
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

anggota kantor cabang di sini banyak jumlahnya asal


siauwte mengaku sebagai seorang piauwsu, orangpun
tak akan tahu.”

“Tapi bukankah kami akan sedikit merendahkan


derajat Jen-heng?”

“Kwan-heng sudah banyak membantu siauwte, untuk


hal ini aku sudah merasa sangat berterima kasih, mana
berani mengucapkan kata-kata “penghinaan” lagi?”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak, akhirnya ia


mengangguk.

“Baik! Lebih baik sekarang kita usahakan untuk


menjumpai dahulu si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang …..”

Ia berpaling kepada Liem Toa Lek dan perintahnya.

“Pasang lentera merah kemudian kirim orang


melakukan pertemuan…..”

“Hamba Paham!” Liem Toa Lek segera bangkit berdiri


terima perintah.

Sepeninggalnya orang she Liem itu, Kwan Tiong Gak


berpaling dan tersenyum ujarnya.

“Jen-heng! Urusan jadi begini mau gelisahpun


percuma, mari kita teguk dulu dua cawan arak sebagai
tanda terima kasih aku orang she Kwan kepada dirimu.”

Ia Ulapkan tangan dan berseru, “Hidangkan arak!”

550
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun saat menunjukkan penutupan tahun tapi


berhubung Cong Piauw-tauw hadir maka kebanyakan
piauwsu yang ada dalam kantor cabang ini tidak pulang
ke kampung bahkan sebagian besar anak buah tetap
tinggal di kantor menanti perintah.

Begitu perintah hidangkan arak diucapkan sebentar


saja sayur dan arak sudah dihidangkan.

Kwan Tiong Gak duduk di kursi pertama dan


mempersilahkan Jen Pek To duduk di sebelahnya,
kemudian disusul Phoa Ceng Yan dan Nyoo Su Jan
mengiringi dari samping.

Demikianlah sebuah meja perjamuan hanya dihadiri


oleh empat orang.

“Jen-heng!” di tengah perjamuan Kwan Tiong Gak


angkat cawan araknya.” Mari aku menghormati dirimu
dengan secawan arak!”

“Terima kasih….terima kasih.” dan sekali teguk Jen


Pek To menghabiskan isi cawannya.

“Haaa….haaa….bagaimana dengan takaran minum


arakmu?”

“Aaakh, sangat cetek!”

“Mari kita minum arak sepuasnya….!”

551
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kekuatan minum arak keempat orang itu rata-rata


kuat, dengan demikian arakpun tiada hentinya berpindah
tempat dari teko ke mulut.

Perjamuan ini berlangsung satu jam lamanya sampai


akhirnya Jen Pek To mendorongkan cawan sembari
berseru, “Cukup….cukup….! Siauwte tidak berani minum
lagi, aku takut nanti mabok di sini.”

“Jikalau Jen-heng sudah tak kuat, mari kita sama-


sama berhenti….”

Belum habis ia berkata dengan tergesa-gesa Liem Toa


Lek telah munculan diri, ujarnya sambil menjura, “Cong
Piauw-tauw, hamba telah menjumpai Ke Giok Lang….!”

“Ehm…. ia berada di mana?”

“Kini berada di luar ruangan tamu!”

Tiba-tiba Jen Pek To bangkit seraya menyambung,


“Kwan-heng, kenapa tidak sekalian undang masuk ke
dalam?”

Kwan Tiong Gak mengangguk, bisiknya kepada Liem


Toa Lek mengiyakan dan segera berlalu dari ruangan.

Beberapa saat kemudian Ke Giok Lang muncul di


depan ruangan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.

Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura.

552
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Merepotkan saudara hadir kemari, aku orang she


Kwan merasa tidak tentram!”

“Mana…..mana….. Kwan heng kirim orang untuk


mengunjungi siauwte, rasanya tentu ada urusan penting
yang hendak dibicarakan bukan?”

Sambil bicara sepasang matanya tiada berhenti


memeriksa wajah Jen Pek To dengan seksama.

“Kalau tak ada urusan mana berani mengganggu Ke


Kongcu.”

“Mengenai peta pengangon kambing itu, siauwte


berhasil mendapatkan sedikit berita.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Bukankah kalian berdua telah mengunjungi Thio Ci


Jien?” Ucapan dari Ke Giok Lang ini datang laksana
guntur di siang hari bolong membuat hati Kwan Tiong
Gak tergetar keras tapi di luaran berusaha untuk
mempertahankan ketenangannya, ia tertawa.

“Aku rasa Thio Ci Jien tentu komplotan Ke heng


bukan?”

“Oouuuuw…..soal ini? Aku rasa sulit untuk dikatakan


kita yang sering melakukan perjalanan di luaran
seharusnya berkenalan dengan banyak sahabat.”

Sinar matanya dialihkan ke atas wajah Jen Pek To dan


sambungnya, “Saudara ini adalah ……”

553
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siauwte she Jen…….”

“Kalau begitu dugaan siauwte sama sekali tidak


meleset