Anda di halaman 1dari 5

1

KEAHLUSSUNNAHAN
HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN AHLUSSUNNAH WA’AL-JAMA’AH

I. Pendahuluan
Islam adalah satu-satunya Din (Agama) di sisi Allah (Ali Imran-19). Dan barang
siapa yang mencari selain Islam sebagai Agama, maka ia tidak akan diterima (Ali
Imran- 85)

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan untuk manusia melalui para Rasul-Nya.
Allah telah menyempurnakan agama dan menerima Islam sebagai agama (Al-
Maidah:3) yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad Saw. Untuk disampaikan
dan diturunkan-temurunkan kepada seluruh manusia sampai akhir Zaman.

Wakyu Allah kepada Rasul-Nya Muhammad Saw yang disampaikan melalui


Malaikat Jibril adalah Qur’an dan yang langsung keada Rasulullah adalah Sunnah.
Wahyu/petunjuk Allah dalam Qur’an dan yang Sunnah mencakup tuntunan mengenai
segala aspek kehidupan manusia.

Petunjuk Allah mengenai keimanan, mengenai hukum dan mengenai akhlak/tasauf


dinamakan syari’ah, yang khusus mengenai keimanan disebut usul syari’ah, yang
berkenaan dengan hukum disebut furu’ syari’ah dan yang berkenaan denga
akhlak/tasauf dinamakan maqasid syari’ah. Kata syari’ah juga dipakai denga arti
hukum dan juga dengan arti hukum Islam dan kata Islam dalam H.R Bukhari dan
Muslim juga dipakai dengan arti lima pilar ibadah yang populer disebut dengan
rukun Islam.

Memahami masalah-masalah keimanan (aqidah) atau hukum (syari’ah) atau akhlak


(ihsan) dari Qur’an dan Sunnah tidaklah mudah, karena Qur’an dan Sunnah itu
bukanlah kitab akidah, bukan kitab undang-undang/hukum dan bukan pula kitab
akhlak. Oleh sebab itu perbedaan paham mengenai masalah-masalah itu dari Qur’an
dan Sunnah adalah mungkin da telah terjadi.

II. Istilah Ahlussunnah wal-Jamaah


Nabi Muhammad Saw. Berdasarka wahyu dari Allah menyatakan; bahwa ummat
sepeniggal beliau akan berbeda paham yang jumlahnya mencapai 73 firqah dan
hanya satu firqah diantaranya yang selamat/masuk surga. Sabda-sabda Rasullullah
mengenai firqah-firqah ini diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya dari Abi
Hurairah, dari Abdillah bin Umar dan dari Mu’awiyah, diriwayatkan oleh Ahmad,
Abu Daud dan lain-lain. Hadis-hadis mengenai firqah-firqah ini ada yang Shahih dan
ada pula yang tidak. Yang tidak. Yang tidak Shahih yang sejalan maknanya dengan
yang Shahih menjadi Shahih li-Ghairih dan yang tidak sejalan/bertentangan dengan
yang Shahih tetap tidak Shahih. Di antara riwayat-riwayat mengenai firqah-firqah ini
adalah:
1. Hadis Riwayat Tarmizi yang artinya
(Sesugguhnya Bani Israil telah terpecah atas 72 millah (paham) dan umatku
akan terpecah atas 73 paham, semuanya masuk neraka, kecuali satu paham.
Mereka (para Sahabat) bertanya; Siapakah dia (yang satu paham) itu ya
Rasulullah? Dia (Rasulullah) menjawab: (orang yang mengikuti) peganganku
dan pegangan sahabat-sahabatku).
2
2. Hadis Riwayat Tahrani yang artinya
(Demi Tuhan yang jiwa Muhammad ditangan-Nya; Sungguh akan terpecah
umatku atas 73 firqah (golongan), yang satu masuk surga dan yang 72 masuk
neraka. Ditanya (oleh Sahabat): Siapa mereka (yang satu golongan) itu ya
Rasulullah? Dia (Rasulullah)menjawab: Ahlussunnah wal-Jamaah).

Makna hadis-hadis itu jelas bahwa dar yang 73 firqah itu yang selamat/masuk
surga adalah yang mengikuti pegangan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, yaitu
paham Ahlussunnah wal-Jama’ah.

Tafsir Al-Manar mengungkapkan penalaran Muhammad Abduh mengenai hadis-


hadis yang berkaitan dengan firqah-firqah itu yang intinya adalah sebagai berikut:

Sulit menentukan firqah yang selamat itu, karena masing-masing firqah


menyatakan bahwa firqahnya yang selamat, dan karena penalar dapat
mengatakan;
Pertama : Boleh jadi firqah yang selamat yang mengikuti pegangan Nabi dan
sahabat-sahabatnya itu telah pernah ada dan ttelah punah,
sedangkan yang tersisa sekarang termasuk yang tidak selamat.
Kedua : Mungkin firqah-firqah yang dimaksud oleh hadis-hadis itu belum
mencapai 73 firqah.
Ketiga : Mungkin yang selamat itu sampai kini belum ada dan akan ada
Keempat : Boleh jadi firqah-firqah yang ada semuanya selamat, karena semua
firqah sesuai dengan pegangan Nabi dan sahabat-sahabatnya tentang
prinsip-prinsip yang diketahui dari mereka mengenai ketuhanan.
Kenabian dan hari akhirat, sedangkan firqah lainnya baru akan ada,
seperti yang mendakwakan ketuhanan Ali seperti firqah Nusairiyah.

Konsekwensi dari keraguan (kemungkinan) itu ialah tak satu firqahpun kecuali
penalar menemukan padanya kikuatkan dengan Kitab, Sunnah, Ijma’ dan yang
seumpamanya sedangkan nash-nash bertentangan aspek-aspeknya. Di antara yang
menyenangkan (Muhammad Abduh) ialah ada hadis lain bahwa yang binasa dari
mereka adalah satu firqah (yang 72 firqah adalah selamat).

Sebenarnya keragu-raguan yang dikemukakan Muhammad Abduh itu tidak


semestinya ada, karena alasan dari firqah yang banyak itu tidak akurat dan tidak
shahih.

Adapun empat kemungkinan yang dikemukakan Muhammad Abduh itu, maka


kemungkinan pertama bahwa yang selamat sudah punah dan kemungkinan ketiga
bahwa firqah yang selamat belum ada, jelas bertentangan dengan hadis riwayat
Bukhari dan Muslim yang artinya:
(akan senantiasa ada sekelompok dari umatku menegakkan yang hak sampai
datang perintah Allah (hari kiamat) da ereka menegakkannya).

Kemungkinan kedua bahwa firqah yang ada sekarang belum mencapai 73 firqah
adalah tidak berarti semua yang ada sekarang adalah selamat atau semuanya tidak
selamat, tetapi ada yang selamat dan ada yang tidak selamat.
3
Kemungkinan keempat bahwa firqah-firqah yang ada sekarang semuanya selamat
dan yang tidak selamat sudah punah atau belu ada, jelas-jelas berlawanan dengan
kenyataan sejarah, bukankah dari dahulu sampai sekarang ada saja kelompok
yang mengingkari Sunnah, yang mengingkari Qadar dan lain-lain, sedangkan
aqidah Islamiyah tidak hanya diukur dengan keyakinan akan ketuhanan, kenabian
dan hari akhirat saja, tetapi ada lagi pilar-pilar akidah yang lain.

Akhir-akhir ini ada pakar yang tanpaknya senang mengintip dan mengutip
pendapat ragu-ragu Abduh itu, karena dianggap berwawasan luas dan (rada)
ilmiyah yang barangkali dengan tujuan (penyesuaian) agar diterima oleh semua
kelompok untuk mempersatukan umat, padahal Sunnatullah senantiasa berlaku,
di antaranya sebagaimana petunjuk Rasulullah bahwa umat akan berfirqah-firqah.

Sebenarnya Tafsir Al-Manar lebih lanjut menerangkan:


Bahwa penalaran Abduh seperti telah dikemukakan itu adalah pada saat
kekurangan waktu untuk menelaah kitab-kitab hadis. Setelah cukup waktu,
sesungguhnya dia (Abduh) telah menjazamkan bahwa mengikuti pegangan
Rasulullah dan sahabat-sahabatnya adalah Ahlus Hadis dan Ulama Atsar yang
dapat petunjuk dengan petunjuk Salaf yang senantiasa ada sampai hari kiamat,
sesuai dengan hadis (riwayat Bukhari) yang shahih, dan dia (Abduh) tidak
gemberi dengan hadis yang menyatakan bahwa yang binasa adalah satu firqah,
karena riwayat itu tidaklah shahih.

Seterusnya Al-Manar melanjutkan:


Bahwa beliau (Abduh) mendalami semua Mazhab Ilmu Kalam, Falsafah dan
Tasauf, lantas Allah memberinya petunjuk mengikuti Mazhab Salaf yang Salih
secara global dan kemudian secara terperinci serta kembali dari menyalahkan
bagian-bagian dari Ilmu Kalam dan Tasauf secara berangsur-ansur.

Kalau hadis menyatakan bahwa firqah yang selamat/masuk surga adalah yang
mengikuti pegangan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, yaitu Ahlussunnah wal-
Jamaah, maka Al-Manar memakai istilah Mazhab Salaf, pengertian Istilah
Ahlussunnah wal-Jamaah dengan mazhab Salaf tentu tidaklah persis sama.

Menurut Ba’lawi 73 firqah itu adalah:


a. Ahlussunnah Wal-Jamaah : 1 kelompok
b. Syi’ah : 22 kelompok
c. Khawarij : 20 kelompok
d. Mu’tazilah : 20 kelompok
e. Najjariyah : 3 kelompok
f. Murjiah : 5 kelompok
g. Jabariyah : 1 kelompok
h. Musyabihah : 1 kelompok

III. Makna dan Sejarah Ahlussunnah wal-Jama’ah


Sesuai dengan uraian terdahulu, maka makna Ahlussunnah wal-Jama’ah adalah orang
yang mengikuti pegangan (paham) Rasullullah dan sahabat-sahabat beliau.
Pegangan/paham mengandung makna:
4
Pertama : Cara/pola memahami masalah-masalah akidah serta cara/pola memberikan
pemahaman kepada orang lain mengenai masalah-masalah itu.
Kedua : Hasil pemahaman/yang dipahami mengenai masalah-masalah itu.

Makna Ahlussunnah wal-Jamaah dapat diuraikan sbb:


a. Ahlussunnah terdiri atas kata Ahl dan al-Sunnah. Ahl berarti orang/warga. Makna
al-Sunnah:
Pertama : Cara/pola Nabi dan para sahabat menerima Mutasyabihat Qur’an dan
menyerahkan maksudnya kepada Allah.
Kedua : al-Sunnah berarti hadis (petunjuk Rasullullah). Dengan demikian,
maka arti Ahlussunnah ialah orang yang mengikuti cara/pola Nabi dan
para sahabatnya menerima mutasyabihat Qur’an dan mempedomani
Sunnah Rasullullah.

b. Wal-Jama’ah terdiri atas kata wa dan al-Jama’ah. Wa berarti dan, al-Jama’ah


maksudnya golongan pengikut Sunnah yang banyak jumlahnya dari kalangan
Sahabat dan generasi berikutnya yang cenderung kepada persatuan dan tidak
saling mengkafirkan sesamanya bila ada perbedaan pendapat.

Pada masa awal dari zaman Sahabat, istilah mengenai firqah atau paham dalam
masalah akidah belum lagi populer, karena kalaupun waktu itu telah ada paham
dalam masalah akidah belum lagi populer, karena kalaupun waktu itu telah ada
paham sempalan, namun baru merupakan paham perorangan, setalah terjadi peristiwa
pembunuhan atas Khalifah Usman sampai peristiwa Tahkim Qur’an, maka semula
yang timbul hanya firqah-firqah siasat, dan kemudian baru dikaitkan dan ditopang
dengan masalah aqidah.

Berdasarkan keputusan juru runding pada Tahkim Quran itu, dimana Ali dan
Mu’awiyah sama-sama dima’zulkan (diberhentikan) dari jabatan khalifah tetapi
setelah juru runding pihak Ali (Abu Musa Al-Asy’ari) mengumumkan pemberhentian
Ali dan juru runding pihak Mu’awaiyah (‘Amru bin Ash) tidak jadi memberhentikan
Mu’awiyah dia adalah khalifah yang sah secara hukum sejak waktu itu dan secara
defakto dia didukung oleh julah kaum muslimin yang banyak. Pihak Ali dan sebagian
pengikutnya berpendapat bahwa tugas juru runding hanyalah sebatas mencari fakta
(fact finding) dan mengupayakan konsensi (ishlah) dan tidak berhak memberhentikan
khalifah, karenanya Ali tetap sebagai khalifah yang sah, tetapi sebagian dari pengikut
Ali berpendapat bahwa walau bagaimanapun yang berhak dan yang sah sebagai
khalifah adalah Ali, sesuai dengan hadis riwayat Tarmizi yang artinya: Barangsiapa
yang aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Kelompok ini disebut Syi’ah
atau Syi’ah Ali.

Kelompok Syi’ah sebelumnya secara diam-diam telah berusaha membentuk opini,


maka setelah Tahkim Qur’an secara terang-terangan menguatkan siasat mereka
dengan aqidah, di antaranya dengan memitoskan Ali sama dengan Nabi dan bahkan
sebagai unsur ketuhanan yang menjelma ke bumi.

Selain itu timbul pula firqah Khawarij dari sebagian yang semula mendukung
kekhalifahan Ali, tetapi karena khalifah Ali menerima Tahkim Qur’an, mereka
berbalik menjadi penentang Ali dan juga menentang Mu’awiyah. Mereka melandasi
pendapat mereka dengan akidah. Mereka merupakan firqah sempalan yang sangat
5
radikal yang kemudian berhasil membunuh Ali, tetapi gagal membunuh Mu’awiyah
dan juru rundingnya ‘Amru bin ‘Ash.

Mungkin sebagai antitesa dari lahirnya firqah Khawarij timbul pula firqah Murjiah
yang tidak memihak kepada Ali atau Muawiyah. Kalau Khawarij mengkafirkan
orang-orang yang yang berdosa dan yang tidak sepaham dengannya, maka Murjiah
menangguhkan penentuan hukuman orang-orang yang berdosa besar sampai nanti di
akhirat.

Sejak munculnya firqah-firqah baru terutama Syi’ah, maka mulai pula populer
sebutan firqah Ahlussunnah wal-Jama’ah untuk bagian terbesar dari Sahabat dan
pengikut-pengikutnya.

Pada bagian kedua abad pertama hijriah, kajian Islam mulai berpola, di Hijaz
beraliran Ahlul Hadis dan di Iraq beraliran Ahlurra’yi serti timbul pula paham-paham
sempalan baru perorangan. Setelah memasuki abad ke II H dan masa-masa
sesudahnya timbul lagi firqah-firqah baru yang menyimpang dari paham
Ahlussunnah wal-Jamaah, seperti Mu’tazilah, Qadariah dan Jabariah, sedangkan
imam-imam Mazhab yang empat yang lebih populer dibidang Fiqh Populer pula
sebagai imam-imam Ahlussunnah.

Pada abad ke III H beberapa khalifah Abbasyiah sepeninggal Harun al-Rasyid


setidak-tidaknya berpihak kepada Mu’tazilah yang dalam kajiannya menjadikan akal
sebagai dalil utama, memenjarakan pentolan-pentolan Ahlussunnah wal-Jama’ah
sampai wafat, seperti Buwaiti yang Syafi’iyah (231 H) dan Ahmad bin Hanbal (241
H), hanya lantaran tidak sependapat dengan paham Mu’tazilah yang menyatakan
bahwa Qur’an makhluk.

Pada awal abad ke IV H. tampil Abu Hasan Al-Asy’ari (324 H) mempertahankan


paham Ahlussunnah wal-Jamaah dengan menandingi dan mengoreksi teori-teori Ilmu
Kalam dan Filsafat yang tidak sesuai dengan Sunnah yang dianut oleh firqah-firqah
sempalan. Sebelum Asy’ari, Ahlussunnah wal-Jama’ah berpegang teguh pada dalil-
dalil Naqli tanpa membahasnya secara filsafat. Atas jasa Asy’ari tu, maka kemudian
paham Ahlussunnah diidentikkan dengan Asy’ariyah.

Diantara tokoh-tokoh Ahlussunnah wal-Jama’ah penerus Asy’ari ialah Bagilani (403


H), Juwaini (460 H) dan al-Ghazali (505 H) yang semuanya adalah Syafi’iyah,
sedangkan tokoh utama Ahlussunnah yang lain ialah Abu Mansur al-Maturidi (333
H) dari Hanafiyah.

Selain paham Ahlussunnah wal-Jama’ah tetap saja ada sampai sekarang orang yang
mengikuti atau yang sependapat dengan salah satu paham dari firqah sempalan yang
telah pernah ada walaupun tanpa memakai nama firqah tertentu yang telah ada atau
nama baru.
IV. s