Anda di halaman 1dari 140

Gusrina

BUDIDAYA IKAN
JILID 3

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

BUDIDAYA IKAN
JILID 3
Untuk SMK
Penulis : Gusrina
Perancang Kulit : Tim

Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm

GUS GUSRINA
b Budidaya Ikan Jilid 3 untuk SMK /oleh Gusrina ---- Jakarta
: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xii. 130 hlm
Daftar Pustaka : A1-A8
Glosarium : B1-B12
ISBN : 978-602-8320-22-1

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada


seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada


Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada


para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008


Direktur Pembinaan SMK
KATA PENGANTAR
Buku Budidaya Ikan merupakan salah satu judul buku teks kejuruan
yang akan digunakan oleh para pendidik dan peserta didik SMK dan lembaga
pendidikan dan pelatihan lainnya. Buku teks kejuruan dalam bidang budidaya
ikan saat ini belum banyak dibuat, yang beredar saat ini kebanyakan buku-
buku praktis tentang beberapa komoditas budidaya ikan. Buku Budidaya Ikan
secara menyeluruh yang beredar dimasyarakat saat ini belum memenuhi
kebutuhan sebagai bahan ajar bagi siswa SMK yang mengacu pada Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar Isi (SI), Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) dan model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) SMK.
Dengan melakukan budidaya ikan maka keberadaan ikan sebagai
bahan pangan bagi masyarakat akan berkesinambungan dan tidak akan
punah. Pada buku ini akan dibahas beberapa bab yang dapat digunakan
sebagai dasar dalam melakukan budidaya ikan. Bab pertama berisi tentang
wadah budidaya ikan, bab kedua berisi tentang media budidaya ikan, bab
ketiga berisi tentang hama dan penyakit ikan, bab keempat berisi tentang
nutrisi ikan, bab kelima berisi tentang teknologi pakan buatan, bab keenam
berisi tentang teknologi pakan alami, bab ketujuh berisi tentang
pengembangbiakan ikan dan bab kedelapan berisi tentang hama dan
penyakit ikan. Sedangkan materi penunjang seperti pemasaran, analisa
usaha budidaya ikan dan kesehatan dan keselamatan kerja terdapat pada
bab terakhir.
Agar dapat membudidayakan ikan yang berasal dari perairan tawar,
payau maupun laut ada beberapa hal yang harus dipahami antara lain adalah
memahami jenis-jenis wadah dan media budidaya ikan, pengetahuan tentang
nutrisi ikan dan jenis-jenis pakan alami yang meliputi tentang morfologi,
biologi dan kebiasaan hidup. Selain itu pengetahuan teknis lainnya yang
harus dipahami adalah tentang pengembangbiakan ikan mulai dari seleksi
induk, teknik pemijahan ikan, proses pemeliharaannya sampai pemanenen
ikan.
Akhir kata penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas
berkah dan rahmatNya sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ini
dihadapan pembaca. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada
suami dan anak-anak atas dukungan dan orang tua tercinta serta teman-
teman yang telah membantu. Selain itu kepada Direktorat Pembinaan SMK
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah yang menyediakan
anggaran untuk meyediakan sumber belajar buku teks kejuruan yang sesuai
dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan SMK. Semoga buku
ini bermanfaat bagi yang membacanya dan menambah pengetahuan serta
wawasan. Dan juga kami mohon saran dan masukan yang membangun
karena keterbatasan yang dimiliki oleh penyusun.

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
JILID 1

KATA PENGANTAR .........................................................................................ii


DAFTAR ISI .....................................................................................................iii
SINOPSIS........................................................................................................ v
PETA KOMPETENSI......................................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
BAB II WADAH BUDIDAYA IKAN ................................................................ 23
2.1. JENIS-JENIS WADAH BUDIDAYA IKAN ....................................... 23
2.2. KONSTRUKSI WADAH BUDIDAYA............................................... 29
2.3. PERSIAPAN WADAH BUDIDAYA.................................................. 45
BAB III MEDIA BUDIDAYA IKAN .................................................................. 51
3.1. SUMBER AIR ..................................................................................... 52
3.2. PARAMETER KUALITAS AIR ............................................................ 54
3.3. PENGUKURAN KUALITAS AIR BUDIDAYA IKAN ........................ 69
BAB IV. PENGEMBANGBIAKAN IKAN................................................... 75
4.1. SELEKSI INDUK................................................................................. 75
4.2. TEKNIK PEMIJAHAN IKAN.............................................................. 105
4.3 PENETASAN TELUR ........................................................................ 133
4. 4. PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN ............................... 141
4.5. PEMBESARAN IKAN.................................................................... 149
4.6. PEMANENAN ................................................................................. 160

JILID 2
BAB V. NUTRISI IKAN ......................................................................... 167
5.1. ENERGI ........................................................................................... 167
5.2. PROTEIN.......................................................................................... 172
5.3. KARBOHIDRAT ............................................................................ 187
5.4. LIPID ............................................................................................. 195
5.5. VITAMIN ....................................................................................... 204
5.6. MINERAL ...................................................................................... 237
BAB VI. TEKNOLOGI PAKAN BUATAN .................................................... 249
6.1. JENIS-JENIS BAHAN BAKU ........................................................ 252
6.2. PENYUSUNAN FORMULASI PAKAN.......................................... 264
6.3 PROSEDUR PEMBUATAN PAKAN ............................................. 282
6.4. UJI COBA PAKAN IKAN............................................................... 292
6.5. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN ............................................ 315
6.6 PAKAN DAN KUALITAS AIR........................................................ 324
BAB VII. TEKNOLOGI PRODUKSI PAKAN ALAMI ................................. 329
7.1. JENIS-JENIS PAKAN ALAMI ....................................................... 329
7.2. BUDIDAYA PHYTOPLANKTON................................................... 337
7.3. BUDIDAYA ZOOPLANKTON ....................................................... 355

iii
7.4. BUDIDAYA BENTHOS ................................................................. 389
7.5. BIOENKAPSULASI......................................................................... 397

JILID 3
BAB VIII. HAMA DAN PENYAKIT IKAN .................................................... 401
8.1. JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT.......................................... 401
8.2. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN............................. 413
8.3. GEJALA SERANGAN PENYAKIT ............................................... 418
8.4. PENGOBATAN PENYAKIT IKAN................................................ 431
BAB. IX. PEMASARAN .............................................................................. 447
9.1. PENGERTIAN PEMASARAN ....................................................... 447
9.2. CIRI-CIRI PEMASARAN HASIL PERIKANAN.............................. 448
9.3. PERENCANAAN DAN TARGET PENJUALAN ............................ 450
9.4. ESTIMASI HARGA JUAL.............................................................. 452
9.5. SISTEM PENJUALAN .................................................................. 455
9.6. STRATEGI PROMOSI ................................................................... 456
BAB. X. ANALISA KELAYAKAN USAHA ................................................... 465
BUDIDAYA IKAN ..................................................................................... 465
10.1. PENGERTIAN STUDI KELAYAKAN ............................................ 465
10.2. NET PRESENT VALUE (NPV) ..................................................... 478
10.3. NET BENEFIT COST RATIO (NBC RATIO)................................. 479
10.4. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) .......................................... 479
10.5. ANALISIS BREAK EVENT POINT (BEP) ..................................... 480
10.6. APLIKASI ANALISA USAHA ........................................................ 481
BAB. XI. KESEHATAN DAN KESELAMATAN ........................................... 487
KERJA ......................................................................................................... 487
11.1. PENGERTIAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) 487
11.2. PENERAPAN KAIDAH K3 PADA DUNIA USAHA PERIKANAN
BUDIDAYA .............................................................................................. 487

LAMPIRAN A DAFTAR PUSTAKA


LAMPIRAN B GLOSARIUM

iv
SINOPSIS

Buku teks dengan judul budidaya ikan dapat dipelajari oleh para
peserta diklat dan pendidik pada Sekolah Menengah Kejuruan yang
mengambil program studi Budidaya Ikan. Menurut SKKNI dalam program
studi Budidaya Ikan dapat dikelompokkan menjadi Budidaya Ikan Air Tawar,
Budidaya Ikan Air Laut, Budidaya Ikan Air Payau dan Budidaya Ikan Hias.
Dalam buku teks ini akan memberikan pengetahuan mendasar tentang
bagaimana membudidayakan ikan dan dapat di aplikasikan pada berbagai
habitat budidaya. Pada buku teks ini berisi tentang wadah budidaya yang
dapat digunakan dalam melakukan budidaya ikan, media yang optimal dalam
budidaya ikan agar proses budidaya dapat berlangsung sesuai dengan
kebutuhan ikan untuk hidup tumbuh dan berkembang, bagaimana melakukan
proses perkembangbiakan ikan budidaya dari sudut biologis ikan budidaya
dan aplikasi pada beberapa ikan budidaya, kebutuhan nutrisi untuk ikan yang
akan dibudidayakan, bagaimana membuat pakan ikan yang harus diberikan
pada ikan budidaya, bagaimana memproduksi pakan alami sebagai pakan
yang sangat dibutuhkan bagi larva ikan dan benih ikan budidaya, hama dan
penyakit ikan yang dapat menyerang ikan budidaya serta perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam budidaya ikan.
Budidaya ikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting saat ini
dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu
jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga
jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Dengan
mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh
karena itu kemampuan sumberdaya manusia untuk memproduksi ikan
budidaya sangat dibutuhkan. Dengan semakin bertambahnya jumlah
penduduk dan keterbatasan lahan budidaya selanjutnya, maka dibutuhkan
suatu teknologi budidaya ikan pada lahan yang terbatas dan produktivitas
tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dengan mempelajari buku teks ini
diharapkan para pembaca dapat mengaplikasikan ilmu budidaya pada
berbagai media dan teknologi budidaya.
Pengetahuan tentang wadah budidaya ikan dan media yang
dibutuhkan bagi ikan budidaya akan memberikan pemahaman tentang
investasi yang harus dipersiapkan sesuai dengan skala produksi yang akan
diterapkan. Dengan menerapkan teknologi budidaya ikan yang intensif
dibutuhkan pemahaman tentang produksi pakan buatan yang ramah
lingkungan tetapi sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya. Selain itu dalam
membudidayakan ikan sangat dibutuhkan pakan alami pada fase larva dan
benih, maka sangat dibutuhkan suatu pemahaman bagaimana
membudidayakan pakan alami yang sesuai dengan kebutuhan ikan.

v
Selain itu dalam suatu budidaya ikan maka akan ada kendala yang dialami
pembudidaya ikan yaitu adanya serangan hama dan penyakit ikan. Oleh
karen itu diperlukan pemahaman tentang jenis-jenis hama dan penyakit yang
dapat menyerang ikan budidaya serta bagaimana tindakan pencegahan dan
pengobatan yang harus dilakukan oleh para pembudidaya agar ikan yang
dibudidayakan tidak terserang hama dan penyakit.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
maka penerapan teknologi yang terkini telah merambah dalam budidaya ikan.
Pengembangbiakan ikan secara tradisional akan semakin kurang diminati
dan akan beralih kepada sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
meningkatkan produksi pada ikan budidaya. Aplikasi teknologi molekuker
dalam budidaya ikan sudah bisa diterapkan mulai dari rekayasa kromosom,
rekayasa gen dan terkini adalah rekayasa sel. Rekayasa kromosom antara
lain adalah melakukan kegiatan ginogenesis, androgenesis dan poliploidisasi
yang tujuan dari manipulasi kromosom ini untuk meningkatkan produktivitas
ikan budidaya dan memberikan nilai tambah pada pembudidaya ikan.
Sedangkan rekayasa gen dapat diterapkan jika peralatan untuk melakukan
rekayasa ini tersedia dimana dengan melakukan rekayasa gen dapat dibuat
komoditas ikan budidaya yang disisipi gen yang menguntungkan bagi
pembudidaya misalnya gen pertumbuhan, gen antibeku dan gen warna
tubuh.
Dengan mempelajari buku teks ini diharapkan dapat memahami
pengetahuan yang sangat mendasar dalam membudidayakan ikan. Dalam
buku teks ini juga dijelaskan berbagai kemampuan dasar untuk melakukan
suatu kegiatan yang langsung dapat diaplikasikan dengan menggunakan
bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh berbagai kalangan.

vi
PETA KOMPETENSI

KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI/SUB KOMPETENSI

Memenuhi persyaratan kerja di DU/DI


PBD. PL 00.001U.01 1. Menyetujui kondisi dan ketentuan ketenagakerjaan
2. Memenuhi persyaratan ketenagakerjaan
Memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan dan
lingkungan di tempat kerja
1. Mengikuti prosedur di tempat kerja untuk kesehatan
PBD. PL 00.002U.01
dan keselamatan di tempat kerja
2. Melakukan tindakan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam kondisi bahaya/darurat
3. Memelihara insfrastruktur dan lingkungan kerja
Membina kerjasama
1. Melakukan interaksi di tempat kerja
2. Melakukan pertemuan, menyelami dan mengarahkan
PBD. PL 00.003U.01 klien dan pelanggan
3. Memelihara penampilan pribadi
Menggunakan sistem komunikasi
1. Mengumpulkan, mencatat dan mengirim data
PBD. PL 00.004U.01 2. Mengumpulkan, mencatat dan menyediakan
informasi untuk memenuhi kebutuhan tempat kerja
3. Menanggapi masalah
Membuat perencanaan kerja
PBD. PL 00.005U.01 1. Membuat jadwal kegiatan
2. Mengatur bahan, peralatan dan cara kerja
Menyiapkan peralatan
1. Mengidentifikasi jenis peralatan
PBD. PL 00. 006U. 01 2. Menentukan peralatan
3. Mengontrol cara kerja peralatan
4. Membuat laporan

vii
Mengidentifikasi parameter kualitas air
1. Menyiapkan peralatan dan bahan yang digunakan
dalam identifikasi parameter kualitas air
PBD.PL 00.007U.01 2. Mengambil sampel air di lapangan
3. Mengukur parameter kualitas air
4. Membuat laporan hasil identifikasi parameter kualitas
air

KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI/ELEMEN KOMPETENSI


Menentukan lokasi budidaya
1. Merencanakan tahapan kegiatan penentuan lokasi
budidaya
PBD. PL00.008U. 01 2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi budidaya melalui
kegiatan survey lapangan
3. Menentukan lokasi
4. Membuat laporan
Menyiapkan wadah
1. Mengidentifikasi wadah
PBD. PL 00. 009U. 01 2. Menentukan wadah
3. Mengontrol proses penggunaan wadah
4. Membuat laporan
Mengidentifikasi hama dan penyakit ikan
1. Mengambil sampel di lapangan
PBD. PL 00. 010U. 01 2. Mengidentifikasi gejala serangan
3. Menentukan jenis parasit
4. Membuat laporan
Mengemas ikan
1. Menyiapkan teknik pengepakan
2. Menentukan jenis ikan yang dikemas
PBD. PL 00. 011U. 01
3. Melakukan pengepakan ikan
4. Membuat laporan
Memasarkan ikan
PBD. PL00.012U. 01 1. Mencari order pemasaran
2. Melaksanakan penjualan
3. Menyiapkan kuota/target
4. Mengontrol proses pemasaran

viii
Menentukan lokasi pembenihan ikan
1. Merencanakan tahapan kegiatan penentuan lokasi
PBD.PL 01.001I.01 pembenihan
2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi pembenihan ikan
3. Memilih lokasi pembenihan ikan
4. Membuat laporan
Menyiapkan media pembenihan ikan
1. Merencanakan kegiatan persiapan media
PBD.PL 01.002I.01 pembenihan
2. Menyiapkan wadah pembenihan
3. Menyiapkan air untuk pembenihan
4. Membuat laporan
Mengelola induk ikan
1. Memelihara calon induk ikan
PBD.PL 01.003I.01 2. Menyeleksi calon induk jantan dan betina
3. Melakukan pematangan gonad induk ikan
4. Menyeleksi induk siap pijah
Memijahkan induk ikan
1. Melakukan proses pemijahan ikan
PBD.PL 01.004I.01 2. Menangani telur
3. Menetaskan telur
Mengkultur pakan alami
1. Mengidentifikasi jenis-jenis pakan alami
PBD.PL 01.005I.01 2. Menyiapkan media tempat tumbuhnya pakan alami
3. Menebar bibit pakan alami
Memelihara larva ikan
1. Merawat larva ikan
2. Memberi pakan larva
PBD.PL 01.006I.01 3. Mengamati perkembangan larva
4. Menangani hama dan penyakit pada pemeliharaan
larva
5. Memantau kualitas dan kuantitas air pada
pemeliharaan larva
Memanen hasil pembenihan ikan
1. Merencanakan kegiatan pemanenan hasil
pembenihan
PBD.PL.01.007I.01 2. Melakukan pemananen benih ikan
3. Mengemas benih ikan
4. Membuat laporan

ix
Memasarkan hasil pembenihan ikan
1. Mengidentifikasi calon pembeli
PBD.PL.01.008I.01 2. Membuat kesepakatan
3. Melakukan transaksi
4. Melakukan perhitungan laba rugi
5. Membuat laporan
Menentukan lokasi pendederan ikan
1. Merencanakan tahapan kegiatan penentuan lokasi
PBD.PL 02.009I.01 pendederan ikan
2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi pendederan ikan
3. Memilih lokasi pendederan
4. Membuat laporan
Menyiapkan media pendederan ikan
1. Merencanakan kegiatan persiapan pendederan ikan
PBD.PL 02.010I.01 2. Menyiapkan wadah pendederan ikan
3. Menyiapkan air untuk pendederan ikan
4. Membuat laporan
Menebar benih ikan pada pendederan
PBD.PL 02.011I.01 1. Merencanakan kegiatan penebaran benih ikan
2. Menebar benih ikan
3. Membuat laporan
Memantau pertumbuhan benih ikan pada pendederan
1. Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan
PBD.PL 02.012I.01 benih ikan
2. Mengambil sampel untuk menduga pertumbuhan
benih ikan
3. Melakukan sortasi
4. Membuat laporan
Mengelola pakan benih ikan pada pendederan
1. Mengidentifikasi jenis-jenis pakan untuk benih ikan
PBD.PL 02.013I.01 2. Merencanakan kegiatan pengelolaan pakan benih
ikan
3. Menentukan jumlah, waktu dan frekuensi pemberian
pakan
4. Membuat laporan

x
Mengelola kualitas dan kuantitas air pada
pendederan ikan
PBD.PL 02.014I.01 1. Merencanakan kegiatan pengelolaan kualitas dan
kuantitas air
2. Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas air pada
pendederan ikan
3. Mengelola kualitas dan kuantitas air pada
pendederan ikan
4. Membuat laporan
Mengendalikan hama dan penyakit pada pendederan
ikan
1. Merencanakan kegiatan monitoring hama dan
PBD.PL 02.015I.01 penyakit
2. Mengidentifikasi hama dan penyakit
3. Melakukan pengobatan ikan
4. Mencatat kejadian serangan penyakit
5. Membuat laporan
Memanen hasil pendederan ikan
1 Merencanakan kegiatan pemanenan hasil
PBD.PL 02.016I.01 pendederan ikan
2. Memanen benih ikan
3. Membuat laporan
Memasarkan hasil pendederan ikan
1. Mengidentifikasi calon pembeli
PBD.PL 02.017I.01 2. Membuat kesepakatan
3. Melakukan transaksi
4. Melakukan perhitungan laba rugi
5. Membuat laporan
Menentukan lokasi pembesaran ikan
1. Merencanakan tahapan kegiatan pemilihan lokasi
PBD.PL 03.018I.01 2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi pembesaran
ikan
3. Memilih lokasi pembesaran ikan
4. Membuat laporan
Menyiapkan media pembesaran ikan
1. Merencanakan kegiatan persiapan pembesaran
PBD.PL 03.019I.01 ikan
2. Menyiapkan wadah pembesaran ikan
3. Menyiapkan media pembesaran ikan
4. Membuat laporan

xi
Menebar benih ikan pada pembesaran
PBD.PL 03.020I.01 1. Merencanakan kegiatan penebaran benih ikan
2. Menebar benih ikan
3. Membuat laporan
Memantau pertumbuhan ikan pada pembesaran
1. Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan
PBD.PL 03.021I.01 ikan
2. Mengambil sampel untuk menduga pertumbuhan
ikan
3. Melakukan sortasi
4. Membuat laporan
Mengelola pakan pembesaran ikan
1. Mengidentifikasi jenis-jenis pakan untuk
PBD.PL 03.022I.01 pembesaran ikan
2. Merencanakan kegiatan pengelolaan pakan
pembesaran ikan
3. Menentukan jumlah, waktu dan frekuensi pemberian
pakan
4. Membuat laporan
Mengendalikan hama dan penyakit pada pembesaran
ikan
1. Merencanakan kegiatan monitoring hama dan
PBD.PL 03.023I.01 penyakit
2. Mengidentifikasi hama dan penyakit pada
pembesaran ikan
3. Melakukan pengobatan ikan
4. Mencatat kejadian serangan penyakit
5. Membuat laporan
Memanen hasil pembesaran ikan
1. Merencanakan kegiatan pemanenan ikan hasil
PBD.PL 03.024I.01 pembesaran
2. Melakukan pemanenan
3. Mengemas ikan hasil pembesaran
4. Membuat laporan
Memasarkan hasil pembesaran ikan
1. Mengidentifikasi calon pembeli ikan
2. Melakukan kesepakatan
PBD.PL 03.025I.01 3. Melakukan transaksi
4. Melakukan penghitungan laba rugi
5. Membuat laporan

xii
BAB VIII. HAMA DAN PENYAKIT IKAN

Dalam suatu usaha budidaya ikan


pengobatan, Sebab, pencegahan
dilakukan sebelum terjadi serangan,
baik hama maupun penyakit,
yang intensif dengan padat
sehingga biaya yang dikeluarkan
penebaran tinggi, dengan
tidak terlalu besar.
penggunaan pakan buatan yang
sangat besar dapat mengakibatkan
terjadinya suatu masalah. Masalah
terbesar yang sering dianggap
menjadi penghambat budidaya ikan 8.1. JENIS-JENIS HAMA
adalah munculnya serangan penyakit.
DAN PENYAKIT
Serangan penyakit yang disertai
gangguan hama dapat menyebabkan
8.1.1. Hama Ikan
pertumbuhan ikan menjadi sangat
lambat (kekerdilan), mortalitas
Hama adalah organisme
meningkat, konversi pakan manjadi
pengganggu yang dapat memangsa,
sangat tinggi dan menurunnya hasil
membunuh dan mempengaruhi
panen (produksi).
produktivitas ikan, baik secara
Ikan yang dipelihara dapat terserang langsung maupun secara bertahap.
hama dan penyakit karena Hama bersifat sebagai organisma
diakibatkan oleh kualitas air yang yang memangsa (predator), perusak
memburuk dan malnutrisi. Ikan yang dan kompetitor (penyaing). Sebagai
sehat akan mengalami pertumbuhan predator (organisme pemangsa),
berat badan yang optimal. Ikan yang yakni makhluk yang menyerang dan
sakit sangat merugikan bagi para memangsa ikan yang biasanya
pembudidaya karena akan mempunyai ukuran tubuh yang lebih
mengakibatkan penurunan besar dari ikan itu sendiri. Hama
produktivitas. Oleh karena itu agar sering menyerang ikan bila masuk
ikan yang dipelihara di dalam wadah dalam lingkungan perairan yang
budidaya tidak terserang hama dan sedang dilakukan pemeliharaan ikan.
penyakit harus dilakukan Masuknya hama dapat bersama
pencegahan. Pencegahan saluran pemasukan air maupun
merupakan tindakan yang paling sengaja datang melalui pematang
efektif dibandingkan dengan untuk memangsa ikan yang ada.

401
Hama yang menyerang ikan dosis pemakaiannya diperhatikan
biasanya datang dari luar melalui atau dipatuhi.
aliran air, udara atau darat. Hama x Pada pintu pemasukan air
yang berasal dari dalam biasanya dipasang saringan agar hama
akibat persiapan kolam yang kurang tidak masuk ke dalam kolam.
sempurna. Oleh karena itu untuk Saringan air pemasukan ini
mencegah hama ini masuk kedalam berguna untuk menghindari
wadah budidaya dapat dilakukan masuknya kotoran dan hama ke
penyaringan pada saluran dalam kolam budidaya.
pemasukan dan pemagaran x Secara rutin melakukan
pematang. Hama ikan banyak sekali pembersihan disekitar kolam
jenisnya antara lain larva serangga, pemeliharaan agar hama seperti
serangga air, ikan carnivora, ular, siput atau trisipan tidak dapat
biawak, buaya , notonecta atau berkembangbiak disekitar kolam
bebeasan, larva cybister atau ucrit, budidaya
berang-berang atau lisang, larva
capung, trisipan. Hama menyerang Untuk menghindari adanya hama
ikan hanya pada saat ikan masih ikan, dilakukan pemberantasan
kecil atau bila populasi ikan terlalu hama dengan menggunakan bahan
padat. Sedangkan bila ikan mulai kimia. Akan tetapi penggunaan
gesit gerakannya umumnya hama bahan kimia ini harus hati-hati hal ini
sulit memangsanya. mengingat pengaruhnya terhadap
lingkungan sekitarnya. Bahan kimia
Hama yang menyerang ikan sintetis umumnya sulit mengalami
budidaya biasanya berupa ular, belut, penguraian secara alami, sehingga
ikan liar pemangsa. Sedangkan pengaruhnya (daya racunnya) akan
hama yang menyerang larva dan lama dan dapat membunuh ikan
benih ikan biasanya notonecta atau yang sedang dipelihara. Oleh karena
bebeasan, larva cybister atau ucrit. itu sebaiknya menggunakan bahan
Ikan-ikan kecil yang masuk ke dalam pemberantas hama yang berasal dari
wadah juga akan mengganggu. tumbuh-tumbuhan seperti ekstrak
Meskipun bukan hama, tetapi ikan akar tuba, biji teh, daun tembakau
kecil-kecil itu menjadi pesaing bagi dan lain-lain. Bahan ini efektif untuk
ikan dalam hal mencari makan dan membunuh hama yang ada dalam
memperoleh oksigen. kolam dan cepat terurai kembali
menjadi netral. Pada Tabel 8.1. di
Ada beberapa cara yang dapat bawah ini kandungan zat aktif serta
dilakukan untuk mencegah serangan dosis yang tepat untuk
hama terhadap ikan : pemberantasan hama.
x Pengeringan dan pengapuran
kolam sebelum digunakan.
Dalam pengapuran sebaiknya

402
Tabel 8.1. Bahan ekstrak dari tumbuh-tumbuhan serta dosisnya.

Bahan organik Bahan aktif Dosis

Akar tuba Rotenon 10 kg/ha


Biji teh Saponin 150 – 200 kg/ha
Tembakau Nikotin 200 – 400 kg/ha

Ada beberapa tindakan Penanggulangan Ikan Gabus


penanggulangan serangan hama 1. Memasang saringan di pintu
yang dapat dilakukan, antara lain pemasukan air kolam, sehingga
adalah sebagai berikut : hama ikan gabus tidak dapat
masuk.
Penanggulangan Ular 2. Mempertinggi pematang kolam
1. Ular tidak menyukai tempat- agar ikan gabus dari saluran atau
tempat yang bersih. Karena itu, kolam lain tidak dapat loncat ke
cara menghindari serangan hama kolam yang berisi ikan.
ular adalah dengan mejaga
kebersihan lingkungan kolam. 8.1.2. Penyakit Ikan
2. Karena ular tidak dapat
bersarang di pematang tembok, Penyakit adalah terganggunya
sebaiknya dibuat pematang dari kesehatan ikan yang diakibatkan
beton atau tembok untuk oleh berbagai sebab yang dapat
menghindari serangannya. mematikan ikan. Secara garis besar
3. Perlu dilakukan pengontrolan penyakit yang menyerang ikan dapat
pada malam hari. Jika ada ular, dikelompokkan menjadi dua, yaitu
bisa langsung dibunuh dengan penyakit infeksi (penyakit menular)
pemukul atau dijerat dengan tali. dan non infeksi (penyakit tidak
menular). Penyakit menular adalah
Penanggulangan Belut penyakit yang timbul disebabkan
1. Sebelum diolah, sebaiknya kolam oleh masuknya makhluk lain
digenangi air setinggi 20 – 30 cm, kedalam tubuh ikan, baik pada
kemudian diberi obat pembasmi bagian tubuh dalam maupun bagian
hama berupa akodan dengan tubuh luar. Makhluk tersebut antara
dosis rendah, yakni 0,3 – 0,5 cc lain adalah virus, bakteri, jamur dan
per meter kubik air. parasit. Penyakit tidak menular
2. Setelah diberi pembasmi hama, adalah penyakit yang disebabkan
kolam dibiarkan selama 2 hari antar lain oleh keracunan makanan,
hingga belut mati. Selanjutnya air kekurangan makanan atau kelebihan
dibuang. makanan dan mutu air yang buruk.

Penyakit yang muncul pada ikan


selain di pengaruhi kondisi ikan yang

403
lemah juga cara penyerangan dari Beberapa tindakan pencegahan
organisme yang menyebabkan penyakit yang dapat dilakukan
penyakit tersebut. Faktor-faktor yang sebagai berikut:
menyebabkan penyakit pada ikan
1. Sebelum pemeliharaan, kolam
antara lain :
harus dikeringkan dan dikapur
1. Adanya serangan organisme
untuk memotong siklus hidup
parasit, virus, bakteri dan jamur.
penyakit.
2. Lingkungan yang tercemar
2. Kondisi lingkungan harus tetap
(amonia, sulfida atau bahan-
dijaga, misalnya kualitas air tetap
bahan kimia beracun)
baik.
3. Lingkungan dengan fluktuasi ; 3. Pakan tambahan yang diberikan
suhu, pH, salinitas, dan harus sesuai dengan dosis yang
kekeruhan yang besar dianjurkan. Jika berlebihan dapat
mengganggu lingkungan dalam
4. Pakan yang tidak sesuai atau gizi
kolam.
yang tidak sesuai dengan
4. Penanganan saat panen harus
kebutuhan ikan
baik dan benar untuk
5. Kondisi tubuh ikan sendiri yang menghindari agar ikan tidak luka-
lemah, karena faktor genetik luka.
(kurang kuat menghadapi 5. Harus dihindari masuknya
perubahan lingkungan). binatang pembawa penyakit
seperti burung, siput atau keong
Oleh karena itu untuk mencegah mas.
serangan penyakit pada ikan dapat
dilakukan dengan cara antara lain ; Penyakit dapat diartikan sebagai
mengetahui sifat dari organisme organisme yang hidup dan
yang menyebabkan penyakit, berkembang di dalam tubuh ikan
pemberian pakan yang sesuai sehingga organ tubuh ikan
(keseimbangan gizi yang cukup), terganggu. Jika salah satu atau
hasil keturunan yang unggul dan sebagian organ tubuh terganggu,
penanganan benih ikan yang baik akan terganggu pula seluruh jaringan
(saat panen dan transportasi benih). tubuh ikan . Pada prinsipnya
Dalam hal penanganan saat penyakit yang menyerang ikan tidak
tranportasi benih, agar benih ikan datang begitu saja, melainkan
tidak mengalami stress perlu melalui proses hubungan antara tiga
perlakuan sebagai berikut antara faktor, yaitu kondisi lingkungan
lain; dengan pemberian KMnO4, (kondisi di dalam air), kondisi inang
fluktuasi suhu yang tidak tinggi, (ikan) dan kondisi jasad patogen
penambahan O2 yang tinggi, pH (agen penyakit). Dari ketiga
yang normal, menghilangkan bahan hubungan faktor tersebut dapat
yang beracun serta kepadatan benih mengakibatkan ikan sakit. Sumber
dalam wadah yang optimal. penyakit atau agen penyakit itu
antara lain adalah parasit, cendawan
atau jamur, bakteri dan virus.

404
Di lingkungan alam, ikan dapat Penyakit non infeksi
diserang berbagai macam penyakit.
Demikian juga dalam Gejala keracunan dapat diidentifikasi
pembudidayaannya, bahkan penyakit dari tingkah laku ikan. Biasanya ikan
tersebut dapat menyerang ikan yang mengalami keracunan terlihat
dalam jumlah besar dan dapat lemah dan berenang tidak normal
menyebabkan kematian ikan, dipermukaan air. Pada kasus yang
sehingga kerugian yang berbahaya, ikan berenang terbalik
ditimbulkannya pun sangat besar. kemudian mati. Penyakit karena
Penyebaran penyakit ikan di dalam kurang gizi, ikan tampak kurus dan
wadah budidaya sangat bergantung kepala terlihat lebih besar, tidak
pada jenis sumber penyakitnya, seimbang dengan ukuran tubuh. Ikan
kekuatan ikan (daya tahan tubuh juga akan terlihat kurang lincah.
ikan) dan kekebalan ikan itu sendiri
terhadap serangan penyakit. Selain Untuk mencegah terjadinya
itu cara penyebaran penyakit itu keracunan, pakan harus diberikan
biasanya terjadi melalui air sebagai secara selektif dan lingkungan dijaga
media tempat hidup ikan, kontak agar tetap bersih. Bila tingkat
langsung antara ikan yang satu keracunan tidak terlalu parah atau
dengan ikan yang lainnya dan masih dalam taraf dini, ikan-ikan
adanya inang perantara. yang stress dan berenang tidak
normal harus segera diangkat dan
ditempatkan pada wadah yang berisi
Jenis-jenis Penyakit
air bersih, segar dan dilengkapi
dengan suplai oksigen.
1. Penyakit non-infeksi adalah
penyakit yang timbul akibat
Untuk mencegah kekurangan gizi,
adanya gangguan faktor yang
pemberian pakan harus terjadwal
bukan patogen. Penyakit non-
dan jumlahnya cukup. Pakan yang
infeksi tidak menular. Penyakit
diberikan harus dipastikan
non-infeksi yang banyak
mengandung kadar protein tinggi
ditemukan adalah keracunan dan
yang dilengkapi lemak, vitamin A,
kekurangan gizi. Keracunan
mineral. Selain itu, kualitas air tetap
dapat disebabkan oleh
dijaga agar selalu mengalir lancar
pemberian pakan yang berjamur,
dan parameter kimia maupun biologi
berkuman dan pencemaran
mencukupi standar budidaya.
lingkungan perairan.
2. Penyakit akibat infeksi biasanya
Penyakit infeksi
timbul karena gangguan
1. Penyakit yang disebabkan virus,
organisme pathogen. Organisme
antara lain adalah Infectious
pathogen yang menyebabkan
Pancreatic Necrosis (IPN), Viral
infeksi biasanya berupa parasit,
Haemorrhagic Septicaemia
jamur, bakteri atau virus.
(VHS), Channel Catfish Virus
(CCV), Infectious Haemopotic
Necrosis (IHN).

405
2. Penyakit yang disebabkan oleh morfologi dari berbagai jenis penyakit
bakteri, antara lain adalah yang biasa menyerang ikan budidaya.
Flexibacter columnaris,
Edwardsiella tarda, Edwardsiela
4. Ichthyophthirius multifiliis.
ictalurus, Vibrio anguillarum,
Aeromonas hydrophylla,
Ichthyophthirius multifiliis adalah
Aeromonas salmonicida.
jenis parasit yang digolongkan
3. Penyakit yang disebabkan oleh
kedalam phylum Protozoa,
jamur, antara lain adalah
subphylum Ciliophora, kelas Ciliata,
Ichthyoponus sp,
subkelas Holotrichia, Ordo
Branchyomycetes sp,
Hymenostomatida, famili
Saprolegnia sp dan Achlya sp.
Ophryoglenia dan genus
4. Penyakit yang disebabkan oleh
Ichthyophthirius multifiliis (Hoffman,
parasit. Jenis parasit ada
1967). Kecuali pada bagian anterior
beberapa macam yaitu
yang berbentuk cincin (cystome),
endoparasit dan ektoparasit.
hampir di seluruh permukaan tubuh
Yang termasuk kedalam
Ichthyophthirius multifiliis tertutup
endoparasit antara lain adalah
oleh silia yang berfungsi untuk
protozoa dan trematoda,
pergerakannya, bagian
sedangkan ectoparasit adalah
sitoplasmanya terdapat
crustacean. Penyakit yang
makronukleus yang berbentuk
disebabkan oleh protozoa antara
seperti tapal kuda, mikronukleus (inti
lain adalah Ichtyopthirius
yang kecil) yang menempel pada
multifiliis, Myxobolus sp,
makronukleus dan sejumlah vakuola
Trichodina sp, Myxosoma sp,
kontraktil Untuk lebih jelasnya dapat
Henneguya sp dan Thelohanellus
di lihat pada Gambar 8.1.
sp. Penyakit yang disebabkan
oleh trematoda antara lain adalah
Dactylogyrus sp, Gyrodactylus sp
dan Clinostomum sp. Penyakit
yang disebabkan oleh crustacean
antara lain adalah Argulus sp,
Lernea cyprinaceae.

Untuk memahami tentang berbagai


jenis penyakit infeksi dan bagaimana
para pembudidaya melakukan
tindakan pencegahan dan
pengobatan pada ikan yang
terserang penyakit, maka harus Gambar 8.1. Ichthyophthirius
dipahami terlebih dahulu tentang multifiliis
morfologi dari macam-macam
penyakit tersebut. Oleh karena itu Ichthyophthirius multifiliis menye-
dalam penjelasan berikut akan babkan penyakit bintik putih atau
diuraikan tentang biologi dan White spot disease atau Ich. Parasit
ini dapat menginfeksi kulit, insang

406
dan mata pada berbagai jenis ikan
baik ikan air tawar, payau dan laut.
Parasit ini mempunyai panjang tubuh
0,1 – 1,0 mm dan dapat
menyebabkan kerusakan kulit dan
dapat menyebabkan kematian.
Parasit ini berkembangbiak dengan
cara membelah biner. Individu muda
parasit ini memiliki diameter antara
30 – 50 ȝm dan individu dewasanya
dapat mencapai ukuran diameter 50–
100 ȝm. Siklus hidupnya dimulai dari
stadium dewasa atau stadium
memakan (tropozoit) yang
berkembang dalam kulit atau
jaringan epitelium insang dari inang.
Setelah fase makannya selesai, Gambar 8.2. Siklus hidup
Ichthyophthirius multifiliis akan Ichthyophthirius multifiliis
memecahkan epithelium dan keluar
dari inangnya untuk membentuk kista. Cara penyerangan parasit ini dengan
Larva-larva berkista tersebut akan menempel pada lapisan lendir
menempel pada tumbuhan, batuan bagian kulit ikan, parasit ini akan
atau obyek lain yang ada di perairan. menghisap sel darah merah dan sel
Kemudian membelah hingga sepuluh pigmen pada kulit ikan. Ikan yang
kali melalui pembelahan biner yang terserang parasit ini memperlihatkan
menghasilkan 100 – 2000 sel bulat gejala sebagai berikut :
berdiameter 18 – 22 ȝm. Sel-sel itu
x produksi lendir yang berlebihan.
akan memanjang seperti cerutu
x adanya bintik-bintik putih (white
berdiameter 10 X 40 ȝm dan
spote)
mengeluarkan enzim hyaluronidase.
Enzim tersebut digunakan untuk x frekuensi pernafasan
memecahkan kista sehingga tomit meningkat
(sel-sel muda) yang dihasilkan dapat x pertumbuhan terhambat
berenang bebas dan segera
mendapatkan inang baru. Tomit-
tomit itu motil dan bersifat infektif 2. Cyclochaeta domerguei
sampai berumur 4 hari dan akan mati
jika dalam waktu 48 jam tidak segera Hewan ini termasuk protozoa, jenis
menemukan inang yang baru. Untuk protozoa ini mempunyai nama lain
lebih jelasnya dapat dilihat pada Trichodina . Jenis parasit ini
Gambar 8.2. berbentuk seperti setengah bola
dengan bagian tengah (dorsal)
cembung, sedangkan mulut pada
bagian ventral. Pada bagian mulut
dilengkapi alat penghisap dengan
dilengkapi suatu alat dari chitine

407
yang melingkari mulut. Alat chitine ini Myxosporea, ordo Cnidosporodia,
berbentuk seperti jangkar (anchor). subordo Myxosporidia, famili
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Myxobolidae yang merupakan
pada Gambar 8.3 dan Gambar 8.4. bagian dari filum Myxozoa dan
Gejala adanya serangan parasit ini termasuk kedalam kelompok
adalah pendarahan pada kulit ikan, endoparasit. Kunci identifikasi yang
pucat, ikan berlendir banyak. penting dari keempat jenis parasit ini
adalah pada sporanya, yang
merupakan fase resisten dan alat
penyebaran populasi. Spora
myxosorea terdiri atas dua valve,
yang dibatasi oleh sebuah suture.
Pada valve terdapat satu atau dua
polar kapsul yang penting untuk
identifikasi. Spora pada parasit kelas
Cnidosporidia ini mempunyai
cangkang, kapsul polar dan
sporoplasm. Di dalam kapsul polar
terdapat filament polar. Bila spora
memiliki dua kapsul polar maka
digolongkan ke dalam genus
Myxobolus sp dan bila hanya
Gambar 8.3. Trichodina tampak memiliki satu kapsul polar maka
bawah akan digolongkan kedalam genus
Thellohanellus. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar 8.5, 8.6,
8.7 dan 8.8.

Gambar 8.4. Trichodina tampak atas

3. Myxobulus sp, Myxosoma sp,


Thellohanellus sp dan
Henneguya sp.

Keempat jenis parasit ini merupakan Gambar 8.5. Myxobulus sp.


penyebab penyakit Myxosporeasis.
Penyakit ini disebabkan oleh parasit
dari kelas Sporozoa, subkelas

408
Gejala infeksi pada ikan antara lain
adanya benjolan pada bagian tubuh
luar (bintil) yang berwarna kemerah-
merahan. Bintil ini sebenarnya berisi
ribuan spora yang dapat
menyebabkan tutup insang ikan
selalu terbuka. Jika bintil ini pecah,
maka spora yang ada di dalamnya
akan menyebar seperti plankton.
Spora ini berukuran 0,01 – 0,02 mm,
sehingga sering tertelan oleh ikan.
Gambar 8.6.Myxosoma sp. Pengaruh serangan myxosporea
tergantung pada ketebalan serta
lokasi kistanya. Serangan yang berat
pada insang menyebabkan
gangguan pada sirkulasi pernafasan
serta penurunan fungsi organ
pernafasan. Sedangkan serangan
yang berat pada jaringan bawah kulit
dan insang menyebabkan
berkurangnya berat badan ikan,
gerakan ikan menjadi lambat, warna
tubuh menjadi gelap dan system
syaraf menjadi lemah.

Gambar 8.7. Thellohanellus sp.


4. Dactylogyrus sp

Dactylogyrus sp digolongkan ke
dalam phylum Vermes, subphylum
Platyhelmintes, kelas Trematoda,
ordo Monogenea, famili
Dactylogyridae, subfamily
Dactylogyrinae dan genus
Dactylogyrus . Hewan parasit ini
termasuk cacing tingkat rendah
(Trematoda). Dactylogyrus sp sering
menyerang pada bagian insang ikan
air tawar, payau dan laut. Pada
bagian tubuhnya terdapat posterior
Haptor. Haptornya ini tidak memiliki
Gambar 8.8. Henneguya sp. struktur cuticular dan memiliki satu
pasang kait dengan satu baris
kutikular, memiliki 16 kait utama,

409
satu pasang kait yang sangat kecil. kelompok sel embrionik.
Dactylogyrus sp mempunyai Ophisthaptor individu dewasa tidak
ophistapor (posterior suvker) dengan mengandung batil isap, tetapi
1 – 2 pasang kait besar dan 14 kait memiliki sederet kait-kait kecil
marginal yang terdapat pada bagian berjumlah 16 buah disepanjang
posterior. Kepala memiliki 4 lobe tepinya dan sepanjang kait besar di
dengan dua pasang mata yang tengah-tengah, terdapat dua tonjolan
terletak di daerah pharynx. Untuk yang menyerupai kuping. Untuk lebih
lebih jelasnya dapat dilihat pada jelasnya dapat dilihat pada Gambar
Gambar 8.9. Gejala infeksi pada ikan 8.10. Gejala infeksi pada ikan antara
antara lain : pernafasan ikan lain : pernafasan ikan meningkat,
meningkat, produksi lendir berlebih. produksi lendir berlebih.

Gambar 8.10. Gyrodactilus sp.


Gambar 8.9. Dactylogyrus sp

6. Lernea sp.
5. Gyrodactilus sp.
Parasit ini termasuk crustacea
Gyrodactilus sp digolongkan (udang-udangan tingkat rendah). Ciri
kedalam phylum Vermes, subphylum parasit ini adalah jangkar yang
Platyhelmintes, kelas Trematoda, menusuk pada kulit ikan dengan
ordo Monogenea, famili bagian ekor (perut) yang bergantung,
Gyrodactylidae, subfamily dua kantong telur berwarna hijau.
Gyrodactylinae dan genus Jenis parasit ini biasa disebut
Gyrodactilus. Hewan parasit ini dengan cacing jangkar karena
termasuk cacing tingkat rendah bentuk tubuhnya yaitu bagian
(Trematoda). Gyrodactilus sp kepalanya seperti jangkar yang akan
biasanya sering menyerang ikan air dibenamkan pada tubuh ikan
tawar, payau dan laut pada bagian sehingga parasit ini akan terlihat
kulit luar dan insang. Parasit ini menempel pada bagian tubuh ikan
bersifat vivipar dimana telur yang terserang parasit ini. Parasit ini
berkembang dan menetas di dalam sangat berbahaya karena menghisap
uterusnya. Memiliki panjang tubuh cairan tubuh ikan untuk
berkisar antara 0,5 – 0,8 mm, hidup perkembangan telurnya. Selain itu
pada permukaan tubuh ikan dan bila parasit ini mati, akan
biasa menginfeksi organ-organ meninggalkan berkas lubang pada
lokomosi hospes dan respirasi. Larva kulit ikan sehingga akan terjadi
berkembang di dalam uterus parasit infeksi sekunder oleh bakteri. Parasit
tersebut dan dapat berisi kelompok- ini dalam siklus hidupnya mengalami

410
tiga kali perubahan tubuhnya yaitu 7. Argulus indicus
nauplius, copepodit dan bentuk
dewasa. Dalam satu siklus hidupnya Argulus indicus merupakan salah
membutuhkan waktu berkisar antara satu ektoparasit yang termasuk
21 – 25 hari. Individu dewasa dapat kedalam phylum Arthropoda, kelas
terlihat secara kasat mata dan pada Crustacea, subkelas Entomostsaca,
bagian bawah tubuhnya pada ordo copepoda, subordo Branchiora,
individu betina mempunyai sepasang famili Argulidae, genus Argulus. Ciri-
kantung telur. Kantung telur ini akan ciri parasit ini adalah bentuk seperti
menetas dan naupliusnya akan kutu berwarna keputih-putihan,
berenang keluar dari dalam kantung menempel pada bagian tubuh ikan,
untuk mencari ikan lainnya. Untuk mempunyai alat penghisap, sehingga
lebi jelasnya dapat di lihat pada biasa disebut juga dengan nama
Gambar 8.11. kutu ikan. Alat penghisap ini akan
menghisap darah ikan. Oleh karena
itu ikan yang terserang akan
menurun pertumbuhannya serta
akan mengakibatkan pendarahan
pada kulit. Tubuh Argulus indicus
mempunyai dua alat penghisap
dibagian bawah tubuhnya, berupa
alat yang akan menusukkan alat
tersebut kedalam tubuh ikan yang
diserang. Pada pinggiran
karapacenya terdapat empat pasang
kaki yang berfungsi untuk berjalan
pada bagian tubuh ikan, berenang
bebas dan berpindah dari satu ikan
ke ikan yang lain.

Perkembangbiakan terjadi secara


kawin karena jenis Argulus indicus ini
ada jantan dan betina, ukuran tubuh
jantan lebih kecil daripada betina.
Daur hidup Argulus indicus terjadi
selama 28 hari dimana 12 hari untuk
fase telur dan menetas sedangkan
fase larva sampai dewasa
membutuhkan waktu berkisar 16 hari.
Larva Argulus indicus dapat hidup
tanpa ikan selama 36 jam sedangkan
Gambar 8.11. Lernea sp.
individu dewasa dapat hidup tanpa
inang selama 9 hari. Jumlah telur
yang dihasilkan dari individu betina
berkisar antara 50 - 250 butir. Telur
yang dihasilkannya akan diletakkan

411
pada berbagai benda yang ada di
dalam perairan. Telur akan menetas
menjadi larva setelah beberapa kali
berganti kulit akan berubah menjadi
dewasa. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 8.12.

Gambar 8. 13. Saprolegnea sp

Gambar 8.12. Argulus indicus


tampak bawah

8. Saprolegnea sp dan Achlya sp.

Kedua organisme ini termasuk jenis


jamur yang sangat berbahaya bila
lingkungan air sangat tercemar oleh Gambar 8.14. Achlya sp
bahan organik. Ciri-ciri jamur ini
adalah adanya benang pada tubuh
ikan yang lemah kondisi tubuhnya. 9. Aeromonas sp, Pseudomonas
Hifa dari jamur dapat masuk ke sp, Flexibacter columnaris,
dalam otot ikan bagian dalam dan Edwardsiella sp
dapat menyebabkan kematian ikan.
Pada umumnya jamur ini biasanya Keempat organisme tersebut
menyerang ikan-ikan yang lemah termasuk jenis bakteri yang sangat
karena terserang penyakit lain berbahaya bagi ikan, terutama ikan
seperti ektoparasit. Selain itu dapat yang tidak bersisik. Serangan bakteri
menyerang telur-telur ikan yang tidak tersebut terjadi bila ikan dalam
dibuahi atau yang berkualitas buruk. kondisi antara lain; pakan yang tidak
Secara kasat mata jamur ini hanya seimbang kandungan gizinya,
terlihat berwarna putih dan untuk lingkungan air yang kandungan
melihat secara jelas harus organiknya tinggi, fluktuasi
menggunakan alat bantu mikroskop. parameter kualitas air yang besar,
Bentuk jamur dengan bantuan alat infeksi sekunder yang disebabkan
bantu mikroskop ini dapat dilihat oleh serangan parasit dan faktor
pada Gambar 8.13 dan 8.14.. genetik (ikan tidak cukup kebal oleh

412
serangan bakteri). Ciri-ciri serangan x Pemeliharaan ikan yang benar-
bakteri tersebut adalah adanya benar bebas penyakit.
bercak merah pada kulit, insang dan x Hindari penebaran ikan secara
organ bagian dalam. Umumnya bila berlebihan melebihi kapasitas
tidak diobati dapat menyebabkan atau daya dukung kolam
penyebaran yang sangat luas dan pemeliharaan.
menyebabkan kematian ikan secara x Sistem pemasukan air yang ideal
massal. adalah paralel, tiap kolam diberi
satu pintu pemasukan air.
x Pemberian pakan cukup, baik
kualitas maupun kuantitasnya.
x Penanganan saat panen atau
pemindahan benih hendaknya
dilakukan secara hati-hati dan
benar.
x Binatang seperti burung, siput,
ikan seribu (Lebistus reticulatus
peters) sebagai pembawa
penyakit jangan dibiarkan masuk
ke areal perkolaman.
Gambar 8.16. Aeromonas sp

8.2.1. Pencegahan Hama


10. Epithelioma papulasum,
Herpesvirus, Lymphocystis
Pada pemeliharaan ikan di kolam
Ketiga organisme ini termasuk hama yang mungkin menyerang
kedalam kelompok virus yang dapat antara lain lingsang, kura-kura,
menyerang ikan budidaya baik ikan biawak, ular air, dan burung. Hama
air tawar, payau maupun laut. Jika lain berupa hewan pemangsa lainnya
ikan terserang virus maka ikan akan seperti; udang, dan seluang
sulit sekali untuk dilakukan (Rasbora). Ikan-ikan kecil yang
pengobatan dan ikan yang terserang masuk kedalam kolam akan menjadi
virus akan mati secara massal. pesaing ikan yang dipelihara dalam
hal mencari makan dan memperoleh
oksigen. Untuk menghindari
serangan hama pada kolam
sebaiknya semak belukar yang
8.2. PENCEGAHAN HAMA tumbuh di pinggir dan disekitar kolam
DAN PENYAKIT IKAN dibersihkan. Cara untuk menghindari
dari serangan burung bangau
Secara umum hal-hal yang dapat
(Leptotilus javanicus), pecuk
dilakukan untuk mencegah timbulnya
(Phalacrocorax carbo sinensis),
hama dan penyakit pada kegiatan
blekok (Ramphalcyon capensis
budidaya ikan antara lain adalah :
capensis) adalah dengan menutupi
x Pengeringan dasar kolam secara
bagian atas kolam dengan
teratur setiap selesai panen.

413
lembararan jaring. Cara ini berfungsi tertentu sehingga dapat menahan
ganda, selain burung tidak dapat atau menangkap partikel-partikel
masuk, juga ikan tidak akan yang berukuran lebih besar dari
melompat keluar. diameter media filter tersebut
(Gambar 8.17).
8.2.2. Pencegahan Parasit
dengan Penyaringan Air Sistem
Filter Mekanik

Filter mekanik merupakan sebuah


alat untuk memisahkan
material padatan dari air secara
fisika (berdasarkan ukurannya),
dengan cara menangkap/menyaring
material-material tersebut sehingga
tidak terbawa pada air
pemasukan. Material-material Gambar 8.17. Mekanisme Kerja
tersebut dapat berupa suspensi Filter Mekanik
partikel kecil atau parasit ikan. Oleh
karena itu fungsi filter mekanik selain
menyaring partikel juga parasit yang Gambar 8.17 menunjukkan
berukuran besar tidak dapat masuk gambaran kasar tentang mekanisme
dalam kolam. kerja sebuah filter mekanik. Dalam
gambar itu tampak bahwa partikel
Partikel padatan dalam hal ini bukan yang berukuran lebih besar dari
merupakan bahan terlarut tetapi diameter (pori) media filter akan
merupakan suatu terperangkap dalam filter sedangkan
suspensi. Ukurannya dapat partikel-partikel yang lebih kecil dan
bervariasi dari sangat kecil, juga air akan lolos.
hingga tidak bisa dilihat oleh mata
(sebagai contoh: partikel, plankton, Sebuah wadah atau bak kosong
organisme parasit, bakteri yang dapat pula berfungsi sebagai filter
menyebabkan air keruh). Partikel- mekanik. Akan tetapi proses yang
partikel ini dapat terperangkap dalam terjadi bukan melalui penyaringan
berbagai jenis media, dengan syarat partikel melainkan melalui proses
diameter lubangnya atau porinya pengendapan. Hal ini dimungkinkan
lebih kecil dari diameter dengan membuat aliran air serendah
partikel. Media tersebut dapat mungkin sehingga kecepatan partikel
berupa kapas sintetis atau bahan mengendap menjadi lebih besar
berserabut lain, spong, kaca atau daripada laju aliran air. Bak
keramik berpori, kerikil, pasir, dll. pengendapan umum digunakan
dalam manajeman kolam ikan
Bahan yang diperlukan untuk sebuah (seperti kolam ikan koi).
filter mekanik adalah berupa bahan
yang tahan lapuk, memiliki lubang- Media filter mekanik (bahan yang
lubang (pori-pori) dengan diameter digunakan untuk menyaring atau

414
menangkap partikel) memiliki ukuran akan tersumbat total sehingga gagal
diamater lubang atau ukuran pori berfungsi (Gambar 8.18)
beragam, dari satuan mikron
(sepersejuta meter) hingga satuan
sentimeter (seperseratus meter),
tergantung dari bahan yang
digunakan. Diatom atau membran
berpori-mikro, misalnya,
memiliki pori-pori dengan satuan
ukuran mikron sehingga selain dapat
menahan suspensi juga dapat
menangkap infusoria, bakteri dan
algae bersel tunggal. Sedangkan Gambar 8.18. Penumpukan partikel-
jenis yang lain bisa mempunyai partikel pada media filter mekanik.
ukuran pori lebih besar. Hal yang
menarik dari ukuran pori ini adalah Meskipun pada awalnya akan dapat
diameter efektifnya. Seperti terlihat meningkatkan efektifitas filter, tapi
pada gambar 8.17, secara alamiah dalam jangka waktu tertentu akan
akan terjadi bahwa efektifitas filter menyebabkan terjadinya
mekanik akan meningkat dengan penyumbatan sehingga filter gagal
berjalannya waktu. Diameter pori berfungsi.
filter yang semula hanya dapat
menangkap partikel yang berkukuran Hal yang umum terjadi adalah
lebih besar dari diameter porinya, semakin halus pori-pori media filter
dengan berjalannya waktu akan mekanik yang digunakan akan
dapat pula menangkap partikel yang semakin cepat pula penyumbatan
berukuran lebih kecil. Hal demikian terjadi. Apabila penggunakan media
dapat terjadi, karena dengan adanya sangat halus ini perlu dilakukan
halangan yang diakibatkan oleh maka dengan menggunakan sistem
partikel yang terjebak dan menutup filter mekanik bertingkat akan dapat
lubang pori semula maka menolong mengurangi resiko
ukuran pori efektif yang berfungsi terjadinya penyumbatan dengan
akan semakin mengecil, sehingga cepat.
partikel lebih kecilpun lama-
kelamaan akan bisa Filter mekanik perlu dirawat dan
tertangkap. Keadaan ini dapat dibersihkan secara periodik agar
membawa kesimpulan yang salah, dapat tetap berfungsi dengan
bahwa filter mekanik semakin lama baik. Kontrol terhadap kondisi filter
akan semakin efektif. Pada ini sebaiknya dilakukan secara
kenyataannya tidak demikian, rutin. Apabila media sudah tidak
dengan semakin "efektifnya" filter dapat lagi berfungsi dengan baik
mekanik akan membawa ke keadaan karena rusak atau terdekomposisi,
dimana tidak akan ada lagi sebuah maka perlu dilakukan penggantian
partikelpun, termasuk air, yang bisa dengan media baru.
dilewatkan. Dengan kata lain filter

415
Selain itu agar dapat melakukan seksama agar semua kotoran
pembuatan filter secara mekanik hilang.
yang akan digunakan dalam kolam 3. Bersihkan bahan dengan
pemeliharaan ikan dapat dilakukan membilaskan air bersih
dengan prosedur sebagai berikut : 4. Susunlah bahan filter seperti
gambar dibawah ini
1. Siapkan alat dan bahan 5. Pasang frame besi dengan kawat
pembuatan filter kasanya
2. Bersihkan wadah.dan peralatan 6. Pasang pompa diatas kotak
dengan menyikat secara plastik.
7. Jalankan pompa, catat kondisi air
yang keluar.

Air menuju kolam

Pasir halus

Frame besi dan kawat


kasa

Kerikil kasar/ potongan


plastik

Air dari kolam

Gambar 8.19. Filter mekanik.

8.2.3. Pencegahan terhadap dasarnya white spot termasuk


beberapa penyakit mudah dihilangkan apabila diketahui
secara dini. Berbagai produk anti
white spot banyak dijumpai di toko-
Pencegahan terhadap white spot
toko perikanan. Produk ini biasanya
terdiri dari senyawa-senyawa kimia
Tindakan karantina terhadap ikan seperti metil biru, malachite green,
yang akan dipelihara merupakan dan atau formalin. Meskipun
tindakan pencegahan yang sangat demikian, ketiga senyawa itu tidak
dianjurkan dalam menghindari akan mampu menghancurkan fase
berjangkitnya white spot. Pada infektif yang hidup di dalam tubuh

416
kulit ikan. Oleh karena itu, Ikan yang lolos dari serangan white
pemberian bahan ini harus dilakukan spot diketahui akan memiliki
berulang-ulang untuk menghilang- kekebalan terhadap penyakit
kan white spot secara menyeluruh tersebut. Kekebalan ini dapat
dari wadah pemeliharaan. bertahan selama beberapa minggu
atau beberapa bulan. Meskipun
Perlu diperhatikan bahwa spesies demikian ketahanan ini dapat
ikan tertentu, khususnya yang tidak menurun apabila ikan yang
bersisik, seperti lele, diketahui bersangkutan mengalami stres atau
sangat tidak toleran terhadap terjangkit penyakit lain.
produk-produk anti white spot, oleh
karena itu, perhatikan cara Untuk mencegah agar tidak
pemberian obat-obatan tersebut berjangkit penyakit bintik putih, air
pada kemasannya dengan baik kolam harus sering diganti atau dialiri
air baru yang segar dan jernih. Harus
Perlakuan perendaman dengan dijaga agar air buangan ini tidak
garam dalam jangka panjang menularkan kepada ikan di kolam-
(selama 7 hari pada dosis 2ppt (part kolam lain.
per thousand)) diketahui dapat
menghilangkan white Pencegahan terhadap jamur
spot. Perlakuan ini hanya dapat
dilakukan pada ikan-ikan yang tahan Pencegahan jamur dapat dilakukan
terhadap garam. dengan cara menjaga kualitas air
agar kondisinya tetap baik. Agar ikan
Wadah dapat dibersihkan dari white tidak terluka, perlakuan hati-hati
spot dengan cara memindahkan pada saat pemeliharaan ikan sangat
seluruh ikan dari wadah perlu diperhatikan.
tersebut. Pada lingkungan tanpa
ikan sebagai inang, fase berenang
dari whte spot akan mati dengan Pencegahan terhadap bakteri
sendirinya. Pada wadah
pemeliharaan ikan dengan suhu Pada umumnya bibit penyakit,
diatas 21°C, akan terbebas dari apalagi berupa bakteri yang sangat
white spot setelah dibiarkan selama kecil dan sudah tersebar di semua
4 hari. Akan lebih aman lagi apabila perairan, sukar sekali diberantas
wadah tersebut dibiarkan selama 7 sampai tuntas. Karena air
hari. Semua peralatan budidaya juga merupakan media penular yang
akan terbebas dari white spot setelah membawa bibit-bibit penyakit secara
dibiarkan selama 7 hari. luas. Maka cara pencegahanlah
yang harus dipahami benar-benar
Radiasi dengan sinar ultra violet oleh petani ikan. Ikan akan terhindar
dapat pula membantu mengurangi dari wabah penyakit apabila ikan
populasi white spot. selalu dalam kondisi yang baik.
Kondisi baik artinya, makanan cukup,
keadaan lingkungan baik, bersih dari
segala pencemaran, agar ikan-ikan

417
berdaya tahan tinggi untuk secara anatomis maupun fisiologis.
membentuk kekebalan alamiah Secara anatomis terjadi kelainan
terhadap berbagai penyakit. bentuk bagian-bagian tubuh ikan
seperti bagian badan, kepala, ekor,
sirip dan perut. Secara fisiologis
terjadi kelainan fungsi organ seperti;
8.3. GEJALA SERANGAN penglihatan, pernafasan,
pencernaan, sirkulasi darah dan lain-
PENYAKIT
lain. Gejala yang diperlihatkan dapat
berupa kelainan perilaku atau
Berdasarkan tempat tumbuhnya
penampakan kerusakan bagian
penyakit di dalam tubuh ikan maka
tubuh ikan. Adapun ciri-ciri ikan sakit
bagian tubuh ikan yang diserang
adalah sebagai berikut;
penyakit dapat dikelompokkan
1. Behaviour (perilaku ikan)
menjadi dua yaitu :
x Ikan sering berenang di
1. Bagian luar tubuh ikan yaitu kulit,
sirip, mata, hidung dan insang. permukaan air dan terlihat
terengah-engah (megap-
Ikan yang terserang penyakit
megap).
pada kulitnya akan terlihat lebih
pucat dan berlendir. Ikan tersebut x Ikan sering menggosok-
biasanya akan menggosok- gosokan tubuhmya pada
gosokkan tubuhnya pada benda- suatu permukaan benda.
benda yang ada di sekitarnya. x Ikan tidak mau makan (nafsu
Sedangkan serangan penyakit makan menurun).
pada insang menyebabkan ikan x Untuk jenis ikan yang sering
sulit bernafas, tutup insang berkelompok, maka ikan yang
mengembang dan warna insang sakit akan memisahkan diri
menjadi pucat. Pada lembaran dan berenang secara pasif
insang sering terlihat bintik-bintik 2. Equilibriun
merah karena pendarahan kecil Equibriun artinya keseim-bangan,
(peradangan). ikan yang terserang penyakit
2. Bagian dalam tubuh ikan. keseimbangannya terganggu,
Penyakit yang menyerang organ maka ikan berenang oleng, dan
dalam sering mengakibatkan loncat-loncat tidak teratur,
perut ikan membengkak dengan bahkan menabrak dinding bak.
sisik yang berdiri. Sering pula 3. External lesion
dijumpai perut ikan menjadi kurus. Adalah abnomalitas dari organ
Jika menyerang usus, biasanya tubuh tertentu karena adamya
akan mengakibatkan peradangan serangan penyakit. External
dan jika menyerang gelembung lesion pada ikan antara lain:
renang, ikan akan kehilangan x Discoloration
keseimbangan pada saat Pada ikan sehat mempunyai
berenang. warna tubuh normal sesuai
dengan pigmen yang
Oleh karena itu ikan dikatakan sakit dimilikinya. Kelainan pada
bila terjadi suatu kelainan baik warna yang tidak sesuai

418
dengan pigmennya adalah 100 M
suatu discoloration. Seperti K=
warna gelap menjadi pucat L3
dan lain-lain.
x Produksi lendir Dimana :
Lendir pada ikan sakit akan M : berat ikan (gr)
berlebihan bahkan sampai L : panjang ikan (cm)
menyelimuti tubuh ikan
tergantung pada berat Ikan mempunyai nilai K yang
tidaknya tingkat infeksi. berbeda-beda tergantung jenisnya
x Kerusakan organ luar bila nilai K berubah dari normal maka
Kelainan bentuk organ ini ikan dikatakan sakit.
disebabkan oleh parasit Pada ikan mas sehat K = 1,9
tertentu yang menyebabkan sedangkan yang sakit K = 1,6 ikan
kerusakan organ seperti pada yang mempunyai K < 1,4 ikan tidak
kulit, sirip, insang dan lain- dapat hidup lagi.
lain. Pada insang dapat Gejala penampakan kerusakan
menyebabkan insang terlihat bagian tubuh ikan antara lain:
pucat atau adanya bercak
merah. 1. Dropsy

4. Faktor kondisi Dropsy merupakan gejala dari suatu


Pada ikan sehat mempunyai penyakit bukan penyakit itu sendiri.
korelasi antara bobot (M) dan Gejala dropsy ditandai dengan
panjang (L) ikan yang seimbang terjadinya pembengkakan pada
yaitu dengan rumus sebagai rongga tubuh ikan. Pembengkakan
berikut tersebut sering menyebabkan sirip
ikan berdiri sehingga
penampakannya akan menyerupai
buah pinus.

Gambar 8.19. Dropsy pada Platty (kiri) dan Cupang (kanan) . Tampak sisik
yang berdiri (mengembang) sehingga menyerupai bentuk buah pinus.

419
Gambar 8.20. Dropsy tampak samping, menunjukkan perut membuncit
sebagai akibat akumulasi cairan/lendir pada rongga perut.

Pembengkakan terjadi sebagai masalah osmoregulator ;pada ikan


akibat berakumulasinya cairan, atau yaitu,
lendir dalam rongga tubuh (Gambar x kualitas air yang kurang baik
8.21). Gejala ini disertai dengan, x menurunnya fungsi kekebalan
x malas bergerak, tubuh ikan,
x gangguan pernapasan, x malnutrisi atau karena faktor
x warna kulit pucat kemerahan genetik. malnutrisi atau karena
faktor genetik.
Infeksi utama biasanya terjadi
melalui mulut, yaitu ikan secara
sengaja atau tidak memakan kotoran
ikan lain yang terkontaminasi
patogen atau akibat kanibalisme
terhadap ikan lain yang terinfeksi.

2. Kelainan Gelembung Renang


Gambar 8.21. Akumulasi cairan
Gelembung renang (swimbladder)
Akumulasi cairan selain akan adalah organ berbentuk kantung
menyisakan rongga yang berisi udara yang berfungsi untuk
"menganga" lebar, juga akan mengatur ikan mengapung atau
menyebabkan organ dalam tubuh melayang di dalam air, sehingga ikan
ikan tertekan. Bila gelembung renang tersebut tidak perlu berenang terus
ikut tertekan dapat menyebabkan menerus untuk mempertahankan
keseimbangan ikan terganggu posisinya. Organ ini hampir ditemui
pada semua jenis ikan.
Secara alamiah bakteri penyebab
dropsy kerap dijumpai dalam Beberapa kelainan atau masalah
lingkungan, tetapi biasanya dalam dengan gelembung renang, yang
jumlah normal dan terkendali. umum dijumpai, adalah :
Perubahan bakteri ini menjadi
patogen, bisa terjadi karena akibat

420
x sebagai akibat dari luka bisa mengembang dan mengempis,
dalam, terutama akibat berkelahi sehingga menyebabkan ikan
atau mengapung dipermukaan atau
x karena kelainan bentuk tubuh. tenggelam. Dalam beberapa kasus
ikan tampak berenang dengan
Beberapa jenis ikan yang hidup di air kepala atau ekor dibawah atau
deras seringkali memiliki gelembung terapung pada salah satu sisi
renang yang kecil atau bahkan tubuhnya, atau bahkan berenang
hampir hilang sama sekali, karena terbalik.
dalam kondisi demikian gelembung
renang boleh dikatakan tidak ada
fungsinya. Untuk ikan-ikan jenis 3. Mata Berkabut (Cloudy Eye)
ini, kondisi gelembung renang
demikian adalah normal dan bukan Mata berkabut atau "cloudy eye"
merupakan suatu gejala penyakit. ditandai dengan memutihnya selaput
Mereka biasanya hidup di dasar atau mata ikan. Permukaan luar mata
menempel pada subtrat. tampak dilapisi oleh lapisan tipis
berwarna putih.
Secara umum gejala ini disebabkan
oleh
Kondisi kualitas air yang memburuk,
terutama sebagai akibat
meningkatnya kadar amonia dalam
air. Apabila gejala mata berkabut
terjadi, maka hal yang harus dicurigai
terlebih dahulu adalah kondisi
air. Koreksi parameter air hingga
sesuai dengan keperluan ikan yang
bersangkutan.
Apabila gejala ini terjadi, sedangkan
parameter air dalam keadaan normal,
maka terdapat kemungkinan gejala
Gambar 8.22. Contoh kasus kelainan tersebut disebabkan oleh hal lain.
gelembung renang (swim bladder)
pada ikan "red parrot", ikan berenang
dengan kepala di bawah. 4. Sembelit (Konstipasi)

Tanda-tanda penyakit kelainan Sembelit atau konstipasi


gelembung renang (constipation) merupakan gejala
Perilaku berenang tidak normal dan yang tidak jarang dijumpai pada ikan,
Kehilangan keseimbangan. dengan ciri utama ikan kehilangan
Ikan tampak kesulitan dalam nafsu makan, tidak bisa buang
menjaga posisinya dalam air. kotoran, dan malas (berdiam diri di
dasar). Dalam kasus berat bisa
Kerusakan gelembung disertai dengan nafas tersengal-
renang menyebabkan organ ini tidak

421
sengal (megap-megap) dan badan ikan. Sering pula borok ini disertai
mengembung. dengan memerahnya pinggiran
borok tersebut. Ulcer dapat memicu
terjadinya infeksi sekunder terutama
5. Ulcer infeksi jamur, selain itu, dapat pula
disertai dengan gejala penyakit
Ulcer merupakan suatu pertanda bakterial lainnya seperti kembung,
tarjadinya berbagai infeksi bakteri dropsi, kurus, atau mata menonjol
sistemik pada ikan. Fenomena ini (pop eye).
biasanya ditandai dengan munculnya
borok/luka terbuka pada tubuh

Gambar 8.23. Gejala umum Ulcer yang disertai dengan infeksi jamur
Saprolegnia.

6. Busuk Mulut Kehadiran benda ini tidak jarang sulit


dibedakan dengan serangan jamur.
Tanda-tanda penyakit adalah : Oleh karena itu, untuk memastikan
mulut membengkak, dengan jelas diperlukan pengamatan
mulut tidak bisa mengatup dibawah mikroskop.
disusul kematian dalam waktu
singkat. Pada serangan ringan, seperti
ditunjukkan oleh adanya memar
Busuk mulut merupakan penyakit putih saja, kematian dapat terjadi
akibat infeksi bakteri. setelah timbulnya kerusakan fisik
yang berarti. Sedangkan dalam
Kehadiran penyakit ini ditandai serangan akut dan cepat, yang
dengan munculnya memar putih atau biasanya terjadi di dearah dengan
abu-abu disekitar kepala, sirip, suhu udara hangat seperti di
insang dan rongga mulut. Indonesia, penyakit tersebut dapat
Memar tersebut kemudian akan berinkubasi kurang dari 24 jam dan
bekembang menjadi bentukan kematian terjadi dalam waktu 2 – 3
berupa kapas berwarna putih kelabu, hari, diantaranya disertai dengan
khususnya di sekitar mulut, sehingga rontoknya mulut. Meskipun demikian,
mulut sering menjadi tidak bisa di beberapa kasus bisa terjadi
terkatup. kematian tanpa disertai gejala fisik

422
apapun, sehingga apabila dijumpai tesebut secara umum dapat dibagi
kematian mendadak pada ikan, salah dua yaitu :
satu yang perlu dicurigai adalah Tahapan infektif dan
akibat serangan penyakit ini. Tahapan tidak infektif (sebagai
"mahluk" yang hidup bebas di dalam
air atau dikenal sebagai fase
7. Bintik Putih - White Spot (Ich) berenang).

White spot atau dikenal juga sebagai Gejala klinis white spot merupakan
penyakit "ich", merupakan penyakit akibat dari bentuk tahapan sisklus
ikan yang disebabkan oleh parasit. infektif. Ujud dari "white spot" pada
Penyakit ini umum dijumpai pada tahapan infektif ini dikenal sebagai
hampir seluruh spesies ikan. Secara Trophont. Trophont hidup dalam
potensial white spot dapat berakibat lapisan epidermis kulit, insang atau
mematikan. Penyakit ini ditandai rongga mulut. Oleh karena
dengan munculnya bintik-bintik putih itu, julukan white spot sebagai
di sekujur tubuh dan juga sirip. Inang ektoparasit dirasa kurang tepat,
white spot yang bervariasi, siklus karena sebenarnya mereka hidup
hidupnya serta caranya dilapisan dalam kulit, berdekatan
meperbanyak diri dalam dengan lapisan basal
air memegang peranan penting lamina. Meskipun demikian parasit
terhadap berjangkitnya penyakit ini tidak sampai menyerang lapisan
tersebut. di bawahnya atau organ dalam
Tanda-tanda Penyakit lainnya.
Siklus hidup white spot terdiri dari
beberapa tahap, tahapan

Gambar 8.24. Ikan yang terserang "white spot"

Ikan-ikan yang terjangkit akan diselimuti oleh lapisan semi


menunjukkan gejala sebagai berikut : transparan dari jaringan tubuh ikan.
Penampakan berupa bintik-bintik Pada awal perkembangannya bintik
putih pada sirip, tubuh, insang atau tersebut tidak akan bisa dilihat
mulut. dengan mata. Tapi pada saat parasit
Masing-masing bintik ini sebenarnya tersebut makan, tumbuh dan
adalah individu parasit yang membesar, sehingga bisa mencapai

423
0.5-1 mm, bintik tersebut dapat mengapung di permukaan dalam
dengan mudah dikenali. Pada kasus usahanya untuk mendapatkan
berat beberapa individu dapat oksigen lebih banyak. Apabila ini
dijumpai bergerombol pada tempat terjadi, ikan untuk dapat
yang sama. disembuhkan akan relatif sangat
Ikan yang terjangkit ringan sering kecil.
dijumpai menggosok-gosokan
tubuhnya pada benda-benda lain di
dalam air sebagai respon terhadap 8. Keracunan
terjadinya iritasi pada kulit mereka.
Kolam maupun akuarium merupakan
Sedangkan ikan yang terjangkit berat suatu ekosistem kecil yang sangat
dapat menunjukkan gejala-gejala terbatas, oleh karena itu terjadinya
sebagai berikut : pencemaran oleh bahan beracun
Mengalami kematian sebagai akibat yang dapat terakumulasi pada
terganggunya sistem pengaturan ekosistem tersebut.
osmotik ikan, Beberapa bahan beracun yang dapat
Akibat gangguan pernapasan, atau masuk kedalam lingkungan kolam
Menyebabkan infeksi sekunder. maupun akuarium baik sengaja
Ikan berukuran kecil dan burayak maupun tidak, antara lain adalah:
dapat mengalami kematian setelah Obat-obatan yang sengaja diberikan
beberapa hari terjangkit berat. untuk mengatasi/mencegah suatu
penyakit pada ikan.
Ikan yang terjangkit berat akan Bahan kimia yang secara tidak
menunjukkan perilaku abnormal dan sengaja digunakan disekitar
disertai dengan perubahan fisiologis akuarium, sperti parfum, aerosol,
antara lain adalah : asap rokok berlebihan, minyak,
Ikan tampak gelisah atau meluncur insektisida, cat, deterjen atau sabun.
kesana kemari dengan cepat Hasil metabolisme ikan yaitu urine
Siripnya tampak bergetar (mungkin dan kotoran ikan.
sebagai akibat terjadinya iritasi pada Kualitas air sumber yang tercemar.
sirip tersebut).
Pada ikan yang terjangkit sangat Racun bisa juga juga ditimbulkan
parah, mereka akan tampak lesu, dari :
atau terapung di Obat-obatan atau bahan kimia
permukaan. Kulitnya berubah seperti kaporit
menjadi pucat dan mengelupas. Pembusukan bahan-bahan organik
Sirip tampak robek-robek dan pada dasar wadah dapat pula
compang-camping. menyumbangkan bahan beracun,
Insang juga tampak memucat. seperti; amonia, nitrit, dan nitrat
Kerusakan pada kulit dan insang ini Ikan beracun:
akan memicu ikan mengalami stres Beberapa jenis ikan dan binatang
osmotik dan stres pernapasan. Stres tertentu (terutama dari lingkungan air
pernapasan ditunjukkan dengan laut) diketahui mengandung
pergerakan tutup insang yang cepat racun. Oleh karena itu, binatang-
(megap-megap) dan ikan tampak

424
binatang ini bisa menimbulkan akibat yang sangat sulit, apalagi bila
fatal pada ikan lainnya. selama ini sudah terjalin keakraban
Beberapa contoh dari golongan antara pemilik dan ikan
binatang beracun ini adalah; skinned kesayangannya.
puffer, boxfish, truckfish, soapfish, Jika tindakan euthannasia diperlukan
lionfish, scorpion fish, ikan pari, berikut adalah beberapa hal yang
anemon, mentimun laut, gurita, koal perlu diperhatikan.
api, spong api, landak laut, dan Cara Euthanasia yang Dianjurkan:
fireworms. Perlu diingat bahwa ikan mempunyai
rasa sakit dan stress, oleh karena itu,
Pada umumnya binatang-binatang euthanasia perlu dilakukan secara
tersebut akan mengeluarkan manusiawi. Beberapa cara yang
racunnya apabila dalam keadaan biasa dilakukan adalah:
terancam atau ketakutan. Beberapa
jenis juga dapat mengeluarkan Konkusi :
racunnya apabila terluka atau sakit. Pada cara ini tubuh ikan
Gejala keracunan pada ikan: dibungkus dengan kain tetapi
Ikan meluncur dengan cepat kesana kepalanya dibiarkan
kemari secara tiba-tiba, terbuka. Kemudian kepala ikan
Berenang dengan liar, dan terkadang tersebut dipukulkan pada benda
hingga menabrak benda-benda yang keras, sekeras mungkin. Bisa juga
adad. dilakukan dengan cara memukul
Nafas tersengal-sengal. kepala ikan tersebut dengan benda
Warna menjadi pudar. keras. Pastikan bahwa otak ikan
Terkadang tergeletak di dasar wadah tersebut telah rusak, kalau tidak,
dangan nafas tersengal-sengal. terdapat kemungkinkan ikan akan
sadar kembali. Untuk
Oleh karena itu, apabila ikan secara memastikannya anda bisa gunakan
tiba-tiba dan serentak (hampir gunting atau pisau untuk
menimpa seluruhnya) bernapas merusakkan otaknya.
tersengal-sengal bisa dipastikan air
tercemar bahan beracun. Dekapitasi:
Untuk ikan-ikan berukuran kecil,
9. Euthanasia kepala ikan dapat dipisahkan dengan
cepat menggunakan pisau atau
Dalam memelihara ikan hias, ada gunting yang sangat
kalanya kita dihadapkan pada suatu tajam. Selanjutnya otak ikan
pilihan yang sulit, khususnya pada tersebut segera dihancurkan. Ikan
saat ikan kesayangan tersebut masih dapat tersadar selama
menderita suatu penyakit atau beberapa saat setelah kepalanya
mengalami luka-luka yang parah. terpisah, oleh karena itu, tindakan
Keputusan untuk menentukan penghancuran otak ini diperlukan.
apakah harus mencoba mengakhiri
penderitaan ikan tersebut Pembiusan overdosis:
(Euthanasia) atau mencoba Cara ini termasuk sesuai untuk
menyembuhkannya merupakan hal berbagai jenis ukuran ikan. Selain itu

425
juga sesuai untuk melakukan ikan yang terjangkit penyakit ini akan
Euthanasia bersama-sama pada ikan menunjukkan penampakan berupa
yang mengalami sakit secara bintik-bintik putih pada sirip, tubuh,
masal. Caranya adalah dengan insang atau mulut. Masing-masing
merendam ikan pada larutan obat bintik ini sebenarnya adalah individu
bius ikan pada konsentrasi berlebih parasit yang diselimuti oleh lapisan
dan dalam waktu relatif lama. semi transparan dari jaringan tubuh
Cara Euthanasia yang tidak ikan. Pada awal perkembangannya
dianjurkan: bintik tersebut tidak akan bisa dilihat
Memasukan ikan kedalam septitank dengan mata. Tapi pada saat parasit
hidup-hidup dan menggelontornya tersebut makan, tumbuh dan
dengan air. membesar, sehingga bisa mencapai
Mengeluarkan ikan dari dalam air, 0.5-1 mm, bintik tersebut dapat
kemudian membiarkannya sampai dengan mudah dikenali. Pada kasus
mati. berat beberapa individu dapat
Memasukkan ikan pada air mendidih. dijumpai bergerombol pada tempat
Memasukkan ikan pada air dingin yang sama.
(es).
Mendinginkan ikan secara perlahan- Ikan yang terjangkit ringan sering
lahan. dijumpai menggosok-gosokan
Mematahkan leher ikan tanpa diikuti tubuhnya pada benda-benda lain di
dengan pengrusakan otak dalam wadah sebagai respon
terhadap terjadinya iritasi pada kulit
Setelah melakukan Euthanasia, mereka. Sedangkan ikan yang
kuburlah ikan tersebut di tempat terjangkit berat dapat mengalami
yang aman, agar tidak menimbulkan kematian sebagai akibat
penularan yang tidak terganggunya sistem pengaturan
diperlukan. Jangan berikan ikan sakit osmotik ikan, akibat gangguan
tersebut sebagai pakan pada ikan pernapasan, atau akibat infeksi
lainya untuk menghindari penularan sekunder. Ikan berukuran kecil dan
dan penyebaran penyakit pada ikan burayak dapat mengalami kematian
lainnya. Apabila akan setelah beberapa hari terjangkit
diberikan sebagai pakan pada berat.
binatang lain, pastikan jenis
penyakitnya tidak akan menulari Ikan yang terjangkit berat akan
binatang lain tersebut. menunjukkan perilaku abnormal dan
disertai dengan perubahan
Dari penjelasan tentang beberapa fisiologis. Mereka akan tampak
gejala serangan penyakit maka gelisah atau meluncur kesana kemari
dapat diambil suatu kesimpulan dengan cepat dan siripnya tampak
bahwa tanda-tanda penyakit pada bergetar (mungkin sebagai
beberapa jenis ikan pada umumnya akibat terjadinya iritasi pada sirip
hampir sama, misalnya untuk tersebut). Pada ikan yang terjangkit
penyakit bintik putih pada ikan air sangat parah, mereka akan tampak
tawar, payau maupun laut hampir lesu, atau terapung di
sama. Gejala yang umum pada ikan- permukaan. Kulitnya berubah

426
menjadi pucat dan mengelupas, sirip x Ikan-ikan yang mati terjadi
tampak robek-robek dan compang- pada dini hari
camping. Insang juga tampak
memucat. Terjadinya kerusakan x Tanaman air pada mati.
pada kulit dan insang ini akan Hal ini penyebabnya adalah :
memicu ikan mengalami stres kekurangan oksigen di kolam
osmotik dan stres pernapasan. Stres budidaya
pernapasan ditunjukkan dengan
2. Kematian ikan yang terjadi
pergerakan tutup insang yang cepat
secara tiba-tiba dan kejadiannya
(megap-megap) dan ikan tampak
tidak selalu pada pagi hari tetapi
mengapung di permukaan dalam
terjadi kapan saja dengan ciri-
usahanya untuk mendapatkan
cirinya adalah :
oksigen lebih banyak. Apabila ini
terjadi peluang ikan untuk dapat x Ikan yang kecil mati terlebih
disembuhkan akan relatif sangat dahulu
kecil.
x Hewan air lainnya mati
Penyakit yang menyerang ikan seperti kodok, siput
budidaya sebenarnya dapat dideteksi
lebih dini oleh para pembudidaya jika x Ikan berenang saling
memperhatikan gejala-gejala yang bertabrakan
diperlihatkan oleh ikan budidaya. Hal ini penyebabnya adalah :
Setiap ikan yang terserang penyakit keracunan
akan memberikan suatu gejala yang 3. Kematian ikan yang terjadi secara
khas. Secara umum gejala ikan sakit berurutan pada waktu yang
yang dapat dilihat dengan mudah cukup lama. Penyebabnya adalah
bagi para pembudidaya ikan, dapat parasit
dilihat dari dua kejadian yang terjadi 4. Kematian ikan yang terjadi
pada ikan budidaya yaitu cara dengan kecepatan kematian pada
kematian ikan di kolam dan tingkah awal. Jumlah ikan yang mati
laku ikan yang dipelihara. sedikit, kemudian banyak dan
Cara kematian ikan dikolam jarak antara kematian berselang
budidaya dapat dikelompokkan sedikit. Penyebabnya adalah :
menjadi beberapa yaitu : virus dan bakteri.
5. Kematian ikan yang terjadi secara
1. Kematian ikan di kolam budidaya berurutan dengan kecepatan
terjadi secara tiba-tiba dengan kematian ikan sedikit, sampai
ciri-cirinya adalah : mencapai puncak dengan jumlah
x Ikan yang berukuran besar kematian yang tetap.
mati lebih dulu Penyebabnya adalah masalah
x Ikan yang belum mati ada makanan.
dipermukaan kolam atau
disaluran air masuk
Selain memperhatikan cara kematian
x Air kolam berubah warna dan dari ikan yang dipelihara di dalam
menyebarkan bau busuk wadah budidaya, penyakit yang
menyerang pada ikan budidaya

427
dapat dilakukan pemantauan dengan dan ikan melakukan gerakan
melihat tingkah laku ikan yang mengguling-gulingkan badannya.
diduga terserang penyakit. Tingkah Gejala serangan penyakit ini
laku ikan yang terserang penyakit dapat diprediksi penyebabnya
pada beberapa jenis penyakit antara lain adalah :
biasanya spesifik. Adapun tingkah x Parasit
laku ikan pada wadah budidaya yang x Virus
terserang penyakit dapat diketahui 5. Ikan berada di dasar perairan dan
antara lain adalah : tidak mau makan, serta siripnya
1. Ikan-ikan yang dipelihara selalu tidak berkembang. Gejala
berada atau berkumpul di serangan penyakit ini dapat
permukaan air atau di saluran diprediksi penyebabnya antara
pemasukkan air. Gejala serangan lain adalah :
penyakit ini dapat diprediksi x Parasit
penyebabnya antara lain adalah : x Kualitas air yang buruk
6. Ikan diam di dasar perairan dan
x Kekurangan oksigen di menepi dipinggiran kolam. Gejala
perairan serangan penyakit ini dapat
x Parasit ikan diprediksi penyebabnya antara
lain adalah : Parasit dari jenis
2. Ikan berada di permukaan air dan Ichthyophthirius multifiliis.
gerakannya sedikit lebih 7. Ikan gelisah (terlampau aktif) dan
cenderung ikan tersebut berdiam menggesekkan badannya pada
diri (seperti keadaan lemas). batu-batuan. Gejala serangan
Gejala serangan penyakit ini penyakit ini dapat diprediksi
dapat diprediksi penyebabnya penyebabnya antara lain adalah :
antara lain adalah : x Myxosoma
x Parasit di insang x Crustacea
8. Ikan bergetar, Gejala serangan
x Kerusakan insang yang penyakit ini dapat diprediksi
disebabkan oleh bakteri penyebabnya antara lain adalah
(virus) parasit.
x Ikan kekurangan zat nutrisi
(haemoglobin) Dengan melihat tingkah laku ikan
3. Aktivitas makan ikan berkurang. yang dibudidayakan di wadah
Gejala serangan penyakit ini budidaya apapun, maka para
dapat diprediksi penyebabnya pembudidaya ikan sudah dapat
antara lain adalah : menduga adanya gejala serangan
x Perubahan kualitas atau mutu penyakit pada ikan. Untuk melihat
air secara jelas dan pasti tentang jenis
x Makanan tidak cocok penyakit yang menyerang ikan
peliharaan tersebut maka harus
x Segala macam penyakit
dilakukan pengamatan dan melihat
4. Ikan berenang terbalik dengan
secara langsung organ tubuh ikan
posisi bagian perut berada di atas
yang terserang penyakit. Secara

428
kasat mata dapat diketahui tentang mempunyai sirip. Gejala serangan
jenis penyakit yang menyerang ikan penyakit ini dapat diprediksi
budidaya dari bagian tubuh luar ikan penyebabnya antara lain adalah :
dan bagian dalam tubuh ikan. Pada x Genetik (keturunan)
bagian tubuh ikan bagian luar antara x Kekurangan zat nutrisi
lain memberikan tanda-tanda (makanan)
serangan penyakit adalah : 7. Perubahan kulit ikan ada
1. Warna tubuh ikan lebih gelap dari beberapa macam, Gejala
biasanya. Gejala serangan serangan penyakit ini dapat
penyakit ini dapat diprediksi diprediksi penyebabnya antara
penyebabnya antara lain adalah : lain adalah :
x Kekurangan vitamin C x Terdapat bintik putih,
x Virus penyebabnya adalah
x Parasit jenis Trypanosoma Ichthyophthirius multifiliis
(whirling disease) x Terdapat selaput yang tidak
2. Warna tubuh ikan kemerahan. beraturan, penyebabnya
Gejala serangan penyakit ini adalah jamur
dapat diprediksi penyebabnya x Ada lapisan lendir berwarna
antara lain adalah : abu-abu, penyebabnya
x Insang ikan menggumpal adalah Trichodina, Costia,
disebabkan oleh bakteri, Chilodonella.
jamur dan parasit x Ada bercak lendir dan darah,
x Ikan kekurangan makanan penyebabnya adalah
3. Adanya luka borok. Gejala Monogenea.
serangan penyakit ini dapat
diprediksi penyebabnya antara
Selain itu untuk lebih memastikan
lain adalah :
praduga tentang jenis penyakit yang
x Trematoda
telah menyerang ikan budidaya
x Bakteri sebaiknya dilakukan kembali
x Lernea dan Argulus pemeriksaan ikan sampel di
3. Adanya pendarahan pada daerah laboratorium hama dan penyakit ikan
tertentu. Gejala serangan atau ditempat pengambilan sampel
penyakit ini dapat diprediksi secara langsung. Prosedur yang
penyebabnya antara lain adalah : harus dilakukan sebelum
x Argulus pemeriksaan parasit adalah ikan
x Lernea sampel terlebih dahulu dimatikan
x Bakteri dengan cara menusukkan jarum
5. Ikan tubuhnya bengkak. Gejala pada bagian medulla oblangata.
serangan penyakit ini dapat Kemudian panjang tubuh ikan dan
diprediksi penyebabnya antara berat tubuh ikan setiap sampel di
lain adalah : catat. Pemeriksaan dapat dilakukan
x Tumor pada bagian internal maupun
x Siste (telur dari parasit) eksternal meliputi permukaan tubuh,
6. Perubahan bentuk tubuh ikan, sirip, insang, lambung dan usus. Ada
seperti badannya bengkok, tidak beberapa metode pemeriksaan yaitu

429
metode pemeriksaan ektoparasit, mengerik secara perlahan bagian
metode pemeriksaan endoparasit, dalam lambung lalu oleskan pada
metode penanganan spesimen dan gelas objek yang telah ditetesi
identifikasi parasit. oleh NaCl 0,6% lalu diamati
dibawah mikroskop.
Metode pemeriksaan Ektoparasit 3. Usus yang sudah dipisahkan
1. Seluruh permukaan tubuh digunting memanjang lalu
diamati secara kasat mata atau diletakkan pada gelas objek,
dengan menggunakan mikroskop dibuat sayatan setipis mungkin
dengan pembesaran 50 kali, baru dilihat dibawah mikroskop.
setelah itu lendir dikerik dengan
menggunakan pisau bedah dan Jika dari pengamatan secara kasat
dibuat preparat ulas pada gelas mata atau visual dapat diduga jenis
obyek yang telah ditetesi air dan penyakit yang menyerang ikan
diamati di bawah mikroskop. budidaya dan untuk memastikan
2. Seluruh sirip ikan dipotong dari secara ilmiah dapat dilakukan
tubuh dengan menggunakan pemeriksaan dibawah mikroskop
gunting,ditempatkan pada gelas dengan membuat preparat. Misalkan
obyek yang telah ditetesi oleh air dari penampakan bagian luar tubuh
agar tidak kering lalu diamati di ikan yang dibudidayakan diprediksi
bawah mikroskop. jenis penyakitnya maka prosedur
3. Kedua belah insang diambil yang akan dilakukan adalah sebagai
semua, dipisahkan antara filamen berikut :
dengan tapisnya lalu ditumbuk
secara perlahan dan ditetesi oleh
Protozoa
air agar tidak kering lalu diamati
di bawah mikroskop. Protozoa diperoleh dengan mengerik
lendir atau mukus yang kemudian
Metode Pemeriksaan Endoparasit dioleskan pada gelas objek yang
1. Perut ikan dibuka dengan telah ditetesi oleh air. Terdapat dua
menggunting perut bagian bawah cara untuk dapat membuat preparat
ikan dari mulai anus hingga ke protozoa, yaitu :
bawah sirip dada. Buka penutup x Teknik Impregnaris Perak Nitrat
rongga perut pada bagian atas x Sediakan ulasan mukus yang
mulai dari anus sampai sirip dada sudah kering udara lalu genangi
dan digunting mengikuti tutup dengan larutan perak nitrat 0,2%
insang sehingga isi perut terlihat. selama 5 – 10 menit, rendam
Isi perut dipindahkan ke dalam preparat dalam air di bawah sinar
gelas objek atau cawan petri matahari selama 15 – 30 menit
yang ditetesi dengan NaCl 0,6% kemudian dikeringkan.
lalu diamati dibawah mikroskop. x Teknik pewarnaan Giemsa
2. Pisahkan antara usus dan x Sediakan ulasan mukus yang
lambung, buka lambung dengan sudah dikeringkan udara lalu
menggunakan gunting secara fiksasi dengan menggunakan
memanjang lalu diamati dibawah metanol selama 15 menit,
mikroskop atau bisa dengan genangi preparat dengan Giemsa

430
selama 15 – 30 menit kemudian diletakkan dalam gelas objek dan
bilas dengan air dan keringkan. dipres. Kemudian preparat ini
difiksasi dengan alkohol 70% atau
formalin 3% selama 5 – 30 menit.
Myxosporea
Parasit ini merupakan endoparasit
Acathocephala
yang berada pada urat daging.
Parasit ini ditemukan dalam bentuk Cacing yang terdapat pada usus ikan
kista atau spora. Kista dapat ini diambil dengan hati-hati agar
dipecahkan sehingga spora dapat proboscisnya tidak terputus. Parasit
keluar. Suspensi spora ditipiskan dan ini kemudian dicuci dengan NaCl
difiksasi dengan methanol 3 – 5 0,85% lalu dicuci dengan air bersih.
menit dan diwarnai dengan Giemsa Perbedaan tekanan akan membuat
selama 20 menit. Setelah itu cacing menjadi kaku dan proboscis
preparat dicuci dengan air bersih, terjulur. Cacing dibiarkan dalam air
dikeringkan dan diperiksa dibawah kran kurang lebih selama 1 jam
mikroskop. kemudian ditutup dan difiksasi
dengan larutan fiksatif pada salah
satu ujung gelas penutup. Larutan
Monogenea
fiksatif yang digunakan adalah Bouin
Organ yang mengandung parasit ini beralkohol dan dicuci dengan alkohol
direndam dalam larutan formalin untuk menghilangkan formalin.
selama 30 menit untuk melepaskan Cacing disimpan dalam formalin 3%.
parasit. Parasit monogenea yang
terlepas disusun dalam gelas objek Nematoda
dan ditetesi dengan amonium pikrat
gliserin. Spesies parasit ini Parasit ini biasanya menginfeksi
diidentifikasi menurut organ usus, hati, kulit, daging dan perut.
penempelannya. Nematoda dapat ditemukan dalam
bentuk kista maupun tidak. Cacing
yang melekat diambil dengan
Digenea menggunakan pinset sedangkan
Digenea atau metaserkaria di dapat kista dipecah sehingga cacing keluar
dari usus atau daging ikan. Parasit kemudian difiksasi dengan alkohol
ini mudah mengkerut sehingga harus atau formalin 3% agar tetap rileks.
dipres dengan gelas penutup dan
difiksasi dengan formalin 3% selama
5 menit dan disimpan dalam larutan
alkohol 70%. 8.4. PENGOBATAN
PENYAKIT IKAN
Cestoda Pengobatan merupakan suatu usaha
Cestoda yang biasanya menenpel yang dilakukan oleh para
pada usus dilepaskan dengan hati- pembudidaya ikan jika ikan yang
hati agar scoleks tidak terputus. dipelihara terserang penyakit.
Cestoda yang telah terlepas Sebelum melakukan pengobatan

431
terhadap ikan yang sakit, terlebih kimia atau obat yang diberikan dan
dahulu harus diketahui jenis penyakit sifat ikan. Beberapa metoda
yang menyebabkan ikan sakit agar pengobatan adalah sebagai berikut :
dapat diketahui jenis obat yang akan 1. Melalui suntikan dengan
digunakan untuk menyembuhkan antibiotika
penyakit tersebut. Ada tiga hal yang Metoda penyuntikan dilakukan
harus diperhatikan oleh para bila yang diberikan adalah
pembudidaya ikan yang akan sejenis obat seperti antibiotik
melakukan pengobatan terhadap atau vitamin. Penyuntikan
beberapa jenis penyakit infeksi yaitu: dilakukan pada daerah punggung
1. Jika penyakit ikan disebabkan ikan yang mempunyai jaringan
oleh virus maka tidak ada obat otot lebih tebal. Penyuntikan
yang dapat memberantas virus hanya dilakukan pada ikan yang
tersebut. Yang bisa dilakukan berukuran besar terutama ukuran
adalah mengurangi hal-hal yang induk. Sedangkan yang kecil
menyebabkan terjadinya penyakit. tidak dapat dilakukan.
2. Jika penyakit disebabkan oleh
bakteri maka obat yang dapat 2. Melalui makanan
digunakan adalah bahan kimia Obat atau vitamin dapat diberikan
sintetik atau alami atau melalui makanan. Akan tetapi bila
antibiotika. makanan yang diberikan tidak
3. Jika penyakit disebabkan oleh segera dimakan ikan maka
jamur dan parasit maka obat konsentrasi obat atau vitamin
yang digunakan adalah bahan pada makanan akan menurun
kimia. karena sebagian akan larut
dalam air. Oleh karena itu
Dalam melakukan pengobatan metoda ini afektif diberikan pada
dengan menggunakan bahan kimia ikan yang tidak kehilangan nafsu
harus diperhatikan beberapa hal makannya.
yaitu : 3. Perendaman
1. Bahan kimia yang digunakan Metoda perendaman dilakukan
harus larut dalam air bila yang diberikan adalah bahan
2. Bahan tersebut tidak mempunyai kimia untuk membunuh parasit
pengaruh yang besar terhadap maupun mikroorganisme dalam
produksi kolam. Bahan yang air atau untuk memutuskan siklus
digunakan harus selektif yaitu hidup parasit. Pengobatan ikan
bahan yang digunakan hanya sakit dengan metoda
mematikan sumber penyakit tidak perendaman adalah sebagai
mematikan ikan. berikut:
3. Bahan tersebut mudah terurai x Pengolesan dengan bahan
kimia atau obat, metoda ini
Pengobatan ikan sakit dapat dilakukan bila bahan kimia
dilakukan beberapa metoda. Metoda atau obat yang digunakan
yang dilakukan harus dapat membunuh ikan, bahan
mempertimbangkan antara lain; kimia atau obat dioleskan
ukuran ikan, ukuran wadah, bahan pada luka di tubuh ikan.

432
x Pencelupan; Ikan sakit terutama pada ikan-ikan dalam
dicelupkan pada larutan kolam. Bila dilarutkan dalam air akan
bahan kimia atau obat terjadi reaksi kimia sebagai berikut;
selama 15 – 30 detik, metoda
ini pun dilakukan bila bahan KMnO4 Æ K+ + MnO4-
kimia atau obat yang MnO4- Æ MnO2+2On
digunakan dapat meracuni On - Oksigen elemental. (Oksidator)
ikan.
x Perendaman; dilakukan bila Sifat Kimia
bahan kimia atau obat kurang Oksidator kuat
sifat racunnya atau
konsentrasi yang diberikan x Sifat bahan aktif beracun adalah
tidak akan membunuh ikan. merusak dinding-dinding sel
Pada perendaman jangka melalui proses oksidasi.
pendek (15 – 30 menit) dapat x Mangan oksida membentuk
diberikan konsentrasi yang kompleks protein pada
lebih tinggi daripada pada permukaan epithelium, sehingga
perendaman dengan waktu menyebabkan warna coklat pada
yang lebih lama (1 jam lebih ikan dan sirip, juga membentuk
sampai beberapa hari) kompleks protein pada struktur
pernapasan parasit yang
Jenis bahan kimia dan obat yang akhirnya menyebabkan kematian.
digunakan dalam pengobatan dan x Secara umum tingkat keracunan
pencegahan harus mempertim- PK akan meningkat pada
bangkan antara lain: lingkungan perairan yang alkalin
x Dalam dosis tertentu tidak (basa).
membuat ikan stress maupun x Tingkat keracunannya sedikit
mati lebih tinggi dari tingkat
x Efektif dapat membunuh parasit pengobatannya.
x Sifat racun cepat menurun dalam x Dapat mengoksidasi bahan
waktu tertentu. organik.
x Mudah mengalami degradasi
dalam waktu singkat. Manfaat
x Efektif mencegah flukes,
Jenis Bahan Kimia Dan Obat Yang tricodina, ulcer, dan infeksi jamur
digunakan antara lain adalah : (ektoparasit dan infeksi bakteri)
dengan dosis 2 - 4 ppm pada
perendaman.
1. Kalium Permanganat (PK)
x Bahan aktif beracun yang mampu
Kalium permanganat (PK) dengan membunuh berbagai parasit
rumus kimia KMnO4 sebagai serbuk dengan merusak dinding-dinding
maupun larutan berwarna viol sel mereka melalui proses
et. Sering dimanfaatkan untuk oksidasi.
mengobati penyakit ikan akibat x Argulus, Lernea and Piscicola
ektoparasit dan infeksi bakteri diketahui hanya akan respon

433
apabila PK digunakan dalam Filter biologi tidak boleh dilewatkan
perendaman (dengan dosis: 10- larutan PK, karena dapat membunuh
25 ppm selama 90 menit). Begitu bakteri dalam filter biologi.
pula dengan Costia dan Aliran air dan aerasi bekerja optimal,
Chilodinella, dilaporkan resisten karena pada saat molekul-molekul
terhadap PK, kecuali dengan organik teroksidasi, dan algae mati
perendaman. maka air akan cenderung keruh dan
x Kalium permanganat sangat oksigen terlarut menurun.
efektif dalam menghilangkan Berikan dosis sebanyak 2-4 ppm.
Flukes. Gyrodactylus dan Dosis 2 ppm diberikan pada ikan-
Dactylus dapat hilang setelah 8 ikan muda atau ikan-ikan yang tidak
jam perlakuan dengan dosis 3 bersisik.
ppm pada suatu sistem tertutup, Dosis 4 ppm diberikan pada ikan-
perlakuan diulang setiap 2-3 hari ikan bersisik. Dosis tersebut tidak
x Sebagai disinfektan luka. akan merusak tanaman air, sehingga
x Dapat mengurangi aeromonas biasa digunakan untuk mensterilkan
(hingga 99%) dan bakteri gram tanaman air dari hama dan penyakit,
negatif lainnya. terutama dari gangguan siput dan
x Dapat membunuh Saprolegnia telurnya.
yang umum dijumpai sebagai Satu sendok teh peres (jangan
infeksi sekunder pada Ulcer. dipadatkan) kurang lebih setara
x Golongan ikan Catfish, dengan 6 gram. Hal ini dapat
perlakuann kalium permanganat dijadikan patokan untuk
dilakukan pada konsentrasi mendapatkan dosis yang diinginkan
diatas 2 ppm. apabila timbangan tidak tersedia.
x Sebagai antitoxin Perlakuan dilakukan 4 kali berturut
terhadap aplikasi bahan-bahan dalam waktu 4 hari, dengan
beracun. Sebagai contoh, pemberian PK dilakukan setiap pagi
Rotenone dan Antimycin. hari. Apabila pada perlakuan ketiga
Konsentrasi 2-3 ppm selama 10- atau keempat air bertahan berwarna
20 jam dapat menetralisir residu ungu selama lebih dari 8 jam (warna
Rotenone atau Antimycin. Dosis tidak berubah menjadi coklat), maka
PK sebaiknya diberikan setara hal ini dapat dijadikan pertanda untuk
dengan dosis pestisida yang menghentikan perlakuan. Karena
diberikan, sebagai contoh apabila hal ini menunjukkan bahwa PK
Rotenone diberikan sebanyak 2 sudah tidak bereaksi lagi, atau
ppm, maka untuk menetralisirnya dengan kata lain sudah tidak ada lagi
PK pun diberikan sebanyak 2 bahan yang dioksidasi. Setelah
ppm. perlakuan dihentikan lakukan
x Transportasi burayak dapat penggantian air sebanyak 40 %
dengan perlakuan kalium untuk segera membantu pemulihan
permanganat dibawah 2 ppm. warna air.

2. Klorin Dan Kloramin


Prosedur Perlakuan PK (untuk jamur,
parasit, dan bakteri)

434
Klorin dan kloramin merupakan insang dan ikan tampak tersengal-
bahan kimia yang biasa digunakan sengal dipermukaan.
sebagai pembunuh kuman
(disinfektan) di perusahan-perusahan Perlakuan
air minum. Klorin (Cl2) merupakan Oleh karena klorin sangat beracun
gas berwarna kuning kehijauan bagi ikan maka perlu dihilangkan
dengan bau menyengat. Perlakuan dengan cara sebagai berikut;
klorinasi dikenal dengan Air di deklorinasi sebelum
kaporit. Sedangkan kloramin digunakan, baik secara kimiawi
merupakan senyawa klorin-amonia maupun fisika.
(NH4Cl). Pengaruh klorin dihilangkan
Cl2 + H2O Æ H2ClO3 Æ Cl2 + H2O dengan pemberian aerasi secara
NH4Cl + H2O Æ NH4+ + ClO3- intensif.
Mengendapkan air selama
Sifat Kimia semalam. Dengan demikian maka
Klorin relatif tidak stabil di dalam air gas klorin akan terbebas ke udara.
Kloramin lebih stabil dibandingkan Menggunakan bahan deklorinator
klorin atau lebih dikenal dengan nama anti
Klorin maupun kloramin sangat klorin.
beracun bagi ikan Anti-klorin lebih dianjurkan untuk
Reaksi dengan air membentuk asam air yang diolah dengan kloramin.
hipoklorit Kloramin relatif lebih sulit diatasi
Asam hipoklorit tersebut dapat hanya oleh natrium tiosulfat saja
merusak sel-sel protein dan sistem dibandingkan dengan klorin,
enzim ikan. karena maskipun gas klorinnya
Tingkat keracunan klorin dan dapat diikat dengan baik, tetapi
kloramin akan meningkat pada pH akan menghasilkan amonia.
rendah dan temperatur tinggi, karena Mengalirkan air hasil deklorinasi
pada pH rendah kadar asam tersebut melewati zeolit.
hipoklorit akan meningkat. Segera pindahkan ikan yang terkena
Efek racun dari bahan tersebut dapat keracunan klorin kedalam
diperkecil bila residu klorin dalam air akuarium/wadah yang tidak
dijaga tidak lebih dari 0.003 ppm terkontaminasi. Dalam keadaan
Klorin pada konsentrasi 0.2 - 0.3 terpaksa tambahkan anti-klorin pada
ppm dapat membunuh ikan dengan akuarium.
cepat Tingkatkan intensitas aerasi untuk
Tanda-tanda Keracunan mengatasi kemungkinan terjadinya
Ikan bergerak kesana kemari gangguan pernapasan pada ikan-
dengan cepat. ikan.
Ikan akan gemetar dan warna
menjadi pucat, lesu dan lemah. 3. Biru Metilen (Methylene Blue)
Klorin dan kloramin secara
langsung akan merusak insang Metil biru diketahui efektif untuk
sehingga dapat menimbulkan pengobatan Ichthyopthirius (white
gejala hipoxia, meningkatkan kerja spot) dan jamur. Selain itu, juga
sering digunakan untuk mencegah

435
serangan jamur pada telur ikan. Metil Setelah telur
biru biasanya tersedia sebagai menetas, penggantian air
larutan jadi di toko-toko akuarium, sebanyak 5 % setiap hari dapat
dengan konsenrasi 1 - 2 dilakukan untuk mengurangi kadar
persen. Selain itu tersedia pula metil biru dalam air tersebut dan
dalam bentuk serbuk. mengurangi akumulasi bahan
organik dan ammonium
Sifat Kimia
Metil biru merupakan pewarna 4. Metronidazol
thiazine.
Digunakan sebagai bakterisida dan Metronidazol dan di-metrinidazol
fungsida pada akuarium. adalah obat antimikroba yang dibuat
Dapat merusak filtrasi biologi dan dan dikembangkan untuk manusia
kemampuan warnanya untuk melawan bakteri-bakteri anaerob dan
melekat pada kulit, pakaian, dekorasi protozoa. Dalam dunia ikan hias,
akuarium dan peralatan diketahui, obat ini biasa digunakan
lainnya termasuk lem akuarium. untuk mengobati hexamitiasis.
Dapat merusak pada tanaman air. Dosis dan Cara Pemberian
Untuk mencegah serangan jamur Dosis yang disarankan adalah 10
pada telur ikan. ppm
Dosis dan Cara Pemberian Obat ini biasanya berbentuk tablet
Untuk infeksi bakteri, jamur dan dengan kadar 250 mg/tablet
protozoa dosis yang dianjurkan Perlakuan ini harus diulang selang
adalah 2 ml larutan Metil biru sehari, hingga sebanyak 3 ulangan
(Methylene Blue) 1 % per 10 liter Pergantian air sebanyak 25 %
air akuarium. selama perlakuan,
Perlakuan dilakukan dengan Metronidazol diberikan secara oral,
perendaman jangka panjang pada yaitu dicampurkan pada pakan
karantina. dengan obat, konsentrasi 1 % berat.
Untuk mencegah serangan jamur Diberikan dengan cara mencelupkan
pada telur, dosis yang dianjurkan pakan pada larutan metronidazol.
adalah 2 mg/liter.
Cara pemberian metil biru pada
bak pemijahan adalah setetes Di-Metronidazol
demi setetes. Pada setiap tetesan Dosis = 5 ppm. Diberikan seperti
biarkan larutan metil biru tersebut halnya cara pemberian metronidazol,
tersebar secara merata. tetapi ulangan dilakukan dengan
Tetesan dihentikan apabila air selang 3 hari (4 hari sekali). Pada
akuarium telah berwarna kebiruan kasus berat, pengobatan dapat
atau biru jernih (tembus pandang). dilakukan dengan perendaman
Artinya isi di dalam akuarium selama 48 jam dengan dosis 0.004%.
tersebut masih dapat dilihat
dengan jelas. 5. Malachite Green
Perlakuan ini cukup dilakukan Malachite Green merupakan
sekali kemudian dibiarkan hingga pewarna triphenylmethane dari group
warna terdegradasi secara alami.

436
rasamilin. Bahan ini merupakan Dosis 1 - 2 ml dari larutan 1% per 10
bahan yang kerap digunakan untuk liter, sebagai perlakuan jangka
mengobati berbagai penyakit dan pendek (30 - 60 menit). Perlakuan
parasit dari golongan protozoa, dapat di ulang setiap 2 hari
seperti: ichtyobodo, flukes insang, sekali. Perlakuan dapat dilakukan
trichodina, dan white spot, serta sebanyak 4-5 ulangan.
sebagai fungisida. Dosis campuran antara Malachite
Penggunaan bahan ini hendaknya Green dan Formalin untuk perlakuan
dilakukan pada sistem tertutup pada ikan adalah 0.05 - 0.1 ppm MG
seperti akuarium atau kolam ikan dan 10 -25ppm Formalin. Untuk
hias. Malachite green diketahui udang-udangan atau invertebrata
mempunya efek sinergis apabila laut adalah 0.1 -0.2 ppm MG dan 10
diberikan bersama-sama dengan - 25 ppm Formalin.
formalin. Malachite Green dapat pula
Terdapat indikasi bahwa diberikan sebagai disinfektan pada
kepopuleran penggunaan bahan ini telur dengan dosis 5 ppm selama 10
agak menurun, karena diketahui bisa menit.
menimbulkan akibat buruk bagi Perlakuan hendaknya dilakukan
kesehatan manusia apabila terhirup. pada tempat terpisah.

Malachite Green juga dapat Perhatian


menimbulkan akibat buruk pada filter Malachite Green dapat bersifat racun
biologi dan pada tanaman terhadap burayak ikan, terhadap
air. Disamping itu, beberapa jenis beberapa jenis tetra, dan beberapa
ikan diketahui tidak toleran terhadap jenis catfish seperti Pimelodidae atau
bahan ini. Warna malachite green blue gill. Beberapa penyimpangan
bisa melekat pada apa saja, seperti hasil perlakuan dengan MG dapat
tangan, baju, dan peralatan akuarium, terjadi apabila perlakuan dilakukan
termasuk plastik. pada pH air diatas 9 atau apabila
Hindari penggunaan malachite green temperatur air diatas 21 ° C.
dalam bentuk serbuk Yakinkanlah MG yang digunakan
(tepung). Disarankan untuk adalah dari jenis yang bebas Seng.
menggunakan malachite green Tidak ada salahnya
dalam bentuk larutan jadi dengan dilakukan percobaan terlebih dahulu
konsentrasi 1% dan telah terbebas pada 1 atau 2 ikan sebelum
dari unsur seng. perlakuan MG dilakukan pada
Dosis dan Cara Pemberian sejumlah banyak ikan.
Dosis 0.1 - 0.2 ml dari larutan 1% per
10 liter air, sebagai perlakuan 6. Oxytetracyline
perendaman jangka
panjang. Pemberian dosis dapat Oksitetrasiklin hidroklorida meru-
dilakukan setiap 4-5 hari pakan antibiotik yang kadang-kadang
sekali. Sebelum pemberian dosis digunakan dalam pengobatan
dilakukan, disarankan untuk penyakit akibat infeksi bakterial
mengganti air sebanyak 25 % sistemik pada ikan
Dosis dan Cara Pemakaian

437
Suntik; 10-20 mg oksitetrasiklin per akan terurai menjadi dua produk
kg berat badan ikan. Ulangi yang aman yaitu, air dan oksigen.
penyuntikan apabila diperlukan.
Oral; diberikan melalui pakan. Dosis 2H2O2 Æ 2H2O + O2
60 - 75 mg per kg berat badan ikan
Bahan ini kerap digunakan dalam
per hari. Berikan selama 7 - 14 hari.
Perendaman; Jangka panjang (5
dunia kesehatan sebagai
hari). Dosis 20 -100 ppm. Ulangi disinfektan (pembunuh kuman)
apabila diperlukan. karena tidak meninggalkan residu
yang berbahaya. Bahan inipun
7. Garam Inggris / Epsom Salts digunakan pula sebagai antiseptik
(MgSO4.7H20) pada akuarium.
Garam inggris biasa digunakan
untuk meningkatkan kadar mineral
Hidrogen peroksida bisa pula
dalam air, dan sering efektif dalam digunakan sebagai penambah
mengobati sembelit (tidak bisa oksigen dalam akuarium, untuk
buang kotoran) pada ikan. mengatasi kondisi kekurangan
oksigen yang terjadi. Sebuah
Dosis dan Cara Pemberian produk peralatan akuarium
menggunakan hidrogen perosida
Sebagai pencahar (pencuci perut),
larutkan 1 sendok teh peres (2,5 g)
untuk penambah oksigen tanpa
garam inggris dalam 18 liter air (0,14 tenaga listrik.
ppt). Terlebih dahulu larutkan garam
inggris tersebut dalam sedikit air
akuarium pada wadah tertentu,
selanjutnya masukan kedalam
akuarium yang telah berisi air Penggunaan Hidrogen
dengan takaran yang sesuai. Peroksida Dalam Akuarium:
Peningkatan sedikit temperatur air
(dalam selang toleransi ikan yang Sebagai anti protozoa:
bersangkutan) dapat membantu
meningkatkan laju metabolisme ikan
tersebut sehingga diharapkan akan
Diberikan sebagai perlakuan
dapat mempercepat pemulihan dari perendaman dalam jangka
gejala sembelit. pendek. Dosis yang digunakan
adalah 10 ml larutan dengan
8. Hidrogen Peroksida konsenrasi 3 % (teknis) dalam 1
liter air. Perendaman dilakukan
Larutan jernih ini sepintas mirip
selama maksimum 5-10
air, dengan rumus kimia
menit. Perendaman harus
H2O2. Bahan ini merupakan
dihentikan apabila ikan
oksidator kuat, berbahaya bila
menunjukkan gejala stress.
dikonsumsi. Hidrogen peroksida

438
Untuk memulihkan kondisi ikan. Ambang batas amannya
kekurangan oksigen: sangat rendah, sehinggga terkadang
ikan yang diobati malah mati akibat
Dosis yang digunakan 1-2 ml formalin daripada akibat
Hidrogen Peroksida 3% dalam 10 penyakitnya.
liter air akuarium. Dosis harus
dijaga agar jangan sampai Formalin sangat beracun, meskipun
kelebihan. Kelebihan dosis akan masih dipakai secara luas dalam
membuat ikan menjadi stress dan akurkulutur dan lingkungan kolam
tertentu, tetapi lebih banyak
bisa membahayakan kehidupan
digunakan dalam pengawetan
ikan yang bersangkutan. specimen ikan untuk keperluan
Sebelum diberikan dianjurkan identifikasi. Ikan yang akan
untuk mengencerkan terlebih diawetkan harus melalui proses
dahulu hidrogen perioksida euthanasia yang hewani terlebih
tersebut, setidaknya dengan dahulu, kecuali apabila ikan tersebut
perbandingan 1: 10 (satu bagian telah mati sebelumnya. Untuk
bahan dengan 10 bagian air). pengawetan biasanya digunakan
Setelah itu baru dimasukan formalin dengan konsentrasi 10%.
kedalam akuarium. Pastikan pula
bahwa larutan ini dapat segera Penggunaan
Untuk penggunaan jangka panjang
tercampur dengan baik setelah
(beberapa hari) atau jangka pendek
dimasukan kedalam akuarium. (10 - 30 menit).
Perlakuan ini hanya dianjurkan Formalin dapat mengganggu filter
pada kondisi darurat saja, yaitu biologi, oleh karena itu, perlakuan
bila kekurangan oksigen. Setelah sebaiknya dilakukan di akuarium
itu dicari penyebab sebenarnya khusus. Keuntungan dengan
agar dapat diatasi dengan lebih perlakuan terpisah ini adalah apabila
baik. ikan mengalami stres pada saat
diperlakukan, ikan tersebut dapat
segera dikembalikan pada akuarium
utama.
9. Formalin (HCHO dan CH3OH) Dosis dan Cara Pemberian
Dosis penggunaan formalin
Formalin merupakan larutan bervariasi tergantung pada spesies
komersial dengan konsentrasi 37- ikannya. Setiap spesies akan
40% dari formaldehid. Bahan memiliki toleransi berbeda terhadap
ini biasanya digunakan sebagai formalin. Dengan demikian dosis
antiseptic, germisida, dan yang dicantumkan pada artikel ini
pengawet. Formalin diketahui sering bukan merupakan jaminan, tetapi
digunakan dan efektif dalam merupakan kriteria rata-rata.
pengobatan penyakit akibat Yang perlu diperhatikan adalah:
ektoparasit seperti fluke dan kulit penggunaan formalin dalam
berlendir. Meskipun demikian, perlakuan jangka pendek harus
bahan ini juga sangat beracun bagi diawasi dengan ketat. Dan

439
perlakuan harus segera dihentikan
apabila ikan mulai menunjukkan Sifat Fisika dan Kimia Formalin
gejala stres seperti nafas tersengal- Tampilan : cairan jernih
sengal (megap-megap) atau (tidak berwarna)
meloncat (ingin keluar dari Bau : berbau menusuk,
akuarium) keras
Untuk perlakuan jangka panjang, Kelarutan : sangat larut
seperti untuk pengobatan akibat Berat jenis : 1.08
infeksi ektoparasit penyebab kulit pH : 2.8
berlendir adalah 0.15 -0.25 ml
Formalin (37-40%) per 10 liter Identifikasi Bahaya:
air. Setelah 2 - 3 hari, kembalikan Sangat berbahaya! Dapat
ikan pada wadah semula. menyebabkan kanker. Resiko
Jangan dilakukan pada filter biologi, kanker tergantung pada tingkat dan
karena akan membunuh bakteri yang lama kontak. Uap
ada pada filter berbahaya. Berbahaya apabila
Lakukan penggantian air sebanyak terhirup atau terserap
30%. kulit. Menyebabkan iritasi terhadap
Untuk perlakuan jangka pendek, kulit, mata dan saluran pernafasan.
seperti untuk pengobatan akibat Dapat berakibat fatal atau
infeksi ektoparasit besar penyebab menyebabkan kebutaan apabila
fluke, dosisnya adalah 2 ml Formalin tertelan. Mudah terbakar.
(37-40%) per 10 liter air. Siapkan
campuran terlebih dahulu sebelum Pertolongan Pertama:
ikan dimasukkan. Lakukan peren- Terhisap: Pindahkan korban pada
daman selama maksimal 30 menit, udara bersih. Apabila tidak bernafas,
atau kurang apabila ikan beri nafas buatan, apabila kesulitan
menunjukkan gejala stres. bernafas beri oksigen, panggil dokter.
Peringatan Tertelan: Apabila korban sadar
usahakan untuk mengencerkan,
Formalin sangat berbahaya apabila menonaktifkan dan menyerap bahan
terkena kulit atau mata. Apabila hal dengan memberi susu, arang aktif,
ini terjadi segeralah cuci dengan air atau air. Setiap bahan organik akan
yang banyak. Bahan ini juga dapat dapat menonaktifkan formalin. Jaga
menghasilkan uap beracun, oleh tubuh korban agar tetap hangat dan
karena itu jangan biarkan botol rileks. Apabila muntah, jaga agar
formalin terbuka di ruang kepala lebih rendah dari pinggul.
tertutup. Simpan formalin dalam Kontak Kulit: Segera cuci dengan air
botol berwarna gelap dan hindarkan yang banyak selama paling tidak 15
dari cahaya, kalau tidak maka akan menit, sambil melepas pakaian yang
dapat terbentuk paraformaldehid terkena. Cuci pakaian sebelum
(berupa endapan putih) yang sangat digunakan kembali.
beracun bagi ikan, bahkan dalam Kontak Mata: Segera cuci dengan air
konsentrasi yang sangat rendah. yang banyak selama paling tidak 15
Selain itu, formalin dapat bersifat menit Segera hubungi dokter.
eksplosif (meledak).

440
Dengan mengetahui berbagai dicampur dulu dengan chloromycetin
macam obat dan bahan kimia yang 1 – 2 gram untuk setiap 1 kg pellet.
dapat digunakan dalam melakukan Hal yang harus diperhatikan adalah
pengobatan, maka akan sangat tetap menjaga kualitas air agar selalu
membantu para pembudidaya ikan sesuai dengan kebutuhan hidup
untuk mengobati ikan yang sakit. yang ideal bagi ikan.
Sebagai contoh dalam aplikasinya,
untuk ikan yang sakit yang akan Perlu diketahui bahwa apabila
diobati dengan antibiotika antara lain pemakaian antibiotika tidak sesuai
oxytetracycline. Maka cara dengan dosis yang telah ditetapkan,
pengobatannya dapat dilakukan atau perhitungannya kurang cermat,
misalnya saja dengan merendam maka lama kelamaan bakteri akan
ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 kebal terhadap obat itu. Akibatnya,
ppm selama 24 jam. Atau mau obat tersebut tidak mempan lagi
menggunakan bahan kimia dengan untuk memberantas jenis bakteri
cara merendam ikan dalam larutan tertentu.
nitrofuran 5 – 10 ppm selama 12 –
24 jam, merendam ikan dalam Pada daerah yang mengalami wabah
larutan kalium permanganate (PK) penyakit, sering kali pencegahannya
10 – 20 ppm selama 30 – 60 menit. sulit dihindari. Untuk mengurangi
Obat-obat antibiotika seperti kerugian yang besar biasanya
Kemicitin, Tetrasiklin, Streptomisin dilakukan pengobatan pada ikan.
yang berupa serbuk dapat Oleh karena ikan hidup di air,
dicampurkan ke dalam makanan ikan sehingga bahan kimia yang
jika akan melakukan pengobatan digunakan juga akan terlarut dalam
dengan sistem oral. Dosisnya harus air. Hal ini dapat berakibat selain
diperhitungkan agar setiap 100 gram bertujuan untuk mengobati ikan sakit,
berat ikan, dapat memakan 1 mg akan tetapi ikan pun dapat terbunuh
antibiotika itu per hari. Lama bila tidak dilakukan metoda, waktu,
pemberian obat ini 2 – 3 minggu. dosis obat yang tepat. Untuk
mengantisipasi kesalahan dalam
Antibiotika juga dapat diberikan melakukan pengobatan terhadap
dengan disuntikkan. Dosisnya, untuk ikan yang sakit maka harus
larutan chloramphenicol (kemicitin) dilakukan beberapa persiapan yaitu :
1 : 1,5 sebanyak 1 – 2 ml disuntikkan 1. Ikan yang akan diobati sebaiknya
ke dalam rongga perut (intra harus dipuasakan terlebih dahulu
abdomincal cavity) untuk setiap berat selama 24 jam sebelum diberikan
badan ikan 200 gram. Penyuntikan pengobatan.
perlu diulang setiap 2 – 3 hari 2. Wadah yang digunakan untuk
sampai jangka waktu 2 minggu. melakukan pengobatan ikan
Kalau cara ini berhasil, biasanya harus memakai wadah yang
dapat terlihat gejala penyembuhan terbuat dari bahan plastik, jangan
dari hari ke hari. Cara lain yang lebih menggunakan wadah yang
praktis dalam pengobatan penyakit terbuat dari seng. Hal ini dapat
bakteri adalah melalui makanan. membuat bahan kimia bereaksi
Makanan ikan yang akan diberikan

441
dengan wadah yang terbuat dari Ikan yang terserang penyakit
seng. direndam dalam wadah/bak
3. Dalam melakukan pengobatan, tertentu yang berisi larutan obat
jumlah obat yang akan diberikan selama 5 – 30 menit. Hal ini
kepada ikan yang sakit harus memberi kemungkinan lamanya
tepat jenis, dosis dan benar- kerja obat untuk membunuh
benar terukur. penyakit. Caranya sangat sesuai
4. Pengobatan sebaiknya dilakukan bila parasit terdapat dalam
pada suhu perairan yang rendah lapisan kulit yang terlindung.
misalnya pada pagi atau sore Oleh karena ikan terendam pada
hari. larutan yang berbahaya maka
5. Sebaiknya dalam melakukan konsentrasi obat masih di
pengobatan dilakukan secara toleransi oleh ikan.
bertahap yaitu :
x Pengobatan pendahuluan 3. Perendaman pada kolam.
x Pengobatan pendahuluan Umumnya cara ini memerlukan
merupakan pengobatan awal perendaman yang lebih lama dari
dimana ikan yang sakit pada bak (1 jam s/d beberapa
diambil sebagian kecil dan hari) dengan bahan kimia. Tujuan
diberi obat dengan jumlah dari perendaman yang lama ini
yang sesuai dengan dosis. adalah memberi kesempatan
x Pengobatan pokok, yang pada obat untuk memutuskan
dilakukan setelah 12 – 24 jam rantai kehidupan parasit dan
dari pengobatan pendahuluan. konsentrasi obat biasanya sangat
Cara pengobatan yang tidak rendah sekali sehingga tidak
berakibat fatal bagi ikan adalah berbahaya bagi ikan. Untuk
sebagai berikut : metoda ini sebaiknya
1. Pengolesan. menggunakan bahan kimia yang
Cara ini biasanya digunakan mudah terurai menjadi netral.
untuk penyakit ikan yang kronis
dengan dosis obat yang tinggi. Bahan kimia dan obat yang dapat
Bagian ikan yang sakit diolesi digunakan untuk mengobati ikan
obat dengan menggunakan pada berbagai penyakit dapat dilihat
kapas. Kemudian ikan segar pada Tabel 8.2.
dikembalikan ke air yang segar.
2. Perendaman pada bak.

442
Tabel 8.2. Obat dan bahan kimia yang digunakan pengobatan penyakit ikan.

JENIS BAHAN
NO METODA DOSIS
PARASIT KIMIA/OBAT
1 Protozoa Pengolesan x Formalin x 100 ppm
Perendaman x NaCl, x 25 %
pada bak x KMnO4 x 100 ppm
Perendaman x Rivanol x 100 ppm
pada kolam x Formalin x 20 ppm
2 Cacing, Pengolesan x Formalin x 0,1 %
crustacea x Rivanol x 100 ppm
tingkat rendah Perendaman x NaCl x 20 %
dan jamur pada bak x KMnO4 x 0,01 ppm
x NH4OH x 0,25 ppm
x Formalin x 50 ppm
x NH4Cl x 1-1,5%,15 ‘
Perendaman x Malachite x 0,15 ppm
pada kolam green
x Ekstrak x 200 kg/ha
biji teh
3 Aeromonas sp Perendaman x Formalin x 100 ppm
dan pada kolam
Pseudomonas
sp Pemberian x Tetrasiklin x 1 kapsul
antibiotic tiap 10 Kg
pada makanan
makanan
x 50 mg/kg
x Oxytetrac
Makanan
yclin
selama 7 – 10
hari

Pengobatan white spot daging atau lemak dan ini


berbahaya bagi kesehatan.
Obat hanya dianjurkan untuk Beberapa obat yang dapat dipakai
pencegah penyakit. Sebenarnya untuk mengobati penyakit bintik
pemakaian antibiotik kurang baik putih adalah:
pengaruhnya terhadap ikan dan
lingkungan. Oleh karena itu, Malachyte green. Obat ini
pemakaiannya tidak dianjurkan diberikan sebanyak 1 gram (berupa
pada ikan yang dikonsumsi. Obat serbuk) untuk air kolam 10 m2,
ini akan tertinggal dalam jaringan pengobatan diulang setiap 2 hari;
dalam 10 hari, ikan yang sakit akan

443
sembuh. Dalam pengobatan cara tiga cara, yaitu direndam larutan
ini, apalagi yang dilakukan cukup kalium permanganate, larutan
lama, kolam harus diaerasi dan garam dapur, dan larutan malachite
ikan diberi makanan yang cukup green.
baik.
Ikan direndam dalam larutan kalium
Formalin. Ikan yang sakit direndam permanganate 1 gram per 100 liter,
setiap hari dalam larutan formalin selama 60 – 90 menit. Ikan
30% (dalam dosis 1 : 2000), direndam dalam larutan garam
lamanya perendaman 1 jam. dapur (10 gram per liter) selama 1
menit. Sedangkan untuk
Garam dapur. Larutan garam mengobati penyakit ikan dengan
dapur sebanyak 30 mg per liter malachite green, sebelumnya
dengan waktu perendaman 1 menit dibuat larutan baku (1 mg serbuk
dan dilakukan setiap hari, selama 3 dilarutkan dalam 450 ml air). Untuk
– 5 hari berturut-turut. Cara ini juga merendam ikan, 1–2 ml larutan
dapat menyembuhkan penyakit baku itu dilarutkan (diencerkan)
bintik putih. dalam 1 liter air, untuk dipakai
merendam ikan selama 1 jam.
Methilene blue. Caranya, dibuat Pengobatan diulang sampai tiga
larutan methyl biru dengan hari berturut-turut. Selain itu juga
konsentrasi 1 % (satu gram metal dapat dilakukan dengan
biru dalam 100 cc air). Ikan yang perendaman selama 24 jam tetapi
sakit kemudian dimasukkan dalam dosisnya dikurangi menjadi 0,15 –
wadah yang berisi air bersih. 0,70 ppm. Dapat juga
Kemudian didalamnya diberi menggunakan formalin 100 – 200
larutan baku yang sudah dibuat tadi. ppm selama 1 – 3 jam dan
Ikan dibiarkan di dalam larutan perendaman dengan larutan garam
selama 24 jam. Agar ikan yang dapur (NaCl) 20 ppm selama 1 jam.
sakit benar-benar sembuh dan
terbebas dari parasit, pengobatan
dilakukan berulang-ulang selama Pengobatan bakteri
tiga kali dengan selang waktu
sehari. Ikan yang terserang penyakit ini
akan bergerak lambat, bernafas
megap-megap di permukaan air,
Pengobatan jamur warna insang pucat dan warna
tubuh berubah gelap. Juga terdapat
Ikan yang terserang penyakit ini bercak-bercak merah pada bagian
tubuhnya ditumbuhi sekumpulan luar tubuhnya dan kerusakan pada
benang halus seperti kapas dan insang dan kulit. Pengobatan
dapat menyerang telur sehingga penyakit dari kelompok bakteri ini
menghambat pernafasan yang dapat dilakukan dengan beberapa
dapat mengakibatkan kematian. metode diantaranya adalah :
Penyakit ikan yang disebabkan
oleh jamur dapat diobati dengan

444
1. Metode perendaman dalam 200 gram. Penyuntikan perlu
larutan PK 10 - 20 ppm selama diulang setiap 2 – 3 hari sampai
30 - 60 menit atau PK 3 – 5 jangka waktu 2 minggu. Kalau
ppm selama 12 – 24 jam. cara ini berhasil, biasanya
Dengan larutan Nitrofuran 5 – dapat terlihat gejala
10 ppm selama 24 jam dan penyembuhan dari hari ke hari.
dengan larutan antibiotik
oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 3. Metoda oral yaitu dengan
jam, tetrasiklin / pemberian pakan yang
kemisitin/Chloramphenikol 250 dicampur dengan antibiotik
mg dalam 500 liter air selama 2 misalnya oksitetrasiklin
jam dan dilakukan setiap hari sebanyak 50 mg/kg ikan
selama 3 – 5 hari. diberikan setiap hari selama 7 –
10 hari.
2. Pada ikan besar, pengobatan
dapat dilakukan dengan metode
penyuntikan menggunakan
antibiotik oksitetrasiklin Pengobatan Trematoda
sebanyak 20 – 40 mg/kg ikan,
Kanamysine sebanyak 20 – 40 Pada ikan budidaya salah satu
mg/kg ikan dan Streptomysin jenis parasit dari kelompok
sebanyak 20 – 60 mg/kg ikan. Trematoda yaitu Dactylogyrus dan
Obat-obat antibiotika seperti Gyrodactylus biasa menyerang ikan
Kemicitin, Tetrasiklin, pada bagian insang dan kulit.
Streptomisin yang berupa Insang yang dirusaknya akan
serbuk, dicampurkan ke dalam menjadi luka dan menimbulkan
makanan ikan. Dosisnya harus pendarahan yang akan
diperhitungkan agar setiap 100 mengakibatkan terganggunya
gram berat ikan, dapat pernafasan ikan. Pengobatan yang
memakan 1 mg antibiotika itu dapat dilakukan dengan metode
per hari. Lama pemberian obat perendaman dalam larutan formalin
ini 2 – 3 minggu. Dosis teknis (formalin 40%) sebanyak 250
penyuntikan antibiotik larutan ml dalam 1 m3 selama 15 menit
chloramphenicol (kemicitin) 1 : atau dengan larutan Methylene
1,5 sebanyak 1 – 2 ml Blue 3 ppm selama 24 jam dan
disuntikkan ke dalam rongga larutan Malachite Green 2 – 3 ppm
perut (intra abdomincal cavity) selama 30 – 60 menit.
untuk setiap berat badan ikan

445
446
BAB. IX. PEMASARAN

9.1. PENGERTIAN mereka butuhkan dan inginkan


dengan menciptakan, menawarkan
PEMASARAN dan mempertukarkan produk yang
bernilai kepada pihak lain. Proses
Untuk menentukan jumlah produksi tersebut terjadi karena adanya
ikan yang akan dibudidayakan pada kebutuhan (needs), keinginan
suatu usaha budidaya ikan (wants), dan permintaan (demands);
diperlukan data tentang permintaan produk; nilai, biaya dan kepuasan;
hasil produksi tersebut. Permintaan pertukaran dan transaksi; hubungan
hasil produksi budidaya merupakan dan jaringan; pasar; serta pemasar
salah satu faktor yang menentukan dan konsep.
tingkat produksi. Produksi yang
tinggi dengan nilai jual yang tinggi Berdasarkan defenisi tersebut
sangat diharapkan oleh para diketahui bahwa pemasaran sangat
pembudidaya. Keberhasilan usaha diperlukan untuk mentransfer antara
budidaya ikan ini sangat ditentukan produsen dan konsumen.
oleh pemasaran (marketing) hasil Pemasaran merupakan kegiatan
produksi, oleh karena itu maka yang bertalian dengan penciptaan
terlebih dahulu kita harus mengenal atau penambahan kegunaan dari
konsep dan ruang lingkup barang atau jasa, maka dengan
pemasaran. Menurut Hanafiah dan demikian pemasaran termasuk
Saefuddin (1986), pemasaran tindakan atau usaha yang produktif.
merupakan tindakan yang bertalian Kegunaan yang diciptakan oleh
dengan pergerakan barang-barang kegiatan pemasaran adalah
atau jasa dari produsen ke tangan kegunaan tempat, kegunaan waktu,
atau pihak konsumen. Pemasaran dan kegunaan kepemilikan.
menurut Kotler (1997) didefinisikan
sebagai proses sosial dan manajerial Kegunaan waktu berarti bahwa
yang didalamnya individu dan barang-barang mempunyai faedah
kelompok mendapatkan apa yang (manfaat) atau nilai (harga) yang

447
lebih besar (tinggi) setelah terjadi Proses konsentrasi merupakan tahap
perubahan waktu, umpamanya ikan pertama dari aliran barang atau jasa
jambal siam (Pangasius succi) yang dihasilkan dalam jumlah kecil
harganya mahal bila bukan pada dikumpulkan menjadi jumlah yang
musimnya dan nilainya bisa sangat lebih besar, agar dapat disalurkan ke
murah bila pada musimnya, ikan pasar-pasar eceran secara lebih
bandeng pada hari raya suku efisien. Equalisasi merupakan
tertentu harganya sangat tinggi proses tahap kedua dari aliran
karena banyaknya permintaan barang atau jasa, kegiatan ini
sedangkan produksi tetap sehingga berlangsung antara proses
harga jual menjadi mahal. konsentrasi dengan proses dispersi,
proses equalisasi ini merupakan
Kegunaan tempat berarti bahwa tindakan-tindakan penyesuaian
barang-barang atau jasa mempunyai permintaan dan penawaran
faedah (manfaat) atau nilai (harga) berdasarkan tempat, waktu, jumlah
yang lebih besar (tinggi) karena dan kualitas. Proses dispersi
perubahan tempat, umpamanya ikan merupakan tahap ketiga atau tahap
mas (Cyprinus carpio) yang terakhir dari aliran barang atau jasa,
dihasilkan di Cianjur akan dimana barang-barang atau jasa
mempunyai kegunaan lebih besar yang terkumpul disebarkan ke arah
(harganya mahal) bila dipindahkan konsumen.
atau di bawa ke Jakarta sebagai
daerah konsumen. Dengan memahami pengertian dari
pemasaran ini maka proses produksi
Kegunaan kepemilikan berarti bahwa budidaya ikan sebaiknya mengacu
barang-barang atau jasa mempunyai pada aspek pasar. Aspek pasar ini
faedah (manfaat) atau nilai (harga) akan menentukan kapasitas produksi
yang lebih besar (tinggi) karena hasil perikanan berdasarkan
beralihnya hak milik atas barang, komoditas perikanan yang akan
umpamanya ikan nila (Tilapia diusahakan dan bagaimana sistem
nilotica) mempunyai kegunaan pemasaran yang akan diterapkan.
(faedah) yang lebih tinggi bila berada Permintaan terhadap komoditas
atau dimiliki oleh si A dibandingkan perikanan ini meliputi jumlah ikan
apabila berada pada si B. yang akan diproduksi yaitu volume
atau biomassa, tingkat harga, waktu
Pemasaran merupakan tindakan atau musim.
atau kegiatan yang berhubungan
dengan pergerakan barang atau jasa
dari produsen sampai konsumen,
maka proses pengaliran barang dari
9.2. CIRI-CIRI PEMASARAN
produsen ke konsumen tersebut HASIL PERIKANAN
meliputi proses pengumpulan
(konsentrasi), proses pengimbangan Menurut Hanafiah dan Saefuddin
(equalisasi), dan proses penyebaran (1986), pemasaran hasil perikanan
(dispersi). mempunyai sejumlah ciri,
diantaranya sebagai berikut :

448
1. Sebagian besar dari hasil perikanan dapat digolongkan ke
perikanan berupa bahan dalam : barang-barang konsumsi dan
makanan yang dipasarkan bahan-bahan mentah. Barang-
diserap oleh konsumen akhir barang konsumsi adalah produk
secara relatif stabil sepanjang perikanan yang langsung
tahun, sedangkan penawarannya dipergunakan oleh konsumen akhir
sangat tergantung kepada dalam bentuk yang sama saat
produksi yang sangat meninggalkan produsen. Sedangkan
dipengaruhi oleh iklim. bahan-bahan mentah adalah produk
2. Pada umumnya pedagang perikanan yang dipergunakan oleh
pengumpul memberi kredit pabrik atau pengolah (processor)
(advanced payment) kepada untuk dijadikan atau menghasilkan
produen (petani ikan) sebagai barang baru.
ikatan atau jaminan untuk dapat
memperoleh bagian terbesar dari Barang-barang perikanan
hasil perikanan dalam waktu mempunyai ciri yang dapat
tertentu. mempengaruhi atau menimbulkan
3. Saluran pemasaran hasil masalah dalam pemasaran. Ciri-ciri
perikanan pada umumnya terdiri tersebut antara lain adalah sebagai
dari : produsen (petani ikan), berikut :
pedagang perantara sebagai 1. Produksinya musiman,
pengumpul, grosir (wholesaler), berlangsung dalam ukuran kecil-
pedagang eceran, dan konsumen kecil (small scale) dan daerah
(industri pengolahan atau terpencar-pencar. Produksi ikan
konsumen akhir). tertentu dapat berlangsung
4. Pergerakan hasil perikanan secara musiman, sehingga dapat
berupa bahan makanan dari menimbulkan beban musiman
produsen sampai konsumen (peak load) dalam pembiayaan,
pada umumnya meliputi proses- penyimpanan, pengangkutan,
proses pengumpulan, dan penjualan. Produksi ikan
pengimbangan, dan penyebaran, juga dilakukan oleh petani ikan
dimana proses pengumpulan terpencar-pencar dengan
merupakan proses yang ukurannya yang kecil-kecil,
terpenting. sehingga memerlukan lembaga-
5. Kedudukan terpenting dalam lembaga dan fasilitas-fasilitas
pemasaran hasil perikanan pemasaran yang dapat
terletak pada pedagang menghimpun hasil perikanan
pengumpul karena berhubungan tersebut agar menjadi jumlah
dengan fungsinya sebagai yang lebih besar guna diangkut
pengumpul dari daerah produksi ke pusat-pusat konsumsi dan
yang terpencar-pencar, skala pusat-pusat pengolahan
produksi kecil-kecil, dan (processing) agar lebih efisien.
produksinya musiman. 2. Konsumsi hasil perikanan berupa
bahan makanan relatif stabil
Menurut Hanafiah dan Saefuddin sepanjang tahun, sedangkan
(1986), barang-barang hasil untuk komoditas tertentu

449
produksinya kadang bersifat Dengan berbagai ciri khas dari
musiman dan jumlahnya tidak produk hasil perikanan tersebut
tentu karena pengaruh cuaca, maka dalam memasarkan hasil
sehingga menimbulkan masalah perikanan ada dalam beberapa
dalam penyimpanan dan bentuk antara lain adalah bentuk
pembiayaan. segar yaitu bentuk asli dari hasil
3. Barang hasil perikanan berupa produksi budidaya ikan, produk
bahan makanan mempunyai sifat setengah jadi yaitu produksi hasil
cepat atau mudah rusak perikanan dalam bentuk pengolahan
(perishable). Karena barang- sederhana seperti ikan asin atau
barang hasil perikanan produk hasil perikanan dipasarkan
merupakan organisme hidup, dalam bentuk sudah diolah lebih
sehingga mudah atau cepat tinggi telah mengalami perubahan
mengalami kerusakan atau bentuk dari aslinya seperti dibuat
pembusukan akibat dari kegiatan menjadi sarden atau produk lainnya.
bakteri, enzimatis, dan oksidasi.
Masalah ini membutuhkan usaha
perawatan khusus dalam proses 9.3. PERENCANAAN DAN
pemasaran guna
mempertahankan mutu, seperti TARGET PENJUALAN
penyimpanan perlu dilakukan di
tempat-tempat atau ruangan Pemasaran akan berhasil dengan
dingin (kamar dingin, ruangan baik apabila direncanakan terlebih
dingin, peti dingin), dahulu, berbagai kegiatan perlu
pengangkutan perlu dilengkapi dilalui sebelum memasarkan suatu
dengan alat atau mesin produk. Kegiatan-kegiatan tersebut
pendingin. Usaha ini menurut Hanafiah dan Saefuddin
memerlukan biaya tambahan dan (1986), adalah sebagai berikut :
demikian dapat meningkatkan 1. Penelitian pasar dan
biaya pemasaran. perencanaan. Penelitian pasar
4. Jumlah atau kualitas hasil dipusatkan kepada barang-
perikanan dapat berubah-ubah, barang yang akan dijual, dengan
karena sangat tergantung maksud untuk menemukan
dengan keadaan cuaca. barang apa yang diinginkan oleh
Perubahan tersebut dapat konsumen. Penelitian ini akan
mnimbulkan fluktuasi harga dihubungkan dengan persoalan
sebagai akibat perubahan dari tentang rencana produksi, antara
kondisi penawaran. Variasi lain harga dari macam-macam
demikian dapat mengakibatkan barang, kualitas barang,
tidak terorganisirnya pasar, kebiasaan dan motif pembelian
akibatnya menyebabkan dari konsumen.
perubahan harga, menambah 2. Memperkirakan kesanggupan
ongkos penyimpanan dan sukar penjualan (estimating potentials
dalam grading. of sales). Dalam hal ini harus
diperhitungkan pendapatan
konsumen serta cara-cara

450
bagaimana pendapatan 5. Membuat kontak dengan pembeli.
konsumen tersebut Kegiatan membuat kontak
dibelanjakannya, bagaimana dengan pembeli meliputi
pengaruh harga terhadap berbagai kegiatan, diantaranya :
permintaan, pengaruh x menetapkan pasar, apakah
persaingan dan penilaian barangnya akan dijual di
terhadap akibat-akibat karena daerah geografis luas atau
adanya perubahan-perubahan sempit
penjualan di dalam keadaan- x setelah menetapkan pasar,
keadaan perdagangan pada pihak penjual harus mencari
umumnya. pembeli di pasar tersebut,
3. Pemilihan saluran distribusi. dimana para pembeli berada
Pemilihan saluran distribusi dan bagaimana
merupakan sebagian daripada kebutuhannya
perencanaan fungsi-fungsi x membuat kontak dengan
penjualan yang juga mencakup pembeli potensial tersebut
pengambilan keputusan dengan dan mengembangkan serta
memperhatikan macam distribusi memelihara hubungannya,
mana yang paling efektif. x menciptakan permintaan
Apakah produsen menjual konsumen potensial misalnya
barangnya langsung kepada melalui reklame, memberi
pedagang eceran ataukah contoh barang untuk dicoba
menjual melalui berbagai secara Cuma-cuma.
perantara, melalui pos, ataukah 6. Pemindahan hak milik atas
langsung menjual kepada barang. Pemindahan hak milik
konsumen akhir dari rumah ke atas barang dari pihak penjual
rumah. kepada pihak pembeli
4. Penentuan syarat-syarat merupakan suatu langkah yang
penjualan. Kegiatan ini meliputi diperlukan dan yang resmi di
penetapan syarat-syarat dan dalam penjualan barang-barang,
kondisi-kondisi penjualan yang tetapi pemindahan hak milik ini
meliputi : harus disertai dengan
x syarat-syarat pengiriman penerimaan barang-barang oleh
misalnya waktu penyerahan pihak pembeli sesuai dengan
dan pembayaran ongkos kontrak pembelian. Kegiatan
angkutan, penjualan dikatakan sudah
x cara-cara pembayaran selesai apabila pihak pembeli
misalnya potongan harga dan sudah menerima barang dari
kredit, pihak penjual dan memilikinya.
x kualitas serta kuantitas
barang yang dijual, dan
x hal-hal lain yang ada
hubungannya dengan
penjualan.

451
9.4. ESTIMASI HARGA Pedagang eceran harus juga
mengeluarkan biaya untuk kegiatan
JUAL penjualannya dan dalam beberapa
hal untuk pembelian oleh pelanggan
Agar pemasaran dapat berjalan di tingkat eceran.
dengan lancar, maka perlu
direncanakan terlebih dahulu Pembiayaan bisa saja berasal dari
kebutuhan biaya yang harus kredit, hal ini berarti menggunakan
dikeluarkan untuk biaya pemasaran. modal uang orang lain yang nantinya
Selain itu perencanaan biaya harus dikembalikan berikut bunganya.
pemasaran ini sebagai bahan Kredit dapat diperoleh dari pihak
pertimbangan juga dalam hal nilai swasta (perorangan), Bank
atau harga barang yang akan dijual. Pemerintah, Bank Komersial,
Koperasi, Bank Desa, atau
Menurut Hanafiah dan Saefuddin Organisasi Sosial.
(1986), pembiayaan pemasaran
berarti mencari dan mengurus modal Kredit dari pihak swasta (para
uang yang berkaitan dengan pelepas uang, pedagang pengumpul
transaksi-transaksi dalam arus atau tengkulak) telah menimbulkan
barang dari sektor produksi sampai tiga aspek masalah kredit dalam
sektor konsumsi. Pembiayaan dan pemasaran hasil perikanan. Ketiga
menanggung risiko merupakan aspek dimaksud adalah :
fungsi umum dan penyerta dari 1. Tingkat bunga (interest rate)
semua kegiatan pemasaran, bahkan sangat tinggi. Kredit pasar yang
mempunyai aplikasi penting dalam dikenal sebagai ”utang
bidang pemasaran. Oleh karena itu mindering” (karena pelunasannya
barang-barang tidak dapat melalui secara cicilan, ”midering”), bunga
semua sistem pemasaran tanpa tersebut bisa sampai 120 bahkan
didukung oleh pembiayaan. 150% per tahun.
2. Petani ikan wajib menjual hasil
Pemilik barang pada setiap tingkat produksinya kepada pemberi
pasar (stage of distribution) harus kredit (pelepas uang, tengkulak)
mengorbankan modal yang dengan harga yang ditentukan
dimilikinya atau harus meminjam oleh pihak pemberi kredit.
modal dari sumber lainnya (kredit). 3. Hasil produksi harus segera
Petani ikan juga perlu modal atau dijual kepada pemberi kredit
kredit untuk fase selama memiliki (pedagang pengumpul) tanpa
barang dan menunggu penjualan dapat ditahan sementara waktu
atau pembayaran. Pedagang besar untuk menunggu harga lebih baik.
(wholesaler) di samping membiayai
stock yang dimilikinya, harus juga Ketiga aspek masalah kredit seperti
membiayai fasilitas-fasilitas diuraikan di atas telah menempatkan
pemasaran yang terikat padanya petani ikan bermodal kecil pada
seperti processing plan, storage plan, bargaining position sangat lemah,
sarana dan prasarana pengangkutan, sebaliknya sistem kredit seperti ini
dan kegiatan-kegiatan peragaan. menempatkan pedagang pengumpul

452
dan pelepas uang pada posisi sangat Apabila margin dinyatakan dalam
menguntungkan. Karena tanpa persentase, maka disebut mark-up,
memberi kesempatan kepada petani yaitu suatu persentase margin
ikan untuk memilih pedagang dan (margin dalam bentuk persentase)
harga yang lebih menguntungkan. yag dihitung atas dasar harga pokok
penjualan (cost of goods sold) atau
Oleh karena itu penggunaan kredit atas dasar harga penjualan eceran
oleh petani ikan semakin penting suatu produk.
untuk melakukan proses produksi
terlebih dahulu sesuai permintaan
konsumen. Sebaiknya jumlah kredit Analisa Biaya Pemasaran
juga mempertimbangkan jangka
waktu proses produksi dan proses 1. Analisa Biaya dan Margin
penyaluran barang. Maka dengan
demikian petani ikan perlu Perpindahan barang dari produsen
merencanakan terlebih dahulu ke konsumen akhir kadang-kadang
semua kebutuhan biaya dengan memerlukan waktu cukup lama,
seksama agar penggunaan modal sehingga memungkinkan timbulnya
terutama modal hasil pinjaman dapat berbagai risiko yang perlu ditangani
digunakan lebih efisien. dan berhubungan dengan masalah
biaya pemasaran yang harus
dikeluarkan. Sehubungan dengan itu
Konsep Biaya Pemasaran maka harus ada lembaga pemasaran
yang menyediakan biaya untuk
Biaya pemasaran ini mencakup seluruh kegiatan fungsi pemasaran
jumlah biaya yang dikeluarkan oleh tersebut, seperti : biaya grading,
produsen (petani ikan) untuk biaya pengolahan, biaya
keperluan pelaksanaan kegiatan pengangkutan, dan lain-lain, sampai
yang berhubungan dengan penjualan barang tersebut dijual kepada
hasil produksinya dan jumlah biaya konsumen akhir.
yang dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran (badan perantara) serta Pembiayaan merupakan fungsi
laba (profit) yang diterima oleh badan pemasaran yang mutlak diperlukan
yang bersangkutan. dalam menangani sistem pemasaran,
konsekuensinya akan berpengaruh
Biaya pemasaran suatu produk terhadap harga eceran (harga yang
biasanya diukur secara kasar harus dibayarkan oleh konsumen).
dengan margin. Margin adalah suatu Faktor-faktor yang mempengaruhi
istilah yang digunakan untuk biaya pemasaran tersebut, antara
menyatakan perbedaan harga yang lain : pengangkutan, penyimpanan,
dibayar kepada penjual pertama risiko, kerusakan, waktu kerja,
(produsen) dan harga yang grading, dan lain-lain.
dibayarkan oleh pembeli akhir Metode yang dapat dipakai untuk
(konsumen). menghitung perbedaan harga yang
diterima oleh produsen dengan

453
harga yang dikeluarkan oleh pihak produsen di satu pihak dan
konsumen (marketing margin), yaitu : pihak konsumen di lain pihak.
x Marketing margin dapat dihitung Proses penyaluran barang oleh
dengan memilih sejumlah barang produsen atau lembaga pemasaran
tertentu yang diperdagangkan sebetulnya bisa lebih dari satu
dan mencatatnya sejak dari saluran/pola pemasaran, dimana
produsen sampai ke konsumen masing-masing pola itu mungkin
akhir sistem pemasaran akan melibatkan lembaga
x Marketing margin dapat dihitung pemasaran yang tidak sama. Ada
dengan mencatat nilai penjualan saluran pemasaran yang melibatkan
(gross money sale), nilai banyak lembaga pemasaran
pembelian (gross money sehingga salurannya menjadi
purchase) dan volume barang panjang, ada juga saluran
dari setiap lembaga pemasaran pemasaran yang hanya melibatkan
(marketing agency) yang terlibat sedikit lembaga pemasaran sehingga
pada saluran pemasaran. salurannya menjadi pendek.
Dengan ketiga unsur tersebut,
yaitu : nilai pemasaran (Ps), nilai Masalah pola saluran pemasaran ini,
pembelian (Pb), dan volume bukan semata-mata terletak pada
barang (V), maka average gross panjang pendeknya saluran
margin (AGM) dari tiap marketing pemasaran, tetapi saluran mana
agency dapat dihitung dengan yang memberikan tingkat efisiensi
menggunakan rumus : yang paling tinggi, yang ditunjukkan
oleh besarnya penerimaan bersih
Ps - Pb dari kegiatan pemasaran tersebut.
AGM = Untuk menentukan saluran mana
V yang memberikan keuntungan
maksimum, maka dapat digunakan
Dengan menetapkan suatu analisis Reactive Programming.
saluran pemasaran tertentu dan
mencari average gross margin Analisa Reactive Programming
dari pedagang yang mengambil didasarkan kepada analisa regional
bagian dalam saluran tersebut, daerah produksi dan daerah
maka marketing margin dari konsumsi, yang kaitannya sangat
keseluruhan saluran pemasaran erat dengan masalah biaya transfer.
dapat diketahui. Untuk memudahkan analisa
pemasaran antar regional dengan
asumsi bahwa jumlah produksi yang
2. Analisis Reactive dihasilkan di daerah produksi sama
Programming dengan jumlah yang diminta di
daerah konsumsi. Hubungan antara
Dalam pemasaran, termasuk daerah produksi dan konsumsi biaya
pemasaran di bidang perikanan transfer per unit barang dari masing-
terdapat dua pihak yang perlu masing saluran antar kedua daerah
duhubungkan satu sama lain selama tersebut.
proses penyaluran barang, yaitu

454
Untuk menentukan pola pemasaran penjualan melalui inspeksi
yang optimum antara kedua daerah (pengawasan, pemeriksaan),
itu harus diketahui harga di daerah penjualan melalui contoh (sample),
produksi, harga di daerah konsumsi, penjualan melalui penggambaran
dan biaya transfer bagi barang (description), atau penjualan melalui
tersebut. Dengan demikian saluran kombinasi dari ketiga penjualan
pemasaran antara daerah produksi tersebut.
(i) dan daerah konsumsi (j) hanya
dapat aktif selama keadaan : Penjualan melalui/dengan
pengawasan atau pemeriksaan
Hj > Hi + BTij (inspection) maksudnya adalah
adanya ijin dari para penjual kepada
Selain itu satu daerah produksi (i) pembeli untuk memeriksa dan
akan menyalurkan barang ke daerah meneliti semua barang sebelum
konsumsi (j) dan (k) apabila : pembeli memilih apa yang dibelinya.
Penjualan dengan cara ini terjadi
Hk – BTij = Hj – BTik karena adanya sifat-sifat barang
tersebut dan situasi pemasarannya,
Dimana : dimana :
Hi = harga barang di daerah x tidak adanya standarisasi
produksi (i) terhadap barang,
Hj = harga barang di daerah x adanya sifat cepat rusak yang
konsumsi (j) tinggi dari barang,
Hk = harga barang di daerah x tingkat pembelian yang sangat
konsumsi (k) cepat sehingga lalu lintas
BTij = biaya transport antara langganan dan tingkat penjualan
daerah produksi (i) dan akan terganggu,
konsumsi (j) x suatu cara memamerkan barang-
BTik = biaya transport antara barang yang akan mendorong
daerah produksi (i) dan sejumlah pembelian yang terjadi
konsumsi (k) saat bersamaan, dan
x adanya tekanan kepada tingkat
pelayanan sendiri yang tinggi
9.5. SISTEM PENJUALAN oleh pembeli-pembelinya atau
wakil-wakil dari pembeli.
Kegiatan penjualan merupakan salah
satu fungsi pemasaran yang Penjualan dengan atau melalui
termasuk kelompok fungsi contoh adalah penjualan karena
pertukaran, sasaran penjualan berdasarkan kepada prinsip-prinsip
adalah mengalihkan barang kepada standarisasi, sehingga cukup dengan
pihak pembeli dengan harga yang contoh saja dari barang yang
memuaskan (Hanafiah dan diperdagangkan yang dilihat atau
Saefuddin, 1986). Pada dasarnya diteliti oleh pembeli, jadi contoh ini
kegiatan penjualan dapat akan merupakan wakil untuk semua
dilaksanakan sebagai berikut : unit barang yang akan dijual.

455
9.6. STRATEGI PROMOSI
Penjualan dengan penggambaran
terjadi karena ada anggapan bahwa Suatu usaha untuk menarik
barang-barang akan bisa digunakan perhatian pembeli dengan tujuan
sedemikian rupa di dalam katalog- meningkatkan volume penjualan
katalog, sehingga tidak ada satu unit disebut “promosi penjualan”.
barang pun perlu ada pada waktu Promosi penjualan hasil perikanan
penjualan diselesaikan. Contoh dapat dilakukan secara langsung
penjualan barang seperti ini adalah yaitu dengan cara menghubungi atau
penjualan barang yang dilakukan mengunjungi para pembeli (calon
melalui pos (mail order selling) dan pembeli) secara langsung, atau
penjualan barang yang dilakukan dengan cara tidak langsung yaitu
untuk masa yang akan datang (future melalui pemasangan iklan
trading). Penjualan dengan cara ini (advertising).
hanya mungkin dilakukan karena
adanya perkembangan standarisasi Iklan merupakan elemen penting
dan perbaikan mutu bersama-sama dalam program penjualan, terutama
dengan perkembangan di dalam untuk barang-barang konsumsi.
proses komunikasi. Penjualan Iklan merupakan alat komunikasi
dengan cara ini hanya akan berhasil masal dan dapat diulangi dengan
baik, jika adanya syarat kebebasan biaya yang relatif rendah. Iklan ini
dalam mengadakan kebijakan dapat berupa kata-kata tertulis,
garansi terhadap barang-barang, tercetak atau diucapkan, gambar-
sehingga dengan demikian pembeli gambar, diagram-diagram dan
tidak perlu memeriksa barang- simbol-simbol. Namun program iklan
barang untuk memuaskan pilihannya. untuk hasil perikanan dibatasi
beberapa hal, sebagai berikut:
Penjualan kombinasi antara selling x Kualitas produk bervariasi luas
by sample, selling by inspection, dan Rata-rata kualitas produk
selling by description telah menjadi bervariasi dari hari ke hari, dari
biasa di dalam perdagangan yang musim ke musim, dari tahun ke
modern. Pada penjualan seperti ini tahun bahkan dari suatu usaha
tersedianya contoh (sample) yang ke usaha yang lain. Berbeda
mewakili semua barang yang dengan produk industri (pabrik)
diperdagangkan dan daftar yang mana kualitas dapat
penawaran (cataloque) dari sebagian dikontrol, sehingga hasilnya
barang yang dijual yang dibuat setiap relatif seragam.
hari. Para pembeli dapat memeriksa
x Perishability dari produk
contoh dalam kemasan-kemasan
Sifat ini mempersulit reklame
dari semua barang yang
(iklan), karena perubahan dalam
diperdagangkan.
kualitas maupun tersedianya
produk (availability)
x Kesukaran dalam mempertahan-
kan keseragaman produk dan
pengepakannya

456
Karena produk perikanan jenis kelamin, umur ikan, dan
dihasilkan oleh banyak usaha sebagainya.
perikanan yang skala kecil (small 2. Kualitas air yang baik, sumber air
scale) dan secara geografis yang dapat digunakan, dan cara
terpencar pergantian air
x Elastisitas dari berbagai produk 3. Harga ikan per ekor, harga grosir,
Permintaan untuk kebanyakan bonus
hasil perikanan inelastis, 4. Hama dan penyakit ikan,
sehingga manfaat daripada pengendalian dan
kegiatan promosi sangat kecil pengobatannya.
dibandingkan dengan produk 5. Jenis pakan, harga pakan, bahan
yang permintaannya elastis. pembuatan pakan
Menyiapkan Tenaga Penjualan 6. Teknis budidaya
Riset pemasaran sangat penting
Semua pendekatan penjualan adalah dilakukan, karena riset pemasaran
mencoba mengubah seorang tenaga merupakan kunci keberhasilan
penjual yang asalnya hanya pencatat pemasaran. Adapun tujuan riset
pesanan yang pasif menjadi pencari pemasaran adalah untuk menaksir
pesanan yang aktif. Dalam melatih permintaan efektif (demand efektive)
tenaga penjual ini ada 2 (dua) dan permintaan potensial (demand
macam pendekatan, yaitu : potensial) dari suatu produk.
pendekatan yang berorientasi pada
penjualan dan pendekatan yang Pengertian riset pemasaran adalah
berorientasi pada pelanggan. suatu riset yang ditujukan untuk
mengumpulkan data yang akan
Pendekatan yang berorientasi pada digunakan untuk menentukan
penjualan ini beranggapan bahwa kebijakan pemasaran (marketing
pelanggan tidak akan membeli policies) dan rencana usaha,
kecuali bila ditekan, sehingga termasuk untuk memecahkan
mereka terpengaruh oleh presentasi masalah-masalah pemasaran
yang rapi dan sikap manis, dan janji (Converse, Huegy and Mitchell,
tidak akan kecewa setelah 1985).
menandatangani pesanan.
Sedangkan pendekatan yang Sehingga dengan demikian riset
beroreientasi pada pelanggan adalah pemasaran akan banyak membantu
pendekatan yang berupaya agar untuk :
penjualan sesuai dengan apa yang 1. Mengidentifikasi masalah-
dibutuhkan oleh pelanggan. masalah dalam pemasaran
2. Mengantisipasi peluang-peluang
Beberapa hal yang harus dikuasai pasar
oleh tenaga penjual ikan, antara 3. Membantu mengenal dan
lain : memahami keadaan target
1. Jenis ikan, asal ikan, nama ilmiah, pemasaran
varietas ikan, nama dagang, 4. Mengembangkan kombinasi
nama daerah, besar maksimal, pemasaran

457
Riset pemasaran sangat penting Riset pemasaran dibagi dalam 2
untuk pengambilan keputusan, (dua) bagian, yaitu : analisa pasar
karena keputusan dimulai dari dan observasi pasar. Analisa pasar
analisa permasalahan melalui adalah penyelidikan keadaan pasar
beberapa tahapan, yaitu : tahap pada suatu saat tertentu.
merumuskan masalah, tahap Sedangkan observasi pasar adalah
mencari kemungkinan pemecahan suatu bagian dari penyelidikan pasar
masalah, tahap mengukur yang bertugas mempelajari gerakan
kemungkinan pemecahan masalah, dan perubahan yang terdapat di
dan tahap memutuskan daerah penjualan. Analisa pasar ini
kemungkinan pemecahan masalah meliputi penyelidikan pasar
yang paling baik. mengenai analisa permintaan,
analisa penawaran, dan analisa
Tahap-tahap tersebut di atas dapat produk yang di bawa ke pasar.
diselesaikan dengan intuisi atau Sedangkan observasi pasar meliputi
dengan fakta atau dengan keduanya. segi permintaan, segi penawaran,
Untuk masalah-masalah kecil, dan segi pergerakan atau perubahan
insidentil, dan masalah yang perlu dalam distribusi.
pemecahan segera bisa dengan
intuisi. Sebaliknya untuk masalah- Prosedur riset pemasaran pada
masalah besar, bukan insidentil, dasarnya dibedakan dalam 3 (tiga)
serta tidak memerlukan pemecahan tahap, yaitu : pendahuluan,
segera sebaiknya diselesaikan perencanaan dan pelaksanaan
dengan fakta, walaupun kadang- penelitian, dan hasil dan
kadang tetap memerlukan instuisi rekomendasi. Tahap pendahuluan
dari hasil pengalaman-pengalaman terdiri dari 3 (tiga) langkah, yaitu :
masa lalu. Kesemuanya itu semata- analisa situasi, penelitian informal,
mata karena pertimbangan biaya dan dan perumusan masalah. Tahap
waktu merupakan pembatasan perencanaan dan pelaksanaan terdiri
utama. dari 2 (dua) langkah, yaitu :
perencanaan penelitian formal dan
Pentingnya riset pemasaran ini pengumpulan data. Sedangkan
makin terasa karena pemasaran tahap hasil dan rekomendasi terdiri
bersifat komplek dan dinamis. dari 4 (empat) langkah, yaitu :
Kemudian didorong lagi oleh tabulasi dan analisa, interpretasi
perubahan penduduk, pendapatan, hasil, kesimpulan dan rekomendasi,
situasi ekonomi, persaingan serta penyusunan laporan.
teknologi baru, dan sebagainya. Jadi
pada saat ini keputusan tidak hanya Manusia sebagai pembeli yang
dapat diambil berdasarkan intuisi dan sifatnya dinamis dan mempunyai
pengalaman saja, tetapi harus karakter yang berbeda-beda,
ditunjang dengan fakta yang cukup masing-masing mempunyai pilihan
tentang keadaan yang lalu, sekarang, yang berbeda terhadap barang yang
dan kemungkinan di masa yang akan ditawarkan. Oleh karena itu riset
datang. pemasaran akan berhasil dengan
baik apabila metode yang diterapkan

458
baik dan tepat. Beberapa metode promosi penjualan untuk
yang dapat digunakan dalam riset mendeterminasi harga-harga dan
pemasaran, yaitu : survey, historis, produk-produk dan pembungkus
observasi, dan percobaan. baru, untuk mengetahui harga
diantara tiga macam harga untuk
Metode survey merupakan metode suatu produk, dan sebagainya.
yang paling sering digunakan dan Strategi pemasaran harus
juga paling produktif. Ada beberapa mempertimbangkan beberapa hal,
teknik yang dapat digunakan dalam antara lain : keadaan persaingan,
metoda survey, yaitu : mail survey, perkembangan teknologi, kebijakan
personal interview, telephone survey, politik dan ekonomi, sumber daya
dan panel. alam, serta market segmentation.
1. Keadaan Persaingan
Metode historis merupakan metode
pengumpulan data yang telah lalu, Keadaan persaingan agak sulit untuk
dengan maksud untuk dapat melihat diduga kapan saingan baru akan
perbandingan-perbandingan, muncul. Oleh karena itu sebaiknya
persamaan-persamaan, kelainan- selalu perbaikan mutu dijadikan
kelainan pada masa lalu, untuk dapat sebagai kegiatan yang selalu harus
digunakan memprediksi atau diperhatikan walaupun tidak atau
meramalkan masa sekarang dan belum ada saingan.
masa yang akan datang. Metode
historis ini sering dilakukan untuk 2. Perkembangan Teknologi
keprluan : pengukuran potensi pasar,
kecenderungan harga pasar, Kemunculan teknologi baru yang
penelitian dan indeks daya beli, sera akan memperbaiki proses produksi,
analisa biaya distribusi dan baik dari segi efisiensi maupun dari
sebagainya. segi model sulit diduga. Oleh karena
itu sebaiknya harus selalu mencoba
Metode Observasi yaitu metode yang menggunakan teknologi baru lebih
digunakan dengan cara pengamatan cepat dari saingan. Walaupun dalam
atau pengukuran langsung terhadap hal ini ada risiko, karena teknologi
kejadian-kejadian atau perbuatan baru yang muncul akan disusul oleh
konsumen atau gejala pasar. teknologi lain yang lebih canggih,
Keuntungan metode ini adalah lebih sehingga perlu pertimbangan yang
obyektif dan lebih akurat matang.
dibandingkan dengan metode survey,
namun dengan metode observasi ini 3. Kebijakan Politik dan Ekonomi
lebih banyak waktu yang dibutuhkan,
apalagi bila harus menunggu sampai Perubahan-perubahan peraturan
terjadinya fenomena tertentu. pemerintah dalam bidang ekonomi,
seperti : naik turunnya suku bunga,
Metoda percobaan dalam bidang pembatasan kredit, atau politik
pemasaran digunakan untuk moneter. Juga perubahan-
mengetes berbagai macam jenis perubahan politik, seperti :
rencana-rencana, misalnya : reklame perubahan susunan keanggotaan

459
DPR, perubahan atau pergantian kota, daerah dingin, daerah panas,
pejabat. Perubahan-perubahan dan sebagainya.
tersebut dapat mempengaruhi
kegiatan bisnis yang sulit diduga Segmentasi pasar berdasarkan
sebelumnya. demografis adalah dalam hal ini
pasar dipilah-pilah berdasarkan
4. Sumber Daya Alam variabel-variabel, seperti : jenis
kelamin, umur, jumlah anggota
Dalam beberapa hal sumber daya keluarga, pendapatan, jabatan,
alam juga sulit diramalkan kapan pendidikan, agama, suku, dan
berkurang atau kapan ditemukan sebagainya. Segmentasi pasar
sumber daya alam baru. Sehingga berdasarkan demografis ini sangat
sumber daya alam ini kadang- banyak digunakan, karena
kadang dapat merupakan variabel kebutuhan dan keinginan konsumen
yang dapat mempengaruhi kegiatan sangat erat kaitannya dengan
bisnis yang sulit diduga. demografis, dan juga demografis ini
lebih mudah diukur jumlahnya.
5. Market Segmentation
Segmentasi pasar berdasarkan
Secara garis besar segmen pasar psikologis adalah pemilahan segmen
dapat dikelompokkan menjadi 2 pasar berdasarkan kelompok-
(dua), yaitu : masyarakat secara kelompok, seperti : kelas sosial, gaya
umum atau segmen tertentu saja. hidup, atau kepribadian. Walaupun
Kedua jenis strategi tersebut konsumen berasal dari unsur
mempunyai kelabihan dan demografis yang sama namun
kekurangan, namun sekarang ini psikologis dapat berbeda, sebagai
sudah banyak yang memilih segmen contoh konsumen yang kelas
tertentu saja. Ada beberapa cara sosialnya kuat akan berbeda dalam
untuk menyusun segmen pasar, memilih kualitas produk yang
antara lain : berdasarkan geografis, ditawarkan dibandingkan dengan
berdasarkan demografis, yang kelas sosialnya lemah,
berdasarkan psikologis, dan demikian juga dengan gaya hidup
berdasarkan segmentasi prilaku. dan kepribadian.

Segmentasi pasar berdasarkan Segmentasi pasar berdasarkan


geografis adalah segmentasi pasar perilaku adalah pemilahan konsumen
yang dipilah-pilah berdasarkan berdasarkan klasifikasi sebagai
kebangsaan, propinsi, kota, dan berikut : occasion yaitu konsumen
sebagainya. Jadi untuk mencapai yang mengkonsumsi sesuatu pada
sasaran geografis dapat disusun hari-hari istimewa, benefit yaitu
iklan, promosi, dan usaha penjualan konsumen yang membeli sesuatu
yang mengarah kepada lokasi berdasarkan kepentingan pribadinya,
tertentu yang dapat diklasifikasikan, user status yaitu konsumen yang
misalnya : sebagai daerah ibu kota, dikelompokkan atas dasar statusnya
propinsi, kabupaten, desa, pinggiran dalam mengkonsumsi produk yang
ditawarkan, loyalitas yaitu

460
pengelompokkan konsumen ditentukan pada awal sebelum
berdasarkan kesetiaannya kegiatan produksi dilakukan. Dalam
mengkonsumsi suatu produk, dan berbagai macam metode budidaya
attitude yaitu pengelompokkan ikan yang akan dipilih pada
konsumen yang didasarkan atas prinsipnya bagi seorang yang akan
tanggapannya terhadap suatu menyusun suatu program produksi
produk. harus mengetahui ketersediaan
sarana prasarananya yang dimiliki.
Manfaat segmentasi pasar dapat
diperoleh secara maksimal bila Jumlah produksi dalam suatu usaha
memenuhi persyaratan sebagai budidaya ikan sangat ditentukan oleh
berikut : kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar
1. Dapat diukur, besarnya daya beli akan hasil dari produk perikanan
setiap segmen dapat diukur sangat ditentukan oleh ketersediaan
dengan tingkat tertentu. produk tersebut, jenis produk
2. Dapat dicapai, seberapa jauh tersebut dipasaran, lokasi dimana
segmen dapat dijangkau dan produk tersebut dihasilkan. Target
dilayani secara efektif. produksi dari suatu usaha budidaya
3. Besarnya, suatu kelompok akan ikan sangat ditentukan oleh sarana
pantas disebut segmen apabila prasarana produksi yang dimiliki dan
cukup besar dan cukup sistem teknologi budidaya yang
menguntungkan. digunakan.
4. Dapat dilaksanakan, seberapa
jauh program-program efektif Perencanaan jumlah produksi yang
dapat disusun untuk menarik akan dihasilkan dalam proses
minat segmen. produksi budidaya ikan biasanya
dipilih berdasarkan pertimbangan
Pemasaran hasil budidaya ikan yang bisnis (ekonomis) dan teknologi
berhasil sangat erat kaitannya (budidaya). Berdasarkan
dengan penyusunan program pertimbangan bisnis, spesies ikan
produksi budidaya ikan yang tepat. yang dipilih harus berorientasi pasar,
Program produksi adalah suatu yaitu seberapa banyak permintaan
rencana tentang kegiatan produksi pasar terhadap spesies ikan yang
yang meliputi tentang jumlah akan diproduksi, termasuk pola
produksi, jadwal produksi dan waktu permintaan pasar, kompetitor
prediksi panen yang akan dilakukan. yang bergerak dengan komoditas
Perencanaan program produksi tersebut dan tingkat kejenuhan pasar
harus disusun untuk memberikan terhadap komoditas yang akan
arahan dan petunjuk bagi pelaksana diusahakan tersebut. Dengan
produksi sehingga kegiatan produksi memperhatikan beberapa aspek
dapat berlangsung sesuai dengan tersebut maka dalam menyusun
target produksi yang ditetapkan. program produksi dapat ditetapkan
target produksi persatuan waktu.
Program produksi dalam budidaya Persatuan waktu dalam usaha
ikan biasanya disusun berdasarkan budidaya ikan ini dapat dihitung
metode produksi yang telah

461
persiklus produksi atau periode diterapkan dalam melaksanakan
waktu tanam. budidaya tersebut.

Jumlah produksi budidaya ikan dapat Penentuan jumlah produksi atau


disusun dengan melihat informasi target produksi biasanya dilakukan
pasar. Informasi pasar suatu produk berdasarkan skala usaha budidaya
perikanan dapat diketahui dengan ikan. Target produksi suatu usaha
melihat data permintaan dan budidaya ikan ini sangat ditentukan
pasokan serta harga komoditas oleh jumlah produksi yang ingin
perikanan tersebut dalam lima tahun dihasilkan sehingga muncul
terakhir. Dari data tersebut dapat peristilahan industri skala kecil,
dilakukan analisis sehingga bisa menengah dan besar. Target
disimpulkan tentang tingkat produksi ini akan sangat ditentukan
permintaan produk dan kejenuhan oleh beberapa faktor diantaranya
terhadap produk tersebut. adalah permintaan pasar,
kemampuan permodalan dan
Selain itu jumlah produksi suatu kemampuan manajemennya.
produk ikan sangat ditentukan oleh
teknologi budidaya yang akan Penentuan target produksi tidak
digunakan. Dalam bab sebelumnya boleh melebihi dari permintaan pasar
sudah dijelaskan tentang kelemahan karena jika target produksi lebih
dan keuntungan dari ketiga metode tinggi akan mengakibatkan produk
produksi tersebut. Jika akan yang dihasilkan tidak laku jual karena
menentukan jumlah produksi sesuai tidak terserap oleh pasar. Dalam
dengan metode produksi tersebut menyusun jadwal produksi juga
maka dapat dibuat suatu rencana dipertimbangkan tentang kapan
produksi disesuaikan dengan tingkat dilakukannya pemanenan.
teknologi yang digunakan. Pada Pemanenan ikan budidaya biasanya
tingkat teknologi yang tradisional dilakukan sesuai dengan tahapan
dimana metode produksi yang kegiatan produksi. Jika proses
digunakan adalah secara ekstensif produksinya adalah pembenihan
dengan padat penebaran yang maka output yang diharapkan pada
rendah maka target produksi yang saat panen adalah benih ikan dan
diharapkan dalam budidaya tersebut prediksi waktu panennya perperiode
tidak sebanyak jika mengunakan relatif lebih singkat sekitar satu
teknologi intensif. Dalam teknologi sampai dua bulan. Jika dalam
intensif dimana metode produksi kegiatan produksinya adalah
yang digunakan juga intensif dengan pendederan maka prediksi waktu
padat penebaran yang yang tinggi panennya adalah sekitar satu sampai
maka akan diperoleh target produksi dua bulan dan outputnya adalah
yang tinggi pula. Oleh karena itu benih ukuran lebih besar dari tahap
dalam menyusun jumlah produksi pembenihan. Pada tahap
yang akan ditetapkan akan sangat produksinya adalah pembesaran
bergantung kepada tingkat ikan maka prediksi waktu panennya
permintaan pasar dan teknologi yang adalah relatif lebih lama berkisar
antara tiga sampai empat bulan ,

462
karena output yang diharapkan ikan dan pembesaran ikan ini dapat
adalah ikan air tawar berukuran dilakukan secara langsung
konsumsi. kekonsumen atau dengan
Prediksi hasil pemanenan ikan ini menggunakan jasa perantara/broker.
akan sangat menentukan proses
pemasarannya. Segmen pasar untuk Pemasaran benih ikan dan ikan
benih biasanya para petani ikan yang konsumsi dapat dilakukan dari
melakukan pembesaran ikan. produsen kepada konsumen tanpa
Sedangkan segmen pasar untuk ikan atau dengan perantara. Jadwal
konsumsi adalah masyarakat yang pemasaran benih ikan dan ikan
membutuhkan ikan sebagai salah konsumsi ini biasanya dibuat
satu sumber protein hewani yang bersamaan dengan jadwal produksi.
murah. Segmen pasar untuk ikan Jadwal produksi dan pemasaran
berukuran konsumsi relatif lebih yang tepat akan diperoleh suatu hasil
luas/banyak dibandingkan dengan produksi yang menguntungkan
segmen pembenihan. Sistem sesuai dengan program produksi
pemasarannya tidak berbeda antara yang dibuat.
benih dan ikan konsumsi.
Pemasarannya pada pembenihan

463
464
BAB. X. ANALISA KELAYAKAN USAHA
BUDIDAYA IKAN

10.1. PENGERTIAN pemrakarsa perusahaan,


kepemilikan perusahaan serta yang
STUDI KELAYAKAN menyangkut susunan pengurus
perusahaan tersebut. Struktur
Dalam budidaya ikan air peran permodalan adalah Modal dasar
studi kelayakan memegang peranan yang tercantum dalam akte notaris,
penting apalagi dikaitkan dengan sedangkan aspek legalitas
investasi yang begitu besar. Tanpa menyangkut pendirian perusahaan.
kajian dari studi kelayakan yang
terdiri dari berbagai disiplin ilmu
tentu usaha yang didirikan tidak 1. Pengertian Perencanaan Biaya
akan berjalan sesuai yang Operasional Produksi
diharapkan. Berdasarkan
pengertiannya Studi kelayakan Setiap proses produksi agar dapat
adalah suatu seni cara merangkai, berjalan sesuai dengan yang
menggabungkan dan menganalisa diharapkan, maka sebelum
suatu rencana investasi secara melakukan proses produksi
keseluruhan atas faktor-faktor yang diperlukan perencanaan.
mempengaruhi antara multi disiplin Perencanaan tersebut menyangkut
ilmu, sehingga menghasilkan bagaimana produksi bisa
keluaran (output) yang diinginkan berlangsung dengan biaya seoptimal
yakni layak dan tidak layak investasi mungkin dengan hasil yang optimal
tersebut. Dengan demikian usaha pula. Dengan demikian pengertian
budidaya ikan harus ada studi perencanaan biaya operasional
kelayakannnya baik itu produksi adalah perencanaan
pembenihan maupun pembesaran. mengelola dari mulai input, proses
sampai dengan output yang berupa
produk tersebut dihasilkan dengan
Aspek Umum dan Legalitas penekanan kepada penggunaan
biaya seefisien mungkin dengan
Aspek umum meliputi hal hal yang menghasilkan produk yang optimal.
berkaitan dengan latar belakang
usaha itu dilakukan siapa

465
2. Identifikasi Dokumentasi keuntungan optimal dari perusahaan
Perencanaan Biaya tersebut.
Operasional Produksi yang
diperlukan
3. Penyusunan Cash Flow dan
Dokumen-dokumen yang diperlukan Proposal
dalam operasional produksi budidaya
ikan air tawar adalah : Dalam kaitannya dengan
x Dokumen tentang biaya investasi perencanaan biaya operasional
x Dokumen tentang biaya produksi, cash flow dan proposal
operasional produksi merupakan dua hal yang serat
x Dokumen tentang hasil produksi kaitannya dengan kelayakan suatu
dan pendapatan usaha/produksi yang akan dilakukan.
x Dokumen tentang biaya Cash flow adalah tahapan dana yang
perawatan dan pemeliharaan dikeluarkan serta mengalir
gedung serta peralatan berdasarkan waktu yang ditentukan
x Dokumen tentang target dan serta jumlahnya sesuai dengan
realisasi yang hendak dicapai tahapan waktu serta keperluan
x Dokumen tentang gaji staf dan produksi. Pada cash flow dapat
karyawan dilihat pada bulan atau tahun berapa
x Dokumen tentang data pasar produksi mencapai titik impas (break
even point) dan pada bulan atau
x Buku tentang ekspedisi atau
tahun berapa keuntungan optimal
surat masuk dan keluar
bisa dicapai. Sedangkan proposal
x Buku kas besar
berguna untuk mendapatkan dana
x Buku tentang utang piutang baik pinjaman dari perbankan,
x Dokumen perjanjian kerjasama koperasi, maupun investor yang mau
x Kuitansi dan catatan lain yang menanamkan modalnya dalam
dianggap perlu kegiatan produksi tersebut. Berikut
ini dapat dilihat contoh format cash
Semua dokumen tersebut adalah flow dan proposal yang dapat
untuk memudahkan dalam kaitannya dilakukan dalam menyusun biaya
dengan penyusunan perencanaan operasional produksi.
biaya operasional produksi sehingga
dapat diketahui dengan mudah
.

466
Contoh format cash flow
TAHUN
NO. URAIAN
1 2 3 4 5
A. Sumber Dana
1. Modal investasi
2. Modal operasional
3. Hasil penjualan
JUMLAH
B. Penggunaan Dana
1. Investasi
2. Operasional
a. Biaya tetap
b. Biaya variabel
c. Bunga bank
d. Pengembalian
JUMLAH
C. Balance (A – B)
D. Kas Awal
E. Kas Akhir

Contoh Format Proposal x


Surat tanda pendaftaran
1. Gambaran umum, yang meliputi industri kecil
antara lain : x Nomor Peserta Wajib Pajak
x Biodata pengusaha (NPWP)
x Alamat usaha x Kartu penduduk
x Alamat pemilik x Kartu keluarga
x Data usaha, meliputi : 4. Aspek manajemen
ƒ Sektor usaha x Riwayat pengelola
ƒ Jenis produksi perusahaan
ƒ Tahun mulai produksi x Susunan organisasi
ƒ Usaha lain perusahaan, yang meliputi
2. Hubungan dengan perbankan susunan :
x Sebagai pemilik rekening ƒ Ketua
x Sebagai pemilik tabungan ƒ Wakil ketua
x Sebagai nasabah/peminjam ƒ Sekretaris
x Data yang diperlukan, ƒ bendahara
meliputi : Nama Bank, Nomor x Sistem pengendalian
rekening, dan Fasilitas yang ƒ Keuangan
sedang dinikmati ƒ Produksi
3. Aspek legalitas ƒ pemasaran
x Ijin domisili usaha 5. Aspek teknis produksi
x Surat Ijin Usaha Perusahaan x Gambaran tentang produk
(SIUP) x Teknis produksi

467
x Lokasi perencanaan studi kelayakan yang
x Fasilitas yang sekarang dituangkan dalam usaha meliputi :
digunakan Aspek Umum dan Legalilitas,
x Tenaga kerja Pemasaran, Teknik Perencanaan,
6. Aspek pemasaran Manajemen dan Organisasi, serta
x Segmen pasar Keuangan. Studi kelayakan
x Target/sasaran produksi biasanya merupakan usaha jangka
x Omset penjualan panjang yang memerlukan investasi
x Perkembangan pasar yang cukup tinggi. Kajian yang
meliputi aspek umum dan legalitas,
x System pemasaran dan cara
pemasaran, teknik perencanaan,
pembayaran
serta keuangan merupakan suatu
7. Aspek keuangan
rangkaian yang tertuang dalam
x Rincian biaya investasi,
bentuk proporsal. Di mana
modal kerja, struktur biaya
proporsal ini sebagai bahan untuk
(biaya produksi dan
memberi gambaran tentang asset
operasional produksi, rincian
dari perusahaan yang akan dibuat
investasi/penyusutan)
guna mendapatkan modal dari
x Penjualan lembaga perbankan atau pengusaha
x Cash flow dan kelayakan lain yang punya modal ingin
usaha menanam di perusahaan yang
x Analisa rugi laba bersangkutan.
8. Kelayakan usaha
x Pemasaran Hal tersebut butuh perencanaan
x Penggunaan teknologi yang matang agar pelaksanaan
x Kelayakan bahan baku berjalan lancar sesuai yang
x Profitabilitas, yang meliputi : diinginkan. Untuk itu tentunya perlu
ƒ Net Present Value (NPV) ada perencanaan biaya.
ƒ Internal Rate Return (IRR) Perencanaan biaya operasional
ƒ Return On Invesment produksi adalah perumusan usaha
(ROI) yang dilakukan dalam kaitannya
ƒ Payback Period (PP) dengan menghitung biaya yang
diperlukan selama produksi itu
Catatan : berlangsung. Investasi sifatnya
tetap oleh sebab itu biaya investasi
NPV dan IRR dilakukan apabila disebut juga biaya tetap (fixed cost)
kegiatan usaha dilakukan lebih dari sedangkan biaya operasional
satu tahun, namun kalau kurang dari sifatnya berubah ubah dan sering
satu tahun analisa usaha cukup pula disebut biaya variabel (variabel
menggunakan R/C atau B/C serta Cost). Kedua biaya tersebut
Break Event Point (BEP). diperlukan untuk menghitung
keuntungan yang diperoleh dalam
kegiatan produksi, laporan
Perencanaan studi kelayakan yang keuangan yang menyangkut analisa
baik akan menentukan keberhasilan rugi laba, serta analisa lain seperti :
usaha selanjutnya. Pada kapan usaha tersebut mengalami titik

468
impas (BEP) serta menghitung RC x produk yang dihasilkan terdiri dari
dan B/C Ratio dan termasuk dalam bagian yang mana, apakah
perencanaan biaya operasional berupa benih, ikan konsumsi atau
produksi. yang lainnya,
x persyaratan produk yang akan
Hal-hal yang perlu di dimasukan dihasilkan harus sesuai dengan
dalam perencanaan biaya mutu produk yang dinginkan
operasional untuk budidaya ikan konsumen
antara lain adalah : x penentuan pengujian mutu yang
1. Kegiatan-kegiatan yang perlu dihasilkan, seperti : ukuran,
dilakukan dalam kegiatan kesehatan, dan lain-lain.
produksi erat kaitannya dengan
penggunaan metode Pelaksanaan Produksi
perencanaan biaya operasional
produksi Sebelum tahap pelaksanaan
2. Penyusunan perencanaan biaya produksi dilakukan perlu diperhatikan
operasional produksi apakah sarana (input) produksi yaitu
3. Pengadministrasian 5 M (man, money, machine, material,
perencanaan biaya operasional and method) sudah tersedia, karena
produksi kegiatan produksi merupakan aliran
yang dimulai dari input sampai
Perencanaan Produksi dengan proses. Secara sederhana
kegiatan produksi dapat
Langkah awal dalam pelaksanaan digambarkan sebagai berikut :
proses produksi adalah
merencanakan produk atau komoditi
apa yang akan diusahakan, Masukan Proses Hasil
misalnya : komoditi ikan mas, ikan (Input) (Output)
nila, ikan hias, dan lain-lain, dengan
harapan produk tersebut dapat
dipasarkan, serta hasilnya Penentuan Bahan
memberikan keuntungan, juga dapat
berlangsung dalam jangka panjang. Setelah penentuan produk yang
Perencanaan produk ini bukan hanya akan dihasilkan, langkah selanjutnya
merencanakan fisik produk saja, adalah penentuan atau pemilihan
tetapi juga proses-proses yang bahan baku yang akan digunakan,
memungkinkan produk tersebut misalnya induk ikan yang harus
terwujud, yakni : disediakan dan jenis pakan yang
x produk yang akan di hasilkan akan digunakan, agar proses
harus yang memungkinkan produksi dapat berjalan dengan
disenangi dan sesuai dengan lancar. Dengan demikian diharapkan
selera konsumen, contohnya produk yang dihasilkan sesuai
untuk ikan hias koki banyak dengan mutu yang diharapkan oleh
pilihan yang bisa ditawarkan, konsumen, sehingga akhirnya dapat
misalnya : red head, slayer, black mendatangkan keuntungan yang
moli, dan lain-lain,

469
yang memungkinkan usaha Penyediaan Peralatan
berkembang dengan baik.
Setelah proses produksi ditentukan
Beberapa persyaratan dalam langkah selanjutnya yang perlu
memilih bahan baku seperti : ikan, dilakukan adalah memilih peralatan
induk ikan, pakan ikan dan lain-lain yang akan digunakan untuk proses
yaitu : produksi. Dalam pemilihan peralatan
1. Ikan yang dipilih sebaiknya ikan perlu dipertimbangkan faktor
yang mudah dipelihara, atau bila ekonomi dan faktor teknis dari
usaha itu merupakan usaha peralatan tersebut. Pertimbangan
pembenihan ikan maka ekonomis, yaitu pertimbangan yang
sebaiknya ikan yang dipilih berhubungan dengan biaya-biaya
adalah ikan yang mudah dalam yang akan dikeluarkan untuk
pemijahannya, serta diharapkan pengadaan, penggunaan dan
dalam pelaksanaannya cukup perawatan tersebut. Sedangkan
menggunakan peralatan yang pertimbangan teknis, yaitu
tersedia, sehingga kemungkinan pertimbangan yang berhubungan
besar biaya produksi akan lebih dengan sifat teknis dari peralatan
ringan. tersebut, antara lain : kapasitas
2. Bahan baku yang disediakan peralatan, keserbagunaan peralatan,
harus yang berkualitas, karena ketersediaan suku cadang,
untuk memperoleh suatu hasil kemudahan untuk memperbaiki
produksi yang baik dibutuhkan (konstruksi sederhana).
bahan baku yang baik pula,
misalnya untuk memperoleh Berdasarkan proses produksi yang
benih yang baik diperlukan induk telah ditentukan, peralatan yang
ikan yang baik pula. dipakai, dan cara kerja yang
3. Bahan baku yang disediakan ditentukan, maka dapat ditentukan
hendaknya yang mudah pula tata letak (lay out) peralatan.
diperoleh, artinya bila sewaktu- Dalam menentukan tata letak
waktu memerperlukan bahan peralatan ada 7 (tujuh) prinsip dasar
baku tersebut secara mendadak yang harus diperhatikan, yaitu :
maka dapat dengan mudah 1. prinsip integrasi, artinya tata letak
diperoleh atau tidak perlu yang baik harus dapat
menunggu lama, sehingga diintegrasikan dengan seluruh
proses produksi tidak terhambat faktor produksi seperti tenaga
atau terganggu. kerja, bahan, mesin, dan
4. Bahan baku yang tersedia perlengkapan lainnya sehingga
hendaknya yang relatif murah, dapat menghasilkan kerja sama
dengan demikian diharapkan yang harmonis,
usaha yang dijalankan dapat 2. prinsip memperpendek gerak,
mendatangkan keuntungan yang 3. prinsip memperlancar arus
lebih besar. pekerjaan yang dapat menjamin
kelancaran arus bahan tanpa
hambatan,

470
4. prinsip penggunaan ruangan maka pertimbangan berikut yang
yang efektif dan efisien, perlu dilakukan adalah :
5. prinsip keselamatan dan 1. Jenis pekerjaan/jabatan apa
kepuasan pekerjaan, yang akan mereka isi
6. prinsip keluwesan, yaitu dapat 2. Apa persyaratan yang harus
disesuaikan dengan keadaan jika dipenuhi untuk mengisi
diperlukan adanya perubahan- pekerjaan/jabatan tersebut, dan
perubahan, dan 3. Berapa jumlah tenaga kerja yang
7. prinsip proses produksi dibutuhkan
berkesinambungan dan
intermitten. Agar pelaksanaan kegiatan usaha
sesuai dengan jadwal yang telah
Tata letak peralatan yang baik ditentukan serta hasil yang diperoleh
adalah adalah bila peralatan dan sesuai dengan yang diharapkan,
tempat penyimpanan disusun maka perlu dilakukan pengendalian
urutannya sesuai dengan terhadap berbagai hal yang berkaitan
keterkaitannya. Tata letak yang baik dengan kelancaran usaha tersebut.
adalah memungkinkannya mobilitas Pengendalian tersebut terdiri dari
orang-orang yang bekerja di ruang pengendalian bahan, pengendalian
tersebut tidak terganggu, sehingga peralatan, pengendalian tenaga kerja,
tidak mengurangi efisiensi dan pengendalian biaya dan
efektifitas pekerjaan. pengendalian kualitas. Selanjutnya
akan diuraikan secara detail tentang
Penentuan Kebutuhan Tenaga setiap aspek dalam pengendalian
Kerja tersebut agar kegiatan usaha
Untuk menentukan apakah kita budidaya ikan dapat berjalan sesuai
membutuhkan tenaga kerja atau rencana dan menguntungkan
tidak, maka ada beberapa hal yang sehingga dapat memberikan nilai
perlu dipertimbangkan, yaitu : tambah bagi para pembudidaya ikan
1. Apakah seluruh kegiatan dalam yang menggantungkan hidupnya dari
pelaksanaan usaha tersebut uasaha budidaya ikan ini.
dapat kita lakukan sendiri
2. Bila ”tidak” berarti kita harus
merekrut tenaga kerja sesuai 1. Pengendalian Bahan
dengan tingkat kebutuhan
3. Lalu apakah keuangan usaha Pengendalian bahan yang biasa
kita mampu memberikan upah digunakan dalam proses produksi
bagi tenaga kerja tersebut, pada umumnya terdiri dari
ataukah kita menggunakan pengendalian penggunaan bahan
anggota keluarga kita sendiri. dan pengendlian persediaan bahan.
Pengendalian semacam ini
Apabila kita sudah memutuskan merupakan suatu pengendalian yang
untuk menggunakan tenaga kerja, dilakukan agar bahan dapat
terlepas dari tenaga kerja tersebut digunakan secara efektif dan efisien,
merupakan tenaga kerja upahan sehingga dapat menekan
atau keluarga (pekerja keluarga), kemungkinan risiko kerugian.

471
Bahan perlu disediakan secukupnya, syarat bahan yang diperlukan untuk
dengan kata lain bila persediaan proses produksi, tatalaksana
bahan yang terlalu banyak akan penerimaan, tatalaksana
mengakibatkan penggunaan modal penyimpanan, tatalaksana
yang tidak efisien, sebaliknya bila pengeluaran barang, menentukan
bahan yang disediakan terlalu sedikit saat yang tepat untuk melakukan
akan mengganggu kelangsungan pemesanan bahan, dan menentukan
kegiatan produksi, kerena bisa terjadi jumlah pesanan yang paling
kehabisan persediaan bahan ekonomis.
sebelum waktunya. Kejadian ini
dapat menyebabkan peningkatan Untuk menentukan jumlah pesanan
biaya produksi. Selain itu bila bahan yang ekonomis (economic ordering
yang diperlukan tersedia dalam quality) dapat dilakukan seperti pada
jumlah yang cukup serta waktu yang contoh kasus di bawah ini.
tepat maka pengendaliannya akan Suatu usaha pembesaran ikan di
lebih mudah, karena tidak jaring apung sebanyak 1 unit (4
memerlukan gudang penyimpanan kolam) memerlukan pakan untuk
yang yang besar dan waktu satu kali periode produksi sebanyak
penyimpanan yang lama. Jadi hal- 8 ton. Bila biaya sekali pesan Rp.
hal yang perlu diperhatikan dalam 5.000,- dan biaya penyimpanan Rp.
pengendalian persediaan bahan, 500 per kilogram, maka :
antara lain : jumlah, macam, syarat-

Banyak Jumlah
Rata-rata Biaya Biaya
kali yang Biaya Total
Barang Penyimpanan Pesanan
Pesan Dipesan
1x 8.000 4.000 2.000.000 5.000 2.005.000
2x 4.000 2.000 1.000.000 10.000 1.010.000
3x 2.000 1.000 500.000 15.000 515.000
4x 1.000 500 250.000 20.000 270.000
5x 500 250 125.000 25.000 150.000
6x 250 125 62.500 30.000 92.500

Penjelasan : 8.000 kg. Jadi rata-rata jumlah


Jika jumlah yang dipesan 1x untuk barang yang harus disimpan di
memenuhi kebutuhan satu kali gudang sebanyak 8.000 kg : 2 =
periode pemeliharaan, maka jumlah 4.000 kg, maka :
pakan yang harus dipesan sebanyak

Biaya penyimpanan 4.000 kg x Rp. 500,- = Rp. 2.000.000,-


Biaya satu kali pesan = Rp. 5.000,-

Biaya total = Rp. 2.005.000,-

472
Demikian pula dengan cara 4. Pengendalian Biaya
perhitungan untuk 2 kali pesan, 3 kali
pesan, dan seterusnya. Kegiatan pengendalian biaya perlu
dilakukan agar biaya untuk membuat
barang sesuai dengan rencana yang
2. Pengendalian Peralatan telah ditetapkan sebelumnya.
Seandainya ada penyimpangan
Pengendalian peralatan juga biaya dari yang sudah direncanakan,
termasuk hal penting, karena maka hal itu sudah harus
merupakan aset yang utama dalam diperhitungkan sebelumnya.
suatu usaha. Manfaat dari Pengendalian biaya dapat dilakukan
pengendalian peralatan, antara lain melalui 4 (empat) langkah, yaitu :
adalah : 1. menetapkan standar untuk biaya-
x proses produksi akan sesuai biaya kegiatan produksi
dengan jadwal yang telah 2. membandingkan biaya standar
ditetapkan dengan biaya yang
x peralatan yang diperlukan sudah sesungguhnya
tersedia dalam keadaan siap 3. menetapkan bagian yang
pakai bertanggung jawab untuk
x terjaganya peralatan dalam menangani jika terjadi
kondisi baik, penyimpangan, dan
x berjalannya proses produksi 4. melaksanakan tindakan untuk
dengan baik sehingga dengan mengurangi atau mengakhiri
demikian dapat terhindar dari penyimpangan
kemungkinan risiko kerugian.
Setiap tahapan produksi selalu ada
biaya yang membuat biaya tersebut
3. Pengendalian Tenaga Kerja lebih tinggi dari yang seharusnya,
penyebab tingginya biaya tersebut
Agar pelaksanaan proses produksi antara lain adalah pemakaian bahan
dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang berlebihan, pemakaian jam
kegiatan yang telah ditetapkan harus tenaga kerja yang berlebihan, dan
disiapkan, maka perlu disiapkan pula pemakaian dana untuk investasi
tenaga kerja sesuai dengan yang yang berlebihan. Pemakaian yang
diperlukan. Hal-hal yang perlu berlebihan tersebut dinamakan
disiapkan berkaitan dengan tenaga pemborosan (waste). Untuk
kerja ini, adalah : jumlah tenaga kerja mengatasi pemborosan tersebut
yang diperlukan, syarat-syarat dapat diatasi melalui beberapa
ketrampilan, rencana latihan yang langkah sebagai berikut :
diperlukan, menciptakan semangat 1. Pembelian yang baik. Pembelian
dan gairah kerja dengan jalan bahan yang berkualitas baik
penentuan gaji/ upah, serta kondisi dengan harga yang lebih rendah
kerja yang baik dalam rangka berarti menekan biaya bahan.
perawatan tenaga kerja yang baik. Harga yang murah
memungkinkan pembelian bahan
dalam jumlah yang banyak,

473
sehingga dapat dihasilkan produk menghasilkan bunga dengan
jadi lebih banyak pula. risiko minimum. Meskipun
2. Menekan pemborosan bahan. demikian bahan sediaan harus
Usahakan agar bahan yang tetap ada karena untuk menjamin
digunakan sesuai dengan kontinuitas produksi.
kebutuhan sehingga mengurangi
bahan yang terbuang, misalnya
cara memberi pakan ikan 5. Pengendalian Kualitas
diusahakan jangan sampai ada
pakan yang tidak termakan Pengendalian kualitas merupakan
karena ikan sudah kenyang, tapi usaha memepertahankan dan
pakan tetap masih diberikan. memperbaiki kualitas produk.
3. Menekan hasil produksi yang Pengendalian kualitas bertujuan agar
tidak baik atau cacat. Dari sekian hasil atau produk sesuai dengan
banyak produksi mungkin ada spesifikasi yang telah direncanakan
yang tidak baik atau cacat akibat (memuaskan konsumen).
kesalahan manusia, oleh karena Pengendalian kualitas dapat
itu hindari dengan cara dilakukan dalam 4 (empat) langkah,
menerapkan disiplin kerja yang yaitu :
selalu mematuhi prosedur kerja 1. menentukan standar kualitas
yang sesuai dengan persyaratan produk
teknis. 2. menilai kesesuaian produk
4. Menekan biaya tenaga kerja. dengan standar
Menekan biaya tenaga kerja 3. mengadakan tindakan koreksi
artinya menekan jam kerja yang 4. merencanakan perbaikan secara
berlebihan karena jam kerja terus menerus untuk meniali
menentukan upah yang harus standar yang telah ditetapkan
dibayarkan. Jam kerja yang
berlebihan bisa terjadi karena Pengendalian kualitas pada
tenaga kerja tersebut kurang dasarnya adalah suatu kegiatan
efisien, misalnya mobilitas terpadu antar bagian perusahaan,
pekerja terganggu akibat dari yaitu :
tataletak peralatan yang kurang x bagian pemasaran, mengadakan
baik. penilaian-penilaian tingkat
5. Menekan biaya sediaan. Biaya kualitas yang dikehendaki oleh
sediaan sebaiknya ditekan para konsumen,
serendah mungkin, karena x bagian perencanaan,
semakin besar biaya sediaan merencanakan model produk
maka semakin besar sesuai dengan spesifikasi yang
kemungkinan biaya lain yang disampaikan oleh bagian
harus ditanggung oleh pemasaran,
perusahaan, misalnya : bunga x bagian pembelian bahan, memilih
pinjaman, asuransi, sewa gudang, bahan sesuai dengan spesifikasi
risiko kerusakan barang, dan yang diminta oleh bagian
opportunity cost yang sebetulnya perencanaan,
bila di simpan di bank akan

474
x bagian produksi, memilih Suatu usaha secara umum dikatakan
peralatan yang akan digunakan baik apabila usaha tersebut sehat,
dan melakukan proses produksi menguntungkan, dan mampu
sesuai dengan spesifikasi yang melakukan investasi-investasi secara
ditentukan. jangka pendek dan jangka panjang.
Dengan demikian suatu usaha harus
Kegiatan Budidaya Ikan saat ini layak ditinjau dari aspek finansial,
merupakan salah satu usaha yang aspek finansial ini terutama
sangat menjanjikan bagi masyarakat. menyangkut perbandingan antara
Segmen usaha budidaya ikan pengeluaran (biaya) dengan
berdasarkan proses produksinya pendapatan (revenue earning) dari
dibagi menjadi tiga kelompok yaitu aktivitas usaha, serta waktu
usaha pembenihan ikan, usaha didapatkannya hasil (returns).
pendederan ikan dan usaha
pembesaran ikan. Usaha Biaya adalah jumlah korbanan
pembenihan ikan merupakan suatu (input) yang diperlukan untuk
usaha perikanan yang keluarannya menghasilkan suatu produk (output)
(output) adalah benih ikan. Usaha dalam suatu kegiatan produksi.
pembesaran ikan merupakan suatu Berdasarkan pengelompokkannya
usaha perikanan yang keluarannya biaya terdiri dari dua bagian yaitu
(output) adalah ikan yang berukuran biaya investasi dan biaya
konsumsi. Usaha pendederan ikan operasional. Biaya investasi adalah
merupakan suatu usaha perikanan seluruh biaya yang dikeluarkan
yang keluarannya (output) adalah mulai kegiatan itu berlangsung
benih ikan tetapi ukurannya lebih sampai kegiatan tersebut mulai
besar dari output pembenihan. berjalan contohnya : pendirian
Komoditas yang dipilih dalam usaha bangunan, pembelian peralatannya,
budidaya ikan sangat bergantung tenaga kerja yang berhubungan
pada permintaan pasar, lingkungan biaya investasi, survey. Sedangkan
dan aspek teknis lainnya. biaya operasional adalah seluruh
Berdasarkan komoditas usaha biaya yang dikeluarkan selama
perikanan budidaya dikelompokkan produksi itu berlangsung : misalnya :
menjadi usaha budidaya ikan air pembelian induk, tenaga kerja, biaya
tawar, usaha budidaya ikan air payau listrik dan air, bahan bakar, over
dan usaha budidaya ikan air laut. head cost dan lain-lain (Tabel 9.1
dan Tabel 9.2).

475
Tabel 9.1. Biaya investasi Usaha Pembenihan Ikan Gurami (Effendi, 2002)

Jumlah Total Biaya Umur Nilai sisa Penyusutan


No. Jenis barang satuan (Rp) ekonomis (Rp) Pertahun (Rp)
(Tahun)
1. Bangunan 1 unit 20.000.000 10 tahun 1.500.000 1.850.000
2. Sumur 1 unit 1.000.000 10 tahun 0 100.000
3. Pompa air&pipa 1 unit 400.000 5 tahun 40.000 72.000
4. Rumah jaga 1 unit 2.500.000 10 tahun 0 250.000
5. Induk Ikan 44 ekor 2.200.000 5 tahun 15.000 437.000
6. Hapa 1 unit 50.000 5 tahun 5.000 9.000
7. Telepon 1 unit 1.200.000 10 tahun 0 120.000
8. Baskom 6 buah 45.000 5 tahun 0 9.000
9. Serok 5 buah 25.000 2 tahun 0 12.500
10. Ember 2 buah 15.000 2 tahun 1.500 6.750
11. Tabung oksigen 1 unit 600.000 10 tahun 600.000 0
12. Blower 1 unit 1.500.000 10 tahun 150.000 135.000
13. Selang sipon 3 buah 7.500 2 tahun 0 3.750
14. Selang aerasi 1 meter 15.000 2 tahun 0 7.500
15. Sendok 5 buah 7.500 10 tahun 750 675
16. Akuarium 36 unit 3.600.000 10 tahun 360.000 324.000
17. Rak akuarium 3 unit 1.800.000 10 tahun 0 180.000
18. Termometer 1 buah 15.000 6 tahun 0 2.500
19. Gayung 2 buah 6.000 2 tahun 0 3.000
20. Pipa udara 10 btg 90.000 5 tahun 0 18.000
21. Saringan 2 buah 40.000 1 tahun 0 40.000

Total 35.116.000 2.672.250 3.580.675

476
Tabel 9.2. Biaya Operasional Usaha Pembenihan Ikan Gurami (Effendi, 2002)

Biaya Tetap 3 bulan (Rp) 1 Tahun (Rp)


Telepon 225.000 900.000
Sewa kolam 500.000 2.000.000
Administrasi 75.000 300.000
Listrik 375.000 1.500.000
Gaji Karyawan 4.800.000 19.200.000
Tunjangan 1.600.000 1.600.000
PBB 9.000 36.000
Penyusutan - 3.580.675
Jumlah Biaya Tetap 7.584.000 29.116.675

Biaya Variabel 3 bulan (Rp) 1 Tahun (Rp)


Pellet 950.400 3.801.600
Pakan Larva 346.500 1.386.000
Kutu air 375.000 1.500.000
Cacing sutera 375.000 1.500.000
Pupuk kandang 7.500 7.500
Kapur 3.750. 3.750
Pupuk urea 700 700
Ijuk 45.000 180.000
Obat-obatan 50.000 200.000
Oksigen 60.000 240.000
Plastik packing 10.000 40.000
Karet gelang 2.500 10.000
Jumlah biaya variabel 2.226.350 8.869.550

Total Biaya Operasional 37.986.225

Untuk mengetahui secara tidak menyebabkan kekeliruan dalam


komprehensif tentang kriteria layak urutan peluang investasi. Kedua
atau tidaknya suatu aktivitas usaha kriteria ini sering tidak dianjurkan
dapat digunakan lima kriteria untuk dipergunakan (Ernan R., S.
investasi, yaitu : Payback Period, Saefulhakim, dan D.R. Panuju, 2007).
Benefit Cost Ratio (BCR), Net
Present Value (NPV), Net Benefit Unsur-unsur penting dalam analisis
Cost Ratio (Net BCR), dan Internal kelayakan finansial adalah harga,
Rate of Return (IRR). Namun tiga pajak, subsidi, dan bunga. Dalam
kriteria terakhir yang umum dipakai analisis finansial, harga yang dipakai
dan dipertanggungjawabkan untuk adalah harga pasar, pajak
penggunaan-penggunaan tertentu. diperhitungkan sebagai biaya,
Sebaliknya dua kriteria pertama subsidi dinilai mengurangi biaya (jadi
didasarkan atas salah pengertian merupakan benefit). Bunga dalam
tentang sifat dasar biaya sehingga analisis finansial dibedakan atas

477
bunga yang dibayarkan kepada Seleksi formal terhadap NPV adalah
orang-orang luar dan bunga atas bila nilai NPV bernilai positif berarti
modal sendiri (imputed atau paid to usaha tersebut layak dan sudah
the entily). Bunga yang dibayarkan melebihi Social Opportunity Cost of
kepada orang-orang yang Capital sehingga usaha ini
meminjamkan uangnya pada diprioritaskan pelaksanaannya, bila
kegiatan usaha dianggap sebagai NPV bernilai 0 berarti usaha tersebut
cost. Bunga atas modal sendiri tidak masih layak dan dapat
dianggap sebagai biaya karena mengembalikan persis sebesar
bunga merupakan bagian dari Social Opportunity Cost of Capital,
finansial returns yang diterima. dan bila nilai NPV bernilai negatif
maka sebaiknya usaha tersebut
Selain kriteria investasi yang jangan diteruskan.
digunakan untuk melihat kelayakan
finansial suatu usaha adalah jangka NPV menghitung nilai sekarang dari
waktu pengembalian modal dengan aliran kas yaitu merupakan selisih
cara menghitung titik impas (Break antara Present Value (PV) manfaat
Event Point). Perhitungan titik impas dan Present Value (PV) biaya. Jadi
ini dilakukan untuk mengetahui jika nilai NPVnya positif (lebih dari 0)
jangka waktu pengembalian modal artinya nilai bersih sekarang
usaha atau untuki mengetahui menggambarkan keuntungan dan
volume produksi (nilai penjualan) layak diaksanakan, namun bila nilai
minimal yang harus dicapai agar NPVnya sama dengan 0 artinya
kegiatan usaha tidak mengalami usaha tersebut tidak untung dan
kerugian atau penghasilan penjualan tidak rugi (marginal), sehingga usaha
yang diterima dikurangi biaya yang diteruskan atau tidak terserah
dikeluarkan sama dengan nol. kepada pengambil keputusan,
sedangkan bila nilai NPVnya negatif
10.2. Net Present Value (kurang dari 0) artinya usaha
tersebut merugikan sehingga lebih
(NPV) baik tidak dilaksanakan.
NPV merupakan nilai sekarang dari
Rumus kriteria investasi ini adalah
suatu usaha dikurangi dengan biaya
sebagai berikut :
sekarang pada tahun tertentu.

Dimana : Bt = manfaat yang diperoleh sehubungan dengan suatu


usaha pada time series (tahun, bulan, dan sebagainya)
ke-t (Rp)
Ct = Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan suatu
usaha pada time series ke-t tidak dilihat apakah biaya
tersebut dianggap bersifat modal (pembelian
peralatan, tanah, konstruksi dan sebagainya (Rp)
I = Merupakan tingkat suku bunga yang relevan
T = Periode (1, 2, 3,……………, n)

478
10.3. Net Benefit Cost usaha tersebut tidak untuk dan tidak
rugi (marjinal) sehingga dilaksanakan
Ratio (NBC ratio) atau tidaknya usaha tersebut
terserah pengambil keputusan,
BC ratio (BCR) merupakan cara
sedangkan bila Net BCR kurang dari
evaluasi usaha dengan
1 (Net BCR < 1) maka usaha
membandingkan nilai sekarang
tersebut merugikan sehingga tidak
seluruh hasil yang diperoleh suatu
layak untuk dilaksanakan.
usaha dengan nilai sekarang seluruh
biaya usaha. Seleksi formal BCR
Rumus Net BCR dapat ditulis
adalah bila BCR lebih besar dari 0
sebagai berikut :
(BCR > 0) maka usaha tersebut
menggambarkan keuntungan dan n

layak dilaksanakan, namun bila BCR NetBCR ¦ (B


i 1
t  Ct ) / 1  i) t
sama dengan 0 (BCR = 0) maka
usaha tersebut tidak untung dan Dimana :
tidak rugi (marjinal) sehingga usaha B = nilai seluruh hasil bersih
tersebut dilanjutkan atau tidak C = nilai seluruh biaya bersih
terserah pengambil keputusan,
sedangkan bila BCR kurang dari 0
(BCR < 0) maka usaha tersebut 10.4. Internal Rate of
merugikan sehingga tidak layak Return (IRR)
untuk dilaksanakan.
Cara lain untuk menilai suatu usaha
Rumus BCR dapat ditulis sebagai adalah dengan membandingkan nilai
berikut : IRR dengan discount rate (suku
n bunga), yaitu bila IRR lebih besar
¦ B I (1  i)
t 1
t
t
dari suku bunga yang telah
ditetapkan maka usaha tersebut
B/C n diterima atau bisa dilaksanakan,
¦ C I (1  i)
t 1
t
t
namun bila IRR lebih kecil dari suku
bunga maka maka usaha tersebut
Dimana : ditolak atau tidak bisa dilaksanakan,
B = Nilai seluruh hasil sedangkan bila IRR sama dengan
C = Nilai seluruh biaya suku bunga yang ditetapkan maka
usaha tersebut dilaksanakan atau
Net BCR adalah perbandingan tidak terserah pengambil keputusan.
antara Present Value manfaat bersih
positif dengan Present Value biaya Rumus IRR dapat ditulis sebagai
bersih negatif. Seleksi formal Net berikut :
BCR adalah bila Net BCR lebih
NPV '
besar dari 1 (Net BCR > 1) maka IRR i ' (i"i ' )
usaha tersebut menggambarkan NPV ' NPV "
keuntungan dan layak untuk Dimana :
dilaksanakan, namun bila Net BCR
sama dengan 1 (Net BCR = 1) maka I’ = Tingkat discount rate

479
(DR) pada saat NPV suatu kegiatan usaha atau sebagai
positif penentu batas pengembalian modal.
I” = Tingkat discount rate Produksi minimal suatu kegiatan
(DR) pada saat NPV usaha harus menghasilkan atau
negatif menjual produknya agar tidak
NPV’ = Nilai NPV positif menderita kerugian, BEP adalah
NPV’ = Nilai NPV negatif suatu keadaan dimana usaha tidak
memperoleh laba dan tidak
menderita kerugian, untuk lebih
10.5. Analisis Break Event jelasnya dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.
Point (BEP)

Analisis BEP digunakan untuk


mengetahui jangka waktu
pengembalian modal atau investasi
TB dan TP
TP
TB=TBT+BV

BEP
BV

Q
Dimana :
TP = Total Penerimaan
TB = Total Biaya
TBT = Total Biaya Tetap
TBV = Total Biaya Variabel
Q = Volume penjualan
BV = Biaya Variabel per unit

480
Titik BEP adalah pada saat total usaha yaitu usaha pembenihan ikan,
penerimaan sama dengan total biaya, usaha pendederan ikan dan usaha
yaitu TP = TB, karena TP = TBT + pembesaran ikan. Dalam buku ini
(BC.Q). akan diuraikan secara singkat cara
menghitung analisa usaha pada
Analisa BEP merupakan alat analisis beberapa kegiatan budidaya ikan.
untuk mengetahui batas nilai Analisa usaha budidaya ikan
produksi atau volume produksi suatu dikatakan layak jika :
usaha untuk mencapai nilai impas ƒ R/C > 1
yang artinya suatu usaha tersebut ƒ Rentabilitas > bunga bank,
tidak mengalami keuntungan dimana :
ataupun kerugian. Suatu usaha R : Revenue (pendapatan)
dikatakan layak, jika nilai BEP C : Cost (biaya)
produksi lebih besar dari jumlah unit Keuntungan
yang sedang diproduksi saat ini dan Rentabilitas= X 100%
BEP harga harus lebih rendah Biaya
daripada harga yang berlaku saat ini, ƒ BEP Produksi > jumlah produksi
dimana BEP produksi dan BEP ƒ BEP Harga < harga yang berlaku
harga dapat dihitung dengan saat ini
menggunakan rumus sebagai
berikut:
Total Biaya Analisa Usaha Pembenihan Ikan
BEP Produksi = Gurame
Harga penjualan
Dalam membuat analisa usaha
Total Biaya pembenihan ikan Gurame dibuat
BEP Harga = asumsi terlebih dahulu untuk
Total Produksi memudahkan dalam melakukan
perhitungan , antara lain adalah :
x Jumlah induk yang dibutuhkan
10.6. Aplikasi analisa dengan luas kolam 100 m2 untuk
satu kali pemijahan adalah 1 ekor
usaha
induk jantan yang mempunyai
berat 6 kg dan satu ekor induk
Dengan melakukan kegiatan betina yang beratnya 10 kg.
budidaya ikan, diharapkan akan x Jumlah benih yang dihasilkan
mendapatkan nilai tambah bagi para dari satu ekor induk betina
pembudidaya ikan. Nilai tambah adalah 1500 ekor dengan ukuran
tersebut dapat berupa keuntungan benih perekor berkisar antara 2 -
finansial/materi maupun ketrampilan. 3 cm
Untuk memperoleh keuntungan x Kematian benih ikan selama
materi maka dslsm membudidayakan pemeliharaan diprediksi 10%
ikan harus dilakukan analisa usaha. x Selama satu tahun dapat
Seperti telah dijelaskan sebelumnya dilakukan pemijahan sebanyak 3
dalam kegiatan budidaya ikan dapat kali sehingga semua kebutuhan
dikelompokkan menjadi tiga segmen

481
dalam usaha pembenihan ikan
dalam setahun dikalikan 3 Setelah membuat beberapa asumsi-
x Bunga bank pertahun adalah asumsi tersebut dapat dibuat suatu
16% perhitungan analisa usaha selama
x Panen dapat dilakukan setelah pemeliharaan.
tiga bulan pemeliharaan

Pengeluaran :

No. Uraian Satuan Harga Satuan Harga


1. Sewa kolam 2 unit Rp 100.000,- Rp 200.000,-
2. Induk jantan 6 kg Rp 30.000,- Rp 180.000,-
3. Induk betina 10 kg Rp 30.000,- Rp 300.000,-
4. Sarang telur 4 bh Rp 5.000,- Rp 20.000,-
5. Persiapan kolam 2 unit Rp 50.000,- Rp 100.000,-
6. Saprokan (pupuk, Rp 100.000,-
kapur, obat-obatan
dan lain-lain)
7. Pakan induk (pellet) 150 kg Rp 5.000,- Rp 750.000,-
8. Pakan alami (untuk Rp 200.000,-
benih dan induk)
9. Bunga bank 16% Rp 296.000,-
Total Pengeluaran Rp 2.257.000,-

Pendapatan :

16.200 ekor X Rp 200,- = Rp 3.240.000,-

Keuntungan = Pendapatan – Pengeluaran


= Rp 3.240.000,- - Rp 2.257.000,- = Rp 983.000,-

3.240.000
R/C Ratio = = 1.43
2.257.000

Laba/keuntungan
Rentabilitas = X 100%
Biaya Operasional

983.000
Rentabilitas = X 100% = 43,55%
2.257.000

482
Total Biaya
BEP Produksi =
Harga Penjualan

2.257.000
BEP Produksi = = 11.285
200

Total Biaya
BEP Harga =
Total Produksi

2.257.000
BEP Harga = = 139,32
16.200

Analisa usaha Pendederan Ikan x Panen benih dilakukan setelah


Gurame tiga bulan pemeliharaan
Asumsi :
x Padat penebaran benih : 10 Setelah membuat beberapa asumsi-
ekor/m2 asumsi tersebut dapat dibuat suatu
x Kematian benih selama perhitungan analisa usaha selama
pemeliharaan : 10% pemeliharaan.
x Bunga bank 20% pertahun

Pengeluaran :

No. Uraian Satuan Harga Satuan Harga


1. Sewa kolam 1 unit Rp 100.000,- Rp 100.000,-
2. Benih 6.000 Rp 200,- Rp 1.200.000,-
ekor
3. Pakan benih 250 Rp 1.250.000,-
4. Persiapan kolam 1 unit Rp 50.000,- Rp 50.000,-
5. Saprokan (pupuk, Rp 100.000,-
kapur, obat-obatan
dan lain-lain)
6. Bunga bank 16% Rp 432.000,-
Total Pengeluaran Rp 3.132.000,-

Pendapatan :

483
5.400 ekor X Rp 800,- = Rp 4.320.000,-

Keuntungan = Pendapatan – Pengeluaran


= Rp 4.320.000,- - Rp 3.132.000,- = Rp 1.188.000,-

4.320.000
R/C Ratio = = 1,43
3.132.000

Laba/keuntungan
Rentabilitas = X 100%
Biaya Operasional

1.188.000
Rentabilitas = X 100% = 37,93%
3.132.000

Total Biaya
BEP Produksi =
Harga Penjualan

3.132.000
BEP Produksi = = 3915
800

Total Biaya
BEP Harga =
Total Produksi

3.132.000
BEP Harga = = 580
5.400

Analisa usaha Pembesaran Ikan dengan ukuran ikan pada saat


Gurame panen adalah 500 ekor/gram
x Luas jaring yang digunakan
Asumsi : jaring apung 7 X 7 X 3 m
x Padat penebaran benih : 10
ekor/m2 Setelah membuat beberapa asumsi-
x Kematian benih selama asumsi tersebut dapat dibuat suatu
pemeliharaan : 10% perhitungan analisa usaha selama
x Bunga bank 20% pertahun pemeliharaan.
x Panen ikan dilakukan setelah
delapan bulan pemeliharaan

484
Pengeluaran :

No. Uraian Satuan Harga Satuan Harga


1. Sewa kolam 1 unit Rp 200.000,- Rp 200.000,-
2. Benih 3500 Rp 800,- Rp 2.800.000,-
ekor
3. Pakan benih 2000 Rp 10.000.000,-
4. Persiapan kolam 1 unit Rp 50.000,- Rp 50.000,-
5. Tenaga kerja 1 org Rp 700.000,-
6. Bunga bank 16% Rp 2.200.000,-
Total Pengeluaran Rp 15.950.000,-

Panen = 3.150 ekor X 500 gram/ekor = 1.575.000 gram = 1.575 kg

Pendapatan :

1.575 kg X Rp 15.000,- = Rp 23.625.000,-

Keuntungan = Pendapatan – Pengeluaran


= Rp 23.625.000,- - Rp 15.950.000,- = Rp 7.675.000,-

23.625.000
R/C Ratio = = 1,48
15.950.000

Laba/keuntungan
Rentabilitas = X 100%
Biaya Operasional

7.675.000
Rentabilitas = X 100% = 48,12%
15.950.000

Total Biaya
BEP Produksi =
Harga Penjualan

15.950.000
BEP Produksi = = 1063,33
15.000

485
Total Biaya
BEP Harga =
Total Produksi

15.950.000
BEP Harga = = 10.126,98
1575

486
BAB. XI. KESEHATAN DAN KESELAMATAN
KERJA

11.1. Pengertian tempat kerja untuk keperluan suatu


usaha dan dimana terdapat sumber-
Kesehatan dan sumber bahaya. Pada dunia usaha
Keselamatan Kerja budidaya ikan tempat bekerjanya
(K3) terdapat di dalam ruangan atau
diluar ruangan bergantung pada
Kesehatan dan keselamatan kerja tingkat usahanya. Usaha budidaya
pada dunia usaha dan dunia industri ikan dapat dilakukan secara
harus diperhatikan dengan seksama ekstensif, semi intensif ataupun
pada semua para tenaga kerja yang intensif sangat menentukan
berada didalam lingkup tersebut. penerapan kesehatan dan
Pelaksanaan K3 merupakan salah keselamatan kerjanya. Pada usaha
satu bentuk upaya untuk budidaya ikan secara ektensif atau
menciptakan tempat kerja yang tradisional dimana pada usaha ini
aman, sehat dan bebas dari tidak banyak menggunakan
pencemaran lingkungan, sehingga peralatan-peralatan yang dapat
dengan menerapkan K3 akan dapat menimbulkan bahaya bagi para
mengurangi dan atau bebas dari pekerjanya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan 11.2. Penerapan kaidah K3
produktivitas kerja. Kesehatan dan pada dunia usaha
keselamatan kerja telah diatur dalam
Undang-undang Nomor 1 Tahun perikanan budidaya
1970 tentang keselamatan kerja.
Dalam dunia usaha bidang perikanan Dalam dunia perikanan budidaya ada
khususnya budidaya ikan merupakan tiga fase yang dapat dijadikan
salah satu sektor dunia usaha yang segmen usaha yaitu pembenihan,
menggunakan tenaga kerja untuk pendederan dan pembesaran. Usaha
memenuhi target produksinya. pembenihan adalah usaha dalam
budidaya ikan yang outputnya adalah
Tempat kerja adalah suatu ruangan benih ikan . Usaha pendederan
atau lapangan, tertutup atau terbuka, adalah usaha dalam budidaya ikan
bergerak atau tetap dimana tenaga yang outputnya ukuran ikan sebelum
kerja bekerja atau sering dimasuki ditebarkan ke unit pembesaran atau

487
ukuran sebelum konsumsi. Dalam metode produksi ini
Sedangkan usaha pembesaran ditambahkan pakan buatan yang
adalah usaha dalam budidaya ikan mempunyai kandungan nutrisi lebih
yang outputnya adalah ikan rendah dari pakan pabrik dan hanya
berukuran konsumsi. memberikan kontribusi terhadap
penambahan energi kurang dari 50%.
Kegiatan produksi dalam budidaya
ikan dibagi dalam beberapa kegiatan Metode produksi secara intensif
antara lain adalah pembenihan, adalah suatu metode budidaya yang
pendederan dan pembesaran. menggunakan prinsip dari areal
Kesehatan dan keselamatan kerja budidaya sekecil-kecilnya diperoleh
pada kegiatan produksi tersebut hasil produksi sebesar-besarnya.
harus dilakukan agar target produksi Dengan prinsip tersebut dalam
yang diharapkan tercapai dan tidak melakukan budidaya ikan secara
terdapat kecelakaan kerja. intensif adalah dalam wadah
Penerapan kesehatan dan budidaya yang terbatas diperoleh
keselamatan kerja pada kegiatan hasil yang optimal. Penggunaan
produksi ini berkaitan dengan areal budidaya yang terbatas dengan
metode produksi yang digunakan. hasil yang optimal maka dalam
proses budidayanya hanya
Metode produksi dalam budidaya mengandalkan pakan buatan pabrik
ikan ada tiga yaitu : atau complete feed. Complete feed
1. Metode produksi secara ekstensif ini merupakan pakan ikan buatan
2. Metode produksi secara semi yang memberikan kontribusi
intensif terhadap penambahan energi lebih
3. Metode produksi secara intensif dari 50%.

Metode produksi secara ekstensif Kesehatan dan keselamatan kerja


adalah suatu metode budidaya yang pada setiap metode budidaya ikan ini
sangat membutuhkan areal budidaya sangat berbeda karena sangat
yang luas dengan sumber pakan berbeda tentang target produksi dan
yang digunakan dalam budidaya peralatan-peralatan yang digunakan
adalah pakan alami. Pakan alami ini untuk mencapai produksi. Pemilihan
dibuat didalam wadah budidaya metode produksi ini sangat
dimana ikan tersebut dipelihara. ditentukan dari ketersediaan sarana
Dalam metode produksi ini hasil prasarana yang dimiliki. Peralatan
yang diperoleh membutuhkan waktu produksi yang dapat digunakan
relatif lebih lama. dalam membudidayakan ikan ada
beberapa macam. Jenis-jenis
Metode produksi secara semi intensif peralatan produksi yang dapat
adalah suatu metode budidaya yang digunakan dalam budidaya ikan
membutuhkan areal budidaya yang berdasarkan siklus budidaya
luas dengan sumber pakan yang kegiatannya dapat dibagi menjadi
digunakan dalam budidaya adalah tiga yaitu :
pakan alami ditambah dengan pakan 9. Peralatan pembenihan ikan
tambahan atau supplemental feed. 10. Peralatan pendederan ikan

488
11. Peralatan pembesaran ikan biasanya kecelakaan kerja
diakibatkan oleh kecerobohan orang
Berdasarkan kegiatan yang yang bekerja.
dilakukan dalam budidaya ikan,
peralatan yang harus disediakan Peralatan yang harus disediakan
antara lain adalah : dalam budidaya ikan secara semi
1. Peralatan pemberian pakan intensif dan intensif harus lengkap
2. Peralatan pengukuran kualitas air seperti dibawah ini ;
3. Peralatan pencegahan hama dan 1. Peralatan pemberian pakan
penyakit ikan antara lain adalah :
12. Peralatan pengolahan lahan x Timbangan : gantung, duduk
budidaya atau digital
13. Peralatan pembenihan ikan x Ancho
secara buatan x Ember/baskom/piring plastik
14. Peralatan panen x Saringan
15. Peralatan listrik.
2. Peralatan kualitas air antara lain :
Peralatan yang akan disiapkan x Termometer
dalam membudidayakan ikan sangat x Secchi disk
bergantung kepada metode produksi x DO meter
yang telah ditetapkan. Peralatan
x PH meter
yang digunakan dalam budidaya ikan
x Mikroskop
secara tradisional atau ekstensif
adalah peralatan yang sangat
3. Peralatan hama penyakit ikan
sederhana. Peralatan yang harus
antara lain :
disiapkan dalam metode produksi
secara tradisional atau ekstensif x Seser halus
antara lain adalah cangkul yang x Mikroskop
berfungsi untuk mengolah tanah x Refregerator
dasar kolam, timbangan yang x Peralatan gelas : baker glass,
berfungsi untuk menimbang berbagai erlemeyer, petri dish, tabung
macam bahan yang dibutuhkan reaksi, pipet, gelas ukur dan
dalam budidaya seperti pupuk, lain-lain.
kapur,dan pakan. Peralatan lainnya x Injection
adalah golok atau parang, seser
halus dan kasar yang digunakan 4. Peralatan pengolahan tanah
untuk mengambil benih atau ikan antara lain adalah :
dari kolam pemeliharaan dan juga x Traktor/hand traktor
dapat digunakan untuk membuang x Cangkul
kotoran yang terdapat didalam kolam. x Parang/golok
Selain itu biasanya petani ikan x Filter air
tradisional menggunakan kecrik x Selang air
untuk menangkap ikan. Penerapan
kesehatan dan keselamatan kerja
pada kegiatan budidaya ikan dengan 5. Peralatan pemijahan ikan secara
metode ekstensif atau tradisional ini buatan antara lain adalah :

489
x Alat bedah untuk mensuplai oksigen pada saat
x Talenan membudidayakan ikan skala kecil
x Tisue grinder dan menengah, tetapi apabila sudah
x Spuit Injection dilakukan budidaya secara intensif
x Baki/baskom maka peralatan yang digunakan
x Automatic heater untuk mensuplai oksigen kedalam
x Aerator/blower wadah budidaya ikan menggunakan
blower. Peralatan selang aerasi
x Batu aerasi dan selang aerasi
berfungsi untuk menyalurkan oksigen
x Alat siphon
dari tabung oksigen kedalam wadah
x Alat bedah budidaya, sedangkan batu aerasi
x Kain lap digunakan untuk menyebarkan
oksigen yang terdapat dalam selang
6. Peralatan panen antara lain aerasi keseluruh permukaan air yang
adalah : terdapat didalam wadah budidaya.
x Tabung oksigen
x Kantong plastik Selang air digunakan untuk
x Timbangan memasukkan air bersih dari tempat
x Kotak stryrofoam penampungan air kedalam wadah
x Selang oksigen budidaya. Peralatan ini digunakan
x Hapa juga untuk mengeluarkan kotoran
dan air pada saat dilakukan
7. Peralatan listrik antara lain pemeliharaan. Dengan
adalah : menggunakan selang air akan
x Genset memudahkan dalam melakukan
x Pompa air penyiapan wadah sebelum
digunakan untuk budidaya. Peralatan
Setelah peralatan yang akan lainnya yang diperlukan dalam
digunakan dalam budidaya ikan membudidayakan ikan adalah
tersedia langkah selanjutnya timbangan, timbangan yang
sebelum digunakan adalah digunakan boleh berbagai macam
mengecek kesiapan peralatan bentuk dan skala digitalnya, karena
tersebut. Dengan pengecekan yang fungsi utama alat ini untuk
benar diharapkan alat yang menimbang bahan yang akan
disiapkan dapat dioperasionalkan digunakan dalam budidaya ikan .
dengan benar. Peralatan yang dibuat
oleh pabrik biasanya didalam Ikan yang dipelihara didalam wadah
peralatan tersebut terdapat buku pemeliharaan akan tumbuh dan
manual untuk mengoperasionalkan berkembang oleh karena itu harus
alat. dipantau pertumbuhan di dalam
wadah pemeliharaan . Alat yang
Peralatan yang akan digunakan digunakan adalah seser, timbangan,
sebaiknya dilakukan pengecekan ember, baskom yang berfungsi untuk
keberfungsinya karena setiap alat menghitung pertumbuhan ikan yang
mempunyai fungsi yang berbeda- dibudidayakan didalam wadah
beda, misalnya aerator digunakan pemeliharaan. Selain itu diperlukan

490
juga seser atau saringan halus pada yang basah. Pemakaian baju kerja
saat akan melakukan pemanenan yang basah dapat mengganggu
ikan. ikan yang telah dipanen kesehatan para pekerja oleh karena
tersebut dimasukkan kedalam ember itu pada para pekerja yang bekerja
plastik untuk memudahkan dalam berhubungan langsung dengan air
pengangkutan dan digunakan juga yang akan membasahi pakaian kerja
hapa untuk menampung ikan sebaiknya menggunakan pakaian
sebelum dijual. kerja yang terlindung dari air. Atau
dapat juga pada saat bekerja yang
Setelah berbagai macam peralatan berhubungan dengan air
yang digunakan dalam menggunakan pakaian kerja yang
membudidayakan ikan diidentifikasi khusus dan jika sudah selesai
dan dijelaskan fungsi dan cara dengan pekerjaan bisa
kerjanya , langkah selanjutnya menggunakan pakaian yang lain
adalah melakukan pembersihan atau sehingga kesehatan para pekerja
perawatan sesuai dengan jenis tetap terjamin. Penggunaan pakaian
peralatannya. Peralatan yang sudah kerja yang basah dapat
dibersihkan dari segala benda yang mengakibatkan kesehatan para
dapat menurunkan kualitas pekerja terganggu. Oleh karena itu
pekerjaan dapat langsung digunakan harus dipikirkan pakaian kerja yang
sesuai dengan prosedur. tepat bagi para pekerja yang bermain
dengan air sebagai media hidup ikan
Dengan melakukan pengecekan yang dipeliharanya.
pada semua peralatan yang akan
digunakan untuk budidaya ikan maka Keselamatan kerja dalam kegiatan
telah dilakukan pencegahan budidaya ikan yang menggunakan
terhadap kecelakaan kerja. peralatan listrik harus diperhatikan
Kecelakaan kerja dapat terjadi beberapa hal yang biasanya
karena kelalaian atau kecerobohan menyebabkan kecelakaan
dalam bekerja yang dapat membuat diantaranya adalah :
orang yang bekerja cedera. x Beban listrik terlalu besar untuk
satu stop kontak sehingga dapat
Kesehatan tempat bekerja pada menimbulkan pemanasan yang
dunia usaha budidaya ikan pada dapat membakar kulit kabel.
umumnya diruang terbuka sehingga x Sistem kabling yang tidak
kebutuhan oksigen untuk para memenuhi persyaratan standar
pekerja diluar ruangan tercukupi dan x Kesalahan menyambungkan
kondisi lingkungan budidaya ikan peralatan pada sumber listrik
yang berair mengakibatkan kondisi yang jauh lebih tinggi dari voltase
kelembaban ruang budidaya sangat yang seharusnya
lembab. Oleh karena itu dalam x Adanya tikus-tikus yang
melakukan kegiatan budidaya ikan mengerat kabel sehingga dapat
para pekerja harus selalu menimbulkan hubungan pendek
menggunakan pakaian kerja sesuai atau kebakaran.
dengan peraturan perusahaan dan
jangan menggunakan pakaian kerja

491
Kesehatan dan keselamatan kerja higroskopis. Bahan kimia
pada usaha budidaya ikan yang higrokoskopis sangat mudah
mempunyai gudang bahan-bahan menyerap uap air dari udara,
kimia harus diperhatikan tentang juga dapat terjadi reaksi hidrasi
proses penyimpanannya. eksotermis yang akan
Penyimpanan bahan kimia yang menimbulkan pemanasan
salah dapat mengakibatkan ruangan. Kontrol terhadap
kecelakaan kerja yang diakibatkan kelembaban ruang penyimpanan
oleh kecerobohan manusia. Oleh penting dilakukan untuk
karena itu dalam menyimpan bahan mencegah kerugian-kerugian
kimia harus diperhatikan beberapa yang tidak diinginkan. Ada
faktor yang akan mempengaruhi beberapa alat pengukur
bahan kimia selama penyimpanan kelembaban yang dapat
digudang antara lain adalah : digunakan seperti higrometer,
1. Temperatur, terjadinya kenaikan termohigrometer atau termometer
suhu dalam ruang penyimpanan bola basah dan bola kering.
akan memicu terjadinya reaksi
bahkan dapat menyebabkan
terjadinya perubahan kimia. 3. Interaksi dengan wadah, bahan
Kondisi ini dapat mengubah kimia tertentu dapat berinteraksi
karakteristik bahan kimia. Resiko dengan kemasan atau wadah
berbahayapun dapat terjadi sehingga dapat merusak wadah
sebagai akibat kenaikan suhu di sampai akhirnya menyebabkan
dalam ruang penyimpanan. Oleh kebocoran. Kebocoran bahan
karena itu didalam ruangan kimia terutama yang berbahaya
penyimpanan bahan kimia harus dapat menimbulkan kecelakaan
terdapat alat ukur suhu ruang seperti ledakan, kebakaran dan
yaitu termometer. Ada beberapa melukai tubuh. Misalnya, wadah
termometer yang dapat yang terbuat dari bahan
mengukur temperatur ruangan. besi/logam, sebaiknya tidak
Termometer yang biasa digunakan untuk menyimpan
digunakan untuk mengukur suhu bahan kimia yang bersifat korosif
ruangan yaitu temperatur karena akan terjadi peristiwa
minimum dan maksimum. karatan/korosif sehingga akan
merusak wadah.
2. Kelembaban, kelembaban dapat
diartikan sebagai perbandingan 4. Interaksi antar bahan kimia,
tekanan uap air diudara terhadap selama penyimpanan bahan
uap air jenuh pada suhu dan kimia dapat berinteraksi dengan
tekanan udara tertentu. bahan kimia lainnya. Interaksi ini
Kelembaban dapat diartikan dapat mengakibatkan perubahan
sebagai banyaknya uap air karakteristik bahan kimia tersebut,
diudara. Faktor kelembaban misalnya interaksi antara bahan
sangat penting diperhatikan kimia yang bersifat oksidator
karena berhubungan erat dengan dengan bahan kimia yang mudah
pengaruhnya pada zat-zat terbakar dapat menimbulkan

492
terjadinya kebakaran, sehingga
dalam penyimpanannya harus
terpisah.

Penggunaan bahan-bahan kimia


biasanya dilakukan pada usaha
budidaya ikan yang intensif dan
melakukan kegiatan pengukuran
kualitas air, kesehatan ikan dengan
bahan-bahan kimia. Oleh karena itu
harus diperhatikan tentang
kesehatan dan keselamatan kerja
para pekerja yang bertanggungjawab
pada unit tersebut.

493
494
LAMPIRAN A

DAFTAR PUSTAKA

Abel. 1989. Water Pollutin Biology. Dept of Biology. Sunderland Polytechnic.


Halsted Press. New York.

Affandi,R., DS Sjafei, MF Rahardjo dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan. Pusat


Antar universitas Ilmu Hayati. IPB. Bogor.

Agrara T. 1976. Endokrinologi Umum. Airlangga University Press.


Yogyakarta.
Alimuddin. 1994. Pengaruh waktu awal kejutan panas terhadap
keberhasilan Triploidisasi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus L).
Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ath_Thar.M.H.F. 2007. Efektivitas promoter ȕ-actin ikan medaka Oryzias


latipes dengan penanda gen hrGFP (humanized Renilla reniformis
Green Fluorescent Protein) pada ikan lele Clarias sp keturunan F0.
Skripsi. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Andarwulan, dan S.Koswara. 1992. Kimia Vitamin. Rajawali Press. Jakarta.


Anonymous. 1985. Budidaya Rotifera (Brachionus plicatilis OF Muller) Seri
Ke Tiga. Proyek Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut. Serang.

Antik, E dan Hastuti,W. 1986. Kultur Plankton. Direktorat Jenderal Perikanan


bekerjasama dengan International Development Research Centre.
Jakarta.

Andrew JW, Sick LV. 1972. Studies on the nutritional requirement of


dietary penaeid shrimp. Proceedings of the World Mariculture Society
3:403-414.

Alava VR, Lim C. 1983. The quantitative dietary protein requirement of


Penaeus monodon juveniles in controlled environment.
Aquaculture 30:53-61.

A1
LAMPIRAN A

Avers CG. 1986. molecular cell biology. Rutgers University. The Benjamin
Cummings Publising Co. Inc. 832 p.

Baustista-Teruel MN, Millamena OM. 1999. Diet development and evaluation


for juvenile abalone, Haliotis asinine: protein to energi levels.
Aquaculture 178:117-126.

Bonyaratpalin.M. 1989. Methodologies for vitamin requirement studies.


Fish Nutrition research in Asia. Edited by S.S de Silva. Proceeding of
Third Asian Fish Nutrition Network Meeting International Development.
Reseach Center of Canada. 58 – 67

Boyd. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Auburn
University. Alabama. USA

Borgstrom G. 1962. Fish as Food Volume III. Nutrition, Sanitation and


Utilization. Academic Press, New York and London.

Bongers ABJ, EPC in’t Veld, K Abo-Hashema, IM Bremmer, EH Eding,


J.Komen, CJJ Richter. 1994. Androgenesis in common carp
(Cyprinus carpio) using UV irradiation in synthetic ovarian fluid
and heat shocks. Aquaculture, 122 : 119 – 132.

Catacuta,M.R and Coloso. 1997. Growth of juvenile Asian Seabass, Lates


calcarifer fed varyng carbohydrate and lipid levels. Aquculture, 149:
137-144.

Calduch-Giner. J.A, Duval H, Chesnel F, Boeuf G, Perez-Sanches J and


Boujard D. 2000. Fish Growth Hormone Receptor : Molecular
Characterization of Two Membrane-Anchored Forms. Journal of the
Endocrine Society : 3269 – 3273.

Campbell.N.A; Reece. J.N; Mitchell. L.G. 2002. Biologi. Edisi Kelima. Erlangga.
Jakarta.

Carman O. 1990. Ploidy manipulation in some warm water fish. Master’s


Thesis. Departement of Aquatic Biosciences. Tokyo University of
Fisheries. Japan.

Carman O. 1992. Chromosome set manipulation in some warm water fish.


A Dissertation. Departement of Aquatic Biosciences. Tokyo University
of Fisheries. Japan.

Chumadi dkk. 1992. Pedoman Teknis Budidaya Pakan Alami Ikan dan
Udang. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat
penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta.

A2
LAMPIRAN A

Cole, G.A. 1988. Textbook of Limnology. Third Edition. Waveland Press, Inc.
Illionis, USA.

Cowey,C.B and Walton,M.J. 1989. Intermedier metabolism, p : 259-329. In.


J.E Halver (Ed.), Fish Nutrition,2nd. Academic Press. New York.

Chris Andrews, Adrian Exell and Neville Carrington., 1988. The Manual of
Fish Health. New Jersey: Tetra Press,

Davis, D.A and Delhert MG III. 1991. Dietary Mineral Requirment of Fish and
Shrimp. Pages : 49 – 65. In : Proceedings of The Aquaculture Feed
Processing and Nutrition Workshop. Akimaya, D.M and Ronni K.H.T.
Singapore.

Davis, C.C. 1955. The marine and freshwater plankton. Michigan state
University Press. Chicago.

De Silva,S and T.A. Anderson. 1995. Fish Nutrition in Aquaculture.


Chapman & Hall, London.

Dieter Untergasser Translation by Howard H. Hirschhorn, 1989. Handbook of


Fish Diseases. T.F.H. Publications, Inc

Devlin,R.H, C.A. Biagi, T.Y. Yaseki. 2004. Growth, viability and genetic
characteristic of GH transgenic coho salmon strains. Aquaculture
236 : 607 – 632.

Dunham RA. 2003. Aquaculture and Fisheries Biotechnology Genetic


Approaches. CABI Publishing. Wallingford, Oxfordshire Ox 10.8 DE.
UK.

Effendi, H. 2000. Telaahan Kualitas Air. Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan


Lingkungan Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Effendi. M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama.


Yogyakarta.

Fujaya. Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan.


Rineka Cipta. Jakarta.

Gong Wu, Yonghua Sun & Zuayan Zhu. 2003. Growth hormone gene
transfer in common carp. Aquatic Living Resources 16 : 416-420.

A3
LAMPIRAN A

Glick. B.R and Pasternak.J.J. 2003. Molecular Biotechnology : Principles


and Applications of Recombinant DNA (Third Edition). ASM Press.
Washington, D.C.

Halver, J.E. 1988. Fish Nutrition. Academic Press. San Diego.

Hamre,K; B.Hjeltne; H.Kryi; S. Sandberg; M.Lorentzen; and O.Lie. 1994.


Decesed Concentration of Haemoglobin, Accumulation of Lipid
Oxidation Product”s and unchanged Skeletal Muscel in Atlantik
Salmon. Salmo salar Fed Low Dietary Vitamine E. Physiology and
Biochemistry. 12 (5) : 421 – 429.

Harper. 1990. Biokimia. EGC (Penerbit Buku Kedokteran). Jakarta.

Hepher B. 1988. Nutrition of Pond Fish. Cambridge University Press.


Cambridge.

Halver JE. 1989. Fish Nutritiion 2nd edition. Academic Press Inc.

Jean L Marx. 1991. Revolusi Bioteknologi, diterjemahkan oleh Wildan Yatim .


Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 513 hal.

Jusuf.M. 2001. Genetika I. Struktur dan Ekspresi Gen. Sagung Seto. Jakarta.

Kobayashi S, Alimuddin, Tetsuro Morita, Misako Miwa, Jun Lu, Masato Endo,
Toshio Takeuci dan Goro Yoshikazi. 2006. Transgenic nile Tilapia
(Oreochromis niloticus) over-expressing growth hormone show
reduced ammonia excretion. Departement of Marine Biosciences
Tokyo University of Marine Science and Technology. Tokyo. Japan.

Koolman J and Rohm KH. 2001. Atlas berwarna dan teks biokimia. Wanadi
SI penerjemah. Sadikin M , editor. Jakarta : Hipokrates 2000.

Kebijakan DKP: Perikanan Budidaya 2003 Pedoman Teknis


Penanggulangan Penyakit Ikan Budidaya Laut. Departemen
Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Kurniastuty, dkk., 2004. Hama dan Penyakit Ikan. Balai budidaya Laut
Lampung. Lampung.

Kuksis,A dan S. Mookerjea. 1991. Kolin. Vitamin. In Robert E. Olson (Eds),


Jilid II. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Lewin, R.A. 1976. The Genetic of Algae.Blackwell scientific Publications Oxford.
London. Edinburg.

A4
LAMPIRAN A

Linder,M.C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme (Alih bahasa : A.


Parakkasi dan A.Y. Amwila). UI Press. Jakarta.

Linder, M.C. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Mikromineral. Hal : 261-344.


Dalam : Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan pemakaian secara
klinis. Penerbit Universitas Indonesia. UI Press. Jakarta.

Lovel T. 1988. Nutrition and feeding of fish. An AVI Book. Published by Van
Nostrad Reinhold. New York.

Machin,L.J. 1990. Handbook of Vitamin. Second Edition Rivised and


Expanded.

Mc Vey,J.P and J.R.Moore. 1983. CRC Handbook of Marine Culture. Vol I.


Crustacean Aquaculture. CRC Press. Inc.Boca. Raton . Florida.

Millamena,M.O, R.m. Coloso and F.P. Pascual. 2002. Nutrition in Tropical


Aquaculture. Essential of fish nutrition, feeds and feeding of
tropical aquatic species. Aquaculture Departemen. Southeast Asian
Fisheries Development Center. Tingbauan. Iloilo, Philipines.

Muchtadi,D., Nurheni S.P, dan Made A. 1993. Metabolisme zat gizi : sumber,
fungsi dan kebutuhan bagi tubuh manusia. J.2. Pustaka Sinar Harapan.
Jakarta

Murray,R.K; D.K.Granner; P.A. Mayes; and V.W. Rodwell. 1999. Biokimia


Harper. Edisi 24. Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta.

Mujiman, A. 1987. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Matty. AS. 1985. Fish Endocrinology. Croom Helm London & Sydney Timber
Press. Portland. Oregon. 267p.

Morales et all. 2001. Tilapia chromosomal growth hormone gene


expression accelerates growth in transgenic zebra fish (Danio
rerio). Marine Biotechnology. Vol 4. No.2.

Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Pustaka Wirausaha


Muda. Bogor. 123 hal.

NRC. 1993. Nutrient Requirement of Fish. Water Fishes and Shellfish.


National Academy of Sciencess. Washington DC.
O.A Conroy and R.L Herman 1966. Textbook Of Fish Diseases. Eastern
Fish Disease. Laboratory, Bureau of Sport Fisheries and Wildlife
Leetown, West Virginia.

A5
LAMPIRAN A

Prentis. S. 1990. Bioteknologi, diterjemahkan oleh Wildan Yatim. Yayasan


Obor Indonesia. Jakarta 513 hal.

Promega. 1999. Technical Manual. pGEM – T and pGEM – T easy Vector


System. Instruction for use of products. USA.

Pennak,R.W. 1978. Freshwater Invertebrae of the United State.2nd ed. John


Wiley and Sons. New york.

Prawirokusumo,S. 1991. Biokimia Nutrisi (Vitamin). BPFE. Yogyakarta.

Purdom. C.E. 1993. Genetics and Fish Breeding. Chapman & Hall. London.

Randall, J.E., 1987. A Pliraninary synopsis of the Grouper (Perciformes;


Serranidae; epinephelinae)of the Indo – Pacific regionin J.J.
Polavina, S. Raiston (editors). Tropical Sappers and Grouper ;
Biologi and Fisheries Management. Westview Press inc., Boulder and
London.

Rahman. MA and Maclean N. 1992. Production of transgenic tilapia


(Oreochromis niloticus) by one-cell-stage microinjection.
Aquaculture, 105 (1992) 219 – 232. Elsivier Science Publisher B.V.
Amsterdam.

Rocha A, S Ruiz, A Estepa and J.M Coll. 2004. Application of Inducible and
Targeted Gene Strategies to produce Transgenic Fish : A review.
Marine Biotechnology 6, 118 – 127. Springet-Verlag. New York. LLC.

Sambrook.J, Fritssch, E.F, Maniatis,T. 1989. Molecular Cloning. A


Laboratory Manual. Second edition. Cold Spring Harbor Lobaratory
Press. USA.

Suharsono dan Widyastuti,U. 2006. Penuntun Praktikum Pelatihan Teknik


Dasar Pengklonan Gen. Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan
Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor.

Suharsono. 2006. Prinsip Pengklonan Gen Melalui Teknologi DNA


Rekombinan. Pelatihan Teknik Dasar Pengklonan Gen. Bogor.

Sumantri.D. 2006. Efektifitas ovaprim dan aromatase inhibitor dalam


mempercepat pemijahan pada ikan lele dumbo Clarias sp. Skripsi.
Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 37 hal.

Sumantadinata,K. 2005. Materi narasumber Diklat Guru perikanan se


Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional.

A6
LAMPIRAN A

Suyanto.R.S. 1999. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sandness,K. 1991. Studies on Vitamin C in Fish Nutrition Dept of Fisheries


and Marine Biologi. University of Bergen Norway.

Shiau,S.Y and C.W.Lan. 1996. Optimum dietary protein level and protein to
energy ratio for growth of grouper (Epinephelus malabaricus).
Aquaculture, 145: 259 – 266

Shimeno,S.H, Hosokawa and M.Takeda. 1996. Metabolic response of


juvenile yellowtail to dietary carbohidrat to lipid ratios. Fisheries
Science, 62 : 945 - 949

Sumantadinata, K., 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di


Indonesia. Sastra Hudaya.

Sukma, O.M., 1987. Budidaya Ikan. Jakarta: Depdikbud.

Suseno, 1994. Pengelolaan Usaha Pembenihan Ikan Mas. Jakarta: Penebar


Swadaya.

Shepherd,J and Bromage, N. 2001. Intensive Fish Farming. Blackwell Sciene


Ltd. London.

Steffens W. 1989. Principles of Fish Nutrition. Ellis Horwood Limited. John


Wiley & Sons. England.

Stephen Goddard. 1996. Feed Management In : Intensive Aquaculture.


Chapman & Hall, New York.

Syarizal. 1988. Kadar optimum Vitamin E ( Į-Tocoferol) dalam Pakan Induk


ikan (Clarias batracus Linn). Thesis. IPB. Bogor.

Smith. 1982. Introduction to Fish Physiology. Publication Inc. England. P.


115.

Tacon,A.G.J. 1987. The Nutrition and Feeding of Farmed Fish and Shrimp
a Training Manual. FAO. Brazil.

Tacon,A.G.j. 1991. Proceeding of The Nutrition Workshop. American


Soybeen Association. Singapore.

Takeuchi W. 1988. Fish Nutrition and mariculture. Departemen of aquatic


Biosc. Tokyo University of Fisheries. JICA.

A7
LAMPIRAN A

Takeuchi; T.K. Watanabe; S. Satoh and T. Watanabe. 1992. Requirements of


Grass Carp Fingerling for Į-Tocoferol. Nipon. Suisan Galakkashi.
58 (9) : 743 – 1749.

Teknologi Tepat Guna, 2005. Pedoman Teknis Penanggulangan Penyakit


Ikan Budidaya Laut. Menteri Negara Riset dan Teknologi

Taufik Ahmad, Erna Ratnawati, dan M. Jamil R. Yakob. 2002, Budi Daya
Bandeng Secara Intensif. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tucker, C.S and Hargreaves, J.A. 2004. Biology and culture of Channel
Catfish. Elsevier. B.V. Amsterdam.

Volckaert.F.A, Hellemans.B.A, Galbusera.P, and Ollevier. F. 1994.


Replication, expression, and fate of foreign DNA during
embryonic and larval development of the African catfish (Clarias
gariepinus). Molecular Marine Biology and Biotechnology 3(2) 57 –
69.

Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA Texbook The


General Aquaculture Course. Kanagawa International Fisheries
Training Centre Japan International Cooperation agency.

Wilson,R.P. 1994. Utilization of dietary carbohydrate by fish. Aquaculture,


124 : 67 – 80.

Yoshimatsu, dkk., 1986. Grouper final Report Marine Culture Research and
Development in Indonesia. ATA 192, JICA. P 103 – 129.

Yatim W. 1996. Genetika. Tarsito . bandung . 124 hal.

Zairin.M.J. 2003. Endokrinologi dan perannya bagi masa depan Perikanan


Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Fisiologi
Reproduksi dan Endokrinologi Hewan Air. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Zairin.M.J. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan dan Betina.
Penebar Swadaya. Jakarta.

A8
LAMPIRAN B

GLOSARI

Adenohipofisa : salah satu bagian dari kelenjar hipofisa yang


mengandung sel-sel pensekresi hormon
prolaktin, hormon Adrenocorticotropic (ACTH),
hormon pelepas tiroid (Thyroid Stimulating
Hormone), hormon pertumbuhan (STH-
Somatotropin) dan Gonadotropin. Pars intermedia
mensekresi hormon pelepas melanosit
(Melanocyte Stimulating Hormone).

Adaptasi : Masa penyesuaian suatu organisme dalam


lingkungan baru.

Aerasi : Pemberian udara ke dalam air untuk penambahan


oksigen

Akrosom : Organel penghujung pada kepala spema yang


dikeluarkan yang berfungsi membantu sperma
menembus sel telur.

Aksi gen aditif : aksi gen yang mana fenotipe heterosigot


merupakan intermedit antara kedua fenotipe
homosigot, kedua alel tidak memperlihatkan
dominansi, keduanya memberikan konstribusi
yang seimbang dalam menghasilkan suatu
fenotipe

Aklimatisasi : Penyesuaian fisiologis terhadap perubahan salah


satu faktor lingkungan

Albinisme : kondisi genetik yang tidak sempurna yang


menyebabkan organisme tidak membentuk
pigmen

Alel : Bentuk alternatif suatu gen

Alel dominan : Alel yang diekspresikan secara penuh dalam


fenotipe itu

Alel resesif : Alel yang pemunculan fenotipenya ditutupi secara


sempurna

Aldehida : Molekul organik dengan gugus karbonil yang

B1
LAMPIRAN B

terletak pada ujung kerangka karbon

Anabolisme : Pembentukan zat organik kompleks dari yang


sederhana, asimilasi zat makanan oleh organisme
untuk membangun atau memulihkan jaringan dan
bagian-bagian hidup lainnya.

Anadromus : Ikan-ikan yang sebagian besar hidupnya


dihabiskan dilaut dan bermigrasi ke air tawar untuk
memijah.

Anafase : Tahap mitosis dan meiosis yang mengikuti


metafase ketika separuh kromosom atau
kromosom homolog memisah dan bergerak ke
arah kutub gelendong.

Androgen : Hormon steroid jantan utama, misalnya testoteron

Androgenesis : Proses penjantanan

Antibiotik : Bahan kimiawi yang membunuh bakteri atau


menghambat pertumbuhannya.

Antibodi : Imunoglobin pengikat antigen yang dihasilkan oleh


sel limfosit B, berfungsi sebagai efektor dalam
suatu respon imun.

Antigen : Makromolekul asing yang bukan merupakan


bagian dari organisme inang dan yang memicu
munculnya respon imun.

Asam amino : Molekul organik yang memiliki gugus karboksil


maupun gugus amino. Asam amino berfungsi
sebagai monomer protein.

Asam : Suatu molekul asam nukleat berbentuk heliks dan


deoksiribonukleat beruntai ganda yang mampu bereplikasi dan
menentukan struktur protein sel yang diwariskan.

Asam lemak (fatty : Asam karboksilik dengan rantai karbon panjang.


acid) Asam lemak bervariasi panjang dan jumlah dan
lokasi ikatan gandanya, tiga asam lemak berikatan
dengan satu molekul gliserol akan membentuk
lemak.

B2
LAMPIRAN B

Asam lemak jenuh : Asam lemak dimana semua karbon dalam ekor
(Saturated fatty hidrokarbonnya dihubungkan oleh ikatan tunggal,
acid) sehingga memaksimumkan jumlah atom hidrogen
yang dapat berikatan dengan kerangka karbon.

Asam lemak tak : Asam lemak yang memiliki satu atau lebih ikatan
jenuh (Unsaturated ganda antara karbon-karbon dalam ekor
fatty acid) hidrokarbon. Ikatan seperti itu mengurangi jumlah
atom hidrogen yang terikat ke kerangka karbon.

Asam nukleat : Suatu polimer yang terdiri atas banyak monomer


nukleotida, yang berfungsi sebagai cetak biru
untuk protein dan melalui kerja protein, untuk
semua aktivitas seluler. Ada dua jenis yaitu DNA
dan RNA.

Asam amino : Asam amino yang tidak dapat disintesis sendiri


essensial oleh tubuh hewan sehingga harus tersedia dalam
makanan.

Aseksual : Perkembangbiakan tidak melalui perkawinan

Autosom : Kromosom yang secara tidak langsung terlibat


dalam penentuan jenis kelamin, sebagai kebalikan
dari kromosom seks.

Auksospora : Sel-sel yang besar berasal dari


perkembangbiakan zigot baru

Backross : Bentuk perkawinan yang sering digunakan dalam


pemuliaan yaitu mengawinkan kembali antara
anak dan orangtuanya yang sama untuk beberapa
generasi.

Basofil : Bersifat menyerap basa.

Benthos : Organisme yang hidup di dasar perairan

Blastomer : Sel-sel anak yang dihasilkan selama pembelahan


zygot.

Blastula : Rongga yang terbentuk selama fase pembelahan


zigot.

Blastulasi : Proses pembentukan blastula

B3
LAMPIRAN B

Biomassa : Bobot kering bahan organik yang terdiri atas


sekelompok organisme di dalam suatu habitat
tertentu atau bobot seluruh bahan organik pada
satuan luas dalam suatu waktu tertentu.

Budidaya : Usaha yang bermanfaat dan memberi hasil, suatu


sistem yang digunakan untuk memproduksi
sesuatu dibawah kondisi buatan.

Closed Breeding : Perkawinan yang dekat sekali kaitan keluarganya,


misalnya antara anak dan tetua atau antara antar
saudara sekandung.

Cyste : Fase dorman dari crustacea karena kondisi


lingkungan yang tidak sesuai

Dekomposer : Fungi dan bakteri saprotropik yang menyerap


nutrien dari materi organik yang tidak hidup seperti
bangkai, materi tumbuhan yang telah jatuh dan
buangan organisme hidup dan mengubahnya
menjadi bentuk anorganik.

Densitas : Jumlah individu persatuan luas atau volume atau


masa persatuan volume yang biasanya dihitung
dalam gram/cm3 atau jumlah sel/ml.

Deoksiribosa : Komponen gula pada DNA, yang gugus


hidroksilnya kurang satu dibandingkan dengan
ribosa, komponen gula pada RNA

Detritus : Materi organik yang telah mati atau hancuran


bahan organik yang berasal dari proses
penguraian secara biologis.

Disipon : Membersihkan badan air dengan mengeluarkan


kotoran bersama sebagian jumlah air.

Disucihamakan : Disterilkan dari jasad pengganggu.

Dorsal : Bagian punggung

Diagnosis : Proses pemeriksaan terhadap suatu hal

Diferensiasi gonad : Proses penentuan kelamin dengan pernyataan


fenotipe melalui perkembangan alat kelamin dan
ciri-ciri kelamin.

B4
LAMPIRAN B

Diploid : Keadaan perangkat kromosom bila setiap


kromosomnya diwakili dua kali (2n)

Diploidisasi : Penggandaan jumlah kromosom pada sel-sel


haploid

Donor : Pemberi sumbangan

Dormant : Telur yang dibuahi dan merupakan dinding tebal


dan jika menetas menjadi betina amiktik.

Ekspresi gen : Pengejewantahan bahan genetik pada suatu


makhluk hidup sebagai keseluruhan jumlah tabiat
yang khas.

Elektroforesis gel : Pemisahan asam nukleat atau protein


berdasarkan ukuran dan muatan listriknya,
dengan cara mengukur laju pergerakkannya
melalui suatu medan listrik dalam suatu gel.

Embriogenesis : Proses perkembangan embrio

Endokrin : Kelenjar/sel yang menghasilkan hormon

Enzim : Molekul protein komplek yang dihasilkan oleh sel


dan bekerja sebagai katalisator dalam berbagai
proses kimia didalam tubuh makhluk hidup.

Enzim restriksi : Enzim yang digunakan untuk memotong fragmen


DNA yang memiliki sekuen tertentu.

Estrogen : Hormon seks steroid betina yang utama.

Eukaryot : Makhluk yang sel-selnya mengandung inti sejati


yang diselimuti selaput inti, mengalami meiosis,
membelah dengan mitosis dan enzim oksidatifnya
dikemas dalam mitokondria.

Fekunditas : Jumlah sel telur yang dihasilkan oleh seekor


hewan betina pertahun atau persatuan berat
hewan.

Feminisasi : Proses pembetinaan

B5
LAMPIRAN B

Fenotipe : Ciri fisik dan fisiologis pada suatu organisme atau


sifat yang terlihat pada makhluk hidup yang
dihasilkan oleh genotipe bersama-sama dengan
faktor lingkungan.

Feromon : Sinyal kimiawi atsiri dan kecil yang berfungsi


dalam komunikasi diantara hewan-hewan dan
bertindak sangat mirip dengan hormon dalam
mempengaruhi fisiologi dan tingkah laku.

Fertilisasi : Penyatuan gamet haploid untuk menghasilkan


suatu zigot diploid.

Flagella : Tonjolan berbentuk cambuk pada salah satu sel


untuk alat gerak.

Fotosintesis : Pengubahan energi cahaya menjadi energi


kimiawi yang disimpan dalam glukosa atau
senyawa organik lainnya.

Galur : Pengelompokkan anggota-anggota jenis yang


hanya memiliki satu atau sejumput ciri, biasanya
bersifat homozigot dan dipertahankan untuk
keperluan percobaan genetika.

Gamet : Sel sperma atau telur haploid, gamet menyatu


selama reproduksi seksual untuk menghasilkan
suatu zigot diploid.

Gastrula : Tahapan pembentukan embrio berlapis dua dan


berbentuk piala.

Gastrulasi : Proses pembentukan gastrula dari blastula atau


proses pembentukan tiga daun kecambah
ektoderm, mesoderm dan endoderm.

Gelendong : Kumpulan mikrotubula yang menyelaraskan


pergerakan kromosom selama pembelahan
eukariotik.

Gen : Bagian kromosom yang mengatur sifat-sifat


keturunan tertentu atau satuan informasi yang
terdiri atas suatu urutan nukleotida spesifik dalam
DNA.

B6
LAMPIRAN B

Generasi F1 : Turunan pertama atau turunan hibrid dalam


fertilisasi-silang genetik.

Generasi F2 : Keturunan yang dihasilkan dari perkawinan


generasi hibrid F1.

Genom : Komplemen lengkap gen-gen suatu organisme,


materi genetik suatu organisme.

Genotipe : Kandungan genetik suatu organisme.

Ginogenesis : Proses perkembangan embrio yang berasal dari


telur tanpa kontribusi material genetik jantan

Gonad : Organ seks jantan dan betina, organ penghasil


gamet pada sebagian besar hewan.

Gonadotropin : Hormon yang merangsang aktivitas testes dan


ovarium.

Haploid : Memiliki jumlah kromosom yang khas untuk gamet


makhluknya.

Heritabilitas : Keragaman fenotipe yang diakibatkan oleh aksi


genotipe atau menggambarkan tentang
persentase keragaman fenotipe yang diwariskan
dari induk kepada keturunannya. Dinotasikan
dengan huruf h2 dengan nilai berkisar antara 0 – 1.

Hermaphrodit : Individu yang mempunyai alat kelamin jantan dan


betina.

Heliks ganda : Bentuk DNA asli

Haemoglobin : Protein mengandung besi dalam sel darah merah


yang berikatan secara reversibel dengan oksigen.

Herbivora : Hewan heterotropik yang memakan tumbuhan.

Heterozigot : Mempunyai dua alel yang berbeda untuk suatu


sifat genetik tertentu.

Heterosis : Suatu ukuran untuk menilai keunggulan dan


ketidakunggulan hibrid

B7
LAMPIRAN B

Hibrid : Turunan dari tetua yang secara genetik sangat


berbeda, bahkan mungkin berlainan jenis atau
marga.

Hibridisasi : Perkawinan antara individu yang berbeda atau


persilangan.

Hipofisasi : Salah satu teknik dalam pengembangbiakan ikan


dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar
hipofisa kepada induk ikan untuk mempercepat
tingkat kematangan gonad.

Hipotalamus : Bagian ventral otak depan vertebrata, yang


berfungsi dalam mempertahankan homeostasis,
khususnya dalam mengkoordinasikan sistem
endokrin dengan sistem saraf.

Histon : Protein kecil dengan porsi besar yang terdiri dari


asam amino bermuatan positif yang berikatan
dengan DNA bermuatan negatif dan berperan
penting dalam struktur kromatinnya.

Homeostasis : Kondisi fisiologis yang mantap dalam tubuh.

Homozigot : Mempunyai dua alel yang identik untuk suatu sifat


tertentu.

Hormon : Bahan kimia pembawa sinyal yang dibentuk dalam


sel-sel khusus pada kelenjar endokrin. Hormon
disekresikan ke dalam darah kemudian disalurkan
ke organ-organ yang menjalankan fungsi-fungsi
regulasi tertentu secara fisiologik dan biokimia.

Ikan transgenik : Ikan yang memiliki DNA asing didalam tubuhnya

Inaktivasi sperma : Menonaktifkan sperma

Inbreeding : Perkawinan antara individu-individu yang


sekerabat yaitu berasal dari jantan dan betina
yang sama.

Infeksi Retroviral : Salah satu metode transfer gen. Metode ini


menggunakan gen-gen heterogen yang
dimasukkan ke dalam genome virus dan dapat
dipindahkan kepada inang yang terinfeksi virus
tersebut.

B8
LAMPIRAN B

Inkubasi : Masa penyimpanan

Interfase : Fase dimana tidak ada perubahan pada inti sel,


waktu istirahat.

Karakter kuantitatif : Suatu ciri yang dapat diturunkan dalam suatu


populasi yang bervariasi secara kontinu sebagai
akibat pengaruh lingkungan dan pengaruh
tambahan dua atau lebih gen.

Kariotipe : Metode pengorganisasian kromosom suatu sel


dalam kaitannya dengan jumlah, ukuran dan jenis.

Katadromus : Ikan-ikan yang sebagian besar hidupnya


dihabiskan di perairan tawar dan bermigrasi ke
laut untuk memijah.

Kelenjar hipofisa : Kelenjar kecil dibagian otak bawah yang


menghasilkan berbagai macam hormon yang
dibutuhkan pada makhluk hidup .

Kromosom : Struktur pembawa gen yang mirip benang yang


terdapat di dalam nukleus.

Kopulasi : Proses perkawinan

Kista : Suatu stadia istirahat pada hewan cladosera atau


crustacea tingkat rendah.

Larva : Organisme yang belum dewasa yang baru keluar


dari telur atau stadia setelah telur menetas.

Larutan hipoklorit : Larutan yang mengandung HClO

Lokus : Tempat khusus disepanjang kromosom tertentu


dimana gen tertentu berada.

Maskul;inisasi : Penjantanan.

Meiosis : Tipe pembelahan sel dan nukleous ketika jumlah


kromosom direduksi dari diploid ke haploid.

Metasentrik : Kromosom yang sentromernya terletak ditengah-


tengah.

B9
LAMPIRAN B

Metafase : Tahapan mitosis dan meiosis ketika kromosom


mencapai keseimbangan posisi pada bidang
ekuator.

Metamormofose : Perubahan bentuk organisme dalam daur hidup

Mikropil : Lubang kecil pada telur tempat masuknya sperma.

Mikroinjeksi : Metode yang digunakan dalam mengintroduksi


DNA asing ke dalam pronukleus atau sitoplasma
telur yang telah terbuahi. DNA asing disuntikkan
pada saat fase 1-2 sel.

Mitosis : Proses pembelahan nukleus pada sel eukariotik


yang secara konvensional dibagi menjadi lima
tahapan : profase, prometafase, metafase,
anafase, dan telofase. Mitosis mempertahankan
jumlah kromosom dengan cara mengalokasikan
kromosom yang direplikasikan secara sama ke
masing-masing nukleus anak.

Morula : Sekelompok sel anak (blastomer) yang terbentuk


selama fase pembelahan zygot.

Nauplii : Bentuk stadia setelah menetas pada crustacea


atau copepoda.

Neurohipofisa : Bagian dari kelenjar hipofisa, terdiri dari pars


nervosa yang berfungsi mensekresi Oxytoxin,
Arginin Vasotocin dan Isotocin

Omnivore : Organisme pemakan segala

Ovarium : Kelenjar kelamin betina yang menghasilkan ovum.

Ovipar : Berkembangbiak dengan menghasilkan telur.

Ovivipar : Berkembangbiak dengan menghasilkan telur


tetapi telur tersebut menetas dalam tubuh
induknya.

Outbreeding : Perkawinan antara individu-individu yang tidak


sekerabat (berbeda induknya), masih dalam satu
varietas atau beda varietas.

B10
LAMPIRAN B

Ovulasi : Proses terlepasnya sel telur dari folikel.

Partenogenesis : Perkembangbiakan telur menjadi individu baru


tanpa pembuahan telur dan menghasilkan telur
diploid.

Pemijahan : Proses peletakan telur atau perkawinan

Pigmen : Zat warna tubuh

Plasmid : Molekul DNA sirkular yang bereplikasi pada sel-sel


bakteri secara independent.

Polar body : Sel telur hasil pembelahan meiosis yang tidak


memiliki sitoplasma.

Profase : Tahap pertama meiosis dan mitosis ketika


kromosom mulai jelas terlihat.

Progeni : Keturunan yang berasal dari sumber yang sama,


anak cucu

Poliploidisasi : Proses pergantian kromosom dimana individu


yang dihasilkan mempunyai lebih dari dua set
kromosom.

Reproduksi : Proses perkembangbiakan baik secara aseksual


maupun seksual.

Seleksi : Pemisahan populasi dasar yang digunakan ke


dalam kedua kelompok, yaitu kelompok terpilih
dan kelompok yang harus terbuang.

Sentromer : Bagian kromosom yang terletak pada titik ekuator


kumparan pada metafase, tempat melekat benang
penarik gelendong, posisi sentromer menentukan
bentuk kromosom.

Seks reversal : Proses pembalikan kelamin dengan menggunakan


metode tertentu.

Spermatogenesis : Proses perkembangan spermatogonium menjadi


spermatis

Spermatogonium : Sel-sel kecambah untuk membentuk sperma

B11
LAMPIRAN B

Spermatozoa : Sel gamet jantan dengan inti haploid yang


ememiliki bentuk berekor.

Spermiasi : Proses dimana spermatozoa dilepaskan dari cyste


dan masuk kedalam lumen.

Spermiogenesis : Proses metamorfosa spermatid menjadi


spermatozoa

Submetacentrik : Sentromer terletak pada ujung kromosom yang


memiliki dua lengan yang tidak sama panjangnya.

Subtelocentrik : Sentromer juga terletak pada ujung kromosom


namun masih jelas terlihat adanya lengan pendek.

Spektrofotometer : Suatu instrumen yang mengukur porsi dari cahaya


dengan panjang gelombang yang berbeda yang
diserap dan dihantarkan oleh suatu larutan
berpigmen.

Telofase : Tahap akhir dari mitosis atau meiosis ketika


pembagian sitoplasma dan penyusunan inti
selesai.

Testis : Gonad yang berperan menghasilkan sperma

Tetraploid : Individu yang mempunyai empat perangkat


kromosom haploid pada nukleusnya.

Triploid : Individu yang mempunyai tiga perangkat


kromosom haploid pada nukleusnya.

Triploidisasi : Proses pembuatan organisme triploid dengan


menggunakan kejutan suhu untuk menahan polar
body II atau menahan pembelahan mitosis awal.

Vitellogenesis : Proses deposisi kuning telur, dicirikan oleh


bertambah banyaknya volume sitoplasma yang
berasal dari vitelogenin eksogen yang membentuk
kuning telur.

Zygot Sel diploid sebagai hasil perpaduan gamet jantan


dan gamet betina haploid.

B12
LAMPIRAN C

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman


1.1. Ikan Mas (Cyprinus carpio) 4
1.2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) 4
1.3. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) 4
1.4. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) 4
1.5. Ikan Patin (Pangasius hiphothalamus) 4
1.6. Ikan Bawal (Colosoma brachyponum) 5
1.7. Ikan Tawes (Puntius gonionotus) 5
1.8. Ikan Tambakan (Helostoma temmincki) 5
1.9. Ikan Sepat (Trichogaster pectolaris) 5
1.10. Ikan Kowan (Ctenopharyngodon idella) 5
1.11. Ikan Lele (Clarias sp) 5
1.12. Ikan Sidat (Anguilla sp) 6
1.13. Udang vanamei (Penaeus vannamei) 6
1.14. Ikan Bandeng (Chanos chanos) 6
1.15. Kerapu Merah (Plectopomus maculates) 6
1.16. Ikan Kakap putih (Lates calcarifer) 6
1.17. Ikan Kerapu (Chromileptes altivelis) 6
1.18. Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) 6
1.19. Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) 6
1.20. Ikan Beronang (Siganus gutatus) 7
2.1 Kolam tanah 22
2.2 Kolam semiintensif 22
2.3 Kolam intensif 22
2.4 Kolam Pemijahan 23
2.5 Kolam Penetasan 23
2.6 Kolam Pemeliharaan 23
2.7 Kolam Pemberokan 24
2.8 Bak beton 24
2.9 Bak Fiber 24
2.10 Bak Plastik 24
2.11 Akuarium Kelompok 25
2.12 Akuarium sejenis 26
2.13 Akuarium Tanaman 26
2.14 Kolam jaring terapung tampak atas 26
2.15 Kolam jaring terapung tampak depan 27
2.16 Bentuk pematang trapesium sama kaki 28
2.17 Bentuk pematang trapesium tidak sama kaki 28
2.18 Kemiringan dasar kolam 28
2.19 Saluran tengah atau kemalir 29
2.20 Pintu pemasukan dan pengeluaran air di tengah 29
2.21 Pintu pemasukan dan pengeluaran air di sudut 29

C1
LAMPIRAN C

2.22 Pintu pemasukan dan pengeluaran air bentuk L 30


2.23 Pintu pemasukan dan pengeluaran air system monik 30
2.24 Pemasukan dan pengeluaran air pipa paralon 30
2.25 Meletakkan lembaran kaca 32
2.26 Mengukur kaca 32
2.27 Memotong kaca 32
2.28 Menghaluskan bagian pinggir kaca 32
2.29 Lem silicon dan alat tembak lem 33
2.30 Penggunaan alat tembak lem 33
2.31 Lakban pada kaca 34
2.32 Mengeringkan akuarium 34
2.33 Kerangka jarring apung 37
2.34 Pelampung drum besi 38
2.35 Jangkar 38
2.36 Pola jarring 41
2.37 Pengeringan dasar kolam 43
2.38 Mengairi kolam 46
2.39 Sanitasi bak budidaya 48
3.1 Termometer 71
3.2 Secchi disk 71
3.3 Salinometer 71
3.4 Refraktometer 71
3.5 Flow meter 71
3.6 DO meter 71
3.7 pH meter 72
3.8 Kerta Lakmus 72
3.9 Planktonnet 72
3.10 Haemocytometer 72
3.11 Ekman Dredge 72
3.12 Spektrofotometer 72
4.1 Diagram skematik perkawinan dua tipe linebreeding 95
4.2 Induk ikan lele betina dan genital papilla 96
4.3 Induk ikan lele jantan dan genital papilla 97
4.4 Induk ikan mas betina dan genital papilla 100
4.5 Induk ikan mas jantan dan genital papilla 100
4.6 Induk ikan nila 102
4.7 Induk ikan patin jantan dan betina 102
4.8 Kanulasi induk ikan patin 103
4.9 Skema pengaturan sekresi hormone 105
4.10 Letak dan jenis kelenjar endokrin ikan dari arah depan 106
4.11 Mekanisme hormone steroid 109
4.12 Representasi diagram pada penempang sagital otak 110
4.13 Pengambilan kelenjar hipofisa 111
4.14 Penggerusan kelenjar hipofisa 112
4.15 Pemutaran alat sentrifuse 112
4.16 Pembuatan ekstrak kelenjar hipofisa 112

C2
LAMPIRAN C

4.17 Pengambilan kelenjar ekstrak hipofisa 112


4.18 Penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa 113
4.19 Pemasangan kakaban dikolam pemijahan cara Sunda 118
4.20 Kolam pemijahan cara Cimindi 119
4.21 Kolam pemijahan cara Magek 120
4.22 Kolam pemijahan cara Kantong 121
4.23 Kolam pemijahan cara Dubish 122
4.24 Kolam pemijahan cara Hofer 123
4.25 Diagram susunan kolam pemijahan bersekat 129
4.26 Sampling benih ikan 145
4.27 Pengemasan benih 159
6.1 Disk mill 283
6.2 Hammer mill 283
6.3 Vertical mixer 284
6.4 Horizontal mixer 284
6.5 Alat penggiling daging 286
6.6 Alur proses pembuatan pakan skala pabrikasi 287
6.7 Silo 287
6.8 Alat pengukur kadar air 293
6.9 Peralatan pengukuran kadar protein 294
6.10 Peralatan pengukuran kadar lemak 294
6.11 Peralatan pengukuran kadar serat kasar 295
6.12 Peralatan pengukuran kadar abu 296
6.13 Metode pemberian pakan dengan tangan 323
6.14 Ametode pemberian pakan dengan demand feeder 323
7.1 Chlorella sp 331
7.2 Tetrasemis sp 332
7.3 Scenedesmus sp 332
7.4 Skeletonema costatum 333
7.5 Spirulina sp 333
7.6 Brachionus sp 334
7.7 Artemia salina 334
7.8 Moina sp 335
7.9 Daphnia sp 335
7.10 Paramecium 335
7.11 Tubifex sp 335
7.12 Erlemeyer 336
7.13 Cawan Petri 337
7.14 Jarum ose 337
7.15 Pipet kaca 337
7.16 Tabung reaksi 337
7.17 Mikroskop 337
7.18 Bak fiber 338
7.19 Aerator 338
7.20 Daphnia sp (bagian-bagian tubuh) 360
7.21 Kemasan cyst Artemia 367

C3
LAMPIRAN C

7.22 Perkembangbiakan Artemia 373


7.23 Rotifera 382
7.24 Daur hidup rotifer 384
7.25 Tubifex 391
7.26 Daur hidup tubifex 392
8.1 Ichthyophthirius multifiliis 405
8.2 Siklus hidup Ichthyophthirius multifiliis 406
8.3 Trichodina tampak bawah 407
8.4 Trichodina tampak atas 407
8.5 Myxobolus sp 407
8.6 Myxosoma sp 408
8.7 Thellohanellus sp 408
8.8 Henneguya sp 408
8.9 Dactylogyrus sp 409
8.10 Gyrodactilus sp 409
8.11 Lernea sp 410
8.12 Argulus indicus tampak bawah 411
8.13 Saprolegnia sp 411
8.14 Achlya sp 411
8.15 Aeromonas sp 412
8.16 Mekanisme kerja mekanik 413
8.17 Penumpukan partikel pada media filter mekanik 414
8.18 Filter air 415
8.19 Dropsy pada ikan plati dan cupang 418
8.20 Dropsy tampak samping 419
8.21 Akumulasi cairan 419
8.22 Contoh kasus kelainan gelembung renang 420
8.23 Gejala umum ulcer 421
8.24 Ikan terserang white spot 422

C4
LAMPIRAN C

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman


1.1 Komoditas akuakultur yang sudah lazim 3
dibudidayakan dalam system budidaya di Indonesia
2.1 Perbandingan antara ukuran akuarium dengan 31
ketebalan kaca
2.2 Jenis pelampung dan lama pemakaian 37
2.3 Ukuran mata jaring yang digunakan berdasarkan 39
ukuran ikan yang dibudidayakan
2.4 Perbandingan jumlah mata jarring yang harus 42
dipotong dalam berbagai ukuran kantong jarring dan
mata jaring.
2.5 Dosis kapur tohor (CaO) 45
3.1 Pengaruh suhu air terhadap respon konsumsi pakan 56
3.2 Hubungan antara kadar oksigen terlarut dan suhu 60
3.3 Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan 62
3.4 Presentase ammonia bebas terhadap ammonia total 66
3.5 Kriteria kualitas air Golongan C 69
3.6 Parameter kualitas air untuk budidaya ikan dan 70
peralatan pengukuran yang dapat digunakan
4.1 Perbandingan strategi, keuntungan dan kerugian dari 78
seleksi individu (A), seleksi within family (B) dan
seleksi between family (C)
4.2 Pengaruh silang dalam terhadap frekuensi genotype 94
dan frekuensi alel dalam lokus
4.3 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan mas 99
4.4 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan mas matang 99
gonad
4.5 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan nila 101
4.6 Dosis pengapuran untuk menetralkan dari berbagai 128
jenis tekstur tanah dan pH awal yang berbeda
4.7 Perkembangan stadia embrio ikan lele pada suhu 28 134
o
C
4.8 Lama pemeliharaan ikan mas berdasarkan sistem 150
pemeliharaan
5.1 Kebutuhan energi untuk ikan Salmon 166
5.2 Kebutuhan energi untuk Catfish 166
5.3 Nama dan singkatan asam amino 171
5.4 Kebutuhan asam amino essensial pada beberapa 178
jenis ikan dalam % protein pakan
5.5 Tingkat kebutuhan protein optimal (% berat kering 182
pakan) pada beberapa jenis ikan budidaya
5.6 Klasifikasi karbohidrat 184

C5
LAMPIRAN C

5.7 Nilai kecernaan karbohidrat berdasarkan kadar dan 188


sumbernya oleh beberapa ikan budidaya
5.8 Kebutuhan optimum karbohidrat dalam pakan untuk 190
pertumbuhan beberapa ikan budidaya
5.9 Nama umum asam lemak 194
5.10 Kelompok asam lemak unsaturated jenuh 195
5.11 Kebutuhan asam lemak essensial pada ikan 196
5.12 Komposisi asam lemak essensial pada berbagai 197
sumber lipid (g/100 g asam lemak)
5.13 Penggolongan beberapa sumber vitamin A 202
5.14 Kebutuhan vitamin A beberapa spesies ikan budidaya 203
5.15 Kekurangan vitamin A pada beberapa jenis ikan 203
5.16 Kebutuhan vitamin D beberapa spesies ikan budidaya 205
5.17 Kebutuhan vitamin E beberapa spesies ikan budidaya 207
5.18 Kriteria respon ikan terhadap pemberian vitamin E 208
sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya
5.19 Gejala kekurangan vitamin E pada beberapa ikan 209
budidaya
5.20 Kebutuhan tiamin dalam pakan 211
5.21 Tanda-tanda kekurangan tiamin A pada ikan budidaya 212
5.22 Kebutuhan vitamin B2 dalam pakan ikan 213
5.23 Tanda-tanda kekurangan riboflavin pada ikan 214
budidaya
5.24 Kebutuhan vitamin B6 dalam pakan ikan 215
5.25 Tanda-tanda kekurangan piridoksin pada ikan 216
budidaya
5.26 Kebutuhan vitamin B5 dalam pakan ikan 218
5.27 Tanda-tanda kekurangan asam pantotenat pada ikan 218
budidaya
5.28 Kebutuhan biotin dalam pakan ikan 220
5.29 Tanda-tanda kekurangan biotin pada ikan budidaya 220
5.30 Kebutuhan asam folat dalam pakan ikan 221
5.31 Tanda-tanda kekurangan asam folat pada ikan 222
budidaya
5.32 Kebutuhan vitamin B12 dalam pakan ikan 223
5.33 Tanda-tanda kekurangan vitamin B12 pada ikan 223
budidaya
5.34 Kebutuhan Niasin dalam pakan ikan 224
5.35 Tanda-tanda kekurangan Niasin pada ikan budidaya 225
5.36 Kebutuhan inositol dalam pakan ikan 226
5.37 Tanda-tanda kekurangan inositol pada ikan budidaya 226
5.38 Kebutuhan Kolin dalam pakan ikan 227
5.39 Tanda-tanda kekurangan kolin pada ikan budidaya 228
5.40 Kebutuhan vitamin C dalam pakan ikan 229
5.41 Tanda-tanda kekurangan vitamin C pada ikan 230
budidaya

C6
LAMPIRAN C

5.42 Kebutuhan mineral makro dalam pakan pada 237


berbagai jenis ikan air tawar (mg/kg atau g/kg berat
kering)
5.43 Kebutuhan mineral mikro dalam pakan pada berbagai 237
jenis ikan air tawar (mg/kg atau g/kg berat kering)
5.44 Kebutuhan zat besi pada beberapa jenis ikan 238
5.45 Kebutuhan mineral seng pada beberapa jenis ikan 239
5.46 Kebutuhan mangan pada beberapa jenis ikan 240
5.47 Kebutuhan mineral tembaga pada beberapa jenis ikan 241
6.1 Beberapa jenis ikan berdasarkan kebiasaan 247
makannya
6.2 Kandungan nutrisi bahan baku nabati 251
6.3 Kandungan nutrisi bahan baku hewani 252
6.4 Kandungan nutrisi bahan baku limbah pertanian 252
6.5 Rekomendasi penggunaan bahan baku untuk pakan 254
ikan dan udang dalam %
6.6 Jenis dan kandungan nutrisi bahan baku ikan 255
karnivora
6.7 Hasil analisa proksimat bahan baku 256
6.8 Bahan baku pakan yang mengandung zat antinutrisi
dan cara menghilangkan zat antinutrisi 285
6.9 Acuan bentuk dan tipe pakan buatan untuk ikan 291
budidaya
6.10 Skedul pemberian pakan dalam usaha budidaya ikan 320
6.11 Skedul pemberian pakan pada udang 321
6.12 Jumlah pakan harian pudang dengan kelangsungan 322
hidup 80%
7.1 Komposisi pupuk pada media stok murni kultur algae 341
7.2 Komposisi Trace Metal Solution 341
7.3 Komposisi pupuk pada phytoplankton air tawar 342
7.4 Komposisi pupuk phytoplankton semi masal 346
7.5 Komposisi pupuk kultur missal 347
7.6 Komposisi campuran vitamin pada media Dphnia 363
7.7 Komposisi bahan kimia untuk membuat air laut kadar 371
garam 5 permill
7.8 Komposisi bahan kimia untuk membuat air laut kadar 372
garam 30 permill
7.9 Ukuran badan dan nilai kalori rotifer 383
7.10 Kandungan komposisi beberapa bahan 398
bioenkapsulasi
8.1 Bahan ekstrak dari tumbuh-tumbuhan serta dosisnya 402
8.2 Obat dan bahan kimia yang digunakan pengobatan 443
penyakit ikan

C7
LAMPIRAN C

C8