Anda di halaman 1dari 5

TUGAS INDIVIDU VISUAL FISIKA BANGUNAN  2009 

Nama: Beni Kusuma Atmaja


NIM : 13307080
Kelas : 02
Topik: LED

LED atau singkatan dari Light Emitting Diode adalah salah satu komponen elektronik
yang tidak asing lagi di kehidupan manusia saat ini. LED digunakan pada televisi, komputer,
pengeras suara (speaker), hard disk eksternal, proyektor, LCD, dan berbagai perangkat
elektronik lainnya sebagai indikator bahwa sistem sedang berada dalam proses kerja, dan
biasanya berwarna merah atau kuning. LED didefinisikan sebagai salah satu semikonduktor
yang mengubah energi listrik menjadi cahaya. LED merupakan perangkat keras dan padat
(solid-state component) sehingga unggul dalam hal ketahanan atau durability. LED memiliki
berbagai kelebihan, yaitu :
• LED memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan lampu lain, dimana
LED lebih hemat energi 80 % sampai 90% dibandingkan lampu lain.
• LED memilki waktu penggunaan yang lebih lama hingga mencapai 100 ribu jam.
• LED memiliki tegangan operasi DC yang rendah.
• Cahaya keluaran dari LED bersifat dingin atau cool (tidak ada sinar UV atau energi
panas).
• Ukurannya yang mini dan praktis.
Dari semua keunggulan di atas, LED memiliki kelemahan, yaitu :
• Suhu lingkungan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan elektrik pada LED.
• Harga LED per lumen lebih tinggi dibandingkan dengan lampu lain.
Kelemahan dari LED di atas yang menyebabkan masyarakat lebih memilih menggunakan
cara penerangan biasa dengan lampu pijar maupun neon dibandingkan menggunakan LED.
Lampu Pijar (incandescent lamp) merupakan salah satu jenis lampu yang masih
banyak digunakan di Indonesia terutama di kota-kota kecil sebab harganya yang paling
murah di antara jenis lampu lain khusunya yang berbahan gas. Lampu pijar menggunakan
filament tipis di dalam bola kaca yang hampa udara. Arus listrik mengalir dan memanaskan
filament. Pada suhu yang sangat tinggi, cahaya akan berpijar pada filament tersebut. Apabila
bohlam bocor dan oksigen menyentuh filament panas, reakis secara kimia akan terjadi
sehingga lampu rusak dan tidak dapat digunakan lagi.Lampu pijar saat beroperasi lebih dari
90% energi yang dihasilkan berupa inframerah dan panas, selain itu usianya yang hanya 1000
TUGAS INDIVIDU VISUAL FISIKA BANGUNAN  2009 

jam. Jenis lampu lain yang banyak digunakan pada saat ini adalah lampu dengan bahan gas,
umunya neon (fluorescent lamp). Lampu ini memerlukan uap merkuri untuk menghasilkan
sinar ultraungu (UV light), kemudian diserap oleh fosfor yang melapisi bagian dalam kaca
sehingga cahaya akan berpendar. Panas yang dihasilkan lampu jenis ini lebih sedikit daripada
lampu pijar, namun masih ada energi yang hilang saat memproses sinar ultraungu menjadi
cahaya kasat mata. Untuk saat ini, lampu neon termasuk kategori lampu hemat energi dan
banyak dipakai di perumahan dan perindustrian. Lampu neon dapat berusia 10 ribu jam,
sepuluh kali usia lampu pijar. Lampu pijar dan neon memilki dampak bagi lingkungan yang
cukup berbahaya. Lampu pijar sangat boros dalam efisiensi energi dan cahayanya tidak
cukup terang, sehingga di Negara maju lampu ini sudah ajrang digunakan. Kandungan
merkuri pada lampu neon tidak baik bagi kesehata manusia maupun lingkungan, dan tingkat
efisiensi energi yang rendah membawa pengaruh bagi pemanasan global.
Lampu pijar dan neon tidak dapat digunakan lagi setelah bohlamnya pecah, namun
tidak demikian pada lampu LED. LED merupakan jenis solid-state lighting (SSL), artinya
lampu yang menggunakan kumpulan LED, benda padat, sebagai sumber pencahayaannya
sehingga tidak mudah rusak bila terjatuh atau bohlamnya pecah. Kumpulan LED diletakkan
dengan jarak yang rapat untuk memperterang cahaya. Satu buah lampu ini dapat bertahan
lebih dari 30 ribu jam, bahkan mencapai 100 ribu jam. LED memiliki 4 macam warna yang
kasat mata, yaitu merah, kuning, hijau, dan biru. Untuk menghasilkan warna putih yang
sempurna, spectrum cahaya dari warna-warna tersebut digabungkan, dengan cara yang paling
umum yaitu penggabungan warna merah, hijau, dan biru, yang disebut RGB. Tabel di bawah
ini merupakan penjelasan jenis LED beserta warna, arus dan tegangan maksimum forward
bias, luminous intensity (dalam milicandela), panjang gelombang, dan viewing angle.

Keunggulan dan kelemahan lampu LED sama dengan yang terdapat pada LED,
namun manfaatnya terasa dalam menekan pemanasan global dan mengurangi emisi karbon
TUGAS INDIVIDU VISUAL FISIKA BANGUNAN  2009 

dunia. Lampu LED berasal dari bahan semikonduktor sehingga tidak diproduksi dari bahan
karbon. Apabila lampu LED digunakan di seluruh dunia sebagai pengganti lampu neon dan
pijar, maka total energi untuk penerangan dapat berkurang hingga 50%, dan selisih emisi
karbon yang dihasilkan dunia bisa mencapai 300 juta ton per tahunnya. Faktor penting
lainnya yang menjadi pertimbangan adalah masalah harga, namun saat ini sedang
dikembangkan LED dengan harga yang murah.
Saat ini sedang dikembangkan piranti LED dengan desain menggunakan bahan
organic yang disebut dengan OLED (Organic Light Emitting Diode) yang dapat
menghasilkan pancaran cahaya dengan umur 6 hingga 10 ribu jam, bahkan telah mencapai 12
ribu jam yang dilakukan para peneliti di Cambridge Display Technology Ltd, Inggris. OLED
berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya dapat menghasilkan cahaya satu warna
sekarang dapat mengeluarkan cahaya dengan dua atau lebih warna. Fenomena ini diperoleh
dengan membuat variasi tegangan listrik yang diberikan kepada piranti tersebut, sehingga
menuyebabkan OLED memilki prospek untuk menjadi piranti alternatif dalam teknologi
tampilan panel datar (flat-panel) yang didasarkan pada Kristal cair (liquid crystal). Prinsip
dasar dari piranti electroluminescent ini secara garis besar adalah piranti yang dapat
mengeluarkan cahaya dengan warna
berdasarlan panjang gelombang
tertentu jika diberikan medan listrik.
Bagian penting dari OLED adalah
lapisan tipis (thin film) yang tersusun
dari molekul-molekul organic /
polimer yang berfungsi sebagai emitter
Gambar 1 Struktur piranti OLED satu warna
(pemancar) cahaya dan lapisan
elektroda yang disusun secara sandwich. Lapisan tipis bahan organik tersebut dapat
dimendapkan dengan teknik yang sederhana seperti spin-coating, sementara itu untuk
memendapkan lapisan elektroda digunakan teknik evaporation / sputtering. Lapisan elektroda
dibuat dari bahan logam yang transparan atau semi-transparan seperti Indium Tin Oxide
(ITO) atau aluminium (Al). Sifat transparan pada elektroda memungkinkan cahaya yang
dihasilkan memancar keluar dari struktur piranti secara optimal.
Mekanisme dari cara kerja OLED adalah jika pada elektode diberikan medan listrik,
fungsi erja dari elektroda negative (katoda) tersebut akan turun, sehingga electron-elektron
dari katoda bergerak menuju pita konduksi di bahan organik. Akibatnya akan muncul hole di
TUGAS INDIVIDU VISUAL FISIKA BANGUNAN  2009 

pita valensi. Sementara itu elektroda bermuatan


positif (anoda) akan meng-injeksi hole untuk
bergerak menuju pita valensi bahan organic,
sehingga terjadi proses rekombinasi, electron
akan turun dan bersatu dengan hole sambil
memberikan kelebihan energi sebesar hv dalam
bentuk foton cahaya dengan panjang gelombang
Gambar 2 Proses rekombinasi elektron-hole
tertentu. Struktur piranti OLED yang sederhana
seperti pada gambar 1 akan diperoleh satu jenis pancaran cahaya dengan panjang gelombang
tertentu tergantung jenis bahan emitter yang digunakan.
Piranti OLED yang dapat menghasilkan dua jenis pancaran warna cahaya, contohnya
adalah piranti yang di-desain dengan menggunakan lapisanelektroda semi-transparan Mg-Al-
ITO yang berfungsi sebagai lapisan untuk meng-injeksi electron bagi pancaran warna Biru,
demikian juga sebagai lapisan untuk meng-injeksi hole bagi pancaran warna merah. Warna
yang dihasilkan dari piranti tersebut dapat berubah secara kontinyu dari warna Biru ke
Merah, sedangkan intensitas cahaya yang dihasilkan oleh tiap-tiap warna tidak bergantung
kepada arus listrik yang diberikan. Piranti OLED yang dapay menghasilkan dua jenis
pancaran warna dapat diperoleh dengan menggunakan satu lapisan bahan emitter yang
diperoleh dengan mengatur polaritas medan listrik yang diberikannya, sedangkan intensitas
cahaya yang dipancarkan
dapat diubah dengan mengatur
besarnya medan listrik.
Desain piranti ini
menggunakan lapisan bahan
emitter pyridine-phenylene
atau thiopene-phenylene yang
diapit oleh lapisan bahan
emeraldine base dan bahan
sulfonate dari polyaniline. Gambar 3 Skema daripada struktur piranti OLED Multi-Warna.

Seiring perkembangannya, sekarang ini telah dimungkinkan untuk membuat piranti OLED
yang dapat menghasilkan tiga pancaran cahaya dengan warna Hijau, Biru, dan Merah dalam
satu piranti, dimana strukur OLED hanya dengan satu bahan emitter dengan kombinasi
berbagai bahan sehingga terjadi proses rekombinasi yang komplek di dalam variasi bahan
TUGAS INDIVIDU VISUAL FISIKA BANGUNAN  2009 

yang diperginakan. Struktur tersebut yang mengakibatkan pancaran cahaya dari masing-
masing warna dan juga dapat diperoleh cahaya sebagai hasil dari kombinasi ketiga warna
yang ada. Ketebalan lapisan emitter cahaya Merah, Hijau, dan Biru masing-masing adalah 65
nm, sedangkan untuk lapisan yang lainnya ketebalan berkisar antara 10 nm – 65 nm. Efisiensi
kuantum dari desain piranti OLED untuk masing-masing warna sebesar 1.6% (warna biru),
0.55% (warna hijau), dan 0.3% (warna merah).
Piranti OLED multi-warna yang ada sekarang ini masih ada sedikit kekurangan, yaitu
intensitas cahaya dengan warna tertentu yang dihasilkannya belum cukup kuat atau terang,
yang sampai saat ini masih menjadi bahan pemikiran para peniliti untuk dicari solusinya.
Adanya penelitian yang berkesinambungan dan dilakukan secara komprehensif seperti yang
dilakukan di berbagai pusat riset di negara-negara maju, maka akan dimungkinkan akan dapat
diperoleh solusi dengan cepat. Faktor lain yang merupakan keuntungan dari desain piranti
OLED adalah biaya operasional yang relative rendah serta proses fabrikasi yang relatf
sederhana jika akan dibuat untuk kebutuhan komoditi. Oleh karena faktor tersebut, maka
dapat diharapkan pengembangan teknologi piranti LED yang tidak hanya dibuat dengan
bahan-bahan semikonduktor seperti GaN, gaAs, dan sebagainya dengan teknik pembuatan
MOVCD atau CVD yang memerlukan biaya operasional yang tidak kecil. Teknologi seperti
OLED cukup tepat dikembangkan di Indonesia karena realita pengembangan teknologi di
Indonesia yang disesuaikan dengan kemampuan budget yang terbatas dengan upaya
memperoleh hasil yang optimal. Pengembangan teknologi alternatif seperti tersebut dapat
dijadikan salah satu bentuk upaya untuk mengejar ketertinggalan perkembangan teknologi
yang ada agar tidak semakin jauh sehingga ketergantungan penggunaan suatu produk
teknologi dari Negara industry maju dapat dikurangi.

Daftar Pustaka :
• http://netsains.com/2008/02/menekan-pemanasan-global-dengan-lampu-led/
• http://www.ledlightbulb.net/index.htm
• http://en.wikipedia.org
• http://www.lrc.rpi.edu
• http://www.elektroindonesia.com/elektro/elek13.html