Anda di halaman 1dari 120
Daftar Isi
Daftar Isi
i
i

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

BAHASA DAN SASTRA

INDONESIA 3

Untuk SMK Kelas XII

Penulis

:

Siswasih

Ilustrasi, Tata Letak

:

Kanen M. Ridwan Agus Safitri, Marina

Perancang Kulit

:

Oric Nugroho Jati

Sumber Gambar Kulit

:

Adhie Fotografi

Ukuran Buku

:

21 x 29,7 cm

410

SIS

SISWASIH

b Bahasa dan Sastra Indonesia 3: untuk SMK/MAK kelas XII/Siswasih, Kanen Ridwan: — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. viii, 110 hlm.: ilus.; 30 cm. Bibliografi : hlm. 108-109 Indeks ISBN 979-460-877-8

1. Bahasa Indonesia-Studi Pengajaran II. Ridwan, Kanen. M

I. Judul

Hak Cipta Buku ini dibeli oleh Departemen Pendidikan Nasional dari Penerbit PT Galaxy Puspa Mega .

Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008

Diperbanyak oleh

ii
ii
Daftar Isi Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, Pemerintah,
Daftar Isi
Daftar Isi

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah membeli

hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis/penerbit untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui situs internet (website) Jaringan Pendidikan Nasional. Buku teks pelajaran ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan telah ditetapkan sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun

2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penulis/penerbit yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para siswa dan guru di seluruh Indonesia. Buku-buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (down load), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun, untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Diharapkan bahwa buku teks pelajaran ini akan lebih mudah diakses sehingga siswa dan guru di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para siswa kami ucapkan selamat belajar dan manfaatkanlah buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, Juli 2008 Kepala Pusat Perbukuan

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII Dalam kehidupan manusia, bahasa memegang peranan penting.
Dalam kehidupan manusia, bahasa memegang peranan penting. Peranan penting bahasa antara lain sebagai alat komunikasi,
Dalam kehidupan manusia, bahasa memegang peranan penting. Peranan penting bahasa
antara lain sebagai alat komunikasi, alat pemersatu, dan penerus pengetahuan manusia.
Adanya bahasa memungkinkan manusia saling berkomunikasi dan berhubungan. Komunikasi
dengan bahasa memungkinkan manusia menjadi saling mengenal, memahami, dan
menghargai satu sama lain. Dengan bahasa pula manusia dapat menjalin hubungan dan
kerja sama satu dengan yang lain. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa tanpa bahasa,
manusia tidak mungkin bersatu dan maju.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini pun tidak terlepas dari peranan
bahasa. Bagaimana hal itu dapat dijelaskan? Dengan bahasa, manusia merumuskan ide-
ide yang dimilikinya dan diteruskan dan dipelajari oleh orang lain. Dengan kata lain, bahasa
memungkinkan kita manusia dapat saling berbagi pengalaman dan belajar satu dengan yang
lain. Dengan demikian, bahasa menjadi sarana yang sangat penting bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam konteks seperti itulah, maka Pendidikan Bahasa Indonesia diselenggarakan dari
tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Dengan kemampuan berbahasa Indone-
sia
yang baik dan benar, diharapkan putra-putri Indonesia sanggup untuk menjalin persatuan
di
antara anak bangsa Indonesia serta dapat berperan serta dalam memajukan ilmu
pengetahuan. Hal itu secara konkret lagi dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP).
Sesuai dengan KTSP, pembelajaran Bahasa Indonesia mempunyai tujuan agar siswa
memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Meningkatkan kemampuan peserta didik untuk
mencapai tingkat kualifikasi unggul; 2) Menerapkan kompetensi berbahasa Indonesia secara
baik dan benar pada mata pelajaran lainnya; 3) Meningkatkan kemampuan berkomunikasi
secara efisien dan efektif, baik lisan maupun tertulis; dan 4) Meningkatkan kemampuan
memanfaatkan berbahasa Indonesia untuk bekerja. Adapun kompetensi yang hendak dicapai
ialah berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sesuai dengan tingkat masing-masing.
Mengingat bahasa bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan,
maka materi dalam buku ini mencakup pengetahuan dan keterampilan. Karena itu, siswa
diharapkan aktif mengerjakan tugas-tugas latihan yang ada supaya semakin terampil dalam
berbahasa Indonesia. Buku ini berisi lima kompetensi dasar sebagai berikut: 1) menyimak
untuk memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana; 2)
mengapresiasi secara lisan teks seni bebahasa dan teks ilmiah sederhana; 3) menulis pro-
posal untuk kegiatan ilmiah sederhana; 4) menulis surat dengan memerhatikan jenis surat;
dan 5) menulis laporan ilmiah sederhana. Perlu diperhatikan oleh siswa, kelima kompetensi
dasar yang ada pada buku ini harus dikuasai dengan baik. Mengapa? Karena kompetensi
dasar tersebut sangat bermanfaat dalam memasuki dunia kerja.
Keunggulan buku ini terletak pada kelengkapan materi dan latihan untuk masing-masing
modul atau bab. Selain itu kali menyediakan rangkuman untuk membantu siswa dalam
mengulang kembali bab yang telah dipelajari. Di bagian akhir buku, kami sediakan juga
glosarium dengan maksud untuk memperkaya wawasan dan perbendaharaan kata, indeks,
dan daftar pustaka.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
langsung maupun tidak langsung membantu terwujudnya buku ini. Semoga usaha kami ini
berguna khususnya bagi para guru dan siswa SMK serta semua pihak yang mencintai bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa. Selamat belajar berbahasa
Indonesia yang baik dan benar!
Jakarta, Juli 2008
Daftar Isi
Daftar Isi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Standar Kompetensi Berkomunikasi dengan bahasa
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Standar Kompetensi
Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia
setara tingkat Semenjana
Kode A
Standar Kompetensi
Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia
setara tingkat Madya
Kode B
Kompetensi Dasar
3.
1
Standar Kompetensi
Menyimak untuk memahami secara kreatif
teks seni berbahasa dan teks ilmiah
sederhana
Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia
setara tingkat Unggul
Kode C
3.
2
Mengapresiasi secara lisan teks seni
berbahasa dan teks ilmiah sederhana
3.
3
Menulis proposal untuk kegiatan ilmiah
sederhana
3.
4
Anda berada
Menulis surat dengan memperhatikan jenis
surat
di sini
3.
5
Menulis laporan ilmiah sederhana
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII Kata Sambutan iii Kata Pengantar iv
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

Kata Sambutan

iii

Kata Pengantar

iv

Peta Kedudukan Modul

v

Daftar Isi

vi

 

Modul Kode C Semester 5

Pembelajaran 1

Menyimak untuk Memahami secara Kreatif Teks Seni Berbahasa dan Teks Ilmiah Sederhana

Pendahuluan

1

Cek Kemampuan

1

1.1 Menyimak untuk Mengapresiasi

2

1.1.1 Menyimak untuk mengapresiasi Sastra

2

1.1.2 Menilai Karya Sastra

3

1.1.3 Menyimak Kutipan Novel

3

1.2 Membaca untuk Membandingkan

6

1.2.1

Membandingkan Teks Sastra dan Teks Ilmiah

6

1.3 Berbicara untuk Mengungkapkan

8

1.3.1

Mengungkapkan Unsur-unsur Karya Sastra

8

1.3.2

Menganalisis Prosa

12

1.3.3

Teks Cerpen

13

1.3.4

Mengapresiasi Cerpen

16

1.4 Menulis

19

1.4.1

Mengasosiasikan Karya dengan Penulisnya

19

Rangkuman

20

Tes Akhir Pembelajaran 1

21

 

Pembelajaran 2

Mengapresiasi Secara Lisan Teks Seni Berbahasa dan Teks Ilmiah

 

Pendahuluan

23

Cek Kemampuan

23

2.1

Menyimak untuk Membandingkan

24

2.1.1 Menyimak Teks Sastra

24

2.1.2 Menyimak Teks Ilmiah

25

2.1.3 Gaya Bahasa (Majas)

27

Daftar Isi
Daftar Isi
 

2.1.4

Peribahasa

32

2.2

Membaca Sastra

33

2.2.1 Membaca Teks Sastra

33

2.2.2 Memberi Komentar

35

2.3

Berbicara untuk Membandingkan

36

2.3.1

Membandingkan Teks

36

2.4

Menulis Cerpen

38

2.4.1

Menulis Kelanjutan Cerpen

38

Rangkuman Tes Akhir Pembelajaran 2

40

42

 

Pembelajaran 3

Menulis Proposal untuk Kegiatan Ilmiah Sederhana

Pendahuluan

 

45

Cek Kemampuan

45

3.1 Menyimak Program Kerja

46

 

3.1.1

Menyimak Program Kerja

46

3.2 Membaca Proposal

47

 

3.2.1

Membaca Proposal

47

3.3 Berbicara

49

 

3.3.1 Bahasa Proposal

49

3.3.2 Unsur-unsur Proposal

49

3.4 Menulis Proposal

50

 

3.4.1

Menyusun Proposal sesuai Keahlian Masing-masing

50

Rangkuman Tes Akhir Pembelajaran

51

52

 

Modul Kode C Semester 6

Pembelajaran 4

Menulis Surat dengan Memerhatikan Jenis Surat

Pendahuluan

 

55

Cek Kemampuan

55

4.1 Menyimak Surat

56

 

4.1.1 Pengertian Surat

56

4.1.2 Jenis-jenis Surat

56

4.2 Membaca Surat

62

 

4.2.1 Penggunaan Bahasa dalam Surat Dinas

62

4.2.2 Membaca Surat Edaran

64

4.2.3 Membaca Surat Undangan

65

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

4.3

Berbicara untuk Menjelaskan

66

4.3.1 Menjelaskan Surat Niaga

66

4.3.2 Nota Dinas dan Memo

71

4.4

Menulis Surat

74

4.4.1

Menulis Surat Izin/Permohonan

74

4.4.2

Menulis Surat Lamaran Kerja

74

4.4.3

Menulis Surat Balasan Lamaran Kerja

76

4.4.4

Menulis Surat Perjanjian

77

4.4.5

Menulis Surat Kuasa

82

Rangkuman

83

Tes Akhir Pembelajaran 4

86

 

Pembelajaran 5

Menulis Laporan Ilmiah Sederhana

Pendahuluan

 

89

Cek Kemampuan

89

5.1

Menyimak Laporan

90

5.1.1 Menyimak Laporan

90

5.1.2 Pengertian, Fungsi, dan Sifat Laporan

91

5.2

Membaca Laporan

92

5.2.1 Memahami Gaya Penulisan Laporan

92

5.2.2 Memahami Sistematika Laporan Formal

92

5.2.3 Merumuskan Topik dan Judul

93

5.3

Berbicara

94

5.3.1

Merencanakan Kerangka Laporan

94

5.4

Menulis Laporan

95

5.4.1

Menulis Laporan Kegiatan

95

5.4.2

Menulis Laporan Perjalanan

96

5.4.3

Menulis Laporan Wawancara

96

Rangkuman

97

Tes Akhir Pembelajaran 5

99

Evaluasi Akhir

 

101

Glosarium

106

Daftar Pustaka

118

Indeks

110

Pendahuluan : Setelah kalian menjalani proses pembelajaran pada tingkat madya di kelas XI, tentu kemampuan
Pendahuluan : Setelah kalian menjalani proses pembelajaran pada tingkat madya di kelas XI, tentu kemampuan
Pendahuluan :
Setelah kalian menjalani proses pembelajaran pada tingkat madya di kelas XI, tentu kemampuan
kalian dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar semakin meningkat. Kini kalian memasuki
pembelajaran pada tingkat unggul. Pada tingkat unggul ini kalian akan semakin dipacu untuk bisa
berkomunikasi dengan baik dalam menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pada pertemuan
awal ini, kalian akan diajak untuk menyimak dan memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan
teks ilmiah sederhana dengan cara menyebutkan makna apresiasi dan menilai sebuah karya sastra.
Kedua, melalui kegiatan membaca kalian diajak untuk bisa menganalisis makna kata denotatif dan
konotatif dalam teks ilmiah dan membandingkannya dengan teks sastra.
Ketiga, melalui kegiatan berbicara kalian diharapkan bisa mengemukakan pesan yang tersirat dalam
cerpen yang dibacakan. Selain itu, kalian juga diharapkan bisa mengungkapkan unsur intrinsik dan
ekstrinsik dalam cerpen yang dibaca.
Keempat, melalui kegiatan menulis kalian akan diajak untuk mengasosiasikan karya sastra dan
teks ilmiah yang dibacakan dengan konteks kehidupan nyata.
Akhirnya, selamat belajar dan sukseslah selalu. Namun sebelumnya, sebaiknya kalian melakukan
cek kemampuan terlebih dulu.
Cek Kemampuan
Berilah tanda (
) pada kolom Ya atau Tidak yang tersedia sesuai dengan apa yang kalian pahami!
No
Ya
Tidak
Pertanyaan
1.
Bisakah kalian menyebutkan makna apresiasi?
2.
Dapatkah kalian menilai sebuah karya sastra?
3.
Mampukah kalian menganalisis makna kata denotatif dan konotatif
dalam teks ilmiah dan mambandingkannya dengan teks sastra?
4.
Setelah sebuah cerpen dibacakan, dapatkah kalian mengemukakan
pesan yang tersirat di dalam cerpen tersebut?
5.
Setelah membaca cerpen, bisakah kalian mengungkapkan unsur
intrinsik dan ekstrinsik yang ada di dalamnya?
6.
Mampukah kalian mengasosiasi karya sastra atau teks ilmiah yang
dibacakan dengan konteks kehidupan nyata?
Apabila kalian menjawab “Tidak” pada salah satu pertanyaan di atas, pelajarilah materi tersebut
pada modul ini. Apabila kalian menjawab “Ya” pada semua pertanyaan, lanjutkanlah dengan menger-
jakan aktivitas-aktivitas dan tes akhir pembelajaran yang ada pada modul ini.
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII Pada awal kelas XII ini, kalian akan

Pada awal kelas XII ini, kalian akan dihadapkan pada pembahasan yang berhubungan dengan sastra. Sastra merupakan salah satu bentuk tulisan kreatif yang kadang memberikan hal-hal yang bersifat luar biasa, baik dari segi unsur intrinsik maupun ekstrinsik. Ingatkah Anda dengan kemunculan novel Saman karya Ayu Utami dan novel Supernova karya Dee (Dewi Lestari)? Dua novel itu memberikan sum- bangan besar bagi dunia sastra Indonesia.

1.1.1 Menyimak untuk Mengapresiasi Sastra

Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal seorang pembaca terhadap karya sastra yang didengar atau dibacanya. Kata apresiasi diserap dari kata bahasa Inggris ap- preciation yang berarti penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima dan mengakui nilai-nilai sastra sebagai sesuatu yang benar. Penghargaan terhadap karya sastra ini dilakukan melalui proses bertahap.

1. Tahap mengenal dan menikmati

Pada tahap ini, kita berhadapan dengan suatu karya. Kemudian kita mengambil suatu tindakan be- rupa membaca, melihat atau menonton, dan men- dengarkan suatu karya sastra.

2. Tahap menghargai

Pada tahap ini kita merasakan manfaat atau nilai karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat di sini berkaitan dengan kegunaan karya sastra tersebut. Misalnya memberi kesenangan, hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan hidup.

3. Tahap pemahaman

Pada tahap ini kita melakukan tindakan meneliti serta menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Akhirnya kita menyimpulkan karya sastra tersebut. Apakah karya sastra tersebut terma- suk baik atau tidak, bermanfaat atau tidak bagi ma- syarakat sastra?

4. Tahap penghayatan

Pada tahap ini kita membuat analisis lebih lanjut dari tahap sebelumnya, kemudian membuat inter-

pretasi atau penafsiran terhadap karya sastra serta menyusun argumen berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.

5. Tahap aplikasi atau penerapan

Segala nilai, ide, wawasan yang diserap pada tahap-tahap terdahulu diinternalisasi dengan baik, sehingga masyarakat penikmat sastra dapat mewu- judkan nilai-nilai tersebut dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra diar- tikan sebagai suatu proses mengenal, menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap sastra.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra adalah:

1)

bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).

2)

karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

Sastra dalam pengertian umum adalah karya tulis yang merupakan ungkapan pengalaman manusia melalui bahasa yang mengesankan. Dalam sastra terkandung ide, pikiran, perasaan, dan pengalaman yang khas manusiawi, serta diungkapkan dengan bahasa yang indah. Jakob Sumardjo mengatakan bahwa sastra memiliki badan dan jiwa. Jiwa sastra berupa pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia. Badannya berupa ungkapan bahasa yang indah.

Karya sastra mempunyai tiga ciri yang melekat padanya.

1)

Sastra itu memberikan hiburan. Dalam lubuk hati manusia terpatri kecintaan akan keindahan. Ma- nusia adalah makhluk yang suka keindahan. Karya sastra adalah ekspresi dari keindahan itu. Karena itu, karya sastra yang baik selalu menye- nangkan untuk dibaca.

2)

Sastra menunjukkan kebenaran hidup manusia. Dalam karya sastra terungkap berbagai penga- laman hidup manusia: baik-buruk, benar-salah, menyenangkan-menyedihkan, dan sebagainya. Karena itu, manusia lain dapat memetik pelajaran dari karya sastra tersebut.

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1

3)

Sastra melampaui batas bangsa dan zaman. Ni- lai-nilai kebenaran, ide atau gagasan dalam karya sastra yang baik bersifat universal sehingga da- pat dinikmati oleh bangsa mana pun. Karya sas- tra yang baik juga dapat menerobos batas-batas waktu. Artinya, karya sastra tersebut tetap rele- van sepanjang zaman.

dang nih, tanya hatinya lagi. Tapi pesan akhir di nota itu jelas betul. “Jangan lupa ya, Har. Jam satu, ruang tunggu Phoenix.”

Harimurti di belakang mejanya membalik-balik tumpukan kertas-kertas naskah yang sudah ber- sih, siap untuk dicetak. Tetapi pikirannya tidak

 

di

situ. Masih menjadi pikiran benar nota kecil

1.1.2

Menilai Karya Sastra

Baik tidaknya sebuah karya sastra ditentukan oleh tiga norma atau nilai yang menjadi cirinya, yaitu norma estetika, sastra, dan moral.

a. Norma Estetika

dari bosnya itu. Undangan makan siang itu dira- sanya aneh dan sangat tiba-tiba. Aneh, karena

meskipun dia seorang anggota redaksi cukup senior, tetapi tidak cukup tinggi dan dekat dengan Maryanto yang di kantor Penerbit Mulia Mutu yang bergengsi itu dianggap sebagai dewa yang kedudukannya jauh tinggi di awan, yang nyaris terjangkau oleh redaktur setaraf Harimurti. Namun, itu tidak berarti bahwa Harimurti adalah redaktur papan bawah yang jarang masuk hitungan Maryanto. Harimurti tahu pekerjaannya dinilai baik oleh atasan-atasannya dan Maryanto tidak asing dengan pekerjaan Harimurti. Itu Harimurti tahu. Namun begitu, undangan siang

1. Karya itu mampu menghidupkan atau mem- perbarui pengetahuan pembaca, menuntun- nya melihat berbagai keindahan.

2. Karya itu mampu membangkitkan aspirasi pada pembaca untuk berpikir dan berbuat le- bih banyak dan lebih baik bagi penyempur- naan kehidupan.

3. Karya itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik dalam kaitan dengan seni dan keindahan.

itu

tetap dianggapnya istimewa dan aneh.

Di

Phoenix mereka duduk menghadap jendela

yang lebar yang memberinya pencakar langit

b. Norma Sastra

Jakarta yang diselimuti kampung-kampung kumuh para migran pedalaman.

“Kita mulai dengan Bintang dingin dulu, ya? Mau bir, kan?”

“Saya jus jeruk manis saja.”

1. Karya itu mampu merefleksikan kebenaran hidup manusia.

2. Karya itu mempunyai daya hidup tinggi yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja.

3. Karya itu menyuguhkan kenikmatan, kese-

 

“E

lho! Redaktur senior kok

Okelah. Tapi

nangan, dan keindahan karena strukturnya yang tersusun bagus dan selaras.

c. Norma Moral

Karya itu menyajikan, mendukung, dan meng- hargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku.

makannya saya yang pilih. Kita mulai dengan sup kepiting pedas, lantas udang besar pedas,

tahu dengan sayur pedas, nasi putih. Semua serba pedas. Wong masakan Szechuan, kok. Cukup, ya? Makan siang jangan kebanyakan, nanti mengantuk.” Harimurti mengangguk. Kan

1.1.3

Menyimak Kutipan Novel

kamu yang mentraktir, gumam Harimurti dalam hati.

Berikut ini disajikan kutipan novel Jalan Meni- kung karya Umar Kayam. Salah seorang teman kalian atau guru kalian membacakan kutipan novel tersebut dan siswa yang lain menyimak dengan saksama!

Waktu minuman dan makanan sesudah itu dihidangkan di meja, mereka meneguk dan melahapnya dengan penuh selera. Maryanto,

Harimurti

Waktu Harimurti kembali dari kamar korektor, di meja kamarnya dilihatnya ada pesan dari Mar- yanto, pemimpin redaksi, yang mengajaknya makan siang di Phoenix, sebuah restoran Cina gaya Szechauan yang mewah di bilangan Kota. Wah, kok tumben betul Bos mengajak saya ke tempat itu, gumamnya. Apa tidak salah mengun-

meskipun menjamu bawahan, bersikap rileks dan ramah tanpa beban layaknya seorang bos perusahaan penerbit yang besar. Maka Harimurti pun merasa rileks juga sikapnya. Semua lelucon bosnya ditanggapi dengan hangat, sampai tiba- tiba Maryanto memutus percakapan yang hangat

itu

dan menggesernya dengan “Begini, Har” yang

serius sekali. Maryanto lantas menceritakan bahwa seminggu sebelumnya dia dikunjungi oleh

seorang kawan lamanya yang sekarang menjadi

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Gambar 1.1 Sampul depan novel Jalan Menikung karya Umar Kayam. seorang perwira tinggi intel. Perwira
Gambar 1.1
Sampul depan novel Jalan Menikung
karya Umar Kayam.
seorang perwira tinggi intel. Perwira intel tersebut
kemudian langsung menegurnya, karena dia
sudah alpa, bahkan teledor tidak melaporkan
kepada Pengawas Keamanan Negara bahwa
salah seorang staf redaksinya yang senior masuk
dalam kategori “tidak bersih diri” dalam waktu
yang cukup lama dalam perusahaan yang dia
pimpin. “Ini bisa dinilai sebagai satu pelanggaran
yang serius sekali,” katanya.
“Waktu saya tanyakan siapa yang dia maksud
dengan redaktur senior saya yang tidak bersih
diri, maka dia menyebut namamu, Har.”
Harimurti mendengarkan kalimat-kalimat yang
keluar dari mulut Maryanto dengan tenang, mes-
kipun di dalam dadanya dia merasakan degup
jantungnya berjalan lebih keras lagi. Kemudian,
“Bagaimana pendapatmu, Har?”
“Bukankah saya sudah dibebaskan dari ta-
hanan bertahun-tahun yang lalu, bahkan jauh
sebelum saya kawin. Dan, yang lebih penting
lagi, saya sudah dijamin oleh almarhum pakde
saya, seorang kolonel Angkatan Darat, Pak.”
“Ya, itu saya tahu semua. Bahkan, karena itu
kamu kami terima di perusahaan kami. Tapi, ka-
wan saya, sang intel, itu tidak mau tahu. Semua
file harus diperiksa dan ditinjau kembali. Katanya,
“Kami tidak mau kecolongan lagi.” Dia memper-
ingatkan saya, sebagai kawan, katanya, untuk
jangan ragu-ragu memecat kamu dan mem-
buangmu jauh-jauh dari perusahaan kita. Kalau
tidak
Maryanto menarik napasnya panjang-
panjang.
Harimurti mendengarkan cerita Maryanto tetap
dengan tenang meskipun hatinya mulai memben-
www.goggle.rifqiblog_files_wordpress_com-
2008-04-umar-kayam_jpg.mht
 
 

tuk berbagai kaledoskop dari berbagai pecahan dan kepingan kenangan dan kemungkinan hari depan. Dia melihat, misalnya, almarhum bapak dan ibunya berdiri di kejauhan melambaikan ta- ngan mereka dan tersenyum. Kemudian almar- humah pacarnya, Gadis, yang meninggal ketika melahirkan bayi kembarnya, di rumah tahanan. Kemudian, tempat tahanan dia sendiri. Apakah cerita Maryanto yang disampaikan kepadanya itu suatu pertanda bahwa dia akan harus mengulangi penderitaan seperti itu lagi? Apakah penderitaan itu bagian dari suatu siklus besar penderitaan juga? Apakah itu termasuk keperca- yaan kejawen orang Jawa? Dia mulai melihat ju- ga Eko yang waktu itu sedang belajar di tingkat sophomore suatu college kecil di negara bagian Connecticut, Amerika Serikat. Eko, anaknya dari perkawinannya dengan Suli atau Sulistianingsih, sepupu jauh dari pihak almarhumah ibunya, 20 tahun yang lalu. Bagaimana hari depan anak tunggalnya itu?

“Kalau tidak saya ikuti anjuran teman saya perwira tinggi intel itu, Har, perusahaan kita akan terpaksa ditutup.”

Harimurti sudah siap dengan kalimat terakhir bosnya itu.

Harimurti sudah siap dengan kalimat terakhir bosnya itu.

“Baik, saya akan mengundurkan diri, Pak.”

“Terima kasih, Har. Kau tidak hanya menyela- matkan saya, tetapi beratus periuk nasi pekerja perusahaan ini. Terima kasih, Har.”

Waktu mereka keluar dari Restoran Phoenix, ternyata di luar hujan gerimis turun. Harimurti menolak tawaran bosnya untuk naik mobilnya. Dia memilih berjalan kaki dulu, mlipir-mlipir jalan berpembawaan luwes dan santai sepanjang tritisan toko-toko. Tidak dirasanya ada seekor anjing kurus mengikutinya.

Waktu umur Harimurti mendekati empat puluh tahun, orang tuanya mengingatkannya bahwa dia sudah cukup tua untuk membangun keluarga.

“Kau toh tidak dapat terus-menerus larut dalam kesedihan masa lampaumu, Har. Bagaimanapun hidup akan harus kaujalani terus. ”Harimurti men- desah dalam hati. Orang tua yang selalu baik hati. Bagaimanapun ucapanmu itu sudah meru- pakan klise yang berulang kali, beribu kali diucap- kan oleh beribu orang tua di seluruh muka bumi, aku tetap akan menerimanya tanpa rasa bosan dan jengkel. Karena saya tahu tidak terlalu ba- nyak persediaan harapan yang tersisa bagi anak tunggalmu ini pada hari-hari kalian yang sudah

 
 
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
  semakin menipis ini. Pada suatu ketika, sekian tahun yang lalu, tahun-tahun prahara itu, kalian
 

semakin menipis ini. Pada suatu ketika, sekian tahun yang lalu, tahun-tahun prahara itu, kalian sudah hampir memiliki anak menantu, bahkan juga cucu kembar yang dalam sekali renggut telah dijemput maut di dalam penjara. Kalian menghiburku untuk selalu tawakal dan pasrah kepada Gusti Allah, untuk menerima semua cobaan itu. Dan saya menerima kesabaran dan kasih sayang kalian, bersama Lantip, menjalani tahun-tahun pendewasaan kami. Lantip, anak pungut kalian yang nyaris sempurna kebaikan hatinya, melewatkan tahun-tahun nyaris mulus tanpa suatu gejolak yang berarti hingga sempat ber-keluarga dengan Halimah, bunga Pariaman bagi keluarga kita yang ikut menyiram kegembiraan dan kebahagiaan di hari-hari tuamu.

Sedang aku, hanya mendatar tanpa tanjakan- tanjakan yang berarti, meskipun bukannya tanpa bersyukur dapat mencapai kedudukanku dalam perusahaan penerbitan ini, berkat koneksi mitra usaha Tommi yang memiliki seorang paman, Maryanto, purnawirawan brigjen yang berusaha dalam dunia penerbitan. Oh, saya tidak mengeluh tentang perjalanan hidup yang saya jalani. Bahkan, boleh dibilang saya cukup

mensyukuri nasibku. Hidup adalah satu mangkuk penuh dengan macam-macam buah cherry . Ada yang manis,

mensyukuri nasibku. Hidup adalah satu mangkuk penuh dengan macam-macam buah cherry. Ada yang manis, ada yang kecut, ada yang hampir busuk. Maka kita akan selalu untung- untungan dalam mencopot buah cherry itu. Begitu

kata orang di Amerika sana. Life is but a bowl of

cherries

. Pokoknya, aku boleh dibilang okelah

“Begini, Hari. Kamu masih ingat Suli, kan?”

“Suli yang mana, Bu?”

“Kok Suli yang mana! Suli kita ya cuma satu. Itu, lho. Sulistianingsih, putri tunggal Tante Nunung, sepupu Ibu.”

“Yang mana sih, Bu?”

“Kamu itu memang payah kok, Hari. Tidak per- nah kenal keluarga kita. Keluarga itu kan penting. Kalau ada apa-apa kan keluarga kita juga, to, yang kita mintai tolong. Kami, kamu, kan pernah mengalami itu semua. Maka itu selalu diusaha- kan, to, ingat keluarga.”

“Ya sudah. Terus bagaimana dengan Mbak atau Dik atau, bahkan, Tante Suli itu?”

“Nah, kamu kan mau main potong saja, kan?”

“Hari, mbok kamu yang sabar mendengarkan

bahkan, Tante Suli itu?” “Nah, kamu kan mau main potong saja, kan?” “Hari, mbok kamu yang
cerita ibumu.” “Ya, Pak.” “Begini lho, anakku lanang yang bagus. Kamu itu sebentar lagi akan
cerita ibumu.”
“Ya, Pak.”
“Begini lho, anakku lanang yang bagus. Kamu
itu sebentar lagi akan empat puluh tahun, to?”
“Lha iya, Bu. Terus bagaimana?”
Ini lho, Suli yang sesungguhnya abu-nya lebih
tua dari kamu, tapi umurnya kira-kira lima tahun
lebih muda dari kamu. Anaknya cantik, sedep,
dan cerdas, terpelajar. Wong tamat IKIP.”
“Lantas?”
“Kok lantas? Ya, bapakmu dan ibumu ini sudah
sepakat kalau kamu ya dijodohkan dengan Suli.”
“Kok Bapak dan Ibu enak saja mau menjodoh-
kan Suli sama saya. Apa anaknya sudah dita-
nya?”
“Heh, heh, heh. Yang penting itu kamu berse-
dia kawin apa tidak? Ini lho fotonya!”
Harimurti mengamati foto yang diberikan ibu-
nya. Dilihatnya ada gambar seorang perempuan
muda yang bermata besar dan cerdas sedang
tersenyum lebar. “Boleh juga,” gumam Harimurti.
“Benerannya hitam atau kuning langsat, Bu?”
Hardoyo, bapak Harimurti, tertawa.
“Heh, heh, heh. Ternyata kamu rasis juga.
Menganggap warna kulit penting juga.”
“Lho, saya dengar Suli punya sedikit darah
Cina di tubuhnya. Embah putrinya atau apanya
itu dikabarkan pernah jadi simpanan babah kaya?
Hardoyo dan istrinya dengan wajah sangat ter-
kejut saling memandang muka masing-masing.
Harimurti dengan tenang saja melontarkan kata-
Gambar 1.2
Umar Kayam, sastrawan pertama yang berhasil
menghubungkan dunia kreatif seniman dengan
dunia intelektual
www.goggle.rifqiblog_files_wordpress_com-
2008-04-umar-kayam_jpg.mht
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII katanya itu. Hardoyo memandang putranya de- ngan

katanya itu. Hardoyo memandang putranya de- ngan wajah sedikit tegang.

pada hari ini, pada waktu bapak dan ibumu mau menjodohkan kamu dengan Suli, he?”

“Dari mana kau dengar cerita itu. Rupanya ka- mu sudah lama dengar kabar bohong, bahkan fitnah tentang keluarga sepupu ibumu, ya? Ja- ngan sekali-kali kamu percaya kabar bohong itu.”

Sekarang Harimurti menyesali dirinya karena sudah terlalu enteng berbicara dengan calon jo- dohnya itu. Dengan cepat dirangkul dan dicium ibunya dan mohon maaf atas kata-katanya yang telah merisaukan bapak dan ibunya itu.

“Kenapa kau buka pengetahuanmu tentang Suli

itu. “Kenapa kau buka pengetahuanmu tentang Suli Setelah kalian menyimak pembacaan ku- tipan novel Jalan

Setelah kalian menyimak pembacaan ku- tipan novel Jalan Menikung, kerjakan soal beri- kut dalam buku tugasmu!

A. Buatlah penilaian berdasarkan norma estetika terhadap kutipan novel tersebut dengan menjawab pertanyaan berikut;

1. Apakah karya itu mampu menghidupkan atau memperbarui pengetahuan pembaca dan me- nuntunnya melihat berbagai kenyataan hidup?

2. Apakah karya itu mampu membangkitkan as- pirasi pada pembaca untuk berpikir dan ber- buat lebih banyak dan lebih baik bagi penyem- purnaan kehidupan?

3. Apakah karya itu mampu memperlihatkan pe- ristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik masa lalu dalam kaitan dengan pe-

ristiwa masa kini dan masa datang?

B.

Buatlah penilaian berdasarkan norma sastra terhadap kutipan novel tersebut dengan menjawab pertanyaan berikut;

1.

Apakah karya itu mampu merefleksikan nilai- nilai luhur hidup manusia?

2.

Apakah karya itu mempunyai daya hidup ting- gi yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja?

3.

Apakah karya itu menyuguhkan kenikmatan, kesenangan, dan keindahan karena struktur- nya yang tersusun bagus dan selaras?

C.

Berdasarkan norma moral, apakah karya itu menyajikan, mendukung, dan meng- hargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku?

dan meng- hargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku? Bahasa merupakan sarana untuk menciptakan sebuah karya

Bahasa merupakan sarana untuk menciptakan sebuah karya sastra. Pemilihan kata yang tepat da- lam karya sastra memberikan nilai tersendiri terhadap karya yang dihasilkan. Oleh karena itu, kata dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan kata yang bermakna.

Dalam karya imilah, bahasa juga memegang peranan penting. Dengan menggunakan pilihan kata yang tepat, karya ilmiah dapat dipahami maksudnya. Pilihan kata yang digunakan karya sastra dan karya ilmiah itu tidak sama.

1.2.1 Membandingkan Teks Ilmiah dan Teks Sastra

Teks ilmiah menguraikan dan membahas suatu permasalahan secara ilmiah dan dapat menuangkan-

nya secara ilmiah dan menuangkannya secara teo- ritis, jelas, dan sistematis. Bacalah teks ilmiah beri- kut ini!

AYO MEMBACA!

Dengan membaca, tak hanya wawasan dan pengetahuan yang bertambah. Pemahaman akan hidup pun dapat diperoleh melalui membaca. Tak heran bila membaca dikatakan begitu penting dan telah menjadi ciri budaya masyarakat yang ingin maju. Setiap orang lahir dengan dibekali rasa ingin tahu, sebuah dorongan alamiah yang harus dipenuhi. Layaknya rasa lapar yang dapat

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
  ditanggulangi dengan makan, maka membaca adalah cara yang ampuh untuk mengatasi lapar dan haus
 

ditanggulangi dengan makan, maka membaca adalah cara yang ampuh untuk mengatasi lapar dan haus dahaganya otak seseorang akan ilmu pengetahuan. Membaca sudah merupakan hak asasi setiap insan. Sayangnya bagi sebagian kalangan, membaca bukanlah sebuah kebutuhan pokok. Posisi membaca masih kalah bila dibandingkan dengan kegiatan lainnya. Lain halnya pada mereka yang sudah berpikiran maju. Orang-or- ang seperti itu akan merasa hidupnya tak lengkap bila sehari saja tidak membaca. Bagaimana dengan gaya hidup membaca di Indonesia? Budaya membaca di sini tampaknya masih rendah. Bukan karena tidak ingin menambah pengetahuan tapi lebih dikarenakan harga buku yang tergolong mahal dan sulitnya akses untuk mendapatkannya, apabila bagi mereka yang hidup tidak di kota besar. Sebenarnya telah lama dicanangkan gerakan Indonesia Membaca! Sebuah gerakan berkelanjutan yang berupaya memperbanyak akses informasi, memfasilitasi dan membuka ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya membaca. Gerakan tersebut berusaha mensosialisasikan

aktivitas membaca di tingkat lokal serta mendukung tumbuhnya perpustakaan- perpustakaan komunitas. Hal itu tentu saja

aktivitas membaca di tingkat lokal serta mendukung tumbuhnya perpustakaan- perpustakaan komunitas. Hal itu tentu saja bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu kegiatan yang diadakan forum tersebut adalah World Book Day (WBD). WBD yang tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-3 di Indonesia. Pada hari itu diadakan sebuah perayaan tradisi festival yang bermaksud menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak-anak untuk mengekploitasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca. Dessy Sekar Astina, yang merupakan Festi- val Director WBD 2008 mengatakan bahwa tema tahun ini adalah Literasi Mengubah Kehidupan. Literasi adalah suatu istilah yang menggambarkan kemampuan membaca seseorang yang tak hanya memperoleh informasi dari apa yang dibacanya tapi juga mampu memilah dan mengolah informasi yang telah diperoleh. Literasi memberikan pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengingkatkan kualitas hidup. Perayaan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi serta komunitas perbukuan yang bekerja sama dalam mempromosikan buku dan budaya membaca.

distributor, organisasi serta komunitas perbukuan yang bekerja sama dalam mempromosikan buku dan budaya membaca.
Gambar 1.3 Perpustakaan sebagai salah satu sarana untuk menggerakkan budaya membaca Diharapkan melalui WBD masyarakat
Gambar 1.3
Perpustakaan sebagai salah satu sarana untuk
menggerakkan budaya membaca
Diharapkan melalui WBD masyarakat tidak hanya
menunggu pemerintah dalam memasyarakatkan
budaya membaca namun lebih menggalang
kekuatannya sendiri meningkatkan minat dan
akses membaca bagi semua lapisan umur dan
golongan masyarakat.
Hal senada juga dilontarkan oleh istri Menteri
Komunikasi dan Informasi, Ibu Laily Rachmawati,
saat membuka WBD 2008. Beliau mengatakan
sudah saatnya membaca menjadi kebutuhan
pokok bagi seluruh rakyat Indonesia agar negeri
ini tidak selalu ketinggalan dengan dunia luar.
Beliau pun menceritakan pengalamannya bahwa
dalam sehari ia membiasakan untuk
menyempatkan diri untuk membaca, apapun
medianya.
Ditambahkan pula oleh Dessy, untuk era
sekarang ini, budaya membaca bisa dilakukan
dengan berbagai cara, baik seperti biasa dari buku
dan media cetak lainnya ataupun melalui
perantara dunia maya yang disebut e-book. Tak
harus pula mengenai pelajaran, anak-anak atau
siapa pun akan lebih ‘kaya’ bila membaca
mengenai berbagai macam hal. Kesemuanya itu
akan menambah kesiapan masing-masing
pribadinya dalam menjalani hidup.
Cara yang paling efektif untuk memasyarakat-
kan gerakan gemar membaca adalah dengan
mulai menularkan kebiasaan membaca sedari
kecil. “Sayangnya, sekarang anak banyak yang
lebih suka untuk menonton televisi daripada
membaca buku,” tambah Dessy.
Majalah Dokter Kita edisi 06, tahun III, Juni
2008, halaman 21
Majalah Dokter Kita Edisi 06, tahun III,
Juni 2008, halaman 21
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII Kerjakan aktivitas-aktivitas berikut ini da- lam buku

Kerjakan aktivitas-aktivitas berikut ini da- lam buku tugasmu!

A.

Kalian telah menyimak kutipan teks sastra berupa novel di awal pemelajaran ini. Di atas kalian telah membaca teks ilmiah. Sekarang coba lakukan analisis terhadap kedua teks tersebut dari segi pilihan kata yang digunakan!

1.

Apakah dalam kedua teks tersebut menggu- nakan kata bermakna denotatif?

2.

Apakah dalam kedua karya itu menggunakan kata bermakna konotatif? Apa bentuknya? Ungkapan, peribahasa, atau pepatah?

B.

Bacakan hasil analisis kalian di depan kelas!

CatatanCatatanCatatanCatatanCatatan
CatatanCatatanCatatanCatatanCatatan

1. Makna denotatif adalah makna yang mengacu pada makna sesungguhnya. Misalnya,

- ia sedang makan apel.

Dalam kalimat tersebut, makan memiliki makna yang sesungguhnya. Makna makan pada kalimat tersebut adalah memasukan sesuatu ke dalam mulut,

2. Makna konotatif adalah makna yang timbul karena mempunyai nilai rasa. Nilai rasa dapat mempunyai nilai positif dapat pula negatif. Misalnya,

- harta anak yatim itu dia makan juga.

Makna makan pada kalimat (2) tidak sama dengan makna makan pada kalimat (1). Makna makan pada kalimat (2) adalah makna yang tidak sesunguhnya. Makan pada kalimat tersebut bermakna mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Cita rasa yang dihasilkannya menjadi negatif.

3. Ungkapan disebut juga idiom. Ungkapan biasanya berupa gabungan kata atau frasa yang memiliki makna baru. Makna baru tersebut tidak dapat ditafsirkan dari makna unsur-unsur yang membentuknya. Misalnya,

- tinggi hati berarti sombong

- kepala angin berarti bodoh

4. Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu. Misalnya,

- pagar makan tanaman

berarti orang yang dipercaya untuk dipercaya untuk menjaga sesuatu tetapi malah merusaknya.

- kalah jadi abu menang jadi arang

berarti perkelahian atau peperangan berakibat sama bagi kedua belah pihak

5. Pepatah adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua-tua (biasanya dipakai atau diucapkan untuk mematahkan lawan bicara). Misalnya,

- tong kosong nyaring bunyinya

berarti orang yang tidak berilmu banyak bualnya

bunyinya berarti orang yang tidak berilmu banyak bualnya Kalian tentu sudah sering membaca cerpen, baik itu

Kalian tentu sudah sering membaca cerpen, baik itu di majalah atau buku kumpulan cerpen. Apa yang kalian dapatkan setelah membaca cerpen? Setelah kalian membaca cerpen, biasanya kalian akan men- dapatkan pesan tersirat dalam cerpen tersebut. Dalam cerpen itu pula kalian dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen.

1.3.1 Mengungkapkan Unsur-unsur Karya Sastra

Sebuah karya sastra (cerpen, novel, drama, dan

puisi) adalah hasil rekaan atau ciptaan pengarang. Suatu ciptaan tentu dibangun atas unsur-unsur. Unsur- unsur sastra dibedakan atas dua macam, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik atau unsur dalam adalah unsur sastra yang mempengaruhi terciptanya karya sastra atau yang membangun karya sastra itu dari dalam. Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu tokoh, penokoh- an, tema, alur (plot), latar, gaya bahasa, dan amanat. Unsur ekstrinsik atau unsur luar adalah unsur-unsur

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
  dari luar yang mempengaruhi karya sastra. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra
 

dari luar yang mempengaruhi karya sastra. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu dari luar. Yang termasuk unsur ekstrinsik, yaitu latar belakang kehidupan pengarang, pandangan hidup pengarang, situasi sosial-budaya yang melatari lahirnya karya sastra.

Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Karya sastra bahkan diakui sebagai perekam kondisi sosial-budaya pada saat karya sastra itu lahir. Dengan membaca karya sastra tertentu, kita bisa mem- peroleh gambaran tentang situasi sosial-budaya pada saat karya itu lahir. Pemahaman akan kondisi sosial- budaya yang mendasari lahirnya sebuah karya sastra akan membantu kita dalam memberi makna terhadap sebuah karya sastra.

Unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut me- rupakan unsur-unsur pokok yang membangun sebuah karya sastra. Berikut ini adalah uraian unsur- unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra yang berupa cerpen dan novel.

A.

Unsur intrinsik

Berikut ini adalah unsur-unsur intrinsik karya sastra.

1. Tokoh dan penokohan/perwatakan

1.

Tokoh dan penokohan/perwatakan

Tokoh adalah individu yang berperan dalam ce- rita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peris- tiwa dalam cerita (Sudjiman, 1990:79). Dalam karya sastra, khususnya fiksi dan drama, penulis mencipta- kan tokoh-tokoh dengan berbagai watak penciptaan yang disebut penokohan.

Tokoh dibedakan menjadi empat, yaitu tokoh utama (protagonis), tokoh yang berlawanan dengan pemeran utama (antagonis), tokoh pelerai (tritagonis), tokoh bawahan. Tokoh utama (protagonis) adalah tokoh yang memegang peran utama dalam cerita. Tokoh utama terlibat dalam semua bagian cerita. Ia bersifat sentral. Tokoh yang karakteristiknya berla- wanan dengan tokoh utama disebut tokoh antagonis. Tokoh ini berperan untuk mempertajam masalah dan membuat cerita menjadi hidup dan menarik. Tokoh tritagonis adalah tokoh yang tidak memegang peran utama dalam cerita. Tokoh tritagonis biasanya tidak terlibat dalam semua bagian cerita. Keberadaannya berperan sebagai penghubung antara tokoh prota- gonis dan antagonis. Tokoh bawahan disebut juga tokoh figuran yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang/mendukung tokoh utama.

tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang/mendukung tokoh utama.

Penokohan atau perwatakan adalah pelukisan tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya ter-masuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat- istiadat, dan sebagainya. Yang diangkat pengarang dalam karyanya adalah manusia dan kehidupannya. Oleh karena itu, penokohan merupakan unsur cerita yang sangat penting. Melalui penokohan, cerita men- jadi lebih nyata dalam angan pembaca.

Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk melukiskan watak tokoh cerita, yaitu dengan cara langsung, tidak langsung, dan kontekstual. Pada pelukisan secara langsung, pengarang langsung melukiskan keadaan dan sifat si tokoh, misalnya cerewet, nakal, jelek, baik, atau berkulit hitam. Sebaliknya, pada pelukisan watak secara tidak langsung, pengarang secara tersamar memberi- tahukan keadaan tokoh cerita.

Watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, dan tingkah laku tokoh, bahkan dari penampilannya. Watak tokoh juga dapat disimpulkan melalui tokoh lain yang menceritakan secara tidak langsung. Pada Pelukisan kontekstual, watak tokoh dapat disimpulkan dari bahasa yang digunakan pengarang untuk mengacu kepada tokoh.

Ada tiga macam cara untuk melukiskan atau menggambarkan watak para tokoh dalam cerita.

- Cara analitik

Pengarang menceritakan atau menjelaskan wa- tak tokoh cerita secara langsung.

- Cara dramatik

Pengarang tidak secara langsung menceritakan watak tokoh seperti pada cara analitik, melainkan menggambarkan watak tokoh dengan cara:

1)

melukiskan tempat atau lingkungan sang to- koh.

2)

menampilkan dialog antartokoh dan dari dia- log-dialog itu akan tampak watak para tokoh cerita.

3)

menceritakan tingkah laku, perbuatan, atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.

- Cara gabungan analitik dan dramatik

Pengarang menggunakan kedua cara tersebut di atas secara bersamaan dengan anggapan bahwa keduanya bersifat saling melengkapi.

2. Tema

Semua bentuk karangan, baik narasi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan deskripsi

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

memiliki tema. Cerpen, novel, atau roman berbentuk karangan na-rasi, sehingga memiliki tema. Tema merupakan ide pokok atau makna yang terkandung dalam sebuah cerita.

Tema adalah pokok pikiran atau pokok pembica- raan dalam sebuah cerita yang hendak disampaikan pengarang melalui jalinan cerita. Jadi, cerita tidak hanya berisi rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi juga mempunyai maksud ter- tentu.

Cerita yang dibeberkan pada umumnya mengan- dung permasalahan. Namun demikian, pengarang ti- dak hanya berhenti pada pokok persoalan saja. Pengarang menyertakan pula pemecahan atau jalan keluarnya. Pandangan pengarang tentang bagaimana bersikap dan mencari solusi terhadap persoalan-per- soalan tersebut menjadi tema dari suatu karangan.

Pada cerpen yang baik, tema justru tersamar dalam seluruh elemen. Pengarang menggunakan tek- nik dialog antartokoh untuk mengungkapkan jalan pikiran, perasaan, kejadian-kejadian, dan setting ceri- ta untuk mempertegas tema. Mencari makna sebuah cerpen pada dasarnya ialah mencari tema yang ter- kandung dalam cerpen tersebut. Makin banyak implikasi persoalan yang dikandung sebuah cerpen, makin baik karena cerpen itu akan kaya penafsiran. Cerpen semacam ini biasanya tidak menjemukan pembaca karena mengajak berpikir pembacanya. Cerpen yang berbobot bertema universal dan bersifat monumental. Sebuah cerpen dapat memiliki beberapa tema, tetapi selalu ada satu tema utama.

3. Plot atau alur

Plot atau alur atau jalan cerita adalah jalinan pe- ristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek ter- tentu. Dengan kata lain, plot adalah rangkaian peris- tiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab-akibat (kausalitas). Peristiwa-peristiwa dalam cerita berhu- bungan satu sama lain. Peristiwa pertama menimbul- kan peristiwa kedua, begitu seterusnya.

Berdasarkan hubungan tersebut, setiap cerita mempunyai pola plot sebagai berikut:

perkenalan keadaan;

pertikaian/konflik mulai terjadi;

konflik berkembang menjadi semakin rumit;

klimaks; dan

peleraian/solusi/penyelesaian.

Dilihat dari segi keeratan hubungan antarperis- tiwa, plot dibedakan menjadi dua, yaitu plot erat dan

 
 

plot longgar. Sebuah cerita memiliki plot erat apabila hubungan antarperistiwa terjalin sangat padu dan padat sehingga tak ada satu peristiwa pun yang dapat dihilangkan. Sebaliknya, sebuah cerita memiliki plot longgar apabila hubungan antarperistiwa terjalin kurang erat sehingga ada bagian-bagian peristiwa yang dapat dihilangkan dan penghilangan itu tidak akan mengganggu jalannya cerita.

Berdasarkan akhir cerita, plot dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

plot ledakan (cerita berakhir mengejutkan);

plot lembut (cerita berakhir sebagai bisikan/tidak mengejutkan); dan

plot lembut-meledak (campuran).

 

Berdasarkan rangkaian peristiwanya, plot dibe- dakan menjadi tiga jenis.

plot maju (linier);

plot mundur (flashback); dan

plot gabungan.

 

Menurut sifatnya, plot dibedakan menjadi tiga:

plot terbuka, plot tertutup, dan campuran (terbuka dan tertutup)

 

Plot terbuka

Plot terbuka

Akhir cerita merangsang pembaca untuk me- ngembangkan jalan cerita.

Plot tertutup

Akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita. Lebih dititikberatkan pa- da permasalahan dasar.

Plot campuran (terbuka dan tertutup)

Kita dapat memilih atau menggunakan salah satu jenis plot/alur dalam cerpen yang kita buat.

4.

Latar (setting)

Latar atau setting adalah penggambaran menge- nai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa- peristiwa dalam cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita hidup pada tempat dan waktu (masa) tertentu. Karena itu, peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokoh cerita terjadi pada tempat dan waktu (masa) tertentu pula. Jadi, di mana peristiwa itu terjadi dan kapan waktu terjadinya, itulah yang disebut latar atau setting.

 

Latar dibedakan menjadi tiga, yaitu latar waktu, latar tempat, dan latar suasana.

Latar waktu adalah waktu (masa) tertentu ketika peristiwa dalam cerita itu terjadi.

 
 
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
  Latar tempat adalah lokasi atau bangunan fisik lain yang menjadi tempat terjadinya peristiwa- peristiwa
 

Latar tempat adalah lokasi atau bangunan fisik lain yang menjadi tempat terjadinya peristiwa- peristiwa dalam cerita.

Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita. Suatu cerita menjadi menarik karena berlangsung dalam suasana tertentu. Misalnya, suasana gembira, sedih, tegang, penuh se- mangat, tenang, damai, dan sebagainya. Suasana dalam cerita biasanya dibangun bersama pelukisan tokoh utama. Pembaca mengikuti kejadian demi ke-jadian yang dialami tokoh utama dan bersama dia pembaca dibawa larut dalam suasana cerita.

Latar dapat dibedakan juga menjadi latar sosial dan latar material.

Latar sosial yaitu gambaran kehidupan masyarakat dalam kurun waktu dan tempat tertentu yang dilukiskan dalam cerita tersebut.

Latar material yaitu gambaran benda-benda yang mendukung cerita.

5.

Gaya bahasa

Yang dimaksud dengan gaya bahasa adalah cara khas seorang pengarang dalam mengungkapkan ide atau gagasannya

Yang dimaksud dengan gaya bahasa adalah cara khas seorang pengarang dalam mengungkapkan ide atau gagasannya melalui cerita. Dengan kata lain, gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang digunakannya. Pe- ngarang memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kalimat dengan menggunakan gaya tertentu sesuai dengan ciri khas kepribadiannya.

6.

Sudut pandang (Point of view)

Sudut pandang atau point of view disebut juga pusat pengisahan. Sudut pandang adalah posisi pen- cerita dalam menyampaikan ceritanya. Dengan kata lain, sudut pandang menyangkut cara pengarang me- nempatkan diri atau mengambil posisi dalam menu- turkan cerita. Apakah ia terlibat langsung dalam cerita atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.

Sudut pandang pencerita ada empat macam, yaitu sudut pandang mahakuasa, sudut pandang or- ang pertama, sudut pandang peninjau, dan sudut pandang objektif

a.

Sudut pandang mahakuasa

 

Pengarang menuturkan seluruh ceritanya se- akan-akan dia tahu segalanya. Pengarang men- ceritakan semua tingkah laku tokoh-tokohnya

seluruh ceritanya se- akan-akan dia tahu segalanya. Pengarang men- ceritakan semua tingkah laku tokoh-tokohnya

baik yang dikerjakan, dipikirkan, maupun yang dirasakan para tokoh cerita.

b. Sudut pandang orang pertama

Pengarang menentukan seorang tokoh saja yang mengetahui seluruh cerita. Dalam cara ini tokoh pencerita hanya menceritakan apa yang diketa- huinya saja. Dalam hal ini, biasanya pengarang menggunakan gaya penulisan “aku”.

c. Sudut pandang peninjau

Pengarang memilih salah satu tokoh untuk diikuti ceritanya. Dalam hal ini, pengarang tidak terikat dengan cara memandang seluruh cerita lewat watak tertentu tokoh aku lagi, tetapi lebih bebas. Seluruh cerita mengikuti perjalanan tokoh dia. Tokoh dia dalam cerita selalu dipanggil namanya, berbeda dengan tokoh “aku” yang jarang disebut namanya oleh pengarang.

d. Sudut pandang objektif

Sudut pandang objektif hampir sama dengan su- dut pandang mahakuasa. Hanya pengarang tidak sampai melukiskan keadaan batin tokoh-tokoh cerita. Dalam hal ini, pengarang hanya mence- ritakan atau melukiskan apa yang dilakukan dan dialami tokoh-tokoh cerita.

7. Amanat/pesan

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca/penonton/pendengar. Ada beberapa cara mengungkapkan pesan, yaitu:

secara eksplisit, pengarang mengemukakan pe- sannya secara langsung (tertera dalam cerita).

secara implisit, pengarang mengemukakan pe- sannya secara tidak langsung. Jadi, pembaca sendiri yang harus mencarinya (tersirat).

www.tokohindonesia.com.tif
www.tokohindonesia.com.tif

Gambar 1.4

Armijn Pane

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

B. Unsur ekstrinsik

Unsur ekstrinsik atau unsur luar cerita bisa ber- macam-macam, misalnya biografi pengarang, kondisi sosial-budaya, kondisi politik, agama, moral, dan fil- safat. Karya sastra menjadi semakin bermakna de- ngan adanya unsur-unsur tersebut. Nilai-nilai dalam karya sastra ditemukan melalui unsur-unsur ekstrin- sik ini. Bisa jadi beberapa novel bertema sama, tetapi belum tentu nilainya sama. Hal itu tergantung pada unsur ekstrinsik yang menonjol. Misalnya, dua novel sama-sama bertemakan cinta, namun kedua novel menawarkan nilai-nilai yang berbeda karena ditulis oleh pengarang yang mempunyai pemahaman dan penghayatan yang berbeda tentang cinta, situasi so- sial yang berbeda, dan sebagainya.

1.3.2 Menganalisis Prosa

Karangan yang berbentuk cerpen, novel, dan ro- man digolongkan ke dalam jenis karya sastra prosa. Prosa dikatakan baik jika memenuhi beberapa syarat antara lain prosa tersebut mengandung nilai dan dike- mukakan dengan bahasa yang indah. Nilai yang di- kandung dalam prosa bisa berupa nilai moral, keaga- maan, sosial, dan budaya.

Walaupun merupakan cerita rekaan, karya prosa tetap memiliki kebenaran (kebenaran imajinatif) karena ditulis berdasarkan logika, pengalaman, dan pengamatan si pengarang. Oleh sebab itu, cerita reka- an tidak jauh dari kenyataan/realitas.

Berikut ini bentuk-bentuk prosa.

a. Cerpen

Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek (2-20 halaman). Namun, tidak semua cerita yang pen- dek merupakan cerpen. Ada juga yang berupa sketsa, anekdot, fabula, dongeng, atau reportase.

Kekhasan cerpen ialah melukiskan suatu insiden yang unik, yang tidak terjadi di tempat lain, pada

www.tokohindonesia.com.tif
www.tokohindonesia.com.tif

Gambar 1.5

Sitor Situmorang

 
 

waktu lain, dan dengan orang lain, dan tidak dapat diulang. Cerpen berisi hal-hal yang tidak rutin terjadi setiap hari, misalnya tentang suatu perkenalan, jatuh cinta, atau suatu hal yang sulit dilupakan. Semuanya bersifat imajinatif. Walaupun berupa cerita pendek, cerpen punya alur (plot), klimaks, dan akhir. Cerpen selalu sampai pada tahap penyelesaian. Padat di dalam penguraiannya dan watak tokoh-tokohnya telah terbentuk.

Proses menulis sebuah cerpen dimulai dari suatu kenyataan/kejadian. Kenyataan tersebut mendorong orang untuk mengarang. Kemudian orang menentu- kan atau memilih ide yang akan menjadi dasar karangannya. Setelah me-nentukan ide dasarnya, proses dilanjutkan dengan merencanakan alur/plot.

Di Indonesia cerpen mulai ditulis sekitar 1930. Kumpulan cerpen yang pertama adalah Teman Duduk karya M. Kasim (1936). Cerpen kemudian dikembang- kan oleh pengarang Pujangga Baru, seperti Armin Pane dan Hamka. Selanjutnya cerpen berkembang dengan pesat setelah tahun 1950 dan kini merupakan bentuk prosa yang dominan karena mudah disampai- kan melalui surat kabar, majalah, dan radio. Bahkan ada majalah yang semata-mata memuat cerpen. Suman H.S. dikenal sebagai “Bapak Cerpen dan Novelis Indonesia”. Novel pertamanya adalah Kasih Tak Terlerai (1929).

Suman H.S. dikenal sebagai “Bapak Cerpen dan Novelis Indonesia”. Novel pertamanya adalah Kasih Tak Terlerai (1929).

b.

Novel

Novel berasal dari bahasa Italia yaitu novella. Novel merupakan jenis kesusastraan di antara ro- man dan cerita pendek, dengan jalan cerita yang se- derhana. Novel lebih dramatis daripada cerita pendek. Biasanya diakhiri dengan perubahan nasib pelakunya. Beberapa novel Indonesia sudah difilmkan dan dibuat sinetron. Contohnya: Cintaku di Kampus Biru dan Kugapai Cintamu karangan Ashadi Siregar, dan Karmila karangan Marga T.

 

c.

Roman

Istilah roman diambil dari bahasa Prancis abad ke-12 yang kemudian menjadi sangat populer, bahkan juga mempunyai arti slang yaitu pacaran. Hal ini terjadi mungkin karena dalam roman biasa dikisahkan percintaan dua orang muda. Roman menceritakan kehidupan pelaku dari lahir sampai meninggal. Ro- man lebih panjang daripada novel.

 

Roman Indonesia yang penting misalnya Salah Asuhan (1928), Atheis, Belenggu, Keluarga Gerilya, Jalan Tak Ada Ujung, Pada Sebuah Kapal. Beberapa Roman Indonesia sudah difilmkan. Misalnya: Siti Nurbaya karangan Marah Rusli.

Ada Ujung, Pada Sebuah Kapal. Beberapa Roman Indonesia sudah difilmkan. Misalnya: Siti Nurbaya karangan Marah Rusli.
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1

1.3.3 Teks Cerpen

Bacalah cerpen Jakarta berikut ini dengan sak- sama!

Bacalah cerpen Jakarta berikut ini dengan sak- sama! Jakarta Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya

Jakarta

Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersentil. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftarkan; seingatnya dia bukan dokter. Sambil memegang buku itu dipandangnya penjaga itu dengan hati-hati, kemudian pelan dia bertanya: “Semua harus mengisi buku ini? Sekalipun saudaranya atau ayahnya, umpamanya?”

mengangguk,

menyodorkan bolpoin.

namanya, alamatnya,

keperluannya.” Tiba-tiba muncul keinginannya untuk berolok- olok. Sambil menahan ketawa ditulisnya di situ:

Nama: Soeharto (bukan Presiden). Keperluan: Urusan keluarga. “Cukup?” katanya sambil menunjukkan apa yang ditulisnya kepada penjaga. “Lelucon, lelucon,” katanya berulang-ulang sambil menepuk-nepuk punggung penjaga yang

terlongok-longok heran. “Dia tahu siapa saya,” ujarnya menjelaskan. “Tanda tangannya belum, Tuan. Dan alamat- nya?” Betul juga, ada gunanya juga menjelaskan identitasnya, supaya tuan rumah tahu dan mem- berikan sambutan yang hangat atas keda- tangannya. Maka ditulisnya di bawah tanda tangannya, lengkap: Waluyo ANOTOBOTO. Nama keluarganya sengaja dibikin kapital semua diberi garis tebal di bawahnya. Sekali lagi dia tersenyum, rasa bangga terlukis di wajahnya. “Begini?” tanyanya seperti meminta pertim- bangan kepada penjaga. Terbayang adik misannya tergopoh-gopoh membuka pintu, lalu menyerbunya dengan segala rasa rindu, sambil melemparkan macam- macam pertanyaan kepadanya, “Bagaimana Embok, Bapak? Tinah anaknya sudah berapa?” Kemudian dilihatnya diri sendiri menepuk-nepuk punggung adiknya, dan dengan suara dan gaya orang tua dia bilang, “Sehat, semua sehat, dan mereka kirim salam rindu padamu.” Ketika pintu berderit dia tersentak dari la- munannya, dan ketika berdiri hendak menyambut adik misannya, ternyata yang keluar bukan dia tapi si penjaga.

Yang

ditanya

tulis:

hanya

“Silakan

si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
si penjaga. Yang ditanya tulis: hanya “Silakan “Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan,
“Bagaimana?” katanya tak sabar. “Duduklah, Tuan, duduk saja. Pak Jenderal sedang ada tamu. Tapi saya
“Bagaimana?” katanya tak sabar.
“Duduklah, Tuan, duduk saja. Pak Jenderal
sedang ada tamu. Tapi saya lihat Pak Jenderal
heran melihat nama bapak di situ.”
Mendengar itu, dia tersenyum, lalu duduk kem-
bali di kursi. Ditepuk-tepuknya debu yang mele-
kat di celananya, lantas diambilnya slepi dari
sakunya.
“Boleh merokok?” tanyanya minta ijin.
“Silakan, silakan,” kata si penjaga dengan
ramah. Sikap tamu itu memang merapatkan
persaudaraan. Ditawarkannya rokok ke ujung
hidung si penjaga.
“Mau? Silakan!” yang dijawab dengan gelengan
kepala dan goyangan tangan oleh si penjaga.
“Baiklah, tapi jangan panggil saya ‘tuan’. Saya
bukan ‘tuan’. Orang awam, sama seperti saudara.
Nama saya Waluyo. Orang-orang memanggilku
‘Pak Pong’. Lihat saja nanti, Pak Jenderalmu
pasti mengganggu aku dengan Pak Pong, Pak
Pong, terlalu banyak makan singkong, kalau
rakus dikasih telekong. Sejak kecil kami suka
berolok-olok.” Dia tertawa lebar, terkenang masa
kecilnya, bercanda di atas punggung kerbau. Si
penjaga sempat mencatat; gigi tamunya ompong
semua.
,
ragu takut menyinggung perasaan.
“Petani? Apa saya ada potongan petani?
Bukan! Tapi waktu remaja memang kami suka
pencak silat. Rupanya meninggalkan bekas juga
pada potongan tubuhku. Atau karena baju model
Cina ini? Saya guru SD di desa Nggesi. Sekolah
itu telah menghasilkan orang-orang besar. Murid
saya yang pertama sudah kapten, ada juga yang
jadi insinyur. Dan Pak Jenderalmu murid yang
paling jempolan. Otaknya tajam sekali,” katanya
“Tuan, e
Pak Pong, petani?” ujarnya ragu-
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII sambil mengacungkan ibu jari ke atas, memuji
sambil mengacungkan ibu jari ke atas, memuji kepandaian adik misannya. Bel yang mendadak menjerit-jerit tiga

sambil mengacungkan ibu jari ke atas, memuji kepandaian adik misannya. Bel yang mendadak menjerit-jerit tiga kali menghentikan dongengnya. Tampak olehnya penjaga itu berdiri dengan tergesa-gesa sambil berkata, “Tunggu sebentar, mungkin bapak sudah diperlukan.” Dia melongo, ”Diperlukan?” ujarnya di dalam hati, mengeluh tidak mengerti. Disedotnya rokok- nya dalam-dalam, asapnya ditiupkan ke atas. Terbayang kembali di depan matanya Paijo yang kurus kering makan semeja, tidur sepemba- ringan, adik misannya sendiri. Pernah ada bisul di pantatnya, lantas ditumbukkannya daun kecubung untuk obat. Waktu tubuhnya yang kering diserang kudis, dia bersepeda sepanjang lima puluh kilometer untuk membeli obat ke kota buat adiknya. Pagi dan sore menggerus belerang, merebus air dan merendam Paijo pada kemaron yang besar. Tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika semua masih kanak-kanak. “Pak Pong mau minum apa?” Seperti tadi, si penjaga nyelonong duduk dan menegurnya, membubarkan angan-angan masa silamnya. “Pak Jenderal bilang saya harus menemani Bapak, sebab Pak Jenderal lagi sibuk. Sebentar lagi ada tamu istimewa, Pak Menteri. Minumnya apa, Pak? Juice, Coca Cola?” “Apa saja boleh, kopi kalau ada,” ujarnya merendah. “Aih, Jakarta panas, kenapa kopi? Tapi apa bapak saudaranya Pak Jenderal?” ujarnya sambil mencorongkan cangkir ke depan tamunya. “Ya, kakak misannya. Sejak kecil ia yatim piatu. Ibu bapaknya meninggal kena wabah kolera. Dia dua bersaudara, adik perempuannya bernama Tinah. Lantas kedua-duanya diambil oleh orang tua kami, dibesarkan di dalam kandang yang sama, di Nggesi. Kami memang keluarga petani, tapi dia agak lain, otaknya luar biasa. Sejak kecil ia sudah menunjukkan bakat- nya, selalu saja dibuatnya hal-hal yang mengagumkan. Karenanya kami semua bersepakat untuk mengirimnya ke kota bersekolah di sana. Waktu itu kami jual sapi dan padi untuk ongkosnya, lantas saya sudah menjadi guru, saya kirimkan seluruh gaji untuk biayanya. Di desa kami bisa makan apa saja . Oh, apa itu Pak Menteri?” tiba-tiba ia menghentikan ceritanya, menunjuk ke jalan. Seperti disengat lebah penjaga yang ada di dekatnya meloncat bangun, setengah berlari menyambut tamu yang baru datang, berge-

setengah berlari menyambut tamu yang baru datang, berge- metaran membukakan pintu mobilnya. “Langsung saja,
setengah berlari menyambut tamu yang baru datang, berge- metaran membukakan pintu mobilnya. “Langsung saja,

metaran membukakan pintu mobilnya. “Langsung saja, Pak,” kata si penjaga sambil mengantar Pak Menteri ke ruang tamu.

Dia duduk saja di situ, tercenung-cenung. Dicatatnya kejadian itu di dalam hati, “Tamunya Paijo Menteri, langsung bertemu tanpa menung- gu. Lantas dihitung-hitungnya sudah berapa tahun tidak saling bertemu. Apa Paijo juga sege- muk menteri itu? Tiba-tiba semacam kerinduan mencekam naik ke dadanya. Dia ingin melihat adiknya. Serasa hendak diterjangnya tembok yang ada di depannya. Karena gelisah dia berdiri berjalan ke arah pintu. Ketika tangannya menyen- tuh grendel, pintu itu terdorong dari dalam, dan seseorang muncul di depannya, si penjaga. De- ngan tertawa terkekeh ditepuknya bahu Pak Pong yang tua. “Kabar baik, Pak. Kabar baik. Mereka kedua- nya wajahnya cerah. Menteri itu banyak duit, alamat saya kebagian rezeki. O, jadi Pak Pong ini kakak misan Pak Jenderal? Betul mirip memang, dan Pak Jenderal selalu bangga pada keluarganya. Dalam pidato-pidatonya selalu disebut-sebutnya, anak desa, penderitaan rakyat, dan perjuangan melawan Belanda,” kata penjaga itu mencoba mengingat-ingat kembali apa yang per-nah diucapkan oleh jenderalnya, kepada tamunya. “Ya, rumah kami pernah dijadikan markas wak-

tu perang gerilya. Masih lama, itu Pak Menteri?”

katanya tak sabar lagi.

“Tidak, asal Pak Jenderal sudah mau teken, biasanya urusan selesai. Minumnya tambah lagi, Pak?” Dia menggeleng lesu, dalam hati diumpatnya Pak Menteri dan tamu-tamu yang antre di situ, merebut waktu adiknya. Karena badan dan pikirannya terlalu capek dia mengantuk di situ. Si penjaga tidak menggang- gunya, dibiarkan saja tamunya tersandar lemas

di kursinya. Entah berapa lama dia dalam keada-

an semacam itu, dia sendiri tak menyadarinya, tiba-tiba didengarnya kembali bel berbunyi tiga kali. Si penjaga menggoncang-goncangkan ba- hunya.

“Giliran untuk Pak Pong, mari saya antarkan ” Ada keramahan yang tulus terlempar dari mulut

si penjaga. Bibirnya menyunggingkan senyum

ikut merasa bahagia. Waktu pintu ternganga lebar, dia tercenung di depannya. Matanya bergerak ke sana ke mari menatap apa saja yang bisa dilihatnya. Ruangan itu bagus sekali. Hawa dingin menyentuh kulit-

14
14
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
nya. Ada kesegaran di dalamnya. Di tengah-te- ngah barang-barang yang serba megah, duduk laki-laki jangkung

nya. Ada kesegaran di dalamnya. Di tengah-te- ngah barang-barang yang serba megah, duduk laki-laki jangkung memakai kacamata hitam.

Betulkah itu Paijo? Ya, dia tidak salah, ada tai lalat di pipinya. Maka dia pun menyerbu ke dalam

teriaknya

keras. Ketika hendak dirangkulnya laki-laki yang duduk di belakang meja, dia mendadak meng- hentikan langkahnya, sebab laki-laki itu tidak ber- diri, tetapi tetap duduk di kursi. Laki-laki jangkung itu melepas kacamatanya pelan-pelan, lalu mengulurkan tangannya.

“Hallo, Pak Pong, apa kabar? Saya senang bertemu kakak di sini. Bagaimana ibu, bapak, dan dik Tinah?” ujarnya datar tanpa emosi. Laki-laki yang bernama Pak Pong itu hanya melompong. “Kakak, ibu, Dik Tinah?” dia sempat mencatat kata-kata baru. “Bukankah kata-kata itu dulu berbunyi, “Kakang, simbok, dan gendhuk- ku Tinah?” “Baik-baik, Dik, semua kirim salam rindu pada- mu,” katanya dengan latah, “dik”-nya kaku di li-

dah. Dulu orang yang ada di depannya itu dipang-

gil dengan “le”, ketika masih sama-sama meman-

dikan kerbau di sungai.

“Kakak tetap saja penggembira, awet muda,

bajunya potongan Cina.” Mereka tertawa ber- derai-derai. Tapi laki-laki yang bernama Pak Pong menangkap sesuatu yang lain dari wajah adiknya, ketidakwajaran. Maka hilanglah kegembiraannya. Kerinduan yang hendak dituangkan dalam banyak cerita, berhenti sampai di tenggorokan. Dia tenggelam dalam keasingan. Terentang batas di depannya. Sekalipun tidak diketahui bagaimana wujudnya, tapi dia dapat merasakannya. Pada se- tiap tarikan napas adiknya terbayang ungkapan kegelisahan adiknya akan kehadirannya. “Kakak nginap di mana?” tanya laki-laki yang sejak kecil ditimang-timang itu mengiris hatinya. “Gambir. Engkau sibuk, Dik? Ada titipan dari ibu.” Kata-katanya menggeletar, ada rasa pena- saran yang ditekan di dalamnya. Didengarnya sendiri betapa lucunya kata ‘ibu’ terluncur dari mulutnya. Lebih dari setengah abad dunia ini di- huninya, baru satu kali ini dalam hidupnya me- nyebut ‘ibu’ pada emboknya. “Dari ibu? Baiklah, nanti saja, sebentar lagi, saya harus rapat di Bina Graha. Kakak nginap

di Gambir? Kalau begitu, biar penjaga mengantar

kakak ke sana. Nanti malam kakak saya tunggu, makan malam di rumah bersama keluarga.”

Laki-laki itu berdiri, mengantarkan kakaknya sampai ke pintu, memanggil serta memberikan

lalu dihamburkan kerinduannya, “Jo

,”

aba-aba pada sopir dan si penjaga. Sesudah itu, mobil merah punya Pak Jenderal meluncur melin- tasi kota, cepat seperti kilat. “Gambir sebelah mana, Pak?” ujar sopir di per- jalanan. “Stasiun,” jawabnya tenang. “Stasiun? Kirinya, kanannya, Pak?” tanya si penjaga ingin lebih jelas.

“Tidak, di stasiunnya. Jam berapa kereta me- ninggalkan Jakarta? Saya tidak punya famili di sini, kecuali dia. Kasihan, adikku, repot sekali kelihatannya. Tentu di rumahnya banyak tamu, sehingga saya tidak kebagian ruang dan waktu. Kasihan, adikku, seharusnya saya tidak meng- ganggu,” ujarnya tulus tanpa prasangka, pelan seperti bicara untuk dirinya sendiri.

,” sapa penjaga itu dengan lirih,

“kalau Pak Pong mau, biarlah kita bersempit- sempit di gubukku. Kereta meninggalkan Jakarta besok pagi jam lima. Ada yang jalan sore, tapi karcisnya sepuluh ribu.” Laki-laki yang bernama Pak Pong mengulur- kan kedua belah tangannya. Mereka bersalaman dengan hangat, ditempelkan di dada, bersila- turahmi. “Alhamdulillah. Kamu tidak keberatan meneri- ma aku satu malam saja?” Penjaga itu mengge- leng lemah tanpa berbicara, hanya mata saja yang menatap sedih pada orang yang duduk di dekatnya. Malam itu Pak Pong berjalan kaki, keliling kota Jakarta, ditemani si penjaga. Kejadian siang tadi sama sekali tidak membekas pada wajahnya, mukanya tetap berseri-seri. Diterimanya kenya- taan itu sebagai hal yang wajar. Adiknya orang besar, sibuk dan banyak acara mengurus negara. Setiap kali melihat mobil merah lewat di dekatnya tanyanya, “Bukankah itu mobil adikku? Jangan- jangan dia menjemput aku, kami memang sudah berjanji, jam tujuh, makan malam.” Si penjaga menepuk-nepuk bahunya, “Mobil merah ratusan, Pak, jumlahnya di sini. Dan ma- lam ini Pak Jenderal ada di Istana, menyambut tamu dari luar negeri.” “Di Istana? Rumahnya Presiden, maksudmu?” matanya terbeliak lebar, mengungkapkan kehe- ranan yang besar. “Ya, rumahnya Presiden. Nah itu, lampu-lampu yang gemerlapan, Night club. Tahu Night club?” Tiba-tiba saja si penjaga merasa berarti, lebih pandai daripada tamunya, kakak misan Bapak Jenderalnya.

“Pak Pong

Night club, Pak, pusat kehidupan malam di

15
15
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

kota ini. Tempat orang-orang kaya membuang duitnya. Lampunya lima watt, remang-remang, perempuan cantik, minuman keras, tari telan- jang, dan musik gila-gilaan. Pendeknya yahud,” ujar penjaga sambil mengacungkan jempolnya. “Lantas, apa yang mereka bikin di situ?” suara- nya tercekik, membayangkan ketakutan yang besar. “Berdansa, bercumbu. Biasa, Pak, Jakarta,” jawabnya ringan. “Astaga, Gusti Pangeran nyuwun ngapura adikku sering ke situ?” ujarnya lirih mengandung sedu. “Tidak ke situ. Ke Paprika, tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu.” “Enam ribu, sama dengan dua bulan gajiku,” keluhnya pelan. Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk matanya, sedang kebi- singan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar- samar mulai disadarinya bahwa dia telah kehi- langan adiknya, Paijo tercinta. Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di dalam hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung itu, Istana Merdeka, Night club, mobil merah, telah memisahkan dia dari adiknya. Ditatapnya bungkusan kecil titipan em- boknya lalu diberikannya kepada si penjaga. “Untukmu. Kain yang dibatik oleh tangan orang tuaku. Di dalamnya terukir cinta ibu kepada anak- nya. Coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan.” Dua tetes air mata membasahi pipi yang tua, menandai kejadian waktu itu.

Totilawati Tjitrawasita dalam Laut Biru Langit Biru

Cerita bertolak dari kerinduan Waluyo, guru SD desa Nggesi, yang dengan segala kelu- guannya menengok Paijo, adik misannya, yang sudah menjadi jenderal di Jakarta. Pertemuan yang terjadi akhirnya sangat membingungkan dan mengecewakan hati Waluyo. Berikut ini akan disajikan contoh analisis dari cerpen “Jakarta”.

a. Tokoh dan Penokohan

Ada tiga tokoh yang berperan dalam cerita ini:

tokoh utama Waluyo atau Pak Pong (tokoh I), tokoh penunjang protagonis si penjaga (tokoh II), dan tokoh Paijo atau Pak Jenderal (tokoh III). Ketiga-tiganya ditampilkan secara langsung (direct presentation of characters in action), dan disajikan secara dramatik/ragaan; wataknya diungkapkan dengan dialog dan lakuan tokoh. Hubungan antartokoh dan perkembangannya dengan mudah dapat disimpulkan dari dialog dan lakuan yang disajikan berikut ini. 1) Hubungan tokoh I dan tokoh II bersifat imper- sonal. “Silakan tulis: namanya, alamatnya, keper- luannya.” 2) Tokoh I menguasai keadaan. Tiba-tiba timbul keinginannya untuk berolok- olok. Sambil menahan ketawa ditulisnya di situ: Nama: Soeharto (bukan Presiden). 3) Tokoh I merasa lebih berwibawa daripada tokoh II. “Lelucon, lelucon,” katanya berulang-ulang sambil menepuk-nepuk punggung penjaga yang terlongok-longok heran. 4) Tokoh II tetap impersonal terhadap tokoh I. “Tanda tangannya belum, Tuan. Dan alamat- nya?” 5) Tokoh I merasa lebih berwibawa daripada tokoh III. Kemudian dilihatnya diri sendiri menepuk- nepuk punggung adiknya, dan dengan suara dan gaya orang tua dia bilang: “Sehat, semua sehat, dan mereka kirim salam rindu kepada- mu.” 6) Tokoh I ingin berakrab dengan tokoh II. “Baiklah, tapi jangan panggil saya ‘tuan’. Saya ‘bukantuan’.Orangawam,samasepertisaudara. 7) Rasa berwibawa tokoh I surut dan menjadi kurang yakin akan tokoh III. Dia melongo: “Diperlukan, diperlukan?” ujar- nya di dalam hati, mengeluh tidak mengerti.

1.3.4

Mengapresiasi Cerpen

Pada awal pemelajaran Anda telah memahami tahap-tahap dalam mengapresiasi dan menilai sebuah karya sastra. Berikut ini salah satu contoh mengapre- siasi cerpen berdasarkan unsur-unsurnya yang dilakukan oleh Panuti Sudjiman dalam bukunya Me- mahami Cerita Rekaan.

Meskipun sebuah cerita pendek merupakan suatu keutuhan artistik yang keberhasilannya harus dinilai secara keseluruhan, untuk keperluan latihan mengapresiasi cerita pendek Jakarta ini, akan diba- has beberapa unsur intrinsik saja. Berikut analisisnya.

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1

8) Tokoh II berakrab dengan tokoh I. “Pak Pong mau minum apa?”

Minumnya

apa, Pak? Juice, Coca Cola?” 9) Tokoh I yakin kembali akan tokoh III.

Lantas kedua-duanya diambil oleh orang tua kami, dibesarkan di dalam kandang yang sama, di Nggesi. 10) Tokoh II lebih berwibawa daripada tokoh I. Ketika tangannya menyentuh grendel, pintu itu terdorong dari dalam, dan seseorang mun- cul di depannya: si penjaga. Dengan tertawa terkekeh-kekeh ditepuk-tepuknya bahu Pak Pong yang tua. 11) Tokoh III “orang asing” bagi tokoh I. Ketika hendak dirangkulnya laki-laki yang duduk di belakang meja, dia mendadak menghentikan langkahnya, sebab laki-laki itu tidak berdiri, tapi tetap duduk di kursi. 12) Tokoh III tidak berakrab dengan tokoh I. “Hallo, Pak Pong, apa kabar?” Saya senang bertemu kakak di sini. Bagaimana ibu, bapak dan Dik Tinah?” ujarnya datar tanpa emosi. 13) Tokoh I tidak memahami tokoh III. Kerinduan yang hendak dituangkan dalam banyak cerita, berhenti sampai di tenggo-

rokan. Dia tenggelam dalam keasingan. Terentang batas di depannya. Sekalipun tidak diketahuinya bagaimana wujudnya, tapi dia dapat merasakannya. 14) Tokoh I mencoba bersimpati dengan tokoh

III.

Kasihan adikku, repot sekali kelihatannya. Tentu di rumahnya banyak tamu, sehingga saya tidak kebagian ruang dan waktu. Ka- sihan adikku, seharusnya saya tidak meng- ganggu,” ujarnya tulus tanpa prasangka, pelan seperti bicara untuk dirinya sendiri.

15)Tokoh II bersimpati dengan tokoh I.

17) Tokoh I masih berharap-harap akan tokoh III. “Bukankah itu mobil adikku? Jangan-jangan dia menjemput aku, kami memang sudah ber- janji, jam tujuh, makan malam.” 18)Tokoh II merasa lebih tahu daripada tokoh I. “Ya, rumahnya Presiden. Nah, itu lampu-lam- pu yang gemerlapan: Night club. Tahu Night club?” 19) Tokoh I melepaskan tokoh III dan “menerima” tokoh II. Lampu-lampu yang berkilauan terasa menu- suk-nusuk matanya, sedang kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar mu- lai disadarinya bahwa dia telah kehilangan adiknya, Paijo tercinta. Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di dalam hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung itu, Istana Merdeka, Night club, mobil merah, telah memisahkan dia dari adiknya. Ditatapnya bungkusan kecil titipan emboknya lalu diberikannya kepada si pen- jaga. “Untukmu. Kain yang dibatik oleh tangan orang tuaku. Di dalamnya terukir cinta ibu kepada anaknya. Coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persau- daraan.” Informasi banyak diperoleh pembaca dari dialog protagonis. Dialog dalam cerita pendek ini juga dengan manis mengungkapkan perkem- bangan ketegangan emosional. Misalnya, dialog pada awal pertemuan Pak Pong dengan adik misannya. Kemudian, atas pertanyaan “Kakak nginap di mana?”, ia menjawab, “Gambir.” Ketika itu ketegangan emosional memuncak. “Ada titipan dari ibu” menunjukkan usaha Pak Pong untuk menemukan kembali Paijo yang dahulu. Akan tetapi, usaha itu gagal: “Dari ibu? Baiklah,

nanti saja, sebentar lagi, saya harus rapat di Bina

Graha

.“

“Pak Pong … ,” sapa penjaga itu dengan lirih, “kalau Pak Pong mau, biarlah kita bersempit- “

sempit di gubukku 16)Tokoh I dan tokoh II saling mengerti. Laki-laki yang bernama Pak Pong mengulur- kan kedua belah tangannya. Mereka bersa- laman dengan hangat, ditempelkan di dada, bersilaturahmi. “Alhamdulillah. Kamu tidak keberatan meneri- ma aku satu malam saja?” Penjaga itu meng- geleng lemah tanpa berbicara, hanya mata saja yang menatap sedih pada orang yang duduk di dekatnya.

Simpati Pak Pong pada adiknya memang ada; ia mengumpat tamu-tamu merebut waktu adiknya. Simpati itu masih nampak walaupun ia sudah memutuskan pulang saja. Ia mencoba me- mahami adiknya, berusaha menutupi kekurangan adiknya; namun, setengah mengharapkan pula menemukan kembali Paijo yang seperti 35 tahun yang lalu. Ketika akhirnya disadarinya bahwa ia telah kehilangan adiknya, dendamnya di- lampiaskan bukan pada adiknya melainkan pada kota Jakarta seisinya.

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

b.

Alur dan Pengaluran

oleh si penjaga. (“Tunggu sebentar, mungkin Bapak sudah diperlukan.”) Sikap penjaga yang menyilakan Pak Menteri langsung masuk se- dang Pak Pong sudah lama menunggu, sekali lagi secara ironis menunjukkan betapa Pak Pong tidak berarti. Penawaran minum juice atau coca cola, membingungkan Pak Pong karena tidak terbiasa pada minuman ringan semacam itu sehingga ia agak rendah diri. Maka ia menjawab, “Apa saja boleh, kopi kalau ada.” Karena minum- an kopi tidak asing baginya. Namun, secangkir kopi itu terasa terlalu cepat disodorkan kepa- danya oleh penjaga. Latar metaforis yang mendukung sikap batin nampak pada waktu pintu kamar Pak Jenderal dibuka. “Ruangan itu bagus sekali. Hawa dingin menyentuh kulitnya. Ada kesegaran di dalam- nya.” Ini melambangkan harapan baru dalam hati Pak Pong, yaitu bahwa setelah segala kebi- ngungan dan keragu-raguan yang dialaminya, ia masih akan menemukan Paijo seperti yang dike- nalnya. Pada umumnya latar mendukung cerita dengan baik. Tambahan keterangan merah pada mobil punya Pak Jenderal, misalnya, memberikan kon- tras kecerahan, mengaksentuasi keredupan sua- sana hati Pak Pong. Kisahan Pak Pong berjalan kaki mengelilingi kota Jakarta menggambarkan kembali berpijaknya tokoh pada realitas yang diterimanya dengan ikhlas tanpa dendam. Begitu pula latar seperti yang dibentangkan dalam alinea ketiga dari akhir, “Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk matanya, sedang kebi- singan kota menyayat-nyayat hatinya” memper- siapkan suasana menjelang selesaian. Penggunaan istilah kekerabatan berbahasa Jawa memberi warna tempatan yang memper- kuat kesan keakraban yang semula ada di antara tokoh I dan tokoh III.

Alur cerita ini pada dasarnya bersifat linear. Sorot balik yang bersifat informatif tidak meng- ganggu, yaitu dalam bentuk bayangan yang tim- bul di depan mata Pak Pong tentang masa ka- nak-kanaknya dengan Paijo, 35 tahun yang lalu. Sorot balik juga ditampilkan dalam cakapan Pak Pong dengan sengaja ketika menunggu giliran diterima adik misannya. Sudah sejak awal paparan terasa adanya rang- sangan (lihat alinea pertama). Rangsangan kedua timbul dengan keluarnya penjaga, dan bukan adik misannya, dari dalam kamar Pak Jenderal. Peng- gawatan disebabkan oleh kata-kata penjaga, “Tunggu sebentar, mungkin Bapak sudah diper- lukan.” Kemudian sekali lagi ketika tamu yang baru datang langsung dipersilakan masuk sedang dia masih juga harus menunggu. Kerinduan akan adik misannya yang men- cekam naik ke dadanya, ternyata tak terpenuhi ketika akhirnya ia dipersilakan masuk kamar Pak Jenderal. Sikap Pak Jenderal yang tidak wajar terhadap Pak Pong menimbulkan tikaian yang memuncak ketika Pak Jenderal menanyakan di mana Pak Pong menginap; suatu pertanyaan yang mengiris hatinya. Jawabannya “Gambir.” Merupakan titik balik, dan jawabannya yang tenang, “Stasiun” atas pertanyaan sopir ke sebe- lah mana Gambir mereka pergi, menunjukkan leraian menuju selesaian pada akhir cerita, yaitu kesadaran bahwa dia telah kehilangan adik mi- sannya. Walaupun demikian, tidak juga ia men- dendam adiknya; ia berusaha menerima bahwa lingkunganlah yang membuat adiknya berubah. Cerita ini, memikat dari awal sampai akhir. Ke- jutan – bahkan pada akhir cerita – dan tegangan di sana-sini membuat pembaca terus terangsang rasa ingin tahunya.

c.

Latar

Latar spiritual dibentangkan sejak awal; bahkan judul cerita “Jakarta” menyarankan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu. Secara konotatif tersaran suasana kota besar dengan hubungan antarmanusia yang renggang sehingga orang mudah merasa terasing. Ketidakakraban ini an- tara lain tercermin dalam penyapaan Pak Pong oleh penjaga dengan “Tuan”. Bel yang mendadak menjerit-jerit dan menghentikan dongeng Pak Pong merupakan kiasan tentang ketidakberartian Pak Pong di dalam lingkungan itu. Kesan ini diperkuat oleh penggunaan kata “diperlukan”

d. Sudut Pandang yang Digunakan Penggunaan sudut pandang orang ketiga menyebabkan pencerita tidak terlampau terlibat di dalam cerita. Tentang tokoh Pak Pong, pen- cerita bersifat serba tahu, tetapi tentang tokoh II dan tokoh III pencerita bersifat terbatas. Ini me- mungkinkan adanya kejutan dari pihak tokoh II dan tokoh III. Andai kata digunakan sudut pandang orang pertama protagonis, mungkin sekali cerita akan menjadi terlalu emosional dan subjektif.

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1 Kerjakan aktivitas-aktivitas berikut ini dalam buku tugasmu! A. Carilah satu

Kerjakan aktivitas-aktivitas berikut ini dalam buku tugasmu!

A. Carilah satu buah cerpen di surat kabar atau majalah!

B. Baca cerpen tersebut dan kerjakan soal di bawah ini berdasarkan cerpen tersebut!

1. Bagaimana kalian menilai cerpen tersebut? Apakah berkualitas dan menarik? Mengapa demikian?

2. Menurut kalian, apa tema cerpen tersebut?

3. Bagaimana alur ceritanya?

4. Menurut kalian, seperti apa latar belakang kon- disi sosial politik dan budaya dalam cerpen tersebut!

5. Jelaskan amanat yang terkandung dalam cer- pen tersebut!

6.

Siapakah tokoh protagonis dalam cerpen tersebut!

7.

Adakah tokoh antagonisnya? Kalau ada, siapa tokoh antagonis dalam cerpen tersebut!

8.

Di mana kejadian kisah dalam cerpen terse- but?

9.

Bagaimana pendapat kalian tentang isi cerpen tersebut?

10.

Apakah cerpen di atas mengandung nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan se-hari-hari? Sebutkan apa saja nilai-nilai tersebut!

C.

Apresiasikanlah cerpen tersebut seperti pada cerpen Jakarta!

D.

Carilah dua cerpen, baik dari koran, majalah, maupun dari buku kumpulan cerpen yang ada di perpustakaan kalian! Bandingkanlah kedua cerpen tersebut menurut unsur intrinsik dan ekstrinsiknya!

cerpen tersebut menurut unsur intrinsik dan ekstrinsiknya! Hasil karya, baik itu karya sastra atau karya ilmiah,

Hasil karya, baik itu karya sastra atau karya ilmiah, dipengaruhi oleh penulisnya. Anda tentu mengenal sastrawan-sastrawan besar, seperti Nh. Dini, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, dan lain sebagainya. Karya-karya sastra yang dihasilkan sastrawan-sastrawan itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan sastrawan muncul dari latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lain.

1.4.1 Mengasosiasikan Karya dengan Penulisnya

Asosiasi artinya tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; bentukan hubungan atau per- talian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan panca- indra. Mengasosiasikan artinya menautkan sesuatu pada orang atau barang lain. Mengasosiasikan karya artinya menautkan sebuah karya dengan penulisnya.

karya artinya menautkan sebuah karya dengan penulisnya. Kerjakan aktivitas-aktivitas berikut ini dalam buku tugasmu!

Kerjakan aktivitas-aktivitas berikut ini dalam buku tugasmu!

1. Carilah sebuah karya ilmiah, kemudian asosiasikan karya ilmiah itu dengan penulisnya! Tulislah hasil asosiasi terhadap karya ilmiah tersebut!

2. Carilah sebuah cerpen, kemudian asosiasikan cerpen itu dengan penulisnya! Tulislah hasil asosiasi terhadap cerpen tersebut!

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

Rangkuman:

1.

Sastra merupakan salah satu bentuk tulisan kreatif yang kadang memberikan hal-hal yang fenomenal, baik dari segi unsur intrinsik maupun ekstrinsik.

2.

Menurut KBBI, sastra adalah (1) bahasa (kata- kata dan gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab- kitab (jadi, bukan bahasa sehari-hari); (2) karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

3.

Sastra dalam pengertian umum adalah karya tulis yang merupakan ungkapan pengalaman manusia melalui bahasa yang mengesankan. Dalam sastra terkandung ide, pikiran, perasaan, dan pengalaman yang khas manusiawi, serta diungkapkan dengan bahasa yang indah.

4.

Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal seorang pem- baca terhadap karya sastra yang didengar atau dibacakannya. Kata ‘apresiasi’ diserap dari kata bahasa Inggris appretiation yang berarti penghargaan.

5.

Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Apresiasi sastra berarti peng- hargaan terhadap karya sastra. Selain itu, apre- siasi sastra juga berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima dan mengakui nilai-nilai sastra sebagai sesuatu yang benar.

6.

Ada beberapa tahap dalam penghargaan karya sastra, yaitu:

(1) tahap mengenal dan menikmati,

(2) tahap menghargai,

(3) tahap pemahaman,

(4) tahap penghayatan, dan

(5) tahap aplikasi atau penerapan.

8.

Jadi, kegiatan apresiasi sastra adalah proses mengenal, menikmati, memahami, dan meng- hargai suatu karya sastra secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan peng- hargaan terhadap sastra.

9.

Kegiatan apresiasi sastra adalah proses mengenal, menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap sastra.

 
 

10. Ciri-ciri karya sastra adalah:

(1) memberikan hiburan karena menyenangkan,

(2) menunjukkan kebenaran hidup manusia, dan

(3) melampaui batas bangsa dan zaman.

11. Karya sastra itu memenuhi norma estetika bila:

(1) mampu menghidupkan atau memperbarui pe- ngetahuan pembaca, menuntunnya melihat berbagai keindahan,

(2) mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi bagi penyembpurnaan kehidup- an, dan

(3) mampu memperlihatkan peristiwa kebudaya- an, sosial, keagamaan, atau politik dalam ka- itan dengan seni dan keindahan.

12. Karya sastra dinilai memenuhi norma sastra bila, karya itu:

(1) mampu merefleksikan kebenaran hidup manusia,

(2) mempunyai daya hidup tinggi yang senan- tiasa menarik bila dibaca kapan saja,

(3) menyuguhkan kenikmatan, memberdayakan orang untuk kehidupan, dan

(3) menyuguhkan kenikmatan, memberdayakan orang untuk kehidupan, dan

(4) mampu memperlihatkan kenikmatan, ke- senangan, dan keindahan karena strukturnya tersusun bagus dan selaras.

13. Karya sastra dinilai memiliki nilai moral bila kar- ya itu menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku.

14. Teks ilmiah menguraikan dan membahas suatu permasalahan secara ilmiah dan dapat menuangkannya secara ilmiah dan menuang- kannya secara teoritis, jelas, dan sistematis.

15. Karya sastra (cerpen, novel, drama, dan puisi) adalah hasil rekaan atau ciptaan pengarang. Ada pun unsur-unsur sastra ada macam, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

16. Unsur intrinsik atau unsur dalam adalah unsur sastra yang mempengaruhi terciptanya karya sastra atau yang membangun karya sastra itu dari dalam. Yang termasuk unsur intrinsik adalah tokoh, penokohan, tema, plot atau alur, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat.

 
 
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1
Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1

17. Unsur ekstrinsik atau unsur luar adalah unsur- unsur dari luar yang mempengaruhi karya sastra. Yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik karya sastra adalah latar belakang kehidupan pe- ngarang, pandangan hidup pengarang, situasi sosial-budaya yang melatar belakangi lahirnya karya sastra.

18. Asosiasi adalah pertautan di dalam ingatan pada orang atau barang lain. Mengasosiasikan adalah menautkan sesuatu pada orang atau barang lain, Mengasosiasikan karya artinya menautkan sebuah karya dengan penulisnya.

karya artinya menautkan sebuah karya dengan penulisnya. A. Plihlah salah satu jawaban yang paling tepat! 1.

A. Plihlah salah satu jawaban yang paling tepat!

1. Tahap ketiga dalam proses penghargaan karya seni adalah

a. mengenal dan menikmati karya seni

b. memahami karya seni

c. menghargai karya seni

d. menerapkan karya seni

e. menghayati karya seni

2. Tahap penghargaan karya seni yang melakukan tindakan meneliti serta menganalisis unsur-unsur

yang membangun karya sastra, baik unsur in- trinsik maupun unsur ekstrinsiknya adalah tahap

a. pengenalan karya seni

b. penerapan karya seni

c. pemahaman karya seni

d. penghargaan karya seni

e. penghayatan karya seni

3. Tahap penghargaan karya seni yang membuat

interpretasi atau penafsiran terhadap karya sas-

tra serta menyusun argumen berdasarkan ana-

lisis yang telah dilakukan pada tahap sebelum- nya adalah tahap

a. pengenalan karya seni

b. penerapan karya seni

c. pemahaman karya seni

d. penghargaan karya seni

e. penghayatan karya seni

4. Berikut ini hal-hal berkaitan dengan penilaian karya sastra.

i Karya itu mampu menghidupkan atau mem- perbarui pengetahuan pembaca, menun- tunnya melihat berbagai kenyataan hidup.

ii Karya itu mampu merefleksikan kebenaran hidup manusia.

iii Karya itu mampu membangkitkan aspirasi pada pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi penyem- purnaan kehidupan.

iv Karya itu mempunyai daya hidup tinggi yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja.

v Karya itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik masa lalu dalam kaitan dengan peristiwa ma- sa kini dan masa datang.

Yang tergolong norma estetika dalam penilaian karya sastra adalah

a.

b.

c. i, iii, v

5. Berikut ini yang bukan unsur intrinsik karya sas-

i, ii, iii ii, iii, v

d.

e.

iii, iv, v i, ii, v

tra adalah

a. budaya pengarang

b. alur/plot

c. tokoh

d. tema

e. latar

6. Berikut ini yang bukan unsur ekstrinsik karya sastra adalah

a. budaya pengarang

b. agama pengarang

c. kondisi politik

d.

e.

perwatakan

moral

7. Jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk men- capai efek tertentu disebut

a. budaya pengarang

b. alur/plot

c. tokoh

d. tema

e. latar

8. Alur/plot yang pada akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita disebut

a. plot terbuka

d.

plot mundur

b. plot tertutup

e.

plot campuran

c. plot maju

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

9. Penggambaran mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita disebut

a. budaya pengarang

b. alur/plot

c. tokoh

d. tema

e. latar

10. Tokoh protagonis adalah

a. tokoh yang melawan cita-cita antagonis

b. pihak ketiga yang berpihak pada kubu anta- gonis

c. tokoh utama yang ingin mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dalam mencapai cita-cita

d. tokoh yang berada di luar antagonis dan tri- tagonis

e. tokoh yang berpihak pada kubu mana pun

11. Tokoh yang melawan tujuan dan cita-cita prota- gonis disebut

a. tokoh utama

d.

protagonis

b. tokoh sampingan

e.

tritagonis

c. antagonis

12. Tokoh yang tidak memegang peran utama dalam cerita dan biasanya tidak terlibat dalam semua bagian cerita. Keberadaannya sebagai penghubung antara tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh itu disebut

a.

b. tokoh sampingan

c. antagonis

tokoh utama

d. protagonis

e. tritagonis

13. Waktu pintu ternganga lebar, dia tercenung di depannya. Matanya bergerak ke sana ke mari menatap apa saja yang bisa dilihatnya. Ruangan itu bagus sekali. Hawa dingin menyentuh kulit- nya. Ada kesegaran di dalamnya. Di tengah- tengah barang-barang yang serba megah, duduk laki-laki jangkung memakai kacamata hitam.

Unsur intrinsik yang terkandung pada kutipan cerpen Jakarta di atas adalah

a.

b.

c. tema

penokohan

alur

d. latar

e. amanat

14. Pernyataan berikut ini yang tidak tepat untuk teks ilmiah adalah

a. isi teks dapat berupa fakta sosial

b. mengggunakan bahasa Indonesia baku

c. menggunakan peribahasa untuk menyampai- kan maksud

d. thesis merupakan salah satu contoh teks

 
 
 

ilmiah

 

e.

teks ilmiah dapat berupa hasil penelitian

 

15.

Berikut ini yang bukan teks ilmiah adalah

a. skripsi

d. cerpen

b. thesis

e. karya tulis

c. hasil penelitian

B.

Kerjakan soal berikut dengan tepat!

 

1.

Bacalah hikayat berikut ini analisislah berdasar- kan unsur intrinsiknya!

 

Awang Sulung Merah Muda

Awang sulung merah muda adalah anak Raja Bandar Mengkalih. Semasa ia dilahirkan, orang tuanya sudah mangkat. Ia dibesarkan oleh Datuk BatinAlim bersama dengan anak perempuannya sendiri yang bernama Puteri Dayang Nuramah. Sesudah besar, Awang Suluh Merah Muda dise- rahkan kepada guru untuk mengaji, belajar kitab nahu dan mantik. Kemudian belajar pencak silat pula. Semuanya dipelajari dengan cepat sekali. Pada suatu hari gigi Awang Sulung Merah Muda diasah. Selang beberapa lama, Datuk Batin Alim meminta Awang Sulung Merah Muda membayar belanja mengasah gigi. Karena tiada mempunyai uang, Awang Sulung Merah Muda lalu disuruh mengerjakan pekerjaan yang berat. Biarpun Datuk Batin Alim masih tidak puas hati dan mau membunuh Awang Sulung Merah Muda. Awang Sulung Merah Muda melarikan diri. Dengan bantuan Puteri Dayang Seri Jawa, ia pun melunaskan hutangnya. Se- lanjutnyaAwang Sulung Merah Muda pun menjadi orang suruhan Puteri Dayang Seri JAwa. Puteri Dayang Nuramah yang menaruh kasih pada Awang Sulung Merah Muda tidak rela Awang Merah Muda diambil orang begitu saja. Maka ber- peranglah kedua puteri itu di tengah laut selama tujuh jaru tujuh malam lamanya. Awang Sulung Merah Muda takut kalau-kalau salah seorang puteri itu luka atau mati, lalu ia memisahkan mereka. Tidak lama sesudahnya, Puteri Dayang Seri Jawa pun dikawinkan dengan Awang Sulung Merah Muda. Selanjutnya Awang Sulung Merah Muda berkawin dengan Puteri Dayang Nuramah dan dua orang puteri lain, yaitu Puteri Pinang Masak dari Pati Talak Trengganu dan Puteri Mayang Mengurai dari Pasir Panjang. Maka sangatlah kasih baginda akan keempat isterinya itu, tiada pernah bercerai.

Puteri Mayang Mengurai dari Pasir Panjang. Maka sangatlah kasih baginda akan keempat isterinya itu, tiada pernah
 

Sumber: Sejarah Kesustraan Klasik Jilid 1, Dr. Liaw Yock Fang

 
 

Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2

Pendahuluan : Setelah kalian belajar untuk menyimak dan memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan
Pendahuluan :
Setelah kalian belajar untuk menyimak dan memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan teks
ilmiah sederhana pada pembelajaran pertama, kini pada pembelajaran kedua kalian akan diajak untuk
dapat mengapresiasikan secara lisan teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana. Pada pembelajaran
ini, pertama, kalian diajak untuk menyimak teks yang dibacakan atau diperdengarkan kepada kalian dan
mendiskusikan istilah yang tidak dipahami dari teks tersebut. Kalian juga diajak untuk menjelaskan
makna idiomatik yang terkandung dalam teks sastra.
Kedua, melalui kegiatan membaca kalian diajak untuk mengungkapkan unsur intrinsik dan ekstrinsik
dari karya sastra yang dibaca dan menjelaskan pesan yang tersirat. Kalian juga akan diajak untuk bisa
memberi komentar pada teks yang dibaca. Ketiga, melalui kegiatan berbicara kalian diharapkan bisa
mengungkapkan tanggapan kalian terhadap isi dan cara penyajian teks yang telah dibaca dan mengaitkan
istilah dalam teks sastra dengan kehidupan sehari-hari.
Keempat, melalui kegiatan menulis kalian akan diajak untuk menulis kelanjutan cerpen yang telah
selesai dibaca.
Akhirnya, selamat belajar dan sukseslah selalu. Namun sebelum memulai pembelajaran kedua ini,
sebaiknya kalian melakukan cek kemampuan bahasa terlebih dulu.
Cek Kemampuan
Berilah tanda (
) pada kolom Ya atau Tidak yang tersedia sesuai dengan apa yang kalian pahami!
No
Pertanyaan
Ya
Tidak
1.
Dapatkah kalian menyimak teks yang dibacakan/diperdengarkan?
2.
Apakah kalian dapat mendiskusikan istilah sulit dari teks yang disimak?
3.
Mampukah kalian menjelaskan makna idiomatik yang terkandung dalam
karya sastra (cerpen, puisi, novel) seperti pepatah, peribahasa, dan majas?
4.
Dalam karya sastra yang kalian baca, terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik,
dapatkan kalian mengungkapkan unsur-unsur tersebut?
5.
Mungkin, teks sastra yang kalian baca mengandung pesan tersirat, bisakah
kalian menjelaskannya?
6.
Apakah kalian dapat mengomentari teks yang dibaca?
7.
Setelah membaca teks, dapatkah kalian mengungkapkan tanggapan
terhadap isi dan cara penyajian?
8.
Dapatkah kalian mengaitkan istilah dalam teks sastra dengan kehidupan
sehari-hari?
9.
Bisakah kalian menulis kelanjutan cerpen yang telah selesai dibaca?
Apabila kalian menjawab “Tidak” pada salah satu pertanyaan di atas, pelajarilah materi tersebut
pada modul ini. Apabila kalian menjawab “Ya” pada semua pertanyaan, lanjutkanlah dengan menger-
jakan aktivitas-aktivitas dan tes akhir pembelajaran yang ada pada modul ini.
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII Pembelajaran sebelumnya kalian sudah pernah menganalisis ungkapan,
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII Pembelajaran sebelumnya kalian sudah pernah menganalisis ungkapan,
Pembelajaran sebelumnya kalian sudah pernah menganalisis ungkapan, pepatah, peribahasa, atau majas yang tersurat dalam

Pembelajaran sebelumnya kalian sudah pernah menganalisis ungkapan, pepatah, peribahasa, atau majas yang tersurat dalam cerpen. Sekarang kalian akan kembali mempelajarinya dengan menemukan pepatah, peribahasa, dan majas dalam dua kutipan novel yang disimak.

2.1.1 Menyimak Teks Sastra

Berikut ini disajikan kutipan roman Sitti Nurbaya. Salah seorang siswa membacakan kutipan tersebut dan siswa yang lain menyimak dengan saksama.

Pulang dari Sekolah

Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka se- dang hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar dari atas dan timbul dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih. Seorang dari anak muda ini, ialah anak laki-laki yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang ber- kancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutra hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi dan dengan tangan kanannya dipe- gangnya sebuah belebas, yang dipukul-pukul- kannya ke betisnya. Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disang- ka, anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa; karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi, nyata keli- hatan alis matanya yang tebal dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Ba- dannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan te- nang , terbayang bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib sopannya menyatakan ia anak seorang yang berbangsa tinggi.

Teman anak muda ini, ialah seorang anak pe- rempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang tebal dan hitam tebal itu, dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutra, dan diberinya pula berpita hitam di ujung- nya. Gaunnya (baju nona-nona) terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu dan kausnya, coklat warnanya. Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis dan se- buah kotak yang berisi anak batu, pensil, pena, dan lain-lain sebagainya; dan di tangan kanannya adalah sebuah payung sutra kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau.

Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian! Seakan-akan dagang yang rawan, yang bercintakan sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Pipinya sebagai pauh dilayang, yang kemerah-merahan warnanya kena bayang baju dan payungnya, bertambah merah rupanya, kena panas matahari. Apabila ia tertawa, cekunglah kedua pipinya, menambahkan manis rupanya; istimewa pula karena pada pipi kirinya ada tahi lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antara kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagai dua baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak, yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air embun. Di lehernya yang jenjang, tergantung pada rantai emas yang halus, sebuah dokoh hati-hati, yang bermatakan permata delima. Jika ia minum, seakan-akan terbayang air yang diminumnya di dalam kerongkongannya. Suaranya lemah- lembut, bagai buluh perindu, memberi pilu yang mendengarnya. Dadanya bidang, pinggangnya ramping. Lengannya dilingkari gelang ular-ular, yang bermatakan beberapa butir berlian yang bernyala-nyala sinarnya. Pada jari manis tangan kirinya yang halus itu, kelihatan sebentuk cincin mutiara, yang besar matanya. Kakinya baik kokohnya dan jalannya lemah gemulai.

Menurut bangun tubuh, warna kulit dan per- hiasan gadis ini, nyatalah ia bangsa anak negeri di sana; anak orang kaya atau orang yang ber-

warna kulit dan per- hiasan gadis ini, nyatalah ia bangsa anak negeri di sana; anak orang
24
24
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2 Gambar 2.1 Sampul depan roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli.
Gambar 2.1 Sampul depan roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli. pangkat tinggi. Barangsiapa memandangnya, tak
Gambar 2.1
Sampul depan roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli.
pangkat tinggi. Barangsiapa memandangnya,
tak dapat tiada akan merasa tertarik oleh sesuatu
tali rahasia, yang mengikat hati, dan jika mende-
ngar suaranya, terlalailah daripada sesuatu pe-
kerjaan. Sekalian orang bersangka, anak ini ke-
lak, jika telah sampai umurnya, niscaya akan
menjadi sekuntum bunga, kembang kota pa-
dang, yang semerbak baunya sampai ke mana-
mana, menjadikan asyik berahi segala kumbang
dan rama-rama yang ada di sana.
“Apakah sebabnya Pak Ali hari ini terlambat
datang? Lupakah ia menjemput kita?” demikian
tanya anak laki-laki tadi kepada temannya yang
perempuan, sambil menoleh ke jalan yang me-
nuju ke pasar Kampung Jawa.
“Ya, biasanya sebelum pukul satu ia telah ada
di
sini. Sekarang cobalah lihat! Jam di kantor te-
lepon itu sudah hampir setengah dua,” jawab
anak perempuan yang ada di sisinya.
“Jangan-jangan ia tertidur, karena mengantuk;
sebab tadi malam ia minta izin kepada ayahku,
pergi menonton komedi kuda. Kalau benar demi-
kian, tentulah kesalahannya ini akan kuadukan
kepada ayahku,” kata anak laki-laki itu pula, se-
bagai marah rupanya.
“Ah, jangan Sam. Kasihilah orang tua itu!
Karena ia bukan baru sehari dua hari bekerja
pada ayahmu, melainkan telah bertahun-tahun.
Dan di dalam waktu yang sekian lama itu, belum
ada ia berbuat kesalahan apa-apa. Bagaimana-
kah rasanya, kalau kita sendiri sudah setua itu,
masih dimarahi juga? Pada sangkaku, tentulah
ada alangan apa-apa padanya. Jangan-jangan
ia mendapat kecelakaan di tengah jalan. Ka-
sihan orang tua itu! Lebih baik kita berjalan kaki
saja perlahan-lahan, pulang ke rumah; barangkali
di
tengah jalan kita bertemu dengan dia kelak,”
kata anak perempuan itu pula seraya membuka
www.gramedia.com

25

payung sutranya dan berjalan perlahan-lahan ke luar pekarangan rumah sekolah.

“Ya, tetapi aku lebih suka naik bendi daripada berjalan kaki, pulang ke rumah, sebab aku amat lelah rasanya dan hari amat panas. Lihatlah mu- kamu, telah merah sebagai jambu air, kena pa- nas matahari!” jawab anak laki-laki itu, seakan- akan merengut, tetapi diikutinya juga temannya yang perempuan tadi.

Dikutip dari roman Sitti Nurbaya, karya Marah Rusli

tadi. Dikutip dari roman Sitti Nurbaya, karya Marah Rusli 2.1.2 Menyimak Teks Ilmiah Berikut ini disajikan

2.1.2 Menyimak Teks Ilmiah

Berikut ini disajikan teks ilmiah sederhana. Salah seorang siswa membacakan makalah tersebut dan siswa yang lain menyimak dengan saksama. Cer- matilah istilah-istilah sulit yang ada dalam makalah!

Sekolah Menengah Kejuruan Purnama Jalan Rembulan No. 8 Jakarta

Seminar Sehari

Penyelenggaraan Perpustakaan

Sekolah Oleh: Ratri

A. Pendahuluan

Secara umum, keberadaan perpustakaan se- kolah semangat penting. Keberadaan perpus- takaan dapat menunjang usaha meningkatkan ketakwaaan kepada Tuhan, meningkatkan ke- cerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, mempertebal semangat kebangsaan, dan sebgainya.

Secara khusus, perpustakaan sekolah di- selenggarakan untuk menunjang pengembangan minat, kemampuan, kegemaran, dan kebiasaan membaca serta mendayagunakan budaya tulisan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya perpustakaan, siswa memperoleh sarana untuk melatih agar mampu mencari, menemukan, dan memanfaatkan berbagai informasi. Mereka juga dapat dididik supaya bisa memelihara serta memanfaatkan bahan pustaka secara tepat dan berhasil guna. Melalui perpustakaan pula, para sisiwa diarahkan untuk mampu belajar mandiri, memupuk minat dan bakat, menumbuhkan apre- siasi, dan mengembangkan kemampuan untuk memecahkan berbagai macam masalah.

memupuk minat dan bakat, menumbuhkan apre- siasi, dan mengembangkan kemampuan untuk memecahkan berbagai macam masalah.
memupuk minat dan bakat, menumbuhkan apre- siasi, dan mengembangkan kemampuan untuk memecahkan berbagai macam masalah.
memupuk minat dan bakat, menumbuhkan apre- siasi, dan mengembangkan kemampuan untuk memecahkan berbagai macam masalah.
memupuk minat dan bakat, menumbuhkan apre- siasi, dan mengembangkan kemampuan untuk memecahkan berbagai macam masalah.
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Dengan demikian, perpustakaan sekolah akan menjadi pusat kegiatan belajar mengajar. Perpus- takaan menyediakan bahan
Dengan demikian, perpustakaan sekolah akan menjadi pusat kegiatan belajar mengajar. Perpus- takaan menyediakan bahan

Dengan demikian, perpustakaan sekolah akan menjadi pusat kegiatan belajar mengajar. Perpus- takaan menyediakan bahan pustaka yang diper- lukan dalam kegiatan belajar mengajar. Perpus- takaan juga dapat dimanfaatkan untuk membina anak didik agar gemar membaca, terampil mem- baca, dan selalu merasa perlu untuk membaca.

Dengan demikian, prinsip “Tiada hari tanpa mem-

baca” akan dipegang seumur hidupnya.

B. Uraian dan Pembahasan

1. Layanan Perpustakaan

Layanan perpustakaan bertujuan menyajikan

informasi dalam rangka peningkatan pelak-

sanaan proses belajar mengajar dan rekreasi bagi

semua warga sekolah dengan mempergunakan

bahan pustaka. Secara operasional, layanan

perpustakaan sekolah mencakup kegiatan la-

yanan sirkulasi, layanan referansi, dan bimbingan

membaca.

Jenis layanan perpustakaan ada tiga, yaitu layanan kepada guru, layanan kepada siswa, dan layanan kepada manajemen sekolah.

Layanan kepada guru meliputi kegiatan-ke-

giatan berikut.

a. Penyediaan bahan informasi mutakhir yang

disesuaikan dengan tingkat dan tujuan se-

kolah. Bahan informasi tersebut digunakan

untuk meningkatkan pengetahuan guru

mengenai subjek yang menjadi bidangnya.

b. Menyediakan alat perlengkapan mengajar,

seperti peta, globe, atau tertentu.

c. Menyediakan bahan pustaka pesanan yang diperlukan mata pelajaran tertentu.

d. Mengisi jam pelajaran kosong.

Layanan kepada siswa meliputi kegiatan

berikut.

a. Menyediakan bahan pustaka untuk mem- perluas dan memperkaya cakrawala kuri- kulum.

b. Menyediakan bahan pustaka untuk mem- bantu siswa memperdalam pengetahuannya mengenai suatu subjek yang diminatinya.

c. Menyediakan bahan untuk membantu me- ningkatkan keterampilan.

d. Menyediakan berbagai kemudahan untuk membantu siswa dalam menyediakan pe- nelitian.

e. Mengadakan berbagai aktivitas untuk me- ningkatkan minat baca, mengajarkan cara menggunakan perpustakaan, memperkenal- kan jenis-jenis koleksi yang dimiliki (mem-

perkenalkan buku/mempromosikan buku), menyelenggarakan lomba membaca, lomba membuat sinopsis, lomba membuat resen- si, lomba membuat klipping, dan sebagai- nya

Layanan terhadap manajemen sekolah dilaku- kan dengan cara membantu pimpinan sekolah dan guru dalam perencanaan, pelaksanaan, pe- manduan, dan penilaian program sekolah.

2. Koleksi Perpustakaan Sekolah

Koleksi perpustakaan sekolah terdiri atas ba- han cetak dan bahan bukan cetak. Contoh bahan cetak, antara lain buku, majalah, koran, brosur, pamflet, dan guntingan koran (klipping).Contoh bahan bukan cetak, antara lain karya tulis guru, karya tulis siswa, peta, gambar, video, atau alat- alat rekaman.

Perpustakaan sekolah hendaknya memiliki jumlah koleksi minimal atau koleksi dasar sepu- luh judul untuk satu anak didik (1:10). Setelah itu, dilakukan pengembangan, pemeliharaan, dan penggantian. Untuk itu, setiap tahun perpusta- kaan sekolah memerlukan tambahan buku seki- tar 10% dari koleksi yang sudah ada.

Sebelum siap dipinjamkan, koleksi perpusta- kaan ini diolah terlebih dahulu berdasarkan ke- tentuan yang sudah baku. Untuk klasifikasinya, digunakan Sistem Persepuluhan Dewey (DDC- Dewey Decimal Classification) yang telah dileng- kapi dan diseduaikan dengan kebutuhan Indone- sia. Katalogisasinya menggunakan katalogisasi Indonesia.

Agar koleksi perpustakaan tetap up to date, se- tiap akhir tahun pelajaran diadakan penyiangan. Buku-buku yang ketinggalan zaman dikeluarkan dari peredaran dan diganti dengan buku-buku sejenis terbitan baru. Buku-buku yang rusak di- perbaiki atau dijilid kembali jika perlu.

3. Tenaga Pustakawan

Perpustakaan di sekolah dengan jumlah siswa 250–300 orang cukup dikelola oleh seorang pus- takawan yang bertugas rangkap, sebagai kepala perpustakaan dan tenaga pembantu. Jika siswa mencapai 300–750 orang, diperlukan dua orang pustakawan. Satu orang di antaranya berkedu- dukan sebagai kepala perpustakaan dan yang lainnya sebagai tenaga pembantu pustakawan.

Adapun tugas kepala perpustakaan meliputi hal-hal di bawah ini.

a. Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengembangan program perpustakaan serta

meliputi hal-hal di bawah ini. a. Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengembangan program perpustakaan serta 26
26
26
meliputi hal-hal di bawah ini. a. Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengembangan program perpustakaan serta 26
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2
mengawasi seluruh kegiatan administrasi perpustakaan sekolah. b. Bekerja sama dengan kepala sekolah, de- wan guru,
mengawasi seluruh kegiatan administrasi
perpustakaan sekolah.
b. Bekerja sama dengan kepala sekolah, de-
wan guru, para siswa, serta administrator
sekolah dalam meningkatkan efektivitas
proses belajar mengajar di sekolah melalui
perpustakaan.
c. Bekerja sama dengan kepala sekolah dan
dewan guru dalam merumuskan kebijaksa-
naan pengadaan bahan pustaka.
d. Menyeleksi dan menilai bahan pustaka da-
lam rangka membina koleksi perpustakaan
sekolah.
e. Mengolah bahan pustaka menurut sistem
yang berlaku (katalogisasi dan klasifikasi).
f. Mengajarkan cara-cara menggunakan per-
pustakaan secara efektif.
g. Memberikan layanan referensi dan penelu-
suran informasi.
h. Menyediakan layanan bimbingan membaca
dan meningkatkan minat baca pada siswa.
i. Mengadakan promosi perpustakaan seko-
lah.
j. Bekerja sama dan membina hubungan baik
dengan perpustakaan lain.
Tugas pustakawan pembantu meliputi hal-hal
di bawah ini.
a. Mengerjakan pekerjaan ketatausahaan/
surat-menyurat perpustakaan sekolah.
b. Membantu pengolahan bahan pustaka,
mengetik kartu, memberi label, memberi
kantong dan kartu buku, menyusun kartu
katalog, menyusun buku di rak, dan seba-
gainya.
c. Mengawasi perpustakaan bila pustakawan
sedang tidak di tempat.
d. Memberikanlayananpeminjamandanpengem-
balian bahan pustaka.
e. Bertanggung jawab atas penataan buku-
buku di rak.
C. Penutup
Demikianlah sekilas mengenai penyelengga-
raan perpustakaan sekolah. Kita sangat mengha-
rapkan agar pihak pemerintah atau para donatur
memberikan bantuan dana dan sarana untuk per-
pustakaan sekolah, terutama bagi sekolah-se-
kolah yang fasilitasnya masih dangat terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1986.
Petunjuk Penyelenggaraan Perpustakaan
Sekolah di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

2.1.3 Gaya Bahasa (Majas)

Bahasa dalam teks sastra berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam teks ilmiah. Teks sastra banyak menggunakan gaya bahasa (majas), seperti kalimat-kalimat yang kalian baca pada kutipan roman yang berjudul Siti Nurbaya. Misalnya, lihatlah mukamu, telah merah sebagai jambu air, kena panas matahari, jawab anak laki-laki itu seakan-akan merengut, tetapi diikutinya juga temannya yang perempuan tadi.

Jika dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang digunakan dalam teks ilmiah, kalimat di atas sangat berbeda bukan?

Jadi, gaya bahasa atau majas adalah suatu cara mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan ba- hasa yang indah dan personal. Gaya bahasa diguna- kan untuk meningkatkan efek dan menjelaskan ga- gasan-gagasan sehingga dapat dimengerti, baik oleh pembaca maupun pendengar. Bagi penulis (pemakai bahasa), gaya bahasa memperlihatkan kekhasan bahasa serta jiwa dan kepribadian penulis.

Para ahli telah menemukan enam puluh macam gaya bahasa/majas dan diklasifikasikan ke dalam empat kelompok. Keempat kelompok gaya bahasa yang dimaksud adalah: a) majas perbandingan; b) majas pertentangan; c) majas pertautan; d) majas perulangan.

A.

Majas perbandingan

Majas perbandingan meliputi:

1)

Perumpamaan

Perumpamaan atau simile adalah gaya bahasa berupa perbandingan dua hal yang pada dasarnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Gaya perban- dingan secara eksplisit dijelaskan dengan pemakaian kata seperi laksana, ibarat, bagai, sebagai, dan umpama.

Contoh

- Gadis itu laksana bunga yang sedang mekar.

- Apa yang ia lakukan ibarat mencari jarum dalam sekam.

2) Metafora

Metafora adalah suatu gaya bahasa yang mem- buat perbandingan secara langsung antara dua hal atau benda tanpa dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan kata seperti dan sejenisnya. Metafora merupakan gaya bahasa perbandingan yang paling singkat, padat, dan tersusun rapi.

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

Contoh

 
   

-

Pemuda adalah tulang punggung negara.

3) Personifikasi

Personifikasi atau penginsanan adalah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada ba- rang yang tidak bernyawa dan pada ide yang abstrak.

Contoh

- Nyiur melambai-lambai ditiup angin.

- Mentari pagi tersenyum menyambut hari.

4) Antitesis

Antitesis adalah gaya bahasa dengan membuat suatu perbandingan (komparasi) antara dua antonim (kata-kata yang menyatakan makna bertentangan satu sama lain).

Contoh

- Anak itu malah bangga atas kegagalannya dalam tes masuk Universitas Negeri.

- Para jenderal itu jelas-jelas bersalah dalam kasus pelanggaran HAM di tanah air, tetapi tetap dibela oleh sekelompok elit politik.

5) Pleonasme

Pleonasme adalah suatu gaya bahasa berupa pemakaian kata yang berlebihan (mubazir), yang se- benarnya tidak perlu. Karena itu, pada sebuah satuan bahasa disebut pleonasme, artinya tetap utuh apabila kata yang berlebihan itu dihilangkan.

Contoh

- Sayalah yang membawa buku itu dengan tangan saya sendiri.

- Saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.

6) Tautologi

Tautologi hampir sama dengan pleonasme. Na- mun, pada tautologi, kata-kata yang berlebihan itu pada dasarnya mengandung pengulangan dari kata yang lain.

Contoh

- Sang ibu mencintai anak yang merupakan darah dagingnya sendiri.

- Dody mengawini janda, wanita yang ditinggal mati suaminya.

B.

Majas pertentangan

B. Majas pertentangan

Majas pertentangan meliputi:

1)

Hiperbola

Hiperbola adalah suatu jenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang sengaja melebih-lebihkan isi pernyataan, baik dari segi jumlahnya, ukurannya, mau- pun sifatnya, dengan maksud untuk memperhebat atau meningkatkan kesan serta pengaruhnya.

 
 

Contoh

 

- Mayat bergelimpangan di jalan akibat ben- cana tsunami. (ada beberapa orang yang meninggal)

- Jantungku hampir copot menyaksikan akrobat berjalan di atas kabel listrik di udara. (adegan itu sungguh menegangkan)

- Aku mengenal dia dari ujung kaki sampai ujung rambut. (mengenal secara dekat)

2) Litotes

 

Litotes adalah kebalikan dari hiperbola. Gaya ba- hasa litotes adalah salah satu jenis gaya bahasa yang berisi pernyataan-pernyataan yang sengaja menye- derhanakan, mengecilkan, atau mengurangi kenya- taan yang sesungguhnya. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk merendahkan diri atau tidak mau me- nonjolkan diri.

kenya- taan yang sesungguhnya. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk merendahkan diri atau tidak mau me-
 

Contoh

 

- Terimalah pemberian kami yang tidak ber- harga ini.

 

- Kalau Bapak berkenan, mampirlah ke gubuk kami.

3) Ironi

 

Ironi adalah salah satu jenis majas yang mengan- dung pernyataan dengan makna bertentangan dengan maksud berolok-olok. Apa yang dikatakan berten- tangan dengan kenyataan untuk maksud berolok-olok.

 
 

Contoh

 

- Rapi sekali kamarmu, pakaian kotor dan buku-buku berserakan di mana-mana.

 

- Doni anak yang rajin, tiap hari bangun jam sembilan pagi!

4) Paralipsis

 

Paralipsis adalah sejenis majas yang merupakan suatu formula yang dipergunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak menga- takan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri (Tarigan, 1985:191).

untuk menerangkan bahwa seseorang tidak menga- takan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri (Tarigan, 1985:191).
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2
Pembelajaran 2 - Kompetensi Dasar 3.2
  Contoh           - Henry mempersunting seorang gadis can- tik .
 

Contoh

 
       

- Henry mempersunting seorang gadis can- tik. (maksudnya seorang janda cantik)

- Bukankah negeri tercinta ini masih terjajah?

 

(maksudnya sudah merdeka)

- Saya tidak suka pada orang yang jujur. (maksudnya orang munafik)

5) Paradoks

 

Paradoks adalah sejenis majas berupa sebuah kalimat pernyataan yang mengandung dua hal yang bertentangan satu sama lain.

   

Contoh

 
   

- Dia mengalami kesepian di tengah kera- maian kota Jakarta.

 

- Wanita itu membenci pria yang sangat di- cintainya.

6) Klimaks

 
Klimaks adalah sejenis gaya bahasa berupa ka- limat yang mengandung beberapa pikiran/gagasan dan disusun secara

Klimaks adalah sejenis gaya bahasa berupa ka- limat yang mengandung beberapa pikiran/gagasan dan disusun secara berurutan dari yang sederhana meningkat ke hal yang rumit, dari hal yang kurang penting ke hal yang paling penting.

   

Contoh

 
   

- Tujuan utama pelajaran bahasa Indonesia agar siswa memperoleh keterampilan menyi- mak, membaca, berbicara, dan menulis.

 

- Jangankan sebulan, setahun, sewindu pun kamu akan kutunggu.

7) Antiklimaks

 

Antiklimaks merupakan kebalikan dari gaya ba- hasa klimaks. Gaya bahasa antiklimaks berupa suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun secara berurutan dan dimulai dari gagasan terpenting menuju ke gagasan yang kurang penting.

   

Contoh

 
   

-

Jangankan seribu, atau seratus, serupiah pun aku tidak punya.

 

8)

Sinisme

Sinisme adalah majas berupa sindiran yang ber- bentuk kesangsian yang mengandung ejekan terha- dap seseorang.

Sinisme adalah majas berupa sindiran yang ber- bentuk kesangsian yang mengandung ejekan terha- dap seseorang. Sinisme sebenarnya ironi yang lebih besar sifatnya.

Contoh

- Memang Andalah yang paling kaya yang dapat menguasai pelabuhan-pelabuhan di negeri ini.

9) Sarkasme

Sarkasme adalah salah satu jenis majas yang mengandung sindiran pedas dan menyakitkan hati. Sarkasme lebih kasar dibandingkan dengan ironi dan sinisme.

   

Contoh

 

-

Tingkah lakumu sungguh memalukan kami.

-

Kerakusannya membawa malapetaka bagi kehidupannya

C.

Majas Pertautan

Majas pertautan meliputi:

1)

Metonimia

Metonimia adalah sebuah majas yang meng- gunakan nama ciri atau nama hal yang dihubungkan dengan nama orang, barang, atau hal sebagai peng- gantinya.

Contoh

- Sering terjadi pena mematikan langkah se- orang tokoh dalam karir politiknya.

(pena = tulisan)

- Ia baru saja membeli Mitsubishi dengan harga yang murah. (Mitsubishi = mobil)

- Saya suka membaca Romo Mangun- wijaya. (= karya Romo Mangunwijaya)

2) Sinekdoke

Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan ba- gian sebagai pengganti nama keseluruhannya atau kebalikannya. Sinekdoke terdiri atas dua macam, yaitu pars pro toto dan totem pro parte. Pars pro toto adalah menyebutkan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhannya. Totem pro parte adalah menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.

Contoh

- Jakarta dikecam oleh negara-negara Barat berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM. (Pars pro toto)

- Indonesia berhasil menundukkan China dalam pertandingan Thomas Cup.(Totem pro parte)

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII
Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

3) Alusi

Alusi atau kilat adalah majas berupa acuan yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh dengan anggapan bahwa hal itu sudah diketahui bersama, baik penutur/penulis maupun pen- dengar/pembaca.

Contoh

- Peristiwa Mei 1998 sungguh merupakan tra- gedi nasional. (peristiwa Mei 1998 = huru- hara di Jakarta)

- Bencana Aceh merupakan bencana na- sional. (bencana Aceh = gempa dan tsunami)

4) Eufemisme

Eufemisme adalah majas berupa ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti perkataan yang dira- sakan kasar, yang mungkin menyinggung perasaan, dan merugikan.

Contoh

- Tampaknya wanita cantik itu kurang sete- ngah. (kurang setengah = gila)

- Para tunakarya disalurkan pemerintah menjadi TKI. (tunakarya = pengangguran)

5) Eponim

Eponim adalah majas berupa pernyataan yang mengandung nama seseorang yang sering dihubung- kan dengan sifat tertentu. Dengan demikian nama itu dipakai untuk mengatakan sifat itu.

Contoh

- Usahaku sedang macet, perlu seorang Dewi Fortuna untuk menyelamatkannya. (Dewi Fortuna = penolong)

- Dewa Ruci kebanggaan Indonesia meng- arungi lautan luas tanpa rasa takut.(Dewa Ruci = kapal laut)

6) Epitet

Epitet adalah majas yang mengandung acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khas dari seseorang atau sesuatu hal. Keterangan itu merupa- kan suatu prosa deskriptif yang memberikan atau menggantikan nama sesuatu benda atau nama se- seorang.

Contoh

- Raja siang dihambat awan tipis yang ber- arak-arak di ufuk timur. (raja siang = matahari)

- Mengapa merpatiku pergi tanpa mening-

7) Erotesis

7) Erotesis

Erotesis disebut juga pertanyaan retoris adalah sejenis majas yang berupa pertanyaan yang dipergu- nakan dalam tulisan atau pidato untuk mencapai efek yang mendalam dan penekanan yang wajar. Perta- nyaan itu sama sekali tidak menuntut suatu jawaban.

Contoh

 

- Apakah kita biarkan korupsi merajalela di ne- geri ini?

 

- Pendidikan nasional memang sedang mero- sot. Apakah wajar bila semua kesalahan di- timpakan kepada para guru?

8) Paralelisme

Paralelisme adalah majas yang berusaha men- capai kesejajaran dalam memakai kata-kata atau fra- sa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula terjadi pada klausa-klausa bawahan yang bergabung pada sebuah klausa atasan.

 

Contoh

 

- Kaum pria maupun kaum wanita sama ke- dudukannya di depan hukum.

 

- Potensi kekayaan Indonesia terdapat di darat dan laut.

- Potensi kekayaan Indonesia terdapat di darat dan laut .

9) Elipsis

Elipsis adalah majas yang di dalamnya dilaku- kan penghilangan kata atau kata-kata yang meme- nuhi bentuk kalimat berdasarkan struktur kalimat. Dengan kata lain elipsis adalah penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dalam konstruksi sintaksis yang lengkap.