Anda di halaman 1dari 14

SALINAN

PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA


NOMOR 04 /P/KPI/9/2006

TENTANG

KELEMBAGAAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA

KOMISI PENYIARAN INDONESIA,


Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan lebih lanjut pembagian
kewenangan dan tugas serta pengaturan tata hubungan antara
Komisi Penyiaran Indonesia Pusat dan Komisi Penyiaran
Indonesia Daerah dalam satu garis koordinasi dan harmonisasi
kelembagaan;

b. bahwa berhubung dengan itu, ketentuan sebagaimana dimaksud


dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor
01/P/KPI/5/2006 tentang Kelembagaan Komisi Penyiaran
Indonesia, perlu diatur kembali;
Mengingat : Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4252);
Memperhatikan : 1. Hasil Rapat Koordinasi Nasional III Komisi Penyiaran Indonesia
tanggal 29 November sampai dengan 1 Desember 2005 di Jakarta;

2. Hasil Rapat Koordinasi Nasional IV Komisi Penyiaran Indonesia


tanggal 21 sampai dengan 23 Juli 2006 di Surabaya;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA TENTANG
KELEMBAGAAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini yang dimaksud
dengan:
1. Komisi Penyiaran Indonesia selanjutnya disebut KPI adalah
lembaga negara yang bersifat independen, yang terdiri atas KPI
Pusat yang dibentuk di tingkat pusat dan berkedudukan di
ibukota negara serta KPI Daerah yang dibentuk di tingkat
provinsi dan berkedudukan di ibukota provinsi.
-2-

2. Anggota KPI adalah seseorang yang dipilih oleh Dewan


Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan ditetapkan oleh
Presiden untuk KPI Pusat serta dipilih oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi dan ditetapkan oleh Gubernur untuk
KPI Daerah.

BAB II
KOMISI PENYIARAN INDONESIA

Bagian Pertama
Visi dan Misi

Pasal 2

(1) Visi KPI adalah terwujudnya sistem penyiaran nasional yang


demokratis, adil, menjamin keseragaman serta bermanfaat bagi
kesejahteraan dan kepentingan masyarakat dan lembaga
penyiaran Indonesia.

(2) Misi KPI adalah membangun dan memelihara tatanan informasi


nasional yang adil, merata, dan seimbang melalui terciptanya
infrastruktur yang tertib dan teratur serta arus informasi yang
harmonis antara pusat dan daerah, antar wilayah di Indonesia,
juga antara Indonesia dan dunia Internasional.

Bagian Kedua
Tata Tertib Keanggotaan

Pasal 3

Anggota KPI wajib menaati tata tertib keanggotaan sebagai berikut:


a. dilarang menerima pemberian apapun dalam bentuk suap secara
langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan penyiaran;
b. tidak menyalahgunakan jabatan dan kewenangannya untuk
kepentingan-kepentingan lain yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. wajib melaporkan kegiatan yang berkaitan dengan tugas dan
kewenangannya dalam pleno;
d. dilarang terlibat dalam aktivitas di lembaga penyiaran yang
mempengaruhi independensi sebagai anggota KPI.
-3-

Bagian Ketiga
Pemilihan dan Penetapan Anggota

Pasal 4

(1) Anggota KPI Pusat dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat


Republik Indonesia dan KPI Daerah dipilih oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atas usul masyarakat melalui
uji kepatutan dan kelayakan secara terbuka.

(2) Anggota KPI Pusat secara administratif ditetapkan oleh Presiden


atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan
anggota KPI Daerah secara administratif ditetapkan oleh
Gubernur atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi.

Bagian Keempat
Pemberhentian Anggota

Pasal 5

(1) Anggota KPI berhenti karena:


a. masa jabatan berakhir;
b. meninggal dunia;
c. mengundurkan diri;
d. dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang
memperoleh kekuatan hukum tetap; atau
e. tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 32 Tahun
2002 tentang Penyiaran.

(2) Apabila anggota KPI berhenti sebagaimana dimaksud dalam


ayat (1) di atas, yang bersangkutan digantikan oleh anggota
pengganti antarwaktu sampai habis masa jabatannya.

Pasal 6
Anggota Pengganti Antarwaktu

Anggota pengganti antarwaktu adalah calon anggota KPI yang


telah menjalani uji kepatutan dan kelayakan serta ditetapkan oleh
DPR RI atau DPRD Provinsi sebagai anggota pengganti
antarwaktu sesuai dengan urutan hasil uji kepatutan dan
kelayakan.
-4-

Bagian Kelima
Tata Cara Pemberhentian

Pasal 7

(1) 6 (enam) bulan sebelum masa jabatan berakhir KPI Pusat wajib
memberitahukan kepada Presiden dan DPR RI serta KPI Daerah
wajib memberitahukan kepada Gubernur dan DPRD.

(2) Masa jabatan berakhir setelah anggota KPI yang baru ditetapkan
dan dilantik.

Pasal 8

Jika terdapat anggota KPI yang meninggal dunia, maka KPI Pusat
menyampaikan surat kepada Presiden dengan tembusan ke DPR
dan KPI Daerah menyampaikan surat kepada Gubernur dengan
tembusan ke DPRD.

Pasal 9

(1) Anggota KPI Pusat yang bermaksud mengundurkan diri harus


mengajukan surat kepada Ketua KPI Pusat.

(2) Anggota KPI Daerah yang bermaksud mengundurkan diri harus


mengajukan surat kepada Ketua KPI Daerah.

(3) Keputusan mengenai permintaan pengunduran diri dilakukan


melalui rapat pleno.

Pasal 10

(1) Jika terdapat anggota KPI yang sedang dalam proses pengadilan
karena perbuatan pidana, maka yang bersangkutan
dinonaktifkan sebagai anggota KPI.

(2) Jika terdapat anggota KPI yang dipidana penjara berdasarkan


putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap,
maka KPI Pusat menyampaikan surat kepada Presiden dengan
tembusan ke DPR dan KPI Daerah menyampaikan surat kepada
Gubernur dengan tembusan ke DPRD.
-5-

Pasal 11
(1) Jika terdapat anggota KPI yang tidak lagi memenuhi persyaratan
sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, maka KPI
Pusat menyampaikan surat kepada Presiden dengan tembusan
ke DPR dan KPI Daerah menyampaikan surat kepada Gubernur
dengan tembusan ke DPRD.
(2) Anggota KPI yang tidak lagi memenuhi persyaratan
sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), setelah diadakan
klarifikasi oleh KPI terhadap anggota yang bersangkutan dan
apabila terbukti, KPI melalui rapat pleno dapat memutuskan
untuk mengusulkan penggantian.

Pasal 12
(1) Dalam hal penggantian anggota KPI, KPI Pusat wajib
mengusulkan kepada Presiden dan DPR RI, KPI Daerah wajib
mengusulkan kepada Gubernur dan DPRD untuk ditetapkan
calon anggota pengganti.

(2) KPI mengumumkan nama anggota pengganti yang telah


ditetapkan kepada publik.

Pasal 13
(1) Penjaringan calon anggota baru KPI Pusat masa jabatan
berikutnya dilakukan oleh Tim Ad Hoc yang dibentuk oleh KPI
Pusat dan diberitahukan kepada DPR.

(2) Penjaringan calon anggota baru KPI Daerah masa jabatan


berikutnya dilakukan oleh Tim Ad Hoc yang dibentuk oleh KPI
Daerah dan diberitahukan kepada DPRD.

(3) Tim Ad Hoc adalah tim independen yang beranggotakan lima


orang terdiri atas akademisi, tokoh masyarakat, dan unsur
pemerintah, yang bertugas menerima pendaftaran dari
masyarakat, melakukan verifikasi administrasi, dan menetapkan
calon yang memenuhi syarat administrasi dan ketentuan yang
termaktub dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2002 tentang Penyiaran.

(4) Anggota KPI yang telah habis masa jabatannya pada masa
jabatan pertama dapat dipilih kembali untuk yang kedua kalinya.
-6-
(5) Penetapan masa jabatan kedua diputuskan oleh DPR untuk
anggota KPI Pusat atau oleh DPRD untuk anggota KPI Daerah.
(6) Tim Ad Hoc mengadakan uji publik dan meneruskan daftar
nama calon anggota KPI yang telah melalui uji publik beserta
berkas-berkasnya kepada DPR RI untuk KPI Pusat dan kepada
DPRD Provinsi setempat untuk KPI Daerah.
(7) Ketentuan mengenai tata kerja tim Ad Hoc dan uji publik diatur
lebih lanjut dalam Keputusan KPI.

BAB III
STRUKTUR KELEMBAGAAN
Bagian Pertama
Struktur Komisioner
Pasal 14
(1) Struktur Komisioner terdiri atas:
a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. Anggota;
(2) Penetapan Ketua dan Wakil Ketua KPI dalam struktur
Komisioner sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diputuskan
dalam rapat pleno KPI dan disampaikan untuk ditetapkan oleh
Presiden untuk KPI Pusat dan oleh Gubernur untuk KPI Daerah

(3) Setiap anggota mempunyai bidang tugas masing-masing yang


terdiri atas :
1. Bidang Pengelolaan Struktur Sistem Penyiaran Indonesia :
a. mengkoordinasikan perizinan;
b. mengkoordinasikan kegiatan KPI yang berkaitan dengan
penjaminan kesempatan masyarakat untuk memperoleh
informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi
manusia;
c. mengkoordinasikan program dan kegiatan KPI yang
berkaitan dengan pengaturan insfrastruktur penyiaran;
d. mengkoordinasikan pembangunan iklim persaingan yang
sehat antarlembaga penyiaran dan industri terkait.

2. Bidang Pengawasan Isi Penyiaran :


a. mengkoordinasikan penyusunan peraturan dan
keputusan KPI yang menyangkut isi penyiaran;
b. mengkoordinasikan pengawasan pelaksanaan dan
penegakan peraturan KPI yang menyangkut isi penyiaran;
-7-

c. mengkoordinasikan pemeliharaan tatanan informasi


nasional yang adil, merata, dan seimbang;
d. mengkoordinasikan kegiatan KPI yang menampung,
meneliti dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, kritik,
dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaran
penyiaran;
3. Bidang Kelembagaan :
a. mengkoordinasikan penyusunan, pengelolaan, dan
pengembangan organisasi KPI;
b. mengkoordinasikan penyusunan peraturan dan
keputusan KPI yang berkaitan dengan organisasi;
c. mengkoordinasikan kerjasama dengan pemerintah,
lembaga penyiaran, dan masyarakat, serta pihak-pihak
internasional;
d. mengkoordinasikan perencanaan pengembangan sumber
daya manusia yang professional di bidang penyiaran.

(4) Apabila Ketua berhalangan tetap, penandatanganan surat,


keputusan dan atau peraturan dilakukan oleh Wakil Ketua atas
nama Ketua.

Pasal 15

Pembagian tugas Ketua dan Wakil Ketua adalah sebagai berikut:


1. Ketua mempunyai tugas menangani tugas-tugas pimpinan dan
kegiatan eksternal, sebagai berikut:
a. melakukan koordinasi dan bertanggung jawab atas seluruh
kegiatan KPI;
b. mengkoordinasi kegiatan hubungan eksternal KPI;
c. mengawasi dan mengevaluasi kinerja KPI secara keseluruhan;
d. memfokuskan kegiatan agar visi dan misi KPI dijalankan
secara utuh;
e. apabila Ketua berhalangan tetap dapat digantikan oleh Wakil
Ketua;
f . dalam menjalankan tugasnya Ketua dapat melimpahkan
kewenangannya kepada Wakil Ketua atau salah seorang
anggota, jika Wakil Ketua berhalangan.
2. Wakil Ketua mempunyai tugas menangani tugas-tugas pimpinan
dan kegiatan internal, sebagai berikut:
a. membantu Ketua dalam mengkoordinasikan seluruh kegiatan
KPI;
b. melakukan pengawasan terhadap pematuhan tata tertib KPI;
-8-

c. memimpin pelaksanaan kegiatan internal KPI;


d. memfokuskan kegiatan agar visi dan misi KPI dijalankan
secara utuh;
e. apabila Wakil Ketua berhalangan tetap dapat digantikan oleh
salah seorang anggota;
f. dalam menjalankan tugasnya Wakil Ketua dapat
melimpahkan kewenangannya kepada salah seorang anggota.
3. Anggota mempunyai tugas sebagai berikut:
a. memimpin pelaksanaan kegiatan internal sesuai dengan
bidangnya;
b. mengkoordinasikan secara internal kegiatan dan tugas pada
bidangnya;
c. melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan pada
bidangnya;
d. menjalankan tugas Ketua atau Wakil Ketua apabila mendapat
pelimpahan kewenangan.

Bagian Kedua
Tenaga Ahli
Pasal 16
(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, KPI dapat dibantu
oleh tenaga ahli sesuai dengan kebutuhan.
(2) Untuk dapat diangkat sebagai tenaga ahli, harus memenuhi
syarat-syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh KPI.
(3) Syarat-syarat dan ketentuan sebagai tenaga ahli ditetapkan lebih
lanjut melalui keputusan KPI.

Bagian Ketiga
Sekretariat
Pasal 17
(1) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, KPI dibantu oleh
sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris dibiayai oleh
APBN untuk KPI Pusat dan APBD untuk KPI Daerah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Sekretaris KPI Pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
adalah pejabat yang diusulkan oleh KPI Pusat dan ditetapkan
oleh Menteri.
(3) Sekretaris KPI Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
adalah pejabat yang diusulkan oleh KPI Daerah dan ditetapkan
oleh Gubernur.
-9-

Bagian Keempat
Rapat-Rapat Lembaga

Pasal 18

(1) Rapat-rapat Lembaga terdiri atas:


1. Rapat Koordinasi Nasional.
2. Rapat Pimpinan.
3. Rapat Kerja.
4. Rapat Koordinasi Teknis.
5. Rapat Pleno.

(2) Pengambilan keputusan dalam rapat sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) dilakukan melalui musyawarah untuk mufakat
atau bila tidak tercapai melalui pemungutan suara (50%+1).

Bagian Kelima
Rapat Koordinasi Nasional

Pasal 19

(1) Rapat Koordinasi Nasional adalah rapat yang dihadiri oleh


seluruh anggota KPI.

(2) Rapat Koordinasi Nasional merupakan Forum Tertinggi KPI


yang berfungsi untuk menetapkan Peraturan dan Keputusan
berkenaan dengan wewenang, tugas, kewajiban, dan fungsi KPI.

(3) Peraturan dan Keputusan yang ditetapkan dalam Rakornas KPI


bersifat mengikat.

(4) Rakornas dianggap sah apabila dihadiri oleh sekurang-


kurangnya 50+1 anggota KPI Pusat dan sekurang-kurangnya
50% + 1 dari seluruh perwakilan lembaga KPID yang ada.

(5) Rakornas diselenggarakan oleh KPI Pusat yang dibiayai oleh


APBN.
- 10 -

Bagian Keenam
Rapat Pimpinan

Pasal 20

(1) Rapat Pimpinan adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota
KPI Pusat dan para Ketua dan/atau Wakil Ketua KPI Daerah.

(2) Rapat Pimpinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


diselenggarakan paling kurang 1 (satu) kali dalam setahun.

(3) Rapat Pimpinan dianggap sah bila dihadiri oleh 50% + 1 dan
keputusannya mengikat seluruh anggota KPI.

Bagian Ketujuh
Rapat Kerja

Pasal 21

(1) Rapat Kerja adalah rapat yang diselenggarakan oleh KPI baik di
tingkat Nasional (Rakernas) dan ditingkat daerah (Rakerda).

(2) Rapat Kerja Nasional diselenggarakan oleh KPI Pusat dan diikuti
oleh para koordinator bidang dari seluruh KPID.

(3) Rapat Kerja Nasional (Rakernas) berfungsi untuk menetapkan


dan mengevaluasi program kerja KPI secara nasional.

(4) Rapat Kerja Nasional (Rakernas) diselenggarakan sekali dalam


satu tahun.

(5) Rapat Kerja Daerah (Rakerda) diselenggarakan oleh KPID


sebagai tindak lanjut dan implementasi dari hasil-hasil Rakernas.

(6) Rakerda berfungsi menetapkan dan mengevaluasi program kerja


KPID.

(7) Rakerda diselenggarakan dua kali dalam satu tahun.

(8) Raker sah bila dihadiri oleh 50% + 1 dan keputusan Raker
mengikat seluruh anggota KPI.
- 11 -

Bagian Kedelapan
Rapat Koordinasi Teknis

Pasal 22

(1) Rapat Koordinasi Teknis adalah rapat yang diselenggarakan oleh


Bidang-bidang yang dikoordinasikan oleh masing-masing
Anggota KPI sesuai dengan tugas dan wewenang menurut
struktur organisasi.

(2) Rapat Koordinasi Teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


diselenggarakan sesuai kebutuhan.

(3) Rapat Koordinasi Teknis sah bila dihadiri oleh 50% + 1 dan
keputusan Rapat Koordinasi Teknis mengikat seluruh anggota
KPI.

Bagian Kesembilan
Rapat Pleno

Pasal 23

(1) Rapat Pleno adalah rapat yang diselenggarakan secara berkala


oleh KPI untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan
masalah kelembagaan dan merupakan forum tertinggi dalam
pengambilan keputusan di masing-masing KPI Pusat dan KPI
Daerah.

(2) Rapat Pleno sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipimpin


oleh Ketua atau Wakil Ketua KPI dan diselenggarakan sekurang-
kurangnya 1 (satu) kali dalam sebulan.

(3) Rapat Pleno dianggap sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya


2/3 dari jumlah anggota dan keputusan yang diambil Rapat
Pleno bersifat mengikat semua anggota KPI.

(4) Keputusan didalam Rapat Pleno KPI dicapai sebaik-baiknya


melalui musyawarah untuk mufakat.
- 12 -

BAB IV
TATA HUBUNGAN KPI PUSAT DAN KPI DAERAH

Pasal 24

(1) KPI Pusat bertindak sebagai koordinator bagi pelaksanaan


wewenang, tugas, fungsi, dan kewajiban KPI, yang berskala
lintas daerah/wilayah, nasional maupun internasional.

(2) KPI Pusat menyusun dan menetapkan ketentuan mengenai


pembagian wewenang, tugas, fungsi, dan kewajiban antara KPI
Pusat dan KPI Daerah.

(3) KPI Pusat bertindak sebagai mediator dan fasilitator komunikasi


dan koordinasi antara KPI (KPIP dan KPID) dan Pemerintah
Pusat.

(4) Dalam melaksanakan wewenang, fungsi, tugas, dan


kewajibannya, KPID wajib melakukan koordinasi dengan KPIP
dan instansi terkait lainnya.

BAB V
KEPUTUSAN DAN KETETAPAN/PERATURAN LEMBAGA

Bagian Pertama
Keputusan

Pasal 25

Pengambilan keputusan KPI dilakukan melalui rapat KPI.

Bagian Kedua
Ketetapan/Peraturan Lembaga

Pasal 26

(1) Ketetapan/peraturan KPI diterbitkan setelah melalui putusan


rapat KPI dan bersifat mengikat ke dalam dan ke luar.

(2) Dalam hal tertentu KPID dapat menerbitkan peraturan sesuai


dengan kebutuhan daerahnya.
- 13 -

BAB VI
KERJA SAMA

Pasal 27

KPI dapat membuat perjanjian dan atau kerja sama dengan pihak
lain berdasarkan kebutuhan.

BAB VII
PENDANAAN

Bagian Pertama
Ketentuan mengenai Honorarium dan Tunjangan

Pasal 28

(1) Anggota KPI menerima honorarium dan tunjangan yang


besarnya disesuaikan dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

(2) Pejabat dan staf sekretariat yang berstatus PNS dan Non PNS
berhak mendapatkan insentif disesuaikan dengan kedudukan
dan atau jabatannya (eselonisasi) dan honorarium dari satu
kepanitiaan/tim, dan khusus bagi Non PNS ditambahkan hak
honorarium tetap berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

BAB VIII
PENUTUP

Pasal 29

Peraturan yang telah dikeluarkan oleh KPI Pusat, dinyatakan tetap


sah dan berlaku sampai dikeluarkan Peraturan lembaga yang baru
berdasarkan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini.

Pasal 30

Pada saat Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini mulai berlaku,


maka Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor
01/P/KPI/5/2006 tentang Kelembagaan Komisi Penyiaran
Indonesia dinyatakan tidak berlaku.
- 14 -

Pasal 31

Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini mulai berlaku pada


tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman


Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 September 2006

a.n. KETUA KOMISI PENYIARAN INDONESIA PUSAT,


WAKIL KETUA KOMISI PENYIARAN INDONESIA PUSAT,

ttd.

S. SINANSARI ECIP

Salinan sesuai dengan aslinya


Plt. Sekretaris Komisi Penyiaran Indonesia Pusat

Ir. Sudarno
NIP. 050036713