Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

GAMBARAN UMUM KASUS APPENDISITIS DI RSUP NTB


PERIODE JANUARI 2014 SAMPAI DENGAN MEI 2015

Oleh:
Putu Ria Dharma Patni
H1A010016

Pembimbing:
dr. Arif Zuhan, SpB

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN


KLINIK MADYA BAGIAN/SMF BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM /RSUP NTB
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apendisitis merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering
ditemukan dan memerlukan tindakan bedah mayor segera untuk mencegah
komplikasi yang umumnya berbahaya. Penyakit ini dapat dijumpai di semua usia,
namun paling sering pada usia antara 20 sampai 30 tahun. Kejadian apendisitis 1,4
kali lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita.1,2
Tujuh persen penduduk di negara Barat menderita apendisitis dan terdapat
lebih dari 200.000 apendektomi dilakukan di Amerika Serikat setiap tahunnya.
WHO (World Health Organization) menyebutkan insidensi apendisitis di Asia dan
Afrika pada tahun 2004 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi.
Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006, apendisitis menempati
urutan keempat penyakit terbanyak di Indonesia setelah dispepsia, gastritis dan
duodenitis, dan penyakit sistem cerna lain dengan jumlah pasien rawat inap
sebanyak 28.040.3,4,5
Kesulitan dalam mendiagnosis apendisitis masih merupakan masalah
dalam bidang bedah. Terdapat beberapa pasien yang menunjukan gejala dan tanda
apendisitis yang tidak khas, sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam
diagnosis dan keterlambatan dalam hal penanganannya. Kedua hal tersebut dapat
meningkatkan terjadinya perforasi, morbiditas, dan negative apendectomy. Angka
negative apendectomy di Amerika Serikat sebesar 15,3% pada apendisitis akut.2
Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan dasar dalam diagnosis
apendisitis dengan tingkat akurasi sebesar 76-80%. Modalitas pencitraan seperti
Ultrasonography

(USG)

dan

Computed

Tomography

(CT)

scan

dapat

meningkatkan akurasi diagnosis hingga 90%, namun karena biayanya yang mahal
dan tidak semua unit pelayanan kesehatan memilikinya, pemeriksaan ini jarang
digunakan. Gejala dan tanda apendisitis yang tidak khas akan menyulitkan dokter
dalam menegakkan diagnosis.2,3
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah karakteristik pasien appendisitis yang dirawat di RSUP NTB
selama periode Januari 2014 sampai dengan Mei 2015.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui karakteristik pasien appendisitis yang dirawat di RSUP
NTB selama periode Januari 2014 sampai dengan Mei 2015.
1.4 Manfaat
Penelitian ini dapat digunakan sebagai data sekunder dalam melakukan
penelitian-penelitian selanjutnya. Selain itu dapat digunakan sebagai sumber
pembelajaran mengenai appendisitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Apendiks Vermiformis
2.1.1 Anatomi
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm
(kisaran 3-15cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks
berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya.
Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden appendisitis pada usia itu.
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan
apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks
penggantungnya.5
Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang
sekum, di belakang kolon asendens, atau di tepi lateral kolon asendens. Gejala
klinis appendisitis ditentukan oleh letak apendiks.5

Gambar 2.1. Berbagai posisi apendiks6


(TOS)
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterica superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal
dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada appendisitis bermula di
sekitar umbilikus.5

Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri


tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi,
apendiks akan mengalami gangren. 5
2.1.2 Fisiologi Apendiks
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis. 5
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated
lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks,
ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.
Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh
karena jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan
jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. 5
2.2 Apendisitis Akut
2.2.1 Epidemiologi
Insidensi apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara
berkembang. Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun
secara bermakna. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
makanan berserat dalam menu sehari-hari. 5
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang
dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30
tahun, setelah itu menurun. Insidensi pada laki-laki dan perempuan umumnya
sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidensi lelaki lebih tinggi. 5
2.2.2 Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan
sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus di samping hiperplasia jaringan limfe, fekalit,
4

tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab
lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa apendiks
karena parasit seperti E.histolytica. 5
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi
akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. 5
2.2.3 Patologi
Patologi apendisitis dapat mulai di mukosa dan kemudian melibatkan
seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha
pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks
dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa
periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di
dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami
perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa
periapendikuler akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara
lambat. 5
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan
membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengn jaringan
sekitarnyya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan
bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan
sebagai mengalami eksaserbasi akut. 5
Terdapat prediksi tahapan yang mengarahkan ke ruptur apendiks.
Obstruksi proksimal pada lumen apendiks menyebabkan closed-loop obstruction,
dan selanjutnya sekresi oleh mukosa apendiks mengakibatkan distensi. Distensi
apendiks menstimulasi peregangan ujung saraf aferen viseral, menghasilkan nyeri
yang terasa tumpul pada daerah tengah abdomen atau epigastrium. Peristaltik juga

distimulasi oleh distensi secara tiba-tiba, sehingga terjadi nyeri viseral berupa rasa
kram pada perjalanan awal apendisitis. Distensi berlanjut dari sekresi mukosa dan
multiplikasi bakteri di apendiks yang berlangsung secara terus-menerus. Distensi
dari pembesaran ini menyebabkan mual dan muntah, dan nyeri viseral difus yang
bertambah berat. Seiring peningkatan tekanan di dalam organ, tekanan vena juga
meningkat. Kapiler dan vena tersumbat, tetapi aliran arteriolar berlanjut,
menyebabkan pembengkakan dan kongesti vaskuler. Proses inflamasi kemudian
melibatkan serosa apendiks dan pada gilirannya mengenai daerah peritoneum
parietal, mengakibatkan karakteristik nyeri berpindah ke kuadran kanan bawah.7

Bagan 2.1. Hubungan patofisiologi dan manifestasi klinis apendisitis5


Kelainan patologi
Peradangan awal

Apendisitis mukosa

Radang di seluruh ketebalan dinding

Apendisitis komplit radang peritoneum parietale


apendiks

Radang jaringan yang menempel pada apendiks

Apendisitis gangrenosa

Perforasi

Pembungkusan

1. Tidak berhasil
2. Berhasil
3. Abses

Keluhan dan tanda


Kurang enak ulu hati/daerah pusat, mungkin kolik
Nyeri tekan kanan bawah (rangsangan autonomik)
Nyeri sentral pindah ke kanan bawah, mual dan muntah
Rangsangan peritoneum lokal (somatik), nyeri pada gerak aktif
dan pasif, defans muskuler lokal
Genitalia interna, ureter, m.psoas mayor, kantung kemih, rektum
Demam sedang, takikardia, mulai toksik, leukositosis
Nyeri dan defans muskuler seluruh perut

1. s.d.a + demam tinggi, dehidrasi, syok, toksik


2. Massa perut kanan bawah, keadaan umum berangsur membaik
3. Demam rendah, keadaan umum toksik, keluhan dan tanda
setempat

2.2.4 Penegakan Diagnosis


Gambaran Klinis. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang
didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat,
disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis
ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang menyerupai nyeri viseral di daerah
epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada
muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam
dan lebih jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang
tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa
memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa
mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum,
biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. 5,7
Bila letak apendik retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung
oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul
pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. 5
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehinga peristaltis
meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang.
Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan
frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya. 5
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering
hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa
nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak
akan menjadi lemah dan letargik. Karena gejala yang tidak khas tadi, sering
apendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90% apendisitis baru
diketahui setelah terjadi perforasi. 5
Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak
ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang berusia

lanjut yang gejalanya sering samar-samar saja sehingga lebih dari separuh
penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi. 5
Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, dan
muntah. Yang perlu diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering
juga terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks
terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah
tetapi lebih ke regio lumbal kanan. 5
Pemeriksaan. Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,5C.
Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan
suhu aksilar dan rektal sampai 1C. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran
spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.
Penonjoloan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses
periapendikuler. 5
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa
disertai nyeri lepas. Defans muskular menunjukkan adanya rangsangan
peritoneum parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci
diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut
kanan bawah yang disebut dengan tanda Rovsing. Pada apendisitis retrosekal atau
retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. 5
Karena terjadi pergeseran sekum ke kraniolaterodorsal oleh uterus,
keluhan nyeri pada apendisitis sewaktu hamil trimester II dan III akan bergeser ke
kanan sampai ke pinggang kanan. Tanda pada kehamilan trimester I tidak berbeda
dengan pada orang tidak hamil karena itu perlu dibedakan apakah keluhan rasa
nyeri berasal dari uterus atau apendiks. Bila penderita miring ke kiri, nyeri akan
berpindah sesuai dengan pergeseran uterus, terbukti proses bukan berasal dari
apendiks. 5
Peristaltis usus sering normal; peristtaltis dapat hilang karena ileus
paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. 5
Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa
dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika. 5

Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan maka kunci


diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pemeriksaan uji
psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk
mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas
lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan,
kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel di
m.psoas mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator
digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan
m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan
endodorsal sendi panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada
apendisitis pelviks. 5
Tabel 2.1. Gambaran klinis apendisitis akut5
Tanda awal
Nyeri mulai di epigastrium atau regio umbilikus disertai mual dan
anoreksia
Nyeri pindah ke kanan bawah dan menunjukkan tanda rangsangan
peritoneum lokal di titik McBurney
Nyeri tekan
Nyeri lepas
Defans muskular
Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung
Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (Rovsing)
Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg)
Nyeri kanan bawah bila peritoneum begerak, seperti napas dalam,
berjalan, batuk, mengedan

Diagnosis. Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti,


diagnosis klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus.
Kesalahan diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding lelaki. Hal ini dapat
disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering timbul
gangguan yang mirip apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari genitalia interna
karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik lain. 5

10

Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis akut bila


diagnosis apendisitis akut bila diagnosis meragukan, sebaiknya dilakukan
observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap 1-2 jam. 5
Foto barium kurang dapat dipercaya. Ultrasonografi bisa meningkatkan
akurasi diagnosis. Demikian pula laparoskopi pada kasus yang meragukan. 5
Laboratorium. Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan
diagnosis apendisitis akut. Pada kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih
pada kasus dengan komplikasi. 5
Bagan 2. Pengelolaan penderita dengan kecurigaan apendisitis akut5
Kecurigaan apendisitis akut
Tidak jelas
Observasi aktif

Apendisitis

Tidak jelas

Penyakit Lain

Apendektomi

USG dan Lab

Tindakan yang sesuai

11

Gambar 2.2. Algoritma Evaluasi Pasien Curiga Apendisitis Akut8


2.2.5 Diagnosis Banding
Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai
diagnosis banding. 5
Gastroenteritis. Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului
rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltis sering
ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan apendisitis
akut. 5
Demam dengue. Demam dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip
peritonitis. Di sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede,
trombositopenia, dan hematokrit yang meningkat. 5
Limfadenitis

mesenterika.

Limfadenitis

mesenterika

yang

biasa

didahului oleh enteritis atau gastroenteritis ditandai dengan nyeri perut, terutama
kanan disertai dengan perasaan mual, nyeri tekan perut samar, terutama kanan. 5
Kelainan ovulasi. Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin
memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Pada

12

anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebihi dahulu. Tidak ada tanda radang,
dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi mungkin dapat mengganggu
selama dua hari. 5
Infeksi panggul. Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan
apendisitis akut. Suhu biasanya lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut
bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul disertai keputihan dan infeksi urin.
Pada colok vagina, akan timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan.
Pada gadis dapat dilakukan colok dubur jika perlu untuk diagnosis banding. 5
Kehamilan di luar kandungan. Hampir selalu ada riwayat terlambat haid
dengan keluhan yang tidak menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan
di luar rahim dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang mendadak difus di
daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan vaginal
didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada kuldosentesis
didapatkan darah. 5
Kista ovarium terpuntir. Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang
tinggi dan teraba massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut, colok
vaginal, atau colok rektal. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan ultrasonografi
dapat menentukan diagnosis. 5
Endometriosis eksterna. Endometrium di luar rahim akan memberikan
keluhan nyeri di tempat endometriosis berada, dan darah menstruasi terkumpul di
tempat itu karena tidak ada jalan ke luar. 5
Urolitiasis pielum/ureter kanan. Batu ureter atau batu ginjal kanan.
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan
merupakan gambaran yang khas. Eritosituria sering ditemukan. Foto polos perut
atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut. Pielonefritis sering
disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral di sebelah kanan,
dan piuria. 5
Penyakit saluran cerna lainnya. Penyakit lain yang perlu dipikirkan
adalah peradangan di perut, seperti divertikulitis Meckel, perforasi tukak
duodenum atau lambung, kolesistitis akut, pankreatitis, divertikulitis kolon,

13

obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis, karsinoid, dan
mukokel apendiks. 5
2.2.6 Tatalaksana
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan
satu-satunya pilihan yang baik adalah apendektomi. Pada apendisitis tanpa
komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik, kecuali pada apendisitis
gangrenosa atau apendisitis perforata. Penundaan tindak bedah sambil
memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. 5,6
Apendektomi bisa dilakukan secara terbuka ataupun dengan cara
laparoskopi. Bila apendektomi terbuka, insisi McBurney paling banyak dipilih
oleh ahli bedah. pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan
observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa dilakukan bila
dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila tersedia laparoskop, tindakan
laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan
dilakukan operasi atau tidak. 5,7
2.2.7 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa
perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yan telah mengalami
pendindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum,
dan lekuk usus halus. 5
Massa periapendikuler. Massa apendiks terjadi bila apendisitis
gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan/atau
lekuk usus halus. Pada massa periapendikuler yang pendindingannya belum
sempurna, dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga peritoneum jika
perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa
periapendikuler yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah
penyulit tersebut. Selain itu, operasi masih mudah. Pada anak selamanya
dipersiapkan operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa dengan massa

14

perapendikuler yang terpancang dengan pendindingan sempurna, dianjurkan


untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh, ukuran
massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa
periapendikuler hilang dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan
apendektomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat
perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk
abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi,
bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka
leukosit. 5
Riwayat klasik apendisitis akut, yang diikuti dengan adanya massa yang
nyeri di regio iliaka kanan dan disertai demam, mengarahkan diagnosis ke massa
atau abses periapendikuler. Kadang keadaan ini sulit dibedakan dari karsinoma
sekum, penyakit Crohn dan amuboma. Perlu juga disingkirkan kemungkinan
aktinomikosis intestinal, enteritis tuberkulosa, dan kelainan ginekologik sebelum
memastikan diagnosis massa apendiks. Kunci diagnosis biasanya terletak pada
anamnesis yang khas. 5
Tatalaksana. Apendektomi direncanakan pada infiltrat periapendikular
tanpa pus yang telah ditenangkan. Sebelumnya pasien diberi antibiotik kombinasi
yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu
sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan apendektomi. Pada anak kecil, wanita
hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau
berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya. 5
Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan drainase saja dan apendektomi
dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau
gejala apapun, dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan
tanda radang atau abses, dapat dipertimbangkan tindakan bedah. 5
Apendisitis peforata. Adanya fekalit di dalam lumen, umur (orang tua
atau anak kecil), dan keterlambatan diagnosis, merupakan faktor yang berperanan
dalam terjadinya perforasi apendiks. Dilaporkan insidensi perforasi 60% pada
penderita di atas usia 60 tahun. Fakto yang memengaruhi tingginya insidensi
perforasi pada orang tua adalah gejalanya yang samar, keterlambatan berobat,

15

adanya

perubahan

anatomi

apendiks

berupa

penyempitan

lumen,

dan

arteriosklerosis. Insidens tinggi pada anak disebabkan oleh dinding apendiks yang
masih tipis, anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang waktu diagnosis,
dan proses pendindingan kurang sempurna akibat perforasi yang berlangsung
cepat dan omentum anak belum berkembang.5
Diagnosis. Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis puruenta
yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh
perut, dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler
di seluruh perut, mungkin dengan pungtum maksimum di regio iliaka kanan;
peristalsis usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik. Abses rongga
peritoneum bisa terjadi bilamana pus yang menyebar bisa dilokalisasi di suatu
tempat, paling sering di rongga pelvis dan subdiafragma. Adanya massa
intraabdomen yang nyeri disertai demam harus dicurigai abses. Ultrasonografi
dapat membantu mendeteksi adanya kantong nanah. Abses subdiafragma harus
dibedakan dengan abses hati, pneumonia basal, atau efusi pleura. Ultrasonografi
dan foto Rontgen dada akan membantu membedakannya. 5
Tatalaksana. Perbaikan keadaan umum dengan infus. Pemberian antibiotik
untuk kuma Gram negatif dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa
nasogastrik perlu dilakukan sebelum pembedahan. 5
Perlu dilakukan laparotomi dengan insisi yang panjang, supaya dapat
dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin yang
adekuat secara mudah, begitu pula dengan pembersihan kantong nanah. Akhirakhir ini mulai banyak dilakukan pengelolaan apendisitis perforasi secara
laparoskopi apendektomi. Rongga abdomen bisa dibilas dengan mudah.
Dilaporkan hasilnya tidak berbeda dibanding dengan laparotomi terbuka, tetapi
keuntungannya lama rawat lebih pendek dan secara kosmetik lebih baik. 5
Karena ada kemungkinan terjadi infeksi luka operasi, perlu dianjurkan
pemasangan penyalir subfasia, kulit dibiarkan terbuka untuk kemudian dijahit bila
sudah dipastikan tidak ada infeksi. Pada anak tidak usah dipasang penyalir
intraperitoneal karena justru menyebabkan komplikasi infeksi lebih sering. 5

16

2.2.8 Perjalanan Alamiah Apendisitis Akut5


Apendisitis Mukosa
Sembuh
Apendisitis Flegmentosa

Apendisitis dengan Nekrosis Setempat

Apendisitis Supurutiva

Peforasi

Apendisitis Gangrenosa

2.3 Apendisitis Rekurens


Diagnosis apendisitis rekurens baru dapat dipikirkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukannya
apendektomi, dan hasil patologi menjunjukkan peradangan akut. Kelainan ini
terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun,
apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan
jaringan parut. Risik untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50 persen. Insidens
apendisitis rekurens adalah 10% dari spesimen apendektomi yang diperiksa secara
patologik. 5
Pada apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi karena sering
penderita datang dalam serangan akut. 5
2.4 Apendisitis Kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua
syarat: riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik

17

apendiks secara makroskopik dan mikroskopik, dan keluhan menghilang setelah


apendektomi.5
Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan
parut dan ulkus lama di mukosa, dan infiltrat sel inflamasi kronik. Insidens
apendisitis kronik antar 1-5 persen.5

18

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan merupakan suatu penelitian non
eksperimental yang dirancang secara Observatif Deskriptif dengan pengumpulan
data bersifat Deskriptif Retrospektif yaitu suatu penelitian yang melihat ke
belakang atau dengan mengambil data-data terdahulu yang telah ada, dimana data
yang digunakan berasal dari register rekam medik di RSUP NTB. Data diperoleh
dalam bentuk sekunder dengan mencatat apa yang telah tertulis pada rekam
medis. Dari rekam medis tersebut dicatat :
1
2
3
4
5
6
7

No.RM
Jenis kelamin
Umur
Alamat tempat tinggal
Diagnosis preoperasi dan diagnosis intraoperasi
Tindakan/terapi
Tindakan dilakukan cito atau elektif

3.2.Populasi Dan Sampel Penelitian


3.2.1 Populasi Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan populasi seluruh pasien bedah yang
menjalani rawat inap di RSUP NTB dan didiagnosis menderita appendisitis
selama periode tahun 2014 sampai tahun 2015.
3.2.2. Sampel Penelitian
Sampel diambil dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria berikut ini :
1

Kriteria inklusi
- Semua pasien yang terdiagnosa appendisitis
- Semua pasien appendisitis yang tercatat dalam rekam medis periode
tahun 2014 sampai tahun 2015.
Kriteria ekslusi
- Pasien Ca mamae yang tidak ditemukan Rekam Medis nya

19

Pasien yang tidak memenuhi kriteria inklusi

3.2.3. Cara Pemilihan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara total sampling. Total
sampling adalah teknik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota
populasi terjangkau sebagai responden/sampel.
3.3. Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Independen : umur, tempat tinggal, diagnosa, terapi.
3.3.2 Variabel Dependen : Appendisitis.
3.4. Alur Penelitian
Berikut alur penelitian yang akan dilakukan :
Pengumpulan Data

Rekam medis pasien appendisitis di RSUP NTB.

Analisis Data

Hasil
3.5. Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabulasi serta
grafik sesuai dengan umur, tempat tinggal, jenis appendisitis baik temuan

20

preoperasi maupun intraoperasi, jenis tindakan dan apakah tindakan cito ataupun
elektif. Kemudian data dianalisis untuk mendeskripsikan angka-angka yang
mencerminkan distribusi dari aspek-aspek yang diteliti tersebut dengan
menggunakan program pengolahan data statistic yaitu SPSS 16 for Windows.

21

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Angka Kejadian Apendisitis di RSUP NTB Periode Januari 2014 Mei
2015
Berdasarkan data Rekam Medis yang tercatat di RSUP NTB selama
periode Januari 2012 - Desember 2012 ditemukan 68 kasus apendisitis yang
terdata di bagian rekam medis RSUP NTB. Dari 68 kasus apendisitis, 38 pasien
menjalani operasi baik operasi cito maupun operasi elektif dan 30 pasien hanya
mendapatkan perawatan konservatif. Pasien yang menjalani operasi cito sebanyak
23 pasien, sedangkan pasien yang menjalani operasi elektif sebanyak 15 pasien.

23
30

15

22

4.2 Distribusi Apendisitis di Bagian Bedah RSUP NTB Periode Januari 2014 Mei 2015 Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1. Distribusi appendisitis di bagian bedah RSUP NTB Periode Januari
2014 - Mei 2015 berdasarkan jenis kelamin
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

Jumlah
36
32
68

Presentase
52.9%
47.1%
100%

Dari tabel tersebut menunjukkan sebanyak 36 orang (52,9%) kasus


appendisitis dialami oleh laki-laki, dan sisanya 32 orang (47,1%) kasus
appendisitis dialami oleh perempuan.
4.3 Distribusi Apendisitis di Bagian Bedah RSUP NTB Periode Januari 2014 Mei 2015 Berdasarkan Usia
Tabel 4.3. Distribusi apendisitis di bagian bedah RSUP NTB Periode Januari 2014
- Mei 2015 berdasarkan usia
Usia (Tahun)
<1
1-4
5-14
15-24
25-44
45-64
65+
Total

Jumlah
0
2
5
20
34
6
1
68

Presentase
0%
2,95%
7,35%
29,5%
49,98%
8,83%
1,48%
100%

Dari tabel tersebut menunjukkan pasien appendisitis terbanyak berusia 2544 tahun yaitu sebanyak 34 orang (49,98%), usia 15-24 tahun menempati urutan
kedua sebanyak 20 orang (29,5%), usia 45-64 tahun sebanyak 6 orang (8,8%),
usia 5-14 tahun sebanyak 5 orang (7,35%), usia 4-15 tahun sebanyak 2 orang
(2,95) dan pasien apendisitis paling sedikit pada golongan usia 65 tahun ke atas
yaitu sebanyak 1 orang (1,48%). Sedangkan kasus apendisitis tidak ditemukan
pada golongan usia <1 tahun.

23

Tabel 4.4. Distribusi apendisitis di ruang operasi RSUP NTB Periode Januari 2014
- Mei 2015 berdasarkan usia
Usia (Tahun)
<1
1-4
5-14
15-24
25-44
45-64
65+
Total

Jumlah
0
2
3
10
21
4
1
41

Presentase
0%
4,84%
7,32%
24,4%
51,2%
9,76%
2,44%
100%

Dari tabel tersebut menunjukkan pasien appendisitis yang menjalani operasi


terbanyak berusia 25-44 tahun yaitu sebanyak 21 orang (44%), usia 15-24 tahun
menempati urutan kedua sebanyak 20 orang (22%), usia 45-64 tahun sebanyak 4
orang (17,8%), usia 5-14 tahun sebanyak 3 orang (13,2%), usia 1-4 tahun
sebanyak 1 orang dan pasien apendisitis paling sedikit pada golongan usia 65
tahun ke atas yaitu sebanyak 1 orang (1,2%). Sedangkan kasus apendisitis yang
menjalani operasi tidak ditemukan pada golongan usia <1 tahun.

4.4 Distribusi Apendisitis di Bagian Bedah RSUP NTB Periode Januari 2014 Mei 2015 Berdasarkan Demografi
Tabel 4.5. Distribusi appendisitis di bagian bedah RSUP NTB Periode Januari
2014 - Mei 2015 berdasarkan demografi
Daerah
Mataram
Lombok Barat
Lombok Tengah
Lombok Utara

Jumlah
26
26
1
2

Presentase
38.2 %
38.2 %
1.5 %
2,9 %
24

Lombok Timur
Sumbawa
Bima
Total

1
8
4
68

1.5 %
11.8 %
5.9 %
100%

Berdasarkan data register di semua bangsal RSUP NTB didapatkan pasien


apendisitis yang terdata alamatnya yaitu sebanyak 68 orang. Dari tabel tersebut
menunjukkan pasien appendisitis terbanyak berasal dari Lombok Barat dan
Mataram yaitu sebanyak 26 orang (38,2%), Sumbawa menempati urutan kedua
sebanyak 8 orang (11,8%), Lombok Utara sebanyak 2 orang (2,9%), dan pasien
apendisitis paling sedikit berasal dari Lombok tengah dan Lombok Timur yaitu
masing-masing sebanyak 1 orang (1,5%).

25

4.5 Distribusi Kasus Apendisitis di Ruang Operasi RSUP NTB Periode Januari 2014 - Mei 2015 Berdasarkan
Diagnosis Preoperatif dan Intraoperatif, serta Tindakan Operasi yang Dilakukan
4.6 Tabel 4.6. Distribusi Kasus Apendisitis di Ruang Operasi Cito RSUP NTB Periode Januari 2014 - Mei 2015
Berdasarkan Diagnosis Preoperatif dan Intraoperatif, serta Tindakan Operasi yang Dilakukan
4.7 Diagnosis Preoperatif 4.8 Diagnosis Intraoperatif

4.9 Tindakan

4.10

Ju

4.11

Prese

4.12

Apendisitis Akut

4.13

Apendisitis Akut

4.14

Operasi
Apendekto

mlah
4.15 8

4.16

ntase
3,33

4.17

Apendisitis Akut

4.18

Apendisitis Akut

4.19

mi
Laparotomi

4.20

10

4.21

%
41,67

%
4.26 12,5

4.22
4.27
4.32

Apendisitis Akut
Apendisitis Akut
Apendisitis Kronis
4.37

Total

4.23

Apendisitis Perforasi

Laparotomi

4.25

Apendisitis

4.29

Apendekto

4.30

%
4.31 4,17

Gangrenosa
Apendisitis Kronis

4.34

mi
Laparotomi

4.35

4.36

%
8,33

4.40

24

4.41

%
100%

4.28
4.33

4.24

4.38

4.39

4.42
4.43

26

4.44

Tabel 4.7. Distribusi Kasus Apendisitis di Ruang Operasi Elektif RSUP NTB Periode Januari 2014 - Mei 2015
Berdasarkan Diagnosis Preoperatif dan Intraoperatif, serta Tindakan Operasi yang Dilakukan
4.45
4.50

Diagnosis

Preoperatif
Apendisitis Kronis

4.46

Diagnosis
Intraoperatif
4.51 -

4.47

Tindakan

4.52

Operasi
Apendekto

4.58

4.59

%
35,29

4.63

4.64

%
17,66

%
4.69 5,88

%
4.74 5,88

17

%
100%

4.55

Apendisitis Kronis

4.56

4.57

mi
Laparotomi

4.60

Apendisitis Kronis

4.61

4.62

Apendekto

4.67

mi
Apendekto

4.72

mi
Laparotomi

eksaserbasi Akut
4.65 Apendisitis Akut
4.70
4.75

PAI
Total

4.66
4.71
4.76

4.77

4.48

Ju

mlah
4.53 6

4.68
4.73
4.78

4.49

Prese

ntase
4.54 35,29

4.79

4.80
4.81
4.82
4.83

27

4.84
4.85
4.86

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Jumlah seluruh pasien apendisitis di ruang operasi baik cito maupun


elektif di RSUP NTB Periode Januari 2014 - Mei 2015 adalah 68 pasien
dari seluruh kasus bedah yang ada di RSUP NTB.
2. Jumlah kasus apendisitis paling banyak dialami oleh laki-laki yaitu
sebanyak 36 orang (52,9%), dan sisanya 32 orang (41,7%) kasus
apendisitis dialami oleh perempuan.
3. Pasien apendisitis terbanyak berusia 25-44 tahun yaitu sebanyak 34 orang
(49,98%), dan pasien apendisitis paling sedikit pada golongan usia 65
tahun ke atas yaitu sebanyak 1 orang (1,48%).
4. Pasien apendisitis yang menjalani operasi terbanyak berusia 25-44 tahun
yaitu sebanyak 21 orang (51,2%), dan pasien apendisitis paling sedikit
pada golongan usia 65 tahun ke atas yaitu sebanyak 1 orang (2,44%).
5. Pasien appendisitis di Bagian Bedah RSUP NTB terbanyak berasal dari
Mataram dan Lombok Barat yaitu sebanyak 26 orang (38,2%),
6. Di ruang operasi cito RSUP NTB terbanyak yaitu kasus diagnosis
preoperatif apendisitis akut dengan temuan intraoperatif apendisitis akut
dengan tindakan operasi laparotomi yaitu sebanyak 10 kasus (41,67%).
7. Di ruang operasi elektif RSUP NTB terbanyak yaitu kasus diagnosis
preoperatif apendisitis akronis dengan tindakan operasi apendektomi yaitu
sebanyak 6 kasus (35,29%).
8. Kasus apendisitis yang terjadi lebih sedikit jumlahnya daripada kasus
tahun-tahun sebelumnya, ini disebabkan mungkin karena adanya sistem
BPJS yang diterapkan pemerintah dimana apendisitis dapat ditangani di
rumah sakit tingkat kabupaten.
4.87
4.88
28

4.89

4.2 Saran

1. Perlu dilakukan evaluasi dalam sistem pencatatan buku registrasi pasien


RSUP NTB di semua bangsal serta ruangan operasi cito maupun elektif
agar dilakukan penulisan secara lengkap.
4.90
4.91
4.92
4.93

29

4.94

DAFTAR PUSTAKA
4.95
1. Sandy C. Acute appendicitis. New York: Emedicine; 2015. Tersedeia pada:
http://emedicine.medscape.com/article/773895-overview#showall
(Diakses tanggal 14 Juli 2015).
2. Silen W. Acute appendicitis and peritonitis. In: Kasper DL, Fauci AS,
Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, editor. Harrisonss
principles of internal medicine. Edisi ke-16. New York: The McGraw Hill
companies; 2005.
3. Doherty GM, Way LW. Current surgical diagnosis and treatment. 12th Ed.
New York: The McGraw Hill companies; 2006.
4. WHO.
Globlal
burden
disease.
2004.

Tersedia

pada:

http://www.who.int/healthinfo/global_burden_disease/BD_report_2004up
date_ AnnexA.pdf (Diakses tanggal 15 Juli 2015).
5. Pieter J, dkk. Usus halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Dalam
Sjamsuhidajat, R & de Jong, W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi kedua.
Cetakan Pertama. Jakarta: EGC. 2013 : hlm.640-645.
6. Tjandra, J. The appendix and Meckels diverticulum. In: Tjandra, J.,
Clunie, G., Kaye, A. & Smith, J. Textbook of Surgery. Third Edition.
Oxford: Blackwell Publishing. 2006 : pg. 179-181.
7. Brunicardi, FC., et.al. Schwartzs Manual of Surgery. Eigth Edition. New
York: McGraw Hill. 2006 : pg 784-799.
8. Townsend, et.al. Sabiston Textbook of Surgeryi. 18th Edition. New York:
Sounders Elsevier. 2008.
4.96
4.97

30