Anda di halaman 1dari 95

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PROVINSI PAPUA BARAT


MENURUT LAPANGAN USAHA
Gross Regional Domestic Product
of Papua Barat Province
by Industrial Origin

2008

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA BARAT


PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI PAPUA BARAT
MENURUT LAPANGAN USAHA 2008
Gross Regional Domestic Product of Papua Barat Province
by Industrial Origin 2008

Katalog BPS/ BPS Catalogue : 930201.9100

ISBN : -

Nomor Publikasi/ Publication Number : 91300.09.03

Ukuran Buku/ Book Size : 16,5 cm x 21,5 cm

Jumlah Halaman/ Number of Pages : xvii rumawi + 78 halaman/ pages

Naskah/ Manuscript :
Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Regional Accounts and Statistical Analysis Division

Penyunting/ Editor :
Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Regional Accounts and Statistical Analysis Division

Gambar Kulit/ Cover Design :


Bidang Integrasi, Pengolahan, dan Diseminasi Statistik
Statistical Integrated, Processing, and Disemination Division

Diterbitkan oleh/ Published by :


BPS Provinsi Papua Barat
BPS - Statistics Papua Barat

Dicetak oleh/ Printed by :

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya


May be cited with reference to the source
GUBERNUR PAPUA BARAT

SAMBUTAN

Pembangunan ekonomi merupakan serangkaian usaha yang


berkesinambungan guna menyejahterakan masyarakat melalui peningkatan
taraf hidup, pemerataan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta
meningkatkan hubungan ekonomi antar wilayah.

Dalam perencanaan, penentuan strategi, dan kebijakan untuk mencapai


tujuan di atas sangat membutuhkan ketersediaan informasi statistik yang
relevan dengan kondisi daerah terutama potensi sumber daya yang dimiliki
sebagai alat ukur dan analisisnya. Dengan demikian diharapkan strategi dan
kebijakan lebih terarah sehingga sasaran dapat dicapai dengan tepat.

Publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua


Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 ini merupakan bahan kajian
secara makro dan merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan
untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi di daerah.
Dari penyajian data PDRB secara berkala dapat diketahui tingkat
pertumbuhan ekonomi dan gambaran tingkat kemakmuran serta
perkembangan pembangunan regional secara periodik. Untuk itu saya

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 iii
menyambut gembira dengan diterbitkannya publikasi PDRB Provinsi Papua
Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 ini yang menambah khazanah
bagi informasi pembangunan di provinsi paling muda ini.

Mengingat peran strategis informasi statistik, maka saya berharap agar


di tahun-tahun mendatang Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat dapat
menyajikan berbagai jenis data statistik dalam menunjang pembangunan di
wilayah ini, juga terus melakukan koordinasi dengan instansi/sektor terkait
baik di kalangan pemerintah maupun swasta sehingga data dan informasi
yang disajikan dapat lebih berkualitas.

Akhirnya kepada Badan Pusat Statistik dan semua pihak yang telah
membantu menyusun publikasi PDRB Provinsi Papua Barat ini saya
sampaikan penghargaan dan terima kasih.

Manokwari, Juli 2009

GUBERNUR PAPUA BARAT

ABRAHAM O. ATURURI

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 iv


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
limpahan rahmat-Nya penyusunan Publikasi Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008
yang merupakan kerja sama Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat
dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Papua
Barat dapat terselesaikan.

Publikasi ini terdiri dari tabel-tabel PDRB Menurut Lapangan Usaha


dengan minyak dan gas bumi serta tabel-tabel PDRB Menurut Lapangan
Usaha tanpa minyak dan gas bumi. Keterangan yang dihimpun mencakup
sembilan lapangan usaha/sektor ekonomi yaitu Pertanian; Pertambangan dan
Penggalian; Industri Pengolahan; Listrik dan Air Bersih; Bangunan;
Perdagangan, Hotel dan Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi;
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; serta Jasa-jasa.

PDRB ini akan sangat berguna bagi para perencana dalam menyusun
program pembangunan dan bagi para pengambil kebijakan dalam mengukur
keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan.

Dikarenakan keterbatasan data yang tersedia, maka beberapa data yang


disajikan terutama pada tahun 2008 masih bersifat sementara yang akan
disempurnakan pada penerbitan berikutnya. Untuk itu, kritik dan saran dari
pembaca dan pemakai data tetap diharapkan untuk penyempurnaannya.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 v


Dengan diterbitkannya publikasi ini, maka diharapkan dapat
memperkecil kesenjangan yang ada antara ketersediaan dengan kebutuhan
data sehingga pelaksanaan pembangunan di provinsi ini dapat lebih berhasil
guna dan berdaya guna.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu hingga terbitnya


publikasi ini kami ucapkan terima kasih.

Manokwari, Juli 2009

Badan Pusat Statistik


Provinsi Papua Barat
Kepala,

Ir. TANDA SIRAIT, MM


NIP. 340005623

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 vi


PENJELASAN UMUM

Tanda-tanda yang digunakan dalam publikasi ini, adalah sebagai berikut :

Data belum tersedia …………………………………………….. : …


Data tidak tersedia ……………………………………………… : -
Data dapat diabaikan ……………………………………………. : 0
Tanda desimal …………………………………………………... : ,
Angka sangat sementara ……………………………................... : xx
Angka sementara ………………………………………………... : x

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 vii
DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ................................................................................... III


KATA PENGANTAR................................................................................... V
PENJELASAN UMUM .............................................................................. VII
DAFTAR ISI ............................................................................................ VIII
DAFTAR LAMPIRAN PDRB DENGAN MIGAS ..................................... XI
DAFTAR LAMPIRAN PDRB TANPA MIGAS...................................... XIII
PENJELASAN TEKNIS .............................................................................XV

BAB I PENDAHULUAN

1.1. UMUM................................................................................................ 1
1.2. METODE PENDEKATAN .................................................................... 2
1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN STATISTIK PENDAPATAN REGIONAL ... 5

BAB II RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN

2.1. SEKTOR PERTANIAN ........................................................................ 6


2.1.1. Subsektor Tanaman Bahan Makanan ........................................ 6
2.1.2. Subsektor Tanaman Perkebunan ............................................... 7
2.1.3. Subsektor Peternakan dan Hasil-hasilnya ................................. 7
2.1.4. Subsektor Kehutanan ................................................................. 8
2.1.5. Subsektor Perikanan .................................................................. 8
2.2. SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN ................................ 9
2.2.1. Subsektor Pertambangan Migas ................................................ 9
2.2.2. Subsektor Penggalian .............................................................. 10

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 viii
2.3. SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN ................................................. 10
2.3.1. Subsektor Industri Besar/Sedang ............................................. 11
2.3.2. Subsektor Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga ................ 11
2.3.3. Subsektor Industri Migas ......................................................... 11
2.4. SEKTOR LISTRIK DAN AIR BERSIH ............................................... 12
2.4.1. Subsektor Listrik ...................................................................... 12
2.4.2. Subsektor Air Bersih ................................................................ 12
2.5. SEKTOR BANGUNAN ....................................................................... 13
2.6. SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL, DAN RESTORAN ...................... 13
2.6.1. Subsektor Perdagangan Besar dan Eceran ............................. 13
2.6.2. Subsektor Hotel........................................................................ 14
2.6.3. Subsektor Restoran .................................................................. 14
2.7. SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI .............................. 14
2.7.1. Subsektor Angkutan Jalan Raya .............................................. 15
2.7.2. Subsektor Angkutan Laut ......................................................... 15
2.7.3. Subsektor Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan ....... 16
2.7.4. Subsektor Angkutan Udara ...................................................... 16
2.7.5. Subsektor Jasa Penunjang Angkutan....................................... 17
2.7.6. Subsektor Komunikasi ............................................................. 17
2.8. SEKTOR KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN ...... 18
2.8.1. Subsektor Bank ........................................................................ 18
2.8.2. Subsektor Lembaga Keuangan Bukan Bank ............................ 19
2.8.3. Subsektor Jasa Penunjang Keuangan ..................................... 20
2.8.4. Subsektor Sewa Bangunan ....................................................... 20
2.8.5. Subsektor Jasa Perusahaan ..................................................... 21
2.9. SEKTOR JASA-JASA ........................................................................ 22
2.9.1. Subsektor Pemerintahan Umum .............................................. 22
2.9.2. Subsektor Jasa Sosial Kemasyarakatan .................................. 23
2.9.3. Subsektor Jasa Hiburan dan Rekreasi ..................................... 23

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 ix


2.9.4. Subsektor Jasa Perorangan dan Rumahtangga....................... 24

BAB III TINJAUAN EKONOMI PAPUA BARAT

3.1. PDRB PROVINSI PAPUA BARAT DENGAN MIGAS ........................ 26


3.1.1. Pertumbuhan Ekonomi ............................................................ 26
3.1.2. Struktur Ekonomi ..................................................................... 28
3.1.3. Perkembangan PDRB Per Kapita ........................................... 31
3.1.4. Kontribusi Sektor terhadap Pertumbuhan Ekonomi ................ 32
3.2. PDRB PROVINSI PAPUA BARAT TANPA MIGAS ........................... 34
3.2.1. Pertumbuhan Ekonomi (Tanpa Migas).................................... 34
3.2.2. Struktur Ekonomi (Tanpa Migas) ............................................ 36
3.2.3. Perkembangan PDRB Per Kapita (Tanpa Migas) .................. 38
3.2.4. Kontribusi Sektor (Tanpa Migas) terhadap Pertumbuhan
Ekonomi ................................................................................... 39

BAB IV PERKEMBANGAN EKONOMI MENURUT KELOMPOK


SEKTOR

4.1. PDRB PROVINSI PAPUA BARAT DENGAN MIGAS ........................ 42


4.2. PDRB PROVINSI PAPUA BARAT TANPA MIGAS ........................... 47

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 x


DAFTAR LAMPIRAN PDRB DENGAN MIGAS

Halaman
Lampiran 1.1. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008
(juta rupiah)................................................................. 54

Lampiran 1.2. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga


Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun
2005-2008 (juta rupiah)……………………………... 55

Lampiran 1.3. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).………………… 56

Lampiran 1.4. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut
Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…...…... 57

Lampiran 1.5. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).………………… 58

Lampiran 1.6. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut
Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…...…... 59

Lampiran 1.7. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto


Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha
Tahun 2005-2008 (persen).………………………….. 60

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xi


Lampiran 1.8. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…………………... 61

Lampiran 1.9. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto


Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha
Tahun 2005-2008 (persen).………………………….. 62

Lampiran 1.10. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto


Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…………………... 63

Lampiran 1.11. Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto


menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen) 64

Lampiran 1.12. Angka Agregat Produk Domestik Regional Bruto,


PDRB Perkapita dan Penduduk Pertengahan Tahun
Provinsi Papua Barat, 2005-2008 ............................... 65

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xii
DAFTAR LAMPIRAN PDRB TANPA MIGAS

Halaman
Lampiran 2.1. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008
(juta rupiah)................................................................. 67

Lampiran 2.2. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga


Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun
2005-2008 (juta rupiah)……………………………... 68

Lampiran 2.3. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).………………… 69

Lampiran 2.4. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut
Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…...…... 70

Lampiran 2.5. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).………………… 71

Lampiran 2.6. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional


Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut
Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…...…... 72

Lampiran 2.7. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto


Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha
Tahun 2005-2008 (persen).………………………….. 73

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xiii
Lampiran 2.8. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…………………... 74

Lampiran 2.9. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto


Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha
Tahun 2005-2008 (persen).………………………….. 75

Lampiran 2.10. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto


Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005-2008 (persen).…………………... 76

Lampiran 2.11. Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto


menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen) 77

Lampiran 2.12. Angka Agregat Produk Domestik Regional Bruto,


PDRB Perkapita dan Penduduk Pertengahan Tahun
Provinsi Papua Barat, 2005-2008 ............................... 78

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xiv
PENJELASAN TEKNIS

1. Aset (Harta) : Pemilikan atas berbagai macam harta baik berwujud


(tangible) maupun tidak berwujud (intangible) yang dimiliki oleh
perorangan, perusahaan ataupun pemerintah. Secara praktis, biasanya
dinilai dalam bentuk moneter.

2. Biaya Antara : Input yang dipergunakan habis dalam proses produksi


dan terdiri dari barang tidak tahan lama dan jasa, baik yang dibeli dari
pihak lain ataupun yang diproduksi sendiri.

3. Bunga Netto : Selisih antara bunga diterima dan bunga yang dibayar
atas pinjaman (finansial) yang diberikan.

4. Deflasi : Menghitung nilai atas dasar harga konstan dengan cara men-
deflate nilai atas dasar harga berlaku dengan indeks harga yang
bersangkutan.

5. Ekstrapolasi : Menghitung nilai atas dasar harga konstan dengan cara


mengekstrapolasi nilai pada tahun dasar dengan indeks kuantum dari
barang/jasa yang bersangkutan.

6. Faktor Pendapatan dari luar : Pendapatan/kompensasi yang diterima


oleh faktor produksi atas keterlibatannya dalam suatu proses produksi di
luar batas wilayah domestik.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xv


7. Faktor Produksi : Mencakup faktor-faktor yang terlibat dalam suatu
proses produksi baik secara langsung maupun tidak langsung, yang
terdiri dari tanah, tenaga kerja, modal dan keahlian.

8. Harga Berlaku : Penilaian yang dilakukan terhadap produk barang dan


jasa yang dihasilkan ataupun yang dikonsumsi pada harga tahun
berjalan.

9. Harga Konstan : Penilaian yang dilakukan terhadap produk barang dan


jasa yang dihasilkan ataupun yang dikonsumsi pada harga tahun tetap di
satu tahun dasar.

10. Imputasi Jasa : Perkiraan atas nilai output jasa yang dihasilkan,
sebagai contoh imputasi jasa bank, jasa asuransi, jasa dana pensiun dan
sebagainya.

11. Input Primer : Disebut juga nilai tambah bruto, terdiri atas balas jasa
tenaga kerja, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung netto.

12. Investasi : Dana yang disisihkan untuk ditanamkan sebagai modal


dalam usaha dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dengan
harapan modal tersebut akan kembali dalam beberapa tahun.

13. Margin Perdagangan dan Biaya Transport : Selisih nilai transaksi


pada tingkat harga pembeli dengan tingkat harga produsen. Selisih nilai
transaksi ini mencakup keuntungan pedagang eceran dan biaya transport
yang timbul dalam menyalurkan barang dari produsen ke pembeli.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xvi
14. Output : Nilai dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor
ekonomi tanpa membedakan pelaku produksinya di wilayah domestik
tertentu.

15. Pajak Tidak Langsung Netto : Pajak tidak langsung dikurangi subsidi.

16. Penyusutan : nilai susutnya (ausnya) barang-barang modal yang


digunakan dalam proses produksi.

17. Revaluasi : Menghitung nilai atas dasar harga konstan dengan menilai
produksi pada tahun yang bersangkutan dengan menggunakan harga
pada tahun dasar. Begitu pula biaya-biaya antara dinilai dengan harga
pada tahun dasar.

18. Tahun Dasar : Tahun terpilih sebagai referensi statistik dan digunakan
sebagai dasar penghitungan pada tahun-tahun yang lain.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 xvii
Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Umum

Dalam menciptakan kondisi perekonomian daerah/wilayah yang


kondusif maka diperlukan berbagai jenis data statistik sebagai bahan analisis
dalam menentukan dan mengarahkan program pembangunan untuk
mencapai hasil guna dan daya guna yang tinggi.
Pembangunan ekonomi yang telah berjalan hendaknya dievaluasi baik
hasil maupun dampaknya. Adapun hasilnya akan berbentuk nilai kuantitatif
yang dapat memberikan gambaran keadaan masa lalu, masa kini, dan target-
target yang akan dicapai pada masa mendatang.
Pembangunan ekonomi merupakan usaha dan kebijakan yang
bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas
kesempatan kerja, meningkatkan pemerataan distribusi pendapatan
masyarakat, memperlancar hubungan ekonomi, dan mengusahakan
pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder maupun
sektor tersier.
Guna mengetahui pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan
masyarakat, maka perlu disajikan statistik pendapatan regional secara
berkala sebagai bahan perencanaan pembangunan regional khususnya di
bidang ekonomi.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 1


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

1.2. Metode Pendekatan

Penghitungan Pendapatan Regional dapat dilakukan melalui empat


metode, yaitu:

a. Pendekatan Produksi (Production Approach)

Pendekatan dengan cara ini dilakukan untuk menghitung Nilai


Tambah Bruto (Gross Value Added), yaitu selisih antara jumlah nilai
output dengan biaya antara (intermediate cost).
Biaya antara (intermediate cost) adalah barang-barang tidak tahan
lama (umur pemakaian kurang dari satu tahun atau habis dalam satu
kali pemakaian) dan jasa-jasa pihak lain yang digunakan dalam proses
produksi. Jadi, apabila nilai output dikurangi dengan biaya-biaya
antara, maka akan diperoleh Nilai Tambah Bruto yang terdiri dari biaya
faktor produksi (upah/gaji, bunga netto, sewa tanah, keuntungan),
penyusutan barang modal, dan pajak tak langsung netto.

b. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Pendekatan dengan cara ini dapat dilakukan dengan


menjumlahkan pendapatan, yaitu jumlah balas jasa faktor produksi
berupa upah/gaji, bunga netto, sewa tanah, dan keuntungan, sehingga
diperoleh Produk Domestik Regional Netto atas dasar biaya faktor. Jika
Produk Domestik Regional Netto atas dasar biaya faktor ditambah
dengan penyusutan dan pajak tidak langsung netto maka akan diperoleh
Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 2


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Penghitungan dengan pendekatan pendapatan (income approach)


ini biasanya digunakan untuk kegiatan yang sulit dihitung dengan
pendekatan produksi, seperti sektor Pemerintahan dan Jasa-jasa yang
usahanya tidak mencari untung (non profit).

c. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)

Pendekatan dengan cara ini digunakan untuk menghitung nilai


barang dan jasa yang digunakan oleh berbagai golongan dalam
masyarakat. Barang dan jasa yang diproduksi oleh unit-unit produksi
akan digunakan untuk keperluan konsumsi, pembentukan modal
(investasi), dan ekspor. Barang-barang yang digunakan ini ada yang
berasal dari produksi dalam daerah (domestik) dan berasal dari luar
daerah/luar negeri (impor).
Karena yang dihitung nilai barang dan jasa yang berasal dari
produksi domestik saja, maka nilai barang dan jasa yang diproduksi
tersebut perlu dikurangi dengan nilai impor sehingga komponen nilai
ekspor di atas akan menjadi nilai ekspor netto.
Apabila nilai konsumsi (konsumsi rumah tangga, pemerintah, dan
yayasan sosial), nilai pembentukan modal, dan ekspor netto
dijumlahkan, maka akan diperoleh nilai Produk Domestik Regional
Bruto atas dasar harga pasar.

d. Metode Alokasi (Allocation Method)

Terkadang data yang tersedia tidak memungkinkan untuk


menggunakan ketiga metode di atas, hingga terpaksa dipakai metode

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 3


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

alokasi ini. Hal ini dapat terjadi misalnya pada suatu unit produksi yang
mempunyai kantor pusat dan kantor cabang.
Kantor pusat berada di wilayah lain, sedangkan kantor cabang
berada di daerah tersebut. Sering kali kantor-kantor cabang ini tidak
dapat membuat neraca untung rugi, sebab neracanya dibuat di kantor
pusat, sehingga tidak dapat diketahui berapa keuntungan yang
diperoleh dari kantor cabang ini.
Padahal keuntungan adalah salah satu komponen yang diperlukan
dalam menghitung nilai tambah. Untuk dapat mengatasi hal-hal yang
demikian maka digunakan metode alokasi, yaitu dengan
mengalokasikan angka-angka secara terpusat dengan memakai
indikator-indikator yang sekiranya dapat menunjukkan peranan kantor
cabang yang ada di daerah tersebut terhadap kantor pusatnya.
Indikator ini dapat berupa volume kerja, jumlah karyawan,
jumlah produksi, dan lain-lain. Metode alokasi ini merupakan metode
pendekatan tidak langsung, sedangkan yang lain merupakan metode
langsung.
Dengan menggunakan metode langsung akan dapat dihasilkan
angka-angka yang bisa menggambarkan karakteristik yang lebih
mendekati kenyataan bila dibandingkan dengan angka-angka yang
diperoleh dari metode tidak langsung.
Oleh karena itu, sejauh mungkin digunakan metode langsung dan
bila hal ini tidak mungkin, baru ditempuh penghitungan dengan metode
tidak langsung ini.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 4


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

1.3. Tujuan dan Kegunaan Statistik Pendapatan Regional

Statistik pendapatan regional yang disajikan dengan baik dan lengkap


akan dapat menggambarkan berbagai fenomena antara lain :
Produk Domestik Regional Bruto yang disajikan atas dasar harga
konstan, akan menggambarkan tingkat pertumbuhan riil perekonomian suatu
daerah baik secara agregat maupun sektoral. Pertumbuhan perekonomian
yang timbul tersebut apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk
pertengahan tahun pada masing-masing tahun, maka akan dapat pula
mencerminkan tingkat perkembangan pendapatan perkapita. Jika pendapatan
perkapita suatu daerah dibandingkan dengan pendapatan perkapita daerah
lain, maka angka-angka tersebut dapat dipakai sebagai indikator untuk
membandingkan tingkat kemakmuran material dengan daerah lainnya.
Penyajian Produk Domestik Regional Bruto baik atas dasar harga
berlaku maupun atas dasar harga konstan, juga dapat digunakan sebagai
indikator untuk melihat inflasi ataupun deflasi yang terjadi. Demikian pula
apabila disajikan secara sektoral akan dapat juga memberi gambaran tentang
struktur perekonomian suatu daerah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Produk Domestik
Regional Bruto yang disajikan secara berkala, wajar, dan komprehensif akan
diketahui :
a. Indikator tingkat pertumbuhan perekonomian.
b. Indikator tingkat perkembangan pendapatan perkapita.
c. Indikator tingkat kemakmuran masyarakat.
d. Indikator tingkat inflasi dan deflasi.
e. Indikator dari struktur perekonomian suatu daerah.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 5


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

BAB II
RUANG LINGKUP DAN
METODE PENGHITUNGAN

Pada bab ini akan disajikan ruang lingkup dan metode penghitungan
PDRB dari masing-masing lapangan usaha/sektor ekonomi, baik atas dasar
harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000, serta sumber datanya.

2.1. Sektor Pertanian

Sektor pertanian di Papua Barat mencakup subsektor tanaman bahan


makanan, subsektor tanaman perkebunan, subsektor peternakan dan hasil-
hasilnya, subsektor kehutanan, dan subsektor perikanan.

2.1.1. Subsektor Tanaman Bahan Makanan

Subsektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan seperti


padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedelai,
kacang hijau, sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman bahan makanan lainnya,
dan hasil-hasil ikutannya.
Termasuk di sini hasil-hasil dari pengolahan yang dilakukan secara
sederhana seperti beras tumbuk, gaplek, dan sagu. Data produksi diperoleh
dari BPS dan Dinas Pertanian, sedangkan data harga bersumber pada data
harga yang dikumpulkan oleh BPS.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara
pendekatan produksi yaitu mengalikan setiap jenis kuantum produksi dengan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 6


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

masing-masing harganya, kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya antara


atas dasar harga berlaku pada tahun yang bersangkutan. Biaya antara
tersebut diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap output
yang diperoleh dari Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR).
Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan
cara revaluasi, yaitu dengan mengalikan produksi pada tahun yang
bersangkutan dengan harga pada tahun 2000, kemudian dikurangi dengan
biaya antara yang dihitung atas dasar harga konstan 2000.

2.1.2. Subsektor Tanaman Perkebunan

Komoditi yang dicakup di sini adalah hasil tanaman perkebunan yang


diusahakan oleh rakyat seperti karet, kopra, kopi, kapuk, tebu, cengkeh, pala
dan sebagainya. Termasuk produk ikutannya dan hasil-hasil pengolahan
sederhana seperti minyak kelapa rakyat, kopi olahan dan pala olahan. Data
produksi dan harga diperoleh dari Dinas Perkebunan.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara
pendekatan produksi. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
dihitung dengan cara revaluasi, sama seperti yang dilakukan pada tanaman
bahan makanan.

2.1.3. Subsektor Peternakan dan Hasil-hasilnya

Subsektor ini mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas


maupun hasil ternak seperti sapi, kerbau, babi, kuda, kambing, domba, telur,
serta hasil pemotongan ternak. Produksi ternak diperkirakan sama dengan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 7


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

jumlah ternak yang dipotong ditambah perubahan stok populasi ternak yang
keluar masuk di wilayah Papua Barat. Data jumlah ternak yang dipotong dan
produksi telur diperoleh dari Dinas Peternakan. Sedangkan data harga ternak
diperoleh dari BPS. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dan nilai
tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara
mengalikan nilai produksi dengan rasio nilai tambah bruto.

2.1.4. Subsektor Kehutanan

Sebagaimana subsektor-subsektor sebelumnya, output subsektor


kehutanan dihitung dengan cara mengalikan produksi dengan harga pada
tahun yang bersangkutan sehingga menghasilkan output atas dasar harga
berlaku dan penggunaan harga pada tahun dasar menghasilkan output atas
dasar harga konstan 2000. Selanjutnya nilai tambah bruto dihitung dengan
mengalikan rasio nilai tambah bruto terhadap output.

2.1.5. Subsektor Perikanan

Komoditi yang dicakup adalah semua hasil dari kegiatan perikanan


laut, perairan umum, tambak, kolam, keramba, serta pengolahan sederhana
(penggaraman dan pengasapan ikan). Data produksi diperoleh dari Dinas
Perikanan, sedangkan data harga diperoleh dari BPS. Penghitungan nilai
tambah bruto atas dasar harga berlaku dan nilai tambah bruto atas dasar
harga konstan 2000 dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah bruto
terhadap output.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 8


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Seluruh jenis komoditi yang dicakup dalam sektor pertambangan dan


penggalian, dikelompokkan dalam tiga subsektor, yaitu subsektor
pertambangan migas, subsektor pertambangan tanpa migas, dan subsektor
penggalian. Kegiatan sektor pertambangan dan penggalian yang terdapat di
Papua Barat hanya meliputi subsektor pertambangan migas dan subsektor
penggalian.

2.2.1. Subsektor Pertambangan Migas

Pertambangan migas (minyak dan gas bumi) meliputi kegiatan


pencarian kandungan minyak dan gas bumi, penyiapan pengeboran,
penambangan, penguapan, pemisahan serta penampungan untuk dapat dijual
atau dipasarkan. Komoditi yang dihasilkan adalah minyak bumi, kondensat,
dan gas bumi.
Metode penghitungan yang digunakan untuk subsektor ini adalah
pendekatan produksi. Output atas dasar harga berlaku diperoleh melalui
perkalian antara kuantum produksi barang yang dihasilkan dengan harga per
unit produksi pada tahun yang bersangkutan. Nilai Tambah Bruto (NTB)
atas dasar harga berlaku diperoleh dengan mengalikan output tersebut
dengan rasio NTB terhadap output pada tahun yang bersangkutan.
Sedangkan output atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara
revaluasi, yaitu mengalikan kuantum produksi barang yang dihasilkan pada
tahun yang bersangkutan dengan harga per unit produksi pada tahun 2000.
Melalui perkalian antara output dengan rasio NTB terhadap output tahun

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 9


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2000, maka diperoleh NTB atas dasar harga konstan 2000.

2.2.2. Subsektor Penggalian

Komoditi yang tercakup dalam subsektor penggalian terdiri atas


garam kasar dan penggalian lainnya seperti karang, pasir, tanah urug, tanah
liat dan jenis penggalian lainnya. Output atas dasar harga berlaku diperoleh
berdasarkan perkalian antara kuantum barang yang dihasilkan dengan harga
per unit barang tersebut pada tahun yang bersangkutan, ditambah nilai jasa
lainnya yang merupakan produk sampingan usaha penggalian tersebut.
Selanjutnya untuk memperoleh NTB atas dasar harga berlaku, output atas
dasar harga berlaku dikalikan dengan rasio NTB terhadap output pada tahun
yang bersangkutan. Sedangkan output penggalian atas dasar harga konstan
2000 diperoleh dengan cara deflasi dengan Indeks Harga Perdagangan Besar
subsektor penggalian.

2.3. Sektor Industri Pengolahan

Sektor ini mencakup industri besar/sedang, industri kecil/kerajinan


rumahtangga dan industri migas. Industri besar/sedang adalah perusahaan
industri yang mempunyai tenaga kerja 20 orang lebih, industri kecil
mempunyai tenaga kerja 5-19 orang, sedangkan industri kerajinan
rumahtangga mempunyai tenaga kerja 1-4 orang.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 10


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2.3.1. Subsektor Industri Besar/Sedang

Penghitungan output atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan


cara ekstrapolasi menggunakan indeks produksi. Kemudian output atas dasar
harga berlaku diperoleh dengan meng-inflate output atas dasar harga konstan
2000 dengan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) barang-barang
industri. Penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dan atas
dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah
bruto terhadap output.

2.3.2. Subsektor Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga

Output atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara
rata-rata output per tenaga kerja dengan jumlah tenaga kerja. Sedangkan
untuk menghitung output atas dasar harga konstan 2000 melalui metode
ekstrapolasi dengan menggunakan indeks perkembangan jumlah tenaga
kerja. Penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dan nilai
tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan mengalikan
rasio nilai tambah bruto terhadap output.

2.3.3. Subsektor Industri Migas

Output industri migas diperoleh dari hasil kali antara produksi dengan
harga pada tahun yang bersangkutan. Sedangkan output atas dasar harga
konstan memakai cara revaluasi yakni mengalikan produksi masing-masing
tahun dengan harga pada tahun dasar. Penghitungan nilai tambah bruto atas

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 11


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

dasar harga berlaku dan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah bruto terhadap output.

2.4. Sektor Listrik dan Air Bersih

Output masing-masing subsektor mencakup semua produksi yang


dihasilkan dari berbagai kegiatan sesuai dengan ruang lingkup dan
definisinya.

2.4.1. Subsektor Listrik

Data produksi diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara (PLN)


sedangkan data harga (rata-rata tarif/Kwh) memakai rata-rata tarif/Kwh PLN
Wilayah X Papua. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung
dengan pendekatan produksi. Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga
konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi, dimana indeks tarif per Kwh
digunakan sebagai deflator.

2.4.2. Subsektor Air Bersih

Subsektor ini mencakup air bersih yang diusahakan oleh Perusahaan


Air Minum. Data produksi dan harga diperoleh langsung dari Perusahaan Air
Minum. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan
pendekatan produksi. Sedangkan penghitungan atas dasar harga konstan
2000 dihitung dengan cara deflasi, dimana indeks tarif digunakan sebagai
deflator.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 12


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2.5. Sektor Bangunan

Sektor bangunan mencakup segala kegiatan pembangunan fisik


(konstruksi) baik berupa gedung, jalan, jembatan dan konstruksi lainnya.
Untuk memperoleh nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung
dengan cara mengalikan output dengan rasio nilai tambah bruto berdasarkan
hasil survei tahunan konstruksi. Perhitungan nilai tambah bruto atas dasar
harga konstan 2000 memakai cara deflasi, dimana Indeks Harga
Perdagangan Besar barang-barang konstruksi digunakan sebagai deflator.

2.6. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

2.6.1. Subsektor Perdagangan Besar dan Eceran

Penghitungan nilai tambah subsektor perdagangan besar dan eceran


dilakukan dengan cara pendekatan arus barang yaitu menghitung jumlah dari
nilai margin perdagangan komoditi sektor pertanian, sektor pertambangan
dan penggalian, sektor industri pengolahan serta komoditi impor (impor luar
negeri dan impor antar provinsi) yang diperdagangkan di Papua Barat. Nilai
tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara mengalikan
nilai output dengan rasio nilai tambah bruto terhadap output. Rasio nilai
tambah bruto tersebut diperoleh dari hasil Survei Khusus Pendapatan
Regional. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan
cara deflasi dengan Indeks Harga Perdagangan Besar sebagai deflator.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 13


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2.6.2. Subsektor Hotel

Subsektor ini mencakup semua hotel dan akomodasi lainnya. Output


atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara mengalikan jumlah kamar
dengan tingkat penghunian kamar dikali rata-rata tarif kamar dikali 365 hari.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara
mengalikan nilai output dengan rasio nilai tambah. Data jumlah kamar,
jumlah tempat tidur dan tingkat penghunian kamar diperoleh dari Badan
Pusat Statistik Provinsi Papua Barat, sedangkan data mengenai rata-rata
output per kamar dan rasio biaya antara diperoleh dari Survei Khusus
Pendapatan Regional. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
dihitung dengan cara deflasi dengan indeks harga konsumen sebagai
deflator.

2.6.3. Subsektor Restoran

Subsektor ini mencakup kegiatan penyediaan dan penjualan makanan


dan minuman jadi. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperkirakan
dengan cara mengalikan jumlah tenaga kerja dengan rata-rata output per
tenaga kerja, kemudian dikurangkan dengan biaya antara. Nilai tambah bruto
atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi dengan IHK
makanan sebagai deflator.

2.7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan umum untuk barang dan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 14


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

penumpang baik melalui darat, laut, sungai/danau dan udara, termasuk jasa
penunjang angkutan dan komunikasi.

2.7.1. Subsektor Angkutan Jalan Raya

Subsektor ini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang


yang dilakukan oleh perusahaan angkutan umum baik bermotor ataupun
tidak bermotor seperti bis, truk, taksi, becak, dan sebagainya. Perkiraan
output atas dasar harga berlaku didasarkan pada jumlah armada angkutan
umum barang dan penumpang yang diperoleh dari Dinas Lalu Lintas
Angkutan Jalan Raya Provinsi dan Badan Pusat Statistik serta rata-rata
output dan rasio biaya antara menurut jenis kendaraan yang diperoleh dari
hasil Survei Khusus Pendapatan Regional. Penghitungan output atas dasar
harga konstan 2000 memakai cara ekstrapolasi dengan menggunakan indeks
produksi masing-masing jenis angkutan jalan raya.

2.7.2. Subsektor Angkutan Laut

Meliputi kegiatan pengangkutan penumpang dan barang dengan


menggunakan kapal yang diusahakan oleh perusahaan pelayaran milik
nasional baik yang melakukan trayek dalam negeri maupun internasional.
Output atas dasar harga berlaku diperkirakan dengan perkalian antara jumlah
barang dan penumpang yang diangkut dengan rata-rata tarif per unit muatan
angkut. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan
cara ekstrapolasi dengan menggunakan indeks gabungan tertimbang jumlah
barang yang diekspor/diimpor dan bongkar muat.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 15


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2.7.3. Subsektor Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan

Kegiatan yang dicakup meliputi kegiatan pengangkutan barang dan


penumpang dengan menggunakan kapal/angkutan sungai dan danau, serta
kegiatan penyeberangan dengan alat angkut kapal ferry. Metode yang
digunakan untuk mengestimasi nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku
adalah pendekatan produksi. Indikator produksi yang digunakan adalah
jumlah penumpang dan barang yang diangkut. Output atas dasar harga
berlaku diperoleh berdasarkan perkalian indikator produksi dengan indikator
harga yang terdiri dari angkutan sungai, danau, dan penyeberangan.
Untuk output atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan metode
ekstrapolasi, sebagai ekstrapolatornya adalah indeks rata-rata tertimbang
penumpang dan barang yang diangkut. Sedangkan NTB diperoleh
berdasarkan perkalian antara rasio NTB terhadap outputnya.

2.7.4. Subsektor Angkutan Udara

Mencakup kegiatan pengangkutan penumpang, barang, dan kegiatan


lain berkaitan dengan penerbangan yang dilakukan oleh perusahaan
penerbangan milik nasional dalam negeri, yang diangkut dengan tarif yang
ada dari bandara asal ke bandara tujuan. Data lalu lintas angkutan udara
diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat. Nilai tambah
bruto baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000
dihitung dengan cara yang sama seperti pada subsektor angkutan laut.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 16


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2.7.5. Subsektor Jasa Penunjang Angkutan

Pada dasarnya kegiatan yang dicakup di kegiatan jasa penunjang


angkutan adalah kegiatan pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang
bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan, seperti
terminal dan parkir, keagenan barang dan penumpang, ekspedisi, bongkar
muat, penyimpanan dan pergudangan serta jasa penunjang lainnya.
Output dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh
dengan pendekatan produksi. Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga
konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi dengan menggunakan indeks
masing-masing unit produksi.

2.7.6. Subsektor Komunikasi

Subsektor ini mencakup kegiatan jasa pos dan giro, telekomunikasi


serta jasa penunjang komunikasi.

a. Pos dan Giro serta Telekomunikasi

Meliputi kegiatan pemberian jasa pos dan giro serta telekomunikasi.


Adapun jasa pos dan giro seperti pengiriman surat, wesel, paket, jasa giro,
jasa tabungan, penjualan benda pos, dan sebagainya. Perkiraan NTB atas
dasar harga berlaku untuk jasa pos dan giro didasarkan pada data produksi
yang diperoleh dari PT. Pos dan perusahaan jasa kurir. Sementara
penghitungan NTB atas dasar harga konstan 2000 dengan cara ekstrapolasi
dengan indeks gabungan produksi Pos dan Giro sebagai ekstrapolatornya.
Sedangkan telekomunikasi mencakup kegiatan pemberian jasa dalam

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 17


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

hal pemakaian hubungan telepon, telegram, telegraf, dan teleks. Perkiraan


nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung berdasarkan data yang
diperoleh dari PT. Telkom dan perusahaan telekomunikasi swasta.
Penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dengan cara
deflasi dengan IHPB umum sebagai deflator.

b. Jasa Penunjang Komunikasi

Mencakup kegiatan wartel, warnet, penjualan voucher dan jasa


penunjang komunikasi lainnya. Output atas dasar harga berlaku diperoleh
dari perkalian antara indikator produksi masing-masing kegiatan dengan
output per indikatornya. Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga
berlaku diperoleh dengan mengalikan nilai output dengan rasio nilai tambah
bruto. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung secara
ekstrapolasi dengan indikator produksi masing-masing kegiatan sebagai
ekstrapolator.

2.8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Sektor ini meliputi subsektor bank, subsektor lembaga keuangan


bukan bank, subsektor sewa bangunan serta subsektor jasa perusahaan.

2.8.1. Subsektor Bank


Penghitungan nilai tambah bruto bank atas dasar harga berlaku
diperoleh dari Bank Indonesia. Untuk perkiraan nilai tambah bruto atas dasar
harga konstan 2000 diperoleh dengan cara deflasi dengan indeks harga
konsumen atau indeks harga implisit PDRB tanpa subsektor bank dan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 18


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

lembaga keuangan lainnya sebagai deflator.

2.8.2. Subsektor Lembaga Keuangan Bukan Bank

Mencakup kegiatan asuransi, koperasi, lembaga pembiayaan,


pegadaian, dan dana pensiun. Asuransi merupakan salah satu jenis lembaga
keuangan bukan bank yang usaha pokoknya menanggung resiko atas
terjadinya musibah/kecelakaan atas barang atau orang tersebut, yang
mengakibatkan hancur/rusaknya barang atau menyebabkan terjadinya
kematian.
Output atas dasar harga berlaku dari kegiatan asuransi merupakan
rekapitulasi dari output asuransi jiwa dan asuransi bukan jiwa. Nilai tambah
bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dari selisih antara output dan biaya
antara. Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
diperoleh dengan metode deflasi menggunakan Indeks Harga Konsumen
Umum sebagai deflator.
Lembaga pembiayaan mencakup sewa guna usaha, modal ventura,
anjak piutang, kartu kredit, dan pembiayaan konsumen. Output atas dasar
harga berlaku diperoleh dari Direktorat Perbankan dan Usaha Jasa
Pembiayaan (Dirjen Lembaga Keuangan, Departemen Keuangan).
Sedangkan output dan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi dan sebagai
ekstrapolatornya adalah jumlah perusahaan.
Output dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dari kegiatan
pegadaian diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan (Laporan
Rugi/Laba). Output dari pegadaian adalah berupa sewa modal, bea

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 19


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

administrasi, pendapatan dari penjualan emas, dan lain-lain. Sedangkan


output dan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh
dengan menggunakan metode ekstrapolasi dan sebagai ekstrapolatornya
adalah jumlah nasabah atau omset dari perusahaan pegadaian.
Output dan nilai tambah atas dasar harga berlaku dari kegiatan dana
pensiun diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan (Necara
Rugi/Laba). Sedangkan output dan nilai tambah atas dasar harga konstan
2000 diperoleh dengan menggunakan cara deflasi/ekstrapolasi dan sebagai
deflator/ekstrapolatornya adalah IHK Umum atau jumlah peserta.

2.8.3. Subsektor Jasa Penunjang Keuangan

Mencakup kegiatan pedagang valuta asing, pasar modal, dan jasa


penunjangnya seperti: underwriter (penjamin emisi), Lembaga Kliring
Penyelesaian dan Penyimpanan (LKPP), manajer investasi, penasehat
investasi, reksa dana, biro administrasi efek, tempat penitipan harta
(custodian), dan sejenisnya. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku
diperoleh dengan mengalikan nilai output dengan rasio nilai tambah bruto.
Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung
dengan cara deflasi menggunakan indeks harga saham gabungan untuk
kegiatan bursa dan indeks harga konsumen untuk kegiatan lainnya.

2.8.4. Subsektor Sewa Bangunan

Subsektor ini meliputi usaha persewaan bangunan dan tanah, baik


yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bangunan bukan tempat

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 20


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

tinggal seperti perkantoran, pertokoan serta usaha persewaan tanah. Output


atas dasar harga berlaku untuk persewaan bangunan tempat tinggal diperoleh
dari perkalian antara jumlah penduduk pertengahan tahun dengan
pengeluaran konsumsi rumahtangga perkapita untuk sewa rumah, kontrak
rumah, sewa beli rumah dinas, perkiraan sewa rumah milik sendiri, pajak,
dan pemeliharaan rumah. Sedangkan output atas dasar harga berlaku usaha
persewaan bangunan bukan tempat tinggal diperoleh dari perkalian antara
luas bangunan yang disewakan dengan rata-rata tarif sewa per meter persegi.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil
perkalian antara rasio nilai tambah bruto dengan outputnya. Sedangkan nilai
tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan metode deflasi
menggunakan Indeks Harga Konsumen biaya tempat tinggal.

2.8.5. Subsektor Jasa Perusahaan

Mencakup kegiatan pemberian jasa hukum (advokat dan notaris), jasa


akuntansi dan pembukuan, jasa pengolahan dan penyajian data, jasa
bangunan/arsitek dan teknik, jasa periklanan dan riset pemasaran, jasa
persewaan mesin dan peralatan, jasa fotocopy, dan jasa perusahaan lainnya.
Output atas dasar harga berlaku untuk jasa perusahaan diperoleh dari
perkalian antara indikator produksi (jumlah perusahaan atau jumlah tenaga
kerja) dengan indikator harga (rata-rata output per perusahaan atau rata-rata
output per tenaga kerja). Selanjutnya nilai tambah bruto atas dasar harga
berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio nilai tambah bruto dengan
outputnya. Sedangkan output dan nilai tambah atas dasar harga konstan 2000
diperoleh dengan cara ekstrapolasi dengan jumlah tenaga kerja sebagai

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 21


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

ekstrapolatornya.

2.9. Sektor Jasa-jasa

Mencakup subsektor pemerintahan umum, subsektor jasa sosial


kemasyarakatan, subsektor jasa hiburan dan rekreasi serta jasa perorangan
dan rumahtangga.

2.9.1. Subsektor Pemerintahan Umum

Cakupan subsektor pemerintahan umum dalam penghitungan tahun


dasar 2000, terdiri dari (1) administrasi, pemerintahan dan pertahanan dan
(2) jasa pemerintahan lainnya (pelayanan/jasa yang diberikan oleh badan-
badan di bawah departemen-departemen). Nilai tambah bruto atas dasar
harga berlaku untuk subsektor pemerintahan umum didasarkan pada
pengeluaran pemerintah untuk belanja pegawai dan perkiraan penyusutan.
Belanja pegawai untuk jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa kemasyarakatan,
jasa hiburan dan rekreasi yang tercakup dalam pengeluaran pemerintah pusat
dan pemerintah daerah, baik rutin maupun pembangunan dipisahkan dari
kegiatan administrasi, pemerintahan dan pertahanan, kemudian dimasukkan
ke dalam kegiatan jasa pemerintahan lainnya.
NTB atas dasar harga berlaku untuk kegiatan administrasi,
pemerintahan dan pertahanan diperoleh dari selisih NTB atas dasar harga
berlaku subsektor pemerintahan umum dengan NTB atas dasar harga berlaku
kegiatan jasa pemerintahan lainnya. Nilai tambah bruto atas dasar harga
konstan 2000 untuk jasa pemerintahan lainnya dihitung dengan cara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 22


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

ekstrapolasi menggunakan indeks tertimbang jumlah pegawai negeri (guru,


tenaga medis, dan lain-lain) menurut golongan kepangkatan. Sedangkan
NTB atas dasar harga konstan 2000 untuk kegiatan administrasi,
pemerintahan dan pertahanan merupakan selisih antara NTB atas dasar harga
konstan 2000 subsektor pemerintahan umum dengan NTB atas dasar harga
konstan 2000 kegiatan jasa pemerintahan lainnya.

2.9.2. Subsektor Jasa Sosial Kemasyarakatan

Meliputi jasa pendidikan, jasa kesehatan serta jasa kemasyarakatan


lainnya, seperti jasa penelitian, panti asuhan, panti werdha, yayasan
pemeliharaan anak cacat, palang merah, rumah ibadah, dan sebagainya,
terbatas yang dikelola oleh swasta saja. Kegiatan-kegiatan sejenis yang
dikelola oleh pemerintah termasuk dalam subsektor pemerintahan umum
yaitu kegiatan jasa pemerintahan lainnya. Output atas dasar harga berlaku
diperoleh dari hasil perkalian rata-rata output dengan jumlah murid menurut
tingkatan, jumlah tempat tidur rumah sakit, jumlah dokter, jumlah anak yang
diasuh, jumlah orang tua yang dirawat, dan sebagainya. Nilai tambah bruto
atas dasar harga berlaku diperoleh dari perkalian rasio nilai tambah bruto
terhadap output. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung
dengan cara ekstrapolasi dengan perkembangan masing-masing indikator
produksi sebagai ekstrapolatornya.

2.9.3. Subsektor Jasa Hiburan dan Rekreasi

Meliputi kegiatan produksi dan distribusi film, reproduksi film video,

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 23


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

jasa bioskop dan panggung hiburan, perpustakaan, museum, gedung


olahraga, kolam renang, klub malam, taman hiburan, lapangan golf,
lapangan tenis, billiard, klub olahraga, kebugaran/fitness, artis film, artis
panggung, night club, diskotik, karaoke, video klip, studio televisi, stasiun
pemancar radio, kolam pemancingan, panti pijat, dan sebagainya.
Output atas dasar harga berlaku untuk subsektor jasa hiburan dan
rekreasi diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan produksi, yaitu
perkalian antara jumlah perusahaan atau jumlah tenaga kerja masing-masing
perusahaan jasa hiburan dan rekreasi tersebut dengan rata-rata outputnya.
Sedangkan output atas dasar harga konstan menggunakan metode
deflasi/ekstrapolasi dan sebagai deflator/ekstrapolatornya adalah IHK
hiburan dan rekreasi/indeks indikator produksi yang sesuai. Selanjutnya nilai
tambah bruto diperoleh dari hasil perkalian output dengan rasio nilai tambah
bruto.

2.9.4. Subsektor Jasa Perorangan dan Rumahtangga

Meliputi segala jenis kegiatan jasa yang pada umumnya melayani


perorangan dan rumahtangga, terdiri dari jasa perbengkelan/reparasi, jasa
pembantu rumahtangga dan jasa perorangan lainnya seperti tukang binatu
(laundry), tukang cukur, tukang jahit, tukang semir sepatu, dan sejenisnya.
Output atas dasar harga berlaku untuk jasa perbengkelan serta jasa
perorangan dan rumahtangga lainnya diperoleh dari hasil perkalian antara
rata-rata output per tenaga kerja dengan jumlah tenaga kerja. Sedangkan
output atas dasar harga berlaku untuk jasa pembantu rumahtangga, pengasuh

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 24


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

bayi dan sejenisnya diperoleh dari perkalian antara pengeluaran per kapita
untuk pembantu rumahtangga dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.
Selanjutnya nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dari
hasil perkalian antara output dengan rasio nilai tambah bruto terhadap
output. Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
diperoleh dengan cara ekstrapolasi menggunakan indeks indikator produksi
masing-masing kegiatan.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 25


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

BAB III
TINJAUAN EKONOMI PAPUA BARAT

3.1. PDRB Provinsi Papua Barat dengan Migas

Perekonomian Papua Barat selama tahun 2008 menunjukkan


pertumbuhan yang positif apabila dibandingkan dengan tahun 2007. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa sektor yang mengalami percepatan pertumbuhan.
Pada tahun 2008, besaran nilai PDRB atas dasar harga berlaku yang tercipta
adalah sebesar 12,47 triliun rupiah, mengalami peningkatan dari tahun 2007
yang sebesar 10,37 triliun rupiah.

3.1.1. Pertumbuhan Ekonomi

Dalam kurun waktu tahun 2004-2008 kondisi perekonomian Papua


Barat dapat dikatakan relatif stabil, walaupun pada tahun 2005 dan 2006 laju
pertumbuhannya menunjukkan perlambatan. Tetapi laju pertumbuhan
tersebut mulai mengalami percepatan, sehingga perekonomian Papua Barat
yang diukur dengan menggunakan PDRB atas dasar harga konstan 2000
mencatat pertumbuhan sebesar 6,95 persen pada tahun 2007 menjadi sebesar
7,33 persen pada akhir tahun 2008.
Pada tahun 2008, pertumbuhan sektoral tertinggi dicapai oleh sektor
keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan yaitu sebesar 26,92 persen.
Pertumbuhan tertinggi selanjutnya dicapai oleh sektor bangunan yaitu 15,02
persen, dan sektor jasa-jasa sebesar 9,58 persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 26


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Tabel 3.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha Tahun


2004-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Pertanian 3,91 2,05 3,29 5,22 6,34

2. Pertambangan dan
2,54 5,34 - 1,77 0,51 1,05
Penggalian

3. Industri
21,77 8,36 0,52 8,22 7,22
Pengolahan

4. Listrik dan
8,83 9,65 11,25 9,29 8,16
Air Bersih

5. Bangunan 6,26 12,33 13,06 12,97 15,02

6. Perdagangan, Hotel
7,03 8,97 10,49 9,69 8,85
dan Restoran

7. Pengangkutan dan
10,13 12,75 14,84 10,89 7,55
Komunikasi

8. Keuangan, Persewaan
30,34 7,03 - 1,80 24,91 26,92
dan Jasa Perusahaan

9. Jasa-jasa 7,61 13,19 9,40 9,19 9,58

PDRB 7,39 6,80 4,55 6,95 7,33

Sementara itu, sektor lainnya masing-masing menunjukkan


pertumbuhan di bawah sembilan persen, yaitu sebagai berikut: sektor
perdagangan, hotel, dan restoran tumbuh 8,85 persen, sektor listrik dan air
bersih tumbuh 8,16 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh
7,55 persen, sektor industri pengolahan tumbuh 7,22 persen, dan sektor

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 27


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

pertanian tumbuh 6,34 persen. Sektor pertambangan dan penggalian yang


mengalami pertumbuhan sebesar -1,77 persen pada tahun 2006, dua tahun
kemudian menunjukkan kinerja yang lebih baik dengan pertumbuhan
masing-masing sebesar 0,51 persen dan 1,05 persen. Pertumbuhan positif di
sektor pertambangan dan penggalian tersebut didorong oleh pertumbuhan
subsektor penggalian masing-masing sebesar 11,94 persen pada tahun 2007
dan 11,90 persen pada tahun 2008 dan pertumbuhan subsektor pertambangan
migas masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,55 persen untuk tahun 2007
dan tahun 2008 (Lampiran 1.8.).

3.1.2. Struktur Ekonomi

Sebagaimana telah diketahui bahwa PDRB Papua Barat merupakan


penjumlahan dari nilai tambah bruto yang telah diciptakan oleh setiap sektor
ekonomi yang terdapat di Papua Barat. Dengan kata lain sektor dengan nilai
tambah bruto terbesar dapat dikatakan sebagai sektor dominan di Papua
Barat.
Dalam rentang lima tahun terakhir sektor-sektor utama yang
mendominasi penciptaan PDRB di Papua Barat adalah sektor pertanian,
sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian. Ketiga
sektor tersebut memberikan kontribusi lebih dari 60 persen dari PDRB
Papua Barat.
Sektor pertanian merupakan sektor dengan share terbesar terhadap
penciptaan PDRB Papua Barat. Dalam lima tahun terakhir share sektor ini
berada pada kisaran 24 sampai 29 persen, dengan kecenderungan menurun
pada setiap tahunnya. Pada tahun 2004 kontribusinya sebesar 29,45 persen

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 28


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

kemudian pada tahun-tahun berikutnya mengecil menjadi 27,20 persen;


27,15 persen; 26,64 persen; dan terakhir sebesar 24,91 persen pada tahun
2008.

Gambar 3.1. Peranan Sektor Dominan terhadap Penciptaan PDRB Atas


Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2008 (persen)

33.15 33.52 36.02 37.28 37.54

66.85 66.48 63.98 62.72 62.46

2004 2005 2006 2007 2008

Sektor Pertanian, Sektor Industri Pengolahan dan Sektor


Pertambangan dan Penggalian
Sektor Lainnya

Penurunan kontribusi juga terjadi pada sektor pertambangan dan


penggalian selama tiga tahun terakhir. Hal ini terlihat dari share sektor
pertambangan dan penggalian pada tahun 2005 sebesar 19,31 persen menjadi
sebesar 17,36 persen pada tahun 2006, kemudian turun menjadi 15,98 persen
pada tahun 2007, dan sebesar 14,81 persen pada tahun 2008. Namun
demikian, penurunan kedua sektor tersebut merupakan dampak positif dari
peningkatan kontribusi sektor lainnya.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 29


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan restoran mengalami


peningkatan dari 9,80 persen pada tahun 2004 menjadi 10,35 persen pada
tahun 2008. Sama halnya dengan sektor pengangkutan dan komunikasi yang
juga mengalami peningkatan kontribusi dari 6,28 persen pada tahun 2004
menjadi 6,95 persen pada tahun 2008.

Tabel 3.2. Peranan Sektor Ekonomi terhadap Penciptaan PDRB Atas Dasar
Harga Berlaku Tahun 2004-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Pertanian 29,45 27,20 27,15 26,64 24,91
2. Pertambangan dan
18,50 19,31 17,36 15,98 14,81
Penggalian
3. Industri
18,90 19,97 19,47 20,10 22,74
Pengolahan
4. Listrik dan
0,47 0,50 0,54 0,56 0,53
Air Bersih
5. Bangunan 6,67 7,15 8,00 8,61 9,23
6. Perdagangan, Hotel
9,80 9,72 10,35 10,58 10,35
dan Restoran
7. Pengangkutan dan
6,28 6,42 7,22 7,44 6,95
Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan
1,91 1,81 1,69 2,07 2,42
dan Jasa Perusahaan
9. Jasa-jasa 8,02 7,93 8,21 8,03 8,06
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sementara itu, sektor bangunan mengalami peningkatan kontribusi


yang cukup signifikan dari 6,67 persen pada tahun 2004 menjadi 9,23 persen

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 30


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

pada tahun 2008. Sedangkan kontribusi sektor jasa-jasa terlihat berfluktuatif


dalam lima tahun terakhir, yaitu berkisar antara 7,93 persen hingga 8,21
persen. Dua sektor lainnya memberikan share paling kecil terhadap
penciptaan PDRB Papua Barat, yaitu sektor keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan serta sektor listrik dan air bersih dengan share pada tahun 2008
masing-masing sebesar 2,42 persen dan 0,53 persen.

3.1.3. Perkembangan PDRB Per Kapita

PDRB per kapita adalah besaran kasar yang menunjukkan tingkat


kesejahteraan penduduk di suatu wilayah pada suatu waktu tertentu. PDRB
per kapita diperoleh dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk
pertengahan tahun di wilayah tersebut.

Tabel 3.3. PDRB Per Kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 (rupiah)

Atas Dasar Atas Dasar


Tahun
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
(1) (2) (3)

2004 10 236 301 7 734 517


2005 11 499 073 7 711 787
2006 12 741 827 7 903 730

2007 x 14 483 032 8 288 162

2008 xx 17 085 281 8 725 624

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 31


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku pada tahun
2008 meningkat 17,97 persen dari tahun 2007, yaitu dari 14,48 juta rupiah
menjadi 17,08 juta rupiah. PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2000
menunjukkan nilai PDRB per kapita secara riil. Pada tahun 2008 PDRB per
kapita Papua Barat atas dasar harga konstan 2000 mencapai 8,72 juta rupiah
atau meningkat 5,28 persen dari tahun 2007 (8,29 juta rupiah).

3.1.4. Kontribusi Sektor terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh gerak laju


pertumbuhan sektor-sektor ekonomi terutama sektor-sektor yang memiliki
peranan dominan, sedikit saja pergeseran dari sektor yang memberikan
kontribusi terbesar akan sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan
ekonomi secara keseluruhan.
Untuk mengetahui besarnya sumbangan masing-masing sektor
ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, maka analisis
yang digunakan adalah analisis share yang diperoleh dengan cara
mengalikan distribusi persentase atas dasar harga konstan setahun
sebelumnya (tn-1) dengan laju pertumbuhan ekonomi atas dasar harga
konstan masing-masing sektor pada tahun berjalan (tn).
Berdasarkan penghitungan share masing-masing sektor ekonomi
terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat tahun 2008, dari tabel
dapat dilihat sumbangan terbesar terhadap pembentukan pertumbuhan
ekonomi Provinsi Papua Barat, disumbangkan oleh sektor pertanian.
Sementara itu, sektor bangunan menempati urutan kedua dengan sumbangan
pertumbuhan sebesar 1,26 persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 32


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Tabel 3.4. Analisis Share terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut


Lapangan Usaha Tahun 2008 (persen)

Share terhadap
Laju
Distribusi Persentase Laju
Pertumbuhan
Lapangan Usaha PDRB ADHK 2000 Pertumbuhan
Ekonomi Tahun
pada Tahun 2007 x Ekonomi Tahun
2008 xx
2008 xx
(1) (2) (3) (4)

1. Pertanian 28,80 6,34 1,83

2. Pertambangan dan
18,32 1,05 0,19
Penggalian

3. Industri
13,71 7,22 0,99
Pengolahan

4. Listrik dan
0,45 8,16 0,04
Air Bersih

5. Bangunan 8,39 15,02 1,26

6. Perdagangan, Hotel
10,38 8,85 0,92
dan Restoran

7. Pengangkutan dan
7,42 7,55 0,56
Komunikasi

8. Keuangan, Persewaan
1,99 26,92 0,54
dan Jasa Perusahaan

9. Jasa-jasa 10,53 9,58 1,01

PDRB 100,00 7,33 7,33

Urutan ketiga diduduki oleh sektor jasa-jasa dengan besarnya


sumbangan 1,01 persen. Sedangkan untuk sektor keuangan, persewaan, dan
jasa perusahaan dengan laju pertumbuhan terbesar pada tahun 2008 hanya
menempati urutan ketujuh dengan share sebesar 0,54 persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 33


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

3.2. PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas

Secara nasional hasil migas yang dihasilkan oleh daerah-daerah di


Indonesia sangat berpengaruh terhadap nilai PDB, sehingga untuk melihat
keterbandingan nilai PDRB dengan nilai PDB atau dengan daerah lain maka
dilakukan analisa PDRB tanpa migas. Analisa PDRB tanpa migas dilakukan
dengan mengeliminir subsektor pertambangan minyak dan gas bumi dan
subsektor industri minyak dan gas bumi.
Dalam lima tahun terakhir besarnya sumbangan migas terhadap
pembentukan perekonomian Provinsi Papua Barat melebihi 28 persen,
sehingga sangat mempengaruhi perekonomian Provinsi Papua Barat secara
menyeluruh. Hal ini menyebabkan selisih antara PDRB Provinsi Papua Barat
tanpa migas dengan PDRB Provinsi Papua Barat dengan migas berdasarkan
harga berlaku mencapai 1,91 triliun rupiah hingga 3,74 triliun rupiah dalam
kurun waktu lima tahun terakhir.
Nilai PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas pada tahun 2004 yang
besarnya 4,67 triliun rupiah telah berkembang 1,87 kali lipat hingga tahun
2008 menjadi 8,73 triliun rupiah. Bila dilihat dari perkembangan riilnya atau
atas dasar harga konstan 2000 maka PDRB Papua Barat hanya berkembang
1,35 kali lipat dari tahun 2004. Adapun nilai riil PDRB Papua Barat tanpa
migas sebesar 4,96 triliun rupiah pada tahun 2008, sedangkan pada tahun
2004 sebesar 3,66 triliun rupiah.

3.2.1. Pertumbuhan Ekonomi (Tanpa Migas)

Pertumbuhan perekonomian Provinsi Papua Barat tanpa migas tidak


selalu seirama dengan pertumbuhan perekonomian Provinsi Papua Barat

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 34


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

dengan migas, pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat
tanpa migas sebesar 8,68 persen lebih besar dibandingkan pertumbuhan
ekonomi Provinsi Papua Barat dengan migas yaitu sebesar 7,33 persen.

Tabel 3.5. Laju Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas menurut Lapangan


Usaha Tahun 2004-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Pertanian 3,91 2,05 3,29 5,22 6,34
2. Pertambangan dan
10,66 10,21 13,35 11,94 11,90
Penggalian
3. Industri
5,60 5,57 6,16 8,70 5,29
Pengolahan
4. Listrik dan
8,83 9,65 11,25 9,29 8,16
Air Bersih
5. Bangunan 6,26 12,33 13,06 12,97 15,02
6. Perdagangan, Hotel
7,03 8,97 10,49 9,69 8,85
dan Restoran
7. Pengangkutan dan
10,13 12,75 14,84 10,89 7,55
Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan
30,34 7,03 - 1,80 24,91 26,92
dan Jasa Perusahaan
9. Jasa-jasa 7,61 13,19 9,40 9,19 9,58
PDRB tanpa Migas 6,29 6,83 7,36 8,61 8,68

Kondisi tersebut dikarenakan sumbangan migas terhadap


pembentukan perekonomian Provinsi Papua Barat yang lebih dari 25 persen
sehingga gerak laju pertumbuhannya sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan perekonomian Provinsi Papua Barat secara total.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 35


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Selama kurun waktu tahun 2004-2008 kondisi perekonomian Papua


Barat tanpa migas cenderung mengalami percepatan pertumbuhan, walaupun
peningkatan laju pertumbuhannya belum signifikan pada setiap tahunnya.
Perekonomian Papua Barat tanpa migas yang diukur dengan menggunakan
PDRB atas dasar harga konstan 2000 mencatat pertumbuhan sebesar 8,61
persen pada tahun 2007 dan meningkat menjadi sebesar 8,68 persen pada
akhir tahun 2008. Setelah subsektor pertambangan migas dieliminir, maka
terlihat bahwa selama lima tahun terakhir sektor pertambangan dan
penggalian memiliki laju pertumbuhan yang jauh lebih tinggi yaitu berkisar
antara 10,21 persen hingga 13,35 persen.

3.2.2. Struktur Ekonomi (Tanpa Migas)

Dengan dieliminirnya subsektor pertambangan migas dan subsektor


industri migas, kontribusi yang diberikan terhadap struktur perekonomian
Provinsi Papua Barat tanpa migas masih didominasi oleh sektor pertanian
sebesar 35,57 persen. Walaupun sejak tahun 2000, peranan sektor pertanian
terus mengalami penurunan, hal ini tidak menjadikan sektor ini tidak mampu
untuk memberikan sumbangan yang besar.
Besarnya sumbangan dari sektor pertanian ini didominasi oleh
besarnya sumbangan dari subsektor perikanan dan subsektor kehutanan yang
masing-masing sebesar 13,35 persen dan 10,65 persen terhadap total PDRB
(tanpa migas) pada tahun 2008. Setelah subsektor pertambangan migas dan
subsektor industri migas ditiadakan, terjadi perubahan pada urutan posisi
kesembilan sektor ekonomi. Hal ini disebabkan sumbangan migas yang
cukup besar sehingga mempengaruhi struktur ekonomi Provinsi Papua Barat.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 36


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Tabel 3.6. Peranan Sektor Ekonomi terhadap Penciptaan PDRB Tanpa Migas
Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


1. Pertanian 41,48 39,65 38,14 37,07 35,57
2. Pertambangan dan
1,01 1,04 1,06 1,07 1,21
Penggalian
3. Industri
10,83 10,43 10,20 9,98 9,63
Pengolahan
4. Listrik dan
0,66 0,73 0,75 0,77 0,76
Air Bersih
5. Bangunan 9,40 10,42 11,24 11,99 13,17
6. Perdagangan, Hotel
13,80 14,17 14,54 14,72 14,77
dan Restoran
7. Pengangkutan dan
8,85 9,36 10,15 10,35 9,92
Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan
2,69 2,64 2,38 2,88 3,46
dan Jasa Perusahaan
9. Jasa-jasa 11,29 11,55 11,54 11,17 11,51

PDRB tanpa Migas 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Dalam rentang lima tahun terakhir dua sektor utama yang


mendominasi penciptaan PDRB tanpa migas di Papua Barat adalah sektor
pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Kedua sektor tersebut
memberikan kontribusi sekitar 50-an persen dari PDRB (tanpa migas) Papua
Barat.
Setelah subsektor industri migas dieliminir, kondisi yang berbeda
terlihat pada share sektor industri pengolahan yang mengalami penurunan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 37


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

selama lima tahun terakhir dan hanya memberikan share berkisar antara 9,63
persen hingga 10,83 persen. Hal ini menandakan bahwa subsektor industri
migas mempunyai peranan yang cukup signifikan terhadap penciptaan
PDRB Papua Barat secara total.

Gambar 3.2. Peranan Sektor Dominan terhadap Penciptaan PDRB Tanpa


Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2008 (persen)

44.72 46.18 47.32 48.21 49.66

55.28 53.82 52.68 51.79 50.34

2004 2005 2006 2007 2008

Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran


Sektor Lainnya

3.2.3. Perkembangan PDRB Per Kapita (Tanpa Migas)

Pada tahun 2008 nilai PDRB per kapita tanpa migas telah mencapai
11,97 juta rupiah. Setelah pada tahun sebelumnya PDRB per kapita Provinsi

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 38


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Papua Barat tanpa migas meningkat, kemudian pada tahun 2008 besarannya
juga semakin meningkat dengan pertumbuhan sebesar 14,98 persen.
Perkembangan nilai PDRB per kapita tanpa migas Provinsi Papua Barat dari
tahun 2004 hingga tahun 2008 telah mengalami peningkatan sebesar 1,65
kali lipat dan selama kurun waktu tersebut pertumbuhannya selalu positif
walaupun berfluktuatif.

Tabel 3.7. PDRB Per Kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2004-
2008 (rupiah)

Atas Dasar Atas Dasar


Tahun
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
(1) (2) (3)

2004 7 267 914 5 705 530


2005 7 886 918 5 690 016
2006 9 069 828 5 988 127
2007 x 10 408 120 6 377 196
2008 xx 11 967 624 6 798 009

3.2.4. Kontribusi Sektor (Tanpa Migas) terhadap Pertumbuhan


Ekonomi

Sama halnya dengan penghitungan PDRB dengan migas, maka


sumbangan sektor terhadap laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat
tanpa migas juga perlu diketahui. Rumus yang digunakan sama dengan
penghitungan dengan migas yaitu dengan mengalikan distribusi persentase
masing-masing sektor atas dasar harga konstan setahun sebelumnya (tn-1)
dengan laju pertumbuhan atas dasar harga konstan dari masing-masing

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 39


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

sektor pada tahun berjalan (tn), maka akan diketahui seberapa besar share
masing-masing sektor terhadap pertumbuhan ekonomi tanpa migas secara
agregat yang dicapai pada tahun berjalan.

Tabel 3.8. Analisis Share terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas
menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 (persen)

Share terhadap
Laju
Distribusi Persentase Laju
Pertumbuhan
Lapangan Usaha PDRB ADHK 2000 Pertumbuhan
Ekonomi Tahun
pada Tahun 2007 x Ekonomi Tahun
2008 xx
2008 xx
(1) (2) (3) (4)
1. Pertanian 37,43 6,34 2.37
2. Pertambangan dan
1,05 11,90 0.12
Penggalian
3. Industri
10,61 5,29 0.56
Pengolahan
4. Listrik dan
0,59 8,16 0.05
Air Bersih
5. Bangunan 10,91 15,02 1.64
6. Perdagangan, Hotel
13,50 8,85 1.19
dan Restoran
7. Pengangkutan dan
9,64 7,55 0.73
Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan
2,59 26,92 0.70
dan Jasa Perusahaan
9. Jasa-jasa 13,68 9,58 1.31

PDRB tanpa Migas 100,00 8,68 8.68

Dengan dikeluarkannya migas, pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua


Barat tumbuh 8,68 persen pada tahun 2008. Dari pertumbuhan tanpa migas
tersebut sektor yang menyumbangkan pertumbuhan terbesar pada tahun
PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 40
Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

2008 adalah sektor pertanian sebesar 2,37 persen. Selanjutnya di urutan


kedua adalah sektor bangunan sebesar 1,64 persen. Urutan ketiga dan
keempat diduduki oleh sektor jasa-jasa serta sektor perdagangan, hotel, dan
restoran dengan sumbangan masing-masing sebesar 1,31 persen dan 1,19
persen. Sedangkan kelima sektor lainnya hanya memberikan sumbangan di
bawah satu persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 41


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

BAB IV
PERKEMBANGAN EKONOMI
MENURUT KELOMPOK SEKTOR

Pengelompokan PDRB menurut kelompok sektor yaitu kelompok


sektor primer, kelompok sektor sekunder, dan kelompok sektor tersier
didasarkan atas output maupun input menurut asal terjadinya proses produksi
masing-masing produsen. Suatu unit dikelompokkan atas kelompok sektor
primer apabila output yang dihasilkan merupakan proses tingkat awal
(dasar), sektor yang masuk dalam kategori ini adalah sektor pertanian serta
sektor pertambangan dan penggalian.
Kelompok sektor sekunder adalah unit-unit kegiatan ekonomi yang
biaya produksinya (inputnya) sebagian besar berasal dari kelompok sektor
primer, sektor-sektor yang termasuk kelompok ini adalah sektor industri
pengolahan, sektor listrik dan air bersih, serta sektor bangunan. Sedangkan
sisanya termasuk ke dalam kelompok sektor tersier yaitu terdiri dari sektor
perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi,
sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa.

4.1. PDRB Provinsi Papua Barat dengan Migas

Berdasarkan kelompok sektor, nilai tambah terbesar pada tahun 2008


terbentuk pada kelompok sektor primer yaitu sebesar Rp 4.953.712,83 juta.
Sementara di tempat kedua adalah kelompok sektor sekunder yang
memberikan nilai tambah sebesar Rp 4.052.859,38 juta dan berikutnya

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 42


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

adalah kelompok sektor tersier dengan nilai tambah sebesar Rp 3.465.033,55


juta.
PDRB menurut kelompok sektor baik untuk kelompok sektor primer,
kelompok sektor sekunder maupun kelompok sektor tersier dari tahun 2004
sampai dengan tahun 2008 mengalami perkembangan yang cukup berarti.
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2004 pada kelompok sektor primer
sebesar Rp 3.153.903,43 juta berkembang menjadi Rp 4.953.712,83 juta
pada tahun 2008. Sedangkan untuk kelompok sektor sekunder sebesar
Rp 1.712.190,26 juta pada tahun 2004 telah berkembang menjadi
Rp 4.052.859,38 juta pada tahun 2008 dan untuk kelompok sektor tersier
pada tahun 2004 adalah sebesar Rp 1.710.443,07 juta menjadi
Rp 3.465.033,55 juta pada tahun 2008.

Tabel 4.1. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Kelompok Sektor
Tahun 2004-2008 (juta rupiah)

Tahun Primer Sekunder Tersier Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

2004 3 153 903,43 1 712 190,26 1 710 443,07 6 576 536,76

2005 3 680 693,35 2 185 461,96 2 047 621,48 7 913 776,80

2006 3 981 702,06 2 505 637,53 2 458 199,92 8 945 539,50

2007 x 4 419 290,97 3 035 463,77 2 915 081,36 10 369 836,11

2008 xx 4 953 712,83 4 052 859,38 3 465 033,55 12 471 605,76

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 43


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Perkembangan PDRB menurut kelompok sektor atas dasar harga


berlaku dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, kelompok sektor primer
berkembang sebanyak 1,57 kali lipat, kelompok sektor sekunder
berkembang sebanyak 2,37 kali lipat, dan untuk kelompok sektor tersier
meningkat sebanyak 2,03 kali lipat.
Dari ketiga kelompok sektor tersebut yang paling cepat
perkembangannya adalah kelompok sektor sekunder, kemudian disusul oleh
kelompok sektor tersier. Sedangkan kelompok sektor primer
perkembangannya lebih lambat dibandingkan dengan yang lain.

Tabel 4.2. PDRB Atas Dasar Harga Kostan 2000 menurut Kelompok Sektor
Tahun 2004-2008 (juta rupiah)

Tahun Primer Sekunder Tersier Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

2004 2 586 275,51 1 057 540,03 1 325 394,79 4 969 210,33

2005 2 673 733,41 1 159 987,11 1 473 608,60 5 307 329,12

2006 2 705 927,57 1 217 305,59 1 625 667,34 5 548 900,50

2007 x 2 796 214,23 1 338 568,45 1 799 533,13 5 934 315,82

2008 xx 2 916 036,12 1 474 346,66 1 978 991,44 6 369 374,22

Untuk PDRB menurut kelompok sektor atas dasar harga konstan


2000, kelompok sektor primer pada tahun 2004 sebesar
Rp 2.586.275,51 juta sedangkan pada tahun 2008 angka tersebut

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 44


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

berkembang menjadi Rp 2.916.036,12 juta. Kelompok sektor sekunder pada


tahun 2004 sebesar Rp 1.057.540,03 juta meningkat menjadi
Rp 1.474.346,66 juta pada tahun 2008 dan kelompok sektor tersier
berkembang dari Rp 1.325.394,79 juta pada tahun 2004 menjadi sebesar
Rp 1.978.991,44 juta pada tahun 2008.
Perkembangan PDRB menurut kelompok sektor atas dasar harga
konstan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, kelompok sektor primer
berkembang sebanyak 1,13 kali lipat, kelompok sektor sekunder
berkembang sebanyak 1,39 kali lipat, dan untuk kelompok sektor tersier
meningkat sebanyak 1,49 kali lipat.

Tabel 4.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut Kelompok Sektor Tahun


2004-2008 (persen)

Kelompok Sektor 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Primer 3,35 3,38 1,20 3,34 4,29

Sekunder 15,95 9,69 4,94 9,96 10,14

Tersier 9,28 11,18 10,32 10,70 9,97

PDRB 7,39 6,80 4,55 6,95 7,33

Jika melihat laju pertumbuhan riil yang diperoleh dari PDRB


kelompok sektor atas dasar harga konstan 2000 maka tingkat pertumbuhan
terbesar pada tahun 2008 terjadi pada kelompok sektor sekunder yaitu

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 45


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

sebesar 10,14 persen, kemudian disusul oleh kelompok sektor tersier sebesar
9,97 persen, dan terakhir adalah kelompok sektor primer dengan
pertumbuhan riil sebesar 4,29 persen.

Tabel 4.4. Peranan Kelompok Sektor Ekonomi terhadap Penciptaan PDRB


Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2008 (persen)

Kelompok Sektor 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Primer 47,96 46,51 44,51 42,62 39,72

Sekunder 26,03 27,62 28,01 29,27 32,50

Tersier 26,01 25,87 27,48 28,11 27,78

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kelompok sektor primer


menduduki urutan pertama baik pada tahun 2004 hingga tahun 2008, dengan
kontribusi pada tahun 2007 sebesar 42,62 persen terhadap total PDRB dan
pada tahun 2008 sebesar 39,72 persen atau bergeser turun peranannya.
Urutan kedua ditempati kelompok sektor sekunder dengan kontribusi pada
tahun 2007 sebesar 29,27 persen terhadap total PDRB dan pada tahun 2008
sebesar 32,50 persen atau bergeser naik peranannya. Urutan ketiga pada
tahun 2008 ini adalah kelompok sektor tersier yang memberikan kontribusi
sebesar 27,78 persen mengalami penurunan dari tahun 2007 yang sebesar
28,11 persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 46


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Gambar 4.1. Peranan Kelompok Sektor terhadap Penciptaan PDRB Atas


Dasar Harga Berlaku Tahun 2006-2008 (persen)

60.00
44.51
42.62 39.72
32.50
40.00 28.01 29.27
27.48 28.11 27.78

20.00

0.00
2006 2007 2008
Kelompok Sektor Primer  Kelompok Sektor Sekunder
Kelompok Sektor Tersier

Dari ketiga kelompok sektor tersebut, hanya kelompok sektor primer


yang selalu mengalami penurunan peranan. Hal ini menandakan bahwa
mulai adanya pergeseran kegiatan ekonomi dari kelompok sektor primer ke
kelompok sektor sekunder dan kelompok sektor tersier. Sementara kelompok
sektor tersier kembali mengalami penurunan peranan pada tahun 2008
menjadi sebesar 27,78 persen.

4.2. PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas

Pada tahun 2008 nilai tambah terbesar untuk PDRB Provinsi Papua
Barat tanpa migas berdasarkan kelompok sektor adalah kelompok sektor

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 47


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

tersier dengan nilai tambah sebesar Rp 3.465.033,55 juta. Di urutan kedua


ditempati kelompok sektor primer yang memberikan nilai tambah sebesar Rp
3.212.915,98 juta dan kelompok sektor sekunder dengan nilai tambah
sebesar Rp 2.057.961,52 juta menempati urutan ketiga.

Tabel 4.5. PDRB Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku menurut Kelompok
Sektor Tahun 2004-2008 (juta rupiah)

Tahun Primer Sekunder Tersier Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

2004 1 983 935,42 975 052,54 1 710 443,07 4 669 431,03

2005 2 208 565,00 1 171 669,55 2 047 621,48 5 427 856,04

2006 2 496 231,15 1 413 141,38 2 458 199,92 6 367 572,45

2007 x 2 842 315,73 1 694 806,45 2 915 081,36 7 452 203,55

2008 xx 3 212 915,98 2 057 961,52 3 465 033,55 8 735 911,05

Pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, PDRB menurut


kelompok sektor baik untuk kelompok sektor primer, kelompok sektor
sekunder maupun kelompok sektor tersier mengalami perkembangan yang
cukup berarti. Untuk PDRB atas dasar harga berlaku, kelompok sektor
primer pada tahun 2004 senilai Rp 1.983.935,42 juta mengalami
perkembangan hingga mencapai Rp 3.212.915,98 juta pada tahun 2008.
Kelompok sektor sekunder pada tahun 2004 senilai Rp 975.052,54 juta
berkembang menjadi Rp 2.057.961,52 juta pada tahun 2008 dan untuk

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 48


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

kelompok sektor tersier senilai Rp 1.710.443,07 juta pada tahun 2004


berkembang menjadi Rp 3.465.033,55 juta pada tahun 2008.
Perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku dari tahun 2004 sampai
dengan tahun 2008, untuk kelompok sektor primer adalah sebesar 1,62 kali
lipat, kelompok sektor sekunder berkembang sebesar 2,11 kali lipat, dan
kelompok sektor tersier berkembang sebesar 2,03 kali lipat.
Dari ketiga kelompok sektor tersebut yang mengalami perkembangan
paling cepat adalah kelompok sektor sekunder, kemudian disusul oleh
kelompok sektor tersier sedangkan kelompok sektor primer
perkembangannya relatif lebih lambat.

Tabel 4.6. PDRB Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut
Kelompok Sektor Tahun 2004-2008 (juta rupiah)

Tahun Primer Sekunder Tersier Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

2004 1 575 223,92 765 024,24 1 325 394,79 3 665 642,95

2005 1 610 382,94 831 934,09 1 473 608,60 3 915 925,63

2006 1 667 136,73 911 226,31 1 625 667,34 4 204 030,38

2007 x 1 757 034,26 1 009 498,76 1 799 533,13 4 566 066,15

2008 xx 1 871 140,66 1 112 156,35 1 978 991,44 4 962 288,45

Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000, kelompok sektor


primer senilai Rp 1.575.223,92 juta pada tahun 2004 telah mengalami

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 49


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

peningkatan hingga mencapai Rp 1.871.140,66 juta pada tahun 2008.


Kemudian kelompok sektor sekunder yang pada tahun 2004 nilainya
mencapai Rp 765.024,24 juta meningkat menjadi Rp 1.112.156,35 juta
pada tahun 2008, dan kelompok sektor tersier berkembang dari
Rp 1.325.394,79 juta pada tahun 2004 menjadi Rp 1.978.991,44 juta pada
tahun 2008.
Perkembangan PDRB atas dasar harga konstan dari tahun 2004
sampai dengan tahun 2008, untuk kelompok sektor primer adalah sebesar
1,19 kali lipat, kelompok sektor sekunder berkembang sebesar 1,45 kali
lipat, dan kelompok sektor tersier berkembang sebesar 1,49 kali lipat.

Tabel 4.7. Laju Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas menurut Kelompok


Sektor Tahun 2004-2008 (persen)

Kelompok Sektor 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Primer 4,05 2,23 3,52 5,39 6,49

Sekunder 5,98 8,75 9,53 10,78 10,17

Tersier 9,28 11,18 10,32 10,70 9,97

PDRB tanpa Migas 6,29 6,83 7,36 8,61 8,68

Dari tabel terlihat bahwa tingkat pertumbuhan terbesar pada tahun


2008 terjadi pada kelompok sektor sekunder yaitu sebesar 10,17 persen,
kemudian disusul oleh kelompok sektor tersier sebesar 9,97 persen, dan

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 50


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

terakhir adalah kelompok sektor primer dengan pertumbuhan riil sebesar


6,49 persen.

Tabel 4.8. Peranan Kelompok Sektor Ekonomi terhadap Penciptaan PDRB


Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2008 (persen)

Kelompok Sektor 2004 2005 2006 2007 x 2008 xx

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Primer 42,49 40,69 39,20 38,14 36,78

Sekunder 20,88 21,59 22,19 22,74 23,56

Tersier 36,63 37,72 38,60 39,12 39,66

PDRB tanpa Migas 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Pada tahun 2008, kelompok sektor tersier memiliki share yang paling
besar (39,66 persen) terhadap penciptaan PDRB tanpa migas. Kemudian
kelompok sektor primer hanya menduduki urutan kedua pada tahun 2008
dengan share sebesar 36,78 persen terhadap total PDRB tanpa migas. Untuk
urutan ketiga masih tetap ditempati oleh kelompok sektor sekunder dengan
kontribusi pada tahun 2007 sebesar 22,74 persen terhadap total PDRB tanpa
migas dan pada tahun 2008 mengalami peningkatan peranan hingga
mencapai 23,56 persen.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 51


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Gambar 4.2. Peranan Kelompok Sektor terhadap Penciptaan PDRB Tanpa


Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2006-2008 (persen)

50.00
39.20 38.60 39.12 39.66
38.14 36.78

22.19 22.74 23.56

25.00

0.00
2006 2007 2008

Kelompok Sektor Primer  Kelompok Sektor Sekunder
Kelompok Sektor Tersier

Dari ketiga kelompok sektor tersebut, hanya kelompok sektor


primer yang mengalami penurunan peranan sedangkan kelompok sektor
lainnya mengalami peningkatan peranan. Hal ini menandakan bahwa mulai
adanya pergeseran kegiatan ekonomi dari kelompok sektor primer ke
kelompok sektor sekunder dan tersier.

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 52


Lampiran 1

PDRB dengan Migas


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.1. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (juta rupiah)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 2 152 323,24 2 428 810,57 2 762 424,54 3 107 119,13
1.1. Tanaman Bahan Makanan 331 843,83 372 367,74 412 310,02 503 368,83
1.2. Tanaman Perkebunan 219 413,11 256 034,39 289 952,22 330 023,04
1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya 108 500,19 131 463,39 156 858,74 177 195,01
1.4. Kehutanan 662 079,97 708 070,18 802 546,18 930 239,16
1.5. Perikanan 830 486,14 960 874,87 1 100 757,39 1 166 293,09
2. Pertambangan dan Penggalian 1 528 370,11 1 552 891,49 1 656 866,43 1 846 593,70
2.1. Minyak dan Gas Bumi 1 472 128,35 1 485 470,90 1 576 975,24 1 740 796,85
2.2. Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3. Penggalian 56 241,76 67 420,59 79 891,19 105 796,85
3. Industri Pengolahan 1 580 176,29 1 741 954,15 2 084 467,80 2 835 994,38
3.1. Industri Besar/Sedang 508 639,06 583 854,91 669 923,78 754 265,60
3.2. Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 57 744,82 65 603,09 73 886,70 86 830,93
3.3. Industri Migas 1 013 792,41 1 092 496,15 1 340 657,32 1 994 897,85
4. Listrik dan Air Bersih 39 717,67 48 038,78 57 745,90 66 030,34
4.1. Listrik 29 740,59 35 904,80 43 257,82 50 014,74
4.2. Air Bersih 9 977,08 12 133,99 14 488,08 16 015,60
5. Bangunan 565 568,00 715 644,59 893 250,07 1 150 834,65
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 769 089,14 925 804,53 1 097 002,38 1 290 421,32
6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 709 866,96 853 496,64 1 008 272,92 1 187 602,68
6.2. Hotel 13 737,89 17 215,26 21 463,17 25 489,50
6.3. Restoran 45 484,29 55 092,63 67 266,28 77 329,14
7. Pengangkutan dan Komunikasi 508 223,79 646 121,42 771 098,42 866 875,56
7.1. Angkutan Jalan Raya 160 205,83 196 197,65 225 598,73 251 552,51
7.2. Angkutan Laut 115 753,51 130 930,46 152 897,42 178 618,27
7.3. Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan 10 355,16 10 956,65 11 900,54 13 445,93
7.4. Angkutan Udara 20 364,35 27 352,80 34 479,27 42 638,73
7.5. Jasa Penunjang Angkutan 26 262,77 31 819,13 38 144,54 42 577,40
7.6. Komunikasi 175 282,17 248 864,73 308 077,92 338 042,72
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 143 133,40 151 430,25 214 745,78 302 327,09
8.1. Bank 57 083,00 52 498,45 98 218,97 165 199,09
8.2. Lembaga Keuangan Bukan Bank 15 247,49 17 820,14 21 065,15 23 667,35
8.3. Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4. Sewa Bangunan 64 317,12 73 417,88 86 343,27 103 206,80
8.5. Jasa Perusahaan 6 485,79 7 693,79 9 118,39 10 253,85
9. Jasa-jasa 627 175,15 734 843,72 832 234,79 1 005 409,58
9.1. Pemerintahan Umum 539 944,56 634 024,02 713 810,22 870 134,24
9.2. Jasa Sosial Kemasyarakatan 44 279,42 49 973,08 56 762,15 63 919,30
9.3. Jasa Hiburan dan Rekreasi 31 259,91 37 447,30 46 183,50 54 354,72
9.4. Jasa Perorangan dan Rumahtangga 11 691,26 13 399,33 15 478,92 17 001,32
PDRB 7 913 776,80 8 945 539,50 10 369 836,11 12 471 605,76
x
Catatan : Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 54


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.2. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000
menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (juta rupiah)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(2) (3) (4) (5) (6)
1. Pertanian 1 572 562,73 1 624 269,11 1 709 046,87 1 817 444,10
1.1. Tanaman Bahan Makanan 263 602,54 270 769,24 286 311,37 320 535,78
1.2. Tanaman Perkebunan 148 335,32 161 644,68 170 232,76 180 160,95
1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya 83 172,72 90 589,43 97 692,66 104 504,34
1.4. Kehutanan 487 106,58 479 759,31 492 003,69 517 432,35
1.5. Perikanan 590 345,58 621 506,45 662 806,38 694 810,68
2. Pertambangan dan Penggalian 1 101 170,67 1 081 658,46 1 087 167,36 1 098 592,02
2.1. Minyak dan Gas Bumi 1 063 350,47 1 038 790,84 1 039 179,97 1 044 895,46
2.2. Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3. Penggalian 37 820,20 42 867,62 47 987,39 53 696,56
3. Industri Pengolahan 747 964,38 751 875,24 813 660,34 872 426,05
3.1. Industri Besar/Sedang 374 991,09 397 919,94 433 227,43 455 888,27
3.2. Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 44 920,27 47 876,02 51 363,22 54 347,47
3.3. Industri Migas 328 053,02 306 079,28 329 069,69 362 190,31
4. Listrik dan Air Bersih 22 126,61 24 616,86 26 903,48 29 098,48
4.1. Listrik 15 066,61 16 699,91 18 115,62 19 690,55
4.2. Air Bersih 7 060,00 7 916,96 8 787,86 9 407,93
5. Bangunan 389 896,13 440 813,49 498 004,63 572 822,13
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 508 471,13 561 814,69 616 261,41 670 818,70
6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 465 498,85 513 938,66 562 209,09 612 223,50
6.2. Hotel 9 395,82 10 431,33 11 358,56 12 677,37
6.3. Restoran 33 576,46 37 444,71 42 693,76 45 917,83
7. Pengangkutan dan Komunikasi 345 740,57 397 041,92 440 299,46 473 536,46
7.1. Angkutan Jalan Raya 108 890,64 120 982,84 128 596,17 135 926,14
7.2. Angkutan Laut 84 865,21 93 252,44 104 051,08 110 985,27
7.3. Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan 8 336,21 8 550,00 8 900,81 9 406,75
7.4. Angkutan Udara 17 159,41 21 843,85 25 051,66 27 523,41
7.5. Jasa Penunjang Angkutan 20 627,93 22 888,53 25 512,67 27 137,40
7.6. Komunikasi 105 861,18 129 524,27 148 187,08 162 557,49
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 96 444,13 94 706,46 118 299,10 150 145,26
8.1. Bank 35 200,40 28 739,81 46 726,18 71 672,84
8.2. Lembaga Keuangan Bukan Bank 11 180,12 12 055,55 13 007,00 13 909,74
8.3. Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4. Sewa Bangunan 44 762,94 48 207,99 52 417,47 57 951,61
8.5. Jasa Perusahaan 5 300,67 5 703,11 6 148,45 6 611,07
9. Jasa-jasa 522 952,76 572 104,26 624 673,17 684 491,02
9.1. Pemerintahan Umum 460 106,59 505 389,88 552 015,29 606 417,33
9.2. Jasa Sosial Kemasyarakatan 33 447,36 35 096,59 38 024,98 40 734,02
9.3. Jasa Hiburan dan Rekreasi 20 128,93 21 958,54 24 316,17 26 663,94
9.4. Jasa Perorangan dan Rumahtangga 9 269,87 9 659,26 10 316,73 10 675,73
PDRB 5 307 329,12 5 548 900,50 5 934 315,82 6 369 374,22
x
Catatan : Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 55


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.3. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 168,68 190,35 216,50 243,51
1.1 Tanaman Bahan Makanan 152,04 170,61 188,91 230,63
1.2 Tanaman Perkebunan 192,84 225,03 254,84 290,06
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 195,97 237,44 283,31 320,04
1.4 Kehutanan 153,73 164,41 186,35 216,00
1.5 Perikanan 181,38 209,85 240,40 254,72
2. Pertambangan dan Penggalian 151,29 153,71 164,01 182,79
2.1 Minyak dan Gas Bumi 149,35 150,70 159,99 176,61
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 229,12 274,67 325,47 431,01
3. Industri Pengolahan 343,24 378,38 452,78 616,02
3.1 Industri Besar/Sedang 185,86 213,35 244,80 275,62
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 180,73 205,32 231,25 271,76
3.3 Industri Migas 655,09 705,95 866,31 1 289,07
4. Listrik dan Air Bersih 272,67 329,80 396,44 453,31
4.1 Listrik 302,58 365,29 440,10 508,84
4.2 Air Bersih 210,62 256,15 305,85 338,09
5. Bangunan 216,72 274,23 342,29 440,99
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 226,01 272,06 322,37 379,21
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 227,90 274,01 323,70 381,28
6.2 Hotel 244,69 306,63 382,29 454,00
6.3 Restoran 196,06 237,47 289,94 333,32
7. Pengangkutan dan Komunikasi 262,72 334,01 398,61 448,12
7.1 Angkutan Jalan Raya 224,70 275,18 316,41 352,81
7.2 Angkutan Laut 233,68 264,32 308,66 360,59
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 152,66 161,53 175,44 198,22
7.4 Angkutan Udara 229,93 308,84 389,30 481,43
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 219,38 265,79 318,63 355,66
7.6 Komunikasi 389,51 553,03 684,61 751,20
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 215,98 228,50 324,04 456,19
8.1 Bank 256,54 235,94 441,41 742,43
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 201,71 235,74 278,67 313,09
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 196,21 223,98 263,41 314,86
8.5 Jasa Perusahaan 176,10 208,90 247,58 278,41
9. Jasa-jasa 186,94 219,04 248,07 299,68
9.1 Pemerintahan Umum 183,29 215,23 242,31 295,38
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 189,24 213,57 242,58 273,17
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 286,46 343,16 423,22 498,09
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 177,26 203,16 234,69 257,78
PDRB 199,96 226,03 262,02 315,13
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 56


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.4. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 123,25 127,30 133,94 142,44
1.1 Tanaman Bahan Makanan 120,77 124,06 131,18 146,86
1.2 Tanaman Perkebunan 130,37 142,07 149,62 158,34
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 150,22 163,62 176,45 188,75
1.4 Kehutanan 113,11 111,40 114,24 120,15
1.5 Perikanan 128,93 135,74 144,76 151,75
2. Pertambangan dan Penggalian 109,00 107,07 107,61 108,75
2.1 Minyak dan Gas Bumi 107,88 105,39 105,43 106,01
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 154,08 174,64 195,50 218,76
3. Industri Pengolahan 162,47 163,32 176,74 189,50
3.1 Industri Besar/Sedang 137,03 145,40 158,31 166,59
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 140,59 149,84 160,76 170,10
3.3 Industri Migas 211,98 197,78 212,64 234,04
4. Listrik dan Air Bersih 151,90 169,00 184,70 199,77
4.1 Listrik 153,29 169,90 184,31 200,33
4.2 Air Bersih 149,04 167,13 185,51 198,60
5. Bangunan 149,40 168,92 190,83 219,50
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 149,42 165,10 181,10 197,13
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 149,45 165,00 180,50 196,55
6.2 Hotel 167,35 185,80 202,31 225,80
6.3 Restoran 144,73 161,40 184,03 197,92
7. Pengangkutan dan Komunikasi 178,73 205,25 227,61 244,79
7.1 Angkutan Jalan Raya 152,72 169,68 180,36 190,64
7.2 Angkutan Laut 171,32 188,25 210,05 224,05
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 122,90 126,05 131,22 138,68
7.4 Angkutan Udara 193,75 246,64 282,86 310,76
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 172,31 191,19 213,11 226,69
7.6 Komunikasi 235,24 287,83 329,30 361,24
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 145,53 142,90 178,50 226,56
8.1 Bank 158,20 129,16 210,00 322,11
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 147,90 159,48 172,07 184,01
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 136,56 147,07 159,91 176,79
8.5 Jasa Perusahaan 143,92 154,85 166,94 179,50
9. Jasa-jasa 155,88 170,53 186,20 204,03
9.1 Pemerintahan Umum 156,19 171,56 187,39 205,86
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 142,94 149,99 162,51 174,08
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 184,46 201,22 222,83 244,34
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 140,55 146,46 156,42 161,87
PDRB 134,10 140,21 149,95 160,94
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 57


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.5. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 27,20 27,15 26,64 24,91
1.1 Tanaman Bahan Makanan 4,19 4,16 3,98 4,04
1.2 Tanaman Perkebunan 2,77 2,86 2,80 2,65
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 1,37 1,47 1,51 1,42
1.4 Kehutanan 8,37 7,92 7,74 7,46
1.5 Perikanan 10,49 10,74 10,61 9,35
2. Pertambangan dan Penggalian 19,31 17,36 15,98 14,81
2.1 Minyak dan Gas Bumi 18,60 16,61 15,21 13,96
2.2 Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3 Penggalian 0,71 0,75 0,77 0,85
3. Industri Pengolahan 19,97 19,47 20,10 22,74
3.1 Industri Besar/Sedang 6,43 6,53 6,46 6,05
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 0,73 0,73 0,71 0,70
3.3 Industri Migas 12,81 12,21 12,93 16,00
4. Listrik dan Air Bersih 0,50 0,54 0,56 0,53
4.1 Listrik 0,38 0,40 0,42 0,40
4.2 Air Bersih 0,13 0,14 0,14 0,13
5. Bangunan 7,15 8,00 8,61 9,23
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 9,72 10,35 10,58 10,35
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 8,97 9,54 9,72 9,52
6.2 Hotel 0,17 0,19 0,21 0,20
6.3 Restoran 0,57 0,62 0,65 0,62
7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,42 7,22 7,44 6,95
7.1 Angkutan Jalan Raya 2,02 2,19 2,18 2,02
7.2 Angkutan Laut 1,46 1,46 1,47 1,43
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 0,13 0,12 0,11 0,11
7.4 Angkutan Udara 0,26 0,31 0,33 0,34
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 0,33 0,36 0,37 0,34
7.6 Komunikasi 2,21 2,78 2,97 2,71
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,81 1,69 2,07 2,42
8.1 Bank 0,72 0,59 0,95 1,32
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 0,19 0,20 0,20 0,19
8.3 Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4 Sewa Bangunan 0,81 0,82 0,83 0,83
8.5 Jasa Perusahaan 0,08 0,09 0,09 0,08
9. Jasa-jasa 7,93 8,21 8,03 8,06
9.1 Pemerintahan Umum 6,82 7,09 6,88 6,98
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 0,56 0,56 0,55 0,51
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 0,40 0,42 0,45 0,44
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 0,15 0,15 0,15 0,14
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 58


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.6. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 29,63 29,27 28,80 28,53
1.1 Tanaman Bahan Makanan 4,97 4,88 4,82 5,03
1.2 Tanaman Perkebunan 2,79 2,91 2,87 2,83
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 1,57 1,63 1,65 1,64
1.4 Kehutanan 9,18 8,65 8,29 8,12
1.5 Perikanan 11,12 11,20 11,17 10,91
2. Pertambangan dan Penggalian 20,75 19,49 18,32 17,25
2.1 Minyak dan Gas Bumi 20,04 18,72 17,51 16,40
2.2 Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3 Penggalian 0,71 0,77 0,81 0,84
3. Industri Pengolahan 14,09 13,55 13,71 13,70
3.1 Industri Besar/Sedang 7,07 7,17 7,30 7,16
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 0,85 0,86 0,87 0,85
3.3 Industri Migas 6,18 5,52 5,55 5,69
4. Listrik dan Air Bersih 0,42 0,44 0,45 0,46
4.1 Listrik 0,28 0,30 0,31 0,31
4.2 Air Bersih 0,13 0,14 0,15 0,15
5. Bangunan 7,35 7,94 8,39 8,99
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 9,58 10,12 10,38 10,53
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 8,77 9,26 9,47 9,61
6.2 Hotel 0,18 0,19 0,19 0,20
6.3 Restoran 0,63 0,67 0,72 0,72
7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,51 7,16 7,42 7,43
7.1 Angkutan Jalan Raya 2,05 2,18 2,17 2,13
7.2 Angkutan Laut 1,60 1,68 1,75 1,74
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 0,16 0,15 0,15 0,15
7.4 Angkutan Udara 0,32 0,39 0,42 0,43
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 0,39 0,41 0,43 0,43
7.6 Komunikasi 1,99 2,33 2,50 2,55
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,82 1,71 1,99 2,36
8.1 Bank 0,66 0,52 0,79 1,13
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 0,21 0,22 0,22 0,22
8.3 Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4 Sewa Bangunan 0,84 0,87 0,88 0,91
8.5 Jasa Perusahaan 0,10 0,10 0,10 0,10
9. Jasa-jasa 9,85 10,31 10,53 10,75
9.1 Pemerintahan Umum 8,67 9,11 9,30 9,52
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 0,63 0,63 0,64 0,64
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 0,38 0,40 0,41 0,42
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 0,17 0,17 0,17 0,17
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 59


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.7. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 11,12 12,85 13,74 12,48
1.1 Tanaman Bahan Makanan 8,92 12,21 10,73 22,09
1.2 Tanaman Perkebunan 14,75 16,69 13,25 13,82
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 14,30 21,16 19,32 12,96
1.4 Kehutanan 3,87 6,95 13,34 15,91
1.5 Perikanan 17,19 15,70 14,56 5,95
2. Pertambangan dan Penggalian 25,59 1,60 6,70 11,45
2.1 Minyak dan Gas Bumi 25,83 0,91 6,16 10,39
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 19,62 19,88 18,50 32,43
3. Industri Pengolahan 27,15 10,24 19,66 36,05
3.1 Industri Besar/Sedang 12,12 14,79 14,74 12,59
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 11,00 13,61 12,63 17,52
3.3 Industri Migas 37,53 7,76 22,72 48,80
4. Listrik dan Air Bersih 29,83 20,95 20,21 14,35
4.1 Listrik 30,82 20,73 20,48 15,62
4.2 Air Bersih 26,94 21,62 19,40 10,54
5. Bangunan 28,89 26,54 24,82 28,84
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 19,32 20,38 18,49 17,63
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 19,42 20,23 18,13 17,79
6.2 Hotel 30,70 25,31 24,68 18,76
6.3 Restoran 14,92 21,12 22,10 14,96
7. Pengangkutan dan Komunikasi 22,97 27,13 19,34 12,42
7.1 Angkutan Jalan Raya 21,00 22,47 14,99 11,50
7.2 Angkutan Laut 12,01 13,11 16,78 16,82
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 11,41 5,81 8,61 12,99
7.4 Angkutan Udara 19,88 34,32 26,05 23,66
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 16,21 21,16 19,88 11,62
7.6 Komunikasi 36,23 41,98 23,79 9,73
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 14,15 5,80 41,81 40,78
8.1 Bank 9,23 -8,03 87,09 68,19
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 16,24 16,87 18,21 12,35
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 18,16 14,15 17,61 19,53
8.5 Jasa Perusahaan 16,16 18,63 18,52 12,45
9. Jasa-jasa 18,96 17,17 13,25 20,81
9.1 Pemerintahan Umum 19,74 17,42 12,58 21,90
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 10,93 12,86 13,59 12,61
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 20,65 19,79 23,33 17,69
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 11,97 14,61 15,52 9,84
PDRB 20,33 13,04 15,92 20,27
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 60


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.8. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 2,05 3,29 5,22 6,34
1.1 Tanaman Bahan Makanan 3,86 2,72 5,74 11,95
1.2 Tanaman Perkebunan 5,75 8,97 5,31 5,83
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 7,95 8,92 7,84 6,97
1.4 Kehutanan -5,18 -1,51 2,55 5,17
1.5 Perikanan 6,17 5,28 6,65 4,83
2. Pertambangan dan Penggalian 5,34 -1,77 0,51 1,05
2.1 Minyak dan Gas Bumi 5,17 -2,31 0,04 0,55
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 10,21 13,35 11,94 11,90
3. Industri Pengolahan 8,36 0,52 8,22 7,22
3.1 Industri Besar/Sedang 5,60 6,11 8,87 5,23
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 5,37 6,58 7,28 5,81
3.3 Industri Migas 12,15 -6,70 7,51 10,06
4. Listrik dan Air Bersih 9,65 11,25 9,29 8,16
4.1 Listrik 9,30 10,84 8,48 8,69
4.2 Air Bersih 10,41 12,14 11,00 7,06
5. Bangunan 12,33 13,06 12,97 15,02
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 8,97 10,49 9,69 8,85
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 8,84 10,41 9,39 8,90
6.2 Hotel 19,43 11,02 8,89 11,61
6.3 Restoran 8,02 11,52 14,02 7,55
7. Pengangkutan dan Komunikasi 12,75 14,84 10,89 7,55
7.1 Angkutan Jalan Raya 12,36 11,10 6,29 5,70
7.2 Angkutan Laut 6,71 9,88 11,58 6,66
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 5,89 2,56 4,10 5,68
7.4 Angkutan Udara 18,50 27,30 14,69 9,87
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 11,12 10,96 11,46 6,37
7.6 Komunikasi 18,58 22,35 14,41 9,70
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 7,03 -1,80 24,91 26,92
8.1 Bank 3,31 -18,35 62,58 53,39
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 8,75 7,83 7,89 6,94
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 9,67 7,70 8,73 10,56
8.5 Jasa Perusahaan 7,38 7,59 7,81 7,52
9. Jasa-jasa 13,19 9,40 9,19 9,58
9.1 Pemerintahan Umum 14,00 9,84 9,23 9,86
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 5,80 4,93 8,34 7,12
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 10,93 9,09 10,74 9,66
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 7,11 4,20 6,81 3,48
PDRB 6,80 4,55 6,95 7,33
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 61


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.9. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 111,12 112,85 113,74 112,48
1.1 Tanaman Bahan Makanan 108,92 112,21 110,73 122,09
1.2 Tanaman Perkebunan 114,75 116,69 113,25 113,82
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 114,30 121,16 119,32 112,96
1.4 Kehutanan 103,87 106,95 113,34 115,91
1.5 Perikanan 117,19 115,70 114,56 105,95
2. Pertambangan dan Penggalian 125,59 101,60 106,70 111,45
2.1 Minyak dan Gas Bumi 125,83 100,91 106,16 110,39
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 119,62 119,88 118,50 132,43
3. Industri Pengolahan 127,15 110,24 119,66 136,05
3.1 Industri Besar/Sedang 112,12 114,79 114,74 112,59
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 111,00 113,61 112,63 117,52
3.3 Industri Migas 137,53 107,76 122,72 148,80
4. Listrik dan Air Bersih 129,83 120,95 120,21 114,35
4.1 Listrik 130,82 120,73 120,48 115,62
4.2 Air Bersih 126,94 121,62 119,40 110,54
5. Bangunan 128,89 126,54 124,82 128,84
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 119,32 120,38 118,49 117,63
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 119,42 120,23 118,13 117,79
6.2 Hotel 130,70 125,31 124,68 118,76
6.3 Restoran 114,92 121,12 122,10 114,96
7. Pengangkutan dan Komunikasi 122,97 127,13 119,34 112,42
7.1 Angkutan Jalan Raya 121,00 122,47 114,99 111,50
7.2 Angkutan Laut 112,01 113,11 116,78 116,82
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 111,41 105,81 108,61 112,99
7.4 Angkutan Udara 119,88 134,32 126,05 123,66
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 116,21 121,16 119,88 111,62
7.6 Komunikasi 136,23 141,98 123,79 109,73
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 114,15 105,80 141,81 140,78
8.1 Bank 109,23 91,97 187,09 168,19
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 116,24 116,87 118,21 112,35
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 118,16 114,15 117,61 119,53
8.5 Jasa Perusahaan 116,16 118,63 118,52 112,45
9. Jasa-jasa 118,96 117,17 113,25 120,81
9.1 Pemerintahan Umum 119,74 117,42 112,58 121,90
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 110,93 112,86 113,59 112,61
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 120,65 119,79 123,33 117,69
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 111,97 114,61 115,52 109,84
PDRB 120,33 113,04 115,92 120,27
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 62


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.10. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 102,05 103,29 105,22 106,34
1.1 Tanaman Bahan Makanan 103,86 102,72 105,74 111,95
1.2 Tanaman Perkebunan 105,75 108,97 105,31 105,83
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 107,95 108,92 107,84 106,97
1.4 Kehutanan 94,82 98,49 102,55 105,17
1.5 Perikanan 106,17 105,28 106,65 104,83
2. Pertambangan dan Penggalian 105,34 98,23 100,51 101,05
2.1 Minyak dan Gas Bumi 105,17 97,69 100,04 100,55
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 110,21 113,35 111,94 111,90
3. Industri Pengolahan 108,36 100,52 108,22 107,22
3.1 Industri Besar/Sedang 105,60 106,11 108,87 105,23
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 105,37 106,58 107,28 105,81
3.3 Industri Migas 112,15 93,30 107,51 110,06
4. Listrik dan Air Bersih 109,65 111,25 109,29 108,16
4.1 Listrik 109,30 110,84 108,48 108,69
4.2 Air Bersih 110,41 112,14 111,00 107,06
5. Bangunan 112,33 113,06 112,97 115,02
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 108,97 110,49 109,69 108,85
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 108,84 110,41 109,39 108,90
6.2 Hotel 119,43 111,02 108,89 111,61
6.3 Restoran 108,02 111,52 114,02 107,55
7. Pengangkutan dan Komunikasi 112,75 114,84 110,89 107,55
7.1 Angkutan Jalan Raya 112,36 111,10 106,29 105,70
7.2 Angkutan Laut 106,71 109,88 111,58 106,66
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 105,89 102,56 104,10 105,68
7.4 Angkutan Udara 118,50 127,30 114,69 109,87
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 111,12 110,96 111,46 106,37
7.6 Komunikasi 118,58 122,35 114,41 109,70
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 107,03 98,20 124,91 126,92
8.1 Bank 103,31 81,65 162,58 153,39
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 108,75 107,83 107,89 106,94
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 109,67 107,70 108,73 110,56
8.5 Jasa Perusahaan 107,38 107,59 107,81 107,52
9. Jasa-jasa 113,19 109,40 109,19 109,58
9.1 Pemerintahan Umum 114,00 109,84 109,23 109,86
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 105,80 104,93 108,34 107,12
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 110,93 109,09 110,74 109,66
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 107,11 104,20 106,81 103,48
PDRB 106,80 104,55 106,95 107,33
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 63


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.11. Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto menurut


Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 136,87 149,53 161,64 170,96
1.1 Tanaman Bahan Makanan 125,89 137,52 144,01 157,04
1.2 Tanaman Perkebunan 147,92 158,39 170,33 183,18
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 130,45 145,12 160,56 169,56
1.4 Kehutanan 135,92 147,59 163,12 179,78
1.5 Perikanan 140,68 154,60 166,08 167,86
2. Pertambangan dan Penggalian 138,80 143,57 152,40 168,09
2.1 Minyak dan Gas Bumi 138,44 143,00 151,75 166,60
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 148,71 157,28 166,48 197,03
3. Industri Pengolahan 211,26 231,68 256,18 325,07
3.1 Industri Besar/Sedang 135,64 146,73 154,64 165,45
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 128,55 137,03 143,85 159,77
3.3 Industri Migas 309,03 356,93 407,41 550,79
4. Listrik dan Air Bersih 179,50 195,15 214,64 226,92
4.1 Listrik 197,39 215,00 238,79 254,00
4.2 Air Bersih 141,32 153,27 164,86 170,24
5. Bangunan 145,06 162,35 179,37 200,91
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 151,26 164,79 178,01 192,37
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 152,50 166,07 179,34 193,98
6.2 Hotel 146,21 165,03 188,96 201,06
6.3 Restoran 135,46 147,13 157,56 168,41
7. Pengangkutan dan Komunikasi 147,00 162,73 175,13 183,06
7.1 Angkutan Jalan Raya 147,13 162,17 175,43 185,07
7.2 Angkutan Laut 136,40 140,40 146,94 160,94
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 124,22 128,15 133,70 142,94
7.4 Angkutan Udara 118,68 125,22 137,63 154,92
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 127,32 139,02 149,51 156,90
7.6 Komunikasi 165,58 192,14 207,90 207,95
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 148,41 159,89 181,53 201,36
8.1 Bank 162,17 182,67 210,20 230,49
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 136,38 147,82 161,95 170,15
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 143,68 152,29 164,72 178,09
8.5 Jasa Perusahaan 122,36 134,91 148,30 155,10
9. Jasa-jasa 119,93 128,45 133,23 146,88
9.1 Pemerintahan Umum 117,35 125,45 129,31 143,49
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 132,39 142,39 149,28 156,92
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 155,30 170,54 189,93 203,85
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 126,12 138,72 150,04 159,25
PDRB 149,11 161,21 174,74 195,81
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 64


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 1.12. Angka Agregat PDRB, PDRB Per Kapita dan Penduduk
Pertengahan Tahun, 2005-2008

Uraian 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)

NILAI ABSOLUT :
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 7 913 776,80 8 945 539,50 10 369 836,11 12 471 605,76
(Juta Rupiah)
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 5 307 329,12 5 548 900,50 5 934 315,82 6 369 374,22
(Juta Rupiah)
Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 688 210 702 061 715 999 729 962
(Jiwa)
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 11 499 073 12 741 827 14 483 032 17 085 281
Berlaku (Rupiah)
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 7 711 787 7 903 730 8 288 162 8 725 624
Konstan 2000 (Rupiah)
INDEKS PERKEMBANGAN (Persen; 2000=100) :
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 199,96 226,03 262,02 315,13

PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 134,10 140,21 149,95 160,94

Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 120,50 122,93 125,37 127,82

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 165,94 183,87 209,00 246,55
Berlaku
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 111,29 114,06 119,60 125,92
Konstan 2000
LAJU PERTUMBUHAN (Persen) :
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 20,33 13,04 15,92 20,27

PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 6,80 4,55 6,95 7,33

Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 7,12 2,01 1,99 1,95

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 12,34 10,81 13,67 17,97
Berlaku
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga -0,29 2,49 4,86 5,28
Konstan 2000
INDEKS IMPLISIT 149,11 161,21 174,74 195,81
x
Catatan : Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 65


Lampiran 2

PDRB tanpa Migas


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.1. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (juta rupiah)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 2 152 323,24 2 428 810,57 2 762 424,54 3 107 119,13
1.1. Tanaman Bahan Makanan 331 843,83 372 367,74 412 310,02 503 368,83
1.2. Tanaman Perkebunan 219 413,11 256 034,39 289 952,22 330 023,04
1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya 108 500,19 131 463,39 156 858,74 177 195,01
1.4. Kehutanan 662 079,97 708 070,18 802 546,18 930 239,16
1.5. Perikanan 830 486,14 960 874,87 1 100 757,39 1 166 293,09
2. Pertambangan dan Penggalian 56 241,76 67 420,59 79 891,19 105 796,85
2.1. Minyak dan Gas Bumi 0,00 0,00 0,00 0,00
2.2. Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3. Penggalian 56 241,76 67 420,59 79 891,19 105 796,85
3. Industri Pengolahan 566 383,88 649 458,00 743 810,48 841 096,53
3.1. Industri Besar/Sedang 508 639,06 583 854,91 669 923,78 754 265,60
3.2. Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 57 744,82 65 603,09 73 886,70 86 830,93
3.3. Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
4. Listrik dan Air Bersih 39 717,67 48 038,78 57 745,90 66 030,34
4.1. Listrik 29 740,59 35 904,80 43 257,82 50 014,74
4.2. Air Bersih 9 977,08 12 133,99 14 488,08 16 015,60
5. Bangunan 565 568,00 715 644,59 893 250,07 1 150 834,65
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 769 089,14 925 804,53 1 097 002,38 1 290 421,32
6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 709 866,96 853 496,64 1 008 272,92 1 187 602,68
6.2. Hotel 13 737,89 17 215,26 21 463,17 25 489,50
6.3. Restoran 45 484,29 55 092,63 67 266,28 77 329,14
7. Pengangkutan dan Komunikasi 508 223,79 646 121,42 771 098,42 866 875,56
7.1. Angkutan Jalan Raya 160 205,83 196 197,65 225 598,73 251 552,51
7.2. Angkutan Laut 115 753,51 130 930,46 152 897,42 178 618,27
7.3. Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan 10 355,16 10 956,65 11 900,54 13 445,93
7.4. Angkutan Udara 20 364,35 27 352,80 34 479,27 42 638,73
7.5. Jasa Penunjang Angkutan 26 262,77 31 819,13 38 144,54 42 577,40
7.6. Komunikasi 175 282,17 248 864,73 308 077,92 338 042,72
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 143 133,40 151 430,25 214 745,78 302 327,09
8.1. Bank 57 083,00 52 498,45 98 218,97 165 199,09
8.2. Lembaga Keuangan Bukan Bank 15 247,49 17 820,14 21 065,15 23 667,35
8.3. Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4. Sewa Bangunan 64 317,12 73 417,88 86 343,27 103 206,80
8.5. Jasa Perusahaan 6 485,79 7 693,79 9 118,39 10 253,85
9. Jasa-jasa 627 175,15 734 843,72 832 234,79 1 005 409,58
9.1. Pemerintahan Umum 539 944,56 634 024,02 713 810,22 870 134,24
9.2. Jasa Sosial Kemasyarakatan 44 279,42 49 973,08 56 762,15 63 919,30
9.3. Jasa Hiburan dan Rekreasi 31 259,91 37 447,30 46 183,50 54 354,72
9.4. Jasa Perorangan dan Rumahtangga 11 691,26 13 399,33 15 478,92 17 001,32
PDRB tanpa Migas 5 427 856,04 6 367 572,45 7 452 203,55 8 735 911,05
x
Catatan : Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 67


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.2. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000
menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (juta rupiah)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 x 2008 xx


(2) (3) (4) (5) (6)
1. Pertanian 1 572 562,73 1 624 269,11 1 709 046,87 1 817 444,10
1.1. Tanaman Bahan Makanan 263 602,54 270 769,24 286 311,37 320 535,78
1.2. Tanaman Perkebunan 148 335,32 161 644,68 170 232,76 180 160,95
1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya 83 172,72 90 589,43 97 692,66 104 504,34
1.4. Kehutanan 487 106,58 479 759,31 492 003,69 517 432,35
1.5. Perikanan 590 345,58 621 506,45 662 806,38 694 810,68
2. Pertambangan dan Penggalian 37 820,20 42 867,62 47 987,39 53 696,56
2.1. Minyak dan Gas Bumi 0,00 0,00 0,00 0,00
2.2. Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3. Penggalian 37 820,20 42 867,62 47 987,39 53 696,56
3. Industri Pengolahan 419 911,36 445 795,96 484 590,65 510 235,74
3.1. Industri Besar/Sedang 374 991,09 397 919,94 433 227,43 455 888,27
3.2. Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 44 920,27 47 876,02 51 363,22 54 347,47
3.3. Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
4. Listrik dan Air Bersih 22 126,61 24 616,86 26 903,48 29 098,48
4.1. Listrik 15 066,61 16 699,91 18 115,62 19 690,55
4.2. Air Bersih 7 060,00 7 916,96 8 787,86 9 407,93
5. Bangunan 389 896,13 440 813,49 498 004,63 572 822,13
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 508 471,13 561 814,69 616 261,41 670 818,70
6.1. Perdagangan Besar dan Eceran 465 498,85 513 938,66 562 209,09 612 223,50
6.2. Hotel 9 395,82 10 431,33 11 358,56 12 677,37
6.3. Restoran 33 576,46 37 444,71 42 693,76 45 917,83
7. Pengangkutan dan Komunikasi 345 740,57 397 041,92 440 299,46 473 536,46
7.1. Angkutan Jalan Raya 108 890,64 120 982,84 128 596,17 135 926,14
7.2. Angkutan Laut 84 865,21 93 252,44 104 051,08 110 985,27
7.3. Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan 8 336,21 8 550,00 8 900,81 9 406,75
7.4. Angkutan Udara 17 159,41 21 843,85 25 051,66 27 523,41
7.5. Jasa Penunjang Angkutan 20 627,93 22 888,53 25 512,67 27 137,40
7.6. Komunikasi 105 861,18 129 524,27 148 187,08 162 557,49
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 96 444,13 94 706,46 118 299,10 150 145,26
8.1. Bank 35 200,40 28 739,81 46 726,18 71 672,84
8.2. Lembaga Keuangan Bukan Bank 11 180,12 12 055,55 13 007,00 13 909,74
8.3. Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4. Sewa Bangunan 44 762,94 48 207,99 52 417,47 57 951,61
8.5. Jasa Perusahaan 5 300,67 5 703,11 6 148,45 6 611,07
9. Jasa-jasa 522 952,76 572 104,26 624 673,17 684 491,02
9.1. Pemerintahan Umum 460 106,59 505 389,88 552 015,29 606 417,33
9.2. Jasa Sosial Kemasyarakatan 33 447,36 35 096,59 38 024,98 40 734,02
9.3. Jasa Hiburan dan Rekreasi 20 128,93 21 958,54 24 316,17 26 663,94
9.4. Jasa Perorangan dan Rumahtangga 9 269,87 9 659,26 10 316,73 10 675,73
PDRB tanpa Migas 3 915 925,63 4 204 030,38 4 566 066,15 4 962 288,45
x
Catatan : Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 68


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.3. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 168,68 190,35 216,50 243,51
1.1 Tanaman Bahan Makanan 152,04 170,61 188,91 230,63
1.2 Tanaman Perkebunan 192,84 225,03 254,84 290,06
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 195,97 237,44 283,31 320,04
1.4 Kehutanan 153,73 164,41 186,35 216,00
1.5 Perikanan 181,38 209,85 240,40 254,72
2. Pertambangan dan Penggalian 229,12 274,67 325,47 431,01
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 229,12 274,67 325,47 431,01
3. Industri Pengolahan 185,33 212,51 243,38 275,21
3.1 Industri Besar/Sedang 185,86 213,35 244,80 275,62
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 180,73 205,32 231,25 271,76
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 272,67 329,80 396,44 453,31
4.1 Listrik 302,58 365,29 440,10 508,84
4.2 Air Bersih 210,62 256,15 305,85 338,09
5. Bangunan 216,72 274,23 342,29 440,99
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 226,01 272,06 322,37 379,21
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 227,90 274,01 323,70 381,28
6.2 Hotel 244,69 306,63 382,29 454,00
6.3 Restoran 196,06 237,47 289,94 333,32
7. Pengangkutan dan Komunikasi 262,72 334,01 398,61 448,12
7.1 Angkutan Jalan Raya 224,70 275,18 316,41 352,81
7.2 Angkutan Laut 233,68 264,32 308,66 360,59
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 152,66 161,53 175,44 198,22
7.4 Angkutan Udara 229,93 308,84 389,30 481,43
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 219,38 265,79 318,63 355,66
7.6 Komunikasi 389,51 553,03 684,61 751,20
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 215,98 228,50 324,04 456,19
8.1 Bank 256,54 235,94 441,41 742,43
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 201,71 235,74 278,67 313,09
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 196,21 223,98 263,41 314,86
8.5 Jasa Perusahaan 176,10 208,90 247,58 278,41
9. Jasa-jasa 186,94 219,04 248,07 299,68
9.1 Pemerintahan Umum 183,29 215,23 242,31 295,38
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 189,24 213,57 242,58 273,17
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 286,46 343,16 423,22 498,09
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 177,26 203,16 234,69 257,78
PDRB tanpa Migas 192,67 226,03 264,53 310,10
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 69


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.4. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 123,25 127,30 133,94 142,44
1.1 Tanaman Bahan Makanan 120,77 124,06 131,18 146,86
1.2 Tanaman Perkebunan 130,37 142,07 149,62 158,34
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 150,22 163,62 176,45 188,75
1.4 Kehutanan 113,11 111,40 114,24 120,15
1.5 Perikanan 128,93 135,74 144,76 151,75
2. Pertambangan dan Penggalian 154,08 174,64 195,50 218,76
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 154,08 174,64 195,50 218,76
3. Industri Pengolahan 137,40 145,87 158,56 166,95
3.1 Industri Besar/Sedang 137,03 145,40 158,31 166,59
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 140,59 149,84 160,76 170,10
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 151,90 169,00 184,70 199,77
4.1 Listrik 153,29 169,90 184,31 200,33
4.2 Air Bersih 149,04 167,13 185,51 198,60
5. Bangunan 149,40 168,92 190,83 219,50
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 149,42 165,10 181,10 197,13
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 149,45 165,00 180,50 196,55
6.2 Hotel 167,35 185,80 202,31 225,80
6.3 Restoran 144,73 161,40 184,03 197,92
7. Pengangkutan dan Komunikasi 178,73 205,25 227,61 244,79
7.1 Angkutan Jalan Raya 152,72 169,68 180,36 190,64
7.2 Angkutan Laut 171,32 188,25 210,05 224,05
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 122,90 126,05 131,22 138,68
7.4 Angkutan Udara 193,75 246,64 282,86 310,76
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 172,31 191,19 213,11 226,69
7.6 Komunikasi 235,24 287,83 329,30 361,24
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 145,53 142,90 178,50 226,56
8.1 Bank 158,20 129,16 210,00 322,11
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 147,90 159,48 172,07 184,01
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 136,56 147,07 159,91 176,79
8.5 Jasa Perusahaan 143,92 154,85 166,94 179,50
9. Jasa-jasa 155,88 170,53 186,20 204,03
9.1 Pemerintahan Umum 156,19 171,56 187,39 205,86
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 142,94 149,99 162,51 174,08
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 184,46 201,22 222,83 244,34
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 140,55 146,46 156,42 161,87
PDRB tanpa Migas 139,00 149,23 162,08 176,15
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 70


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.5. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 39,65 38,14 37,07 35,57
1.1 Tanaman Bahan Makanan 6,11 5,85 5,53 5,76
1.2 Tanaman Perkebunan 4,04 4,02 3,89 3,78
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 2,00 2,06 2,10 2,03
1.4 Kehutanan 12,20 11,12 10,77 10,65
1.5 Perikanan 15,30 15,09 14,77 13,35
2. Pertambangan dan Penggalian 1,04 1,06 1,07 1,21
2.1 Minyak dan Gas Bumi 0,00 0,00 0,00 0,00
2.2 Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3 Penggalian 1,04 1,06 1,07 1,21
3. Industri Pengolahan 10,43 10,20 9,98 9,63
3.1 Industri Besar/Sedang 9,37 9,17 8,99 8,63
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 1,06 1,03 0,99 0,99
3.3 Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
4. Listrik dan Air Bersih 0,73 0,75 0,77 0,76
4.1 Listrik 0,55 0,56 0,58 0,57
4.2 Air Bersih 0,18 0,19 0,19 0,18
5. Bangunan 10,42 11,24 11,99 13,17
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 14,17 14,54 14,72 14,77
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 13,08 13,40 13,53 13,59
6.2 Hotel 0,25 0,27 0,29 0,29
6.3 Restoran 0,84 0,87 0,90 0,89
7. Pengangkutan dan Komunikasi 9,36 10,15 10,35 9,92
7.1 Angkutan Jalan Raya 2,95 3,08 3,03 2,88
7.2 Angkutan Laut 2,13 2,06 2,05 2,04
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 0,19 0,17 0,16 0,15
7.4 Angkutan Udara 0,38 0,43 0,46 0,49
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 0,48 0,50 0,51 0,49
7.6 Komunikasi 3,23 3,91 4,13 3,87
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 2,64 2,38 2,88 3,46
8.1 Bank 1,05 0,82 1,32 1,89
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 0,28 0,28 0,28 0,27
8.3 Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4 Sewa Bangunan 1,18 1,15 1,16 1,18
8.5 Jasa Perusahaan 0,12 0,12 0,12 0,12
9. Jasa-jasa 11,55 11,54 11,17 11,51
9.1 Pemerintahan Umum 9,95 9,96 9,58 9,96
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 0,82 0,78 0,76 0,73
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 0,58 0,59 0,62 0,62
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 0,22 0,21 0,21 0,19
PDRB tanpa Migas 100,00 100,00 100,00 100,00
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 71


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.6. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 40,16 38,64 37,43 36,63
1.1 Tanaman Bahan Makanan 6,73 6,44 6,27 6,46
1.2 Tanaman Perkebunan 3,79 3,84 3,73 3,63
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 2,12 2,15 2,14 2,11
1.4 Kehutanan 12,44 11,41 10,78 10,43
1.5 Perikanan 15,08 14,78 14,52 14,00
2. Pertambangan dan Penggalian 0,97 1,02 1,05 1,08
2.1 Minyak dan Gas Bumi 0,00 0,00 0,00 0,00
2.2 Pertambangan Tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
2.3 Penggalian 0,97 1,02 1,05 1,08
3. Industri Pengolahan 10,72 10,60 10,61 10,28
3.1 Industri Besar/Sedang 9,58 9,47 9,49 9,19
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 1,15 1,14 1,12 1,10
3.3 Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
4. Listrik dan Air Bersih 0,57 0,59 0,59 0,59
4.1 Listrik 0,38 0,40 0,40 0,40
4.2 Air Bersih 0,18 0,19 0,19 0,19
5. Bangunan 9,96 10,49 10,91 11,54
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 12,98 13,36 13,50 13,52
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 11,89 12,22 12,31 12,34
6.2 Hotel 0,24 0,25 0,25 0,26
6.3 Restoran 0,86 0,89 0,94 0,93
7. Pengangkutan dan Komunikasi 8,83 9,44 9,64 9,54
7.1 Angkutan Jalan Raya 2,78 2,88 2,82 2,74
7.2 Angkutan Laut 2,17 2,22 2,28 2,24
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 0,21 0,20 0,19 0,19
7.4 Angkutan Udara 0,44 0,52 0,55 0,55
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 0,53 0,54 0,56 0,55
7.6 Komunikasi 2,70 3,08 3,25 3,28
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 2,46 2,25 2,59 3,03
8.1 Bank 0,90 0,68 1,02 1,44
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 0,29 0,29 0,28 0,28
8.3 Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00
8.4 Sewa Bangunan 1,14 1,15 1,15 1,17
8.5 Jasa Perusahaan 0,14 0,14 0,13 0,13
9. Jasa-jasa 13,35 13,61 13,68 13,79
9.1 Pemerintahan Umum 11,75 12,02 12,09 12,22
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 0,85 0,83 0,83 0,82
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 0,51 0,52 0,53 0,54
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 0,24 0,23 0,23 0,22
PDRB tanpa Migas 100,00 100,00 100,00 100,00
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 72


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.7. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 11,12 12,85 13,74 12,48
1.1 Tanaman Bahan Makanan 8,92 12,21 10,73 22,09
1.2 Tanaman Perkebunan 14,75 16,69 13,25 13,82
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 14,30 21,16 19,32 12,96
1.4 Kehutanan 3,87 6,95 13,34 15,91
1.5 Perikanan 17,19 15,70 14,56 5,95
2. Pertambangan dan Penggalian 19,62 19,88 18,50 32,43
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 19,62 19,88 18,50 32,43
3. Industri Pengolahan 12,01 14,67 14,53 13,08
3.1 Industri Besar/Sedang 12,12 14,79 14,74 12,59
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 11,00 13,61 12,63 17,52
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 29,83 20,95 20,21 14,35
4.1 Listrik 30,82 20,73 20,48 15,62
4.2 Air Bersih 26,94 21,62 19,40 10,54
5. Bangunan 28,89 26,54 24,82 28,84
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 19,32 20,38 18,49 17,63
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 19,42 20,23 18,13 17,79
6.2 Hotel 30,70 25,31 24,68 18,76
6.3 Restoran 14,92 21,12 22,10 14,96
7. Pengangkutan dan Komunikasi 22,97 27,13 19,34 12,42
7.1 Angkutan Jalan Raya 21,00 22,47 14,99 11,50
7.2 Angkutan Laut 12,01 13,11 16,78 16,82
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 11,41 5,81 8,61 12,99
7.4 Angkutan Udara 19,88 34,32 26,05 23,66
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 16,21 21,16 19,88 11,62
7.6 Komunikasi 36,23 41,98 23,79 9,73
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 14,15 5,80 41,81 40,78
8.1 Bank 9,23 -8,03 87,09 68,19
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 16,24 16,87 18,21 12,35
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 18,16 14,15 17,61 19,53
8.5 Jasa Perusahaan 16,16 18,63 18,52 12,45
9. Jasa-jasa 18,96 17,17 13,25 20,81
9.1 Pemerintahan Umum 19,74 17,42 12,58 21,90
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 10,93 12,86 13,59 12,61
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 20,65 19,79 23,33 17,69
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 11,97 14,61 15,52 9,84
PDRB tanpa Migas 16,24 17,31 17,03 17,23
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 73


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.8. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 2,05 3,29 5,22 6,34
1.1 Tanaman Bahan Makanan 3,86 2,72 5,74 11,95
1.2 Tanaman Perkebunan 5,75 8,97 5,31 5,83
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 7,95 8,92 7,84 6,97
1.4 Kehutanan -5,18 -1,51 2,55 5,17
1.5 Perikanan 6,17 5,28 6,65 4,83
2. Pertambangan dan Penggalian 10,21 13,35 11,94 11,90
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 10,21 13,35 11,94 11,90
3. Industri Pengolahan 5,57 6,16 8,70 5,29
3.1 Industri Besar/Sedang 5,60 6,11 8,87 5,23
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 5,37 6,58 7,28 5,81
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 9,65 11,25 9,29 8,16
4.1 Listrik 9,30 10,84 8,48 8,69
4.2 Air Bersih 10,41 12,14 11,00 7,06
5. Bangunan 12,33 13,06 12,97 15,02
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 8,97 10,49 9,69 8,85
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 8,84 10,41 9,39 8,90
6.2 Hotel 19,43 11,02 8,89 11,61
6.3 Restoran 8,02 11,52 14,02 7,55
7. Pengangkutan dan Komunikasi 12,75 14,84 10,89 7,55
7.1 Angkutan Jalan Raya 12,36 11,10 6,29 5,70
7.2 Angkutan Laut 6,71 9,88 11,58 6,66
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 5,89 2,56 4,10 5,68
7.4 Angkutan Udara 18,50 27,30 14,69 9,87
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 11,12 10,96 11,46 6,37
7.6 Komunikasi 18,58 22,35 14,41 9,70
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 7,03 -1,80 24,91 26,92
8.1 Bank 3,31 -18,35 62,58 53,39
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 8,75 7,83 7,89 6,94
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 9,67 7,70 8,73 10,56
8.5 Jasa Perusahaan 7,38 7,59 7,81 7,52
9. Jasa-jasa 13,19 9,40 9,19 9,58
9.1 Pemerintahan Umum 14,00 9,84 9,23 9,86
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 5,80 4,93 8,34 7,12
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 10,93 9,09 10,74 9,66
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 7,11 4,20 6,81 3,48
PDRB tanpa Migas 6,83 7,36 8,61 8,68
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 74


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.9. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 111,12 112,85 113,74 112,48
1.1 Tanaman Bahan Makanan 108,92 112,21 110,73 122,09
1.2 Tanaman Perkebunan 114,75 116,69 113,25 113,82
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 114,30 121,16 119,32 112,96
1.4 Kehutanan 103,87 106,95 113,34 115,91
1.5 Perikanan 117,19 115,70 114,56 105,95
2. Pertambangan dan Penggalian 119,62 119,88 118,50 132,43
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 119,62 119,88 118,50 132,43
3. Industri Pengolahan 112,01 114,67 114,53 113,08
3.1 Industri Besar/Sedang 112,12 114,79 114,74 112,59
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 111,00 113,61 112,63 117,52
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 129,83 120,95 120,21 114,35
4.1 Listrik 130,82 120,73 120,48 115,62
4.2 Air Bersih 126,94 121,62 119,40 110,54
5. Bangunan 128,89 126,54 124,82 128,84
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 119,32 120,38 118,49 117,63
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 119,42 120,23 118,13 117,79
6.2 Hotel 130,70 125,31 124,68 118,76
6.3 Restoran 114,92 121,12 122,10 114,96
7. Pengangkutan dan Komunikasi 122,97 127,13 119,34 112,42
7.1 Angkutan Jalan Raya 121,00 122,47 114,99 111,50
7.2 Angkutan Laut 112,01 113,11 116,78 116,82
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 111,41 105,81 108,61 112,99
7.4 Angkutan Udara 119,88 134,32 126,05 123,66
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 116,21 121,16 119,88 111,62
7.6 Komunikasi 136,23 141,98 123,79 109,73
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 114,15 105,80 141,81 140,78
8.1 Bank 109,23 91,97 187,09 168,19
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 116,24 116,87 118,21 112,35
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 118,16 114,15 117,61 119,53
8.5 Jasa Perusahaan 116,16 118,63 118,52 112,45
9. Jasa-jasa 118,96 117,17 113,25 120,81
9.1 Pemerintahan Umum 119,74 117,42 112,58 121,90
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 110,93 112,86 113,59 112,61
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 120,65 119,79 123,33 117,69
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 111,97 114,61 115,52 109,84
PDRB tanpa Migas 116,24 117,31 117,03 117,23
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 75


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.10. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 102,05 103,29 105,22 106,34
1.1 Tanaman Bahan Makanan 103,86 102,72 105,74 111,95
1.2 Tanaman Perkebunan 105,75 108,97 105,31 105,83
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 107,95 108,92 107,84 106,97
1.4 Kehutanan 94,82 98,49 102,55 105,17
1.5 Perikanan 106,17 105,28 106,65 104,83
2. Pertambangan dan Penggalian 110,21 113,35 111,94 111,90
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 110,21 113,35 111,94 111,90
3. Industri Pengolahan 105,57 106,16 108,70 105,29
3.1 Industri Besar/Sedang 105,60 106,11 108,87 105,23
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 105,37 106,58 107,28 105,81
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 109,65 111,25 109,29 108,16
4.1 Listrik 109,30 110,84 108,48 108,69
4.2 Air Bersih 110,41 112,14 111,00 107,06
5. Bangunan 112,33 113,06 112,97 115,02
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 108,97 110,49 109,69 108,85
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 108,84 110,41 109,39 108,90
6.2 Hotel 119,43 111,02 108,89 111,61
6.3 Restoran 108,02 111,52 114,02 107,55
7. Pengangkutan dan Komunikasi 112,75 114,84 110,89 107,55
7.1 Angkutan Jalan Raya 112,36 111,10 106,29 105,70
7.2 Angkutan Laut 106,71 109,88 111,58 106,66
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 105,89 102,56 104,10 105,68
7.4 Angkutan Udara 118,50 127,30 114,69 109,87
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 111,12 110,96 111,46 106,37
7.6 Komunikasi 118,58 122,35 114,41 109,70
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 107,03 98,20 124,91 126,92
8.1 Bank 103,31 81,65 162,58 153,39
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 108,75 107,83 107,89 106,94
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 109,67 107,70 108,73 110,56
8.5 Jasa Perusahaan 107,38 107,59 107,81 107,52
9. Jasa-jasa 113,19 109,40 109,19 109,58
9.1 Pemerintahan Umum 114,00 109,84 109,23 109,86
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 105,80 104,93 108,34 107,12
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 110,93 109,09 110,74 109,66
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 107,11 104,20 106,81 103,48
PDRB tanpa Migas 106,83 107,36 108,61 108,68
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 76


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.11. Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto menurut


Lapangan Usaha Tahun 2005-2008 (persen)

Lapangan Usaha 2005 2006 x xx


2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 136,87 149,53 161,64 170,96
1.1 Tanaman Bahan Makanan 125,89 137,52 144,01 157,04
1.2 Tanaman Perkebunan 147,92 158,39 170,33 183,18
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya 130,45 145,12 160,56 169,56
1.4 Kehutanan 135,92 147,59 163,12 179,78
1.5 Perikanan 140,68 154,60 166,08 167,86
2. Pertambangan dan Penggalian 148,71 157,28 166,48 197,03
2.1 Minyak dan Gas Bumi - - - -
2.2 Pertambangan Tanpa Migas - - - -
2.3 Penggalian 148,71 157,28 166,48 197,03
3. Industri Pengolahan 134,88 145,69 153,49 164,84
3.1 Industri Besar/Sedang 135,64 146,73 154,64 165,45
3.2 Industri Kecil/Kerajinan Rumahtangga 128,55 137,03 143,85 159,77
3.3 Industri Migas - - - -
4. Listrik dan Air Bersih 179,50 195,15 214,64 226,92
4.1 Listrik 197,39 215,00 238,79 254,00
4.2 Air Bersih 141,32 153,27 164,86 170,24
5. Bangunan 145,06 162,35 179,37 200,91
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 151,26 164,79 178,01 192,37
6.1 Perdagangan Besar dan Eceran 152,50 166,07 179,34 193,98
6.2 Hotel 146,21 165,03 188,96 201,06
6.3 Restoran 135,46 147,13 157,56 168,41
7. Pengangkutan dan Komunikasi 147,00 162,73 175,13 183,06
7.1 Angkutan Jalan Raya 147,13 162,17 175,43 185,07
7.2 Angkutan Laut 136,40 140,40 146,94 160,94
7.3 Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan 124,22 128,15 133,70 142,94
7.4 Angkutan Udara 118,68 125,22 137,63 154,92
7.5 Jasa Penunjang Angkutan 127,32 139,02 149,51 156,90
7.6 Komunikasi 165,58 192,14 207,90 207,95
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 148,41 159,89 181,53 201,36
8.1 Bank 162,17 182,67 210,20 230,49
8.2 Lembaga Keuangan Bukan Bank 136,38 147,82 161,95 170,15
8.3 Jasa Penunjang Keuangan - - - -
8.4 Sewa Bangunan 143,68 152,29 164,72 178,09
8.5 Jasa Perusahaan 122,36 134,91 148,30 155,10
9. Jasa-jasa 119,93 128,45 133,23 146,88
9.1 Pemerintahan Umum 117,35 125,45 129,31 143,49
9.2 Jasa Sosial Kemasyarakatan 132,39 142,39 149,28 156,92
9.3 Jasa Hiburan dan Rekreasi 155,30 170,54 189,93 203,85
9.4 Jasa Perorangan dan Rumahtangga 126,12 138,72 150,04 159,25
PDRB tanpa Migas 138,61 151,46 163,21 176,05
Catatan : x Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 77


Bappeda-BPS Provinsi Papua Barat

Lampiran 2.12. Angka Agregat PDRB, PDRB Per Kapita dan Penduduk
Pertengahan Tahun, 2005-2008

tanpa Migas
Uraian 2005 2006 x xx
2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5)

NILAI ABSOLUT :
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 5 427 856,04 6 367 572,45 7 452 203,55 8 735 911,05
(Juta Rupiah)
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 3 915 925,63 4 204 030,38 4 566 066,15 4 962 288,45
(Juta Rupiah)
Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 688 210 702 061 715 999 729 962
(Jiwa)
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 7 886 918 9 069 828 10 408 120 11 967 624
Berlaku (Rupiah)
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 5 690 016 5 988 127 6 377 196 6 798 009
Konstan 2000 (Rupiah)
INDEKS PERKEMBANGAN (Persen; 2000=100) :
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 192,67 226,03 264,53 310,10

PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 139,00 149,23 162,08 176,15

Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 120,50 122,93 125,37 127,82

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 159,89 183,87 211,00 242,61
Berlaku
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 115,35 121,39 129,28 137,81
Konstan 2000
LAJU PERTUMBUHAN (Persen) :
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 16,24 17,31 17,03 17,23

PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 6,83 7,36 8,61 8,68

Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 7,12 2,01 1,99 1,95

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga 8,52 15,00 14,76 14,98
Berlaku
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga -0,27 5,24 6,50 6,60
Konstan 2000
INDEKS IMPLISIT 138,61 151,46 163,21 176,05
x
Catatan : Angka sementara
xx
Angka sangat sementara

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat Tahun 2008 78