Anda di halaman 1dari 14

Macam-Macam Fraktur Femur Dan Manajemennya

1. Fraktur leher femur


Fraktur leher femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih
sering pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi
proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat berupa fraktur
subkapital, transervikal, dan basal, yang kesemuanya terletak di dalam simpai
sendi panggul atau interkapsuler, fraktur intertrokanter dan subtrokanter terletak
ekstrakapsuler. Fraktur intrakapsuler umumnya sulit untuk mengalami pertautan
dan cenderung terjadi nekrosis avaskuler kaput femur. Pendarahan kolum yang
terletak intraartikular dan pendarahan kaput femur berasal dari proksimal a.
sirkumfleksa femoris lateralis melalui simpai sendi. Sumber perdarahan ini putus
pada fraktur intraartikular. Pendarahan oleh arteri di dalam ligamentum teres
sangat terbatas dan sering tidak berarti. Pada luksasi arteri ini robek. Epifisis dan
daerah trokanter cukup kaya vaskularisasinya, karena mendapat darah dari simpai
sendi, periosteum, dan a. nutrisia diafisis femur.
Fraktur kolum femur yang terletak intraartikular sangat sukar sembuh
karena bagian proksimal perdarahannya sangat terbatas sehingga memerlukan
fiksasi kokoh untuk waktu yang cukup lama.
Semua fraktur di daerah ini umumnya tidak stabil sehingga tidak ada cara
reposisi tertutup terhadap fraktur ini kecuali jenis fraktur yang impaksi, baik yang
subservikal maupun yang basal.
Sering dapat dilihat pemendekan bila dibandingkan tungkai kiri dengan
kanan. Jarak antara trokanter mayor dan spina iliaka anterior superior lebih
pendek karena trokanter terletak lebih tinggi akibat pergeseran tungkai ke kranial.
Penderita umumnya datang dengan keluhan tidak bisa jalan setelah jatuh dan
terasa nyeri. Umumnya penderita tidur dengan tungkai bawah dalam keadaan
sedikit fleksi dan eksorotasi serta memendek. Gambaran radiologis menunjukkan
fraktur leher femur dengan dislokasi pergeseran ke kranial atau impaksi ke dalam
kaput.
Kegalian fraktur ini disebabkan kontraksi dan tonus otot besar dan kuat
antara tungkai dan tubuh yang menjembatani fraktur, yaitu m. iliopsoas,
kelompok otot gluteus, quadriceps femur, flexor femur, dan adductor femur.
Inilah yang menggangu keseimbangan pada garis fraktur. Adanya osteoporosis
tulang mengakibatkan tidak tercapainya fiksasi kokoh oleh pin pada fiksasi
interna. Ditambah lagi, periosteum fragmen intrakapsuler leher femur tipis
sehingga kemampuannya terbatas dalam penyembuhan tulang. Oleh karena itu,
pertautan fragmen fraktur hanya bergantung pada pembentukan kalus endosteal.
Yang penting sekali ialah aliran darah ke kolum dan kaput femur yang robek pada
saat terjadinya fraktur.
Penanganan fraktur leher femur yang bergeser dan tidak stabil adalah
reposisi tertutup dan fiksasi interna secepatnya dengan pin yang dimasukkan dari
lateral melalui kolum femur. Bila tak dapat dilakukan operasi ini, cara konservatif
terbaik adalah langsung mobilisasi dengan pemberian anestesi dalam sendi dan
bantuan tongkat. Mobilisasi dilakukan agar terbentuk pseudoartrosis yang tidak
nyeri sehingga penderita diharapkan bisa berjalan dengan sedikit rasa sakit yang
dapat ditahan, serta sedikit pemendekan.
Terapi operatif dianjurkan pada orang tua berupa penggantian kaput femur
dengan prosthesis atau eksisi kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaput
femur diikuti dengan mobilisasi dini pasca bedah.

a. Terapi Konservatif

Dilakukan apabila fraktur memiliki kemungkinan sebagai berikut :


• Gangguan peredaran darah pada fragmen proksimal
• Kesulitan mengamati fragmen proksimal
• Kurangnya penanganan hematom fraktur karena adanya cairan synovial.
Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan skin traction, dengan buck
extension.

b. Terapi Operatif

Pada umumnya terapi yang dilakukan adalah terapi operasi, fraktur


yang bergeser tidak akan menyatu tanpa fiksasi internal, dan bagaimanapun
juga manula harus bangun dan aktif tanpa ditunda lagi kalau ingin mencegah
komplikasi paru dan ulkus dekubitus. Fraktur terimpaksi dapat dibiarkan
menyatu, tetapi selalu ada resiko terjadinya pergeseran pada fraktur-fraktur
itu, sekalipun ditempat tidur, jadi fiksasi internal lebih aman. Dua prinsip
yang harus diikuti dalam melakukan terapi operasi reduksi anatomi yang
sempurna dan fiksasi internal yang kaku.
Merode awal yang menstabilkan fraktur adalah fiksasi internal dengan
Smith Petersen Tripin Nail. Fraktur dimanipulasi dengan meja khusus
orthopedi. Kemudian fraktur difiksasi internal dengan S.P. Nail dibawah
pengawasan Radiologi. Metode terbaru fiksasi internal adalah dengan
menggunakan multiple compression screws.
Pada penderita dengan usia lanjut (60 tahun ke atas) fraktur ditangani
dengan acara memindahkan caput femur dan menempatkannya dengan metal
prosthesis, seperti prosthesis Austin Moore.
Penderita segera di bawa ke rumah sakit. Tungkai yang sakit
dilakukan pemasangan skin traction dengan buck extension. Dalam waktu
24-48 jam dilakukan tindakan reposisi, yang di lanjutkan dengan reposisi
tertutup dengan salah satu cara menurut Leadbetter.
Penderita terlentang di atas meja operasi dalam pengaruh anastesi,
asisten memfiksir pelvis, lutut dan coxae dibuat fleksi 90° untuk
mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul. Dengan sedikit adduksi
paha ditarik ke atas, kemudian pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi
panggul 45°, kemudian sisi panggul dilakukan gerakan memutar dengan
melakukan gerakan abduksi dan extensi. Setelah itu di lakukan test.
Palm Halm Test : tumit kaki yang cedera diletakkan di atas telapak
tangan. Bila posisi kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi
berarti reposisi berhasil baik. Setelah reposisi berhasil baik, dilakukan
tindakan pemasangan internal fiksasi dengan teknik multi pin percutaneus.
Kalau reposisi pertama gagal dapat diulang 3 kali. Kemudian dilakukan open
reduksi, dilakukan reposisi terbuka, setelah tereposisi dilakukan internal
fiksasi alat internal fiksasi knowless pin, cancellous screw, atau plate
Pengawasan dengan sinar X (sebaiknya digunakan penguat)
digunakan untuk memastikan reduksi pada foto anteroposterior dan lateral.
Diperlukan reduksi yang tepat pada fraktur stadium III dan IV, fiksasi
pada fraktur yang tak tereduksi hanya mengundang kegagalan kalau fraktur
stdium III dan IV tidak dapat direduksi secara tertutup dan pasien berumur
dibawah 70 tahun, dianjurkan melakukan reduksi terbuka melalui pendekatan
anterolateral.
Tetapi pada pasien tua (60 tahun keatas) cara ini jarang
diperbolehkan, kalau dua usaha yang dilakukan untuk melakukan reduksi
tertutup gagal, lebih baik dilakukan penggantian prostetik.
Sekali direduksi, fraktur dipertahankan dengan pen atau kadang
dengan sekrup kompresi geser yang ditempel pada batang femur. Insisi
lateral digunakan untuk membuka femur pada bagian atas kawat pemandu,
yang disisipkan dibawah pengendali fluroskopik, digunakan untuk
memastikan bahwa penempatan alat pengikat adalah tepat. Dua sekrup
berkanula sudah mencukupi, keduanya harus terletak memanjang dan sampai
plate tulang subkondral, pada foto lateral keduanya berada ditengah-tengah
pada kaput dan leher, tetapi pada foto anteropsterior, sekrup distal terletak
pada korteks inferior leher femur.
Sejak hari pertama pasien harus duduk ditempat tidur atau kursi. Dia
dilatih melakukan pernafasan, dianjurkan berusaha sendiri dan mulai berjalan
(dengan penopang atau alat berjalan) secepat mungkin.
Beberapa ahli mengusulkan bahwa prognosis untuk fraktur stadium
III dan IV tidak dapat diramalkan, sehingga penggantian prostetik selalu
lebih baik. Pandangan ini meremehkan morbiditas yang menyertai
penggantian. Karena itu kebijaksanaan kita adalah mencoba reduksi dan
fiksasi pada semua pasien yang berumur dibawah 60 tahun dan
mempersiapkan penggantian untuk penderita yang :
• Penderita yang sangat tua dan lemah
• Penderita yang gagal mengalami reduksi tertutup
• Penggantian yang paling sedikit traumanya adalah prostesis femur atau
prostesis bipolar tanpa semen yang dimasukan dengan pendekatan
posterior.
Penggantian pinggul total mungkin lebih baik :
• Kalau terapi telah tertunda selama beberapa minggu dan dicurigai ada
kerusakan acetebulum.
• Pada pasien dengan penyakit paget atau penyakit metastatik.
Penanganan nekrosis avaskuler kaput femur dengan atau tanpa gagal-
pertautan juga dengan eksisi kaput dan leher femur dan kemudian diganti
dengan prosthesis metal.
Pada fraktur leher femur impaksi biasanya penderita dapat berjalan
selama beberapa hari setelah jatuh sebelum timbul keluhan. Umumnya gejala
yang timbul minimal dan panggul yang terkena dapat secara pasif digerakkan
tanpa nyeri. Fraktur ini biasanya sembuh dalam waktu 3 bulan tanpa tindakan
operasi, tetapi apabila tidak sembuh atau terjadi disimpaksi yang tidak stabil
atau nekrosis avaskuler, penanganannya sama dengan yang di atas.
2. Fraktur trokanter femur
Fraktur ini terjadi antara trokanter mayor dan minor. Sering terjadi pada
orang tua dan umumnya dapat bertaut dengan terapi konservatif maupun operatif
karena perdarahan di daerah ini sangat baik. Terapi operatif memperpendek masa
imobilisasi di tempat tidur.
Penderita biasanya datang dengan keluhan tidak dapat berjalan setelah
jatuh disertai nyeri yang hebat. Penderita terlentang di tempat tidur dengan
tungkai bawah eksorotasi dan terdapat pemendekan sampai 3 cm disertai nyeri
pada setiap pergerakan. Pada bagian luar pangkal paha terlihat kebiruan akibat
hematom subkutan. Pada foto Rontgen terlihat fraktur daerah trokanter dengan
leher femur dalam posisi varus yang bisa mencapai 90O.
Fraktur ini ditangani secara konservatif dengan traksi tulang, dengan paha
dalam posisi fleksi dan abduksi, selama 6-8 minggu. Terapi operatif dapat
dilakukan dengan pemasangan pelat trokanter yang kokoh, kemudian mobilisasi
segera pascabedah.
3. Fraktur batang femur
Pada fraktur diafisis femur biasanya perdarahan dalam cukup luas dan
besar sehingga dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat
bangun, bukan saja karena nyeri, tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur.
Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar, terlihat lebih pendek, dan
bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat perdarahan ke dalam jaringan
lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup, dan
normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.
Fraktur yang dapat diatasi dengan traksi adalah fraktur intertrokanter dan
subtrokanter, fraktur diafisis oblik, segmental, dan kominutif, serta fraktur
suprakondiler tanpa dislokasi berat, dan fraktur kondilus femur. Yang tidak dapat
ditangani dengan traksi adalah dislokasi tertentu berat.
Pada orang dewasa, fraktur ditangani secara konservatif dengan traksi
skelet, baik pada tuberositas tibia maupun suprakondiler. Cara ini biasanya
berhasil mempertautkan fraktur femur. Yang penting ialah latihan otot dan
gerakan sendi, terutama m. quadriceps otot tungkai bawah, lutut, dan pergelangan
kaki. Akan tetapi, cara traksi skelet memerlukan waktu istirahat di tempat tidur
yang lama sehingga untuk mempercepat mobilisasi dan memperpendek masa
istirahat di tempat tidur, dapat dianjurkan untuk melakukan reposisi terbuka dan
pemasangan fiksasi interna yang kokoh. Fiksasi interna biasanya berupa pin
Kuntscher intramedular. Untuk fraktur yang tidak stabil, misalnya fraktur batang
femur yang kominutif atau fraktur batang femur bagian distal, pin intramedular
ini dapat dikombinasi dengan pelat untuk neutralisasi rotasi.
Pada fraktur femur tertutup, dilakukan traksi kulit dengan metode ekstensi
buck, tujuan traksi kulit untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan
jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah.
Fraktur batang femur pada anak-anak umumnya dengan terapi non
operatif, karena akan menyambung dengan baik, pemendekan kurang dari 2 cm
masih dapat diterima karena di kemudian hari akan sama panjangnya dengan
tungkai normal. Hal ini kemungkinan karena daya proses remodeling pada anak-
anak.
Pengobatan non-operatif dapat dilakukan dengan metode Perkin, metode
balance skeletal traction, traksi kulit Bryant, dan traksi Russel. Sedangkan
indikasi operatif karena penanggulangan non-operatif gagal, fraktur multipel,
robeknya arteri femoralis, fraktur patologik dan fraktur pada orang-orang tua.
4. Fraktur femur suprakondiler
Fraktur ini relatif lebih jarang dibandingkan fraktur batang femur. Seperti
halnya fraktur batang femur, fraktur suprakondiler dapat dikelola secara
konservatif dengan traksi skeletal dengan lutut dalam posisi fleksi 90O. Traksi ini
juga memerlukan waktu istirahat di tempat tidur yang lama sehingga lebih disukai
reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna dengan pelat suprakondiler yang
kokoh, yang memungkinkan mobilisasi segera dan menggerakkan sendi lutut. Hal
yang terakhir ini penting karena gerakan sendi lutut yang segera dapat mencegah
sendi kejur akibat perlekatan otot dan atau perlekatan jaringan lunak di sekitar
sendi lutut.
5. Fraktur femur interkondiler
Fraktur ini juga relatif jarang dan biasanya terjadi sebagai akibat jatuh
dengan lutut dalam keadaaan fleksi dari ketinggian. Permukaan belakang patella
yang berbentuk baji , melesak ke dalam sendi lutut dan mengganjal di antara
kedua kondilus dan salah satu atau keduanya retak. Pada bagian proksimal
kemungkinan terdapat komponen melintang sehingga didapati fraktur dengan
garis fraktur berbentuk seperti huruf T atau Y.
Secara klinis, sendi lutut bengkak akibat hemartrosis dan biasanya disertai
goresan atau memar pada bagian depan lutut yang menunjukkan adanya trauma.
Di sini patella juga dapat mengalami fraktur.
Untuk fraktur kondilus tunggal lateral atau medial, paling baik dilakukan
reposisi terbuka dengan fiksasi interna dengan sekrup tulang spongiosa.
Pada patah tulang kondilus ganda, yaitu fraktur kondilus T atau Y juga
dilakukan reposisi terbuka dengan fiksasi interna yang kokoh pada kedua
kondilus dan pada komponen melintang bila sarananya tersedia.
Pada fraktur kominutif berat di interkondiler, tindakan terbaik adalah
traksi skelet kontinu yang memungkinkan gerakan sendi lutut begitu nyeri akut
menghilang. Gerakan ini kadang dapat menjadi patokan untuk menilai apakah
fragmen sendi sudah pada posisi yang diinginkan dan mengurangi resiko
kekakuan sendi. Pada orang tua, fraktur femur interkondiler femur umumnya
lebih baik ditangani secara konservatif dengan traksi skelet.
1. Fraktur Femur

II.1 Definisi

Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin
tak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya
patahan itu lengkap dan fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang
menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit atau kulit diatasnya
masih utuh ini disebut fraktur tertutup (atau sederhana), sedangkan bila terdapat luka
yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit
yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut fraktur terbuka.

II.2 Epidemiologi

Klasifikasi alfanumerik pada fraktur, yang dapat digunakan dalam pengolahan


komputer, telah dikembangkan oleh (Muller dkk., 1990). Angka pertama
menunjukkan tulang yaitu :

1. Humerus
2. Radius/Ulna
3. Femur
4. Tibia/Fibula

Sedangkan angka kedua menunjukkan segmen, yaitu :

1. Proksimal
2. Diafiseal
3. Distal
4. Maleolar

Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada
fraktur collum, fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan
usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang
dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi)
sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan.
Sedangkan fraktur batang femur, fraktur supracondyler, fraktur intercondyler, fraktur
condyler femur banyak terjadi pada penderita laki – laki dewasa karena kecelakaan
ataupun jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi
karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah.

II.3 Etiologi

Pada dasarnya tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan
daya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat :

• Peristiwa trauma tunggal

Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba – tiba dan berlebihan, yang
dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan
posisi miring, pemuntiran, atau penarikan.
Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan
lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan
fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan
akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.

Bila terkena kekuatan tak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang
jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur
mungkin tidak ada.

Kekuatan dapat berupa :

1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral

2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur melintang

3. Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang tetapi


disertai fragmen kupu – kupu berbentuk segitiga yang terpisah

4. Kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan yang menyebabkan fraktur


obliq pendek

5. Penatikan dimana tendon atau ligamen benar – benar menarik tulang sampai
terpisah

• Tekanan yang berulang – ulang

Retak dapat terjadi pada tulang, seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat
tekanan berulang – ulang.

• Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik)

Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh
tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget )

II.4 Klasifikasi

Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam :

a. FRAKTUR COLLUM FEMUR:

Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya
penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung
terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak
langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi
dalam :

• Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)


• Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

b. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR


Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi
dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah
klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :

tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor

tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor

tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor

c. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa)

Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu
lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam
shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka
yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi :

- tertutup

- terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;

· Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.

· Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari
luar.

· Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak
yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)

d. FRAKTUR BATANG FEMUR (anak – anak)

e. FRAKTUR SUPRACONDYLER FEMUR

Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal
ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius,
biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan
tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.

f. FRAKTUR INTERCONDYLAIR

Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya


terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur.

g. FRAKTUR CONDYLER FEMUR

Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai
dengan tekanan pada sumbu femur keatas.
II.5 Gambaran Klinik

· Riwayat

Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan


tungkai yang mengalami cedera, fraktur tidak selalu dari tempat yang cedera suatu
pukulan dapat menyebebkan fraktur pada kondilus femur, batang femur, pattela,
ataupun acetabulum. Umur pasien dan mekanisme cedera itu penting, kalau fraktur
terjadi akibat cedera yang ringan curigailah lesi patologik nyeri, memar dan
pembengkakan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi gejala itu tidak
membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak, deformitas jauh lebih mendukung.

· Tanda – tanda umum :

Tulang yang patah merupakan bagian dari pasien penting untuk mencari bukti ada
tidaknya

1. Syok atau perdarahan

2. Kerusakan yang berhubungan dengan otak, medula spinalis atau visera

3. Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget)

· Tanda – tanda lokal

a. Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal,


angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah
apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur,
cedera terbuka

b. Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari
fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah
adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan

c. Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting
untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi – sendi dibagian distal
cedera.

II.6 Diagnosis

· Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun cedera dengan


keluhan bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan

· Pemeriksaan fisik :

- Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi,


rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah
kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera
terbuka
- Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari
fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah
adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan

- Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting
untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi – sendi dibagian distal
cedera.

Pemeriksaan penunjang :

Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior


posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari
satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil
foto sinar – x pada pelvis dan tulang belakang.

II.7 Komplikasi

a. Early :

· Lokal :

- Vaskuler : compartement syndrome

Trauma vaskuler

- Neurologis : lesi medulla spinalis atau saraf perifer

· sistemik : emboli lemak

- Crush syndrome

- Emboli paru dan emboli lemak

b. Late :

- Malunion : Bila tulang sembuh dengan fungsi anatomis abnormal (angulasi,


perpendekan, atau rotasi) dalam waktu yang normal

- Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal

- Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu

- Kekakuan sendi/kontraktur

II.8 Penatalaksanaan

1. Terapi konservatif :

- Proteksi
- Immobilisasi saja tanpa reposisi

- Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips

- Traksi

1. Terapi operatif

- ORIF

Indikasi ORIF :

- Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi

- Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup

- Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan

- Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi

- Excisional Arthroplasty

Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi

- Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis

Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore

1. Tindakan debridement dan posisi terbuka

II.9 Penyembuhan fraktur :

1. Fase Peradangan :

Pada saat fraktur ada fase penjendalan dan nekrotik di ujung atau sekitar fragmen
fraktur, proses peradangan akut faktor eksudasi dan cairan yang kaya protein ini
merangsang lekosit PMN dan Makrofag yang fungsinya fagositosis jendalan darah
dan jaringan nekrotik

1. Fase Proliferasi :

Akibat jendalan darah 1 – 2 hari terbentuk fibrin yang menempel pada ujung – ujung
fragmen fraktur, dimana fibrin ini berfungsi sebagai anyaman untuk perlekatan sel –
sel yang baru tumbuh sehingga terjadi neovaskularisasi dan terbentuk jaringan
granulasi atau procallus yang semakin lama semakin memadat sehingga terjadi
fibrocartilago callus yabg bertambah banyak dan terbentuklah permanen callus yang
tergantung banyak atau sedikitnya celah pada fraktur.

1. Fase Remodelling
Permanen callus diserap dan diganti dengan jaringan tulang sedangkan sisanya
direabsorbsi sesuai dengan bentuk dan anatomis semula.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim (Editor). 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

2. Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah FKUI.

3. Dandy DJ. Essential Orthopaedics and Trauma. Edinburg, London, Melborue, New York: Churchill
Livingstone, 1989.

4. Salter/ Textbook of Disorders and injuries of the Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore/London:
Willians & Wilkins, 1983.

5. Rosenthal RE. Fracture and Dislocation of the Lower Extremity. In: Early Care of the Injured Patient, ed
IV. Toronto, Philadelphia: B.C. Decker, 1990.

Galih,.pilih aja ya,..mau pake yg mana,.. hadeeh,..aku uda tepar kiy,.teler,..maaf


yak,..makasy,.. :)