Anda di halaman 1dari 8

TEKNIK PENGELASAN LOGAM 2

1. Bagaimana thermal conductivity logam mempengaruhi sifat mampu las? Jelaskan!


Metals with a high rate of heat transfer are hard to bring up to fusion heat. The weld often
cools quickly because of the rapid withdrawal of heat from the weld into the area
adjacent to the weld.
Logam dengan konduktivitas termal yang tinggi lebih susah untuk mencapai titik
lelehnya. Biasanya daerah yang di las mendingin dengan cepat karena penyerapan panas
terjadi lebih cepat ke area sekitar daerah pengelasan.
2. Apa pengaruh kandungan karbon pada sifat mampu las baja? Jelaskan!
Carbon is the most important element in steel since it determines its degree of
hardenability. The greater the carbon content the harder the steel. If carbon steels (over
0.3 percent) are welded and cooled suddenly from the welding heat a brittle zone
develops adjacent to the weld. Furthermore, if additional carbon is picked up from the
mixture of welding gases, the weld deposits may become so hard that they will readily
crack. In general, for best weldability the carbon content in steel must be as low as
possible.
Karbon adalah unsur terpenting pada baja karena mempengaruhi tingkat kekerasannya.
Semakin banyak kadar karbon maka semakin keras baja tersebut. Jika baja yang memiliki
kadar karbon lebih dari 0.3 % dilas dan didinginkan dengan cepat akan terbentuk area
pengelasan yang getas. Terlebih lagi, jika gas yang digunakan mengandung karbon maka
daerah yang di las itu menjadi keras dan mudah retak. Kesimpulannya untuk hasil
pengelasan yang baik kadar karbon dalam baja harus serendah mungkin.
3. Sebutkan jenis electrode yang cocok untuk pengelasan baja karbon rendah dan
baja karbon sedang menggunakan SMAW?
Very few problems are encountered in welding low and medium carbon steels when mild
steel electrodes of the E-60XX or E-70XX classification are used.
Untuk baja karbon rendah dan baja karbon sedang digunakan seri E-60XX atau E-70XX
E
: menunjukan electrical welding
60 atau 70
: kekuatan tariknya 60000 psi atau 70000 psi
X1
: posisi pengelasan
X2
: karakteristik elektroda contohnya arus yg digunakan, terak yang
Dihasilkan dan jenis busur dll.

4. Pada pengelasan baja tahan karat, mengapa GTAW menghasilkan pengelasan yang
lebih baik?
With gas tungsten-arc welding the arc will not pick up carbon and the loss of chromium
and nickel is negligible. If a filler rod is needed it should be of the same composition as

the parent metal. Either direct current straight polarity or alternating current with highfrequency stabilization can be used. The gas tungsten-arc is particularly adaptable for
welding light gage stainless steels.
Dengan GTAW busur tidak akan membawa karbon dan kehilangan kromium dan nickel
dapat terabaikan. Jika menggunakan filler rod material yang digunakan harus sama
dengan base metal. Pengelasan DCSP dan arus AC dapat diterapkan dalam pengelasan
ini. Busur Gas Tungsten sangat mudah beradaptasi dengan baja tahan karat.
5. Jenis pengelasan apa yang cocok untuk mengelas Aluminium? Jelaskan!
Best welding results are obtained with the gas tungsten-arc and gas metal-arc processes
using ACHF current where the weld puddle is contained in a protective atmosphere of
inert gases. Argon is recommended as the shielding gas because it produces better metal
transfer and arc stability. For welding heavy aluminium olates between 1 and 2 in
thickness with the MIG process a mixture of argon and helium is sometimes used. In this
range of thickness the high heat input associated with helium is desirable.
Proses pengelasan yang terbaik adalah menggunakan GTAW dan GMAW dengan
menggunakan arus ACHF dimana lelehan pengelasan dilindungi oleh inert gas. Argon
lebih direkomendasikan sebagai gas pelindung karena menghasilkan logam transfer yang
lebih baik dan busurnya lebuh stabil. Untuk pengelasan alumunium yang tebal antara 1
inch dan 2 inch digunakan pengelasan GMAW dengan inert gas menggunakan campuran
argon dan helium. Dalam skala ketebalan ini panas dapat ditentukan dengan banyaknya
helium yang digunakan.
6. Apa beda brazing dengan welding?
Brazing is defined as a group of welding processes where coalescence is produced by
heating to suitable temperatures above 800oF and by using a nonferrous filler metal
having a melting point below that of the base metals. The filler metal is distributed
between the closely fitted surfaces of the joint by capillary action.
Brazing
Titik leleh lebih rendah
Digunakan untuk mengelas logam non fero
Kekuatan sambungan lebih rendah
Tidak terjadi perubahan struktur mikro

Welding
Kekuatan sambungan lebih kuat
Terjadi perubahan struktur mikro
Digunakan untuk mengelas logam fero
Titik leleh lebih tinggi

7. Mengapa pada brazing juga dibutuhkan flux?


The success of any brazing operation depends on joints having relatively small clearances
and surfaces that are free of oxide and other contaminants. Cleaning is accomplished by
coating the surfaces with a special flux which when heated is capable of dissolving all

foreign matter. Any form of oxide on the surface of a metal will inhibit a uniform flow of
the brazing metals. Accordingly a flux of some kind is necessary to eliminate the oxide.
Keberhasilan dari proses brazing tergantung pada celah yang ada pada sambungan las dan
permukaan yang bebas dari oksidasi dan kotoran. Proses pembersihan dapat dicapai
dengan cara melapisi permukaan dengan spesial flux yang mana panas dapat melarutkn
semua benda asing. Bentuk oksida dapat menghambat proses penyatuan aliran brazing
metal. Kesimpulannya flux dapat mencegah terjadinya oksidasi.
8. Kapan soldering tidak disarankan untuk penyambungan logam?
Soldering is used to join surfaces where they are not subjected to high strength forces
since solder has relatively low tensile strength. Soldered joints are also not suitable where
temperatures approach the melting point of solder.
Soldering tidak disarankan untuk menyambungkan logam yang dikenakan gaya tegangan
yang tinggi karena solder memiliki kekuatan tarik yang rendah. Penyolderan tidak cocok
digunakan pada saat temperatur mendekati titik leleh solder.
9. Apa yang dimaksud dengan dip soldering?
Dip soldering consists of a pot with molten solder. The joint to be soldered is simply
dipped into the molten solder. The bath supplies both the heat and solder to complete the
soldering operation. This soldering technique is very economical since an assembly with
several joints can be soldered simultaneously. Any dip soldering operation requires
suitable jigs and fixtures to keep the unit in alignment until solidification of the solder is
completed. These fixtures must be well made to prevent movement of the parts during the
operation when they are being dipped and handled.
Dip soldering adalah proses soldering dengan cara mencelupkan benda kerja yang akan
disolder ke dalam cairan solder. Dip soldering digunakan untuk mencegah pergeseran
parts yang akan disolder.

10. Apa beda hardfacing dengan metalizing?


Hardfacing is a fusion technique and includes processes which are designed to produce
hard, tough overlays to resist severe abrasion, corrosion, and impact loads. Metallizing is
a spray coating procedure where finely divided particles of metal are deposited on
surfaces where metal has worn away or where it is necessary to build up certain contours.

Hardfacing adalah gabungan teknik dan termasuk proses yang dirancang untuk
menghasilkan kekerasan, kekerasan overlays untuk mencegah abrasi , korosi dan beban
impact.
Metallizing adalah proses pelapisan di mana partikel halus dari logam terkumpul pada
permukaan metal dimana biasanya dipakai untuk membentuk kontur tertentu.
11. Kapan submerged arc process digunakan untuk hardfacing?
The submerged arc process is considered the most economical for hardfacing parts where
heavy deposits are required and extensive areas are to be surfaced. Since the submerged
arc utilizes high welding current its deposition rate is high and its deposits are of high
quality. Smooth overlays can be made with little or no welding experience required of the
operator. The filler metal may be either solid or tubular and is especially suitable for
surfacing that requires high compression strength. However, the relatively deep
penetration of the submerged arc plus its protective flux covering usually develops more
intensive heat in the welded area.
Submerged arc process digunakan dalam proses hardfacing untuk melakukan
mengendapkan secara tebal dan memperluas wilayah permukaan. Dikarenakan bahwa
peralatan submerged arc memiliki arus pengelasan yang tinggi dan kualitas pengendapan
yang tinggi. Lapisan halus dapat dibentuk oleh operator yang hanya memiliki sedikit
pengalaman atau tanpa memiliki pengendapan apapun.
12. Apa beda metal spraying dengan powder spraying?
Metal spraying is a process of depositing fine semi-molten particles or metal powder onto
the surface of a metal to form an adherent coating. Powder coating is a type of coating
that is applied as a free-flowing, dry powder. The main difference between a conventional
liquid paint and a powder coating is that the powder coating does not require a solvent to
keep the binder and filler parts in a liquid suspension form.
Metal spraying adalah sebuah proses pengendapan partikel-partikel semi-lebur atau
bubuk logam pada permukaan sebuah logam untuk membentuk lapisan penyokong.
Sedangkan powder spraying adalah sebuah jenis pelapisan yang diaplikasikan dengan
aliran bebas dan menggunakan bubuk kering non-logam.
13. Pada pemotongan logam dengan oksigen, tunjukkan reaksi kimia yang terjadi
selama proses pemotongan!
Fe+O 2 Fe3 O4 + Kalor
Panaskan terlebih dahulu logam dengan acyteline menggunakan nyala api carburizing
sampai temperature kritis atau sampai logam membara lalu semprotkan oksigen murni ke
arah bara logam sehingga terbentuk oksidasi. Pemotongan terbentuk karena panas yang
meningkat sehingga menyebabkan material terpotong.

14. Jelaskan prinsip dari plasma cutting!


In plasma cutting the tip of the electode is located within the nozzle of the torch. The
nozzle has a relatively small opening (orifice) which constricts the arc. The high-pressure
gas must flow through the arc where it is heated to the plasma temperature range. Since
the gas cant expand due to the constriction of the nozzle it is forced through the opening
and emerges in the form of a supersonic jet, hotter than any flame. This heat melts any
known metal and its velocity blasts the molten metal through the kerf. See Fig. 11-18.
Because transfer of heat to work is essential in cutting Plasmarc torches use a transferred
arc (the workpiece itself becomes an electrode in the electrical circuit). The work is thus
subjected to both plasma heat and arc heat. Direct current straight polarity is used. Precise
control of the plasma jet is feasible by controlling the variable (current, voltage, type of
gas, gas velocity, and gas flow).
Proses Plasma Arc Cutting diawali dengan terbentuknya busur wolfram (arc) di antara
elektroda dan benda kerja dari hasil reaksi ionisasi listrik terhadap gas potong yang
sangat konduktif. Gas dipanaskan oleh busur wolfram hingga suhunya meningkat sangat
tinggi lalu gas akan terionisasi dan menjadi penghantar listrik (Gambar 3). Gas dalam
kondisi ini disebut plasma. Plasma ini dialirkan melelui nosel untuk melakukan
pemotongan benda kerja. Akibat konsentrasi energi dari plasma maka bagian benda kerja
tersebut akan mencair dengan cepat. Ketika aliran gas meninggalkan nosel, gas
berkembang cepat membawa serta logam cair, sehingga proses pemotongan berjalan
terus.

15. Batang baja kekuatan tarik 37 kg/mm2, berapa gaya tarik yang bisa ditahan oleh
baja tersebut?

16. Pelat baja lebar 4 inch akan dilas dengan butt joint dan harus menahan gaya tarik
80.000 lbs. Berapa tebal pelat yang digunakan bila tekanan 20.000 lbs/inch2 ?

17. Apa beda destructive dan non-destructive test?


Destructive testing involves subjecting weld specimens to loads until they fail. The
common destructive test include tensile testing, impact testing, fatigue testing, shear
strength testing, and ductility testing. The purpose of nondestructive testing is to evaluate
a completed structure without impairing its actual usefulness. Nondestructive testing
makes use of the physical properties of metals to arrive at values which indicate the
soundness of materials. Common types of surface defects include porosity, slag
inclusions, and unfused metal in the interior of the weld.
Pengertian dari Destructive Test adalah pengujian yang dilakukan terhadap suatu material
atau spesimen sampai material tersebut mengalami kerusakan. Pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui performa pada material yang bersangkutan, salah satunya bila material
tersebut dikenai kerja dari luar dengan besar gaya yang berbeda beda. Pengujian ini
umumnya jauh lebih mudah untuk dilaksanakan, selain itu memberikan informasi yang
lebih baik dari pada Non Destructive Test.
Destructive Test lebih baik dilakukan dan akan lebih ekonomis untuk objek yang akan
diproduksi secara masal, misalnya mobil.

Non destrtructive testing (NDT)


Non destrtructive testing (NDT) adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap suatu benda
untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau discontinuity lain tanpa merusak benda yang
kita tes atau inspeksi. Pada dasarnya, tes ini dilakukan untuk menjamin bahwa material
yang kita gunakan masih aman dan belum melewati damage tolerance. Material pesawat
diusahakan semaksimal mungkin tidak mengalami kegagalan (failure) selama masa
penggunaannya.NDT dilakukan paling tidak sebanyak dua kali. Pertama, selama dan

diakhir proses fabrikasi, untuk menentukan suatu komponen dapat diterima setelah
melalui tahap-tahap fabrikasi. NDT ini dijadikan sebagai bagian dari kendali mutu
komponen. Kedua, NDT dilakukan setelah komponen digunakan dalam jangka waktu
tertentu. Tujuannya adalah menemukan kegagalan parsial sebelum melampaui damage
tolerance-nya.
18. Jelaskan prinsip dari magnetic inspection particle test!
The magnetic particle method of inspection uses a strong magnetizing current and a
finely divided powder suspended in a liquid to detect lack of fusion, very fine cracks, and
inclusions or internal flaws which are slightly below the surface in weldments. In this test
the piece to be examined is subjected to a very strong magnetizing current and the areas
of inspection covered with the suspended powder. Any impurities or discontinuities in the
magnetized material will interrupt the lines of magnetic force causing the particles of
suspended powder to concentrate at the defect sowing their size, shape, and location.
Surface cracks of all kinds are detected by this method.
Magnetic particle inspection merupakan suatu cara untuk mengetahui adanya retak atau
cacat yang ada di permukaan (surface atau sub surface discontinuitas) pada bahan-bahan
ferromagnetic. Prinsip kerja pengujian ini didasarkan pada sifat benda-benda
ferromagnetic yang akan memberikan kutub-kutub magnet jika benda tersebut di
magnetisasi, adanya kutub magnet itu akan menyebabkan timbulnya aliran medan magnet
dari kutub utara ke kutub selatan. Jika terdapat cacat pada benda uji maka cacat tersebut
akan menyebabkan timbulnya medan magnet baru, jika cacatnya terletak tegak lurus
terhadap arah medan magnet.
19. Jelaskan prinsip dari dye penetrant test!
In dye penetrant inspection surface defects are found by the use of proprietary dyes
suspended in liquids which have high fluidity. These liquids have good wetability and are
readily drawn into all surface defects by capillary action. Application of a suitable
developer brings out the dye and outlining the defect.
In this test the surface of the weldment, which must be clean and dry, is coated with a thin
film of the penetrant. After allowing a small amount of time for the penetrant to flow into
the defects the part is wiped clean. Only the penetrant in the defects remains. An
absorbent material, called a developer, is put on the weldment and allowed to remain
until the liquid from the imperfection flows into the developer. The dye now clearly
outlines the defects.
Some of the penetrants used contain a fluorescent dye. The method of applying and
developing are the same as for the previously mentioned dye penetrants, however the
fluorescent penetrant must be viewed under ultraviolet light, commonly referred to as
black light. This light causes the penetrants to fluoresce to a yellow-green color which
is more clearly defined than regular dye penetrants. The dye penetrant methods are
particularly useful for bringing out defects in nonferrous materials such as aluminium.

Liquid penetrant dengan warna tertentu (merah) meresap masuk kedalam diskontinyuitas,
kemudian liquid penetrant tersebut dikeluarkan dari dalam diskontinyuitas dengan
menggunakan cairan pengembang (developer) yang warnanya kontras dengan liquid
penetrant (putih). Terdeteksinya diskontinyuitas adalah dengan timbulnya bercak-bercak
merah (liquid penetrant) yang keluar dari dalam diskontinyuitas.
20. Bagaimana prinsip ultrasonic test?
In ultrasonic testing high frequency vibrations or waves are used to locate and measure
defects in both ferrous and nonferrous materials. This method is very sensitive, and is
capable of locating very fine surface and subsurface cracks, as well as other internal
defects. All types of joints can be evaluated and the exact size and location of defects
measured.
Ultrasonic testing utilizes high frequency vibratory impulses to ascertain the soundness of
a weld. If a high frequency vibration is sent through a sound piece of metal a signal will
travel through it to the other side of the metal and be reflected back and shown on a
calibrated screen of an oscilloscope. Discontinuities interrupt the signal and reflect it
back sooner than the signal of the sound material. This interruption is shown as a shorter
line on the oscilloscope screen and indicates the depth of the defect. Only one side of the
weldment needs to be exposed for testing purposes.
Prinsip kerja dari Ultrasonic Test adalah dengan menembakkan gelombang suara dengan
frekuensi tinggi sekitar 0.25 sampai 10 Mhz pada material melalui jalur yang bisa
diprediksi. Gelombang suara yang ditembakkan akan merambat melalui material dan
akan dipantulkan apabila mengenai sisi lain material atau cacat yang ada di dalam
material. Pantulan yang terjadi merupakan pantulan acak, bergantung pada bidang yang
dikenai. Apabila gelombang suara mengenai bidang yang tegak lurus dengan arah datang
gelombang, maka gelombang tersebut akan dipantulkan kembali ke sumber gelombang.
Jarak cacat atau bidang tersebut diprediksi melalui waktu yang dibutuhkan mulai dari
gelombang tersebut dikirimkan hingga diterima kembali.