Anda di halaman 1dari 5

Studi Tentang :

PETA PERSAINGAN BISNIS RITEL MODERN DI INDONESIA


(Yang Diakomodir oleh Peraturan Presiden No 112 Tahun 2007)

Februari 2009

Meskipun perekonomian nasional kini dihadapkan kepada dampak krisis


ekonomi global, namun bisnis ritel modern di Indonesia tidak terkendala bahkan masih
menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hal itu dikarenakan potensi pasar di
Indonesia masih cukup besar dan menguatnya usaha kelas menengah dan kecil, telah
menambah banyaknya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah-atas yang
memiliki gaya hidup belanja di ritel modern.

Perkembangan bisnis ritel modern ini dapat ditunjukan pula dari segi omzet yang
masih tumbuh secara nyata yakni dari sekitar Rp 42 triliun pada tahun 2005, meningkat
menjadi sekitar Rp 58 triliun pada tahun 2007 dan tahun 2008 sudah mencapai sekitar Rp
67 triliun. Peningkatan omzet belakangan ini, terutama didorong semakin maraknya
pembukaam outlet gerai baru hypermarket dan minimarket. Misalnya, peritel asing
hypermarket, Carrefour dalam waktu singkat telah berhasil mengepung potensi pasar
ritel di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dengan kepemilikan gerai hingga akhir tahun
2008 sebanyak 70 unit.

Begitu juga konsolidasi Hero Supermarket yang mengarah ke hypermarket setelah


supermarketnya belakangan cenderung menurun, cukup membuahkan hasil. Dari gerai
pertama hypermarketnya yang bekerjasama dengan peritel asing dari Malaysia tahun
2002 lalu -- Hypermarket Giant terus berkembang menjadi 17 gerai pada 2007 dan
meningkat menjadi sekitar 23 gerai pada tahun 2008. Selanjutnya peritel lokal Matahari
tak mau menjadi penonton saja, hanya dalam waktu setahun pada 2004 sudah membuka
4 gerai Hypermart, gerai hypermarketnya. Bahkan sampai akhir 2008 Hypermat sudah
mencapai 39 gerai.

Besarnya minat peritel lokal mengikuti sukses Carefour, dikarenakan omzet


hypermarket bisa mencapai Rp 500 juta per hari, bahkan beberapa gerai Carrefour pada
masa peak season-nya bisa meraih omzet hingga Rp 1 milyar per hari. Hal ini tentunya
sangat potensial menggerus pasar supermarket yang polanya sama menjaring konsumen
belanja bulanan. Begitu juga perkembangan hypermarket yang sangat pesat ini, karena
formatnya cocok dengan karakter konsumen di Indonesia yang menjadikan belanja
sebagai bagian dari rekreasi. Selain itu mampu menawarkan harga paling rendah,
produk selalu fresh, area belanja luas serta jumlah produknya yang sangat lengkap.

1
Namun, pesatnya perkembangan pasar modern belakangan ini seringkali menuai
protes dengan pihak yang merasa dirugikan seperti pasar tradisional atau bahkan
dengan sesama ritel modern. Bahkan, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun
2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Pasar
Modern yang baru saja diberlakukan pada Desember 2008 justru masih mengundang
kontroversi. Terutama, menyangkut pelanggaran ritel modern yang menjual sembako di
bawah harga pasar tradisional.

Bahkan pelanggaran zonasi dan jarak yang sudah berlangsung lama, telah
memakan banyak korban dari pasar tradisional. Tetapi pihak Asosiasi Pengusaha Ritel
Indonesia (APRINDO) pun telah mengajukan keberatan peritel modern atas isi
Permendag Nomor 53 Tahun 2008, diantaranya menyangkut pembatasan biaya syarat
perdagangan (trading term) dari aspek yuridis maupun komersialnya.

Selain mengulas kebijakan pemerintah yang masih perlu sosialisasi itu, juga
berbagai aspek lainnya di bidang ritel kami bahas . Terutama dengan menyajikan peta
persaingan bisnis ritel di Indonesia ini, akan sangat bermanfaat bagi kalangan bisnis
khususnya yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan bisnis ritel
modern seperti lembaga keuangan, perbankan, pemasok (supplier) dan sebagainya. Studi
ini juga sangat bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin
kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis ritel modern di Indonesia saat ini.

Buku studi konprehensif ini kami tawarkan seharga Rp 5.000.000 (Lima Juta Rupiah) per
copy untuk versi bahasa Indonesia atau US$ 750 (Tujuh Ratus Lima Puluh US Dollar) per copy
dalam versi bahasa Inggris. Peminat dapat menghubungi PT Media Data Riset, Jakarta,
melalui Telepon (021) 809-6071, atau Fax (021) 809-6071. Formulir pemesanan kami
lampirkan bersama ini. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009


PT Media Data Riset

Drh H. Daddy Kusdriana M.Si


Direktur Utama

2
DAFTAR ISI

KONDISI PERSAINGAN BISNIS RITEL MODERN DI INDONESIA


(Yang Diakomodir oleh Peraturan Presiden No 112 Tahun 2007)
Februari 2009

1. PENDAHULUAN 5. MINIMARKET
1.1. Latar Belakang 5.1. Tumbuh Marak
1.2. Tujuan dan Cakupan Studi 5.2. Indomaret Memiliki Gerai Terbanyak
1.3. Sumber Data dan Informasi 5.3. Untuk Genjot Omzet Minimarket Butuh
Banyak Gerai
2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM 5.4. Perkembangan Omzet
EKONOMI INDONESIA 5.5. Karakteristik
2.1. Populasi Penduduk
2.2. Perkembangan Ekonomi 6. SUPERMARKET
2.3. Perkembangan Penanaman Modal 6.1. Antara Hypermarket dan
2.4. Perkembangan Inflasi Minmarket
2.5. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah 6.2. Lakukan Pembenahan
terhadap Beberapa Mata Uang Asing 6.3. Gerai Supermarket Masih Berkembang
2.6. Perkembangan Suku Bunga Kredit atau 6.4. Ekspansi pemain utama
Pinjaman 6.5. Strategi pasar
6.6. Perkembangan Omzet Penjualan
3. PERKEMBANGAN BISNIS RITEL 6.7. Karakteristik
3.1. Kondisi Pasar Tradisional 6.8. Persaingan
3.2. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007
3.3. Pusat Perbelanjaan Modern 7. DEPARTMENT STORE
3.4. Ritel Modern Bermula Dari Supermarket 7.1. Kondisi Saat Ini
Dan Department Store 7.2. Segmentasi dan Stratesi Pasar
3.5. Omzet Ritel Terus Meningkat 7.3. Perkembangan Omzet
3.6. Peranan Ritel Modern 7.4. Matahari Menerapkan Konsep One Stop
3.7. Perintis Ritel Modern Indonesia Shopping
3.8. Perkembangan Ritel Modern 7.5. Department Store
3.9. Peritel Modern Terapkan Multiformat 7.6. Karakteristik
3.10. Jumlah Ritel Modern dan Penyebarannya 7.7. Pola Persaingan Department Store
3.11. Peritel Menggunakan Pola Waralaba
3.12. Pemasok Ritel Modern 8. RUANG DAN LOKASI RITEL
3.13. BM & PPnBM Produk MODERN
Bermerek 8.1. Pemakaian Ruang Ritel Modern
3.14. Belanja iklan peritel 8.2. Ritel Modern Menghuni Sebagian Kecil
Pusat Perbelanjaan
4. HYPERMARKET 8.3. Hubungan Pengelola Pusat Perbelanjaan
4.1. Tumbuh Pesat dengan Ritel Modern
4.2. Masih Terkonsentrasi Di Jawa
4.3. Pengembangan Menurut Lokasi 8.4. Pusat Perbelanjaan yang Beroperasi di
4.4. Strategi Pasar Hypermarket Jakarta dan Sekitarnya
4.3. Perkembangan Omzet Hypermarket 8.5. Kelompok Usaha di Bidang Pusat
4.4. Hypermarket Ritel dan Perkulakan Perbelanjaan
4.5. Karakteristik 8.6. Kapitalisasi Proyek Pusat Perbelanjaan
8.7. Harga Sewa Pusat-pusat Perbelanjaan di

3
Jakarta HYPERMARKET DAN MINIMARKET
8.8. Pembangunan Pusat Perbelanjaan Kian 11.1. Jumlah Penduduk, Pendapatan Regional
Pesat dan Pendapatan Per Kapita Jabotabek
8.9. Perkembangan Pusat Perbelanjaan di dan Sepuluh Kota Besar Lainnya
Daerah 11.2. Pengeluaran Masyarakat Untuk Bahan
8.10. Square,Tren Baru Pusat Perbelanjaan Makanan dan Non Makanan
11.3. Pangsa Belanja Di Masing-masing Ritel
9. LOKASI UTAMA RITEL MODERN DI Modern
JAKARTA 11.4. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang
9.1. Segi Tiga Emas (The Golden Triangle Area) Supermarket Di 15 Kota Besar
9.2. Blok-M Area 11.5. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang
9.3. Timur Utara (The North East Area) Department Store di 15 Kota Besar
9.4. Mangga Dua Area 11.6. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang
9.5. Wilayah Barat (The West Area) Hypermarket di 12 Kota Besar
11.7. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang
10. PROFIL PERUSAHAAN RITEL MODERN Minimarket di 7 Kota Besar
10.1. PT. MATAHARI PUTRA PRIMA TBK.
10.2. PT RAMAYANA LESTARI 12. KESIMPULAN DAN TREN BISNIS RITEL
SENTOSA Tbk. MODERN
10.3. PT HERO SUPERMARKET Tbk. 12.1.1. Ritel Modern Masih Memerlukan
10.4. PT MITRA ADIPERKASA Ruang Gerai, dan Pengaturan Zonasi
10.5. PT. METRO SUPERMARKET 12.1.2. Mengarah Kepada Hypermarket dan
REALTY, TBK. Minimarket
10.6. PT. PASARAYA NUSAKARYA 12.1.3. Lokasi Cenderung Memilih Pusat
10.7. PT MAKRO INDONESIA Keramaian
10.8. PT. CARREFOUR INDONESIA 12.1.4. Produk Melengkapi Pola “One Stop
10.9. PT. INDOMARCO PRISMATAMA Shopping”
10.10. PT. AKUR PRATAMA 12.1.5. Strategi Pemasaran ke Harga yang
10.11. PT. LION SUPERINDO Murah
10.12. PT. ALFA RETAILINDO TBK. 12.1.6. Peraturan Pemerintah Mendukung
10.13. PT. RIMO CATUR LESTARI Terciptanya Persaingan Yang Sehat
10.14. PT. METROPOLITAN 12.1.7. Kendala Ritel Modern, Persaingan
10.14. RETAILMART yang Semakin Ketat dan Daya beli
10.15. PT. MUTIARA RITELINTI WIRA yang Menurun
10.16. PT GELAEL SUPERMARKET
- DIREKTORI
11. PROYEKSI MARKET SIZE/DEMAND - LAMPIRAN
SUPERMARKET, DEPARTMENT STORE,

4
FORMULIR PESANAN DAN PEMBELIAN
PT MEDIA DATA RISET
Jl. SMA XIV , No. 12 A WS
Cawang–UKI, Jakarta 13630
Phone : (021) 809 6071
Fax : (021) 809-6071

Studi Tentang :
PETA PERSAINGAN BISNIS RITEL MODERN
DI INDONESIA
(Yang Diakomodir oleh Peraturan Presiden No 112 Tahun 2007)
Februari 2009

Silahkan Pilih ( √ ) untuk pesanan :


Edisi Bahasa Indonesia Bahasa Inggris

Nama
(Mr/Mrs/Ms)
Position
Nama Perusahaan
NPWP No.
Alamat

Telepon Fax :
Tanda Tangan

Tanggal

Harga :
Edisi Bhs. Indonesia - Rp 5.000.000 (Lima Juta Rupiah)
Edisi Bhs.Inggris - US$ 750 (Tujuh Ratus lima puluh US Dollar)

Catatan : Harga belum termasuk pajak (10% PPn)


Di luar Jakarta dan luar negeri; ditambah biaya pengiriman (Jasa Kurir)
Pembayaran, Silahkan beri tanda ( √ )

Cash
Cheque
Transfer to - PT MEDIA DATA RISET
AC NO. 070 000 534 0497
BANK MANDIRI CAB. DEWI SARTIKA
JAKARTA