Anda di halaman 1dari 8

KONSEP SOSIOLOGI

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan atau teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Dari pengertian
tersebut, Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Sosiologi diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De
Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli :
• Soemarjan dan Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu masyarakat yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses
sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial (Soekanto, 2003:20)
• Pitrin Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari
(1) hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial
(2) hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non-sosial
(3) ciri-ciri umum semua gejala sosial (Soekanto, 2003:19)
• Roucek dan Waren menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dan kelompok-kelompok
(Soekanto, 2003:19)
• Max Webber menyatakan Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat
stabil. (wikipedia.com)
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem
tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut. Dari berbagai definisi diatas,
maka dapat disimpulkan bahwa : “Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya hubungan dalam
masyarakat”.
KONSEP PERTANIAN

Pertanian merupakan kegiatan bercocok tanam yang melibatkan proses ekonomi dan ekologi di dalamnya. Kegiatan pertanian (budidaya
tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan.
Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri yang sebelumnya manusia hanya
dapat berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan untuk dikonsumsi. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan
demikian mendorong kemunculan peradaban. Terjadi perubahan dalam pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan juga kesenian akibat
diadopsinya teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris.
Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, pertanianpun berkembang menjadi berbagai sistem. Mulai dari sistem yang paling
sederhana sampai sistem yang canggih dan padat modal. Berbagai teknologi pertanian dikembangkan guna mencapai produktivitas yang
diinginkan. Di lain pihak, ilmu pertanian pun berkembang. Ilmu pertanian kemudian tumbuh bercabang-cabang, terspesialisasi, seperti misalnya
agronomi, ilmu tanah, sosial ekonomi, dan sebagainya. Kemajuan ilmu dan teknologi dan peningkatan kebutuhan hidup manusia, memaksa
manusia untuk memacu produktifitas menguras lahan, sementara itu daya dukung lingkungan mempunyai ambang batas toleransi. Sehingga,
peningkatan produktivitas akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, yang pada ujungnya akan merugikan manusia juga. Berangkat dari
kesadaran itu maka muncullah tuntutan adanya sistem pertanian berkelanjutan.

IMPLIKASI SOSIOLOGI DAN PERTANIAN


(SOSIOLOGI PERTANIAN)

Ruang Lingkup Sosiologi Pertanian


Obyek dari sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus-menerus atau sementara tinggal di sana, sedangkan
obyek sosiologi pertanian adalah keseluruhan penduduk yang bertani tanpa memperhatikan jenis tempat tinggalnya. Sosiologi pedesaan lebih
menggunakan pendekatan lokasi dalam hal ini “pemukiman”.
Sosiologi pertanian menurut Planck (1993:4) adalah sosiologi ekonomi seperti halnya sosiologi industri, yang membahas fenomena
sosial dalam bidang ekonomi pertanian. Sosiologi memusatkan hampir semua perhatiannya pada petani dan permasalahan hidup petani. Tema
utama sosiologi pertanian adalah undang-undang pertanian, organisasi sosial pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentuk organisasi
pertanian, dan masalah sosial pertanian. Sebuah aspek yang sangat penting adalah posisi sosial petani dalam masyarakat. Situasi kehidupan
manusia yang tergantung pada pertanian ditentukan terutama oleh hubungan mereka dengan tanah (tata tanah), oleh hubungan pekerjaan mereka
satu dengan lainnya (tata kerja), dan oleh sistim ekonomi dan masyarakat yang ada diatas mereka (tata kekuasaan). Keseluruhan tata sosial ini
disebut sebagai hukum agraria yang dalam arti sempit dimaknai sebagai hukum pertanahan (land tenure).

Kegunaan Mempelajari Sosiologi Pertanian


Dengan mempelajari sosiologi pertanian kita bisa mengumpulkan secara sistimatis atau secara bermakna tentang keterangan-keterangan
mengenai masyarakat pedesaan dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan menelaah hubungan-hubungannya.
Sosiologi pertanian membantu dalam mengambil lukisan seteliti-telitinya tentang tingkah laku, sikap, perasaan, motif dan kegiatan-kegiatan
petani yang umumnya hidup dalam lingkungan pedesaan. Hasil telaah tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat
pedesaan dan pertanian pada khususnya.
Planck (1993:9) menyatakan bahwa penduduk desa mencari penjelasan mengenai proses sosial di pedesaan dan menuntut pembaharuan
untuk masa depan. Petani mengharapkan sosiologi pertanian dalam usahanya menemukan suatu kesadaran baru.
Praktek dari politik pertanian menuntut dari sosiologi pertanian antara lain tempat kegiatan terbaik untuk langkah-langkah yang telah
direncanakan dan menunjukan dampak sosial yang akan timbul dari yang direncanakan. Sosiologi pertanian harus memberikan data mengenai
struktur pedesaan, mengenai kecenderungan perkembangan sosial, mengenai penyakit dalam masyarakat dan keadaan darurat, mengenai harapan
dan tuntutan sosial mereka dalam perencanaan tata ruang.

1
Sumbangan sosiologi pertanian dalam politik kemasyarakatan memang masih terbatas. Namun dapat membantu dalam pengambilan
keputusan dengan cara :
1. Menjelaskan definisi, obyek dan indikator sosial.
2. Menjelaskan hubungan sesama manusia dan perilakunya.
3. Meneliti aturan, fungsi kelompok atau organisasi sosial.
4. Menemukan tenaga pendorong, mekanisme dan proses perubahan sosial.

SOSIOLOGI PERTANIAN

Secara mendasar sebagai suatu objek, sosiologi berkembang dalam bentuk sosiologi terapan yang didalamnya termasuk juga sosiologi
pertanian. Sebelum munculnya sosiologi pertanian, ada istilah yang lebih dikenal dengan sosiologi pedesaan dan sosiologi perkotaan.
Sebelum abad ke-19, deskripsi-deskripsi tentang sosiologi pedesaan dan sosiologi perkotaan sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan
masih dapat diakui dan dipertahankan sepanjang masih adanya perbedaan di desa dan di kota. Salah satu faktor utama yang menyebabkan
perbedaan di desa dan di kota adalah faktor isolasi fisik yang dari faktor isolasi fisik ini yang akan mengakibatkan juga terjadinya isolasi sosial
dan kultural. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perbedaan yang ada di desa dan kota semakin menipis terutama dalam bidang pertanian.
Menipisnya perbedaan ini dapat kita lihat bahwa dewasa ini peranan sektor pertanian di desa semakin menghilang selain itu banyak juga petani
yang berasal dari kota.
Maka sekitar akhir tahun 80-an muncullah istilah sosiologi pertanian yang pertama kali disuting oleh Ulrich Plank dalam bukunya yang
berjudul ”Agrarian Sosiology” (Sosiologi Pertanian). Jadi dapat dikatakan bahwa sosiologi pertanian merupakan respon perkembangan yang
terjadi karena semakin menipisnya perbedaan di desa dan kota.

STRUKTUR FISIK DAN NON FISIK

Berangkat dari sosiologi pedesaan dan sosiologi perkotaan, secara umum yang dipelajari dalam sosiologi pedesaan pada dasarnya
juga sama. Salah satu aspek yang dipelajari yaitu tentang struktur fisik dan non fisik. Berikut macam-macam struktur fisik dan non fisik yang ada
dalam sosiologi pertanian.
A. Struktur Fisik
1. Lokasi dan Topografi
Topografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi. Dalam pengertian yang lebih luas,
topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan
kebudayaan lokal.
Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan. Objek dari topografi
adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan
secara vertikal yaitu ketinggian. Mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi ini.
2. Tanah
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua
kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar.
Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat
hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Dari segi klimatologi,
tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi.
3. Pengairan (Irigasi)
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertaniannya. Dalam dunia modern saat ini sudah banyak
model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau
sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mangalirkan air tersebut ke lahan pertanian.
4. Permukiman
Permukiman pada dasarnya dibagi menjadi 2 :
a) Desa
Desa menurut definisi universal, adalah sebuah aglomerasi permukiman di area perdesaan (rural).
b) Kota
Kota menurut definisi universal, adalah sebuah area urban yang berbeda dari desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya,
kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum.
5. Iklim
Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang iklim dipelajari dalam meteorologi. Iklim di bumi
sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis.
Ilmu yang mempelajari tentang iklim adalah klimatologi

B. Struktur Non Fisik


1. Demografi
Demografi atau Kependudukan adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya
ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta
penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti
pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
2. Pelapisan Sosial
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat
secara vertikal (bertingkat). Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan
2
pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di
dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial.
3. Kelompok Sosial
Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi.
Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya.

LEMBAGA DAN ORGANISASI PERTANIAN

A. Kelembagaan Pertanian
Dalam kelembagaan pertanian terdapat peraturan yang terikat baik dalam bentuk Tatanan, Norma, maupun Undang-Undang yang
berfungsi sebagai norma sosial. Fungsi norma sosial sendiri baik dalam bidang pertanian, non-pertanian ataupun umum, sebagai berikut :
a) Pedoman prilaku masyarakat
b) Alat pemersatu
c) Panduan kontrol sosial
Pemanfaatan sumber daya di kelembagaan pertanian ada beberapa transaksi yang biasa dilakukan seperti :
a) Transaksi Lahan
b) Transaksi Tenaga
c) Transaksi Teknologi (Input)
d) Transaksi Modal
e) Transaksi Hasil Pertanian
f) Transaksi Budaya

Lembaga pertanian dapat terbagi menjadi 2 :


1. Lembaga Formal
Lembaga Formal di bidang pertanian biasanya dididirikan oleh suatu perusahaan yang bergelut di bidang pertanian.
2. Lembaga Adat
Lembaga adat adalah lembaga yang berdasar atas hukum adat yang berlaku di suatu daerah tertentu. Lembaga adat mengatur beberapa
aspek kehidupan di lingkungan masyarakat dimana suatu kelompok atau anggota adat tersebut berada. Berikut beberapa lembaga adat di
Indonesia :
a) MAPALUS
Mapalus adalah sistem atau teknik kerjasama untuk kepentingan bersama dalam budaya suku Minahasa. Secara fundamental, Mapalus
adalah suatu bentuk gotong-royong tradisional yang memiliki perbedaan dengan bentuk-bentuk gotong royong modern (misal: perkumpulan atau
asosiasi usaha).
Seiring dengan berkembangnya fungsi-fungsi organisasi sosial yang menerapkan kegiatan-kegiatan dengan asas Mapalus, saat ini,
Mapalus juga sering digunakan sebagai asas dari suatu lembaga kemasyarakatan di Minahasa.
Dalam penerapannya, Mapalus berfungsi sebagai daya tangkal bagi resesi ekonomi dunia, sarana untuk memotivasi dan memobilisasi
manusia bagi pemantapan pembangunan, dan merupakan sarana pembinaan semangat kerja produktif untuk keberhasilan operasi mandiri (misal:
program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian).
Prinsip solidaritas yang tercermin dalam Mapalus terefleksi dalam perekonomian masyarakat di Minahasa, yaitu dikenalkannya prinsip
ekonomi Tamber. Prinsip ekonomi Tamber merujuk pada suatu kegiatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, atau warga sewanua
(sekampung) secara sukarela dan cuma-cuma, tanpa menghitung-hitung atau mengharapkan balas jasa. Prinsip ekonomi Tamber berasaskan
kekeluargaan. Dari segi motivasi adat, prinsip ini mengandung suatu makna perekat kultural (cagar budaya) yang mengungkapkan juga
kepedulian sosial, bahkan indikator keakraban sosial. Faktor kultural prinsip ekonomi Tamber berdasarkan keadaan alam Minahasa yang subur
dan berlimpah, dan tipikal orang Minahasa yang cenderung rajin dan murah hati.
Mapalus berasaskan kekeluargaan, keagamaan, dan persatuan dan kesatuan. Bentuk Mapalus, antara lain:

• Mapalus tani
• Mapalus nelayan
• Mapalus uang
• Mapalus bantuan duka dan perkawinan
• Mapalus kelompok masyarakat.

b) SUBAK
Subak adalah organisasi yang mengatur tentang pertanian di Bali. Organisasi ini sudah ada kurang lebih dari 1 abad yang lalu. Konsep
yang dianut oleh Subak adalah konsep Tri Hita Karana, yaitu 3 hubungan manusia dengan alam, Tuhan dan Manusia sendiri. Di Konsep ini
menuju ke hubungan Manusia dan Alam, Subak selain mengurus pertanian tanah, mereka juga mengurus kelestarian hutan sebagai salah satu
sumber air dan merupakan tempat penting perburuan Raja mereka.
Ada 2 jenis pertanian yang diatur disini, yaitu Pertanian Tanah kering dan Pertanian Tanah Basah. Pertanian Tanah kering itu bisa
kita sebut sebagai Ladang. dan tanah basah yang disebut Sawah. Selain itu di setiap Subak, mereka memiliki pura sendiri di sawahnya, yaitu
sering disebut Pura Ulu Uma atau Hulu Sawah. Tempat memuja Dewi kemakmuran yaitu Dewi Sri.
Setiap Subak memiliki Pekaseh sebagai pemimpinnya. Pekaseh ini merupakan jabatan yang turun temurun di beberapa daerah di Bali.
Dari sumber yang didapat mengenai pertanyaan tentang mengapa turun temurun? Karena mereka memiliki keariafan yang diwarisi dari leluhur

3
ke keturunannya, sebagai suatu budaya keluarga. Sampai sekarang, masih terdapat Pekaseh di Desa-desa di Bali. Selain itu ada juga yang disebut
Sedahah, merupakan pimpinan kelompok Subak yang berada di satu sumber air yang sama.
Cara bagi hasilnya pun juga sudah diatur dan ditujukan kepada kepentingan bersama untuk semua anggota Subak itu sendiri. Seperti
misalnya bagi orang yang memiliki tanah tetapi bukan dia yang menggarapnya, maka selama 3 bulan hasil dari tanah tersebut diberikan
sepenuhanya kepada si penggarap dan setelah 3 bulan tersebut barulah hasilnya di bagi.

c) LEMASA
Lemasa adalah salah satu Lembaga Adat Suku Amungme yang berkedudukan di Timika Papua

B. Organisasi Pertanian
STRUKTUR ORGANISASI PERTANIAN DI INDONESIA

Keterangan :
PUSLITBANGTAN
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
PUSLITBANGHORTI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
PUSLITBANGBUN
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
PUSLITBANGNAK
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
PSEKP
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
PUSTAKA
Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian
BB PASCAPANEN
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian
BB BIOGEN
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
BBPMP
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian
BB SDLP
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian
BB PENGKAJIAN
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
BB PADI
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
BBALITVET
Balai Besar Penelitian Veteriner
4
BALITKABI
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
BALITSEREAL
Balai Penelitian Tanaman Serealia
BALITSA
Balai Penelitian Tanaman Sayuran
BALITBU TROPIKA
Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
BALITHI
Balai Penelitian Tanaman Hias
BALITJESTRO
Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika
BALITTRO
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
BALITTAS
Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat
BALITKA
Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain
BALITTRI
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
BALITNAK
Balai Penelitian Ternak
BALITTRA
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa
BALITTANAH
Balai Penelitian Tanah
BALITKLIMAT
Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi
BALINGTAN
Balai Penelitian Lingkungan Pertanian
BALAI PATP
Balai Pengkajian Alih Teknologi Pertanian
BPTP
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
LOLITTUNGRO
Loka Penelitian Penyakit Tungro
LOLITSELA
Loka Penelitian Tanaman Sela Perkebunan
LOLITSAPI
Loka Penelitian Sapi Potong
LOLITKAMBING
Loka Penelitian Kambing Potong

LRPI
Lembaga Riset Perkebunan Indonesia
PUSLIT KARET
Pusat Penelitian Karet Indonesia
PUSLIT KOPI DAN KAKAO
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
PUSLIT GULA
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
PUSLIT TEH DAN KINA
Pusat Penelitian Teh dan Kina
PUSLIT KELAPA SAWIT
Pusat Penelitian Kelapa Sawit

ORGANISASI PANGAN DAN PERTANIAN


Organisasi Pangan dan Pertanian (bahasa Inggris: Food and Agriculture Organisation / FAO) berada di bawah naungan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bermarkas di Roma, Italia, FAO bertujuan untuk menaikkan tingkat nutrisi dan taraf hidup; meningkatkan
produksi, proses, pemasaran dan penyaluran produk pangan dan pertanian; mempromosikan pembangunan di pedesaan; dan melenyapkan
kelaparan. Misalnya, langkah FAO untuk membasmi lalat buah Mediterania dari Lembah Sungai Karibia menguntungkan industri jeruk Amerika

5
Serikat. FAO dibentuk tahun 1945 di Quebec City, Quebec, Kanada. Pada 1951, markasnya dipindahkan dari Washington, D.C., AS ke Roma,
Italia. Terhitung 26 November 2005, FAO mempunyai 189 anggota (188 negara dan Komunitas Eropa).
Aktivitas utama FAO terkonsentrasi pada 4 bagian:

• Bantuan Pembangunan untuk negara-negara berkembang.


• Informasi mengenai nutrisi, pangan, pertanian, perhutanan dan perikanan.
• Nasehat untuk pemerintah.
• Forum netral untuk membicarakan dan menyusun kebijakan mengenai isu utama pangan dan pertanian

Organisasi pertanian sendiri tercakup dalam 5 aspek yaitu :


1) Rumah Tangga Tani → kehidupan keluarga tani
2) Kelompok Tani
Kelompok Tani adalah kumpulan orang-orang tani yang terikat secara informal atas dasar kerasaian dalam kebutuhan bersama serta
didalam lingkungan pengaruh dan pempinan seorang kontak tani.
Ciri kelompok tani efektif
1. Merupakan kelompok yang efektif yang terdiri dari kurang lebih 10 orang untuk bekerjasama dalam hal belajar teknologi, pengambilan
keputusan, produksi, dan lainnya.
2. Anggota para petani berada dalam pengaruh kontak tani
3. Para aggota kelompok tani memiliki tujuan yang sama, UT yang sejenis
4. Para anggota memilki kegemaran sejenis, tradisi, bahasa, domisili, lokasi UT, status ekonomi, pendidikan dan usia.
5. Bersifat Informal diman terbentuk atas dasar keinginan dan pemufakatan pawra anggota, memilki aturan, waktu tidak tertulis, adanya
pembagian kerja dan tanggung jawab bukan pengurus, hubungan antar anggota luwes, solider dan percaya.
Fungsi kelompok tani
a. Sebagai media interaksi dalam belajar para anggota kelompok untuk adopsi inovasi
b. Media sebai asah, asuh,asih para anggota dalam menyerap informasi
c. Wadah kerja sama (embrio koperasi)
d. Menyelenggarakan kegiatan berdasakan musyawarah
e. Kegiatan produski bersama usaha perusahaan
f. Peningkatkan posisi tawar (brganing posistion)
g. Adanya pembagaian tugas antaranggota untuk mencapai tujuan kelompok
3) Perangkat Pertanian Pemerintah / Desa → pelayanan dan pengaturan pertanian
4) Pedagang Hasil dan Input Pertanian → pemasaran pertanian
5) Perusahaan Pertanian → sektor pertanian

KELOMPOK SOSIAL

INDIVIDU DAN KELOMPOK

Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan manusia lain. Sebagai akbat dari hubungan
yang terjadi di antara individu-individu (manusia) kemudian lahirlah kelompok-kelompok sosial (social group) yang dilandasi oleh kesamaan-
kesamaan kepentingan bersama. Namun bukan berarti semua himpunan manusia dapat dikatakan kelompok sosial. Untuk dikatakan kelompok
sosial terdapat persyaratan-persyaratan tertentu.

A. PENGERTIAN KELOMPOK SOSIAL


Menurut beberapa ahli, pengertian kelompok sosial sebagai berikut :
1. Soerjono Soekanto
Himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling hubungan diantara mereka secara timbal balik dan saling
mempengaruhi
2. Mayor Polak
Sejumlah orang yang saling berhubungan dalam sebuah struktur
3. Robert K. Merton
Sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.
4. Mac Iver & Charles H.Page
Himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, yang bersifat mempengaruhi dan saling menolong
5. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
Kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.
6. George Homans
Kumpulan individdu yang melakukan kegiatan, interaksi dan memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan
berhubungan secara timbal balik.

B. SYARAT-SYARAT KELOMPOK SOSIAL


1. Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan
6
2. Memiliki struktur, kaidah dan pola perilaku yang sama
3. Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan di antara anggotanya
4. Memiliki kepentingan bersama
5. Adanya interaksi dan komunikasi di antara para anggotanya

C. CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL


1. Merupakan kesatuan yang nyata
2. Memiliki struktur sosial
3. Memiliki norma-norma
4. Memiliki faktor pengikat
5. Adanya interaksi dan komunikasi

D. PROSES PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL


1. Faktor-faktor Pendorong Timbulnya Kelompok Sosial
a. Dorongan untuk mempertahankan hidup
b. Dorongan untuk meneruskan keturunan
c. Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja
d. Adanya persamaan senasib tujuan, ideologi, suku bangsa kelompok etnik
yang sama atau
2. Dasar Pembentukan Kelompok Sosial
a. Kesatuan Genealogis atau Faktor Keturunan
b. Kesatuan Religius
c. Kesatuan Teritorial (Community)
d. Kesatuan Kepentingan (Asosiasi)

E. TIPE-TIPE KELOMPOK SOSIAL


1. Klasifikasi Durkheim → Solidaritas antaranggota
a) Solidaritas Mekanik
Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta
belum mengenal adanya pembagian kerja diantara para anggota kelompok.
▫ Ciri-ciri Solidaritas Mekanik :
- Masih relatif homogen & sederhana
- Belum mengenal pembagian kerja
- Diikat oleh kesadaran kolektif
- Hukuman bersifat represif
b) Solidaritas Organik
Solidaritas organik adalah solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah kompleks dan telah mengenal pembagian kerja yang teratur
sehingga disatukan oleh saling ketergantungan antaranggota.
▫ Ciri-ciri Solidaritas Organik :
- Masyarakat kompleks
- Ada pembagian kerja
- Ikatan utama mempersatukan masyarakat
- Hukuman bersifat restitutif

2. Klasifikasi Ferdinand Tonnies → Erat longgarnya ikatan


a) GEMEINSCHAFT (Paguyuban)
Gemeinschaft adalah kelompok sosial yang memiliki ikatan erat, kehidupan bersama yang intim, pribadi dan eksklusif.
b) GESSELSCHAF (Patembayan)
Gesellschaft adalah kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang secara kebetulan hadir bersama. Bersifat sementara dan semu.

3. Klasifikasi W.G. Summer → Identifikasi diri


a) IN-GROUP
In-Group digunakan pada anggota kelompok yang memiliki persahabatan, kerja sama dan keteraturan
b) OUT-GROUP
Out-Group adalah anggota kelompok lain yang cenderung ditandai rasa kebencian dan permusuhan

4. Klasifikasi Soerjono Soekanto → Hubungan diantara para anggotanya


Suatu himpunan manusia dikatakan kelompok sosial apabila memenuhi persyaratan berikut ini :
a. Setiap anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa dia bagian dari kelompok tersebut.
b. Memiliki struktur sosial sehingga kelangsungan hidup kelompok tergantung pada kesungguhan para anggotanya dalam melaksanakan
perannya.
c. Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya.
d. Memiliki kepentingan bersama.
e. Adanya interaksi dan komunikasi diantara anggotanya.

7
a) PRIMARY GROUP (Kelompok Primer)
Kelompok Primer adalah kelompok sosial yang memiliki hubungan saling mengenal antar anggotanya serta terdapat kerja sama yang
bersifat pribadi dan memiliki perasaan kebersamaan.
b) SECONDARY GROUP (Kelompok Sekunder)
Kelompok Sekunder adalah kelompok sosial yang terbentuk karena adanya kepentingan yang sama sehingga kerjasama didasarkan pada
hitungan untung rugi. Biasanya berupa besar yang terdiri banyak orang, kurang akrab, tidak begitu langgeng.

5. Klasifikasi berdasarkan Acuan cara bersikap dan bertindak


a) TIPE-TIPE KELOMPOK SOSIAL BERDASAR SISTEM HUBUNGAN
(i) KELOMPOK FORMAL
Kelompok Formal adalah kelompok yang memiliki sistem hubungan yang sengaja diciptakan, sehingga unsur-unsur dalam suatu
organisasi merupakan bagian-bagian fungsional yang berhubungan. Umumnya kelompok formal memiliki sistem hubungan yang sengaja
diciptakan.
(ii) KELOMPOK INFORMAL
Kelompok informal adalah kelmpok yang memiliki hubungan secara pribadi, bersifat erat dan intim.

b) TIPE-TIPE KELOMPOK SOSIAL BERDASAR ACUAN BERSIKAP/BERTINDAK


(i) MEMBERSHIP GROUP
Kelompok sosial tempat seseorang yang secara fisik menjadi anggotanya.
(ii) REFERENCE GROUP
Kelompok sosial yang dijadikan acuan dalam bersikap, menilai atau bertindak oleh seseorang yang bukan sebagai anggota
kelompoknya.

6. Klasifikasi Berdasarkan Cara Terbentuknya


a) KERUMUNAN
Kerumunan adalah kumpulan manusia yang berada dalam suatu tempat karena adanya perhatian yang sama, tapi tanpa adanya suatu
ikatan
b) PUBLIK
Publik adalah kumpulan manusia yang tidak melakukan interaksi secara langsung tetapi melalui alat-alat komunikasi

7. Klasifikasi Berdasarkan Keteraturannya


a) KELOMPOK TERATUR
Kelompok teratur merupakan kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan anggota-anggotanya untuk mengatur
hubungan antarmereka.
Ciri-ciri kelompok teratur:
- Memiliki identitas kolektif yang tegas (misalnya tampak pada nama kelompok, simbol kelompok,dll).
- Memiliki daftar anggota yang rinci.
- Memiliki program kegiatan yang terus-menerus diarahkan kepada pencapaian tujuan yang jelas.
- Memiliki prosedur keanggotaan.
Contoh kelompok teratur antara lain berbagai perkumpulan pelajar atau mahasiswa, instansi pemerintahan, parpol, organisasi massa, perusahaan,
dll.

b) KELOMPOK TIDAK TERATUR


Kelompok tidak teratur merupakan kelompok yang tidak mempunyai struktur atau organisasi tertentu. Kelompok ini terbentk karena
pertemuan yang berulang-ulang. Contoh kelompok belajar. Menurut Soerjono Soekanto, kelompok tidak teratur adalah suatu kelompok kecil
tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Dalam kelompok ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan
timbal balik antaranggota, biasanya hanya bersifat “antara kita saja”.

Di samping ada kelompok sosial juga terdapat sistem sosial seperti berikut:
a. lapisan sosial atas (upper)
b. lapisan sosial menengah (midle)
c. lapisan sosial rendah (lower)