Anda di halaman 1dari 13

PERATURAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA

NOMOR 01 TAHUN 2007

TENTANG

KELEMBAGAAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA

KOMISI PENYIARAN INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 7, 8, 9, 10, 11


dan 12 Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 tentang
Penyiaran perlu menetapkan peraturan pelaksanaannya;

b. bahwa adanya perkembangan serta dinamika kelembagaan di


tingkat pusat dan daerah maka penguatan kelembagaan yang
bersifat internal dan eksternal menjadi satu kebutuhan yang
perlu diatur;

c. bahwa berdasarkan huruf a dan b di atas, perlu dibentuk


peraturan KPI tentang Kelembagaan Komisi Penyiaran
Indonesia.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor
139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4252);

2. Undang-undang Nomor 10 tahun 2004 tentang Tata Cara


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53);

3. UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437);

4. UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan


Anatara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
126);

5. PP Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);

Memperhatikan: a. Hasil Rapat Koordinasi Nasional II Komisi Penyiaran


Indonesia tanggal 29 November sampai dengan 1 Desember
2005 di Jakarta;

b. Hasil Rapat Koordinasi Nasional III Komisi Penyiaran


Indonesia tanggal 21 sampai dengan 23 Juli 2006 di
Surabaya;

c. Hasil Rapat Koordinasi Nasional IV Komisi Penyiaran


Indonesia tanggal 28 sampai dengan 31 Juli 2007 di
Denpasar.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN TENTANG KELEMBAGAAN KOMISI


PENYIARAN INDONESIA

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini yang dimaksud dengan:


1. Komisi Penyiaran Indonesia selanjutnya disebut KPI adalah lembaga negara yang
bersifat independen, yang terdiri atas KPI Pusat yang dibentuk di tingkat pusat dan
berkedudukan di ibukota negara serta KPI Daerah yang dibentuk di tingkat provinsi
dan berkedudukan di ibukota provinsi.
2. Anggota KPI adalah seseorang yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia dan ditetapkan oleh Presiden untuk KPI Pusat serta dipilih oleh
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan ditetapkan oleh Gubernur untuk KPI
Daerah.
3. Sekretariat KPI adalah perangkat kelembagaan sebagai pelaksana tugas dan fungsi
kesekretariatan KPI yang berkedudukan sebagai alat kelengkapan pemerintah baik di
pusat maupun di daerah.
4. Sekretaris KPI adalah pejabat yang diangkat oleh pemerintah atas usulan KPI.

2
BAB II
KEANGGOTAAN

Bagian Pertama
Pemilihan dan Penetapan Anggota KPI

Pasal 2

(1) Anggota KPI Pusat dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan
KPI Daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atas usul
masyarakat melalui uji kepatutan dan kelayakan secara terbuka.
(2) Anggota KPI Pusat secara administratif ditetapkan oleh Presiden atas usul Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan anggota KPI Daerah secara administratif
ditetapkan oleh Gubernur atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi.

Bagian Kedua
Pemberhentian Anggota KPI

Pasal 3

(1) Anggota KPI berhenti karena:


a. masa jabatan berakhir;
b. meninggal dunia;
c. mengundurkan diri;
d. dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan
hukum tetap dengan minimal pidana penjara 1 tahun; atau
e. tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(1) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
(2) Apabila anggota KPI berhenti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas, yang
bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti antarwaktu sampai habis masa
jabatannya.
(3) Keanggotaan KPI yang masa jabatannya habis, tetap bertugas sesuai dengan segala
kewenangannya sampai terpilih dan ditetapkannya anggota KPI baru berdasarkan
Surat Keputusan Presiden untuk KPI Pusat dan Surat Keputusan Gubernur untuk
KPI Daerah dan mengajukan perpanjangan masa jabatan.

Bagian Ketiga
Tata Cara Penggantian Anggota

Pasal 4

(1) Anggota pengganti antarwaktu adalah calon anggota KPI yang telah menjalani uji
kepatutan dan kelayakan serta ditetapkan oleh DPR RI atau DPRD Provinsi sebagai
anggota pengganti antarwaktu sesuai dengan urutan hasil uji kepatutan dan
kelayakan.

3
(2) Apabila anggota KPI meninggal dunia, maka KPI Pusat menyampaikan surat
pemberitahuan dan penggantian kepada Presiden dengan tembusan ke DPR RI dan
KPI Daerah kepada Gubernur dengan tembusan ke DPRD Provinsi.

Pasal 5

(1) Anggota KPI Pusat yang bermaksud mengundurkan diri harus mengajukan surat
kepada Presiden dan disampaikan dalam Pleno KPI Pusat.
(2) Anggota KPI Daerah yang bermaksud mengundurkan diri harus mengajukan surat
kepada Gubernur dan disampaikan dalam Pleno KPI Daerah.
(3) Keputusan mengenai permintaan pengunduran diri dilakukan melalui rapat pleno.

Pasal 6

(1) Apabila terdapat anggota KPI yang sedang dalam proses pengadilan karena
perbuatan pidana kejahatan, maka yang bersangkutan dinonaktifkan sebagai anggota
KPI berdasarkan rapat pleno.
(2) Apabila terdapat anggota KPI yang dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan
yang memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 5
ayat (1) huruf d, maka KPI Pusat menyampaikan surat pemberitahuan kepada
Presiden dengan tembusan ke DPR RI dan KPI Daerah kepada Gubernur dengan
tembusan ke DPRD Provinsi untuk diberhentikan dan digantikan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 7

(1) Apabila terdapat anggota KPI yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana
yang termaktub dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002
tentang Penyiaran, maka KPI Pusat menyampaikan surat pemberitahuan dan
penggantian kepada Presiden dengan tembusan ke DPR RI dan KPI Daerah kepada
Gubernur dengan tembusan ke DPRD Provinsi.
(2) Anggota KPI yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana yang dimaksud
dalam ayat (1), setelah diadakan klarifikasi oleh KPI terhadap anggota yang
bersangkutan dan apabila terbukti, KPI melalui rapat pleno dapat memutuskan untuk
mengusulkan penggantian.

Bagian Keempat
Tata Cara Penggantian Anggota yang Masa Jabatannya Berakhir

Pasal 8

(1) Tiga bulan sebelum masa jabatan berakhir, KPI Pusat wajib memberitahukannya
kepada Presiden dan DPR RI serta KPI Daerah wajib memberitahukannya kepada
Gubernur dan DPRD Provinsi.
(2) Masa jabatan berakhir setelah anggota KPI yang baru ditetapkan dan/atau dilantik.

4
Pasal 9

Tata cara dan pelaksanaan penggantian anggota KPI yang masa jabatannya berakhir
merupakan kewenangan DPR RI untuk KPI Pusat dan DPRD untuk KPI Daerah.

Pasal 10

Anggota KPI yang telah habis masa jabatannya pada masa jabatan pertama dapat dipilih
dan ditetapkan kembali untuk yang kedua kalinya.

Bagian Kelima
Tata Tertib dan Kode Etik Keanggotaan

Pasal 11

(1) Anggota KPI wajib menaati tata tertib keanggotaan sebagai berikut:
a. dilarang menerima pemberian apapun dalam bentuk suap secara langsung maupun
tidak langsung berkaitan dengan penyiaran;
b. tidak menyalahgunakan jabatan dan kewenangannya untuk kepentingan-kepentingan
lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. wajib melaporkan kegiatan yang berkaitan dengan tugas dan kewenangannya dalam
pleno;
d. dilarang terlibat langsung dalam operasional, struktur pelaksana dan/atau manajemen
di lembaga penyiaran yang dapat mempengaruhi independensi sebagai anggota KPI;
e. tidak terkait langsung dengan kepemilikan di lembaga penyiaran.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata tertib keanggotaan KPI ditetapkan dengan
keputusan KPI.

Pasal 12

(1) Anggota KPI wajib mematuhi kode etik keanggotaan KPI.


(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kode etik keanggotaan KPI ditetapkan dengan
keputusan KPI.

BAB III
STRUKTUR KELEMBAGAAN

Bagian Pertama
Struktur Komisioner

Pasal 13

(1) Struktur Komisioner terdiri atas:


a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. Anggota.

5
(2) Penetapan Ketua dan Wakil Ketua KPI dalam struktur Komisioner sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diputuskan dalam proses pemilihan
(3) Hasil penetapan Ketua dan Wakil Ketua KPI disampaikan kepada Presiden untuk
KPI Pusat dan kepada Gubernur untuk KPI Daerah
(4) Masa jabatan Ketua dan Wakil Ketua KPI adalah satu (1) periode kepengurusan
kecuali sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 5 di atas atau terbukti melanggar
tata tertib dan kode etik.
(5) Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota mempunyai bidang tugas masing-masing yang
terdiri atas:
a. Bidang Pengelolaan Struktur Sistem Penyiaran Indonesia:
1. melaksanakan perizinan;
2. melaksanakan kegiatan KPI yang berkaitan dengan penjaminan kesempatan
masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan
hak asasi manusia;
3. melaksanakan program dan kegiatan KPI yang berkaitan dengan pengaturan
insfrastruktur penyiaran;
4. melaksanakan pembangunan iklim persaingan yang sehat antarlembaga
penyiaran dan industri terkait.
b. Bidang Pengawasan Isi Penyiaran:
1. melaksanakan penyusunan peraturan dan keputusan KPI yang menyangkut
isi penyiaran;
2. melaksanakan pengawasan pelaksanaan dan penegakan peraturan KPI yang
menyangkut isi penyiaran;
3. melaksanakan pemeliharaan tatanan informasi nasional yang adil, merata,
dan seimbang;
4. melaksanakan kegiatan KPI yang menampung, meneliti dan menindaklanjuti
aduan, sanggahan, kritik, dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaran
penyiaran;
c. Bidang Kelembagaan:
1. melaksanakan penyusunan, pengelolaan, dan pengembangan organisasi KPI;
2. melaksanakan penyusunan peraturan dan keputusan KPI yang berkaitan
dengan organisasi;
3. melaksanakan kerjasama dengan pemerintah, lembaga penyiaran, dan
masyarakat, serta pihak-pihak internasional;
4. melaksanakan perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang
professional di bidang penyiaran.

6
Pasal 14

Pembagian tugas Ketua dan Wakil Ketua adalah sebagai berikut:


(1) Ketua mempunyai tugas menangani tugas-tugas pimpinan dan kegiatan eksternal,
sebagai berikut:
a. melakukan koordinasi dan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan KPI;
b. mengkoordinasi kegiatan hubungan eksternal KPI;
c. mengawasi dan mengevaluasi kinerja KPI secara keseluruhan;
d. memfokuskan kegiatan agar visi dan misi KPI dijalankan secara utuh;
e. apabila Ketua berhalangan tetap dapat digantikan oleh Wakil Ketua;
f. dalam menjalankan tugasnya Ketua dapat melimpahkan kewenangannya kepada
Wakil Ketua atau salah seorang anggota, jika Wakil Ketua berhalangan.
(2) Wakil Ketua mempunyai tugas menangani tugas-tugas pimpinan dan kegiatan
internal, sebagai berikut:
a. membantu Ketua dalam mengkoordinasikan seluruh kegiatan KPI;
b. melakukan pengawasan terhadap pematuhan tata tertib KPI;
c. memimpin pelaksanaan kegiatan internal KPI;
d. memfokuskan kegiatan agar visi dan misi KPI dijalankan secara utuh;
e. apabila Wakil Ketua berhalangan tetap dapat digantikan oleh salah seorang
anggota;
f. dalam menjalankan tugasnya Wakil Ketua dapat melimpahkan kewenangannya
kepada salah seorang anggota;
g. apabila Ketua berhalangan tetap, penandatanganan surat, keputusan dan atau
peraturan dilakukan oleh Wakil Ketua atas nama Ketua.
(3) Anggota mempunyai tugas sebagai berikut:
a. memimpin pelaksanaan kegiatan internal sesuai dengan bidangnya;
b. mengkoordinasikan secara internal kegiatan dan tugas pada bidangnya;
c. melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan pada bidangnya;
d. menjalankan tugas Ketua atau Wakil Ketua apabila mendapat pelimpahan
kewenangan.

Bagian Kedua
Tenaga Ahli dan Asisten Ahli

Pasal 15

(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, KPI dapat dibantu oleh tenaga ahli sesuai
dengan kebutuhan.
(2) Untuk dapat diangkat sebagai tenaga ahli, harus memenuhi syarat-syarat dan
ketentuan yang ditetapkan oleh KPI.

Pasal 16

(1) Setiap anggota KPI dapat dibantu oleh seorang Asisten Ahli.
(2) Untuk dapat diangkat sebagai Asisten Ahli, harus memenuhi syarat-syarat dan
ketentuan yang ditetapkan oleh KPI.

7
BAB IV
KESEKRETARIATAN

Bagian Pertama
Kedudukan, Tugas, dan Fungsi

Pasal 17

(1) Sekretariat KPI merupakan bagian perangkat kelembagaan pemerintah baik di pusat
maupun di daerah.
(2) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, KPI dibantu oleh sekretariat yang dipimpin
oleh seorang sekretaris yang dibiayai oleh APBN untuk KPI Pusat dan APBD untuk
KPI Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Struktur organisasi sekretariat KPI yang diatur dalam Peraturan KPI ditetapkan
melalui Keputusan Menteri untuk KPI Pusat dan Peraturan Gubernur dan atau
Peraturan Daerah untuk KPI Daerah.

Pasal 18

(1) Sekretaris KPI Pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pejabat yang
diusulkan oleh KPI Pusat dan ditetapkan oleh Menteri.
(2) Sekretaris KPI Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pejabat yang
diusulkan oleh KPI Daerah dan ditetapkan oleh Gubernur.
(3) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Sekretaris bertanggungjawab kepada Ketua
KPI dan mematuhi setiap keputusan pleno.
(4) Pejabat Sekretariat KPI Pusat/KPI Daerah adalah pejabat struktural disesuaikan
dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

Bagian Kedua
Struktur Sekretariat

Pasal 19

(1) Struktur organisasi Sekretariat KPI disesuaikan dengan kebutuhan fungsional KPI.
(2) Struktur organisasi Sekretariat KPI sebagaimana ayat (1) meliputi:
a. Bagian Umum;
b. Bagian Administrasi Perizinan;
c. Bagian Isi Siaran;
d. Bagian Kelembagaan.

Pasal 20

Dalam menjalankan tugas dan fungsi kesekretariatan KPI Pusat dan KPI Daerah dapat
mengangkat tenaga Non-PNS.

8
BAB V
RAPAT KELEMBAGAAN

Bagian Pertama
Bentuk Rapat, Kuorum, dan Pengambilan Keputusan

Pasal 21

(1) Rapat-rapat Lembaga terdiri atas:


a. Rapat Koordinasi Nasional;
b. Rapat Koordinasi Teknis;
c. Rapat Pimpinan;
d. Rapat Kerja;
e. Rapat Pleno.
(2) Rapat-rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas sah apabila dihadiri oleh
2/3 dari peserta
(3) Pengambilan keputusan dalam rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan melalui musyawarah untuk mufakat atau bila tidak tercapai dilakukan
melalui pemungutan suara (50% dengan pembulatan + 1)

Bagian Kedua
Rapat Koordinasi Nasional

Pasal 22

(1) Rapat Koordinasi Nasional merupakan Forum Tertinggi KPI yang berfungsi untuk
menetapkan Peraturan dan Keputusan berkenaan dengan wewenang, tugas,
kewajiban, dan fungsi KPI.
(2) Rapat Koordinasi Nasional yang dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan sekurang-
kurangnya sekali dalam setahun
(3) Rapat Koordinasi Nasional adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh Ketua, Wakil
Ketua, dan Anggota KPI.
(4) Rakornas diselenggarakan oleh KPI Pusat yang dibiayai oleh APBN

Bagian Ketiga
Rapat Koordinasi Teknis

Pasal 23

(1) Rapat Koordinasi Teknis adalah rapat yang diselenggarakan oleh Bidang-bidang
yang dikoordinasikan oleh masing-masing Anggota KPI sesuai dengan tugas dan
wewenang menurut struktur organisasi.
(2) Rapat Koordinasi Teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan
sesuai kebutuhan.

9
Bagian Keempat
Rapat Pimpinan

Pasal 24

(1) Rapat Pimpinan adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota KPI Pusat dan para
Ketua dan/atau Wakil Ketua KPI Daerah.
(2) Rapat Pimpinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan sekurang-
kurangnya sekali dalam setahun.
(3) Rapat Pimpinan merupakan forum koordinasi antar pimpinan KPI yang dapat
melahirkan kebijakan strategis lembaga dan menetapkan sanksi pelanggaran
terhadap tata tertib.

Bagian Kelima
Rapat Kerja

Pasal 25

(1) Rapat Kerja adalah rapat yang diselenggarakan oleh KPI baik di tingkat Nasional
(Rakernas) dan ditingkat daerah (Rakerda).
(2) Rapat Kerja Nasional diselenggarakan oleh KPI Pusat dan diikuti oleh para
koordinator bidang dari seluruh KPI Daerah.
(3) Rapat Kerja Nasional (Rakernas) berfungsi untuk menetapkan dan mengevaluasi
program kerja KPI secara nasional.
(4) Rapat Kerja Nasional (Rakernas) diselenggarakan sekali dalam satu tahun.
(5) Rapat Kerja Daerah (Rakerda) diselenggarakan oleh KPI Daerah sebagai tindak
lanjut dan implementasi dari hasil-hasil Rakernas.
(6) Rakerda berfungsi menetapkan dan mengevaluasi program kerja KPI Daerah.
(7) Rakerda diselenggarakan satu kali dalam satu tahun.

Bagian Keenam
Rapat Pleno

Pasal 26

(1) Rapat Pleno adalah rapat yang diselenggarakan secara berkala oleh KPI yang
merupakan forum tertinggi dalam pengambilan keputusan di masing-masing KPI
Pusat dan KPI Daerah.
(2) Rapat Pleno sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipimpin oleh Ketua atau Wakil
Ketua KPI dan diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam sebulan.

Pasal 27

Segala keputusan rapat-rapat kelembagaan KPI bersifat mengikat

10
BAB VI
TATA HUBUNGAN KPI PUSAT DAN KPI DAERAH

Pasal 28

(1) KPI Pusat bertindak sebagai koordinator bagi pelaksanaan wewenang, tugas, fungsi,
dan kewajiban KPI, yang berskala lintas daerah/wilayah, nasional maupun
internasional.
(2) KPI Pusat bertindak sebagai mediator dan fasilitator komunikasi dan koordinasi
antara KPI (KPI Pusat dan KPI Daerah) dan Pemerintah Pusat
(3) KPI Pusat bertindak sebagai mediator dan fasilitator komunikasi dan koordinasi
antara KPI Daerah dan Pemerintah Daerah.
(4) Dalam melaksanakan fungsi, wewenang, tugas, dan kewajibannya, KPI Daerah
melakukan koordinasi dengan KPI Pusat.
(5) KPI Pusat melakukan dekonsentrasi anggaran dan kegiatan ke KPI Daerah seluruh
Indonesia.
(6) KPI Pusat wajib memfasilitasi terbentuknya sekretariat KPI Daerah.
(7) Daerah yang belum terbentuk KPI Daerah, segala kewenangan penyiaran ada pada
KPI Pusat.

BAB VII
KERJA SAMA

Pasal 29

KPI dapat membuat perjanjian dan atau kerja sama dengan pihak lain berdasarkan
kebutuhan.

BAB VIII
HONORARIUM DAN TUNJANGAN

Ketentuan mengenai Honorarium dan Tunjangan

Pasal 30

(1) Anggota KPI menerima honorarium dan tunjangan yang besarnya disesuaikan
dengan peraturan perundangan yang berlaku.
(2) Pejabat dan staf sekretariat yang berstatus PNS dan Non PNS berhak mendapatkan
insentif disesuaikan dengan kedudukan dan atau jabatannya (eselonisasi), transport
dan honorarium dari satu kepanitiaan/tim, dan khusus bagi Non PNS ditambahkan
hak honorarium tetap berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

11
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 31

(1) Dengan berlakunya peraturan ini, segala ketentuan tentang kelembagaan yang ada
tetap berlaku sepanjang tidak diatur dan tidak bertentangan dengan peraturan ini
(2) Segala peraturan dan keputusan yang ditetapkan dalam peraturan ini bersifat
mengikat ke luar dan ke dalam
(3) Dengan berlakunya Peraturan ini maka Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia
Nomor 04/P/KPI/9/2006 tentang Kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia
dinyatakan tidak berlaku.

BAB X
PENUTUP

Pasal 32

Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Komisi


Penyiaran Indonesia ini dengan penempatannya dalam Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 September 2007

KETUA KOMISI PENYIARAN INDONESIA

12
This document was created with Win2PDF available at http://www.win2pdf.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.
This page will not be added after purchasing Win2PDF.